Anda di halaman 1dari 22

AYU PERMATA SARI G (N111 09 251) APRILIA ARIESTY P (N111 09 254) HAROLD B.

TANI (N111 09 252) INDAH (N111 09 318) NUR AFNI (N111 09 278) FAUSIAH SUPRATMAN (N111 09 319) MIENCE UBYAAN (N111 09 504)

KELOMPOK X :

Dalam pembuatan formula steril beberapa zat tambahan sangat diperhatikan, mulai dari sediaan mata steril hingga sediaan parenteral yang penggunaannya langsung pada bagian tubuh yang sensitive terhadap zat tambahan, misalnya zat preservatif.

Bahan Tambahan pada sediaan Tetes Mata, mencakup : Pengawet Pengisotonis Antioksidan Buffer pH Pengkhelat Peningkat viskositas

1.

Pengawet Penambahan pengawet pada sediaan tetes mata hanya digunakan untuk sediaan dosis ganda.

2. Pengkhelat Dengan penggunaan garam Na2EDTA, ikatan ligan pada logam berat dapat mencegah reaksi katalis logam tersebut pada oksidasi oleh udara. Dalam preparat untuk mata, campuran benzalkonium klorida (0,01%) dan Na2EDTA (0,01 0,1%) digunakan sebagai anti mikroba. 0,1 % b/v disodium edetat dikombinasi dengan benzalkonium klorida untuk mempengaruhi aktivitas antimikroba strain pseudomonas

3. Buffer pH

Basis Salep

Dasar salep pilihan untuk salep mata harus tidak mengiritasi mata dan harus memungkinkan difusi bahan obat ke seluruh mata dibasahi karena sekresi cairan mata. Dasar salep yang dimanfaatkan untuk salep mata harus bertitik lebur atau titik melumer mendekati suhu tubuh. Basis hidrokarbon adalah kebanyakan digunakan dalam salep mata dan umumnya terdiri dari campuran paraffin. Salep mata utamnaya anhidrat dan mengandung minyak mineral dan vaselin putih sebagai bahan dasar/basis salep yang dapat divariasikan untuk menyesuaikan konsistensi dan temperature leleh. Meskipun basis absorpsi, basis emulsi o/w, dan basis larut air dapat dibuat untuk salep mata, hal ini dapat menyebabkan iritasi, karena agen aktif permukaan dalam basis. Agen aktif ini dapat meningkatkan availabilitas dari obat mata.

The British Pharmaceutical Codex memberi suatu formula preparasi dari basis salep mata steril: Vaselin kuning 80,0 Paraffin cair 10,0 Lanolin anhidrat 10,0
Basis yang umum digunakan adalah petrolatum dan vaselin putih dalam salep mata karena stabil dan dapat disterilkan melalui pemaparan pada suhu 170 C selama 2 jam. Salep mata lembut dapat dihasilkan dengan menambahkan mineral oil dalam petrolatum, dapat digunakan sebagai basis untuk obat yang sensitive terhadap air.

Dalam penambahan pada bahan obat aktif, sediaan nasal mengandung sejumlah bahan tambahan yang mencakup: Pembawa Pendapar Pengawet Bahan pengatur tonisitas Bahan penggel gelling agent dan, Antioksidan. Bahan-bahan yang digunakan dalam proses formulasi harus tidak mengiritasi dan cocok dengan hidung.

1. Pembawa Cairan pembawa umumnya digunakan air, cairan pembawa sedapat mungkin mempunyai pH antara 5,5-7,5, kapasitas dapar sedang, isotonis atau hampir isotonis. Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa 2. Pengatur pH dan Pendapar Sediaan nasal biasanya didapar pada pH stabilitas maksimum untuk obat-obat yang dikandungnya. Pendapar dimaksudkan untuk meminimalkan perubahan pH yang mungkin dapat terjadi selama penyimpanan obat. Perubahan pH ini dapat mempengaruhi kelarutan dan stabilitas obat. Karena itu, ini penting untuk meminimalkan fluktuasi ini. Sistem buffer sebaiknya dirancang untuk mengatur pH keseluruhan juga shelf life produk, tetapi dengan kapasitas buffer yang rendah. Umumnya, range pH dari 4-8 dipertimbangkan optimum. pH dan sistem dapar dari dapar fosfat biasanya cocok dengan sebagian besar obat untuk hidung.

3. Pengisotonis Bahan ini mencakup NaCl dan dekstrosa. Cairan hidung mempunyai nilai isotonis yang sama dengan larutan NaCl 0,9%. Sebaiknya larutan hipertonis dihindari. Jika isotonisitas melewati range yang tepat, pergerakan silia hidung mungkin lambat atau bahkan berhenti. Range nilai tonisitas adalah dari 0,6-1,8% NaCl ekuivalen umumnya diterima. Jika larutan dari bahan obat aktif hipotonik, maka perlu ditambahkan bahan-bahan untuk mencapai range tonisitas yang tepat.

4. Pengawet Karena sebagian besar sediaan hidung disiapkan dalam wadah dosis ganda, maka harus diawetkan. Pengawet yang digunakan harus cocok dengan zat aktif dan juga dengan bahan tambahan lain dalam produk. Zat pengawet umumnya digunakan benzalkonium klorida 0,01% b/v-0,1% b/v. 5. Antioksidan Antioksidan diperlukan untuk bahan-bahan obat tertentu 6. Zat pengsuspensi pengatur viskositas Digunakan untuk mensuspensikan zat aktif yang sukar larut dalam air. Sedangkan pemviskos digunakan untuk meningkatakan viskositas sediaan dan disesuaikan oleh visikositas mukosa hidung sehingga memudahkan dalam penggunaan. Contoh zat yang sering digunakan yaitu sorbitan, polisorbat atau surfaktan lain yang cocok, kadar tidak boleh lebih dari 0,01% b/v. Aksi silia efektif atau permukaan silia tergantung pada viskositas mucus. Banyak simpton yang tidak menyenangkan dalam penyakit nasal adalah peningkatan viskositas dan dehidrasi sekresi. Beberapa kondisi dapat meningkatkan atau mengurangi produksi dan atau viskositas mukus. Diantaranya adlah efek temperature dan kelembaban, debu, serbuk, alergi lain dari variasi obat, dan infeksi bakteri dan virus

Obat-obat

dalam larutan dalam pembawa yang cocok, dengan atau tanpa bahan tambahan, ditujukan untuk penggunaan parenteral yang dikenal sebagai injeksi. Sediaan injeksi memiliki zat-zat tambahan untuk menunjang zat aktif yang memiliki efek farmakologis. Berbagai zat tambahan tersebut memiliki kegunaan dan peran tersendiri dalam meningkatkan kualitas sediaan injeksi.

1. Pembawa

Semua formulasi parenteral mungkin diformulasikan dengan menggunakan pembawa air, pembawa minyak ataupun pembawa hidroalkoholik yang pemilihannya ditentukan oleh kebutuhan kelarutan zat aktif dalam formula dan tipe yang diinginkan dari formulasi.

a. Pembawa Air Air untuk injeksi adalah pilihan pembawa utama untuk ; Agen terapetik sangat mudah larut (untuk preparat larutan parenteral), Agen terapetik dengan kelarutan dalam air rendah (untuk preparat suspensi parenteral), Fase eksternal emulsi parenteral. Air untuk injeksi memiliki spesifikasi yang telah ditetapkan mengenai: Penampilan (jernih, tidak berbau dan dalam kisaran pH 5-7) Kemurnian (batasan pada massa ion, logam berat dan senyawa oksidisable dan juga pada jumlah total padatan terlarut, <10 ppm) Sterilitas Bebas Pirogen.

b. Pembawa Non Air Pembawa non air digunakan untuk produksi : Larutan parenteral non air dari agen terapetik yang tidak larut dalam air Suspensi parenteral non air dari agen terapetik yang larut dalam air dan/atau tidak stabil dalam air. Fase internal dari emulsi parenteral.
Minyak-minyak sebagian besar digunakan sebagai pembawa non air (seperti minyak jagung, minyak biji kapas, minyak kacang, minyak wijen) namun, ester non air dapat digunakan seperti etil etanoat: Minyak wijen umumnya minyak pilihan karena lebih stabil Minyak harus bebas dari bau tengik dan tidak boleh mengandung minyak mineral atau paraffin padat.

2. Kosolven

Pelarut yang digunakan ketika kelarutan obat dalam air (kadangkadang dalam pembawa minyak) saja tidak cukup untuk penggunaan yang diperlukan. Jenis dan pilihaan kosolven yang mungkin digunakan dalam formulasi parenteral umumnya mirip dengan yang digunakan dalam formulasi larutan farmaseutik. Namun, bila digunakan dalam formulasi parenteral, potensi toksisitas yang besar dari agen atau bahan obat bila diberikan secara parenteral harus dipertimbangkan dengan cermat. Selain itu, toksisitas kosolven tergantung pada cara pemberian; toksisitas lebih besar bila diberikan melalui rute Intravena dibandingkan dengan rute intramuscular dan subkutan.

Contoh kosolven yang digunakan dalam formulasi parenteral : Gliserol Etanol (konsentrasi tinggi dapat menyebabkan nyeri pada injeksi) Propilen glikol Propilen glikol 400

3. Bahan aktif permukaan

Beberapa konsep dasar yang ditinjau dalam konteks dari penggunaan spesifik dari bahan ini dalam formulasi parenteral, terutama: Bahan aktif permukaan dapat dimasukkan ke dalam larutan parenteral untuk meningkatkan kelarutan dari agen terapetik untuk konsentrasi yang diperlukan. Bahan aktif permukaan ini dapat dimasukkan ke dalam pembawa air atau non-air (berbasis minyak). Ketika dimasukkan ke dalam formulasi suspensi parenteral, bahan aktif permukaan beraksi untuk meningkatkan stabilitas fisik dari formulasi melalui penyerapan ke permukaan dari bahan aktif terdispersi dan mencegah penggumpalan partikel padat. Contohnya termasuk: Tween dalam rentang konsentrasi 0,1-0,5 % b/v. poly(oxyethylene)-poly(oxypropylene) block co-polymers (Poloxamers), dalam rentang konsentrasi 0,01-5% b/v. lesitin, dalam rentang konsentrasi 0,5-2,0% b/v. Pemilihan dari bahan aktif permukaan dan konsentrasi untuk digunakan tergantung pada sifat pembawa dan jenis dari formulasi parenteral. Penggunaan bahan aktif permukaan untuk melarutkan bahan bahan terapetik digunakan secara komersial. Contoh dari formulasinya meliputi: Steroid telah dilarutkan untuk penggunaan parenteral menggunakan kombinasi surfaktan non ionic, misalnya ester asam lemak polioksietilena sorbitan (Tween) dan ester sorbitan (Span)

4. Dapar

Buffer atau dapar biasanya digunakan dalam formulasi parenteral untuk mengontrol pH formulasi. Ini sama halnya juga untuk formulasi parenetral dimana control dari pH formulasi dapat : Menjaga kelarutan obat dalam pembawa selama shelf-life dari sediaan. Meningkatkan stabilitas kimia dari agen terapetik dengan mempertahankan pH formula dalam kisaran optimal stabilitas kimia dari agen terapetik. Contoh dari dapar yang umum digunakan termasuk: asam asetat/ natrium asetat asam sitrat/ natrium sitrat natrium fosfat/ dinatrium fosfat.

5. Polimer untuk memodifikasi viskositas formulasi dan/atau kelarutan obat


Dimasukkannya polimer dalam suspensi parenteral terjadi lebih sering daripada dalam larutan parenteral. Dalam larutan parenteral, adanya polimer hidrofilik akan meningkatkan viskositas dari formulasi, yang pada akhirnya akan mengakibatkan kesulitan dalam pemberiannya. Stabilisasi dari suspensi berbasis minyak untuk pemberian parenteral umumnya tidak dilakukan dengan menggunakan polimer (lipofilik) karena keterbatasan yang mereka miliki. Sebaliknya stabilitas fisik dari system berbasis minyak dapat secara efektif ditingkatkan menggunakan garam-garam dari asam lemak atau ester asam lemak, yang terutama meningkatkan viskositas formula. Contoh ini meliputi : Garam-garam aluminium dari asam stearat (aluminium stearat, aluminium distearat, aluminium tristearat). Ini adalah biasanya dibuat dengan melarutkan konsentrasi yang diperlukan dari garam aluminium (sampai 5%, tergantung jenis garam) ke dalam pembawa minyak pada suhu tinggi (sekitar 165oC). Dalam pendinginan, obat dapat terdispersi ke dalam pembawa berstruktur secara reologik. Trihydroxystearin (Thixcin). Ini dapat terlarut dalam pembawa basis minyak tanpa pemanasan dan dalam cara yang sama dengan contoh di atas, menghasilkan pembawa berstruktur reologik dimana agen terapetik dapat tersebar.

6. Pengawet Pengawet dimasukkan dalam formulasi parenteral bilamana : Produk ini adalah sediaan dosis ganda. Dalam hal ini, beberapa dosis terpisah akan dihilangkan dari wadah yang sama. Hadirnya bahan diperlukan untuk mengendalikan pertumbuhan mikroba yang dapat mencemari suatu produk. Produk ini tidak disterilisasi akhir, misalnya oleh iradiasi atau panas. Dalam situasi ini pengawet diperlukan untuk menjaga terhadap setiap kerusakan yang mungkin dalam proses pembuatan aseptik. Contoh pengawet yang digunakan dalam formulasi parenteral meliputi : Ester dari asam parahidroksibensoat, misalnya asam parahidroksibensoat metal dan propil sering digunakan dalam kombinasi dengan rasio 9 : 1. Konsentrasi ini biasanya sekitar 0,2% b/v. Senyawa fenolik, seperti fenol (0,25-0,5% b/v) atau klorokresol (0,10,3% b/v).

7. Agen untuk memodifikasi osmolaritas produk parenteral


Tonisitas dari formulasi parenteral adalah kriteria desain yang penting. Dalam kehadiran larutan hipotonik sel darah merah akan membengkak dan akhirnya pecah (hemolisis) sedangkan, kehadiran larutan hipertonik, air akan meninggalkan sel darah merah yang mengarah ke krenasi. Idealnya, pemberian parenteral dan khusunya pemberian intravena harus isotonik (sekitar 291 mosmol/l) untuk menghindari potensi kerusakan. Disarankan bahwa formulasi parenteral yang dirancang untuk pemberian IV tidak boleh hipotonik. Oleh karena itu, larutan hipotonik harus dibuat isotonic melalui penambahan seyawa yang akan meningkatkan tekanan osmotik dari larutan. Biasanya natrium klorida atau dekstrosa yang digunakan untuk tujuan ini.

Sekian & Terima Kasih