Anda di halaman 1dari 92

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling mulia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup menyendiri atau terpisah dari kelompok manusia lainnya.1 Menurut Aristoteles seorang ahli pikir Yunani yang di terdapat dalam buku C.S.T Kansil menyatakan : Manusia itu adalah Zoon Politicon, artinya bahwa manusia itu sebagai mahluk hidup pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesame manusia lainnya. Jadi mahluk yang suka bermasyarakat. Oleh karena itu sifatnya yang suka bergaul satu dengan yang lain, maka manusia disebut mahluk sosial2 Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan seperangkat hak yang menjamin derajatnya sebagai manusia. Hak-hak inilah yang kemudian disebut dengan hak asasi manusia, yaitu hak yang diperoleh sejak kelahirannya sebagai manusia yang merupakan karunia Sang Pencipta. 3 Karena setiap manusia diciptakan kedudukannya sederajat dengan hak-hak yang sama, maka prinsip persamaan dan kesederajatan merupakan hal utama dalam interaksi sosial. Namun kenyataan menunjukan bahwa manusia selalu hidup dalam komunitas sosial untuk dapat menjaga derajat kemanusiaan dan mencapai
1

Lili Rasjidin, Hukum Perkawinan dan perceraian di Malaysia dan di Indonesia. PT.Remaja Rosdakarya.Bandung.hlm.1 2 C.S.T.Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta,1989,hlm 3 Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mendefinisikan Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Lembaran Negara RI Tahun 1999 No. 165, Tambahan Lembaran Negara RI No. 3886.

tujuannya. Hal ini tidak mungkin dapat dilakukan secara individual. Akibatnya, muncul struktur sosial. Dibutuhkan kekuasaan untuk menjalankan organisasi sosial tersebut. Berdasarkan pada teori kontrak sosial,4 untuk memenuhi hak-hak tiap manusia tidak mungkin dicapai oleh masing-masing orang secara individual, tetapi harus bersama-sama. Maka dibuatlah perjanjian sosial yang berisi tentang apa yang menjadi tujuan bersama, batas-batas hak individual, dan siapa yang bertanggungjawab untuk pencapaian tujuan tersebut dan menjalankan perjanjian yang telah dibuat dengan batas-batasnya. Perjanjian tersebut diwujudkan dalam bentuk konstitusi sebagai hukum tertinggi di suatu negara (the supreme law of the land), yang kemudian dielaborasi secara konsisten dalam hukum dan kebijakan negara. Manusia sebagai individu (perseorangan) mempunyai kehidupan jiwa yang menyendiri, namun manusia sebagai mahluk sosial tidak dapat dipisahkan dari masyarakat karena manusia semenjak lahir, hidup berkembang dan meninggal dunia selalu didalam lingkungan masyarakat, karena hidup bersama merupakan suatu gejala yang biasa bagi seorang manusia, dan hanya manusiamanusia yang memiliki kelainan-kelainan sajalah yang mampu mengasingkan diri dari orang-orang lainnya. Dalam bentuknya yang terkecil hidup bersama itu dimulai dengan adanya keluarga.
4

Harus diingat bahwa paling tidak terdapat tiga macam teori kontrak sosial masing-masing dikemukakan oleh John Locke, Thomas Hobbes, dan J.J. Rousseu yang masing-masing melahirkan konsep negara yang berbeda-beda. Lihat George H. Sabine, A History of Political Theory, Third Edition, (New York-ChicagoSan Fransisco-Toronto-London; Holt, Rinehart and Winston, 1961), hal. 517 596.

Sudah merupakan kodrat manusia untuk hidup berdampingan sesama manusia dan berusaha untuk meneruskan keturunan dengan cara

melangsungkan perkawinan. Perkawinan adalah tempat bagi manusia untuk mengabdikan diri satu dengan yang lain dan saling menghormati perasaan serta merupakan tali ikatan yang melahirkan keluarga sebagai dasar masyarakat dan negara. Guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagian masyarakat, perlu adanya landasan yang kokoh dan kuat sebagai titik tolak pada masyarakat yang adil dan makmur. Dalam hal ini, Pemerintah telah mengeluarkan beberapa Peraturan dan Undang-Undang yang mengatur tentang perkawinan terutama Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang berlaku bagi semua warga Negara. Di dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 disebutkan : Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tujuan suatu perkawinan adalah untuk membentuk suatu keluarga. Keluarga mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia sebagai mahluk sosial dan merupakan kesatuan masyarakat terkecil yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anak.5 Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Anak sebagai
5

Pasal 1 (3) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak. (Selanjutnya disebut UU. Perlindungan Anak).

penerus keturunan yang terlahir dari perkawinan yang sah mempunyai kedudukan anak yang sah. Anak merupakan persoalan yang selalu menjadi perhatian berbagai elemen masyarakat, bagaimana kedudukan dan hak-haknya dalam keluarga dan bagaimana seharusnya ia diperlakukan oleh kedua orang tuanya, bahkan juga dalam kehidupan masyarakat dan negara melalui kebijakankebijakannya dalam mengayomi anak. Anak sebagai generasi penerus dan pengelola masa depan bangsa perlu dipersiapkan sejak dini melalui pemenuhan hak-haknya yakni hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Anak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai keturunan, anak juga mengandung pengertian sebagai manusia yang masih kecil. Selain itu, anak pada hakekatnya seorang yang berada pada satu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi dewasa.6 Ada berbagai cara pandang dalam menyikapi dan memperlakukan anak yang terus mengalami perkembangan seiring dengan semakin dihargainya hakhak anak, termasuk oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Pasal 28 B menyatakan bahwa: 1. Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.
6

Anton M. Moeliono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (cet-2; Jakarta: Balai Pustaka, 1988), hal. 30-1.

2. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 20 November 1990 bertempat di New York menyelenggarakan Convention on the Rights of the Childs (CRC), di antara hasil-hasilnya menyatakan bahwa Anak adalah setiap orang di bawah usia 18 tahun, kecuali berdasarkan hukum yang berlaku terhadap anak kedewasaan telah diperoleh sebelumnya.7 Adanya tahap-tahap perkembangan dan pertumbuhan anak,

menunjukkan bahwa anak sebagai sosok manusia dengan kelengkapankelengkapan dasar dalam dirinya baru mulai mencapai kematangan hidup melalui beberapa proses seiring dengan pertambahan usianya. Oleh karena itu anak memerlukan bantuan, bimbingan dan pengarahan dari orang tua. Akan tetapi fenomena kelalaian dan penelantaran anak merupakan permasalahan yang sering terjadi dalam masyarakat, sebaliknya juga perebutan anak antara orang tua yang bercerai sering terjadi seakan-akan anak adalah harta benda yang dapat dibagi-bagi, dan setelah dibagi seolah putuslah ikatan orang tua yang tidak mendapatkan hak asuhnya. Walaupun sebenarnya masalah kedudukan anak dan kewajiban orang tua terhadap anak ini telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Anak sah sebagaimana yang disebut dalam Pasal 42 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan adalah :
7

Pasal 1 Convention on the Rights of the Childs.

Anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Didasarkan ketentuan tersebut, terkandung 2 (dua) pengertian yaitu : 1. Anak yang dilahirkan dalam perkawinan, maksudnya anak tersebut lahir setelah dilangsungkan perkawinan. Dalam hal ini terdapat 2 (dua) kemungkinan, yaitu : a. Setelah perkawinan dilangsungkan isteri baru hamil

kemudian baru melahirkan anak. b. Sebelum perkawinan isteri sudah hamil lebih dahulu,sesudah itu dilangsungkan perkawinan. 2. Anak yang dilahirkan akibat perkawinan. Dalam hal ini isteri hamil setelah perkawinan, kemudian terjadi perceraian atau kematian suami setelah terjadi peristiwa itu isteri baru melahirkan anak. Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam, atau sebagai akibat dari, perkawinan yang sah atau hasil pembuahan suami isteri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh isteri tersebut, sedangkan anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya. Asal-usul seorang anak hanya bisa dibuktikan dengan Akta kelahiran autentik oleh pejabat yang berwenang, jika akta autentik tidak ada maka asalusul anak ditetapkan oleh Pengadilan berdasarkan pembuktian yang memenuhi

syarat untuk kemudian dibuatkan akte kelahiran pada instansi pencatat kelahiran.8 Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri (dewasa) adalah 21 tahun, sepanjang ia tidak cacat fisik atau pun mental atau belum kawin. Orang tua mewakili anak mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar pengadilan. Apabila kedua orang tua anak tidak mampu, Pengadilan dapat menunjuk salah seorang kerabat terdekat yang mampu menunaikan kewajiban orang tuanya.9 Ayah kandung berkewajiban memberikan jaminan nafkah anak

kandungnya dan seorang anak begitu dilahirkan berhak mendapatkan nafkah dari ayahnya baik pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Landasan kewajiban ayah menafkahi anak selain karena hubungan nasab juga karena kondisi anak yang belum mandiri dan sedang adanya membutuhkan pihak yang

pembelanjaan,

hidupnya

tergantung

kepada

bertanggungjawab menjamin nafkah hidupnya. Orang yang paling dekat dengan anak adalah ayah dan ibunya, apabila ibu bertanggung jawab atas pengasuhan anak di rumah maka ayah bertanggung jawab mencarikan nafkah anaknya. Pihak ayah hanya berkewajiban menafkahi anak kandungnya selama anak kandungnya dalam keadaan membutuhkan nafkah, ia tidak wajib menafkahi anaknya yang mempunyai harta untuk membiayai diri sendiri. Seorang ayah yang mampu akan tetapi tidak memberi nafkah kepada anaknya padahal
8 9

Pasal 55 UU. Perkawinan; Pasal 103 KHI Pasal 98 KHI.

anaknya sedang membutuhkan, dapat dipaksa oleh hakim atau dipenjarakan sampai ia bersedia menunaikan kewajibannya. Seorang ayah yang menunggak nafkah anaknya tetapi ternyata anaknya tidak sedang membutuhkan nafkah dari ayahnya maka hak nafkahnya gugur, karena si anak dalam memenuhi kebutuhan selama ayahnya menunggak tidak sampai berhutang karena ia mampu membiayai diri sendiri, akan tetapi jika anak tidak mempunyai dana sendiri sehingga untuk memenuhi kebutuhannya ia harus berhutang maka si ayah dianggap berhutang nafkah yang belum dibayarkan kepada anaknya.10 Di sisi lain, si anak wajib menghormati orang tuanya dan wajib mentaati kehendak dan keinginan yang baik orang tuanya, dan jika anak sudah dewasa ia mengemban kewajiban memelihara orang tua serta karib kerabatnya yang memerlukan bantuan sesuai kemampuannya.11 Di antara kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memberi nafkah, seorang ayah berkewajiban untuk memberikan jaminan nafkah terhadap anaknya, baik pakaian, tempat tinggal maupun kebutuhan lainnya, meskipun hubungan perkawinan orang tua si anak putus. Suatu perceraian tidak berakibat hilangnya kewajiban orang tua untuk tetap memberi nafkah kepada anakanaknya sampai dewasa atau dapat berdiri sendiri. Setelah terjadinya perceraian, Pengadilan memutuskan siapa di antara ayah dan ibu yang berhak menjalankan kuasa orang tua demi kelangsungan

10

Satria Effendi, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, (cet-2, Kencana, Jakarta, 2004), hal. 157-63. 11 Pasal 46 UU. Perkawinan

pemeliharaan dan pengasuhan anak, tidak jarang terjadi perebutan mengenai hak asuh anak, masing-masing bekas suami isteri merasa paling berhak dan paling layak untuk menjalankan hak asuh. Sengketa hak asuh anak berbeda dengan sengketa harta, dalam sengketa harta putusan hakim bersifat menafikan hak milik pihak yang kalah, tetapi putusan hak asuh sama sekali tidak menafikan hubungan pihak yang kalah dengan anak yang disengketakan, sehingga tidak sepatutnya sengketa hak asuh dipertajam ketika sudah diputuskan oleh Pengadilan. Perceraian yang dilakukan oleh seorang suami dan istri menimbulkan akibat terhadap anak-anaknya baik secara moril maupun materiil. Secara moril bahwa anak-anaknya tersebut menanggung konsekuensi bahwa kedua orang tuanya tidak bersama lagi dalam suatu rumah tangga dan otomatis perhatian dan kasih sayang yang tercurah pada anak tidak seperti saat berkumpul dulu. Secara materiil ialah Diberikan nafkah, yang menjadi hak seorang anak yang didapat dari kedua orang tuanya. Perceraian akan menimbulkan akibat-akibat hukum yang begitu banyak dan rumit, baik itu mengenai hak asuh anak yang masih minderjarig, warisan, pembagian harta gono-gini dan sebagainya, tetapi dalam skripsi ini, penulis lebih menyoroti tentang hak asuh anak yang masih minderjarig, yang dimaksud minderjarig itu sendiri adalah anak-anak yang masih kecil atau dibawah umur, karena anak merupakan masa depan bangsa. Dengan terjadinya perceraian, pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan

sesuatu kewajiban bagi bekas isteri maupun anak. Sebagai ibu atau bapak mereka tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anak dan jika ada perselisihan mengenai penguasaan anak pengadilan memberi putusan dengan semata-mata mendasarkan kepada kepentingan anak. Seorang bapak

bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak dan jika bapak ternyata tidak dapat memenuhi kewajibannya pengadilan dapat menentukan ibu ikut memikulnya.12 Anak mempunyai hak tertentu yang harus dipenuhi orang tua, sebaliknya orang tua juga memiliki hak yang harus dipenuhi anaknya. Hak anak untuk mendapatkan penghidupan yang layak meliputi sandang, pangan, pendidikan dan kesehatan merupakan nafkah anak (alimentasi) yang harus dipenuhi orang tua, terutama ayah, baik dalam perceraian. Perlindungan anak dalam fungsi keagamaan, didasari oleh pemikiran kehidupan manusia senantiasa mengalami perubahan-perubahan sehingga harus mampu menyesuaikan diri terhadap tuntutan yang timbul dari perubahanperubahan tetapi tetap dalam koridor keyakinan agama yang dianut. Hal ini juga terjadi pada keluarga dalam mengasuh anak anaknya. Mempunyai anak berarti memikul tanggung jawab yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak sejak dalam kandungan hingga dewasa nanti. Orang tua atau keluarga diharapkan memahami pentingnya penanaman kesadaran terhadap Tuhan Yang
12

masa perkawinan atau pun setelah terjadi

Pasal 41 UU. Perkawinan 40

10

Maha Esa serta pendidikan nilai-nilai moral sejak dini. Diharapkan terjadi perubahan sikap dan perilaku seluruh anggota keluarga menadi insan-insan yang mempunyai kepribadian yang matang dan budi pekerti yang baik, penuh rasa cinta kasih, saling menghargai dan menghormati, taat serta mampu menciptakan suasana harmonis dalam keluarga dan masyarakat serta bangsa. Banyak anak yang tidak berkembang potensinya karena orang tua tidak peka terhadap kebutuhan perkembangan anak. Anak-anak yang memiliki kebutuhan dan perlindungan khusus perlu pendidikan khusus. Banyak anak yang mengalami ketunaan hanya dididik untuk mengemis atau memiliki keterampilan minimal seperti membuat sapu atau keset. Anak yang mengalami ketunaan masih memiliki potensi yang tinggi paling tidak untuk menolong dirinya sendiri menjalani kehidupan. Penguasaan keterampilan hidup seharusnya menjadi perhatian orang tua dalam mendidik anak. Orang tua harus sadar tidak selama mereka ada disamping anaknya dan tidak mungkin orang tua memantau anak selama 24 jam, Anak harus diberi kesempatan belajar untuk menjadi dirinya sendiri. Anak-anak terjebak menjadi anak konflik hukum atau terpaksa masuk dalam sistem peradilan pidana karena dianggap melanggar hukum. Tindakan yang dilakukan anak-anak saat ini berentang dari tindakan yang tergolong pada pelanggaran lalu lintas, kejahatan kecil, kejahatan dengan alat, kejahatan susila, hingga kejahatan yang menghilangkan nyawa orang lain. Anak-anak terpaksa menjadi anak konflik hukum karena tidak memperoleh dasar pendidikan agama yang cukup, tidak diajarkan dan diberi contoh yang baik bagaimana berperilaku

11

berdasarkan norma malah ada orang tua yang mengajari dan melibatkan anaknya untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum. Fenomena kelalaian dan penelantaran anak merupakan permasalahan yang sering terjadi dalam masyarakat, sebaliknya juga perebutan anak antara orang tua sering terjadi seakan-akan anak adalah harta benda yang dapat dibagi-bagi, dan setelah dibagi seolah putuslah ikatan orang tua yang tidak mendapatkan hak asuhnya. Namun nafkah anak seringkali dilalaikan ayah yang tidak mendapat hak asuh setelah terjadinya perceraian, sebenarnya nafkah anak yang dilalaikan dapat dimintakan eksekusi oleh ibu atau anak. Jenis eksekusi nafkah anak adalah eksekusi dengan membayar sejumlah uang yang dimulai dari permohonan, aanmaning, sita eksekusi, dan diakhiri dengan lelang. Bahkan Seorang PNS pria yang bercerai sudah tidak berhak penuh atas gajinya, di situ ada hak isteri dan anak, hak PNS hanya 1/3 dari gajinya jika ia punya anak dan ikut isteri atau jika tidak memiliki anak. Di dalam setiap peristiwa perceraian, apapun alasannya, merupakan malapetaka bagi anak, anak tidak akan dapat lagi menikmati kasih sayang orang tua secara bersamaan yang sangat penting bagi pertumbuhan mentalnya, tidak jarang pecahnya rumah tangga mengakibatkan terlantarnya pengasuhan anak. Walaupun sebenarnya masalah perlindungan terhadap anak dan kewajiban orang tua terhadap anak ini telah diatur dalam berbagai peraturan perundangundangan. Oleh karena itulah, maka penulis tertarik untuk menganngkat judul: Perlindungan Hukum terhadap Anak Pasca Kedua Orang Tua Bercerai

12

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan sebagai berikut: Bagaimana perlindungan anak setelah kedua orang tuanya bercerai dikaitkan dengan hak asasi manusia?

C. Tujuan Penulisan

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi Tujuan Penelitian adalah:
1. Mendeskripsikan dan menganalisis perlindungan anak setelah kedua

orang tuanya bercerai dikaitkan dengan hak asasi manusia.


2. Sebagai salah satu syarat akademik dalam menyelesaikan studi pada

Fakultas Hukum Universitas Pattimura di Ambon.

D. Kegunaan Penulisan 1. Mengetahui perlindungan anak setelah kedua orang tuanya bercerai

dikaitkan dengan hak asasi manusia.


2. Memperdalam pengetahuan tentang

kedudukan anak setelah kedua

orang tuanya bercerai dikaitkan dengan hak asasi manusia.

E. Kerangka Teoritis

13

Menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjutnya disingkat UU. Perkawinan), perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ikatan lahir adalah hubungan formal yang dapat dilihat karena dibentuk menurut undang-undang, hubungan mana mengikat kedua pihak dan pihak lain dalam masyarakat. Antara seorang pria dan seorang wanita, artinya dalam suatu masa ikatan lahir batin itu hanya terjadi antara seorang pria dan seorang wanita saja. Seorang pria artinya seorang yang berjenis kelamin pria, sedangkan seorang wanita artinya seorang yang berjenis kelamin wanita, jenis kelamin ini adalah kodrat karunia Tuhan, bukan bentukan manusia. suami istri adalah fungsi masing-masing pihak sebagai akibat dari ikatan lahir batin. Tidak ada ikatan lahir batin berarti tidak ada pula ada fungsi sebagai suami istri.13 Perceraian merupakan salah satu peristiwa yang dapat terjadi dalam suatu perkawinan, perceraian adalah penghapusan perkawinan.14 Anak yang berada di bawah perwalian, adalah: a. Anak sah yang kedua orang tuanya telah dicabut kekuasaannya sebagai orang tua. b. Anak sah yang orang tuanya telah bercerai.
c.
13
14

yang bahagia dan kekal

Anak yang lahir di luar perkawinan (naturlijk kind).

Muhammad Abdulkadir, Hukum Perdata Indonesia, PT Citra Aditya Bakti-Bandung, 2000, hlm.135. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, cet.XXVI, Jakarta-Internusa, 1994, h.42.

14

Suami istri boleh melakukan perceraian apabila perkawinan mereka sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Perceraian adalah salah satu cara pembubaran perkawinan karena suatu sebab tertentu, melalui keputusan hakim yang didaftarkannya pada Catatan Sipil15, di sini yang dimaksud adalah perceraian yang dilakukan oleh suami atau istri yang beragama non muslim. Menurut Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang No 1 Tahun 1974 (selanjutnya disingkat PP No 9 Tahun 1975) Pasal 19 menyatakan bahwa perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasanalasan:
a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat,

penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.


b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selarna 2 (dua) tahun

berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya. c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat

yang membahayakan pihak yang lain.


e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan

akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri.

15

Ibid.

15

f. Antar suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. g. Perlindungan hukum

F. Metode Penelitian

Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Tipe Penelitian Adapun tipe penelitian ini adalah Penelitian dengan Metode Yuridis Normatif yang dilakukan dengan cara mempelajari dan menelaah buku-buku atau bahan-bahan maupun karya-karya ilmiah lainnya seperti hasil seminar, simposium atau karya ilmiah yang tersaji dalam artikel, serta menelaah peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hak cipta yang dikenal dengan Studi Kepustakaan. Berdasarkan pendekatan metode penelitian di atas maka dalam penulisan menggunakan sumber data yaitu data yang diperoleh dari penelitian

kepustakaan yang terdiri dari tiga bahan hukum, yaitu : a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat seperti Peraturan Perundang-Undangan. b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti rancangan

16

Undang-Undang, hasil penelitian hukum, hasil karya ilmiah dari pakar hukum.
c. Bahan hukum tertier, yaitu bahan yang memberikan petunjuk

maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum, kamus bahasa Indonesia, kamus Inggris-Indonesia.16

2. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Dalam rangka penulisan ini, penulis memperoleh bahan hukum di lapangan yang digunakan dengan cara pengumpulan bahan hukum,

menyimpulkan : a. Teknik wawancara, dilakukan secara terstruktur dalam bentuk tanya jawab secara langsung. Wawancara ini dimaksudkan untuk memperjelas informasi.
b.

Bahan

Hukum

Kepustakaan,

dengan

cara

membaca,

menghimpun, mempelajari, dan menganalisa bahan pustaka yang mendukung dan relevan dengan materi yang dibahas dalam tulisan ini, seperti hasil-hasil penelitian dan pendapat para pakar, dan untuk memperjelas bahan hukum, dilakukan pengumpulan

informasi pada masalah tersebut.

16

Ibid, hal 116.

17

3. Analisa Bahan Hukum

Bahan hukum yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif, yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan hasil temuan di lapangan berdasarkan alat pengumpulan data yang ada baik wawancara maupun kepustakaan.
4. Teknik Pengolahan Bahan Hukum

Teknik pengolahan bahan hukum yang digunakan penulis dengan mengedit bahan hukum yang sudah diperoleh, diperiksa kembali mengenai kelengkapan, kejelasan, konsistensi, informasi, dan relevansinya bagi

penyelesaian tulisan ini.

G. Sistimatika Penulisan Sesuai dengan aturan baku penulisan karya ilmiah dan untuk memberikan gambaran secara menyeluruh, maka penulis menyiapkan suatu sistematika dalam penulisan Skripsi ini sebagai berikut: Penulisan hasil penelitian Skripsi ini secara garis besar disusun

secara sistematis yang terbagi dalam 4 (empat) bab. Bab I Menguraikan Pendahuluan, akan dikemukakan beberapa hal mendasar sebagai bahan
18

kajian, yang meliputi antara lain Latar Belakang, Permasalahan, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Metode Penelitian, Kerangka Teoritis, dan Sistematika Penulisan. Bab II menjabarkan tentang Tinjauan Pustaka yang ada kaitannya dengan judul penelitian ini yaitu Pengertian Perkawinan, Putusnya

Perkawinan, Akibat Putusnya Perkawinan, Akibat Perceraian Terhadap Anak, . Pada BAB III merupakan Hasil Dan Pembahasan yang berisi .Cara menentukan hak perwalian bagi anak, apabila terjadi perceraian; Hak dan kewajiban orang tua serta kekuasaannya Terhadap Anak; dan Kedudukan anak setelah orang tuanya bercerai dikaitkan dengan hak asasi manusia. Bab IV merupakan penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

Daftar Pustaka

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Perkawinan Menurut Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan bahwa Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dewasa dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia

19

dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi menurut UndangUndang Perkawinan barulah ada perkawinan apabila dilakukan antara seorang pria dan seorang wanita, berarti perkawinan sama dengan perikatan

(Verbindtenis).17 Tentulah tidak dinamakan perkawinan apabila yang terikat dalam perjanjian itu 2 (dua) orang pria saja ataupun 2 (dua) orang wanita saja. Demikian juga tidaklah merupakan perkawinan bila dilakukan antara banyak pria dan banyak wanita. Dan tentulah juga mungkin tidak merupakan perkawinan kalau sekiranya ikatan lahir batin itu tidak bahagia, atau perkawinan itu tidak kekal dan tidak berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurut Wirjono

Prodjodikoro, peraturan yang digunkan untuk mengatur perkawinan inilah yang menimbulkan pengertian perkawinan.18 Pasal 26 KUH Perdata menyimpulkan, bahwa undang-undang hanya memandang perkawinan dalam hubungan-hubungan perdata. Hal yang sama, juga dapat dilihat dalam Pasal 1 HOCI (Huwelijks Ordonnantie Christen Indonesiers), yang menetapkan bahwa tentang perkawinan undang-undang hanya memperhatikan hubungan perdata saja.19 Undang-undang hanya mengenal perkawinan perdata yaitu perkawinan yang dilakukan dihadapan seorang Pegawai Catatan Sipil.20 Beberapa sarjana memberikan pengertian perkawinan sebagai berikut :

17 18

Hilman Hadikusumo, Hukum Perkawinan Indonesia, Bandung: Mandar Maju, 1990, hlm. 7. Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan di Indonesia, Sumur, Bandung, 1974, hal. 7. 19 Mulyadi, Hukum Perkawinan Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, 1997, hal. 8. 20 H. F.A. Voolmar, Pengantar Studi Hukum Perdata, Rajawali, Jakarta, 1983, hal. 50.

20

1. Perkawinan adalah suatu hidup bersama dari seorang laki-laki

dengan seorang perempuan yang memenuhi syarat-syarat yang termasuk dalam peraturan tersebut.21
2. Perkawinan adalah persatuan antara laki-laki dan perempuan di

dalam hukum keluarga.22


3. Perkawinan adalah pertalian yang sah antara seorang laki-laki

dengan seorang perempuan untuk waktu lama.23 Perbedaan diantara pendapat-pendapat itu tidaklah memperlihatkan adanya pertentangan yang sungguhsungguh antara pendapat yang satu dengan yang lain, tetapi lebih memperlihatkan keinginan setiap pihak perumus, mengenai banyaknya jumlah unsur-unsur yang hendak dimasukkan dalam pengertian perkawinan. Dengan melihat pendapat para sarjana tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa para ahli memandang perkawinan itu merupakan perjanjian untuk membentuk rumah tangga berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.24 Ali Afandi berpendapat perjanjian yang ada dalam perkawinan tidaklah sama dengan perjanjian dalam Buku III KUHPerdata, karena antara perjanjian pada umumnya dengan perkawinan terdapat beberapa perbedaan, yaitu :

21

Wirjono Prodjodikoto, Op. Cit, hal. 7. Ali Afandi, Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Bina Aksara, Jakarta, 1984, hal. 98. 23 R. Soebekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 1976, hal. 23. 24 Mulyadi, Op. Cit, hal. 9.
22

21

1. Perjanjian pada umumnya hanya mengikat kedua belah pihak,

sedangkan di dalam perkawinan mengikat semua pihak.


2. Perjanjian pada umumnya dapat dilakukan oleh setiap orang,

sedangkan perkawinan hanya dapat dilakukan oleh seorang lakilaki dengan seorang perempuan.
3. Perjanjian pada umumnya dapat dilakukan oleh kedua belah pihak,

sedangkan perkawinan harus dilakukan oleh pemerintah.


4. Perjanjian pada umumnya mengatur segala hal yang disepakati

oleh kedua belah pihak, sedangkan perkawinan akibatnya diatur oleh undang-undang.
5. Hak-hak

yang timbul dari perjanjian pada umumnya dapat

dilimpahkan kepada orang lain, sedangkan hal-hal yang demikian dalam perkawinan tidak mungkin dilakukan.
6. Perjanjian pada umumnya bukan merupakan hal yang mutlak,

sedangkan di dalam perkawinan bentuklah yang paling utama. 25 Perjanjian dalam perkawinan mempunyai atau mengandung 3 (tiga) karakter yang khusus, yaitu : a. Perkawinan tidak dapat dilakukan tanpa unsur suka rela dari kedua belah pihak. b. Kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) yang mengikat persetujuan
25

perkawinan

itu

saling

mempunyai

hak

untuk

Ali Afandi, Op. Cit, hal. 83.

22

memutuskan perjanjian tersebut berdasarkan ketentuan yang sudah ada hukum-hukumnya. c. Persetujuan perkawinan itu mengatur batas-batas hukum mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak. Persetujuan perkawinan itu pada dasarnya tidaklah sama dengan persetujuan-persetujuan yang lainnya, misalnya persetujuan jual beli, sewamenyewa, tukar menukar. Menurut Wirjono Projodikoro, perbedaan antara

persetujuan perkawinan dan persetujuan-persetujuan yang lainnya adalah : Dalam persetujuan biasa para pihak pada pokoknya. Penuh merdeka untuk menentukan isi dari persetujuan itu sesuka hatinya, dengan ketentuan bahwa persetujuan itu tidak bertentangan dengan UndangUndang kesusilaan dan ketertiban umum. Sebaliknya dalam suatu perkawinan sudah sejak semula ditentukan oleh hukum, isi dari persetujuan antara suami istri itu26

Kalau seorang perempuan dan seorang laki-laki berkata sepakat untuk melakukan perkawinan satu sama lain ini berarti mereka saling berjanji akan taat pada peraturan-peraturan hukum yang berlaku mengenai kewajiban dan hal-hal masing-masing pihak selama dan sesudah hidup bersama itu berlangsung, dan mengenai kedudukannya dalam masyarakat dan anak-anak keturunannya. Juga dalam menghentikan perkawinan, suami dan istri tidak leluasa penuh untuk menentukan sendiri syarat-syarat untuk penceraian itu, melainkan terikat juga pada peraturan hukum perihal itu. Menurut Undang-Undang Perkawinan asas

26

Mohammad Idris Ramulyo, 1999, Hukum Perkawinan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, hlm. 17.

23

yang dianut adalah asas monogami sebagaimana diatur di dalam Pasal 3 ayat (1) yang berbunyi sebagai berikut : Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri, seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. Kaidah Pasal 3 ayat (1) tersebut terdapat kemiripan dengan bunyi Pasal 27 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa : Dalam waktu yang sama seorang laki-laki hanya diperbolehkan mempunyai satu orang perempuan sebagai istrinya, seorang perempuan hanya satu orang laki-laki sebagai suaminya.27 Perkawinan yang sah menurut hukum akan menimbulkan akibat hukum sebagai berikut :
1. Timbulnya hubungan antara suami-istri. 2. Timbulnya harta benda dalam perkawinan.

3. Timbulnyan hubungan antara orang tua dan anak. Akibat perkawinan terhadap suami isteri menimbulkan hak dan kewajiban antara suami isteri. Hak dan kewajiban antara suami isteri diatur dalam Pasal 30 sampai dengan Pasal 34 UU No. 1 Tahun 1979, yang menetapkan sebagai berikut :
1. Suami isteri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan

rumah tangga yang menjadi sendi dasar susunan masyarakat.

27

Hilman Hadikusuma, Op. Cit, hlm.33.

24

2. Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan

kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan dalam pergaulan masyarakat.
3. Suami-isteri berhak melakukan perbuatan hukum. 4. Suami adalah kepala rumah tangga dan isteri ibu rumah tangga.

Disamping itu suami wajib memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga dengan kemampuannya dan isteri wajib mengatur rumah tangga sebaik-baiknya. 5. Suami isteri wajib saling mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin satu kepada yang lain; 6. Suami isteri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap dan tempat kediaman tesebut ditentukan oleh suami isteri bersama. Selanjutnya apabila suami atau isteri melalaikan kewajiban, maka masingmasing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan. Sedangkan akibat perkawinan yang menyangkut harta benda dalam perkawinan, diatur dalam Pasal 35 sampai Pasal 37 UU No. 1 Tahun 1974, yang menetapkan sebagai berikut : Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama, sedangkan harta bawaan dari masing-masing suami atau isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah di bawah penguasaan masing-masing, sepanjang tidak ditentukan lain oleh suami-isteri. Apabila ditentukan oleh suami isteri, maka harta bawaan suami isteri tersebut

25

menjadi harta bersama. Untuk menentukan agar harta bawaan suami dan isteri menjadi harta bersama, maka suami dan isteri tersebut harus membuat perjanjian kawin. Perjanjian kawin harus dibuat secara tertulis dan disahkan oleh Pegawai Pencatat Perkawinan sebelum atau pada saat perkawinan

dilangsungkan; Perjanjian kawin adalah perjanjian perjanjian yang dibuat calon suami dan isteri untuk mengatur akibat-akibat perkawinannya terhadap harta kekayaan mereka. Perjanjian kawin diatur dalam Pasal 29 UU No. 1 Tahun 1974, yang menetapkan : a. Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua pihak atas persetujuan bersama dapat mengadakan perjanjian kawin yang disahkan oleh Pegawai Pencatat Perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut. b. Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana melanggar batas-batas hukum agama dan kesusilaan. c. Perjanjian tersebut berlaku sejak perkawinan dilangsungkan d. Selama perkawinan berlangsung perjanjian tersebut tidak dapat dirubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk merubah dan Perubahan tidak merugikan pihak ketiga. Mengenai harta bersama, suami atau isteri dapat bertindak bertindak atas persetujuan kedua belah pihak. Sedangkan mengenai harta bawaan masingmasing, suami isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan

26

hukum hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya. Adapun hak suami dan isteri untuk mempergunakan atau memakai harta bersama dengan persetujuan kedua belah pihak secara timbal balik menurut Riduan Syahrani adalah sewajarnya, mengingat hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat, dimana masing-masing pihak berhak melakukan perbuatan hukum. Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing . Menurut penjelasan Pasal 37 UU No. 1 Tahun 1974, yaitu hukum agama (kaidah agama), hukum adat dan hukum-hukum lainnya. Selanjutnya akibat perkawinan terhadap anak yang lahir dalam perkawinan menimbulkan hak dan kewajiban antara orang tua dan anak secara timbal balik. a. Keadaan orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak sebaik-baiknya, sampai anak itu kawin atau kawin atau dapat berdiri sendiri-sendiri. Selanjutnya kewajiban itu berlaku terus meskipun perkawinan kedua orang tua putus; Dalam praktek, apabila perkawinan putus karena perceraian atau karena atas putusan Pengadilan, maka atas permohonan dari pihak suami atau isteri, Pengadilan akan menyerahkan anak-anak tersebut kepada suami atau isteri

27

yang

benar-benar

beriktikad

baik,

untuk

dipelihara dan dididik secara baik; b. Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah kawin, berada di bawah

kekuasaan orang tuanya, selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya; c. Orang tua mewakili anak tersebut, mengenai segala perbuatan hukum baik di dalam dan di luar Pengadilan; d. Kekuasaan salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap seorang anak atau lebih, untuk waktu tertentu atas permintaan orang lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang. Kekuasaan orang tua dapat dicabut dengan alasan, ia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya atau ia berkelakuan buruk sekali. Meskipun tetap berkewajiban memberi biaya pemeliharaan anak mereka. Apabila No. 1 sampai dengan No. 5 di atas diperhatikan secara seksama, maka sebenarnya No. 1 sampai dengan No. 5 tersebut merupakan kewajiban orang tua kepada anak mereka.

28

Menurut penulis, yaitu apa yang menjadi kewajiban orang tua itu merupakan hak dari anaknya. Sebaliknya, anak tidak hanya mempunyai hak terhadap orang tuanya saja, akan tetapi anak juga mempunyai kewajiban terhadap orang tuanya. Kewajiban tersebut, yaitu : a. Anak wajib menghormati orang tua dan mentaati kehendak mereka yang baik; b. Jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya, orang tua dan keluarga dalam garis lurus ke atas bila mereka memerlukan bantuannya. Menurut penulis, apa yang menjadi kewajiban anak terhadap orang tuanya itu, merupakan hak dari orang tuanya. Kedudukan anak menurut UU No. 1 Tahun 1974 diatur dalam dalam Pasal 42 sampai dengan Pasal 44. Dari ini Pasal tersebut dapat disimpulkan, bahwa UU No. 1 Tahun 1974 membedakan antara anak sah dengan anak luar kawin Anak sah, yaitu anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Dengan demikian anak yang dilahirkan di luar perkawinan yang sah disebut anak luar kawin. Anak yang dilahirkan di luar perkawinan yang sah hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya, keluarga ibunya. Kemudian meskipun anak itu dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah, namun bilamana suami dapat membuktikan, bahwa isterinya telah berzinah dan anak itu akibat dari perzinahan, maka suami dapat menyangkal keabsahan anak tersebut. Penyangkalan keabsahan seorang anak

29

harus

diajukan

kepada

Pengadilan.

Kemudian

pengadilan

memberikan

keputusan tentang sah dan tidaknya anak, atas permintaan pihak yang berkepentingan. Apabila kita lihat isi Pasal 43 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974 Jo. Surat Edaran Mahkamah Agung tanggal 20 Agustus 1975 No. MA/Pemb.0807, tentang Petunjuk-petunjuk Mahkamah Agung Mengenai Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 dapat diketahui, bahwa Pasal 42 sampai dengan Pasal 44 tersebut belum dapat diperlakukan secara efektif. Pasal 42 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974: Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Pasal 43 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974: 4. 5. Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Kedudukan anak tersebut ayat (1) di atas selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 44 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974: 1. Seorang suami dapat menyangkal sahnya anak yang dilahirkan oleh isterinya. Bilamana ia dapat membuktikan bahwa isterinya telah berzina dan anak itu akibat daripada perzinaan tersebut. 2. Pengadilan memberikan keputusan tentang sah/tidaknya anak atas permintaan pihak yang berkepentingan. Dengan demikian untuk kedudukan anak, dengan sendirinya masih diperlakukan ketentuan-ketentuan dan perundang-undangan lama, yaitu Hukum Agama (Keadaan Agama), Hukum Adat dan KUHPerdata (Pasal 66 UU No. 1

30

Tahun 1974). Suatu perkawinan dapat putus dikarenakan beberapa sebab berikut :

a. Kematian salah satu pihak b. Perceraian baik atas tuntutan suami maupun istri c. Karena putusan pengadilan. Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Sehubungan dengan adanya ketentuan bahwa perceraian itu harus dilakukan di depan pengadilan, maka ketentuan ini berlaku juga bagi mereka yang beragama Islam. Walaupun pada dasarnya hukum Islam tidak menentukan, bahwa perceraian itu harus dilakukan di depan pengadilan. Namun ketentuan ini lebih banyak mendatangkan kebaikan, maka sudah sepantasnya apabila orang Islam wajib mengikuti ketentuan ini.28 Untuk melakukan perceraian harus ada alasan, bahwa antara suami istri itu tidak dapat hidup rukun sebagai suami istri. Perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan sebagai berikut : a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, penjudi yang sulit untuk disembuhkan; b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturutturut tanpa ijin dan tanpa alasan yang sah.
28

Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan, Liberty, Yogyakarta, 1986, hal. 128.

31

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang berat setelah perkawinan berlangsung. d. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami istri. e. Salah satu pernah melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lainnya. f. Antara suami istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Tata cara perceraian di depan sidang pengadilan diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, gugatan perceraian diajukan kepada pengadilan, sedangkan tata cara mengajukan gugatan diatur dengan Pasal 14 dan 38 Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975, yang bunyinya sebagai berikut : Seorang suami yang telah melangsungkan perkawinan menurut Agama Islam, yang akan menceraikan istrinya, mengajukan surat kepada pengadilan ditempat tinggalnya yang sesuai pemberitahuan bahwa ia bermaksud

menceraikan istrinya dengan alasan-alasan serta meminta kepada pengadilan agar diadakan sidang untuk keperluan itu. Pasal 38 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 yang berbunyi : (1) Permohonan pembatalan suatu perkawinan oleh pihak-pihak yang berhak mengajukannya kepada pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat berlangsungnya perkawinan atau di tempat tinggal keduanya suami istri, suami atau istri. (2) Tata cara pengajuan permohonan pembatalan perkawinan dilaksanakan sesuai dengan tata cara pengajuan gugatan perceraian.

32

(3) Hal-hal yang berhubungan dengan panggilan, pemeriksaan, pembatalan perkawinan tuntutan pengadilan, dilakukan sesuai dengan tata cara tersebut dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 36 Peraturan Pemerintah. Beberapa sengketa perkawinan serta sahnya perceraian hanya dapat dibuktikan dengan keputusan pengadilan Agama untuk orang-orang Islam dan Pengadilan Negeri untuk orang-orang non Islam. Akibat dari putusnya perkawinan karena perceraian baik bagi pihak suami maupun istri tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya semata-mata demi kepentingan anak. Adapun akibat perceraian terhadap anak-anak yang masih di bawah umur ada dua bentuk yaitu: 1. Menyangkut perwalian. 2. Menyangkut masalah masalahyang masalah

keuntungan

ditetapkan menurut UndangUndang atau menurut

Perjanjian kawin. Menurut Undang-Undang Perceraian merupakan salah satu sebab bubarnya perkawinan. Undang-Undang memberi kepastian bahwa

perkawinan bubar karena kematian, karena keadaan tidak hadir si suami atau isteri, selama 10 tahun diikuti dengan perkawinan baru isterinya atau

33

suaminya sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam bagian kelima bab delapan belas. Karena putusan hakim setelah perpisahan meja dan ranjang dan pembukuan pernyataan bubarnya perkawinan dalam putusan itu dalam Register Catatan Sipil. Ketentuan ini terdapat di dalam Pasal 189 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Berdasarkan ketentuan tersebut diatas terdapat tiga hal yang memerlukan penjelasan lebih lanjut, yakni : 1. Tidak hadirnya salah satu pihak. 2. Putusan Hakim; dan 3. Perceraian.

B. Pengertian Anak Dikatakan anak yaitu seorang yang dilahirkan antara seorang perempuan dengan seorang laki-laki dengan tidak menyangkut bahwa seorang yang dilahirkan oleh wanita meskipun tidak pernah melakukan pernikahan tetap dikatakan anak. Anak merupakan cikal bakal lahirnya suatu generasi baru yang merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber daya manusia pembangunan nasional. Anak adalah suatu aset bangsa, semakin baik kepribadian anak maka semakin baik pula kehidupan masa depan bangsa.

34

Pada umumnya orang berpendapat bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang terpanjang dalam rentang kehidupan. Bagi kebanyakan anak mereka tidak sabar menunggu saat yang didambakan yaitu pengakuan dari masyarakat bahwa mereka bukan lagi anak-anak tetapi orang dewasa. Menurut Hurlock (1980), manusia berkembang melalui beberapa tahapan yang berlangsung

secara berurutan, terus menerus dan dalam tempo perkembangan yang tertentu dan bisa berlaku umum. Lebih jelasnya tahapan perkembangan tersebut dapat dilihat pada uraian berikut:

Masa pra-lahir Masa jabang bayi Masa bayi Masa anak

: dimulai saat terjadinya konsepsi lahir : 1 - 2 minggu : 2 minggu - 1 tahun : 1 tahun -12 tahun

Masa remaja : 13 - 21 tahun Masa dewasa : 21 - 41 tahun

Masa tengah baya : 40 60 tahun Masa tua : 60- meninggal29

Anak dalam pemaknaan yang umum mendapat perhatian tidak saja dalam bidang ilmu pengetahuan (the body of knowlegde). Tetapi dapat dilihat dari sisi pandang sentralistis kehidupan, misalnya: agama, hukum, dan sosiologi menjadikan pengertian anak semakin rasional dan aktual dalam lingkungan sosial.
29

Aminah Aziz. Aspek Hukum Perlindungan Anak, Medan, 1998. Hal 5-6

35

a. Pengertian Anak dari Aspek Sosiologis Aspek sosiologis pengertian anak itu menunjukan bahwa anak sebagai makhluk sosial ciptaan Tuhan, yang senantiasa berinteraksi dengan lingkungan masyarakat bangsa dan negara. Dalam hal ini anak diposisikan sebagai kelompok sosial paling kecil di masyarakat. Arti anak dari aspek sosial ini mengarahkan pada perlindungan kodrati karena keterbatasan yang dimiliki oleh anak sebagai wujud untuk berinterkasi dengan orang dewasa. Faktor keterbatasan kemampuan dikarenakan anak berada pada proses pertumbuhan, proses belajar, dan proses sosialisasi dari akibat usia yang belum dewasa: disebabkan kemampuan daya nalar (akal) dan kondisi fisik dalam pertumbuhan atau mental spritual yang berada di bawah kelompok usia orang dewasa.30 b. Pengertian Anak dari Aspek Ekonomi Dari aspek ekonomi, status anak sering dikelompokan pada golongan yang non produktif. Jika terdapat kemampuan ekonomi yang persuasif dalam kelompok anak, kemampuan tersebut dikarenakan anak mengalami transformasi finansial yang disebabkan dari terjadinya interaksi dalam lingkungan keluarga yang berdasarkan nilai kemanusiaan.

30

Maulana Hasan Wadong, Pengantar Advokasi dan Hukum Perlindungan Anak. Grasindo. Jakarta. 2000. Hal 5

36

Kenyataan-kenyataan dalam masyarakat sering memproses anak-anak melakukan kegiatan ekonomi atau kegiatan produktivitas yang dapat

menghasilkan nilai-nilai ekonomi. Kelompok pengertian anak dalam bidang ekonomi, mengarah pada konsepsi kesejahteraan anak yang ditetapkan oleh Undang-undang No. 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak adalah hak asasi anak harus diusahakan bersama.31

c. Pengertian Anak dari Aspek Agama Pandangan anak dari pengertian religius akan dibangun sesuai ajaran agama, anak mendapat kedudukan istimewa . Anak adalah titipan Tuhan kepada orang tua untuk di sayangi dan didik. d. Pengertian Anak dari Aspek Hukum Didalam hukum kita terdapat pluralisme mengenai pengertian anak, didalam hal ini adalah sebagai akibat dari tiap-tiap peraturan Perundangundangan yang mengatur secara tersendiri mengenai pengertian anak itu

31

Ibid. Hal 13

37

sendiri. Pengertian anak dalam kedudukan hukum meliputi pengertian anak dari pandangan sistem hukum atau disebut kedudukan dalam arti khusus sebagai subjek hukum dan meliputi pengelompokan kedalam subsistem sebagai berikut: 1. Berdasarkan UU Perkawinan No 1 Tahun 1974

Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tidak mengatur secara langsung tolak ukur kapan seseorang dikatakan sebagai anak, akan tetapi hal tersebut tersirat dalam pasal 6 ayat (2) yang memuat ketentuan syarat perkawinan bagi orang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tuanya. Pada pasal 7 ayat (1) undang-undang ini memuat batas minimum usia untuk dapat kawin bagi pria 19 (sembilan belas) tahun dan wanita 16 (enam belas) tahun. Menurut Prof. H. Hilman Hadikusuma, menarik batas antara dewasa dan belum dewasa sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Namun yang perlu diperhatikan adalah anak harus dilindungi dan disayangi.32 2. Berdasarkan UU No 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak Dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak menyebutkan : Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin.
32

Irma Setyowati Soemitro, Aspek Hukum Perlindungan Anak. Bumi Aksara

38

3.

Berdasarkan UU Pengadilan Anak

Anak dalam UU No. 3 Tahun 1997 tercantum dalam pasal 1 ayat (2) yang berbunyi : anak adalah orang dalam perkara anal nakal yang telah mencapai umur 8 tahun (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah menikah. Didalam hal ini pengertian anak dibatasi dengan syarat sebagai berikut: Pertama, anak dibatasi dengan umur antara 8 (delapan) sampai dengan 18 (delapan belas) tahun. Sedangkan syarat kedua si anak belum pernah kawin, artinya tidak sedang terikat dalam perkawinan ataupun pernah kawin dan bercerai, apabila anak sedang terikat dalam hal perkawinan atau perkawinannya putus karena perceraian oleh karena itu anak sudah dianggap dewasa walaupun belum berumur 18 (delapan belas) tahun.
4.

Berdasarkan UU No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senanantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi.
5.

Berdasarkan Hukum Pidana dan Perdata Pengertian anak didalam hukum pidana lebih diartikan pada pemahaman

terhadap hak-hak anak yang harus dilindungi, karena secara kodrat memiliki

39

subtansi yang lemah dan didalam sistem hukum dipandang sebagai subjek hukum yang dikaitkan dari bentuk pertanggung jawaban sebagaimana layaknya seorang subjek hukum yang normal.33 Pengertian anak dalam aspek hukum pidana ini menimbulkan aspek hukum positif terhadap proses normalisasi anak dari perilaku menyimpang untuk membentuk kepribadian dan tanggung jawab yang pada akhirnya menjadikan anak tersebut berhak atas kesejahteraan yang layak dan masa depan yang baik. Pada hakekatnya, kedudukan status dari pengertian anak di dalam hukum pidana meliputi dimensi-dimensi pengertian sebagai berikut: a. Ketidak mampuan untuk bertanggung jawab tindak pidana. b. Rehabilitasi, yaitu anak berhak untuk mendapat proses perbaikann mental spritual akibat dari tindakan hukum pidana yang dilakukan anak itu sendiri. c. Pengembalian hak-hak dengan jalan mensubtitusikan hak anak yang timbul dari lapangan hukum keperdataan, tata negara, dengan maksud untuk mensejahterahkan anak. d. Hak untuk menerima pelayanan dan asuhan, serta hak dalam proses hukum acara pidana.

33

Darwin Prinst. Hukum Anak Indonesia. Citra Aditya Bakti, Bandung. 2003. Hal 2

40

Pengertian anak dalam hukum perdata diliat dari berbagai aspek keperdataan yang ada pada anak sebagai seorang subjek hukum yang tidak mampu. Aspek tersebut meliputi: status belum dewasa sebagai subjek hukum dan hak anak dalam hukum perdata. Pada pasal 339 KUHP Perdata memberikan makna anak adalah orang yang belum dewasa yang belum mencapai umur genap 21 tahun, dan tidak kawin. Dalam ketentuan hukum perdata anak mempunyai kedudukan sangat luas dan mempunyai peranan yang amat penting. Terutama dalam hal memberikan perlindungan terhadap hak keperdataan anak, misalnya dalam masalah pembagian harta warisan, sehingga anak yang berada dalam kandungan seoarang perempuan dianggap telah dilahirkan bilamana kepentingan si anak menghendaki sebagaimana yang dimaksudkan oleh pasal 2 KUH Perdata. C. Pengertian Perlindungan Anak Pada hakekatnya anak tidak dapat melindungi diri sendiri terhadap berbagai macam ancaman mental, fisik, sosial dalam berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu anak harus dibantu orang lain dalam melindungi diri mengingat situasi dan kondisinya. Melindungi anak adalah melindungi manusia dan membangun manusia seutuhnya. Perlindungan anak merupakan hal yang sangat penting demi terciptanya kontiunitas negara, karena anak merupakan cikal bakal suatu generasi manusia dalam pembangunan bangsa. Perlindungan anak adalah

41

suatu usaha mengadakan kondisi dan situasi yang memungkinkan pelaksanaan hak dan kewajiban anak secara manusiawi positif.34 Menurut Arif Gosita, perlindungan anak merupakan suatu hukum baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang menjamin anak benar-benar dapat melaksanakan hak dan kewajibannya. Barda Nawawi Arief mengartikan bahwa istilah perlindungan anak adalah sebagai upaya perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak ( fundamental rights and freedom of children) serta berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak.35 Pengertian perlindungan anak dalam arti luas adalah semua usaha yang melindungi anak melaksanakan hak dan kewajibannya secara manusiawi positif. Setiap anak melaksanakan haknya, ini berarti dilindungi untuk memperoleh dan mempertahankan haknya untuk hidup mempunyai kelangsungan hidup,

bertumbuh kembang dan perlindungan pelaksanaan hak dan kewajibannya sendiri dan dapat perlindungan.36 Dalam hukum perdata, perlindungan anak tidak hanya diberikan kepada anak yang lahir saja, tetapi termasuk anak yang masih didalam kandungan ibunya, bilamana kepentingan si anak mengendaki dan jika anak tersebut mati sebelum dilahirkan maka anak dianggap tidak pernah ada, hal ini termuat dalam
34

Romli Atmasasmita. Peradilan Anak di Indonesia. Mandar Maju. Bandung, 1997. Hal 165 35 Aminah Aziz, Op Cit Hal 15 36 Romli Atmasasmita, Op Cit. Hal 167

42

pasal 2 KHUP Perdata. Dalam pasal 330 KHUP Perdata anak yang belum dewasa atau belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin perlindungannya berada di bawah kekuasaan orang tua atau wali. Selain diatur dalam pasal 330 KUHP Perdata perlindungan anak ini diatur juga dalam pasal 345, 353, 365, dan 395 KUHP Perdata.37 Upaya perlindungan hukum bagi anak tidak hanya dengan menyiapkan subtansi hukum (legal subtance), tetapi juga perlu dukungan oleh pemantapan struktur hukum (legal structure) dan budaya hukum (legal culture). Perlindungan anak dalam hukum pidana terbagi dua yaitu: didalam KHUP dan diluar KHUP perlindungan lagi atas perlindungan anak sebagai pelaku tindak pidana dan perlindungan anak sebagai korban kejahatan. Perlindungan anak dalam KHUP diatur dalam pasal 283, 287,290, 292, 293, 294,295, 297, 314, 330, 332, 337, 342, 364, 347 (1) dan pasal 348 KHUP yang kesemuanya berkaitan dengan delik kesusilaan. Diluar KHUP banyak sekali mengatur perlindungan anak, antara lain dapat dilihat dalam UU No. 12 Tahun 1948 jo. UU No.1 tahun 1951 tentang Perlindungan Terhadap Pekerja Anak, Stb.1925 No 47 Tentang Pembatasan Kerja Malam bagi Wanita, UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.

37

Ibid. Hal 42

43

Dalam tulisan ini penulis mencoba untuk memaparkan sedikit bentuk perlindungan di luar KHUP, yaitu UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, karena penulis berpendapat bahwa UU ini sangat relevan dengan judul tulisan ini. UU No. 23 Tahun 2002 ini merupakan babak baru terhadap upaya perlindungan anak. UU ini memberi peluang yang sebesar-besarnya kepada pemerintah dan masyarakat untuk berperan memberi perlindungan terutama perlindungan khusus kepada anak yang berhadapan dengan hukum. Anak dari kelompok minoritas, korban eksploitasi ekonomi dan seksual, anak korban penyalah gunaan NAPZA, anak korban kekerasan fisik maupun mental, anak penyandang cacat, serta anak yang mendapat perlakuan penelantaraan. Menurut Nawawi perlindungan anak mencakup berbagai aspek antara lain: 1. hak anak dan kebebasan anak. 2. proses pengadilan. 3. Perlindungan kesejahteraan anak (dalam lingkungan keluarga, pendidikan dan lingkungan sosial). Perlindungan segala bentuk eksploitasi. 5. jalanan. Perlindungan terhadap anak anak dari Perlindungan anak dalam Perlindungan terhadap hak-

4.

44

6. akibat peperangan/konflik. 7. tindak kekerasan. 8.

Perlindungan

anak

dari

Perlindungan anak terhadap Perlindungan anak masalah penahanan dan perampasan kemerdekaan. dalam

Perlindungan anak dalam UU ini bertujuan menjamin terpenuhinya hakhak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai harkat, martabat, dan kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera.38 Perlindungan anak dapat diartikan sebagai upaya perlindungan terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak serta berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan anak akan dapat terwujud dengan melihat Undang-undang yang oleh pemerintah sebagai lembaga yang berhak mengeluarkan UU bersama dengan DPR seperti UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, UU No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak, UU No. 23 Tahun 2002 tetang Perlindungan Anak . Undang-undang yang tersebut di atas mempunyai persamaan persepsi tentang kebijakan kelangsungan hidup, tumbuh kembang, perlidungan dan peran serta anak yang didasarkan pada tiga aspek utama Konvensi Anak yaitu:
a. Kelangsungan hidup (survival),
38

Aminah Aziz, Op Cit. Hal 41

45

b. Tumbuh Kembang (developmental) dan,

c. Perlindungan (protection) Hal tersebut di atas dikemukakan beberapa pengertian sebagai berikut:
1. Kesejahteraan anak adalah suatu tata kehidupan dan peghidupan

anak yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar, baik secara rohaniah, jasmaniah maupun sosialnya.
2. Hak-hak anak adalah berbagai kebutuhan dasar yang seharusnya

diperoleh anak untuk menjamin kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan perlindungan dari segala bentuk perlakuan salah, ekspoitasi dan penelantaran terhadap anak, baik yang mencakup hak sipil, ekonom, sosial dan budaya anak. Perlindungan anak adalah segala upaya yang ditujukan untuk mencegah, merehabilitasi dan memberdayakan anak yang mengalami tindak perlakuan salah, ekspoitasi dan penelantaraan agar dapat menjamin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak secara wajar, baik fisik, mental maupun sosialnya. Hak-hak Anak Undang-undang No. 4 Tahun 1979, Bab II Pasal 2 sampai dengan 9, mengatur hak-hak anak atas kesejahteraan, diperkuat dalam Undangundang Nomor 23/2002 dalam Bab III Pasal 4 sampai 18 sebagai berikut:

46

1. Hak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan. Anak

berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar. Dimaksud dengan asuhan, adalah berbagai upaya yang dilakukan kepada anak yang tidak mempunyai orang tua dan terlantar, anak terlantar dan anak yang mengalami masalah kelainan yang bersifat sementara sebagai pengganti orang tua atau keluarga agar dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar, baik secara rohani, jasmani maupun sosial (Pasal 1 angka 32 PP No. 2 Tahun 1988).
2. Hak

atas

pelayanan,

Anak

berhak

atas

pelayanan

untuk

mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa untuk menjadi warga negara yang baik dan berguna. (Pasal 2 ayat 2 Undang-undang No. 4 Tahun 1979). Hak atas pemeliharaan dan perlindungan Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan (Pasal 2 ayat Undang-undang No. 4 Tahun 1979).
3. Hak

atas

perlindungan

lingkungan

hidup,

Anak

berhak

atas

perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan

47

atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar (Pasal 2 ayat 4 Undang-undang No. 4 Tahun 1979).
4. Hak

mendapat

pertolongan

pertama,

Dalam

keadaan

yang

membahayakan, anaklah yang pertama-tama berhak mendapat pertolongan dan bantuan dan penlindungan (Pasal 3 Undang-undang No. 4 Tahun 1979).
5. Hak memperoleh asuhan, Anak yang tidak mempunyai orang tua

berhak memperoleh asuhan oleh negara, atau orang, atau badan lain (Pasal 4 ayat 1 Undangundang No. 4 Tahun 1979). Dengan demikian anak yang tidak mempunyai orang tua itu dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik jasmani, rohani maupun sosi
6. Hak

memperoleh

bantuan,

Anak

yang

tidak

mampu

berhak

memperoleh bantuan, agar dalam lingkungan keluarganya dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar (Pasal 5 ayat 1 Undangundang No. 4 Tahun 1979). Menurut PP No. 2 Tahun 1988, bantuan itu bersifat tidak tetap dan diberikan dalam jangka waktu tertentu kepada anak yang tidak mampu (Pasal 1 ayat 4).

48

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Hak Dan Kewajiban Orangtua Terhadap Hak Asuh Anak Setelah Terjadinya Perceraian Hak dan kewajiban orang tua setelah terjadi nya perceraian merupakan peranan penting dan sangat berpengaruh untuk masa depan anak. Untuk itu diperlukan lah peraturan-peraturan untuk hak asuh anak dibawah umur akibat perceraian mengenai hak dan kewajibannya. Di Wilayah hukum memiliki peraturan-peraturan untuk memutuskan suatu perkara mengenai hak dan kewajiban apa saja yang harus di laksanakan oleh orang tua setelah perceraian. Perlindungan yang harus diperoleh anak ialah masalah pendidikan, nafkah dan hal hal yang terkait pada Undang-undang perlindungan anak dari segi perdatanya saja dari kedua orangtua yang telah bercerai Pada Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 26 ayat (1) ditegaskan bahwa orangtua berkewajiban dan bertanggung jawab mengenai asuhan, pemeliharaan, dan melindungi anak serta menumbuh kembangkan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya. Kedua orang tua wajib memberikan hak dan kewajiban terhadap anak dibawah umur sesuai dengan Undang-undang No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang mengatur akibat putusnya perkawinan dengan menegaskan kedua orang tua tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya,

49

sesuai kepentingan si anak dan bila ada perselisihan maka Pengadilan yang memberikan keputusan. Jika pihak ayah atau ibu tidak melaksanakan hak dan kewajibannnya maka maka salah satu pihak yang merasa dirugikan dapat menuntut melalui pengadilan negeri. Pada Pasal 230b Kitab Undang-undang Hukum Perdata berbunyi : Dalam penetapan termaksud dalam ayat ke satu pasal 229, Pengadilan Negeri, setelah mendengar atau memanggil dengan sah seperti teratur pula dalam ayat tersebut, dan setelah mendengar Dewan Perwalian, jika kiranya ada kekhawatiran, bahwa si bapak atau si ibu yang tidak di angkat menjadi wali, tidak akan memberikan tunjangan secukupnya guna pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang belum dewasa boleh memerintahkan pula kepada orang tua itu supaya untuk keperluan tersebut tiap-tiap minggu, tiap-tiap bulan atau triwulan memberikan sejumlah uang, yang ditentukan pula dalam penetapan, kepada Dewan Perwalian Sebuah gugatan perceraian tidak selalu diikuti dengan permohonan hak pengasuhan anak. Dapat dilihat pada ketentuan Pasl 41 huruf a Undang-undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyatakan bahwa akibat putusnya perkawinan karena perceraian adalah ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan si anak. Jika ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak , pengadilan memberi keputusannya. Jika ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak dapat diartikan secara hukum, bahwa permohonan hak asuh/penguasaan anak hanya ada setelah perceraian dikabulkan oleh pengadilan dan memilki kekuatan hukum
50

yang tetap. Mengacu pada ketentuan Pasal 41 huruf a diatas, dapat dipahami bahwa dalam kasus perceraian tidak harus diikuti dengan permohonan penguasaan/hak pengasuhan anak. Sesungguhnya hak pengasuhan anak dan perceraian adalah dua masalah hukum yang berbeda. Jika dibedakan menjadi dua sisi antara perceraian dan hak asuh anak, perceraian bisa terjadi karena alasan-alasan yang sudah di uraikan di bagian sebelumnya. Sementara sebuah tuntutan akan hak asuh anak dilakukan karena salah satu orang tua tersebut telah mengabaikan ketentuan tentang Hak dan Kewajiban sebagai orang tua. Kewajiban sebagai orangtua diatur dalam Pasal 49 ayat (1) Undang-undang No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dan dalam Pasal 26 ayat (1) Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Berikut adalah aturan hukum Indonesia. 1. Ia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya. 2. Ia berlakuan buruk sekali. 3. Tidak bertanggung jawab untuk hal-hal dibawah ini; Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak.
b. Menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat,

dan minatnya. c. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak. Penggabungan proses perceraian pemeliharaan anak dan perceraian ialah untu menyederhanakan proses dan menghindarkan putusan yang saling bertentangan. Praktik ini juga membuat proses peradilan menjadi lebih

51

sederhana, cepat, dan murah. Namun, pengadilan dalam menggabungkan perkara antara perceraian dengan permohonan pengalihan penguasaan/hak asuh anak dalam suatu gugatan, sepanjang dalam gugatannya, penggugat dapat menguraikan sebab dan akibat antara kedua permasalahan tersebut, serta dibuktikan berdasarkan fakta-fakta. Dalam hal persengketaan hak pengasuhan anak, setelah putusnya perkara salah satu pihak selalu ada yang tidak setuju dengan apa yang telah diputuskan, sehingga demikian Pengadilan negeri masih bisa menerima dan mempunyai wewenang untuk menyelesaikan perkara tersebut dengan adanya mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri tersebut. Bahwa masih mempunyai wewenang untuk menyelesaikan perkara jika salah satu pihak ayah atau ibu tidak menjalankan hak dan kewajibannya, sepanjang salah satu pihak yang merasa berkepentingan terhadap hak-hak anak mengajukan gugatan melalui Pengadilan Negeri yang berhak mengadili. Hak dan kewajiban terhadap hak asuh anak dibawah umur terkadang tidak terlaksana sebagaimana yang telah diputuskan oleh majelis hakim. Setelah terjadinya perceraian mayoritas dari pasangan suami isteri yang bercerai selalu memepersengketakan masalah hak untuk mengasuh anak dibawah umur dengan cara tidak efektif, padahal bentuk dari penyelesaian persengketaan itu dapat dilakukan dengan cara lain yang lebih efektif. Bentuk penyelesaian dari jika salah satu dari ayah atau ibu tidak melakukan hak dan kewajibanya yaitu mediasi atau perdamaian diluar

52

pengadilan, jika mediasi tidak berhasil maka dilanjutkan ke pengadilan dan majelis hakim akan memberikan keputusan berdasarkan pertimbangan-

pertimbangan hukum dan kepatutan. Pasca perceraian, secara umum, anak berhak mendapat:
1. Kasih sayang, meskipun orangtua sudah bercerai, anak harus tetap

mendapatkan kasih sayang dan anak berhak menentukan dengan siapa dia akan tinggal. Setelah bercerai, banyak anak yang tidak mendapatkan kasih sayang secara penuh akibat keegoisan dari orang tua itu sendiri. Sehingga menumbuhkan rasa ketakutan dari anak tersebut terhadap salah satu orang tua nya yang tidak memiliki kuasa secara penuh. Dalam hal anak yang telah dewasa dapat menentukan pilihan kepada siapa ia akan tinggal, namun pada anak yang belum dewasa dapat ditentukan oleh Majelis hakim, pada putusan Perceraian kepada yang dianggap mampu memelihara, mendidik anaknya hingga dewasa (anak tersebut dapat menentukan kepada siapa ia akan tinggal selanjutnya).
2.

Pendidikan, Memberikan pendidikan yang layak untuk anak tersebut, seperti memasukan anak tersebut ke tempat pendidikan (sekolah), memberikan pelajaran spiritual (agama), memberikan pelajaran tata karma, etika dan moral si anak agar ank tersebut dapat bersosialisai dengan baik terhadap lingkungan disekitarnya.

53

3. Perhatian kesehatan, Memberikan perlindungan kesehatan baik segi fisik

maupun non fisik, perlindungan segi fisik disini merupakan menjaga agar anak tidak terkena penyakit atau menjaga kesehatan nya dengan memberikan vitamin yang terjauhi dari penyakit.
4. Tempat tinggal yang layak, Memberikan tempat tinggal yang layak, yang

nyaman bagi anak sehingga anak dapat merasakan tempat tersebut bukanlah suatu tempat yang berbeda dengan sebelumnya meskipun kedua orang tua nya telah bercerai. Diperlukannya kerja sama yang baik dari kedua orang tua, karena dari tempat tinggal yang berbeda akan lebih mempengaruhi pemkiran anak, dikarenakan si anak tinggal hanya dengan salah satu orang tuanya dan mungkin di tempat yang berbeda dan suasana yang berbeda. Keempat unsur dasar di atas harus dipenuhi oleh orangtua terhadap anak, jika mereka bercerai. Tetapi tidak bisa dipungkiri pula, jika ada orangtuanya bercerai, maka salah satu pihak tidak memenuhi hak-hak anak, sehingga hakhak anak tersebut terabaikan. Untuk kondisi seperti ini, sang orangtua bisa saja mendapat sanksi sesuai dengan kesepakatan yang sudah ditetapkan pada saat proses perceraian dilakukan. Namun, tidak sedikit pula keluarga yang menyelesaikan kekeluargaan. sengketa perceraian mereka dengan cara damai dan

54

Walaupun demikian, penyelesaian secara kekeluargaan ini masih memiliki satu kelemahan, yakni dalam hal monitoring atau pengawasan. Setelah dibuat kesepakatan, bisa saja salah satu dari pasangan orangtua yang sudah bercerai ini tidak menjalankan kesepakatannya sehingga tidak ada sanksi yang bisa diterapkan. Terlebih lagi, jika pasangan orangtua ini menikah secara siri, Dalam kasus ini, tidak akan ada dokumen sah dan lengkap yang harus

dipertanggungjawabkan jika mereka kemudian memutuskan untuk bercerai. Perceraian selalu saja merupakan rentetan goncangan-goncangan yang menggoreskan luka batin yang dalam bagi mereka yang terlibat, terutama anakanak. Sekalipun perceraian tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan damai oleh orangtuanya, hal itu tetap saja menimbulkan masalah bagi anak-anak mereka. Reaksi anak akan berbeda-beda terhadap perceraian orangtuanya. Semua tergantung pada umur, intensitas serta lamanya konflik yang berlangsung sebelum terjadi perceraian. Setiap anak menanggung penderitaan dan kesusahan dengan kadar yang berbeda-beda. Anak-anak yang orangtuanya bercerai, terutama yang sudah berusia sekolah atau remaja, biasanya akan merasa ikut bersalah dan bertanggung jawab atas kejadian itu. Mereka juga merasa khawatir terhadap akibat buruk yang akan menimpa mereka. Adakalanya bagi sebagian anak, perceraian merupakan kehancuran keluarga yang akan mengacaukan kehidupan mereka. Paling tidak perceraian tersebut menyebabkan munculnya rasa cemas terhadap kehidupan mereka di masa kini dan di masa depan.

55

Anak-anak yang orang tuanya bercerai sangat menderita, dan mungkin lebih menderita daripada orangtuanya sendiri. Keterlibatan pemerintah juga sangat diperlukan untuk memberikan solusi terbaik terhadap anak-anak korban perceraian untuk memastikan hak-hak mereka selaku anak bisa dipertahankan. Membuat aturan yang lebih ketat dalam proses perceraian di pengadilan bisa menjadi salah satu alternatif bagi perlindungan terhadap anak. Dengan demikian maka keluarga sangat dibutuhkan oleh setiap anak karena dalam keluargalah anak akan tumbuh dan berkembang secara baik. Mereka akan mendapatkan kasih sayang dan perlindungan yang sepenuhnya dariorangtua mereka. Saat proses perceraian masih berjalan di Pengadilan, kedua orang tua tetap berkewajiban untuk memelihara, mendidikan, mengasuh dan merawat anaknya tersebut. hal ini terdapat dalam pasal 45 Undang-undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan : a. Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya.
b. Kewajiban orang tua yang di maksud dalam ayat (1) Pasal ini

berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri, kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus. Berdasarkan ketentuan Pasal 45 tersebut, selama perceraian belum di putus, kedua orang tua tetap berkewajiban untuk menanggung segala kebutuhan

56

anaknya. Tidak ada yang lebih berhak dan tidak ada pula yang dapat menyatakan tidak berhak menanggung kebutuhan anak. Pengadilan dapat pula memberi keputusan tentang siapa diantara mereka berdua yang menguasai anak yakni memelihara dan mendidiknya, apabila ada perselisihan antara keduanya. Keputusan pengadilan dalam hal ini tentu juga didasarkan kepada kepentingan anak. Dalam Pasal 47 dinyatakan seperti berikut: 1. Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orangtuanya selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya. 2. Orangtua mewakili anak tersebut mengenai perbuatan hukum di dalam dan di luar pengadilan. Apabila orangtua melaksanakan kekuasaannya tidak cakap atau tidak mampu melaksanakan kewajibannya memelihara dan mendidik anak-anaknya, maka kekuasaan orangtua dapat dicabut dengan putusan pengadilan. Menurut M.Yahya Harahap menjelaskan bahwa : Orangtua yang melalaikan kewajiban terhadap anaknya yaitu meliputi ketidakbecusan si orangtua itu atau sama sekali tidak mungkin melaksanakannya sama sekali, boleh jadi disebabkan karena dijatuh hukuman penjara yang memerlukan waktu lama, sakit udzur atau gila dan kepergian dalam suatu jangka waktu yang tidak diketahui kembalinya. Sedangkan berkelakuan buruk meliputi segala tingkah laku yang tidak senonoh

57

sebagai seorang pengasuh dan pendidik yang seharusnya memberikan contoh yang baik. Dalam Pasal 33 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dalam hal orangtua anak tidak cakap melakukan perbuatan hukum, atau tidak diketahui tempat tinggal atau keberadaannya, maka seseorang atau badan hukum yang memenuhi persyaratan dapat ditunjuk sebagai wali dari anak yang bersangkutan. Tidak semua orangtua yang dapat memberikan hak untuk pengasuhan anak mengenai hak dan kewajiban, karena adanya keterbatasan salah satu pihak orang tua melarang anaknya untuk bertemu salah satu pihak orang tua yang tidak memilki kuasa penuh. Keterbatasan yang diberikan oleh salah satu orang tua terhadap salah satu orang tua yang tidak memiliki kuasa secara penuh sangat tidak lazim untuk dilaksanakan, karena setelah terjadinya perceraian, dapat dikatakan bahwa hanya perkawinan lah yang diputuskan bukan hubungan antara orang tua dan anak, dengan terjadinya keterbatasan ini akibatnya membawa negatif terhadap anak, yaitu psikologis anak yang terabaikan atau terlantarkan. Pelaksanaan pengasuhan anak, dalam lingkup hak dan kewajiban banyak menimbulkan masalah, akibat dari anak tersebut di asuh oleh salah satu pihak yang memiliki kuasa penuh sehingga menimbulkan kendala-kendala bagi pihak yang tidak mengasuh anak tersebut secara penuh. Hal ini dikarenakan pasangan

58

suami isteri yang telah bercerai tidak dapat bekerja sama dengan baik dalam memelihara anak tersebut. Dampak negatif dari keterbatasannya pertemuan antara salah satu pihak orang tua yang tidak memilki hak pengasuhan penuh adalah kepada anak tersebut, yang memepengaruhi mental dan menumbuhkan rasa tanda tanya yang sangat besar yang mempengaruhi perkembangan pola pikir anak tersebut. Agar tidak tumbuhnya pola pikir yang tidak baik terhadap anak tersebut, seharusnya orang tua dapat mencari bentuk penyelesaian jalan yang terbaik demi kepentingan si anak yang lebih bisa diterima oleh anak sehingga tidak adanya bentuk negatif yang memepengaruhi anak tersebut. Dalam hal penyelesaian bentuk dari masalah hak asuh anak ini merupakan kerjasama yang baik antara kedua orang tua agar tidak menumbuhkan pengaruh negatif terhadap anak. Kerjasama yang dimaksud disini ialah sama-sama memberikan nafkah, mendidik dan memelihara tanpa menanamkan sifat tercela kepada si anak bahwa perceraian yang dilakukan kedua orang tua itu adalah hal terburuk dan hal yang menakutkan, sehingga adanya rasa kebencian yang timbul dari pemikiran anak terhadap salah satu orang tuanya. Adapun bentuk dari penyelesaian sengketa pengasuhan anak ini dapat melalui mediasi, yaitu perdamaian di luar Pengadilan, namun hal ini jarang dapat dilaksanakan, karena dianggap kurang konkrit,bahkan pada kenyataannya mediasi yang dilakukan banyak yang tidak membuahkan hasil dan mencapai titik

59

temu sehingga menimbulkan masalah baru dari kedua belah pihak, sehingga pasangan suami isteri tersebut langsung melanjutkan ke pengadilan dan lebih memilih menunggu keputusan dari Majelis Hakim yang dianggap lebih jelas, konkrit, dan pasti. Bentuk penyelesaian yang ada di perlukannya mediasi dari kedua belah pihak agar dapat diselesaikan, jika tidak mantan suami ingin memperkara kan kembali atau mengajukan tuntutan kembali terhadap isteri karena telah membawa anak tersebut tanpa sepengetahuan mantan suami dan tidak sesuai dengan apa yang telah diputuskan oleh majelis hakim bahwa hak pengasuhan anak jatuh kepihak suami. Dalam hal kekuasaan orangtua terhadap anak setelah terjadinya perceraian dalam Pasal 300 KUHPerdata disebutkan bahwa kecuali jika terjadi pelepasan dan atau berlaku ketentuan-ketentuan mengenai pisah meja dan ranjang, si ayah sendiri yang melakukan kekuasaan itu. Selanjutnya ditentukan bahwa bila si ayah dalam keadaan tidak mungkin untuk melakukan kekuasaan orangtua, kekuasaan itu dilakukan oleh si ibu, kecuali dalam hal adanya pisah meja dan ranjang. Pada ayat (2) disebutkan pula bila si ibu ini juga tidak dapat atau tidak berwenang, maka oleh Pengadilan Negeri diangkat seorang wali sesuai dengan Pasal 359. Ketentuan Pasal 300 KUHPerdata tersebut diatas dimaksudkan karena ada kekhawatiran bahwa tidak ada persesuaian antara ayah dan ibu dalam hal kekuasaan orangtua, sehingga pihak ketiga, hakimlah yang harus turut campur.

60

Menurut Undang-undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pada Pasal 41 ayat (2) menegaskan bahwa bapak lah yang memiliki tanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang di perlukan si anak tersebut, namun jika bapak terbukti tidak dapat untuk memenuhi kewajiban tersebut maka pihak Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut. Adapun bentuk penyelesaian menurut mantan suami dan isteri ini merupakan perdamaian dengan menjalankan kerjasama yang baik dalam hal melaksanakan hak dan kewajiban untuk anak tersebut hingga tidak adanya batasan untuk salah satu pihak bertemu dengan anak nya.

B. Aturan Hukum Tentang Perlindungan Anak Korban Perceraian Perlindungan terhadap masyarakat mempunyai banyak dimensi yang salah satunya adalah perlindungan hukum. Perlindungan hukum bagi setiap Warga Negara Indonesia tanpa terkecuali, dapat ditemukan dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (UUD 1945), untuk itu setiap produk yang dihasilkan oleh legislatif harus senantiasa mampu memberikan jaminan perlindungan hukum bagi semua orang, bahkan harus mampu menangkap aspirasi-aspirasi hukum dan keadilan yang berkembang di masyarakat. Hal tersebut, dapat dilihat dari ketentuan yang mengatur tentang adanya persamaan kedudukan hukum bagi setiap Warga Negara Indonesia tanpa terkecuali. Ada beberapa pendapat yang dapat dikutip sebagai suatu patokan mengenai perlindungan hukum, yaitu :

61

Menurut Satjipto Rahardjo: perlindungan hukum adalah adanya upaya melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannyatersebut.39 Menurut Setiono: perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia. 40 Perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi subyeksubyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi. Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :41 a. Perlindungan Hukum Preventif Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban.

39

Satjipto Rahardjo, Sisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia, (Jakarta : Kompas, 2003), hal. 121 40 Setiono, Rule of Law (Supremasi Hukum), (Surakarta : Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, 2004), hal. 3 41 Musrihah, Dasar dan teori Ilmu Hukum. (Bandung: Grafika Persada,2000), hal. 30.

62

b. Perlindungan Hukum Represif Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran. Salah satu sifat dan sekaligus merupakan tujuan dari hukum adalah memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat. Oleh karena itu, perlindungan hukum terhadap masyarakat tersebut harus diwujudkan dalam bentuk adanya kepastian hukum. Sehingga dalam penulisan ini, perlindungan hukum diberi batasan sebagai suatu upaya yang dilakukan di bidang hukum dengan maksud dan tujuan memberikan jaminan perlindungan terhadap anak. Pengertian hukum perlindungan anak, beberapa ahli memberikan batasanbatasan sebagai berikut, Arif Gosita mengatakan : bahwa hukum perlindungan anak sebagai hukum (tertulis) maupun tidak tertulis yang menjamin anak benar- benar dapat melaksanakan hak dan kewajibannya Bismar Siregar menyebutkan : aspek hukum perlindungan anak lebih dipusatkan kepada hak- hak anak yang yang diatur hukum dan bukan kewajiban, mengingat secara hukum (yuridis) anak belum dibebani kewajiban42 Sedangkan Prof. Mr. J. E. Doek dan Mr. H. MA. Drewes memberikan pengertian Hukum Perlindungan Anak dalam 2 (dua) pengertian masing- masing pengertian luas dan sempit.

42

Wagiati Sutedjo, 2006, Hukum Pidana Anak, Bandung: PT. Refika Aditama, hal. 62

63

a. Dalam pengertian luas : segala aturan hidup yang memberi perlindungan

kepada mereka yang belum dewasa dan memberi kemungkinan bagi mereka untuk berkembang. b. Dalam pengertian sempit : meliputi perlindungan hukum yang terdapat dalam : 1. Ketentuan hukum perdata 2. Ketentuan hukum pidana 3. Ketentuan hukum acara Dalam memberikan perlindungan terhadap anak kita juga harus memperhatikan dan berpatokan pada asas- asas dan tujuan perlindungan anak. Dalam Pasal 2 Undangundang Nomor 23 Tahun 2002 disebutkan bahwa penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan Undang- undang Dasar 1945 serta sesuai dengan prinsip dasar Konvensi HakHak Anak, meliputi :
a. Non diskriminasi, artinya bahwa dalam memberikan perlakuan terhadap

anak tidak boleh membeda- bedakan antara yang satu dengan yang lain, dengan alasan apapun juga.
b. Kepentingan yang terbaik bagi anak, maksudnya bahwa dalam semua

tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh pemerintah,

64

masyarakat, badan legislatif, dan badan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.
c. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan. Dimana ketiga

unsur ini adalah hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang dilindungi oleh negara/ pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua. Penghargaan terhadap pendapat anak, maksudnya : penghormatan atas hak- hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan terutama jika menyangkut hal- hal yang mempengaruhi kehidupannya. Meletusnya Perang Dunia pertama, menyebabkan banyak anak-anak yang mengalami kesengsaraan, hak-hak mereka terabaikan dan mereka menjadi korban kekerasan. Dengan berakhirnya perang dunia, tidak berarti kekerasan dan pelanggaran terhadap hak-hak anak berkurang. Bahkan eksploitasi terhadap hak-hak anak berkembang kearah yang lebih memprihatinkan, bahkan dalam kasus perceraian orang tua. Pelanggaran hak-hak anak bukan saja terjadi di negara yang sedang mengalami konflik bersenjata, pelanggaran juga terjadi di negara yang sedang berkembang bahkan di negara-negara maju. Proses dinamika pembangunan ekonomi ternyata menyisakan masalah sosial dan masalah anak, misalnya: banyaknya anak jalanan (street children), pekerja anak (child labour), eksploitasi

65

seks pada anak-anak (child prostitution), dan perdagangan anak (child trafficking). Melihat realitas tersebut, maka pada tanggal 20 November 1989, PBB mengesahkan Konvensi Hak-Hak Anak (Convention On The Right Of The Child), guna memberikan perlindungan terhadap anak dan menegakan hak-hak anak di seluruh dunia. Hak-hak anak yang termaktub dalam Konvensi Hak-Hak Anak merupakan instrumen internasional yang mengikat negara-negara yang

meratifikasi untuk mengimplementasikannya. Oleh karena itu, Indonesia sebagai salah satu negara yang meratifikasi, berkewajiban untuk mengimplementasikan Konvensi Hak-Hak Anak dengan membentuk hukum atau legislasi yang mendukung pelaksanaan Konvensi Hak-Hak Anak. Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) telah disahkan pada tanggal 20 November 1989, dan mulai mempunyai kekuatan memaksa (entered in to force) pada tanggal 2 September 1990. Sebelum disahkannya Konvensi Hak-Hak Anak, perlindungan dan penegakan hak-hak anak mengalami sejarah perjalanan yang sangat panjang. Sejarah perjalanan hak anak dimulai dengan usaha perumusan draf hak-hak anak yang dilakukan oleh Mrs. Eglantynee Jebb, pendiri Save the Children Fund . Berdasarkan catatan UNICEF, beberapa tahapan penting dalam sejarah perkembangan hak-hak anak adalah Tahun 1923: Hak-hak anak disetujui oleh Save the Children International Union,Tahun 1924 :Hak yang disetujui

66

oleh League Of Nation (hal ini merupakan upaya internasional menanggapi pengalaman anak yang menjadi korban perang), Tahun 1948 : Majelis Umum PBB mengesahkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Walapun hak anak secara implisit sudah termasuk didalamnya, namun banyak yang beranggapan bahwa kebutuhan khusus anak perlu disusun dalam suatu dokumen secara terpisah, Tahun 1959: Majelis Umum PBB mengangkat Deklarasi Kedua Hak Anak. Kelompok Komisi Hak Asasi Manusia PBB mulai mengerjakan konsep Konvensi Hak-Hak Anak, Tahun 1989: Konsep Konvensi Hak-Hak Anak disetujui oleh Majelis Umum PBB. Konvensi Hak-Hak Anak merupakan instrumen yang merumuskan prinsipprinsip universal dan norma hukum mengenai kedudukan anak. Konvensi HakHak anak merupakan hasil dari konsultasi dan pembicaraan negara-negara, lembaga-lembaga PBB dan lebih dari lima puluh organisasi Internasional. Dalam Mukadimah Konvensi Hak-Hak anak, di jelaskan bahwa latar belakang disahkannya Konvensi tersebut adalah berdasarkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, PBB menyatakan bahwa anak-anak berhak atas perawatan dan bantuan khusus. Selain itu juga disebutkan bahwa, demi pengembangan kepribadian secara utuh dan harmonis, anak harus dibesarkan dalam lingkungan keluarga, dalam suasana kebahagiaan, kasih sayang dan pengertian.

67

Latar belakang disahknya Konvensi Hak-Hak Anak secara praktis muncul karena penegakan hak-hak anak sebagai manusia dan sebagai anak masih sangat memprihatinkan. Konvensi Hak-Hak anak disahkan dengan tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap anak, dan menegakan hak-hak anak di seluruh dunia. Perlindungan hak-hak anak diwujudkan sebagai gerakan global negara-negara di seluruh dunia dengan mensahkan Konvensi Hak-Hak Anak sebagai bagian dari hukum nasional negara tersebut, hal ini merupakan sebuah kemajuan penting untuk meletakan pembangunan sosial anak sebagai bagian dari keseluruhan proses pembangunan negara-negara di dunia. Materi hukum mengenai hak-hak anak dalam Konvensi Hak-Hak anak dapat dikelompokkan dalam 4 kategori hak-hak anak, yaitu: Hak terhadap Kelangsungan Hidup (survival rights), yaitu hak-hak anak dalam Konvensi HakHak Anak yang meliputi hak-hak untuk melestarikan dan mempertahankan hidup (the rights of life) dan hak untuk memperoleh standar kesehatan tertinggi dan perawatan yang sebaik-baiknya (the rights to the higest standart of health and medical care attainable). Hak terhadap Perlindungan (protection rights), yaitu hak-hak anak dalam Konvensi Hak-Hak Anak yang meliputi hak perlindungan dari diskriminasi, perlindungan dari eksploitasi anak, tindak kekerasan dan keterlantaran bagi anak yang tidak mempunyai keluarga bagi anak-anak pengungsi.

68

Hak untuk Tumbuh Kembang (development rights), yaitu hak-hak anak dalam Konvensi Hak-Hak Anak yang meliputi segala bentuk pendidikan (formal dan non formal) dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik, mental, dan spiritual, moral, dan sosial anak. Hak untuk Berpatisipasi (participation rights), yaitu hak-hak anak dalam Konvensi Hak-Hak Anak yang meliputi hak anak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal yang mempengaruhi anak (the rights of a child to express her/his views in all metters affecting that child). Pasal 46 dan Pasal 48 Konvensi Hak-Hak Anak secara tegas menyatakan bahwa Konvensi Hak-Hak Anak merupakan perjanjian internasional yang bersifat terbuka. Artinya Konvensi Hak-Hak Anak terbuka untuk diratifikasi oleh negaranegara lain yang belum menjadi perserta (state parties). Pada tanggal 25 Agustus 1990, Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak-Hak Anak dengan mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 36 Tahun 1990 Tentang Pengesahan Convention on the Rights of the Child. Konvensi Hak-Hak Anak merupakan sumber hukum yang memberikan materi pada pembuatan hukum dan harmonisasi hukum tentang anak. Kaidah hukum yang terdapat dalam Konvensi Hak-Hak Anak merupakan materi hukum yang memberi isi peraturan perundang-undangan tentang anak, oleh karena itu Konvensi Hak-Hak Anak menjadi bagian integral dari hukum tentang anak.

69

Sebagai perwujudan komitmen Pemerintah dalam meratifikasi Konvensi Hak-Hak Anak, maka pada tanggal 22 Oktober 2002, Pemerintah mengesahkan UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang berorientasi pada hakhak anak seperti yang tertuang dalam Konvensi Hak-Hak Anak. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 Konvensi Hak-Hak Anak, yang dimaksud dengan anak adalah : setiap manusia yang berusia di bawah 18 tahun kecuali, berdasarkan undangundang menetapkan kedewasaan dicapai lebih awal, pengertian tersebut sedikit berbeda dengan pengertian anak dalam UU No. 23 Tahun 2002, yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah : Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. UU No. 23 Tahun 2002, telah memperluas pengertian anak, yaitu meliputi anak yang masih berada di dalam kandungan. Dalam ketentuan Pasal 1 butir 2 UU No. 23 Tahun 2002 yang dimaksud dengan perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dalam Pasal 2 UU No. 23 Tahun 2002 disebutkan bahwa:

Penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan UUD 1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak-Hak Anak yang meliputi: a.

70

non diskriminasi, b. kepentingan yang terbaik bagi anak; c. hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan d. penghargaan terhadap pendapat anak, hal ini tentu saja merupakan cerminan bahwa prinsip-prinsip dalam Konvensi Hak-Hak Anak merupakan materi pokok yang diatur dalam UU No. 23 Tahun 2002. Secara keseluruhan materi pokok yang diatur dalam UU No. 23 Tahun 2002 memuat ketentuan dan prinsip-prinsip Konvensi Hak-Hak Anak. Konvensi Hak-Hak Anak merupakan dokumen HAM yang secara specific mengatur tentang hak-hak anak. Oleh karena itu dalam ketentuan hukum nasional sebelum disahkannya UU No. 23 Tahun 2002, perlindungan hak asasi anak sebelumnya sudah diatur dalam UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia. Dalam UU No. 39 Tahun 1999 disebutkan bahwa hak-hak asasi manusia termasuk juga anak-anak, yaitu seseorang yang berusia dibawah 18 tahun dan belum menikah termasuk anak yang masih didalam kandungan harus dihormati dan mendapatkan perlindungan. Secara khusus perlindungan anak dalam lingkup keluarga juga diatur dalam UU No. 23 Tahun 2004 Tentang Pengahapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Dalam ketentuan Pasal 2 disebutkan bahwa anak merupakan bagian dari keluarga yang harus mendapatkan perlindungan dari kekerasan secara fisik maupun psikis. Ketentuan hukum mengenai kesejahteraan anak dalam Konvensi HakHak Anak dapat dilihat dalam Pasal 25 yang mengatur peninjauan penempatan anak secara berkala (periodic review of placement) Pasal 26 yang mengatur hak

71

anak atas jaminan sosial dan tunjangan sosial, dan pasal 27 yang mengatur tentang hak anak untuk menikmati standar hidup yang memadai. Jauh sebelum Konvensi Hak-Hak anak di sahkan, hukum nasional telah mengatur

kesejahteraan anak dalam UU No. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak. Substansi pengaturan kesejahteraan anak dalam konvensi Hak-Hak Anak dan dalam UU No. 4 tahun 1979 tidak jauh berbeda. Salah satu hak yang dilindungi dalam Konvensi Hak-Hak Anak adalah hak untuk mengenyam pendidikan. Perwujudan jaminan pendidikan anak dalam hukum nasional diatur dalam UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UU No. 20 Tahun 2003 (1) Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, (2) Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan. Berdasarkan ketentuan Pasal 6 tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa negara menjamin pendidikan bagi anak-anak Indonesia dengan sistem wajib belajar. Perwujudan konvensi hak-hak anak tentang kewarganegaraan juga diatur dalam UU No 12 Tahun 2006. Dalam ketentuan pasal 4-6 UU No. 12 Tahun 2006 diatur secara rinci tentang kewarganegaraan anak, baik anak hasil perkawinan orang tua yang berwarga Negara Indonesia, maupun anak hasil perkawinan campuran. Pengertian anak dalam UU No. 12 Tahun 2006 juga

72

sejalan dengan pengertian anak dalam Konvensi Hak-Hak anak, yaitu seseorang yang berumur kurang dari 18 tahun. Perwujudan ketentuan Pasal 40 Konvensi Hak-Hak Anak tentang peradilan anak telah di atur secara khusus dalam hukum nasional yaitu dalam UU No. 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak. Pengaturan tentang peradilan anak dalam UU No. 3 Tahun 1997 sejalan dengan tujuan dari Konvensi Hak-Hak Anak, yaitu untuk memberikan perlindungan terhadap anak, yaitu agar anakanak yang melakukan pelanggaran tetap dihargai hak asasinya, memperoleh manfaat dari segenap aspek proses hukum, termasuk bantuan hukum atau bantuan lainnya dalam penyiapan dan pengajuan pembelaan. Dalam Ketentuan Pasal 2 UU No. 3 Tahun 1997 disebutkan bahwa Pengadilan Anak adalah pelaksana kekuasaan kehakiman yang berada dilingkungan Peradilan Umum. Peradilan anak bertugas dan berwenang untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara anak. Sehingga dapat simpulkan bahwa UU No. 3 Tahun 1997 merupakan perwujudan dari kaidah hukum Konvensi Hak-Hak Anak mengenai peradilan khusus untuk anak-anak yang berkonflik dengan hukum (children in conflict with law). Pengaturan tentang penculikan, ekspolitasi seksual, perdagangan dan penyelundupan anak dalam Konvensi Hak-Hak Anak secara khusus juga telah diatur dalam UU No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan tindak Pidana Perdagangan Orang. Dalam UU No. 21 Tahun 2007 pengertian anak meliputi

73

seseorang yang berusia dibawah 18 tahun termasuk anak didalam kandungan. Dalam ketentuan Umum Pasal 1 UU No. 21 tahun 2007 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan perdagangan orang adalah tindakan perekrutan,

pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penculikan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan dalam negara mapun antar negara, untuk tujuan ekspolitasi atau mengakibatkan orang terekpoitasi. Dengan disahkannya UU No. 21 Tahun 2007, perlindungan hak-hak anak dari eksploitasi seksual, penculikan dan perdagangan anak sebagaimana diatur dalam Konvensi Hak-Hak Anak telah diwujudkan oleh negara. Dalam Pasal 32 Konevensi Hak-Hak Anak diatur larangan untuk melakukan ekspolitasi ekonomi terhadap anak-anak. Pasal ini menegaskan bahwa anak-anak yang bekerja tidak boleh di ekpolitasi. Hukum nasional juga telah mengatur ketentuan tersebut dalam UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Dalam Pasal 68 disebutkan bahwa pengusaha dilarang memperkerjakan anak. Dalam Pasal 69 larangan tersebut dikecualikan untuk anak yang berusia 13 tahun sampai dengan 15 tahun untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak menggangu perkembangan fisik, mental, dan sosial. Ketentuan ini sejalan dengan ketentuan Pasal 32 Konvensi Hak-Hak Anak tentang ketentuan batas usia minimum untuk diterima bekerja.
74

Dalam hal Konvensi Hak-Hak Anak, Pemerintah Indonesia telah meratifikasi dengan mengeluarkan Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990, tertanggal 25 Agustus 1990 Tentang Pengesahan Convention on the Rights of the Child(Konvensi Hak Anak). Melihat status Konvensi Hak-Hak Anak, dapat disimpulkan bahwa dari segi kebijakan, perlindungan anak masih belum tertata dengan baik. Karena Konvensi Hak-Hak Anak hanya diratifikasi dengan KEPPRES maka konskwensinya banyak kebijakan yang berkaitan dengan perlindungan anak tidak menggunakan Konvensi Hak-Hak Anak sebagai dasar pertimbangan, termasuk UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, hal ini terjadi karena dalam UU No 10 Tahun 2004 Tentang Perundang-undangan disebutkan bahwa Keppres tidak bisa menjadi dasar pertimbangan undangundang, padahal secara logika hukum, sumber hukum perlindungan anak seharusnya berasal dari Konvensi Hak-Hak Anak, kemudian disesuaikan dengan nilai-nilai sosial budaya negara bangsa Indonesia dan spirit agama-agama. Dalam menyelesaikan masalah tersebut pemerintah seharusnya segera meningkatkan status ratifikasi Konvensi Hak-Hak Anak dari KEPPRES menjadi Undang-undang, hal ini merupakan kebutuhan bangsa Indonesia dalam meningkatkan perlindungan anak mulai dari level peraturan daerah sampai peraturan nasional, dan tentunya dunia internasional tidak lagi mempertanyakan komitmen kesungguhan Indonesia dalam melakukan pemenuhan hak-hak anak. Perlindungan anak menjadi perhatian Negara dengan tertuang dalam UUD 1945 pasal 28 b (ayat 2) yang menyatakan bahwa:
75

Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Pada pasal 45 UU No 1 tahun 1974 menyatakan: (1) Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya. (2) Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri, kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus. Pasal 1 angka (1) Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (selanjutnya cukup disingkat UU Perlindungan Anak) menegaskan bahwa : Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.43 Berdasarkan ketentuan pasal di atas, maka upaya perlindungan yang diberikan undang-undang terhadap seorang anak dilaksanakan sejak dini, yakni sejak anak masih berupa janin dalam kandungan ibunya sampai dengan anak berumur 18 (delapan belas) tahun. Undang-undang ini meletakkan kewajiban untuk memberikan perlindungan terhadap anak berdasarkan asas-asas

nondiskriminasi, kepentingan yang terbaik bagi anak, hak untuk hidup, kelangsungan hidup, perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak, sebagaimana yang termuat dalam ketentuan pasal 2 UU Perlindungan Anak yang menyatakan :

43

Minstry for Womens Empowerment Republic of Indonesia and Department of Social Affairs Republic of Indonesia, Republic of Indonesia Law Number 23 Year 2002 on Child Protection, Jakarta : 2003, hal. 12.

76

Penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan UUD 1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak Anak yang meliputi : a. non diskriminasi, b. kepentingan terbaik bagi anak, c. hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan, d. perhargaan terhadap pendapat anak. 44 Dalam penjelasan pasal 2 UU Perlindungan Anak di atas disebutkan bahwa asas perlindungan anak di sini sesuai dengan prinsip-prinsip pokok yang terkandung dalam Konvensi Internasional Hak-Hak Anak. Lebih lanjut, yang dimaksud dengan asas kepentingan yang terbaik bagi anak dalam penjelasan pasal 2 UU Perlindungan Anak adalah bahwa dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh orang tua, pemerintah, masyarakat, badan legislative, dan badan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.Ini seperti perlindungan anak: Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera. Sebenarnya jika di kaji secara umum perceraian tidaklah dapat tercadi tanpa sebab yang melatar belakangi, namun secara umum yang menjadi sebab perceraian adalah kekerasan dalam rumah tangga. Keutuhan dan kerukunan rumah tangga yang bahagia, aman, tenteram, dan damai merupakan dambaan setiap orang. Dengan demikian, setiap orang dalam lingkup rumah tangga dalam
44

tertuang dalam pasal 3 UU

Ibid, hal.14.

77

melaksanakan hak dan kewajiban harus didasari oleh agama. Hal itu perlu terus ditumbuhkembangkan dalam rangka membangun keutuhan rumah tangga. Untuk mewujudkan keutuhan dan kerukunan tersebut, sangat tergantung pada setiap orang dalam lingkup rumah tangga, terutama kadar kualitas perilaku dan pengendalian diri setiap orang dalam lingkup rumah tangga tersebut. Keutuhan dan kerukunan rumahtangga dapat terganggu jika kwalitas pengendalian diri tidak dapat dikontrol, yang pada akhirnya dapat terjadi kekerasan dalam rumah tangga sehingga timbul ketidakaman atau ketidakadilan terhadap orang yang berbeda dalam lingkup rumah tangga tersebut. Untuk mencegah, melindungi korban, dan menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, Negara dan masyarakat wajib melaksanakan pencegahan, perlindungan, dan penindakan pelaku sesuai dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945. Negara berpandangan bahwa segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga, adalah pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk dikriminasi. Perkembangan dewasa ini menunjukkan bahwa tindak kekerasan secara fisik, psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga pada kenyataannya terjadi sehingga dibutuhkan perangkat hukum yang memadai untuk menghapus Kekerasan dalam Rumah Tangga (disingkat KDRT). Pembaharuan hukum yang berpihak pada kelompok rentan atau tersubordinasi, khususnya perempuan, menjadi sangat diperlukan sehubungan dengan banyaknya kasus kekerasan, terutama KDRT. Pembaharuan hukum
78

tersebut diperlukan karena undang-undang yang ada belum memadai dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan hukum masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan tentang tindak KDRT secara tersendiri karena mempunyai kekhasan, walaupun secara umum di dalam KUHP telah diatur mengenai delik penganiayaan (vide pasal 351 KUHP), delik kesusilaan (vide pasal 284 KUHP) serta delik penelantaran orang yang perlu diberikan nafkah dan kehidupan (vide pasal 304 KUHP). Undang-undang No.23 th 2004 tentang Penghapusan KDRT ini terkait erat dengan beberapa peraturan perundang-undangan lain yang sudah berlaku sebelumnya, antara lain UU No.1 thn 1946 tentang KUHP serta perubahannya, UU Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP, UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Undang-undang Nomor 7 tahun 1984 tentang pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan segala bentuk Diskriminasi terhadap Wanita ( Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women), Undang-undang Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM. Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 ini selain mengatur ihwal pencegahan dan perlindungan serta pemulihan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga, juga mengatur secara spesifik kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dengan unsur-unsur tindak pidana yang berbeda dengan tindak pidana penganiayaan yang diatur dalam KUHP. Selain itu undang-undang ini juga mengatur ihwal kewajiban bagi aparat penegak hukum, tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping atau pembimbing rohani untuk
79

melindungi korban agar mereka lebih sensitif dan responsif terhadap kepentingan rumah tangga yang sejak awal diarahkan pada keutuhan dan kerukunan rumah tangga. 1. Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang beakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. 2. Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah jaminan yang diberikan oleh Negara untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, dan melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga. 3. Korban adalah orang yang mengalami kekerasan dan/atau ancaman kekerasan dalam lingkup rumah tangga. 4. Perlindungan adalah segala upaya yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada korban yang dilakukan oleh pihak keluarga, advokat, lembaga sosial, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan.
5. Perlindungan Sementara adalah perlindungan yang langsung diberikan

oleh kepolisian dan/atau lembaga sosial atau pihak lain, sebelum dikeluarkannya penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.

80

Pasca perceraian orang tua wajib memperhatikan hak anak dalam hal menafkahi yang menjadi ketentuan hukum dalam kompilasi hukum Islam tertuang dalam pasal 149 d, yang berbunyi: Memberikan biaya hadhanan untuk anak-anaknya yang belum mencapai umur 21 tahun. Hal senada juga terdapat di pasal 156 d, yang berbunyi: semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah menurut kemampuannya,sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dapat mengurus diri sendiri. (21 tahun). Pasal 105 Inpres No.1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam telah secara spesifik mengatur bahwa hak asuh anak di bawah usia 12 tahun harus diberikan kepada ibunya. Pasal 105 Inpres No.1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam tersebut menyatakan : Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya.45 Ketentuan di atas dilatarbelakangi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
1. Faktor kasih sayang ; Tanpa mengurangi bahwa ayah juga menyayangi

anak, namun secara alamiah dan kudrati di manapun dan sejak kapanpun, ibu jauh lebih mampu mengembangkan kasih sayang dan kelembutan kepada anak dibanding ayah.
2. Faktor

kemanusiaan

(humanity);

Ditinjau

dari

segi

kemanusiaan

(humanity), sangat menyayat hati nurani apabila anak yang masih kecil harus ditarik, dipisahkan dan dijauhkan dari pangkuan ibu kandungnya,

45

Arkola, Undang-Undang Perkawinan di Indonesia, Surabaya : Arkola, 2001, hal. 213.

81

terlebih jika anak tersebut masih harus menyusu (mendapatkan ASI) ibunya. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan hak asuh dan perwalian dapat dipindahkan jika pemegang hak asuh dan perwalian anak tersebut melalaikan kewajibannya terhadap anak. Pasal 156 huruf (c) Inpres No.1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyatakan : Apabila pemegang hadhanah (hak asuh anak) ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, maka Pengadilan dapat memindahkan hadhanah (hak asuh anak) kepada kerabat yang mempunyai hak pula. 46

Pasca perceraian hak asuh anak yang dilakukan oleh kedua orang tuanya tidak justru melindungan hak-hak dan kepentingan anak sebagaimana diatur dalam UU Perlindungan anak, perceraian justru telah merusak kepentingan, hakhak dan perkembangan hidup si anak, jelas mengesampingkan seluruh hak anak yang diatur dalam UU Perlindungan Anak, dan juga merupakan pelanggaran terhadap ketentuan pasal 4, pasal 13, pasal 16 ayat (1) dan (2), UU Perlindungan Anak yang menyatakan : Bahwa setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusian, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.47 (1) Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua wali atau pihak lain manapun yang bertanggungjawab atas pengasuhan berhak mendapat perlindungan dari: a. diskriminasi, b. eksploitasi, c. penelantaran, d.
46 47

Ibid hal 230 Visi Media, Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Jakarta : Visi Media, 2007, hal. 8.

82

kekejaman, kekerasan dan penganiayaan, e. ketidakadilan dan perlakuan salah lainnya. (2) Dalam hal orang tua wali pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka perlu dikenakan pemberatan hukuman.48 Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi.49 Setiap anak berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum.50 Perceraian terkadang hingga mengesampingkan hak anak untuk

memperoleh pendidikan, anak dibawa pergi jauh ke tempat persembunyian, tidak disekolahkan dan diposisikan di dalam rumah terus-menerus, dijauhkan dari kehidupan sosialnya, sehingga mengesampingkan hak anak untuk bermain dan bergaul dengan teman sebayanya. Hal ini jelas merupakan sebuah pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 9 ayat (1) dan pasal 11 UU Perlindungan anak yang menyatakan : (1) Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.51 Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembanagn diri.52
48

Ibid, hal. 10. Syaifullah, dkk., Undang-Undang Rumah Tangga No.23 Tahun 2004 dan UndangUndang Perlindungan Anak No.23 Tahun 2002, Padang-Sumbar : Praninta Offset, 2008, hal. 49. 50 Ibid. 51 Kementrian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia dan Departemen Sosial Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan Anak, Jakarta : 2003, hal. 17. 52 ibid
49

83

Semua jaminan perlindungan hak-hak anak sebagaimana tersebut di atas diberikan oleh undang-undang sejak anak masih berupa janin, sebagaimana dengan tegas dinyatakan dalam Pasal 1 UU Perlindungan Anak adalah : Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.53 Fakta di atas juga menunjukkan bahwa pelaku pelanggaran hak anak tidak hanya salah satu atau kedua orang tua yang memperebutkan hak asuh anaknya, namun juga para aparat penegak hukum yang tidak mampu bertindak atas kasus-kasus penculikan, penyekapan dan penganiayaan anak yang dilakukan oleh orang tua kandungnya. Pasal 14 UU Perlindungan Anak menyatakan bahwa : Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir.54 Penjelasan pasal 14 UU Perlindungan anak tersebut menyatakan bahwa : Pemisahan yang dimaksud dalam ketentuan Pasal 14 UU Perlindungan Anak tidak menghilangkan hubungan anak dengan orang tuanya.55 Berpijak pada ketentuan pasal di atas, seharusnya Kepolisian maupun Pengadilan dapat bertindak tegas terhadap orangtua kandung yang melakukan penculikan dan penyekapan terhadap anak kandungnya sendiri. Jika tidak bisa

53 54 55

Ibid.Hal 13 Syaifullah, dkk., Undang-Undang, hal. 11. Ibid. Hal 59

84

bersikap tegas, mungkin aparatur penegak hukum harus ditatar-ulang tentang hak-hak anak. Sikap tegas aparat penegak hukum seharusnya adalah dengan cara memproses orang tua yang melakukan penculikan, penyekapan dan penganiayaan terhadap anak kandungnya sendiri berdasarkan ketentuan pasal 80 UU Perlindungan anak dan pasal 330 KUHP yang menentukan : (1) Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam bulan dan atau denda paling banyak Rp.72.000.000,- (tujuh puluh dua juta rupiah). (2) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud ayat (1) luka berat maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling banyak Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah). (3) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mati, maka pelaku dipidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah). (4) Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya (pasal 88 UU Perlindungan Anak).56 (1) Barang siapa dengan sengaja mencabut orang yang belum dewasa dari kuasa yang sah atasnya atau dari penjagaan orang yang dengan sah menjalankan penjagaan itu, dihukum penjara selama tujuh tahun. (2) Dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun, jika perbuatan itu dilakukan dengan memakai tipu daya, kekerasan atau ancaman dengan kekerasan atau kalau orang yang belum dewasa umurnya di bawah dua belas tahun . (pasal 330 KUHP).57 Kewajibannya untuk memberikan perlindungan terhadap anak

sebagaimana diatur dalam ketentuan pasal 20 UU Perlindungan Anak yang menyatakan : Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.58
56

57

Ibid. Hal 44 R. Soesilo, KUHP dengan Penjelasan, Bogor : Politeia, 1981.

85

Meskipun terkadang negara jelas-jelas telah melakukan perbuatan melanggar hukum, termasuk pelanggaran terhadap hak-hak anak yang diatur dalam UU Perlindungan Anak ini, namun tidak ada tindakan tegas aparat hukum atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh negara. Wujud lain pelanggaran negara terhadap hak-hak anak tersebut misalnya adalah negara masih mengabaikan hak pendidikan, hak kesejahteraan bagi anak dengan masih banyaknya anak-anak jalanan yang tidak mengenyam pendidikan dan hidup tidak layak di jalanan. Masalah perceraian tidak berhenti dengan ditentukannya siapa pemegang hak asuh si anak, ayah kandungnya atau ibu kandungnya melalui putusan pengadilan yang inkracht, proses terus berlanjut dengan eksekusi penyerahan anak kepada orang tua yang berhak sangat sulit dilakukan, ditambah lagi tindakan orang tua yang tidak berhak membawa lari anaknya hingga mengabaikan hak-hak yang seharusnya diterima oleh si anak, dan prosesproses lain yang sangat merugikan anak. Mahkamah Agung hingga saat ini belum juga membuat kebijakan dan kepastian hukum mengenai status anak dari pasangan cerai dan belum bisa memastikan lembaga mana yang diberi mandat untuk melakukan eksekusi terhadap putusan pengadilan tersebut. Oleh karena itu, perlu direkomendasikan bahwa Mahkamah Agung harus membuat kebijakan dan memberikan kepastian

58

Minstry for Womens Empowerment Republic of Indonesia and Department of Social Affairs Republic of Indonesia, Republic of Indonesia Law Number 23 Year 2002 on Child Protection, Jakarta : 2003, hal. 23.

86

hukum mengenai status anak dari pasangan cerai dan menentukan lembaga mana yang diberi mandat untuk melakukan eksekusi terhadap putusan pengadilan tersebut. Secara moril, tidak seharusnya orang tua dalam perceraian hanya demi kepentingan egosentris orang tua. Orang tua seharusnya bisa berbesar hati atas putusan pengadilan mengenai hak asuh anak jika memang hal tersebut nyata demi kepentingan anak. Landasan filosofis undang-undang mengatur mengenai hak asuh anak sebagai akibat perceraian orang tua, bukan untuk diperebutkan, namun untuk kepentingan yang terbaik bagi anak (the best interest of the child) yakni ditangan siapakah pertumbuhan jasmani dan rohani anak itu lebih baik sebagaimana diatur dalam pasal 2 UU Perlindungan Anak yang menyatakan : Penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan UUD 1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak Anak yang meliputi : a. non diskriminasi, b. kepentingan terbaik bagi anak, c. hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan, d. perhargaan terhadap pendapat anak. 59 Bahwa dalam ketentuan pasal 229 KUH Perdata tidak secara spesifik mengatur kepada siapa perwalian anak pasca perceraian diberikan, namun pasal ini hanya mengatur bahwa setelah perceraian orang tua harus pula ditentukan perwalian bagi anak. Pasal 229 KUH Perdata menyatakan bahwa : "Setelah mendengar/memanggil dengan sah akan kedua orang tua dan sekalian keluarga sedarah serta semenda dari anak-anak yang belum dewasa, Pengadilan Negeri menetapkan terhadap tiap-tiap anak, siapakah dari kedua orang tuanya, maka mereka harus melakukan perwalian atas anak-anak itu".60
59

Ibid. Hal 14

87

Dengan demikian, melalui tulisan ini penulis mengetuk hati para orang tua yang akan bercerai agar dalam menentukan hak asuh anak pertimbangkanlah kepentingan yang terbaik bagi anak (the best interest of the child). Alangkah baiknya manakala hak asuh anak tersebut tidak diperebutkan namun dibicarakan secara baik-baik oleh kedua orang tua di tangan siapakah pertumbuhan jasmani dan rohani anak itu lebih baik.

BAB IV PENUTUP
60

R. Subekti-R.Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang HUkum Perdata Burgerlijk Wetboek dengan Tambahan Undang-Undang Pokok Agraria dan Undang-Undang Perkawinan, Jakarta : Pradnya Paramita, 2001, hal. 55.

88

A . Kesimpulan Menurut Undang-Undang No.1 Tahun 1974, Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Maksud dilaksanakannya perkawinan adalah untuk hidup dalam pergaulan yang sempurna yang merupakan jalan yang amat mulia untuk mengatur rumah tangga dan anak-anak yang akan dilahirkan sebagai satu pertalian yang amat teguh guna memperkokoh pertalian persaudaraan antara kaum kerabat suami dengan kaum kerabat istri yang pertalian itu akan menjadi suatu jalan yang membawa kepada saling menolong antara satu kaum dengan yang lain, dan akhirnya rumah tangga tersebut menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat. Namun dalam pergaulan antara suami tidak jarang terjadi perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus maupun sebab sebab lain yang kadangkadang menimbulkan suatu keadaan yang menyebabkan suatu perkawinan tidak dapat dipertahankan lagi, sedangkan upaya-upaya damai yang dilakukan oleh kedua belah pihak maupun keluarga tidak membawa hasil yang maksimal sehingga pada akhirnya jalan keluar yang harus ditempuh tidak lain adalah perceraian. Seperti halnya perkawinan yang menimbulkan hak dan kewajiban, perceraian membawa akibat-akibat hukum bagi kedua belah pihak dan juga terhadap anak-anak yang dilahirkan dalam perkawinan. Anak-anak tersebut

89

harus hidup dalam suatu keluarga yang tidak harmonis sebagaimana mestinya misalnya harus hidup dalam suatu keluarga dengan orang tua tunggal seperti dengan seorang ibu atau dengan seorang ayah saja. Sebagaimana diketahui bersama bahwa anak merupakan penerus bangsa yang mengemban tugas bangsa yang belum terselesaikan oleh generasi-generasi sebelumnya. Sebagai penerus cita-cita bangsa dan negara, anak harus dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang sehat rohani dan jasmani, cerdas, bahagia, berpendidikan dan bermoral tinggi. Untuk itu, anak tersebut harus memperoleh kasih sayang, perlindungan, pembinaan, Dasar hukum perlindungan anak di Indonesia terdapat dalam UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak dan UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Perlindungan anak dalam UU ini bertujuan menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai harkat, martabat, dan kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera. 61 Perlindungan anak dapat diartikan sebagai upaya perlindungan terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak serta berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak. Ketika perkawinan tidak dapat dipertahankan dan berakhir pada perceraian, maka anak tetap memiliki hak mendapat kasih sayang, pendidikan,
61

Aminah Aziz, Op Cit. Hal 41

90

perhatian, dan tempat tinggal yang layak dari kedua orang tua sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

B . Rekomendasi Rekomendasi dalam masalah perlindungan hukum anak pacsa perceraian adalah :
1. Walaupun tindakan hukum oleh pemerintah dalam rangka memberikan

perlindungan terhadap anak, maka seharusnya tindakan hukum itu dilakukan secara efektif baik oleh pemerintah maupun masyarakat sehingga perlindungan hukum terhadap anak dapat ditegakan sebagaimana dicita-citakan bersama
2. Aparat penegak hukum harus menindak tegas pelaku pelanggaran hak

anak terhadap anak dengan pasal 80 UU Perlindungan Anak atau pasal 330 KUHP sekalipun pelakunya adalah orang tua kandung si anak.
3. Mahkamah

Agung harus membuat kebijakan dan memberikan

kepastian hukum mengenai status anak dari pasangan cerai dan menentukan lembaga mana yang diberi mandat untuk melakukan eksekusi terhadap putusan pengadilan tersebut.

91

4. Penentuan hak asuh anak jangan diperebutkan, namun bicarakan secara baik-baik oleh kedua orang tua di tangan siapakah pertumbuhan jasmani dan rohani anak itu lebih baik

92