Anda di halaman 1dari 6

TUGAS AGENDA III HARI KE-2

PELATIHAN DASAR CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL


GOLONGAN III ANGKATAN LXIII DI KABUPATEN TANGERANG
KELOMPOK 1, SUB KELOMPOK 2

ANALISIS ISU AKTUAL DI INSTANSI TERKAIT UPAYA MEWUJUDKAN


SMART GOVERNANCE

Oleh:
dr. Harry Mahathir Akip, Sp.J.P
Apt. Azura Syafira Thalita, S.Farm
drg. Cynthia Octavia Purnama Sari
Ns. Widya Dahlia Juwita, S.Kep
Faris Danoetirta, S.Kom

PEMERINTAH KABUPATEN TANGERANG


TAHUN 2022
Pendahuluan Dan Isu Yang Terjadi Di Lingkup Kerja

Seorang ASN dianjurkan untuk berpikir kritis agar dapat menganalisa isu isu yang
ada di lingkup kerjanya, sehingga mampu membuat perubahan demi mewujudkan
Smart governance.

Beberapa isi yang berpengaruh negatif terhadap kualitas pelayanan masyarakat


antara lain :

1. "Kurangnya pemahaman tentang cara penyimpanan dan Beyond Use Date


obat pada pasien Puskesmas Jalan Kutai"

Fakta : Hanya 25% pasien yang sudah memahami cara penyimpanan serta
beyond use date obat.

2. "Tidak adanya SOP Pemeliharaan dan Implementasi aplikasi di bidang


aplikasi informatika"

Fakta : sampai saat ini SOP untuk bagian pemeliharaan dan implementasi
aplikasi belum dirancang dan dibuat

3. Tingginya kasus persistensi gigi susu pada kunjungan pasien anak di poli
gigi

Fakta: Mayoritas kunjungan pasien anak ke poli gigi merupakan kasus


persistensi gigi susu

4. Belum optimalnya pelayanan poli BPJS KSM Jantung RSU Kabupaten


Tangerang

Fakta: lama waktu tunggu pasien untuk dapat bertemu dokter sejak
mendaftar 4-5 jam.

5. Tingginya jumlah pasien infeksius yang masih dirawat diruang perawatan


non infeksius

Fakta: pasien yg menderita penyakit menular masih ditempatkan diruang


non infeksius bersama pasien lainnya
Teknik Tapisan Isu Menggunakan Metode APKL

Teknik tapisan isu APKL adalah singkatan dari Aktual artinya isu yang dibahas
merupakan isu yang masih hangat diperbincangkan. Problematik artinya isu
tersebut memiliki dimensi masalah yang kompleks sehingga perlu dicarikan
solusinya. Khalayak artinya isu tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak.
Layak artinya isu tersebut relevan, realistis, masuk akal dan perlu dicarikan
pemecahan masalahnya.

No ISU A P K L Total Ranking


1 Kurangnya pemahaman
tentang cara penyimpanan dan
4 3 3 4 14 4
Beyond Use Date obat pada
pasien Puskesmas Jalan Kutai
2 Tidak adanya SOP
Pemeliharaan dan
5 3 3 4 15 3
Implementasi aplikasi di
bidang aplikasi informatika
3 Tingginya kasus persistensi
gigi susu pada kunjungan 4 3 2 3 12 5
pasien anak di poli gigi
4 Belum optimalnya pelayanan
poli BPJS KSM Jantung RSU 4 4 5 3 16 2
Kabupaten Tangerang
5 Tingginya jumlah pasien
infeksius yang masih dirawat
5 5 5 4 19 1
diruang perawatan non
infeksius
Teknik Analisis Fishbone

Machine
Method

Jumlah kesediaan
Lamanya waktu
untuk mendapatkan ruangan kurang
hasil lab
Tingginya jumlah pasien
infeksius yang masih
dirawat diruang perawatan
Jumlah tenaga non infeksius
perawat yang kurang

Kurangnya ketertiban
SDM terkait SOP

Kurang pengawasan
dari PPI

Man Power
Teknik Analisa Isu USG

USG merupakan salah satu teknik tapisan isu yang dapat dilakukan. Teknik
tapisan isu USG adalah singkatan dari Urgency yaitu seberapa mendesak suatu
isu harus dibahas, dianalisis dan ditindaklanjuti. Seriousness adalah seberapa
serius suatu isu harus dibahas dikaitkan dengan akibat yang akan ditimbulkan dan
Growth yaitu severapa besar kemungkinan memburuknya isu tersebut jika tidak
ditangani dengan segera.

No Isu U S G Total Ranking


1 Jumlah kesediaan ruangan kurang 5 5 4 14 3
2 Lamanya waktu untuk mendapatkan 3 5 4 12 5
hasil lab
3 Jumlah tenaga perawat yang kurang 5 5 4 14 2
4 Kurangnya ketertiban SDM terkait 5 5 5 15 1
SOP
5 Kurang pengawasan dari PPI 4 5 4 13 4

Gagasan/Solusi Ide Kreatif

1. Sosialisasi dan edukasi kepada tenaga kesehatan IGD tentang bahaya infeksi
nosokomial dan penatalaksanaan pada pasien suspek infeksi.

Sosialisasi memiliki arti suatu proses yang berkaitan dengan cara individu
memahami kehidupan sosial seperti norma dan nilai yang berlaku di
kelompoknya. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan,
wawasan dan kemawasan dari tenaga kesehatan untuk dapat melakukan
tatalaksana pasien suspek infeksi dengan tepat.

Infeksi nosokomial dapat menyebabkan cedera serius bahkan kematian.


Mengetahui risiko yang dapat didapat pasien yang mengalami infeksi
nosokomial dapat meningkatkan kesadaran tenaga medis terkait untuk lebih
hati-hati memindahkan pasien ke ruang perawatan. Hal yang dapat dilakukan
adalah dengan melakukan sosialisasi algoritma penatalaksanaan pasien
suspek infeksi kepada tenaga kesehatan di ruang perawatan dan IGD.

Langkah-langkah penerapannya adalah dengan mengundang para tenaga


kesehatan di IGD secara bertahap untuk mendapat materi mengenai bahaya
infeksi nosokomial dan algoritma pencegahannya oleh divisi PPI. Sebelum
dan sesudah penyampaian materi diadakan pre dan post-test untuk
mengetahui efektivitas penyampaian materi.

2. Peningkatan pengawasan pelaksanaan algoritma pencegahan infeksi


nosokomial oleh PPI.

PPI adalah singkatan dari Pencegahan Pengendalian Infeksi. PPI merupakan


salah satu divisi di rumah sakit yang berfungsi untuk mencegah dan
mengendalikan infeksi. Untuk meminimalisasi terjadinya infeksi nosokomial
diperlukan algoritma tatalaksana yang ketat. Ketertiban pelaksanaan
algoritma ini perlu diawasi secara ketat pula. Kewenangan pengawasan ini
berada di divisi PPI. Oleh karena itu diperlukan peningkatan ketegasan dalam
pengawasan algoritma pencegahan infeksi di IGD agar pasien-pasien yang
masuk ke RS dapat terhindar dari infeksi nosokomial.

PPI akan memulai masa observasi sejak setelah sosialisasi bahaya infeksi
nosokomial dan algoritma penatalaksanaannya. Observasi ini berjalan selama
satu bulan. Setelah satu bulan akan dilakukan evaluasi dan re-sosialisasi hasil
observasinya kepada tenaga kesehatan IGD. Setelah itu mulai diberlakukan
sanksi yang tegas bagi tenaga kesehatan yang tidak mengikuti algoritma
pencegahan infeksi nosokomial.

Link Video :

https://youtu.be/CWtXn9-t2fk