Presentasi Referat
Mild Cognitive Impairment
Oleh : Iustitia Septuaginta Samben (07120120074)
Pembimbing: dr. Agnes Tineke Waney R, Sp. KJ
Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa
Sanatorium Dharmawangsa
Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan
Periode 04 Desember 2017 – 06 Januari 2018
Definisi
Mild Cognitive Impairment (MCI) merupakan
stadium gangguan kognitif yang melebihi
perubahan normal yang terkait dengan
penambahan usia, akan tetapi aktivitas
fungsional masih normal dan belum
memenuhi kriteria demensia.
stadium transisi : perubahan kognitif dari proses
penuaan normal dan masalah yang disebabkan
oleh penyakit neurodegenerative misalnya
penyakit Alzheimer (Alzheimer’s disease/AD).
Klasifikasi
MCI amnestic (aMCI)
Single domain aMCI memori.
Multi domain aMCI memori dan fungsi kognitif
lainnya.
Hasil dari perubahan patologis penyakit
Alzheimer yang belum cukup parah untuk
menyebabkan demensia klinis.
MCI nonamnestik (naMCI) fungsi kognitif
lainnya, seperti bahasa, atensi dan orientasi
visuospasial.
Epidemiologi
Finlandiaprevalensi MCI
6,5% : usia 60-70 tahun
18-35% : > 60 tahun.
Amerika Serikat prevalensi 3-4% dalam
dekade kedelapan pada populasi umum
19,2% pada usia 65-74 tahun,
27,6% pada usia 75-84,
38% untuk usia 85 tahun.
aMCI konversi menjadi penyakit
Alzheimer56%
Patofisiologi
Belum diketahui secara pasti
Temuan-temuan neuropatologik
Substrat patologi plak konvensional dan
patologi tangle (tangle pathologic) hingga
defisit biokimia selular dan molecular dalam
jumlah yang besar untuk menyebabkan
gangguan kognitif sebagai respon
kompensasi dari penyakit yang sedang
berkembang.
Patomekanisme MCI alterasi biokimia dan
neuroanatomi, sinaptodegenerasi, hilangnya
sel (cell loss), kegagalan neurotrofik
(neurothrophic failure), genetik selular, dan
lainnya.
Karakteristik Morfologi MCI
aMCI pelebaran sulci seperti di ramus
ventralis pada fissure lateralis dan
penumpulan ujung anterior dari kutub
temporal.
makin meluas ke regio kortikalis lain hingga
stadium lanjut AD.
Temuan Patologi Amyloid
Plak amyloid beta (Aß) lesi khas MCI.
Plak senilis Aß pertama kali plak yang difus
dan “fleecy”, di sepanjang neokorteks dan
meluas secara hirearki ke regio otak lainnya.
Penyebaran plak:
Fase I : merupakan plak senilis Aß yang
difus di sepanjang neokorteks
Fase II : Plak Aß ditemukan di area
allocortical, contohnya di entorhinal cortex dan
subiculum/CA1 region.
Fase III : Plak Aß muncul di basal ganglia,
thalamus, dan hypothalamus.
Fase IV : Plak Aß mencapai midbrain dan
medulla oblongata.
Fase V : Plak senilis Aß muncul di pons dan
cerebellum, dan ditemukan gambaran plak neuritik
dan amyloid berinti
Oligomers Aß berakumulasi di korteks
frontalis
Peningkatan kadar oligomer Aß tingkat
keparahan gangguan kognitif.
Monomer dan oligomer Aß toksisitas
amyloid gangguan fungsi sinaptik
penurunan fungsi kognitif.
Faktor genetik faktor risiko
Mempengaruhi deposisi amyloid pada fase
awal penyakit.
Karier apolipoprotein E (APOE) e4 -
meningkatkan resiko AD. penurunan
metabolism glukosa serebral, meningkatkan
deposisi amyloid serebral dan meningkatkan
atrofi kortikalmempercepat gangguan
memori.
Proses kerusakan sel neural oleh plak senil
amiloid- β (Aβ)fragmen peptida Aβ
dibebaskan dari APPberkumpul
membentuk dimer, trimer, atau oligomer.
berikatan dengan reseptor NMDA
meningkatkan produksi ROS (reactive
oxygen species) kematian sel neural atau
penurunan fungsi neuronal.
Temuan Patologi
Neurofibrillary Tangles
(NFTs)
Agregat protein tau yang terhiperfosforilasi
Polimer abnormal dari microtubule associated protein
tau (MAPT)
MAPTmenstabilkan mikrotubulberikatan
dengan tubulin dan berada di akson.
MAPT terhiperfosforilasitidak berikatan dengan
tubullin, berikatan dengan NFT di
somatodendritik. memodifikasi reseptor
NMDAberikatan dengan Aβ yang
sinaptoksikneurodegenerasi dan disfungsi neural
Neuronal Loss
Penurunan jumlah neuron pada MCIlobus
mediotemporal (MTL) entorhinal cortex
(ERC).
penurunan jumlah neuron hippocampal
CA1
Atrofi dan kematian neuronal pada saat
muncul manifestasi klinis.
Atrofi pada ERC gangguan memori.
Neuronal loss penurunan jumlah sinaps
Degenerasi Sinaps di
Hipokampus
Penurunan plastisitas post-synaptic density
protein 95 (PSD95) pada aMCI.
Synaptophysin berperan pada eksositosis
Synaptogminmicrosensor Ca2+
penekanan pada aMCI
f-actin postsynaptic binding protein menurun
berkurangnya plastisitas sinaps
Perubahan Struktur MTL
aMCI atrofi pada regio MTLdisfungsi
memori deklaratif.
penurunan volume dari white matter
hilangnya fiber aferen dan eferen pada region
dari gyrus parahippocampal, dan juga terjadi
demyelinasi pada fiber yang lain.
Degenerasi Sinaps di Korteks
Kadar protein presinaptik synaptophysin
protein pada superior temporal cortex (STC)
dan inferior temporal cortex (ITC) menurun
homeostasis sinaptik terganggu pada
korteks
Abnormalitas Lipid &
Disfungsi Kolinergik
Defisit kolinergik sentralkerusakan nukleus
basalis Meynert,
Regulator kolin asetil–transferase (ChAT)
neuropolipeptida h3 / phosphatidylethanolamine
binding protein (PEBP)
enzim yang terlibat dalam produksi Ach
Oksidasi PEBP peroksidasi lipid
2 produk reaktifnya (4-hydroxynonenal (HNE)
and acrolein) menginduksi apoptosis dan
merusak homeostasis ion seluler.
Amiloid kaskade deposisi Aβdari mutasi
genetik dari APP, presenilin-1 dan presenilin-2
Aβ meningkatdisfungsi
sinaptikpembentukan plak lebih lanjut
Aktivasi dari astrositik dan mikroglial
terhadap AβInflamasi
Disregulasi sinyal kaskadestress
oksidatifperubahan reseptor post-sinaps,
hiperfosforilasi MAPT diikuti dengan
pembentukan NFTkematian sel neuronal
GEJALA KLINIS
Mengulangi pertanyaan yang sama berulang-ulang
Menceritakan kembali cerita yang sama atau memberikan informasi yang
sama berulang kali
Kurang inisiatif pada awal atau akhir kegiatan
Kesulitan mengelola tugas-tugas numerikal (eg: terkait seperti membayar
tagihan)
Kurang fokus selama percakapan dan aktivitas
Ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk yang kompleks
Masalah memori jangka pendek
Pengujian status mental menunjukkan penurunan daya ingat jangka pendek
Fungsi berpikir lain masih dalam batas normal (kesulitan sesekali tapi
biasanya normal)
Kegiatan harian dan penyelesaian tugas (baik di tempat kerja maupun di
rumah) masih normal, mungkin sesekali perlu bantuan beberapa tugas yang
bersifat kompleks, atau
Perawatan pribadi (personal hygiene, berpakaian sendiri, dll) masih dalam
batas normal
Gejala lain
Depresi
Lekas marah dan agresif
Gelisah
Lesu
PEMERIKSAAN FISIK
Sebagai evaluasi umum dalam mencari
berbagai kondisi yang bisa menyebabkan
terjadinya MCI
defisit sensoris atau motoris yang ada bisa
menjelaskan gejala MCI.
MMSE
Pemeriksaan Neurologis
Tes dasar yang menilai kerja sistem saraf
Penyakit Parkinson, stroke, tumor, atau
kondisi medis lain yang dapat mengganggu
fungsi memori serta fungsi fisik.
Refleks
Gerakan bola mata
Berjalan dan keseimbangan
Rasa sentuhan
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Fungsi tiroid, vitamin B12, kadar asam folat, serologi sifilis, dan tes untuk
menyingkirkan kemungkinan lain yang bersifat reversible, seperti kelainan metabolik
(uremia atau ensefalopati hepatikum).
Pemeriksaan CSF
Indikator untuk penyakit Alzheimer dari cairan serebrospinalis berupa peningkatan
kadar protein tau dan menurunnya β-amiloid-42.
Pencitraan otak
CT scan hematom subdural, infark, tumor, dan neuropatologis lainnya.
MRI membedakan pasien MCI dengan pasien Alzheimer melalui derajat atropi
hipokampus.
Volume hipokampus dan spektroskopi N-asetil aspartat/ keratin adalah penilaian
yang paling sensitif untuk membedakan apakah seseorang menderita MCI atau
penyakit Alzheimer.
Skala pemeriksaan rutin
MMSE, GDS (Geriatric Depression Scale) dan CDR (Clinical Dementia Rating).
DIAGNOSIS
Kriteria diagnostik-defisit memori,
tanpa adanya defisit dalam kemampuan
penilaian, persepsi dan aktivitas sehari-
hari.
Penurunan nilai tes memori dibandingkan
dengan orang yang berumur dan berlatar
belakang pendidikan yang sama.
Kriteria individu MCI yang berisiko tinggi untuk
mengalami perkembangan progresif menjadi
demensia antara lain:
Kesulitan untuk melakukan fungsi eksekutif, seperti
disorganisasi, gangguan persepsi dan kesulitan
memecahkan masalah, merencanakan, serta memori
dalam bekerja.
Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan,
terutama untuk kemampuan menggunakan telepon, alat
transportasi, kemampuan untuk mengatur keuangan,
dan tanggungjawab dalam menjaga kesehatan diri
sendiri.
Atrofi hipokampus.
Genotip apolipoprotein E Ԑ4.
Faktor risiko penyakit vaskuler pada usia dewasa
TERAPI
Tujuan pengobatan adalah:
Menjaga dan memaksimalkan fungsi yang
ada saat ini
Mengurangi gangguan tingkah laku
Meringankan beban pengasuh, dan
Menunda progresivitas ke tingkat yang lebih
lanjut.
Counseling dan Support
Penting dilakukan agar setiap anggota keluarga
dapat mengerti keadaan pasien dan mencegah
terjadinya komplikasi akibat gangguan memori
maupun kognitif. Sehingga perwatan dan
pengobatan pasien dengan MCI dapat dilakukan
secara optimal.
Memory Training Program
Tujuan utama adalah meningkatkan fungsi memori,
serta mengurangi keluhan memori dan
meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari.
Obat-obatan
Sampai sekarang belum ada pengobatan yang
berhasil untuk terapi MCI.
Dalam uji klinis secara acak, cholinesterase inhibitor,
rofecoxib (obat anti-inflamasi non-steroid), dan
vitamin E telah gagal untuk mencegah perubahan
MCI menjadi demensia.
Donepezil ditemukan dalam percobaan klinis acak
memiliki efek pencegahan sementara selama 1
tahun, dengan efek yang lebih besar dan
berkelanjutan pada subyek yang memiliki
setidaknya satu alel apoE4.
Perubahan Gaya Hidup
Pasien dengan MCI tetap disarankan untuk
melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat
meningkatkan stimulasi kognitif, terutama
kegiatan yang melibatkan bahasa dan
koordinasi psikomotorik
Prognosis
Kondisi kognitif yang tidak stabil.
Tergantung pada penyebab MCI demensia
10% dari populasi subjek MCI demensia.
90% dari subjek dengan MCI demensia tadi
tipe Alzheimer
THANK YOU