Anda di halaman 1dari 4

TATALAKSANA ALERGI OBAT

1. Prinsip Umum
– Menghentikan semua obat yang dikonsumsi penderita.
Manifestasi klinis umumnya berangsur hilang dalam
beberapa hari, bila reaksi yang timbul tidak berat dan obat
yang diduga menjadi penyebab lebih dari satu, maka dapat
dicoba menghentikan obat tersebut satu per satu.
2. Pengobatan simtomatik
a.Adrenalin
– Adrenalin/epinefrin 0,3 – 0,5 ml (0,01 ml/kgBB) dari larutan 1:1000 s.c pada
regio deltoid/vastus lateralis.
– Bila TD sistolik < 90 mmHg, lakukan pemasangan 2 jalur infus menggunakan
cairan NaCl 0,9% atau Dextrose 5% tetesan cepat (1 L dalam 15-30 menit).
Pantau tanda vital dan produksi urine. Dopamin 400 mg (2 ampul) dalam 500
ml Dextrose 5% tetesan cepat hingga TD sistolik > 90 mmHg lalu dititrasi
secara perlahan .
– Bila tindakan tersebut tidak efektif, pertimbangkan norepinefrin 2 mg (1
ampul) dalam 250 Dextrose 5%, turunkan tetesan secara perlahan setelah TD
sistolik > 90 mmHg.
– Bila terjadi bronchospasme dan pemberian epinefrin tidak efektif,
pertimbangkan bronkodilator β adrenergik (salbutamol/terbutalin) secara
nebulasi/inhalasi.
– Bila terjadi edema laring (stridor) dan pemasangan ET tidak memungkinkan,
dapat dilakukan trakeostomi/krikotirotomi.
– Pemberian oksigen menggunakan masker dan pemberian
antihistamin/kortikosteroid.
b. Antihistamin dan kortikosteroid
• Pilihan kedua setelah adrenalin.
• Dapat diberikan setelah gejala klinis mulai membaik
guna mencegah komplikasi (serum sickness atau
prolonged effect).
• Antihistamin: Difenhidramin 50 mg i.m atau i.v secara
perlahan
• Kortikosteroid: Metilprednisolon 125 mg i.v atau
Hidrocortisn 100 – 200 mg i.v
3. Pencegahan reaksi alergi obat
– Berikan obat hanya jika ada indikasi.
– Apabila tindakan alternatif tidak mungkin diperoleh,
lakukan skin test atau pemeriksaan laboratorium. Jika hasil
negatif, obat boleh diberikan namun tetap harus berhati-
hati dan dipantau ketat.