Anda di halaman 1dari 21

REAKSI SUBSTITUSI

Reaksi Substitusi Nukleofilik


Reaksi substitusi nukleofilik terdiri dari tiga jenis reaksi yaitu reaksi substitusi
nukleoflik unimolekuler (S
N
1), reaksi substitusi nukleofilik bimolekuler (S
N
2), serta reaksi
substitusi nukleofilik internal (S
N
i). Dalam praktikum ini, reaksi substitusi nukleofilik yang
dilakukan adalah reaksi substitusi nukleofilik unimolekuler (S
N
1). Reaksi S
N
1 teramati dari
pelarut yang digunakan yaitu pelarut polar (HCl). Selain digunakan sebagai pelarut, HCl juga
digunakan sebagai nukleofil (Nu
-
) atau reagen dalam reaksi substitusi nukleofilik ini.
Tahap pertama yang dilakukan dalam praktikum reaksi substitusi nukleofilik ini
adalah pendinginan larutan HCl pekat yang bertujuan untuk mempertahankan larutan HCl
pekat tetap berada pada fase cair. Pentingnya larutan HCl pekat dalam fase cair karena
apabila tidak didinginkan, maka larutan HCl akan berubah fase menjadi gas (menguap).
Menguapnya HCl dapat mengakibatkan berkurangnya jumlah HCl yang nantinya akan
digunakan sebagai pelarut dan reaktan (Nukleofil), sehingga berdampak pada sedikitnya hasil
reaksi yang akan terbentuk.
Hal lainnya yang menandakan bahwa reaksi substitusi nukleofilik yang terjadi adalah
reaksi S
N
1 adalah adalah substrat yang digunakan (t-butil alkohol) memiliki rintangan sterik
yang besar (atom C yang mengikat OH merupakan atom C tersier). Dengan besarnya
rintangan sterik, maka reaksi S
N
1 ini memerlukan waktu yang lama, sehingga diperlukan cara
untuk dapat mempercepat reaksi S
N
1 ini. Cara untuk mempercepat reaksi S
N
1 dalam
praktikum ini adalah menambahkan substrat (t-butil alkohol) secara perlahan-lahan (tetes
demi tetes) ke dalam larutan HCl pekat, sambil dibantu dengan pengocokan secara rutin.
Pada saat pengocokan dengan menggunakan corong pisah ini, sesekali keran corong dibuka
untuk menghindari tekanan yang terlau tinggi di dalam corong karena terbentuknya gas HCl
berlebih.
Setelah semua t-butil alkohol ditambahkan, kemudian campuran didiamkan beberapa
saat (dalam praktikum ini selama 7 hari), sehingga terbentuk 2 lapisan pada corong pisah.
Lapisan yang terbentuk ini pada bagian atas adalah lapisan t-butil klorida (berat jenis 0,78 g
cm
-3
) , sedangkan pada bagian bawah adalah HCl (berat jenis 1,19 g cm
-3
). Mekanisme reaksi
S
N
1 dari t-butil alkohol menjadi t-butil klorida adalah sebagai berikut.
C
O
H
3
C CH
3
CH
3
H
C
O
H
3
C
CH
3
CH
3
H H
Cl
C
O
H
3
C
CH
3
CH
3
H H
-H
2
O
C H
3
C
CH
3
CH
3
Cl
C H
3
C
CH
3
CH
3
Cl
H

Gambar 5.1 Mekanisme Reaksi S
N
1 dari t-butil alkohol menjadi t-butil klorida
Dari kedua lapisan yang terpisah tadi, lapisan yang digunakan adalah lapisan t-butil
klorida (lapisan atas), sehingga lapisan bawah (HCl) dipisahkan. Larutan t-butil klorida
kemudian dicuci dengan menggunakan air yang bertujuan menghilangkan sisa-sisa HCl yang
kemungkinan masih ada pada lapisan t-butil klorida tadi. Setelah dicuci, larutan kembali
dibiarkan terpisah menjadi dua lapisan, dimana lapisan bawah adalah lapisan air dengan
kontaminan HCl, dan lapisan atas adalah lapisan t-butil klorida. Lapisan yang digunakan
adalah lapisan atas, namun perlu dibersihkan kembali karena kemungkinan masih ada HCl
yang tersisa dengan menggunakan larutan natrium bikarbonat. Reaksi yang terjadi adalah
sebagai berikut.
NaHCO
3(aq)
+ HCl
(aq)
NaCl
(aq)
+ H
2
O
(aq)
+ CO
2(g)

Terbentuknya gas CO
2
ditandai dengan adanya gelembung-gelembung pada larutan yang
dicampur dengan Natrium Bikarbonat tadi.
Untuk memperoleh t-butil klorida yang murni (bebas dari kontaminan), maka langkah
berikutnya yang dilakaukan adalah dengan menambahkan zat anhidrat ke dalam lapisan t-
butil klorida. Penambahan zat anhidrat bertujuan untuk menghilangkan/mengikat air yang
masih ada di dalam lapisan t-butil klorida. Zat anhidrat yang digunakan adalah tembaga sulfat
(CuSO
4
), karena CuSO
4
dapat dengan jelas dilihat apabila sudah mengikat air yang ada pada
t-butil klorida. Perubahan yang terjadi ketika semua air telah diikat oleh CuSO
4
adalah ketika
CuSO
4
tidak berubah warna menjadi biru lagi ketika dimasukkan ke dalam t-butil klorida.
Untuk menguji kemurnian dari t-butil klorida yang terbentuk, maka t-butil klorida
harus didistilasi pada suhu antara 49 52
0
C. Suhu distilasi yang digunakan pada praktikum
ini adalah 50
0
C, dimana pada suhu tersebut, t-butil klorida yang dihasilkan sudah benar-benar
murni dan larutan yang ada pada labu dasar bulat sudah tidak menguap lagi. Warna larutan t-
butil klorida murni yang terbentuk adalah tidak berwarna (bening).
Volume t-butil klorida yang terbentuk pada praktikum ini adalah sebanyak 2,3 mL.
Secara teoritis, volume t-butil klorida yang harusnya terbentuk adalah sebanyak 5 mL. tidak
terbentuknya t-butil klorida sebanyak 5 mL kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal yaitu
sebagai berikut.
1. Pendinginan HCl yang kurang sempurna pada awal praktikum, sehingga HCl yang
bereaksi dengan t-butil alkohol berjumlah sedikit. Hal ini berdampak pada jumlah
produk yang sidikit pula.
2. Pengocokan yang tidak optimal mengakibatkan reaksi yang terjadi tidak berjalan
dengan optimal.
3. Pemisahan yang kurang akurat karena kelalaian dari praktikan, sehingga
kemungkinan beberapa t-butil klorida ikut dengan lapisan HCl yang dipisahkan.
4. t-butil klorida yang terbentuk sebagian telah menguap ke lingkungan, karena titik
didih t-butil klorida yang rendah (51
0
C).
Dari banyaknya t-butil klorida yang terbentuk, maka rendemennya adalah sebagai berikut.
Rendemen = % 100
teoritis klorida butil - t volume
diperoleh yang klorida butil - t volume
x
= % 100
0 , 5
3 , 2
x
mL
mL

Rendemen = 46 %
Cara berikutnya untuk menguji kemurnian dari t-butil klorida yang terbentuk, adalah dengan
menguji indeks biasnya menggunakan refraktometer. Indeks bias dari t-butil klorida yang
terbentuk adalah sebesar 1,3828. Secara teoritis, indeks bias dari t-butil klorida adalah
sebesar 1,3860. Jika dibandingkan dengan nilai indeks bias t-butil klorida yang dihasilkan
pada praktikum ini, maka t-butil klorida yang dihasilkan adalah t-butil klorida yang sudah
murni karena nilai indeks biasnya yang tidak berbeda jauh dengan t-butil klorida teoritis.


V.2 Reaksi Substitusi Elektrofilik
Pada praktikum ini, reaksi substitusi elektrofilik yang dilakukan adalah nitrasi pada
senyawa aromatik. Gugus elektrofil NO
2
+
pada reaksi ini dibuat dengan mencampurkan asam
nitrat pekat dengan asam sulfat pekat. Campuran ini harus tetap dijaga berada dalam fase cair,
dengan cara pendinginan dengan air es. Berubahnya fase campuran dari cair menadi gas
dapat menyebabkan gugus elektrofil NO
2
+
berkurang, sehingga pada akhirnya dapat
mengurangi jumlah produk yang dihasilkan.
Nitrasi senyawa aromatik yang dilakukan pada praktikum ini adalah menggunakan
senyawa aromatik berupa bromobenzena. Bromobenzena yang yang ditambahkan ke dalam
gugus elektrofil adalah 0,025 mol. Pembuatan 0,025 mol bromobenzena adalah sebagai
berikut.
Massa bromobenzena yang digunakan = g 3,925 g/mol 157 x mol 025 , 0 =
Volume bromobenzena yang digunakan = mL 2,63
g/mL 1,49
g 3,925
=
dengan demikian, bromobenzena yang digunakan adalah sebanyak 2,63 mL.
Penambahan bromobenzena ke dalam gugus elektrofil dilakukan sedikit demi sedikit
agar bromobenzena benar-benar tercampur dengan gugus elektrofil. Agar campuran homogen
juga dilakukan dengan bantuan pengocokan. Selama penambahan bromobenzena ini, suhu
campuran dijaga pada 50 55
0
C dengan tujuan agar reaksi dapat berlangsung sempurna.
Mekanisme reaksi yang terjadi pada pembentukan nitro bromobenzena dari bromobenzena
adalah sebagai berikut.
1. Pembentukan elektrofil (E
+
)
H
2
SO
4
+ H N
O
O
O
H
O
O
O
N
H
+ HSO
4
-
H
O
O
O
N
H
NO
2
+
+
H
2
O






2. Serangan Elektrofil (E
+
)
+ NO
2
+
Br
NO
2
H
Or
Br
H NO
2
Br


3. Pelepasan H
+

+ HSO
4
-
Br
NO
2
H
Br
NO
2
Br
H NO
2
+
HSO
4
-
Br
NO
2
dan

Setelah adisi berlangsung sempurna, kemudian campuran dibiarkan pada suhu
dibawah 50
0
C selama 30 menit. Kemudian, campuran didinginkan kembali dalam suhu
kamar, lalu dicuci dengan air dingin, disaring, dan dikeringkan. Tujuan dari pendinginan ini
adalah agar Kristal yang terbentuk lebih cepat dan lebih baik, sehingga terbentuk kristal
nitrobromobenzena. Kristal nitrobromobenzena yang terbentuk pada praktikum ini adalah
sebanyak 4,732 gram.
Kristal nitrobromobenzena yang terbentuk ini kemudian kembali dilarutkan
menggunakan etanol 95% panas sampai semua kristal larut. Setelah larutan dibiarkan dingin,
terbentuklah kristal 4-bromonitrobenzena. Kristal 4-bromonitrobenzena ini kemudian
disaring, dan filtratnya ditampung sebagai induk cairan 1. Kristal 4-bromonitrobenzena yang
disaring ini kemudian dicuci ,menggunakan alkohol dingin, dengan tujuan menghilangkan
kandungan air yang masih berada pada kristal. Filtrat dalam campuran ini kembali ditampung
sebagai induk cairan 2.
Induk cairan 1 dan 2 kemudian dicampur lalu diuapkan dalam penangas air sampai
volumenya menjadi 1/3 nya. Sisa dari penguapan ini kemudian didinginkan sehingga kembali
tebentuk Kristal 4-bromonitrobenzena. Kristal 4-bromonitrobenzena ini kemudian dicuci
dengan alkohol dingin agar kandungan airnya hilang. Kristal 4-bromonitrobenzena ini
dicampur dengan Kristal 4-bromonitrobenzena sebelumnya dan diperoleh beratntnya adalah
sebanyak 4,2322 gram. Secara teoritis, berat kristal yang terbentuk adalah seberat 5,075
gram, dengan perhitungan sebagai berikut:
Mol nitrobromobenzena = mol bromobenzena = 0,025 mol
Massa nitrobromobenzena yang terbentuk = 0,025 mol x 203 g/mol = 5,075 gram
Rendemen dari Kristal 4-bromonitrobenzena pada praktikum ini adalah:
Rendemen = % 100
ritis benzen teo nitrobromo - 4 kristal berat
diperoleh yang benzen nitrobromo - 4 kristal berat
x
= % 33 , 87 % 100
g 075 , 5
g 4322 , 4
= x
Untuk menguji kemurnian dari kristal 4-bromonitrobenzena pada praktikum ini,
dilakukan pengujian terhadap titik leleh kristal 4-bromonitrobenzena. Titik leleh dari Kristal
4-bromonitrobenzena adalah sebesar 125
o
C. Titik leleh dari Kristal 4-bromonitrobenzena ini
tidak terlalu berbeda jauh dengan titik leleh p-nitrobromobenzena secara teoritis yaitu sebesar
127
o
C. Hal ini menunjukkan bahwa kristal yang didapat adalah kristal 4-nitrobromobenzena
yang cukup murni.

REAKSI OKSIDASI-REDUKSI
Reaksi oksidasi adalah reaksi yang digunakan untuk membedakan antara alkohol
primer, sekunder, dan tersier. Suatu alkohol primer dapat dioksidasi menjadi aldehid atau
asam karboksilat. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton saja. Sedangkan pada
alkohol tersier menolak terjadinya reaksi oksidasi (Fessenden, 1997). Oksidasi terhadap
alkohol menggunakan bahan pengoskidasi (oksidator) kuat, yang dalam praktikum ini
digunakan kalium dikromat (K
2
Cr
2
O
7
) dengan bilangan oksidasi Cr adalah +6, dengan warna
larutan orange. Untuk menstabilkan kalium dikromat yang digunakan sebagai oksidator
dalam praktikum ini, maka terlebih dahulu larutan kalium dikromat diasamkan dengan
menggunakan asam sulfat (H
2
SO
4
) pekat. Hal ini dilakukan karena kalium dikromat
(K
2
Cr
2
O
7
) lebih stabil dalam suasana asam dibandingkan dalam suasana basa. Selain itu,
natrium atau kalium dikromat dalam suasana asam merupakan oksidator yang kuat. Reaksi
yang terjadi antara kalium dikromat (K
2
Cr
2
O
7
) dan H
2
SO
4
adalah sebagai berikut.
K
2
Cr
2
O
7
+ H
2
SO
4
K
2
SO
4
+ H
2
Cr
2
O
7

Pada praktikum ini, alkohol yang akan dioksidasi adalah sikloheksanol (C
6
H
11
OH).
Sikloheksanol merupakan alkohol sekunder (2
0
) yang dapat dioksidasi menjadi keton
(sikloheksanon). Pada praktium ini, sikloheksanol dioksidasi oleh kalium dikromat menjadi
sikloheksanon. Reaksi oksidasi sikloheksanol menjadi sikloheksanon adalah sebagai berikut.
OH
Na
2
Cr
2
O
7
+ H
2
SO
4
O
+ H
2
O

Mekanisme reaksi oksidasi sikloheksanol menjadi sikloheksanon adalah sebagai berikut.
O
H
H
:O
O
+ H
2
O

Untuk mengoptimalkan hasil reaksi, maka suhu dijaga tetap pada suhu 55
0
C. Pada
pencampuran sikloheksanol dengan larutan kalium dikromat dalam suasana asam, larutan
berubah warna dari berwarna orange menjadi berwarna hijau. Warna hijau yang terbentuk ini
disebabkan oleh ion Cr
6+
pada K
2
Cr
2
O
7
yang mengalami reduksi menjadi Cr
3+
yang berwarna
hijau. Reaksi reduksi ion Cr
6+
pada K
2
Cr
2
O
7
menadi ion Cr
3+
adalah sebagai berikut.
Cr
2
O
7
2-
(aq)
+ 14H
+
+ 6e 2Cr
3+
(aq)

+ 7H
2
O
(l)


(orange) (hijau)
Untuk mereduksi kelebihan dikromat pada reaksi, ditambahkan larutan oksalat ke dalam
campuran. Kemudian, campuran dicuci dengan menggunakan air sehingga terbentuk dua
lapisan dimana lapisan atas adalah sikloheksanon yang belum murni dengan berat jenis 0,95
dan lapisan bawah adalah air dengan berat jenis 1,0. Setelah dicuci dengan menggunakan air,
kemudian lapisan atas yang berisi sikloheksanon ditampung dan diekstraksi sebanyak 3 kali
dengan menggunakan eter.
Ekstraksi bertingkat (berkali-kali) bertujuan untuk memperoleh ekstrak sikloheksanon
yang lebih banyak. Sedangkan, tujuan penggunaan eter sebagai bahan pengekstrak
sikloheksanon adalah karena eter merupakan pelarut organic yang dapat melarutkan bahan
organic seperti sikloheksanon, sehingga terbentuk dua lapisan dimana lapisan atas adalah
sikloheksanon yang terlarut dalam eter (bening dengan sedikit pengotor) dengan berat jenis
0,71 dan lapisan bawah adalah air dengan berat jenis 1,0.
Untuk menghilangkan pengotor yang ada pada sikloheksanon yang terlarut dalam
eter, larutan dicuci dengan larutan natrium bikarbonat. Pada penambahan larutan natrium
bikarbonat, kembali terbentuk dua lapisan, dimana lapisan atas adalah sikloheksanon yang
larut dalam eter, dan lapisan bawah adalah larutan natrium bikarbonat. Lapisan yang
digunakan untuk langkah selanjutnya adalah lapisan atas, dimana lapisan atas adalah larutan
bening yang sudah bersih tanpa pengotor.
Untuk menghilangkan kadar air yang masih terkandung di dalam sikloheksanon,
maka air diserap menggunakan zat anhidrat yaitu CuSO
4
. Penggunaan CuSO
4
sebagai
penyerap air dikarenakan CuSO
4
yang berwarna putih bila menyerap air akan berubah warna
menjadi biru. Setelah air dalam larutan habis, maka CuSO
4
tidak mengalami perubahan
warna menjadi biru lagi (tetap putih). Dengan kata lain, penggunaan CuSO
4
sebagai penyerap
air dikarenakan kemudahan dalam mengamati telah habisnya air, yang ditandai dengan tidak
berubahnya warna CuSO
4
saat dimasukkan ke dalam larutan sikloheksanon dalam eter.
Setelah kandungan air sudah habis, untuk menghilangkan pelarut (eter) yang
digunakan dilakukan proses destilasi. Destilasi adalah teknik pemisahan campuran yang
didasarkan atas perbedaan titik didih antara dua buah zat yang bercampur tersebut. Titik didih
eter adalah berkisar antara 34-35
0
C, sehingga eter dapat dipisahkan pada suhu tersebut.
Sedangkan, titik didih sikloheksanon adalah berkisar antara 152-155
0
C, sehingga
sikloheksanon murni akan diperoleh pada suhu tersebut. Dalam destilasi, destilat pertama kali
menetes pada suhu 34
0
C, yang menandakan bahwa destilat tersebut adalah eter, karena titik
didih eter adalah 34
0
C. kemudian, destilat pada suhu 34
0
ini ditampung, sampai sisa larutan
pada labu dasar bulat tinggal tersisa beberapa mL lagi. Suhu kemudian naik secara perlahan,
sampai pada suhu 161
0
C, terdapat tetesan destilat pada penampung, yang menandakan bahwa
destilat tersebut adalah sikloheksanon. Destilat yang dihasilkan ini ditampung dan diukur
volumenya. Volume sikloheksason yang diperoleh adalah 4,6 mL. Berdasarkan data ini,
maka rendemen dapat dihitung dengan :


Sikloheksanol ( = 0,94 g/mL) :
- Massa sikloheksanol = vol. Sikloheksanol x
= 6,926 mL x 0,94 g/mL = 6,5104 g
- Mol sikloseksanol =
Mr
nol sikloheksa massa

=
g/mol 100,16
g 5104 , 6
= 0,065 mol
Reaksi yang terjadi:
C
6
H
11
OH + Cr
2
O
7
2-
C
6
H
11
O + Cr
3+
+ H
2
O
Berdasarkan reaksi di atas, mol sikloheksanon = mol sikloheksanol = 0,065 mol
Sikloheksanon :
- Massa sikloheksanon secara teoriris = mol sikloheksanon x Mr
= 0,065 mol x 99 g/mol
= 6,435 g
- Volume sikloheksanol ( = 0,95 g/mL) yang dihasilkan adalah 4,6 mL
- Massa sikloheksanon = volume sikloheksanon x
= mL x 0,95 g/mL
= 4,37 g
- Rendemen hasil praktikum = % 100
teoritis secara non sikloheksa massa
diperoleh yang non sikloheksa massa

= % 100
g 6,435
g 370 , 4

= 67,91%
Untuk memastikan kemurnian sikloheksanon yang dihasilkan pada praktikum ini,
maka dilakukan uji indeks bias. Indeks bias sikloheksanon pada praktikum ini adalah 1,4500,
sedangkan indeks bias sikloheksanon teoritis adalah 1,4507. Tingginya indeks bias
sikloheksanon yang terukur disebabkan karena suhu kamar saat praktikum lebih dari 25
0
C.
Suhu mempengaruhi indeks bias dari suati zat semakin tinggi suhu maka indeks biasnya
semakin besar pula. Hal ini disebabkan pada suhu yang besar jarak antara molekul semakin
meregang. Tekanan juga mempengaruhi indeks bias semakin rendah tekanan maka indeks
bias semakin meningkat. Dari data tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
sikloheksanon yang dihasilkan pada praktikum ini adalah murni.

REAKSI ELIMINASI
Alkohol sekunder (2
0
) dapat dieliminasi menghasilkan senyawa alkena dengan cara
melepaskan molekul air yang ada pada alkohol sekunder tersebut. Reaksi eliminasi dengan
melepaskan molekul air ini juga sering disebut reaksi dehidrasi. Reaksi eliminasi
merupakan kebalikan dari reaksi adisi. Pada reaksi eliminasi ini, molekul senyawa yang
berikatan tunggal (ikatan jenuh) berubah menjadi senyawa berikatan rangkap (ikatan tak
jenuh) dengan melepaskan molekul yang kecil. Eliminasi alkohol sekunder akan
menghasilkan senyawa alkena dengan melepaskan molekul air.
Pada praktikum ini, substrat yang digunakan adalah sikloheksanol (C
6
H
11
OH).
Sikloheksanol merupakan alkohol sekunder, yaitu alkohol dimana gugus OH terikat pada
atom C sekunder (atom C yang mengikat dua gugus alkil). Sikloheksanol yang digunakan
pada praktikum ini yaitu sebanyak 10 gram atau 10,6 mL, karena masa jenis () dari
sikloheksanol adalah 0,94 g/mL. Sedangkan, zat yang digunakan untuk mengeliminasi
sikloheksanol adalah asam fosfat. Asam fosfat terdiri dari ion H
+
dan ion fosfat. Ion fosfat
merupakan basa lewis yang kuat.
Dalam reaksi eliminasi ini, asam fosfat berperan sebagai katalis (pemercepat reaksi),
dan juga bertujuan agar reaksi yang berlangsung adalah dominan reaksi eliminasi. Hal ini
dikarenakan untuk alkohol sekunder, reaksi eliminasi bersaing dengan reaksi substitusi (S
N
2)
sehingga akan dihasilkan produk yang berbeda. Reaksi eliminasi akan berlangsung dominan
dibandingkan dengan substitusi jika basa lewis yang digunakan adalah basa lewis yang kuat
dan suhu reaksi berlangsung tinggi. Oleh karena itu, pada reaksi eliminasi ini digunakan asam
fosfat sebagai zat pengeliminir dan campuran dipanaskan pada labu didih. Selain bertujuan
agar reaksi yang terjadi adalah reaksi eliminasi, pemanasan campuran sikloheksanol dengan
asam fosfat juga bertujuan mempercepat dan menyempurnakan reaksi.
Reaksi eliminasi sikloheksena merupakan reaksi eliminasi bimolekuler (E
2
). Reaksi
ini berlangsung dalam satu langkah. Pada proses ini terjadi pengurangan proton dari karbon
dan pengusiran gugus pergi yaitu ion OH
-
dari karbon serta pembentukan ikatan rangkap
secara stimultan. Laju reaksi ini dipengaruhi oleh jenis substrat dan kekuatan basa yang
digunakan. Sikloheksanol memiliki dua buah karbon pada posisi . Penyerangan ion fosfat
dapat terjadi pada kedua karbon tersebut, sehingga terjadi dua kemungkinan mekanisme
reaksi yang terjadi. Mekanisme reaksi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.



Mekanisme I :
H
H
H
OH
B

o
|
sikloheksanol
sikloheksena
H
H
+ H
2
O + HB


Mekanisme II :
H
OH
B
-
H
H
|
o
sikloheksanol sikloheksena
H
+ H
2
O + HB
H

dimana HB adalah katalis yang lepas kembali berupa asam fosfat.
Kedua mekanisme di atas menggambarkan bahwa ion basa lewis menyerang atom H
yang terletak pada karbon- dan pada posisi berlawanan dengan gugus yang akan menjadi
gugus pergi (-OH). Hal ini terjadi sesuai dengan prinsip reaksi eliminasi yaitu prinsip anti-
koplanar. Prinsip anti-koplanar menyatakan bahwa atom H yang diserang adalah atom H
yang terletak pada satu bidang dengan x (-OH) dan jarak yang terjauh. Tujuannya yaitu untuk
menghasilkan sikloheksena dalam posisi trans. Posisi trans lebih stabil dibandingkan dengan
posisi cis.
Dalam praktikum ini, campuran dalam labu yang dipanaskan langsung dihubungkan
dengan kolom fraksinasi dan pendingin Leibeg, yang bertujuan agar sikloheksena yang
terbentuk dapat langsung terpisah dengan campuran. Prinsip pemisahan ini adalah destilasi
bertingkat. Destilasi bertingkat dipilih karena perbedaan titik didih yang dekat antara dua
larutan yang ingin dipisahkan (air dengan titik didih 100
0
C, serta sikloheksena dengan titik
didih 83
0
C). Oleh karena itu, dalam proses destilasi yang terlebih dahulu keluar sebagai hasil
destilasi (destilat) adalah sikliheksena. Sedangkan zat-zat lainnya seperti air, sikloheksanol,
dan asam fosfat yang titik didihnya lebih besar akan menguap kemudian, namun setelah
uapnya mencapai kolom fraksinasi uap tersebut mengalami kondensasi dan turun kembali ke
campuran.
Suhu yang terukur saat destilat menetes adalah 67
0
C, yang terus konstan sampai
campuran yang terdapat dalam labu 3,5 mL. Pemanasan kemudian dihentikan, destilat
didinginkan untuk menghindari penguapan destilat yang diperoleh. Setelah proses
didinginkan, destilat kemudian ditambahkan 10 mL ksilena yang bertujuan untuk
mengekstrak sikloheksena yang ada pada campuran. Ksilena digunakan sebagai zat
pengekstrak sikloheksena karena ksilena dan sikloheksena sama-sama bersifat non polar.
Proses penarikan zat-zat sejenis ini disebut dengan kohesi. Penambahan ksilena menghasilkan
campuran yang saling tidak saling melarut, karena ada dua lisan yaitu lapisan polar dan non
polar. Lapisan non polar (sikloheksena dalam ksilena) ada di bagian atas, sedangkan lapisan
polar (air dan asam fosfat) berada pada bagian bawah. Campuran kemudian didestilasi
kembali, dengan tujuan untuk pemurnian sikloheksena yang diperoleh. Destilasi
dilangsungkan sampai volume larutan sikloheksena dalam ksilena tersisa setengahnya.
Destilat yang diperoleh kemudian dicuci dengan 10 mL air, yang bertujuan untuk
melarutkan ion fosfat yang masih terkandung dalam hasil reaksi dan memisahkan ion fosfat
dengan sikloheksena. Sikloheksena tidak melarut dengan air karena bersifat non polar
sehingga akan terbentuk dua lapisan. Lapisan bawah adalah air yang melarutkana ion fosfat,
sedangkan lapisan atas adalah sikloheksena. Kedua lapisan ini dipisahkan dengan
menggunakan corong pisah.
Untuk memastikan bahwa tidak ada air lagi dalam lapisa sikloheksena tadi, digunakan
zat yang dapat mengikat air yaitu CuSO
4
anhidrat. Penggunaan CuSO
4
sebagai penyerap air
dikarenakan CuSO
4
yang berwarna putih bila menyerap air akan berubah warna menjadi biru.
Setelah air dalam larutan habis, maka CuSO
4
tidak mengalami perubahan warna menjadi biru
lagi (tetap putih). Dengan kata lain, penggunaan CuSO
4
sebagai penyerap air dikarenakan
kemudahan dalam mengamati telah habisnya air, yang ditandai dengan tidak berubahnya
warna CuSO
4
saat dimasukkan ke dalam larutan sikloheksena. Kemudian, larutan didekantasi
untuk memisahkan CuSO
4
yang sudah mengikat air tadi dengan sikloheksena.
Untuk menguji kemurnian sikloheksena, dilakukan uji titik didh dan uji indeks bias.
Titik didih sikloheksena berdasarkan literatur (pada tekanan 1 atm) adalah 83
0
C. Namun pada
praktikum diperoleh suhu dimana mulai diperoleh destilat adalah pada 82
0
C. perbedaan titik
didih ini kemungkinan disebabkan tekanan udara yang lebih rendah dari 1 atm. Sedangkan,
indeks bias yang terukur adalah 1,450 (literature 1,445). Tingginya indeks bias sikloheksanon
yang terukur disebabkan karena suhu kamar saat praktikum lebih dari 25
0
C. Suhu
mempengaruhi indeks bias dari suati zat semakin tinggi suhu maka indeks biasnya semakin
besar pula. Hal ini disebabkan pada suhu yang besar jarak antara molekul semakin meregang.
Tekanan juga mempengaruhi indeks bias semakin rendah tekanan maka indeks bias semakin
meningkat. Selain itu juga, perbedaan indeks bias ini menunjukkan bahwa sikloheksena yang
diperoleh kemurniannya masih dibawah 100%. Sikloheksena yang diperoleh kemudian
ditimbang. Massa sikloheksena yang diperoleh adalah 4,9561 g. Berdasarkan data hasil
percobaan ini, kemudian dapat dihitung rendemen dari produk seperti berikut ini.
Perhitungan secara teoritis :
Reaksi : C
6
H
11
OH C
6
H
10
+ H
2
O
Vol sikloheksanol : 10,6 mL (: 0,94 g/mL)
Massa sikloheksanol = nol sikloheksa V.
= 10,6 mL x 0,94 h/mL
= 9,964 g
Mol sikloheksanol =
nol sikloheksa Mr
nol sikloheksa massa

=
g/mol 100
g 964 , 9

= 0,09964 mol
Jadi, secara teoritis mol sikloheksanol = mol sikloheksena, maka secara teoritis mol
sikloheksena adalah 0,09964 mol.
Massa sikloheksena secara teoritis = mol sikloheksena x Mr sikloheksena
= 0,09964 mol x 80 g/mol
= 7,9712 g
Massa sikloheksena yang diperoleh yaitu 4,9561 g
- Rendemen hasil praktikum = 100% x
teoritis secara na siklohekse massa
praktikum hasil na siklohekse massa

= 100%
g 7,9712
g 9561 , 4

= 62,18 %
ISOMERISASI GEOMETRI

Pada percobaan ini, asam maleat yang digunakan adalan asam maleat anhidrat, dimana asam
maleat anhidrat yang digunakan sebanyak 7,5222 gram. Pertama yang dilakukan adalah asam
maleat anhidrat dilarutkan dalam 10 mL air mendidih sambil diaduk, sehingga seluruh
padatan asam maleat anhidrat larut dan larutan yang dihasilkan bening. Larutan ini kemudian
didinginkan dalam penangas es dengan suhu 20
o
C dan terbentuk endapan berwarna putih
dan masih terdapat larutan tidak berwarna (bening) tadi. Reaksi pelarutan asam maleat
anhidrat dengan air mendidih sampai terbentuknya padatan asam maleat adalah sebagai
berikut.
C C
H
C
H
C
O
O O
H
2
O
100
o
C
C C
H
C
C
H
O
OH
O
OH
Asam Maleat
dalamlarutan
C C
H
C
C
H
O
OH
O
OH
padatan AsamMaleat
20
o
C
AsamMaleat
Anhidrat

Penggunaan penangas es dengan suhu 20
o
C pada saat pembentukan padatan asam
maleat dikarenakan asam maleat bersifat sangat mudah mengendap dalam air dingin (
20
o
C), sehingga suhu diatur sedemikian rupa agar tidak kurang dari 20
0
C. Mudahnya asam
maleat mengendap dalam air dingin dikarenakan asam maleat bersifat tidak stabil pada suhu
tersebut, sehingga pada suhu 0
o
C seluruh asam maleat akan mengendap. Hal ini
mengakibatkan diperlukannya pengaturan suhu sedemikian rupa agar tidak seluruh asam
maleat mengendap. Suhu yang dikondisikan pada praktikum ini adalah 20
0
C, yang bertujuan
agar tidak seluruhnya kristal asam maleat akan mengendap, karena filtratnya akan digunakan
untuk dibuat menjadi isomer geometri dari asam maleat yaitu asam fumarat.
Langkah berikutnya yaitu kristal yang terbentuk disaring menggunakan corong
Buchner. Penggunaan corong Buchner bertujuan untuk mempercepat proses penyaringan.
Penyaringan menghasilkan jumlah filtrat (bening) yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan
dengan kristal asam maleat (kristal putih) yang terbentuk. Kristal asam maleat atau endapan
yang disaring sebelumnya kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven sebelum
ditentukan titik lelehnya. Tujuan pengeringan adalah untuk menghilangkan kandungan air
yang mungkin masih tersisa pada endapan, agar saat ditentukan titik lelehnya, titik leleh dari
kristal asam maleat tidak dipengaruhi oleh kandungan air yang ada.
Setelah dikeringkan, kemudian kristal asam maleat ditentukan titik lelehnya. Titik
leleh asam maleat ditentukan dengan menggunakan melting block (balok logam). Titik leleh
asam maleat yang diperoleh yaitu 130,5
0
C, dengan rentang mulai meleleh ampai habis
meleleh adalah 0,5
0
C. Hal ini menandakan bahwa asam maleat yang ditentukan titik lelehnya
tersebut merupakan asam maleat murni tanpa adanya kantaminan dan air yang mempengaruhi
titikleleh asam maleat. Selain itu berdasarkan teori, titik leleh asam maleat adalah 130,5
0
C,
sesuai dengan hasil pengamatan.
Setelah endapan hasil penyaringan tadi diukur titik lelehnya, kemudian langkah
berikutnya yang dilakukan yaitu merefluks filtrat hasil penyaringan tadi. Refluks dilakukan
dengan cara filtrat yang masih mengandung asam maleat dimasukkan ke dalam labu alas
bulat 50 mL, kemudian ditambahkan 7,5 mL asam klorida pekat. Mekanisme reaksi yang
terjadi ketika asam maleat ditambahkan larutan HCl pekat dan dipanaskan dengan merefluks
adalah sebagai berikut.
C C
C
H H
C
O
OH O
OH
+ HCl
C C
H
C H
C O
OH
O
HO
C C
C
H H
C
HO
OH O
OH
C C
C
H H
C
HO
OH O
OH
C C
H
C H
C O
OH
O
O H H
C C
H
C H
C O
OH
O
O H H
C C
H
C H
C O
OH
O
HO
+ H
+
AsamMaleat
AsamFumarat
AsamFumarat

Campuran tersebut kemudian direfluks selama 10 menit, sehingga terbentuk endapan
berwarna putih. Endapan tersebut adalah kristal asam fumarat, dimana asam maleat
membentuk kesetimbangan dengan asam fumarat ketika asam maleat dipanaskan dengan
asam klorida.
C C
H
C
C
H
O
OH
O
OH
AsamMaleat
dalamlarutan
C C
H
H
C
C
O
OH
AsamFumarat
O
HO
H
+
ref luks

Larutan yang sudah direfluks kemudian didinginkan dalam suhu ruangan dan disaring
menggunakan corong Buchner. Hasil dari penyaringan kemudian direkristalisasi dengan
menggunakan air panas. Air panas yang digunakan adalah sebanyak 60 mL, karena endapan
yang dhasilkan adalah sebanyak 5 gram (1 gram endapan direkristalisasi dengan 12 mL air
panas). Tujuan penggunaan air panas adalah untuk memisahkan asam fumarat murni dari
pengotornya. Filtrat murni yang diperoleh kemudian dikisatkan sehingga diperoleh endapan
atau Kristal asam fumarat.
Pada saat mengkisatkan, dilakukan pemanasan namun dalam pemanasan filtrat tidak
boleh sampai mendidih, karena akan merusak bentuk kristal asam fumarat. Setelah
dipanaskan, filtrat dalam cawan penguap dikejutkan dengan cara menempelkan dasar cawan
penguap pada es batu sehingga endapan yang diperoleh lebih banyak.
Sebelum asam fumarat disaring, kertas saring yang digunakan menyaring ditimbang
terlebih dahulu agar berat kertas saring tidak ikut terukur. Berat kertas saring adalah 0,9012
gram. Endapan yang terbentuk disaring menggunakan corong Buchner serta kertas saring
yang telah ditimbang dan dikeringkan. Tujuan pengeringan adalah untuk menghilangkan
kandungan airnya agar tidak mempengaruhi berat asam fumarat yang dihasilkan dan tidak
mempengaruhi penentuan titik leleh asam fumarat.
Asam fumarat yang dihasilkan setelah pengeringan dengan oven tampak seperti
kristal putih. Kemudian kristal tersebut ditimbang dan menghasilkan berat 5,8221 gram.
Dengan demikian, berat asam fumarat yang dihasilkan adalah berat kristal dan kertas saring
dikurangi dengan berat kertas saring. Dari perhitungan diperoleh berat asam fumarat 4,9209
gram.
Titik leleh asam fumarat ditentukan dengan menggunakan melting block (balok
logam). Data hasil percobaan diperoleh titik leleh asam fumarat yaitu diatas 237
0
C.
Berdasarkan teori, titik leleh asam fumarat adalah 302
0
C. Karena keterbatasan alat
(thermometer) dan waktu maka pengukuran titik leleh asam fumarat dihentikan sampai
237
0
C.
Langkah terakhir yang dilakukan adalah menghitung berat asam fumarat untuk
mencari persentase rendemennya. Massa asam maleat anhidrat = 7,5222 gram dan Mr asam
maleat anhidrat = 98,03 gram/mol. Dengan demikian, maka mol asam maleat anhidrat adalah:
Mol asam maleat anhidrat = 07673 , 0
03 , 98
5222 , 7
= =
mol
g
g
Mr
gram
mol
Mr asam maleat hidrat adalah 116,03 gram/mol. Massa asam maleat pada larutan adalah
0,07673 mol x 116,03 gram/mol = 8,903 gram. Berdasarkan teori, kelarutan asam maleat
dalam air adalah 7,9 gram/10 mL pada suhu 20
o
C. Jadi, endapan asam maleat yang diperoleh
adalah 8,903 gram 7,9 gram = 1,003 gram. Dengan demikian, mol asam maleat hidrat
adalah:
Mol asam maleat hidrat = 0086 , 0
03 , 116
003 , 1
= =
mol
g
g
Mr
gram
mol
Mol asam maleat yang akan digunakan pada persamaan asam fumarat adalah mol asam
maleta anhidrat dikurangi mol asam maleat hidrat (0,07673 mol 0,0086 mol = 0,06813
mol). Dalam teori, mol asam maleat mol asam fumarat sehingga:
9051 , 7
03 , 116

06813 , 0 = = =
mol
g
gram
fumarat asam Mr
fumarat asam massa
mol gram
Massa asam fumarat berdasarkan teori adalah 7,9051 gram sedangkan massa asam fumarat
berdasarkan hasil percobaan adalah 4,9209 gram.
Mol asam fumarat = 0424 , 0
03 , 116
9209 , 4
= =
mol
g
g
Mr
gram
mol
% rendemen = 25 , 62 % 100
9051 , 7
9209 , 4
% 100

= = x
g
g
x
teori massa
eksperimen massa
%
Berkurangnya jumlah asam fumarat dari hasil teori dapat disebabkan oleh beberapa hal,
diantaranya :
a. belum semua asam klorida bereaksi dengan asam maleat membentuk asam fumarat
b. Pada saat mendinginkan kemungkinan larutan asam maleat suhunya lebih kecil dari
20
0
C sehingga lebih banyak asam


KAFEIN
Kafein adalah suatu senyawa organik yang mempunyai nama lain 1,3,7- trimetixantin.
Kristal kafein dalam air berupa jarum-jarum bercahaya sutra. Bila tidak mengandung air,
kafein meleleh pada 234
0
C sampai 239
0
C dan menyublim pada suhu yang lebih rendah
(Frieda, dkk., 2004). Secara alamiah, kafein terdapat pada biji kopi, daun teh, daun mente,
biji kola, dan coklat.
C
N
C
O
CH
3
O
CH
3
N
N
CH
3
H

Struktur Kafein
Pada praktikum ini, kafein diisolasi dari serbuk kopi Banyuatis yang diperoleh di Pasar Anyar
Singaraja. Serbuk kopi Banyuatis merupakan kopi yang termasuk ke dalam kelas kopi
Robusta karena memiliki bau yang keras dan khas.
Isolasi kafein dari serbuk kopi pertama-tama dilakukan dengan cara sebanyak 20
gram kopi halus dicampurkan dalam 350 mL aquades kemudian dipanaskan selama 45 menit.
Tujuan pemanasan adalah untuk melarutkan kafein, karena kafein mudah larut dalam air
panas serta didasarkan oleh kelarutan kafein yang semakin meningkat seiring bertambahnya
suhu air, yaitu 22mg/mL pada 25
0
C, 180 mg/mL pada 80
0
C, dan 670 mg/mL pada 100
0
C.
Pemanasan yang dilakukan pada serbuk kopi halus dilakukan dengan cara refluks. Refluks
yaitu pemanasan larutan dengan menggunakan pendinginan. Keuntungan pemanasan dengan
menggunakan refluks adalah cocok digunakan untuk bahan-bahan yang mempunyai tekstur
kasar dan tahan terhadap pemanasan langsung seperti serbuk kopi. Selain itu, penggunaan
metode refluks dalam isolasi kafein dari serbuk kopi karena refluks cocok untuk reaksi-reaksi
yang berlangsung pada suhu tinggi (kafein memiliki titik didih 178
0
C dan titik lelehnya 234-
239
0
C). Salah satu bagian dalam set alat refluks yaitu pendingin Liebing. Prinsip kerjanya
yaitu air masuk dari selang bawah dan keluar dari selang atas. Hal ini bertujuan untuk
memaksimalkan proses refluks, sebab tekanan air dari bawah ke atas akan lebih
menyempurnakan proses refluks dibandingkan tekanan air dari atas ke bawah (Anonim,
2010).
Langkah berikutnya yang dilakukan setelah campuran bubuk kopi dan aquades
dipanaskan dalam refluks adalah campuran tersebut disaring menggunakan corong Buchner
dalam keadaan panas. Penyaringan dilakukan dalam keadaan panas karena kafein sedikit larut
dalam air dingin, sehingga apabila penyaringan dilakukan dalam keadaan dingin, maka kafein
akan kembali mengendap yang pada akhirnya menyebabkan kafein akan tersaring oleh
corong Buchner (ada sebagai residu). Dalam penyaringan digunakan corong Buchner yang
bertujuan untuk mempercepat proses penyaringan. Proses penyaringan harus dilakukan lebih
cepat karena untuk menghindari larutan menjadi dingin karena dengan dinginnya larutan
maka kafein akan kembali mengendap. Selain itu, penyaring Buchner digunakan untuk proses
penyaringan yang tidak dapat dilakukan dengan penyaring biasa. Penyaringan biasa
dilakukan dengan memanfaatkan gaya grafitasi, sedangkan pada penyaring Buchner, filtrat
dipisahkan dari sistem campuran dengan cara disedot atau divakum.
Untuk memisahkan bahan lain yang ada di dalam serbuk kopi seperti tanin, glukosa,
lemak, protein, dan selulosa, maka berikutnya filtrat ditambahkan larutan timbal asetat (3
gram timbale asetat dalam 27 mL aquades) tetes demi tetes. Jika tanin terisolasi ke dalam air
panas, maka akan terhidrolisis menghasilkan asam klorogenat. Asam klorogenat ini akan
akan menghasilkan endapan bila direaksikan dengan timbal asetat (Frieda dkk., 2004).
O
OH
OH
CO
2
H HO
OH
HO
O

Asam Klorogenat
Campuran yang terdapat endapan tersebut kemudian didinginkan dan disaring kembali
dengan menggunakan corong Buchner. Corong Buchner digunakan untuk membantu
mempercepat proses penyaringan karena campuran telah mengental karena proses
pendinginan sebelumnya.
Filtrat yang didapat dari hasil penyaringan menggunakan corong Buchner kemudian
diekstraksi dengan menggunakan kloroform 3 x 25 mL. Ekstraksi dengan menggunakan
kloroform ini adalah salah satu aplikasi dari ekstraksi cair-cair yaitu pemisahan solut dari
cairan pembawa dengan menggunakan solven/pelarut cair. Penggunaan kloroform sebagai
bahan untuk mengekstraksi kafein adalah karena kafein merupakan senyawa organik yang
larut dalam pelarut organik seperti kloroform. Selain itu, penggunaan kloroform karena
kafein mudah larut dalam kloroform. Ekstraksi dilakukan sebanyak 3 kali bertujuan untuk
memperoleh kafein dalam jumlah maksimal, karena semakin sering ekstraksi dilakukan maka
efektifitas dari proses ekstraksi tersebut akan semakin meningkat.
Pada proses ekstraksi ini, terbentuk 2 lapisan dimana lapisan atas yang berwarna
kecoklatan adalah lapisan dengan senyawa-senyawa yang larut dalam air (massa jenis air = 1
gram/cm
3
), sedangkan lapisan bawah yang bening adalah lapisan dengan senyawa yang larut
dalam kloroform (massa jenis kloroform = 1,5 gram/cm
3
). Senyawa yang kemungkinan
berada pada lapisan atas adalah tanin dan timbale asetat yang masih tersisa, karena tanin dan
timbale asetat larut dalam air. Lapisan bawah kemungkinan adalah kafein, karena kafein
merupakan senyawa organik yang larut dalam pelarut organik seperti kloroform.
Lapisan bawah yang merupakan lapisan senyawa yang larut dalam kloroform
kemudian dikumpulkan lalu kloroformnya yang memiliki titik didih 62
0
C dipisahkan dengan
cara diuapkan dengan cawan penguap. Penguapan dengan cawan penguap ini dilakukan agar
kloroform menguap dan yang tertinggal hanyalah kafein kasarnya saja.
Langkah terakhir yang dilakukan yaitu melakukan sublimasi dari cawan penguapan
yang berisi kafein kasar tersebut agar diperoleh kafein murni dengan cara menutupi bagian
atas cawan penguap dengan kaca arloji yang telah ditimbang terlebih dahulu, kemudian
cawan penguapan yang berisi kafein kasar tersebut diletakkan di atas nyala api kecil selama
beberapa saat hingga terbentuk kristal jarum yang merupakan kafein murni. Dalam praktikum
ini proses sublimasi tidak berhasil dilakukan karena air yang ditempatkan di atas kaca arloji
menetes ke dalam cawan penguap karena pemanasan yang terlalu tinggi. Menetesnya air dari
kaca arloji mengakibatkan tidak berhasilnya proses sublimasi karena tidak ada cairan
pendingin di atas kaca arloji. Mengantisipasi kegagalan praktikum karena tidak berhasilnya
sublimasi ini, maka kaca arloji dipindahkan dan cawan penguap dibiarkan terbuka. Setelah
diuapkan selama 1,5 jam, diperoleh kristal putih berbentuk jarum di dasar cawan penguap
yang diduga merupakan Kristal kafein.
Untuk menguji kemurnian kristal yang diduga kafein ini, maka langkah berikutnya
yang dilakukan adalah uji sifat fisikanya yaitu dengan uji titik leleh. Titik leleh kristal kafein
yang dihasilkan pada praktikum ini adalah sebesar 235
0
C, maka dapat disimpulkan Kristal
yang diduga kafein tersebut adalah kafein murni karena titik leleh kafein adalah 234-239
0
C.
Dari hasil percobaan yang dilakukan, kafein yang diperoleh dalam 20 gram kopi Banyautis
adalah sebesar 0,2069 gram, sehingga perhitungan kadar kafein dalam serbuk kopi Banyuatis
adalah sebagai berikut.
% kadar =



=




= 1,034 %
Jadi, berdasarkan perhitungan di atas, kadar kafein dalam kopi Banyuatis adalah 1,034%.
Menurut Chem-is-try.org (2010), kandungan kafein dalam kopi robusta adalah 1,48%. Tidak
sesuainya kadar kafein hasil praktikum dengan kadar kafein teoritis kemungkinan disebabkan
oleh tidak dilakukannya proses rekristalisasi untuk memperoleh kristal kafein. Rendemen
kristal kafein yang terkandung dalam kopi Bnyuatis dapat dihitung sebagai berikut.
% rendemen =



=




= 69,898 %