Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Proctitis adalah peradangan pada lapisan mukosa rektum yang dapat terjadi secara akut maupun kronis yang umum terjadi di seluruh lapisan masyarakat dari berbagai kelompok ekonomi dan usia. Dalam sebuah studi epidemiologi penyakit usus inflamasi di Indonesia, 1065 kasus colitis proktitis didiagnosis dari tahun 1965 sampai 1983. Didominasi laki-laki, dengan rasio 1.4:1 laki-laki untuk perempuan. Tahunan tingkat insiden lebih tinggi di perkotaan dari pada di daerah pedesaan. Tingkat insiden tahunan meningkat tiga kali lipat dari 2,8 per 10 menjadi 6,6 per 10 dalam periode tertentu, yang mempengaruhi semua kelompok umur lebih dari 14 tahun, baik perkotaan maupun pedesaan dan di kedua jenis kelamin, artinya faktor perilaku yang menjadi akar masalah utama. Perilaku seksual menyimpang masyarakat seperti hubungan seksual sesama jenis (homoseksual) dan hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan dapat menimbulkan Proctitis. Bahkan tidak jarang pasien datang kembali dalam kondisi yang lebih buruk dan mengalami komplikasi. Hal ini juga disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai cara penularan penyakit Proctitis melalui hubungan seksual sehingga masyarakat terlambat menyadari penyakitnya. Selain itu perilaku masyarakat yang mengonsumsi makanan yang tidak dimasak matang dan tidak terjamin kebersihannya juga menjadi masalah terhadap terjadinya Proctitis. Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mencegah prilaku masyarakat yang menyebabkan Proctitis. Berbagai macam tindakan pencegahan telah dikembangkan untuk mengendalikan tingkat prevalensi proctitis yang terus meningkat di Indonesia, diantaranya membuat leafletleaflet berisi informasi bahwa hubungan seksual menyimpang (homoseksual dan hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan) dapat menyebabkan Proctitis, melakukan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi makanan yang bersih dan dimasak dengan matang, membuat seminar bagi masyarakat mengenai Proctitis sehingga dapat mengetahui penyebab terjadinya Proctitis, cara mencegah Proctitis, dan mengenali gejala-gejala Proctitis sehingga dapat mencegah keterlambatan berobat yang menyebabkan terjadinya komplikasi dll. Walaupun sudah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah,

namun prevalensi proctitis di Indonesia tetap tinggi, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran dari masyarakat itu sendiri.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang Penyakit Proctitis dan pemeriksaan beserta pengobatan yang harus dilakukan. Memenuhi penugasan sebagai prasyarat ujian akhir semester IV dalam modul Pemeriksaan Fisik

1.2.2

Tujuan Khusus Mahasiswa mampu memahami dan melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, serta mampu menganalisa pemeriksaan labor dan penunjang tentang Proctitis. Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa Proctitis, setelah mengetahui patofisiologi serta patogenesa dari Proctitis. Mengetahui penatalaksanaan Proctitis.

1.3. Manfaat
Sebagai bahan acuan dalam mempelajari dan memahami Proctitis. Sebagai tambahan wawasan dalam mempelajari Proctitis bagi para pembaca. Menambah wawasan mengenai ilmu kedokteran pada umumnya, dan Gastrointestinal bagian bawah pada khususnya. Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti kepaniteraan klinik bagian ilmu penyakit gastrointestinal bagian bawah.

1.4 Anatomi dan Fisiologi


Tractus gastrointestinal berakhir pada sebuah segmen yang pendek, yaitu canalis ani ( saluran anus) bagian tepi luar anus memiliki batas yang tidak jelas tetapi biasanya kulit pada saluran anus dapat dibedakan dengan kulit perianal disekelilingnya berdasarkan penampakanya yang basah dan tidak berambut. Normalnya canalis ani dipertahankan dalam posisi menutup oleh kerja otot sfingter ani eksterna yang dikendalikan oleh kemauan (volunter) dan sfingter ani interna yang berda diluar kendali kemauan (involunter), sfingter ani interna merupakan peluasan selubung muskular dinding rectum. Arah canalis ani yang secara kasar sama dengan arah garis yang

menghubungkan anus dengan umbilicus harus diperhatikan dengan cermat. Berbeda dengan rectum yang berda diatasnya, saluran tersebut dipersarafi oleh serabut saraf sensorik somatik sehingga jari tangan atau alat yang dimasukkan kedalam anus dengan arah yang salah akan menimbulkan rasa nyeri. Canalis ani dipisahkan dengan rectum yang berada diatasnya oleh linea serata yang menandai perubahan dari kulit menjadi membran mukosa. Sambungan ( junction) anorektal yang sering dinamakan linea pektinata atau linea dentata ini juga merupakan batas yang memisahkan antara pasokan saraf somatik dan saraf visceral. Batas tersebut dapat dilihat pada pemeriksaan proktoskopi,tetapi tidak bisa diraba. Diatas sambungan anorektal, rectum menggelembung dan mengadakan rotasi kearah posterior kedalam rongga pada daerah coccygeus serta sacrum. Pada pria terdapat tiga lobus kelenjer prostat yang mengelilingi uretra. Dua buah lobus laeralis berada pada dinding anterior rectum , tempat lobus kelenjer tersebut teraba sebagai bangunan yang bundar serta berbentuk seperti jantung dengan panjang sekitar 2,5 cm. Kedua lobus lateralis dipisahkan oleh alur atau sulkus medialis yang dangkal dan juga dapat diraba. Lobus ketiga, atau lobus medialis, terletak disebelah anterior uretra dan tidak bisa diperiksa. Vesikula semilunaris yang bentuknya mirip dengan telinga kelinci dan berada di atas kelenjer prostat, normalnya juga tidak dapat di raba. Pada wanita biasanya serviks uteri dapat diraba melalui dinding anterior rectum. Dinding rectum mengandung tiga lipatan yang mengarah kedalam dan dinamakan valvula ( katup) Houston. Valvula yang letaknya paling rendah terkadang dapat diraba dan biasanya berada pada sisi tubuh sebelah kiri. Sebagian besar rectum yang dapat diakses dengan pemeriksaan colok dubur ( rectal toucher) tidak memiliki permukaan
3

peritoneal dan anda dapat menjangkaunya dengan ujung jari tangan anda. Dengan demikian, anda dapat mengenali gejala nyeri tekan pada inflamasi peritonel atau nodularitas.

1.5 Etiologi
Faktor yang mempengaruhi seseorang mendapatkan penyakit ini adalah melakukan hubungan sex dengan sesama jenis (homosexual) sehingga mendapat infeksi gonorrhoe (kencing nanah), Herpes Simplex Virus, Treponema pallidum, Human Imunodefficiency Virus, Candida, dan C. Trachomatis. Proctitis juga dapat disebabkan karena seseorang mengkonsumsi makanan yang mengandung bakteri Giardia, Entamoeba, Campylobacter, Shigella dan Hepatitis A. Inflammatory Bowel Diseases, seperti penyakit Crohns atau colitis ulseratif (ulkus kronik yang sering berulang pada usus besar) juga dapat menyebabkan terjadinya Proctitis. Kondisi-kondisi seperti diversion, iskemia dan terpapar radiasi dapat menyebabkan Proctitis. Penyebab lain yang tidak diketahui disebut juga Proctitis idiopatik.

Tabel. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Proctitis Faktor Biologi Laki-laki lebih beresiko di bandingkan wanita, karena aktivitas seksual meningkat pada usia 30-50 tahun Faktor Lingkungan Faktor Perilaku Faktor Kesehatan Lingkungan Hubungan seksual dengan sanitasi sesama jenis yang kurang baik. (Homoseksual) Lingkungan Hubungan dengan prilaku seksual bergantiseksual ganti pasangan. menyimpang Mengonsumsi ( lingkungan makanan dan prostitusi dan minuman yang lingkungan kaum tidak dimasak homoseksual) matang 2 Tidak melakukan pemeriksaan rutin kesehatan Kurang kesadaran untuk berobat dini Keterlambatan dalam berobat. Minimnya pengetahuan petugas kesehatan Kurangnya sarana dan prasarana yang memadai Keterlambatan dalam diagnosis dan terapi Kekeliruan dalam diagnosis dan terapi Tidakadanya program yang adekuat dalam proses skrining awal penyakit Pelayanan

1.6 Patogenesa
Berbagai faktor yang dapat menyebabkan proctitis diantaranya disebabkan oleh virus atau bakteri yang mnyebabkan respon imun dalam menfagositosis dan membasmi benda asing yang masuk sehingga dapat menyebabkan terus berlangsungnya peradangan dalam dinding rektum. Pada permulaan penyakit, timbul edema dan kongesti mukosa. Edema dapat mengakibatkan kerapuhan hebat sehingga dapat terjadi perdarahan akibat trauma ringan, seperti gesekan ringan pada permukaan. Pada penyakit yang kronis dapat menimbulkan terowongan dalam mukosa. Mukosa kemudian terkelupas dan menyisakan daerah tidak bermukosa (tukak). Tukak mula-mula tersebar dan dangkal tetapi pada stadium yang lebih lanjut, permukaaan mukosa yang hilang dapat menjadi luas sehingga mengakibatkan hilangnya jaringan, protein, dan darah dalam jumlah banyak. Begitu pula dengan terapi radiasi pada penyakit tertentu hal ini juga dapat menyebabkan kerusakan sel-sel mukosa rektum sehingga terjadi iritasi rektum dan kerusakan saraf di rektum. Kerusakan saraf di rektum dapat menimbulkan spasme sfingter otot anal dan rasa ingin defekasi yang mendesak yg tidak dapat di kontrol, banyak kelainan patologis yang dapat ditimbulkan.

1.7 Manifestasi Klinis


Gejala proctitis berbeda tergantung pada penyebabnya.

Gejala yang paling umum adalah bahwa adanya dorongan terus untuk buang air besar. Rektum terasa "penuh" atau bisa mengalami sembelit (tidak dapat memiliki gerakan usus).

Gejala ringannya seperti nyeri di daerah anus dan iritasi ringan rektum. Gejala yang lebih serius dapat terjadi, seperti nanah dan darah pada cairan disertai spasme dan rasa sakit saat buang air besar.

Jika mengalami perdarahan berat yang berhubungan dengan proctitis, mungkin menyebabkan anemia (karena kehabisan darah). Seseorang yang anemia biasanya memiliki kulit pucat, lekas marah, lemah, pusing , kuku rapuh, dan sesak napas.

Dengan proctitis yang disebabkan oleh penyakit menular seksual, dapat ditemukan gejalagejala: Gonore (proctitis gonokokal): Penyebab utama tampaknya hubungan seks dubur. mungkin tidak memiliki gejala. Jika memiliki gejala, seperti rasa sakit, gatal , keluar cairan berdarah atau nanah seperti debit atau diare . Masalah dubur lain seperti kutil dubur, yang genital warts, air mata anus, fistula (saluran abnormal yang menghubungkan organ atau tabung alami, seperti dubur, ke permukaan lain), dan wasir (vena melebar di anus). Sifilis (proctitis sifilis): Gejala mirip dengan penyebab lain dari infeksi proctitis yaitu rektal sakit , debit, dan kejang saat buang air besar. Sifilis terjadi dalam 3 tahap:
a.

Tahap Primer: Sebuah rasa sakit tunggal ditemukan di lokasi kontak seksual. Luka ini kurang dari satu inci dari seluruhnya. Selama tahap akut dari infeksi, kelenjar getah bening di pangkal paha menjadi sakit, tegas, dan kenyal.

b.

Tahap Sekunder: Sifilis menghasilkan luka di sekitar anus dan rektum, serta ruam meyebar yang mungkin muncul diseluruh tubuh terutama pada tangan dan kaki.

c.

Tahap ketiga: tahap ini biasanya muncul terlambat dalam perjalanan sifilis dan mempengaruhi sebagian besar hati dan sistem saraf.

Chlamydia (proctitis klamidia): Bentuk bakteri proctitis menular seksual dapat menjelaskan sampai 20% kasus. Mungkin tidak menunjukkan gejala, gejala ringan, atau gejala parah. Gejala ringan mungkin menjadi sakit dubur ringan dengan buang air besar, debit dubur, dan spasme. Dengan kasus yang parah, Anda mungkin memiliki darah yang mengandung debit dan nanah, nyeri rektum berat, dan diare. Beberapa orang mungkin memiliki penyempitan jalan dubur. Penyempitan ini dapat menyebabkan sembelit, tegang, dan tinja tipis.

Dengan proktitis disebabkan oleh virus , umumnya memiliki gejala-gejala:

Herpes simpleks Herpes simplex biasanya menyebabkan proctitis, tetapi tipe 1 juga dapat memicu penyakit. Seperti penyebab lain, anda mungkin tidak menunjukkan gejala. Herpes proctitis disertai dengan rasa sakit anal dan nyeri tekan dan sembelit. Lepuh

menyakitkan atau luka kecil dapat dilihat dalam kelompok sekitar anus. Berbeda dengan penyebab lain dari proctitis, jika seseorang memiliki herpes, seseorang terrsebut juga mungkin memiliki aliran kemih retensi , impotensi lemah, dan nyeri di bagian bokong dan paha.

Kutil dubur Sebuah virus yang dikenal sebagai human papillomavirus (HPV) penyebab kutil dubur, yang mulai sebagai pertumbuhan berdaging lunak di sekitar anus. Kutil ini dapat mempengaruhi bagian bawah rektum. Gejalanya mungkin memiliki rasa gatal dubur , berbagai tingkat rasa sakit, dan dengan perdarahan dan debit.

Proctitis yang disebabkan karna trauma pada anorektal Trauma ke anus atau rektum, di mana bentangan lapisan dubur dan dubur dan air mata, bisa menjadi penyebab potensial proctitis. Penyedia layanan kesehatan biasanya melihat trauma seperti benda asing masuk ke dalam anus. Benda asing termasuk penis selama hubungan anal atau sex toys. Retak kecil dapat dilihat pada lapisan anus atau dubur. Sangat penting untuk memberitahu dokter jika mungkin berisiko proctitis. Kadang-kadang, benda asing masih mungkin ada dalam rektum. Orang dengan trauma anorektal juga mungkin memiliki infeksi yang menyertainya sebagai akibat dari risiko tinggi perilaku seksual. Proctitis yang disebabkan oleh radiasi Terapi radiasi digunakan untuk mengobati kanker prostat pada pria dan kanker pada organ kewanitaan seperti leher rahim dan rahim. Rektum dekat dengan organorgan dan beresiko kerusakan dari radiasi. Umumnya gejala timbul dalam waktu 2 tahun setelah penyinaran, gambaran klinis pada proctitis mungkin tidak ada keluhan dan tanda dikulit, tetapi pada pemeriksaan rectum didapati spasme yang nyeri. Pada minggu pertama, rektoskopi usus memperlihatkan udeme, iritasi, dan kemerahan mudah berdarah. Akhirnya reaksi akut mukosa menjadi rata, pucat, dan hipotrofik dengan teleangiektasia. Mungkin terbentuk ulkus, fistel, atau striktur. Kadang ulkus mirip dengan yang terdapat pada keganasan.

Proctitis radiasi menimbulkan perdarahan, tenesmus, , spasme, dan inkontinensia. Kelainan dapat mengalami progresi selama beberapa tahun dengan pembentukan fibrosis berdasarkan kelainan obliteratif arteri. Jika pendarahan parah dapat menyebabkan kelemahan, pusing, palpitasi, dan tanda-tanda anemia defisiensi besi akibat kehilangan darah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. ANAMNESIS
2.1.1. Informasi Biografis Nama Usia Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat Agama Tanggal Berobat 2.1.2. Sumber informasi Sumber informasi diperoleh dengan Autoanamnesa ( anamnesa yang didapat dari penderita itu sendiri ) yaitu Pak Sule 2.1.3. Keluhan utama

: Tn. Sule Supatman : 40 tahun : Laki-laki : Direktur PT. Suka Pajar : Jl. Patimura N0.02 Padang : Islam : 06 Juli 2012

nyeri hebat pada saat BAB 3 hari yang lalu.

2.1.4. Riwayat penyakit sekarang : 3 hari yang lalu Pak Sule 40 th sering mengalami nyeri hebat pada saat defekasi kadang-kadang disertai pruritus ani, perdarahan pada rectum, dan pengeluaran sekret. Pada saat perdarahan biasanya pak sule merasa pusing dan kelihatan pucat. Oleh pasien sudah dibelikan obat di apotik terdekat, tetapi nyeri pada saat defekasinya tidak kunjung sembuh. Pasien juga merasakan dorongan terus untuk buang air besar dan rektum seakan-akan terasa "penuh " selain itu juga mengalami sembelit (tidak dapat memiliki gerakan usus).

2.1.5. Riwayat Penyakit Dahulu Belum pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya Riwayat pernah rawat inap sebelumnya di RS 2 tahun yang lalu selama 2 bulan karena kanker prostat Riwayat hipertensi Riwayat rinitis alergy

2.1.6. Riwayat Pekerjaan dan Lingkungan Pak sule adalah pengusaha sukses dan memiliki tingkat stres yang tinggi, karena kesibukanya pak sule mempunyai pola hidup yang tidak sehat, dari segi makan, jarang olah raga, kurang tidur dan tidak mementingkan kesehatan. 2.1.7. Riwayat Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang serupa dengan pasien 2.1.8. Riwayat Psikososial Semenjak perawatan dan terapi terhadap kanker prostatnya tuntas 2 tahun yang lalu Pak sule tidak pernah lagi konsultasi ke dokter untuk pemeriksaan kesehatan rutin.

2.2. Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan colok dubur (rectal toucher) Pemeriksaan ini sangat penting untuk dapat kita peroleh informasi penting untuk menegakan diagnosa. Tetapi pemeriksaan ini sering terabaikan. Begitu pentingnya hingga pernah dicetuskan bahwa tidak ada telunjuk untuk colok dubur, boleh digunakan jari kaki untuk colok dubur. Ada beberapa posisi untuk colok dubur : 1. Left lateral (Sims ) position. Rutin digunakan untuk wanita atau prosedue standar laki-laki. Pasien miring kekiri, dengan tungkai atas kanan fleksi, sedangkan tungkai bawah kiri semi ekstensi. Panggul harus menungging dan sejajar dengan pinggir tempat tidur.

10

2. Knee-elbow position. Baik untuk perabaan prostat dan vesikula seminalis.

3. Dorsal position. Pasien tidur Dengan posisi setengah duduk posisi lutut ditekukkan(fleksi). Telunjuk tangan kanan pasien masuk kedubur dengan melintasi dibawah paha kanan pasien. Untuk bimanual palpasi tangan kiri diatas supra pubis.

11

4. Lithotomy position. Pasien telentang dengan kedua lutut di fleksikan dan diilakukan pada meja operasi. Bimanual dengan telunjuk kanan pada rektum sedang tangan kiri pada supra pubis

` Struktur anatomi yang dapat dinilai dengan colok dubur:

Lekukan anus. Juga dapat diraba antara spinkter otot interna dan eksterna.Biasanya dalam keadaan neurogenik bladder spincter akan teraba melemah.

Anorektal ring, pertemuan antara anus dan rectum (dewasa panjangnya 2-3cm) Daerah ini sangat penting karena lokasi abses anorektal atau fistula ani.

Katup Houston terbawah. Makin naik telunjuk nantinya akan teraba lipatan mukous membran.

Promotorium Prostat atau cervix uteri.

Prosedur kerja melakukan colok dubur: Waktu melakukan colok dubur ini kurang menyenangkan bagi pasien, tidak jarang terasa nyeri. Gunakan sarung tangan yang telah diberi pelicin. Untuk itu sebelum melakukan pemeriksaan harus diberikan pesan bahwa : Saya akan melakukan pemeriksaan dalam melalui dubur anda bila terasa tidak nyaman tolong buka mulut nafas dalam dan perlahan keluarkan melalui mulut anda. Baru telunjuk masuk melalui anus, setelah melewati spinkter telunjuk dirotasikan kesekeliling mukosa anus.

12

Pemeriksaan Anus dan Rectum Inspeksi 1. Lakukan inspeksi daerah sakrokoksigeal dan perianal Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan ulkus, inflamasi, ruam, atau ekskoriasi. Kulit perianal pada orang dewasa normalnya lebih berpigmen dan sedikit lebih kasar dari pada kulit yang menutpi daerah gluteus.lakukan palpasi pada setiap daerah yang abnormal dengan memperhatikan ada atau tidaknya benjolan dan nyeri tekan. 2. Lakukan inspeksi anus dan rectum Lumasi jari telunjuk anda yang bersarung tangan karet, kemudan jelaskan kepada pasien apa yang akan anda lakukan kepada pasien dan beritahukan bahwa pemeriksaan ini akan membuat pasien merasa ingin buang air besar, tetapi sebenarnya defekasi tidak terjadi. Minta pasien untuk mengejan.lakukan inspeksi daerah anus dengan memperhatikan setiap lesi yang ada. Palpasi 1. Palpasi Sfingter anus Ketika pasien mengejan letakkan permukaan ventral jari telunjuk anda yang mengenakan sarung tangan dan berpelumas didaerah sekitar anus. Ketika otot sfingternya melemas, masukkan ujung jari dengan hati-hati kedalam kanalis ani dengan arah yang menuju umbilicus. Jika otot sfingter terasa mengencang, berhenti sebentar dan tentramkan perasaan pasien. Pada saat otot sfingter melemas kembali, lanjutkan gerakan jari tangan anda itu. Kadang-kadang nyeri tekan yang hebat akan menghalangi anda dalam memeriksa anus. Jangan pernah mencoba memaksakanya. Sebaiknya letakkan jari-jari tangan anda pada kedua sisi anus dan dengan hati-hati lebarkan orifisium ani saat pasien diminta untuk mengejan. Cari lesi yang ada,seperti fisura ani yang mungkin menyebabkan nyeri tekan tersebut.

13

2. Palpasi dinidng rectum Dinding lateral posterior dan anterior rectum di palpasi. Dinding lateral diraba dengan merotasikan jari sepanjang sisi rectum. Spina ischiadica, tulang ekor dan sacrum bawah dapat diraba dengan mudah. Dinding rectum di palpasi untuk mengetahui adnya polip, yang dapat sesil ( melekat pada dasarnya) atau pedunculus ( melekat dengan tangkai). Setiap ketidak teraturan atau nyeri tekan yang tidak semestinya harus dicatat. Satu-satunya cara untuk memeriksa seluruh keliling dinding rectum adalah dengan memutar punggung anda menghadap melakukan hiperpronasi tangan anda. pasien, yang membuat anda dapat

2.3. Pemeriksaan Laboratorium


1. Tes darah lengkap Tes lengkap ini dilakukan untuk mengevaluasi kehilangan darah atau infeksi. Orang dengan proctitis mungkin memiliki jumlah sel darah putih tinggi yang terjadi bila ada peradangan atau tubuh memerangi infeksi. Jika mencurigai adanya masalah pembekuan darah, mungkin dilakukan pemeriksaan darah yang lebih spesifik.

2. Tes tinja Tes tinja dilakukan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri yang dapat

menyebabkan penyakit dan screning PMS ( penyakit menular seksual) yang terkait dengan proctitis. Untuk pemeriksaan sebaiknya berasal dari defekasi spontan, jika pemeriksaan sangat diperlukan boleh juga sampel tinja diambil dengan jari bersarung dari rectum. Untuk pemeriksaan biasa dipakai tinja sewaktu, jarang dipakai tinja 24 jam untuk pemeriksaan tertentu. Jika akan memeriksa tinja, pilihlah selalu sebagian dari tinja itu yang memberi kemungkinan sebesar-besarnya untuk menemui kelainan. Selain itu pada test tinja ini dapat dinilai warna, bau, konsistensi, lendir dan darah. Seperti test
14

darah samar sangat penting sekali untuk mengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dpat dinyatakan secara makroskopis atau mikroskopis.

3. Biopsi Dokter juga dapat mengambil biopsi atau sepotong kecil jaringan dari dubur untuk menguji penyakit atau infeksi.

2.4 Pemeriksaan Penunjang


1. Endoscopi sebuah tabung cahaya dengan kamera dilewatkan melalui anus dan digunakan untuk melihat permukaan dubur dan kolon gambar di proyeksikan di layar tv dan diperbesar untuk mengidentifikasi perubahan. Proktoskopi Deteksi kelainan 8 10 cm dari anus Rektosigmoidoskopi Deteksi kelainan 20 25 cm dari anus Kolonoskopy Dapat mencapai seluruh kolon

2. X-ray abdomen dan pelvis. Hal ini dapat dilakukan dengan kombinasi barium enema. Dalam proses ini, bahan kontras (barium cair) dimasukkan ke dalam kolon melalui anus. Setelah kolon dilapisi dengan barium, radiolog mengambil gambar X-ray dari kolon. Gambar-gambar ini, yang dapat dilihat pada monitor video, dapat mendeteksi kelainan-kelainan dalam usus besar.

15

3. USG Tes pencitraan menggunakan gelombang suara untuk menyediakan gambar kolon. Alat ini dapat membantu dalam mengesampingkan gangguan lain, seperti penyakit inflamasi usus. Untuk prosedur, alat yang disebut transduser yang memancarkan gelombang suara disepanjang abdomen. Informasi yang ditangkap oleh transduser tersebut dikirim ke komputer yang menghasilkan gambar.

4. Abdomen Computerized Tomography (CT) scan. Terkadang CT-Scan digunakan untuk menyingkirkan kondisi-kondisi lain yang dapat menyebabkan gejala yang mirip dengan proctitis. Tes ini menggunakan teknologi canggih X-ray untuk menghasilkan gambar penampang kolon, dan mungkin dapat mendeteksi penebalan dinding kolon.

2.5 Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan dengan proktoskop atau sigmoidoskop dan hasil pemeriksaan dari contoh jaringan lapisan rektum. Pemeriksaan laboratorium bisa menemukan jenis kuman, jamur atau virus yang menjadi penyebabnya. Daerah lain dari usus juga bisa diperiksa dengan menggunakan kolonoskop atau barium enema 2.5.1 Diagnosa Kerja Proctitis

2.5.2 Differensial Diagnosa ( DD) Diverticulitis Penyakit Diverticulitis adalah penyakit usus besar dimana muncul kantong-kantong gelembung diluar usus besar. Gejala penyakit ini pasien sering mengalami demam, diare, dan juga perut kembung. Penyebab dari Diverticulitis adalah tekanan pada usus besar dan kurangnya makan makanan berserat. Pada kasus Diverticulitis yang akut, harus dilakukan pemotongan usus besar dan dibuat stoma pada permukaan perut. Diverticulitis sering terjadi pada orang tua, namun juga bisa terjadi di usia muda.

16

Fisura anal Fisura Anal adalah retak atau robeknya jaringan sensitif pada dubur yang disebabkan oleh keluarnya feses (tinja) yang keras dan besar. Gejalanya dapat berupa rasa nyeri ketika mengeluarkan feses yang keras atau besar, ada bercak darah di kertas toilet atau celana dan gatal disekitar dubur. Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur namun paling sering terjadi pada bayi, anak-anak dan orang dewasa di atas 60 tahun dan lebih sering terjadi pada perempuan dari pada laki-laki.

2.6 Penatalaksanaan Yang Optimal


Perawatan Medis Pengobatan proctitis tergantung pada penyebab penyakit.

Karena penyebab paling umum dari proctitis tetap penyakit menular seksual , Anda mungkin akan diberi antibiotik untuk membunuh organisme. Kehadiran satu jenis infeksi juga menunjukkan adanya jenis-jenis penyakit menular seksual, sehingga antibiotik pengobatan dapat diarahkan pada 2 atau lebih organisme menular pada saat yang sama. Beberapa obat dapat diberikan dalam suntikan tunggal.

Anda harus menggunakan seks aman praktik, seperti kondom , jika Anda terlibat dalam risiko tinggi perilaku seksual.

Jika Anda memiliki penyakit radang menyebabkan proctitis, seperti ulseratif kolitis atau penyakit Crohn, Anda akan membutuhkan melanjutkan pengobatan. Perawatan termasuk obat yang menekan sistem kekebalan , seperti steroid. Dokter mungkin meresepkan steroid suppositori untuk memberikan bantuan dalam dubur Anda. Selain itu Anda dapat menerima pengobatan untuk mengendalikan gejala seperti diare.

Pembedahan Jika penyakit timbul dari penyakit kronis, pembedahan mungkin diperlukan atau rujuk kedokter spesialis.

17

Follow Up Follow up merupakan bagian dari terapi proctitis. Pemberian antibiotik harus diselesaikan. Tidak melakukan hubungan seksual selama terapi dan mengunjungi dokter setelah 1-2 minggu setelah peradangan membaik atau melanjutkan terapi jika gejala bertambah buruk.

2.7 Pencegahan
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencegah prilaku masyarakat yang menyebabkan Proctitis yaitu dengan cara Rencana Program Kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan antara lain: 1. Membuat leaflet-leaflet berisi informasi bahwa hubungan seksual menyimpang( homoseksual dan hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan) dapat

menyebabakan Proctitis. 2. Melakukan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk

mengonsumsi makanan yang bersih dan dimasak dengan matang. 3. Membuat seminar bagi masyarakat mengenai Proctitis sehingga dapat mengetahui penyebab terjadinya Proctitis, cara mencegah Proctitis, dan mengenali gejala-gejala Proctitis sehingga dapat mencegah keterlambatan berobat yang menyebabkan terjadinya komplikasi.

2.8 Komplikasi
Severe bleeding Anemia Recto vaginal fistulas ( women ) Anal fistula

2.9 Prognosis
Kemungkinan keadaan akan membaik dengan dilakukanya terapi.

18

BAB III DISKUSI / PEMBAHASAN


3.1 SKENARIO Pak Sule 40th di bawa oleh anaknya kerumah sakit karena mengalami nyeri hebat pada anus sejak 2 minggu yang lalu. Nyeri hebat tersebut sering timbul pada saat pak sule ingin defekasi. Selain itu pak sule juga sering mengalami tenesmus, diare, dan pendarahan pada rektum yang di sertai pusing dan pucat. Setelah di lakukan pemeriksaan fisik dokter menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan rektoskopi. Pada

pemeriksaan retoskopi ditemukan udema, iritasi, dan kemerahan lapisan mukosa rektum. Pada 2 tahun yang lalu pak sule didiagnosa kanker prostat dan menjalani perawatan di rumah sakit selama 2 bulan. Pada saat itu dokter menyarankan agar pak Sule menjalani terapi radiasi untuk pengobatan penyakitnya tersebut. Dokter menerangkan bahwa penyakit yang dialami pak Sule saat ini kemungkinan berhubungan dengan terapi radiasi yang dijalaninya pada 2 tahun yang lalu. Untuk menegakkan diagnosa kasus diatas maka dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang.

3.2 Anamnesa
o Pusing dan Lemas o Perubahan kebiasaan buang air besar (defekasi) o Feses berdarah o Nyeri pada saat defekasi (tenesmus) o Perdarahan rectal atau nyeri tekan rectal o Pengeluaran sekret (lendir) o Diare ringan o spasme saat buang air besar o Incontinensia

3.3 Pemeriksaan Fisik


o Keadaan umum o Kesadaran :Tampak pucat (conjunctiva anemis) : compos mentis
19

o Gizi o Berat Badan o Tinggi Badan o Vital Sign Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu

: cukup : 72 kg : 170 cm

: 140/85 mmHg : 75 x/menit : 16 x/menit : 37 0 C

Status Lokalisasi o Regio Anal Inspeksi Palpasi : Tidak ada massa, Veruka atau fissura pada anus : Inflamasi serta nyeri tekan yang mencolok pada kanalis ani ,spasme otot sfingter eksterna, o Regio Rectum Inspeksi : Kubah rectum tanpa massa, tampak ulserasi, pengeluaran sekret, perdarahan mukosa rectum Palpasi : Ampula rekti tidak kolaps, mukosa rektum udem dan iritasi, tidak simetris, prostat teraba licin serta tidak ada nyeri tekan

3.4 Pemeriksaan Laboratorium


1. Test Darah lengkap Hb Leukosit Trombosit Hematokrit Reikulosit : 10 g/dl ( 12 -16 g/dl ) : 9.000/ ul ( 5.000 10.000/ul ) : 250.000 /ul (200.000 500.000/ ul) : 33,5 % ( 40 48 % ) : 20.000 /mm3 ( 25.000 75.000 /mm3 )

Hitung Jenis Lekosit


Eosinofil
Basofil Batang

:2%
:0% :3%

( 1 3%) (0 1% ) ( 2 6% )
20

Segmen Limfosit Monosit GDS Ureum Kreatinin SGOT SGPT Cholesterol Asam Urat Trigliserid

: 66 % : 21 % :7% : 100 gr/dl : 50 mg/dl : 1.04 mg/dl : 17 U/L : 10 U/L :145 : 3.57 : 80

( 50 70% ) (20 40% ) (2 8% ) ( <200 gr/dl) ( 17-43 ) ( P: 0.6-1.1 ) ( P: < 31. L:<37 ) ( P: < 31 L:< 41 ) ( < 200 )

2. Test tinja Bau Warna Konsistensi Lendir : Indol dan skatol : Coklat tua bercampur darah : Agak lunak : Terdapat sekret bercampur darah

Bakteri/parasit/virus : Tidak ditemukan

3. Biopsi Tidak ditemukan kuman penyebab infeksi

3.5 Pemeriksaan Penunjang


o Proctosigmoidoscopy mengungkapkan yang berikut: - Mukosa Pucat atau eritema Mukosa menjadi rata Ulkus Fistel / Striktur Perdarahan Rectum Hipotrofik dengan Telangiectasia Udema mukosa rectum Iritasi Kemerahan yang mudah berdarah
21

Pembentukan fibrosis berdasarkan kelaian obliteratif arteri

3.6 Ditegakkan diagnosis : Proctitis Radiasi 3.7 Penanganan


Pada kasus ringan, proctitis radiasi mungkin tidak memerlukan pengobatan. Namun dalam kasus lain, proctitis radiasi dapat menyebabkan sakit parah dan pendarahan yang membutuhkan pengobatan. Dokter mungkin menyarankan perawatan seperti obat untuk

mengontrol perdarahan pengobatan untuk menghancurkan jaringan yang rusak. Sedangkan pada fase akut dapat dilakukan enema yang mengandung kortikosteroid. Bila terbentuk fistel intern atau ekstern akan timbul nyeri dan stenosis oleh karena itu, mungkin perlu dibuat kolostomi untuk mengistirahatkan rektum dan menghindari kontaminasi oleh tinja.

3.8 Diskusi
Pada kasus ini pasien didiagnosa menderita proctitis radiasi, yang umumnya disebabkan oleh terapi kanker prostat yang pernah dijalani oleh Pak Sule yaitu dengan manifestasi klinis berupa sering mengalami nyeri hebat pada saat ingin defekasi kadang-kadang disertai diare dan perdarahan pada rectum, juga merasakan dorongan terus untuk buang air besar dan rektum bisa merasa "penuh " selain itu juga mengalami sembelit (tidak dapat memiliki gerakan usus) pada saat perdarahan biasanya diikuti dengan pusing dan pucat. Apabila pasien mengalami perdarahan, yang menandakan perubahan kronis pada lapisan dubur. Kondisi ini mencakup adanya beberapa pembuluh darah kecil pada permukaan mukosa membran dalam rektum maka akan mudah rapuh dan mudah berdarah akibat trauma ringan. Jika pendarahan
22

parah dapat menyebabkan kelemahan, pusing, palpitasi, dan tanda-tanda anemia defisiensi besi akibat kehilangan darah. Pada pemeriksaan rektoskopi terlihat adanya ulkus, mukosa pucat atau eritema,mukosa menjadi rata,fistel / Striktur. Pengobatan terapi harus segera dilakukan agar tidak terjadi komplikasi pada kasus penyakit Pak Sule tersebut.

23

BAB IV KESIMPULAN
Proctitis adalah peradangan pada lapisan mukosa rektum yang dapat bersifat akut dan kronis, dapat disebabkan oleh penyakit menular seksual, penggunaan antibiotik, makanan dan terapi radiasi. Proctitis dapat menimbulkan perdarahan, tenesmi, spasme, dan inkontinensia. Kelainan dapat mengalami progresi selama beberapa tahun dengan pembentukan fibrosis berdasarkan kelaian obstruktif arteri. Tujuan pengobatan adalah untuk mengontrol perdarahan dan pengobatan untuk jaringan yang rusak.

Pada fase akut dapat dilakukan enema yang mengandung kortikosteriod. Bila berbentuk fistel intern atau ektern, akan timbul nyeri dan stenosis. Oleh karena itu, mungkin perlu dibuat kolostomi untuk mengistirahatkan rektum dan menghindari kontaminasi oleh tinja.

24

BAB V SARAN
Perlunya anamnesis yang teliti, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium.dan pemeriksaan penunjang yang tepat agar dapat dilakukan tatalaksana penyakit secara optimal dan mencegah terjadinya komplikasi Disini penulis menyadari dalam penulisan karya ilmiah ini banyak mengalami kekurangan, dan penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, semoga karya ilmiah ini dapat memberikan informasi serta semangat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Bagi penulis lain, diharapkan untuk menggunakan metode observasi dalam menulis makalah tentang proctitis. Hal itu bertujuan agar penulis lain dapat menjelaskan lebih spesifik lagi tentang proctitis.

25

BAB VI DAFTAR PUSTAKA


Akborn E, dkk. Ulcerative Proctitis tahun 1965-1983, Proctitis di pusat Swedia. http://lib.bioinfo.pl/meid:58853 Akunjee, muhammed. 2002. Panduan Menghadapi Osce Bagi Mahasiswa Tingkat Akhir.Jakarta`: EGC Bickley, Lynn S. 2009. Buku Ajar Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan Best. Jakarta : EGC Gleadle, Jonathan. At a Glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta : Erlangga Journal of Emedicine Etiology of Proctitis. 2006. http//www. emedicinehealth/ Proctitis. html Kamus Saku Kedokteran Dorland, edisi 25. Price, Sylvia Anderson dan Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi Volume 1 Edisi 6. Jakarta : EGC R. Gandrasoebrata. 1967. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian Rakyat Rompalo AM, Stamm WE : Anorectal and Enteric Infection in Homosexual Men. West J Med 1985. www.annals.org/content/93/3/458.full Syamsuhidayat R, dkk. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC Swartz, Mark H. 1995. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta : EGC http://kesehatansaya.com/2011/10/07/fisura-anal/ http://medicastore.com/penyakit/505/Proktitis_radang_lapisan_rektum.html http:/health.detik.com/reapenyakit/926/proctitis?modeop=pengobatan hhtp://www.emedicinehealth.com/proctitis/article_em.htm http://www.umm.edu/ency/article/001139.htm

26