Anda di halaman 1dari 22

Hipertensi Grade 1, Obesitas, Sindroma Dispepsia pada Ibu Rumah Tangga dengan Stressor Konflik dengan Anak Bungsunya

Abstrak
Latar belakang Hipertensi merupakan epidemik diseluruh dunia. Prevalensi hipertensi di Indonesia telah mencapai 17-21 % dari total penduduk. Faktor resiko hipertensi, antara lain,faktor genetik, lingkungan, hormon ,system kadiovaskuler,volume cairan tubuh dan factor lainnya seperti obesitas, asupan tinggi garam, alcohol,merokok, Resistensi insulin, dislipedemia, stress dan usia diatas 50 tahun. Dispepsia merupakan keluhan yang sangat umum, terjadi pada lebih dari seperempat populasi, tetapi hanya kurang lebih seperempatnya berkonsultasi ke dokter. Dispepsia juga merupakan istilah non spesifik yang dipakai pasien untuk menjelaskan keluhan perut bagian atas. Gejala tersebut bisa berupa nyeri atau tidak nyaman, kembung, banyak flatus, rasa penuh, bersendawa, cepat kenyang dan borborygmi ( suara keroncongan dari perut ). Gejala ini bisa akut, intermiten atau kronis. Stress juga merupakan salah satu factor pemicu terjadinya hipertensi dimana hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Selain itu stress juga dapat dapat mengubah sekresi asam lambung, motilitas dan vaskularisasi saluran pencernaan sehingga menyebabkan peningkatan asam lambung. Untuk itulah partisipasi anggota keluarga sangat penting dan diperlukan dalam hal penatalaksanaan untuk pasien. 4,6,7,10 Tujuan Diketahui faktor internal dan eksternal pasien dalam penatalaksanaan hipertensi derajat I terkontrol,obesitas dan sindroma dyspepsia melalui pendekatan keluarga.

Metode Pendekatan kedokteran keluarga dengan cara kunjungan rumah, evaluasi, intervensi serta referensi kepustakaan pada pasien dengan hipertensi grade I terkontrol,obesitas dan sindrom dyspepsia. Hasil dan Kesimpulan Klinis pasien membaik dan coping score keluarga juga membaik. Pasien sudah berupaya unutk mengubah pola makan dan berolahraga teratur. Pemahanan keluarga terhadap penyakit hipertensi sudah meningkat, keluarga juga berupaya memperbaiki komunikasi serta berusaha meningkatkan kesehatan keluarga. Kata kunci Hipertensi grade I,obesitas,sindrom dyspepsia, pendekatan keluarga

Abstract
Background Hypertension is a worldwide epidemic. Prevalensi hypertension in Indonesia has reached 1721% of the total population. Risk factors of hypertension, in particular, genetic factors, environment, hormones, kadiovaskuler system, the volume of body fluids and other factors such as obesity, high consumption of salt, alcohol, smoking, insulin-ristensi, dislipedemia, stress and age over 50 years. Dyspepsia is a very common complaint that occur in more than a quarter of the population, but only about a quarter to see a doctor. Indigestion as nonspecific term used to describe patients with upper abdominal complaints. Symptoms may include pain or discomfort, bloating, gas, belching, feeling a sense of the rapid saturation and borborygmi (voice of crash from the abdominal cavity). These symptoms may be acute, recurrent or chronic. Stress is one of the factors causing occurrence of hypertension, in which the relationship between stress with suspected hypertension by increasing neuronal activity of the sympathetic nervous system can increase blood pressure in intermittent (unpredictable). Furthermore stress can also can change the secretion of gastric acid, mobility and vascularization of the digestive tract, causing increased gastric acid. For the participation of a family member that is a very important and necessary in terms of management for patients. 4,6,7,10 Purpose To identify internal and external factors in the management of patients with hypertension stage I controlled, obesity and syndrome of dyspepsia through a family approach. Method Family medicine approach by history talking,physical examination, home visit, evaluation, intervention and reference literature on patient with hypertension stage I controlled, obesity and syndrome of dyspepsia. Result Clinical improvement in the assessment of the patient and his family are also improved. The patient tried to change his diet and exercise on a regular basis. Pemahanan families of

hypertension increased family also seeks to improve communication and work to improve the health of the family. Keyword : hypertension stage I controlled, obesity, syndrome of dyspepsia, Family medicine.

Pendahuluan
Hipertensi merupakan penyakit sirkulasi darah yang terbanyak pada rawat jalan maupun rawat inap di Rumah Sakit. Hasil pencatatan dan pelaporan Rumah Sakit (SIRS, Sistem Informasi Rumah Sakit) menunjukkan kasus baru penyakit system sirkulasi darah terbanyak pada kunjungan rawat jalan maupun jumlah pasien rawat inap dengan diagnosis penyakit Hipertensi tertinggi pada tahun 2007. Lebih kurang seperlima dari seluruh penduduk dewasa di seluruh dunia diperkirakan mengalami orang hipertensi. Prevalensi di seluruh dunia diperkirakan mencapai 1 miliar

maag berasal dari bahasa Belanda, yang berarti lambung. Padahal keluhan yang muncul pada penyakit maag tidak selalu berasal dari lambung). Prevalensi penyakit ini beragam, sebagian besar penelitian menunjukkan, hampir 25 % orang dewasa mengalami gejala dyspepsia pada suatu waktu berobat dalam ke hidupnya.Suatu umum survey menyebutkan, sekitar 30% orang yang dokter disebabkan gangguan saluran cerna terutama dyspepsia. Dan 40 50 % yang datang ke specialis disebabkan gangguan pencernaan, terutama dyspepsia.6 Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan.Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan dikenal lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas. Seseorang

dengan angka kematian mencapai 7,1 juta orang per tahun. Mengingat hipertensi bersifat kronis, diperlukan penatalaksanaan jangka panjang dan holistik serta dukungan keluarga. morbiditas Penatalaksanaan penyakit-penyakit hipertensi yang bertujuan untuk menurunkan mortilitas dan merupakan komplikasi dari hipertensi antara lain penyakit kardiovaskuler dan ginjal. Penurunan tekanan darah hingga mencapai tekanan darah target berhubungan dengan penurunan resiko komplikasi.1,4,6,10 Sindroma dispepsia lebih

yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi

masyarakat umum sebagai penyakit maag (walaupun sebenarnya kurang tepat, karena

dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas. Stress merupakan masalah yang memicu terjadinya hipertensi dimana hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Stress berkepanjangan dapat yang mengakibatkan

rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang aktivitas mengakibatkan tambahan vasokontriksi. Medula adrenal

mengsekresi epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mengsekresi kortisol dan steroid lainnya, memperkuat pembuluh respon darah. yang dapt yang vasokontriktor

Vasokontriksi

mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetus keadaan hipertensi.2 Selain dapat meningkatakan tekanan darah, factor stress juga dapat menyebabkan peningkatan asam lambung dengan cara mengubah sekresi asam lambung, motilitas dan vaskularisasi saluran pencernaan, gejala-gejala penelitian sehingga pasti tinggi menyebakan

tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. tetapi stress berat dapat Stres tidak menyebabkan hipertensi yang menetap, menyebabkan kenaikan tekanan darah yang nersifat sementara yang sangat tinggi. Jika periode stress sering terjadi maka akan mengalami kerusakan pada pembuluh darah, jantung dan ginjal sama halnya seperti yang menetap.2,4 Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan pembuluh sangat dapat darah mempengaruhi terhadap respon rangsang

vasokontriktor. Individu dengan hipertensi sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon

dyspepsia. Meskipun belum diketahui secara penyebabnya, beberapa menghubungkan pepsinogen serum yang dapat menimbulkan gejala-gejala dyspepsia dan menurunkan proteksi mukosa lambung.5,6

Penatalaksanaan yang dilakukan tidak hanya dilakukan oleh pasien saja tapi keluarga juga dalam memerlukan partisipasi

Pengukuran pasien dengan

tekanan

darah

pada

waktu berdiri diindikasikan pada risiko hipotensi postural (lanjut usia, pasien DM, dll) Faktor risiko kardiovaskular: - Hipertensi - Merokok -Obesitas (IMT >30) - Inaktivitas fisik - Dislipidemia - Diabetes melitus -Mikroalbuminuria atau LFG <60 ml/menit -Usia (laki-laki > 55 tahun, perempuan >65 tahun) -Riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskular dini (laki-laki <55 tahun atau perempuan <65 tahun) Kerusakan organ sasaran : - Jantung: hipertrotrofi ventrikel kiri, angina atau riwayat infark miokard, riwayat revaskularisasi koroner, gagal jantung - Otak: strok atau transient ischemic attack(TIA) - Penyakit ginjal kronik - Penyakit arteia perifer - Retinopati

penatalaksanaan masalah kesehatan yang ada, apalagi salah satu sumber masalahnya adalah anggota keluarga itu sendiri

Tinjauan Pustaka
Hipertensi adalah keadaan tekanan darah yang sama atau melebihi 140mmHg sistolik dan / atau sama atau melebihi 90 mmHg diastolik pada seseorang yang tidak sedang makan obat anti hipertensi.4 Diagnosis

Klasifikasi berdasarkan hasil ratarata pengukuran tekanan darah yang dilakukan kunjunagan minimal atau 2 lebih kali tiap dengan meliputi

menggunakancuff yang

yang meliputi minimal 80% lengan atas pada pasien dengan posisi duduk dan telah beristirahat 5 menit. Tekanan sistolik = suara fase 1 dan tekanan diastolik = suara fase 5 Pengukuran pertama harus pada kedua sisi lengan untuk menghindarkan kelainan pembuluh darah perifer

Penyebab

hipertensi

yang

telah

Pada hipertensi stage I dapat diberikan diuretik, penyekat reseptor beta, penghambat kalsium, atau kombinasi. b. Pada hipertensi stage II dapat diberikan kombinsi 2 obat, biasanya golongan diuretik, penyekat tiazid dan penghambat beta, atau ACEatau antagonis reseptor AII atau reseptor penghambat kalsium. 2. Hipertensi dengan compelling indication. Latihan tabel petunjuk pemilihan obat pada compelling indication. Obat antihipertensi lain dapat diberikan bila dibutuhkan misalnya diuretik, antagonis reseptor beta, atau penghambat kalsium. Bila target tidak tercapat maka dilakukan optimalisasi dosis atau ditambahkan obat lain sampai target tekanan darah tercapai. Pertimbangkan untuk b erkonsultasi pada spesialis hipertensi.

diindetifikasi: sleep apnea, akibat obat atau berkaitan dengan obat, penyakit aldosteronisme dan ginjal primer, kronik, penyakit cushing, aorta,

renovaskular, terapi steroid kronikn sindrom koarktasi feokromositoma,

penyakit tiroid atau paratiroid Klasifikasi Hipertensi menurut Joint

National Committee 7 Kategori Sistol Dan/atau Diastole (mmHg) <80 80-89 90-99 100

(mmHg) Normal <120 Dan Pre hipertensi120-139 Atau Hipertensi 140-159 Atau tahap 1 Hipertensi tahap 2 Terapi Modifikasi gaya hidup 160 Atau

dengan

target Pada penggunaan penghambatan ACE atau antagonis reseptor AII: evaluasi kretinin dan kalium serum, bila terdapat peningkatan kreatinin >35% atau timbul hiperkalemi harus dihentikan Kondisi khusus lain:

tekanan darah <140/90 mmhg atau <130/80 pada pasien DM atau penyakit ginjal kronis. Bila target tidak tercapai maka diberikan obat inisial. Obat inisisal dipilih bedasarkan:1,2 1.Hipertensi tanpa compelling indication a. Pada hipertensi stage I dapat diberikan diuretik. Pertimbangkan pemberian penghambat ACE, penyekat reseptor

Obesitas dan sindrom metabolik (terdapat 3 atau lebih keadaan berikut: lingkar pinggang laki laki

>102 cm atau perempuan >89 cm, toleransi gluikosa tergantung dengan gula darah puasa110 mg/dl, tekanan darah minimal tinggi 130/85 150 mmhg, mg/dl, trigliserida

mempertimbangkan penyerta.

penyakit

Kehamilan -> pilihan terapi adalah golongan metildopa, penyekat dan reseptor,antagonis kalsium,

kolesterol HDL rendah <40 mg/dl pada leki laki atau <50 mg/dl pada perempuan)-> modifikasi gaya hidup yang intensif dengan pilihan terapi utama golongan penghambat ACE. Pilihan lain adalah antagonis reseptor AII,

vasodilator. Penghambat ACE dan antagonis reseptor AII tidak boleh digunakan selama kehamilan Komplikasi Hipertropfi ventrikel kiri, proteinuria dan gangguan fungsi ginjal, eterosklerosis penbuluh darah, retinopati, strok atau TIA, infark miokard, angina pektoris, gagal jantung.1,2 Dispepsia merupakan kumpulan

penghambata ventrikel tekanan

kalsium, kiri darah -

dan >

penghambat .1,2,3 Hipertrofi tatalaksana yang

agresif termasuk penurunan berat badan , restriksi asupan natrium, dan terapi langsung, minoksidil.1,2

keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit, rasa penuh dan panas di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan keluhan rasa nyeri dan panas pada ulu hati.6 Batasan dispepsia terbagi atas dua yaitu:6
1. Dispepsia organik, dyspepsia yang

dengan

semua

kelas dan

antihipertensi

kecuali

vasodilator

hidralazin

Penyakit arteri perifer semua kelas anti hipertensi, tatalaksana faktor risiko lain, dan dan pemberian aspirin

telah diketahui adanya kelainan organik usia, termasuk penderita -> dosis dengan sebagai penyebabnya. Dispepsia organic dikategorikan menjadi : a. Gastritis b. Ulkus peptikum c. Stomach cancer sistolik dimulai terisolasi dengan lain

Lanjut

hipertensi pertama, obat

diuretika ( tiazid ) sebagai lini rendah 12,5 mg/hari. Penggunaan antihipertensi

d. Gastro-Esophangeal Disease e. Hyperacidity f. dll.


2. Dispepsia

reflux

gangguan

pergerakan

(motilitas)

piloroduodenal. 6 Beberapa kebiasaan yang bisa menyebabkan non organik, atau dispepsia adalah menelan terlalu banyak udara. Misalnya, mereka yang mempunyai kebiasaan mengunyah secara salah (dengan mulut terbuka atau sambil berbicara). Atau mereka yang senang menelan makanan tanpa dikunyah (biasanya konsistensi

dispepsia fungsional, atau dispepsia non ulkus (DNU), Dispepsia yang tidak jelas penyebabnya. Dispepsia fungsional dibagi atas 3 subgrup yaitu:
1. Dispepsia

makanannya cair).6 mirip ulkus {ulcerKeadaan itu bisa membuat lambung merasa penuh atau bersendawa terus. Kebiasaan lain yang bisa menyebabkan dispesia adalah dismotilitas gejala merokok, konsumsi kafein (kopi), alkohol, atau minuman yang sudah dikarbonasi.6 Mereka yang sensitif atau alergi terhadap non-spesific yaitu tidak sesuai dengan bila (a) bahan makanan tertentu, bila mengonsumsi makanan jenis tersebut, bisa menyebabkan gangguan pada saluran cerna. Begitu juga dengan jenis obat-obatan tertentu, seperti Obat Anti-Inflamasi Non Steroid (OAINS), Antibiotik makrolides, metronidazole), dan kortikosteroid. Obat-obatan itu sering dihubungkan dengan keadaan dispepsia. Yang paling sering dilupakan orang adalah faktor stres/tekanan psikologis yang berlebihan.6 Etiologi /Penyebab

likedyspepsia) bila gejala yang dominan adalah nyeri ulu hati;


2. Dispepsia

mirip

(dysmotility-likedyspepsia) bila kenyang;


3. Dyspepsia

dominan adalah kembung, mual, cepat

gejalanya

maupun (b). Dispepsia Fungsional Terdapat bukti bahwa dispepsia fungsional berhubungan dengan ketidaknormalan pergerakan usus (motilitas) dari saluran pencernaan bagian atas (esofagus, lambung dan usus halus bagian atas). Selain itu, bisa juga dispepsia jenis itu terjadi akibat gangguan irama listrik dari lambung atau

a. Perubahan pola makan b. Pengaruh obat-obatan yang dimakan secara berlebihan dan dalam waktu yang lama c. Alkohol dan nikotin rokok d. Stres e. Tumor atau kanker saluran pencernaan Manifestasi Klinik / Gejala klinis a. Nyeri perut (abdominal discomfort) b. Rasa perih di ulu hati c. Mual, muntah d. Nafsu makan berkurang e. Rasa lekas kenyang f. Perut kembung g. Rasa panas di dada dan perut
h. Regurgitasi

peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung, sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan.7 Pencegahan Pola makan yang normal dan teratur, pilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkomsumsi makanan yang berkadar asam tinggi, cabai, alkohol, dan pantang rokok, bila harus makan obat karena sesuatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung.6 dari Pengobatan

kadang-kadang

sampai

(keluar

cairan

lambung secara tiba-tiba) Patofisiologi Penatalaksanaan non farmakologis Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas, zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan kosong, stres, pemasukan lambung makanan dapat

Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang peda, obatobatan yang berlebihan, nikotin rokok, dan stres Atur pola makan

menjadi kurang sehingga lambung akan kekosongan mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung, kondisi demikian dapat mengakibatkan

Penatalaksanaan farmakologis yaitu:

Sampai

saat

ini yang

belum

ada

regimen terutama

e. Golongan Sitoprotektif Contohnya bismuth Obat-obatan yang diberikan meliputi antacid (menetralkan antikolinergik asam lambung) golongan (menghambat pengeluaran : Sucralfat, koloid

pengobatan dapat

memuaskan karena

dalam mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dimengerti proses patofisiologinya pun masih belum jelas. Dilaporkan bahwa sampai 70 % kasus DF reponsif terhadap placebo.7 Obat-obat yang digunakan untuk kondisi dyspepsia antara lain : a. Antacid lambung) Contohnya : Al, Mg, Ca, OH, Almagate, Hidrotalcite b. Golongan (menghambat lambung) Contohnya : Pirenzepin, c. Golongan obat antagonis reseptor H2 Contohnya : Ranitidin, Simetidin, Famotidin, d. Golongan Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI) Contohnya Esomeprazole, : Omeprazole, pantoprazole, antikolinergik pengeluaran asam (menetralkan asam

asam lambung) dan prokinetik (mencegah terjadinya muntah).6,7

Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan lebih dan fungsi lainnya. pria. Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang banyak dibandingkan Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 2530% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas.
8,9

Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas. Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:

Lansoprazole, Rabeprazole

Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40% Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100% Obesitas berat : kelebihan berat badan >100%.

menekan meskipun

paru-paru, penderita

sehingga hanya

timbul

gangguan pernafasan dan sesak nafas, melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita Obesitas bisa masalah sering merasa termasuk dan ngantuk. berbagai nyeri menyebabkan

Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk.

Penyebab Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh. Penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara asupan dan pembakaran kalori ini masih belum jelas. Terjadinya obesitas melibatkan beberapa faktor: 9,10
1. Faktor genetik. 2. Faktor lingkungan.

ortopedik, bawah

punggung

memperburuk Sering memiliki badannya,

osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki). ditemukan Seseorang dibandingkan kelainan yang obesitas berat kulit.

permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dengan sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki. 8,9

3. Faktor psikis
4. Faktor kesehatan. 5. Obat-obatan. 6. Faktor perkembangan. 7. Aktivitas fisik.

Komplikasi Obesitas bukan hanya tidak enak dipandang mata tetapi merupakan dilema kesehatan yang mengerikan. Obesitas secara langsung berbahaya bagi kesehatan seseorang.

Gejala Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa

Obesitas meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti: 8,9,10


Underwater

weight,

pengukuran

berat badan dilakukan di dalam air dan kemudian lemak tubuh dihitung berdasarkan jumlah air yang tersisa.

Diabetes tipe 2 (timbul pada masa dewasa) Tekanan darah tinggi (hipertensi) Stroke Serangan miokardium) Gagal jantung Kanker (jenis kanker tertentu,

BOD

POD

merupakan telur yang

ruang telah

berbentuk

dikomputerisasi. Setelah seseorang jantung (infark memasuki BOD POD, jumlah udara yang DEXA tersisa (dual digunakan energy untuk X-ray mengukur lemak tubuh. absorptiometry), menyerupai skening tulang. Sinar X digunakan untuk menentukan jumlah dan lokasi dari lemak tubuh. Cara berikut lebih sederhana dan tidak rumit: untuk

misalnya kanker prostat dan kanker usus besar)


Batu kandung empedu dan batu kandung kemih Gout dan artritis gout Osteoartritis Tidur apneu (kegagalan bernafas secara normal ketika sedang tidur, menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah)

Jangka kulit, ketebalan lipatan kulit di beberapa bagian tubuh diukur dengan jangka (suatu alat terbuat dari logam yang impedance tahanan menyerupai analysis forseps).

Sindroma disertai

Pickwickian wajah

(obesitas kemerahan,

Bioelectric (analisa

underventilasi dan ngantuk). Diagnosa 1. Mengukur lemak tubuh. Cara-cara berikut memerlukan peralatan khusus dan dilakukan oleh tenaga terlatih:

bioelektrik),

penderita berdiri diatas skala khusus dan sejumlah arus listrik yang tidak berbahaya dialirkan ke seluruh tubuh lalu dianalisa. Pemeriksaan tersebut bisa memberikan hasil yang tidak tepat jika tidak dilakukan oleh tenaga ahli.

Pengobatan 2.Tabel berat badan-tinggi badan. Pembatasan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik merupakan komponen yang paling penting dalam pengaturan berat badan. Kedua komponen ini juga penting dalam mempertahankan berat badan setelah terjadi aktivitas kebiasaan penurunan fisik dan berat mulai yang badan. menjalani sehat. Harus dilakukan perubahan dalam pola makan Tabel ini telah digunakan sejak lama untuk menentukan apakah seseorang mengalami kelebihan berat badan. Tabel biasanya memiliki suatu kisaran berat badan untuk tinggi badan tertentu. Permasalahan yang timbul adalah bahwa kita tidak tahu mana tabel yang terbaik yang harus digunakan. Banyak tabel yang bisa digunakan, dengan berbagai kisaran berat badan yang berbeda. Beberapa tabel Langkah awal dalam mengobati obesitas adalah menaksir lemak tubuh penderita dan resiko kesehatannya dengan dengan obesitas cara akan menghitung BMI. Resiko kesehatan yang berhubungan angka BMI: 8,9,10 Resiko rendah : BMI < 27 Resiko menengah : BMI 27-30 3.Body Mass Index (BMI). BMI merupakan suatu pengukuran yang menghubungkan badan dengan (membandingkan) tinggi badan. berat BMI Resiko tinggi : BMI 30-35 Resiko sangat tinggi : BMI 35-40 Resiko sangat sangat tinggi : BMI 40 atau lebih. Jenis dan beratnya latihan, serta jumlah pembatasan kalori pada setiap penderita berbeda-beda dan obat yang diberikan disesuaikan dengan keadaan penderita. Penderita dengan resiko kesehatan rendah, menjalani diet sedang (12001500 kalori/hari untuk wanita, 1400meningkat sejalan dengan meningkatnya menyertakan ukuran kerangka, umur dan jenis kelamin, tabel yang lainnya tidak. Kekurangan dari tabel ini adalah tabel tidak membedakan antara kelebihan lemak dan kelebihan otot. Dilihat dari tabel, seseorang yang sangat berotot bisa tampak gemuk, padahal sesungguhnya tidak.
8

merupakan rumus matematika dimana berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan tinggi badan (dalam meter) pangkat dua. Seseorang dikatakan mengalami obesitas jika memiliki nilai BMI sebesar 30 atau lebih.

2000 kalori/hari untuk pria) disertai dengan olah raga Penderita dengan resiko kesehatan menengah, menjalani diet rendah kalori (800-1200 kalori/hari untuk wanita, 1000-1400 kalori/hari untuk pria) disertai olah raga Penderita dengan resiko kesehatan tinggi atau sangat obat tinggi, mendapatkan raga. Peluang penurunan berat badan jangka panjang yang berhasil akan semakin tinggi bila dokter bekerja dan ahli dalam olah suatu raga. tim profesional yang melibatkan ahli diet, psikologis Tim ini akan membantu penderita untuk: mencapai perubahan gaya hidup yang permanen penderita membantu memantau perkembangan menemukan dan sumber stres memberikan dukungan dan mengurangi anti-obesitas

mencegah penambahan berat badan dan tidak sehat yang terkait masalah kesehatan. Tidak mengherankan, langkah-langkah untuk mencegah penambahan berat badan adalah sama dengan langkah-langkah untuk menurunkan berat badan: 1. setiap hari olahraga, diet sehat, sebuah komitmen jangka panjang untuk memantau apa yang Anda makan dan minum. 2. Berolahragalah secara teratur. Salah satu hal paling penting yang dapat Anda lakukan untuk mencegah penambahan berat badan adalah

disertai diet rendah kalori dan olah

dengan berolahraga secara teratur. Menurut American College of Sports Medicine, mendapatkan intensitas minggu Anda perlu untuk menit per mencegah 150-250 untuk

moderat-kegiatan

dorongan yang positif mencegah kekambuhan.

penambahan berat badan. Aktivitas fisik yang cukup intens termasuk berjalan cepat dan berenang. 3. Makan makanan sehat dan makanan ringan. Fokus pada rendah kalori, gizi makanan padat, seperti buahbuahan, sayuran dan biji-bijian. Hindari lemak jenuh dan membatasi permen dan alkohol. Ingat bahwa tidak ada satu makanan menawarkan

Pencegahan Apakah Anda beresiko menjadi gemuk, yang saat ini kelebihan berat badan atau dengan berat badan yang sehat, Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk

semua nutrisi yang Anda butuhkan. Pilih berbagai makanan sepanjang hari. Anda masih dapat menikmati sejumlah tinggi, kecil berkalori makanan tinggi lemak sesekali.

turun. Pemantauan berat badan Anda dapat memberitahu Anda apakah usaha Anda bekerja dapat membantu Anda mendeteksi berat badan kecil sebelum mereka menjadi masalah besar. 6. Jadilah konsisten. Pegang rencana berat badan yang sehat- selama seminggu, di akhir pekan, dan di tengah-tengah liburan dan hari libur meningkatkan peluang Anda untuk sukses jangka panjang. Jika Anda benar-benar penambahan ingin berat untuk badan,

Pastikan untuk memilih makanan yang mempromosikan berat badan yang sehat dan kesehatan yang baik lebih sering daripada Anda memilih makanan yang tidak sehat. 4. Ketahui dan hindari jebakan makanan yang menyebabkan Anda makan. Mengidentifikasi situasi yang memicu out-of-kontrol makan. Cobalah membuat jurnal dan tulis apa yang Anda makan, berapa banyak Anda makan, ketika Anda makan, perasaan Anda dan bagaimana rasa lapar Anda. Setelah beberapa saat, Anda akan melihat pola muncul. ke Anda depan dapat dan merencanakan mengembangkan tetap memegang

mencegah

pendekatan terbaik adalah dengan fokus pada gaya hidup aktif yang mencakup rencana makan yang menyenangkan, namun sehat dan rendah kalori. 8,9

strategi-strategi kendali atas

untuk menangani jenis situasi ini dan perilaku makan Anda. 5. Monitor berat badan Anda secara teratur. menimbang Orang-orang berat yang sekurang-

Ilustrasi kasus
Pasien Ny.S , wanita usia 57 tahun,datang ke KDK Kiara pada tanggal 20 juli 2011. Pasien mengeluh pusing dan lemas sejak 1

kurangnya sekali seminggu lebih berhasil dalam menjaga berat badan

hari yang lalu. pusing dirasakan diseluruh daerah kepala terasa berat. Selain itu pasien merasa perutnya perih karena telat makan dan perih berkurang bila diisi makanan, Pasien juga sering merasa mual dan nyeri ulu hati bila telat makan. Pola makan pasien tidak teratur dan pasien suka makanmakanan pedas serta asam. Pasien sudah 10 tahun menderita Hipertensi Grade I dan hampir 6tahun terakhir tekanan darah pasien terkontrol dengan pemeriksaan rutin ke KDK Kiara dan diet rendah garam yang djalankan selain itu pasien mengkonsusmsi obat captopril 25mg 2x 1 sehari secara teratur. Pemeriksaan tekanan darah yang dilakukan di KDK didapatkan 140/80mmHg. Selain itu dilakukanan

kedua,menantu serta cucu. Dalam 1 rumah terdapat 2 kepala keluarga, terdiri dari 4 orang dewasa dan 1 anak kecil. Pasien merupakan Ibu Rumah Tangga sejak dulu tidak bekerja. Pasien tinggal didaerah yang padat penduduk,sehingga masalah yang dihadapi pasien dan anak bungsunya diketahui oleh lingkungan sekitar rumah pasien. Hubungan pasien dan tetangga diserikat rumah pasien cukup baik,serta hubungan pasien dengan keluarga besar pasien juga baik. Hanya saja hubungna pasien dengan anak bungsunya kurang baik. Genogram

Tn. A (70), Ny.H(86)

Ny.S (68)

Tn. C (78)

pemeriksaan TB dan BB didapatkan IMT 25,5 termasuk dalam status gizi Obesitas. Riwayat penyakit keluarga Orang tua,kakak dan adek pasien juga menderita hipertensi. Anak pertama pasien meninggal karena over dosis obat-obatan pada usia 24 tahun. Anak ketiga pasien meninggal karena penyakit demam berdarah pada usia 8 tahun. Selanjutnya dilakukan kunjungan rumah untuk menilai faktor resiko dan lingkungan tempat tinggal. Pasien tinggal di rumah pribadi sejak pertama kali menikah sampai sekarang. Pasien tinggal dengan suami,anak
: Pasien Tn. D (24) Tn. I (66) (57)

Hipertensi Hipertensi Ny. S

Tn. A (29) Ny.N(22)

DBD (8) Tn.B(24)

Ny.T (23) Narkoba An. A (2) An.T(2) Keterangan : An.D(4)

Wanita : meningga : Pria

Dari

data,

keluhan

dan

pemeriksaan

ditegakkan diagnosis holistik yaitu: Aspek personal Keluhan Utama: Pusing dan perut terasa perih sejak 1hari yang lalu Harapan : Ingin sembuh.

: yang tinggal satu rumah

Hubungan pasien dengan suami baik, begitu pula dengan hubungan pasien dengan anak kedua dan istrinya. Sedangkan hubungan pasien dengan anak bungsunya kurang harmonis tetapi hubungan pasien dengan istri anak bungsunya baik. Selain pasien anggota keluarga yang lain seperti suami,anak kedua serta istrinya mempunyai hubungan kurang harmonis pula dengan anak bungsu tersebut. Pasien sering merasa pusing dan lemas kalau sudah memikirkan anak bungsunya yang tidak bekerja. Anak bungsunya sering meminta paksa pasien untuk memenuhi kebutuhan ekonomi bagi keluarga anak bungsunya tersebut dan bila tidak penuhi anaknya suka marah dan mengamuk dengan pasien. Nafsu makan pasien sangat berkurang setelah berkomunikasi dengan anak bungsunya, dikarenakan sikap anak bungsunya yang tidak baik, selalu berbicara kasar bila bertemu atau berkomunikasi melalui telpon.

Kekhawatiran : Tekanan darah kembali naik Aspek klinik 1. Hipertensi Grade I Terkontrol 2. Obesitas 3. Sindroma Dispepsia Aspek risiko internal Usia pasien yang termasuk faktor resiko tinggi,Tingkat pengetahuan yang kurang tentang penyakit yang diderita,Riwayat orang tua dan sodara kandung hipertensi,Nafsu makan menurun dan Pola makan yg tidak teratur,suka makan pedas dan asam Aspek psikososial Pasien sering memikirkan kondisi anak bungsunya yang tidak bekerja dan Komunikasi dan hubungan dengan anak bungsunya tidak baik,karena sikap kasar anaknya tersebut. Derajat fungsional Derajat 1

Dari data kunjungan pertama didapatkan adanya faktor psikologis stress yang pada dibuat, dan menyebabkan naiknya tekanan darah dan timbulnya pasien. Berdasarkan farmakologis, konseling. Terapi farmakologis yang diberikan berupa, Pasien mendapatkan obat hipertensi Captopril tab 25mg 2x1sehari dan HCT tab 12,5mg 1x1sehari, Pasien juga mendapatkan obat lambung berupa Antasid 3x1sehari dikunyah -1 jam sebelum makan,Pasien juga mendapatkan vitamin untuk pencernaanya yaitu vitazym 3x1sehari Terapi konsumsi stress. Konseling yang diberikan kepada pasien antara lain : Memberi edukasi pada pasien tentang kepatuhan minum obat hipertensi dan obat lambung, Memberikan penjelasan pada pasien tentang pola makan yang baik 3xsehari, sesuai dengan kalori yang dibutuhkan yaitu 1300 kalori , diselingi makan snack pada jam 10 pagi danjam 4 non farmakologis pedas dan berupa asam, diagnosis non yang dilakukan penatalaksanaan berupa terapi Farmakologis gejala-gejala dispepsia

sore,serta mengurangi makanan pedas serta asam. Meneruskan diet rendah garam dan olahraga teratur. Menjelaskan kepada pasien dan seluruh anggota keluarga berupa faktor-faktor yang dapat memberat penyakit yang diderita pasien termasuk melakukan family conference dan serta terapi Farmakologis. Intervensi juga dilakukan kepada anggota keluarga lain untuk membantu menurunkan tingkat stress yang dialami pasien dan mendukung perubahan pola hidup pasien menjadi baik, menghindari faktor- faktor yang mempengaruhi kesehatan pasien serta mencegah terjadi penyakit serupa terhadap anggota keluarga yang lain dengan cara melakukan cek up setiap bulan untuk mengetahui faktor resiko yang mungkin ada, Pemeriksaan rutin tekanan darah,mengatur pola makan dan olahraga yang teratur.

melanjutkan diet rendah garam, mengurangi makanan olahraga teratur serta menghindari faktor

Kesimpulan
Pasien menderita dengan hipertensi grade I

terkontrol

mengkonsumsi

obat

secara teratut dan melakukan pemeriksaan rutin setiap 2x dalam 1 bulan. Selain itu pasien sudah menerapkan diet rendah garam dan melakukan olahraga teratur. Pasien juga menderita dyspepsia dikarenakan pola

makan yang tidak teratur dan stress yang dalami pasien. Anggota keluarga serta pasien sudah

Saran untuk petugas kesehatan, memberikan penyuluhan dan pengetahuan lebih rinci mengenai penyakit yang diderita pasien bukan hanya kepada pasien tetapi juga kepada seluruh anggota keluarga terutama pelaku rawat, serta melakukan penatalaksanaan secara menyeluruh bukan hanya secara klinis saja tetapi semua faktor yang mungkin bisa memperberat masalah kesehatan pasien.

mengerti mengenai kondisi kesehatan yang dialami pasien, sehingga anggota keluarga akan membantu memotivasi pasien untuk tidak stress dan melakukan pola hidup sehat,makan teratur,menghindari makan pedas dan asam,melanjutkan diet rendah garam serta olahrag teratur. Perlunya partisipasi seluruh anggota

Daftar Pustaka
1. Susilat E, Kapojos EJ, Lubis HR.

keluarga dalam penatalaksanaan masalah kesehatan yang dalami oleh pasien.

Hipertensi Primer. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2 Edisi 3, Editor: Suyono S, dkk. Jakarta: Balai Perintis FKUI. 2001: 453-471.
2. Sudoyo A.W., Setiyohadi B., Alwi I.,

Saran
Saran untuk pasien melakukan kontrol secara rutin 2x obat dalam secara 1 bulan, teratur. mengkonsumsi

Melanjutkan program diet rendah garam dan olahraga teratur serta menghindari faktor pemicu stress. Saran untuk anggota keluarga, berpartisipasi terhadap proses kesembuhan pasien serta membantu pasien untuk menghindari faktor stress. Anggota keluarga terutama anak pasien resiko. disarankan untuk mengkontrol tekanan darah untuk mengetahui faktor

Simadibrata

M.,

Setiati

S.

Ilmu

Penyakit Dalam Edisi 4. Balai Penerbit FKUI, Jakarta.2006.


3. Wahyuni T. Cegah Hipertensi Lewat

Diet Rendah Garam. Available at: Surakarya Online.


4. Sat

Sharma.

Hypertension. from:

2004. URL:

Available 06.htm

http://www.emedicine.com/med/topic11

5. Bagian Gizi RSCM dan Persatuan Ahli

Gizi Indonesia. Penuntun Diet. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 2001.
6. Artikel Kesehatan. Dispepsia. Available

from:

URL:

http://www.tbmcalcaneus.org/dispepsia/
7. Dispepsia.

Available from: URL:

http://www.medicinesia.com/harian/dis pepsia/
8. Obesitas.

Available

from:

URL:

http://id.wikipedia.org/wiki/Obesitas
9. Obesitas.

Available

from:

URL:

http://medicastore.com/penyakit/42/Obe sitas.html
10. Obesitas.

Available

from:

URL:

http://biotest.co.id/news.php