Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

Konsep Dasar Analisis Wacana

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis Wacana


Dosen Pengampu : Rahmawati Mulyaning Tyas, M. Pd.

Disusun oleh: Kelompok 10 TBIN 6C

1. Sugma Alvionita (126210201036)


2. Inkana Lazia (126210201034)
3. Sayidati Indah Nur Alfiyah (126210201013)
4. Muhammad Syukron Mahmudi (126210202085)

JURUSAN TADRIS BAHASA INDONESIA


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SAYYID ALI RAHMATULLAH
TULUNGAGUNG
MARET 2023
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah
memberikan kelancaran dan kesempatan sehingga penyusun dapat menyelesaikan
penyusunan makalah. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan
kitanabi tercinta, nabi Muhammad SAW. pemimpin akhir zaman yang sangat dipanuti dan
menjadi teladan oleh para pengikutnya.
Pada kesempatan ini penyusun menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. Maftukhin, M. Ag selaku Rektor UIN Sayyid Ali
Rahmatullah Tulungagung
2. Ibu Dr. Hj. Binti Maunah, selaku Dekan FTIK UIN Sayyid Ali Rahmatullah
Tulungagung
3. Ibu Rahmawati Mulyaning Tyas, M. Pd selaku dosen pengampu mata kuliah
Analisis Wacana
4. Semua aktivis dan teman-teman yang telah membantu dalam penulisan
makalah

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna dan masih terdapat
bagian- bagian yang memiliki kekurangan. Oleh karena itu, segala masukan, saran, dan
kritikan dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penyusun harapkan demi
kesempurnaan makalah. Semoga dengan adanya penyusunan makalah ini dapat menambah
wawasan ilmu pengetahuan bagi semua pihak yang membaca makalah ini. Akhir kata
penyusun mengucapkan terima kasih.

Tulungagung, 6 Maret 2023

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................... ii


DAFTAR ISI ................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
A. Latar Belakang ....................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan .................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................ 3
A. Pengertian Wacana ................................................................................................. 3
B. Pengertian Analisis Wacana ................................................................................... 3
C. Sejarah Analisis Wacana di Indonesia .................................................................... 4
D. Manfaat Analisis Wacana ....................................................................................... 5
E. Fungsi Bahasa Dalam Komunikasi ......................................................................... 6
BAB III PENUTUP. ....................................................................................................... 8
A. Kesimpulan. ........................................................................................................... 8
B. Saran. ..................................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................ 9

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Istilah wacana berasal dari kata sansekerta yang bermakna ucapan atau tuturan.
Kata wacana adalah salah satu kata yang banyak disebut seperti halnya demokrasi,
hak asasi manusia, dan lingkungan hidup. Seperti halnya banyak kata yang digunakan,
kadang-kadang pemakai bahasa tidak mengetahui secara jelas apa pengertian dari kata yang
digunakan tersebut. Ada yang mengartikan wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar
dari kalimat. Ada juga yang mengartikan sebagai pembicaraan. Di dalam wacana juga
terdapat sejarah,prinsip-prinsip, dan pondasi yang disampaikan penulis. Seperti yang
dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, sosiologi, politik,
komunikasi, sastra dan sebagainya. Pembahasan wacana berkaitan erat dengan pembahasan
keterampilan berbahasa terutama keterampilan berbahasa yang bersifat produktif , yaitu
berbicara dan menulis.

Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk
berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau
ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau
interaksional. Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana
sebagai proses komunikasi antar penyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara
tulis, wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa. Disiplin ilmu
yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana. Analisis wacana merupakan
suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik
dalam bentuk tulis maupun lisan. Analisis wacana mengkaji unit kebahasa-an dalam
cakupan ilmu linguistik baik mikro seperti sintaksis, pragmatik, morfologi, dan fonologi
dan linguistik makro seperti sosiolinguisitk, pragmatik, psikolinguistik.

Manfaat Analisis wacana yaitu untuk memahami suatu bahasa yang tentu
bermanfaat dalam proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa serta meningkatkan
pemerolehan kompetensi komunikatif. Selain dapat memahami hakikat bahasa, analisis
wacana dapat dimanfaatkan sebagai dasar untuk membina kemampuan berbahasa. Analisis
wacana memiliki beberapa fungsi, diantaranya fungsi bahasa dalam komunikasi, fungsi
ekspresi, direksi, informasional, metalingual, interaksional, kontekstual, dan puitik.

1
B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah berdasarkan latar belakang masalah di atas adalah sebagai
berikut:

1. Jelaskan yang dimaksud Pengertian Wacana?

2. Jelaskan yang dimaksud Pengertian Analisis Wacana?

3. Bagaimana Sejarah Analisis Wacana di Indonesia?

4. Sebutkan Manfaat Analisis Wacana?

5. Jelaskan bagaimana Fungsi Bahasa dalam Komunikasi?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan berdasarkan rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan mengenai pengertian Wacana

2. Untuk mendeskripsikan mengenai pengertian Analisis Wacana

3. Untuk mengetahui bagaimana Sejarah Analisis Wacana di Indonesia

4. Untuk mendeskripsikan manfaat Analisis Wacana

5. Untuk mendeskripsikan bagaimana Fungsi Bahasa dalam Komunikasi

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Wacana

Wacana merupakan salah satu kajian dalam ilmu linguistik yakni bagian dari
kajian dari pragmatik. Wacana memiliki kedudukan lebih luas dari klausa dan kalimat,
karena wacana mencakup suatu gagasan dan konsep suatu teks. Wacana dalam bahasa
Inggris disebut discourse diartikan sebagai ungkapan dalam suatu interaksi komunikasi.

Wacana merupakan satuan bahasa berdasarkan kata yang digunakan untuk


berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu merupakan deretan kata atau ujaran.
Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional.
Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses
komunikasi antara penyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana
dapat dlihat sebagai hasil dari pengungkapan idea/gagasan penyapa. Disiplin ilmu yang
mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana.

Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa
yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Wacana dapat
berwujud lisan dan tulis yang disebut sebagai teks dalam wacana. Wacana lisan berupa
ujaran baik dalam bentuk teks lisan yang diucapkan. Contoh wacana lisan yakni pada
monolog, dialog, pidato, percapan, wawancara, dan ujaran lainya yang dapat didengar oleh
penerima. Wacana tulis berupa teks tertulis yang dapat dibaca. Contoh wacana tulis dapat
dijumpai pada selebaran, poster, koran, majalah, buku dan teks tertulis lain yang
mengandung unsur kebahasaan.

B. Pengertian Analisis Wacana

Analisis wacana merupakan analisis unit linguistik terhadap penggunaan bahasa


lisan maupun tulis yang melibatkan orang penyampai pesan dengan penerima pesan dalam
tindak komunikasi (Slembrouck, 2003:1). Analisis wacana bertujuan untuk mengetahui
adanya pola – pola atau tatanan yang di ekspresikan oleh suatu teks, Interpretasi satu unit
kebahasaan dapat diketahui secara jelas termasuk pesan yang ingin disampaikan, mengapa
harus disampaikan, dan bagaimana pesan disampaikan. Analisis wacana mengkaji unit
kebahasa-an dalam cakupan ilmu linguistik baik mikro seperti sintaksis, pragmatik,

3
morfologi, dan fonologi dan linguistik makro seperti sosiolinguisitk, pragmatik,
psikolinguistik.

Secara singkatnya, kajian wacana Pengertian analisis wacana adalah analisis unit
linguistik terhadap penggunaan bahasa lisan maupun tulis yang melibatkan penyampai
pesan (penutur atau penulis) dengan penerima pesan (pendengar atau pembaca) dalam
tindak komunikasi (Slembrouck, 2003: 1). Kajian wacana merupakan bagian dari studi
linguistik tentang struktur pesan dalam suatu komunikasi atau telaah mengenai aneka
bentuk dan fungsi linguistik dalam kajian wacana.

Membahas tentang menafsirkan suatu teks yakni memahami apa yang sebenarnya
yang dimaksudkan oleh penyampai pesan, mengapa harus diampaikan, dan bagiamana
pesan tersusun dan dipahami serta motif dibaik teks. Selain itu, melalui analisis wacana
dapat diketahui apakah sebuah teks mengandung wacana atau tidak. Analisis wacana dapat
dicontohkan dengan menafsirkan empat teks dibawah ini.

a. Dilarang berjualan di sini (di papan pengumuman)

b. Wah, indah benar lukisan yang dibuat olehnya (dalam dialog)

c. Awas ada anjing galak (tulisan di atas pintu pagar)

d. Bunga itu kukirimkan padanya (dalam sebuah novel)

Ke empat klausa diatas merupakan teks, tetapi hanya (a) dan (c) saja yang bisa
disebut wacana. Jika dianalisis teks (a) dan (c) bisa disebut wacana karena mengandung
kontek yang jelas yakni dipapan pengumuman dan di pintu pagar. Memiliki kesatuan
makna yang utuh yakni berupa peringatan dan larangan, pembaca akan dengan mudah
menafsirkan pesan yang disampaikan oleh penulis.

Sebaliknya teks (b) dan (d) bukan merupakan wacana, walaupun berada pada
kontek yang jelas tetapi tidak ada kesatuan makna yang jelas yakni pada morfem “nya”
dalam kalimat (b) tidak dan “ku” dan “nya” dalam kalimat (d) tidak mengandung koherensi
yang jelas sehingga pembaca akan kesulitan menafsirkan siapa yang menerima pesan
tersebut. Oleh sebab itu kesatuan maknanya tidak utuh.

C. Sejarah Analisis Wacana di Indonesia

Kajian wacana di Indonesia sudah dimulai oleh linguis Indonesia pada


pertengahan tahun 70-an. Karya mereka berupa artikel, laporan penelitian, dan buku

4
panduan sudah dipublikasikan. Publikasi kajian wacana tersebut antara lain, Kridalaksana
(1978), Dardjo Widjojo tahun (1986), Samsuri (1987), Moelino et al (1988), dan Tellei
(1988). Dalam uraian ini akan dibahas secara garis besar karya-karya tersebut.

Pada tahun 1978 Kridalaksana mempublikasikan artikel yang berjudul "keutuhan


wacana" dalam jurnal bahasa dan sastra tahun IV, Nomer 1 ( pusat pembinaan dan
pengembangan bahasa, Jakarta). Dalam artikel ini Kridalaksana mengatakan bahwa aspek
yang memperlihatkan keutuhan wacana dapat dibeda-bedakan atas aspek semantis,
leksikal, gramatikal, dan fonologis. Aspek keutuhan wacana yang dikemukakannya
tergolong lengkap meskipun dia tidak menjelaskan aspek keutuhan wacana yang berupa
aspek fonologis.

Pada tahun 1986, Dardjo widjojo membacakan makalah yang berjudul "Benang
Pengikat Wacana " pada pertemuan ilmiah regional, masyarakat linguistik Indonesia di
Jakarta. Dalam makalahnya itu, Dardjo Widjojo mencatat beberapa benang pengikat yang
dapat memadukan informasi antarkalimat dalam suatu wacana. Benang pengikat itu terdiri
atas, antara lain, (a) penyebutan sebelumnya, (b) sifat verba, (c) peranan verba pembantu,
(d) proporsi positif, (e) praanggapan, (f) konjungsi. Diakuinya, masih banyak benang
pengikat lain yang memerlukan penelitian lebih lanjut.

Dalam buku yang berjudul "analisis wacana", Samsuri (1987) menguraikan


beberapa aspek yang berkaitan dengan kajian wacana. Aspek-aspek tersebut adalah (a)
konteks wacana, (b) topik, tema, dan judul wacana, (c) kohesi dan koherensi wacana, dan
(d) referensi dan inferensi kewacanaan. Konteks wacana yang membantu memberikan
penafsiran makna ujaran ialah situasi wacana. Masih mungkin dinyatakan cara eksplisit
dalam wacana, tetapi dapat pula disarankan oleh berbagai unsur wacana, yang disebut ciri-
ciri wacana atau kordinat-kordinat wacana, seperti pembicara, pendengar, waktu, tempat,
topik, bentuk amanat, peristiwa, saluran, dan kode.

Khusus mengenai hubungan kohesi, Samsuri mengatakan bahwa hubungan


kohesi terbentuk jika penafsiran suatu unsur dalam ujaran bergantung pada penafsiran
ujaran yang lain, dalam arti bahwa yang satu tidak dapat ditafsirkan maknanya dengan
efektif, kecuali dengan mengacu pada unsur lain. Samsuri merinci berbagai hubungan
kohesi wacana, seperti (a) hubungan sebab akibat, (b) referensi dengan pronomina persona
dan demonstrativa, (c) konjungsi, (d) hubungan leksikal, dan (e) hubungan struktural
lanjutan, seperti substitusi, perbandingan, dan perulangan sintaktik.

5
Pada tahun (1988) terbit buku yang berjudul " tata bahasa buku bahasa Indonesia
" yang disusun oleh Moeliono et al. Dalam buku ini, ada satu bab uraian tentang wacana
yang disajikan secara bertahap sehingga pembacanya dapat memahami seluk-beluk
kewacanaan secara bertahap pula. Akan tetapi, dalam uraian tentang jenis kohesi, tidak
terdapat klasifikasi piranti kohesi gramatikal dan leksikal. Kedua hal tersebut digabungkan.

Pada tahun yang sama, Tellei mempertahankan disertasi doktoralnya yang


berjudul " keterpaduan, keruntutan, dan keterbacaan wacana buku pelajaran bahasa
Indonesia sekolah dasar: suatu kajian analisis wacana" di hadapan sidang senat terbuka
IKIP Bandung. Dalam disertasi ini dikatakan bahwa keterpaduan wacana pelajaran bahasa
Indonesia buku SD diwujudkan dengan bentuk-bentuk yang berkategori leksikal, kategori
kata ganti, kata sambung, substitusi, dan pelepasan sedangkan keruntutan wacana dicapai,
antara lain, melalui (a) anafora, (b) praanggapan yang tepat, dan (c) pengetahuan kita
tentang dunia.

Keterbacaan wacana berkolerasi dengan tingkat keterpaduan dan keruntutan


wacana. Dikemukakannya, jika wacana memiliki pemarkah keterpaduan yang eksplisit,
wacana tersebut memiliki keruntutan yang tinggi, yang akhirnya memiliki keterbacaan
yang tinggi pula. Tellei mengakui tidak menutup kemungkinan adanya ketidak signifikanan
antara keterpaduan dan keterbacaan, demikian juga antara keruntutan dan keterbacaan.

Kelima publikasi tentang wacana di atas dipilih untuk dijadikan tonggak-tonggak


sejarah kajian wacana di Indonesia karena kelima tulisan itu memiliki kelebihan di antara
yang lain. Ini tidak berarti mengurangi rasa hormat dan mengecilkan peranan peneliti dan
penulis kajian wacana yang lain

D. Manfaat Analisis Wacana

Manfaat Analisis wacana yaitu untuk memahami suatu bahasa yang tentu
bermanfaat dalam proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa serta meningkatkan
pemerolehan kompetensi komunikatif. Selain dapat memahami hakikat bahasa, analisis
wacana dapat dimanfaatkan sebagai dasar untuk membina kemampuan berbahasa. Analisis
wacana memiliki beberapa fungsi, diantaranya fungsi bahasa dalam komunikasi, fungsi
ekspresi, direksi, informasional, metalingual, interaksional, kontekstual, dan puitik.

Fungsi bahasa dalam komunikasi jika dilihat berdasarkan tanggapan atau respon
mitra tutur ada dua macam, yaitu fungsi transaksional dan fungsi interaksional. Fungsi

6
transaksional mementingkan isi komunikasi, sementara fungsi interaksional mementingkan
hubungan timbal balik antara penyapa dengan pesapa.

a. Fungsi ekspresif berarti bahasa digunakan untuk menyampaikan ekspresi


penyampai pesan (komunikator).
b. Fungsi direktif, bahasa digunakan untuk mempengaruhi orang lain, baik itu
emosinya, perasaannya, maupun tingkah lakunya.
c. Fungsi informasional digunakan untuk menginformasikan sesuatu.
d. Fungsi metalingual berfokus pada kode yang digunakan untuk menyatakan sesuatu
tentang bahasa.
e. Fungsi interaksional menyatakan bahwa bahasa digunakan untuk mengungkapkan,
mempertahankan, dan mengakhiri suatu kontak komunikasi antara penyampai
pesan dan penerima pesan.
f. Fungsi kontekstual berpedoman bahwa suatu ujaran harus dipahami dengan
mempertimbangkan konteksnya.
g. Fungsi puitik, maksudnya kode kebahasaan dipilih secara khusus agar dapat
mewadahi makna yang hendak disampaikan oleh sumber pesan.
E. Fungsi Bahasa Dalam Komunikasi

Alat komunikasi yang paling handal ampuh dalam kehidupan bersama dalam
suatu masyarakat adalah bahasa. Manusia memakai bahasa dalam seluruh kesehariannya.
Bahasa menjadi begitu penting dalam keseluruhan hidup manusia. Jika penggunaan bahasa
secara minimal dapat dipahami sesuai maksud dan tujuan dari si pembicara maka bahasa
sudah mencapai tujuan dalam menyampaikan sebuah pesan dalam komunikasi. Bahasa
adalah sebuah sarana untuk berkomunikasi. Bahasa juga sebagai sarana untuk
menyampaikan, pendapat, dan argumentasi kepada pihak lainnya. Karena itu, bahasa
memiliki peran sosial penting dalam berkomunikasi dengan masyarakat luas (Adolf Hualai,
2017: 7 dan Gorys Keraf, 1994: 3).

Bahasa dan komunikasi memiliki hubungan yang sangat erat. Hubungan keduanya
tercermin dalam pengertian bahasa menurut rumusan linguistik dan tinjauan komunikasi,
yaitu bahasa sebagai alat atau media komunikasi yang digunakan oleh manusia dalam
berinteraksi dengan sesamanya. Sebaliknya komunikasi, membutuhkan media yaitu
bahasa. Noermanzah (2017: 2) menjelaskan bahwa Bahasa adalah suatu pesan yang
biasanya disampaikan dalam bentuk ekspresi sebagai alat komunikasi dalam berbagai

7
kegiatan tertentu. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), bahasa adalah sistem
lambang bunyi yang arbiter, yang digunakan oleh sekelompok masyarakat untuk
bekerjasama, berinteraksi, dan juga untuk mengidentifikasikan diri. Dilihat dari pengertian
yang ada dalam kamus tersebut, dapat dipahami bahwa bahasa juga dapat berfungsi sebagai
lambang bunyi sebagai mana not yang ada pada nada, akan tetapi fungsi atau manfaat yang
diberikan sangatlah berbeda antara keduanya.

Disadari atau tidak sebagian besar tindakan manusia dalam berkomunikasi


termasuk tindakan politik, sosial, hukum, dan pendidikan sangat kental dipengaruhi oleh
bahasa. Peran bahasa menjadi sangat dominan dalam berbagai aktivitas keseharian
manusia, tidak ada tindakan tanpa bahasa. Bahasa menciptakan makna dan nilai yang
diyakini dan dijadikan pedoman hidup. Sejarah peradaban dunia sebenarnya adalah sejarah
bahasa. Filsuf Yunani kuno seperti Aristoteles mulai menyadari fungsi bahasa sebagai alat
untuk mencari dan mengungkap kebenaran. Seluruh tindakan manusia yang diungkapkan
lewat bahasa dapat dipahami melalui komunikasi. Dengan demikian yang ditekankan di
sini adalah penggunaan bahasa dalam proses komunikasi.

Bahasa berperan sentral dalam membangun hampir seluruh informasi dan


komunikasi. Dalam berkomunikasi setiap bangsa memiliki budaya dan karakter berbeda-
beda yang berpengaruh terhadap kegiatan berbahasa sehari-hari (Bustomi, 2019). Bahasa
sebagai alat komunikasi mempunyai peranan penting dalam interaksi manusia. Bahasa
dapat digunakan manusia untuk menyampaikan ide, gagasan, keinginan, perasaan dan
pengalamannya kepada orang lain. Bahasa adalah salah satu bentuk perwujudan peradaban
dan kebudayaan manusia, dalam kamus linguistik, bahasa adalah satuan lambang bunyi
yang arbitrer yang digunakan oleh suatu anggota masyarakat untuk bekerja sama,
berinteraksi dan mengidentifikasi diri (dalam Susanti, 2012).

Bahasa adalah identitas dari suatu negara sebagai alat untuk berkomunikasi.
Setiap orang membutuhkan bahasa ketika berinteraksi, mengungkapkan ide dan pendapat
serta hubungan sosial lainnya (Prasasti, 2016). Komunikasi tidak hanya terbatas pada
bahasa verbal, tetapi ada beberapa ahli berpendapat bahwa ketika terdapat beberapa orang
bersama dalam suatu tempat, pasti terjadi komunikasi. Walaupun kita tidak sedang
berbicara, namun hal ini termasuk kedalam bentuk lain dari komunikasi yang bisa
diekspresikan melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan suara-suara non-linguistic
(contohnya itu seperti menggerutu). Komunikasi merupakan perpindahan suatu makna

8
melalui suara, tanda, bahasa tubuh dan simbol. Bahasa adalah sistem simbol yang teratur
untuk memindahkan makna tersebut. Dengan demikian, Bahasa adalah suatu perubahan
komunikasi yang terdiri dari sistem simbol khusus yang disampaikan oleh sekelompok
orang berupa ide dan informasi (Fridani, L 2014).

Dalam berkomunikasi manusia cenderung memilih kata-kata tertentu untuk


mencapai tujuannya. Pemilihan kata-kata tersebut bersifat strategis Dengan demikian, kata
yang diucapkan, simbol yang diberikan, dan intonasi pembicaraan tidaklah semata-mata
sebagai ekspresi pribadi atau cara berkomunikasi, tetapi dipakai dengan sengaja untuk
maksud tertentu. Menurut Chaer (dalam Diah & Wulandari, 2015), Fungsi bahasa sebagai
alat komunikasi manusia mencakup lima fungsi dasar, yaitu fungsi ekspresi, fungsi
informasi, fungsi eksplorasi, fungsi persuasi dan fungsi entertainmen. Bahasa juga
berfungsi sebagai alat berkomunikasi antara anggota masyarakat. Fungsi tersebut
digunakan dalam berbagai lingkungan, tingkatan, dan kepentingan yang beraneka ragam,
misalnya: komunikasi ilmiah, komunikasi bisnis, komunikasi kerja, dan komunikasi sosial,
dan komunikasi budaya (Susilo, 2014).

9
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Wacana merupakan satuan bahasa berdasarkan kata yang digunakan untuk


berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu merupakan deretan kata atau
ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau
interaksional. Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana
sebagai proses komunikasi antara penyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi
secara tulis, wacana dapat dlihat sebagai hasil dari pengungkapan idea/gagasan
penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana.
Pengertian analisis wacana adalah analisis unit linguistik terhadap penggunaan bahasa
lisan maupun tulis yang melibatkan penyampai pesan (penutur atau penulis) dengan
penerima pesan (pendengar atau pembaca) dalam tindak komunikasi (Slembrouck,
2003: 1). Kajian wacana merupakan bagian dari studi linguistik tentang struktur pesan
dalam suatu komunikasi atau telaah mengenai aneka bentuk dan fungsi linguistik dalam
kajian wacana.

Manfaat Analisis wacana yaitu untuk memahami suatu bahasa yang tentu
bermanfaat dalam proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa serta meningkatkan
pemerolehan kompetensi komunikatif. Selain dapat memahami hakikat bahasa, analisis
wacana dapat dimanfaatkan sebagai dasar untuk membina kemampuan berbahasa.
Analisis wacana memiliki beberapa fungsi, diantaranya fungsi bahasa dalam
komunikasi, fungsi ekspresi, direksi, informasional, metalingual, interaksional,
kontekstual, dan puitik.

B. Saran

Dalam pembahasan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan masih
jauh dari kata sempurna, hal ini dikarenakan terbatasnya bahan dan panduan dalam
Penyelesaian makalah ini. Kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari para pembaca untuk perbaikan kedepannya. Kritik dan saran sangat
perlu bagi kami. Semoga makalah ini bermanfaat untuk kita semua baik dari pemakalah
ataupun pembaca.

10
DAFTAR PUSTAKA

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS,
(Online),(http://www.worldcat.org/title/analisis-wacana-pengantar-analisis-teks-
media/oclc/47726360/viewport)
Lestari, Oktavia. (2018). Variasi Ragam Bahasa dalam Kehidupan Remaja. Working Paper.
Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta.
http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/10215
Mailani Okarisma, dkk. “Bahasa Sebagai Alat Komunikasi Dalam Kehidupan Manusia”.
Jurnal Kampret Vol 1. No. 2, Januari (2022): 02.
PENDEKATAN INTERDISIPLINER [LANGUAGE EXISTENCE IN INTERPERSONAL
COMMUNICATION: AN INTERDICIPLINARY APPROACH]. Polyglot: Jurnal
Ilmiah, 16(2), 266-281. doi: http://dx.doi.org/10.19166/pji.v16i2.2261
Purwanti, C. (2020). EKSISTENSI BAHASA DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL:
SEBUAH
Rani, A., dkk. 2004. Analisis Wacana. Malang : Bayumedia Publishing
Rani, Abdul dkk. 2006.ANALISIS WACANA: Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakain. Edisi
Pertama, Cetakan Kedua. Malang: Bayumedia Publishing.
Rohana, syamsudin. 2015. Analisis Wacana. CV Samudra Alim-Mim.

11

Anda mungkin juga menyukai