0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan43 halaman

Laporan Kasus: CKD, Diabetes, dan IHD

1. Seorang laki-laki berusia 68 tahun dirawat karena sesak napas, CKD stadium akhir akibat GN kronis, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dan abses tangan kanan. 2. Pasien mengalami gagal jantung kronis dan infeksi, dan mendapatkan perawatan intensif seperti antibiotik dan diuretik. 3. Kondisi pas

Diunggah oleh

athnau 3199
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan43 halaman

Laporan Kasus: CKD, Diabetes, dan IHD

1. Seorang laki-laki berusia 68 tahun dirawat karena sesak napas, CKD stadium akhir akibat GN kronis, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dan abses tangan kanan. 2. Pasien mengalami gagal jantung kronis dan infeksi, dan mendapatkan perawatan intensif seperti antibiotik dan diuretik. 3. Kondisi pas

Diunggah oleh

athnau 3199
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

CASE REPORT II

SEORANG LAKI LAKI N 68 TAHUN DENGAN CHRONIC KIDNEY


DESEASE GRADE 5 et causa GLOMERULO NEFRITIS
CHRONIC,DIABETUS MELITUS TIPE 2,HIPERTENSI GRADE 2,ABSES
MANUS DEXTRA DAN ISCHEMIC HEART DESEASE
Athif Naufal, S. Ked J510225007

Pembimbing:
dr. Ardyasih, Sp. PD-KGH

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo
FK UMS
2024
Pendahuluan
 Chronic Kidney Disease (CKD) adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari 3
bulan, berdasarkan kelainan patologis atau petanda kerusakan ginjal seperti proteinuria. 1-6
Berbagai faktor yang mempengaruhi kecepatan kerusakan serta penurunan fungsi ginjal
dapat berasal dari genetik, perilaku, lingkungan maupun proses degeneratif.
 Diperkirakan 1 dari 3 orang dewasa di Amerika Serikat menderita hipertensi tanpa disertai
CKD sebesar 23,3%, hipertensi disertai CKD stage I sebesar 35,8%, hipertensi disertai
CKD stage 2 48,1%, hipertensi disertai CKD stage 3 59,9%, dan hipertensi disertai CKD
stage 4-5 84,1%

 prevalensi CKD tinggi dan tersedianya medikasi yang efektif, hanya sebagian kecil
pasien mencapai target pengobatan yang diharapkan. Banyak faktor yang
menyebabkan hal tersebut, salah satunya adalah tingkat kepatuhan minum obat
tidak adanya mosifikasi pola hidup pada pasien dengan ckd
LAPORAN
KASUS
Laporan Kasus - Identitas

Nama : Tn. B
Umur : 68 tahun
Jenis Kelamin : Laki laki
Agama : Islam
Alamat : Nguter
Status pekerjaan : tidak bekerja
Tanggal Rawat Inap: jumat 21 Maret 2024
Laporan Kasus - Anamnesis
 Keluhan Utama : sesak

 Riwayat Penyakit Sekarang


Seorang perempuan Tn B berusia 68 tahun datang ke IGD Ir. Soekarno
Sukoharjo pada tanggal 21 maret 2024 dengan keluhan sesak nafas,mual dan
muntah 1 kali dan terdapat luka di tangan kanan post amputasi. Keluhan lain seperti
nyeri ulu hati (-), pusing (+), demam (-), batuk (-), pilek (-), sesak napas (+), BAB
cair (-), mata berkunang-kunang (-), BAK normal
Penyakit Dahulu
 Riwayat serupa : disangkal Penyakit Keluarga
 Riwayat diabetes : diakui
 Riwayat serupa : disangkal
 Riwayat hipertensi : disangkal
 Riwayat hipertensi : disangkal
 Riwayat merokok : diakui
 Riwayat diabetes : disangkal
 Riwayat asam urat: disangkal
 Riwayat asam urat : disangkal
 Riwayat kolesterol : disangkal
Kebiasaan Sosioekonomi
 Sering merokok  Tinggal dengan anak dan cucu
 Tidak bekerja
 Biaya pengobatan dengan BPJS
Pemeriksaan Fisik

 Keadaan umum : sedang


 Kesadaran : Compos mentis

Tanda vital
 Tekanan darah : 195/86
 Frekuensi Nafas : 26x/ menit
 Frekuensi Nadi : 74x/ menit
 Suhu : 36oC
 SpO2 : 97% free air
Pemeriksaan Fisik - Generalis
 Paru
• Inspeksi : simetris kanan kiri, luka (-),
tumor (-), retraksi (-)
 Kepala : normocepal, konjungtiva
• Palplasi : fremitus normal kanan kiri,
anemis kanan kiri(-), sklera tidak
ketertinggalan gerak (-), tumor (-)
ikterik, telinga normal,
• Perkusi : sonor
hidung normal, pemeriksaan
• Auskultasi : SDV (+/+), Wh (+), Rh (-)
mulut ditemukan adanya
karies gigi, tenggorokan
 Jantung
dalam batas normal
• Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
 Leher : pembesaran KGB • Palpasi : Ictus cordis kuat angkat
(-), nyeri dan kaku leher (-) • Perkusi : Redup
• Auskultasi : Bunyi jantung I & II reguler,
murmur (-)
Pemeriksaan Fisik - Generalis

 Abdomen
• Inspeksi : simetris, tumor (-), luka
(-), distensi (-)
• Auskultasi : BU normal
• Palpasi : nyeri tekan epigastric (-)
• Perkusi : timpani

 Ekstremitas : akral hangat, oedem


(+)manus dextra sinistra, sianosis (-),
luka (-)
Pemeriksaan Penunjang
Darah Rutin 21/3/2024

Jenis Hasil Nilai


Pemeriksaan Pemeriksaan Normal
DARAH
LENGKAP
Leukosit 7.2(10ˆ3/µL) 3.6-11.0

Eritrosit 2.41(L)(10ˆ6/µL) 3.80-5.20

Hemoglobin (L) 6.7 g/dL 13.2-17.3

Hematokrit (L) 22.0% 35-47

MCV 91.3 fL 80-100

MCH 27.8 pg 26-34

MCHC (L) 30.5g/dL 32-37

Trombosit 246 (10ˆ/µl) 150-450


21/3/2024
DIFF COUNT
0-1
NRBC 0.00%
53-75
Neutrofil 73.3%
25-40
Limfosit (L) 12.6
2-8
Monosit 8.20(H
2.00-4.00
Eosinofil 5.10(H)
0-1
Basofil 0.80(H)
IG 0.10
<3.13
Rasio N/L 5.8
0.40
0.70
KIMIA KLINIK

GDS 97 mg/dL 70-120

Anti HCV NR

Ureum (H) 124.2 mg/dL 0 – 31

Creatinin (H) 7.10 mg/dL 0.50-0.90


HBs Ag NR
ANTI HIV NR
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Kesan : Cardiomegali
Corakan bronchovaskuler
Pemeriksaan Penunjang

EKG
21 Maret 2024
Diagnosis dan Tatalaksana
Dypsnea,chronic kidney desease,hipertensi,
Chronic heart failure,diabetes melitus.
• Infus martos 20 tpm
IGD • Inj ceftriaxone 1gr/12jam
• Infus martos 20 tpm • Inj ondancetron 1amp/8jam
• Inj ceftriaxone 1gr/12jam • Inj omeprazole 1amp/12jam
• Inj ondancetron 1amp/8jam • Nitrokaf 1x1
• Inj omeprazole 1amp/12jam • Candesartan 1x16
• Cek hbsag,anti HIV,anti HCV
• Cek urin,usg abdomen
• Raber paru
• Dr.Sp.P
• Ceftriaxone 2gr/12jam
• Metilprednisolon 40mg/12jam
• Resfar 1200mg/24jam
• Combivent + pulmicort /8jam
• Salbutamol 2x1
• cekTCM
Follow-Up
22/3/ 2024 S/ susah tidur tangan tremor Dr.Sp.PD
Infus martos 20 tpm
O/ KU: sedang, CM Inj ceftriaxone 1 gr/12jam
KU:Compos Mentis; TD : 175/88mmHg; HR: 81x/menit; Inj omeprazole 40mg/12jam
RR: 20 x/menit; T: 36,80C; SpO2 : 96% free air Inj ondancetron 1 amp/8jam
Nitrokaf 1x1
K/L : normocephal, mata cowong (-/-), CA (-/-), SI (-/-), Candesartan 1x16 mg
PKGB(-/-) Cek hbsag,anti HIV,anti HCV, daftar
Thorax Paru : Simetris, retraksi (-/-), fremitus kanan kiri sama, HD
sonor, SDV (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (+/+) Usg abdomen,cek urin raber paru
Jantung : iktus kordis tidak tampak, teraba ictus cordis di SIC 5 PRC 3 colf : 1 colf dibangsal extra
mid clavicula sinistra, batas jantung normal, BJ I/II regular, bising furosemide dan 2 colf durante hd,cek
(-) ureum dan creatin post hd
Abdomen : nyeri tekan episgastrik (-), perut distended (-), Dr.Sp.P
simetris, bekas luka (-), bising usus normal Ceftriaxone 2gr/12jam,cek TCM
Ekstremitas: CRT<2 detik, sianosis (-/-/-/-), edema (+/+/-/-/) Matilprednisolon40mg/12jam
Resfar 1200mg/24jam
A/ Combivent+pulmicort /8jam
Ckd,gr 5 ec GNC,DM 2 NO,HT gr 2, abses manus dextra,IHD Sucralfat syr 2x1,
+/
Levofloxacin 500mg/24jam
Ceftriaxone 2gr/12jam
Resfar ,metilprednisolon dan
salbutamol
USG Abdomen

Menyokong gbr ckd bilateral dengan


ukuran ren dextra 9.06x5.15, ren
sinistra 9.97x4.42
Efusi pleura bilateral
Ascites ,inimal
Gbr pembearan prostat dengan
cyctitis
Cek laboratorium
22/3/2024 11.50
Jenis Hasil Nilai
Pemeriksaan Pemeriksaan Normal
DARAH
LENGKAP
Leukosit 19.3 (H)(10ˆ3/µL) 3.6-11.0

Eritrosit 3.53(L)(10ˆ6/µL) 3.80-5.20

Hemoglobin (L) 10.1 g/dL 13.2-17.3

Hematokrit (L) 30.5 % 35-47

MCV 86.4 fL 80-100

MCH 28.6 pg 26-34

MCHC (L) 33.1.5g/dL 32-37

Trombosit 250 (10ˆ/µl) 150-450


KIMIA KLINIK

TCM (-) -

Anti HCV -

Ureum (H) 75.0 mg/dL 0 – 31

Creatinin (H) 4.50 mg/dL 0.50-0.90


HBs Ag -
ANTI HIV -
Hitung CCT
Clearance creatinin ( ml/ menit ) = ( 140-umur ) x berat
badan ( kg ) dibagi 72 x creatini serum

serum Pada wanita hasil tersebut dikalikan dengan 0,85

(140-68) x 66x1 dibagi 72 x 7.10


= 4896 : 511,2
= 9,57
Follow-Up
23/3/ 2024 lemes,sesak berkurang dan mual berkurang +/dr.Sp.PD
Gds : 224 Terapi lanjut
TCM (-) Novorapid 6-6-4
O/ KU: sedang, CM Cek GDN 2 PP
KU:Compos Mentis; TD : 178/94 mmHg; HR: 83x/menit;
RR: 20 x/menit; T: 37; SpO2 : 96% free air Dr.Sp.P
Senin RO ulang
K/L : normocephal, mata cowong (-/-), CA (-/-), SI (-/-), Ramuan batuk 3x11
PKGB(-/-) Erphafilyn 3x50mg
Thorax Paru : Simetris, retraksi (-/-), fremitus kanan kiri sama,
sonor, SDV (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung : iktus kordis tidak tampak, teraba ictus cordis di SIC 5
mid clavicula sinistra, batas jantung normal, BJ I/II regular, bising
(-)
Abdomen : nyeri tekan episgastrik (+), perut distended (-),
simetris, bekas luka (-), bising usus normal
Ekstremitas: CRT<2 detik, sianosis (-/-/-/-), edema (-/+/-/-/)

A/
Ckd,gr 5 ec GNC,DM 2 NO,HT gr 2, abses manus dextra,IHD
Follow-Up
24/3/ 2024 S/ lemes sudah tidak ,sesak dan mual berkurang Tx lanjut
Gdp : 187 Besok cek gds
Gula darah 2 jam PP : 187
O/ KU: sedang, CM
KU:Compos Mentis; TD : 191/101 mmHg; HR: 92x/menit;
RR: 20 x/menit; T: 36,2 C; SpO2 : 98% free air
0

K/L : normocephal, mata cowong (-/-), CA (-/-), SI (-/-),


PKGB(-/-)
Thorax Paru : Simetris, retraksi (-/-), fremitus kanan kiri sama,
sonor, SDV (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung : iktus kordis tidak tampak, teraba ictus cordis di SIC 5
mid clavicula sinistra, batas jantung normal, BJ I/II regular, bising
(-)
Abdomen : nyeri tekan episgastrik <<(+), perut distended (-),
simetris, bekas luka (-), bising usus normal
Ekstremitas: CRT<2 detik, sianosis (-/-/-/-), edema (-/-/-/-/)

A/
Ckd,gr 5 ec GNC,DM 2 NO,HT gr 2, abses manus dextra,IHD
KIMIA KLINIK

Gula Darah Puasa 187mg/dL -

Gula Darah 2jam PP 187mg/dL

-
-
25/3/ 2024 S/ lemes berkurang,sempat gemetar seluruh badanya Tx lanjut
Advice Visit:
O/ KU: sedang, CM
KU:Compos Mentis; TD : 185/92 mmHg; HR: 72x/menit;
RI 6-6-4-diganti glicuidone
RR: 20 x/menit; T: 36,50C; SpO2 : 97% free air Cek ur,cr

K/L : normocephal, mata cowong (-/-), CA (-/-), SI (-/-), Dr.Sp.P


PKGB(-/-) Hasil RO : TB
Thorax Paru : Simetris, retraksi (-/-), fremitus kanan kiri sama, R/H/E
sonor, SDV (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung : iktus kordis tidak tampak, teraba ictus cordis di SIC 5
mid clavicula sinistra, batas jantung normal, BJ I/II regular, bising
(-)
Abdomen : nyeri tekan episgastrik <<(+), perut distended (-),
simetris, bekas luka (-), bising usus normal
Ekstremitas: CRT<2 detik, sianosis (-/-/-/-), edema (-/-/-/-/)

A/
Ckd,gr 5 ec GNC,DM 2 NO,HT gr 2, abses manus dextra,IHD
TINJAUAN
PUSTAKA
Definisi

● Chronic kidney diseases adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari 3
bulan, berdasarkan kelainan patologis atau petanda kerusakan ginjal seperti
proteinuria. Jika tidak ada tanda kerusakan ginjal, diagnosis penyakit ginjal
kronik ditegakkan jika nilai laju filtrasi glomerulus kurang dari 60 ml/
menit/1,73m².2,3,11-13 Pada kasus ini pasien didiagnosa Chronic Kidney Disease
Stage V berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Epidemiologi

 Penelitian mencatat bahwa 35% hingga 65% dari


penderita hipertensi esensial berkembang menjadi
proteinuria, dengan satu pertiganya berkembang
menjadi insufisiensi ginjal dan 6 hingga 10%
meninggal akibat uremia, Prevalensi CKD
dikarakteristikan lebih baik sejak National Kidney
Foundation mengeluarkan klasifikasi standar
berdasarkan tingkat Glomerular Filtration Rate
(GFR) dan ada atau tidaknya bukti renal injury
Etiologi
 Infeksi misalnya pielonefritis kronik, glomerulonefritis
 Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna,
stenosis arteria renalis
 Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis
nodosa,sklerosis sistemik progresif
 Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik,asidosis tubulus
ginjal •
 Penyakit metabolik misalnya DM,gout,hiperparatiroidisme,amiloidosis •
 Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati timbal •
 Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma, fibrosis
netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat, striktur uretra, anomali
kongenital pada leher kandung kemih dan uretra. •
 Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasi
P
A
T
O
F
I
S
I
O
L
O
G
I
Klasifikasi
 Klasifikasi Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium :
 - Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal, pada stadium kadar kreatinin
serum normal dan penderita asimptomatik.
 - Stadium 2 : insufisiensi ginjal, dimana lebihb dari 75 % jaringan telah
rusak, Blood Urea Nitrogen ( BUN ) meningkat, dan kreatinin serum
meningkat.
 - Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia.

 K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari


tingkat penurunan LFG :
 - Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten
dan LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2
 - Stadium 2 : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara
60-89 mL/menit/1,73 m2
 - Stadium 3 : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1,73m2
 - Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 15- 29mL/menit/1,73m2
 - Stadium5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1,73m2 atau gagal
ginjal terminal.
Manifestasi Klinis
 A.Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan
berkurang, mudah tersinggung, depresi
 B. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau
sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan,
pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah.

 hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin -
angiotensin – aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat
cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh
toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang,
perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).

 Gangguan kardiovaskuler
 Gannguan Pulmoner
 Gangguan gastrointestinal
 Gangguan muskuloskeletal
 Gangguan Integumen
 Gangguan endokrim
Diagnosis
ANAMNESIS
• Penurunan curah jantung 2. Gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit 3. Perubahan nutrisi 4. Perubahan pola nafas 5. Gangguan
perfusi jaringan 6. Intoleransi aktivitas 7. kurang pengetahuan
tentang tindakan medis 8. resti terjadinya infeksi

FAKTOR RISIKO
● Diabetes ● Struktur ginjal yang tidak
● Tekanan darah tinggi normal
● Penyakit jantung atau kardiovaskular lainnya
● Usia yang lebih tua
● Merokok ● Penggunaan obat-obatan yang
● Obesitas dapat merusak ginjal
● Riwayat penyakit ginjal pada keluarga
Diagnosis Banding

• Sindrom Hemolitik-Uremik
• Penyakit Ginjal Kronis
• Gangguan perfusi jaringan
• Hipertensi
• Diabetus Melitus
T CKD dibagi tiga yaitu :
A a) Konservatif - Dilakukan pemeriksaan lab.darah dan urin
- Observasi balance cairan - Observasi adanya odema -
T Batasi cairan yang masuk
A b) b) Dialysis - peritoneal dialysis biasanya dilakukan pada
kasus – kasus emergency. Sedangkan dialysis yang
L bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut
A adalah CAPD ( Continues Ambulatori Peritonial
Dialysis ) Hemodialisis Yaitu dialisis yang dilakukan
K melalui tindakan infasif di vena dengan menggunakan
S mesin. Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui
daerah femoralis namun untuk mempermudah maka
A dilakukan : - AV fistule : menggabungkan vena dan
N arteri - Double lumen : langsung pada daerah jantung
( vaskularisasi ke jantung )
A c) Operasi - Pengambilan batu - transplantasi ginjal
Komplikasi

Penumpukan cairan pada bagian tubuh (edema) atau organ dalam, termasuk di paru-
paru (edema paru)Hiperkalemia, yaitu tingginya kadar kalium dalam darah yang dapat
mengganggu fungsi jantung, bahkan bisa menyebabkan henti jantungAsidosisAnemia
berkepanjangan
Kerusakan sistem saraf pusat, yang dapat menimbulkan gangguan mulai dari sulit
berkonsentrasi hingga perubahan kepribadian atau kejangPenurunan daya tahan
tubuh sehingga penderita rentan terserang infeksiPerikarditis atau peradangan pada
perikardium (lapisan yang menyelimuti jantung)Tulang menjadi lemah dan rentan
patahDisfungsi ereksi atau penurunan kesuburan pada pria
Prognosis

Prognosis penyakit ginjal kronis tergantung pada


komorbiditas yang dimiliki pasien, usia, dan laju filtrasi
glomerulus. Pasien dengan penyakit ginjal kronis umumnya
mengalami penurunan fungsi ginjal secara progresif dan
berisiko mengalami penyakit ginjal stadium akhir.[20,25]
Deteksi dini dari penyakit ginjal kronis, penanganan yang
tepat pada penyakit yang mendasari ataupun penyakit
komorbid, serta inisiasi tepat waktu dalam penerapan terapi
pengganti ginjal kronis sangat penting untuk mencegah
komplikasi pada penyakit ginjal kronis yang dapat
menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan
Pembahasan

ANAMNESIS : sesak mualdan muntah 1 kali, serta ada luka ditangan post
amputasi Pasien memiliki kebiasaan dulunya merokok

PEMFIS : Konjugtiva anemis mata kanan dan kiri (-)tidak terdapat nyeri

PENUNJANG : Penurunan Hb atau anemia, gambaran darah tepi


didapatkan kadar ureum dan creatinine tinggi, EKG didapatkan sinus
ritme .
Pembahasan

TERAPI : sudah sesuai dengan penyakit pasien.

PROGNOSIS : Prognosis penyakit ginjal kronis tergantung pada komorbiditas yang


dimiliki pasien, usia, dan laju filtrasi glomerulus
TERIMAKASIH
Thank You!!

Anda mungkin juga menyukai