Anda di halaman 1dari 18

PETUNJUK PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

“Pengukuran Suhu, Kelembaban Udara, Tanah dan pH Tanah


Serta Kadar Air dan C Organik Tanah”

Oleh : Kelompok 1 Campuran

Uswatun Hasanah (201310070311044)

Sri Nurjannah (201310070311049)

Risa Umami (201310070311050)

Nur Afifah (201310070311091)

Vinta Ayun Papuja (201310070311098)

Asmaul Khusna (201310070311135)

LABORATORIUM BIOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014

1
PRAKTIKUM BAB 1
PENGUKURAN SUHU, KELEMBABAN UDARA, TANAH DAN
PH TANAH SERTA KADAR AIR DAN C ORGANIK TANAH

I. PENGUKURAN SUHU UDARA DAN TANAH

1 Dasar Teori
1.1 Suhu Udara
1.1.1 Definisi Suhu Udara

Suhu udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara. Alat untuk
mengukur suhu udara atau derajat panas disebut termometer namun dapat pula
menggunakan higrometer seperti pada praktikum kali ini. Pada proses
pengukuran, umumnya terjadi perpindahan panas dari tempat yang akan diukur
yang terbaca pada alat pengukur suhu adalah suhu setelah terjadi kesetaraan
(Ardhana, 2012).

1.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Suhu Udara


Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu udara dalam berbagai hubungan
yaitu :
a. Pengaruh tanah dan air, semakin banyak jumlah uap air baik diudara
maupun didalam tanah, maka kelembapan akan semakin tinggi.

b. Ada atau tidaknya vegetasi, semakin rapatnya jarak antara vegetasi maka
kelembapan makin tinggi, namun suhu akan menjadi sangat rendah.
c. Pengaruh ketinggian tempat, semakin tingginya suatu tempat maka suhu
ditempat tersebut akan semakin rendah dan kelembapan udara semakin
tinggi.
d. Pengaruh aktivitas manusia dipersemaian terbuka.
Secara meteorologi suhu udara biasanya diukur dalam sangkar cuaca.
Dalam situasi ini, yang diukur adalah suhu massa udara setinggi 1.5 meter. Tetapi
tanaman menerima radiasi langsung dari cahaya matahari sehingga berbeda dari
suhu sangkar cuaca. Suhu tanaman mungkin lebih tinggi dari suhu sangkar cuaca.
Hal ini dapat terjadi sebagai akibat dari penguapan sejumlah air, dari pemindahan

2
panas secara konveksi, angin dan pantulan. Disamping terjadinya perubahan suhu
tanaman, suhu permukaan tanah juga berubah (Ardhana, 2012).

1.2 Suhu Tanah


1.2.1 Definisi Suhu Tanah
Suhu tanah berpengaruh terhadap proses-proses metabolisme dalam tanah,
seperti mineralisasi, respirasi mikroorganisme dan akar serta penyerapan air dan
hara oleh tanaman. Fluktuasi suhu tanah bergantung pada kedalaman
tanah. Karena pola tingkah laku perambatan panas tersebut, maka fluktuasi suhu
tanah akan tinggi pada permukaan dan akan semakin kecil dengan bertambahnya
kedalaman (Ratriningsih, 2003).
Suhu tanah maksimum pada permukaan tanah akan tercapai pada saat
intensitas radiasi matahari mencapai maksimum, tetapi untuk lapisan yang lebih
dalam, suhu maksimum tercapai beberapa waktu kemudian. Semakin lama untuk
lapisan tanah yang lebih dalam. Hal ini disebabkan karena dibutuhkan waktu
untuk perpindahan panas dari permukaan ke lapisan-lapisan tanah tersebut. Suhu
tanah umumnya rata-rata lebih besar daripada suhu daripada suhu di atmosfer
sekelilingnya. Hal ini disebabkan oleh penyimpanan panas di tanah lebih lama
daripada di udara. Pengukuran suhu tanah umumnya dilakukan 5, 10, 20, 50,
tergantung dari ukuran yang ditentukan. Pengukuran suhu tanah dilakukan pada
tanah yang tertutup rumput atau ternaungi maupun di tanah terbuka (Ratriningsih,
2003).

1.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Suhu Tanah


Faktor yang mempengaruhi suhu tanah yaitu factor luar dan factor dalam.
Yang dimaksud denga factor luar adalah radiasi matahari, awan, curah hujan,
angin, dan kelembaban udara. Sedangkan faktir dalam yaitu meliputi factor tanah,
struktur tanah, kadar air tanah, kandungan bahan organic, dan warna tanah. Makin
tinggi suhu maka semakin cepat pematangan pada tanaman (Ardhana, 2012).

2. Metodologi Praktikum
2.1 Alat
2.1.1 Alat Pengukuran Suhu Udara

3
a. Termoanemometer
(catatan : obyek yang diamati adalah udara)

2.1.2 Alat Pengukuran Suhu Tanah

a. Weksker
(catatan: objek yang diamati yaitu tanah)

2.2 Cara Kerja Praktikum


2.2.1 Cara Kerja Suhu Udara
a. Menyiapkan alat dan bahan
b. Membuka termoanemometer
c. Menghidupkan termoanemometer
d. Mengangkat termoanemometer ke atas
e. Mengamati nilai suhu udara pada angka bagian bawah

2.2.2 Cara Kerja Suhu Tanah


a. Menancapkan weksker ke dalam tanahyang ternaungi dan tidak
ternaungi
b. Menunggu hingga suhu konstan
c. Melihat angka yang ada di skala weksker

2.3.1 Alat Pengukuran Suhu Udara


No Gambar Alat Cara Penggunaan Alat dan Fungsi
1 Termoanemometer a. Membuka termoanemometer
b. Menghidupkan termoanemometer
dengan menekan tombol ON
c. Mengamati nilai suhu udara pada
angka bagian bawah dan
kecepatan angin untuk bagian atas

Fungsi: untuk mengukur suhu udara


dan kecepatan angin
Sumber: Adi (2009)

4
2.3.2 Alat Pengukuran Suhu Tanah
No Gambar Alat Cara Penggunaan Alat dan Fungsi
1 Weksker a. Masukkan logam di bagian ujung
yang runcing tersebut ke dalam
tanah yang ingin diukur suhunya
sampai kedalaman yang telah
ditentukan.
b. Tunggu beberapa saat hingga panas
dari tanah mempengaruhi logam
dan menginduksi serbuk logam
hingga menunjukkan angka konstan
Sumber: Adi (2009)
pada alat tersebut.
c. Lihat dan catat angka yang muncul
dan itu merupakan suhu tanah
tersebut.
Fungsi: untuk mengukur suhu tanah

II. PENGUKURAN KELEMBABAN UDARA DAN TANAH

1. Dasar Teori
1.1 Kelembaban Udara
1.1.1 Pengertian Kelembaban Udara
Kelembaban udara berbanding terbalik dengan suhu udara. Semakin tinggi
kelembaban udara maka suhu udara di suatu daerah tersebut semakin rendah.
Udara panas umumnya banyak mengandung uap air daripada udara
dingin.Tejadinya penguapan air dari permukaan tanah, air dan tumbuhan akibat
meningkatnya suhu pada areal terbuka menyebabkan terjadinya peningkatan
kandungan uap air di udara, sehingga kelembaban udaranya tinggi. Sebaliknya, di
dalam ruangan suhu udara rendah dan hanya sedikit penguapan yang terjadi,
sehingga kelembaban udaranya rendah (Ardhana, 2012).

5
Kelembapan udara ada 2 jenis yaitu sebagai berikut:
1. Kelembaban mutlak (absolut) yaitu bilangan yang menunjukkan jumlah uap air
dalam satuan gram pada satu meter kubik udara.
2. Kelembaban relatif (nisbi), yaitu angka dalam persen yang menunjukkan
perbandingan antara banyaknya uap air yang benar-benar dikandung udara
pada suhu tertentu dan jumlah uap air maksimum yang dapat dikandung udara.

1.1.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelembaban Udara


Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kelembaban udara adalah
frekuensi pemberian air sehingga dapat mempengaruhi kelembaban udara
terutama pada siang hari banyak dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai penyerapan
air dari dalam tanah sehingga mempunyai dampak positif terhadap pertumbuhan
tanaman karena bahan-bahan fotosintesis terpenuhi (Ardhana, 2012).

1.2 Kelembaban Tanah


1.2.1 Definisi Kelembaban Tanah
Kelembaban tanah adalah jumlah air yang ditahan di dalam tanah setelah
kelebihan air dialirkan, apabila tanah memiliki kadar air yang tinggi maka
kelebihan air tanah dikurangi melalui evaporasi, transpirasi dan transpor air bawah
tanah (Budi, 2009).
Untuk mengetahui kadar kelembaban tanah dapat digunakan banyak
macam teknik, diantaranya dapat dilakukan secara langsung melalui pengukuran
perbedaan berat tanah (disebut metode gravimetri) dan secara tidak langsung
melalui pengukuran sifat-sifat lain yang berhubungan erat dengan air tanah.
Metode langsung secara gravimetri memiliki akurasi yang sangat tinggi namun
membutuhkan waktu dan tenaga yang sangat besar. Kebutuhan akan metode yang
cepat dalam memonitor fluktuasi kadar air tanah menjadi sangat mendesak
sebagai jawaban atas tingginya waktu dan tenaga yang dibutuhkan oleh metode
gravimetri (Budi, 2009).

2. Metodologi Praktikum
2.1 Alat
II.1.1Alat dan Bahan Pengukuran Kelembaban Udara

6
a. Higrometer
b. Air

(catatan : obyek yang diamati adalah udara)

2.1.2 Alat Pengukuran Kelembaban Tanah

b. Soil Tester
(catatan: objek yang diamati yaitu tanah)

2.2 Cara Kerja Praktikum


2.2.1 Cara Kerja Kelembaban Udara
a. Mengisi air pada tabung paling bawah higrometer
b. Mengangkat higrometer di daerah yang akan di ukur
c. Menunggu dan melihat hasil perubahan skala pada angka higrometer

2.2.2 Cara Kerja Kelembaban Tanah


a. Menancapkan weksker ke dalam tanahyang ternaungi dan tidak
ternaungi
b. Menunggu hingga suhu konstan
c. Melihat angka yang ada di skala weksker

2.3.1 Alat Pengukuran Kelembaban Udara


No Gambar Alat Cara Penggunaan Alat dan Fungsi
1 Higrometer a. Mengisi air pada wadah Higrometer,
kemudian tunggu suhu hingga
konstan.
b. Mengukur suhu udara pada daerah
yang akan diukur dan melihat
besarnya suhu pada tabel dry.
c. Mengukur kelembaban udara dengan
cara selisih tabel Wet– Dry,

Sumber: Dok Pribadi 2014 kemudian di tarik garis pada tabel


tajlor dan bisa di ketahui kelembaban
udara.
Fungsi: untuk mengukur suhu dan

7
kelembaban udara

2.3.2 Alat Pengukuran Kelembaban Tanah

No Gambar Alat Cara Penggunaan Alat dan Fungsi


1 Soil tester a. Menancapkan ujung alat ke tanah
yang ingin diukur
b. Menekan tombol dengan lama
untuk mengukur kelembaban tanah.
c. Melihat nilai pada soil tester. Nilai
yang di atas menunjukkan nilai pH
tanah 1-14 dan nilai yang di bawah
menunjukkan nilai kelembaban
tanah (dalam %).
Sumber: Adi (2009)

Fungsi: untuk mengukur


kelembaban tanah

III. PENGUKURAN PH TANAH

1. Dasar Teori
1.1 PH Tanah
1.1.1 Pengertian pH Tanah
pH adalah tingkat keasaman atau kebasa-an suatu benda yang diukur
dengan menggunakan skala pH antara 0 hingga 14. Sifat asam mempunyai pH
antara 0 hingga 7 dan sifat basa mempunyai nilai pH 7 hingga 14. pH tanah atau
tepatnya pH larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung unsur
hara seperti Nitrogen (N), Potassium/kalium (K), dan Pospor (P) dimana tanaman
membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang, dan bertahan
terhadap penyakit (Budi, 2009).
Dalam mengukur tanah juga dibutuhkan alat ukur yang digunakan untuk
mengukur derajat keasaman tanah yaitu alat ukur ph tanah atau juga disebut
dengan soil ph meter/ Soil Tester. Cara kerja soil tester sama seperti pada

8
pengukuran kelembaban tanah dengan melihat nilai yang diatas pada skala soil
tester.

1.1.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi pH Tanah


Tanah berkembang dari bahan induk yang berupa batuan dan bahan
organik. Selanjutnya batuan di kelompokkan menjadi batuan beku, sedimen dan
metamorfose. Batuan basa umumnya mempunyai pH tinggi dibandingkan dengan
tanah yang berkembang dari batuan masam. Tanah yang berada di bawah kondisi
vegetasi hutan akan cenderung lebih masam di bandingkan dengan yang
berkembang di bawah padang rumput. Hutan tanaman dengan daun kecil (konifer)
dapat menyebabkan lebih masam dibandingkan dengan hutan tanaman berdaun
lebar (Ardhana, 2012).

2. Metodologi Praktikum
2.1 Alat dan Bahan
2.1.1 Alat dan Bahan Pengukuran pH Tanah
a. Oven
b. Timbangan
c. Mortar martir
d. Spatula

2.2 Cara Kerja Praktikum


2.2.1 Cara Kerja Pengukuran pH Tanah
a. Menancapkan soil tester ke dalam tanah ternaungi dan tidak ternaungi
b. Melihat skala pH yang ada di atas soil tester

9
2.3. Alat Pengukuran Kelembaban Tanah
No Gambar Alat Cara Penggunaan Alat dan Fungsi

1 Soil tester a. Menancapkan ujung alat ke tanah


yang ingin diukur
b. Menekan tombol dengan lama
untuk mengukur kelembaban
tanah.
c. Melihat nilai pada soil tester.
Nilai yang di atas menunjukkan
nilai pH tanah 1-14 dan nilai
yang di bawah menunjukkan nilai
Sumber: Adi (2009)
kelembaban tanah (dalam %).

Fungsi: untuk mengukur pH


tanah

IV. PENGUKURAN KADAR AIR TANAH

1. Dasar Teori
1.1 Kadar Air Tanah
1.1.1 Pengertian Kadar Air Tanah
Air tanah merupakan air dibawah permukaan tanah dimana rongga-rongga
di dalam tanah berada pada hekekatnya terdiri dari air. Pergerakan air tanah keatas
oleh kapilarisasi oleh permukaan air tanah kedalam daerah akar dapat merupakan
sumber air yang utama untuk pertumbuhan tanaman-tanaman. Temperatur dan
perubahan udara merupakan perubahan iklim dan berpengaruh pada efisiensi
penggunaan air tanah dan penentuan airyang dapat hilang melalui evaporasi
permukaan tanah. Dintara sifat khas tanah yang berpengaruh pada air tanah yang
tersedia adalah hubungan tegangan dan kelembaban, kadar garam, kedalaman
tanah, dan lapisan tanah (Buckman dan Brady, 1982)

10
Kadar air tanah dinyatakan dalam persen volume yaitu persen volume air
terhadap volume tanah. Cara penetapan kadar air tanah dengan gravimetrik,
dilakukan dengan sejumlah tanah basah dikering ovenkan dalam oven pada suhu
100° C-110° C untuk waktu tertentu yang mempunyai keuntungan karena dapat
memberikan gambaran tentang ketersediaan air pada pertumbuhan pada volume
tanah tertentu. Air yang terkandung dalam tanah tersebut. Air irigasi yang
memasuki tanah mula-mula menggantikan udara yang terdapat dalam pori makro
dan kemudian pori mikro. Jumlah air yang bergerak melalui tanah berkaitan
dengan ukuran pori-pori pada tanah. (Hardjowigeno, 1985)

1.1.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Air Tanah


Faktor yang mempengaruhi kadar air tanah yaitu bahan organik tanah
mempunyai pori-pori yang jauh lebih banyak daripada partikel mineral tanah yang
berarti luas permukaan penyerapan juga lebih banyak sehingga makin tinggi kadar
bahan organic tanah makin tinggi kadar dan ketersediaan air tanah. Faktor lainnya
yang mempengaruhi kadar air tanah adalah tekstur tanah, dengan adanya
perbedaan jenis tekstur tanah dapat menggambarkan tingkat kemampuan tanah
untuk mengikat air, contohnya tanah yang bertekstur liat lebih mampu mengikat
air dalam jumlah banyak dibandingkan tanah yang bertekstur pasir, sedangkan
tanah bertekstur pasir lebih mampu mengikat air daripada tanah bertekstur debu.

2. Metodologi Praktikum
2.2 Alat dan Bahan
2.1.1 Alat dan Bahan Pengukuran Kadar Air Tanah
a. Oven
b. Timbangan
c. Porselen
d. Spatula

2.2 Cara Kerja Praktikum


a. Mengambil tanah pada daerah ternaungi dan tidak ternaungi
b. Menimbang porselen
c. Menimbang masing-masing tanah yaitu tanah ternaungi dan tidak
ternaungi

11
sebanyak 200 gr
d. Memasukkan tanah yang telah ditimbang ke dalam oven selama 24 jam
e. Menimbang kembali tanah setelah di oven selama 24 jam kemudian
menghitung kadar air tanah dengan mengurangi berat awal dikurangi
berat akhir.

2.3. Alat Pengukuran Kadar Air Tanah


No Gambar Alat Cara Penggunaan Alat dan Fungsi
1 Oven a. Hubungkan kabel power ke stop
kontak
b. Menghidupkan oven dengan
menekan tombol ON
c. Mengatur temperatur sampai dengan
yang diinginkan 1600° C-1800° C
d. Meyiapkan bahan yang akan di oven
e. Memasukkan bahan tersebut ke
dalam oven
Sumber: Adi (2009) f. Bila waktu yang diatur sudah
selesai, pengatur waktu secara
otomatis kembali ke nol
g. mencabut kabel oven ari sumber
listrik
Fungsi: untuk mengeringkan tanah
dan untuk mengukur kadar
air

12
2. Timbangan a. hubungkan timbangan dengan suplay
listrik
b. tunggu beberapa menit, timbangan
akan melakukan check prosedur dan
test kalibrasi. Setelah kalibrasi
selesai, pada display akan
menunjukkan off
c. Tekan tombol ON/OFF untuk
menghidupkan timbangan
Sumber: Adi (2009) d. Display akan menunjukkan angka
0,0000 timbangan siap digunakan
e. Letakkan bahan yang akan ditimbang
pada pelat timbangan. Setelah stabil,
display akan menunjukkan berat
bahan
f. Ambil bahan dari timbangan
g. Tekan tombol On/Off untuk
mematikan timbangan
h. Timbangan dalam keadaan stand by,
layar display menunjukkan waktu
i. Cabut aliran listrik apabila proses
penimbangan sudah selesai

Fungsi: untuk menentukan berat bahan


yang akan ditimbang

13
3. Cawan Porselin a. Letakkan cawan porselin bersama
dengan bahan
b. Kemudian letakkan ke dalam oven

Fungsi: untuk menguapkan cairan pada


suhu yang tidak terlalu tinggi
(oven, di atas tangas air uap,
pasir, dan lain sebagainya
Sumber: Adi (2009)

V. PENGUKURAN KADAR C ORGANIK TANAH

1. Dasar Teori
1.1 Kadar C Organik Tanah
1.1.1 Pengertian Kadar C Organik Tanah
Tanah sebagai salah satu unsur habitat perlu diketahui kapasitas
kemampuannya jika hendak melakukan pertanaman pada tanah itu, untuk
mengetahui kapsitas kemampuan itu perlu dilakukan penelitian-penelitian dengan
cara analisasi terhadap tubuhnya. Sumber utama bahan organik tanah ialah
jaringan tanaman, baik yang berupa serasah atau sisa-sisa tanaman yang setiap
tahunnya dapat tersedia dalam jumlah yang besar sekali (Dodik, 2012).
Bahan organik dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara dan efisiensi
penyerapan tanaman. Perombakan bahan organik akan melepas unsur hara seperti
N, P, K, dan S. Meskipun hara pupuk organik relatif rendah tetapi perombakannya
relatif cepat, oleh karena itu agar penggunaan bahan organik efektif pemberiannya
harus tepat (Dodik, 2012).
Bahan organik dapat memperbaiki infiltrasi, porositas, struktur tanah,
ketersediaan unsur hara, dan merupakan sumber energi bagi mikroorganisme
tanah. Pengaruh bahan organik terhadap sifat kimia tanah adalah mampu
meningkatkan nilai kapasitas tukar kation, menambah ketersediaan unsur hara,
mengurangi keracunan Al dan Fe serta meningkatkan kelarutan P dalam tanah.

14
Bahan organik juga sangat berperan dalam meningkatkan aktivitas
mikroorganisme tanah (Dodik, 2012).

2. Metodologi Praktikum
2.3 Alat dan Bahan
2.1.1 Alat dan Bahan Pengukuran Kadar Air Tanah
a. Sampel Tanah
b. Cawan Porselen
c. Timbangan analitik
d. Inkubator
e. Buret
2.2 Cara Kerja Praktikum
1. Mengambil sampel tanah pada daerah ternaungi dan tidak ternaungi
2. Menimbang tanah sebanyak 200 gram
3. Mengoven tanah selama 24 jam
4. Menimbang kembali setelah di inkubator
5. Menentukan kadar C organik dengan menggunakan titrasi di lab kimia

2.3. Alat Pengukuran Kadar Air Tanah


Gambar Keterangan

15
1. Presisi buret yang tinggi, kehati-
hatian pengukuran volume
dengan buret.
2. Untuk mengisi buret, menutup
stopcock (keran) di bagian bawah
dan menggunakan corong untuk
menghindari terjadinya tumpahan
3. Mengisi buret menggunakan
pipet transfer sekali pakai
(Sumber: Rafiani, 2013) 4. Sebelum titrasi, Perlu
diperhatikan kondisi buret
dengan larutan titran dan
memeriksa bahwa buret mengalir
bebas.
5. Memeriksa ujung buret dari
adanya gelembung udara.
6. membilas ujung buret dengan air
dari botol mencuci (labu semprot)
dan mengeringkan hati-hati.
Setelah beberapa menit
memeriksa larutan pada ujung
untuk melihat apakah buret
bocor.
7. Ketika buret diisi dengan larutan,
tanpa gelembung udara atau
kebocoran, maka sebelum
membaca volume awal (biasanya
menginpitkan ke titik 0,00 ml
skala). Pastikan bahwa dinding
bagian dalam buret dalam kondisi
kering.
8. Pembacaan buret kartu dengan
persegi panjang hitam dapat

16
1. Hubungkan kabel power ke stop
kontak
2. Putar tombol ke arah kiri (lampu
power hijau menyala)
3. Atur suhu dalam inkubator
dengan menekan tombol set
4. Sambil menekan tombol set,
(Sumber: Rido, 2013)
putarlah tombol di sebelah kanan
atas tombol set hingga mencapai
suhu yang diinginkan
5. Setelah suhu yang didinginkan
selesai di atur, lepaskan tombol
set.
Inkubator akan menyesuaikan
sehingga suhu secara otomatis
setelah beberapa menit.

17
Daftar Pustaka

Adi, Atmoko. 2009. Alat-alat untuk Praktikum Ekologi Tumbuhan.


https://adiatmoko.wordpress.com. (online) diakses 12 Desember 2014.

Ardhana, I Putu Gede. 2012. Ekologi Tumbuhan. Bali: Udayana University Press.

Buckman, H. O dan N. C Brady, 1982. Ilmu Tanah. Yogyakarta: Gajah Mada


University Press.

Budi, Rahardjo. 2009. Suhu dan pH Tanah Pertanian. (online


http://budi.blogspot.com/2012/04/pengukuran ph-.html), diakses 13
Desember 2014.

Dodik. 2012. Pengukuran Kandungan C Organik dan Ph,


(online http://dodikfaperta.blogspot.com/2012/04/pengukuran-kandungan-
c-organik-dan-ph.html), diakses 13 Desember 2014.

Hardjowigeno, S. 1985. Klasifikasi Tanah dan Lahan. Institut Pertanian Bogor.


Bogor.

Rafiani. 2013. Cara Menggunakan Buret,


(online.http://www.rafiana.blogspot.com/2014/03/cara-menggunakan-
buret.html), diakses 13 Desember 2014.

Ratriningsih, Rahayu. 2003. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Surabaya: JP


Books.

Rido. 2013. Alat- alat laboratotrium.


(online http://rido.wordpress.com/2013/08/alat- alat-laboratorium.html.),
diakses 13 Desember 2014.

18

Anda mungkin juga menyukai