Anda di halaman 1dari 44

NEW

OLEH

DR. ISMU GUNADI W. SH. MHum. CN. MM


PASCA SARJANA – UBHARA SURABAYA
1

LITERATUR :
1. BARDA NAWAWI ARIF, KAPITA SELEKTA HUKUM PIDANA, CITRA ADITYA BAKTI, BANDUNG
2003.
2. BARDA NAWAWI ARIF, BEBERAPA ASPEK KEBIJAKAN PENEGAKAN DAN PENGIMBANGAN
HUKUM PIDANA, CITRA ADITYA BAKTI, BANDUNG 1998.
3. BARDA NAWAWI ARIF, BEBERAPA ASPEK PEMBANGUNAN HUKUM PIDANA (MENYONGSONG
GENERASI BARU HUKUM PIDANA)
4. BARDA NAWAWI ARIF, BUNGA RAMPAI HUKUM PIDANA, CETAKAN KE – 2 EDISI REVISI,
CITRA ADITYA BAKTI, BANDUNG 2002.
5. BARDA NAWAWI ARIF, MASALAH PENEGAKAN HUKUM DAN PENANGGULANGAN KEJAHATAN
CITRA ADITYA BAKTI, BANDUNG 1988.
6. SUDARTO, HUKUM PIDANA DAN PERKEMBANGAN MASYARAKAT (KAJIAN THD PEMBAHARU-
AN HUKUM PIDANA), ALUMNI BANDUNG 1983.
7. SUDARTO, KAPITA SELEKTA HUKUM PIDANA, ALUMNI BANDUNG 1986.
8. SUDARTO, HUKUM DAN HUKUM PIDANA, ALUMNI BANDUNG 1986.
9. MULADI DAN BARDA NAWAWI ARIF, TEORI – TEORI DAN KEBIJAKAN PIDANA, ALUMNI
BANDUNG 1984.
2

10. MULADI, PROYEKSI HUKUM PIDANA MATERIIL DI MASA MENDATANG, PENGAHUHAN


BANDUNG 1984.
11. ISMU GUNADI W , ASPEK YURIDIS PORNOGRAFI/AKSI, AIRLANGGA UNIVERSITY PRESS
SURABAYA 2006.
12. ISMU GUNADI W, PENGANTAR HUKUM PIDANA ( JILID 1) RUMAH PUSTAKA PUBLISHER
SURABAYA 2009.
13. ISMU GUNADI W, PENGANTAR HUKUM PIDANA (JILID 2) RUMAH PUSTAKA PUBLISHER
SURABAYA 2010.
14. ISMU GUNADI W, HUKUM TATA USAHA NEGARA & HUKUM ACARA TATA USAHA NEGARA
INDONESIA
15. SUHARTO BRIGJEN POL (PURN), HUKUM & LUMPUR LAPINDO RUMAH PUSTAKA
PUBLISHER SURABAYA 2010.
16. SUBEKTI, HUKUM PEMBUKTIAN, PRATNYA PARAMITA JAKARTA 2005.
17. YESMIL ANWAR ADANG, PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA, GRAMEDIA JAKARTA 2008.
18. PERUNDANG-UNDANGAN (TIPITER)
19. MAKALAH2 SEMINAR (TIPIKOR, ASTEK & KORUPSI, BUMN/D & KORUPSI DLL.
20. BAHASAN MASALAH HUKUM DALAM BENTUK JURNAL.
3

BAHAN PEMBAHASAN
1. SUMBER & ISSUE HUKUM DLM KONTEKS PELANGGARAN DAN KEJAHATAN :
* SYSTEM CIVIL LAW.
* SYSTEM COMMON LAW.
* PERBEDAAN CIVIL LAW & COMMON LAW SYSTEM.
* SYSTEM HUKUM ADAT.
* SYSTEM HUKUM ISLAM.

• MASALAH / ISSUES HUKUM DAPAT DIGALI DARI :

* TEORITIK / DOKMATIK HUKUM.


* BIJAK / POLITIK HUKUM / PIDANA.
* KOMPARASI / PERBANDINGAN HUKUM PIDANA.
* FUNGSIONAL / BAGAIMANA HUKUM PIDANA BEKERJA.
* MASALAH-2 AKTUAL KONTEKSTUAL SECARA NASIONAL / INTERNASIONAL
3. KAJIAN TERHADAP HUKUM PIDANA.
4. PERKEMBANGAN HUKUM PIDANA MATERIIL & FORMIL
5. JENIS TP. KEJAHATAN & PELANGGARAN.
6. DISSENTING OPINION.
7. PERKEMBANGAN SYSTEM HUKUM COMMON LAW KE SYSTEM CIVIL LAW INDONESIA.
8. FUNGSIONAL BEKERJANYA HUKUM PIDANA & HUKUM PEMBUKTIAN.
4

MERUPAKAN KUMPULAN HAL-HAL PENTING DAN TERPILIH (SELECTED PROBLEM/ISSUES)


DI DALAM HUKUM PIDANA , BANDINGKAN DLM CIVIL LAW DAN COMMON LAW .

HAL TSB. DAPAT DI GALI PULA DARI SUDUT PANDANG ANTARA LAIN :
1. TEORITIK / DOGMATIK HUKUM
2. KEBIJAKAN / POLITIK HUKUM / PIDANA.
3. KOMPARASI / PERBANDINGAN HUKUM.
4. FUNGSIONAL / BAGAIMANA HUKUM PIDANA BEKERJA.
5. MASALAH – MASALAH AKTUAL-KONTEKSTUAL SECARA NASIONAL & INTERNASIONAL.

TUJUAN PAHAM THD RANAH HUKUM PIDANA DAN MEMBERI RANGSANGAN KAJIAN YANG
LEBIH KRITIS DAN KOMPREHENSIF THD BERBAGAI MASALAH HUKUM PIDANA.
NEGARA-2 YANG MENGANUT COMMON LAW 5

DAN CIVIL LAW


COMMON LAW CIVIL LAW

1. AMERIKA SERIKAT 1. ALBANIA


2. AUSTRALIA ( C.L INGGRIS) 2. AUSTRIA
3. BRITANIA 3. BELANDA
4. HONGKONG ( C.L INGGRIS) 4. BELGIUM
5. INDIA ( C.L INGGRIS ) 5. BULGARIA
6. REP. IRLANDIA ( C.L INGGRIS ) 6. BRASIL
7. KANADA ( C.L INGGRIS ) 7. CHILE
8. PAKISTAN ( C. L INGGRIS ) 8. DENMARK
9. SELANDIA BARU ( C.L INGGRIS ) 9. EKUADOR
10. INGGRIS 10. FINLANDIA
11. MALAYSIA 11. GUATEMALA
12. SINGAPURA 12. HAITI
13. BRUNAI DARUSSALAM 13. HONGARIA
14. INDONESIA
15. ITALIA
16. JEPANG > System Eropa dgn pengaruh Inggris
dan Amerika.
17. JERMAN
18. KROASIA
CATATAN : 19. LATVIA > Dipengaruhi Jerman sebagian Rusia
C.L >> COMMON LAW dan Soviet.
20. LITUANIA > dipengaruhi Uni Eropa sebagian
Rusia dan Soviet
21. MAKAU > system hukum Portugal yg didasar
kan pd tradisi Eropa dipengaruhi Jerman & RRT
YANG MENGANUT SYSTEM CAMPURAN
1. AFRIKA SELATAN
2. ARGENTINA
3. QUEBEC ( KANADA )
4. LOUISIANA ( AMERIKA SERIKAT )
5. SKOTLANDIA ( BRITANIA )
6. SEYCHELLES
7. MAURITIUS

YANG MENGANUT HUKUM ADAT


1. MONGOLIA
2. SRILANKA
3. INDONESIA

YANG MENGANUT HUKUM AGAMA


1. ARAB SAUDI
2. IRAN
3. SUDAN
4. SURIAH
5. VATIKAN

6
RECHTS STAAT
( UNSUR-UNSUR NEGARA HUKUM )

 F. JULIUS STAHL
1. KUAN & LINDUNG THD HAM ;
2. PEMBAGIAN KUASAAN NEGARA (PRINSIP TRIAS POLITICA)
3. DASAR UU ( WETMATIG BESTUUR) ;
4. PERADILAN ADMINISTRASI NEGARA .
 THE RULE OF LAW.
 A.V. DICEY
1. SUPREMACY OF LAW;
2. EQUALITY BEFORE THE LAW;
3. DUE PROCESS OF LAW.

7
TERJADINYA KEJAHATAN

 BAKAT / SIFAT PELAKU ( GENETIK )


 KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT
 PENGARUH LINGKUNGAN ( SOSIOLOGI )
 BUDAYA ( KEBIASAAN MASYARAKAT )
 PERKEMBANGAN IPTEK (TEORI KRIMINOLOGI)

8
9

NO DALAM SYSTEM CIVIL LAW


1 HUKUM CIVIL (CIVIL LAW) DARI HUKUM ROMAWI YG DI KODIFIKASIKAN DALAM
“CORPUS JURIST CIVILES”

2 DALAM CIVIL LAW SUMBER HUKUM TDK LEPAS DARI TEORI PEMBAGIAN KEKUASAAN
( TRIAS POLITICA ) ATAU HUKUM BERADA PADA NEGARA.

3 CIVIL LAW (SYSTEM HUKUM EROPA KONTINENTAL ) BAHWA PRINSIP HKM MEMPUNYAI
KEKUATAN MENGIKAT KARENA DI WUJUDKAN DLM PERATURAN YANG BERBENTUK
UU ( KODIFIKASI ) DGN TUJUAN ADALAH KEPASTIAN HUKUM, PERSAMAAN DIDEPAN
HUKUM, PERTIMBANGAN ANTARA KEJAHATAN DAN HUKUMAN.

4 PEMBENTUKAN UU PUNYA PERANAN PENTING DALAM AMBIL DAN TETAPKAN HUKUM


POSITIF, UU SEBAGAI PANDUAN BAGI HAKIM DLM PEMECAHAN KASUS-KASUS DI
PENGADILAN DALAM UPAYA ADANYA KEPASTIAN HUKUM, ATUR (LANGGAR & JAHAT)

5 SUMBER HUKUM PADA SYSTEM CIVIL LAW :

STATUTES ( UU) OLEH LEGESLATIF


REGULATION ( PERATURAN2 ) POWER DELEGATION/LEGESLATIF KE
EKSEKUTIF
CUSTOM ( KEBIASAAN ) YG TDK BERTENTANGAN DGN UU & DIANGGAP SBG
HUKUM MASYARAKAT.
10

NO DALAM SYSTEM COMMON LAW


1. SYSTEM COMMON LAW DIKENAL DGN ANGLO SAXON / ANGLO AMERIKA (UN WRITTEN
LAW / TDK TERTULIS ) TAPI JUGA ADA SUMBER HUKUM TERTULIS (STATUTES)

2. BENTUK REASONING DLM COMMON LAW DIKENAL DGN CASUISTY ATAU CASE BASE
REASONING COMMON LAW ( ARTINYA DPT BERBENTUK TERTULIS & TDK TERTULIS)

3. HAKIM TDK HARUS BERPEDOMAN PADA UU, DIBERI KESEMPATAN UTK MENEMUKAN
HUKUM DILUAR UU (ADANYA PERBEDAAN COMMON LAW DI INGGRIS DAN DI AMERIKA)

4. HAKIM DGN SYSTEM DEWAN JURI DAN CIPTAKAN PRINSIP-2 HUKUM BARU YG AKAN DI
PAKAI SEBAGAI PEDOMAN HAKIM LAINNYA DLM MENANGANGI KASUS-2 YG TERJADI
(BAHAN-2 TEKS HUKUM RATA-2 PUTUSAN HAKIM)

5. PERBEDAAN DENGAN :
►►COMMON LAW BUKU TEKS ILMU HUKUM CONDONG PD PENDEKATAN “PROBLEMA-
TIK ≫ SISTEMATIK”
►►SEDANG CIVIL LAW BUKU TEKS CONDONG “SISTEMATIK > PROBLEMATIK.

6. PUTUSAN HAKIM ≫ KEADILAN ≫ JADI KAIDAH MENGIKAT UMUM ( BINDING


AUTHORITY) & DISEBUT SUMBER HUKUM “CUSTOM”
GAKKUM DALAM SISTIM COMMON LAW 11

TUGAS POLISI &


JAKSA
1. POLISI (POLICE) SEBAGAI PINTU MASUK UTAMA KONTAK DENGAN
TERSANGKA (TANGKAP ATAU TIDAK) DEPARTEMEN SHERIFF
MEMIMPIN RESMI DALAM PENEGAKAN HUKUM (WALAUPUN ADA
POLISI LOKAL ATAU POLISI NEGARA BAGIAN).

2. JAKSA (STATE ATTORNEY) YANG BERTUGAS MEWAKILI


PEMERINTAH DALAM GAKKUM KASUS PIDANA (SISTIM
PERADILAN PIDANA DI AMERIKA SERIKAT ).

3. JAKSA DI BAWAH DEPARTEMEN KEHAKIMAN YANG TUGAS


POKOKNYA “MENUNTUT” PARA TERDAKWA YANG MELANGGAR UU
PIDANA NEGARA BAGIAN (MENURUT PERATURAN MASING-2
NEGARA BAGIAN ).

4. TIDAK SEMUA KASUS/PERKARA PIDANA DIBAWA KE PENGADILAN


TERGANTUNG DARI HASIL TAWAR MENAWAR (PLAY BARGENING)
SEHINGGA TERDAKWA DAPAT DI PUTUS LEBIH RINGAN)
TUGAS JURI & 12

HAKIM
1. “JURI“ DI PILIH DARI MASYARAKAT TUGASNYA MENILAI
BUKTI-BUKTI, FAKTA HUKUM DAN TENTUKAN SALAH ATAU
TIDAK SALAH, SEDANG “ HAKIM” TUGASNYA
MENERAPKAN HUKUM DAN MENJATUHKAN HUKUMAN
DENGAN PRINSIP “JUDGE MODE LAW”

2. TAHAP PROSES PERSIDANGA N


A. > LAKUKAN PENAHANAN ( STATE OF ATTORNEY)
B. > HADIR DI DEPAN HAKIM (TDW) / PANGGILAN TDW
C. > PERNYATAAN BERSALAH (PLAY BARGENING)

3. TAHAP PEMERIKSAAN DALAM SIDANG PENGADILAN


A. > PILIH PARA JURI
B. > PERNYATAAN PEMBUKAAN
C. > ALASAN HUKUM PENUNTUT (STATE ATTORNEY)
D. > ALASAN HUKUM TERDAKWA
E. > INSTRUKSI JURY
F. > KEPUTUSAN JURY
13

Lanjutan

4. TAHAP SETELAH PERSIDANGAN


A. > PUTUSAN HAKIM (HUKUMAN).
B. > PERMOHONAN BANDING / KASASI
C. > EKSEKUSI (MASUK LEMBAGA PEMASYARAKATAN)
GAKKUM DALAM SISTIM CIVIL LAW

PERKARA PIDANA UMUM SISTIM PERADILAN PIDANA

POLRI P
JPU E
LP LIDIK N
MASY. ADU SIDIK KAB./ G PERKARA
P MAH
LK KOTA A E KA PIDANA
PPNS D N MAH UMUM
PROV I G AGUNG
POLSEK L T R.I PERKARA
JAGUNG A I PIDANA
POLRES JAK N N JKT. KHUSUS
TINDAK PIDANA /TA
DIKETAHUI : G
KAB./ MHN. UPAYA
G
POLDA KOTA HUKUM
1. LAPORAN I
(PROV) LUAR BIASA
2. PENGADUAN PROV
3. DIKETAHUI ( PK )
MABES EKSEKUSI
LANGSUNG POLRI (PK)
4. TERTANGKAP
TANGAN.

LEMBAGA
PEMASYARAKATAN

14
15

NO URAIAN COMMON LAW CIVIL LAW


1 PENGADILAN MEMBANGUN HUKUM DI BANGUN OLEH HUKUM
2 SYSTEM PEMERIKSAAN JURI MAJELIS & TUNGGAL
3 HAKIM / JURI BERSIFAT SBG PENILAI AKTIF PUTUSAN
BEBAS 1TAFSIR UU TERIKAT UU PROGRESIF
4 SUMBER HUKUM 1. CUSTOM 1. UUD ( KONSTITUSI )
BANDINGKAN DGN 2. LEGESLATION 2. UU
SUMBER HUKUM 3. JURISPRODENSI: 3. KEBIASAAN
NEGARA INDONESIA. JUDGE MADE LAW- INGGRIS 4. DOKTRIN
CASE LAW - AMERIKA

5 PERTANGGUNG JAWAB ACTUS REUS CRIMINAL RESPONSIBILITY


PIDANA MENS-REA, PEMBUKTIAN
6 KEJAHATAN DAN TIDAK DI KENAL DIKENAL : 1. MALA INSE
PELANGGARAN 2. MALA PROHIBITA
7 SYSTEM PERADILAN ACCUSATOIR ADVERSARY INQUISITOIR-NON ADVERSARY
SYSTEM SYSTEM
8 DLM PEMIDANAAN TDK DIKENAL BATAS MINIMAL ALTERNATIF & KUMULATIF DI
PUTUSAN PENGADILAN & MAKSIMAL KENAL BATASAN MINIMAL DAN
(DiSSENTING OPINION) MAKSIMAL
16

1. SYSTEM HUKUM ADAT HAMPIR MENDEKATI SYSTEM HUKUM INGGRIS ( ANGLO


SAXON ) YANG DISEBUT “COMMON LAW”

1. SITEMATIKANYA BERDEDA DENGAN “CIVIL LAW” DARI EROPA KONTINENTAL.


MISAL :
A. HUKUM ADAT TIDAK DIKENAL HUKUM PUBLIK DAN PRIVAT.
B. TIDAK BEDAKAN HAK KEBENDAAN DAN HAK PERORANGAN.
C. TIDAK BEDAKAN PERKARA PERDATA DAN PIDANA.

3. CIRI-CIRI LAIN HUKUM ADAT :


A. KEBERSAMAAN / GOTONG ROYONG.
B. PUNYA CORAK RILIGIUS MAGIS THP PANDANGAN HIDUP ALAM LINGKUNGANNYA.
C. DI LIPUTI PIKIRAN ALAM YG SERBA KONKRIT DAN BERSIFAT VISUAL ARTINYA
HUBUNGAN HUKUM DIANGGAP TERJADI KRN DI TETAPKAN DGN SUATU IKATAN YG
DILIHAT DAN BERSIFAT KONKRIT.

4. HUKUM ADAT BEERSUMBER PD PERATURAN TDK TERTULIS DAN BERKEMBANG DLM


MASYARAKAT.
17

1. SYSTEM HUKUM ISLAM DARI MASYARAKAT ARAB KEMUDIAN BERKEMBANG KE


NEGARA ASIA, AFRIKA, EROPA DAN AMERIKA LATIN BAIK SECARA INDIVIDU
MAU PUN KELOMPOK.
2. SUMBER HUKUM ISLAM A.L :
A. AL QUR’AN ADALAH KITAB SUCI UMAT ISLAM YG ISINYA BERUPA KUMPUL-
AN WAHYU ALLAH SWT YANG DITERIMA NABI MUHAMMAD SAW MELALUI
MALAIKAT JIBRIL ( SUMBER HUKUM ISLAM PERTAMA – 30 JUZ – 114 SURAH –
6666 AYAT).
B. SUNNAH ADALAH MERUPAKAN CAR A HIDUP ( PERBUATAN DAN UCAPAN
NABI MUHAMMAD SAW SEHARI-HARI (SUMBER HUKUM ISLAM URUTAN KEDUA
(SURAH 59 AL-HASYAB R (7)
3. IDJMA ADALAH KONSENSUS PARA ULAMA DLM MERUMUSKAN SUATU YG BARU
SEBAGAI HUKUM ISLAM.
4. QIYAS ADALAH KESIMPULAN KHUSUS DALAM HUKUM ISLAM, MISAL QANUN DI
ACEH YG TANGANI THD KEJAHATAN / LANGGAR TERTENTU.
18

BAHWA HUKUM PIDANA :


• RUPAKAN KODE MORAL SUATU BANGSA ( KORBAN DIWAKILI NEGARA )
• PERSETERUAN / PERMASALAHAN ANTAR MANUSIA ( NEGARA ).
• ULTIMATUM REMEDIUM DAN PRIMUM REMEDIUM.
• NORMA YANG ATUR DALAM HUKUM PIDANA :
A. KUHP MERUPAKAN NORMA “KEHARUSAN/LARANGAN” JIKA TIDAK DIATUR BERARTI
BOLEH (VIDE PSL 1 AYAT (1) KUHP)
B. KUHAP MERUPAKAN NORMA “KEWENANGAN” JIKA TIDAK DIATUR BERARTI TIDAK
BOLEH.
C. DALAM PERKEMBANGAN HUKUM PIDANA UU LAIN ADA PENGATURAN NORMA
LARANGAN DAN KEWENANGAN ( HUKUM PIDANA MATERIIL & FORMIL ).
5. KETENTUAN UMUM KUHP ( GROUND NORM ) DAN AZAS-AZAS DALAM UU TINDAK PIDANA
TERTENTU.
19

NO HUKUM PIDANA MATERIIL NO HUKUM PIDANA FORMIL


1 AZAS RETRO AKTIF DAN ATPER 1 PEMBUKTIAN TERBALIK
( PSL 1 AYAT 1 DAN AYAT 2 KUHP) (UU TIPIKOR & KUHAP)
2 DALUWARSA , PENALISASI, DE PE 2 DIGITAL SIGNATURE / TELECONFERNCE
NALISASI, KRIMINALISASI. PSL 26 A UU NO. 20/2001.
3 SUBYEK HUKUM PIDANA 3 UPAYA PAKSA (PANGGIL, TANGKAP, TAHAN,
A. MANUSIA GELEDAH, SITA & TINDAKAN PENYIDIKAN )
B. KORPORASI (BADAN HUKUM / 4 KETERANGAN SAKSI DAN SAKSI AHLI
NON BADAN HUKUM) (VIDE HUKUM FORENSIK)
( VIDE PSL 59 KUHP & UUPT) 5 “BADAN PERADILAN”
4 PIDANA THD PELAKU PERCOBAAN LAMA SAAT INI
& PERBANTUAN, PERBUATAN a. Pengadilan Umum a. Pengadilan Niaga
MELAWAN HUKUM & KEUANGAN b. Pengadilan Tun b. Pengadilan Hub. Industrial
NEGARA (UU NO.31/1999) c. Pengadilan Mil c. Pengadilan HAM
5 PIDANA PENJARA KUMULATIF, d. Pengadilan Agama d.Pengadilan Pajak
KIMULATIF ALTERNATIF. e. Pengadilan Tipikor
6 TP. DI BIDANG CIBER CRIME f. Pengadilan Perikanan.
A. GUNAKAN INTERNET. 6 PERADILAN :
B. FACEBOOK, SMS A. IN ABSENTIA
C. CONTOH KASUS PRITA, B. DISSETING OPINION
PORNOGRAFI, HAKI, C. PERADILAN RESTROAKTIF
20

NO JENIS KUHP UU TERTENTU KETERANGAN

1 Azas Retroaktif Psl 1 KUHP > melarang UU 26 / 2000 ttg Peradilan Ham >kss Ham banyak
UU 15,16/2003 ttg Terorisme bebas
(perpu no 1,2 th 2002) >kss bom Bali 1,2

2 Subyek Hukum Barang siapa > manusia >barang siapa > manusia >UU 31/99 jo 20/2001
>korporasi > Badan Hukum >UU 5/97
> Non Badan Hukum >UU 35/2009

3 Pemidanaan 1. Al Geemene Straf Straf minimal


minimal > 1 hari >UU 3/97 > 4 th >terutama pengedar
2. Al Geemene Straf >UU 31/99 Jo 20/2001 > 4 th >Tipikor yg rugikan
maksimal > 20 th keuangan Negara
4 Daluwarsa Psl 78, 79 KUHP >UU 26/2000 ttg Peradilan Ham >tidak diatur
>UU 15, 16/2003 ttg terorisme --sda--

5 Ancaman Alternatif > pidana atau Komulatif > UU 31/99 Jo 20/2001 Pidana dan denda
Pidana Pokok denda

6 Perbantuan, 1/3 pelaku tindak pidana UU 31/99 Jo 20/2001 ttg Tipikor Sama dengan pelaku
percobaan Psl 56 KUHP ( pasal 15 )
Psl 53 KUHP
21

NO JENIS KUHAP UU TERTENkTU KETERANGAN

1 Alat bukti yg syah Psl. 184 (1) KUHAP  psl 184 (1) KUHAP plus Exmpl ; psl 26 A UU no.
 UU 31/99 Jo 20/2001 20/2001 dan bukti dr
 UU 25/2003 ttg TPPU >8/’10 Informasi Intelejen.
 UU 15,16/2003 ttg terorisme

UU 9/2013
2 Beban pembuktian Penuntut Umum  UU 31/99 Jo 20/2001 ttg >pembuktian terbalik
berantas korupsi oleh Tsk/tdw
 UU 8/99 ttg UUPK > sda

3 Teleconfernce/ Tidak mengatur Praktisi > pernah terjadi B.J Habibie dlm kss
Video conference Kesaksian jarak jauh Ham Timor timur

4 Upaya paksa
• Tangkap Waktu 1X24 jam >7 X 24 jam >UU terorisme Dikecualikan
• Tahan Waktu 60 hari >6 bulan >sda Psl 29 KUHAP

5 Peradilan Tidak diatur UU 31/99 Jo 20/2001  TPK


In absentia UU 15, 16/2003, TPE  Terorisme

6 Dissenting Opinion Tidak diatur UU 48/2009 ttg Kekuasaan Mengatur


Kehakiman
22

TP. KEJAHATAN ( MISDRIJVEN ) CONTOH PENCURIAN ( PSL 362 KUHP KUHP ) DAN TP.
PELANGGARAN ( OVERTREDINGEN ) PENGEMIS, GELANDANGAN DLL. ( PSL 504, PSL 505
KUHP ), TERDAPAT PERBEDAAN SANKSI HUKUM DAN IMPLIKASI THDP PENEGAKAN
HUKUMNYA.

NO URAIAN KEJAHATAN PELANGGARAN KET


1 Jenis pidana Penjara Denda RUU KUHP

2 Pembantuan Dpt di pidana tdk di pidana Melihat MO


( psl 56 KUHP ) ( denda )

3 Percobaan di pidana [ psl 56 tdk di pidana Psl 54 KUHP


kuhp ]

4 Daluwarsa Sampai 18 tahun 1 tahun Psl 78 KUHP


[psl 78 kuhp ]

5 Pengaduan Di kenal msal :psl Tidak dikenal Psl 1 bt 25


284 ; 310 kuhp dst kuhap.

6 Consursus Komulasi terbatas Denda Psl 63;64;65


(terberat ditambah kuhp.
1/3)
23

KELEBIHAN DISSENTING OPINION KELEMAHAN DISSENTING OPINION

1. ADANYA KEBEBASAN INDIVIDU HAKIM, SEBAGAI


WUJUD DEMOKRASI. 1. DLM SYSTEM MAJELIS KEMUNGKINAN ADA HAKIM
YG TDK KUASAI PERKARANYA/TERGANTUNG PADA
2. DLM RIKSA DAN PUTUS PERKARA MENCERMINKAN HAKIM LAIN.
JAMINAN HAK BEDA PENDAPAT.

3. MENINGKATKAN KUALITAS DAN ISI PUTUSAN


(BERBOBOT) KRN SETIAP HAKIM WAJIB MENDA- 2. DPT TIMBUL KE TIDAK PASTIAN HUKUM.
LAMI MATERI PERKARA TSB, SHG DIMUNGKINKAN
BERBEDA PENDAPAT.
3. KEBENARAN DAN KEADILAN MAYORITAS TAPI
4. INSTRUMENT PENGEMBANGAN ILMU HUKUM. SIFATNYA TIDAK TETAP.

5. INSTRUMENT “ DINAMIKA ” DAN “ UPDATING ”


PENGERTIAN-2 HUKUM. 4. DAPAT PENGARUHI HARMONISASI SESAMA HAKIM
6. PERKEMBANGAN ILMU HUKUM MELALUI :
A. PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM.
B. PERKEMBANGAN TEORI HUKUM (DOKTRIN) 5. DAPAT TERJADI SIKAP INDIVIDUALISTIS HAKIM
C. PERKEMBANGAN ATURAN HUKUM PADA SYSTEM MAJELIS.
(TERTULIS, KEBIASAAN, YURISPRUDENSI)

7. BUKA CAKRAWALA PANDANG TTG PERKEMBANGAN


HUKUM (PIDANA) THD MASYARAKAT KHUSUSNYA
SI PELAKU / TERDKWA.
24

1. UJI UU OLEH PENGADILAN :


A. BERDASARKAN :
[ VIDE UU NO. 3 / 2009 ] TTG MAHKAMAH AGUNG ( MA ) DAPAT MENGUJI
PERATURAN DIBAWAH UU.
B. BERDASARKAN UU NO 24/2003 MAHKAMAH KONSTITUSI (MK) DPT MENGUJI UU

2. PRANATA GUGATAN PERWAKILAN KELOMPOK “CLASS ACTION”

3. PRANATA “INJUNCTION” PENETAPAN PENGADILAN YG MELARANG SESEORANG ATAU


BADAN HUKUM MELAKUKAN SESUATU, SBLM PERKARA DI MAJUKAN KE PENGADILAN
(CONTOH: BIDANG HAKI).

4. PRANATA “DISSENTING OPINION” SERING TERJADI DALAM PUTUSAN PENGADILAN.


25

HUKUM PEMBUKTIAN RUPAKAN BAGIAN DARI HUKUM PIDANA YG ATUR:

1. ALAT 2 BUKTI YANG SYAH SBGMN PSL 184 AYAT [ 1 ] KUHAP & BUKTI DR UU LAIN.
2. SYSTEM PEMBUKTIAN YANG DI ANUT.
3. SYARAT & TATA CARA AJUKAN ALAT BUKTI PROSES SITA BB s/d PEMERIKSAAN DI
PENGADILAN)
4. KEWENANGAN HAKIM DLM MENILAI ALAT BUKTI DI PENGADILAN. (DITERIMA ATAU
DITOLAK)
5. HAKIM MENERIMA, MAKA MENJADI ALAT BUKTI YG SYAH (vide psl 184 ayat 1 KUHAP)

ALAT2 BUKTI YG SYAH HAKIM DLM JATUHKAN PUTUSAN (PIDANA)


SE-KURANG2NYA 2 ALAT BUKTI YG SYAH
DI TAMBAH KEYAKINAN HAKIM (NEGATIF
1. KET. SAKSI.
WETTELIJK ) VIDE PSL 183 KUHAP
2. KET. AHLI.
3. SURAT.
4. PETUNJUK. PASAL 184 AYAT (1) KUHAP
5. KET. TERDAKWA
DLM “TIPITER” ALAT BUKTI TERTENTU MASUK PSL 184 AYAT (2) KUHAP
DLM LINGKUP PETUNJUK HAL2 YG BERSIFAT UMUM
TDK PERLU DI BUKTIKAN
26

ALAT - BUKTI BARANG - BUKTI

SGL SESUATU YG ADA HUBUNGANNYA BARANG/BENDA YANG DI PEROLEH


DGN SUATU PERBUATAN BAIK SAKSI, DARI HASIL “LIDIK/SIDIK” SUATU
PELAKU / TSK / TDW & BARANG. PERISTIWA YANG DIDUGA SEBAGAI
TINDAK PIDANA.
GUNA YAKINKAN, HAKIM DI SIDANG
PENGADILAN. GUNA KEPENTINGAN PEMBUKTIAN
DLM PENYELIDIKAN ,PENYIDIKAN,
TENTANG KEBENARAN ADANYA SUATU PENUNTUTAN DAN PEMERIKSAAN DI
TINDAK PIDANA YG DILAKUKAN OLEH SIDANG PENGADILAN.
PELAKU / TSK / TDW
BAGAIMANA HUKUM PIDANA BEKERJA SECARA
AKTUAL - KONTEKSTUAL THD PELANGGARAN
NORMA HUKUM DLM “ PERATURAN PER UU AN”

BERPEDOMAN KETENTUAN UMUM, KUHP DAN


AZAS-AZAS HUKUM ( UMUM & KHUSUS)

TEMPAT (LOCUS DELICTY) DAN WAKTU (TIMEPUS


DELICTY) SERTA MODUS OPERANDI

27
ISSUE HUKUM DALAM GAKKUM PIDANA 28
EXAMPLE
>PENYELIDIK
-UU NO.1/46 UU KHUSUS
BERDASAR >PENYIDIK
>PP 27/1983 1. UU 23/2004 > KDRT
-UU NO.73/58 >PU
BERLAKU NAS >PP 58/2010 2. UU 31/99 JO 20/2001>BRANTAS
>HAKIM
TIPITER / KHUSUS KORUPSI
>UU NO.8/81
>ADVOKAT
3. UU 35/2009 > NARKOTIKA
KUHAP PSL 17 / PP 27/83
KUHP 4. UU 19/2016 > ITE(11/2008)
5. UU 5/2007 >PSYCOTROPIKA
1. APA YG HRS DI LAKS
JIKA TERJADI 6. UU 35/2014 > LINDUNG ANAK
BUKU I BUKU II BUKU III - LAHIR SEIRING
KEJAHATAN PERKEMBANGAN 7. UU 11/2012 > PERADILAN ANAK
1 S/D 3 104 - 488 489 - 569 JAMAN
2. BGMN CB GAKKUM 8. UU 39/99 > HAM
3. TEMPAT KEJADIAN - PENUHI YG BLM
9. UU 26/2000 > PERADILAN HAM
(TEMPUS/LOCUS) DIATUR
10.UU YG BERSIFAT KEPERDATAAN
TERJADI 4. SAKSI,BUKTI,PELAKU
PELANGGARAN
5. HAK2 TSK/TDW
6. AHLI (PS 120,179 HAP ( Bt 1 s/d 8 diatas)
PSL 103 KUHP DST )
7. PS 65, 67, 244 KUHAP MENGANDUNG HKM PID. MATERIIL
DAN FORMIL

PID & PEMIDANAAN PENUHI PEMBUKTIAN CONTOH :


 PERBUATAN PIDANA (SENGAJA) ISSUE HUKUM
PSL 183 KUHAP TIPU/GELAP,
>> SALAH (SCHULD) > MENS REA CURI, ANIAYA,  PENEGAKAN HKM THD
PSL 184 AYAT (1)
(STRAFBAAR HUNDELLING) PENGRUSAKAN. SESEORANG YG BERPROFESI
KUHAP
 PERBUATAB MELAWAN HUKUM (DOKTER, NOTARIS, ADVOKAT)
PSL 184 AYAT (2) CEMAR LEWAT
(UNRECHT) MEDSOS  PSL 55 UU 23/2004 > KDRT
KUHAP
 TDK ADA ALASAN PEMBENAR OTT, GELAP UANG  PSL 26.A UU 20/2001 >TIPIKOR
(CRIMINAL LIABILITY) OLEH DST
PENYELENGGARA
NEG, HALANGI
GAKKUM
ISSUES HUKUM DALAM GAKKUM TP
SEBAR BERITA BOHONG (HATE SPEECH)

DASAR HUKUM

 UU RI NO. 8 TAHUN 1981 TTG KUHAP


 UU RI NO.2 TAHUN 2002 TTG POLRI
 UU RI NO. 40 TAHUN 2008 TTG PENGHAPUSAN
DISKRIMINASI RAS & ETNIS.
 UU RI NO. 19 TAHUN 2016 TTG PERUBAHAN ATAS UU RI NO.
11 TAHUN 2008 TTG INFORMASI DAN TRANSAKSI
ELETRONIK (ITE)
 UU RI NO. 1 TAHUN 1946 TTG KHUP JO. UU NO. 73
TAHUN 1958 (KUHP BERLAKU SECARA NASIONAL)

29
FUNGSI TEORI PEMBUKTIAN

1. FUNGSI DESKRIPTIF ( BERIKAN PENJELASAN


ATAS PERKARA );
2. FUNGSI NORMATIF ( DASAR PADA UU );
3. FUNGSI EVALUATIF ( MENILAI ALAT BUKTI &
BUKTI );
4. FUNGSI REGULATIF ( JAMINAN KEPASTIAN
HUKUM )

30
TUJUAN NEG. JATUHKAN PIDANA

A. PEMBALASAN UTK PUASKAN KORBAN; >VERGELDING


THEORIE
B. MENAKUTI MASYARAKAT KARENA SANKSI PIDANA ;
C. MELINDUNGI MASYARAKAT & SELAMATKAN MASYARAKAT
DARI PERBUATAN MELAWAN HUKUM (AZAS UN RECHT );
D. BIN MASYARAKAT DLM UPAYA PELAKU LEBIH BAIK PASCA
JALANI PIDANA.

31
LEGAL LIABILITY THEORIE
TEORI TANGGUNG JAWAB PIDANA
A. ATAS DASAR UNSUR KESALAHAN ( BASED ON FAULT
LIABILITY THEORIE );
B. ATAS DASAR PRADUGA ( PRESUMPTION OF LIABILTY
THEORIE );
C. TANGGUNG JAWAB MUTLAK ( STRICT LIABILITY THEORIE)
EXAMPLE :
JHON SALMOND THEORIE ( THD KEJAHATAN TERTENTU )
D. WEWENAMG HAKIM BERI MAAF DGN TIDAK JATUHKAN
SANKSI PIDANA.
E. AZAS TIDAK ADA PIDANA TANPA SALAH ( SCHULD ).

32
PENGERTIAN KONTEN ILEGAL
DLM UU RI NO. 19 TH 2016 TTG ITE
 INFORMASI DAN ATAU DOKUMEN ELEKTRONIK YANG LANGGAR
KESUSILAAN, (PSL 45 AYAT 1);
 MEMILIKI MUATAN PERJUDIAN, (PSL 45 AYAT 2);
 PENGHINAAN DAN ATAU PENCEMARAN NAMA BAIK, (PSL 45 AYAT
3 MERUPAKAN DELIK ADUAN);
 PEMERASAN DAN ATAU PENGANCAMAN, (PSL 45 AYAT 4);
 BERITA BOHONG DAN MENYESATKAN, (PSL 45 A AYAT 1);
 MUATAN UJARAN KEBENCIAN ATAU PERMUSUHAN INDIVIDU/
POK ATAS DASAR SARA, (PSL 45 A AYAT 2);
 ANCAMAN KEKERASAN ATAU MENAKUT-NAKUTI SECARA PRIBADI,
(PSL 45 B)

33
KELOMPOK YANG DI DETEKSI APARAT
BERWENANG

DUGAAN PENEBAR ISU PROVOKATIF SBB :


1. AKADEMI TEMPUR MUSLIM CYBER ARMY (MCA);
2. POJOK MCA;
3. THE UNITED MCA;
4. THE LEGEND MCA.
5. M.COMING MCA;
6. NEWS LEGEND;
7. SPECIAL FORCE MCA;
8. SRIKANDI MCA;
9. M. SNIPER.

34
MOTIV PENYEBAR HOAKS DILACAK

GUNAKAN KONTEN TIDAK BENAR;

MENYEBAR KEBENCIAN;

RUGIKAN PIHAK TERTENTU VIA MEDSOS;

SEKUAT APAPUN ORANG SEMBUNYIKAN IDENTITAS


ATAU KEBERADAANNYA PASTI DIKETAHUI;

CEPAT/LAMBAT PASTI AKAN TERLACAK;

AKHIRNYA DI TINDAK OLEH APARAT BERWENANG.

35
ISSUE-ISSUE ADU DOMBA
PROVOKATIF YANG TERUNGKAP
♣ KEPOLISIAN UNGKAP PELAKU DI JAKARTA, BANGKA
BELITUNG, JAWA BARAT DAN BALI;
♣ AWAL TAHUN 2018 SUDAH TANGKAP 22 ORANG
(TERLIBAT PENYEBARLUASAN HOAKS DAN UJARAN
KEBENCIAN);
♣ DI TAHUN 2017 BONGKAR KERJA GRUP SARACEN;
♣ GRUP SARACEN SECARA SENGAJA MEMPERDAGANGAN-
KAN HOAKS & UJARAN KEBENCIAN LAYAKNYA
KOMODITAS YANG BISA DI PERJUAL BELIKAN.

36
BANDINGKAN :
GAKKUM UU RI NO. 11 TH 2008 TTG ITE
 PN PEKANBARU SIDANGKAN JASRIADI (KETUA SARACEN)
DI VONIS 10 BULAN PENJARA, AJUKAN BANDING;

 TERBUKTI BERSALAH LAKS PERBUATAN ILEGAL MERETAS


AKUN MEDSOS MILIK ORANG LAIN (GAR PSL 46 JO PSL 30
AYAT 1 UU RI NO. 11 TH 2008 TTG ITE

 NAMUN TIDAK TERBUKTI BERSALAH MENYEBARKAN


UJARAN KEBENCIAN DENGAN KONTEN SARA ( BAHAYAKAN
KEHIDUPAN BERMASYARAKAT )

37
BERMEDSOS DALAM PRESPEKTIF
AGAMA ISLAM

A. TABAYYUN (CEK & RICEK), SIAPA PEMBAWA BERITA,


APA ISI BERITA, DALAM QS AL-HUJARAT AYAT 6).

B. HARAM MENEBAR FITNAH, KEBENCIAN, DLL FATWA


MUI NO. 24 TH 2017 TTG HUKUM & PEDOMAN
BERMUAMALAH VIA MEDSOS YANG MENYATAKAN :
1. MELAKUKAN QHIBAH, FITNAH, NAMIMAH (ADU
DOMBA) & MENYEBARKAN PERMUSUHAN.
2. MELAKUKAN BULLYING, UJARAN KEBENCIAN DAN
PERMUSUHAN BERDASARKAN SARA.

38
Lanjutan

3. MENYEBARKAN HOAKS, INFORMASI BOHONG


MESKIPUN TUJUAN BAIK SEPERTI INFO TTG
KEMATIAN ORANG YANG MASIH HIDUP;
4. MENYEBARKAN MATERI PORNOGRAFI, KEMAKSIATAN
& SEGALA YANG TERLARANG SECARA SYARI;
5. MENYEBARKAN KONTEN YANG BENAR TTP TIDAK
SESUAI TEMPAT & WAKTUNYA.

C. MENJAMIN & MENGATUR KEBEBASAN EKSPRESI


BERSYARAT (QS AL IMRAN AYAT 104)

39
Lanjutan
MEMINTA AGAR MANUSIA MEMBELA APA YANG BAIK,
BENAR, NAMUN KEBEBASAN BERPENDAPAT SERING
KALI DISALAH GUNAKAN UNTUK MEMBUAT FITNAH,
OPINI PALSU, DAN MENEBARKAN KEBENCIAN YANG
SERING DIUTARAKAN VIA MEDSOS DAN DIMINTA
TIDAK MENGOLOK-OLOK YANG LAIN, MESKIPUN
ORANG ITU BERBEDA PENDAPAT N ( QS AL HUJARAT
AYAT 11)

40
UPAYA MASYARAKAT THD PERKEMBANGAN IPTEK

♦ CEPAT RESPON DAYA KRITIS MASYARAKAT DAMPAK


GUNAKAN MEDSOS;
♦ KONSISTEN DLM GAKKUM ( DUE LAW ENFORCEMENT );
♦ MENCERDASKAN PARA PENGGUNA MEDSOS;
♦ TIDAK MUDAH SEBARKAN BERITA YANG BELUM
JELAS SUMBER DAN KEBENARANNYA;
♦ PARA PENDIDIK DAN ORTU MENDORONG ANAK UNTUK
KRITIS & TERBIASA VERIFIKASI INFO MEDSOS.

41
Materi
Cyber crime

Oleh
Dr. Ismu gunadi w. sh.,mhUM.,CN.,MM
DOSEN FAK.HUKUM UBHARA

28