Anda di halaman 1dari 16

Retrospektif

DERMATITIS SEBOROIK
Angka Kejadian Dermatitis Seboroik Di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2005-2009

Oleh : Yurna Afriyana NIM. I1A004027

Pembimbing : dr. Hj. Robiana M. Noor, Sp.KK

BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT RSUD ULIN BANJARMASIN MARET, 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dermatitis seboroik pertama kali digambarkan oleh Unna pada tahun 1887. la menyatakan bahwa dermatitis seboroik hampir selalu dimulai pada kepala tetapi sering meluas ke telinga dan pipi, dapat meluas ke bahu dan lengan atas dalam bentuk kering, dengan skuama yang berminyak.1 Data yang pasti tentang insiden dan prevalensi penyakit ini belum ada, tetapi dilaporkan lebih sering terjadi dibandingkan dengan psoriasis. Diperkirakan dermatitis seboroik terdapat pada 1-3% populasi. Laki- laki lebih sering daripada perempuan dan mempunyai 2 puncak umur utama, yaitu 3 bulan pertama kehidupan dan pada umur 40 -70 th.1,2,3 Prevalensi Dermatitis Seboroik diperkirakan sekitar 3-5 %. Jika ketombe yang merupakan Dermatitis Seboroik ringan ditambahkan, angka kejadian mencapai 15-20 %. Dermatitis Seboroik dapat dialami oleh semua ras.1 1.2 Tujuan Penyusunan makalah ini bertujuan untuk mengetahui insidensi Dermatitis Seboroik yang terdapat di Poliklinik Kulit dan Kelamin di RSUD Ulin Banjarmasin periode tahun 2005-2009.

1.3

Manfaat Penyusunan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa informasi mengenai insidensi Dermatitis Seboroik yang terdapat di RSUD Ulin Banjarmasin periode 2005-2009. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kata dermatitis berarti adanya inflamasi pada kulit. Ekzema merupakan bentuk khusus dari dermatitis. Beberapa ahli menggunakan kata ekzema untuk menjelaskan inflamasi yang dicetuskan dari dalam pada kulit. Prevalensi dari semua bentuk ekzema adalah 4,66%, termasuk dermatitis atopik 0,69%, eczema numular 0,17%, dan dermatitis seboroik 2,32% yang menyerang 2% hingga 5% dari penduduk.4 Istilah dermatitis seboroik ( D.S.) dipakai untuk segolongan kelainan kulit yang didasari oleh faktor konstitusi dan bertempat predileksi ditempat-tempat seboroik.4 Dermatitis seboroik adalah peradangan kulit yang sering terdapat pada daerah tubuh berambut, terutama pada kulit kepala, alis mata dan muka, kronik dan superfisial.1 Dermatitis seboroika adalah peradangan kulit pada daerah yang banyak mengandung kelenjar sebasea .Dermatitis seboroik (D.S.) atau Seborrheic eczema merupakan penyakit yang umum, kronik, dan merupakan inflamasi superfisial dari kulit, ditandai oleh pruritus, berminyak, bercak merah dengan berbagai ukuran dan bentuk yang menutup daerah inflamasi pada kulit kepala, muka, dan telinga. Daerah lain yang jarang terkena, seperti

daerah presternal dada. Beberapa tahun ini telah didapatkan data bahwa sekurangkurangnya 50% pasien HIV terkena dematitis seboroik. Ketombe berhubungan juga dermatitis seboroik, tetapi tidak separah dermatitis seboroik. Ada juga yang menganggap dermatitis seboroik sama dengan ketombe.3

2.2 Epidemiologi Dermatitis seboroik menyerang 2% - 5% populasi. Dermatitis seboroik dapat menyerang bayi pada tiga bulan pertama kehidupan dan pada dewasa pada umur 30 hingga 60 tahun. Insiden memuncak pada umur 1840 tahun. DS lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Berdasarkan pada suatu survey pada 1.116 anakanak , dari perbandingan usia dan jenis kelamin, didapatkan prevalensi dermatitis seboroik menyerang 10% anak lakilaki dan 9,5% pada anak perempuan. 5 Prevalensi semakin berkurang pada setahun berikutnya dan sedikit menurun apabila umur lebih dari 4 tahun. Kebanyakan pasien (72%) terserang minimal atau dermatitis seboroik ringan.3 Pada tahun 1971-1974 National Health and Nutrition Examination Survey meneliti sampel antara 1 sampai dengan usia 74 tahun. Didapatkan 70 % mengalami dermatitis seboroik pada rentang umur 3 bulan sampai dengan 1 tahun. 2,8 % dari total sampel

mengalami dermatitis seboroik. Dimana 46,64 % laki-laki dan 55,56 % wanita.7

2.3 Etiopatogenesis Dermatitis seboroika disebabkan meningkatnya status seboroika yaitu aktivitas kelenjar sebasea yang hiperaktif sehingga sekresi sebumnya meningkat.1

Selain itu dermatitis seoroika juga dapat dipengaruhi faktor predisposisi. Beberapa faktor predisposisinya yaitu :1, 7,8 a. Hormon Dermatitis seboroik dijumpai pada bayi dan pada usia pubertas. Pada bayi dijumpai hormon transplasenta meninggi beberapa bulan setelah lahir dan penyakitnya akan membaik bila kadar hormon ini menurun. b. Jamur Pityrosporum ovale Penelitian lain menunjukan bahwa Pityrosporum ovale (Malassezia ovale), jamur lipofilik, banyak pada penderita dermatitis seboroik. Pertumbuhan P. ovale yang berlebihan dapat mengakibatkan reaksi inflamasi, baik akibat produk metabolitnya yang masuk ke dalam epidermis maupun karena sel jamur itu sendiri melalui aktivasi sel limfosit T dan sel Langerhans. c. Perbandingan komposisi lipid dikulit berubah, jumlah kolesterol, trigliserida, parafin meningkat; dan kadar squelen,asam lemak bebas dan wax ester menurun. d. Iklim e. Genetik stasus seboroik ( seborrhoeic state ) yang diturunkan. f. Lingkungan g. Hormon h. Neurologik 2.4 Predileksi Pada daerah berambut karena banyak kelenjar sebasea, ialah7,8 : a. Bayi Ada 3 bentuk, yaitu cradle cap, glabrous (daerah lipatan dan tengkuk) dan generalisata (penyakit Leiner) yang terbagi menjadi familial dan non-familial.

b. Orang dewasa Berdasarkan daerah lesinya DS terjadi pada kulit kepala (pitiriasis sika daninflamasi), wajah (blefaritis marginal, konjungtivitis, pada daerah lipatan/ sulcusnasolabial, area jenggot, dahi, alis), daerah fleksura (aksilla, infra mamma,umbilicus, intergluteal, paha), badan (petaloid, pitiriasiform) dan

generalisata(eritroderma, eritroderma eksoliatif), retroaurikula, telinga, dan dibawah buah dada.

\ Gambar 2.1 Predileksi Dermatitis Seboroik di belakang telinga 2.5 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasien dermatitis seboroik adalah pemeriksaan histopatologi walaupun gambarannya kadang juga ditemukan pada penyakit lain, seperti pada dermatitis atopik atau psoriasis. Gambaran histopatologi tergantung dari stadium penyakit. Pada bagian epidermis. Dijumpai parakeratosis dan akantosis. Pada korium, dijumpai pembuluh darah melebar dan sebukan perivaskuler. Pada DS akut dan subakut, epidermisnya ekonthoik, terdapat infiltrat limfosit dan histiosit dalam jumlah sedikit

pada perivaskuler superfisial, spongiosis ringan hingga sedang, hiperplasia psoriasiform ringan, ortokeratosis dan parakeratosis yang menyumbat folikuler, serta adanya skuama dan krusta yang mengandung netrofil pada ostium folikuler. Gambaran ini merupakan gambaran yang khas. Pada dermis bagian atas, dijumpai sebukan ringan limfohistiosit perivaskular. Pada DS kronik, terjadi dilatasi kapiler dan vena pada pleksus superfisial selain dari gambaran yang telah disebutkan di atas yang hampir sama dengan gambaran psoriasis.3,7,8 Kultur jamur dan kerokan kulit amat bermanfaat untuk menyingkirkan tinea kapitis maupun infeksi yang disebabkan kuman lainnya. Pemeriksaan serologis untuk

menyingkirkan dermatitis atopik. Pemeriksaan komposisi lemak pada permukaan kulit dimana memiliki karakteristik yang khas yakni menigkatnya kadar kolesterol, trigliserida dan parafin disertai penurunan kadar squalene, asam lemak bebas dan wax ester.7,9 2.6 Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis. Pada berbagai gejala dari gambaran klinis yang ditemukan pada dermatitis seboroik juga dapat dijumpai pada dermatitis atopik atau psoriasis, sehingga diagnosis sangat sulit untuk ditegakkan oleh karena baik gambaran klinis maupun gambaran histologi dapat serupa. Oleh sebab itu, perlu ketelitian untuk membedakan DS dengan penyakit lain sebagai diferensial diagnosis. Psoriasis misalnya yang juga dapat ditemukan pada kulit kepala, kadang disamakan dengan DS, yang membedakan ialah adanya plak yang mengalami penebalan pada liken simpleks.3
2.7 Diagnosis Banding

Diagnosis dari dermatitis seboroik dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gejala klinis. Diagnosis banding dapat ditegakkan berdasarkan keluhan dan gejala klinis, umur dan ras. Kondisi yang membingungkan atau mirip dengan dermatitis seboroik adalah psoriasis, dermatitis atopic, dan tinea kapitis pada anak-anak.7

Diagnosis banding dermatitis seboroik, antara lain sebagai berikut:7,8 1. Psoriasis Predileksi didaerah eksentor ( lutut, siku dan punggung ) dan kulit kepala. dijumpai skuama yang lebih tebal, kasar, berlapis-lapis, putih seperti mutiara dan tak berminyak disertai tanda tetesan lilin dan auspitz. Selain itu ada gejala yang khusus untuk psoriasis. 2. Pitiriasis rosea Distribusi kelainan kulit simetris dan terbatas pada tubuh dan bagian proksimal anggota badan.skuamanya halus dan tidak berminyak. Sumbu panjang lesi sejajar dengan garis kulit. 3. Tinea Tinea kapitis, dijumpai alopesia, kadang-kadang dijumpai keroin. Pada tinea kapitis dan tinea krusi, eritem lebih menonjol dipinggir dan pinggirnya lebih aktif dibandingkan tengahnya. 4. Dermatitis Atopik Bentuk Infantil Dapat Menyerupai Dermatitis Seboroik Muka Dermatitis Atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai gatal. Biasanya terjadi pada bayi atau anak-anak. Skuama kering dan difus, berbeda dengan DS yang skuamanya berminyak dan kekuningan. Selain itu, pada dermatitis atopik dapat terjadi likenfikasi. 5. Kandidosis menyerupai D.S. pada lipatan paha dan perianal. Perbedaannya kandidosis terdapat eritema berwarna merah cerah berbatas tegas dengan satelit-satelit disekitarnya. Kandidiasis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh Candida albicans. Kandidosis kadang sulit dibedakan dengan DS jika mengenai lipatan paha dan perianal. Lesi dapat berupa bercak yang

berbatas tegas, bersisik dan basah. Perbedaannya ialah pada kandidiasis terdapat eritema berwarna merah cerah berbatas tegas dengan satelit-satelit di sekitarnya. Predileksinya juga bukan pada daerah-daerah yang berminyak, tetapi lebih sering pada daerah yang lembab. Selain itu, pada pemeriksaan dengan larutan KOH 10 %, terlihat sel ragi, blastospora atau hifa semu.1,3 6. Otomikosi dan otitis eksterna Otomikosi dan otitis eksterna menyerupai D.S. yang menyerang saluran telinga luar. Bedanya pada otomikosis akan terlihat elemen jamur pada sedian langsung. Otitis eksterna menyebabkan tanda-tanda radang,jika akut terdapat pus. 7. Liken simpleks kronikus Peradangan kulit kronis yang gatal, sirkumskrip ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit tampak lebih menonjol (likenfikasi). Tidak biasa terjadi pada anak tetapi pada usia ke atas, berbeda dengan DS yang sering juga terjadi pada bayi dan anak-anak. Timbul sebagai lesi tunggal pada daerah kulit kepala bagian posterior atau sekitar telinga. Tempat predileksi di kulit kepala dan tengkuk, sehingga kadang sukar dibedakan dengan DS. Yang membedakannya ialah adanya likensifikasi pada penyakit ini. 8. SLE Penyakit yang basanya bersifat akut, multisistemik dan menyerang jaringan konektif dan vaskular. SLE sulit dibedakan dengan DS, oleh karena pada SLE juga dapat dijumpai skuama. Yang dapat membedakan ialah lesi SLE berbentuk seperti kupu-kupu, tersering di area molar dan nasal dengan sedikit edema, eritema dan atrofi. Terdapat gejala demam, malaise, serta tes antibodi-antinuklear (+). 2.8 Penatalaksanaan Sistemik:1,2,9

A. Oral 1. Kotrikosteroid Digunakan pada bentuk yang berat dengan dosis prednisone 20-30mg sehari. Jika telah ada peraikan, dosis diturunkan perlahan-lahan. 2. Isotretionin Untuk mengurangi aktivitas kelenjar sebasea hingga 90% sehingga terjadi pengurangan produksi sebum. Penggunaan dengan dosis 0,1-0,3 mg/Kg/BB. 3. Ketokonazol Apabila ditemui langsung P.ovale. Pemberian dilakukan dengan dosis 200mg per hari. B. Topikal 1. Selenium sulfide (selsun) Pada ptiriasis sika dan oleosa, seminggu 2 -3 kali dikeramasi selama 5-15 menit. 2. Emolien, (urea 10%) Jika terdapat skuama dan krusta 3. Ter 4. Resorsin 1-3% 5. Sulfur praesipartum 4-20% 6. Kortikosteroid Misalnya krim hidrokortison 2 1/2%. Digunakan bila disertai dengan inflamasi yang berat. 7. Krim ketokonazol 2% Non sistemik1,2,11: 1. Melakukan perawatan rambut

2. Menghindari makanan yang banyak mengandung lemak 2.9 Komplikasi Dermatitis seboroik yang meluas sampai menyerang menyerang saluran telinga luar bisa menyebabkkan otitis eksterna yaitu radang yang terdapat pada saluran telinga bagian luar. Jika tidak mendpatkan pengobatan yang adekuat, maka DS akan mmeluas ke daerah sternal, aerola mamae, umbilikus, lipat paha dan daerah anogenital. Karena kerontokan yang berlebihpun dapat menyebabkan kebotakan.1,6 2.10 Prognosis Prognosis Dermatitis seboroik baik karena dapat sembuh sendiri dan merespon pengobatan topikal dengan baik. Namun pada sebagian kasus penyakit ini agak sukar untuk disembuhkan meskipun terkontrol.1,6 BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Hasil

Tabel 3.1 Angka Kejadian Dermatitis Seboroik di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2005-2009 Tahun Kelompok Umur (tahun) Jumlah <1 1-4 5-14 15-24 25-44 45-64 65 2005 2006 2007 2008 2009 Jumlah 1 5 0 0 1 7 0 5 0 1 0 6 3 2 1 0 6 3 6 27 23 23 11 7 9 9 23 0 5 6 12 17 0 3 9 2 8 17 23 52 46 77 5 6 7 6 27 19 20 11 19 6 9 6 10 11 7 9 2 3 5 6 63 45 48 38 5 16 13 13 0 47 6 3 0 5 0 14 6 0 1 0 0 7 51 188 113 94 39 485

60 50 <1 40 30 20 10 0 2005 2006 2007 2008 2009 1- 4 th 5-14 th 15-24 th 25-44 th 45-64 > 64

Grafik 3.1 Angka Kejadian Dermatitis Seboroik di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Ulin Banjarmasin Berdasarkan Kelompok Umur

120 100 80 60 40 20 0 2005 2006 2007 2008 2009

laki laki perempuan

Grafik 3.2 Angka Kejadian Dermatitis Seboroik di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Ulin Banjarmasin Berdasarkan Jenis Kelamin

3.2

Pembahasan

Tabel 3.1 dan grafik (3.1 dan 3.2) memperlihatkan angka kejadian dermatitis seboroik yang berobat di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2005-2009. Jumlah pasien dermatitis seboroik di RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2005-2009 adalah 485 pasien. Terlihat angka kejadian dermatitis seboroik yang paling banyak pada tahun 2005 hingga 2009 adalah kelompok usia 15-24 tahun (28,86 %). Jumlah pasien yang tercatat menderita dermatitis seboroik pada tahun 2005-2009 di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Ulin Banjarmasin berjumlah 485 pasien, dan angka kejadian yang paling banyak terjadi yaitu pada tahun 2006 berjumlah 188 pasien (38,76 %), dengan angka kejadian terbanyak pada jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 250 pasien (51,55 %). Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa angka kejadian terbanyak berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2005-2009 adalah laki-laki yaitu sebanyak 250 pasien (51,55%). Berdasarkan data tersebut di atas, menunjukkan bahwa dermatitis seboroik dapat menyerang semua golongan usia. Dibandingkan dengan data tahun 1971-1974 National Health and Nutrition Examination Survey 46,64 % laki-laki dan 55,56 % wanita dari sampel mengalami dermatitis seboroik. Serta kasus terbanyak Didapatkan 70 % mengalami dermatitis seboroik pada rentang umur 3 bulan sampai dengan 1 tahun. Berbeda dengan angka kejadian di RSUD Ulin Poliklinik Kulit dan Kelamin 2007-2009, angka kejadian dermatitis seboroik yang paling banyak kelompok usia 15-24 tahun (28,86 %).

BAB IV PENUTUP

Berdasarkan data retrospektik diatas, berikut kesimpulan yang dapat diambil: 1. Insidensi pasien dermatitis seboroik yang datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Ulin tahun 2005-2009 adalah 485 pasien 2. Insidensi pasien dermatitis seboroik yang datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Ulin berdasarkan umur pada tahun 2005-2009 yang terbanyak adalah umur 5-14 tahun masingmasing sebesar 28,86 %. 3. Insidensi pasien yang datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Ulin berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2005-2009 yang terbanyak adalah laki-laki.

Daftar Pustaka

1. Djuanda S, Sularsito SA. Dermatitis. Djuanda A. ed. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, ed. 3. Jakarta : FKUI, 1999 hal. 126-38 2. Mansjoer A,Suprohaita,Wardhani W.I,Setiowulan W,Kapita Selekta Kedokteran,Edisi III,Jilid II,2000,Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,Jakarta (9899) 3. Debson RL, abele DC. The practise of dematology. Philadelphia: Haper & Row Publisher, 1990: 35-43 4. Naldi, Luigi., Rebora, Alfredo. 2009. Seborrheic Dermatitis. N Engl J Med, vol.360 : 387-396.

5. Ardhie, A. M, 2004, Dermatitis dan Peran Steroid dalam Penanganannya, DEXA MEDIA, No. 4, Vol. 17, Oktober - Desember 2004 6. Pierard, Gerald E. et all. 2007. A Pilot Study on Seborrheic Dermatitis Using Pramiconazole as a Potent Oral Anti-Malassezia Agent. Karger, vol. 214:162-169. 7. Schwartz, Robert A., M.D., Janusz, Christopher A., And Janniger, Camila K. 2006. Seborrheic Dermatitis : An Overview. Am Fam Physician, vol.74 : 125-30. 8. Tajima, Mami., Sugita, Takashi., Nishikawa, Akemi, and Tsuboi, Ryoji. 2008. Molecular Analysis of Malassezia Microflora in Seborrheic Dermatitis Patients : Comparison with Other Diseases and Healthy Subjects. Journal of Investigative Dermatology, vol. 128 : 345351. 9. Siregar, R.S. 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit ed.2. Jakarta: EGC.
10. Yoshihiro, Sei. 2003. Seborrheic Dermatitis-Clinical Diagnosis and Therapeutic Value of

Different Drugs. Japanese Journal of Medical Mycology, vol. 44(2):77-80.

11. Tajima, Mami. 2005. Malassezia Species in Patients with Seborrheic Dermatitis and Atopic Dermatitis. Japanese Journal of Medical Mycology, vol.46(3):163-167.