Anda di halaman 1dari 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Erosi Peristiwa berpindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami dikenal sebagai erosi tanah. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian diendapkan pada suatu tempat yang lain. Pengangkutan atau pemindahan tanah tersebut terjadi oleh media alami yaitu air dan angin (Arsyad, 2007). Erosi merupakan proses alamiah yang tidak bisa atau sulit dihilangkan sama sekali atau tingkat erosinya nol, khususnya untuk lahan-lahan yang diusahakan untuk pertanian. Tindakan yang dapat dilakukan adalah mengusahakan supaya erosi yang terjadi masih di bawah ambang batas yang maksimum (soil loss tolerance), yaitu besarnya erosi tidak melebihi laju pembentukan tanah (Suripin, 2001). Menurut Suripin (2001) erosi terjadi melalui tiga tahap, yaitu tahap pelepasan partikel tunggal dari masa tanah dan tahap pengangkutan oleh media yang erosif seperti aliran air dan angin. Pada kondisi dimana energi yang tersedia tidak lagi cukup untuk mengangkut partikel, maka akan terjadi tahap yang ketiga yaitu pengendapan. Erosi tanah dibagi menjadi dua kelas berdasarkan macam penyebabnya, yaitu: 1. Erosi geologis atau alami adalah suatu kejadian pengikisan lapisan permukaan tanah yang selalu akan terjadi, sinambung dan berlangsung secara alami akibat bekerjanya sejumlah penyebab alami erosi, yaitu curah hujan, limpasan dan lelehan es. Laju tanah tererosi secara geologis hanya dikendalikan oleh faktor-faktor iklim, topografi, tumbuhan, dan tanah. Dampak buruk erosi geologis ini dapat diabaikan karena masih berada dalam batas-batas keseimbangan alami, yaitu laju kehilangan massa tanah kurang atau sama dengan laju pembentukannya. 2. Erosi dipercepat adalah suatu kejadian pengikisan lapisan permukaan tanah yang lajunya lebih besar laju erosi geologis akibat adanya kegiatan manusia yang merusak kemantapan peranan faktor topografi, tanah, dan

tumbuhan. Laju erosi tanah dipercepat ini dikendalikan oleh faktor-faktor iklim, topografi, tumbuhan, tanah, dan manusia dan karena lajunya melebihi laju pembentukannya maka dapat berdampak buruk pada kelestarian potensi sumberdaya tanahnya. Menurut Rahim (2003), erosi yang terjadi dapat dibedakan berdasarkan produk akhir yang dihasilkan dan kenampakan lahan akibat erosi itu sendiri. Atas dasar itu erosi dibedakan atas erosi percikan, erosi lembar, erosi alur, erosi selokan, erosi tanah longsor, dan erosi pinggir sungai. Erosi percikan terjadi pada awal hujan. Intensitas erosi percikan juga meningkat dengan adanya air genangan tetapi setelah terjadi genangan dengan kedalaman tiga kali ukuran butir hujan erosi percikan minimum. Pada saat inilah proses erosi lembar dimulai. Erosi lembar akan kita temukan secara jelas di daerah yang permukaannya relatif seragam. Erosi alur dimulai dengan adanya konsentrasi limpasan permukaan. Konsentrasi yang besar akan mempunyai daya rusak yang besar. Bila ukuran alur sudah sangat besar, maka erosi yang terjadi telah memenuhi kategori erosi selokan. Pada proses erosi tanah longsor ditandai dengan bergeraknya sejumlah massa tanah secara bersama-sama. Hal ini disebabkan karena kekuatan geser tanah sudah tidak mampu untuk menahan beban massa tanah jenuh air di atasnya. Adapun erosi pinggir sungai yang mirip erosi tanah longsor mengikis pinggir sungai-sungai yang karena suatu hal mengalami longsor terutama bila pinggir sungai ini vegetasi alaminya ditebang dan diganti dengan tanaman baru. Menurut Rahim (2003), tahapan erosi meliputi benturan butir-butir hujan dengan tanah, percikan tanah oleh butiran hujan ke segala arah, penghancuran bongkahan tanah oleh butiran hujan, pemadatan tanah, penggenangan air di permukaan, pelimpasan air karena adanya penggenangan dan kemiringan lahan, dan pengangkutan partikel terpercik dan/atau massa tanah yang terdispersi oleh air limpasan. Hujan akan menimbulkan erosi jika intensitasnya cukup tinggi dan jatuhnya dalam waktu yang cukup lama. Ukuran-ukuran butir hujan juga sangat berperan dalam menentukan erosi. Hal tersebut dikarenakan energi kinetik merupakan penyebab utama dalam penghancuran agregat-agregat tanah.

Erosi bisa terjadi apabila intensitas hujan turun lebih tinggi dibanding kemampuan tanah untuk menyerap air hujan tersebut. Terjadinya erosi secara rinci bisa dijelaskan melalui tiga tahapan. Pertama, penghancuran agregat tanah dan pelepasan partikel. Kedua, pengangkutan tanah oleh aliran air. Ketiga, pengendapan tanah akibat aliran air tidak mampu lagi mengangkut tanah. Mekanisme percikan di lahan datar dan tidak ada dan tidak ada angin, tidak menyebabkan kehilangan tanah yang serius, tetapi jika ada angin kuat yang menyebabkan percikannya mengikuti arah angin, kemiringan lahan juga mengarahkan percikan tanah dan menyebabkannya terkumpul ke arah kaki bukit. Laju erosi karena pengaruh angin dan kemiringan lahan tergantung kepada ketinggian dan jarak tempuh mendatar percikannya. Jika kapasitas angkut percikan dan kemudahan diangkut massa tanah itu tinggi, maka faktor angin dan lereng akan mengintensifkan laju erosi (Purwowidodo, 1999). Menurut Rahim (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi erosi tanah meliputi hujan, angin, limpasan permukaan, jenis tanah, kemiringan lereng, penutupan tanah baik oleh vegetasi atau lainnya, dan ada atau tidaknya tindakan konservasi. Menurut Arsyad (2007), pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa erosi adalah akibat interaksi kerja antara faktor-faktor iklim, vegetasi, topografi, tanah dan manusia, yang dapat dinyatakan dalam persamaan deskriptif di bawah ini. E = ( iklim, topografi, vegetasi, tanah, manusia) Persamaan tersebut di atas mengandung dua jenis peubah, yaitu: 1. Faktor-faktor yang dapat diubah oleh manusia, seperti: vegetasi yang tumbuh di atas tanah, sebagian sifat-sifat tanah yaitu kesuburan tanah, ketahanan agregat, dan kapasitas infiltrasi dan unsur topografi yaitu lereng. 2. Faktor- faktor yang tidak dapat diubah oleh manusia, seperti: iklim, tipe tanah dan kecuraman lereng. Atas pertimbangan tersebut di atas, maka besarnya erosi dapat diperkecil dengan cara mengatur faktor-faktor yang dapat diubah. Adapun uraian faktorfaktor yang dapat menyebabkan erosi dan limpasan permukaan (iklim, topografi, vegetasi, tanah dan manusia), adalah sebagai berikut:

1. Iklim Menurut Mohr dan Van Baren (1954) dalam Santosa (1985), angka hujan di Indonesia relatif tinggi bila dibandingkan dengan daerah-daerah tropis lainnya. Menurut Rahim (2003), makin tinggi curah hujan semakin tinggi juga penutupan tanah oleh vegetasi, mengakibatkan semakin membaiknya proteksi terhadap tanah. Demikian pula halnya dengan keadaan tanah. Dalam Purwowidodo (1999), faktor-faktor iklim yang berperan penting dalam merangsang erosi tanah adalah temperatur, angin, dan curah hujan. Hujan mempengaruhi segala proses erosi mulai dari pemecahan agregat tanah menjadi butir-butir primer sampai dengan pengangkutannya. Hujan tropis adalah lebih erosif daripada hujan di daerah beriklim sedang. Hal ini disebabkan oleh tingginya intensitas hujan. Menurut Arsyad (2007), ada tiga komponen karakteristik hujan yang berpengaruh terhadap erosi yaitu jumlah, intensitas dan distribusi hujan. Jumlah hujan adalah volume air yang jatuh pada suatu wilayah tertentu dinyatakan dalam milimeter atau centimeter. Intensitas hujan menyatakan besarnya atau jumlah hujan yang jatuh dalam waktu yang singkat, dinyatakan dalam milimeter/jam atau centimeter/jam. Jumlah rata-rata curah hujan yang tinggi mungkin tidak menyebabkan terjadinya erosi jika intensitasnya rendah. Demikian juga suatu hujan yang intensitasnya besar yang terjadi dalam waktu singkat mungkin tidak akan menimbulkan erosi karena tidak cukup air untuk mengangkut tanah. Intensitas hujan banyak digunakan untuk menjelaskan fenomena laju erosi yang terjadi. Laju erosi di kawasan bercurah hujan < 250 mm th-1 adalah sangat kecil atau dapat diabaikan. Laju erosi tanah oleh air akan cenderung meningkat sesuai peningkatan curah hujannya sampai 750 mm th-1 tetapi pada peningkatan selanjutnya tidak diikuti oleh peningkatan laju erosi tanahnya. Daerah bercurah hujan < 750 mm th-1 umumnya merupakan daerah tropis kering sampai padang pasir. Air hujan yang jatuh di kawasan ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan tanamannya. Untuk daerah dengan curah hujan > 750 mm th-1 banyak mempunyai tumbuhan berupa hutan. Adanya hutan alami yang tumbuh baik akan melindungi tanah dari erosivitas hujan yang tinggi. Jika tumbuh-tumbuhan di

kawasan hutan ini ditebang, permukaan tanahnya terbuka maka laju erosi tanah pada iklim tropika basah akan melebihi iklim lainnya. 2. Topografi Pada umumnya suatu areal memiliki topografi yang berbeda, mulai dari datar, landai sampai dengan curam. Faktor-faktor topografi yang mempengaruhi besar kecilnya erosi dan limpasan permukaan ialah derajat kemiringan lereng lapangan dan panjang lereng, dengan kata lain erosi dan limpasan permukaan akan lebih besar pada tanah dengan lereng yang lebih curam dan lebih panjang. Erosi tidak menjadi masalah pada daerah datar, akan tetapi apabila daerah mulai miring maka masalah pencegahan erosi menjadi serius. Kelerengan lapangan dapat diketahui berdasarkan melihat peta topografi areal yang akan diamati atau bisa juga dengan melakukan pengukuran langsung di lapangan dengan menggunakan alat bantu untuk mengukur kelerengan seperti clinometer. Besarnya kelerengan ditentukan oleh jarak horizontal dan vertikal dari dua titik yang akan dicari kelerengannya. Untuk kelerengan bernilai 100% adalah kelerengan yang mempunyai sudut 45o. 3. Vegetasi Beberapa pengaruh vegetasi terhadap erosi ialah sebagai intersep hujan oleh kanopi tanaman, mengurangi kecepatan aliran permukaan dan kekuatan perusak air, pengaruh akar terhadap erositas dan kestabilan agregat tanah, pengaruh kegiatan-kegiatan biologi yang berhubungan dengan pertumbuhan vegetasi dan pengaruhnya terhadap porositas tanah, serta proses transpirasi yang mengakibatkan keringnya tanah (Arsyad, 2007). Menurut Santosa (1985) vegetasi hanya akan efektif melindungi tanah dari erosi apabila tersusun oleh pohon-pohon yang membentuk strata tajuk, adanya tumbuhan bawah dan lapisan serasah. Tanaman perkebunan yang terdiri dari tanaman keras biasanya hanya membentuk satu stratum tajuk. Dengan demikian peranannya terhadap pencegahan erosi sangat ditentukan oleh adanya tumbuhan bawah. 4. Tanah Tanah adalah suatu produk alami yang heterogen dan dinamis, maka sifat dan perilaku tanah akan berbeda dari suatu tempat ke tempat lain dan berubah dari

waktu ke waktu. Setiap perbedaan sifat tanah akan menyebabkan perbedaan sifat tanah akan menyebabkan perbedaan nilai kepekaan erosi. Berbagai tipe tanah mempunyai kepekaan yang berbeda-beda terhadap erosi. Kepekaan tanah yaitu mudah atau tidaknya tanah tererosi merupakan fungsi dari berbagai interaksi sifatsifat fisik dan kimia tanah. Sifat tanah yang penting pengaruhnya terhadap permukaan erosi terhadap kepekaan erosi dan limpasan permukaan adalah tekstur, struktur, kandungan bahan organik, kesarangan, kapasitas lapang, tebal dan sifat horizon serta kadar air tanah (Hardjowigeno, 2007). 5. Manusia Manusia dapat mengubah tanah menjadi lebih baik atau lebih buruk, tergantung dari cara penggunaan dan pengolahannya. Pola tataguna lahan merupakan pencerminan kegiatan manusia di atasnya. Pengusahaan lahan tergantung pada tingkat penggunaan teknologi, tingkat pendapatan, hubungan antara masukan dan keluaran pertanian, pendidikan, penyuluhan, pemilikan lahan, dan penguasaan lahan. Oleh karena itu penggunaan lahan dapat bersifat membangun dapat juga bersifat merusak (Arsyad, 2007).

2.2 Erodibilitas Tanah Faktor erodibilitas tanah (K) menunjukkan resistensi partikel tanah terhadap pengelupasan dan transportasi partikel-partikel tanah tersebut oleh adanya energi kinetik air hujan. Meskipun besarnya resistensi tersebut di atas akan tergantung pada topografi, kemiringan lereng, dan besarnya gangguan oleh manusia. Besarnya erodibilitas atau resistensi tanah juga ditentukan oleh karakteristik tanah seperti tekstur tanah, stabilitas agregat tanah, kapasitas infiltrasi, dan kandungan organik dan kimia tanah. Karakteristik tanah tersebut bersifat dinamis, selalu berubah, oleh karenanya karakteristik tanah dapat berubah seiring dengan perubahan waktu dan tata guna lahan atau sistem pertanaman, dengan demikian angka erodibilitas tanah juga akan berubah. Perubahan erodibilitas tanah yang signifikan berlangsung ketika terjadi hujan karena pada waktu tersebut partikel-partikel tanah mengalami perubahan orientasi dan karakteristik bahan kimia dan fisika tanah.

Indeks kepekaan tanah terhadap erosi atau erodibilitas tanah merupakan jumlah tanah yang hilang setiap tahunnya per satuan indeks daya erosi curah hujan pada sebidang tanah tanpa tanaman, tanpa usaha pencegahan erosi pada lereng 9 % dan panjang 22 m. Kepekaan tanah terhadap erosi dipengaruhi oleh tekstur tanah (terutama kadar debu + pasir halus), bahan organik, struktur dan permeabilitas tanah (Hardjowigeno, 2003). Tanah yang mempunyai erodibilitas tinggi akan tererosi lebih cepat dibandingkan dengan tanah yang mempunyai erodibilitas rendah, dengan intensitas hujan yang sama. Juga tanah yang mudah dipisahkan (dispersive) akan tererosi lebih cepat daripada tanah yang terikat (flocculated). Jadi, sifat-sifat fisik, kimia, dan biologi tanah juga mempengaruhi besarnya erodibilitas. Pengaruh usaha-usaha pengelolaan tanah sukar diukur, meskipun lebih penting dari sifatsifat tanah seperti tersebut diatas. Misalnya usaha-usaha pengelolaan tanah dengan pembakaran jerami, dibandingkan dengan jerami tersebut ikut dibajak dan tertimbun dibawah tanah; terasering sawah-sawah dibandingkan dengan pembajakan tegalan yang sejajar dengan kemiringan medannya; tanaman yang kurang dipupuk dibandingkan dengan tanaman yang cukup mendapat makanan; dan tanaman yang penanamannya dengan menyebar bijinya, dibandingkan dengan tanaman yang ditanam dengan cara berbaris. Sebagai tambahan terhadap sifatsifat tanah dan usaha-usaha pengelolaan tersebut diatas, erodibilitas juga dipengaruhi oleh kemiringan permukaan tanah dan kecepatan penggerusan (scour velocity). Erodibilitas tanah (ketahanan tanah) dapat ditentukan dengan aturan rumus menurut, perhitungan nilai K dapat dihitung dengan persamaan Weischmeier, et all, 1971 dalam USU, 2011) * Dimana : K = faktor erodibilitas tanah ( ) ( ) ( )+

OM = persentase bahan organik S = kode klarifikasi struktur tanah (granular, platy, massive, dan lainlain) P = permeabilitas tanah

M = persentase pengukuran tanah = (% debu + % pasir sangat halus) x (100 - % liat) Erodibilitas tanah juga dapat dapat diduga dengan menggunakan nomograph (Gambar 1). Sifat-sfat tanah yang menentukan besarnya nilai K berdasarkan Nomograph tersebut adalah (1) Persen kandungan debu dan pasir halus, (2) Persen Kandungan pasir, (3) Persen bahan kandungan bahan organik (4) Struktur tanah, (5) Permeabilitas tanah. Untuk itu diperlukan angka hasil penetapan sifat-sifat tanah seperti tekstur dengan 4 fraksi ( pasir kasar, pasir halus, debu, dan liat) dan bahan organik tanah, sedangkan struktur dan permeabilitas ditetapkan berdasarkan hasil pengamatan pada profil tanah yang dapat digambar dalam Nomograph.

Gambar 2.1. Nomograph Erodibilitas Tanah (K) Sebagai keterangan untuk menghitung nilai K dengan nomograf, berikut disajikan tabel pelengkapnya yaitu tipe Struktur Tanah pada Tabel 2.1, Klasifikasi Butir-butir Primer Tanah pada Tabel 2.2, dan Penilaian Permeabilitas Tanah pada Tabel 2.3.

Tabel 2.1. Penilaian Struktur Tanah


Tipe struktur tanah (diameter) Granular sangat halus (< 1 mm) Granular halus (1-2 mm) Kode penilaian 1 2

Granular sedang dan besar (2-10 mm) 3 Berbentuk gumpal, lempeng, pejal 4

(Sumber: Suripin, 2004) Tabel 2.2. Klasifikasi Butir-Butir Primer Tanah


Fraksi tanah Diameter (mm) Kerikil Pasir kasar Pasir halus Debu Lia >2 2,0 0,2 0,2 0,02 0,002 -0,02 <0,002

(Sumber: Roth, 1994) Tabel 2.3. Penilaian Permeabilitas Tanah


Kelas permeabilitas tanah (kecepatan) Kode Penilaian Sangat lambat (< 0,5 cm/jam) Lambat (0,5-2,0) Lambat sampai sedang (2,0-6,3) Sedang (6,3-12,7) Sedang sampai cepat (12,7-25,4) Cepat (> 25,4) 1 2 3 4 5 6

Adapun penetapan nilai erodibilitas (K) tanah- tanah yang ada di Indonesia dapat disajikan pada Tabel 1. Tabel 2.4. Klasifikasi Kelas Erodibilitas Tanah-Tanah.
Kelas Nilai K 1 0,00 -0,10 2 0, 11 -0,21 3 0,22- 0,32 4 0,33 -0,44 5 0,45 -0,55 6 0,56 -0,64 Tingkat Erodibilitas Sangat rendah Rendah Sedang Agak tinggi Tinggi Sangat Tinggi

Sumber : Arsyad (2006)

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Erodibilitas 1. Tekstur tanah Tekstur menunjukkan sifat halus atau kasarnya butiran-butiran tanah Tekstur ditentukan oleh kandungan pasir, debu dan liat yang terdapat dalam permukaan tanah. Tekstur tanah yang terlibat dalam butiran berjarak 200 mikron sampai ukuran 0,01 mikron. Butir-butir liat yang lebih kecil dari ukuran 0,01 mikron wujudnya dalam bentuk koloid. Suatu gumpal tanah tidak pernah tersusun hanya satu macam tekstur secara tersendiri. Langkah pertama untuk menentukan tekstur ialah menganalisa fraksi-fraksi tanah tersebut (Rafii, 1990 dalam USU, 2011). Debu merupakan fraksi tanah yang paling mudah tererosi karena selain mempunyai ukuran yang relatif halus, fraksi ini juga tidak mempunyai ikatan (tanpa adanya bantuan bahan perekat/pengikat) karena tidak mempunyai muatan. Berbeda dengan debu, liat meskipun merupakan ukuran yang sangat halus, namun karena mempunyai muatan, maka fraksi ini dapat membentuk ikatan. Meyer dan Harmon (1984) dalam USU (2011) menyatakan bahwa tanah-tanah bertekstur halus (didominasi liat) umumnya bersifat kohesif dan sulit dihancurkan. Walaupun demikian bila kekuatan curah hujan atau aliran permukaan mampu menghancurkan ikatan antar partikelnya maka akan timbul sedimen bahan tersuspensi yang mudah untuk terangkut atau terbawa aliran permukaan. 2. Struktur tanah Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan keruangan partikel-partikel tanah yang bergabung dengan satu dengan yang lain membentuk agregat. Dalam tinjauan morfologi, struktur tanah diartikan sebagai susunan partikel-partikel primer menjadi satu kelompok (cluster) yang disebut agregat yang dapat dipisah-pisahkan kembali serta mempunyai sifat yang berbeda dari sekumpulan partikel primer yang tidak teragregasi. Dalam tinjauan edafologi, sejumlah faktor yang berkaitan dengan struktur tanah jauh lebih penting dari sekedar bentuk agregat. Dalam hubungan tanah-tanaman, agihan ukuran pori, stabilitas agregat, kemampuan teragregasi kembali saat kering dan kekerasan (hardness) agregat jauh lebih penting dari ukuran dan bentuk agregat itu sendiri (Suci dan Bambang, 2002 dalam USU, 2011).

Istilah struktur tanah merujuk cara butiran-butiran tanah saling mengelompok secara bersama-sama diikat oleh koloida tanah. Tingkat perkembangan struktur tanah ditentukan berdasarkan atas kemantapan dan ketahanan bentuk struktur tanah tersebut terhadap tekanan. Tanah dikatakan tidak berstruktur bila butir-butir tanah tidak melekat satu sama lain atau saling melekat menjadi satu satuan yang padu dan disebut massive atau pejal. Tanah dengan struktur yang baik mempunyai tata udara yang baik, unsur-unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah (Hardjowigeno, 2003 dalam USU, 2011). Bentuk dan stabilitas agregat serta persentase tanah yang teragregasi sangat berperan dalam menetukan tingkat kepekaan tanah terhadap erosi. Tanah yang peka terhadap erosi adalah tanah yang paling rendah persentase agregasinya. Tanah-tanah dengan tingkat agregasi yang tinggi, berstruktur kersai, atau granular tingkat penyerapan airnya lebih tinggi dari pada tanah yang tidak berstruktur atau susunan butir-butir primernya lebih rapat (Meyer dan Harmon, 1984 dalam USU, 2011). Dalam menentukan erodibilitas tanah perlu memperhatikan keadaan struktur tanah dalam ukuran diameter yang dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 2.5. Penilaian Kelas Struktur Tanah (Ukuran Diameter)
No 1. 2. 3. 4. Struktur Granuler sangat halus Granuler halus Granuler sedang sampai kasar Masif kubus, lempeng Kelas 1 2 3 4

Sumber : Utomo (1989) 3. Permeabilitas Tanah Permeabilitas tanah adalah kecepatan air menembus tanah pada periode tertentu dan dinyatakan dalam cm/jam (Foth, 1978 dalam USU, 2011). Sedangkan menurut Hakim dkk (1986) dalam USU (2011) permeabilitas tanah adalah menyatakan kemampuan tanah melalukan air yang bisa diukur dengan menggunakan air dalam waktu tertentu. Nilai permeabilitas penting dalam menentukan penggunaan dan

pengelolaan praktis tanah. Permeabilitas mempengaruhi penetrasi akar, laju penetrasi air, laju absorpsi air, drainase internal dan pencucian unsur hara (Donahue, 1984 dalam USU, 2011).

Nilai permeabilitas dapat ditentukan dengan data lapangan dan data analisis laboratorium. Penentuan kelas permeabilitas tanah dapat dilihat pada Tabel 3 yang merupakan permeabilitas dalam menentukan erodibilitas tanah. Tabel 2.6. Penilaian Kelas Permeabilitas Tanah- Tanah.
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kelas Kecepatan Permeabilitas Tanah Sangat lambat (< 0,5 cm/jam) Lambat (0,5-2 cm/jam ) Lambat sampai sedang (2,0-6,3 cm/ jam) Sedang (6.3-12,7 cm/jam) Sedang sampai cepat (12,7- 25,4 cm/jam) Cepat (> 25, 4 cm/jam) Kelas 6 5 4 3 2 1

Sumber : Penuntun Praktikum Fisika Tanah, Departemen Ilmu Tanah, FPUSU(2003) 4. Bahan Organik C-organik akan mempengaruhi kandungan bahan organik tanah, semakin tinggi kandungan C- organik maka semakin meningkat kandungan bahan organik. Kandungan bahan organik tanah dapat diketahui dari persamaan bahan organik = % C organik x 1, 724 (Muklis, 2007 dalam USU, 2011). Bahan organik didefinisikan sebagai sisa tanaman dan hewan di dalam tanah pada berbagai pelapukan dan terdiri dari baik masih hidup maupun mati. Di dalam tanah berfungsi dapat memperbaiki sifat fisik, kimia maupun biologi tanah. Bahan organik di dalam tanah jumlahnya tidak sama antara jenis tanah yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan kandungan bahan organik ini tergantung pada jenis tanah dan cara pengelolaan tanah. Menurut Puslitanak (2005) dalam USU (2011) Bogor ada beberapa kriteria dari bahan organik sebagaimana disajikan pada Tabel 4. Tabel 2.7. Kriteria Bahan Organik.
No 1. 2. 3. 4. 5. Kriteria Bahan Organik Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Nilai > 6.00 4.30- 6.00 2.10- 4.20 1.00- 2.00 < 1.00

Sumber : Puslitanak (2005)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Penanganan Erosi Dan Sedimentasi di Sub Das Cacaban Dengan Bangunan Check Dam. terdapat pada http://eprints.undip.ac.id/34588/6/2086_chapter_II.pdf iakses pada 16 Mei 2013 [10:50 WIB] Arsyad, S. 2007. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor. Bafdal, Nurpilihan, dkk. 2013. Penuntun Praktikum Teknik Pengawetan Tanah dan Air. Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian. FTIP Unpad Hakim, Lukman, dkk. 2005. Dasar Teori. terdapat pada http://eprints.undip.ac.id/34554/6/1527_chapter_III.pdf diakses pada 16 Mei 2013 [10:53 WIB]

Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah. Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian IPB. Bogor. Joko . 2012 . Pendugaan Erosi Dan kehilangan Hara . Terdapat pada http://goalterzoko.blogspot.com/2012/09/pendugaan-erosi-dan-kehilanganhara.html diakses pada 16 Mei 2013 [13.28 WIB] Purwowidodo. 1999. Konservasi Tanah di Kawasan Hutan. Jurusan Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan IPB. Rahim, S.E. 2003. Pengendalian Erosi Tanah: Dalam Rangka Pelestarian Lingkungan Hidup. Bumi Aksara. Jakarta. Santosa, W. 1985. Aliran Permukaan dan Erosi pada Tanah yang Tertutup oleh Tanaman Teh dan Hutan Alam di Gambung. Fakultas Pasca Sarjana IPB. Sugeng. 2012. Studi Pustaka. terdapat pada http://eprints.undip.ac.id/34421/5/2020_chapter_II.pdf diakses pada 16 Mei 2013 [10:48 WIB] Suripin. 2001. Pelestarian ANDI.Yogyakarta USU. Sumber Daya Tanah dan Air. Penerbit

2011. Penetapan Tingkat Erodibilitas Tanah. terdapat pada http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24548/3/Chapter%20II.pdf diakses pada 16 Mei 2013 [10:14 WIB]