Anda di halaman 1dari 2

Substitusi Elektrofilik Terhadap Benzena

Elektrofilik berarti satu elektron (spesi yang bermuatan positif atau mempunyai orbital kosong)
dengan notasi umum E+. Cincin benzena kaya elektron sehingga sangat reaktif terhadap
elektrofil (mengalami reaksi subtitusi elektrofilik) dengan mekanisme sebagai berikut :

Tahap 1 : Pembentukan elektrofil E+ (cepat)

Tahap 2 : Serangan E+ terhadap cincin benzene (lambat sebagai langkah penentu laju
reaksi/RDS)

Pengambilan H+ dari cincin benzene oleh suatu elektrofil (cepat)

[5]

Dari mekanisme diatas kita dapat mengambil contoh Klorinasi. Reaksi benzena dengan klorin
berjalan sangat lambat tanpa katalis, tetapi menjadi sangat cepat bila ada katalis. Apa yang
dilakukan oleh katalis? Ia bertindak sebagai asam lewis dan mengonversi klorin menjadi
elektrofili kuat dengan membentuk suatu kompleks dan mempolarisasikan ikatan CC. Alasan
mengapa diperlukan elektrofili kuat akan menjadi jelas sebentar lagi. Elektrofili mengikat salah
satu atom karbon pada cincin benzena, menggunakan dua elektron pi dari awan pi untuk
membentuk ikatan sigma dengan atom karbon cincin. Atom karbon ini menjadi terhibridisasi sp3.
Cincin benzene bertindak sebagai donor elektron pi, atau nukleofili,terhadap reagen elektrofilik.
Karbokation yang dihasilkan ialah i'on benzenonium', dengan muatan positif terdelokalisasi oleh
resonansi pada atom karbon orto dan paraterhadap atom karbon yang dilekati oleh atom klorin;
artinya orto dan para terhadap atom karbon sp3'. Ion benzenonium mirip seperti karbokation
alilik, tetapi muatan positifnya terdelokalisasi pada tiga atom karbon, bukan hany dua. Meskipun
distabilkan oleh resonansi dibandingkan dengan karbokation lain, energi resonansinya jauh lebih
rendah daripada cincin benzene awalnya. Sunstitusi diselesaikan dengan melepaskan satu proton
dari atom karbon sp3, yaitu atom yang sama yang telah dilekati oleh elektrofilik. Alasan mengapa
elektrofili harus kuat, dan mengapa yang terjadi ialah substitusi dan bukan adisi, sekarang
menjadi jelas. Pada langkah 1, energi stabilisasi (energi resonansi) dari cincin aromatik telah
hilang, karena perusakan sistem pi aromatik. Perusakan ini, yang disebabkan oleh adisi
elektrofili pada salah satu karbon cincin, memerlukan energi dan elektrofili kuat. Pada langkah 2,
energi resonansi aromatik tercapai kembali dengan melepaskan satu proton. Hal ini tidak akan
terjadi karbokation intermedietnya mengadisi nukleofili. [6]

Jenis-Jenis Reaksi Substitusi Elektrifilik[sunting | sunting sumber]

a. Halogenisasi

Klorin atau bromin dimasukkan ke dalam cincin aromatik dengan menggunakan halogen
bersam-sama dengan besi halidanya yang sesuai sebagai katalis (yaitu, Cl 2 + FeCl3 atau Br2 +
FeBr3). Biasanya reaksi dilaksanakan dengan menambahkan halogen perlahan-lahan pada

campuran senyawa aromatik dan serbuk besi. Besi bereaksi dengan halogen membentuk besi
halida, yang kemudian mengkatalisis halogenisasi. Flourinasi dan iodinasi langsung pada cincin
aromatik juga dimungkinkan tetapi memerlukan metode khusus.[8]

b. Nitrasi

pereaksi adalah asam nitrat (HNO3) dengan katalisator asam sulfat (H2SO4) dan mekanisme
pembentukan elektrofil adalah sebagai berikut: (HNO3) + (H2SO4) NO2+ + HSO4- + H2O

c. Alkilasi

Pereaksi adalah alikil halida (R-X) adalah katalisator AlX3 atau FeX3 dan mekanisme
pembentukan elektrofil adalah sebagai berikut : R-X + AlX3/FeX3 R+ + Al+X4/Fe-X4 [9]

d. Asilasi

Friedel-Crafts berlangsung dengan cara yang sama dengan alkilasi. Elektrofili berupa kation asil
yang dihasilkan dari turunan asam, biasanya suatu asil halida. Reaksi ini menjadi rute umum
yang bermanfaat untuk pembentukan keton aromatik. [10]

e. Sulfonasi

Pereaksi adalah asam sulfat (H2SO4) berasap dengan mekanisme pembentukan elektrofil adalah
sebagai berikut : (H2SO4) SO3 + H20 Pada reaksi asilasi dengan elektrofil R+dapat terjadi
penataan ulang ion karbonium untuk mencapai bentuk yang paling stabil. Sedangkan pada
sulfonasi H+ yang dilepaskan oleh cincin digunakan kembali oleh elketrofil yang dikenal
sebagai back bonding.