Dampak Ergonomi Buruk di Tempat Kerja
Dampak Ergonomi Buruk di Tempat Kerja
Diajukkan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Keperawatan Kesehatan Kerja
Hoirinawati (P27901121068)
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Keperawatan
Kesehatan Kerja tentang “Ergonomi Terapan di Wilayah Perusahaan atau Pabrik”. Dalam
penyusunan makalah ini mungkin ada sedikit hambatan, namun kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan baik.
Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat membantu proses pembelajaran dan
dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca. Kami juga sebagai penulis tidak lupa
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, atas bantuan, dukungan dan doanya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca dan semua
pihak dapat mengetahui materi tentang “Ergonomi Terapan di Wilayah Perusahaan atau
Pabrik”. Makalah ini mungkin kurang sempurna, untuk itu kami mengharap kritik dan
saran untuk penyempurnaan makalah ini.
Penulis
i
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
A. Kesimpulan ............................................................................................... 25
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi saat ini begitu pesat, sehingga peralatan
sudah menjadi kebutuhan pokok pada lapangan pekerjaan, artinya peralatan
dan teknologi merupakan salah satu penunjang yang penting dalam upaya
meningkatkan produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu,
akan terjadi dampak negatifnya bila kita kurang waspada menghadapi
bahaya potensial yang mungkin akan timbul.
Hal ini tentunya dapat di cegah dengan adanya antisipasi berbagai
risiko, antara lain kemungkinan terjadinya penyakit akibat kerja, penyakit
yang berhubungan dengan pekerjaan dan kecelakaan akibat kerja yang dapat
menyebkan kecacataan dan kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh
semua pihak dengan cara penyesuaian antara pekerja, proses kerja dan
lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ergonomi.
Dalam dunia kerja terdapat Undang-Undang yang mengatur tentang
ketenagakerjaan yaitu Undang-Undang No. 14 tahun 1969 tentang
ketentuan- ketentuan pokok tenaga kerja merupakan subjek dan objek
pembangunan. Ergonomi yang bersasaran akhir efisiensi dan keserasian
kerja memiliki arti penting bagi tenaga kerja, baik sebagai subjek maupun
objek. Akan tetapi sering kali suatu tempat kerja mengesampingkan aspek
ergonomi bagi para pekerjanya, hal ini tentunya sangat merugikan
perusahaan dan para pekerja itu sendiri.
Pada umumnya ergonomi belum diterapkan secara merata pada
sektor kegiatan ekonomi. Gagasannya telah lama disebarluaskan sebagai
unsur hygiene perusahaan dan kesehatan kerja (hiperkes), tetapi sampai saat
ini kegiatan- kegiatan baru sampai pada taraf pengenalan, khususnya pada
pihak yang bersangkutan, sedangkan penerapannya baru pada tingkat
perintisan. Fungsi pembinaan ergonomi secara teknis merupakan tugas
pemerintah. Pusat Bina Hiperkes dan Keselamatan Kerja memiliki fungsi
1
pembinaan ini melalui pembinaan keahlian dan pengembangan
penerapannya.
Namun begitu, sampai saat ini pengembangan kegiatan-kegiatannya
baru diselenggarakan dan masih menunggu kesiapan masyarakat untuk
menerima ergonomi dan penerapannya. Dalam hal menunggu kesiapan
tersebut maka perlu pemberitahuan kepada masyarakat itu sendiri mengenai
ergonomi ini. Salah satu cara dalam pemberitahuan tersebut adalah melalui
tulisan-tulisan formal maupun informal, dimana salah satunya adalah
melalui pembuatan makalah. Oleh karena itu, penulis merasa perlu untuk
membuat makalah yang berjudul ergonomi di tempat kerja.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan ergonomi?
2. Bagaimana sejarah ergonomi?
3. Apa tujuan dari ergonomi?
4. Apa saja metode ergonomi?
5. Bagaimana aplikasi ergonomi di tempat kerja?
6. Sikap Kerja yang Ergonomi Pada Pekerja yang Berhadapan Dengan
Komputer
7. Apa saja masalah akibat lingkungan kerja yang tidak ergonomi?
8. Apa saja penanggulangan kelelahan?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk meningkatkan
pemahaman masyarakat, khususnya para pekerja mengenai aspek
ergonomis di tempat kerja sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit
akibat kerja, penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan dan kecelakaan
akibat kerja yang dapat menyebabkan kecacatan atau kematian. Hasil akhir
dari semua ini adalah dapat meningkatkan kesehatan para pekerja dan
meningkatkan produktivitas dari perusahaan.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Ergonomi
Menurut International Ergonomic Association (IEA), ergonomi
berasal dari bahasa Yunani, yaitu ergon yang artinya kerja dan nomos yang
artinya hukum. sehingga ergonomi didefinisikan sebagai ilmu yang
mempelajari hubungan antara manusia dengan dan elemen-elemen lain
dalam suatu sistem dan pekerjaan yang mengaplikasikan teori, prinsip, data
dan metode untuk merancang suatu sistem yang optimal, dilihat dari sisi
manusia dan kinerjanya.
Dari survei pendahuluan yang dilakukan pekerja mengalami
gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh sikap kerja yang tidak
ergonomis. Keluhan yang dialami antara lain: sakit pada pinggang, lelah
seluruh badan, nyeri lutut dan kaki, keluhan pada lengan dan tangan, dan
nyeri bahu dan punggung. Beberapa prinsip kerja secara ergonomis agar
terhindar dari cedera antara lain:
1. Gunakan tenaga seefisien mungkin, beban yang tidak perlu harus
dikurangi atau dihilangkan, perhitungkan gaya berat yang mengacu
pada berat badan dan bila perlu gunakan pengungkit sebagai alat
bantu.
2. Sikap tubuh berdiri, duduk dan jongkok hendaknya disesuaikan
dengan prinsip-prinsip ergonomi.
3. Panca indera dapat dimanfaatkan sebagai alat kontrol, bila susah
harus istirahat (jangan dipaksa) dan bila lapar atau haus harus makan
/minum (jangan ditahan).
4. Jantung digunakan sebagai parameter yang diukur lebih dari jumlah
maksimum yang diperbolehkan."
Ergonomi juga dapat digunakan dalam menelaah sistem manusia dan
poduksi yang kompleks. Dapat ditentukan tugas-tugas apa yang
3
diberikan kepada tenaga kerja dan yang mana kepada mesin. Dibawah ini
dikemukakan beberapa prinsip ergonomi sebagai pegangan, antara lain:
1. Sikap tubuh dalam pekerjaan sangat dipengaruhi oleh bentuk,
susunan, ukuran dan penempatan mesin-mesin, penempatan alat-alat
penunjuk, cara-cara harus melayani mesin (macam, gerak, arah dan
kekuatan)
2. Dari sudut otot sikap duduk yang paling baik adalah sedikit
membungkuk. Sedangkan dari sudut tulang duduk yang baik adalah
duduk tegak agar punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak
lemas. Maka dianjurkan memilih sikap duduk yang tegak yang
diselingi istirahat dan sedikit membungkuk.
3. Pekerjaan berdiri sedapat mungkin dirubah menjadi pekerjaan
duduk. Dalam hal tidak mungkin kepada pekerja diberi tempat dan
kesempatan untuk duduk.
4. Arah penglihatan untuk pekerjaan berdiri adalah 23-37 kebawah.
Arah penglihatan ini sesuai dengan sikap kepala yang istirahat
(relaxed).
5. Ruang gerak lengan ditentukan oleh punggung lengan seluruhnya
dan lengan bawah. Pegangan-pegangan harus diletakkan, lebih-lebih
bila sikap tubuh tidak berubah.
6. Macam gerakan yang kontinu dan berirama lebih diutamakan,
sedangkan gerakan yang sekonyong-konyong pada permulaan dan
berhenti dengan paksa sangat melelahkan. Gerakan ke atas harus
dihindarkan, berilah papan penyokong pada sikap lengan yang
melelahkan. Hindarkan getaran-getaran kuat pada kaki dan lengan.
7. Pembebanan sebaiknya dipilih yang optimum, yaitu beban yang
dapat dikerjakan dengan pengerahan tenaga paling efisien. Beban
fisik maksimum telah ditentukan oleh ILO sebesar 50kg. Cara
mengangkat dan menolak hendaknya memperhatikan hukum-
hukum ilmu gaya dan dihindarkan penggunaan tenaga yang tidak
4
perlu. Beban hendaknya menekan langsung pada pinggul yang
mendukungnya.
8. Kemampuan seseorang bekerja seharinya adalah 8-10 jam, lebih
dari itu efisien dan kualitas kerja sangat menurun."
Dalam ergonomi akan dipelajari cara-cara penyesuaian pekerjaan,
alat kerja dan lingkungan kerja dengan manusia, dengan memperhatikan
kemampuan dan keterbatasan manusia itu sehingga tercapai suatu
keserasian antara manusia dan pekerjaannya yang akan meningkatkan
kenyamanan kerja dan produktifitas kerja.
B. Sejarah Ergonomi
Ergonomi mulai dicetuskan pada tahun 1949, akan tetapi aktivitas
yang berkenaan dengannya telah bermunculan puluhan tahun sebelumnya.
Beberapa kejadian penting diilustrasikan sebagai berikut:
a. C.T. Thackrah, England, 1831
Trackrah adalah seorang dokter dari Inggris/England yang
meneruskan pekerjaan dari seorang Italia bernama Ramazzini,
dalam serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan
kerja yang tidak nyaman yang dirasakan oleh para operator di
tempat kerjanya. Ia mengamati postur tubuh pada saat bekerja
sebagai bagian dari masalah kesehatan. Pada saat itu Trackrah
mengamati seorang penjahit yang bekerja dengan posisi dan
dimensi kursi-meja yang kurang sesuai secara antropometri, serta
pencahayaan yang tidak ergonomis sehingga mengakibatkan
menbungkuknya badan dan iritasi indera penglihatan.
b. F.W. Taylor, U.S.A., 1989
Frederick W. Taylor adalah seorang insinyur Amerika yang
menerapkan metoda ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik
dalam melakukan suatu pekerjaan.
c. F.B. Gilbreth, U.S.A., 1911
5
Gilbreth juga mengamati dan mengoptimasi metoda kerja,
dalam hal ini lebih mendetail dalam Analisa Gerakan dibandingkan
dengan Taylor. Dalam bukunya Motion Study yang diterbitkan
pada tahun 1911 ia menunjukkan bagaimana postur membungkuk
dapat diatasi dengan mendesain suatu sistem meja yang dapat diatur
turun-naik (adjustable).
d. Badan Penelitian untuk Kelelahan Industri (Industrial Fatique
Research Board), England, 1918
Badan ini didirikan sebagai penyelesaian masalah yang
terjadi di pabrik amunisi pada Perang Dunia Pertama. Mereka
menunjukkan bagaimana output setiap harinya meningkat dengan
jam kerja per hari-nya yang menurun.
e. E. Mayo dan teman-temannya, U.S.A., 1933
Elton Mayo seorang warga negara Australia, memulai
beberapa studi di suatu Perusahaan Listrik. Tujuan studinya adalah
untuk mengkuantifikasi pengaruh dari variabel fisik seperti
pencahayaan dan lamanya waktu istirahat terhadap faktor efisiensi
dari para operator kerja pada unit perakitan.
f. Perang Dunia Kedua, England dan U.S.A
Masalah operasional yang terjadi pada peralatan militer yang
berkembang secara cepat (seperti misalnya pesawat terbang).
Masalah yang ada pada saat itu adalah penempatan dan identifikasi
utnuk pengendali pesawat terbang, efektivitas alat peraga (display),
handel pembuka, ketidak-nyamanan karena terlalu panas atau terlalu
dingin, desain pakaian untuk suasana kerja yang terlalu panas atau
terlalu dingin dan pengaruhnya pada kinerja operator.
g. Pembentukan Kelompok Ergonomi
Pembentukan Masyarakat Peneliti Ergonomi (the
Ergonomics Research Society) di England pada tahun 1949
melibatkan beberapa profesional yang telah banyak berkecimpung
dalam bidang ini. Hal ini menghasilkan jurnal (majalah ilmiah)
6
pertama dalam bidang Ergonomi pada November 1957.
Perkumpulan Ergonomi Internasional (The International
Ergonomics Association) terbentuk pada 1957, dan The Human
Factors Society di Amerika pada tahun yang sama.
Diketahui pula bahwa Konferensi Ergonomi Australia yang pertama
diselenggarakan pada tahun 1964, dan hal ini mencetuskan terbentuknya
Masyarakat Ergonomi Australia dan New Zealand (The Ergonomics
Society of Australian and New Zealand).
C. Tujuan Ergonomi
Pelaksanaan dan penerapan ergonomi di tempat kerja di mulai dari
yang sederhana dan pada tingkat individual terlebih dahulu. Rancangan
ergonomi akan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas
kerja, serta dapat menciptakan sistem serta lingkungan yang cocok, aman,
nyaman dan sehat.
a. Secara umun tujuan dari penerapan Ergonomi adalah:
Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya
pencegahan cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban
kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
b. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas
kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna
dan meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia
produktif maupun setelah tidak produktif.
c. Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu
aspek teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem
kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan hidup
yang tinggi.
7
D. Metode-Metode Ergonomi
a) Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja,
inspeksi tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan,
ergonomik checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya.
Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai
kompleks.
b) Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data
dasar pada saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah
posisi meubel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli
furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja
c) Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif
misalnya dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang
sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan, sakit kepala dan lain-lain.
Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak,
absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain.
8
menjamin sikap tubuh paling alamiah dan memungkinkan
dilakukannya gerakan-gerakan yang dibutuhkan.
Dikenal dua sikap kerja, yaitu sikap duduk dan sikap berdiri:
a. Sikap Duduk
Pekerjaan sejauh mungkin harus dilakukan sambil duduk
karena sikap kerja duduk merupakan sikap kerja dimana kaki
tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama
bekerja. Duduk memerlukan lebih sedikit energi daripada
berdiri karena hal itu dapat mengurangi banyaknya beban
otot statis pada kaki. Kegiatan bekerja sambil duduk harus
dilakukan secara ergonomi sehingga dapat memberikan
kenyamanan dalam bekerja.
Sikap duduk yang paling baik yaitu tanpa pengaruh
buruk terhadap sikap badan dan tulang belakang adalah sikap
duduk dengan sedikit lordosa (sikap tulang punggung ke
depan) pada pinggang dan sedikit mungkin kifosa (sikap
duduk ke belakang) pada punggung. Sikap demikian dapat
dicapai dengan kursi dan sandaran punggung yang tepat.
Dengan begitu otot punggung terasa enak."
Sikap duduk yang benar yaitu sebaiknya duduk
dengan punggung lurus dan bahu berada dibelakang serta
bokong menyentuh belakang kursi. Caranya, duduk diujung
kursi dan bungkukkan badan seolah terbentuk huruf C.
Setelah itu tegakkan badan buatlah lengkungan tubuh sebisa
mungkin. Tahan untuk beberapa detik kemudian lepaskan
posisi tersebut secara ringan (sekitar 10 derajat). Posisi
duduk seperti inilah yang terbaik. Duduklah dengan lutut
tetap setinggi atau sedikit lebih tinggi panggul (gunakan
penyangga kaki) dan sebaiknya kedua tungkai tidak saling
menyilang. Jaga agar kedua kaki tidak menggantung dan
hindari duduk dengan posisi yang sama lebih dari 20-30
9
menit. Selama duduk, istirahatkan siku dan lengan pada
kursi, jaga bahu tetap rileks."
1) Kurangnya kelelahan
2) Berkurangnya pemakaian energi, dan
3) Berkurangnya sikap keperluan sirkulasi darah.
10
sakit/pegal di daerah pinggang. Apabila hal ini tidak
dikoreksi, maka gangguan kesehatan tersebut
akan menyebabkan penyakit kelainan dan akhirnya
menurunkan kemampuan melakukan aktivitas."
11
a. Tinggi area kerja harus sesuai sehingga pekerjaan
dapat dilihat dengan mudah dengan jarak optimal dan
sikap duduk yang enak. Makin kecil ukuran benda,
makin dekat jarak lihat optimal dan makin tinggi area
kerja.
b. Pegangan, handel, peralatan dan alat-alat pembantu
kerja lainnya harus ditempatkan sedemikian pada
moja atau bangku kerja, agar gerakan- gerakan yang
paling sering dilakukan dalam keadaan fleksi.
c. Kerja otot statis dapat dihilangkan atau sangat
berkurang dengan pemberian penunjang siku, lengan
bagian bawah, atau tangan. Topangan- topangan
tersebut harus diberi bahan lembut dan dapat di
sesuaikan, sehingga sesuai bagi pemakainya.
12
Diukur pada garis tengah alas duduk melintang.
Lebar alas duduk harus lebih besar dari lebar pinggul.
Ukuran yang diusulkan adalah 44-48 cm.
d. Sandaran pinggang
Bagian atas dari sandaran pinggang tidak melebihi
tepi bawah ujung tulang belikat, dan bagian
bawahnya setinggi garis pinggul.
e. Sandaran tangan
Jarak antara tepi dalam kedua sandaran tangan (harus
lebih lebar dari pinggul dan tidak melebihi lebar
bahu)
f. Tinggi Sandaran adalah setinggi siku
Panjang sandaran tangan: sepanjang lengan bawah.
Ukuran yang dianjurkan adalah jarak tepi dalam
kedua sandaran tangan: 46-48 cm. Tinggi sandaran
tangan adalah 20 cm dari alas duduk. Panjang
sandaran tangan: 21 cm.
g. Sudut alas duduk
Alas duduk harus sedemikian rupa sehingga
memberikan kemudahan bagi pekerja untuk
menentukan pemilihan gerakan dan posisi. Alas
duduk hendaknya dibuat horisontal. Untuk
pekerjaan-pekerjaan yang tidak memerlukan sikap
sedikit membungkuk ke depan, alas duduk dapat
dibuat ke belakang (3-5 derajat). Bila keadaan
memungkinkan, dianjurkan penyediaan tempat
duduk yang dapat diatur.
13
b. Sikap Berdiri
Selain sikap kerja duduk, sikap kerja berdiri juga
banyak ditemukan di perusahaan. Sikap kerja berdiri
merupakan sikap kerja yang posisi tulang belakang vertikal
dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
Sikap kerja berdiri dapat menimbulkan keluhan subjektif dan
juga kelelahan bila sikap kerja ini tidak dilakukan bergantian
dengan sikap kerja duduk."
Ukuran tubuh yang penting dalam bekerja dengan
posisi berdiri adalah tinggi badan berdiri, tinggi bahu, tinggi
siku, tinggi pinggul, panjang lengan. Bekerja dengan posisi
berdiri terus menerus sangat mungkin akan mengakibatkan
penumpukan darah dan beragai cairan tubuh pada kaki dan
ini akan membuat bertambahnya biola berbagai bentuk dan
ukuran sepatu yang tidak sesuai, seperti pembersih (clerks),
dokter gigi, penjaga tiket, tukang cukur pasti memerlukan
sepatu ketika bekerja."
Apabila sepatu tidak pas maka sangat mungkin akan
sobek dan terjadi bengkak pada jari kaki, mata kaki, dan
bagian sekitar telapak kaki. Sepatu yang baik adalah yang
dapat manahan kaki (tubuh) dan kaki tidak direpotkan untuk
menahan sepatu, desain sepatu harus lebih longgar dari
ukuran telapak kaki dan apabila bagian sepatu dikaki terjadi
penahanan yang kuat pada tali sendi (ligaments) pergelangan
kaki, dan itu terjadi dalam waktu yang lama, maka otot
rangka akan mudah mengalami kelelahan.
Beberapa penelitian telah berusaha untuk
mengurangi kelelahan pada tenaga kerja dengan posisi
berdiri, contohnya yaitu seperti yang diungkapkan Granjean
(dalam Santoso, 2004) merekomendasikan bahwa untuk
jenis pekerjaan teliti, letak tinggi meja diatur 10 cm di atas
14
siku. Untuk jenis pekerjaan ringan, letak tinggi meja diatur
sejajar dengan tinggi siku, dan untuk pekerjaan berat, letak
tinggi meja diatur 10 cm di bawah tinggi siku.
2. Proses Kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai
dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran
anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan
timur.
Istilah anthropometri berasal dari kata anthro yang berarti
manusia dan metri yang berarti ukuran. Anthropometri dapat
didefinisikan sebagai satu studi yang berkaitan dengan ukuran
dimensi tubuh manusia. Data anthropometri sangat penting dalam
menentukan alat dan cara mengoperasikannya. Kesesuaian
hubungan antara anthropometri pekerja dengan alat yang digunakan
sangat berpengaruh pada sikap kerja, tingkat kelelahan, kemampuan
kerja dan produktivitas kerja. Anthropometri juga dapat ditentukan
dalam seleksi penerimaan tenaga kerja, misalnya orang gemuk tidak
cocok ditempat pekerjaan yang bersuhu tinggi, pekerjaan yang
memerlukan kelincahan, dll. Data anthropometri dapat digunakan
untuk mendesai pakaian, tempat kerja, lingkungan kerja, mesin, alat
kerja dan sarana kerja serta produk-produk untuk konsumer.
Menurut Numianto (2003) dalam mengukur data
anthropometri banyak ditemui perbedaan-perbedaan atau sumber
validitas yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran yang pada
akhirnya akan digunakan dalam perancangan suatu produk.
Adapun faktor-faktor yang turut mempengaruhi dimensi
tubuh manusia yang menyebabkan timbulnya perbedaan antar
populasi yaitu jenis kelamin, usia, jenis pekerjaan, dan faktor
kehamilan pada wanita.
15
3. Tata Letak Tempat Kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja.
Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak
digunakan daripada kata-kata.
4. Mengangkat Beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni,
dengan kepala, bahu, tangan, punggung dan sebagainya. Beban yang
terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan
otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan
mengangkat dan mengangkut adalah sebagai berikut:
a. Beban yang diperkenakan, jarak angkut dan intensitas
pembebanan. Kondisi lingkungan kerja yaitu keadaan medan
yang licin, kasar, naik turun dll.
b. Keterampilan bekerja
c. Peralatan kerja beserta keamanannya
Harus diperhatikan juga cara mengangkut beban. Cara-cara
mengangkut dan mengangkat yang baik harus memenuhi 2
prinsip kinetis yaitu:
- Beban diusahakan menekan pada otot tungkai yang
keluar dan sebanyak mungkin otot tulang belakang yang
lebih lemah dibebaskan dari pembebanan.
- Momentum gerak badan dimanfaatkan untuk mengawali
gerakan.
16
Berat beban maksimal yang boleh dipikul adalah:
17
via pos. Dapat dikatakan bahwa komputer adalah suatu sarana yang dapat
mempermudah manusia dalam beraktivitas baik dalam menyelesaikan tugas
(mengolah data) maupun untuk memperoleh informasi.
Seperangkat komputer yang paling sederhana terdiri dari Layar
Monitor, CPU, Keyboard, Mouse, dengan seperangkat unit ini kita sudah
bisa melakukan aktivitas mengetik. Untuk bisa mengunakan seperangkat
komputer tersebut dengan nyaman dan aman maka letak dari bagian-bagian
komputer ini harus diatur sesuai dengan fungsi dan disesuaikan juga dengan
pengguna atau operator. Hal ini dimaksudkan dalam pencapaian ergonomi
di lingkungan kerja.
1. Mouse
Mouse ini merupakan alat untuk menggerakkan kursor. Mouse
harus pada ketinggian di mana lengan, pergelangan tangan, dan tangan
sejajar. Penggunaan mouse dilakukan dengan menggerakkan bahu dan
lengan atas, bukan pergerakan pergelangan tangan. Tempatkan mouse
sedemikian rupa sehingga tidak perlu menggapai terlalu jauh dari
jangkauan tangan (dekat ke keyboard adalah yang terbaik).
Pegang mouse dengan posisi pergelangan tangan dan jari sejajar
dengan lengan bawah. Hal ini dapat menghindari terjadinya kekakuan
otot dan tendon.
2. Keyboard
Keyboard adalah peralatan untuk input. Data atau perintah dapat
dimasukkan ke dalam komputer melalui keyboard. Jadi, keyboard
merupakan penghubung antara manusia dan komputer. Jenis keyboard
ada beberapa macam, tetapi yang paling sering digunakan adalah jenis
qwerty.
Sejak awal keyboard qwerty diciptakan belum terlalu
memperhatikan masalah ergonomi, sehingga sangat memungkinkan
timbulnya gangguan atau keluhan terhadap tubuh manusia. Keyboard
Qwerty ternyata belum memberikan beban yang sama untuk jari-jari
tangan kiri dan tangan kanan.
18
Pengguanaan keyboard adalah dengan meletakkan pergelangan
tangan dan jari segaris dengan lengan bawah, untuk memberikan rileks
pada otot dan tendon yang ada di tempat tersebut.
3. Layar/Monitor
Layar komputer atau monitor adalah peralatan untuk
menampilkan obyek yang akan ditampilkan. Obyek tersebut bisa
tulisan, angka, ataupun gambar. Bentuk layar komputer juga terus
mengalami perubahan. Monitor harus sejangkauan lengan atau lebih
jauh dari mata. Kebijakan ergonomi konvensional umumnya
menyarankan bahwa pusat layar monitor seharusnya pada titik di mana
tatapan mata jatuh secara alamiah dan monitor harus agak miring untuk
menyesuaikan dengan sudut pandang seseorang. Penyangga monitor
yang dapat disesuaikan akan membantu membuat penyesuaian.
Agar dapat bekerja dengan nyaman, monitor komputer
dirancang berpijak pada poros yang bisa digerakkan ke segala arah,
sehingga posisi dan jarak serta sudut kemiringannya dapat di atur.
Pekerjaan komputer merupakan jenis pekerjaan dekat yang berbeda
dengan jenis pekerjaan dekat lain dimana dilakukan sambil menatap
menyudut ke bawah tetapi, pekerjaan komputer harus menatap pada
sudut horizontal pandangan ergonomis merekomendasikan adaptasi
pekerja dengan lingkungan kerja atau menyesuaikan lingkungan kerja
dengan pekerjaannya.
Monitor komputer harus berada tepat di hadapan operator,
karena tampilan di layar perlu dicermati. Pekerjaan terampil dan cermat
hanya bisa dilakukan sambil duduk, maka monitor harus sejajar dengan
garis pandang mata operator sehingga paling tepat posisinya di atas
meja (Yale University. 2005). Rekomendasi tinggi layar monitor
komputer berada sejajar atau sedikit di bawah (antara 2,5-5 cm) garis
mata operator saat duduk rileks dan nyaman.
19
Posisi monitor yang diatur adalah:
a. Tinggi dari permukaan lantai
Bagian atas minimal sejajar dengan garis mata
operator, karena posisi istirahat melakukan fokus sekitar 5-
76 cm di bawah garis mata (Cornell University, 2004).
Rekomendasi tinggi monitor sejajar atau sedikit di bawah
garis mata saat duduk rilaks, Kecuali pada pemakai kaca
mata dengan lensa ganda ketinggian monitor harus diatas
garis mata.
b. Sudut kemiringan permukaan horizontal dan vertikal
Kemiringan permukaan monitor antara 10-20 cukup
ideal, tergantung ukurannya. Kemiringan tesebut
dimaksudkan agar silau bisa berkurang (McCormik &
Sanders, 1987; Sweere, 2005). Sudut horizontal diatur agar
memungkinkan operator memperoleh sudut pandang terbaik.
Bidang pandang adalah 15-50° di bawah garis pandang
horizontal mata, atau 10- konvensional umumnya
menyarankan bahwa pusat layar monitor seharusnya pada
titik di mana tatapan mata jatuh secara alamiah dan monitor
harus agak miring untuk menyesuaikan dengan sudut
pandang seseorang. Penyangga monitor yang dapat
disesuaikan akan membantu membuat penyesuaian. Agar
dapat bekerja dengan nyaman, monitor komputer dirancang
berpijak pada poros yang bisa digerakkan ke segala arah,
sehingga posisi agar kenyamanan tidak terganggu tetapi
antara 15-35° (Ankrum. 2005). Hal ini juga
direkomendasikan oleh FEOSH, 2005. Berdasarkan
penemuan yang sudah dikonfirmasikan, berupa permukaan
strees pada otot punggung dan leher menggunakan
elektromyalgram sudah menjadi ketetapan ISO 9241.
c. Jarak dengan operator
20
Jarak jarak pandang adalah bervariasi" garis pandang
normal, karena melihat objek jauh sangat nyaman dengan
pandangan lurus dan datar (Ankrum, 2005). Mata melihat
kebawah agar mudah melakukan akomodasi dan pemusatan,
jarak sebaiknya 76,2 cm atau lebih (Ankrum, 2005; Sweere,
2005). Pabrik menetapkan lebih besar dari 40 cm, jarak
pandang optimum posisi duduk 60 cm. FEOSH (2005)
menyatakan kebanyakan operator memilih jarak pandang
45-75 cm, lainnya lebih senang 50,8-66cm, rekomendasi
jarak pandang 45,7-71,1cm sudah diakui standar ergonomic.
VDU harus tetap pada fokus yang tepat, maka ditempatkan
jauh dan lebih tinggi dari ketentuan jarak membaca.
Maksudnya agar bagian permukaan terlihat, tanpa mengubah
posisi kepala sehingga teks kecil diatasi dengan
memperbesar ukuran atau bidang gambar daripada
mendekatkannya.
4. Meja Komputer
Beberapa persyaratan yang dibutuhkan untuk sebuah meja komputer
ergonomis adalah:
a. Meja dibuat dekat dengan pengguna agar terhindar dari
penjangkauan yang terlalu jauh.
b. Permukaannya harus dibuat sedemikian rupa agar tidak
memancarkan cahaya silau.
c. Memiliki tempat pergerakan kaki yang cukup.
d. Tinggi permukaan kerja untuk keyboard dibedakan dengan
tinggi untuk monitor komputer.
e. Mempunyai jarak yang cukup antara kursi dan monitor
komputer.
f. Cukup untuk ruang dari peralatan yang digunakan.
21
Kesesuaian ini akan menciptakan kenyamanan dan efisiensi dalam
bekerja. Ukuran yang sesuai dengan antropometri orang Indonesia
adalah sebagai berikut:
a. Tinggi meja
Tinggi permukaan atas dari meja kerja dibuat setinggi siku dan
disesuaikan dengan sikap tubuh pada waktu bekerja. Untuk sikap
duduk, tinggi meja yang diusulkan adalah 64-74 cm yang diukur
dari permukaan daun meja sampai ke lantai.
b. Tebal daun meja
Tebal daun meja dibuat sedemikian rupa sehingga dapat
memberikan kebebasan bergerak pada kaki. Jarak antara
permukaan bawah daun meja dengan permukaan atas alas duduk >
15 cm.
c. Permukaan meja
Permukaan meja harus rata dan tidak menyilaukan.
a. Lebar meja
Lebar meja tidak melebihi jarak jangkauan tangan pekerja. Ukuran
yang diusulkan adalah kurang dari 80 cm (Laurensia, 2004).
5. Kursi Komputer
Kursi yang ergonomis dapat membantu mengatur posisi tulang
belakang pada postur yang optimal dengan memberikan pendukung
yang tepat. Kursi komputer disini memiliki syarat dan ketentuan
pembuatan sesuai dengan kursi kerja lainnya sebagaimana telah
dijelaskan pada poin sebelumnya.
22
Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat
kesalahan kerja. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang
terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Pembebanan otot secara
statispun (static muscular loading) jika dipertahankan dalam waktu yang
cukup lama akan mengakibatkan RSI (Repetition Strain Injuries), yaitu
nyeri otot, tulang, tendon, dan lain-lain yang diakibatkan oleh jenis
pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive).
Sebab-sebab kelelahan yang utama adalah pekerjaan yang monoton,
beban dan lama kerja terlalu berat, lingkungan pekerjaan, sakit dan gizi yang
buruk, dan kurangnya waktu istirahat.
Lamanya pekerja dalam sehari yang baik pada umumnya 6-8 jam
sisanya untuk istirahat atau kehidupan dalam keluarga dan masyarakat.
Dalam hal lamanya kerja melebihi ketentuan-ketentuan yang ada, perlu
diatur istirahat khusus dengan mengadakan organisasi kerja secara khusus
pula, pengaturan kerja demikian bertujuan agar kemampuan kerja dan
kesegaran jasmani serta rohani dapat dipertahankan.
Dalam hal ini kita harus waspada dan harus kita bedakan jenis
kelelahannya, beberapa ahli membedakan/membaginya sebagai berikut:
a. Kelelahan fisik
Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat
dikompensasi dan diperbaiki performansnya seperti semula. Kalau
tidak terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat dan tidur
yang cukup.
b. Kelelahan yang patologis
Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya
muncul tiba-tiba dan berat gejalanya.
c. Psikologis dan emotional fatique Kelelahan ini adalah bentuk yang
umum. Kemungkinan merupakan sejenis "mekanisme melankan diri
dari kenyataan" pada penderita psikosomatik. Semangat yang baik
dan motivasi kerja akan mengurangi angka kejadiannya di tempat
kerja.
23
Gejala klinis dari kelelahan adalah perasaan lesu, ngantuk, dan
pusing, sulit tidur, kurang atau tidak mampu berkonsentrasi, menurunnya
tingkat kewaspadaan, persepsi yang buruk dan lambat, tidak ada atau
berkurangnya keinginan untuk bekerja, dan menurunnya kesegaran jasmani
dan rohani.
Jika kelelahan yang terjadi sudah dalam batas waktu kronis, maka
gejala yang ditimbulkan adalah meningkatnya ketidaksatbilan jiwa, depresi,
dan meningkatnya sejumlah penyakit fisik
24
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ergonomi (ergonomics) berasal dari kata Yunani yaitu ergo yang
berarti kerja dan nomos yang berarti hukum, dimana ergonomi sebagai
disiplin keilmuan yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan
pekerjaannya.
Pelaksanaan dan penerapan ergonomi di tempat kerja di mulai dari
yang sederhana dan pada tingkat individual terlebih dahulu. Rancangan
ergonomi akan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas
kerja, serta dapat menciptakan sistem serta lingkungan yang cocok, aman,
nyaman dan sehat.
Metode Ergonomi dilakukan dengan pendekatan diagnosis,
treatment, dan follow up. Sedangkan penerapannya dilakukan dalam
mengatur sikap kerja, proses kerja, tataletak tempat kerja, dan mengangkat
beban.
Masalah terbesar yang dihadapi para pekerja setelah melakukan
pekerjaannya adalah kelelahan. Menurut Tarwaka (2004) kelelahan adalah
suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan
lebih lanjut sehingga terjadi pemuliham setelah istirahat. Sebab-sebab
kelelahan yang utama adalah pekerjaan yang monoton, beban dan lama
kerja terlalu berat, lingkungan pekerjaan, sakit dan gizi yang buruk, dan
kurangnya waktu istirahat.
Penanggulangan terhadap kelelahan yang dapat dilakukan adalah
dengan mengatur lingkungan kerja, pengaturan jam kerja, dan memberikan
istirahat kepada pekerja.
Tujuan akhir dari ergonomi adalah menurunkan angka kecelakaan
kerja. penyakit akibat kerja serta meningkatkan produktivitas dari pekerja.
25
DAFTAR PUSTAKA
Ankrum, D.R. 2004. Computer Monitor Height, Angl, and Distance. Available
from URL:http://www. Google. Com ergonomics. Guidelines.html.
[Accessed: 5 Sept 2012]
Mashud. 2008. MGMP TIK SMA DKI Jakarta. Komputer Ergonomi dan
26
Sammauly, S.R. 2009. Evaluasi Postur Tubuh di Tinjau Dari Segi Ergonomi di
Bagian Pengepakan Pada PT Coca Cola Bottling Indonesia Medan. Skripsi
Teknik Industri. USU. Medan
27