Anda di halaman 1dari 9

TAJHIZUL MAYIT (MENGURUSI MAYYIT)

 Apabila ada seseorang meninggal maka diwajibkan bagi sesama muslim untuk mengurus (men-tajhiz) mayit.
Hal tersebut hukumnya fardlu kifayah, yakni apabila sudah dilaksanakan sebagian muslim, maka tidak wajib
bagi muslim lainnya.

                Prosesi tajhiz mayit ada empat (4)

1. Memandikan
2. Mengafani
3. Mensholati
4. Menguburkan

Cara mengurus mayit berbeda-beda sesuai dengan statusnya.

Apabila mayit :

1. Muslim atau syahid Akhirat maka wajib dilaksanakan 4 hal tersebut di atas.


2. Kafir murtad atau kafir harbi (yang memusuhi), Maka :
3. Haram
4. Boleh memandikan, mengafani dan menguburkan.
5. Kafir dzimmiy, musta’man dan mu’ahhad ( orang kafir yang tidak memusuhi), Maka :
6. Wajib mengafani dan menguburkan.
7. Haram mensholati.
8. Boleh memandikan.
9. Sayhid dunia akhirat dan Syahid dunia, Maka:
10. Wajib mengafani dan menguburkan.
11. Haram memandikan dan mensholati.
12. Siqthu ( Bayi / janin keguguran), Maka:
13. Bila sudah mencapai usia 6 bulan, maka wajib dilakukan 4 hal sebagaimana mayit dewasa,
meskipun belum tampak tanda-tanda kehidupan ketika dilahirkan seperti tidak bernafas,
tidak bergerak dan lain-lain.
14. Bila belum mencapai usia 6 bulan, maka di rinci sebagai berikut :

 Bila sudah Nampak tanda-tanda kehidupan seperti bernafas dan bergerak walau sebentar,
maka wajib dilakukan 4 hal sebagaimana mayit dewasa.
 Bila belum Nampak tanda-tanda kehidupan maka dirinci sebagai berikut:

1. a) Jika sudah jelas bentuknya, maka :


2. Wajib memandikan, mengafani dan menguburkan
3. Haram mensholati
4. b) Jika belum jelas bentuknya, maka:
5. Tidak ada kewajiban apapun.
6. Boleh memandikan.
7. Sunnah mengafani dan menguburkan.
8. Haram mensholati.

Catatan :

Apabila menemukan sebagian anggota badan manusia maka perincian hukum berdasarkan wajib dan
tidaknya  tajhiz adalah sebagai berikut:

1. Apabila diyakini anggota tersebut adalah milik orang yang masih hidup, maka;
 Tidak wajib dimandikan.
 Tidak wajib disholati.
 Sunnah dikuburkan dan membungkus dengan kain.

1. Apabila diyakini anggota badan tersebut adalah milik orang yang sudah mati, maka wajib
ditajhiz sebagaimana mayat utuh.[1]

A. MEMANDIKAN MAYIT

1. Perlengkapan

Air kembang (Air daun bidara/Air sabun), air kapur wangi (kapur barus), air jernih, bangku(plang/dipan),
beberapa potong kain/pipih, baju kurung (gamis yang agak lebar, sudah usang dan jarang tenunannya).[2]

    2. Tempat Memandikan

Tempat yang beratap (tertutup) serta di beri wewangian dan sepi dari selain orang yang memandikan, orang
yang membantunya dan wali si mayit.[3]

    3. Orang yang Memandikan

1. Orang yang amanah (tidak suka memberitakan berita buruk si mayit, tetapi


sebaliknya/memberitakan kebaikannya).
2. Orang yang memandikan wajib satu jenis kelamin dengan mayit kecuali mahram atau suami-
istri.
3. Jika mayit laki-laki, maka yang lebih utama dalam memandikan adalah orang yang `alim fiqih
(dalam bidang memandikan, kemudian orang `alim fiqih yang lebih tua, kerabat mayit dari
waris `ashobah dengan urutan sebagai berikut :
4. Ayah
5. Kakek dan seatasnya       
6. Anak laki-laki
7. Cucu dan sebawahnya      
8. Sudara laki-laki sekandung                
9. Saudara laki-laki seayah
10. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung
11. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah
12. Saudara ayah sekandung
13. Saudara ayah seayah
14. Jika mayit perempuan, maka yang lebih utama dalam memandikan adalah wanita yang
masih mahromnya dari waris `ashobah, kemudian kerabat wanitanya, kemudian mahrom dari
mertua.[4]

Catatan :

Dalam memandikan mayit, di usahakan untuk tidak memandang tubuh mayit apalagi auratnya, kecuali yang
diperlukan.

 
     4. Cara Memandikan

Memandikan dapat dilakukan dengan menyangga atau memangku mayit atau dengan membaringkanya di atas
bangku (dipan atau sejenisnya).[5]

1. Batas minimal/mencukupi

Mengguyurkan air ke seluruh tubuh mayit (termasuk kemaluan dan lipatan-lipatan badan) setelah
menghilangkan najis dan kotoran-kotoranya terlebih dahulu.

2. Cara yang lebih sempurna


3. a) Tubuh mayit dipakaikan gamis (sebagaimana perlengkapan di atas) atau hanya ditutup
dengan kain.
4. b) Mayit diletakkan di atas  tempat yang agak tinggi (di atas bangku, dipan dan sejenisnya),
dengan menghadap kiblat kemudian bagian kepala agak ditinggikan supaya air basuhan
mudah turun dan tidak masuk kemulut mayit. Atau dengan cara dipangku oleh tiga atau
empat orang , sementara kaki kanan orang yang memangku bagian kepala diganjal dengan
semisal batu dan punggung mayit disandarkan pada lutut kanan, sementara posisi kaki orang
yang memangku bagian tengah (sejajar dengan dubur mayit) direnggangkan agar kotoran
mayit bisa keluar.
5. c) Tangan kanan orang yang memandikan yang paling ujung atau yang mebantunya
diletakkan diantara kedua pundak mayit, sedangkan ibu jari berada di tengkuk, guna
menyangga kepala mayit. Sementara tangan kiri mengusap sambil menekan perut mayit
berulang-ulang agar kotorannya bisa keluar, kemudian dibersihkan.
6. d) Kedua kemaluan mayit dibersihkan dengan menggunakan tangan kiri (jari telunjuk) yang
dibungkus kain (pipih) sebagaimana orang istinja’ (hal ini juga bisa dilakukan dengan posisi
setelah mayit dibaringkan terlentang).

Catatan  : Kain yang sudah digunakan tidak boleh digunakan lagi tetapi dibuang dan tangan kiri (telunjuk)
orang yang memandikan dibasuh atau dibersihkan.

1. e) Menyiwakinya dengan telunjuk tangan kiri yang dibungkus kain basah dan diupayakan
agar gigi mayit tetap terkatup.
2. f) Membersihkan hidung mayit dengan jari kelingking tangan kiri yang di bungkus kain basah
lainnya.
3. g) Membersihkan kotoran yang berada di bawah kuku dan telinga dengan memakai kayu
yang lentur (semisal cotton bud).
4. h) Mewudlui mayit sebagaimana wudlunya orang yang masih hidup (termasuk madlmadloh’,
istinsyaq dan dan tatslits) lalu mayit diusap dengan kain. Contoh niatnya adalah :

‫تعالى‬ ‫هلل‬ ‫سنة‬ ‫الميتة‬ ‫لهذه‬ \ ‫الميت‬ ‫لهذا‬ ‫الوضوء المسنون‬ ‫نويت‬ 

 Saat me-wudlu-i sebaiknya membaca do`a-do`a yang terlaku pada wudlu.


 Saat mewudlui, hendaknya kepala mayit tertunduk/miring agar air tidak masuk ke dalam
perut.
 Jika mayitnya perempuan, maka bagian-bagian Qubul (vagina) yang tampak ketika duduk juga
harus dibasuh.
 Jika mayitnya laki-laki yang belum khitan, maka bagian-bagian yang berada di bawah qulfah
(kunclup) juga harus dibasuh.
 Jika terdapat najis yang sulit dihilangkan, semisal najis di bawah kunclup, Maka setelah
dimandikan, mayat langsung dimakamkan tanpa disholati terlebih dahulu. Namun ada yang
berpendapat bahwa bagian anggota tubuh mayat yang tidak terbasuh, bisa diganti dengan

Adapun cara menayamuminya sama dengan tayamum pada umumnya di sertai dengan niat : ‫نويت التيمم عما تحت‬
‫قلفة هذا الميت هلل تعالى‬

Atau jika mayit tidak bisa dimandikan , semisal bila dimandikan dagingnya rontok, maka cukup
ditayammumi saja. Adapun niatnya sebagai berikut :

 ]6[‫ عليها هلل تعالى‬/ ‫ هذه الميتة الستباحة الصالة عليه‬/ ‫نويت التيمم عن هذا الميت‬

1. i) Membasuh kepala, kemudian jenggot dengan air kembang atau sejenisnya.


2. j) Menyisir rambut dan jenggot yang lebat secara pelan-pelan dengan sisir yang renggang,
kemudian diluruskan kembali (bila ada yang rontok, maka harus di kuburkan).
3. k) Mebasuh sisi tubuh bagian depan, sebelah kanan dengan air daun bidara/air sabun, mulai
dari leher sampai telapak kaki.
4. l) Membasuh sisi tubuh bagian depan, sebelah kiri sebagai mana sisi kanan.
5. m) Memiringkan tubuh mayit ke arah kiri, lalu membasuh sisi tubuh bagian belakang sebelah
kanan dengan daun bidara/air sabun, mulai tengkuk hingga telapak kaki.
6. n) Memiringkan tubuh mayit kearah kanan lalu membasuh sisi tubuh bagian belakang sebelah
kiri sebagaimana membasuh bagian kanan (usahakan agar kepala mayit jangan sampai
terjungkal ).
7. o) Tubuh mayit dilentangkan kembali, kemudian disiram dengan air bersih secara merata
sebagaimana cara di atas mulai ujung rambut hingga ujung kaki.
8. p) Menyiramkan air yang dicampur sedikit kapur wangi (kapur barus), juga mulai ujung
rambut hingga ujung kaki. Dan sunnah di beri niat. yaitu : ‫ف‬ ‫الميتة‬ ‫هذه‬ /‫الميت‬ ‫هذا‬ ‫عن‬ ‫الغسل‬ ‫أداء‬ ‫عن‬ ‫نويت‬
‫تعالى‬ ‫هلل‬ ‫رضا‬

Catatan:

1. Semua cara-cara di atas baru dinamakan satu kali mandian, dan di sunahkan mengulangi
prosesnya secara ganjil (tiga/lima kali).
2. Setelah selesai prosesi memandikan, hendaknya persendian mayit di lemaskan pelan-pelan
dan diusap dengan kain kering/handuk.
3. Bagi orang yang memandikan atau yang membantunya disunahkan memakai tutup
wajah(cadar).
4. Bila setelah selesai memandikan ada kotoran yang keluar, maka cukup dibersihkan saja, tidak
perlu mengulangi prosesi memandikan.
5. Apabila mayit mati dalam keadaan ihrom (belim tahallul awal) maka tidak boleh mencampur
air dengan segala jenis wewangian.

B. MENGKAFANI MAYIT 

Perlengkapan

1. Meja atau sejenisnya, kapas, kapur wangi dan minyak wangi.


2. Untuk mayit laki-laki diperlukan tiga potong kain kafan/mori serta juga bisa di tambah gamis
(baju kurung) dan ‘imamah (surban).
3. Untuk mayit perempuan dan khuntsa (yang statusnya laki-laki atau perempuannya belum
jelas) diperlukan dua potong kain kafan/mori, gamis, tapih dan kerudung.
4. Beberapa utas tali dari kain.

Kain kafan sebaiknya terbuat dari kapas yang berwarna putih dan pernah dicuci(bukan yang baru).[7]

Cara Mengkafani
1. Kafan yang paling baik serta paling lebar dibeber dahulu di atas tali pengikat.
2. Setiap lapis kais kafan diperciki minyak wangi dan ditaburi kapur barus yang telah ditumbuk.
3. Mayit diletakkan terlentang di atas lapisan kain kafan dengan bagian kafan yang berada
diatas kepala lebih dibuat lebih panjang daripada yang berada di bawah kaki, kemudian
tubuhnya diperciki minyak wangi dan ditaburi kapur barus.
4. Kedua tangan mayit disedekapkan di antara dada dan pusar dengan posisi tangan kanan
menumpang tangan kiri.
5. Di antara kedua pantat mayit diberi kapas yang sudah diperciki minyak wangi dan ditaburi
kapur barus (kapas jangan sampai masuk pada lubang anus).
6. Menutup semua lubang yang ada pada tubuh mayit baik yang asal maupun yang baru serta
ketujuh anggota sujud dengan menggunakan kapas yang sudah diperciki minyak wangi dan
ditaburi kapur barus.
7. Lapisan kafan yang paling atas yang sebelah kiri mayit diselimutkan ke tubuh mayit sampai
menutupi seluruh tubuhnya (terutama bagian kanan).
8. Lapisan kafan yang paling atas sebelah kanan mayit diselimutkan ke tubuh mayit sampai
menutupi seluruh tubuhnya (terutama bagian kiri), begitu juga dengan kafan lapisan kedua
dan ketiga.
9. Setelah selesai kemudian diikat di bagian bawah kaki, perut dan atas kepala agar kafan tidak
terlepas(udar jw.) saat jenazah diusung.
10. Keterangan di atas adalah cara mengkafani mayit laki-laki.
11. Adapun cara mengkafani mayit perempuan atau khuntsa, caranya ialah :

 Dipakaikan tapih yang diikat diantara pusar dan dada.


 Dipakaikan gamis.
 Dipakaikan kerudung yang bisa menutup kepala.
 Dikafani dengan dua lapis kafan (caranya seperti halnya mayit laki-laki).
 Diikat pada bagian bawah kaki, perut, atas kepala seperti pada mayit laki-laki dan ditambah
pada bagian dada/payudara (dengan kain yang agak lebar).

1. Tata cara ini adalah tata cara yang lebih sempurna dalam mengkafani mayit laki-laki dan
perempuan serta khuntsa yang tidak sedang dalam keadaan ihrom.
2. Adapun batas minimal mencukupi dalam mengafani mayit laki-laki, perempuan
serta khuntsa yaitu satu lembar kain yang bisa menutupi seluruh badan mayit.
3. Adapun untuk mayit yang ihrom, caranya sama hanya saja tidak boleh menggunakan
wewangian dan tanpa ada ikatan simpul, serta bagi mayit laki-laki tidak boleh menutup
kepalanya, sedangkan mayit perempuan atau khuntsa tidak boleh menutup wajahnya.

Cara Membuat Gamis

Kain kafan dilubangi pada bagian tengahnya (bisa dengan melipat kain ke  arah bawah dan menyamping, lalu
dipotong sudutnya) serta bagian depannya (dada) di gunting sedikit.

Catatan :   

1. Untuk mayit laki-laki tidak boleh menggunakan sutera.


2. Haram menulis ayat-ayat Al Qur`an atau asma-asma Allah pada kafan dengan memakai
sesuatu yang dapat meninggalkan bekas.[8]

C. MENSHOLATI MAYIT

Dalam mensholati mayit ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya :

Syarat-syarat mensholati mayit.[9]

Sama dengan syarat-syarat sholat lain, hanya saja ditambah beberapa syarat

yaitu :
1. Mayit yang hendak disholati telah disucikan (dimandikan) serta perkara yang bersentuhan
dengan si mayit juga harus suci.
2. Mayit berada didepan musholli (dalam sholat mayit hadir).
3. Dilakukan di suatu tempat yang tidak ada penghalang antara musholi dengan mayit dan jika
dilakukan di luar masjid, maka jaraknya tidak melebihi 300 dzira` / ±150 m (dalam sholat
mayit hadir)

Kesunahan sebelum melaksakan sholat mayit

1. Sholat mayit dilaksanakan dimasjid.


2. Shof / barisan jama’ah minimal dijadikan 3 (tiga) baris.
3. Posisi kepala mayit laki-laki berada di selatan, sementara posisi imam atau munfarid lurus
kepala mayit. Bila mayit perempuan, maka posisi kepala mayit berada diutara, sedangkan
posisi imam atau munfarid sejajar dengan pantan mayit.

Tata cara sholat mayit/jenazah[10]

1. Berdiri bagi yang mampu sebagaimana sholat-sholat yang lain.


2. Niat bersamaan takbiratul ihram, lafadznya ialah :

‫أصلى على هذا الميت (هذه الميتة) أربع تكبيرات فرض كفاية مستقبل القبلة مأموما (إماما) هلل تعالى‬

3. Mengangkat tangan hingga sejajar telinga saat takbiratul ihram dan takbir-takbir yang lain.
4. Meletakkan tangan di antara pusar dan dada.
5. Membaca ta`awudz dan surat al Fatihah dengan pelan (sirri).
6. Jika ma`mum lebih dulu selesai dalam membaca fatihah, sebaiknya ia berdo`a bagi mayit.
7. Takbir yang kedua.
8. Membaca shalwat nabi SAW, minimalnya ‫يِّ ِدنَا ُم َح َّم ٍد‬z‫س‬ َ ‫اللَّ ُه َّم‬ dan yang lebih utama ialah
َ ‫ ِّل َعلَى‬z‫ص‬
dengan sholawat ibrahim yaitu :

َ ‫اللَّ ُه َّم‬
َ ‫ص ِّل َعلَى‬
‫د وعلى آل‬zz‫يدنا محم‬zz‫ارك على س‬zz‫وب‬ ‫راهيم‬zz‫يدنا إب‬zz‫راهيم وعلى آل س‬zz‫سيِّ ِدنَا ُم َح َّم ٍد وعلى آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إب‬
‫ سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد‬ ‫ كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل‬ ‫سيدنا محمد‬

9. Takbir yang ketiga.


10. Berdo`a khusus bagi si mayit, minimalnya ‫اللهم اغفرله‬ dan yang lebih utama:

‫وب‬zz‫ا ينقى الث‬z‫ا كم‬z‫ه من الخطاي‬z‫ ونق‬،‫برد‬zz‫اء والثلج وال‬z‫له بالم‬zz‫ واغس‬،‫ه‬z‫ع مدخل‬zz‫ه ووس‬z‫رم نزول‬zz‫ وأك‬،‫ وعافه واعف عنه‬،‫اللهم اغفرله وارحمه‬
.‫ ومن عذاب النار‬،‫ وأعذه من عذاب القبر وفتنته‬،‫ وزوجا خيرا من زوجه‬،‫ وأهال خيرا من أهله‬،‫ وأبدله دارا خيرا من داره‬،‫األبيض من الدنس‬
‫ه‬zzّ‫ا فتوف‬zzّ‫ه من‬zz‫الم ومن توفّيت‬zz‫على اإلس‬  ‫ه‬zz‫ا فأحي‬zzّ‫ه من‬zz‫ أللهم من أحييت‬.‫اللهم إغفر لحيّنا وميّتنا وشاهدنا وغائبنا وصغيرنا وكبيرنا وذكرنا وأنثانا‬
[‫ده‬zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz‫لّنا بع‬zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz‫ وال تض‬, ‫ره‬zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz‫ا أج‬zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz‫ الله ّم ال تحرمن‬.‫ان‬zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz‫على اإليم‬
]11                                                                                                                                             

Jika mayitnya belum baligh, maka sebaiknya doanya ditambah :

‫ا‬zz‫رم هم‬zz‫ وال تفتنهما بعده و التح‬،‫اللهم اجعله فرط ألبويه وسلفا وذخرا وعظة واعتبارا وشفيعا وثقّل به موازينهما وأفرغ الصبر على قلوبهما‬
‫وال تفتنهما بعده واغفر لنا ولهما ولجميع المؤمنين‬ ‫…أجره‬.

11. Takbir kempat.


12. Membaca do`a :‫وله‬ ‫لنا‬ ‫واغفر‬ ‫وغيره‬ ‫بعده‬ ‫تفتنّا‬ ‫وال‬ ‫أجره‬ ‫التحرمنا‬ ‫اللهم‬
13. Salam, caranya sama dengan salam pada sholat lain hanya saja ditambah lafadz
‫وبركاته‬   menjadi ‫سالم‬
ّ ‫ال‬ ‫ورحمة هللا وبركا ته‬ ‫عليكم‬

 
Catatan :

1. Tidak disunahkan mengeraskan do`a dalam shalat mayit/jenazah.


2. Hendaknya imam mengeraskan suaranya saat takbir dan salam.
3. Jika mayitnya perempuan tunggal, maka dlomir dalam lafadz ‫له‬ diganti lafadz ‫لها‬   jika dua
orang memakai lafadz ‫لهما‬  jika laki-laki banyak memakai lafadz  ‫لهم‬ jika perempuan jama`
memakai lafadz . ّ‫لهن‬

 D. MEMAKAMKAN MAYIT/JENAZAH

Perlengkapan

Alat penggali kubur seperti cangkul, skop dan sejenisnya, keranda mayit, nisan, papan penutup, dan bantalan
dari tanah sebesar batu bata.[12]

Liang kubur  :

1. Batas Minimal yaitu : Liang yang bisa mencegah menyebarnya bau mayit, dan bisa menjaga
dari binatang buas.
2. Cara yang lebih sempurna : liang yang ukurannya sepanjang tubuh mayit di tambah dua
jengkal dan lebarnya sekira orang yang memakamkan bisa leluasa (±100 cm), serta dalamnya
tidak kurang dari ±4,5 dzira` (±200 cm).

Dalam penguburan mayit dikenal 2(dua) jenis liang kubur :

Liang Cempuri

Yaitu liang kuburan yang digali bagian tengahnya (seperti menggali parit) untuk meletakkan mayit yang
ukurannya sekira papan penutup tidak tersentuh tubuh mayit ketika melepuh. Hal ini diperuntukkan bagi
tanah yang lunak (gembur).

Liang Lahat, (Luang landak ; jw)

Yaitu liang kuburan yang sisi sebelah baratnya (arah kiblat) digali sekira cukup untuk meletakkan mayit.

Prosesi Pemberangkatan Jenazah

1. Janazah diusung menggunakan keranda (bandoso ; jw).


2. Ketika akan meletakkan janazah ke dalam keranda, hendaknya mebaca basmalah.
3. Sebelum diberangkatkan, jenazah dimintakan persaksian kepada khalayak umum tentang
kebaikannya (dengan catatan tanpa adanya dusta dan cerita atau ucapan yang dibuat-buat)
[13]
4. Dido`akan ampunan, rahmat serta ketetapan iman, dan dimintakan kebebasan hak adamiy,
seperti ghibah (ngrasani-jw.) , hutang dan lain-lain serta pemberitahuann tentang pengalihan
hutang-piutang kepada ahli warits.
5. Yang lebih utama janazah diusung oleh lima orang atau lebih sesuai kebutuhan dengan
menggunakan keranda seperti gambar berikut:

                                                                                                            

 
6. Posisi kepala mayit berada di depan.
7. Hendaknya mengusungnya dengan cara sekira tidak merendahkan martabat mayit, serta
jalan kaki dan hendaknya yang mengusung adalah orang laki-laki.
8. Disunahkan bagi pengiring jenazah untuk jalan kaki dan berada didepan serta dekat keranda
dan baru pulang saat mayit telah selesai dikuburkan.
9. Berjalan dengan cepat, dan tidak bersuara riuh (berteriak-riak).
10. Berdzikir lirih untuk menghindari ghibah.
11. Hindari membawa api atau sejenisnya kecuali untuk penerangan.
12. Bagi orang yang melihat jenazah yang di usung/diberangkatkan disunahkan memuji
kebesaran Allah SWT. dan berdo`a seperti:

‫ هذا ما وعدنا هللا ورسوله الله ّم زدنا ايمانا و تسليما‬ ‫ هللا ورسوله‬ ‫سبحان الحي الذى ال يموت أو سبحان الملك القدّوس هللا أكبر صدق‬

1. Kesunnahan mengiring jenazah hanya berlaku untuk laki-laki, sedangkan bagi perempuan
hukumnya [14]

Prosesi pemakaman

1. Setelah sampai di pemakaman, keranda diletakkan di pinggir makam bagian selatan dengan
posisi membujur ke utara.
2. Jenazah dikeluarkan dari keranda diawali dari bagian kepala sambil membaca do`a :

‫سع له فى قبره‬ ّ ‫بسم هللا وعلى ملة رسول هللا صلى هللا عليه وسلّم اللهم افتح ابواب السماء لروحه وأكرم نزله وو‬
ّ ‫سع مدخله وو‬

3. Kemudian diterima orang yang berada di dalam makam dengan membaca do`a :

‫ان يحب‬zz‫ه من ك‬zz‫ه وفارق‬zz‫ه واخوان‬zz‫ه وقرابت‬zz‫ اللهم اسلمه إليه االشحاء من ولده وأهل‬،‫بسم هللا وعلي ملة (سنة) رسول هللا صلى هللا عليه وسلم‬
‫ني‬zz‫و انت غ‬zz‫ل العف‬zz‫ ونزل بك وأنت خير منزول به ان عاقبته فبذنب وان عفوت فأه‬،‫قربه وخرج من سعة الدنيا والحياة إلى ظلمة القبر وضيقه‬
 ‫ول‬zz‫ ّل ه‬z‫ه ك‬zz‫اللهم تقبّل حسنته واغفر سيئته وأعده من عذاب القبر واجمع له برحمتك األمن من عذابك واكف‬ ،‫عن عذابه وهو فقير إلي رحتمك‬
]15[   ..‫ اللهم واخلفه فى تركته فى الغابرين وارفعه فى علّيّين وعد عليه بفضل رحمتك يا أرحم الراحمين‬،‫دون الجنة‬                                                   

                             

4. Jenazah di letakkan miring pada sisi tubuh bagian kanan dengan menghadap arah kiblat
5. Wajah dan kedua kakinya di sandarkan pada dinding makam sehingga seperti posisi orang
yang hampir ruku`
6. Punggungnya di ganjal dengan bantalan dari tanah agar tidak terlentang
7. Semua Ikatan tali bagian luar dilepas terutama bagian kepala mayit agar kafan dapat di
singkap, kemudian kepalanya di bantali dengan tanah agar jenazah tidak terjungkal, dan
pipinya ditempelkan pada tanah
8. Liang lahat di tutup dengan papan atau sejenisnya
9. Makam ditimbun atau diurug dengan tanah hingga kira-kira setinggi satu jengkal merata lalu
dipasang nisan.
10. Diperbolehkan juga menggunduk, tetapi meratakan tanah lebih baik dari pada
menggunduknya.
11. Nisan sebaiknya dari kayu (jangan dari bahan yang permanen).
12. Bagi pengiring agar menburkan tanah ke makam tiga kali dengan berdo`a :
13. Untuk taburan pertama :                     ‫ اللهم لقّنه عند المسألة حجته‬،‫منها خلقناكم‬
14. Untuk taburan kedua :                   ‫ اللهم افتح ابواب السما ء لروحه‬،‫وفيها نعيدكم‬
15. Untuk taburan ketiga :     ‫ اللهم جافّ األرض عن جنبيه‬،‫ومنها نخرجكم تارة أخرى‬

 
11. Kemudian mentalqin mayit, mendo`akan dan memintakan ampun atas dosa-dosanya.[16]

Contoh lafadz talqin[17] :

ّ‫ وأن‬،ّ‫ق‬z‫ار ح‬zz‫ وأنّ الن‬،ّ‫ق‬z ‫ة ح‬zzّ‫ وأنّ الجن‬،‫وأنّ مح ّمدا رسول هللا‬  ‫يا عبد هللا ابن أ ّمة هللا أذكر ما خرجت عليه من دار الدنيا شهادة ان الإله إال هللا‬
‫القرآن‬z‫ وب‬،‫ا‬zّ‫لّم نبي‬z‫ه وس‬z‫لّى هللا علي‬z‫د ص‬z‫ وبمح ّم‬،‫ وباإلسالم دينا‬،‫ رضيت باهلل ربّا‬ ‫ وأنّك‬z،‫ وأنّ هللا يبعث من فى القبور‬،‫الساعة أتية ال ريب فيها‬
‫ وبالمؤمنين إخوانا‬،‫ وبالكعبة قبلة‬،‫إماما‬

Catatan :

1. Dalam mentalqin bisa langsung menggunakan nama shorih (nama mayit dan nama ibunya) bila


di ketahui.
2. Utamanya bagi Mulaqqin (orang yang mentalqin) adalah duduk di sisi kepala mayit, sedangkan
jama`ah (hadirin) berdiri.
3. Sunnah mengulangi talqin sampai tiga kali.
4. Haram mencabuti rerumputan yang masih basah di atas kuburan, kecuali rumput tersebut
telah kering.

 ‫وهللا أعلم بالصواب‬

Anda mungkin juga menyukai