Anda di halaman 1dari 9

PERANAN ZAT PENGATUR TUMBUH PADA PEMBENTUKAN, PEKEMBANGAN, PEMASAKAN DAN PENUAAN BUAH

Pengaturan pembentukan buah (fruit set), perkembangan buah, pemasakan buah, gugur buah sebelum waktu, dan absisi buah sangatlah penting di bidang pertanian. Mengawali pembentukan buah, ada proses polinasi, diikuti oleh tumbuhnya polen tube ke arah bawah menuju ovary hingga mencapai kantung embryo (embryo sac) di dalam bakal biji (ovule). Dua inti sperma (gamet jantan) yang berkembang dari satu serbuk sari (pollen) melakukan perjalanan melewati pollen tube menuju dan masuk ke embryo sac, satunya membuahi gamet betina (sel telur) membentuk zygote yang kemudian berkembang menjadi embryo, satunya lagi membuahi inti polar dan bekembang menjadi endosperm. Proses pembuahan oleh dua inti sperma tsb dinamakan proses fertilisasi. Ovary kemudian berkembang menjadi buah, yang dapat didefinisikan sebagai suatu struktur yang merupakan hasil perkembangan jaringan yang mendukung (supporting tissues) ovule pada tanaman, dan ovule kemudian berkembang menjadi biji.

Gambar: Fertilisasi Pada Angiospermae


Nihla Farida_ZPT 1

Gambar: Polinasi

Gambar: Fertilsasi

A) Pericarp (kulit buah):


B A

1. exocarp (kulit luar) 2. mesocarp (kulit tengah) 3. Endocarp (kulit dalam) B) Seed (di dalam endocarp)

Gambar: bagian-bagian buah 1. FISIOLOGI PEMBENTUKAN BUAH

Pembentukan buah dapat didefinisikan sebagai pertumbuhan cepat dari ovary setelah terjadinya polinasi dan fertilisasi. Untuk terbentuknya biji yang viable harus terjadi polinasi dan fertilisasi. Tetapi ada pula sejumlah kasus yang memperlihatkan adanya perkembangan buah tanpa diawali polinasi dan fertilasasi, hasilnya buah tanpa biji (seedlessness), yang dikenal dengan partenokarpi. Ada dua macam partenokarpi: (1) partenokarpi vegetatif, yang dicirikan oleh perkembangan buah tanpa didahului oleh polinasi dan fertilisasi, misalnya pada nenas dan jeruk Washington Naval Orange (2) partenokarpi stimulatif, yang membutuhkan stimulus pollen namun tidak dilanjuti oleh fertilisasi untuk membentuk buah
2. PENGARUH AUXINS DAN GIBBERELLINS PADA PEMBENTUKAN BUAH

Auxins sintetis seperti NAA efektif dalam mempromosi pembentukan buah yang memiliki banyak bakal biji (multiple ovules) seperti strawberry, squash, tomat, fig, tembakau, terung dll. IAA kurang efektif dalam mempromosikan pembentukan buah dibandingkan auxins sintetik, mungkin karena sifatnya yang tidak stabil pada kondisi ada cahaya dan diuraikan oleh IAA oxidase di dalam tubuh tanaman ataupun dirubah ke bentuk konjugasi inaktif. Gibberellin juga mempunyai kemampuan dalam mempromosi pembentukan buah pada
Nihla Farida_ZPT 2

banyak jenis tanaman seperti bluberry, jeruk, anggur dan buah tipe buah batu (stone fruit), pada tanaman-tanaman tsb auxin malah inefektif. Diantara semua jenis gibberellin, GA3 menunjukkan hasil yang lebih efektif dalam mempromosi pembuahan. Induksi buah partenokarpi oleh gibberellin telah berhasil pada tanaman anggur, peach, apricot, almond dan tomat, namun demikian ada beberapa hal yang spesifik pada peranan gibberellin dalam mempromosi pembentukan buah partenokarpi. Penelitian awal oleh dilakukan oleh Bukovac dan Nakagawa (1967) dengan memberi perlakuan GA (5 nM GA dalam pasta lanolin) pada tangkai putik bunga dan jaringan dekat dasar bunga (reseplacle) tanaman apel. Bunga yang tidak mengalami polinasi (dihambat) diberi perlakuan lanolin saja tidak mengalami pekembangan dan gugur dalam 2-3 hari kemudian. Setelah 4 minggu, bunga yang tangkai putiknya diberi perlakuan GA4 dan GA7 mempunyai tingkat perkembangan yang sama dengan perkembangan bunga yang mengalami polinasi. Sedangkan bunga yang tangkai putiknya diberi pelakuan GA lainnya menunjukkan perkembangan yang rendah. GA4 dan GA7 lebih reaktif dan dominan dalam biji apel.
3. PENGARUH CYTOKININ, ABSCISIC ACID DAN ETHYLENE PADA PEMBETUKAN BUAH

Cytokinin sintetis memberi efek meningkatkan pembentukan buah tanaman anggur dan muskmelon. Diduga, cytokinin memiliki kemampuan untuk memobilisasi asimilat ke area yang bertanggung jawab pada peningkatan pembentukan buah. Namun efek ini belum dijumpai di banyak tanaman lainnya. ABA dan ethylene menyebabkan absisi (perontokan) bunga dan buah muda sehingga efeknya terhadap buah dikategorikan negatif.
4. FISIOLOGI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BUAH

Buah mengalami peningkatan ukuran yang dramatis setelah pembungaan. Contohnya buah apel mengalami peningkatan ukuran sebesar 6000 kali selama 20 minggu. Pertumbuhan buah umumnya mengikuti dua model kurva yaitu: (1) smooth sigmoid, misalnya pada buah apel, pear, tomat, timun dan starwberry (2) double sigmoid, yang menunjukkan dua kali pertumbuhan cepat pada waktu yang berbeda, misalnya pada buah bluberry, anggur, fig, cherry, zaitun dan peach.

Gambar: Pertumbuhan buah, A. Smoth sigmoid; B. Double sigmoid 5. PENGARUH ZPT PADA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BUAH

Nihla Farida_ZPT

Penggunaan ZPT untuk mengontrol pembentukan buah, ukuran buah dan penuaan buah merupakan hal penting di bidang pertanian saat sekarang, karena ZPT dapat meningkatkan ukuran buah, memperbaiki warna buah, memperbaiki bentuk buah sehingga harga jualnyapun meningkat. Selain itu, dengan percepatan ataupun perlambatan penuaan buah maka petani buah-buahan dapat memanfaatkan puncak permintaan pasar, dapat menghindari kondisi lingkungan yang tak diinginkan, dan dapat memperpanjang periode pemasaran. Auxin dan Pertumbuhan Buah Sebagaimana dibahas di bagian awal, ada dua keterlibatan auxin dalam pertumbuhan buah. (1) Kerkaitan dengan perkembangan biji dan ukuran final serta bentuk buah (2) Aplikasi exogenous auxin pada buah tanaman tertentu pada fase tertentu dari perkembangannya menginduksi perkembangan buah. Ukuran dan bentuk buah sangat berkaitan dengan jumlah dan distribusi biji dalam buah di banyak jenis tanaman. Endosperma dan embryo dalam biji memproduksi auxin yang kemudian keluar dan menstimulasi pertumbuhan buah. Lokasi biji di dalam buah ikut berperan dalam memberi bentuk pada buah. Misalnya pada buah strawberry yang merupakan jenis buah agregat (berasal dari bunga dengan banyak bakal buah), anak-anak buah mengelilingi (menyelimuti) dasar bunga (receptacle) yang berair dan sangat mudah untuk dipisahkan. Masing-masing anak buah menginduksi pertumbuhan jaringan receptacle di sekitarnya, dengan demikian jika sejumlah anak buah dikeluarkan dari buah muda maka bentuk buah strawberry akan berubah dari yang biasanya. Jika anak-anak buah dikeluarkan dari receptacle maka pertumbuhan itu terhenti. Namun ketika beberapa anak buah dibiarkan tertinggal pada receptacle maka pertumbuhan pada daerah di bawah anak-anak buah tersebut berjalan bagus. Ketika polinasi yang terjadi pada bunga strawberry sedikit maka anak buah membentuk buah yang distorsi (tidak nomal). Keadaan ini mengindikasikan bahwa auxin yang dikandung anak buah mempengaruhi pertumbuhan receptacle buah strawberry. Pembuktian lain tentang peran auxin pada pertumbuhan buah strawberry adalah dengan mengeluarkan anak-anak buah dari tempatnya (receptacle) dan diganti dengan pasta lanolin yang mengandung IAA (100 ppm -NOA), receptacle-nya tumbuh sebagaimana pada buah strawberry yang tak dikeluarkan anak-anak buah-nya. Walaupun telah banyak hasil penelitian yang menunjukkan eratnya kaitan antara jumlah biji dengan ukuran final buah serta antara distribusi biji dan bentuk buah, umumnya tidak ada kaitan erat antara jumlah (kadar) auxin yang diproduksi dalam biji dan pertumbuhan buah. Penelitian secara molekular terhadap mekanisme kerja auxin difokuskan pada auxininduced cell elongation (auxin yang menginduksi pemanjangan/pembesaran sel), hanya sedikit pada bagaimana auxin mengatur proses fisiologi seperti pertumbuhan buah dan perkembangan yang terlibat dalam pembelahan sel, pemanjangan sel dan diferensiasi sel. Hasil penelitian menunjukkan a.l. jika buah strawberry yang berkembang dari bunga hasil polinasi, lalu anak-anak buah dikeluarkan, maka buah tidak mengalami pertumbuhan dan didapati kadar auxin-repressed mRNA (auxin yang menekan kerja mRNA) meningkat. Akan tetapi, ketika aplikasi exogenous auxin dilakukan pada buah yang telah dikeluarkan anak-anak buah (tersisa receptacle saja) maka terjadi pertumbuhan buah (dalam hal ini receptacle) dan terjadi penurunan kadar auxin-repressed mRNA.

Nihla Farida_ZPT

Gambar: Pengaruh penghilangan anak buah hasil fertilisasi dan aplikasi auxin terhadap pertumbuhan receptacle strawberry, (a) kontrol; (b) seluruh anak buah diangkat dan receptacle diolesi pasta lanolin saja; (c) seluruh anak buah diangkat tetapi receptacle diolesi pasta lanolin yang mengandung 100 ppm -NOA; (d) pertumbuhan tiga anak buah hasil fertilisasi yang disisakan pada receptacle, semua lainnya diangkat Gibberellin (GA) dan Pertumbuhan Buah

Biji merupakan sumber yang kaya Gibberellins, sehingga dicurigai mempunyai peranan yang besar pada pertumbuhan buah sebagaimana auxin. Kemampuan Gibberellin yang diaplikasi exogenous dalam menginduksi buah partenokarpi menimbulkan dugaan bahwa GA terlibat dalam pertumbuhan buah. Waktu/saat aplikasi GA memberikan pengaruh yang besar terhadap kemampuan GA dalam mempromosi pemanjangan dan bentuk buah pada buah berair. Aplikasi GA segera setelah bunga terbentuk semua (full bloom) maka bentuk buah akan memanjang, sedangkan pemunduran waktu aplikasi akan menghasilkan buah yang berukuran lebih besar.

Gambar: bentuk buah anggur (kiri) jika aplikasi GA beberapa hari setelah full blom; (kanan) jika aplikasi GA segera setelah full blom

Nihla Farida_ZPT

Penguatan pertumbuhan buah yang dipromosi oleh GA pada buah anggur dari varietas berbiji umumnya kurang kejadiannya. Ketika ada peningkatan ukuran buah anggur dari varietas berbiji umumnya berkaitan dengan kurangnya jumlah biji di dalam buah, yang menimbulkan dugaan bahwa kadar endogenous GA mempengaruhi ukuran buah, dan ketika kadar endogenous GA tersebut cukup tinggi maka aplikasi exogenous tidak memberi pengaruh pada ukuran buah. GA dan auxin memberikan efek sinergi pada pertumbuhan buah tomat. Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa GA akan mempromosikan suatu stimulasi kadar endogenous auxin, keadaan yang makin menguatkan adanya interaksi antara keduanya. GA dapat mempengaruhi bentuk buah. Pertumbuhan buah dengan bentuk asimetris dapat diinduksi pada buah tanaman apel jenis berbiji maupun partenokarpi dengan aplikasi GA4 dan GA7 secara lokal (sisi tertentu) pada buah dua minggu setelah full bloom. Jumlah dan ukuran sel pada bagian buah yang diberi perlakuan GA tsb meningkat sedangkan yang tanpa perlakuan tidak berubah. Buah berbiji maupun tanpa biji merespon aplikasi GA3 dengan bentuk buah yang lebih panjang.

Gambar: tanda panah menunjukkan lokasi aplikasi GA pada buah apel, jumlah dan ukuran sel meningkat Cytokinin dan Pertumbuhan Buah

Buah muda yang sedang mengalami pertumbuhan mengalami pembelahan sel yang cepat dan biji-bijinya kaya akan kandungan cytokinin, sehingga memunculkan dugaan bahwa cytokinin berperan penting dalam pertumbuhan buah. Aplikasi exogenous cytokinin pada buah tanaman anggur yang sedang tumbuh memberikan hasil beragam. Pada anggur jenis Black Corinth berry, ukuran buahnya meningkat akibat perlakuan cytokinin, tetapi anggur jenis Thompson Seedless hanya bertambah sedikit saja ukurannya, dan pada varietasvarietas anggur berbiji menurun ukuran buahnya. Dengan demikian hasil-hasil penelitian yang ada mengindikasikan bahwa cytokinin berperan terutama pada pembentukan buah, sedangkan GAs terutama pada pertumbuhan buah dan auxins pada keduanya (pembentukan dan pertumbuhan buah). 6. PEMASAKAN BUAH Manipulasi pemasakan buah secara ekonomi sangatlah penting. Ethylene diketahui terlibat dalam proses pemasakan buah dari banyak jenis tanaman. Kenyataannya, ada dua kelompok proses pemasakan buah berkaitan dengan ethylene: (1) climacteric, yaitu buah yang memberi respon masak terhadap ethylene (2) non-climacteric, sebaliknya tidak masak dengan keberadaan ethylene.

Nihla Farida_ZPT

Ada beberapa bukti yang mendukung keterlibatan ethylene pada pemasakan buah climacteric: 1. Aplikasi exogenous akan mempromosi pemasakan buah 2. Mengawali pemasakan buah, kadar endogenous ethylene sangat rendah namun ketika proses pemasakan dimulai ada peningkatan dramatis kadar ethylene dan meningkat terus seiring berjalannya proses pemasakan buah. 3. Pemasakan buah dapat ditunda dengan penggudangan hypobaric, yaitu diberi perlakuan senyawa penghambat biosintesa ethylene (ethylene biosynthesis inhibitors) seperti AVG atau AOA, atau dengan perlakuan senyawa penghambat kerja ethylene (ethylene action inhibitors) seperti silver atau karbondioksida. Pengetahuan tentang keterlibatan ethylene pada pemasakan buah dapat digunakan untuk dua kepentingan: 1. Untuk mempromosikan pemasakan buah yang lebih cepat, lebih seragam agar sesui dengan permintaan pasar (market demand) dan untuk menfasilitasi pemanenan buah secara mekanisasi. Belakangan ini ethepon dapat digunakan untuk mempercepat dan menyeragamkan pemasakan buah cherry, apel, boysenberry, nenas, blueberry, kopi, cranberry dan fig. 2. Untuk menunda pemasakan buah agar usia buah lebih panjang. Peningkatan usia buah dapat dilakukan dengan memblokir biosintesa ethylene atau kerja ethylene atau dengan menggunakan kondisi dimana ethylene di sekitar buah dihilangkan. Akan tetapi, pendekatan ini dalam pelaksanaannya cukup mahal dan tidak menghalangi pemasakan buah, hanya menunda. Diduga, ethylene mengatur (regulate) proses pemasakan buah dengan cara menfasilitasi expresi gen-gen yang bertangung jawab dalam: - meningkatkan laju respirasi - autokalisa produksi ethylene - produksi klorofil - sintesa karotenoid - konversi pati menjadi gula - meningkatkan aktivitas enzim pendegradsi dinding sel

Buah tomat: (kiri) tanpa aplikasi ethylene; (kanan) dengan aplikasi ethylene
Nihla Farida_ZPT 7

Jika ada satu buah yang rusak (lewat matang) maka akan mempercepat kemasakan buahbuah lain di sekitarnya, terutama pada lingkungan yang relatif tertutup (one bad fruit spoils the whole bunch). Belakangan ini para ahli telah berhasil mengidentifikasi gen-gen yang menginduksi pemasakan buah dan gen-gen yang terlibat dalam biosintesa ethylene, kemudian berhasil mengkonstruksi mutan pemasakan pada tanaman tomat menggunakan material genetik yang berlawanan (reserve genetics). Salah satunya, menggunakan teknologi antisense RNA sebagai alat untuk memodifikasi pemasakan buah. Antisense RNA yang telah dicoba adalah antisense polygalacturonase (PG) RNA. PG ini dianggap sebagai enzim yang bertanggung jawab terhadap hidrolisa dinding sel selama proses pemasakan sehingga sel-sel pada buah melunak. Penggunaan PG antisense RNA secara dramatis menghambat akumulasi PG mRNA dan aktivitas enzim, namun demikian pelunakan dinding sel tetap saja berlangsung pada buah-buah transgenik. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa PG bukanlah satu-satunya enzim yang menentukan dalam hidrolisa dinding sel pada jaringan buah. Pendekatan lain yang lebih berhasil dalam menghambat pemasakan buah pada tanaman mutan adalah dengan menghambat sintesa ACC menggunakan antisense RNA, karena mampu menghambat produksi ethylene pada buah. Selama proses pemasakan buah tomat berlangsung, dua gen ACC synthase LE-ACC2 dan LE-ACC4 ter-ekspresi. Dengan mengunakan turunan (derivate) dari LE-ACC2 mRNA berhasil menghambat ekspresi ke dua gen tsb (LE-ACC2 dan LE-ACC4) dan buah tidak pernah masak (fruit never ripened). Terjadi penghambatan perubahan warna buah dari hijau ke merah pada buah masak sebagai akibat dari degradasi klorofil dan biosintesa lycopene. Sedangkan buah tanaman kontrol yang dibiarkan pada kondisi aerasi mulai memproduksi ethylene pada 40 hari setelah polinasi terjadi dan masak sempurna 10 hari kemudian. Perlakuan ethylene atau propylene selama 7 hari membalikkan fenotipe antisense, sementara perlakuan dalam durasi lebih singkat tidak menghasilkan fenotipe buah masak full. Buah dengan perlakuan ethylene atau propylene selama 7 hari menunjukkan performa yang tak berbeda dengan buah masak alami dalam hal tekstur, aroma, warna dan kepadatan. Dari hasil-hasil penelitan yang diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa: 1. ethylene yang memediasi pemasakan membutuhkan transkripsi yang kontinyu dari gen-gen yang bertanggung jawab pada pemasakan, yang mencerminkan suatu halflife singkat dari produk-produk yang dinduksi oleh gen-gen 2. ethylene diregulasi secara otomatis 3. ethylene bekerja sebagai suatu rheostat daripada suatu switch on off untuk mengontrol proses pemasakan 4. ethylene merupakan molekul kunci yang mengatur pemasakan buah dan penuaa (senescence), bukan produk samping (by-product) proses pemasakan buah Zat pengatur tumbuh selain ethylene misalnya auxin, cytokinin dan GA diketahui menurunkan atau menunda sejumlah aspek yang berkaitan dengan proses pemasakan. Masing-masing dari ZPT non-ethylene tersebut memiliki peran utama pada proses-proses fisiologi lain, namun demikian masing-masingnya juga saling mendukung untuk kemampuan menunda senescence sehigga mereduksi sensitivitas buah terhadap ethylene.

Nihla Farida_ZPT

7. PENGHAMBATAN PEMASAKAN BUAH

Masalah gugurnya buah apel, pear, jeruk dan buah-buah lain yang telah dewasa (mature) dari pohon sebelum waktu panen sering terjadi. Hal ini menjadi masalah cukup serius di bidang pertanian karena buah yang jatuh dari pohon sering mengalami kerusakan fisik dan harga jualnya turun. Di waktu lampau, petani menyebar lapis jerami di bawah kanopi pohon buah agar buah yang jatuh dari pohon tidak mengurangi kerusakan buah tsb, namun praktek ini sudah banyak ditinggalkan karena berbagai sebab. Cara konvensional lain adalah melakukan panen buah lebih awal dari semestinya. Saat sekarang, telah digunakan beberapa senyawa ZPT untuk mengurangi rontok buah dewasa dari pohonnya, antara lain: 1. NAA dengan nama dagang Fruitone-N, Fruit Fix 860, Fruit Fix 200, Fruit Set, Stafast dan Kling-Tite; umum digunakan pada tanaman apel dan pear, disemprot pada buah yang mulai dewasa 2. Fenoprop, nama kimia 2-(2,4,5- trichlorophenoxy) propanoic acid, beredar dengan nama dagang Fruitone-T dan Fruitone-T Double strength, diaplikasi 2 minggu sebelum waktu panen. 3. Daminozide, beredar dengan nama dagang Alar, diaplikasi dengan penyemprotan sebelum panen (preharvest). Senyawa ini juga memberi kebaikan lainnya yaitu mengurangi kelembaban tinggi buah, mengurangi cacat di penyimpanan (storage), mampertahankan kelembutan kulit buah (firmness), meningkatkan keindahan warna buah. Akan tetapi Alar ini tidak beredar lagi karena berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.
8. INDUKSI ABSISI BUAH

Aplikasi senyawa penghambat rontok buah dewasa ternyata sering menimbulkan masalah berupa buah sangat kuat tertahan pada tangkainya (dahan, ranting) sehingga menyulitkan pemanenan, misalnya pemanenan dengan cara menggoyang-goyangkan pohon ataupun memetik manual. Senyawa-senyawa yang melepas ethylene efektif untuk mempromosi absisi pada buah apel, cherry, blackberry, kacang walnut dan kapas. Beberapa senyawa atau bahan pelepas ethylene yang diperdagangkan: Ethrel, Ethephone, Silaid dan Alsol. Ethrel merupakan salah satu senyawa yang melepas ethylene, namun memberikan efek samping yang buruk berupa absisi daun, hasil panen musim berikutnya menurun, vigoritas pohon menurun dan pohon bergetah dan lunak. Ethephon, senyawa lain yang juga melepas ethylene, pada konsentrasi rendah (10; 500; 1000 ppm) mempromosi absisi buah, namun pada konsentrasi yang lebih tinggi menyebabkan akibat tambahan lain yaitu absisi daun serta pohon bergetah dan lunak.

Nihla Farida_ZPT