Anda di halaman 1dari 29

OBSTRUCTIVE

SLEEP APNEA
Pembimbing :
dr. Rani Maharyati, Sp. THT-KL

Oleh :
Agie De Caerlos
Lysdiana Dwi Indrawati
Siti Solekah

1
 Tidur adalah suatu proses fundamental yang
dibutuhkan oleh setiap manusia.
 Tidur terdiri dari stage nonrapid eye movement
sleep (NREM) dan stage rapid eye movement
sleep (REM).
PENDAHULUAN  Bentuk gangguan tidur yang paling sering
ditemukan adalah sleep apnea (henti nafas pada
waktu tidur) dengan gejala mendengkur.
 Sindrom henti napas saat tidur dibagi menjadi 3
tipe yaitu tipe sentral, tipe obstruksi dan tipe
campuran.

2
 Sindrom henti napas saat tidur dibagi menjadi 3
tipe yaitu

 Sentral
Di tandai tidak ada usaha thoracoabdominal
dalam mempertahankan siklus pernapasan

OSA  Obstruksi
Di tandai usaha thoracoabdominal lanjutan
dalam mempertahankan siklus pernapasan
parsial atau sebagian

 Campuran

3
adalah keadaan apnea (penghentian aliran udara
selama 10 detik atau lebih sehingga menyebabkan
2-4% penurunan saturasi oksigen) dan hipopnea

DEFINISI (pengurangan aliran udara >30% untuk minimal


OSA 10 detik dengan desaturasi oksihemoglobin >4%
atau pengurangan dalam aliran udara >50% untuk
10 detik dengan desaturasi oksihemoglobin >3%).

4
Prevalensi Obstructive Sleep Apneu di masyarakat
diperkirakan terjadi pada 1 dari 20 populasi
dewasa. Obstructive Sleep Apnea terjadi
EPIDEMIOLOGI setidaknya pada 4% laki-laki dan 2% perempuan.
OSA Penelitian di wilayah Asia (China) menemukan
prevalensi Obstructive Sleep Apneu pada populasi
usia 30-60 tahun sekitar 4,1% laki-laki dan 2,1 %
perempuan.

5
ETIOLOGI
OSA

6
 Faktor pertama
adalah obstruksi saluran napas daerah faring akibat
pendorongan lidah dan palatum ke belakang yang
PATOFISIOLOGI menyebabkan oklusi nasofaring dan orofaring,
OSA yang menyebabkan terhentinya aliran udara,
meskipun pernapasan masih berlangsung pada
saat tidur. Hal ini menyebabkan apnea, asfiksia
sampai periode arousal.

7
 Faktor kedua
adalah ukuran lumen faring yang dibentuk oleh
otot dilator faring yang berfungsi menjaga
keseimbangan tekanan faring pada saat
PATOFISIOLOGI terjadinya tekanan negatif intratorakal akibat
kontraksi diafragma. Kelainan fungsi kontrol
OSA neuromuskular pada otot dilator faring berperan
terhadap kolapsnya saluran napas. Defek kontrol
ventilasi di otak menyebabkan kegagalan atau
terlambatnya refleks otot dilator faring, saat
pasien mengalami periode apneahipopnea.

8
 Faktor ketiga
adalah kelainan kraniofasial mulai dari hidung
PATOFISIOLOGI sampai hipofaring yang dapat menyebabkan
penyempitan pada saluran napas atas. Kelainan
OSA daerah ini dapat menghasilkan tahanan yang
tinggi. Tahanan ini juga merupakan predisposisi
kolapsnya saluran napas atas.

9
Klasifikasi derajat OSA berdasarkan nilai Apnea
Hypopnea Index (AHI) yang ditetapkan oleh The
American Academy of Sleep Medicine, dapat
KLASIFIKASI dibagi menjadi 3 golongan :
OSA 1. Ringan (nilai AHI 5-15).

2. Sedang (nilai AHI 15-30).

3. Berat (nilai AHI >30).

10
Anamnesis
Gejala malam hari saat
tidur : Gejala saat pagi atau siang
hari :
 Mendengkur
 Mengantuk
 Mengeluarkan air liur
saat tidur  Pusing saat bangun tidur
DIAGNOSIS (Drooling/ngiler) pagi hari
OSA  Mulut kering  Refluks gastroesofageal

 Tidur tak nyenyak /  Tidak bisa konsentrasi


terbangun saat tidur  Depresi
 Terlihat henti napas saat  Penurunan libido
tidur oleh rekan tidurnya
 Impotensi
 Tersedak atau napas
tersengal saat tidur  Bangun tidur terasa tak
segar
11
Pemeriksaan Fisik
 IMT

 Hidung
Deviasi septum, hypertrofi adenoid, tumor atau
DIAGNOSIS polip nasal, hipertrofi konka.
OSA

 Orofaring
Palatum molle yang besar, hipertrofi tonsil
palatine, makroglosia, penebalan(banding)
dinding posterior faring.

12
 Hipofaring
Collapse dinding faring lateral, tumor
hipofaring, hipertrofi tonsil lingual,
retrognathia dan micrognathia.

DIAGNOSIS  Laring
OSA Paralisis pita suara, tumor laring.

 Leher
Ukur lilit leher.

13
Beberapa kuesioner sederhana dapat digunakan
sebagai perangkat diagnostik, misalnya ESS. ESS
digunakan untuk menilai adanya hipersomnolensi
DIAGNOSIS pada siang hari (EDS) yang merupakan gejala
paling umum pada OSA. ESS menanyakan tingkat
OSA kantuk responden dalam 8 aktivitas berbeda
dengan skala 0 sampai 3. Nilai 10 atau lebih
menunjukkan adanya hipersomnolensi pada siang
hari.

14
Interpretasi :
0 = Tidak pernah
mengantuk

1 = Sedikit
mengantuk

2 = Cukup
DIAGNOSIS mengantuk
OSA
3 = Sangat
mengantuk dan
tertidur

Nilai ESS >10 Indikasi


daytime sleepiness /
sleep disorder

15
Radiologi

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
OSA

16
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
OSA

17
Gold standar diagnosis OSA menggunakan
Polisomnografi (PSG). Alat ini merupakan kombinasi
dari elektroensefalografi (EEG) untuk mencatat
gelombang listrik saraf pusat, elektrookulografi
PEMERIKSAAN (EOG)untuk mencatat gerakan mata, oksimetri untuk
PENUNJANG mencatat saturasi oksigen, monitor holter untuk
OSA mencatat rekaman jantung, elektromiografi (EMG)
untuk mencatat gerakan otot pernapasan selama tidur
dan monitor untuk mencatat posisi tidur. Parameter
yang dihasilkan adalah perhitungan terjadinya periode
apnea dan hipopnea yang disebut dengan AHI.
Dinyatakan OSA apabila AHI lebih dari lima kali per jam.

18
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
OSA

19
20
21
Secara umum terapi untuk mengatasi gangguan tidur
pada OSA dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :

TERAPI OSA  Perubahan gaya hidup :


Menurunkan berat badan; menghindari alkohol dan
obat-obatan pembantu untuk tidur; menghindari
kelelahan yang sangat dan mengkonsumsi kafein.

22
Farmakoterapi

TERAPI OSA  Decongestan : ↓ congesti nasal, ↓ edema


faring
 Antibiotik

23
Alat-alat buatan :
Alat untuk mereposisi rahang dan mencegah lidah jatuh ke
belakang (mempertahankan posisi lidah); cervical collars atau
bantal; CPAP.

TERAPI OSA

24
TERAPI OSA

25
 Oral Devices
 Tongue retaining devices
 Mandibular advancing devices

TERAPI OSA

26
TERAPI OSA

27
 Intervensi bedah :
1. Reconstruct upper airway
2. Adenotonsilectomy
TERAPI OSA 3. Partialglossectomy
4. Bypass upper airway
5. Uvulopatopharyngoplasty (UPPP)

28
TERIMA KASIH

29