Anda di halaman 1dari 16

AUL DAN RADD

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mandiri Matakuliah ..:

Disusun Oleh : ( 1410220111 ) ALIYAH ( KELAS ) VIVA : EPI_4 (Semester 2)

FAKULTAS SYARIAH JURUSAN EKONOMI PERBANKAN ISLAM IAIN SYEKH NURJATI CIREBON 2011

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aul dan radd adalah sistem pembagian harta warisan yang lahir pada zaman khalifah Umar bin Khattab dan berkembang serta tetap dipertahankan sampai saat ini. Sistem ini sangat terkenal karena dengan sistem ini salah satu persoalan hukum waris yang sebelumnya sulit untuk diselesaikan dapat dengan mudah diselesaikan. Akan tetapi belakangan ini diketahui bahwa sistem ini banyak mengandung kelemahan terutama bila diselaraskan dengan rumusrumus matematika. Selanjutnya kelemahan-kelemahan tersebut dijadikan titik serangan oleh mereka yang tidak senang dengan Islam, dijadikan alat untuk melemahkan keyakinan ummat Islam terhadap kesucian Al-Quran dan Kerasulan Muhammad SAW. antara lain sebagaimana yang Penulis baca dalam face book dengan pertanyaan-pertanyaan yang maksudnya lebih kurang sebagai berikut : 1. Apakah pantas Al-Quran dijadikan kitab suci yang perhitungan matematika warisan Allah SWT didalamnya kadang kurang kadang lebih sehingga harus dilengkapi hukum buatan manusia yaitu aul dan radd ? 2. Dengan membawa kitab suci yang didalamnya mengandung hukum waris yang tidak jelas, apakah benar Muhammad. SAW itu Rasulullah? 3. Apakah adil bila dalam pembagian harta warisan anak laki-laki mendapat bagian dua kali lipat dari bagian anak perempuan? 1.2 Identifikasi Masalah 1. Apakah pengertian dari aul ? 2. Siapa Orang yang menerapkan aul ? 3. Bagaimanakah cara penyelesaian masalah aul ? 4. Apakah pengertian dari radd ? 5. Apa sajakah rukun-rukun radd ?

6. Bagaimanakah cara penyelesaian masalah radd ? 1.3 Rumusan Masalah 1. Siapa ahli waris dalam dalam Al-Quran khususnya yang terkait masalah

aul dan radd ini yang harus diberikan terlebih dahulu bagiannya dan siapa pula yang terakhir? 2. Apakah porsi masing-masing ahli waris yang telah ditetapkan dengan jelas dalam Al-Quran tersebut seluruhnya harus diambil dari harta Pewaris secara keseluruhan atau ada yang harus diambil dari sisa harta yang telah diberikan kepada ahli waris sebelumnya? 3. Apakah asal masalah atau Kelipatan Persekutuan Terkecil perlu ditetapka dan bagaimana cara menetapkannya agar dalam penghitungannya sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam Al-Quran dan tidak bertentangan dengan rumusrumus matematika?

BAB II

PEMBAHASAN 2.1 AUL 1. Pengertian Aul Aul secara leksikal adalah kecenderungan kepada kezhaliman dan menyimpang dari kebenaran, dan pada umumnya bermakna untuk mengangkat. Sedangkan menurut istilah Aul adalah bertambahnya saham ashab al-furudh dari asal masalah. 2. Orang yang pertama menetapkan Aul Orang yang pertama kali menetapkan aul adalah Umar bin khatab r.a. setelah beliau memusyawarakan dengan Zaid bin tsabit r.a, dan Abbas r.a, yaitu ketika r.a. di datangi salah seorang sahabat yang menanyakan menanyakan penyelesaian suatu masalah seorang mati meninggalkan ahli waris yang terdiri dari suami (yang fardhnya 1/2) dan 2 orang saudari kandung (yang fardhnya 2/3). Beliau semula bimbang tidak mengetahui siapakah yang berhak didahulukan menurut ketentuan Allah, dan sekiranya beliau mengetahuinya tentu beliau akan mendahulukannya dan siaplah yang harus diakhirkan oleh Allah, yang kalau beliau mengetahuinya, niscaya beliau akan mengakhirkannya. Masalah tersebut lalu dimusyawarakan dengan Zaid bin tsabit r.a. dan Abbas bin abdul muthalib r.a. dengan mengatakan: jika kumulai dengan memberikan kepada suami atau dua orang saudari, niscaya tidak ada hak yang sempurna bagi yang lain. Dalam permusyawaratan ini, Abbas bin abdul muthalib memberikan pendapat, agar masalah tersebut diaulkan, katanya: Aulkanlah faridhah-faridhah mereka Kemudian atas usul abbas tersebut Umar bin khatab r.a. memutuskan aul atas masalah yang semula diragukannya. Ibnu abbas r.a. mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan putusan umar bin khatab r.a. dan bapaknya dalam masalah seorang mati meninggalkan ahli waris yang terdiri dari suami, ibu dan saudari tunggal ayah, yaitu: Demi Allah, andaikata didahulukan orang yang didahulukan oleh Allah swt. Dan diakhirkan orang yang diakhirkan oleh Allah swt, niscaya tidak terjadi aul sama sekali. 3. Perselisihan tentang aul

a.

Ulama-ulama syiah imamiyah dan jafariyah, ahli zhahir mengikuti

pendapat ibn Abbas, yaitu bahwa tidak aul karena mustahil sekali kalau allah menentukan furudhul muqaddarah bagi ahli waris, tetapi ternyata harta peninggalan yang dibagikannya tidak cukup. Alasannya adalah sebagai berikut: 1) macam furudh secara sempurna, karena itu setiap pemilik hak harus dipenuhinya, selagi keadaan memungkinkan. Tetapi jika keadaan tidak memungkinkan, maka hak-hak sebagian ahli waris, seperti anak perempuan dan saudari-saudari hendaknya tidak dipenuhi haknya, sebab mereka itu dalam keadaan dapat berubah menjadi ahli waris ashabah. 2) Jika keadaan harta peninggal itu tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh hak-hak yang bersangkutan dengan harta peninggalan, maka harus diutamakan lebih dahulu untuk memenuhi hak-hak yang lebih penting. Misalnya pemenuhan biaya perawatan bagi si mayit harus didahulukan daripada pembayaran hutang, pembayaran hutang harus didahulukan daripada wasiat dan seterusnya. b. kebanyakan para sahabat, para imam-imam besar dari golongan tabiin dan sebagian para imam-imam mazhab, berpendapat bahwa aul itu ada, alasannya adalah sebagai berikut: 1) Nash-nash yang menjelaskan hak-hak ahli waris dalam pusaka mwmpusakai tidak mengutamakan sebagai ashabul-furudh dengan ashabul-furudh yang lain dan tidak membedakan antara harta peninggalan yang mepet dengan harta peninggalan yang longgar. Oleh karena itu mendahulukan salah seorang dari ashabul furudh dan mengakhirkan dengan mengurangi hak-hak anak-anak perempuan atau saudari-saudari berarti membuat hukum baru dengan jalan mentarjih sesuatu ketentuan nash tanpa alat tarjih yang kuat. 2) Perintah Rasulullah saw: Berikanlah harta pusaka kepada orang-orang yang berhak sesudah itu sisanya untuk orang laki-laki yang lebih utama Tidak mengisyaratkan kepada sebagian ahli waris Lahirnya ayat-ayat mawaris itu telah menjelaskan macam-

untuk dipenuhi hak-haknya dengan menganaktirikan ahli waris yang lain untuk dikurangi hak-haknya. 3) 4) Masalah aul ini telah disepakati oleh seluruh fuqaha Furudhul muqaddarah itu merupakan bagian yang sudah tertentu besar dan kecinya dan telah disepakati oleh seluruh umat islam tentang kewajiban melaksanakannya. Oleh karena itu, demi untuk memenuhi fardh-fardh para ahli waris terhadap harta peninggalan yang sangat mepet, hendaknya ditempu dengan jalan sedemikian rupa, sehingga setiap ahli waris mendapat penggunaan yang sebanding dengan fardh mereka masing-masing. 4. Kebutuhan adanya masalah aul Walaupun ada pendapat yang kontra terhadap masalah aul ini, namun aul tetap dibutuhkan, apabila masalahnya menghendaki demikian. Hal itu demi untuk melaksanakan keadilan. Dapat dikatakan adil apabila sebagian ahli waris dipenuhi hak-haknya, sedang sebagian ahli waris yang lain dikurangi. Membeda-bedakan mereka melawan nash adalah tindakan yang tidak adil. 5. Cara-cara mengerjakan aul Pertama: a. b. Setelah diketahui fardh dari masing-masing ashhabul-furudh hendaknya dicari asal masalahnya Dicari saham-saham dari masing-masing ashhabul-furudh c. Kedua: Jumlah sisa kurang dari peninggalan yang terbagi ditanggung oleh asshhabul-furudh dengan jalan mengurangkan penerimaan masing-masing menurut perbandingan furudh atau saham mereka masing-masing. Ketiga: Jalan menurut ilmu hitung.ialah dengan mengadakan perbandingan furudh/saham mereka satu sama lain. Kemudian saham mereka di jumlah. Jumlah ini di pakai Asal masalah yang semula tidak di pakai lagi, tetapi yang dijadikan asal masalah baru ialah jumlah saham-saham yang para ahli waris sahabat sebelum ibn abbas menentangnya.

untuk membagi harta pusaka agar di ketahui berapa harga tiap-tiap bagian. Setelah harga tiap-tiap bagian diketahui, tentu diketahui bagian masing-masing. Contoh dan penyelesaiannya: 1. Harta peninggalan sejumlah Rp 42.000,Ahli warisnya terdiri dari; Suami dan dua orang saudara kandung, maka menurut: Cara ke 1 Ahli waris ; Fardh ; Dari a.m. 6; dari peninggalan sejumlah Rp 42.000,Sahamnya: 1. suami 2. 2 sdri knd : 1/2 : 1/2 6 = 3 : 2/3 : 2/3 6 = 4 Jumlah = 7 Cara ke 2 Ahli waris; fardh; dari a.m 6; dari peninggalan sejumlah Rp 42.000,Sahamnya 1. Suami 2. 2 sdri knd : 1/2 : 1/2 6 = 3 : 2/3 : 2/3 6 = 4 : : Penerimaannya 3 Rp 42.000,- = Rp 21.000,6 4 Rp 42.000,- = Rp 28.000,6 Sisa kurang = Rp 7.000,Ini harus dipotong dari penerimaan masing-masing dengan jalan memperbandingkan fardh-fardhnya Perbandingan fardh masing-masing = 1/2 : 2/3 = 3:4 Jumlah perbandingan = 3 + 4 = 7 = Rp 7.000,Potongan untuk suami 3/7 Rp 7.000,- = Rp 3.000,Potongan untuk 2 sdri knd 4/7 Rp 7.000,- = Rp 4.000,Penerimaan suami tinggal Rp 21.000 - Rp 3.000 = Rp 18.000,Penerimaan 2 sdri knd tinggal Rp 28.000 Rp 4.000 = Rp 24.000,Rp 42.000,: : Penerimaannya 3 Rp 42.000,- = Rp 18.000,7 4 Rp 42.000,- = Rp 24.000,7 : (dijadikan asal masalah dalam aul)

Cara ke 3 Jumlah harta yang di bagi = Rp 42.000,Perbandingan furudh suami di banding dengan 2 saudari kandung 1/2 : 2/3 = 3/4 Jumlah perbandingannya = 3+4 = 7 = Rp 42.000,Penerimaan suami 3/7 Rp 42.000 = Rp 24.000,2.2 RADD Al-Radd dalam bahasa arab berarti kembali atau juga bermakna berpaling. Adapun radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya atau lebihnya jumlah bagian ashabul furud. Al rad merupakan kebalikan dari al aul. Pendapat para ulama tentang radd : Pertama, pendapat yang mengingkari yang mengingkari adanya al radd, yaitu pendapat zaid bin tsabit dan sebagian kecil para sahabat mengingkari adanya radd dalam pembagian harta warisan. Jika ada kelebihan setelah dibagikan keashabul furud dan tidak ashobah maka diberikan kepada baitul ma. Para fuqoha seperti Urwah, al Zuhri, Malik, SyafiI dan ibnu haajm (Zhahiri) pada dasarnya sependapat dengan zaid bin tsabit. Alasan pendapat pertama yaitu bahwa Allah telah menentukan fardh para ashabul furud yang besar kecilnya pun secara pasti, tidak perlu ditambah apalagi dikurangi.mnambah fard mereka berarti membuat ketentuan yang melampaui batas ketentuan syariat islam. Alsan kedua, bahwa Rasul telah menguatkan firman Allah yang menetapkan fardh fardh para pemiliknya, setelah selesai diturunkan ayat-ayat waris dengan sabdanya susungguhnya Allah telah memberikan hak kepada pemegang ha itu. H.R. At Tirmidhi Alasan ketiga, sisa lebih dari harta pniggalan setelah dibagi bagi kan pada ahli waris ashabul furud merupakan harta benda yang tidak dapat dimiliki oleh seorang ahli waris, karena tidak ada jalan untuk memilikinya. Oleh karenanya harus diserahkan ke baitul mal. Kedua, Pendapat yang menyetujui adanya radd, pendapat zumhur sahabat, thabiin, para imam mujtahid, seperti imam abu Hanifah, Ahmad bin Hambal,

ulama mutaakhirin dari madzhab malikiyah, syafiiyah, dan fuqoha syiah zaidiyah dan syiah imamiyah yang menyetujui adanya radd. 1. Rukun-rukun Radd : a. b. c. adanya ashabul furud tidak adanya ashobah ada sisa harta waris bila dalam pembagian waris tidak ada tiga syarat tersebut maka. Adapun ashabul furud yang dapat menerima radd ada 8 orang : a. Anak perempuan b. Cucu keturunan anak laki-laki c. Saudara kandung perempuan d. Saudara perempuan seayah e. Ibu kandung f. Nenek shahih (ibu dari bapak) g. Saudara perempuan seibu h. Saudara laki-laki seibu Sedangkan ahli waris yang dari ashabul furud yang tidak bisa mendapatkan radd hanyalah suami dan istri. Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab, akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab), karena itu adanya tali ikatan pernikahan. Macam-macam Radd: a. Adanya ahli waris pemilik bagian yang sama dan tanpa adanya suami atau isteri. b. Adanya pemilik bagian yang berbeda-beda dan tanpa suami atau isteri c. Adanya pemilik bagian yang sama dan dengan adanaya suami atau istri d. Adanya pemilik bagian yang berbeda-beda dan adanya suami atau istri 1. Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama yakni dari satu jenis saja, misalnya semuanya berhak mendapatkan bagian setengah atau seperempat atau seterusnya dalam keadaan ini tidak terdapat suami atau istri maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan

jumlah agli waris. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. Sebagai misal, seorang wafat dan hanya meniggalkan tiga anak perempuan, maka pokok masalahnya dari tiga sesuai jumlah ahli waris, sebab bagian mereka sesuai dengan fardh adalah dua per tiga 2/3 dan sisanya mereka secara radd. Karena itu pembagian hak mereka sesuai dengan jumlah mereka disebabkan karena mereka merupkan ahli waris dari bagian yang sama. 2. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam dan tidak ada salah satu dari suami istri maka cara pembagiannya dihitung dan nilai baginya bukan dari jumlah ahli waris (perkeala). Sebagai misal, seorang wafat dan meninggalkan ahli waris seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu. Maka pembagiaannya bagi ibu 1/6, untuk kedua saudara laki-laki seibu 1/3.disini tampak jumlah bagiannya tiga dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah yakni tiga. 3. Hukum Keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh yang sama, disertai salah satu dari suami / istri, maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok maslahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lainnya sesuai dengan jumlah per kepala. Sebagai misal, seorang wafat dan meniggalkan suami dan dua ana perempuan maka suami mendapatkan 1/4 dan sisanya 3/4 dibagikan kepada anaknya secara merata, yakni sesuai jumlah kepala. Contoh-contoh dan Penyelesaiannya : a. Tidak ada ahli waris yang tolak menerima radd harta peninggalan si mayit 12 h.a. sawah, ahli waris terdiri dari nenek shahihah dan saudari sekandung tunggal ibu, maka : penyelesaian menurut cara pertama : AW - nenek - Sdr seibu Fard 1/6 X 1/6 X a.m 6 saham 6 : 1; 1x 12 h.a 6 : 1/2 : 1 x 12 h.a / 2 =6 h.a bagian masing-masing = 6 h.a

Catatan : jumlah saham 2 dijadikan a.m dalam radd

10

Penyelesaian cara kedua ;

AW -nenek S -sdri seibu

fard 1/6 1/6 x x

a.m 6 6

6 saham

bagian masing

: 1 : 1 x 12 h.a / 6 = 2 h.a : 1 x 12 h.a/6 = 2 h.a / 4 h.a

Catatan : sisa harta waris adalah 6 h.a (12 h.a -4 h.a : 6 h.a) Sisa harta waris ini ditambahkan kepada mereka dengan jalan : Perbandingan furudh mereka masing masing = 1/6 : 1/6 = 1 :1 Jumlah perbandingan = 1 + 1 = 2 = 8 h.a Tambahkan untuk nenek shaihah = x 8 h.a = 4 h.a Tambahan utk saudari seibu = x 8 h.a = 4 h.a Jadi penerimaan nenek shahihah seharusnya = 2 h.a + 4 h.a = 6 h.a Jadi penerimaan saudari seibu seharusnya = 2 h.a + 4 h.a = 6 h.a b. Ahli waris yang tolak menerima radd harta peninggalan si mayit sejumlah 24.000.000, ahli warisnya terdiri ; istri, nenek shahihah dan dua orang saudari tunggal ibu, maka : penyelesaian mnurut pertama : AW masing2 Istri Nenek sh 2 sdri seibu x 1/6 x 12 = 3 12 = 2 12 = 4 3 x 24.000.000 / 12 2 x 24.000.000 / 12 4 x 24.000.000 12 =6.000.000 = 4.000.000 =8.000.000 Jmlah = 18.000.000 Catatan sisa harta waris 6.000.000 (24 jt 18 jt= 6 jta) Sisa lebih ini ditambah radd kepada nenek dan kedua saudari seibu dengan jln perbandingan Perbandingan fardh nenek dengan 2 saudari seibu = 1/6 : 1/3 = 1 : 2 Jml perbandingan = 1+ 2 =3 = 6.000.000 Tambah utk nenek = 1/3 x 6.000.000 = 2.000.000 fard a.m 12 saham bagian

1/3 x

11

Tambah utk 2 sdri seibu 1/2 x 6.000.000 = 4.000.000 Jadi penerimaan nenek seluruhnya 4 jt + 2 jt = 6 jt Jadi penerimaan 2 sdri seibu seluruhnya 8 jt + 4 jt = 12 jt

C. Penghalang Hak Waris (al-Hijab) 1. Definisi Al-Hijab Al Hijab dalam bahsa Arab bermakna penghalang atau penggugur. 2. Macam-macam Al-Hijab a. Al-Hijab bi al-wasfhi berarti orang terkena hijab tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan, misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. Hak waris mereka jadi gugur atau terhalang. b. Al- Hijab al- syakhshi yaitu gugurnya waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. Hijab ini terbagi menjadi dua macam: 1. Hijab hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. Misalnya terhalangnya hak waris kakek karena adanya ayah, terhalang hak waris cucu karena adanya anak, terhalangnya hak waris saudara karena adanya saudara kandung, terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu, dan seterusnya. 2. Hijab nuqshan (pengurangan hak ) yaitu pengalang terhada dak waris seseorang untuk mendapatkan yang terbanyak. Misalnya penghalang terhadap hak waris ibu yang seharusya mendapat sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak). Demikian juga seperti penghalang bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat, sang istri yang tadinya seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak dan seterusnya. 3. Ahli waris yang tidak terkena hijab Hirman Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap medapatkan hak waris. Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki, anak kandung perempuan,

12

ayah, ibu, suami dan istri. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya, maka semuanya harus mendapatkan warisan. 4. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hijab Hirman Terdiri dari laki-laki ada sebelas : a. Kakek terhalang adanya ayah b. Saudara sekandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah dan keturunan laki-laki c. Sadara laki-laki seayah terhalang dengan adanya saudara kandunga laki-laki d. Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu terhalang oleh pokok (ayah,kakek, danseterusnya) e. Cucu laki-laki keturunana anak laki-laki terhalngi oleh adany anak laki-laki f. Keponakan laki-laki terhalangi dengan adanya ayah dan kakek g. Keponakan laki-laki terhalang dari yang menghalangi keponakan h. Paman kandung terhalangi dengan adanya anak laki-laki dan saudara lakilaki i. Paman seayah dan terhalangi oleh paman kandung j. Sepupu kandung laki-laki terhalangi dengan adanya paman seayah k. Sepupu laki-laki terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) Sedangkan lima waris dari kelompok wanita : a. Nenek terhalangi dengan adanya ibu b. Cucu perempuan terhalangi dengan adanya anak laki-laki c. Saudara kandung perempuan terhalangi dengan adanya ayah, anak, cucu, cicit dan seterusnya d. Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi ashabul mal e. Saudara perempuan seibu akan terhalangioleh adanya sosok laki-laki (ayah, kakek danseterusnya.

BAB III PENUTUP

13

3.1 Kesimpulan Setelah mengadakan pembahasan secara singkat ini Penulis dapat memberikan beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut : 1. Aul secara leksikal adalah kecenderungan kepada kezhaliman dan menyimpang dari kebenaran, dan pada umumnya bermakna untuk mengangkat. Sedangkan menurut istilah Aul adalah bertambahnya saham ashab al-furudh dari asal masalah. Orang yang pertama kali menetapkan aul adalah Umar bin khatab r.a. 2. Al-Radd dalam bahasa arab berarti kembali atau juga bermakna berpaling. Adapun bagian ashabul furud. 3. Sistem pembagian harta warisan aul dan radd dalam hukum Islam banyak kerancuan sehingga menimbulkan berbagai kekeliruan dalam penghitungan pembagian warisan. 4. Sistem tersebut bukan bawaan kitab Al-Quran dan bukan pula petunjuk yang diberikan oleh nabi Muhammad SAW melainkan salah satu solusi yang diambil oleh Umar bin Khattab ketika timbul permasalahan waris pada masa pemerintahannya. 5. Penulis sangat tidak sependapat dengan cara pembagian harta warisan dengan sistem aul dan radd ini namun tetap menaruh hormat kepada penemunya karena bagaimanapun sistem ini telah menyelamatkan ummat Islam dari pertikaian akibat permasalahan warisan. Demikian artikel singkat ini dan semoga ada manfaatnya. Segala kritikan, saran, pendapat dari para pembaca sangat penulis harapkan karena seandainya pendapat penulis ini salah, keliru kurang tepat ataupun istilah lain yang semakna dengan itu, maka secepat mungkin akan Penulis koreksi kembali. DAFTAR PUSTAKA radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya atau lebihnya jumlah

14

Lubis, Suhrawardi K., Komis Simanjuntak, Hukum Waris Islam; lengkap dan praktis, ( Jakarta : Sinar grafika, 2008) Maruzi, Muslich, Pokok-pokok ilmu Waris, cet I, (Semarang: Mujahidin, 1981) Muhammad Hasbi Ash Shiddiqie, Teungku, Fiqh Mawaris, cet III, (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2001) Rofiq, Ahmad, Fiqh Mawaris, cet IV (Jakarta : Raja Grafindo persada, 2001) Salman, Otje, Mustafa Haffas, Hukum Waris Islam. (Bandung: Refika Aditama,2006) Syarifuddin, Amir. Hukum Kewarisan Islam. (Jakarta: Kencana, 2005 )

SARAN

15

16