100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan11 halaman

LP Halusinasi

Halusinasi adalah persepsi palsu tanpa stimulus eksternal yang dapat berupa pendengaran, penglihatan, pengecapan, atau perabaan. Faktor risikonya meliputi genetik, stres, dan gangguan otak. Gejala awal berupa halusinasi menyenangkan yang kemudian menakutkan dan mengontrol. Penanganannya meliputi penilaian gejala, mendukung pasien, serta menghilangkan stresor untuk mencegah episode berulang.

Diunggah oleh

Nurul Fajriah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan11 halaman

LP Halusinasi

Halusinasi adalah persepsi palsu tanpa stimulus eksternal yang dapat berupa pendengaran, penglihatan, pengecapan, atau perabaan. Faktor risikonya meliputi genetik, stres, dan gangguan otak. Gejala awal berupa halusinasi menyenangkan yang kemudian menakutkan dan mengontrol. Penanganannya meliputi penilaian gejala, mendukung pasien, serta menghilangkan stresor untuk mencegah episode berulang.

Diunggah oleh

Nurul Fajriah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI

I .KASUS (MASALAH UTAMA)


Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana klien mengalami perubahan
sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perubahan
atau penghiduan, klien merasakan stimulus yang sebelumnya tidak ada. (Stuart, 2019)
Halusinasi adalah persepsi yang tanpa dijumpai adanya rangsangan dari luar, walaupun
tampak sebagai sesuatu yang khayal, halusinasi sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan
mental penderita yang teresepsi. (Yosep, 2018)
II . PROSES TERJADINYA MASALAH
A. Faktor predisposisi
Menurut Yosep (2018), faktor predisposisi terjadinya halusinasi adalah:
1. Faktor Perkembangan
Tugas perkembangan klien terganggu misalnya rendanya kontrol dan
kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil,
mudah frustasi, hilang percaya diri dan lebih rentan terhadap stres.
2. Faktor Sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima dilingkungannya sejak bayi akan
merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungannya.
3. Faktor Psikologis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus pada
penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan klien dalam
mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Klien lebih memilih kesenangan
sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam hayal.
4. Faktor Genetik dan Pola Asuh
Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orang tua
skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia. Hasil studi menujukkan bahwa faktor
keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.
B. Faktor presipitasi :
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah
adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus
asa dan tidak berdaya. Menurut Stuart (2019), faktor presipitasi terjadinya gangguan
halusinasi adalah:
1. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur
proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak
yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi
stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
2. Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
3. Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor
C. Jenis Halusinasi:
Menurut Yosep (2019) halusinasi terdiri dari delapan jenis :
1.Pendengaran (auditory)
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk
kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien,
bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami
halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien
disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.
2.Penglihatan (visual)
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris,gambar
kartun,bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias menyenangkan atau
menakutkan seperti melihat monster.
3.Penghidu (olfactory)
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnyabau-bauan
yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang,
atau dimensia.
4.Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
5 .Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum
listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
6. Cenesthetic
Merasakan bdannya bergerak–gerak dalam suatu ruang atau anggota badannya.
7. Halusinasi hypnagogic, dan hypnopompic
Halusinasi yang terjadi antara tidur dan terjaga
D. Fase-fase Halusinasi
1. Fase Pertama / comforting / menyenangkan
Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stress, perasaan gelisah,
kesepian. Klien mungkin melamun atau memfokukan pikiran pada hal yang
menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan stress. Cara ini menolong
untuk sementara. Klien masih mampu mengotrol kesadarnnya dan mengenal
pikirannya, namun intensitas persepsi meningkat. Perilaku klien : tersenyum atau
tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa bersuara, pergerakan mata
cepat, respon verbal yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya dan suka
menyendiri.
2.  Fase Kedua / comdemming
Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal
dan eksternal, klien berada pada tingkat “listening” pada halusinasi. Pemikiran
internal menjadi menonjol, gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat berupa
bisikan yang tidak jelas klien takut apabila orang lain mendengar dan klien merasa
tak mampu mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi
dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain. Perilaku
klien : meningkatnya tanda-tanda sistem saraf otonom seperti peningkatan denyut
jantung dan tekanan darah. Klien asyik dengan halusinasinya dan tidak bisa
membedakan dengan realitas.
3. Fase Ketiga / controlling
Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi
terbiasa dan tak berdaya pada halusinasinya. Termasuk dalam gangguan
psikotik.Karakteristik : bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai
dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasi
Perilaku klien : kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian hanya
beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat, tremor dan
tidak mampu mematuhi perintah.
4. Fase Keempat / conquering/ panik
Klien merasa terpaku dan tak berdaya melepaskan diri dari kontrol
halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi
mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan
orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya klien berada dalam dunia
yang menakutkan dalam waktu singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini
menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi. Perilaku klien : perilaku teror akibat
panik, potensi bunuh diri, perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik,
tidak mampu merespon terhadap perintah kompleks dan tidak mampu berespon
lebih dari satu orang.
E. Rentang Respon

Respon Adaptif Respon Maladaptif


Menyendiri Kesendirian Manipulasi
Otonomi Menarik Impulsif
Kebersamaan Ketergantungan Narsisme
Keadaan Saling tergantung

F. Mekanisme Koping
a. Menyalahkan orang lain atas kesalahan kekurangan kekurangan dan kekeliruan
dari orang lain
b. Menyalahkan diri sendiri atas implus-implus keinginan keingina diri sendiri yang
sudah dapat diterima orang lain.
c. Regresi, ialah tingkat perkembangan yang terdahulu dan menggunakan cara
kurang matak dan bertingkah laku primitif dan kekanak-kanakan
d. Represi ialah sudah sadar mencegah jangan sampai keinginan-keinginan atau
kmatian yang mengakibatkan hati atau yang berbahaya atau masuk kedzlzm yang
sedasi
e. Denial, ialah menolak untuk menerima menghadapi kenyataan yang tidak enak,
baginya dengan mengemukakan berbagai alasan
III. A. Pohon Masalah

Effect Resikotinggiperilakukekerasan

Core Problem PerubahanPersepsiSensori: Halusinasi


Causa isolasisosial

B. Masalah Keperawatan dan data yang perlu di kaji :


a. Perubahan sensori perceptual, halusinasi
2. Data Fokus Pengkajian
b. Data Subjektif
1) klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata
2) klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata
3) klien mengatakan mencuium bau tanpa stimulus
4) klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
5) klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar
6) klien ingin memukul/melempar barang – barang
c. Data Objektif
1) klien berbicara dan tertawa sendiri
2) klien bersikap seperti mendengar / melihat sesuatu
3) klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
4) diorientasi
IV. Diagnosa Keperawatan
Halusinasi
V. Rencana Tindakan Keperawatan
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN GANGGUAN HALUSINASI

Nama Pasien : Dx. Medis :

Ruang : No. CM :

Tgl No. DIagnosa Perencanaan Intervensi Rasional

Dx. Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi

1 2 3 4 5 6 7

HALUSINASI TUM: Setelah 1x pertemuan SP 1 1. Bila sudah


pasien dapat terbina
Klien dapat menunjukan tanda- 1. Bina hubungan saling percaya hubungan
membedakan antara tanda percaya kepada dengan menggunakan prinsip saling percaya
halusinasi dengan perawat : komunikasi terapetik diharapkan
realita  Sapa pasien dengan baik verbal klien dapat
 Ekspresi wajah dan no verbal kooperaatif,
TUK :
bersahabat  Perkenalkan nama, nama sehingga
1. Klien dapat  Menunjukan rasa panggilan dan tujuan perawat pelaksanaan
membina senang berkenalan asuhan
huungan saling  Ada kontak mata  Tanya nama lengkap dan nama keperawatan
percaya dengan  Mau berjabatangan panggilan yang disukai klien dapat berjalan
perawat
 Mau menyebut nama  Buat kontrak yang jelas dengan baik
 Mau menjawab  Tunjukan sikap jujur dan
salam menepati janji setiap kali
 Mau duduk interaksi
berdampingan  Tunjukan sikap empati dan
dengan perawat menerima apa adanya
 Bersedia  Beri perhatian pada pasien dan
menceritakan beri kebutuhan dasar pasien
perasaannya

2. Klien dapat 1. Setelah interaksi 1. Adakah kontak sring dan singkat  Dengan
mengenal klien menyebutkan secara bertahap mengetahui
halusinasinya : 2. Observasi tingkah laku klien waktu, isi dan
 Isi terkait dengan halusinsinya, jika frekuensi
 Waktu klien sedang berhalusinasi : munculnya
 Frekuensi  Tamyakan apakah klien halusinasi
 Situasi dan mengalami sesuatu halusinasi mempermudah
kondisi yang pendengaran, penglihatan, tindakan yang
menimbulakn penciuman, pengecapan akan dilakkan
halusinasi  Jika klien menjawab ya, perawat
tanyakan apa yang sedang  Untuk
dialaminya mengidentifika
 Katakan bahwa perawat si pengaruh
percaya klien mengalami hal halusinasi
tersebut, namun perawat pasien
sendiri tidak mengalaminya  Untuk
dengan nada bersahabat tanpa mengetahui
menuduh atau mengahkimi koping yang
 Katakan bahwa ada klien lain digunakan oleh
yang mengalami hal yang klien
sama  Agar klien
 Katakan bahwa perawat akan dapat
membantu klien mengetahui
3. Jika klien sedang akibat dari
berhalusinasi klarifikasikan menikmati
tentang adanya pengalaman halusinasi
halusinasi diskusikan dengan sehingga klien
klien : menimalisir
 Isi waktu dan frekuensi halusinasinya
terjadinya hausinasi , pagi,
siamg, sore malam atau
sering dan kadang-kadang
 Situasi dan kondisi yang
menimbulakn atau tidak
menimbulkan
halusinasinya
1. Diskusikan dengan klien apa yang
dirasakan jika terjadi halusinasi
dan beri kesempatan untuk
mengungkapkan perasaannya
2. Diskusikan dengan klien apa yang
dilakukan untuk mengatasi
perasaan tersebut
3. Diskusikan tentang dampak yang
2. Setelah interaksi akan dialaminya bila klien
klien menanyakan menikmati halusinasinya
perasaan dan
responnya saat
mengalami
halusinai :
 Marah
 Takut
 Sedih
 Senang
 Cemas
 Jengkel

3. Klien dapat 1. Setelah interaksi 1. Identifikasi bersama klien cara  Upaya untuk
mengontrol klien menyebutkan atau tindakan yang dilakukan jika memutuskan
halusinasinya tindakan yang terjadi halusinasinya : tidur, siklus
biasanya dilakukan marah, menyibukkan dll. halusinasinya
untuk Diskusikan cara yang digunakan tidak berlanjut
mengendalikan klien :  Resinforcement
halusinasinya  Jika cara yang digunakan positif dapat
adaftip beri pujian meningkatkan
 Jika cara yang digunakan harga diri klien
maladaftif diskusikan cara  Memberikan
kerugian tersebut alternatif
pilihan bagi
2. Diskusikan cara baru untuk klien untuk
2. Setelah interaksi
memikus/mengontrol timbulnya mengontrol
klien menyebutkan
halusinasi : lingkungan
cara baru  Katakan pada diri sendiri  Motivasi
mengontrol bahwa tidak nyata “saya tidak meningkatkan
halusinasinya mau kegiatan klien
dengar/lihat/penghidu/raba/kec untuk mencoba
ap” pada saat halusinasinya memilih salah
terjadi satu cara
 Menemui orang lain mengendalikan
perawat/temn/anggota keluarga halusinasinya
untuk menyeritakan dan dapat
halusinasinya meningkatkan
 Membuat dan melaksanakan harga diri klien
jadwal kegiatan sehari-hari  Memberi
yang telah disusun kesempatan
 Meminta disapa saat terjadi klien untuk
halusinasi mencoba cara
3. Setelah interaksi 3. Bantu klien memilih cara yang yang sudah
klien dapat memilih sudah diajarkan dan latih untuk dipilih
dan memperagakan mencobanya  Stimulasi
cara mengatasi presepsinya
halusinasinya dapat
4. Setelah berinteraksi mengurangi
4. Beri kesempatan untuk
klien melaksanakan perubahan
melakukan cara yang dipilih dan
cara yang telah interprestasi
dilatih jika berhasil beri pujian
dipilih untuk realitas klin
mengendlikan akibat
halusinasinya halusinasinya
VI. DAFTAR PUSTAKA
Dalami, E, dkk. 2019. Askep Klien Dengan Gangguan Jiwa. Jakarta : CV. Trans
Info Media
Stuart dan Laraia, Principles And Practice of Psyciatric Nursing (5Th. Ed) St. Louis
Mosby Year Book 2019
Yosep (2018), Keperawatan Jiwa. Edisi 4, PT Refika Aditama : Bandung

Anda mungkin juga menyukai