Anda di halaman 1dari 9

I.

Anfis intestinum minor Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum). Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu Di dalam usus dua belas jari, dihasilkan enzim dari dinding usus. Enzim tersebut diperlukan untuk mencerna makanan secarakimiawi: Enterokinase, untuk mengaktifkan tripsinogen yang dihasilkan pankreas menjadi tripsin; Erepsin atau dipeptidase, untuk mengubah dipeptida atau pepton menjadi asam amino; Laktase, mengubah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa; Maltase, berfungsi mengubah maltosa menjadi glukosa; Disakarase, mengubah disakarida menjadi monosakarida; Peptidase, mengubah polipeptida menjadi asam amino; Lipase, mengubah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak; Sukrase, mengubah sukrosa menjadi fruktosa dan glukosa. Di dalam usus penyerapan (iluem) terdapat banyak lipatan atau lekukan yang disebut jonjot-jonjot usus (vili). Vili berfungsi memperluas permukaan penerapan, sehingga makanan dapat terserap sempurna Makanan yang berupa glukosa, asam amino, vitamin, mineral, air akan diserap pembuluh darah kapiler di vili, dan diangkut ke hati ke vena porta. Di dalam hati, beberapa zat akan diubah ke bentuk lain dan beberapa lainnya akan diedarkan ke seluruh tubuh. Sedangkan asam lemak dan gliserol diangkut melalui pembuluh limfa. Duodenum Disebut juga usus dua belas jari, dibagian duodenum terdapat papilla vateri. Dinding duodenum mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar yang disebut kelenjar burner, befungsi untuk memproduksi getah intestinum. Duodenum adalah bagian pertama dari usus kecil dan menghubungkan perut ke jejunum, yang merupakan bagian kedua dari usus kecil Jejunum dan ileum Sambungan antara jejunum dan ileum tidak memiliki batas yang tegas. Ujung bawah ileum berhubungan dengan sekum dengan perantara lubang yang bernama orifisium ileosekalis. Orifisium ini diperkuat oleh sfingter ileosekalis dan pada bagian ini terdapat katup valvulo sekali yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam kolon asendens tidak masuk kembali pada ileum. Mukosa usus halus Permukaan epitel yang sangat kuat melalui lipatan mukosa dan mikrovili memudahkan pencernaan dan absobsi. Lipatan ini dibentuk oleh mukosa dan submukosa yang dapat memperbesar permukaan usus. Pada penampang melintang, vili dilapisi oleh epitel dan kripta yang menghasilkan bermacam-macam hormone jaringan dan enzim yang memegang peran aktif dalam pencernaan. Fungsi usus halus 1. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe. 2. Menyerap protein dalam bentuk asam amino

3. Karbohidrat diserap dalam monosakarida. II. Konsep Dasar Pengertian Stenosis adalah suatu obstruksi lengkap dengan lubang kecil sekunder diafragma atau web, sedangkan atresia adalah sebuah obstruksi lengkap. Stenosis duodenum adalah penyempitan atau striktura lumen duodenum yang abnormal menyebabkan obstruksi yang tidak lengkap. Bedakan dengan atresia yang menyebabkan obstruksi lengkap Stenosis dan atresia duodenum umumnya terdapat pada bagian pertama dan kedua duodenum, kebanyakan pada daerah sekitar papilla Vater. Saluran empedu utama dapat berhubungan dengan mukosa intraluminal web. Stenosis jejunum dan ileum adalah penyempitan atau striktura lumen jejunum dan ileum yang abnormal menyebabkan obstruksi yang tidak lengkap. Stenosis intestinum minor adalah sebuah penyempitan pada bagian-bagian usus halus yaitu duodenum, ileum dan jejunum yang merupakan penyakit kelainan bawaan yang menyebabkan obstruksi tidak lengkap. Etiologi/penyebab - kompresi dari permukaan duodenum oleh band-band Ladd sekunder untuk rotasi lengkap dari usus - Annular membungkus pancreas - keturunan resesif autosomal - Adanya Polyhidramnion ( saat kehamilan ) Factor resiko 1. Kelainan Kromosom Kelainan genetik pada suami atau istri dapat menimbulkan kelainan kongenitalpada anaknya. Dengan kemajuan teknik dalam menyelidiki secara langsung bentuk dan jumlahkromosomdalam sel sel manusia, maka dapat ditemukan hubungan antara kelainan dalam jumlah serta bentukkromosomdan kelainan kongenitaltertentu, misalnya kelainan padakromosomautosome 2. Faktor Mekanik Tekanan mekanik pada janin dalam uterus dapat menyebabkan kelainan bentuk. Bentuk kelainan tergantung daerah organ yang mengalami tekanan yang terus menerus, 3. Faktor Infeksi Infeksi yang dapat menimbulkan kelainan kongenitalialah terutama infeksi oleh virus. Pada masaorganogenesis, yakni dalam triwulan pertama kehamilan, karena infeksi ini menimbulkan gangguan dalam pembentukan alat alat atau organ dalam tubuh janin. 4. Faktor umur ibu Kehamilan di usia tua atau mendekati menopouse beresiko lebih tinggi melahirkan anak dengan kelainan kongenitalcacat. Ini diduga karena menurunnya fungsi organ yang mendukung proses kehamilan terutama hormon. 5. Radiasi Radiasi yang terus menerus pada kehamilan dapat menimbulkan mutasigene, yang dapat menyebabkan kelainan kongenitalpada yang dilahirkan 6. Faktor gizi

Pada ibu hamil yang kekurangan gizi beresiko melahirkan bayi cacat dari pada ibu yang hamil kecukupan gizi. Diduga vitamin A, riboflamin, asam folik, thiamin gizi pendukung pada stadiumorganogenesisdi triwulan pertama. 7. Faktor lain Banyak kelainan kongenitalyang tidak diketahui penyebabnya, diduga faktor faktor hipoxia, hipo hiperthermia dan juga masalah masalah sosial dapat menyebabkan kelainan kongenital. Faktor predisposisi a. Sosial Ekonomi Rendah Sosial ekonomi rendah ini berhubungan dengan status gizi keluarga. Status gizi keluarga yang kurang akan menyebabkan gangguan pertumbuhan janin, terutama pada masa kehamilan dimana masa ini sangat dibutuhkan asupan gizi yang cukup. Gizi yang cukup sangat diperlukan untuk perkembangan janin. b. Lingkungan Lingkungan juga sangat penting untuk mendukung pertukaran dan perkembangan radikal bebas yang sering disebabkan polusi terutama polusi udara. Didaerah daerah industri dan keadaan lingkungan hidup yang buruk, ini sangat mempengaruhi kesehatan apalagi pada masa masa awal dari kehidupan. c. Grande Para ( Usia ibu waktu hamil lebih dari 30 tahun ) Kehamilan diusia tua beresiko lebih tinggi melahirkan anak cacat. Diduga karena menurunnya fungsi organ yang mendukung proses kehamilan, terutama hormon kehamilan. Patofisiologi Stenosis duodenum adalah penyebab umum dari obstruksi usus pada bayi baru lahir. Hal ini lebih sering terjadi pada dewasa sebagai akibat dari penyakit ulkus peptikum Stenosis duodenum dapat disebabkan oleh kompresi dari permukaan duodenum oleh band-band Ladd sekunder untuk rotasi lengkap dari usus Annular membungkus pankreas duodenum dapat menyebabkan stenosis atau obstruksi duodenum Etiologi dan factor resiko Perases kehamilan trimester 3 30-60 hari Masa pembentukan organ tubuh janin Kegagalan proses vacuolisasi selama periode embryo Biasa bersamaan dengan annular pancreas (1/3 tengah) (duodenum ) pembuluh darah yang menimbulkan aseptic necrosis intra uterin yang berakhir pada atresia (ileum dan jejunum) Terjadi stenosis karena adanya etiologi Antara masa gestasional 8-10 minggu, lumen di duodenum dilengkapi oleh berkumpulnya vakuolavakuola, dan juga terjadi rekanalisasi. Gangguan selama periode penting dalam perkembangan duodenum dipercaya menyebabkan terjadinya kegagalan rekanalisasi dan menyebabkan terjadinya atresia, stenosis, dan web. Manifistasi klinis - saat berumur beberapa bulan/tahun Gejala : Muntah , bilious dan non bilious Bisa timbul saat dewasa : refluks gastroesofageal, ulserasi peptic, atau obstruksi duodenum proksimal dari stenosis oleh bezoar. - Gejala sering tidak berkembang pada masa neonatus

- Biasanya anak mengalami mual intermiten dengan muntah. Muntahan berisi empedu - Anak gagal untuk berkembang - Dapat ditemukan di perut bagian atas kembung. - Diwarnai empedu muntah pada neonatus berusia 24 jam - radiografi polos yang menunjukkan penampilan ganda-gelembung gas tanpa distal. - Gas usus distal mengindikasikan stenosis, membran tidak lengkap, atau anomali duktus hepatopancreatic. - stenosis duodenum signifikan tidak diobati, kondisi cepat menjadi fatal sebagai akibat dari hilangnya elektrolit dan ketidakseimbangan cairan Pemeriksaan diagnostic - Pada riwayat kelahiran, terlambatnya evaluasimekoniumlebih dari 24 jam atau anak tidak bisa defekasi sedangkan anus ada. Pada orang dewasa ada riwayatkonstipasikronik - Radiodiagnostik (Pemeriksaan fotopolosabdomen, terlihat tanda tandaobstruksiusus lebih rendah. Umumnya gambarankolonsulit dibedakan dengan gambaran usus halus.) PEMERIKSAAN FISIK : PEMERIKSAAN FISIK Inspeksi : tampak contour/ peristalsis lambung atau usus di daerah epigastrium. Palpasi : tampak distended pada daerah epigastrium disebabkan oleh duodenum dan gaster yang berdilatasi Pada Inspeksi (Distensiabdomen, perut buncit, muntah muntah warna kehijauan) Palpasi atau Perabaan (Perabaan padaabdomenterasa bagian bagian darikolonyang melebar dan bisa dirasakan perut keras atau defansabdomen.) PEMERIKSAAN PENUNJANG : PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium Elektrolit Hematokrit Gula darah Goldah dan crossmatch Pencitraan Foto polos abdomen Barum meal Barium enema Rectal Biopsy DIFERENSIAL DIAGNOSIS : DIFERENSIAL DIAGNOSIS Malrotasi yang disertai volvulus Membran atau pita yang melintang dan menekan duodenum - Plain x-ray dapat menunjukkan perut membesar dengan isi perut dipertahankan, bagian fisrt duodenum dapat melebar - X-ray setelah menelan barium berisi suatu fluida menunjukkan menunjukkan obstruksi duodenum - Atas Gastrointestinal Endoscopy (pemeriksaan lingkup fleksibel serat optik) akan menunjukkan obstruksi duodenum (Lihat Panendoscopy) Penatalaksanaan medis - Indikasi untuk Bedah Indikasi ditentukan oleh derajat obstruksi usus Sebuah obstruksi bermutu tinggi biasanya dilakukan pada kebijaksanaan dokter bedah (intervensi bedah elektif) Tingkat rendah penghalang parsial mungkin pergi bertahun-tahun tanpa membutuhkan pembedahan Sebagian besar operasi berlangsung di tahun-tahun dewasa dengan operasi sesekali di masa kecil - Operasi Pembedahan dilakukan di bawah anestesi umum Sayatan dibuat di perut bagian atas Stenosis ini biasanya dilewati tanpa menghapus apapun pankreas atau jaringan duodenum. Prosedur memotong berbagai:

- Duodenoduodenostomy lubang dibuat di sisi duodenum atas dan di bawah stenosis diikuti dengan penjahitan dinding duodenum di lubang bersama untuk membentuk bypass (sisi untuk memotong sisi) - Duodenojejunostomy akhir untuk memotong sisi duodenum untuk jejunum - Gastrojejunostomy sisi perut bagian bawah ke sisi bypass jejunum - Gastroduodenostomy sisi perut bagian bawah ke sisi dari bypass duodenum - Resusitasi cairan - Dekompresi dengan NGT - Antibiotika Komplikasi - Intestinal obstruksi e.c - adhesive Duodenal dismotility - Megaduodenum dengan sindrom blind loop Refluks duodenogastrik - gastritis Ulkus Peptic Cholelithiasis - Komplikasi yang terkait dengan operasi besar mungkin terjadi o Perdarahan o Infeksi o Gangguan pernapasan (kesulitan bernafas) o Hipotermia (suhu tubuh rendah) o Rendah urin o Obstruksi usus o Fistula kebocoran pada garis jahitan Pos Operasi dan Perawatan Setelah Prognosis Angka bertahan hidup bayi ,bila ditangani dengan baik, adalah 90-95 %. Peningkatan angka bertahan hidup dapat dihubungkan dengan perawatan respirasi, hiperelementasi, anestesi pediatrik yang meningkat hasilnya, peningkatan kewaspadaan dan terapi anomali lain yang mengikuti. stenosis duodenum signifikan tidak ditangani, kondisinya akan segera menjadi fatal sebagai akibat gangguan cairan dan elektrolit. Sekitar setengah dari neonatus yang menderita stenosis duodenum lahir prematur. Hidramnion terjadi pada sekitar 40% kasus obstruksi duodenum. stenosis duodenum paling sering dikaitkan dengan trisomi 21. Sekitar 22-30% pasien obstruksi duodenum menderita trisomi 21,jantung, ginjal, CNS, dan musculoskeletal. Epidemiologi Kasus stenosis duodenal atau duodenal web dengan perforasi jarang tidak terdiagnosis hingga masa kanak-kanak atau remaja.Penggunaan USG telah memungkinkan banyak bayi dengan obstruksi duodenum teridentifikasi sebelum kelahiran. Pada penelitian cohort besar untuk 18 macam malformasi kongenital di 11 negara Eropa, 52% bayi dengan obstruksi duodenum diidentifikasi sejak in utero. Obstruksi duodenum ditandai khas oleh gambaran double-bubble (gelembung ganda) pada USG prenatal. Gelembung pertama mengacu pada lambung, dan gelembung kedua mengacu pada loop duodenal postpilorik dan prestenotik yang terdilatasi. Diagnosis prenatal memungkinkan ibu mendapat konseling prenatal dan mempertimbangkan untuk melahirkan di sarana kesehaan yang memiliki fasilitas yang mampu merawat bayi dengan anomali saluran cerna. Stenosis duodenum 1/5000-10.000 kasus. Rasio atresia dan stenosis adalah 3:2 atau 2:2 1 : 500010000, 2530 % bersamaan dengan DownsSyndrome ( Mongolism) )

III. Asuhan keperawatan stenosis intestinum minor a. Pengkajian 1. Pola nutrisi ( menurut ganer) a) Pola nutrisi dan metabolik Penurunan nafsu makan, mual, muntah karena adanya obstruksi gas dan akan meningkatkan tekanan intraabdomen. Pembatasan makanan dari Rumah Sakit diet rendah sisa, bubur. b) Pola eliminasi BAB 1) Konstipasi ; karena kelemahan peristaltik usus 2) Feces ; konsistensi;skibala 3) Diare ; biasanya terjadi ada penyulit enterokolitis c) Pola aktifitas dan latihan 1) Aktifitas kebiasaan klien setiap hari 2) Kebutuhan hidup ( ADL) sehari hari 3) Pekerjaan klien d) Pola reproduksi dan sexual 1) Tanda tanda kelamin sekunder, waktu pertama kali menstruasi 2) Tanda tanda kelamin primer 3) Status klien, bujang, menikah, tidak menikah e) Pola istirahat dan tidur Istirahat tidur berkurang, merasakan keadaan sakitnya, setuasi tak adaptif lingkungan rumah sakit f) Pola persepsi sensori 1) Nyeri : kadang distensiabdomen 2) Sensasi nyeri baik g) Pola kognitif 1) Daya ingat baik 2) Kesadaran, tergantung sakitnya h) Pola peran hubungan keluarga Hubungan keluarga, orang tua, anak, kakak, adik i) Pola persepsi dan konsep diri 1) Harga diri rendah : adanya citra tubuh yang terganggu j) Pola koping dan toleransi stress 1) Hobi; untuk mengalihkan perasaan 2) Teman dekat; untuk mencurahkan perasaannya 3) Intro/ exofet; menghadapi masalah k) Pola nilai kepercayaan 1) kepatuhan beribadah, agama klien 2) hubungan kedekatan dan beribadah menurut klien 2. Pemeriksaan fisik Abdomen: I. : Distensiabdomen, perut membuncit A.: Peningkatan bising usus, karena terjadi sunbatan, pasase usus terganggu P : Defansabdomen, teraba masaskibala, nyeri

P : Timpani, pekak B. Diagnose dan Intervensi 1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah Tujuan : - keseimbangan cairan dan elektrolit tidak terganggu kriteria hasil - Intake dan output seimbang - Tidak ada tanda tanda dehidrasi Intervensi - Tanda tanda vital normal intervensi - Awasi masukan dan keluaran cairan - Kaji tanda tanda dehidrasi - Kaji tanda tanda vital - Catat intake dan output - Kolaburasi untuk pemberian cairan parenteral 2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka, tindakan infasif ( Carpenito, 1999) Tujuan : - Agar tidak terjadi infeksi Kriteria hasil : - Luka bersih - Tidak ada tanda tanda infeksi Intervensi : - Rawat luka secara aseptik dan antiseptik - Kaji tanda tanda infeksi - Kolaburasi gizi untuk pemberian antibiotika 3. Resiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah Tujuan : - Agar kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : - Berat badan seimbang - Hb dan albumin dalam keadaan normal Intervensi : - Kaji penyebab mual, muntah - Monitor intake makanan - Berikan situasi makan yang menyenangkan - Anjurkan untuk makan porsi kecil tetapi sering - Kolaburasi pemeriksaan Hb dan albumin per minggu - Monitor berat badan - Kaji keadaan kulit klien SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Tema : Penyakit stenosis usus halus Sub Tema : Penatalaksanan Penyakit stenosis usus halus Sasaran : Keluarga Tn. B Tempat : Di rumah sakit Hari/Tanggal : Minggu, 13 November 2011 Waktu : 30 Menit A. Tujuan Instruksional Umum Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, diharapkan Keluarga Tn. B dapat mengetahui Penatalaksanaan Penyakit stenosis usus halus. B. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit, diharapkan Keluarga Klien Dapat: Menjelaskan Latar Belakang Penyakit stenosis usus halus dengan benar Menyebutkan penyebab yang dapat menimbulkan Penatalaksanan Penyakit stenosis usus halus Menyebutkan tanda/gejala dari Penyakit stenosis usus halus Mengerti Patofisiologi Penyakit stenosis usus halus Mengerti cara penatalaksanaan Penyakit stenosis usus halus C. Materi 1. Latar belakang penyakit Penyakit stenosis usus halus 2. Faktor penyebab dari Penyakit stenosis usus halus 3. Tanda/gejala Penyakit stenosis usus halus 4. Patofisiologi Penyakit stenosis usus halus 5. Cara penatalaksanaan Penyakit stenosis usus halus D. Metode 1. Ceramah 2. Tanya jawab E. Kegiatan Penyuluhan No Kegiatan Penyuluh Peserta Waktu 1. Pembukaan Salam pembuka Menyampaikan tujuan penyuluhan Menjawab salam Menyimak, Mendengarkan, menjawab pertanyaan 5 Menit 2. Kerja/ isi Penjelasan pengertian, penyebab, gejala, patofisiologi & Penatalaksanan Penyakit stenosis usus halus Memberi kesempatan peserta untuk bertanya Menjawab pertanyaan Evaluasi Mendengarkan dengan penuh perhatian

Menanyakan hal-hal yang belum jelas Memperhatikan jawaban dari penceramah Menjawab pertanyaan 20 menit 3. Penutup Menyimpulkan Salam penutup Mendengarkan Menjawab salam 5 Menit F. Media Leaflet : Tentang penyakit Penyakit stenosis usus halus G. Sumber/Referens a. Smeltzer Suzanne C.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001. b. Doenges M.E. (1989)Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). Philadelpia, F.A. Davis Company. c. Long; BC and Phipps WJ (1985)Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process ApproachSt. Louis. Cv. Mosby Company. d. http://www.yoursurgery.com/ProcedureDetails.cfm?BR=1&Proc=80 H. Evaluasi Formatif : Klien dapat menjelaskan latar belakang Penyakit stenosis usus halus Klien mampu menjelaskan faktor penyebab Penyakit stenosis usus halus Klien dapat menjelaskan tanda/gejala Penyakit stenosis usus halus Klien mampu menjelaskan patofisiologi Penyakit stenosis usus halus Klien mampu mengerti cara Penatalaksanan Penyakit stenosis usus halus Sumatif : Klien dapat mengetahui Penatalaksanan Penyakit stenosis usus halus Yogyakarta, Sabtu 12 November 2011 Penyuluh (Riski Wulandari) IV. Daftar pustaka Smeltzer Suzanne C.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001. Doenges M.E. (1989)Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). Philadelpia, F.A. Davis Company. Long; BC and Phipps WJ (1985)Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process ApproachSt. Louis. Cv. Mosby Company.