Anda di halaman 1dari 16

STANDAR MUTU

PENDIDIKAN AL QUR’AN

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KELOMPOK PADA MATA KULIAH


ISU-ISU AKTUAL DALAM PENDIDIKAN

DOSEN PENGAMPU: Dr. AHMAD DARLIS, M.Pd.I

DISUSUN OLEH KELOMPOK 6:


AQWAL SABILLAH PURBA NIM 0301181036
LADY MAHARANI NIM 0301182086
SITI TRIDIA UTAMY NIM 0301183220
THANIA INDIRA NIM 0301182113

PRODI/SEMESTER : PAI-5/VII

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA

MEDAN

TA. 2021-2022

i
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur Alhamdulillah senantiasa kita ucapkan kepada Allah Subhanahu Wa


Ta’ala Tuhan seluruh alam yang maha rahman dan rahim yang mana telah melimpahkan
berkah dan nikmat kepada kita semua terutama nikmat yang paling besar yaitu nikmat
Iman, dan Islam. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi
Muhammad Shallalahu ‘alaihi Wassalam.

Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada dosen pengampu mata kuliah
isu-isu aktual dalam pendidikan yaitu bapak Dr. Ahmad Darlis, M.Pd.I yang telah
membimbing penulisan makalah ini sehingga dapat terselesaikan dengan tepat waktu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak sekali
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang dapat
membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan penulisan selanjutnya. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Medan, 20 Oktober 2021

Penulis

I
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................i

DAFTAR ISI....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang........................................................................................................1

B. Rumusan Masalah...................................................................................................2

C. Tujuan Penulisan.....................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

A. Standar Mutu Pendidikan........................................................................................3

B. Konsep Pendidikan Islam........................................................................................6

C. Standar Mutu Pendidikan Nasional.........................................................................7

D. Upaya Peningkatan Mutu Secara Nasional............................................................ 9

BAB III KESIMPULAN

A. Kesimpulan...........................................................................................................12

B. Saran.....................................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................15

II
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan agama Islam sebagai sebuah sistem pendidikan yang masuk di dalam
kerangka negara Indonesia dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu: pendidikan agama
Islam sebagai mata pelajaran dan sebagai lembaga pendidikan. Sebagai sebuah mata
pelajaran, pendidikan agama Islam secara umum sudah masuk dalam kurikulum
nasional pada seluruh sekolah, baik sekolah umum maupun sekolah keagamaan. Hal ini
sebagai bukti bahwa dalam konteks dasar, Pendidikan Islam sudah memberi kontribusi
positif dalam pendidikan nasional. Sementara itu sebagai lembaga pendidikan Islam,
Pendidikan Islam hingga hari ini sudah mampu membentuk lembaga pendidikan, baik
formal, non-formal, maupun in-formal.
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar setiap peserta didik dapat secara aktif
mengembangkan potensi dirinya guna memiliki kekuatasan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara, sebagaimana tertuang di dalam UU Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini tentu saja untuk menjawab dan
menghadapi perkembangan dunia pendidikan yang penuh dengan dinamika dan inovasi
belakangan ini.
Pengembangan SDM tidak hanya dilakukan melalui pendidikan khususnya
pendidikan formal (sekolah). Tetapi sampai detik ini, pendidikan masih dipandang
sebagai sarana dan wahana utama untuk pengembangan SDM yang dilakukan dengan
sistematis, programatis, dan berjenjang. Dalam hal ini kepala sekolah, guru dan
stakeloders mempunyai tanggung jawab terhadap peningkatan mutu pembelajaran di
sekolah terutama guru sebagai ujung tombak dilapangan (di kelas) karena bersentuhan
langsung dengan siswa dalam proses pembelajaran.
Guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangat berat terhadap kemajuan
dan peningkatan kompetensi siswa , dimana hasilnya akan terlihat dari jumlah siswa
yang lulus dan tidak lulus.dengan demikian tangung jawab peningkatan mutu

1
pendidikan di sekolah , selalu dibebankan kepada guru .lalu bagaimana kesiapan unsur-
unsur tersebut dalam peningkatan mutu proses pembelajaran?
Berdasarkan hal diatas maka dalam makalah ini penulis akan membahas lebih lanjut
mengenai bagaimana standar mutu pendidikan Al Qur’an.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dirumuskan di atas, maka dapat penulis
rumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apa pengertian dari Mutu pendidikan ?

2. Bagaimana Susunan Standar mutu pendidikan Al Quran ?

3. Bagaimana Meningkatkan Mutu pendidikan ?

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa itu Mutu pendidikan

2. Untuk mengetahui Susunan standar mutu pendidikan Al Quran

3. Untuk mengetahui Cara meningkatkan mutu pendidikan

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Standar Mutu Pendidikan

Pendidikan Islam yang berfokus pada mutu menurut konsep Juran bahwa dasar
misi mutu pendidikan Islam adalah mengembangkan program dan layanan yang
memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. Masyarakat
dimaksud adalah secara luas sebagai pengguna lulusan, yaitu dunia usaha, lembaga
pendidikan lanjut, pemerintah dan masyarakat luas, termasuk menciptakan usaha
sendiri oleh lulusan. Menurut Crosby, mutu adalah conformance to requirement,
yaitu sesuai dengan standar mutu yang telah ditentukan. Oleh karena itu mutu
pendidikan Islam dituntut untuk memiliki baku standar mutu pendidikan. Mutu
dalam konsep Deming adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau konsumen.1

Dalam konsep Deming, pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang dapat
menghasilkan keluaran, baik pelayanan dan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan
atau harapan pelanggan (pasar) nya. Sedangkan Fiegenbaum mengartikan mutu
sebagai full costumer satisfaction (kepuasan pelanggan sepenuhnya)10. Dalam
pengertian ini maka yang dikatakan pendidikan Islam yang bermutu adalah
pendidikan yang dapat memuaskan pelanggannya. Garvi dan Davis menyatakan
mutu ialah suatu kondisi dinamik yang berhubungan dengan produk, tenaga kerja,
proses, dan tugas serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan
pelanggan.2

Dari definisi para ahli di atas dapat dikatakan bahwa pendidikan (Islam) yang
bermutu mengandung tiga unsur, yaitu:

1
Mutu menurut Juran adalah kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk memenuhi
kebutuhan dan kepuasan pelanggan, lihat Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam
Mengembangkan Budaya Mutu: Studi Multikasus di Madrasah Terpadu MAN 3 Malang, MAN
Malang I dan MA Hidayatul Mubtadiin Kota Malang (Jakarta: Balitbang Diklat Kemenag RI, 2010), hal
36-38
2
Abdul Haris dan Nurhayati B., Manajemen Mutu Pendidikan (Bandung: CV. Alfabeta, 2014),
Cet. III, hal 86.

3
(1) kesesuaian dengan standar,
(2) kesesuaian dengan harapan stakeholders,
(3) Pemenuhan janji yang diberikan.

Pengertian mutu dalam konteks pendidikan mencakup input, proses, dan output
pendidikan. Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena
dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Sesuatu yang dimaksud berupa sumber
daya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi
berlangsungnya proses. Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi
sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses
disebut input, sedangkan sesuatu dari hasil proses disebut output.

Dalam pendidikan skala mikro (tingkat sekolah) proses yang dimaksud adalah
proses decision making, proses pengelolaan institusi, proses pengelolaan program,
proses pembelajaran, proses monitoring dan evaluasi, dengan catatan bahwa proses
pembelajaran memiliki kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses
lainnya. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila koordinasi dan penyerasian dan
pemaduan input sekolah (guru, siswa, kurikulum, uang, peralatan, dan sebagainya)
dilakukan secara harmonis dan menyenangkan (enjoyable learning), mampu
mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memberdayakan
semua potensi peserta didik.

Kata memberdayakan mengandung acts (melaksanakan perubahan yang sudah


diuji) bahwa peserta didik tidak sekedar menguasai pengetahuan, tetapi pengetahuan
itu juga telah menjadi muatan nurani peserta didik, dihayati dan diamalkan dalam
kehidupan sehari-hari. Utamanya peserta didik mampu belajar cara belajar (mampu
mengembangkan dirinya).

Sedangkan output pendidikan merupakan kinerja sekolah. Kinerja sekolah


adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Kinerja
sekolah dapat diukur dari kualitas, efektifitas, produktivitas, efisiensi, inovasi,
kualitas kehidupan kerja dan moral kerja.3 Dari ketiga unsur mutu dalam pendidikan
di atas, menurut Rusman, pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada

3
Abdul Tolib, Strategi Implementasi Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
dengan Pendekatan Manajemen Mutu Perpadu (Bandung: Dewa Ruchi, 2009), 25.

4
penyediaan faktor input pendidikan, tetapi juga lebih memperhatikan faktor proses
pendidikan. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada dalam batas-
batas tertentu, tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan
mutu pendidikan (school resources are necessary but not sufficient condition to
improve student achievement).4 Sejalan dengan ini, Qomar mengatakan bahwa
proses lebih banyak berpengaruh daripada input. 5 Dalam perspektif multiple
intelligences, setiap anak (sebagai salah satu input pendidikan) yang dilahirkan dari
ibunya, bagaimanapun keadaannya, dia adalah masterpiece, karya agung Tuhan,
sebab Allah swt. tidak pernah membuat produk-produk gagal.6

Penetapan standar mutu pendidikan atau pendekatan berbasis standar (standard


based approach) dimaksudkan untuk mengukur dan menilai pemenuhan standar
sebagaimana yang telah ditetapkan dalam kebijakan mutu (quality policy).7 Atau
secara lebih rinci, Juran menyatakan tujuan standar mutu adalah:

1. Untuk mengkoordinasi pekerjaan berbagai bagian yang dilakukan untuk


menangani masalah yang sama.
2. Untuk meningkatkan keseragaman dalam menangani fungsi-fungsi yang terus
berulang.
3. Untuk mengubah masalah-masalah yang telah dipecahkan menjadi prosedur
rutin sehingga pemecahannya hanya merupakan masalah pencatatan saja.
4. Memberikan bimbingan bagi semua orang yang menghadapi masalah-masalah
semacam ini di masa mendatang.8

Memperoleh sebuah tanda atau standar mutu tidak berarti sudah menjamin
keberadaan mutu dengan sendirinya. Walaupun demikian, tanda atau standar mutu
dapat menegakkan kedisipilinan, penilaian eksternal, dan proses yang jelas untuk
memperoleh mutu. Tanda atau standar tersebut juga memiliki nilai publisitas
potensial luar biasa dalam sebuah institusi dan publik umum. Sebagai pemasaran
4
Rusman, Manajemen Kurikulum, ( Jakarta: Rajawali Press, 2009 ) hal 550
5
Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru Pengelolaan Lembaga
Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2007), hal 208.
6
Munif Chatib, Orang Tuanya Manusia (Bandung: Penerbit Kaifa, 2012),hal 55.
7
Nanang Fattah, Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2012), Cet.I, hal 3.
8
J.M. Juran, Managerial Breaktrough A New Concept of The Manager’s Job, terjemahan Ilham
Tjakrakusuma, edisi Indonesia Terobosan Manajemen Konsep Baru tentang Tugas Manajer,
(Jakarta: Penerbit Erlangga, 1997), 224.

5
internal mutu, pesan merupakan hal yang sangat penting. Dan mendapatkan standar
nasional maupun internasional merupakan nilai tambah yang bisa dipergunakan
dalam penyampaian pesan tersebut.9

B. Konsep Pendidikan Islam ( Al Quran )

Pendidikan menurut Islam atau pendidikan Islami, yakni pendidikan yang


dipahami dan dikembangkan dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang
terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu al-Quran dan as sunnah. Dalam
pengertian ini, pendidikan Islam dapat berwujud pemikiran dan teori pendidikan
yang mendasarkan diri atau dibangun dan dikembangkan dari sumber-sumber dasar
tersebut.

Dalam perspektif pendidikan nasional, pendidikan Islam diselenggarakan untuk:

(a) memenuhi tugas negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, orang tua, wali dan
lembaga sosial dalam melindungi hak-hak anak untuk memeluk ajaran
agamanya meliputi pembinaan, pembangunan, dan pengamalan ajaran agama,
serta
(b) memberikan layanan pendidikan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan
serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Amanat ini
ditegaskan dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 3 dan UU Nomor 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak pasal 43 ayat (1, 2).

Secara substansial, pendidikan Islam merupakan sub-sistem dari Sistem


Pendidikan Nasional yang diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dan PP Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar. Istilah
yang digunakan untuk menjelaskan pendidikan yang memuat substansi dan
pendekatan nilai-nilai agama adalah pendidikan umum dengan kekhasan Islam,
pendidikan agama dan pendidikan keagamaan (pasal 12, 17, dan 30).

Oleh karena itu pendidikan Islam dalam konteks Sistem Pendidikan Nasional
merujuk kepada (i) madrasah dan perguruan tinggi Islam sebagai lembaga

9
Edward Sallis, Total Quality Management in Education, terjemahan: Ahmad Ali Riyadi &
Fahrurrozi (Yogyakarta: Ircisod, 2012), 136.

6
pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam, (ii) pendidikan agama Islam pada
satuan pendidikan dan (iii) pendidikan keagamaan Islam.

Dalam dimensi perwujudan masyarakat berakhlak mulia, pendidikan Islam


berperan sebagai penyedia layanan pendidikan yang relevan dan sebagai instrumen
dalam pembangunan kondisi mental spiritual masyarakat. Pada dimensi penyedia
landasan daya saing bangsa, pendidikan Islam membeikan layanan pendidikan yang
bermutu untuk menjawab tantangan global terhadap kebutuhan sumber daya
manusia yang unggul di bidang ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh karakter
tangguh dalam sikap dan perilaku beragama.10

C. Standar Mutu Pendidikan Nasional

SNP sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun


2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun
2013 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan serta peraturan perundangan lain yang relevan yaitu
kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
SNP dipenuhi oleh satuan atau program pendidikan dan penyelenggara satuan
atau program pendidikan secara sistematis dan bertahap dalam kerangka jangka
menengah yang ditetapkan dalam rencana strategis satuan atau program pendidikan.
Terdapat delapan SNP yaitu:
1. Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang
mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
2. Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan
dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian,
kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh
peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
3. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan
pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar
kompetensi lulusan.
10
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, Rencana Strategis
Pembangunan Pendidikan Islam 2010-2014 Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Jakarta: Ditjen
Pendis Depag RI, 2009), hal 3.

7
4. Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan
dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
5. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan
dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat
beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat
berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk
menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan
komunikasi.
6. Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat
satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi
dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
7. Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya
biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.
8. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan
dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta
didik.11

Delapan SNP di atas memiliki keterkaitan satu sama lain dan sebagian standar
menjadi prasyarat bagi pemenuhan standar yang lainnya. Dalam kerangka sistem,
komponen input sistem pemenuhan SNP adalah Standar Kompetensi Pendidik dan
Tenaga Kependidikan (PTK), Standar Pengelolaan, Standar Sarana dan Prasarana
(Sarpras), dan Standar Pembiayaan. Bagian yang termasuk pada komponen proses
adalah Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian, sedangkan bagian yang
termasuk pada komponen output adalah Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

D. Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Secara Nasional

Banyak pakar pendidikan mengemukakan pendapatnya tentang faktor penyebab


dan solusi mengatasi kemerosotan mutu pendidikan di Indonesia. Dengan masukan

11
Salinan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
file.doc, 4 dan Salinan Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 1 angka 4-11

8
ilmiah ahli itu, pemerintah tak berdiam diri sehingga tujuan pendidikan nasional
tercapai.

Berbagai upaya yang telah dilakukan secara terencana sejak sepuluh tahun yang
lalu. Hasilnya cukup membanggakan untuk sekolah-sekolah tertentu di beberapa
kota di Indonesia tetapi belum merata dan kurang memuaskan secara nasional.

Adapun proyek-proyek yang telah diluncurkan oleh pemerintah dalam rangka


meningkatkan mutu pendidikan, diantaranya ialah :

1. Proyek Pembangunan Kurikulum


2. Proyek Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
3. Proyek Perpustakaan
4. Proyek Bantuan Meningkatkan Manajemen Mutu (BOMM)
5. Proyek Bantuan Imbal Swadaya (BIS)
6. Proyek Pengadaan Buku Paket
7. Proyek Peningkatan Mutu Guru
8. Dana Bantuan Langsung (DBL)
9. Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
10. Bantuan Khusus Murid (BKM)

Dengan memperhatikan sejumlah proyek itu, dapatlah kita simpulkan bahwa


pemerintah telah banyak menghabiskan anggaran dana untuk membiayai proyek itu
sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Kini berbagai elemen masyarakat mempertanyakan mengapa upaya yang begitu


mahal belum menunjukkan hasil menggembirakan. Ada yang berpendapat mungkin
manajemennya yang kurang tepat dan adapula yang mengatakan bahwa pemerintah
kurang konsisten dengan upaya yang dijalankan.

Upaya-upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional


diantaranya yaitu :

1. Memberikan Penghargaan Terhadap Guru

9
Staf (guru) akan termotivasi jika diberikan penghargaan ekstrinsik (gaji,
tunjangan, bonus dan komisi) maupun penghargaan intrinsic (pujian, tantangan,
pengakuan, tanggung jawab, kesempatan dan pengembangan karir).

2. Meningkatkan Profesionalisme

Kecanggihan kurikulum dan panduan manajemen sekolah tidak akan berarti


jika tidak ditangani oleh guru peofesional. UU Sisdiknas No. 20/2003 Pasal 42
ayat (1) menyebutkan pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan
sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan
rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional.

3. Menyediakan Sarana dan Prasarana

Dengan diberlakukannya kurikulum 2004 (KBK), kini guru lebih dituntut


untuk mengkontekstualkan pembelajarannya dengan dunia nyata atau minimal
siswa mendapat gambaran miniature tentang dunia nyata. Harapan itu tidak
mungkin tercapai tanpa bantuan alat-alat pembelajaran (sarana dan prasarana
pendidikan).Menurut Kepmendikbud No. 053/U/2001 tentang Standar
Pelayanan Minimal (SPm), sekolah harus memiliki persyaratan minimal untuk
menyelanggarakan pendidikan dengan serba lengkap dan cukup seperti luas
lahan, perabot lengkap, peralatan/laboratorium/media, infrastruktur, sarana
olahraga, dan buku rasio 1:2. Kehadiran Kepmendiknas itu dirasakan sangat
tepat karena dengan keputusan ini diharapkan penyelenggaraan pendidikan di
sekolah tidak “kebablasan cepat” atau tertinggal di bawah persyaratan minimal
sehingga kualitas pendidikan menjadi semakin terpuruk.

4. Berantas Korupsi

10
Korupsi itu berhubungan dengan dana yang berasal dari pemerintah dan
dana yang langsung ditarik dari masyarakat. Jika selama ini anggaran
pendidikan yang sangat minim dikeluhkan, ternyata dana yang kecil itupun tak
luput dari korupsi. Hal ini tidak terlepas dari kekaburan system anggaran
sekolah. Kekaburan dalam system anggaran (RAPBS) itu memungkinkan kepala
sekolah mempraktikkan Pembiayaan Sistem Ganda (PSG). Misalnya dana
operasional pembelian barang yang telah dianggarkan dari dana pemerintah
dibebankan lagi kepada masyarakat.

Semakin terpuruknya peringkat SDM Indonesia pada tahun 2004, tak perlu
hanya kita sesali, melainkan menjadikannya sebagai motivasi untuk bangkit dari
keterpurukan. Jika kondisi itu mau diubah mulailah dari menerpkan konsep yang
berpijak pada akar masalah.

Dalam membangun pendidikan itu tidak mudah. Tidak cukup hanya dengan
menyediakan anggaran, tetapi juga harus ada langkah dan program konkret atas
dasar kebutuhan sekolah dan siswa. Kemudian, masyarakat juga harus dilibatkan
dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan ini. Bukan hanya menyediakan
anggaran kepada sekolah dan menyelenggarakan sesuai rancangan, tanpa ada
keterlibatan masyarakat mustahil penyelenggaraannya bisa berjalan baik.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

11
Standar mutu adalah panduan sifat-sifat barang atau jasa yang relatif mantap dan
sesuai dengan kebutuhan pelanggan dalam arti luas (lokal, nasional dan
internasional). Konsep standar mutu tidak terbatas pada jumlah-jumlah yang
dinyatakan dengan angka atau benda (barang). Konsep standar mutu juga meliputi
hal-hal rutin, metode, dan prosedur. Penetapan standar mutu pendidikan atau
pendekatan berbasis standar (standard based approach) dimaksudkan untuk
mengukur dan menilai pemenuhan standar sebagaimana yang telah ditetapkan dalam
kebijakan mutu (quality policy). Pendekatan berbasis standar ini telah banyak
digunakan oleh berbagai negara di Amerika Serikat dan Eropa oleh Badan
Akreditasi Pendidikan dalam mengukur pencapaian standar mutu minimum atau
standar pelayanan minimal (SPM).

Pendidikan Islam dapat dipahami sebagai pendidikan Islami, pendidikan


keislaman dan pendidikan dalam Islam. Secara substansial, pendidikan Islam
merupakan sub-sistem dari Sistem Pendidikan Nasional yang diatur dalam UU
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP Nomor 47
Tahun 2008 tentang Wajib Belajar. Istilah yang digunakan untuk menjelaskan
pendidikan yang memuat substansi dan pendekatan nilai-nilai agama adalah 32
pendidikan umum dengan kekhasan Islam, pendidikan agama dan pendidikan
keagamaan (pasal 12, 17, dan 30).

B. Saran

Adapun saran dari penulis adalah hendaknya perlu dilakukan kerjasama sinergis
antara Depag dan Depdiknas untuk secara serius mengembangkan pendidikan Islam.
Sebab, apapun adanya, pendidikan Islam merupakan bagian integral dari sistem
pendidikan nasional. Artinya jika saat ini masih dipahami posisi pendidikan Islam
sebagai subsistem dalam konteks pendidikan nasional sebagai sekadar berfungsi
sebagai pelengkap (suplemen), maka hendaklah terjadi pergeseran “peran” dari
sekedar suplemen menjadi bagian yang juga turut berperan dan menentukan
(substansial).

12
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi, Manajemen Pendidikan Berbasis Industri


dalam Edward Sallis, Total Quality Management in Education, terjemahan: Ahmad Ali
Riyadi & Fahrurrozi, Yogyakarta: Ircisod, 2012.
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, Rencana Strategis
Pembangunan Pendidikan Islam 2010-2014 Direktorat Jenderal Pendidikan Islam,
Jakarta: Ditjen Pendis Depag RI, 2009.
Fattah, Nanang, Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2012, Cet.I.
Haris, Abdul dan Nurhayati B., Manajemen Mutu Pendidikan, Bandung: CV.
Alfabeta, 2014, Cet. III.
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan, file PDF.
Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi, Manajemen Pendidikan Berbasis Industri
dalam Edward Sallis, Total Quality Management in Education, terjemahan: Ahmad Ali
Riyadi & Fahrurrozi, Yogyakarta: Ircisod, 2012.
Soebahar, Abdul Halim. 2019. Kebijakan Pendidikan Islam. Yogyakarta:
Deepublish.

15