Anda di halaman 1dari 10

KALIBRASI SPRAYER (Laporan praktikum Ilmu Dan Teknik Pengendalian Gulma)

Oleh: Arisha Azima `1014121202

Lidya Mawar Ningsih `1014121232 Khoirul Yunus Yudi Des Yulian 1014121230 `1014121192

JURUSAN AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2012

DAFTAR ISI

Daftar Isi......................................................................................................II 1.Tinjauan Pustaka.................................................................... ...................3 2.Hasil Pengamatan.......................................................................................6 3.Pembahasan................................................................................................7 4.Daftar Pustaka............................................................................................9

I. TINJAUAN PUSTAKA

Keberhasilan penggunaan pestisida sangat ditentukan oleh aplikasi yang tepat, untuk menjamin pestisida tersebut mencapai sasaran yang dimaksud, selain factor jenis dosis, dan saat aplikasi yang tepat. Dengan kata lain tidak ada pestisida yang dapat berfungsi dengan baik kecuali bila diaplikasikan dengan tepat. Aplikasi pestisida yang tepat dapat didefinisikan sebagai aplikasi pestisida yang semaksimal mungkin terhadap sasaran yang ditentukan pada saat yang tepat, dengan liputan hasil semprotan yang merata dari jumlah pestisida yang telah ditentukan sesuai dengan anjuran dosis (Hermanto,2010). Kalibrasi adalah menghitung/mengukur kebutuhan air suatu alat semprot untuk luasan areal tertentu. Kalibrasi harus dilakukan pada setiap kali akan melakukan penyemprotan yang gunanya adalah: - Menghindari pemborosan herbisida - Memperkecil terjadinya keracunan pada tanaman akibat penumpukan Herbisida - Memperkecil pencemaran lingkungan (Yakup,dkk, 1991).

Ada dua metode praktis yang mudah diterapkan dalam melakukan kalibrasi alat semprot,yaitu metode luas dan metode waktu: 1. Metode Luas Metode luas lebih mudah diterapkan untuk penyemprotan lahan berkala sempit atau pada tingkat petani yang biasanya menggunakan alat semprot punggung.Metode ini bertujuan untuk menentukan volume semprot.Syarat utama

penerapan metode luas adalah tekanan dalam tangki dan kecepatan jalan operator harus konstan.

2.Metode Waktu Metode waktu baru dapat dilakukan apabila sudah ditentukan volume semprotnya.Tujuam kalibrasi dengan menggunakan metode ini adalah untuk menentukan kecepatan jalan operator.Oleh karena itu,metode ini lebih mudah diterapkan apabila penyemprotan herbisida dilakukan dengan menggunakan boom sprayer atau dengan tractor (Nanik,2012).

Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam menaplikasikan sesuatu pestisida antara lain: 1. Dosis Pestisida.

Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan sasaran tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu aplikasi atau lebih 2. Konsentrasi Pestisida

Konsentrasi penyemprotan adalah jumlah pestisida yang disemprotkan dalam satu liter air (atau bahan pengencer lainnya) untuk mengendalikan sasaran tertentu. 3. Volume Semprot

Volume semprot adalah banyaknya larutan jadi pestisida yang digunakan untuk menyemprot sasaran tertentu per satuan luas atau per satuan individu tanaman 4. Bahan Penyampur

Pestisida sebagai bahan racun aktif (active ingredients) dalam formulasi biasanya dinyatakan dalam berat/volume. Bahan penyampur yang dapat digunakan adalah alkohol, minyak tanah, xyline dan air (Djojosumarto,2000).

Salah satu alat semprot yang digunakan, antara lain Knapsack Sprayer. Alat ini merupakan alat semprot yang sangat meluas digunakan. Alat ini hanya bisa untuk bahan cair dengan bahan pelarut air. Kapasitas tangki antara 15-20 liter dioperasikan secara manual dengan pompa tangan dan daya jangkaunya sangat terbatas yaitu 2 meter. Dalam melakukan kalibrasi hal yang diperhatikan adalah kecepatan jalan harus konstan, tekanan semprot sprayer tetap, ukuran/tipe nozzel, ketinggian nozzel di atas permukaan tanah ( Panut, 2000)

II. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hail Pengamatan

a.Metode Luas

-Nosel kuning Ulangan Air yang dimasukkan 1 2 3 2L 2L 2L 1760 ml 1620 ml 1520 ml 240 ml 380 ml 480 ml Air sisa Air terpakai Volume semprot 240 L/ha 380 L/ha 480 L/ha

-Nosel merah Ulangan Air yang dimasukkan 1 2 3 2L 2L 2L 1280 ml 1510 ml 1670 ml 720 ml 490 ml 330 ml Air sisa Air terpakai Volume semprot 360 L/ha 245 L/ha 165 L/ha

b. Metode Waktu

-Nosel kuning Ulangan Debi nosel (ml/menit) Waktu yang diperlukan/ha (Menit) 1 2 3 720 ml 920 ml 780 ml 694 menit 543 menit 641 menit Jarak yang ditempuh/ha (m) 20.000 20.000 20.000 28,8 36,83 31,20 Kecepatan jalan(m/menit)

-Nosel merah Ulangan Debi nosel (ml/menit) Waktu yang diperlukan/ha (Menit) 1 2 3 1360 ml 1460 ml 1340 ml 367 menit 342 menit 373 menit Jarak yang ditempuh/ha (m) 5000 5000 5000 13,6 14,6 13,4 Kecepatan jalan(m/menit)

B. Pembahasan

Pada praktikum ini menggunakan 2 metode dalam melakukan kalibrasi, yaitu metode luas dan metode waktu. Dimana pengertian kalibrasi itu sendiri adalah penyesuaian mekanisme kerja alat sesuai dengan standar baku.

Standar bakunya adalah penyebaran herbisida secara rata di tempat/ lokasi lahan yang disemprot. Kalibrasi dilakukan sebelum melakukan penyemprotan, dan harus memenuhi syarat, yaitu kecepatan jalan dan tekanan tangki harus konstan/ tetap, serta operator, alat, dan lahannya harus sama. Tujuan dilakukannya kalibrasi adalah supaya dalam penyemprotan dapat dilakukan dengan jumlah yang tepat ke arah sasaran dan penggunaan herbisida menjadi efisien dan efektif Dalam kalibrasi, kecepatan jalan operator sangat mempengaruhi karena dalam pelaksanaan di lapangan sangat dipengaruhi oleh bentuk topografi areal, penghalang seperti parit dan batang melintang. Selain itu posisi nosel juga sangat mempengaruhi dalam aplikasi herbisida. Untuk mendapatkan ketinggian nosel yang konstan yaitu dengan sudut 45 derajat dari permukaan gulma sasaran

Pada praktikum ini menggunakan 2 nosel dengan warna yang berbeda, dengan masing-masing nosel dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali untuk metode luas dan metode waktu.Nosel yang digunakan oleh kelompok kami adalah nosel yang berwarna kuning dengan lebar bidang semprotnya adalah 0,5 meter dan nosel yang berwarna merah dengan lebar bidang semprotnya adalah 2 meter.

Pada metode luas, diterapkan pada lahan yang berskala sempit dengan tujuan untuk menentukan volume semprot. Pada metode ini, nosel yang pertama kali digunakan adalah nosel yang berwarna kuning dengan volume semprot yang dihasilkan adalah 240liter/ ha pada ulangan ke-1, 380 liter/ha pada ulangan ke- 2, dan 480liter/ha pada ulangan ke-3. Sedangkan volume semprot yang dihasilkan oleh nosel merah adalah 360 liter/ha pada ulangan ke-1, 245 liter/ha pada ulangan ke-2, dan 165 liter/ha pada ulangan ke-3. Lebar semprot nozel kuning dan merah berturut-turut adalah 0,5 m dan 2 m.

Pada metode waktu, dilakukan apabila volume semprotnya sudah ditentukan dengan tujuan untuk menentukan kecepatan jalan operator. Pada metode ini, nosel yang pertama kali digunakan adalah nosel yang berwarna merah dengan kecepatan jalan operator sejauh 13,6 m/menit pada ulangan ke-1, 14,6 m/ menit pada ulangan ke-2, dan 13,4 m/menit pada ulangan ke-3. Sedangkan kecepatan jalan operator dengan menggunakan nosel kuning adalah 28,8 m/menit pada ulangan ke-1, 36,83 m/menit pada ulangan ke-2, dan 31,20 m/menit pada ulangan ke-3.

Perbedaan waktu yang diperlukan untuk menghabiskan cairan pestisida yang dibutuhkan untuk satuan luas yang diberi perlakuan mengharuskan kita untuk lebih pandai dalam meratakan penyemprotan ke lahan. Hal ini berhubungan dengan kecepatan berjalan. Sehingga semakin besar volume keluaran cairan suatunozzle akan semakin sedikit waktu yang dibutuhkan dan semakin cepat kita berjalan menyemprotkan cairan ke lahan dalam luasan yang sama. Bila melihatdata yang diperoleh, terlihat bahkan dengan memakai nozzle merah kita mampu mengaplikasiakan pestisida pada luasan yang dua kali lipat lebih luas dari lahan yang memakai nozzle kuning dalam waktu yang lebih singkat pula.Perbedaan kecepatan dalam pengaplikasian pestisida ini tidak lantas menunjukkan bahwa nozzle tertentu lebih baik karena memiliki kecepatan yanglebih tinggi dalam pengaplikasian. Akan tetapi, jenis pestisida yang digunakan juga mempengaruhi, misal saja herbisida yang bersifat sistemik latent tidak membutuhkan pengaplikasian yang merata sehingga nozzle dengan volume besar lebih efisien. Namun tidak demikian untuk untuk pengaplikasian fungisida tertentu yang membutuhkan kerataan dalam pengaplikasian, justru nozzle dengan volume keluaran yang lebih kecil akan lebih efisien

DAFTAR PUSTAKA

Djojosumarto, Panut. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius: Yogyakarta

Hermanto.2010.Pestisida Dasar-Dasar Dan Dampak Penggunaanya. Gramedia.Jakarta. Nanik,Prof.Dr.Ir,Dkk.2012.Panduan Praktikum Ilmu Dan Teknik Pengendalian Gulma.Jurusan Budidaya Fakultas Pertanian Universitas Lampung.Bandar Lampung Wudianto, R. 1999. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Penebar Swadaya, Jakarta Yakup,Dkk. 1991. Gulma Dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Press.Jakarta.