Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA

NY. J 55 TAHUN
DENGAN HIPERTENSI GRADE I

Diajukan guna melengkapi tugas kepaniteraan senior


Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Undip Semarang

Disusun oleh:
Priska Harsanti Devi

22010114210089

Normarida Soraya

22010114210096

Veryne Ayu P.

22010114210097

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO


SEMARANG
2015

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi
masalah kesehatan penting di seluruh dunia karena prevalensinya yang tinggi dan
terus meningkat serta hubungannya dengan penyakit kardiovaskuler, stroke,
retinopati, dan penyakit ginjal.1 Hipertensi juga menjadi faktor risiko ketiga terbesar
penyebab kematian dini. The Third Nacional Health and Nutrition Examination
Survey mengungkapkan bahwa hipertensi mampu meningkatkan risiko penyakit
jantung koroner sebesar 12% dan meningkatkan risiko stroke sebesar 24%.2
Kini prevalensi hipertensi terus meningkat sejalan dengan perubahan gaya
hidup seperti merokok, obesitas, inaktivitas fisik, dan stress psikososial. Hampir di
setiap negara, hipertensi menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang paling
sering dijumpai.3Menurut laporan pertemuan WHO di Jenewa tahun 2002 didapatkan
prevalensi penyakit hipertensi 15-37% dari populasi penduduk dewasa di dunia.
Setengah dari populasi penduduk dunia yang berusia lebih dari 60 tahun menderita
hipertensi. Angka Proportional Mortality Rate akibat hipertensi di seluruh dunia
adalah 13% atau sekitar 7,1 juta kematian.4 Selain itu pada tahun 2001, WHO juga
melaporkan penelitian di Bangladesh dan India dengan hasil prevalensi hipertensi
65% dari jumlah penduduknya, dengan prevalensi tertinggi pada penduduk di daerah
perkotaan. Sesuai dengan data WHO bulan September 2011, disebutkan bahwa
hipertensi menyebabkan 8 juta kematian per tahun di seluruh dunia dan 1,5 juta
kematian per tahun di wilayah Asia Tenggara.5
Menurut perkiraan, sekitar 30% penduduk dunia tidak terdiagnosa adanya
hipertensi (underdiagnosed condition). Hal ini disebabkan tidak adanya gejala atau
dengan gejala ringan bagi mereka yang menderita hipertensi. Sedangkan, hipertensi
ini sudah dipastikan dapat merusak organ tubuh, seperti jantung (70% penderita
hipertensi akan merusak jantung), ginjal, otak, mata serta organ tubuh lainnya.
Sehingga, hipertensi disebut sebagai silent killer.
Pada pembinaan kasus kali ini akan dikemukakan mengenai penyakit,
hipertensi,

dan

faktor-faktor

yang

dapat

mempengaruhi

keberhasilan

penatalaksanaannya baik dari segi genetik, perilaku, lingkungan dan pelayanan


kesehatan. Mengingat sifat pengobatan penyakit ini yang harus terus dilakukan
seumur hidup, maka peran serta keluarga akan sangat berpengaruh baik dalam
2

menjamin kelangsungan terapi maupun pengontrolan kondisi penyakit kearah yang


lebih baik sehingga perburukan ataupun komplikasi dapat dicegah. Oleh karena itu
diperlukan suatu pendekatan dokter keluarga agar penatalaksaan yang diberikan dapat
optimal. Pembinaan ini penting dilakukan untuk mengetahui pendekatan kedokteran
keluarga yang baik dan dapat optimal terutama pada kasus yang bersangkutan.
1.2 TUJUAN
Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah untuk mengetahui penatalaksanaan
hipertensi dengan pendekatan kedokteran keluarga.
1.3 MANFAAT
Penyusunan laporan kasus ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran
bagi dokter muda agar dapat melaksanakan praktek kedokteran keluarga secara
langsung kepada pasien dengan hipertensi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada
populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg
dan tekanan diastolik 90 mmHg.6
Menurut WHO tekanan darah dianggap normal bila sistoliknya 120-140
mmHg dan diastoliknya 80-90 mmHg sedangkan dikatakan Hipertensi bila lebih
dari 140/90 mmHg dan diantara nilai tersebut dikatakan normal tinggi. Batasan
ini berlaku bagi orang dewasa diatas 18 tahun.3
Hipertensi adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan
suplai oksigen dan nutrisi, yang dibawa oleh darah, terhambat sampai ke jaringan
tubuh yang membutuhkannya. Tubuh akan bereaksi lapar, yang mengakibatkan
jantung harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bila
kondisi tersebut berlangsung lama dan menetap, timbulah gejala yang disebut
sebagai penyakit tekanan darah tinggi.7
Hipertensi merupakan suatu keadaan terjadinya peningkatan tekanan darah
yang memberi gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul
kerusakan lebih berat seperti Stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada
kematian yang tinggi), Penyakit Jantung Koroner (terjadi pada kerusakan
pembuluh darah jantung) serta penyempitan ventrikel kiri / bilik kiri (terjadi pada
otot jantung). Selain penyakit tersebut dapat pula menyebabkan Gagal Ginjal,
Penyakit Pembuluh lain, Diabetes Mellitus dan lain-lain.7,8
2.2 ETIOLOGI
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik.
Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan
tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
hipertensi:9
a. Genetik: Respon nerologi terhadap stres atau kelainan ekskresi atau
transport Na.
4

b. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan


tekanan darah meningkat.
c. Stres Lingkungan.
d. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua serta
pelebaran pembuluh darah.
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan,
yaitu : (Mansjoer, A. 2001)10
1. Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui
penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95%
kasus. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetik, lingkungan,
hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem renin-angiotensin, defek
dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca intraselular, dan faktorfaktor yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, alkohol, merokok,
serta polisitemia.
2. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5% kasus.
Penyebab spesifiknya diketahui, seperti gangguan estrogen, penyakit
ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosterinisme primer, dan
sindrom Cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang
berhubungan dengan kehamilan, dan lain-lain.
2.3 EPIDEMIOLOGI
Di negara berkembang, sekitar 80 persen penduduk mengidap hipertensi.
Hipertensi diperkirakan menjadi penyebab kematian sekitar 7,1 juta orang di
seluruh dunia atau sekitar 13 % dari total kematian. The American Heart
Association memperkirakan tekanan darah tinggi mempengaruhi sekitar satu dari
tiga orang dewasa di Amerika Serikat yang berjumlah 73 juta orang.Tekanan
darah tinggi juga diperkirakan mempengaruhi sekitar dua juta remaja Amerika
dan anak-anak. Hipertensi jelas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
utama.3
Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2004, hipertensi menempati
urutan ketiga sebagai penyakit yang paling sering diderita oleh pasien rawat jalan.
Pada tahun 2006, hipertensi menempati urutan kedua penyakit yang paling sering
diderita pasien oleh pasien rawat jalan Indonesia (4,67%) setelah ISPA (9,32%).
Berdasarkan penelitian tahun 1975 diketahui bahwa prevalensi hipertensi di
5

Indonesia adalah 7,1% dengan 6,6% pada wanita dan 7,6% pada pria. Sedangkan
pada survei faktor risiko penyakit kardiovaskuler, prevalensi hipertensi di Indonesia
meningkat menjadi 13,6% pada pria dan 16% pada wanita

Di Indonesia berdasarkan hasil survei INA-MONICA (Multinational


Monitoring of Trends and Determinants In Cardiovascular Disease) tahun 1988
angka hipertensi mencapai 14,9%, jumlah penderita hipertensi terus meningkat
hingga 16,9% pada survei 5 tahun kemudian. Gaya hidup modern telah membuat
hipertensi menjadi masalah besar.Di Indonesia saja prevalensi hipertensi cukup
tinggi 7% sampai 22%. Bahkan berdasarkan hasil penelitian, penderita akan
berujung pada penyakit jantung 75%, stroke 15%, dan gagal ginjal 10%.
2.4 PATOFISIOLOGI
Jantung memompa darah melalui pembuluh darah arteri.Dari pembuluh
darah yang besar ke pembuluh darah yang kecil yang disebut arteriol.Arteriol
membagi darah ke pembuluh darah yang lebih kecil lagi yang disebut
kapiler.Tugas kapiler-kapiler ini adalah memberi organ-organ makanan dan
oksigen. Darah akan kembali kejantung melalui pembuluh darah vena.
Normalnya, pembuluh darah akan mengembang (menerima darah) dan
mengecil (meneruskan darah) melalui sistem persarafan yang kompleks. Namun
peristiwa ini sering kali tidak berjalan mulus. Banyak keadaan (Penyakit atau
kelainan) yang bisa membuat pembuluh darah tidak membesar atau tidak elastis
lagi akibatnya akan terjadi kekurangan darah pada organ tertentu. Jika suatu
organ kekurangan oksigen dan sari makanan, maka suatu proses umpan balik
akan terjadi.
Organ tersebut akan mengirim tanda keotak bahwa membutuhkan darah
lebih banyak. Reaksinya adalah tekanan darah ditingkatkan sayangnya
peningkatan tekanan darah ini juga terjadi pada organ-organ lainnya yang tidak
mengirim tanda tersebut. Dan yang paling beresiko tinggi pada ginjal dan otak.
Tekanan darah yang tinggi pada ginjal dan otak mengakibatkan kerusakan kedua
organ tersebut.5
2.5 KLASIFIKASI

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibedakan menjadi dua golongan yaitu


hipertensi primer dan hipertensi sekunder.Hipertensi primer atau hipertensi esensial
terjadi karena peningkatan persisten tekanan arteri akibat ketidakteraturan
mekanisme

kontrol

homeostatik

normal,

dapat

juga

disebut

hipertensi

idiopatik.Hipertensi ini mencakup sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang


mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf
simpatis, sistem renin-angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan
Ca intraseluler, dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko seperti obesitas dan
merokok.10,11
Hipertensi sekunder atau hipertensi renal merupakan hipertensi yang
penyebabnya

diketahui

dan

terjadi

sekitar

10%

dari

kasus-kasus

hipertensi.Hampirsemua hipertensi sekunder berhubungan dengan ganggaun


sekresi hormon dan fungsi ginjal. Penyebab spesifik hipertensi sekunder antara lain
penggunaan

estrogen,

penyakit

ginjal,

hipertensi

vaskular

renal,

hiperaldesteronisme primer, sindroma Cushing, feokromositoma, dan hipertensi


yang berhubungan dengan kehamilan. Umumnya hipertensi sekunder dapat
disembuhkan dengan penatalaksanaan penyebabnya secara tepat.11
Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) merupakan peningkatan tekanan
diastolik tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik, biasanya ditemukan pada anakanak dan dewasa muda.Hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh darah kecil
menyempit secara tidak normal, sehingga memperbesar tahanan terhadap aliran
darah yang melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya.Tekanan darah
diastolik berkaitan dengan tekanan arteri bila jantung berada dalam keadaan
relaksasi di antara dua denyutan. Hipertensi campuran merupakan peningkatan
pada tekanan sistolik dan diastolik.13
Berdasarkan bentuknya, hipertensi dibedakan menjadi tiga golongan yaitu
hipertensi sistolik, hipertensi diastolik, dan hipertensi campuran. Hipertensi sistolik
(isolated systolic hypertension) merupakan peningkatan tekanan sistolik tanpa
diikuti peningkatan tekanan diastolik dan umumnya ditemukan pada usia lanjut.
Tekanan sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri apabila jantung
berkontraksi (denyut jantung). Tekanan sistolik merupakan tekanan maksimum
dalam arteri dantercermin pada hasil pembacaan tekanan darah sebagai tekanan
atas yang nilainya lebih besar.12,13
7

Klasifikasi hipertensi menurut gejala dibedakan menjadi dua yaitu hipertensi


benigna dan hipertensi maligna.Hipertensi benigna merupakan keadaan hipertensi
yang tidak menimbulkan gejala-gejala, biasanya ditemukan saat penderita cek up.
Hipertensi maligna merupakan keadaan hipertensi yang membahayakan biasanya
disertai keadaan kegawatan sebagai akibat komplikasi pada organ-organ seperti
otak, jantung dan ginjal.13
Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII),
klasifikasi hipertensi pada orang dewasa dapat dibagi menjadi kelompok normal,
prehipertensi, hipertensi derajat I dan derajat II. (Tabel 2.)13
Tabel 1. Klasifikasi hipertensi menurut JNC VII
Kategori
Normal
Pre hipertensi
Hipertensi tahap 1
Hipertensi tahap 2

Sistol (mmHg)
<120
120-139
140-159
160

Dan / atau
Dan
Atau
Atau
Atau

Diastol (mmHg)
<80
80-89
90-99
100

2.6
Faktor Risiko (Mansjoer, A. 2001)
Faktor risiko hipertensi dibedakan atas:
1. Faktor yang tidak dapat diubah atau dikontrol
a.
b.
c.
d.

Usia
Jenis kelamin
Riwayat keluarga
Genetik

2. Faktor yang dapat diubah/dikontrol


a.
b.
c.
d.
e.

2.7

Merokok
Konsumsi garam/makanan asin
Konsumsi lemak jenuh
Konsumsi minuman beralkohol
Kurangnya aktivitas/olahraga

Manisfestasi Klinis
Pemeriksaan fisik dapat pula tidak dijumpai kelainan apapun selain

peninggian tekanan darah yang merupakan satu-satunya gejala. Individu penderita


hipertensi kadang tidak menampakkan gejala sampai bertahun-tahun. Apabila terdapat
gejala, maka gejala tersebut menunjukkan adanya kerusakan vaskuler, dengan

manifestasi khas sesuai sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah
bersangkutan.10
Elizabeth J. Corwin menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul
setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun. Manifestasi klinis yang timbul dapat
berupa nyeri kepala saat terjaga yang kadang-kadang disertai mual dan muntah akibat
peningkatan tekanan darah intrakranium, penglihatan kabur akibat kerusakan retina,
ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan saraf, nokturia (peningkatan
urinasi pada malam hari) karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi
glomerolus, edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler. Keterlibatan
pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien yang
bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi atau hemiplegia atau
gangguan tajam penglihatan.
Gejala lain yang sering ditemukan adalah epistaksis, mudah marah, telinga
berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, dan mata berkunang-kunang.10
2.8

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai
terapi bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan faktor risiko lain
atau mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urinalisis, darah perifer
lengkap, kimia darah (kalium, natrium, kreatinin), gula darah puasa, kolesterol
total, kolesterol HDL, dan EKG. 10
Sebagai tambahan dapat dilakukan pemeriksaan lain, seperti klirens
kreatinin, protein urin 24 jam, asam urat, kolesterol LDL, TSH, dan
ekokardiografi. 10

2.9

Diagnosis
Diagnosis hipertensi tidak bisa ditegakkan dalam satu kali pengukuran,
hanya dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran pada kunjungan
yang berbeda, kecuali terdapat kenaikan yang tinggi atau gejala-gejala klinis.
Pengukuran dilakukan dalam keadaan pasien duduk bersandar, setelah
beristirahat selama 5 menit, dengan ukuran pembungkus lengan yang sesuai
(80% menutupi lengan).10
Anamnesis yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama
menderitanya, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang berkaitan seperti
penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit serebrovaskular, dan
9

lainnya. Apakah terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, gejala-gejala yang


berkaitan dengan penyebab hipertensi, perubahan aktivitas/kebiasaan (seperti
merokok), konsumsi makananm riwayat obat-obatan bebas, hasil dan efek
samping terapi hipertensi sebelumnya bila ada, dan faktor psikososial
lingkungan (keluarga, pekerjaan, dan sebagainya). (Mansjoer, A. 2001)
Pada pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dua kali
atau lebih dengan jarak 2 menit, kemudian diperiksa ulang pada lengan
kolateral. Kemudian dilakukan funduskopi untuk mengetahui adanya
retinopati hipertensif, pemeriksaan leher untuk mwncari bising karotid,
pembesaran vena, atau kelenjar tiroid. Mencari tanda-tanda gangguan irama
dan denyut jantung, pembesaran ukuran, bising, derap, dan bunyi jantung
ketiga atau empat. Paru diperiksa untuk mencari ronki dan bronkospasme.
Pemeriksaan abdomen dilakukan untuk mencari adanya massa, pembesaran
ginjal, dan pulsasi aorta yang abnormal. Pada ekstremitas dapat ditemukan
pulsasi arteri perifer yang menghilang, edema, dan bising. Dilakukan juga
2.10

pemeriksaan neurologi. 10
Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan morbiditas dan
mortalitas kardiovaskular, mencegah kerusakan organ, dan mencapai target
tekanan darah < 130/80 mmHg dan 140/90 mmHg untuk individu berisiko tinggi
dengan diabetes atau gagal ginjal.12
Berdasarkan kelompok risiko dikategorikan menjadi :

A. Pasien dengan tekanan darah perbatasan, atau tingkat 1, 2, atau 3, tanpa


gejala penyakit kardiovaskular, kerusakan organ, atau faktor risiko lainnya.
Bila dengan modifikasi gaya hidup tekanan darah belum dapat diturunkan,
maka harus diberikan obat antihipertensi.
B. Pasien tanpa penyakit kardiovaskular atau kerusakan organ lainnya, tapi
memiliki satu atau lebih faktor risiko, namun bukan diabetes melitus. Jika
terdapat beberapa faktor risiko maka harus diberikan obat hipertensi.
C. Pasien dengan gejala klinis kardiovaskular atau kerusakan organ yang
jelas. Kerusakan organ atau penyakit kardiovaskular : penyakit jantung
(hipertrofi ventrikel kiri, infark miokard, angina pektoris, gagal jantung,
riwayat revaskularisasi koroner, stroke, transient ischemic attack,
neftropati, penyakit arteri perifer, dan retinopati. (Mansjoer, A. 2001)
Penatalaksanaan berdasarkan klasifikasi risiko :
10

Tabel 2. PenatalaksanaanHipertensi
Tekanan Darah
130-139/85-89
140-159/90-99
160/100

Kelompok Risiko A
Modifikasi gaya

Kelompok Risiko B
Modifikasi gaya

hidup
Modifikasi gaya

hidup
Modifikasi gaya

hidup
Dengan obat

hidup
Dengan obat

Kelompok Risiko C
Dengan obat
Dengan obat
Dengan obat

Modifikasi gaya hidup : (Mansjoer, A. 2001)


a Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan (IMT 27)
b Membatasi alkohol
c Meningkatkan aktivitas fisik aerobik (30-45 menit/hari)
d Mengurangi asupan natrium (<100 mmol Na/ 2,4g Na/ 6g NaCl/hari)
e Mempertahankan asupan kalium yang adekuat (90mmol/hari)
f Mempertahankan asupan kalsium dan magnesium yang adekuat
g Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol
dalam makanan
Pilihan Obat :
a Hipertensi tanpa komplikasi : diuretik, beta blocker
b Indikasi tertentu : ACE-Inhibitor, penghambat reseptor angitensin II,
c

alfa blocker, alfa-beta-blocker, beta blocker, antagonis Ca, diuretik


Indikasi yang sesuai :
i Diabetes melitus tipe 1 dengan proteinuria : ACE-Inhibitor
ii Gagal Jantung : ACE-Inhibitor, diuretik
iii Hipertensi sitolik terisolasi : diuretik, antagonis Ca
dihidropiridin kerja lama
iv Infark miokard : beta blocker (non ISA), ACE-Inhibitor
(dengan disfungsi sitolik)
Tabel.3 Penanganan Hipertensi dan pemilihan obat

Klasifikasi
tekanan
darah
Normal
Prehipertensi

Hipertensi
grade I

Tekanan
darah
sistolik
(mmhg)
< 120
120-139

140-159

Tekanan
darah
diastolic
(mmhg)
<80
80-89

90-99

Modifikasi
gaya
hidup

Tanpa indikasi
khusus

Dengan indikasi
khusus

Himbauan
Ya

Tidak perlu

Ya

Diuretic golongan
tiazid. Dapat
dipertimbangkan
pemberian ACEI,
B, B, CaCB atau
kombinasi

Obat-obatan
untuk indikasi
tersebut
Obat-obatan
untuk indikasi
khusus tersebut.
Ditambah obat
antihipertensi
(diuretic, ACEI,
B, B, CaCB)
11

Hipertensi
gredeII

160

atau
100

Ya

Kombinasi kedua
obat. Biasanya
diuretic dengan
ACEI, B, B,
CaCB atau
kombinasi

2.11 KOMPLIKASI
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi yaitu :
1. Kerusakan otak
Tekanan darah yang terlalu tinggi menyebabkan pecahnya pembuluh
darah otak, akibatnya darah tercecer dari daerah tertentu pada otak, sedangkan
bagian lain dari otak tidak mendapat aliran / supply darah yang cukup,
sehingga bagian otak menjadi rusak.
2. Kerusakan jantung
Tekanan darah tinggi menyebabkan pembesaran otot jantung, disebabkan
jantung bekerja lebih keras untuk mempompa darah.
3. Kerusakan ginjal
Tingginya tekanan darah akan membuat pembuluh darah dalam ginjal
tertekan. Akhirnya pembuluh darah menjadi rusak dan menyebabkan fungsi
ginjal menurun. Hingga bisa mengalami gagal ginjal.
4. Kerusakan mata
Tekanan darah tinggi menyebabkan tertekannya pembuluh darah dan
syaraf pada mata, sehingga penglihatan terganggu.
2.12 Kedokteran Keluarga13
Kedokteran keluarga merupakan disiplin akademik profesional, berupa suatu
cabang ilmu kedokteran yang mengimplementasikan ilmu kedokteran klinis dengan
pendekatan keluarga. Pelayanan kedokteran keluarga didasarkan pada pemahaman
bahwa manusia bukan hanya sebagai makhluk biologik, tetapi juga makhluk sosial
yang dalam kehidupannya berinteraksi dengan berbagai lingkungan, dimana salah
satu lingkungan yang terdekat yaitu lingkup keluarga.
Hakikat Kedokteran Keluarga

12

Pada hakikatnya kedokteran keluarga mempunyai 5 aspek dalam memahami


seorang manusia, yaitu :
a. Hakikat Biologik
Manusia dalam kehidupannya mempunyai kegiatan dalam dirinya sebagai
makhluk biologis, yang dikenal sebagai faktor intrinsik dalam kehidupan.
Keseimbangan faktor intrinsik tubuh ini yang menciptakan keadaan sehat jasmaniah.
Dalam ilmu kedokteran keluarga, penilaian kesehatan seseorang juga dilihat dari
fungsi biologis keluarga yang terkait dengan sistem organ terpadu dari individu dan
anggota keluarga yang mempunyai risiko, meliputi :
- Adanya faktor keturunan
- Kesehatan keluarga
- Reproduksi keluarga
b. Hakikat Psikologik
Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai aktivitas dan tingkah laku yang
merupakan gambaran sikap dan menentukan penampilan serta pola perilaku dan
kebiasaannya.
c. Hakikat Sosiologik
Manusia dalam hubungannya dengan lingkup keluarga, pekerjaan, budaya,
dan geografis dapat menimbulkan berbagai konflik maupun permasalahan, yang bila
tidak diselesaikan dapat mempengaruhi aspek kesehatannya. Kedokteran keluarga
mengorientasikan permasalahan kesehatan yang berhubungan dengan proses
dinamika dalam keluarga, potensi keluarga yang diperlukan untuk dipahami, kualitas
hidup yang dipengaruhi oleh budaya, serta pendidikan dan lingkungannya.
d. Hakikat Ekologik
Aspek ekologik dalam kedokteran keluarga membahas manusia seutuhnya
dalam interaksinya dengan sesama manusia juga hubungannya dengan lingkungan
fisik dalam rumah tangganya. Timbul dan berkembangnya penyakit tidak saja
disebabkan oleh faktor intrinsik dalam tubuh manusia, bahkan anggota keluarga
lainnya serta berbagai komponen biologis dalam rumah tangga serta faktor kimia dan
fisik yang ada.
e. Hakikat Medik

13

Aspek medik pada dasarnya merupakan disiplin ilmu kedokteran yang


dimanfaatkan pada pelayanan garis terdepan, yang erat kaitannya dengan kehidupan
manusia dalam lingkungannya. Adanya temuan-temuan baru di bidang teknologi
kedokteran, serta pergeseran pola perilaku dan pola penyakit, akan mempengaruhi
pola pelayanan kedokteran.
Prinsip Kedokteran Keluarga
Prinsip yang digunakan dalam pelayanan kedokteran keluarga ada 4 yaitu :
1. Personal Care
Pelayanan kedokteran keluarga memandang manusia dalm berbagai aspek
yang lebih luas, namun tetap mengedepankan pelayanan kesehatan terhadap manusia
sebagai seorang individu yang mempunyai permasalahan kesehatan.
2. Continuous Care
Kedokteran keluarga tidak hanya berupaya menyelesaikan masalah pasien
dalam jangka pendek namun juga mempertahankan dan meningkatkan status
kesehatannya dalam jangka panjang dalam suatu pelayanan yang berkelanjutan.
3. Holistik
Kedokteran keluarga menilai dan berupaya menyelesaikan tidak hanya
masalah kesehatan pasien itu sendiri, namun juga dipandang dari fungsi-fungsi lanin
yang terkait dalam kehidupannya, misalnya fungsi keluarga, fungsi religius, dan
fungsi sosial. Pelayanan kedokteran keluarga dengan kata lain tidak terbatas pada
aspek medik, tetapi mencakup aspek biopsikososial.
4. Komprehensif
Pelayanan

kedokteran

keluarga

merupakan

pelayanan

yang

bersifat

komprehensif, meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Upaya


promotif dan preventif dapat dilakukan secara terpadu, berupa penyuluhan maupun
upaya pencegahan potensi gangguan yang dapat dialami oleh anggota keluarga.

14

BAB 3
LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH
IDENTITAS PASIEN DAN KELUARGA
a. Identitas Pasien
-

Nama

:Ny. J

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 55tahun

Status Pernikahan

: Janda
-Alamat

:Dusun Kranjang Jurang,

Desa Sidosari,Kecamatan Salaman, Kabupaten


Magelang
-

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Jawa
15

Pendidikan

: Tamat SD

Pekerjaan

: Petani

b. Identitas Kepala Keluarga


-

Nama

:Ny. J

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 55tahun

Status Pernikahan

: Janda
-Alamat

:Dusun Kranjang Jurang,

Desa Sidosari,Kecamatan Salaman, Kabupaten


Magelang
-

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Jawa

Pendidikan

: Tamat SD

Pekerjaan

: Petani

PROFIL KELUARGA
Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga Kandung

No

Nama

1.

Alm.M.S

Kedudukan
dalam Keluarga
Suami

Umur
(th)
62

2.

Ny. J

Istri (KK)

55

SD

Petani

Sakit

3.

Nn. M

Anak I

27

SMP

Serabutan

Sehat

JK

Pendidikan

Pekerjaan

Ket

SD

Petani

Meninggal

Tabel 2. Daftar Anggota Yang Tinggal Serumah

No

Nama

1
2

Ny. J
Nn. M

Kedudukan dalam
keluarga
Istri (KK)
Anak I

JK Umur
(th)
P
55
P
27

Pendidika
n
SD
SMP

Pekerjaa
n
Petani
Serabutan

Ket
Sakit
Sehat

16

RESUME PENYAKIT DAN PENATALAKSANAAN YANG SUDAH


DILAKUKAN
Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesispada tanggal 20 Agustus 2015
di kediaman Ny. J pukul 09.00 dan dilanjutkan anamnesis ulang dan pemberian
edukasi pada tanggal24Agustus 2015 pukul 10.00 WIB di rumah pasien di
Dusun Kranjang Jurang Rt. 03 Rw 04 Desa Sidosari Kecamatan Salaman,
Kabupaten Magelang
a. Keluhan Utama
Pusing sejak 2 hari yang lalu
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh pusing sejak 2 hari yang lalu. Pusing dirasakan terusmenerus,terasa berat di seluruh bagian kepala hingga tengkuk. Pusing
bertambah berat dirasakan terutama seusai bekerja di sawah. Tidak ada
demam,selain itu pasien juga mengeluhkan susah tidur sejak 4 hari yang
lalu. Pasien tidak merasakan mata kabur, nyeri dada, maupun sesak. BAK
lancar, tidak ada keluhan. BAB lancar dan tidak ada keluhan.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah sakit seperti ini pada tahun 2013 yang lalu dan dikatakan
tekanan darah tinggi. Pasien tidak rutin meminum obat.
Riwayat DM, jantung, dan sakit ginjal disangkal
Riwayat alergi disangkal
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu pasien menderita hipertensi sejak 18 tahun yang lalu, dan meninggal 10
tahun yang lalu
Genogram Keluarga Kandung Penderita

17

1
0

11

13

1
4

1
5

16
12

Keterangan :
1. Ayah penderita

: meninggal

2. Ibu Penderita

: meninggal, hipertensi

3. Suami penderita

: meninggal

4. Penderita

: penderita

5. Adik penderita

: sehat

6. Istri dari adik penderita

: sehat

7. Suami dari adik penderita

: sehat

8. Adik penderita

: sehat

9. Anak dari penderita

: sehat

10. Anak dari adik penderita

: sehat

11. Menantu dari adik penderita

: sehat

12. Cucu dari adik penderita

: sehat

13. Anak dari adik penderita

: sehat

14. Menantu dari adik penderita

: sehat

15. Anak dari adik penderita

: sehat

16. Cucu dari adik penderita

: sehat

Pemeriksaan Fisik
Tanggal 24 Agustus 2015 pukul 10.00 WIB di rumah penderita
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda vital

Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernapasan

: 146/100 mmHg
: 88 x/menit
: 36,50 C
: 20x/menit

TB
BB

: 155cm
: 70 kg

18

Status Generalis

Kepala
: Normosephal
Muka
: Nyeri tekan sinus (-), nyeri ketuk sinus (-)
Mata
: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Telinga: Normotia, benjolan (-), udem (-), nyeri tekan (-)
Hidung
: Normosepti, sekret (-), mukosa livid (-), concha hipertrofi (-)
Bibir
: pucat (-), sianosis (-)
Tenggorok
: T1-1, faring hiperemis (-), granulasi (-), nyeri telan (-)
Leher
: Trakhea di tengah, pembesaran KGB (-/-)
Thoraks

Paru paru
-

Inspeksi

:Bentuk dada normal, simetris, simetris saat statis dan

dinamis,, retraksi suprasternal -/-, retraksi interkostal -/Palpasi: Gerak nafas simetris, sama tinggi, tidak ada bagian yang

tertinggal, stem fremitus kanan = kiri


Perkusi
: sonor diseluruh lapangan paru depan dan belakang,
batas paru hepar setinggi SIC V linea midklavikularis kanan, peranjakan

paru positif kira-kira 2 sela iga


Auskultasi: Suara dasar vesikuler, rhonchi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung
-

Inspeksi :Bentuk dada normal, simetris, iktus kordis tidak terlihat


Palpasi : Iktus cordis teraba di SIC VI LAA, tidak kuat angkat.
Perkusi : batas jantung kanan tidak ada kelainan, batas jantung kiri di

SIC VI LAA, pinggang jantung tidak ada kelainan.


- Auskultasi: Bunyi Janting I-II normal, gallop (-), murmur(-)
Abdomen
- Inspeksi : Bentuk datar
- Palpasi
: supel, tidak teraba benjolan, nyeri tekan (-), hepar lien tak
teraba,ballotemem ginjal kanan dan kiri (-)
- Perkusi : Timpani, liverspan 10cm, area troube timpani
- Auskultasi : Bising usus normal.
Ekstremitas
-

Inspeksi

: Bentuk normal simetris, sianosis (-/-), edema (-/-)

Palpasi

: Suhu hangat, edema (-/-)

Hasil Laboratorium dan Pemeriksaan Penunjang


Tidak didapatkan hasil laboratorium dan pemeriksaan penunjang
Diagnosis Kerja
19

Hipertensi grade I
Rencana Penatalaksanaan
1. Tatalaksana medikamentosa
ACEI (Captopril25mg 3xperhari)
2. Tatalaksana non medikamentosa :

Edukasi pada anak pasien dan pasien agar mengurangi konsumsi garam,
dalam 1 hari sebanyak 1 sdt saja.

Disarankan untuk periksa EKG, profil lipid, ureum kreatinin dan gula
darah I/II

Istirahat yang cukup, pola makan yang sehat kurangi lemak, perbanyak
makan buah dan olahraga teratur.

Edukasi mengenai faktor resiko dan komplikasi hipertensi jika tidak


berobat dan tidak minum obat secara teratur

Pasien dianjurkan minum obat teratur dan kontrol setelah obat habis

Apabila terdapat keluhan segera memeriksakan diri ke puskesmas atau ke


dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
Saat kunjungan rumah (Kamis, 27 Agustus2015), Pasien merasa

keluhannya berkurang, obat diminum apabila pusing kambuh. Keluhan pusing dan
susah tidur berkurang berkurang, keadaan kesehatan pasien baik, dan aktivitas
harian berlangsung seperti biasa.

Faktor pendukung:

Pasien telah mengurangi faktor resiko yang ada, dengan tidak


mengkonsumsi MSG, mengurangi konsumsi garam.

Faktor penghambat:

Pasien tidak rutin mengkonsumsi obat yang diberikan dokter


puskesmas, karena merasa keluhan sakitnya semakin membaik dan
pasien tidak pernah kontrol lagi.Obat kembali diminum jika
keluahannya kambuh.

Pasien baru kontrol kembali hanya jika mengalami keluhan (keluhan


pusing, pegal didaerah tengkuk dan sulit tidur).
20

PERMASALAHAN PADA PASIEN


Tabel 3. Tabel Permasalahan Pada Pasien

No. Resiko & masalah kesehatan


1. Tekanan darah yang terlalu
tinggi

Rencana pembinaan
Permberian obat hipertensi dan

Sasaran
Pasien dan

tata cara minum obat serta

keluarga

edukasi mengenai faktor resiko,


komplikasi jika tidak diobati dan
2.

Gaya hidup tidak sehat (suka

jika berobat secara tidak teratur.


Mengedukasi dan memberikan

Pasien dan

3.

mengkonsumsi makanan asin)


Merasa belum begitu penting

contoh diet untuk hipertensi


Memberi penjelasan bahwa

keluarga
Pasien dan

untuk rutin minum obat.

penggunaan obat yang tidak

keluarga

sesuai dengan petunjuk dokter


tidak akan memberikan efek
terapi seperti yang diharapkan
Menjelaskan bahwa penyakit
hipertensi adalah penyakit yang
perlu diterapi seumur hidup agar
dapat terkontrol & tidak
menimbulkan komplikasi
IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA
a. Fungsi Biologis
Dari wawancara dengan pasien diperoleh keterangan bahwa pasien memiliki
riwayat darah tinggi sejak 2013 tahun yang lalu. Penderita hanya minum obat
yang diresepkan oleh Puskesmas 2 tahun yang lalu, pasien tidak pernah
kontrol dan tidak rutin minum obat hanya bila pusing saja.
b. Fungsi Psikologis
Hubungan pasien dengan anak pasien kurang memperhatikan satu sama lain.
c. Fungsi Ekonomi
Biaya kebutuhan sehari-hari pasien dipenuhi oleh dirinya sendiri, bekerja
sebagai petani di sawah miliknya sendiri. Setiap bulan pasien memiliki
penghasilan rata-rata perbulan sekitar Rp 300.000. Uang tersebut dipakai
untuk biaya sehari-hari pasien dan anaknya.
21

d. Fungsi Pendidikan
Pasien tamat SD. Anak penderita berpendidikan SMP.
e. Fungsi Religius
Pasien dan keluarga memeluk agama Islam, menjalankan ibadah agama secara
rutin (shalat dan mengaji). Penerapan nilai agama dalam keluarga baik. Pasien
mengikuti acara pengajian yang rutin.
f. Fungsi Sosial dan Budaya
Pasien dan keluarga tinggal di Desa Sidosari. Penderita tinggal di rumah milik
sendiri. Hubungan dengan tetangga sekitar baik. Pasien masih dapat
mengerjakan pekerjaan rumah tangga.Penderita aktif dalam kegiatan
keorganisasian desa.
POLA KONSUMSI PASIEN
Frekuensi makan rata rata setiap harinya 3x/hari dengan menu makan
bervariasi, tidak minum susu. Variasi makanan sebagai berikut : nasi, lauk
( tahu, tempe), sayur (terong, bayam, kangkung, daun singkong dan daun
pepaya), air minum (air putih dan teh manis). Pasien jarang mengkonsumsi
ikan-ikanan maupun daging. Air minum berasal dari air PAM yang dimasak
sendiri.
IDENTIFIKASI

FAKTORFAKTOR

YANG

MEMPENGARUHI

KESEHATAN
a. Faktor Perilaku
Pasien adalah seorang kepala rumah tangga. Saat sakit, biasanya mengobati
sendiri dengan obat warung. Akan tetapi apabila tidak kunjung membaik,
maka pasien akan berobat ke mantri, ataupun Puskesmas. Pendanaan
kesehatan dengan biaya JAMKESMAS. Pasien mengaku tidak pernah
berolahraga, aktivitas sehari-hari bertani. Pasien mengaku senang sekali
makan makanan yang asin, namun sejak tahu dirinya mempunyai sakit darah
tinggi mulai mengurangi makanan tersebut. Pasien rajin mengikuti aktifitas
sosial berupa pengajian yang diadakan di RT nya.
b. Faktor Lingkungan
22

Pasien tinggal dalam rumah dengan alas semen, ada jendela diruang tamu
saja, kondisi rumah disiang hari gelap dan pengap. Dapur mempunyai
saluran pembuangan asap. Sumber air dari PAM dan dimasak sebelum
dikonsumsi. Saluran pembuangan air limbah ada, kebiasaan buang air besar
di jamban di rumah, ada pembuangan sampah.
c. Faktor Sarana Pelayanan Kesehatan
Terdapat Puskesmas Pancar dengan jarak3 km. Pasien pergi berobat sendiri.
d. Faktor Keturunan
Ibu pasien menderita hipertensi.
IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH
a. Gambaran Lingkungan Rumah
Rumah

pasien terletak di Desa Sidosari, Kecamatan Salaman,

Kabupaten Magelang, dengan ukuran luas rumah 5x 3 m2, bentuk


bangunan 1 lantai. Secara umum gambaran rumah terdiri dari 3 kamar
tidur. 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga, tidak adaruang makan, 1 dapur dan
kamar mandi di bagian samping rumah. Rumah mempunyai langit-langit,
dinding terbuat dari tembok, lantai dari bahan semen. Penerangan dalam
rumah dan kamar kurang baik rumah menjadi gelap dan terasa lembab.
Ventilasi dan jendelakurang memadai, cahaya matahari yang masuk pintu
dan jendela depan tidak cukup untuk menerangi rumah. Sumber air bersih
dari air PAM untuk minum, cuci dan masak. Bangunan dapur tidak
permanen berlantaikan tanah berdindingkan anyaman bamboo dan
kebersihan dapur kurang baik. Pembuangan air limbah menggunakan
septitank dibelakang rumah. Tempat sampah utama di belakang rumah.
Lingkungan di sekitar rumah pasien kurang bersih. Halaman depan tidak
dimanfaatkan oleh pasien.

23

b. Denah Rumah
Halaman depan
Teras
Ruang tamu

Ruang
keluarga

Kamar
tidur

Kamar
tidur

Kamar
tidur
Gambar 2. Denah
Rumah

Dapur
Kamar mandi

DIAGNOSIS FUNGSI KELUARGA


a. Fungsi Biologis
Pasien pernah menderita penyakit ini sebelumnya.

Ibu pasien menderita hipertensi.

b. Fungsi Psikologis
Hubungan pasien dengan keluarga dan tetangga terjalin cukup baik.
Dalam pengambilan keputusan dilakukan bersama dengan anak pasien.
c. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan
Pasienbekerja sebagai petani di sawah milik sendiri, penggunaannya
efisien, pembiayaan kesehatan dengan jaskesmas, pembiayaan sehari-hari
ditanggung pasien sendiri.
d. Fungsi Religius dan Sosial Budaya

Termasuk keluarga yang taat beragama.

Tidak terdapat keterbatasan hubungan beragama antara pasien dan


masyarakat.
24

Pasien masih dapat mengerjakan pekerjaan rumah tangga


danbekerja di sawahb , namun saat pasien sakit pasien tidak mampu
mengerjakan hal tersebut.

e. Faktor Perilaku
Setiap ada anggota keluarga yang sakit akan dirawat sendiri sebisanya
apabila tidak sembuh akan segera dibawa berobat ke puskesmas, terkadang
dibawa berobat ke dokter menggunakan biaya sendiri. Pasien tidak pernah
melakukan kegiatan olahraga ataupun rekreasi.
DIAGRAM REALITA YANG ADA PADA KELUARGA

Genetik

ibu

pasien

menderita

hipertensi
Status
kesehatan

Yankes

Lingkungan

Transportasi (+)

Perilaku

Kebiasaan makan-makanan asin

Jarang berolahraga

Tidak teratur minum obat

Tidak rutin kontrol

Gambar 3. Diagram Realita

25

PEMBINAAN DAN HASIL KEGIATAN


Tabel 4. Pembinaan dan Hasil Kegiatan

Tanggal

24Agustus
2015
27Agustus
2015

Kegiatan yang dilakukan

Melakukan pemeriksaan kepada


pasien

Memberikan penjelasan
mengenai penyakit yang
diderita pasien kepada
pasien dan keluarga
Memberikan penjelasan
mengenai faktor resiko
hipertensi dan komplikasi
hipertensi dan komplikasi
jika tidak minum obat
secara teratur.
Menjelaskan faktor resiko
penyakit hipertensi yang
ada pada pasien.
Memberikan informasi
mengenai tanda bahaya
yang harus diwaspadai pada
pasien hipertensi seperti
tiba-tiba tidak sadar,
pandangan tiba-tiba kabur,
tiba-tiba kencing menjadi
sedikit, atau nyeri dada
harus segera dibawa ke
Puskesmas

Keluarga
Hasil Kegiatan
yang
terlibat
Pasien dan Mendapatkan diagnosis kerja
keluarga
pasien
Pasien dan Pasien dan keluarga
keluarga
pasien dapat memahami
mengenai
penyakit
tekanan darah tinggi.
Pasien dan Pasien dan keluarga
keluarga
pasien dapat memahami
penjelasan
yang
diberikan dan pasien
akan berusaha untuk
mengubah pola makan.
Pasien dan Pasien dan keluarga
keluarga
dapat mengetahui faktor
resiko dari hipertensi
Pasien dan
Keluarga
mengerti
keluarga
tanda bahaya yang
harus diwaspadai pada
pasien.
Keluarga akan sering
menengok
keadaan
pasien.

KESIMPULAN PEMBINAAN KELUARGA


1. Tingkat pemahaman: Pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan ,
dapat diterima dengan baik.
2. Faktor pendukung :
-

Pasien dan keluarga dapat memahami dan menangkappenjelasan yang


diberikan tentang hipertensi dan pola hidup sehat.

Sikap keluarga yang kooperatif dan keinginan untuk hidup sehat.

26

Transportasi menuju layanan kesehatan tidak terganggu karena anak dan


istri siap mengantar.

3. Faktor penyulit :
-

Perilaku suka makan makanan asin

Perilaku yang merasa dirinya tidak sakit sehingga tidak mau kontrol dan
berobat secara teratur.

4. Indikator keberhasilan : Pasien dapat memperbaiki pola hidup sehat (waktu


mengurangi makan asin) , dan mulai mencoba mengkonsumsi obat anti
hipertensi secara teratur

BAB 4
27

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Penatalaksanaan pasien penyakit Hipertensi, dengan pendekatan kedokteran
keluarga adalah sebagai berikut :
Dengan terapi medikamentosa berupa captopril 25 mg 3x perhari.Terapi
edukasi yang diberikan adalah edukasi mengenai penyakit darah tinggi
(hipertensi), faktor resiko, komplikasi penyakit, komplikasi jika tidak minum obat
teratur serta penanganan penyakit tersebut, agar merubah pola hidup sehari-hari
menjadi lebih sehat dan olahraga teratur, minum obat teratur. Apabila terdapat
keluhan segera memeriksakan diri ke puskesmas atau ke dokter untuk mendapat
penanganan lebih lanjut.
Pembinaan yang diberikan terhadap pasien dan keluarga meliputi melakukan
pemeriksaan kepada pasien dan mengamati keadaan kesehatan rumah dan
lingkungan sekitar, memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga pasien
mengenai penyakit hipertensi (darah tinggi) serta faktor-faktor resiko penyakitnya
seperti gaya hidup tidak sehat serta mengedukasi pasien dan keluarga untuk
menghindari faktor resiko dan cara penanggulangan apabila penyakitnya kambuh
kembali. Pembinaan juga meliputi penyakit penyakit yang dapat terjadi
berhubungan dengan usia dan kesehatan rumah.
B. SARAN
Untuk mencegah timbulnya gejala tekanan darah tinggi kembali, maka
diharapkan

pasien

dapat

menghindari

faktor

resiko

timbulnya

gejala,

menyarankan agar anak penderita meluangkan waktu untuk mengantar pasien


kontrol ke Puskesmas dan mengawasi pasien untuk meminum obat danjika ada
keluhan yang mengarah ke komplikasi bisa segera diatasi. Selain itu, disarankan
untuk melakukan pemeriksaan EKG, Lab seperti tes fungsi ginjal, kolesterol, dan
gula darah.

DAFTAR PUSTAKA

28

1. Sidabutar, R. P., Wiguno P. Hipertensi Essensial. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II.
Jakarta: Balai Penerbit FK-UI; 1999. p: 210.
2. A. Tjokronegoro dan H. Utama.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam II. In: E. Susalit,
E.J. Kapojos, dan H.R. Lubis ed. Hipertensi Primer. Jakarta: Gaya Baru; 2001.
p: 453-456.
3. Hipertensi. WHO. 2001. [Diakses pada: 3 September 2015]. Diunduh dari:
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21480/5/Chapter%20I.pdf)
4. American Heart Association. Internacional Cardiovascular Disease Statistic
[internet]. c2004. Available from: http://americanheart.org/
5. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Riset Kesehatan Jawa
Tengah.

2007

[internet].

c2008.

Available

from:

http://www.dinkesjatengprov.go.id/
6.Sheldon G. Sheps. Mayo Clinic Hipertension (Terjemahan). Jakarta: Intisari
Mediatama; 2005. p: 26, 158.
7.Ross C. Brownson, Patrick L. Remington, James R. davis, High Blood Pressure in
Chronic Disease Epidemiology and Control. SecondEdition, American Public
Health Assosiation: 262-264.
8. Mosterd Arend, D Agostino Ralph B, Silbershatz Halit, et.al.Trends in the
Prevalens of Hypertension, Antihypertensive terapy, and left Ventricular
Hypertrophy from 1950 to 1989.1999; 1221-1222. nejm.org.
9. Anonim. Hipertensi. 2015. Tersedia dalam : http://medicastore.com/penyakit/
4/Tekanan_Darah_Tinggi_Hipertensi.html
10.Arif Mansjoer, dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I : Nefrologi dan Hipertensi.
Jakarta: Media Aesculapius FKUI; 2001. p: 519-520.
11. Hendi. Hipertensi dan Rosella [internet].c2008. Available from:

http://rohaendi.blogspot.com/2008/02/hipertensi-dan-rosella.html

12.M. Yogiantoro. Hipertensi Esensial. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI;
2006. p: 599-601.

13.

Wahyuni,

A.

S.

Pelayanan

Dokter

Keluarga.

(Diunduh

dari:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3535/1/fk_arlinda%20sari.pdf)

29

Lampiran : Dokumentasi

30