Proses Perlakuan Panas Logam dan Manfaatnya
Proses Perlakuan Panas Logam dan Manfaatnya
KOMPONEN
SIAP
DIGUNAKAN
Pendahuluan
Benda Kerja /
Bahan Dasar
Proses
Pembentukan
Persyaratan
Khusus
Komponen Komponen
Mesin Mesin
Proses Perlakuan
Panas Komponen
Mesin 3
Pendahuluan
Dasar pengertian :
Proses perlakuan panas adalah suatu proses untuk mengubah struktur struktur
dari suatu logam dengan cara memanaskan sampai dengan suatu temperatur
yang tertentu dan menahan pada temperatur tersebut untuk waktu tertentu pula
dan selanjutnya mendinginkannya dengan kecepatan pendinginan yang tertentu
pula.
Manfaat :
Memperbaiki struktur
Mendapatkan sifat sifat mekanis tertentu
T
a b O-a-b austenisasi
Dalam tungku
c
o
Baja hypo eutectoid Baja hyper eutectoid
Taust pembentukan austenit dengan tujuan Taust ditujukan untuk membulatkan sementit
untuk mengubah struktur yang ada pro eutectoid
sebelum pemanasan sehingga austenit
lebih halus. Austenite ------> perlit + ferit
Dalam tungku
• tungku listrik; tungku kontinyu ; tungku
vakum dan tungku garam
c
o
Metoda I ( T austenit 670o ; 700o )
• T=T austenit - 50o agar tidak terbentuk austenit
• Karbida yang terbentuk bulat dan kasar
• T, t tergantung struktur & komposisi kimia
• t sekitar 4 - 6 jam
• dipengaruhi unsur paduan
• Ni, Mn menyebabkan T turun
• Cr, Mo menyebabkan T naik
• tidak sesuai untuk C<0.3% karena pembentukan ferit meningkat sementara perlit
menurun 7
Spheroidized Annealing
Metoda II
• T= sedikit diatas T austenit
• pendinginan lambat dengan kecepatan 10 - 20o / jam hingga temperatur 550 - 600 o
• C dalam austenit terpisah dan membentuk karbida bulat
• sesuai untuk baja eutectoid dan Hyper eutectoid
• kekerasan yang dicapai rendah
Metoda III
• T= T austenit + 50o maximum
• didinginkan hingga mencapai 50o dibawah T austenit sehingga struktur yang
terbentuk lamelar
• dipertahankan pada T dibawah T austenit untuk mendapatkan struktur
speroidized dan selanjutnya didinginkan
Metoda IV
• seperti pada metoda III dan dilakukan secara berulang ulang
• kekerasan yang didapat tergantung komposisi kimia C< … Hr 160 - 190 Hbn
sedangkan C> … Hr 200 - 230 Hbn
8
Isothermal Annealing
Tujuan
T • melunakan baja sebelum machining
• meningkatkan mampu mesin
a b
Taust 50o Tungku yang dipergunakan
c Tkritis
isothermal • tungku garam dan vakum
Tungku,udara
o
Proses Isothermal Annealing
• T=T austenit + 50o untuk pembentukan austenit dan didinginkan dengan cepat hingga
T=T austenit - 50o
• dipertahankan secara isothermal untuk menguraikan austenit dan selanjutnya
didinginkan secara perlahan
• karbida yang terbentuk bulat dan kasar.
• Kekerasan yang didapat tergantung T isothermal
• tidak disarankan untuk benda kerja dengan ukuran besar
9
Homogenisasi
Tujuan
T • menyeragamkan komposisi kimia baja
1150 - 1200o
a
Taust b
Tkritis
udara
c
o
Proses homogenisasi
• T= 1150 - 1200 o dan dipertahankan pada kondisi tersebut untuk
penyeragaman komposisi kimia baja
• didinginkan di udara
• biasa diaplikasikan pada baja ingot dari proses casting
• setelah proses homogenisasi dapat dilanjutkan proses normalizing untuk
menghindari struktur over heating
10
Intermediate Annealing
Tujuan
T • meningkatkan mampu mesin dari case
Taust Tkritis hardening proses
a
b
Tungku
c
o
Proses Intermediate Annealing
• Proses mirip bahkan seperti pada spheroidizing untuk T dibawah Taust dengan lama
panahanan sekitar 4 - 6 jam
• umumnya dari benda kerja setelah menjalani case hardening membulatkan
sementit
11
Bright Annealing
Tujuan
T • mencegah oksidasi, sulfidasi,penggetasan
dan dekarbonisasi
Taust a b
Tkritis
Tungku
c
o
12
Normalizing
Manfaat :
menormalkan produk cor, over heated forging & produk tempa yang besar
Memperhalus butir
Memperbaiki mampu mesin
Menghilangkan tegangan sisa
Memperbaiki sifat mekanik
13
Normalizing
14
Stress Relieving
Tujuan
T
• Menghilangkan tegangan tegangan yang ada
Taust dalam benda kerja akibat proses
a b Tkritis sebelumnya.
rekristalisasi
• Memperkecil distorsi selama proses
perlakuan panas
holding
heating cooling
c
o
Proses Stress Relieving
• Memanaskan hingga sedikit dibawah T kritis
• Menahan untuk beberapa waktu untuk memungkinkan terjadinya proses
rekristalisasi pada struktur sehingga struktur dapat kembali semula yang
berubah akibat proses sebelumnya.
15
Stress Relieving
T Hardening
a1 b
Taust Tkritis
Core
surface
a holding quenching
tempering
Pre heating heating
cooling
Tujuan
• untuk mendapatkan benda kerja dengan kekerasan yang tinggi dan
meningkatkan ketahanan terhadap aus
17
Hardening
Sifat
mekanis kekuatan
Keuletan, elastisitas
ketahanan
o
Hardening + Tempering
18
Hardening
Quenching
• Untuk mendapatkan struktur Martensite melalui pengontrolan laju
pendinginan
• Media pendingin (quenching) : air, oli, brine, garam cair, larutan polimer
Parameter quenching
• Jenis baja
• Dimensi benda kerja
• Distorsi yang diijinkan
• Sifat yang diprediksi
Jenis quenching
• Direct quench
• Martempering
• Austempering
• Delay quenching
• Time quenching
• Die quenching
19
Hardening
Direct Quenching
• Laju pendinginan cepat
• Media pendingin air dan oli
• kelebihan sesuai untuk baja karbon medium
• kekurangan : distorsi yang ditimbulkan besar, kemungkinan retak besar bila laju
pendinginan cepat
core
surface
20
Hardening
Martempering
• Didinginkan dalam media garam. Dijaga homogen diatas Tms. Didinginkan di udara
• Pengontrolan perubahan volume selama proses
• Media pendingin cairan garam nitrat-nitrit; oli panas
• kelebihan : peluang distorsi dan retak lebih kecil
Persyaratan Martempering
• Hardenability besar
core • Dimensi kecil
Lama Penahanan
• Komposisi kimia
surface
Media cairan
• Dimensi
Tms garam • Temperatur
• Agitasi medium
udara
Aplikasi
• Pahat (HSS); Dies; Roda gigi; Poros; Spindel;
CAM
21
Hardening
Austempering
• Didinginkan dalam media garam. Dijaga homogen diatas Tms. Dimana untuk Tms(350- 380)o
C waktu pendinginan 5’ dan untuk Tms (250-270)o C waktu pendinginan sekitar 30’ . Didinginkan
di udara
• Pengontrolan perubahan volume selama proses
• Kondisi yang diperoleh s >>. Toughness >> elongation =
• kelebihan : distorsi <<<< , machineability >>>>
surface
Aplikasi
Media garam
core • Untuk benda kerja dimensi kecil --> low alloy
Tms 2 • B.K dengan Hb >> (pegas,clip,mata
1 gergaji,kunci pas, plat katup)
udara
22
Hardening
Delay Quenching
• Tujuan utama untuk merduce distorsi .
•Tquenching = Tpengerasan . untuk kondisi normal , Tquenching << Tpengerasan . untuk kondisi delay
quenching
Aplikasi
Tpengerasan
• HSS ; Baja hot worked; surface hardening
Tquenching
quenching
23
Hardening
TQ = Taust
Aplikasi
30-60”
24
Hardening
Die Quenching
• untuk menghindari transformasi martensite terganggu karena proses heat transfer.
• Untuk menghindari / memperkecil distorsi /retak/pecah.
• Kedalaman martensite tergantung Tq
• T <<<<< luar keras / dingin , dalam lunak / temper bagian luar
Aplikasi
• plat tipis (disc) , roda gigi, B.K yang
bentuknya rumit, simetris.
25
Hardening
MEDIUM QUENCHING
• baja carbon -----------> air
• baja paduan medium ------------> oli, cairan garam, polimer
• baja padun tinggi --------------> cairan garam
homogenisasi
Pemanasan Pendinginan
• tungku •bak pendingin
Menghindari pearlit /
• medium • medium yang efective.
• T yang tepat bainit yang lunak
26
Hardening
MEKANISME QUENCHING
• tahap I •tahap II
•T meningkat -> mendidih --> uap. •terbentuk gelembung ---> lapisan uap
hilang T. >>
•BK dipagari uap
• tahap I dan II radiasi uap
• Uap sebagai isolator
•tahap III
•cairan pendingin seluruhnya
bersentuhan dengan BK--->
Medium konveksi ---> T. <<<
BK
I
III
27
Hardening
MEKANISM QUENCHING
Vapour Blanket
Vapour Transport or
Boiling
Liquid cooling
28
Tempering
Martensite tetragonal
1 Tempering
Tujuan
untuk mendapatkan kombinasi kekuatan,
ductility & ketangguhan
29
Tempering
Tempering
a. 80 - 200 ----> BCT ---> BCC
temper tahap I , carbida epsilon --> krn
karbon berkontraksi
b. 200 - 300 ----> austenite sisa mengurai -- --
-> bainit, temper tahap II , volume >>
c. 300 - 400 ----> fase pertumbuhan karbida ,
volume <<<
d. 400 - 700 ---> pertumbuhan
berlangsung,n proses speroidizing dari
udara
sementite
30
Tempering
Tempering
Perubahan sifat mekanis
sy impact
elengation
31
Tempering
Proses Tempering
• Tungku udara panas yanmg disirkulasikan
• Oil baths
• Tungku garam
• Self tempering
• Selective Tempering
• hardening semua permukaan tetapi pada saat tempering hanya bagian t ertentu
saja
• Dengan uap Superheated
• 3 Fe + 8 H2O ----> Fe3O4 + 4H2O + 4H2
• Temper embrittlement
32
Effect / dampak proses Tempering
33
Proses Austenite Sisa
34
Proses Austenite Sisa
35
Proses Austenite Sisa
Penurunan laju pendinginan pada saat quench dari berbagai media akan meningkatkan
jumlah austenite sisa dan penurunan kekerasan sebanyak 50HV 36
Proses Austenite Sisa
37
Proses Austenite Sisa
38
Sub Zero Treatment
39
Sub Zero Treatment
40
Sub Zero Treatment
41
Sub Zero Treatment
42
Sub Zero Treatment
43
Sub Zero Treatment
44
Surface Treatment
A --------------------> A’
Treatment
• Metalurgi --------> proses ekonomis
• peralatan yang tersedia ---> kualitas yang tersedia
Perlakuan logam
• liquid treatment --------> casting (penambahan unsur)
• solid treatment ---------> mengubah sifat fisik & mekanis
• Perlakuan panas
• Perlakuan permukaan
Surface Treatment
• meningkatkan ketahanan aus -----> melapisi permukaan
• meningkatkan ketahanan korosi
• meningkatkan performansi
45
Surface Treatment
Jenis Surface treatment II. Untuk meningkatkan ketahan korosi
I. Untuk meningkatkan kekerasan 1. Electro position (penegndapan elektrik)
1. Thermocemical Treatment (case hardening) 2. Hot dip coating
• Caburising : Solid, liquid, Gas 3. Diffusion coating
• Nitriding • sementasi
• Ionitriding • cladding
• Cyaniding • deposition vacuum
• Nitro carburizing • vapour deposition
2. Surface treatment • sprayed metal coating
• Induction hardening • case hardening
• Flame hardening 4. Non metallic ply
3. Metal spraying • laquers coating (cat)
4. Metal plating ( pengedapan electrolit) • plastic ply
5. Fusion process (over ply) • Elastomer (rubber)
• enamel ply
• temporary protective coatings
5. Oxidation & conversion ply
• Anodisasi; chomatasi; Paskerising
46
Surface Treatment
47
Surface Treatment
Carburizing
Tujuan
1. Meningkatkan ketahanan aus dengan jalan mempertinggi kekerasan permukaan logam
2. Meningkatkan ketahanan terhadap pembebanan yang tiba tiba.
3. Meningkatkan karakteristik fatik dari logam
Prinsip
1. Umumnya diterapkan untuk baja yang tidak mudah dikeraskan
2. Diperlukan pengubahan komposisi dari baja dengan jalan melarutkan Karbon pada pemukaan
baja.
3. Komposisi permukaan baja akan berkisar (0.3-0.9)% C. diatas harga tersebut dapat
menimbulkan penggetasan
4. Proses karburasi dapat dilaksanakan pada suhu sekitar 8250 C dan 9250 C
5. Metode pengerasan dapat dilakukan dengan cara :
a. meng-quench langsung dari suhu karburasi
b. mendinginkan dari suhu karburasi dan di-ikuti dengan austenisasi dan quech (single
quench )
c. meng-quench dari suhu karburasi di-ikuti austenisasi dan selanjutnya dilakukan
quecnch (double quench)
6. Keseluruhan proses Karburasi berdasarkan prinsip kesetimbangan kimia dan difusi 48
Surface Treatment
Carburizing
Kesetimbangan Kimia
1. Karbon yang dibutuhkan dipasok dalam bentuk :padat,cair dan gas.
3 Fe + 2 CO -----------> Fe3C + CO2
2. Bagaimanapun bentuk pemasok transfer karbon kepermukaan logam dalam bentuk gas CO
3. Laju reaksi akan sangat bergantung pada kadar karbon . semakin meningkat kadar karbon
reaksi akan berjalan menurun.
4. Komposisi gas (CO2 / CO) juga sangat menentukan. Untuk karburasi dilakukann pada suhu
yang tinggi akan diperlukan gas CO yang lebih banyak untuk mendapatkan komposisi yang
kecil
Difusi
1. Faktor yang berperan dalam difusi adalah suhu dan waktu. semakin tinggi suhu semakin
tebal lapisan karburasi
2. Proses karburasi yang baik adalah yang menghasilkan adanya gradien komposisidari luar
ke dalam. Dengan adanya gradien komposisi maka pengelupasan dapat dicegah.
3. Agar didapat gradien komposisi perlu dipertimbangkan waktu periode difusi dimana
pada saat pasokan kabon dihentikan , benda kerja beberapa saat masih pada suhu
karburasi.
4. Dengan demikian ketebalan lapisan (depth of carburization) tergantung :suhu,lama
proses,konsentrasi karbon dan kadar kabon benda kerja.
49
Surface Treatment
Carburizing
Metoda Medium Padat (pack carburizing)
1. Karbon bereaksi dengan oksigen diudara saat pemanasan dari medium dan terbentuk CO2. CO2
Ini akan bereaksi dengan carbon dari medium menurut reaksi
CO2 + C -------------> 2 CO
2. Kesetimbangan akan bergeser kekanan seiring peningkatan suhu, sehingga pad
permukaan CO akan mengurai
2 CO ---------------> CO2 + C
3. Atom karbon yang dihasilkan akan larut kedalam austenite dan berdifusi. CO2 yang dihasilkan
akan bereaksi dengan karbon yang didapat dari medium dan akan terurai lagi demikian seterusnya.
4. Untuk meningkatkan laju proses pembetukan gas CO2 dan CO diperlukan energizer ( aktivator/
katalisator ) kedalam medium. Energizer umumnya BaCO3, BaCl, BaO, CaO, K2CO3, Na2CO3,
K2SO4 dan K4Fe (CN)6. Sedangkan untuk medium umumnya menggunakan arang kayu
(charcoal/houtskool). Komposisi (60% arang+40% energizer) atau (45% arang + 50% energizer I + 5%
energizer II).
5. Misal energizer BaCO3 yang digunakan, maka reaksi sbb
BaCO3 -------------------> BaO + CO2
CO2 + C -------------> 2 CO
gas CO akan larut dalam austenit 3 Fe + 2 CO ---------------> Fe3C + CO2
gas CO2 akan bereaksi dengan BaO yang terbentuk BaCO3 . Dengan demikian BaCO3
senantias ada sepanjang proses.
50
Surface Treatment
Carburizing
Metoda Medium Padat (pack carburizing)
6. Hal yang perlu diperhatikan terhadap medium adalah
- harus memiliki daya hantar panas yang baik agar distribusi panas mudah dan merata
- perubahan volume yang terjadi sekecil mungkin
- memiliki mampu regenerasi yang baik
- relatif kering.
- diameter harus mampu mentutupi benda kerja
7. Kotak sementasi dimana benda kerja ditempatkan proses akan berlangsung harus :
- rapat sehingga tidak ada kebocoran dari gas yang terbentuk
- tahan terhadap suhu tinggi
- sesuai bentuk dan menampung benda kerja dan medium
- memiliki sfat mekanik yang sesuai.
8. Kotak sementasi umumnya dibuat
- baja Cr - Ni (stabil tetapi mahal)
- baja lunak (murah tetapi masa pakai singkat)
- besi cor
51
Surface Treatment
Carburizing
Metoda Medium Cair
1. Medium cair yang umum digunakan dalam bentuk garam yang mengandung karbon.
2. Keuntungan dari metoda ini baik dari aspek kualitatif maupun ekonomis. Sesuai untuk benda kerja yang
relatif kecil. Pemanasan berlangsung homogen sehingga dekaburasi maupun oksidasi dapat dicegah.
3. Jenis garam yang umum digunakan adalah yang banyak mengandung NaCN dan KCN seperti pada
NaCl, BaCl, KCl atau Na2CO3.
4. Peran aktivator selain mempercepat reaksi juga untuk menurunkan titik cair garam.
5. Dalam praktek NaCN lebih sering digunakan dibanding KCN karena:
- lebih murah
- mengadung banyak karbon
- titik cair relatif rendah
6. Reaksi yang terjadi
NaCN ----------> Na + C + N
unsur C akan larut dalam austenite dan berekasi dengan Fe :
C + 3 Fe --------> Fe3C
7. Penetrasi kabon dengan menggunakan medium cair akan lebih besar dibanding medium padat.
8. Komposisi NaCN yang umum digunakan : 45% NaCN; 18% NaCl dan 37% Na2CO3 .
52
Surface Treatment
Carburizing
Metoda Medium Cair
9. Komposisi gampuran garam sangat menentukan hasil akhir lapisan permukaan.
10. Kontak antara oksigen dengan medium harus dicegah. Untuk meningkatkan efisiensi panas ,
permukaan medium perlu ditutupi dengan serbuk grafit.
11. Benda kerja perlu di pre heating pada sekitar suhu (100 - 400) 0 C, untuk menghilangkan kemungkinan
adanya uap air serta untuk meningkatkan efisiensi proses.
12. Tebal permukaan yang dihasilkan tidak lebih 0.5 mm
53
Surface Treatment
Carburizing
Metoda Medium Gas
1. Benda kerja ditmepatkan dalam tungku (retort) dan proses karburasi berlangsung dengan mengaliri gas
medium. Gas yang digunakan CO dan hidrokarkarbon.
2. Reaksi yang terjadi
2 CO -------------------> C + CO2
CH4 --------------------> C + 2 H2
CO + H2 ---------------> C + H2O
3. Dari komposisi gas dapat dianalisa untuk potensial kabon yang terbentuk dan bereaksi.
4. Gas karburasidapat diperoleh :
- mengalirkan cairan karburasi kedalam tungku dan selanjutnya akan mentes pada benda kerja sehingga
menguap
- mengalirkan gas yang dibuat dari generator
- mengalirkan gas hidrokarbon dan udara secara langsung kedalam tungku.
- proses karburasi dalam tungku vacuum dengan mengalirkan gas hidrokarbon
54
Surface Treatment
Carburizing
Siklus thermal proses karburasi
1. Pemanasan
a. suhu untuk proses berkisar antara 850 - 950 0 C. tergantung jenis baja. Diatas suhu
tersebut dimungkinkan terjadinya percepatan karburasi, tetapi kemungkinan butir austenit kasar
menjadi besar.
b. lamanya proses tergantung : tebal lapisan yang di-inginkan, suhu proses dan medium yang
digunakan.
2. Pendinginan
Pendinginan dilakukan jika tidak diterapkan proses direct quench.
2. Pengerasan
Dengan direct quench, single quench atau double quench
55
Surface Treatment
Carburizing
Proses lanjutan setelah karburasi
3. Tempering
a. untuk menghindari terjadinya pengelupasan akibat tegangan sisa dari proses double quench.
b. dilakukan tempering pada suhu rendah agar tidak terjadi penurunan pengerasan.
Sehingga tegangan sisa dapat di-eleminasi.
56
Surface Treatment
Carburizing
Pemeriksaan dan Pengukuran tebal lapisan ( Carburising depth)
1. Pemeriksaan makroskopik
- dilakukan terhadap test coupon yang diproses bersama benda kerja.
- tebal lapisan diperiksa dengan jalan etsa makro atau pemeriksaan permukaan patah.
2. Pemeriksaan mikroskopik
- dapat dilakukan terhadap benda kerja sebelum dan sesudah proses karburasi.
3. Pemeriksaan kekerasan
- karena tebal lapisan tipis dapat dilakukan dengan alat pengukuran mikro.
- sesuai ISO : 2639 - 1973 , tebal lapisan didefinisikan sebagai jarak dari permukaan benda
kerja ke suatu bidang yang memiliki kekerasan sebesar 550 HV.
Pemeriksaan distorsi/deformasi
1. Bila dilanjutkan proses pengerasan benda kerja akan mengalami distorsi/deformasi.
2. Besarnya distorsi merupakan fungsi D/d dimana D adalah diameter bagian yang tidak
mengalami pengerasan sedangkan d adalah tebal lapisan pengerasan yang diukur sesuai
standard ISO
3. Distorsi terjadi akibat adanya variasi struktur mikro sehingga muncul variasi tegangan yang dapat
dicegah dengan cara : penerapan suhu yang relatif rendah; mengupayakan pemanasan sehomogen
mungkin dan memilih jenis baja dan medium yang sesuai
57
Surface Treatment
Carburizing
Pencegahan pembentukan karat pasca karburasi
1. Biasanya terdapat sisa garam medium yang menepel pada benda kerja
2. Cara mengatasi :
- dilakukan proses pencucian dalam air yang mendidih segera sertelah quenching.
- ditambahan oli yamg mudah larut dalam air mendidih 10-20 %
58
Surface Treatment
Carburizing
Penetapan tebal lapisan
1. Tebal lapisan karburasi tergantung
- fungsi benda kerja, yaitu dengan memperhitungkan besarnya tekanan yang akan dialami;
besarnya harga keausan yang di-ijinkan dan bentuk benda kerja
- jenis baja yang akan diproses
- besarnya lapisan yang akan dihilangkan melalui proses permesinan.
59
Surface Treatment
60
Surface Treatment
Nitriding
Prinsip
1. Proses karburasi pada prinsipnya adalah proses perlakuan thermikimia austenitik.
2. Hal ini karena proses pelarutan karbon pada fasa austenit dan transformasi menuju
martensite.
3. Proses Nitriding , Benda kerja dipanaskan sekitar 500 - 590 0 C pada lingkungan yang
mengandung Nitorgen.
4. Pada rentang suhu tersebut benda kerja pada fasa ferit sehingga sering disebut proses perlakuan
thermokimia feritik.
5. Kekerasan yang didapat bisa melampaui proses karburasi
6. Agar nitrida terbentuk , nitorgen harus monoatomik. Umumnya nitorgen didapat dalam bentuk gas
N2 yang terdiri 2 atom N. umumnya gas N monoatomik didapat dengan jalan memanaskan gas amoniak
yang akan terurai :
NH3 ---------------------> N + 3 H
7. N yang terbentuk akan bereaksi dengan Fe membentuk besi nitrida yang keras.
8. Karena sifat nitrida yang keras , lapisan nitridasi yang terbentuk tidak pelu terlalu tebal.
Kekurangan
1. Proses berlangsung lama
2. Biaya operasi mahal
Baja nitriding
komposisi baja ditentukan 4 aspek
1. Tebal lapisan harus terbatas untuk mencegah getas
2. Mampu memelihara ketangguhan
3. Memeliki kemampuan untuk nitriding
4. Memeliki kekuatan yang memadai.
Dampak dari nitriding, akan terjadi penurunan impak yang disebut “krupp sickness”
62
Surface Treatment
Nitriding
Kelebihan proses nitriding
3. Memperbaiki ketahanan korosi dan relatif tahan terhadap alkali
4. Suhu proses relatif rendah sehingga timbulnya distrosi sangat kecil.
5. Kestabilan lebih terjamin
Kekurangan
1. Proses berlangsung lama
2. Biaya operasi mahal
Baja nitriding
komposisi baja ditentukan 4 aspek
1. Tebal lapisan harus terbatas untuk mencegah getas
2. Mampu memelihara ketangguhan
3. Memeliki kemampuan untuk nitriding
4. Memeliki kekuatan yang memadai.
Dampak dari nitriding, akan terjadi penurunan impak yang disebut “krupp sickness”
63
Surface Treatment
Nitriding
Metoda Medium Gas
1. Instalasi prose nitriding terdiri : tabung gas amoniak, control system dan tungku retort.
2. Faktor yang harus diperhatikan : suhu , debit dan derajat disosiasi (jumlah gas yang
mengurai dalam % dihtiung terhadap penggunaan total gas amoniak
3. Debit gas diatur melalui control system yang disesuaikan dengan derajat disosiasi yang terjadi
pada kecepatan tertentu.
4. Menginat reaksi nitriding ini akan terurai H akan terjadi denitridasi bila jumlah H berlebihan
yang berakibat kekurangan N sebagai pembentuk utama nitrida..
5. Nitriding dengan medium gas banyak digunakan untuk komponen yang membutuhkan tebal
lapisan yar berkisar antara 0.2 mm - 0.7 mm.
6. Peralatan yang digunakan harus tidak boleh bereaksi dengan gas. Umumnya terbuat dari nikel,
inconel maupun baja krom nikel. Bila tidak akan bereaksi dengan Fe.
7. Kelebihan metoda nitirding ini dengan medium gas bila selesai proses tidak diperlukan
pembersihan benda kerja.
64
Surface Treatment
Nitriding
Metoda Medium Cair (salt bath nitriding)
1. Medium cair yang umum digunakan adalah 60 - 70 % NaCN dan 30 - 40 % KCN.
Disamping tambahan yang lain Na2CO3 dan Sianat (NaCNO).
2. Suhu berkisar antara 550 - 570 0 C yang relatif periode proses sekitar 2 jam. Bila terlalu lama akan
terjadi pitting pada permukaan. Untuk menhindarinya dilakukan
- menginjeksikan udara kedalam tungku sehingga kadar sianat dapat dikontrol
- menggunakan crusible titaniumn untk menghindari terurainya garam.
3. Variasi proses nitriding dikenal Sulfinasi (sulfinus treatment)
65
Surface Treatment
66
Surface Treatment
67
Surface Treatment
68
Surface Treatment
69
Surface Treatment
70
Surface Treatment
71
Surface Treatment
72
Surface Treatment
73
Surface Treatment
74
Surface Treatment
75
Surface Treatment
76
Surface Treatment
77
Surface Treatment
78
Surface Treatment
79
Surface Treatment
80
Surface Treatment
81
Surface Treatment
82
Surface Treatment
83
Surface Treatment
84
Surface Treatment
85
Surface Treatment
86
Surface Treatment
87
Surface Treatment
88
Surface Treatment
89
Surface Treatment
90
Surface Treatment
91
Surface Treatment
92
Surface Treatment
93
Surface Treatment
94
Surface Treatment
95
Surface Treatment
96
Surface Treatment
97
Surface Treatment
98
Surface Treatment
99
Surface Treatment
100
Surface Treatment
101
Surface Treatment
102
Surface Treatment
103
Surface Treatment
104
Surface Treatment
105
Surface Treatment
106
Surface Treatment
107
Surface Treatment
108
Surface Treatment
109
Surface Treatment
110
Surface Treatment
111
Surface Treatment
112
Surface Treatment
113
Surface Treatment
114
Surface Treatment
Jenis Surface treatment II. Untuk meningkatkan ketahan korosi
I. Untuk meningkatkan kekerasan 1. Electro position (penegndapan elektrik)
1. Thermocemical Treatment (case hardening) 2. Hot dip coating
• Caburising : Solid, liquid, Gas 3. Diffusion coating
• Nitriding • sementasi
• Ionitriding • cladding
• Cyaniding • deposition vacuum
• Nitro carburizing • vapour deposition
2. Surface treatment • sprayed metal coating
• Induction hardening • case hardening
• Flame hardening 4. Non metallic ply
3. Metal spraying • laquers coating (cat)
4. Metal plating ( pengedapan electrolit) • plastic ply
5. Fusion process (over ply) • Elastomer (rubber)
• enamel ply
• temporary protective coatings
5. Oxidation & conversion ply
• Anodisasi; chomatasi; Paskerising
115
Surface Treatment
116
Surface Treatment
117
Surface Treatment
120
Surface Treatment Galvanic corrossion
121
Surface Treatment Galvanic Corrossion
122
Surface Treatment Galvanic Corrossion
123
Surface Treatment Galvanic Corrossion
128
Surface Treatment Galvanic Corrossion
129
Surface Treatment Galvanic Corrossion
130
Surface Treatment Galvanic Corrossion
131
Surface Treatment Galvanic Corrossion
132
Surface Treatment Galvanic Corrossion
133
Surface Treatment Galvanic Corrossion
134
Surface Treatment Galvanic Corrossion
135
Surface Treatment Galvanic Corrossion
136
Surface Treatment Galvanic Corrossion
137
Surface Treatment Galvanic Corrossion
138