Anda di halaman 1dari 10

Teknologi

Reproduksi Buatan
Kehamilan diluar cara alami-UUK
`

Oleh:
dr.Syah Rini Wisdayanti
Tehnik TRB
1. Fertilisasi in vitro dan tandur
alih embrio( in vitro
fertilization and embryo
transfer, IVF& ET)
2. Tandur alih embrio intra tuba
(tubal embryo transfer, TET
atau zygote intra fallopian
tube, ZIFT)
3. Gamete Intra tuba Fallopii
(Gamete intra fallopian tube,
GIFT)
4. Kriopreservasi embrio (embryo cryopreservation)
5. Suntikan sperma intra sitoplasmik ( intra cytoplasmic
sperm injection, ICSI)
6. Donasi oosit ( oocyt donation) dan atau sperma donasi
7. Pembelahan embrio ( embryo splitting)
Masalah:
1. Donasi oosit untuk wanita pasca menopause
2. Reproduksi pasca meninggal dunia (posthumous
reproduction)
3. Ibu pengganti (surrogate mother)
Kloning
??
UU No.23 tahun 1992, tentang kesehatan:
Pasal 16
1. Kehamilan diluar cara alami dapat dilaksanakan sebagai upaya terakhir
untuk membantu suami- istri mendapat keturunan

2. Upaya kehamilan di luar cara alami sebagaimana dimaksud dalam ayat


(1) hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan
ketentuan:
a. Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang
bersangkutan, ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal
b. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu
c. Pada sarana kesehatan tertentu

3. Ketentuan mengenai persyaratan dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2)
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Pil
Suntikan
Susuk KB
AKDR
KonTap

Nidasi
AKDR melanggar:
Kodeki, ps 10 “kewajiban melindungi insani”
LSDI, ps 9 “menghormati hidup insani”---PP
no. 26 th 1960
KonTap melanggar:
KUHP ps 534 “melarang: usaha
pencegahan kehamilan”
Ps 351 “mutilasi alat tubuh”
Namun sesuia dg Kodeki, butir 10
Penyelenggaraan KB, segi hak Pasutri dan etik
UU RI no.10 th 1992 “Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga Sejahtera”

Pasal 17

1) Pengaturan kelahiran diselenggarakan dengan tata cara


berdaya guna dan berhasil guna serta dapat diterima oleh
pasangan suami istri sesuai dengan pilihannya
2) Penyelenggaraan pengaturan kelahiran dilakukan dengan
cara yang dapat dipertanggung jawabkan dari segi
kesehatan, etik, dan agama yang dianut penduduk yang
bersangkutan
Pasal 18
Setiap pasangan suami-istri dapat menentukan pilihannya
dalam merencanakan dan mengatur jumlah anak, jarak antara
kelahiran anak yang berlandaskan pada kesadaran dan rasa
tanggung jawab terhadap generasi sekarang maupun yang
mendatang

Pasal 19
Suami istri mempunyai hak dan kewajiban yang sama
serta kedudukan yang sederajat dalam menentukan
cara pengaturan kelahiran
Pasal 20
1) Penggunaan alat, obat dan cara pengaturan kehamilan yang
menimbulkan risiko terhadap kesehatan dilakukan atas petunjuk
dan atau oleh tenaga kesehatan yang berwenang untuk itu
2) Tata cara penggunaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan menurut standar profesi kesehatan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku

Pasal 21
Mempertunjukkan dan atau memperagakan alat, obat
dan cara pengaturan kehamilan hanya dapat dilakukan
oleh tenaga yang berwenang dibidang
penyelenggaraan keluarga berencana serta
dilaksanakan di tempat dan dengan cara yang layak