Anda di halaman 1dari 15

I.

DASAR TEORI
Spektrofotometri merupakan teknik analisis yang berhubungan dengan penggunaan

1.1 SPEKTROFOTOMETRI

cahaya untuk mengukur konsentrasi bahan kimia. Metode spektrofotometri telah diaplikasikan secara luas di dalam kimia analisis kuantitatif, analisis lingkungan, farmasetik, klinik, forensik, biomedik, dan industri. Spektrofotometri derivatif merupakan metode manipulatif terhadap spektra pada spektrofotometri ultraviolet dan cahaya tampak. Pada spektrofotometri konvensional, spektrum serapan merupakan plot serapan (A) terhadap panjang gelombang (). Pada metode spektrofotometri derivatif, plot A lawan , ditransformasikan menjadi plot dA/d lawan untuk derivatif pertama, dan d2A/d2 lawan untuk derivatif kedua, dan seterusnya. Panjang gelombang serapan maksimum suatu senyawa pada spektrum normal akan menjadi zero crossing pada spektrum derivatif pertama. Panjang gelombang tersebut tidak mempunyai serapan atau dA/d = 0. Metode spektrofotometri derivatif dapat digunakan untuk analisis kuantitatif zat dalam campuran dimana spektrumnya mungkin tersembunyi dalam suatu bentuk spektrum besar yang saling tumpang tindih dengan mengabaikan proses pemisahan zat yang bertingkat-tingkat. Dengan demikian metode ini dapat dilakukan lebih sederhana dengan waktu analisis yang lebih cepat dan biaya yang dibutuhkan lebih murah (Hayun, 2006). Untuk suatu larutan yang mengandung dua komponen yang menyerap, x dan y, serapan atau absorbansi ( A ) diukur pada dua panjang gelombang. Ketelitian yang tinggi didapatkan dengan memilih panjang gelombang yang serapannya maksimal karena dengan pergeseran sedikit pada kurva serapan tidak menyebabkan perubahan absorbansi yang terlampau jauh. Pada metode spektrofotometri derivatif, jumlah komponen dalam campuran dapat mencapai 8 komponen dengan syarat selisih panjang gelombang maksimum antara komponen minimal 5 nm. Jika jumlah komponen dalam sampel lebih dari 3 maka untuk menghitung kadar digunakan software multikomponen yang terdapat pada alat spektrofotometer UV-Vis (Fatah, 2008). Kadar larutan campuran dua zat dapat ditentukan dengan metode spektrofotometri. Namun jika bila tidak dipisahkan terlebih dahulu maka spektrum komponen-komponennya sering saling tumpang tindih (overlapping). Jika dikehendaki pengukuran tanpa pemisahan, dapat dilakukan dengan metode spektrofotometri ultraviolet derivatif, dimana kadarnya diukur pada panjang gelombang zero crossing (Widjaja dan Laksmiani, 2009).
1|L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

Bila panjang gelombang zero crossing masing-masing senyawa tidak sama dengan panjang gelombang pada serapan maksimumnya, maka penetapan kadar campuran dua senyawa dapat dilakukan tanpa pemisahan terlebih dahulu. Akan tetapi apabila panjang gelombang zero crossing masing-masing senyawa sama dengan panjang gelombang pada serapan maksimumnya akan terjadi pelebaran pita, sehingga kurva derivatif pertama tidak akan membantu pemisahan spektranya. Pada situasi tersebut maka dicoba derivatif kedua ( Fatah, 2008 ). Penentuan kadar parasetamol perlu dilakukan dengan menggunakan metode

spektrofotometri derivatif karena serapan maksimum dari parasetamol dan berada pada panjang gelombang yang berdekatan. Hal ini menyebabkan terjadinya tumpang tindih (overlapping) spektrum secara total. Metode spektrofotometri derivatif dapat digunakan untuk meningkatkan pemecahan puncak yang saling tumpang tindih tersebut sehingga parasetamol dapat ditetapkan kadarnya. Penetapan kadar parasetamol secara spektrofotometri derivatif dapat dilakukan dengan menggunakan metode zero crossing dan metode peak to peak ( Wulandari, 2008 ). A. Metode Zero Crossing Pada metode zero crossing spektra serapan normal salah satu konsentrasi dari masingmasing senyawa atau komponen dibuat spektra derivat pertama, derivat kedua dan derivat ketiga dengan menggambarkan selisih absorban dua panjang gelombang berdekatan vs harga rata-rata dua panjang gelombang tersebut. Dari spektra derivat tersebut ditentukan panjang gelombang zero crossing komponen, dimana zero crossing masing-masing zat ditunjukkan oleh panjang gelombang yang memiliki serapan nol pada berbagai konsentrasi. Apabila suatu campuran zat memiliki memiliki zero crossing lebih dari satu, maka yang dipilih untuk dijadikan analisis adalah zero crossing yang : 1. Serapan senyawa pasangannya dan campurannya persis sama, karena pada tersebut dapat secara selektif mengukur serapan senyawa pasangannya. 2. Memiliki serapan yang paling besar, karena pada serapan yang paling besar, serapannya lebih stabil sehingga kesalahan analisis dapat diperkecil (Hayun, 2006).

2|L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

B. Metode Peak-to-Peak Spektrum serapan larutan baku teofilin dan sampel dibuat spektrum derivatif pertama. Spektrum derivatif pertama dibuat dengan memplotkan dA/d terhadap panjang gelombang (). Amplitudo diperoleh dari selisih serapan 2 panjang gelombang yang berderet teratur dibagi , dalam hal ini adalah 1 nm. Panjang gelombang peak-to-peak ditentukan dari penggabungan spektrum derivatif larutan baku teofilin dan sampel. Dari hasil penggabungan spektrum derivatif tersebut, dicari daerah panjang gelombang dimana terdapat spektrum yang saling berhimpitan satu sama lain secara total yang menghasilkan puncak maksimum dan puncak minimum. 1.2 PARACETAMOL Paracetamol memiliki nama lain Acetaminophen atau N-Acetylpaminophenol N-(4Hydroxyphenyl)acetamide. Berat molekulnya 151,2. Berupa kristal putih atau terdiri dari serbuk kristal. Titik didihnya dalam air berkisar antara 169.0 to 170.5. Paracetamol sedikit larut dalam air dingin, sangat larut dalam air panas, larut dalam etanol, metanol, dimetilformamide, etilene diklorida, aseton, dan etil asetat; sedikit larut dalam eter dan kloroform; serta tidak larut dalam petrolium eter, pentane dan benzene. Larutan asam encer245 (A11=668a); Larutan basa encer257 nm (A11=715a) ( Anonim, 2005 ) Parasetamol atau asetaminofen dengan rumus kimia C8H9NO2 merupakan obat yang berfungsi meredakan nyeri dan penurun panas. Obat ini dapat dijumpai dalam bentuk tunggal dan berkombinasi dengan obat lain misalnya flu atau batuk. Dalam dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut atau mengganggu gumpalan darah, ginjal atau duktus arteriosus pada janin. Overdosis penggunaan parasetamol yaitu Kadar dalam darah antara 4-10 jam setelah minum obat, yang mencapai 300 g/ml dapat menyebabkan kerusakan hati. Parasetamol sejumlah 10-15 gram dapat menyebabkan nekrosis hepatoseluler berat dan kadangkadang nekrosis tubuli ginjal.

Parasetamol mengandung tidak kurang dari 98% dan tidak lebih dari 1001,0% C8H9NO2. Parasetamol mempunyai wujud berupa serbuk hablur berwarna putih tidak berbau dan mempunyai rasa yang pahit. Parasetamol larut dalam 70 bagian air dan 7 bagian etanol (95%), dalam 13 bagian aseton, dalam 40 bagian gliserol dan dalam 9 bagian propilenglikol, dan larut dalam larutan alkalihidroksida. Parasetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran
3|L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu 1/2 jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar ke sluruh cairan tubuh. Dalam plasma, 25 % parasetamol terikat oleh protein plasma.

II. ANALISIS DATA

1. Prosedur Percobaan
Alat dan Bahan :
Spektrofotometer UV-Vis Labu Takar Pipet volume / gondok Gelas Ukur Beaker Glass Batang Pengaduk Corong Kaca

Prosedur Kerja : A. Pembuatan larutan NaOH 0,01 N


1. Ambil larutan NaOH 1 N sebanyak 5 ml dengan gelas ukur. 2. Lalu dipipet dengan pipet volume sebanyak 1 ml. 3. Encerkan dengan aquadest dalam labu takar ad 500 ml, kocok homogen. 4. Lalu masukkan kedalam beker glass dan beri label Blanko NaOH 0,01 N

B. Pembuatan Larutan Baku Pembanding


1. Masukkan kertas perkamen kosong kedalam timbangan elektrik. Lalu catat berat kertas perkamen kosong tersebut (bobot sebelum kertas ditara). 2. Timbang dengan seksama Paracetamol baku. 3. Paracetamol yang telah ditimbang dimasukkan kedalam labu takar 100 ml 4. Larutkan dengan NaOH 0,01 N ad tanda 100 ml, kocok selama 15 menit.
4|L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

5. Saring larutan yang diperoleh dengan kertas saring, lalu masukkan kedalam beker glass. 6. Pipet 1 ml filtrate yang diperoleh, masukkan kedalam labu takar 100. 7. Encerkan dengan NaOH 0,01 N ad tanda. Kocok homogen. 8. Beri label Larutan Baku Pembanding. 9. Ukur absorbansi larutan baku pada panjang gelombang 257 nm.

C. Pembuatan Persiapan Sampel


1. Timbang 20 tablet sampel Paracetamol satu-persatu. Ditimbang dengan timbangan analisis dan hasil pengamatan dicatat. 2. Hitung bobot rata-rata Tablet Paracetamol. 3. 20 Tablet Paracetamol diserbukkan dengan mortir dan stamper hingga halus dan menjadi sampel serbuk. 4. Sampel serbuk ditimbang dengan timbangan analisis. 5. Sampel setara dengan 75,0 mg Paracetamol. 6. Penimbangan sampel = bobot rata-rata x kesetaraan kadar etiket

5|L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

Skema Kerja Persiapan Sampel :


20 tablet diserbukkan dengan mortir dan stamper Ditimbang dengan timbangan analisis dan hasil pengamatan dicatat Bobot rata-rata Tablet

Sampel Serbuk

Ditimbang dengan timbangan analisis

Sampel setara dengan 75,0 mg Parasetamol

Penimbangan sampel = bobot rata-rata x kesetaraan Kadar etiket

D. Pembuatan Larutan Sampel


1. Sampel yang sudah ditimbang dimasukkan kedalam labu takar 100 ml. 2. Larutkan dengan NaOH 0,01 N ad tanda, kocok hingga homogen dan larut. 3. Saring larutan yang diperoleh dengan kertas saring di beker glass. 4. Pipet 1 ml filtrate yang diperoleh, masukkan kedalam labu takar 100 ml. 5. Encerkan dengan NaOH 0,01 N ad tanda. Kocok homogen. 6. Beri label Larutan Sampel 7. Ukur absorbansi larutan sampel pada panjang gelombang 257 nm.

6|L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

E. Cara Menjalankan Alat Spektrofotometri


Prosedur secara umum dalam menjalankan Spektro adalah sebagai berikut : 1. Bilas cuvet dengan larutan NaOH minimal sebanyak 2 kali. Kemudian cuvet di lap dengan tissue secara perlahan. Pada bagian cuvet yang sisi bening tidak boleh dipegang. 2. Isi cuvet jangan sampai penuh dengan blanko NaOH. Masukkan cuvet kedalam alat dengan posisi yang benar. Pada bagian bening menghadap kearah sumber cahaya.

3. Nyalakan alat switch power ON 4. Ganti kuvet blanko dengan kuvet baku pembanding atau sampel 5. Baca hasil Absorban atau T pada skala meter/digital.

7|L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

III. Pengolahan Data (Perhitungan)


Perhitungan dalam pembuatan larutan baku Untuk membuat larutan baku, dengan cara timbang parasetamol baku dengan rumus :

Bobot kertas perkamen kosong + bobot parasetamol baku = bobot yang harus ditimbang

Dalam praktikum data yang kami peroleh : Bobot kertas perkamen kosong = 0,3545 g Bobot parasetamol baku = 0,075 g +

bobot yang harus ditimbang

= 0,4295 g

Setelah menghitung bobot yang harus ditimbang selanjutnya hitung bobot parasetamol yang sebenarnya dengan rumus : bobot yang harus ditimbang bobot kertas perkamen setelah penimbangan = bobot parasetamol yang sebenarnya

Dalam praktikum data yang kami peroleh : bobot yang harus ditimbang = 0,4295 g

bobot kertas perkamen setelah penimbangan = 0,3561 g

bobot parasetamol yang sebenarnya

= 0,0734 g

Perhitungan dalam pembuatan larutan sampel Untuk membuat larutan sampel, pertama timbang satu per satu tablet parasetamol sebanyak 20 tablet.

8|L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

Dalam praktikum data yang kami peroleh : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Bobot parasetamol di pasaran 0,6147 g 0,5983 g 0,5968 g 0,5834 g 0,6045 g 0,6064 g 0,6003 g 0,5981 g 0,5932 g 0,6048 g 0,6007 g 0,5944 g 0,6034 g 0,6120 g 0,6065 g 0,6040 g 0,5863 g 0,5996 g 0,6028 g 0,6052 g

Jumlah

11,4151 g

9|L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

Bobot rata-rata 20 tablet : Jumlah 20 tablet parasetamol 20 = 11,4151 g 20 = 0,571 g

Penimbangan sampel = bobot rata-rata 20 tablet x bobot parasetamol Kadar parasetamol = 0,571 g x 0,075 g 0,500 g = 0,08565 g Jadi sampel yang ditimbang sebanyak = 0,08565 g ~ 0.0857 g Untuk menghitung bobot parasetamol yang sebenarnya terlebih dahulu hitunglah jumlah parasetamol dengan rumus :

Dalam praktikum data yang kami peroleh : Bobot kertas perkamen kosong = 0,3363 g Bobot sampel yang ditimbang = 0,0857 g +

Jumlah parasetamol sampel

= 0,4220 g

Bobot parasetamol sampel yang sebenarnya = jumlah parasetamol sampel bobot kertas perkamen setelah penimbangan Bobot parasetamol sampel yang sebenarnya = 0,4220 g 0,3541 g = 0,0679 g

10 | L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

Perhitungan kadar parasetamol dengan menggunakan alat spektrofotometri :

Data yang diperoleh saat praktikum : Diketahui : Jenis sampel Larutan baku Larutan sampel Panjang gelombang 256,0 nm 257,0 nm Absorban 0,7725 0,7305

Ditanya : hitunglah kadar zat aktif sampel ? Jawab : Kadar zat aktif sampel = Br x As x Fs x Bp Bu Ab Fb

= 571 mg x 0,7305 x 10.000 ml x 75 mg 85,7 mg 0,7725 10.000 ml

= 472,776 Jadi kadar parasetamol = 472,776 x 100 % = 94,55 % 500

Keterangan : Br = bobot rata-rata sampel Bu = bobot sampel yang ditimbang As = absorban sampel Ab = absorban baku Fs = faktor pengenceran larutan sampel Fb = faktor pengenceran larutan baku Bp = bobot baku pembanding
11 | L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

IV. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini penetapan kadar dengan metode spektrofotometri bertujuan untuk menentukan kadar parasetamol (C8H9NO2) dalam larutan sampel x yang tidak diketahui dengan metode spektrofotometri. Prinsipnya adalah pengukuran parasetamol pada panjang gelombang maksimum yang ditentukan yaitu 257 nm, setelah larutan sampel yang mengandung parasetamol dilakukan pengenceran. Penentuan parasetamol dibagi menjadi beberapa tahapan. Tahapan tersebut antara lain pembuatan larutan baku, pengenceran larutan sampel, dan pengukuran dengan spektrofotometer UV. Pada metode penetapan kadar dengan metode spektrofotometri ini digunakan NaOH sebagai blanko dikarenakan paracetamol larut dalam NaOH. Larutan NaOH 0,01 N dibuat dengan cara : 1. Ambil larutan NaOH 1 N sebanyak 5 ml dengan gelas ukur. 2. Lalu dipipet dengan pipet volume sebanyak 1 ml. 3. Encerkan dengan aquadest dalam labu takar ad 500 ml, kocok lalu masukkan ke dalam beker glass. Larutan baku parasetamol dibuat dengan cara : 1. Timbang sebanyak 0,075 g parasetamol murni kemudian larutkan dengan NaOH 0,01 N ad 100 ml. 2. Kemudian saring larutan tersebut dengan menggunakan kertas saring. 3. Beri label Baku I, pipet sebanyak 1 ml kemudian encerkan dengan NaOH 0,01 N sampai tanda tera pada labu ukur 100 ml. 4. Kemudian tuang ke dalam beker glass, beri label Baku II Larutan baku parasetamol dibuat dengan cara : 1. Masukkan 0,0857 g sampel paracetamol yang ada di pasaran, kemudian tambahkan NaOH 0,01 N ad 100 ml. 2. Saring larutan tersebut dengan menggunakan kertas saring, beri label sampel I. 3. Dari larutan tersebut dipipet sebanyak 1 ml kemudian diencerkan dengan NaOH 0,01 N sampai tanda tera pada labu ukur 100 ml dan beri label Sampel II.

12 | L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

Tahapan selanjutnya yaitu pengukuran menggunakan spektrofotometer daerah UV. Syarat suatu zat bisa diukur dengan spektro UV adalah harus mempunyai gugus kromofor. Gugus kromofor adalah suatu gugus yang mempunyai ikatan selang-seling. Pengukuran pertama dilakukan terhadap blanko yaitu NaoH 0,01 N. Blanko adalah larutan yang mendapat perlakukan sama dengan analat tetapi tidak mengandung komponen analat. Blanko dibuat untuk mengetahui besarnya serapan yang disebabkan oleh zat yang bukan analat, baik hanya pelarut untuk melarutkan atau mengencerkan ataupun pelarut dan pereaksi tertentu yang ditambahkan. Selisih nilai serapan analat (Aa) dengan nilai serapan blanko (Ab) menunjukkan serapan yang disebabkan oleh komponen alat. Pengukuran kedua dilakukan terhadap larutan baku. Setelah dilakukan pengukuran ternyata absorbansinya 0,7725. Dan yang terakhir adalah pengukuran larutan sampel. Absorbansi yang didapat adalah 0,7305. Sehingga persentase kadar sebenarnya dari sampel paracetamol yang ada di pasaran setelah diuji didapat sebesar 94,55 %. Persentase kadar yang diperoleh tidak tepat 100 % , hal ini dapat disebabkan karena kemungkinan pada saat melarutkan paracetamol belum larut seluruhnya. Melarutkan paracetamol minimal 1 jam dengan menggunakan alat atau 15 menit dengan menggunakan tangan. Kemungkinan kesalahan dalam penimbangan 20 tablet. Cara melarutkan belim larut seluruhnya, cara memipet , cara membilas , harus bersih.

13 | L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum penentuan kadar tablet paracetamol dengan menggunakan metode spektrofotometri dapat disimpulkan : 1. Pembuatan larutan baku dengan cara menimbang sebanyak 0,075 g parasetamol murni kemudian dilakukan pengenceran dengan NaOH 0,01 N. 2. Sedangkan larutan sampel dibuat dengan cara memasukkan 0,0857 g sampel paracetamol yang ada di pasaran kemudian dilakukan pengenceran dengan NaOH 0,01 N. 3. Panjang gelombang maksimum ( maks) Baku Pembanding adalah 256,0nm dengan absorban 0,7725. 4. Panjang gelombang maksimum ( maks) larutan sample Paracetamol adalah 257,0nm dengan absorban 0,7305. 5. Kadar rata-rata larutan sampel parasetamol pada praktikum kali ini adalah 94,55 %.

14 | L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V

VI. DAFTAR PUSTAKA

15 | L a p o r a n P r a k t i k u m K i m i a S p e k t r o f o t o m e t r i U V