Anda di halaman 1dari 56

NASKAH AKADEMIS

RANPERDA BANGUNAN GEDUNG KOTA LANGSA


TAHUN 2011

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

ABSTRAK
Kenyataan yang ada, sebagian besar Peraturan Daerah (Perda) atau Qanun pada saat ini memuat pengaturan yang terkandung lebih bersifat administratif, sedang pengaturan persyaratan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung sangat kurang, bahkan ada yang secara khusus hanya mengatur tentang retribusi sebagai salah satu sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah). Untuk menjamin kepastian dan ketertiban hukum dalam penyelenggaraan bangunan gedung, setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung. Bangunan gedung sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak, perwujudan produktivitas, dan jati diri manusia. Karena itu perlu diatur dan dibina demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan serta penghidupan masyarakat untuk mewujudkan bangunan gedung yang andal, berjati diri, serta seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya. Berdasarkan prinsip desentralisasi dan otonomi luas yang dianut oleh UU No. 32/2004, Pemerintah hanya menjalankan lima kewenangan, dan diluar lima kewenangan itu menjadi kewenangan daerah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, daerah Kabupaten/Kota perlu segera melakukan penyusunan Qanun tentang Bangunan Gedung, yang dapat digunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan gedung, sehingga maksud dan tujuan pengaturan bangunan gedung di daerah dapat terwujud dengan baik. Fenomena yang perlu dicermati dalam kaitan dengan pengelolaan bangunan gedung ditinjau dari segi keberadaan, persyaratan administrasi, maupun teknisnya. Pertama, adalah permintaan terhadap bangunan gedung dari berbagai sektor kehidupan semakin meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk di seluruh wilayah.

Kedua, regulasi yang berkaitan dengan bangunan gedung terutama di tingkat daerah
Kabupaten/Kota, muatan pengaturan yang terkandung lebih bersifat administratif, sedang pengaturan persyaratan teknis sangat kurang.

Ketiga, teknik penyusunan regulasi belum mengikuti teknik Penyusunan Peraturan Peraturan
perundang-undangan sebagaimana diatur dalam Lampiran Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Peraturan perundang-undangan.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG

UndangUndang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung perlu ditindaklanjuti oleh daerah Kabupaten/Kota dengan menyusun Qanun tentang Bangunan Gedung. Sesuai dengan ketentuan Pasal 12 UndangUndang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan, materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan PerundangUndangan yang lebih tinggi. Pada kenyataannya, sebagian besar Qanun pada saat ini memuat pengaturan yang terkandung lebih bersifat pada masalah administratif, sedang muatan pengaturan persyaratan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung sangat kurang, bahkan ada Qanun yang secara khusus hanya mengatur tentang retribusi sebagai salah satu sumber PAD padahal pengaturan teknis merupakan hal yang sangat penting untuk dapat mewujudkan penyelenggaraan bangunan gedung yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik daerah. Hal ini khususnya banyak terjadi pada Kabupaten/Kota yang memiliki Qanun sebelum disahkannya UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung. Bangunan gedung sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak, perwujudan produktivitas, dan jati diri manusia. Karena itu, penyelenggaraan bangunan gedung perlu diatur dan dibina demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan serta penghidupan masyarakat, sekaligus untuk mewujudkan bangunan gedung yang andal, berjati diri, serta seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya. Bangunan gedung merupakan salah satu wujud fisik pemanfaatan ruang, oleh karena itu, pengaturan bangunan gedung tetap mengacu pada pengaturan penataan ruang sesuai dengan Peraturan PerundangUndangan. Untuk menjamin kepastian dan ketertiban hukum dalam penyelenggaraan bangunan gedung, setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung. PP No. 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung dimaksudkan sebagai pengaturan lebih lanjut pelaksanaan UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung, baik dalam pemenuhan persyaratan yang diperlukan dalam penyelenggaraan bangunan gedung, maupun dalam pemenuhan tertib penyelenggaraan bangunan gedung. Peraturan ini mengatur halhal yang bersifat pokok dan normatif mengenai penyelenggaraan bangunan gedung sedangkan ketentuan pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan PerundangUndangan dan salah satunya adalah Qanun dengan tetap mempertimbangkan ketentuan dalam Peraturan PerundangUndangan lain yang terkait.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

Peraturan tentang bangunan gedung bertujuan untuk mewujudkan penyelenggaraan bangunan gedung yang tertib, baik secara administratif maupun secara teknis, agar terwujud bangunan gedung yang fungsional, andal, yang menjamin keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan pengguna, serta serasi dan selaras dengan lingkungannya. Peraturan ini mengatur ketentuan pelaksanaan tentang fungsi bangunan gedung, persyaratan bangunan gedung, penyelenggaraan bangunan gedung, peran masyarakat dalam penyelenggaraan bangunan gedung, dan pembinaan dalam penyelengaraan bangunan gedung. UU No. 28/2002 tentang bangunan gedung mengusung nilai demokrasi substansial yang bersifat universal seperti akuntabilitas, transparansi dan partisipasi. Tentu banyak pihak menerima nilainilai universal ini, mengingat bangunan gedung mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak, perwujudan produktivitas, dan jati diri manusia. Tetapi masih perlu dipertanyakan bagaimana mensinergikan nilainilai universal tersebut dengan kondisi lokal, apakah orangorang lokal mampu memaknai roh akuntabilitas, transparansi dan partisipasi dengan cara pandang lokal, atau adakah nilainilai dan kearifan lokal yang bisa diangkat untuk memberi makna dan simbol akuntabilitas, transparansi dan partisipasi. Untuk itu penyusunan Qanun yang mampu menampung nilainilai dan kearifan lokal perlu segera disusun dengan mengingat bahwa tujuan besar otonomi daerah adalah membangun kesejahteraan rakyat. Pemerintah Daerah mempunyai kewajiban dan tanggungjawab besar meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui kewenangan besar dan keuangan yang dimilikinya. Desain pengaturan fungsi bangunan gedung yang tertuang dalam UU No. 28/2002 dan PP No 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung dimaksudkan agar bangunan gedung yang didirikan dari awal telah ditetapkan fungsinya sehingga masyarakat yang akan mendirikan bangunan gedung dapat memenuhi persyaratan baik administratif maupun teknis bangunan gedungnya dengan efektif dan efisien, sehingga apabila bermaksud mengubah fungsi yang ditetapkan harus diikuti dengan perubahan persyaratan administratif maupun teknisnya. Di samping itu, agar pemenuhan persyaratan teknis setiap fungsi bangunan gedung lebif efektif dan efisien, fungsi bangunan gedung tersebut diklasifikasikan berdasarkan tingkat kompleksitas, tingkat permanensi, tingkat resiko kebakaran, zonasi gempa, lokasi, ketinggian, dan/atau kepemilikan. Desain pengaturan persyaratan administratif yang tertuang dalam UU No. 28/2002 dimaksudkan agar masyarakat mengetahui lebih rinci persyaratan administratif yang diperlukan untuk mendirikan bangunan gedung, baik dari segi kejelasan status tanahnya, kejelasan status kepemilikan bangunan gedungnya, maupun kepastian hukum bahwa bangunan gedung yang didirikan telah memperoleh persetujuan dari Pemerintah Daerah dalam bentuk izin mendirikan bangunan gedung. Desain kejelasan hak atas tanah yang tertuang dalam UU No. 28/2002 adalah persyaratan mutlak dalam mendirikan bangunan gedung, meskipun dimungkinkan adanya bangunan gedung yang didirikan di atas tanah milik orang/pihak lain, dengan perjanjian. Dengan demikian kepemilikan bangunan gedung dapat berbeda dengan kepemilikan tanah,
Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

sehingga perlu adanya pengaturan yang jelas dengan tetap mengacu pada Peraturan PerundangUndangan tentang kepemilikan tanah. Pelayanan proses dan pemberian izin mendirikan bangunan gedung yang transparan, adil, tertib hukum, partisipatif, tanggap, akuntabilitas, efisien dan efektif, serta profesional, merupakan wujud pelayanan prima yang harus diberikan oleh Pemerintah Daerah. Desain pengaturan persyaratan teknis yang tertuang dalam UU No. 28/2002 mengatur lebih lanjut tentang persyaratan teknis tata bangunan dan keandalan bangunan gedung, agar masyarakat dalam mendirikan bangunan gedung mengetahui secara jelas persyaratanpersyaratan teknis yang harus dipenuhi sehingga bangunan gedungnya dapat menjamin keselamatan pengguna dan lingkungannya, dapat ditempati secara aman, sehat, nyaman, dan aksesibel, sehinggga secara keseluruhan dapat memberikan jaminan terwujudnya bangunan gedung yang fungsional, layak huni, berjati diri, dan produktif, serta serasi dan selaras dengan lingkungannya. Landasan pengaturan bangunan gedung adalah kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan, dan keserasian bangunan gedung dan lingkungannya bagi masyarakat yang berperikemanusiaan dan berkeadilan. Oleh karena itu, masyarakat diupayakan untuk terlibat dan berperan aktif, positif, konstruktif dan bersinergi bukan hanya dalam rangka pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi juga dalam meningkatkan pemenuhan persyaratan bangunan gedung dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung pada umumnya. Pelaksanaan peran masyarakat yang diatur juga tetap mengacu pada Peraturan PerundangUndangan tentang organisasi kemasyarakatan, sedangkan pelaksanaan gugatan perwakilan yang merupakan salah satu bentuk peran masyarakat dalam penyelenggaraan bangunan gedung juga mengacu pada Peraturan PerundangUndangan yang terkait dengan gugatan perwakilan. Pengaturan peran masyarakat dimaksudkan untuk mendorong tercapainya tujuan penyelenggaraan bangunan gedung yang tertib, fungsional, andal, dapat menjamin keselamatan, kesehatan, kenyamanan, kemudahan bagi pengguna dan masyarakat di sekitarnya, serta serasi dan selaras dengan lingkungannya. Pengaturan penyelenggaraan pembinaan dimaksudkan sebagai ketentuan dasar pelaksanaan bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam melakukan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung dengan berlandaskan prinsipprinsip tata pemerintahan yang baik. Pembinaan dilakukan untuk pemilik bangunan gedung, pengguna bangunan gedung, penyedia jasa konstruksi, maupun masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan untuk mewujudkan tertib penyelenggaraan dan keandalan bangunan gedung yang memenuhi persyaratan administratif dan teknis, serta yang dilaksanakan dengan penguatan kapasitas penyelenggara bangunan gedung. Penyelenggaraan bangunan gedung tidak terlepas dari peran penyedia jasa konstruksi baik sebagai perencana, pelaksana, pengawas atau manajemen konstruksi maupun jasajasa pengembangannya, termasuk penyedia jasa pengkaji teknis bangunan gedung, dan pelaksanaannya juga berdasarkan Peraturan PerundangUndangan di bidang jasa konstruksi.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

Penegakan hukum menjadi bagian yang penting dalam upaya melindungi kepentingan semua pihak agar memperoleh keadilan dalam hak dan kewajibannya dalam penyelenggaraan bangunan gedung. Penegakan dan penerapan sanksi administratif perlu dimasyarakatkan dan diterapkan secara bertahap agar tidak menimbulkan ekses di lapangan, dengan tetap mempertimbangkan keadilan dan ketentuan PerundangUndangan lain. Mengenai sanksi pidana, tata cara pengenaan sanksi pidana dilaksanakan dengan tetap mengikuti ketentuan Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana. Memasuki era otonomi daerah kegiatan pembangunan bangunan gedung di Kabupaten/Kota terus meningkat baik kuantitas, kualitas, maupun kompleksitasnya. Fenomena yang berlangsung sejalan dengan kebijakan otonomi daerah tersebut terlihat adanya kecenderungan daerah untuk berusaha meningkatkan Pendapat Asli Daerah (PAD), antara lain dengan menarik investor sebanyak mungkin. Dengan semakin meningkatnya kegiatan pembangunan, bertambahnya jumlah investor di daerah yang berkiprah dalam kegiatan pembangunan tanpa ditunjang Peraturan Perundangan yang memadai, dikhawatirkan tingkat laju pembangunan (pertumbuhan) bangunan gedung yang tidak memenuhi persyaratan baik administratif maupun persyaratan teknis akan semakin tinggi. Meningkatnya kegiatan pembangunan bangunan gedung di Kabupaten/Kota perlu diantisipasi dengan menyusun suatu regulasi tentang pengaturan pembangunan bangunan gedung yang seimbang antara pengaturan yang bersifat administratif dan teknis sehingga proses pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung dapat berlangsung tertib dan terwujud bangunan gedung yang memenuhi asas kemanfaatan, keseimbangan, serta keserasian bangunan gedung dengan lingkungannya. Keterbatasan kapasitas Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan arahan terwujudnya bangunan gedung yang dapat menjamin terpenuhinya ketiga asas tersebut di atas, baik melalui mekanisme perizinan maupun pengawasan tentu saja memerlukan suatu regulasi/kebijakan yang dapat dituangkan dalam suatu bentuk Qanun. Berdasarkan prinsip desentralisasi dan otonomi luas yang dianut oleh UU No. 32/2004, Pemerintah hanya menjalankan lima kewenangan, dan diluar lima kewenangan itu menjadi kewenangan daerah. Dengan demikian konsepsi dasar yang dianut UU No. 32/2004, otonomi berhenti di Kabupaten/Kota. Untuk mengantisipasi hal tersebut, daerah Kabupaten/Kota perlu segera melakukan penyusunan Qanun tentang Bangunan Gedung, yang dapat digunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan gedung, sehingga maksud dan tujuan pengaturan bangunan gedung di daerah dapat terwujud dengan baik.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

Materi Qanun Kabupaten/Kota yang diamanatkan oleh UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung Amanat dari Pasal Pasal 6 Ayat 2 dan 3 Domain Wewenang Peraturan Daerah Penetapan Fungsi Bangunan Gedung Perubahan Fungsi Bangunan Gedung Persyaratan Administratif dan Teknis Bangunan Gedung Pendataan bangunan gedung untuk keperluan tertib pembangunan dan pemanfaatan Persyaratan tata bangunan dan Lingkungan Pedoman PP 36/2005

Materi Fungsi Bangunan Gedung

Pasal 7 Ayat 5

Persyaratan Bangunan Gedung

PP 36/2005 Permen PU 29/PRT/M/2006 Perda IMB PP 36/2005

Pasal 8 Ayat 3

Persyaratan Adminitratif Bangunan Gedung

Pasal 9 Ayat 2

Persyaratan Tata Bangunan

PP 36/2005 Permen PU 06/PRT/M/2007 Perda RTBL PP 36/2005 Perda RTRW Perda RDTR

Pasal 10 Ayat 2

Persyaratan Peruntukan dan Intensitas Gedung

Pasal 36 Ayat 1

Penyelenggaraan Bangunan Gedung

Pasal 38 Ayat 2

Pelestarian

Kewajiban Pemerintah Daerah dalam penyediaan informasi tentang persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung bagi masyarakat Pengesahan rencana teknis bangunan gedung untuk kepentingan umum setelah mendapat pertimbangan teknis dari tim ahli Penetapan bangunan gedung dan lingkungan yang dilestarikan dan dilindungi

PP 36/2005 Permen PU 29/PRT/M/2006 Permen PU 45/PRT/M/2007

PP 36/2005

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

8
Bangunan gedung yang dapat dibongkar berdasarkan hasil pengkajian teknis Pelaksanaan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung untuk meningkatkan pemenuhan persyaratan dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung. PP 36/2005

Pasal 39 Ayat 2

Pembongkaran

Pasal 43 Ayat 2

Pembinaan

PP 36/2005

1.2. IDENTIFIKASI MASALAH Ada tiga fenomena penting yang perlu dicermati dalam kaitan dengan pengelolaan bangunan gedung baik ditinjau dari segi keberadaannya, persyaratan administrasi, maupun teknisnya. Pertama, adalah permintaan terhadap bangunan gedung dari berbagai sektor kehidupan semakin meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk di seluruh wilayah. Hal ini akan menimbulkan tingkat laju pembangunan bangunan gedung yang semakin tinggi pula. Kedua, regulasi yang berkaitan dengan bangunan gedung terutama di tingkat daerah Kabupaten/Kota pada saat ini muatan pengaturan yang terkandung lebih bersifat pada masalah administratif, sedang muatan pengaturan persyaratan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung sangat kurang, bahkan ada regulasi yang secara khusus hanya mengatur tentang retribusi sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Ketiga, dari segi teknik penyusunan regulasi yang ada belum mengikuti teknik Penyusunan Peraturan Perundangundangan sebagaimana diatur dalam Lampiran UndangUndang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. Ketiga fenomena tersebut mengindikasikan semakin meningkatnya kompleksitas penyelenggaraan bangunan gedung sehingga diperlukan adanya keterpaduan dalam pengelolaan berupa penyusunan kebijakan.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

1.2.1. Sejarah Pembentukan Kota Langsa a. Zaman Pra Kemerdekaan Perjuangan Masa Penjajahan Jepang Pada tanggal 12 maret 1942, pasukan tentara Jepang mendarat dipantai Kuala Bugak Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur, selanjutnya menyebar seluruh penjuru Aceh Timur dan sekitarnya. Masa penjajahan Jepang walaupun tidak berlangsung lama namun membawa akibat penderitaan yang cukup memprihatinkan, seluruh rakyat hidup dalam kondisi kurang pangan dan sandang disertai dengan perlakuan kasar dari bala tentara Jepang terhadap rakyat yang tidak manusiawi, akibatnya timbullah perlawanan/ pemberontakan rakyat. Setelah Hirosima dan Nagasaki di bom atom oleh pasukan sekutu pada tanggal 10 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat, atas inisiatif dari pemuka-pemuka masyarakat di Langsa, Idi dan beberapa kota lainnya, mengadakan permusyawaratan untuk melakukan perlawanan terhadap bala tentara Jepang secara bersama dan terkoordinir. Dibawah pimpinan Oesman Adamy (O.A) dan dibantu oleh sejumlah pemuda yang begitu bersemangat, mengerahkan rakyat disetiap kota guna menyerbu tangsi Jepang. Pada penyerbuan pagi hari, tanggal 5 Desember 1945 rakyat berhasil merebut sejumlah senjata, peluru dan amunisi, kemudian pada tanggal 8 Desember 1945 dibawah pimpinan Mayor Bachtiar juga rakyat mampu merebut senjata, peluru dan amunisi, selanjutnya kesemua rampasan senjata tersebut dibagikan kepada rakyat/pemuda yang dikenal dengan nama Angkatan Pemuda Indonesia (A.P.I) dibentuk pada awal oktober 1945, atas prakarsa pemuda bekas tentara jepang yang bergabung dalam GIU GUN, HEIHO, TOKOBETSU dan lain-lain. Sejalan dengan lahirnya API di Aceh, maka secara nasional di Jakarta diresmikan suatau organisasi kemiliteran dengan nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal bakal TNI sekarang. setelah tentara Jepang kalah perang dan menyerah tanpa syarat kepada sekutu, mereka ditarik ke daerah Sumatera Utara dipusatkan di Medan. Pada tanggal 18 Desember 1945 tentara Jepang mengadakan penyerbuan ke Aceh Timur dengan persenjataan yang serba lengkap, namun tetap mendapat perlawanan dari rakyat dan TKR dengan menghadangnya didaerah Halaban Sumatera Utara, pada pertempuran ini tentara Jepang tidak sampai ke Aceh Timur dan kembali ke Medan. Berselang satu minggu, yaitu tanggal 24 Desember 1945 tentara Jepang kembali mengadakan penyerbuan disertai jumlah personil yang lebih besar dengan persenjataan yang lebih lengkap, dipimpin oleh seorang jenderal Nakamura.

Kekuatan senjata yang tidak seimbang, mengakibatkan tidak mampunya pasukan TKR dan rakyat menghadapi bala tentara Jepang diperbatasan Sumatera Utara - Aceh. Didasari semangat juang rakyat begitu tinggi, maka pasukan bala tentara Jepang tetap mendapat
Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

10

perlawanan sepanjang jalan raya antara Kuala Simpang - Langsa (Meudang Ara, Bukit Meutuah, Sei Lueng) dibawah pimpinan Mayor Bachtiar. Perlawanan yang dilakukan oleh pasukan TKR dan rakyat begitu gigihnya, sehingga sejumlah pasukan TKR dan rakyat gugur, terpaksa pasukan TKR dan rakyat mundur sampai dipertahanan Bukit Rata, Bukit Meutuah dan Batu Putih daerah Sungai Lueng. Pasukan Jepang terus bergerak maju sampai ke Titi Kembar. Di Titi Kembar kembali mendapat perlawanan rakyat dengan memasang rintangan dari pepohonan disepanjang jalan, tujuannya adalah menghambat lajunya gerakan tentara Jepang memasuki Kota Langsa. Disaat tentara Jepang membuka rintangan, rakyat melakukan penyerangan dengan persenjataan yang lengkap, terpaksa pasukan rakyat mundur ke daerah perkampungan, sementara pasukan Jepang terus bergerak maju ke Kota Langsa. Pasukan rakyat yang mundur sebagian menuju ke arah Selatan sampai ke Kebun Lama dan sebagian lagi ke arah Utara dan berkumpul di Meunasah Sei.Pauh dalam keadaan lapar dahaga. Dalam pemeriksaan pasukan TKR dan rakyat diketahui beberapa anggota Palang Merah tidak hadir diduga mereka telah gugur. Kenyataannya benar bahwa komandan pasukan Palang Merah (Sdr. Mansur Bahar) bersama beberapa orang anggotanya tewas dalam kontak senjata disekitar Batu Putih-TitiKembar. Semangat Patriotisme rakyat untuk mengusir penjajah cukup meluap-luap walaupun dengan pengorbanan harta dan nyawa, hal ini terbukti beberapa hari setelah peristiwa di Titi Kembar pasukan TKR dan rakyat kembali bergabung di Birem Bayeun ( 5 Km dari Kota Langsa arah ke Barat), dipimpin oleh Kapten Hanafiah dan Tgk. Ismail Usman merencanakan penyerbuan ke Kota Langsa. Dalam perjalanan menuju ke Kota Langsa mendapat informasi bahwa tentara Jepang telah meninggalkan Kota Langsa menuju Medan dengan membawa seluruh perbekalan. Pasukan TKR dan rakyat terus melanjutkan perjalanan memasuki Kota Langsa langsung ke pendopo dan bermarkas di pendopo. Setelah situasi normal seluruh pasukan dikembalikan ke induk pasukannya masing-masing. b. Zaman Pasca Kemerdekaan Sebelum Ditetapkan Menjadi Kota, Langsa Adalah Bagian Dari kabupaten Aceh Timur Yang Ibukota Kabupatennya adalah langsa dan Merupakan Kota Administratif Yang Dibentuk Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1991 Tanggal 22 Oktober 1991, dan Diresmikan Oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Pada Tanggal 2 April 1992. Kemudian, sesuai dengan perkembangan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam baik dari segi Budaya, Politik dan Ekonomi, Propinsi ini Semakin Dituntut Mengembangkan diri, Khususnya dari segi Pemerintahan sehingga pada Tahun 2001 terbentuklah Kota Langsa yang merupakan Pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2001 pada tanggal 21 Juni 2001 dan Peresmiannya dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 17

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

11

Oktober 2001 Oleh Menteri dalam Negeri Atas Nama Presiden Republik Indonesia, Pejabat Walikota Pertama Yaitu H. Azhari Aziz, SH, MM yang dilantik Oleh Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam pada Tanggal 2 Nopember 2001 di Banda Aceh. Dan sebagai Walikota Definitif Hasil Pilkadasung 2006 adalah Drs. Zulkifli Zainon, MM yang dilantik oleh Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 14 Maret 2007 di Langsa. Pada awal terbentuknya Kota Langsa terdiri dari 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Langsa Barat, Kecamatan Langsa Kota dan Kecamatan Langsa Timur dengan Jumlah Desa Sebanyak 45 Desa (Gampong) dan 6 Kelurahan. Kemudian dimekarkan menjadi 5 Kecamatan Berdasarkan Qanun Kota Langsa No 5 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kecamatan Langsa lama dan Langsa Baro. c. Pemekaran Wilayah Kota Langsa Pada awal terbentuknya Kota Langsa terdiri dari 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Langsa Barat, Kecamatan Langsa Kota dan Kecamatan Langsa Timur dengan Jumlah Desa Sebanyak 45 Desa (Gampong) dan 6 Kelurahan. Kemudian dimekarkan menjadi 5 Kecamatan Berdasarkan Qanun Kota Langsa No 5 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kecamatan Langsa lama dan Langsa Baro. Mulai Tahun 2011 Gampong di Kota Langsa kini bertambah sebanyak 15 gampong hasil pemekaran gampong yang telah ada berdasarkan Qanun Kota Langsa No. 4 Tahun 2010, sehingga jumlah Gampong di Kota Langsa Kini berjumlah 66. Qanun Kota Langsa No.4 Tahun 2010 merupakan pengganti Qanun Kota Langsa Tahun 2008, dalam Qanun tersebut dijabarkan bahwa dari lima kecamatan yang ada di Kota Langsa hanya Gampong-gampong di kecamatan Langsa Kota yang tidak mengalami pemekaran. sedangkan di kecamatan lainnya terdapat gampong yang mengalami pemekaran. Untuk Kecamatan Langsa Timur, Gampong yang mengalami yang mengalami pemekaran adalah Gampong Alue Pineung dan Sungai Lueng. Gampong Alue Pineung pecah menjadi 2 Gampong yaitu Alue Pineung dan Alue Pineung Timue, begitu juga dengan Gampong Sungai Lueng yang pecah menjadi dua gampong yaitu gampong sungai lueng dan gampong Kapa, dengan penambahan dua Gampong baru di Langsa Timur, Jumlah Gampong di Langsa timur kini menjadi 16 gampong. Selanjutnya Kecamatan yang Gampongnya mengalami pemekaran adalah Kecamatan Langsa Lama, Penambahan Gampong baru hasil pemekaran di Langsa Lama merupakan yang terbanyak dibandingkan dengan kecamatan lain yaitu bertambah sebanyak 6 gampong, sehingga jumlah Gampong di Kecamatan Langsa Lama kini berjumlah 15 Gampong dari sebelumnya yang berjumlah hanya 9 Gampong. Gampong yang mengalami pemekaran antara lain adalah:

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

12

Seulalah yang pecah menjadi 2 Gampong yaitu Gampong Seulalah dan Seulalah Baru Pondok Pabrik pecah menjadi dua gampong yaitu gampong pondok pabrik dan Gampong Sukajadi Kebun Ireng Meurandeh pecah menjadi 4 Gampong yaitu Gampong Meurandeh, Meurandeh Teungoh, Meurandeh Dayah dan Meurandeh Aceh Baroh Langsa Lama pecah menjadi 2 Gampong yaitu Gampong Baroh Langsa Lama dan Gampong Batee Puteh

Untuk Kecamatan Langsa Barat, terdapat 4 Gampong baru hasil pemekaran yaitu Gampong Sungai Pauh Pusaka, Sungai Pauh Tanjong, Sungai Pauh Firdaus ketiga Gampong ini merupakan hasil pemekaran dari Gampong Sungai Pauh, Sedangkan Gampong yang keempat adalah Gampong Serambi Indah. Gampong Serambi Indah merupakan hasil penggabungan seluruh wilayah BTN Seuriget. yang dulunya terdiri dari 3 bagian Gampong. Sebagian wilayah BTN Seuriget masuk ke Gampong Seuriget, sedangkan Sebagian lainnya masuk ke wilayah Gampong PB. Beuramo dan Gampong Birem Puntong. Sekarang seluruh wilayah BTN digabungkan menjadi satu Gampong Baru yaitu Gampong Serambi Indah. Kecamatan terakhir yang terjadi pemekaran Gampong adalah Kecamatan Langsa Bar, di Kecamatan ini terdapat 3 Gampong baru hasil pemekaran, yang pertama adalah Gampong Alue Dua Bakaran Batee yang merupakan pemekaran dari Gampong Alue Dua, berikutnya Gampong Lengkong yang merupakan pemekaran Dusun Lengkong Gp. Geudubang Jawa ditambah wilayah Dusun Lengkong Gp. Geudubang Aceh, yang terakhir adalah Gampong Sukajadi Makmur yang merupakan pemekaran dari Gp. Geudubang Aceh wilayahnya terdiri dari Dusun Trom, dan Dusun Alur Buaya.

Luas Wilayah Menurut Kecamatan Kota Langsa

NO 1. 2. 3. 4. 5

KECAMATAN Langsa Langsa Langsa Langsa Langsa Barat Kota Lama Baro Timur

LUAS (KM2) 59.95 7.53 42.39 77.50 75.04

PERSENTASE (%) 22.85 2.87 16.15 2953 28.60

Jumlah

262.41

100.00

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

13

Banyaknya Desa/Kelurahan Menurut Letak Geografis

No 1 1. 2. 3. 4. 5.

Kecamatan 2 Langsa Barat Langsa Kota Langsa Lama Langsa Baro Langsa Timur Jumlah

Pantai 3 6 0 4 4 4

Letak Geografis Lembah Lereng Dataran 4 5 6 0 0 7 0 0 10 0 7 4 0 1 7 0 4 8

Jumlah 7 13 10 15 12 16

18

12

36

66

Peta Kota Langsa

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

14

Profil Wilayah Setelah Kota Langsa lepas dari Kabupaten Aceh Timur tahun 2001, struktur perekonomian dibnagun atas perdagangan, industri, dan pertanian. Sejak lamaLangsa dikenal sebagai pusat perdagangan dan jasa, khususnya hasil bumi dari Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan paling banyak dari Medan, Sumut. Kota Langsa merupakan kota pesisir yang memiliki garis pantai 16 km. Penduduk yang sangat heterogen Aceh, Jawa, melayu, Gayo Batak, dan karo- hanya berjarak 246 km dari Kota Medan, menyebabkan Langsa memiliki banyak kemiripan dengan Medan. Langsa merupakan kota kecil dengan keramaian yang terpusat di dua titik. Jalan Teuku Umar sebagai pusat pertokoan dan pasar tradisional selalu ramai sejak pagi sampai malam hari. Demikian juga Jalan Ahmad Yani, jalan protokol dua jalur yang membelah kota ini selalu dipadati warga. Sektor perikanan menjadi komoditi primadona dikota ini. Udang windu yang kemudian dibekukan ini sebagian diperoleh dari tambak udang yang tersebar di seluruh kecamatan dan sebagian didatangkan dari tambak pesisir di Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Tahun 2003 luas tambak produktif di Kota Langsa sekitar 4.647 Ha.Kondisi perikanan Kota Langsa cukup potensial dikembangkan, Selain udang windu dibudidayakan pula udang putih dan udang api-api. Langsa juga membudidayakan ikan jenis ekonomis tinggi seperti ikan kerapu yang tahun 2001 mencapai 90.000 benih. Benih-benih ini dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan ekspor ikan kerapu ke Singapura dan Malaysia.

Batas Wilayah

Sebelah Utara Sebelah Barat Sebelah Selatan Sebelah Timur

: Selat Malaka. : Kecamatan Bireum Bayeun Kabupaten Aceh Timur. : Kecamatan Bireum Bayeun Kabupaten Aceh Timur. : Kecamatan Manyak Payed Kabupaten Aceh Timur.

Letak dan Kondisi Geografis Secara Geografis Kota Langsa berada pada posisi 428 LU 9758 BT, yang diapit oleh Selat Malaka. Kota Langsa memiliki luas wilayah 262,41 km,jumlah penduduk 147.251 dengan tingkat kepadatan penduduk 562 jiwa / km.

Iklim
Kota Langsa mempunyai type iklim A dan B seperti daerah trofis lainnya, iklim sangat dipengaruhi oleh angin yang senantiasa bertukar setiap tahunnya, sehingga terdapat dua musim yang berbeda yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim Hujan terjadi dari bulan September sampai dengan bulan Februari dan musim kemarau mulai bulan Maret sampai dengan bulan Agustus. Sedangkan curah hujan mencapai 1.704 mm per tahun dengan jumlah hujan rata-rata 189 hari setiap tahunnya. Suhu siang hari pada musim kemarau di kota Langsa berkisar 32C sedangkan dimalam hari suhu berkisar 20C - 25C.
Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

15

Penduduk
Dengan laju pertumbuhan sebesar 0,97% pertahun selama periode 1997 2007 (Langsa dalam angka 2007, BPS) dan diasumsikan tidak mengalami dinamika penduduk yang cukup ekstrim, maka pertumbuhan penduduk Kota Langsa pada tahun 2012 akan mencapai 152.878 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk Kota Langsa secara rata rata adalah 643 jiwa/Km2. namun distribusi penduduk dimasing masing kecamatan relative tidak merata. Kecamatan Langsa Kota merupakan wilayah yang paling padat penduduknya, yaitu rata rata mencapai 4.376 jiwa/Km2. Oleh karena itu, dengan proyeksi penduduk Kota Langsa pada tahun 2012 mencapai 152.878 jiwa, diperkirakan konsentrasi penduduk akan semakin lebih besar di Kecamatan Langsa Kota, kondisi ini berlaku apabila tidak diikuti oleh pengembangan permukiman dan pengembangan aktifitas aktifitas ekonomi kewilayah wilayah luar Kecamatan langsa Kota.

Potensi Pariwisata
Peranan Sektor Pariwisata sangat penting bagi mendorong aktifitas perekonomian daerah. Berkembangnya sektor ini akan sangat membantu perkembangan lahan usaha yang terkait dengannya. Lapangan usaha yang dimaksud tidak hanya dalam konteks ekonomi semata seperti aktifitas usaha non formal, pedagang kecil dan pedagang kaki lima, rumah makan dan transportasi lokal (Angkot dan Becak Mesin). Tetapi juga dapat menunjang atau mendorong berkembangnya kegiatan - kegiatan seni dan budaya.

Akses Transportasi
Jalan merupakan sarana yang sangat penting untuk memperlancar dan mendorang roda perekonomian. Sarana jalan yang baik dapat meningkatkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang dari satu daerah ke daerah lain. Kondisi jalan aspal di pusat kota sangat baik dan cukup lebar menampung lalu lintas kendaraan walaupun dibeberapa tempat terjadi kemacetan karena luas jalan yang mengecil. Sedangkan saluran drainase di kiri-kanan jalan utama berfungsi dengan baik untuk mengalirkan air, hanya bila terjadi hujan yang lebat selama 3 jam atau lebih maka akan terjadi pelimpahan air ke badan jalan dibeberapa tempat. Hal ini karena tinggi badan jalan yang lebih rendah dari tinggi permukaan laut sedangkan pompa yang berfungsi membuang air kelaut tidak dapat mengatasinya karena keterbatasan kapasitas dan jumlah pompa dibandingkan dengan volume air hujan yang turun. Panjang jalan di seluruh Kota Langsa pada tahun 2010 mencapai 295.13 km yang terbagi atas jalan negara (18.40 km), jalan propinsi (14.90 km) dan jalan kabupaten (261.830 km). Panjang jalan menurut jenis permukaan, kondisi dan kelas jalan di Kota Langsa.
Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

16

Keadaan (1) 01. Jenis Permukaan a. diaspal b. penetrasi Macadam c. kerikil d. tanah 02. Kondisi Jalan a. baik b. sedang c. rusak ringan d. rusak berat 03. Kelas Jalan a. Kelas I b. Kelas II c. Kelas III d. Kelas III-A e. Kelas III-B f. Kelas III-C g. Kelas tidak terperinci

Nasional (2) 18.40 18.40 18.40 12.12 6.28 18.40 18.40 -

Provinsi (3) 14.90 14.90 14.90 12.40 1.40 1.10

Kota (4) 261.830 145.819 59.116 56.895 273.860 174.364 21.126 49.145 29.225 273.860 273.860

14.90 14.90 -

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Langsa Kondisi jalan di Kota Langsa pada tahun 2010 masih memerlukan perhatian yang serius, walaupun sudah terjadi perbaikan di beberapa ruas jalan tetapi sebagian besar jalan (28.60 persen) kondisinya masih rusak ringan dan rusak berat terutama jalan kabupaten.

Struktur Sosial Masyarakat


Kota Langsa merupakan kota dengan tingkat kemajemukan yang tinggi, hal ini disebabkan suku yang ada di Kota langsa, hal ini menjadi suatu potensi besar dalam kemajuan suatu kota. Hal ini dapat dilihat dari kehidupan sehari hari dan pada upacara perayaan hari besar. Masyarakat Langsa memiliki warisan budaya yang sangat menarik, yang pada umumnya berakar dari nilai - nilai budaya. Ini semua bisa dilihat dari berbagai aktifitas masyarakat dalam bidang seni budaya seperti tari - tariannya, upacara - upacara adat, tata krama pergaulan, hasil - hasil kerajinan, kesemuanya kental dengan nuansa Islami.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

17

Sejak zaman penjajahan dulu walaupun masarakat Kota Langsa terdiri dari berbagai suku yang ada di Indonesia, namun secara umum atau yang dominan yang berlaku dalam masyarakat adalah adat kebudaaan Aceh. Layaknya masyarakat Aceh lainnya masarakat Kota Langsa secara umum sangat terikat dengan syariat Islam. Dalam kehidupan sehari-hari pada berbagai aktifitas kehidupan pengaruh syariat Islam ini sangat terasa. Apa lagi Langsa secaga geografis letaknya tidak jauh dari Peurlak yang merupakan daerah tempat masuknya ajaran Islam pertama sekali ke Nusantara. Karena sangat dipengaruhi oleh sariat Islam maka ulama merupakan orang yang sangat berpengaruh dalam masyarakat. Kalau kepala pemerintahan merupakan pemimpin formal, maka ulama merupakan pemimpin non formal dalam masyarakat. Bahkan dalam banyak masalah masyarakat lebih mendengar wejangan ulama dari pada intruksi pemimpin pemerintahan. Makanya kalau kita ingin meyakinkan masyarakat Kota Langsa dalam suatu program harus kita yakinkan dulu tokoh agamanya. Sebagaimana masyarakat Kota Langsa Yang sangat terikat dengan nilai-nilai Agama Islam itu maka mesjid atau meunasah selalu menjadi pusat kegiatan masarakat baik di pedesaan maupun di perkotaan. Bahkan kegiatan masarakat yang diadakan di mesjid lebih banyak dari pada yang diadakan di kantor kepala desa. Bukan hanya kegiatan keagamaan seperti kegiatan perayaan hari-hari besar keagamaan, bahkan untuk rapat-rapat (pertemuan) pemilihan kepala desa dan kegiatan lainnya juga diadakan di mesjid. Bukan hanya acara pernikahan di adakan di mesjid, bahkan tidak heran kalau suatu saat pelantikan kepala Dinaspun bisa jadi dilaksanakan di mesjid seperti yang pernah terjadi di Kabupaten Bireun. Begitu kentalnya keterikatan masyarakat Kota Langsa dengan Rumah Allah ini. Karena itu setiap gerakan pembangunan di Kota Langsa harus diperhatikan faktor spiritualitas keagamaan yang diwarnai oleh syariat Islam. Apalagi di setiap desa di dalam kawasan Kota Langsa biasanya pasti ada satu mesjid dan beberapa meunasah atau mushalla tempat berkumpulnya warga masyarakat dalam setiap kegiatan kemasyarakatannya, baik kegitan agama atau bukan, baik kegiatan duniawi maupun ukhrawi. Kota langsa dulunya juga terkenal dengan pelabuhannya yang sejak zaman belanda cukup banyak melaksanakan aktifitas ekspor impor terutama ke penang Malaysia. Komoditas yang di ekspor dulu dari pelabuhan kota langsa adalah arang. Dari aktivitas pelabuhan Langsa itu pada zaman penjajah banyak menghasilkan saudagar saudagar Aceh yang kaya melalui kegiatan barter dengan pengusaha luar negeri terutama malaysia dan Singapore. Dan pelabuhan Langsa ini masih dapat menjanjikan sumber pemasukan pendapatan asli daerah untuk Kota Langsa kalau diurus dengan professional dan diberi wewenang oleh pemerintah pusat. Pelabuhan inilah yang sekarang menjadi harapan masarakat Kota Langsa untuk dapat diaktifkan kembali dalam upaya menggerakkan ekonomi masyarakat dan dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi generasi muda Kota Langsa.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

18

Sebenarnya keberadaan pelabuhan kota Langsa ini lebih strategis dan ekonomis untuk kegiatan ekspor dan import barang komoditas dari dan ke luar negeri bagi masyarakat Kota Langsa khususnya dan bagi masyarakat Aceh Timur dan Aceh Tamiang kalau dibandingkan dengan keberadaan pelabuhan Belawan yang ada di Sumatera Utara.

1.2.4. Langsa

Permasalahan Penyelenggaraan Bangunan Gedung di Wilayah Kota

Konsultasi kepada pemkot/dinas Kota Langsa terkait permasalahan.

a. Pertambahan penduduk
Pertambahan jumlah penduduk terjadi seiring dengan perkembangan lokasi kegiatan ekonomi seperti perkantoran, pusat perbelanjaan dan lainlain, yang kemudian menarik orang untuk bekerja dan bertempat tinggal di lokasi sekitarnya. Pertambahan penduduk ini tidak saja menyebabkan pertambahan kepadatan penduduk, namun juga berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan fasilitas dan prasarana yang mendorong timbulnya berbagai titiktitik kegiatan ekonomi dan jasa baru, yang ternyata bahkan menjamur pada lingkungan yang seharusnya tidak diijinkan, seperti pada lingkungan perumahan. Pertambahan penduduk ini biasanya tidak menyebar merata, tetapi selalu berusaha mendekatkan diri pada magnetmagnet ekonomi yang ada. Secara perkembangan wilayah, ini menimbulkan masalah baru, karena akan bagianbagian kota yang tumbuh padat tak terkendali. Pertambahan penduduk biasanya akan memanfaatkan lokasilokasi tak sesuai dengan Rencana Tata Guna Lahannya.

b. Peningkatan kelas jalan


Jalan Merupakan urat nadi perekonomian, oleh sebab itu kota langsa terus berbenah dan terus meningkatkan kelas dan kualitas jalan.

c. Sistem utilitas kota yang belum terkoneksi


Selama pemekaran wilayah, bentuk dan arah perkembangan wilayah Langsa belum menunjukkan sebuah pola yang terbaca jelas. Dapat dipahami sistem utilitas kota juga belum terkoneksi dengan baik. Dibutuhkan regulasi yang jelas tentang hal ini.

d. Perkembangan Wilayah dan Morfologi Kota


Dinamika Kota Langsa yang terus berkembang cukup menarik untuk dijadikan objek penelitian karena Kota Langsa berada pada jalur transit dan Ibukota Pemerintah Kota Langsa. Peran ganda ini berimplikasi pada intensitas dan jenis kegiatan sosial ekonomi kota. Hal ini
Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

19

tercermin dari pola intensitas dan perkembangan tata guna lahan kota, pola orientasi pergerakan, pola jaringan jalan dan fasilitas perkotaan lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui mekanisme perkembangan fisik alami kota serta pola dan arab perkembangan fisik wilayah Kota Langsa tahun 1992-2002 dan untuk mendapatkan elemenelemen perubahan fisik kota dan mekanisme pergerakannya ditinjau secara spesial dan sektoral, yang dapat memberikan gambaran fenomena realitas perkembangan fungsi-fungsi uang kota secara lebih rinci, sehingga dapat dijadikan petunjuk dalam menentukan perencanaan Kota Langsa ke depan. Metode pengumpulan data sekunder diperoleh dari instansi terkait kemudian dianalisis kembali dengan pendekatan kualitatif-rasionalistik yaitu melihat beberapa aspek yang digunakan dalam mempelajari kota dengan penekanan bertahap pada tahun 1992, 1997 dan 2002, serta data primer yaitu melakukan wawancara di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme alami perkembangan fisik Kota Langsa terutama akibat kemajuan fasilitas prasaranan dan saran jalan, transportasi dan komunikasi, kemudian diisi dengan tumbuhnya kawasan terbangun baik pemukiman maupun lainnya (infill development), kecuali fasilitas air minum dan fasilitas telpon, bukan merupakan daya tarik utama dalam mengarahkan perkembangan Kota Langsa. Perkembangan fisik kota Langsa cenderung mengikuti pola perkembangan lahan terbangun linier mengisi disekitar jalan yang ada, sehingga terdapat kantong lahan-lahan di tengah tengah lahan terbangun. Di samping itu, perkembangan fisik Kota Langsa sangat dipengaruhi oleh daya dorong, antara lain mahalnya harga laban di pusat kota, sedangkan daya tarik pusat kota sangat signinifikan akibat adanya fasilitas perumahan, pasar inpres, terminal angkutan lokal, perkantoran dan dua perguruan .tinggi negeri dan sekaligus dekat dengan jalan regional. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Kota untuk bahan pertimbangan kebijakan dalam perencanaan dan pembangunan Kota Langsa secara berkelanjutan. 1.3. TUJUAN DAN KEGUNAAN Naskah Akademik ini dimaksudkan sebagai bahan masukan dan pembanding bagi penyusunan Draft Qanun tentang Bangunan Gedung di Kota Langsa. Manfaat dari naskah akademik ini adalah merupakan gambaran dan pengkajian untuk pihakpihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembuatan Qanun. Pembuatan Qanun bukanlah hak monopoli Pemerintah Daerah atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah semata. Pendek kata, dari nasakah akademik ini dapat dilahirkan pemahaman bahwa kelestarian lingkungan hidup dan sumber daya di sekitar lingkungan kita sangatlah penting dan wajib dilakukan demi kelangsungan generasi selanjutnya. Maka, pembuatan Qanun tentang bangunan gedung di Kota Langsa sangatlah penting dan mendesak untuk segera diwujudkan. Kegunaan naskah akademik ini adalah sebagai pedoman dan bahan awal yang memuat gagasan tentang urgensi, pendekatan, ruang lingkup dan materi muatan Rancangan Qanun tentang Bangunan Gedung di Wilayah Kota Langsa.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

20

1.4. KELUARAN (OUTPUT) KEGIATAN Kegiatan penyusunan naskah akademik ini akan mengeluaran keluaran (output) berupa : a. Naskah akademik yang memuat tinjauan konseptual tentang penyelenggaraan bangunan gedung sebagai bahan pertimbangan objektif dalam merumuskan rancangan Qanun tentang Bangunan Gedung di wilayah Kota Langsa. b. Rancangan Qanun tentang Bangunan Gedung yang meliputi Pembukaan (konsiderans, dasar hukum, dan diktum), Batang Tubuh (ketentuan umum dan ketentuan pidana), Penutup, dan Penjelasan. 1.5. METODE KEGIATAN Metode pendekatan dalam penyusunan naskah akademik ini dilakukan dengan metode yuridis normatif dan yuridis empiris. Metode yuridis normatif dilakukan melalui kajian dokumentasi terhadap berbagai peraturan perundangundangan yang berlaku, baik dalam skala nasional maupun lokal guna memperoleh gambaran tentang pengelolaan bangunan gedung. Studi ini kemudian dilengkapi dengan kajian teoritis untuk menganalisis potensi bangunan gedung yang tersedia saat ini (kondisi eksisting) yang dipadukan dengan pendekatan analisis kebijakan untuk menyusun kerangka pengelolaan bangunan gedung secara berkelanjutan, termasuk dalam hal penyelenggaraan bangunan gedung yang dapat diterapkan dalam kerangka pemeliharaan bangunan gedung, bukan sekedar untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Adapun metode yuridis empiris dilakukan dengan pengkajian dan menelaah data primer yang diperoleh secara langsung dari masyarakat melalui dokumendokumen dan kebijakan eksisting, juga dilakukan konsultasi publik dengan mengundang para pihak yang terkait dengan penyelenggaraan bangunan gedung di wilayah studi. Konsultasi publik diselenggarakan untuk mendengar aspirasi dari berbagai stakeholders, sehingga dapat diperoleh informasi objektif mengenai kebutuhan masyarakat. Data dan informasi yang diperoleh dari seluruh teknik pengumpulan data selanjutnya diolah dan dianalisis dengan melibatkan para pemangku kepentingan dibidang terkait untuk kepentingan penyusunan materi legal drafting rancangan Qanun dimaksud. Secara sederhana rangkaian kegiatan dalam penyusunan naskah akademik rancangan Qanun tentang Bangunan Gedung adalah sebagai berikut :

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

21

Need Assesment Kondisi Eksisting

Studi Literatur dan Dokumen Kebijakan Penyusunan Naskah Akademik

Konsultasi Publik dengan Stkaeholders

Penyusunan Raqan

Seminasi

Penyempurnaan Draft

Gambar 1.1. Alur Kegiatan

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

22

1.3. SISTEMATIKA PENULISAN

BAGIAN SATU
BAB I PENDAHULUAN Berisi mengenai latar belakang kajian, permasalahan, maksud dan tujuan, manfaat, keluaran (output) kegiatan, metode kegiatan serta sistematika penulisan. LANDASAN PEMIKIRAN Membahas tentang kajiankajian yang dilakukan dalam penyusunan Rancangan QANUN tentang Bangunan Gedung, termasuk kajian filosofis, kajian yuridis, dan kajian sosiologis. URGENSI PEMBENTUKAN QANUN TENTANG BANGUNAN GEDUNG Berdasarkan kondisi eksisting khususnyua tentang penyelenggaraan bangunan gedung di wilayah Kabupaten/Kota dan proyeksi perkembangannya, dapat dilihat tingkat kebutuhan regulasi dalam perwujudan tertib hukum dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung. POKOKPOKOK MATERI MUATAN QANUN TENTANG BANGUNAN GEDUNG Berisi mengenai konsiderans, dasar hukum, ketentuan umum, materi pokok yang diatur, ketentuan peralihan, ketentuan penutup, dan lampiran. Pada bab ini dibagi atas 2 (dua) bagian besar terdiri dari sub pokok bahasan ketentuan umum dan sub pokok bahasan materi muatan. PENUTUP Mebahas tentang kesimpulan dan saran.

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB VI

BAGIAN DUA
LAMPIRAN 1 RANCANGAN BATANG TUBUH QANUN KOTA LANGSA TENTANG BANGUNAN GEDUNG LAMPIRAN 2 PERATURAN PENJELASAN RANCANGAN QANUN KOTA LANGSA TENTANG BANGUNAN GEDUNG

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

23

LANDASAN PEMIKIRAN
Dalam kehidupan bernegara, Bangsa Indonesia menganut sistem demokrasi yaitu sistem demokrasi Pancasila. Istilah demokrasi menurut asal katanya berarti rakyat berkuasa atau government of rule by the people (M. Budiarjo, 1974 : 37). Kata Pemerintah Daerah dari perkataan Inggris government dan Perancis gouverment, yang keduaduanya berasal dari perkataan Latin gubernaculums yang artinya kemudi (Ateng Safrudin, 1973 : 3). Pemerintah merupakan subjek yang berdiri sendiri. Sebagai subjek, pemerintah melakukan tugas dan kegiatan. Untuk menunjukkan adanya subjek tertentu maka di belakang kata Pemerintah ada kata sambungannya misalnya Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan sebagainya. Bertolak dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Pemerintah Daerah adalah pemegang kemudi dalam pelaksanaan kegiatan pemerintahan di daerah (Misdyanti dan R.G. Kartasapoetra 1993 : 7). Penerapan desentralisasi yang telah melahirkan daerahdaerah otonom memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk membentuk Qanun dalam rangka mengatur rumah tangganya sendiri. Keterlibatan Peran serta masyarakat dalam proses kebijakan publik khususnya dalam hal pembentukan Qanun masih dipandang berbagai kalangan merupakan keterlibatan semu dimana masyarakat hanya dilibatkan pada saat draft rancangan Qanun dimaksud sudah masuk pada tahap pembahasan di DPRD, meski kadang tidak pernah dilakukan sehingga usulan kebijakan yang semestinya akan mengatur kepentingan dasar masyarakat justru mereka tidak paham dan tanpa mampu mengadvokasinya sehingga keberadaan Qanun dimaksud tidak berjalan secara efektif. Melalui Qanun yang secara ekplisit menyebutkan bahwa masyarakat berhak untuk menyampaikan masukan dimulai dari Tahap Perencanaan (Prolegda), Tahap Persiapan, Tahap Pembahasan, dan Tahap Penyebarluasan, ini sebagai upaya untuk meningkatkan posisi tawar dari masyarakat dan usaha dari Pemerintahan Daerah dengan mempersiapkan diri untuk meningkatkan pengetahuan di bidang PerundangUndangan dan kebijakan publik diharapkan peran masyarakat dalam perumusan kebijakan menjadi sesuatu hal yang nyata. Pasal 18 ayat (6) UUD Tahun 1945 memberi Mandat Konstitusional kepada Pemerintah Daerah bahwa dalam rangka melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan pemerintahan daerah berhak untuk menetapkan Qanun, akan tetapi agar terjadi standarisasi baik dari tahap pembentukan, ragam bahasa dan teknik penyusunan maka beradasarkan ketentuan Pasal 22 A UUD 45 disebutkan pedoman pembentukan Peraturan Perundangan diatur oleh UndangUndang maka pada tanggal 22 Juni 2004 terbitlah UndangUndang Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan dimana berdasarkan ketentuan Pasal 7 ayat (1) hurup e menyebutkan bahwa Qanun adalah salah satu produk hukum yang diakui berdasarkan deret hirarki sistim hukum nasional sehingga dalam pembentukannya, baik dari segi tahapan, ragam bahasa dan teknik penyusunan harus berpedoman pada ketentuan Pasal 44 yang termaktub dalam lampiran Peraturan UndangUndang yang sama yang merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dari batang tubuh pasal dimaksud.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

24

Adapun partisipasi masyarakat dalam proses pembentukan Perda meskipun berdasarkan ketentuan Pasal 53 UndangUndang Nomor 10 Tahun 2004 Jo Pasal 139 UU Nomor 32 Tahun 2004 hanya menyebutkan bahwa masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan UndangUndang dan Rancangan Qanun, ketentuan ini jika dituangkan langsung dalam Qanun sebaiknya materi muatan perda harus dipandang sebagai materi muatan yang menjabarkan Peraturan Perundangan yang lebih tinggi dalam rangka mengakomodir kekhasan daerah sebagaimana dimaksud Pasal 12 Undang Undang Nomor 10 Tahun 2004 Jo Pasal 136 ayat (2) UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 sehingga dalam pelaksanaanya jelas dan tidak multi tafsir. Qanun sebagai suatu bentuk kebijakan publik akan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat jika memiliki landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis yang baik. Menurut konsep demokrasi modern, kebijakan publik tidaklah berisi cetusan pikiran atau pendapat dari pejabat negara yang mewakili rakyat, akan tetapi pendapat atau opini publik juga memiliki porsi yang sama besarnya untuk tercermin (terwujud) didalam kebijakankebijakan publik. Setiap kebjakan publik harus selalu berorientasi kepada kepentingan publik (public interest). 2.1. KAJIAN FILOSOFIS Pokok pikiran (latar belakang) disusunnya UndangUndang tentang Bangunan Gedung antara lain memposisikan bangunan gedung dalam peran yang sangat strategis dalam pembentukan watak dalam perwujudan produktivitas dan jati diri manusia untuk menjamin kepastian dan ketertiban hukum dalam penyelenggaraan bangunan gedung. Untuk itu diperlukan adanya peraturan yang bersifat rasional sebagai payung dalam pengaturan bangunan gedung dan lingkungannya. Dengan semangat otonomi daerah, posisi Pemerintah Daerah menjadi sangat penting dalam pembinaan dan pengawasan bangunan gedung di daerah. Dalam dua dasawarsa terakhir, perkembangan pembangunan gedung sangat pesat, namun belum ada jaminan terwujudnya bagunan gedung yang fungsional, efisien, serta tertib dalam pembangunannya. Era terbuka dan keberpihakan kepada masyarakat menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi dalam pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung. Kebutuhan akan bangunan gedung sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia akan terus ada dan berkembang sesuai dengan perkembangan peradaban. Peningkatan kebutuhan bangunan gedung didorong oleh tingginya angka pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan pembukaan daerah/kawasan pemukiman baru yang tentu saja menuntut peningkatan infrastruktur. Ironisnya, peningkatan pembangunan bangunan gedung ini terkonsentrasi pada wilayah perkotaan. Salah satu penyebabnya adalah tingginya arus urbanisasi yang terjadi salah satunya akibat penurunan pendapatan masyarakat di wilayah pedesaan. Sehingga kota menjadi daerah yang didominasi oleh bangunan gedung yang pada akhirnya, jika tidak ada pengaturan yang nyata terhadap perkembangan bangunan gedung, maka wajah kota akan menjadi tidak teratur, sementara sumber daya alam akan terkuras untuk proses pembangunan.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

25

Bangunan gedung mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak dalam perwujudan produktivitas dan jati diri manusia, untuk itu perlu dibina serta dikemangkan demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan dan penghidupan masyarakat. Bangunan gedung tidak dapat dilihat sebagai sarana kehidupan sematamata, tetapi lebih dari itu merupakan proses aktifitas manusia dalam menciptakan ruang kehidupan untuk memasyarakatkan dirinya, dan menempatkan jati diri. Oleh karena itu, bangunan gedung merupakan salah satu upaya membangun manusia Indonesia seutuhnya, yang memiliki kesadaran untuk selalu menjalin hubungan antar sesama manusia, lingkungan, dan senantiasa bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Penyelenggaraan bangunan gedung ditujukan untuk mewujudkan bangunan gedung yang fungsional dan efisien, tertib dalam penyelenggaraan, serta adanya kepastian hukum. Sehingga dalam penyelenggaraannya, diarahkan untuk mengusahakan dan mendorong terwujudnya kondisi setiap orang atau badan di Indonesia yang mampu bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhannya akan bangunan gedung dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan, guna mendukung terciptanya masyarakat serta lingkungan yang berjati diri, mandiri, dan produktif. Mengacu pada hakekat bahwa keberadaan bangunan gedung mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak dalam perwujudan produktivitas dan jati diri manusia, serta prinsip pemenuhan kebutuhan akan bangunan gedung adalah tanggung jawab masyarakat sendiri, maka penempatan masyarakat sebagai pelaku utama dengan strategi pemberdayaan merupakan upaya yang sangat strategis. Sehingga harus melakukan pemberdayaan masyarakat dan para pelaku kunci lainnya didalam penyelenggaraan bangunan gedung dengan mengoptimalkan pendayagunaan sumber daya pendukung penyelenggaraan bangunan gedung. Sementara Pemerintah harus berperan sebagai fasilitator dan pendrong dalam upaya pemberdayaan bagi berlangsungnya seluruh rangkaian proses penyelenggaraan bangunan gedung demi terwujudnya kesadaran masyarakat yang mampu memenuhi kebutuhan bangunan gedung yang layak secara mandiri sebagai salah satu upaya pemenuhan kebutuhan dasar akan wadah beraktifitas dalam rangka pengembangan jati diri, dan mendorong terwujudnya kualitas lingkungan yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan, baik di wilayah perkotaan maupun di wilayah perdesaan. Dalam pembentukan Peraturan PerundangUndangan, proses terwujudnya nilainilai yang terkandung cita hukum ke dalam norma hukum tergantung pada tingkat kesadaran dan penghayatan akan nilainilai tersebut oleh para pembentuk Peraturan PerundangUndangan. Tiadanya kesadaran akan nilainilai tersebut dapat terjadi kesenjangan antara cita hukum dan norma hukum yang dibuat. Oleh karena itu dalam Negara Indonesia yang memiliki cita hukum Pancasila sekaligus sebagai norma fundamental negara, maka peraturan yang akan dibuat yaitu Qanun Tentang Bangunan Gedung diwarnai dan dialiri nilainilai yang terkandung di dalam cita hukum tersebut. Cita hukum dalam pengaturan pengelolaan bangunan gedung, diantaranya

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

26

adalah asas kemanfaatan, keseimbangan, serta keserasian bangunan gedung dengan lingkungannya. Asas Kemanfaatan dipergunakan sebagai landasan agar bangunan gedung dapat diwujudkan dan diselenggarakan sesuai fungsi yang ditetapkan, serta sebagai wadah kegiatan manusia yang memenuhi nilainilai kemanusiaan yang berkeadilan, termasuk aspek kepatutan dan kepantasan. Asas Keselamatan dipergunakan sebagai landasan agar bangunan gedung memenuhi persyaratan bangunan gedung, yaitu persyaratan keandalan teknis untuk menjamin keselamatan pemilik dan pengguna bangunan gedung, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, disamping persyaratan bersifat administratif. Asas Keseimbangan dipergunakan sebagai landasan agar keberadaan bangunan gedung berkelanjutan tidak mengganggu keseimbangan ekosistem dan lingkungan di sekitar bangunan gedung. Asas Keserasian dipergunakan sebagai landasan agar penyelenggaraan bangunan gedung dapat mewujudkan keserasian dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungan di sekitarnya. 2.2. KAJIAN YURIDIS Pasal 18 ayat (6) UndangUndang Dasar Tahun 1945 memberi mandat konstitusional kepada Pemerintah Daerah bahwa dalam rangka melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan Pemerintahan Daerah berhak untuk menetapkan Qanun, akan tetapi agar terjadi standarisasi baik dari tahap pembentukan, ragam bahasa dan teknik penyusunan, maka beradasarkan ketentuan Pasal 22 A UUD 45 disebutkan pedoman pembentukan Peraturan Perundangan diatur oleh UndangUndang. Maka pada tanggal 22 Juni 2004 diterbitkan UndangUndang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan, dimana berdasarkan ketentuan Pasal 7 ayat (1) hurup e menyebutkan bahwa QANUN adalah salah satu produk hukum yang diakui berdasarkan deret hirarki sistem hukum nasional sehingga dalam pembentukannya, baik dari segi tahapan, ragam bahasa dan teknik penyusunan harus berpedoman pada ketentuan Pasal 44 yang termaktub dalam lampiran Peraturan UndangUndang yang sama dimana merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dari batang tubuh pasal dimaksud. Bangunan gedung merupakan kebutuhan dasar manusia untuk mewujudkan ruang dalam beraktifitas, hal ini ditekankan dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28H ayat (1) yang menyatakan Setiap orang berhak

hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Bertempat tinggal mengindikasikan
kebutuhan dasar manusia yang merupakan bagian dari bangunan gedung, sedangkan lingkungan hidup yang baik dan sehat berkenaan dengan tata ruang dan bangunan gedung merupakan perwujudan fisik pemanfaatan ruang. Sesuai dengan amanat UndangUndang Dasar

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

27

Tahun 1945 tersebut diterbitkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung yang disahkan pada tanggal 16 Desember 2002, terdiri dari 10 bab dan 49 pasal. Secara umum, UndangUndang ini mengatur tentang ketentuan bangunan gedung yang meliputi persyaratan bangunan gedung, fungsi bangunan gedung, penyelenggaraan bangunan gedung, termasuk hak dan kewajiban pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung pada setiap tahap penyelenggaraan bangunan gedung, ketentuan tentang peran masyarakat dan pembinaan serta sanksi yang dilandasi oleh asas kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan, dan keserasian bangunan gedung dengan lingkungannya bagi kepentingan masyarakat yang berperi kemanusiaan dan berkeadilan. Dengan diterbitkannya UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung, sesuai dengan UndangUndang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Peraturan Pembentukan PerundangUndangan Pasal 7 ayat (1) disebutkan : jenis dan hierarki Peraturan Perundangundangan meliputi UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, UndangUndang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, dan QANUN. Sedangkan pada Pasal 10 peraturan yang sama disebutkan : materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan UndangUndang sebagaimana mestinya, maka sebagai peraturan pelaksana UU No.28/2002 tentang Bangunan Gedung, diterbitkan PP No. 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung, yang terdiri atas 9 bab dan 120 pasal. Secara umum, peraturan pelaksanaan ini merupakan pengaturan lebih lanjut UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung. UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung dan PP No. 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung dibuat dengan tujuan terwujudnya bangunan gedung yang fungsional dan efisien, serta terciptanya tertib penyelenggaraan bangunan gedung, demi terwujudnya kepastian hukum. Pokok pikiran (latar belakang) disusunnya peraturan tentang bangunan gedung antara lain oleh karena bangunan gedung mempunyai peran sangat strategis dalam membentuk watak, perwujudan, produktivitas dan jati diri manusia. UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung mangamanatkan halhal yang menjadi kewenangan daerah Kabupaten/Kota dalam hal penyelenggaraan bangunan gedung. Jika dirinci dari keseluruhan bab, pasal, dan ayatayat yang terkandung dalam peraturan tersebut, yang menjadi kewenangan daerah Kabupaten/Kota dalam penyelenggaraan bangunan gedung meliputi : a. Fungsi Bangunan Gedung Pasal 6 ayat (2) dan ayat (3), meliputi : penetapan fungsi dan perubahan fungsi bangunan gedung; b. Persyaratan Bangunan Gedung Pasal 7 ayat (5), meliputi : persyaratan administratif dan teknis bangunan gedung; c. Persyaratan Administratif Bangunan Gedung Pasal 8 ayat (3), meliputi : pendataan bangunan gedung untuk keperluan tertib pembangunan dan pemanfaatan;
Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

28

d. Persyaratan Tata Bangunan Pasal 9 ayat (2), meliputi : persyaratan tata bangunan dan lingkungan; Pasal 10 ayat (2), meliputi : kewajiban Pemerintah Daerah dalam penyediaan informasi tentang persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung bagi masyarakat; e. Penyelenggaraan Bangunan Gedung Pasal 36 ayat (1), meliputi : pengesahan rencana teknis bangunan gedung untuk kepentingan umum setelah mendapat pertimbangan teknis tim ahli; f. Pelestarian Pasal 38 ayat (2), meliputi : penetapan bangunan gedung dan lingkungan yang dilestarikan dan dilindungi; g. Pembongkaran Pasal 39 ayat (2), meliputi : bangunan gedung yang dapat dibongkar berdasarkan hasil pengkajian teknis; h. Pembinaan Pasal 43 ayat (2), meliputi : pelaksanaan pembinaan penyelengaraan bangunan gedung untuk meningkatkan pemenuhan persyaratan dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung. Dalam kaitan tersebut, mengisyaratkan adanya pelimpahan wewenang dari Pemerintah kepada Pemerintah Daerah untuk dapat mengakomodir kearifan lokal terkait halhal : penetapan fungsi bangunan gedung, persyaratan bangunan gedung (meliputi administrasi, tata bangunan, serta peruntukan dan instensitas), penyelenggaraan bangunan gedung, pelestarian bangunan gedung, pembongkaran bangunan gedung, dan pembinaan bangunan gedung. Landasan yuridis ditempatkan pada bagian Konsideran Mengingat. Dalam Konsideran mengingat ini disusun secara rinci dan tepat : a. UndangUndang yang dijadikan rujukan, yang jelas disebutkan nomornya, judulnya, dan demikian pula dengan nomor dan tahun Lembaran Negara dan Tambahan Lembaran Negara; b. Peraturanperaturan lain yang dijadikan rujukan dalam membentuk produk hukum yang bersangkutan, yang jelas disebutkan nomornya, judulnya, dan demikian pula dengan nomor dan tahun Lembaran Negara dan Tambahan Lembaran Negara. Berkaitan dengan pembuatan Qanun Kota Langsa tentang Bangunan Gedung, selain dari UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung dan PP No. 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung, untuk harmonisasi dalam penyusunan Rancangan Qanun tentang Bangunan Gedung ini juga melihat Peraturan PerundangUndangan yang terkait, antara lain sebagai berikut : 1. UndangUndang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043); 2. UndangUndang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 65; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3046);

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

29

3. UndangUndang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 75; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3318); 4. UndangUndang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3469); 5. UndangUndang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 24; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3470); 6. UndangUndang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 49; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3480) ; 7. UndangUndang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 9; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3670); 8. UndangUndang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 9. UndangUndang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 54; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3833); 10. UndangUndang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 11. UndangUndang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4289); 12. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 13. UndangUndang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 83; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3186); 14. UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

30

15. UndangUndang Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Langsa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 7 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun Nomor 4681); 16. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 tentang Rumah Susun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1988 Nomor 7; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3372); 17. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3445); 18. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3529); 19. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 69, Tambahan Lembar Negara Republik Indonesia Nomor 3373); 20. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3660); 21. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3776); 22. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838); 23. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3955); 24. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3956); 25. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3957); 26. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 27. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

31

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 28. Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pengesahan, Pengundangan, danPenyebarluasan Peraturan PerundangUndangan. Pencantuman Peraturan PerundangUndangan yang terkait dengan bangunan gedung dimaksudkan untuk mengetahui kaitan antara normanorma yang akan diatur didalam Rancangan Qanun tentang Bangunan Gedung dengan berbagai ketentuan PerundangUndangan lainyang mengatur norma yang sama atau berkaitan, agar tercipta sinkronisasi dan harmonisasi berbagai aturan sehingga tidak terjadi benturan (tumpang tindih) dalam pengaturannya, baik UndangUndang yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dengan penyelanggaraan bangunan gedung. 2.2.1. Fungsi Bangunan Gedung UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung membagi bangunan gedung kedalam fungsi hunian, fungsi keagamaan, fungsi usaha, fungsi sosial dan budaya, dan fungsi khusus. Lebih lanjut disebutkan, fungsi hunian meliputi : bangunan untuk rumah tinggal tunggal, rumah tinggal deret,rumah susun, dan rumah tinggal sementara. Fungsi keagamaan meliputi : masjid, gereja, pura,wihara, dan kelenteng. Fungsi usaha meliputi : bangunan gedung untuk perkantoran, perdagangan, perindustrian, perhotelan, wisata dan rekreasi, terminal, dan penyimpanan. Fungsi sosial dan budayameliputi : bangunan gedung untuk pendidikan, kebudayaan, pelayanan kesehatan, laboratorium,dan pelayanan umum. Sedangkan bangunan gedung fungsi khusus meliputi : bangunan gedunguntuk reaktor nuklir, instalasi pertahanan dan keamanan, dan bangunan sejenis yang diputuskanoleh Menteri. Didalam PP No. 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung, merinci fungsi bangunan gedung dalam klasifikasiklasifikasi berdasarkan tingkat kompleksitas, tingkat permanensi, tingkat resiko kebakaran, zonasi gempa, lokasi, ketinggian dan/atau kepemilikan. Lebih lanjut disebutkan, klasifikasi berdasarkan tingkat kompleksitas meliputi bangunan gedung sederhana, bangunan gedung tidak sederhana, dan bangunan gedung khusus. Klasifikasi berdasarkan tingkat permanensi meliputi bangunan gedung permanen, bangunan gedung semipermanen, dan bangunan gedung khusus. Klasifikasi berdasarkan tingkat resiko kebakaran meliputi tingkat resiko kebakaran tinggi, sedang, dan resikokebakaran rendah. Klasifikasi berdasarkan zonasi gempa meliputi tingkat zonasi gempa yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Klasifikasi berdasarkan lokasi meliputi lokasi padat, sedang dan renggang. Klasifikasi berdasarkan ketinggian meliputi bertingkat tinggi, sedang, dan rendah. Sedangkan klasifikasi berdasarkan kepemilikan meliputi bangunan gedung milik negara, badan usaha, dan bangunan milik peorangan. Sedangkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung, sebagai peraturan pelaksanaan lebih lanjut kedua peraturan di atas, pada Lampiran Bagian II poin II.1 mengenai Fungsi dan Penetapan Fungsi Bangunan Gedung disebutkan : fungsi bangunan gedung dapat

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

32

dikelompokkan dalam fungsi hunian, fungsi keagamaan, fungsi usaha, fungsi sosial dan budaya, dan fungsi khusus. Fungsi hunian merupakan bangunan gedung dengan fungsi utama sebagai tempat manusia tinggal yang berupa : bangunan hunian tunggal, bangunan hunian jamak, bangunan hunian campuran, dan bangunan hunian sementara. Fungsi keagamaan merupakan bangunan gedung dengan fungsi utama sebagai tempat manusia melakukan ibadah yang berupa bangunan masjid termasuk mushola, bangunan gereja termasuk kapel, bangunan pura, bangunan vihara, dan bangunan kelenteng. Fungsi usaha merupakan bangunan gedung dengan fungsi utama sebagai tempat manusia melakukan kegiatan usaha yang terdiri dari : bangunan perkantoran (perkantoran pemerintah, perkantoran niaga, dan sejenisnya), bangunan perdagangan (pasar, pertokoan, pusat perbelanjaaan, mal, dan sejenisnya), bangunan perindustrian : industri kecil, industri sedang, industri besar/berat, bangunan perhotelan (hotel, motel, hostel, penginapan, dan sejenisnya), bangunan wisata dan rekreasi (tempat rekreasi, bioskop, dan sejenisnya), bangunan terminal (stasiun kereta, terminal bus, terminal udara, halte bus, pelabuhan laut), dan bangunan tempat penyimpanan (gudang, gedung tempat parkir, dan sejenisnya). Fungsi sosial dan budaya merupakan bangunan gedung dengan fungsi utama sebagai tempat manusia melakukan kegiatan sosial dan budaya yang terdiri dari : bangunan pelayanan pendidikan (sekolah taman kanakkanak, sekolah dasar, sekolah lanjutan, sekolah tinggi/universitas, sekolah luar biasa), bangunan pelayanan kesehatan (puskesmas, poliklinik, rumah bersalin, rumah sakit A,B,C, dan sejenisnya), bangunan kebudayaan (museum, gedung kesenian, dan sejenisnya), bangunan laboratorium (laboratorium fisika, laboratorium kimia, laboratorium biologi, laboratorium kebakaran), dan bangunan pelayanan umum (stadion/hall untuk kepentingan olah raga, dan sejenisnya). Fungsi khusus merupakan bangunan gedung dengan fungsi utama yang meliputi : tingkat kerahasiaan tinggi (bangunan kemiliteran, dan sejenisnya), tingkat resiko bahaya tinggi (bangunan reaktor, dan sejenisnya). Dalam pasal ketentuan umum UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung dan PP No.36/205 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung disebutkan defenisi dari bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang berfungsi untuk tempat penyimpanan, perlindungan, pelaksanaan kegiatan yang mendukung terjadinya aliran yang menyatu dengan tempat kedudukan yang sebagian atau seluruhnya berada diatas atau didalam tanah dan atau air yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial budaya maupun kegiatan khusus. Berdasar pada pengertian bangunan gedung menurut peraturan PerundangUndangan yang berlaku, kenyataan di lapangan, terdapat beberapa jenis bangunan gedung yang tidak masuk dalam fungsi dan klasifikasi bangunan gedung menurut Peraturan PerundangUndangan tersebut. Dalam wilayah Kota Langsa dapat ditemukan bangunan yang merupakan wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi, seperti bangunan pertandaan (signage), menara telekomunikasi, pos retribusi/ pos jaga/pos keamanan, WC/toilet umum, dan lain sebagainya. Dalam penyusunan Rancangan Qanun ini, potensipotensi yang ada di daerah dicantumkan dalam fungsi dan klasifikasi bangunan gedung, sehingga dalan rancangan ini pembahasan mengenai fungsi bangunan gedung menjadi : bangunan gedung fungsi hunian,

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

33

fungsi keagamaan, fungsi usaha, fungsi sosial dan budaya, fungsi khusus, dan fungsi lainnya. Untuk fungsi lainnya meliputi : bangunan pertandaan, bangunan menara telekomunikasi, bangunan pelengkap bangunan gedung (WC/toilet umum, telepon umum, dan sejenisnya), dan bangunan pos penjagaan (pos keamanan lingkungan, pos retribusi, pos penjaga pintu irigasi, dan sejenisnya). 2.2.2. Persyaratan Bangunan Gedung Hal yang menjadi kewenangan daerah Kabupaten/Kota untuk mengatur persyaratan bangunan gedung berdasarkan UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung meliputi persyaratan administratif, persyaratan tata bangunan serta persyaratan peruntukan dan intensitas gedung. a. Persyaratan Administratif Bangunan Gedung Didalam UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung persyaratan administratif bangunan gedung tertuang dalam Bagian Kedua Pasal 8. Secara garis besar UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung membagi persyaratan administratif bangunan gedung kedalam 3 (tiga) bagian besar, meliputi : 1. Status hak atas tanah, dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah; 2. Status kepemilikan bangunan; 3. Izin mendirikan bangunan gedung. Khusus ketentuanketentuan mengenai Izin Mendirikan Bangunan Gedung (IMB) diatur lebih lanjut dalam PP No. 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung. b. Persyaratan Tata Bangunan Persyaratan tata bangunan yang diatur dalam UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung dalam Bagian Ketiga Pasal 9 sampai dengan Pasal 15, meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung, arsitektur bangunan gedung, dan persyaratan pengendalian dampak lingkungan.

Persyaratan Peruntukan dan Intensitas Bangunan Gedung


Peruntukan dan intensitas bangunan gedung meliputi peruntukan lokasi, kepadatan, ketinggian, dan jarak bebas bangunan gedung. Pemerintah Daerah wajib menyediakan dan memberikan informasi secara terbuka tentang persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung bagi masyarakat. Hal peruntukan lokasi, kepadatan, ketinggian dan jarak bebas bangunan diatur lebih rinci dalam Qanun Kota Langsa tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan/atau Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK), dan/atau Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). Sampai saat penyusunan Rancangan Qanun ini, ketiga Qanun di atas masih dalam tahap pembahasan. Untuk itu, dalam hal Qanun tentang RTRW dan/atau RDTRK dan/atau RTBL belum disahkan, maka peruntukan lokasi, kepadatan, ketinggian, dan jarak bebas bangunan gedung, akan ditentukan oleh Walikota setelah mendapat pertimbangan dari Tim Ahli Bangunan Gedung. Didalam pelaksanaannya, Walikota dapat meninjau ulang sampai dengan disahkannya

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

34

Qanun terkait. Dalam hal pengesahan terhadap Qanun terkait telah dilaksanakan, maka segala bentuk persyaratan tentang peruntukan dan intensitas bangunan gedung akan disesuaikan dengan peraturan yang telah disahkan.

Arsitektur Bangunan Gedung


Meliputi persyaratan penampilan, tata ruang dalam, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan dengan lingkungan, serta pertimbangan keseimbangan nilainilai sosial budaya setempat terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasa. Wujud dari arsitektur Rumoh Aceh merupakan pengejawantahan dari kearifan dalam menyikapi alam dan keyakinan (religiusitas) masyarakat Aceh. Arsitektur rumah berbentuk panggung dengan menggunakan kayu sebagai bahan dasarnya merupakan bentuk adaptasi masyarakat Aceh terhadap kondisi lingkungannya. Secara kolektif pula, struktur rumah tradisi yang berbentuk panggung memberikan kenyamanan tersendiri kepada penghuninya. Selain itu, struktur rumah seperti itu memberikan nilai positif terhadap sistem kawalan sosial untuk menjamin keamanan, ketertiban, dan keselamatan warga gampong (kampung). Sebagai contoh, struktur rumah berbentuk panggung membuat pandangan tidak terhalang dan memudahkan sesama warga saling menjaga rumah serta ketertiban gampong. Kecerdasan masyarakat dalam menyikapi kondisi alam juga dapat dilihat dari bentuk Rumoh Aceh yang menghadap ke utara dan selatan sehingga rumah membujur dari timur ke barat. Walaupun dalam perkembangannya dianggap sebagai upaya masyarakat Aceh membuat garis imajiner antara rumah dan Kabah (motif keagamaan), tetapi sebelum Islam masuk ke Aceh, arah rumah tradisional Aceh memang sudah demikian. Kecenderungan ini nampaknya merupakan bentuk penyikapan masyarakat Aceh terhadap arah angin yang bertiup di daerah Aceh, yaitu dari arah timur ke barat atau sebaliknya. Jika arah Rumoh Aceh menghadap ke arah angin, maka bangunan rumah tersebut akan mudah rubuh. Di samping itu, arah rumah menghadap ke utara-selatan juga dimaksudkan agar sinar matahari lebih mudah masuk ke kamar-kamar, baik yang berada di sisi timur ataupun di sisi barat. Setelah Islam masuk ke Aceh, arah Rumoh Aceh mendapatkan justifikasi keagamaan. Nilai religiusitas juga dapat dilihat pada jumlah ruang yang selalu ganjil, jumlah anak tangga yang selalu ganjil, dan keberadaan gentong air untuk membasuh kaki setiap kali hendak masuk Rumoh Aceh. Musyawarah dengan keluarga, meminta saran kepada Teungku, dan bergotong royong dalam proses pembangunannya merupakan upaya untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan, menanamkan rasa solidaritas antar sesama, dan penghormatan kepada adat yang berlaku. Dengan bekerjasama, permasalahan dapat diatasi dan harmoni sosial dapat terus dijaga. Dengan mendapatkan petuah dari Teungku, maka rumah yang dibangun diharapkan dapat memberikan keamanan secara jasmani dan ketentraman secara rohani. Tata ruang rumah dengan beragam jenis fungsinya merupakan simbol agar semua orang taat pada aturan. Adanya bagian ruang yang berfungsi sebagai ruang-ruang privat, seperti Rumoh
Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

35

Inong, ruang publik, seperti serambi depan, dan ruang khusus perempuan, seperti serambi belakang merupakan usaha untuk menanamkan dan menjaga nilai kesopanan dan etika bermasyarakat. Keberadaan tangga untuk memasuki Rumoh Aceh bukan hanya berfungsi sebagai alat untuk naik ke bangunan rumah, tetapi juga berfungsi sebagai titik batas yang hanya boleh didatangi oleh tamu yang bukan anggota keluarga atau saudara dekat. Apabila di rumah tidak ada anggota keluarga yang laki-laki, maka pantang dan tabu bagi tamu yang bukan keluarga dekat (baca: muhrim) untuk naik ke rumah. Dengan demikian, reunyeun juga memiliki fungsi sebagai alat kontrol sosial dalam melakukan interaksi sehari-hari antar masyarakat. Pintu utama rumah yang tingginya selalu lebih rendah dari ketinggian orang dewasa, sekitar 120-150 cm, sehingga setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh harus menunduk, mengandung pesan bahwa setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh, tidak peduli betapa tinggi derajat atau kedudukannya, harus menunduk sebagai tanda hormat kepada yang punya rumah. Namun, begitu masuk, kita akan merasakan ruang yang sangat lapang karena di dalam rumah tak ada perabot berupa kursi atau meja. Semua orang duduk bersila di atas lantai. Ada juga yang menganggap bahwa pintu Rumoh Aceh diibaratkan hati orang Aceh. Memang sulit untuk memasukinya, tetapi begitu kita masuk akan diterima dengan lapang dada dan hangat. Pelaksanaan upacara baik ketika hendak mendirikan rumah, sedang mendirikan, dan setelah mendirikan rumah bukan untuk memamerkan kekayaan tetapi merupakan ungkapan saling menghormati sesama makhluk Tuhan, dan juga sebagai bentuk ungkapan syukur atas rizqi yang telah diberikan oleh Tuhan. Berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Rumoh Aceh, maka kita akan mampu memahami dan menghargai beragam khazanah yang terkandung di dalamnya. Bisa saja, karena perubahan zaman, arsitektur Rumoh Aceh berubah, tetapi dengan memahami dan memberikan pemaknaan baru terhadap simbol-simbol yang digunakan, maka nilai-nilai yang hendak disampaikan oleh para pendahulu dapat terjaga dan tetap sesuai dengan zamannya. Di dalam menyusun rancangan Qanun tentang bangunan gedung, kearifankearifan lokal seperti telah diuraikan di atas, harus dapat diakomodir dan diimplementasikan dalam pasal maupun ayat dalam rangka kristalisasi kebiasaan masyarakat dalam bentuk regulasi. Sehingga dalam rancangan Qanun ini, persyaratan arsitektur bangunan gedung meliputi persyaratan penampilan bangunan gedung, tata ruang dalam, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya, dengan mempertimbangkan adanya keseimbangan nilainilai sosial budaya lokal, kesejarahan dan pertumbuhan historis kota, serta pertimbangan terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasanya.

Persyaratan Pengendalian Dampak Lingkungan


Persyaratan ini hanya diperuntukkan bagi bangunan gedung yang didalam penyelenggaraannya dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan sehingga dalam penerapannya harus
Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

36

lebih dulu menyertakan analisis mengenai dampak lingkungan PerundangUndangan dibidang pengelolaan lingkungan hidup.

sesuai

peraturan

2.2.3. Penyelenggaraan Bangunan Gedung Penyelenggaraan bangunan gedung meliputi pembangunan, pemanfaatan, pelestarian, dan pembongkaran. Kewenangan daerah meliputi pengesahan rencana teknis bangunan gedung, penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarkan, dan penetapan pembongkaran bangunan gedung. Pengesahan rencana teknis adalah bagian dari penyelenggaraan pembangunan, penetapan bangunan gedung dan lingkungannya yang dilindungi dan dilestarikan merupakan bagian dari penyelenggaraan pelestarian, dan penetapan pembongkaran bangunan gedung merupakan bagian dari penyelenggaraan pembongkaran.

Pembangunan
Pembangunan bangunan gedung meliputi tahapan perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, dan pengawasan konstruksi. Dalam pelaksanaannya, pembangunan bangunan gedung wajib dilaksanakan secara tertib administratif dan teknis untuk menjamin kendalan bangunan gedung tanpa menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. Dalam UndangUndang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi Pasal 5 disebutkan: usaha jasa konstruksi dapat berbentuk orang perseorangan atau badan usaha, bentuk usaha yang dilakukan oleh orang perseorangan selaku pelaksana konstruksi hanya dapat melaksanakan pekerjaan konstruksi yang beresiko kecil, yang berteknologi sederhana, dan yang berbiaya kecil, bentuk usaha yang dilakukan oleh orang perseorangan selaku perencana konstruksi atau pengawas konstruksi hanya dapat melaksanakan pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahliannya, dan pekerjan konstruksi yang beresiko besar dan/atau yang berteknologi tinggi dan/atau yang berbiaya besar hanya dapat dilakukan oleh badan usaha yang berbentuk perseroan terbatas atau badan usaha asing yang dipersamakan. Lebih lanjut, pada peraturan yang sama Pasal 9 menyebutkan perencana konstruksi dan pengawas konstruksi orang perseorangan harus memiliki sertifikat keahlian, pelaksana konstruksi orang perseorangan harus memiliki sertifikat keterampilan kerja dan sertifikat keahlian kerja, orang perseorangan yang dipekerjakan oleh badan usaha sebagai perencana konstruksi atau pengawas konstruksi atau tenaga tertentu dalam badan usaha pelaksana konstruksi harus memiliki sertifikat keahlian, tenaga kerja yang melaksanakan pekerjaan keteknikan yang bekerja pada pelaksana konstruksi harus memiliki sertifikat keterampilan dan keahlian kerja.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

37

Pada kenyataannya, penyelenggaraan pembangunan tidak sepenuhnya mengikuti kriteria-kriteria yang baku, baik dalam hal perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, dan pengawasan. Masih banyak terdapat tumpang tindih pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung. Dalam rancangan Qanun ini, penyelenggaraan pembangunan disebut secara rinci para pelaku pembangunan didasarkan pada kaidah dan syaratsyarat yang tercantum dalam Peraturan PerundangUndangan terkait.

2.2.4. Pelestarian Bangunan Gedung Pada berbagai kota bersejarah di Indonesia, bangunanbangunan tua bersejarah banyak yang telah berubah fungsi dan berubah wajah. Dasar argumentasi pemerintah pada berbagai kota adalah pertimbangan kualitas bangunan menyangkut nilai ekonomi serta fungsional bangunan berbanding dengan kebutuhan ruang. Bangunan tua yang tidak ekonomis banyak yang sudah disulap menjadi bangunan perkantoran modern atau ruko (rumah toko) dengan motifmotif ekonomi tanpa mempertimbangkan aspek pendidikan sejarah. Ini adalah dampak pembangunan kota menuju ke arah modernitas yang secara tidak langsung berdampak pada pola pikir yang praktis dan pragmatis. Perubahan wajah dan fungsi akibat gerusan pembangunan modern namun mengabaikan sejarah yang tercermin dari keberadaan bangunanbangunan tua yang memiliki nilai sejarah. Bagi sebagian pemerintah daerah, keberadaan bangunan kuno dan gedung tua dipandang sebagai sampah kota bahkan mirip penyakit kota yang harus dilenyapkan. Sejak dekade 1960an hingga dekade 1990an, wacana pelestarian bangunan dan gedung tua (cagar budaya) sebenarnya sudah menjadi wacana masyarakat internasional. Fakta tersebut dapat kita saksikan dengan adanya beberapa dokumen penting berupa piagam pelestarian bangunan tua, diantaranya, The Venice Charter (19641965), The Burra Charter (1979), Rekomendasi UNESCO (1976), Piagam Washington (1987), serta The World Herritage Cities Management Guide (1991). Sementara di Indonesia telah ada dokumen pelestarian bangunan tua bernama Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia yang dideklarasikan beberapa tahun lalu. Banyak warisan arsitektural dari bangunan tua utamanya bangunan peninggalan kolonial di Indonesia yang memiliki berbagai keunggulan dalam hal seni bangunan dan teknik arsitektural. Disahkannya UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung akan menjadi tantangan tersendiri bagi UndangUndang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Bila UU No.5/1992 mempertegas perlindungan dan pelestarian bangunan bersejarah, sementara UU No.28/2002 membuka peluang bagi pemanfaatan gedung bagi kepentingan
Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

38

ekonomis. Bila keberadaan bangunan tua itu berada di daerah, maka dapat menggunakannya untuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). UU No. 5/1992 Pasal 1 ayat (1), menyebutkan yang dimaksud dengan benda cagar budaya adalah dibagi atas dua: pertama, benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagianbagiannya atau sisasisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (limapuluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurangkurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan; kedua, benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan , dan kebudayaan. Sementara pada ayat (2) menyatakan bahwa Situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya. UU No. 5/1992 dilengkapi dengan Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur secara rinci mengatur perlindungan bangunan tua yang masuk kategori benda cagar budaya yakni Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan UU No 5 tahun 1992. Pada Bab V Pasal 22 hingga Pasal 27 termaktub rincian aturan menyangkut perlindungan dan pemeliharaan benda cagar budaya. Pada Pasal 22 menyebutkan bahwa orang yang memiliki atau yang menguasai benda cagar budaya wajib melakukan perlindungan dan pemeliharaan benda cagar budaya yang dimiliki atau yang dikuasai. Sementara pada Pasal 23 yang terdiri dari tiga ayat menyebutkan bahwa (1) Perlindungan dan pemeliharaan benda cagar budaya dilakukan dengan cara penyelematan, pengamanan, perawatan dan pemugaran; (2) Untuk kepentingan perlindungan benda cagar budaya dan situs diatur batasbatas situs dan lingkungannya sesuai dengan kebutuhan; (3) Batasbatas situs dan lingkungannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan permintakatan yang terdiri dari mintakat inti, penyangga dan pengembangan. Sedang Pasal 24 tertulis bahwa dalam rangka pelestarian benda cagar budaya Menteri menetapkan situs; (2) Penetapan situs sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan ketentuan Peraturan PerundangUndangan yang berlaku. Dari segi kebijakan, tantangan terhadap benda cagar budaya adalah UU No. 28/2002 tentang bangunan gedung dan peraturan pelaksanaannya yaitu PP No. 36/2005. Mengacu pada UndangUndang bangunan gedung dan peraturan pelaksanaan bangunan gedung, seluruh bangunan gedungharus layak fungsi pada tahun 2010. Dalam UU No.28/2002 tentang bangunan gedung, juga mengatur tentang bangunan tinggi dan jaminan keselamatan bagi penghuni bangunan tinggi. Pada bangunan tinggi, faktor keselamatan penghuni bangunan tinggi telah menjadi persyaratan penting yang harus dipenuhi. Salah satu persyaratan keselamatan gedung yang sangat penting adalah kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran. Persoalan

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

39

persyaratan keselamatan gedung adalah salah satu kelemahan dari bangunan tua sehingga berpotensi dimusnahkan oleh kebijakan UU No. 28/2002. (dikutip dari : Muslimin B.Putra,

Tribun Timur, Selasa, 03 Agustus 2010).


Dari uraian di atas terdapat kepentingankepentingan yang bertolak belakang. Kepentingan untuk mempertahankan nilai historis dari suatu bangunan gedung agar tetap eksis namun terkendala pada faktor keselamatan, dan kepentingan untuk meletakkan faktor keselamatan namun harus menghilangkan nilai hitoris dari suatu bangunan gedung. Maka penetepan bangunan gedung yang dilindungi dan dilestarikan menjadi suatu hal yang sangat penting. UU No. 28/2002 memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk menetapkan bangunan gedung yang dilindungi dan dilestarikan (dalam skala daerah/setempat) dalam bentuk Keputusan Walikota setelah melakukan indentifikasi dan mendapat pertimbangan dari Tim Ahli Bangunan Gedung. Dalam penyusunan ini, penetapan bangunan gedung yang dilindungi dan dilestarikan akan dibagi dalam tingkatan klasifikasi. Klasifikasi A meliputi : bangunan gedung dan lingkungannya yang secara fisik bentuk aslinya sama sekali tidak boleh dirubah. Klasifikasi B diperuntukkan bagi bangunan gedung dan lingkungannya yang secara fisik bentuk asli eksteriornya sama sekali tidak boleh dirubah, namun tata ruang dalamnya dapat diubah sebagian dengan tidak mengurangi nilainilai perlindungan dan pelestariannya. Dan klasifikasi C diperuntukkan bagi bangunan gedung dan lingkungannya yang fisik bentuk aslinya dapat diubah sebagian dengan tidak mengurangi nilainilai perlindungan dan pelestariannya serta dengan tidak menghilangkan bagian utama bangunan gedung tersebut. 2.2.5. Pembongkaran Bangunan Gedung Dalam UU No. 28/2002 tahun 2002 tentang bangunan gedung disebutkan bangunan gedung dapat dibongkar apabila tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki, dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatan bangunan gedung dan/atau lingkungannya, dan tidak memiliki izin mendirikan bangunan. Ketentuan tata cara pembongkaran bangunan gedung mengikuti tata cara yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah, sedangkan penetapannya oleh Pemerintah Daerah berdasarkan hasil pengkajian teknis. 2.2.6. Pembinaan Bangunan Gedung Pembinaan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dalam rangka pemenuhan persyaratan tertib penyelanggaraan bangunan gedung. Upaya penyusunan Rancangan QANUN untuk kemudian ditetapkan sebagai Qanun merupakan wujud pembinaan bangunan gedung yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. Sebagai tindak lanjut dari penyusunan QANUN ini, Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskannya termasuk PerundangUndangan, pedoman, petunjuk, dan standar teknis bangunan gedung yang dapat dilakukan bersamasama dengan masyarakat.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

40

Pembinaan juga dapat diwujudkan dalam bentuk pengawasan terhadap pelaksanaan penerapan QANUN dibidang bangunan gedung melalui mekanisme penerbitan izin mendirikan bangunan gedung, serta persetujuan dan penetapan pembongkaran bangunan gedung. Pemerintah Daerah dapat melibatkan peran masyarakat dalam pengawasan pelaksanaan penerapan PerundangUndangan dibidang bangunan gedung. 2.3. KAJIAN SOSIOLOGIS

Landasan ketiga adalah landasan sosiologis, yaitu bahwa setiap norma hukum yang dituangkan dalam UndangUndang haruslah mencerminkan tuntutan kebutuhan masyarakat sendiri dan norma hukum yang sesuai dengan realitas kesadaran hukum masyarakat. Karena itu, dalam Konsideran, harus dirumuskan dengan baik pertimbanganpertimbangan yang bersifat empiris sehingga sesuatu gagasan normatif yang dituangkan dalam UndangUndang benarbenar didasarkan atas kenyataan yang hidup dalam kesadaran hukum masyarakat. Dengan demikian, norma hukum yang tertuang dalam UndangUndang itu kelak dapat dilaksanakan dengan sebaikbaiknya dan berlaku efektif ditengahtengah masyarakat hukum yang diaturnya. Pada kajian hukum atau penelitian hukum yang sosiologis, hukum dikonsepkan sebagai pranata sosial yang secara riil dikaitkan dengan variabelvariabel sosial yang lain. Apabila hukum sebagai gejala sosial yang empiris sifatnya, dikaji sebagai variabel bebas/sebab (independent variable) yang menimbulkan pengaruh dan akibat pada berbagai aspek kehidupan sosial, kajian itu merupakan kajian hukum yang sosiologis (sociolegal research). Namun, jika hukum dikaji sebagai variabel tergantung/akibat (dependent variable) yang timbul sebagai hasil dari berbagai kekuatan dalam proses sosial, kajian itu merupakan kajian sosiologi hukum (sociology of law). Ketaatan masyarakat terhadap aturan (hukum) mencerminkan kesadaran hukum yang dimiliki oleh masyarakat. Semakin tinggi kesadaran masyarakat maka semakin rendah tingkat pelanggaran hukumnya. Bahkan jika kesadaran yang dimiliki sangat tinggi masyarakat tidak membutuhkan aparat penegak hukum. Bangunan gedung sebagai kebutuhan dasar manusia setelah pangan dan sandang, selain berfungsi sebagai tempat manusia melakukan aktifitasnya, juga memegang peran sangat strategis dalam membentuk watak, perwujudan, produktivitas dan jati diri manusia. Dalam pandangan sosiologis, bangunan gedung sering sekali dianggap dapat memberikan citra pada pemiliknya. Sebagai contoh bangunan gedung rumah tinggal yang berada pada kawasan permukiman yang tertata dan mahal dapat menunjukkan status sosial tertentu. Penyelenggaraan gedung sebagaimana dimaksud dalam UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung meliputi : pembangunan, pemanfaatan, pelestarian, dan pembongkaran.
Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

41

Penyelenggaraan pembangunan terdiri atas perencanaan teknis, pelaksanaan, dan pengawasan konstruksi. Selama ini proses pembangunan bangunan gedung umumnya diselenggarakan sendiri oleh masyarakat pemilik dan atau pengguna. Mulai dari tahapan perencanaan, penyelenggara bangunan gedung lebih cenderung untuk melakukannya sendiri, terutama pembangunan bangunan gedung di luar wilayah perkotaan. Sehingga penyelenggaraannya hanya berdasarkan keinginan sendiri dengan mengesampingkan persyaratanpersyaratan yang seharusnya dipenuhi. Tindakan ini ditempuh untuk menghindari munculnya biaya ekstra diluar biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan konstruksi bangunan gedung itu sendiri. Akibat tidak adanya pengaturan, penyelenggaraan bangunan gedung semakin semrawut. Belum lagi tidak terpenuhinya persyaratan teknis, sering kali terjadi kegagalan bangunan gedung yang sampai menelan korban nyawa. Tidak dapat dipungkiri, bahwa kebutuhan akan bangunan gedung sudah ada sejak masa peradaban dimulai. Hal ini terbukti dengan buktibukti peninggalan berupa bangunanbangunan yang difungsikan sebagai tempat tinggal maupun tempat beribadah (candi). Kenyataannya, sadar atau tidak, penyelenggaraan bangunan gedung telah dilaksanakan pada masa itu. Meski tidak tertulis sebagai suatu aturan yang menetap, namun pengaturannya tertuang dalam hukum adat yang diterima dan berlaku di tengah masyarakatnya. Dalam kenyataannya dalam kehidupan masyarakat hidup aturan yang tidak tertulis, yang lebih dikenal dengan hukum adat. Walaupun aturanaturan tersebut tidak tertulis tetapi masyarakat (adat) mematuhi aturan tersebut (Syifaul Qulub S.Hi, April 2010). Pola penyelenggaraan bangunan gedung pada masa itu antara lain dapat dilihat pada halhal sebagai berikut: a. Dalam membangun atau mendirikan rumah didasarkan pada adat resam yang menjadikan pola penghayatan hidup yang teratur dan tersusun, guna memberikan ketenangan dan kebahagian seseorang, keluarga dan masyarakat . Adat resam ini harus serasi, selaras dan seimbang terhadap berbagai kepentingan baik untuk kepentingan pribadi maupun masyarakat. b. Kondisi iklim lingkungan pada hakekatnya turut berperan serta dalam pembentukan pola perkampungan Melayu. Dalam maksud untuk mendapatkan sirkulasi udara pada ruang dalam sehingga menghasilkan kenyamanan, tata letak massa bangunan gedung didesain memanjang atau berbanjar mengikuti alur sungai ataupun pantai. Karena setiap rumah mempunyai pekarangan luas yang ditumbuhi pepohonan buahbuahan, sehingga udara yang masuk ke dalam ruangan akan lebih optimal sehingga mampu menghasilkan tingkat kenyamanan bagi penghuninya. c. Syariat Islam, dalam hal mendirikan dan membangun rumah yang harus diperhatikan pembedaan tata letak ruang khusus untuk pengguna pria dan wanita harus sesuai dengan norma agama Islam . d. faktor keamanan bahwa rumah Melayu ditopang oleh tiang (kolom/pilar) tinggi yang sangat berguna untuk penyelamatan dari marabahaya baik bahaya banjir, ancaman binatang buas dan

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

42

lainnya, juga untuk menghindari kelembaban yang akan membawa dampak kurang baik ditinjau dari segi kesehatan Tradisi ini terus tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sehingga aturanaturan yang muncul pada kemudian hari sulit untuk diterapkan ditengahtengah kehidupan masyarakat. Fenomena ini jika dibiarkan dapat mengakibatkan ekses yang tidak baik, karena biasanya hukum adat hanya berlaku pada satu komunitas adat tertentu. Sehingga akan banyak ketentuan yang muncul seiring dengan banyaknya komunitas adat yang ada. Meski dalam prosesnya cenderung terjadi akulturasi budaya (adat), namun kecenderungan ini belum tentu dapat melahirkan suatu aturan yang diterima oleh seluruh komunitas adat. Secara praktis, konsep yang sudah berkembang sebagai asas pelaksanaan penyelenggaraan bangunan gedung dan sudah diterima masyarakat, tetap dapat ditumbuh kembangkan sebagai pendekatan penyelenggaraan bangunan gedung yang berkelanjutan ditingkat lokal. Pendekatan ini dilakukan dengan semaksimal mungkin menampung kearifankearifan lokal yang ada termasuk memadukan kegiatankegiatan penyiapan dan pemberdayaan masyarakat sebagai satu kesatuan sistem yang tidak terpisahkan. Persoalan penyelenggaraan bangunan gedung sebenarnya lebih merupakan masalah lokal dan kebutuhan individual. Ini dapat ditunjukkan dengan besarnya peran swadaya masyarakat didalam pengadaan bangunan gedung. Karenanya perlu pembatasan campur tangan Pemerintah dalam penanganan persoalan lokal melalui penyelenggaraan bangunan gedung yang terdesentralisasi.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

43

3
URGENSI PEMBENTUKAN QANUN TENTANG BANGUNAN GEDUNG 3.1. Landasan Pemikiran dan Urgensi Pembentukan Qanun tentang Bangunan Gedung Pembahasan mengenai penyelenggaraan bangunan gedung di tingkat daerah Kabupaten/ Kota tidak lepas dari pembahasan mengenai urusan wajib yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah, yayng dalam hal ini diatur oleh UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU 32/2004). Dalam UU 32/2004 disebutkan bahwa urusan wajib yang menjadi kewenangan untuk meliputi urusan yang berskala meliputi3 : a. perencanaan dan pengendalian pembangunan; b. perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang; c. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat; d. penyediaan sarana dan prasarana umum; e. penanganan bidang kesehatan; f. penyelenggaraan pendidikan; g. penanggulangan masalah sosial; h. pelayanan bidang ketenagakerjaan; i. fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah; j. pengendalian lingkungan hidup; k. pelayanan pertanahan; l. pelayanan kependudukan, dan catatan sipil; m. pelayanan administrasi umum pemerintahan; n. pelayanan administrasi penanaman modal; o. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan p. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh Peraturan PerundangUndangan. Lebih jauh disebutkan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Didalam penyelenggaraan otonomi, daerah mempunyai kewajiban: a. melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia; b. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat; c. mengembangkan kehidupan demokrasi; d. mewujudkan keadilan dan pemerataan; e. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan;
Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

44

f. g. h. i. j. k. l. m. n.

menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan; menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak; mengembangkan sistem jaminan sosial; menyusun perencanaan dan tata ruang daerah; mengembangkan sumber daya produktif di daerah; melestarikan lingkungan hidup; mengelola administrasi kependudukan; melestarikan nilai sosial budaya; membentuk dan menerapkan peraturan perundangundangan sesuai dengan kewenangannya; dan kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundangundangan.

Secara implisit, dalam UU 32/2004 memang tidak disebutkan secara langsung perihal bangunan gedung. Namun berdasarkan Penjelasan Umum UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung menjelaskan bahwa bangunan gedung merupakan perwujudan fisik pemanfaatan ruang. Sehingga urusan wajib tentang bangunan gedung, dalam UU 32/2004 termasuk kedalam subbidang perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang. Perlu digarisbawahi bahwa urusan tentang penyelenggaraan bangunan gedung diatur dalam, ketentuan ini dapat diartikan bahwa penyelenggaraan bangunan gedung oleh mau tidak mau tetap mengacu pada UndangUndang sektoral di bidang bangunan gedung. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa UU 32/2004 sebagai UndangUndang yang bersifat mengatur hanya secara garis besar kewenangan dan cukup antisipatif menghindari terjadinya benturan dengan UndangUndang lain. Sebagai pelaksanaan UU 32/2004 dalam mengatur kewenangan atau pembagian urusan pemerintahan, pada tanggal 9 Juli 2007 diundangkanlah Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kebupaten Kota (PP 38/2007). Peraturan ini mengatur tentang urusan wajib dan urusan pilihan Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Pengurusan bangunan gedung sebagai bagian dari perencanaan, pemanfataan, dan pengawasan tata ruang, merupakan urusan wajib Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Lebih lanjut disebutkan urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, berkaitan dengan pelayanan dasar. Sebelum penyelenggaraan urusan pemerintahan, melakukan langkahlangkah pembinaan terlebih dahulu berupa teguran, instruksi, pemeriksaan, sampai dengan penugasan pejabat ke daerah yang bersangkutan untuk memimpin penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib tersebut. UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung mangamanatkan halhal yang menjadi kewenangan daerah Kabupaten/Kota dalam hal penyelenggaraan bangunan gedung. Keterbatasan kapasitas Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam memberikan arahan

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

45

terwujudnya bangunan gedung yang dapat menjamin terpenuhinya asas penyelenggaraan bangunan gedung, baik melalui mekanisme perizinan maupun pengawasan tentu saja memerlukan suatu regulasi/kebijakan yang dapat dituangkan dalam suatu bentuk. UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung mengamanatkan fungsi bangunan gedung diklasifikasikan berdasarkan tingkat kompleksitas, tingkat permanensi, tingkat resiko kebakaran, zonasi gempa, lokasi, ketinggian, dan/atau kepemilikan. Klasifikasi bangunan gedung adalah klasifikasi dari fungsi bangunan gedung berdasarkan pemenuhan tingkat persyaratan administratif dan persyaratan teknisnya. Sedangkan klasifikasi berdasarkan tingkat kompleksitas meliputi : bangunan gedung sederhana, bangunan gedung tidak sederhana, dan bangunan gedung khusus. Klasifikasi berdasarkan tingkat permanensi meliputi : bangunan gedung permanen, bangunan gedung semi permanen, dan bangunan gedung darurat atau sementara. Klasifikasi berdasarkan tingkat resiko kebakaran meliputi : gedung tingakt resiko kebakaran tinggi, tingkat resiko kebakaran sedang, dan tingkat resiko kebakaran rendah. Klasifikasi berdasarkan zonasi gempa meliputi : tingkat zonasi gempa yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Klasifikasi berdasarkan lokasi meliputi : bangunan gedung di lokasi padat, bangunan gedung di lokasi sedang, dan bangunan gedung di lokasi renggang. Klasifikasi berdasarkan ketinggian meliputi : bangunan gedung bertingkat tinggi, bangunan gedung bertingkat sedang, dan bangunan gedung bertingkat rendah. Klasifikasi berdasarkan kepemilikan meliputi : bangunan gedung miliki negara, bangunan gedung miliki badan usaha, dan bangunan gedung milik perorangan. Dengan klasifikasi tersebut, UndangUndang ini berpotensi menciptakan konflik dengan regulasi lainnya. Hal ini akan semakin tampak pada penyelenggaraan bangunan gedung sebelum UndangUndang ini diundangkan. Bagaimana jika bangunan gedung yang telah berdiri sebelum diundangkannya regulasi ini berada pada di atas dan/atau di bawah sarana dan prasarana umum? Lalu bagaimana jika persyaratan teknis yang ditetapkan pada regulasi ternyata tidak terpenuhi misalnya berkaitan dengan Koefisien Dasar Bangunan, dan/atau Koefisien Lantai Bangunan dan/atau lain sebagainya? Apakah bangunan gedung tersebut harus dibongkar dan dibangun kembali sesuai dengan ketentuan yang ada? Terkait dengan peruntukan lokasi, UU No. 28/2002 tentang bangunan gedung dan peraturan pelaksanaannya yang tertuang dalam PP No. 36/2005 mengamanatkan pembangunan bangunan gedung yang berkenaan dengan sarana dan prasarana umum baik di bawah dan/atau di atas tanah, air, dan/atau sarana dan prasarana umum dilaksanakan berdasarkan tentang tata ruang. Kesimpulannya adalah bahwa UU No. 28/2002 tentang bangunan gedung dan peraturan pelaksanaannya masih cukup fleksibel untuk bersinergi dengan UndangUndang yang mengatur sumber daya lainnya. Berdasarkan prinsip desentralisasi dan otonomi luas yang dianut oleh UU No. 32/2004, Pemerintah hanya menjalankan lima kewenangan, dan diluar lima kewenangan itu menjadi kewenangan daerah. Dengan demikian konsepsi dasar yang dianut UU No. 32/2004, otonomi berhenti di Kabupaten/Kota. Untuk mengantisipasi hal tersebut, daerah Kabupaten/Kota perlu

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

46

segera melakukan penyusunan Qanun tentang Bangunan Gedung, yang dapat digunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan gedung, sehingga maksud dan tujuan pengaturan bangunan gedung di daerah dapat terwujud dengan baik. 3.2. Manfaat dan Konsekuensi Keberadaan Qanun tentang Bangunan Gedung

Salah satu cara untuk menilai urgensi lahirnya Qanun tentang Bangunan Gedung di Kota Langsa, dapat dilakukan dengan menggunakan parameter manfaat dan konsekuensinya. a. Manfaat Manfaat dari keberadaan Qanun tentang Bangunan Gedung di Kota Langsa, antara lain adalah : 1. memberikan landasan hukum dan sekaligus pedoman bagi Pemerintah Kota Langsa dalam melaksanakan penyelenggaraan bangunan gedung; 2. mendorong agar kegiatan penyelenggaraan bangunan gedung yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Langsa dapat berlalngsung lebih tertib, terarah, terkoordinasi, dan bermanfaat sehingga asas penyelenggaraan bangunan gedung yang berupa asas kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan, serta keserasian bangunan gedung dengan lingkungannya dapat terpenuhi; 3. lebih menjamin terciptanya kepastian dalam penyelenggaraan bangunan gedung. b. Konsekuensi Konsekuensi dari keberadaan Qanun tentang Bangunan Gedung di Kota Langsa, antara lain : 1. menuntut konsistensi dan komitmen yang sungguhsungguh dari Pemerintah Kota Langsa didalam pelaksanannya; 2. menuntut adanya koordinasi yang dilandasi oleh satu kepentingan nasional yang mengesampingkan kepentingankepentingan sektoral; 3. menuntut diwujudkannya penyelenggaraan bangunan gedung yang terintegrasi dan sinergis.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

47

4
POKOK-POKOK MATERI MUATAN QANUN TENTANG BANGUNAN GEDUNG

Berdasarkan pertimbanganpertimbangan sebagaimana disebutkan dalam dasar kegiatan, maka materi yang perlu dituangkan dalam Rancangan QANUN Kota Langsa tentang Bangunan Gedung, antara lain meliputi : a. Judul b. Konsideran Qanun dan diktum c. Rancangan isi batang tubuh undangundang 1. Ketentuan umum 2. Persyaratan Bangunan Gedung 3. Penyelenggaraan Bangunan Gedung 4. Perizinan Bangunan Gedung 5. Retribusi 6. Permohonan Banding Kepada DPRD 7. Pengawasan 8. Sanksi Terhadap Pelanggaran 9. Penyidikan d. Ketentuan Peralihan e. Ketentuan Lainlain f. Ketentuan penutup 4.1. Halhal yang Perlu Dituangkan dalam Rancangan Qanun tentang Bangunan Gedung Berdasarkan pertimbanganpertimbangan sebagaimana diuraikan di atas, maka materi yang perlu dituangkan dalam Rancangan Qanun Kota Langsa tentang Bangunan Gedung, antara lain memuat halhal seperti diuraikan di bawah ini.

4.1.1. Konsiderans
Konsideran yang terdapat dalam setiap pada pokoknya, berkaitan dengan 3 (tiga) landasan pokok bagi berlakunya normanorma yang terkandung didalam Peraturan PerundangUndangan tersebut bagi subjeksubjek hukum yang diatur oleh PerundangUndangan tersebut.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

48

a.

Konsideran Menimbang
Didalam konsideran menimbang dimuat pertimbanganpertimbangan yang menjadi alasan pokok perlunya pengaturan Qanun tentang Bangunan Gedung. Konsideran menimbang dalam Rancangan Qanun tentang Bangunan Gedung ini menyatakan : 1. bahwa dalam rangka pembangunan kembali Kota Langsa akibat bencana gempa dan
tsunami, maka diperlukan pedoman pembangunan bangunan dengan karakteristik, nilai-nilai, dan budaya Aceh; 2. gedung yang sesuai

bahwa persyaratan pembangunan bangunan gedung di Kota Langsa perlu disesuaikan dengan penyelenggaraan keistimewaan Aceh dan otonomi khusus, maka perlu pedoman yang baku sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Qanun ini; 3. bahwa untuk kelancaran pembangunan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca- tsunami di Kota Langsa perlu persyaratan pembangunan bangunan gedung, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung; 4. bahwa untuk memenuhi maksud sebagaimana tersebut pada Huruf a, Huruf b, dan Huruf c, maka perlu diatur dalam sebuah Qanun tentang bangunan gedung.

b.

Konsideran Mengingat
Memuat landasan hukum pengaturan yang digunakan, antara lain : 1. UndangUndang Nomor 24 Tahun 1956, tentang Pembentukan Daerah Otonomi Propinsi Aceh dan Perubahan Peraturan Pembentukan Propinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1103); 2. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985, tentang Rumah Susun; (Lembaran Negara Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3318); 3. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992, tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992, Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501); 4. Undang-Undang Cagar Budaya nomor 5 Tahun 1992, (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 27 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 3470); 5. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992, tentang Penataan Ruang ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992, Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501); 6. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999, tentang Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Tahun 1999, Nomor 54,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3318); 7. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999, tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999, Nomor 172, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3893);

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

49

8. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001, tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh Sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001, Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4134) 9. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Tahun 2002, Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4247); 10. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan (Lembaran Negara Tahun 2004, Nomor 53 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389); 11. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; (Lembaran Negara Tahun 2004, Nomor 125 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996, tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Serta Bentuk Tata Cara Peran serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang; 13. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1998, tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar; 14. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan; 15. Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999, tentang Kawasan Siap Bangunan yang Berdiri Sendiri; 16. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom; 17. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001, tentang Pembinaan dan Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah; 18. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2003, tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah; 19. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004, tentang Penatagunaan Tanah; 20. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2005, tentang Rencana Induk & Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara; 21. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005, tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung; 22. Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 2005, tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Serta Hak Kewenangan Badan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara; 23. Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyusunan Peraturan Perundang-undangan; 24. QANUN (Qanun) Provinsi Aceh Nomor 31 Tahun 2001, tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Prasarana Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Aceh. 25. Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 2 Tahun 2003, tentang Susunan, Kedudukan, da Kewenangan Kabupaten/Kota Dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

50

26. Qanun Kota Langsa, Nomor 006, Tahun 2003, tentang Syarat Konstruksi Bangunan

4.1.2. Ketentuan Umum


1. 2. 3. 4. 5. Ketentuan Umum dalam Qanun Kota Langsa tentang Bangunan Gedung terdiri atas : Kota adalah suatu tempat yang memiliki batas administratif dan pemerintahan, di mana masyarakat bertempat dan melakukan aktivitasnya, dalam buku ini adalah Kota Langsa. Pemerintah Kota adalah wali kota beserta perangkat daerah otonom yang lainnya sebagai badan eksekutif daerah. Wali kota adalah kepala pemerintahan Kota Langsa. Dinas adalah instansi teknis di daerah yang melaksanakan pembinaan bangunan gedung di Kota Langsa. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengawas/Pemilik Bangunan Gedung adalah pejabat fungsional teknis tata bangunan dan perumahan yang ditunjuk berdasarkan keputusan Walikota / wali kota sesuai ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi pelaksanaan konstruksi bangunan gedung. Bagian Wilayah Kota yang selanjutnya disebut BWK, merupakan pembagian kawasan fungsi kota yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Langsa Bangunan adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian maupun seluruhnya berada d atas atau di dalam tanah dan/atau air. Bangunan Gedung adalah yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, untuk hunian atau tinggal, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. Bangunan gedung permanen adalah bangunan yang ditinjau dari segi konstruksi dan umur bangunan dinyatakan lebih dari 15 tahun. Bangunan gedung semi permanen adalah bangunan yang ditinjau dari segi konstruksi dan umur bangunan dinyatakan antara 5 tahun samapi dengan 15 tahun. Bangunan gedung sementara adalah bangunan yang ditinjau dari konstruksi dan umur bangunan dinyatakan kurang dari 5 tahun. Bangunan gedung tradisional adalah rumah tradisional Aceh ( Rumoh Aceh ) yaitu rumah panggung yang berdiri pada sejumlah tiang, minimal sebanyak 16 tiang yang berbaris empat dengan tinggi kolong bangunan 2,5 sampai 3,0 m. Bangunan gedung non-tradisional adalah bangunan dengan bentruk selain Rumoh Aceh. Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disingkat GSB adalah garis imajiner yang ditarik pada jarak tertentu sejajar dengan as jalan sungai atau as pagar yang merupakan batas antara bagian persil yang boleh dibangun dan yang tidak boleh dibangun bangunan gedung.

6.

7. 8.

9.

10. 11. 12. 13.

14. 15.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

51

16.

17.

18. 19. 20. 21.

22. 23. 24.

25. 26.

27.

Garis Sempadan Pantai (GSP) adalah garis imajiner yang ditarik pada jarak tertentu sejajar denagn pantai yang merupakan batas antara bagian persil yang boleh dibangun dan yang tidak boleh dibangun bangunan gedung. Izin Mendirikan Bangunan yang selanjutnya disingkat IMB adalah izin yang diberikan oleh Pemeriuntah Kota untuk mendirikan, memperluas, merubah, dan memperbaiki/merehabilitasi bangunan gedung. Koefien Dasar Bangunan (KDB) adalah bilangan pokok atas perbandingan antara luas lantai dasar bangunan gedung dengan luas persil. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah bilangan pokok atas perbandingan antara total luas lantai bangunan gedung dengan luas persil. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah bilangan pokok atas perbandingan antara luas daerah hijau dengan luas persil. Mendirikan bangunan adalah pekerjaan mengadakan bangunan seluruhnya atau sebagian baik membangun bangunan baru maupun menambah, merubah dan/atau memperbaiki bangunan yang ada termasuk pekerjaan menggali, menimbun, atau meratakan tanah yang berhubungan dengan pekerjaan mengadakan bangunan tersebut. Merobohkan bangunan adalah pekerjaan meniadakan sebagian atau seluruh bagian bangunan ditinjau dari segi fungsi bangunan dan/atau konstruksi. Persil adalah suatu perpetakan tanah, yang menurut pertimbangan pemerintah kota dapat dipergunakan untuk tempat mendirikan bangunan. Peta adalah suatu benda yang terbuat dari kertas atau sejenisnya yang memuat gambar mengenai suatu lokasi/wilayah dengan skala tertentu yang dapat memberikan informasi mengenai batas-batas wilayah dengan menunjukkan adanya jalan, sungai, gunung, daratan, lautan, termasuk peta kota, peta kecamatan, peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota, peta Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota, peta Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) dan peta Rencana Teknik Ruang Kota (RTRK) atau site plan. Tinggi bangunan adalah jarak yang diukur dari permukaan tanah, dimanan bangunan tersebut didirikan, sampai dengan titik puncak dari bangunan. Zona adalah suatu kawasan yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan tingkat kerusakan bangunan gedung akibat gempa dan tsunami serta rencana peruntukan lahannya. Zona gempa adalah suatu kawasan yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan kekuatan getaran gempa.

4.1.3. Materi yang Diatur


Merupakan materi pokok yang diatur ditempatkan langsung setelah bab ketentuan umum. Pembagian materi pokok kedalam kelompok yang lebih kecil dilakukan menurut kriteria yang dijadikan dasar pembagian. Materi pokok yang diatur dalam Qanun Kota Langsa tentang Bangunan Gedung yaitu:

a.

Lingkup, Asas, dan Tujuan

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

52

Lingkup Qanun ini meliputi ketentuan fungsi bangunan gedung, persyaratan bangunan gedung, penyelenggaraan bangunan gedung, peran masyarakat, dan pembinaan dalam penyelenggaraan bangunan gedung. b.

Fungsi Bangunan Gedung


Pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung baik dari segi tata bangunan dan lingkungannya, maupun keandalan bangunan gedung merupakan ketetapan pengklasifikasian fungsi bangunan gedung, yang meliputi fungsi hunian, keagamaan, usaha, sosial dan budaya, serta fungsi khusus (ditetapkan dengan Peraturan Menteri).

c.

Persyaratan Bangunan Gedung


Semua bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsinya. Persyaratan administratif terdiri atas status hak atas tanah dan/atau izin pemanfaatannya, kepemilikan bangunan gedung dan izin mendirikan bangunan gedung. Sedangkan persyaratan teknis meliputi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan gedung.

d.

Penyelenggaraan Bangunan Gedung


Penyelenggaraan bangunan gedung diselenggarakan berdasarkan tahapan perencanaan teknis dan pelaksanaan beserta pengawasannya yang dalam pelaksanaannya wajib dilaksanakan secara tertib administratif dan teknis guna menjamin keandalan bangunan gedung sehingga tidak menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan.

e.

Peran Masyarakat
Didalam penyelenggaraan bangunan gedung masyarakat berperan serta untuk memantau dan menjaga ketertiban, baik dalam kegiatan pembangunan, pemanfaatan, pelestarian, maupun kegiatan pembongkaran bangunan gedung.

f.

Pengawasan
Pengawasan dilaksanakan terhadap kegiatan pembangunan, pemanfaatan, maupun perawatan bangunan dan dibebankan kepada kepada Dinas dan masyarakat sebagai partisipasinya. Pengawasan yang dilakukan berbentuk pangawasan secara aktif yang merupakan pengawasan yang dilaksanakan atas kegiatan membangun dan kelayakan menggunakan bangunan serta pengawasan pasif berupa pengawasan atas pengaduan dan informasi masyarakat.

g.

Penyidikan
Wewenang penyidikan terhadap pelanggaran ketentuan ini dilakukan oleh penyidik umum dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang diangkat sesuai ketentuan yang berlaku.

h.

Sanksi
Sanksi administratif berlaku pada tahap pembangunan bangunan gedung maupun pada saat tahap pemanfaatan bangunan gedung. Sanksi administratif yang dikenakan berupa : peringatan tertulis, pembatasan kegiatan pembangunan, penghentian sementara atau tetap, pembekuan dan/atau pencabutan izin, pembekuan dan/atau

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

53

pencabutan sertifikat laik fungsi, maupun sampai perintah pembongkaran bangunan gedung.

4.1.4. Ketentuan Peralihan


Ketentuan peralihan diperlukan apabila materi hukum dalam sudah pernah diatur. Ketentuan peralihan harus memuat pemikiran tentang penyelesaian masalah/kendala atau peristiwa yang sudah ada pada saat mulai berlakunya yang baru. Ketentuan peralihan memuat: a. Ketentuanketentuan tentang penerapan baru terhadap keadaan yang terdapat pada waktu Qanun itu mulai berlaku. b. Ketentuanketentuaan tentang melaksanakan itu secara berangsur-angsur. c. Ketentuanketentuan tentang penyimpangan untuk sementara waktu dari itu. d. Ketentuanketentuan mengenai aturan khusus bagi keadaan atau hubungan yang sudah ada pada saat mulai berlakunya itu. e. Ketentuanketentuan tentang upaya apa yang harus dilakukan untuk memasyarakatkan itu.

4.1.5. Ketentuan Penutup


Ketentuan penutup berbeda dari kalimat penutup. Dalam UndangUndang, yang biasanya dirumuskan sebagai ketentuan penutup adalah ketentuan yang berkenaan dengan pernyataan mulai berlakunya UndangUndang atau mulai pelaksanaan suatu ketentuan UndangUndang. Ketentuan penutup dalam, biasanya memuat ketentuan mengenai : a. penunjukan organ atau lembaga tertentu yang akan melaksanakan yang bersangkutan; b. nama singkat; c. status yang sudah ada sebelumnya; dan d. saat mulai berlakunya peraturan perundangundangan tersebut. Ketentuan penutup dalam suatu UndangUndang dapat memuat ketentuan pelaksanaan yang bersifat eksekutif atau legislatif. Yang bersifat eksekutif misalnya, menunjuk pejabat tertentu yang diiberi kewenangan untuk melakukan sesuatu perbuatan hukum, atau untuk mengeluarkan dan mencabut perizinan, lisensi, atau konsensi, pengangkatan dan memberhentikan pegawai, dan lain sebagainya. Sedangkan yang bersifat legislatif, misalnya memberi wewenang untuk membuat peraturan pelaksanaan lebih lanjut (delegation of rule making power) dari apa yang diatur dalam yang bersangkutan.

4.1.6. Penutup
Penutup merupakan bagian akhir. Didalam kalimat penutup tersebut dimuat halhal sebagai berikut : a. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan dalam lembaran Daerah atau Berita Daerah.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

54

b. Tandatangan pengesahan atau penetapan yang bersangkutan oleh Walikota atau pejabat yang terkait. c. Pengundangan tersebut dengan pemberian nomor. Sedangkan penandatanganan pengesahan atau penetapan memuat : a. Tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan; b. Nama jabatan; c. Tanda tangan pejabat; dan d. Nama lengkap pejabat yang menandatangani, tanpa gelar dan pangkat.

4.1.7. Penjelasan
Penjelasan (explanation) berfungsi sebagai pemberi keterangan mengenai katakata tertentu, frasa atau beberapa aspek atau konsep yang terdapat dalam suatu ketentuan ayat atau pasal yang dinilai belum terang atau belum jelas atau yang karena itu dikhawatirkan oleh perumusnya akan menimbulkan salah penafsiran dikemudain hari. Jika diuraikan, tujuan adanya penjelasan (explanation) itu adalah untuk4 : 1. Menjelaskan pengertian dan maksud dari suatu ketentuan; 2. Apabila terdapat ketidakjelasan (obscurity) atau kekaburan (vagueness) dalam suatu UndangUndang, maka penjelasan dimaksudkan untuk memperjelas sehingga ketentuan dimaksud konsisten dengan tujuan yang hendak dicapai oleh pengaturan yang bersangkutan; 3. Menyediakan tambahan uraian pendukung terhadap tujuan utama agar keberadaannya semakin bermakna dan semakin berguna; 4. Apabila terdapat perbedaan yang relevan dengan maksud penjelasan untuk menekankan kesalahan dan mengedepankan objek peraturan perundangundangan, penjelasan dapat membantu pengadilan dalam menafsirkan; Pada pokoknya, penjelasan suatu berfungsi sebagai tafsiran resmi pembentuk itu atas normanorma hukum tertentu yang diberi penjelasan. Oleh karena itu, penjelasan hanya memuat uraian atau elaborasi lebih lanjut norma yang diatur dalam batang tubuh peraturan yang dijelaskan. Dengan demikian, penjelasan yang diberikan tidak boleh menyebabkan timbulnya ketidakjelasan atau malah membingungkan. Selain itu, penjelasan juga tidak boleh berisi norma hukum baru ataupun yang berisi ketentuan lebih lanjut dari apa yang sudah diatur dalam batang tubuh. Apalagi, jika penjelasan itu memuat ketentuanketentuan baru yang bersifat terselubung yang bermaksud mengubah atau mengurangi substansi norma yang terdapat didalam batang tubuh. Untuk menghindari jangan sampai penjelasan itu berisi normanorma hukum baru yang berbeda dari batang tubuh ketentuan yang dijelaskannya, maka pembahasan rancangan penjelasan haruslah dilakukan secara integral dengan keseluruhan naskah rancangan Peraturan PerundangUndangan yang bersangkutan.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

55

Penjelasan Qanun Kota Langsa tentang Bangunan Gedung terdiri atas penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal.

5
PENUTUP
Perlu diperhatikan bahwa suatu Naskah Akademis baru merupakan suatu tahap awal perancangan suatu UU. Naskah akademis ini selanjutnya akan diformulasi dalam bentuk Rancangan PerundanganUndangan (RUU) oleh pemerintah atau oleh Tim khusus DPR (kalau DPR ingin menggunakan hak inisiatif mereka). RUU tersebut selanjutnya akan dibahas di DPR dan disempurnakan menjadi UndangUndang. Dalam dua proses yang tersisa, kita masih bisa memasukan ideide kita bagi penyempurnaan Naskah Akademis ini, bahkan kadang diseminarkan. Dalam hubungannya dengan keinginan yang kuat untuk mewujudkan pembentukan Qanun tentang Bangunan Gedung, hal ini semakin menunjukkan adanya suatu kesadaran dan komitmen politik yang sangat tinggi untuk menempatkan dan memfokuskan bangunan gedung sebagai asset daerah yang sangat penting dalam rangka mempercepat dan mendukung roda pemerintahan. Secara filosofis, pembentukan Qanun tentang bangunan gedung akan menempatkan kembali bangunan gedung sebagai asset daerah yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat daerah untuk mewujudkan peningkatan Pendapat Asli Daerah (PAD). Secara Yuridis, dengan pembentukan Qanun tentang bangunan gedung ini maka akan semakin memperjelas kepastian hukum dalam penyelenggaraan bangunan gedung. Secara Sosiologis, berbagai aspek yang menjadi permasalahan krusial penyelenggaraan bangunan gedung di daerah akan segera dapat lebih difokuskan untuk ditangani, dengan demikian maka citacita luhur bangsa Indonesia yang tertuang di dalam Pembukaan UndangUndang Dasar 1945 akan segera dapat diwujudkan.

Kota Langsa

Naskah Akademis Ranperda Bangunan Gedung

56

Kota Langsa