Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH MANAJEMEN HUBUNGAN LEMBAGA KEPENDIDIKAN DENGAN

MASYARAKAT

Dosen Pengampu :
YUSRA NASUTION S.Pd. M,Pd

Diusun Oleh :
Kelompok 6

1. Salmian Sinuranti Marpaung 5232431002


2. Manotar Redo Siregar 5231131006
3. Fauzan Riski Tamado Dalimunte 5233131009
4. M.Fatwa Pujangga Pasaribu 5231131012

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2024
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

Alhamdulillah puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat dan
Hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Manajemen

Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat”. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan atas
junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan sekalian umatnya yang
bertaqwa.
Ucapan terima kasih pula kami tujukan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
proses penyusunan makalah ini, baik bantuan materil maupun nonmateril.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan guna penyempurnaan penyusunan makalah
selanjutnya. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, amin.
.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Medan, April 2024

Penyusunii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i


KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang......................................................................1


B. Rumusan Masalah...............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................


A. Definisi Hubungan Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat..........................3
B. Konsep Dasar Hubungan Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat................4
C. Jenis-Jenis Kegiatan Hubungan Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat......7
D. Bentuk-Bentuk Kerjasama Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat............12
E. Peningkatan Dan Pendayagunaan Partisipasi Masyarakat................................14
BAB III PENUTUP ................................................................................................................
A. Kesimpulan.......................................................................................................16

B. Saran..................................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................17

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Lembaga Pendidikan berada ditengah-tengah masyarakat dan dapat dikatakan sebagai


pisau bermata dua. Mata yang pertama adalah menjaga kelestarian nilai-nilai positif yang ada
dalam masyarakat, agar pewarisan nilai-nilai masyarakat berlangsung dengan baik. Mata kedua
adalah sebagai lembaga yang dapat mendorong perubahan nilai dan tradisi sesuai dengan
kemajuan dan tuntutan kehidupan serta pembangunan. Kedua fungsi ini seolah-olah
bertentangan, namun sebenarnya keduanya dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Oleh
karena itu fungsi yang controversial ini, diperlukan saling pemahaman antara sekolah dan
masyrakat.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan dan masyarakat adalah faktor pendidikan
yang saling mempengaruhi karena keduanya memiliki timbale balik yang tidak dapat
dipisahkan. Seorang anak didik setelah mendapat pendidikan dari keluarganya akan segera
berlanjut untuk mencari ilmu di sekolah. Dalam lingkungan yang baru tersebut peserta didik
diberi berbagai macam ilmu pengetahuan yang berguna bagi dirinya sendiri ataupun orang lain.
Setelah itu ia akan beranjak ke lingkungan berikutnya yaitu masyarakat, di sinilah ia
akan mengaplikasikan segala ilmu yang telah didapatnya ketika melakukan pendidikan di
sekolah.Terkadang seorang anak didik tidak dapat di terima di dalam masyarakat karena
pendidikan yang diterima di sekolah tidak sesuai dengan yang dibutuhkan di masyarakat,
sehingga peserta didik tersebut hanya bisa menjadi penonton tanpa terlibat secara langsung di
dalam masyarakat.
Pada dasarnya lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada dan terjadi di
sekeliling proses pendidikan itu berlangsung yang terdiri dari manusia, binatang, tumbuh-
tumbuhan dan benda-benda mati. Keempat kelompok benda-benda lingkungan pendidikan itu
ikut berperan dalam rangka usaha setiap siswa atau mahasiswa mengembangkan dirinya. Tetapi

manajemen pendidikan menaruh perhatiannya terutama kepada lingkungan yang berwujud


manusia yaitu masyarakat.
Manusia merupakan bagian dari lingkungan masyarakat, seperti manusia, pendidikan
pun dapat dikatakan sebagai bagian dari masyarakat karena pendidikan dapat memajukan cara

1
pandang dan cara berperilaku masyarakat. Lembaga pendidikan tempat pendidikan didapat pun
sama pentingnya.Maka dari itu diperlukan kerjasama antara lembaga pendidikan dengan
masyarakat demi terciptanya masyarakat yang lebih maju.
Di sini perlu kita lihat sejauh mana pengaruh sekolah sebagai ladang pendidikan (formal)
dalam mencetak generasi yang siap terjun ke tengah- tengah masyarakat, karena tidak jarang
antara lembaga pendidikan dan masyarakat tidak saling berinteraksi. Sebagian masyarkat
menganggap bahwa pendidikan itu mahal dan hanya menghabis-habiskan uang. Tetapi pada
kenyataannya tidak dapat dipungkiri bahwa seluruh bagian dari masyarakat membutuhkan
pendidikan. Maka dari itu perlu dibinanya komunikasi antara masyarakat dan lembaga
pendidikan tersebut dengan mengetahui jenis, bentuk dan hubungan lembaga pendidikan dengan
masyarakat, dan cara peningkatkan dan pemberdayaan partisipasi masyarakat terhadap
pendidikan dan lembaga pendidikan itu sendiri, dan semua itu perlu kita bahas dalam makalah
ini.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa Yang Dimaksud Dengan Hubungan Lembaga Pendidikan


Dengan Masyarakat?

2. Apa Konsep dasar hubungan Lembaga Pendidikan dengan


Masyarakat?

3. Sebutkan Jenis-Jenis Kegiatan Hubungan Lembaga Pendidikan


Dengan Masyarakat?

4. Bagaimana Bentuk-Bentuk Kerjasama Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat?

5. Peningkatan dan Pendayagunaan Partisipasi Masyarakat?

2
BAB II PEMBAHASAN

A. DEFINISI HUBUNGAN LEMBAGA PENDIDIKAN DENGAN


MASYARAKAT
Secara sederhana “hubungan” atau “communication” dapat diartikan sebagai

“process by wich a person transmits a message to another” yang berarti proses penyampaian
berita dari seseorang kepada orang lain.1 Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan
jalinan interaksi yang diupayakan oleh sekolah agar dapat diterima di tengah-tengah masyarakat
untuk mendapatkan aspirasi, simpati dari masyarakat. Dan mengupayakan terjadinya kerjasama
yang baik antar sekolah dengan masyarakat untuk kebaikan bersama, atau secara khusus bagi
sekolah penjalinan hubungan tersebut adalah untuk mensuksekan program-program sekolah
yang bersangkutan sehingga sekolah tersebut bisa tetap eksis.
Hubungan sekolah dengan masyarakat (Husemas) adalah suatu proses komunikasi antara
sekolah dengan masyarakat untuk meningkatkan pengertian masyarakat tentang kebutuhan serta
kegiatan pendidikan serta mendorong minat dan kerjasama untuk masyarakat dalam peningkatan
dan pengembangan sekolah. Kindred, balgin dan Gallagher(1976) mendefinisikan husemas ini
sebagai usaha kooperatif untuk menjaga dan mengembangkan saluran informasi dua arah yang
efisien serta saling pengertian antara sekolah, personel sekolah dengan masyarakat.
Definisi tersebut diatas mengandung beberapa elemen penting, sebagai berikut:

1. Adanya kepentingan yang sama antara sekolah dengan masyrakat. Masyarakat


memerlukan sekolah untuk menjamin bahwa anak-anak sebagai generasi penerus
akan dapat hidup lebih baik, demikian pula sekolah.

2. Untuk memenuhi harapan masyarakat itu, masyarakat perlu berperan serta dalam
pengembangan sekolah. Yang dimaksud peran serta sekolah adalah kepedulian
masyarakat tentang hal- hal yang terjadi disekolah, serta tindakan membangun
dalam perbaikan sekolah.

3. Untuk meningkatkan peran serta itu diperlukan kerja sama yang baik, melalui
komunikasi dua arah yang efisien.

3
B. KONSEP DASAR HUBUNGAN LEMBAGA PENDIDIKAN DENGAN

MASYARAKAT
Organisasi pendidikan adalah merupakan suatu sistem yang terbuka.

Sebagai sistem terbuka, berarti lembaga pendidikan selalu mengadakan

kontak hubungan dengan lingkungannya yang disebut sebagai suprasistem. Kontak hubungan ini
dibutuhkan untuk menjaga agar sistem atau lembaga itu tidak mudah punah atau mati.
Hanya sistem terbuka yang memiliki negentropy, yaitu suatu usaha yang terusmenerus
untuk menghalangi kemungkinan terjadinya entropy atau kepunahan. Ini berarti hidup atau
matinya sistem itu sebagian terbesar ditentukan oleh usaha lembaga itu sendiri. Konsep ini bisa
dicocokkan dengan praktek-praktek pendidikan yang telah terjadi. Sekolah yang tidak memiliki
nama baik di mata masyarakat dan akhirnya mati, adalah sekolah

yang tidak mampu membuat hubungan baik dengan masyarakat pendukungnya. Dengan
berbagai sebab masyarakat enggan menyekolahkan
putra-putrinya ke sekolah itu, hal tersebut yang membuat sekolah itu tidak mempunyai siswa,
dan sebaliknya.
Sejalan dengan konsep diatas, pemerintah menyerukan bahwa pendidikan adalah
tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Dengan demikian
tampaklah bahwa lembaga pendidikan itu bukanlah badan yang berdiri sendiri dalam membina
pertumbuhan dan perkembangan putra-putri bangsa, melainkan ia merupakan suatu bagian yang
tidak terpisahkan dari masyarakat yang luas.
Ada hubungan saling memberi dan saling menerima antara lembaga pendidikan dengan
masyarakat sekitarnya. Lembaga pendidikan merealisasi apa yang dicitacitakan oleh masyarakat
tentang pengembangan putra-putri mereka. Disamping layanan terhadap masyarakat berupa
pendidikan dan pengajaran, lembaga pendidikan juga menyediakan diri sebagai agen pembaru
atau penerang bagi masyarakat.
Lembaga pendidikan sesungguhnya melaksanakan fungsi rangkap terhadap masyarakat
yaitu memberi layanan dan sebagai agen pembaru, Dikatakan fungsi layanan karena ia melayani
kebutuhan-kebutuhan masyarakat, dan fungsi pemimpin sebab ia memimpin masyarakat disertai
dengan penemuan-penemuannya untuk memajukan kehidupan masyarakat.
Selanjutnya dengan mengadakan kontak hubungan dengan masyarakat memudahkan
organisasi pendidikan tersebut mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi
lingkungannya. Lembaga pendidikan lebih mudah menempatkan dirinya di masyarakat dalam
arti dapat diterima sebagai bagian dari milik warga masyarakat. Lembaga pendidikan dapat
mengikuti arus dinamika masyarakat lingkungannya.

4
Pendekatan situasional memang diperlukan oleh lembaga pendidikan sebagai sistem
terbuka. Pendekatan ini mengharuskan lembaga-lembaga itu menaruh perhatian kepada
masyarakat dan mengamati aspirasi mereka, kebutuhan mereka, kemampuan, dan kondisi
mereka. Manajer pendidikan bersama warga masyarakat mencoba berusaha mencari jalan keluar
dan mewujudkannya dalam lembaga pendidikan untuk keputusan bersama.
Hubungan kerjasama lembaga pendidikan dengan masyarakat, mengikuti perubahan-
perubahan lingkungan dengan pendekatan situasional, memungkinkan lembaga itu tetap berdiri.
Sebab ia berada dalam hidup bersama masyarakat dan sekaligus penerang/inovator bagi
masyarakat. Inilah yang perlu diusahakan oleh manajer pendidikan.2
Secara terperinci manfaat hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat adalah
sebagai berikut:

1. Bagi lembaga pendidikan yakni :

a. Memudahkan memperbaiki pendidikan

b. Memperbesar usaha meningkatkan profesi pengajar

c. Konsep masyarakat tentang guru/dosen menjadi benar

d. Mendapatkan koreksi dari kelompok masyarakat

e. Mendapat dukungan moral dari masyarakat

f. Memudahkan meminta bantuan dari masyarakat

g. Memudahkan pemakaian media pendidikan masyarakat

h. Memudahkan pemanfaatan narasumber

2. Bagi masyarakat yakni :


a. Tahu hal-hal persekolahan dan inovasinya

b. Kebutuhan-kebutuhan masyarakat tentang pendidikan


lebih mudah diwujudkan

c. Menyalurkan kebutuhan berpatisipasi dalam pendidikan

d. Melakukan usul-usul terhadap lembaga pendidikan


Seperti yang sudah diuaraikan diatas, sekolah memanfaatkan hubungan dengan
masyarakat ialah untuk melangsungkan atau mempertahankan hidupnya dan sebagian untuk
melayani masyarakat. Manfaat diatas dapat diperoleh jika manajer pendidikan mampu
mengadakan komunikasi dan kerjasama yang baik dengan masyarakat. Komunikasi dan
kerjasama yang baik ini sekaligus membuat pandangan masyarakat yang keliru tentang
guru/dosen menjadi benar. Bahwa guru/dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik

5
mereka tidak mementingkan gaji tetapi mereka adalah mengabdi demi kepentingan yang dididik
maupun yang diajar.
Sama halnya dengan pertahanan hidup, layanan tehadap masyarakat juga akan semakin
meningkat bila hubungan lembaga pendidik dengan masyarakat semakin baik. Masyarakat akan
puas karena banyak warga yang diperhatikan, lembaga terbuka bagi para warga masyarakat
yang ingin

berpatisipasi dalam pendidikan, termasuk mengajukan usul tentang hal-hal yang mereka
inginkan terjadi atau dilaksanakan di lembaga.3

C. JENIS-JENIS KEGIATAN HUBUNGAN LEMBAGA PENDIDIKAN DENGAN

MASYARAKAT
Menurut Don Begin (1984), public relations dibedakan menjadi external public
relations ( humas ke luar ) dan internal public relations ( humas ke dalam ). Oleh karena itu, di
sekolah dikenal adanya kegiatan publisitas ke luar dan publisitas ke dalam.

1. Kegiatan Eksternal
Kegiatan ini selalu berhubungan atau ditujukan kepada publik atau masyarakat di
luar warga sekolah. Ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan yakni secara langsung
( tatap muka ) dan tidak langsung. Kegiatan tatap muka misalnya rapat bersama dengan
pengurus BP3 setempat, berkonsultasi dengan tokoh-tokoh masyarakat, melayani
kunjungan tamu dan sebagainya. Kegiatan eksternal tidak langsung adalah kegiatan yang
berhubungan dengan masyarakat melalui perantaraan media tertentu, seperti:4

a. Penyebaran informasi melalui televisi


Berhasil tidaknya menggunakan televisi sebagai alat media publisitas sekolah,
tergantung pada program yang telah disiapkan sebelumnya di dalam program itu
disusun hal-hal atau pokok-pokok yang akan disajikan kepada penontonnya.
Maka dari itu, informasi melalui televisi memerlukan persiapan yang lebih
cermat daripada informasi melalui radio. Informasi melalui televisi dapat
dilaksanakan dengan cara ceramah biasa, wawancara, ceramah dengan alat-alat
peraga, diskusi, sandiwara, acara cerdas tangkas, kegiatan kesenian dan
sebagainya.

b. Penyebaran informasi melalui radio


Radio merupakan media massa yang penting yang mampu menjangkau publik
yang luas. Karena itu, sekolah dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya

6
dari radio ini untuk kepentingan publisitas. Beberapa hal yang penting seperti
kapan pendaftaran siswa baru, kegiatan pendidikan dan data sekolah dapat
diinformasikan ke luar melalui radi

c. Penyebaran informasi melalui media cetak


Yang dimaksud media cetak adalah surat kabar, majalah, buletin dan sebagainya.
Kadang-kadang semuanya ini disebut pers dalam arti sempit. Dalam
hubungannya dengan kegiatan humas, pers dapat dikatakan sebagai penyalur
informasi yang menguntungkan.
e. Pameran sekolah

Pameran sekolah dimaksud untuk menunjukkan hasil pekerjaan para siswa serta
masyarakat pada umumnya.

2. Kegiatan Internal
Kegiatan ini merupakan publisitas ke dalam, sasarannya tidak lain adalah warga sekolah
yang bersangkutan yakni para guru, tenaga tata usaha dan seluruh siswa. Pada
prinsipnya, kegiatan internal bertujuan untuk:

a. Memberi penjelasan tentang kebijaksanaan penyelenggaraan sekolah,situasi dan


perkembangannya.

b. Menampung sarana-sarana dan pendapat-pendapat dari warga sekolah dalam


hubungannya dengan pembinaan dan pengembangan sekolah.

c. Dapat memelihara hubungan yang harmonis dan terciptanya kerja sama antar
warga sekolah sendiri.
Kegiatan internal dapat dibedakan atas kegiatan langsung dan tidak langsung.
Kegiatan langsung ini dapat berupa, antara lain:

a. Rapat dewan guru

b. Upacara sekolah

c. Karyawisata/rekreasi bersama

d. Penjelasan lisan pada berbagai kesempatan yang ada, misalnya pada pertemuan
arisan, syawalan dan sebagainya

Sedangkan mengenai kegiatan yang tidak langsung dapat berupa:

a. Penyampaian informasi melalui surat edaran

b. Penggunaan papan pengumuman di sekolah

c. Penyelenggaraan majalah dinding

7
d. Menerbitkan buletin sekolah untuk dibagikan kepada warga sekolah

e. Pemasangan iklan/pemberitahuan khusus melalui media massa pada kesempatan-


kesempatan tertentu

Pada era di mana terjadi salah kaprah mengenai hubungan antara lembaa pendidikan dan
masyarakat ini, hendaknya kaum akademisi mulai menjelaskan kembali bagaimana hubungan
lembaga pendidikan dan masyarakat yang sebenarnya harus
terjadi. Pada masa ini, sekolah dianggap hanya sebagai “penjara akademik” atau sarana untuk
menyampaikan hal-hal yang bersifat akademis kepada peserta didik. Dengan demikian
kebanyakan orang menganggap cukup dengan adanya komite sekolah dan bagian humas, maka
hubungan antara sekolah dan masyarakat sudah berjalan sebagaimana mestinya.
Padahal, arti hubungan antara sekolah dan masyarakat sendiri jauh lebih luas daripada itu
dan mencakup beberapa bidang. Bidang-bidang tersebut adalah bidangbidang yang ada
hubungannya dengan pendidikan anak-anak dan pendidikan masyarakat pada umumnya.
Jenis hubungan sekolah dan masyarakat itu sendiri dapat digolongkan menjadi 3 jenis,

yaitu:

a. Hubungan edukatif, ialah hubungan kerja sama dalam hal mendidik murid, antara
guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Adanya hubungan ini
dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang
dapat mengakibatkan keragu-raguan pendirian dan sikap pada diri anak.
Cara kerja sama tersebut dapat direalisasikan dengan mengadakan pertemuan
yang direncanakan secara periodik antara guru-guru di sekolah dengan para
orang tua murid. Di samping itu, dapat pula dilakukan dengan mengadakan
kunjungan ke rumah peserta didik di luar waktu sekolah untuk mengenal
lingkungan di mana peserta didik berkembang. Jika hal tersebut tidak
dimungkinkan, dapat pula dilakukanpertemuan antara guru dengan orang tua
peserta didik per kelas untuk mengadakan dialog terbuka mengenai masalah-
masalah pendidikan yang sering terjadi dalam keluarga, dan bagaimana cara
mengatasinya.

b. Hubungan kultural, yaitu usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang
memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan
masyarakat tempat sekolah itu berada. Untuk itu diperlukan hubungan kerja sama
antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan
kurikulum sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan

8
masyarakat. Demikian pula tentang pemilihan bahan pengajaran dan metode-
metode pengajarannya. Oleh karena itu, tidak mustahil bahwa untuk
menjelmakan para peserta didik untuk menbantu dalam kegiatan-kegiatan yang
diselenggarakan oleh masyarakat di luar lingkunngan sekolah. Kegiatan-kegiatan
kerja sama semacam itu berarti mendidik para peserta didik untuk berpartisipasi
dan turut bertanggung jawab tehadap masyarakat dan lingkungannya.

c. Hubungan institusional, yaitu hubungan kerja sama antara sekolah dengan


lembaga-lembaga atau instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah,
seperti hubungan kerja sama antara sekolah satu dengan sekolah-sekolah lainnya,
kepala pemerintah setempat, ataupun perusahaan-perusahaan Negara, yang
berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya.

Sebagai kesimpulan data dikemukakan bahwa dengan dilaksanakannya ketiga


hubungan tersebut, diharapkan sekolah tidak lagi selalu ketinggalan dengan
perubahan dan tuntutan masyarakat yang senantiasa berkembang. Sehingga
meskipun digerus oleh arus globalisasi, sekolah tidak lagi hanya menjadi
penyalur informasi akademik. Maka dari itu, untuk kembali mendapatkan
fungsinya yang sebenarnya, sekolah harus merupakan salah satu pusat belajar
dari banyak pusat belajar yang kini dikategorikan sebagai pendidikan nonformal.
Adanya hubungan sekolah dan masyarakat ini dimaksudkan pula agar proses
belajara yang berlaku di sekolah mengalami perubahan, dari proses belajar
dengan cara “menyuapi” dengan bahan pelajaran yang telah dicerna oleh guru,
menjadi proses belajar yang inovatif, yaitu belajar secara antisipatoris dan
partisipatoris. Proses belajar yang inovatif ini tidak hanya “belajar memecahkan
masalah”, tetapi justru yang terpenting adalah mengidentifikasi, mengerti, dan
bila perlu merumuskan kembali masalah itu. Peserta didik dididik untuk
berpartisipasi dalam arti luas di dalam kehidupan masyarakat, dan dapat
mengantisipasi kehidupan masyarakat yang akan datang tempat mereka akan
hidup dan terlibat di dalamnya setelah mereka dewasa.5

D. BENTUK-BENTUK KERJASAMA LEMBAGA PENDIDIKAN DENGAN


MASYARAKAT

a. Hubungan sekolah dengan orang tua siswa dan warga masyarakat.

9
Bentuk hubungan ini bisa individual, bisa pula organisatoris:

1. Secara individual:

a. Orang tua datang ke sekolah untuk berkonsultasi maupun untuk


pemecahan masalah anaknya.

b. Secara sukarela orang tua datang ke sekoah menyampaikan saransaran

bahkan sumbangan untuk kemajuan sekolah.


Sebagai contoh: seseorang pensiunan Pustakawan secara sukarela

datang ke sekolah untuk “pembenahan” perpustakaan sekolah.

2. Secara Organisasi melalui BP3


Organisasi ini akan lebih efektif bila sekolah mampu menggerakkan dan
memanfaatkan potensi yang ada di kalangan orang tua umpamanya:

a. Para dokter untuk duduk pada seksi UKS bahkan untuk mendirikan
poliklinik sekolah

b. Para insinyur untuk memberikan saran-saran dalam pembanguna sekolah

c. Para Profesional pejabat dan pengusaha lainnya yang juga akan dengan
sukarela membantu sekolah demi kepentingan anakanaknya.

d. Para pemuka agama untuk peningkatan Imtaq ( iman dan taqwa )

b. Hubungan Sekolah dengan Alumni


Dari para alumni, sekolah memperoleh masukan tentang kekurangan sekolah yang perlu
dibenahi, upayaupaya yang perlu dilakukan untuk perbaikan. Juga melalui alumni dapat
dihimpun dana bagi peningkatan kesejahteraan guru dan karyawan maupun perbaikan
pembangunan

sekolah . Bahkan mengundang para alumni itu sendiri untuk menyampaikan pengalaman
keberhasilannya untuk motivasi atau menularkan pengetahuannya untuk penyegaran dan
tambahan wawasan bukan hanya untuk para siswa tetapi juga para guru dan warga
sekolah lainnya.

c. Hubungan dengan Dunia Usaha/ Dunia Kerja


Biasanya ini merupakan bidang garapan guru bimbingan dan konseling. Pelaksanaannya:

1. Mengundang tokoh yang berhasil untuk datang ke sekolah Keberhasilan tokoh


tersebut akan memotivasi semua pihak untuk berbuat yang serupa.

10
2. Mengirim para anak didik ke dunia usaha/dunia kerja. Tentu saja ini
menguntungkan kedua belah pihak. Dunia kerja memperoleh tenaga yang murah
sedangkan para siswa mendapatkan pengalaman kerja yang berharga.

d. Hubungan dengan Instansi lain

1. Hubungan dengan Sekolah lain:


Hubungan kerjasama ini dapat juga dibina melalui MGMP, MKS, MGP, K3S,
K3M.

2. Hubungan dengan Lembaga/Badan-Badan Pemerintahan Swasta Sebagai contoh:


kerjasama dengan bank dalam rangka penggalangan dana “gemar menabung”
pelajar. Begitu juga kerjasama dengan pertamanan dalam rangka penghijauan.6

E. PENINGKATAN DAN PENDAYAGUNAAN PARTISIPASI MASYARAKAT

Masyarakat memandang sekolah (lembaga pendidikan) sebagai cara yang menyakinkan


dalam membina perkembangan para siswa atau mahasiswa, karena itu masyarakat berpatisipasi
dan setia kepadanya. Namun hal ini tidak otomatis terjadi terutama dinegara-negara berkembang
termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan karena banyak warga yang belum paham akan makna
lembaga pendidikan, lebih-lebih bila kondisi ekonomi mereka rendah, merek hampir tidak hirau
akan lembaga pendidikan. Pusat perhatian mereka adalah kebutuhan hidup sehari-hari.
Untuk mengikut sertakan warga masyarakat ini dalam membangun pendidikan disekolah
maupun perguruan tinggi, sudah sepatutnya para manajer pendidikan melalui tokoh-tokoh
masyarakat aktif menggugah perhatian mereka. Para manajer dapat mengundang para tokoh ini
untuk membahas bentuk-bentuk kerjasama dalam meningkatkan pendidikan. Keputusan diambil
secara musyawarah untuk memperoleh alternatif yang terbaik.
Yang paling menarik bagi masyarakat adalah bila lembaga pendidikan itu sanggup
mencetak lulusan yang siap pakai. Artinya bila lulusan itu baik mereka sebagai tenaga
menengah maupun sebagai tenaga ahli tidak membutuhkan latihan lagi sebelum bekerja,
melainkan secara langsung dapat melaksanakan pekerjaan dalam bidangnya secara relatif baik.

11
Untuk mewujudkan lulusan seperti ini memang merupakan tantangan berat bagi para manajer
pendidikan.
Bila manajer berhasil, biasanya imbalannya dari warga masyarakat cukup besar. Mereka
secara antusias akan mendukung lembaga pendidikan bersangkutan baik secara moral maupun
material. Makin banyak orang tua yang merasakan kepuasan itu, makin banyak dan makin besar
pula partisipasi masyarakat terhadap lembaga pendidikan itu.
Inilah beberapa contoh partisipasi masyarakat dalam pendidikan :

1. Dalam bentuk partisipasi antara lain :

b. Dewan Pendidikan

c. Komite Sekolah

d. Persatuan orang tua siswa

e. Perkumpulan olahraga

f. Perkumpulan Kesenian

g. Organisai-organisasi yang lain

2. Dalam bidang partisipasi antara lain :

a. Kurikulum terutama yang lokal

b. Alat-alat belajar

c. Dana

d. Material untuk bangunan gedung

e. Auditing Keuangan

f. Kontrol terhadap kegiatan-kegiatan sekolah dan


sejenisnya.

3. Dalam cara partisipasinya antara lain :

a. Ikut dalam pertemuan

b. Datang ke sekolah

c. Lewat surat

d. Lewat telepon

e. Ikut malam kesenian dan sejenisnya

Inilah beberapa contoh partisipasi masyarakat dari hal bentuk, bidang dan cara
berpatisipasi dalam pendidikan.7

12
BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari Pembahasan diatas, maka penulis dapat menentukan simpulan bahwa Hubungan
sekolah dengan masyarakat merupakan jalinan interaksi yang diupayakan oleh sekolah agar
dapat diterima di tengah-tengah masyarakat untuk mendapatkan aspirasi, simpati dari
masyarakat. Dan mengupayakan terjadinya kerjasama yang baik antar sekolah dengan
masyarakat untuk kebaikan bersama, atau secara khusus bagi sekolah penjalinan hubungan
tersebut adalah untuk mensuksekan program-program sekolah yang bersangkutan sehingga
sekolah tersebut bisa tetap eksis.

B. SARAN

Setelah membaca hasil karya ilmiah ini, penulis menyarankan bahwa agar dapat mencari
referensi yang lain. Karena kami menyadari masih banyak kekurangan dalam menyajikan teknik
pengajaran pendidikan islam ini.

13
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi dan Lia Yuliana.2012.Manajemen


Pendidikan.Yogyakarta:Aditya Media.

Ihsan, Fuad. 2008. “Dasar-dasar Kependidikan” Jakarta: PT. Rineka Cipta


M. Daryanto, 2005. “Administrasi Pendidikan”. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Mulyono.2008.Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan.Yogyakarta:Ar-Ruzz Media.
Sagala, S, 2008. “Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat”. Jakarta: Nimas
Multima http://tutorialkhen.blogspot.com/2016/01/makalah-makalah-hubungan-
sekolah- dengan.html?m=1
http://syiffa93yuhu.blogspot.com/2013/09/manajemen-hubungan-lembaga-
pendidikan.html?m=1

14

Anda mungkin juga menyukai