BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH RPJMD 2011-2015

BAB II

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
2.1. 2.1.1 Aspek Geografis dan Demografis Letak Geografis dan Batas Administrasi Wilayah

Provinsi Kalimantan Selatan dengan ibukota Banjarmasin terdiri atas 11 kabupaten dan 2 kota, terletak antara 114 °19' 13'' - 116°33' 28'' Bujur Timur dan 1° 21' 49'' – 4 °10' 14'' Lintang Selatan, memiliki luas wilayah hanya 6,98 persen dari luas Pulau Kalimantan secara keseluruhan yaitu seluas 37.530,52 km2 dengan batas –batas : sebelah barat dengan Provinsi Kalimantan Tengah sebelah timur dengan Selat Makasar, sebelah selatan dengan Laut Jawa sebelah utara dengan Provinsi Kalimantan Timur. Kondisi alam Provinsi Kalimantan Selatan terdiri atas daerah pantai, dataran rendah dan perbukitan/pegunungan. Kemiringan tanah dengan 4 kelas klasifikasi menunjukkan bahwa sebesar 43,31 persen wilayah Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2%. Rincian luas menurut kemiringan adalah sebagai berikut: 0 - 2% : 1.625.384 Ha (43,31%) >2 - 15% : 1.182.346 Ha (31,50%) >15 - 40% : 714.127 Ha (19,02%) >40% : 231.195 Ha (6,16%) Menurut jenis tanahnya, meliputi Podsolik Merah Kuning (PMK), Latosol, Litasol, Podsolik Merah Kuning Litosol, Komplek Podsolik Merah Kuning Organosol Gley Humus, PMK Dataran Tinggi, PMK Pegunungan , dan Alluvial. Wilayah Kalimantan Selatan juga banyak dialiri sungai. Sungai tersebut antara lain Sungai Barito, Sungai Riam Kanan, Sungai Riam Kiwa, Sungai Balangan, Sungai Batang Alai, Sungai Amandit, Sungai Tapin, Sungai Kintap, Sungai Batulicin, Sungai Sampanahan dan sebagainya. Umumnya sungai-sungai tersebut berpangkal pada pegunungan Meratus dan bermuara di Laut Jawa dan Selat Makasar. Data tahun 2008 menyebutkan bahwa penggunaan lahan di Kalimantan Selatan meliputi Lahan pemukiman/kampung seluas 59.563 ha, industri 2.489 ha, pertambangan 42.111 Ha, sawah 426.067 ha, pertanian lahan kering semusim 60.680 ha, kebun campuran 171.642 ha, perkebunan 486.448 ha, padang/semak belukar/alang-alang 830.684 ha, hutan 1.613.431 ha, perairan darat 45.731 ha, tanah terbuka 3.713 ha, dan lain-lain 59.997 ha. Wilayah Kalimantan Selatan menyimpan beberapa potensi bahan galian pertambangan seperti mineral, batu bara, minyak dan gas bumi, intan, dan lain-lain.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 2

BAB II 2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah

Potensi Pengembangan Wilayah dievaluasi dari unsur-unsur potensi geografis, penduduk, ekonomi wilayah, sektor andalan, sektor pendukung, sektor investasi, keuangan dan pembiayaan, dan pendukung dan transportasi. Potensi pengembangan wilayah Provinsi Kalimantan Selatan didekati dengan kebijakan perwilayahan. Kebijakan perwilayahan didasarkan atas efektivitas pembangunan di seluruh Provinsi dan untuk mensinkronkan pembangunan berbagai sektor andalan yang akan dikembangkan di masing-masing wilayah kabupaten/kota agar pengembangannya tidak saling tumpang tindih satu sama lain, sehingga potensi yang dimiliki masing-masing daerah dapat dikembangkan secara optimal dan terintegrasi. Pengembangan potensi secara spasial dilakukan melalui kebijakan pengembangan kawasan strategis Provinsi. Kawasan strategis wilayah Provinsi terdiri atas Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan Kawasan Strategis Provinsi (KSP). Kawasan Strategis Nasional dimaksud Kawasan Strategis Nasional Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi yaitu Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Batulicin. Kawasan Strategis Provinsi (KSP) dimaksud terdiri atas (1) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi; (2) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup; (3) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertahanan dan Keamanan Negara. Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi terdiri atas : a. Kawasan Metropolitan Banjar Bakula yang meliputi wilayah administrasi pemerintahan Kota Banjarmasin (Kecamatan Banjarmasin Selatan, Banjarmasin Timur, Banjarmasin Tengah, Banjarmasin Barat, Banjarmasin Utara), Kota Banjarbaru (Kecamatan Banjarbaru Utara, Banjarbaru Selatan, Landasan Ulin, Liang Anggang, Cempaka ), sebagian Kabupaten Banjar (Kecamatan Kertak Hanyar, Gambut, Sungai Tabuk, Aluh- Aluh, Beruntung Baru dan Martapura, Martapura Timur, Martapura Barat, Astambul, Mataraman, Karang Intan), sebagian Kabupaten Barito Kuala (Kecamatan Alalak, Mandastana, Anjir Muara, Anjir Pasar, Tamban, Tabunganen, Mekarsari), sebagian Kabupaten Tanah Laut (Kecamatan Bati-Bati, Kurau, Tambang Ulang, Bumi Makmur); b. Kawasan Rawa Batang Banyu yang meliputi wilayah administrasi pemerintah Kabupaten Barito Kuala (Kecamatan Balawang, Barambai, Cerebon, Wanaraya, Bakumpai, Tabukan, Kuripan), sebagian Kabupaten Banjar (Kecamatan Simpang Empat), sebagian Kabupaten Tapin (Kecamatan Candi Laras Selatan, Candi Laras Utara dan Tapin Tengah), sebagian Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Kecamatan Daha Selatan, Daha Utara, Kalumpang ), Kabupaten Hulu Sungai Utara (Kecamatan Danau Panggang, Babirik, Sungai Pandan, Amuntai Selatan, Amuntai Utara, Amuntai Tengah dan Banjang), sebagian Kabupaten Tabalong (Kecamatan Pugaan, Banua Lawas, Kelua, Muara Harus); c. Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM), yaitu KTM Cahaya Baru di Kabupaten Barito Kuala dan KTM Sengayam di Kabupaten Kotabaru; d. Kawasan Perdagangan, Industri dan Jasa, yaitu kawasan yang berbasis pada pengembangan perdagangan, jasa dan industri dan berpotensi menjadi kawasan ekonomi khusus yaitu di Kawasan Mekar Putih dan Kawasan Pulau Lari-Larian di RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 3

Balangan. Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis. gudang amunisi dan daerah ujicoba persenjataan. dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu. hidrologis. Wilayah Rawan Bencana Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan. sosial. politik. Data jumlah banjir di Kalimantan Selatan dari tahun 2006 – 2009 disajikan pada Gambar II. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . sebagai daerah pertahanan darat dan daerah pertahanan udara. Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup terdiri atas : a. kerusakan lingkungan. daerah latihan militer. ekonomi. gudang amunisi. biologis. yaitu: (1) Banjir. mencapai kesiapan. Kawasan Jorong (Kabupaten Tanah Laut) dan Kawasan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu. daerah latihan militer.2015 Page 4 . Banjar. Tanah Bumbu dan Kotabaru. 3) Kawasan tertentu di Kota Banjarbaru dan Banjarmasin yang diperuntukan bagi basis militer. Tanah Laut. Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala. Hulu Sungai Selatan. daerah ujicoba persenjataan dan daerah industri pertahanan. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. yaitu kawasan hutan lindung yang memanjang dari Kabupaten Kotabaru sampai dengan Kabupaten Banjar termasuk kawasan Tahura Sultan Adam. 2. baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. daerah basis militer. 2) Kawasan tertentu di pegunungan Maratus di Kabupaten Banjar. daerah pembuangan amunisi dan peralatan pertahanan lainnya. kerugian harta benda.BAB II Kabupaten Kotabaru. budaya. Kotabaru. gudang amunisi. Hulu Sungai Tengah. daerah pembuangan amunisi. daerah basis militer. Tanah Laut. Tapin. daerah latihan militer.1. daerah pendaratan. Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertahanan dan Keamanan Negara terdiri atas : 1) Kawasan tertentu di sepanjang pesisir pantai dan laut di Kabupaten Barito Kuala.3. daerah uji coba persenjataan. frekuensinya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. dan (3) Tanah longsor Banjir terjadi setiap tahun. geografis. Ada tiga bencana alam yang rawan di Kalimantan Selatan. klimatologis. meredam. Tanah Bumbu. Kawasan Pegunungan Meratus. dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah. dan dampak psikologis. Tabalong. Tanah Bumbu dan Kotabaru sebagai daerah pertahanan laut. b. daerah pembuangan amunisi. (2) Kebakaran hutan dan lahan. kawasan terbuka sepanjang pantai timurtenggara wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan berbagai pola pemanfaatan ruang baik lindung maupun budidaya di Kabupaten Tanah Laut.1.

2015 Page 5 . menenggelamkan 60 kecamatan dan 551 desa. Pada musim hujan kebanjiran. Kalimantan Selatan termasuk dalam 10 provinsi yang menjadi perhatian Departemen Kehutanan dalam masalah kebakaran hutan dan lahan ini. dan Kotabaru. Banjir yang terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu (khususnya di Kecamatan Kusan Hulu dan Kusan Hilir) telah merendami sedikitnya 1. Balangan. Menurut data Dinas Kesejahteraan Sosial Kalimantan Selatan. Beberapa kali kejadian banjir telah pula menimbulkan korban jiwa. kerugian akibat bencana alam tersebut mencapai Rp.1 miliar. disajikan pada Tabel II. Tapin.925 rumah yang dihuni 6. Pada tahun berikutnya cederung menurun karena faktor alam. Banjar. berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan tahun 2009. 3. Tanah Laut.BAB II Ada sembilan kabupaten di Kalimantan Selatan yang sering terendam banjir. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Hulu Sungai Utara. Hulu Sungai Selatan. Kebakaran hutan dan lahan cenderung meningkat hingga tahun 2006. sebaliknya pada musim kemarau sering terjadi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan. Banjir yang melanda sembilan kabupaten tersebut. yaitu hampir tidak ada musim kemarau yang jelas pada tahuntahun terakhir .1.461 warga dan telah terjadi tiga kali banjir sepanjang tahun 2010. Tabel II. Tanah Bumbu.2009 KABUPATEN Tabalong Balangan HSU HST HSS Tapin Banjar Banjarbaru Barito Kuala Banjarmasin Tanah Laut Tanabu Kotabaru JUMLAH 2005 17 13 14 4 82 79 147 17 98 1 106 40 63 686 2006 171 215 158 109 766 943 1128 167 665 6 479 274 732 5813 TAHUN 2007 90 73 30 16 184 146 146 23 80 11 78 105 183 1165 2008 40 30 15 2 39 5 19 1 18 9 14 1 10 203 2009 45 45 86 25 97 185 215 14 138 2 142 81 183 1258 Sumber : Badan nasional penanggulangan bencana (BNPB). Jumlah titik panas per kabupaten di Kalimantan Selatan tahun 2005 – 2009. yang dapat dilihat dari titik panas (hot spot).1 Jumlah Titik Panas Menurut Kabupaten/Kota Di Kalimantan Selatan Tahun 2005 . Fasilitas umum yang juga terendam sebanyak 248 sekolah dan 26 puskesmas. yaitu: Tabalong.

2. Akibat bencana tersebut. warga yang tinggal di pedalaman tersebut menjadi terisolasi. Daerah rawan bencana tanah longsor Kalimantan Selatan berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) disajikan pada Tabel II. Gambar II. Kecamatan Hatungun. Peta Indeks Rawan Bencana di Kalsel Sumber: Badan nasional penanggulangan bencana (BNPB). Tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu di Kecamatan Kusan Hulu. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .1. Tingkat Kerawanan Bencana Tanah Longsor Menurut Daerah di Kalimantan Selatan Daerah(Kab/Kota) Tingkat Kerawanan Hulu Sungai Selatan Tinggi Tabalong Sedang Balangan Rendah Hulu Sungai Utara Sedang Hulu Sungai Tengah Sedang Kota baru Rendah Tapin Sedang Barito Kuala Sedang Kota Banjarmasin Sedang Kota Banjarbaru Sedang Tanah Laut Sedang Banjar Sedang Tanah Bumbu Rendah Sumber : Badan nasional penanggulangan bencana (BNPB). Kabupaten Tapin. 2010 Untuk lebih jelas tingkat kerawanan wilayah bencana tanah longsor ini disajikan dalam suatu peta yang ditunjukkan pada Gambar II.2015 Page 6 . Tabel II.BAB II Bencana yang juga rawan akibat adanya curah hujan yang tinggi selain banjir adalah tanah longsor.1. tepatnya di Desa Bagak. Tanah longsor pernah terjadi di perbatasan antara Kabupaten Tapin dan Banjar.2.

Barabai. Tata Ruang Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat. melakukan kegiatan dan memeliharan kelangsungan hidupnya. dengan fungsi pemerintahan lokal.2015 Page 7 . Kota Banjarbaru dengan fungsi pusat pemerintahan provinsi.1. perdagangan lokal. Paringin. Pelaihari. 2. Pusat Kegiatan Nasional (PKN) adalah Kota Banjarmasin. sistem jaringan transportasi. pemerintahan lokal. 3. 6. (2) rehabilitasi hutan dan rawa. a. perdagangan lokal dan jasa pariwisata regional. pemerintahan lokal. Amuntai dan Kotabaru.BAB II Jenis bencana alam yang sering terjadi antara lain adalah bencana banjir dan kebakaran hutan dan lahan. tempat manusia dan makhluk lain hidup. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Untuk pencegahan terjadi bencana kebakaran hutan dan rawa. industri regional. pelayanan wilayah belakang 10. pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya antara lain : (1) membuat Peraturan Daerah (Perda). dan pendidikan tinggi 4.1. pemerintahan lokal. pemerintahan kabupaten. 8. dan ruang udara termasuk di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah. (2) membentuk tim penanggulangan kebakaran hutan dengan keterlibatan berbagai sektor. 2. ruang laut. Langkah-langkah yang dilakukan selama ini untuk mengantisipasi terjadinya banjir antara lain : (1) normalisasi daerah aliran sungai (DAS) dan pembuatan batas tebing. sebagai pusat jasa. perdagangan lokal. energy dan kelistrikan. Struktur Ruang Struktur ruang wilayah Provinsi Kalimantan Selatan meliputi system perkotaan.1. industri dan perdagangan regional dan nasional. perdagangan regional dan nasional. 2. dan (3) melakukan rencana aksi bersama Kabupaten/Kota dan masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangannya. pelayanan jasa kesehatan regional. pelayanan wilayah belakang. dengan fungsi pusat pemerintahan kabupaten. jasa transportasi udara nasional. pelayanan wilayah belakang 9. Martapura. Kandangan. dengan fungsi pusat perdagangan regional Banua Anam. pelayanan wilayah belakang. industri nasional. telekomunikasi dan sumber daya air. (3) mendorong pemerintah pusat untuk moratorium pertambangan dsb. sebagai pusat jasa. industri dan perdagangan regional. Sistem Perkotaan Sistem perkotaan di Provinsi Kalimantan Selatan adalah : 1. Rantau. pelayanan wilayah belakang. dengan fungsi pusat perdagangan lokal. Batulicin. pelayanan wilayah belakang.4. Tanjung.4. 5. kota transit 7. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) terdiri atas Kota Marabahan. Sementara itu tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. dengan fungsi pusat pemerintahan kabupaten.

jasa transportasi udara nasional. kegiatan keagamaan regional dan nasional 2. pelayanan wilayah belakang.Batulicin. 3. Jaringan jalan bebas hambatan terdiri atas : 1. b. Terminal meliputi : 1. perdagangan regional dan nasional. Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kabupaten Kotabaru.BAB II Pusat kegiatan yang dipromosikan untuk ditetapkan menjadi PKN (PKNp) adalah : 1. Jalur kereta api untuk angkutan penumpang antar kota PKN. Kelua – Pasar Panas (Batas Provinsi Kalimantan Tengah). jasa dan perdagangan nasional. jasa pariwisata nasional. Kabupaten Hulu Sungai Utara. 2. dengan fungsi pusat pemerintahan provinsi. Terminal Penumpang Tipe A di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar. Jalan penghubung lintas jalan lintas Kalimantan yaitu Lianganggang Martapura – Kandangan . terdiri atas : 1. Pleihari – Pagatan. Kota Banjarbaru. 8. Jalan bebas hambatan dalam Kawasan Metropolitan Banjarmasin.Pleihari. Kota Martapura.2015 Page 8 . industri dan perdagangan regional dan nasional.Lianganggang. Terminal Penumpang Tipe B Kota Banjarmasin. 2. Jalan kolektor lainnya yaitu ruas Marabahan – Simpang Serapat. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . pemerintahan kabupaten. Kota Batulicin sebagai pusat jasa. dan pendidikan tinggi 3. c) d) c. b) Jaringan jalan kolektor primer yang menghubungkan antar Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan (K-1) terdiri atas : 1.Tanjung Mabuun – Batas Provinsi Kalimantan Timur. Batulicin – Tanah Grogot. Banjarmasin .Pantai Hambawang – Amuntai . 6. Sistem pengembangan jaringan jalur kereta api meliputi : 1. Kabupaten Barito Kuala. Jalan lintas Selatan Kalimantan yaitu ruas Lianganggang – Pelaihari – Batulicin – Manggalau – Batas Provinsi Kalimantan Timur. pemerintahan lokal. yaitu ruas Banjarmasin – Palangkaraya. 7. Lianganggang . Pantai Hambawang – Barabai – Paringin – Mambuun. Marabahan – Banjarmasin. 5. Sistem Jaringan Transportasi a) Jaringan jalan arteri primer. Kuala Kapuas – Banjarmasin. 4. Pagatan . Jalan lintas Selatan Kalimantan yaitu ruas batas Provinsi Kalimantan Tengah – Banjarmasin – Lianganggang – Batulicin – Batas Provinsi Kalimantan Timur 2. dengan fungsi pusat industri dan perdagangan intan nasional. industri nasional. 2.

Pelabuhan (dermaga) Margasari di Kab. 2.2015 Page 9 . Bandar udara pengumpul skala tersier adalah Gusti Syamsir Alam/ Stagen di Kab. Sistem jaringan pelabuhan (dermaga) sungai terdiri atas : 1. Batas Kalimantan Tengah Banjarmasin – Pelaihari – Asam-Asam – Satui – Pagatan – Batulicin – Kotabaru – Batas Kalimantan Timur. Amuntai di Kab.tenggara Kalimantan Selatan. 3. PLTD Barabai. Hulu Sungai Selatan. 2. Tapin. Tanjung – Tanah Grogot – Balikpapan. Kotabaru.BAB II 2. Hulu Sungai Utara. Marabahan. yaitu : ruas Batas Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Timur – Kabupaten Tabalong – Kabupaten Hulu Sungai Utara – Kabupaten Hulu Sungai Tengah – Kabupaten Hulu Sungai Selatan – Kabupaten Tapin – Kabupaten Banjar – Kabupaten Tanah Laut. Pelabuhan (dermaga) Banjar Raya di Kota Banjarmasin. 3. Jaringan prasarana kereta api untuk angkutan barang pada sentra-sentra produksi terutama untuk komoditas sumberdaya mineral dan komoditas perkebunan pada sebelah timur . PLTD Sungai Bali RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Bandar udara pengumpul skala sekunder adalah Syamsudin Noor – Banjarmasin di Kota Banjarbaru. PLTD Sungai Kupang Kotabaru. PLTD Bungkukan Kotabaru. d. Banjarmasin – Batulicin. e. Hulu Sungai Utara. Sistem kepelabuhanan terdiri atas : 1. Sistem jaringan energi dan kelistrikan terdiri atas : 1. Jalur kereta api untuk angkutan barang pada sentra-sentra produksi terutama untuk komoditas sumberdaya mineral dan komoditas perkebunan pada sebelah barat Pegunungan Meratus. Pelabuhan pengumpul yaitu Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. 4. PLTD Gunung Batu Besar Kotabaru. Bandar udara pengumpan Tanjung Warukin di Kabupaten Tabalong g. Ujung Panti. Tanjung – Buntok – Muarateweh. Tatanan kebandar udaraan terdiri atas : 1. 2. Danau Panggang di Kab. f. PLTD Amuntai. Negara di Kab. Hulu Sungai Utara di tepi Sungai Negara. Batas Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Timur – Kabupaten Tabalong – Kabupaten Balangan . PLTD Rantau.Batas Kalimantan Timur di Kabupaten Pasir – Kabupaten Kotabaru – Kabupaten Tanah Laut. Pelabuhan penyeberangan nasional yaitu pelabuhan penyeberangan lintas provinsi adalah Pelabuhan Trisakti di Kota Banjarmasin dan Pelabuhan Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. 3. Pembangunan jalur kereta api untuk angkutan penumpang dan barang antar kota PKN dengan PKW dan PKL . Babirik di Kab. Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) meliputi : PLTD Pagatan. yaitu ruas : Tanjung – Barabai – Rantau – Martapura – Banjarmasin. yaitu : Batas Kalimantan Timur di Kabupaten Pasir – Kabupaten Kotabaru – Kabupaten Tanah Bumbu – Kabupaten Tanah Laut – Tanjung Selatan. Kuripan di Kabupaten Barito Kuala di tepi Sungai Barito. PLTD Kotabaru. Pelabuhan utama yaitu Trisakti di Kota Banjarmasin.

Tabunganen. DI Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Sengayam dan Sampanahan Kotabaru. DI Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Tanipah. Talaran di Kabupaten Barito Kuala. DI Tapin Kabupaten Tapin. Bendungan nasional meliputi Bendungan PLTA Ir. PLTU Batulicin. Handil Bakti. 4. PLTU Sigam Kotabaru. Bendung Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. 2. 2). . DI Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Barambai. PLTD Semaras Kotabaru. Anjir Serapat. DI Sungai Bungur di Kabupaten Kotabaru. Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) meliputi : PLTG Trisakti Banjarmasin. i. DI Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. DI Telaga Langsat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Seluang. DI Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. meliputi : Anjir Tamban. terdiri dari : batas provinsi Kalimantan Tengah – Marabahan – Kota Banjarmasin. DI Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. DI Pitap di Kabupaten Balangan. terdiri atas : 1). 3. meliputi Bendung Tapin di Kabupaten Tapin. saluran irigasi primer meliputi : Daerah Irigasi (DI) Tapin di Kabupaten Tapin. Daerah Irigasi (DI) nasional.2015 . Barabai – Batas Provinsi Kalimantan Timur. DI Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. k. DI Kotabaru-Berangas dan DI Sungai Bungur di Kabupaten Kotabaru. DI Telaga Langsat dan DI Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Bendung Pitap di Kabupaten Balangan. Bendung Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. DI Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) meliputi : PLTU Asam-Asam Tanah Laut.BAB II Kotabaru. Kandangan – Barabai. PLTD Tanjung Lontar Kotabaru. DI Jejangkit II di Kabupaten Barito Kuala. Sistem Jaringan irigasi terdiri atas : 1. Belanti dan Alalak Padang di Kabupaten Page 10 j. PLTU Mulut Tambang Balangan. Riam Kanan di Kabupaten Banjar. Kota Banjarmasin – Rantau . saluran irigasi sekunder meliputi : DI Tapin di Kabupaten Tapin. 2. h. DI Kotabaru-Berangas di Kabupaten Kotabaru. PLTU Kusan Tanah Bumbu. Rantau – Kandangan. 3. Sistem Jaringan telekomunikasi meliputi : Sistem jaringan mikro digital. Belawang. Kusan Tanah Bumbu. Bendung Karang Intan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Bendung nasional. DI Pitap di Kabupaten Balangan. PLTU Tanjung. PLTD Tanjung Seloka Kotabaru. DI Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. PLTU IPP Binuang. DI Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. Bendung Telaga Langsat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sakalagun. Jelapat. Terantang. Kota Marabahan – Kota Banjarmasin. Pangeran Muhammad Noor.dan DI Pitap (Kab Balangan) Jaringan rawa dan pantai terdiri atas : 1. Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) meliputi : Riam Kanan. DI Telaga Langsat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Jejangkit I. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . meliputi DI Jejangkit II di Kabupaten Barito Kuala. Jaringan saluran irigasi nasional.

Kawasan suaka alam di cagar alam (CA) Teluk Kelumpang. TWA Pulau Kembang di Kota Banjarmasin. Murung. Kabupaten Banjar. TWA Pulau Bakut. 3. Polder Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. DAS Riam Kiwa. Kawasan rawan tanah longsor meliputi Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Balangan sampai perbatasan Provinsi Kalimantan Timur. Situs Gua di Gunung Batu Babi.1. b. DAS Negara. Saluran/kanal banjir nasional meliputi : Sungai Barabai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Sungai Balangan di Kabupaten Balangan. SM Kuala Lupak di Kabupaten Tanah Laut. 2. Muara Uya di Kabupaten Tabalong. pelestarian alam di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam di Kabupaten Banjar. Selat Laut dan Selat Sebuku. Handil Bakti. Muning di Kabupaten Tapin. dan resapan air di sekitar kawasan hutan lindung. Talaran di Kabupaten Barito Kuala. Pola Ruang Pola ruang meliputi kawasan lindung yang terdiri atas : a. CA Sungai Lulan dan Sungai Bulan. DAS Kapuas. kawasan bergambut di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. kawasan sekitar danau atau waduk. dan Anjir Alalak Padang di Kabupaten Banjar. SM. 5. d. CA. SM Pulau Kaget di Kabupaten Barito Kuala. Barambai. Wilayah sungai lintas provinsi yaitu WS Barito-Kapuas yang melintasi Prov. dan kawasan Suaka Margasatwa (SM) yang meliputi : SM Pelaihari. DAS. Muara Sungai Asam-Asam. kawasan terbuka hijau kota yang lokasinya tersebar di Kabupaten/kota c. Jelapat. kawasan sempadan sungai. Jejangkit I. DAS Martapura.2015 Page 11 .2. TWA Jaro di Kabupaten Tabalong. DAS Ambawang. CA Teluk Pamukan. Kawasan cagar budaya sebagaimana terdiri atas : Cagar Budaya Candi di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sakalagun. Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru. DAS Riam Kanan. e. Belanti. Tabunganen.4.dan Polder Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Taman Wisata Alam (TWA) yang meliputi TWA Pelaihari dan TWA Batakan di Kabupaten Tanah Laut. Terantang. kawasan sempadan mata air. Kalsel dan Kalteng meliputi DAS Barito. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya seperti kawasan hutan lindung di Pegunungan Meratus. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Daerah rawa (DR) nasional meliputi : Anjir Tamban. 4. Tanipah. 2. Anjir Serapat. Belawang. Saluran rawa nasional Muning di Kabupaten Tapin. Wilayah sungai (WS) Lintas kabupaten/kota meliputi WS Cengal – Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. Negara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. dan DAS Tapin. Gunung Kentawan di Kabupaten Kotabaru. Seluang. Kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan pantai.BAB II Banjar. Negara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Banjar. Banjar. Tapin. kawasan pertanian tanaman pangan dan hortikultura (TPH) meliputi kawasan TPH lahan basah dan kawasan TPH lahan kering yang tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Danau Panggang dan Amuntai Selatan di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kawasan Andalan Kandangan dan sekitarnya dengan sektor unggulan : pertanian. Panyipatan. pertanian. kawasan pertanian TPH lahan basah terdiri dari kawasan pertanian lahan sawah irigasi. kawasan pertanian TPH lahan kering tersebar hampir di seluruh wilayah provinsi kecuali Kabupaten Hulu Sungai Utara. 5. kawasan pertanian TPH lahan lebak tersebar hampir di seluruh wilayah provinsi kecuali Banjarmasin dan sebagain besar membentuk sentra komoditas palawija dan hortikultura. Kandangan. palawija dan hortikultura. Hulu Sungai Tengah.2015 . Barito Kuala dan Kota Banjarmasin yang membentuk sentra komoditas padi gogo. perkebunan. Pusat-pusat distribusi dan industri hasil pertanian di wilayah Kabupatenkabupaten Hulu Sungai Tengah. kawasan pertanian TPH lahan sawah irigasi dikembangkan hampir di seluruh wilayah provinsi kecuali Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala. Kelumpang. Page 12 i. Daha Barat. dan perikanan. dan perikanan. Kawasan Andalan Banjarmasin Raya dan sekitarnya dangan sektor unggulan : pertanian. kehutanan. pariwisata. Teluk Tamiang dan sekitarnya di Kabupaten Kotabaru. kawasan pertanian TPH lahan pasang surut tersebar pada wilayah Kabupaten Barito Kuala. Daha Utara. Perkebunan besar swasta maupun perkebunan besar pemerintah meliputi kawasan perkebunan yang tersebar di wilayah Kabupaten Barito Kuala. Tanjung Dewa. yaitu KKPD Paminggir. perkebunan dan pariwisata. Kawasan Andalan terdiri atas : 1. h. 3. Tanah Laut. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Simpur di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.BAB II f. kawasan pertanian terdiri atas : 1. lahan tadah hujan. 2. 6. Kawasan Konservasi Perairan Daratan (KKPD). Kawasan Andalan Batulicin dan sekitarnya dengan sektor unggulan : perkebunan. Labuan Amas Utara di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. pariwisata. Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Kawasan perkebunan terdiri atas : 1. 7. Tanah Bumbu dan Kota Banjarmasin membentuk sentra komoditas padi dan hortikultura. dan pertambangan. g. industri. Hulu Sungai Selatan. Tabanio. Balangan. 4. Kotabaru. 2. dengan sektor unggulan : perikanan. 8. Tanah Laut. Daha Selatan. 4. lahan pasang surut dan lahan lebak. menetapkan kawasan pertanian pangan berkelanjutan untuk mengendalikan alih fungsi kawasan pertanian. Kawasan Andalan Laut meliputi : Kawasan Andalan Laut Pulau Laut dsk. industri. Tanah Bumbu j. 3. yaitu KKLD Terumbu Karang Bunati di Kabupaten Tanah Bumbu. Bakarangan di Kabupaten Tapin. Takisung di Kabupaten Tanah Laut.

Pamalikan. Tanjung Batu. Tanjung Mangkok di Kabupaten Kotabaru. Sungai Loban. Banjarbaru dan Barito Kuala. Daerah pusat pemurnian ternak Sapi Bali. Tanah Bumbu. 2.2015 Page 13 . Hulu Sungai Tengah. yaitu di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Hulu Sungai Tengah dan daerah pusat pembibitan ternak kerbau/kerbau darat . Sungai Bali. di gugus Pulau. Hulu Sungai Selatan. Tanjung Seloka. Selambau. rampa. Tabalong. Kawasan Laut Kintap – Asam-Asam dan sekitarnya di Kabupaten Tanah Laut. Tanjung Samalantakan. yaitu Sungai Musang di Kabupaten Banjar. Kotabaru. Daerah pendaratan ikan. Kotabaru dan Balangan yang pada umumnya membentuk sentra komoditas kelapa sawit dan karet. Hulu Sungai Tengah. Muara Kintap. Tanah Bumbu dan Kotabaru. Jorong s. Kuala Tambangan. Hulu Sungai Tengah dan Banjarbaru yang pada umumnya membentuk sentra komoditas karet. Rencana pengembangan kawasan perikanan dan kelautan terdiri atas : 1. Teluk Tamiang. Daerah pusat pembibitan ternak kerbau kalang/kerbau rawa/kerbau darat. Danau Panggang dan Danau Bangkau sebagai reservat perikanan darat. Pulau Bakut Kabupaten Barito Kuala. 2. Budidaya laut berada di Lontar. Tabalong. Sungai Danau. Tanah Laut. k. kelapa dalam dan kepala sawit dari hasil perkebunan swadaya dan pola kemitraan dengan perkebunan besar swasta. Tanah Bumbu. Kerayaan. 6. Kotabaru. Matasirih. Sungai Taib. Batulicin. Kurau. Kawasan peruntukan peternakan terdiri atas : 1. l. Sarang Tiuang. Tapin. Banjar. yaitu di Kabupaten Kotabaru. Tapin. Sebamban. Aluh-Aluh. Semisir. Pagatan. Daerah tangkapan nener dan benur. daerah pengembangan unggas. Birah-birahan. Daerah pusat pembibitan ternak sapi. Hulu Sungai Utara. 2. 5. Marabatuan. Tahura Sultan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Perkebunan rakyat meliputi kawasan perkebunan yang tersebar di wilayah Kabupaten Barito Kuala. Tanah Bumbu. Balangan.d Sungai Cuka di Kabupaten Tanah Laut. Bunati. Balangan. Tabalong. Tanah Laut. Teluk Tamiang. Batola. yaitu di Kabupaten Barito Kuala dan pusat pemurnian ternak itik Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Pantai. Hulu Sungai Utara. 3. yaitu Kuala Lupak. Budidaya tambak di pesisir timur Muara Kintap. Pudi. 5. m. Banjar. Hulu Sungai Selatan. Hilir Muara. Hulu Sungai Selatan. Kerasian. yaitu di Kabupaten Tanah Laut. Takisung. Perikanan tangkap di wilayah Pantai Selatan Kalimantan.BAB II Banjar. 3. yaitu Loksado di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. 4. Kawasan Laut Aluh-Aluh dan sekitarnya di Kabupaten Banjar. 7. Kawasan Laut Pulau Laut dan sekitarnya di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru. Muara Asam-Asam. daerah pengembangan ternak kambing. Berangas. yaitu di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Hulu Sungai Selatan. Batakan. Lontar. Banjarbaru dan Banjar. Jorong. Tapin. Pagatan Besar. Obyek wisata alam. Tanah Laut. 4. yaitu di Kabupaten Tapin. Tabalong. Teluk Sirih. Kawasan pariwisata terdiri atas : 1. Pulau Kaget. Hulu Sungai Utara. Pulau Kembang. Sebanti.

industri logam. Gua Liang Kantin Muara Uya di Kabupaten Tabalong. yaitu Pulau Kunyit. kehutanan. 2. Batakan di Kabupaten Tanah Laut dan Pagatan. Sentra industri di Kota Banjarmasin yang berorientasi pada industri RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Air Panas Hantakan. 3. 3. 9. Jaro. Obyek wisata budaya di Loksado. perkebunan. Kerbau Rawa Danau Panggang di Kabupaten Hulu Sungai Utara. keramik. 7. gas. agro industri. Pasar Terapung Lok Baintan Sungai Tabuk di Kabupaten Banjar. n.2015 Page 14 . Syech Muhammad Arsyad Pagatan di Kabupaten Tanah Bumbu. Upau. perikanan dan kelautan serta industri baja.. Zona industri Jorong dan Kintap di Kabupaten Tanah Laut yang berorientasi pada industri bubur kertas dan bijih besi. Tanjung Puri di Kabupaten Tabalong. Bunati di Kabupaten Tanah Bumbu. 8. Zona industri Liang Anggang di Kota Banjarbaru yang berorientasi pada industri minuman. Obyek wisata pantai Swarangan Jorong. 11. Sentra industri Negara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang berorientasi pada industri kerajinan rumah tangga. Datu Sanggul. Sarang Tiung di Kabupaten Kotabaru. kimia. Takisung. 4. 5. Kawasan industri terdiri atas : 1. 5. makanan dan kehutanan. Pagatan. 4. Batang Alai Selatan. Kawasan industri Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu yang beorientasi pada industri perkebunan. 6. Waduk Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut. Air Terjun Tumpang Dua di Kabupaten Kotabaru. Pendulangan Intan Sungai Tiung Cempaka di Kota Banjarbaru. Zona Industri Tarjun di Kabupaten Kotabaru yang berorientasi pada industri semen. Kubah Basirih di Kota Banjarmasin. Zona Industri Barito Muara Barito Kuala di Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala yang berorientasi pada industri kehutanan. Gua Temu Luang dan Gua Sunggung di Kabupaten Kotabaru. Haruyan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Dayak Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Zona industri Bati-Bati di Kabupaten Tanah Laut yang berorientasi pada industri peternakan. industri kehutanan. 12. Sentra industri galangan kapal di Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru di Kabupaten Kotabaru. bahan kimia. Obyek wisata religius Syech Muhammad Arsyad Al Banjari Kalampayan. 2. Zona industri Matraman di Kabupaten Banjar yang berorientasi pada industri perkebunan. Obyek wisata budaya Pasar Terapung. Sentra industri Amuntai di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang berorientasi pada industri perabot kayu dan rotan. Teluk Tamiang di Kabupaten Kotabaru. Obyek wisata bahari untuk terumbu karang.BAB II Adam dan Lembah Kahung di Kabupaten Banjar. Danau Undan Banua Lawas di Kabupaten Tabalong. Zona industri Murung Pudak di Kabupaten Tabalong yang berorientasi pada industri agroindustri. Obyek wisata buatan/atraksi antara lain Pasar Terapung Kuin di Kota Banjarmasin. 6. 10.

Tabalong. Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM). 6. Penduduk terbanyak berada di kota Banjarmasin dengan jumlah 639. Tanah Laut. Pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 1. p. 7. 2. Demografis 2. Tapin. Banjar. Kawasan Metropolitan Banjarmasin / Banjarmasin Raya. Tabalong. Kawasan Pelabuhan dan Bandar Udara. 4. Kabupaten-kabupaten Banjar. dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. 13. Kawasan pertambangan batubara. Perkembangan Penduduk Penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan berjumlah 3. Balangan. o. 3.70 persen per tahunnya. Sentra industri kerajinan batu permata Martapura di Kabupaten Banjar.446.5. Kotabaru. 11. Kabupaten Tanah Laut. industri pengolahan kayu.1. Kawasan Berpotensi Pengembangan Ekonomi Khusus. 9. Kawasan pertambangan pola terbuka untuk bahan galian logam dan biji besi di wilayah Kota Banjarbaru. minyak bumi dan gas di wilayah Cekungan Kabupaten-kabupaten Barito.BAB II kerajinan rakyat kain sasirangan. Tanah Bumbu.2015 Page 15 . 8. Kawasan pertahanan keamanan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang dikembangkan untuk kepentingan nasional dan provinsi.1. Kawasan Rawa Potensial Batang Banyu. industri pengolahan karet. yaitu di Kawasan Mekar Putih dan Kawasan Pulau Lari-Larian di Kabupaten Kotabaru. 2. Cahaya Baru di Kabupaten Barito Kuala dan Sengayam di Kabupaten Kotabaru. 10. Kawasan Jorong (Kabupaten Tanah Laut) dan Kawasan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu.978 jiwa RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kawasan lainnya terdiri atas : 1. Kawasan Strategis Nasional (KSN) adalah Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Batulicin. Tanah Bumbu.396. 3. 12. Kawasan wilayah pertambangan rakyat bahan galian intan di Kota Banjarbaru. Hulu Sungai Selatan. Kawasan perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kawasan pertambangan terdiri atas : 1.156 jiwa (tahun 2009). bertambah menjadi 3. kawasan perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Kotabaru. Balangan. 5.1.631 jiwa (tahun 2008). 3. Tanah Laut. Kabupaten Tanah Bumbu. Hulu Sungai Utara.503. Kawasan pertahanan dan keamanan yaitu di Kota Banjarbaru. 2.5. Hulu Sungai Selatan. Kawasan Pegunungan Meratus.680 jiwa (tahun 2007). Barito Kuala dan Pulau Lari-Larian di Kabupaten Kotabaru. Hulu Sungai Tengah.

082 Tanah Bumbu 221.737 Kalimantan Selatan 3.886 jiwa pada tahun 2009 atau sekitar 14. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2009 275.273 154.68 0.2008 1.448 272.BAB II pada tahun 2009 atau sekitar 18.948 246.85 0.4 Laju pertumbuhan Penduduk Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2003-2008 No.304 226. 1 2 3 4 5 6 7 8 Tanah laut Kotabaru 1) Banjar 3) Barito Kuala Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara 2) Kabupaten/Kota Tahun 2003 .056 Barito Kuala 269.49% dan pada tahun 2009 sebesar 1.1 0.59 0.189 244. Tabel II.574 Banjar 480.332 Tapin 152.000 193.208 Balangan 101.860 102.091 Kotabaru 272.570 627.d 2009 tidak mengalami banyak perubahan yang berarti.487 218. pada tahun 2008 terjadi penambahan penduduk sebesar 1. perencanaan dan pengelolaan sektor keluarga berencana akan mendapat perhatian lebih serius.91 1.077 153.331 498.02 1.503.156 Sumber : Badan Pusat Ststistik Kalimantan Selatan.886 275. dapat dilihat pada tabel II. Perkembangan penduduk Kalimantan Selatan selama tahun 2007 s.007 281.336 209.296 Kota Banjarmasin 615. Berdasarkan tabel tersebut diatas.27% dari seluruh penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan.245 Kota Banjarbaru 164.066 Hulu Sungai Selatan 207.3 Jumlah Penduduk Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2007 s/d 2009 Tahun Kabupaten/Kota 2007 2008 Tanah laut 265.298 102.d 2009 dapat dilihat pada tabel II.4 Tabel II.278 195.680 3.64%.96 Page 16 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .192 Hulu Sungai Utara 214.629 270.823 3.000 167.767 639. Kabupaten Banjar memiliki penduduk terbanyak kedua dengan jumlah 498.8 1.3.2005 2.010 489.181 Tabalong 191.396. Dimasa yang akan datang.2015 .12 0.571 Hulu Sungai Tengah 242.71 1.000 276. Meningkatnya pertumbuhan penduduk sebagai akibat dari belum optimalnya daerah untuk menggarap sektor keluarga berencana.191 216. untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.402 208.01 1) 2.978 170.1 2) Tahun 2005 .22 3) 1.446.71 1.24%. Struktur penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan selama tahun 2007 s. Laju pertumbuhan penduduk per Kabupaten/Kota.631 No.631 231.

Perkembangan peserta KB di Kalimantan Selatan selama tahun 2007 s.5 Peserta KB Aktif Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 No.5 Tabel II.995 34. Perkembangan capaian peserta KB Baru di Kalimantan Selatan tabel II.611 35.035 16.733 39.72 2.262 Tahun 2007 41.708 63.647 30.286 44.933 23. namun jika dilihat kabupaten/kota terdapat beberapa kabupaten (Hulu Sungai Selatan.983 42. Tanah Bumbu dan Balangan) mengalami penurunan kinerja dalam capaian peserta KB Baru.456 39.840 31.427 24.181 506.27 1.2005 1.d 2008 menunjukkan perkembangan yang cenderung meningkat.338 42.049 84.201 Sumber : BKKBN Provinsi Pencapaian peserta KB baru di Provinsi Kalimantan Selatan selama periode tahun 2006 s.468 37.269 32.513 80.2015 Page 17 .24 0.561 37.660 524.839 27.6 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 9 10 11 12 13 14 Tabalong Tanah Bumbu Balangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan Kabupaten/Kota Sumber : BPS Provinsi Keterangan : 1) = Termasuk Kabupaten Tanah Bumbu 2) = Termasuk Kabupaten Balangan 3) = Termasuk Kota Banjarbaru Peran keluarga berencana menjadi sangat penting.BAB II Tahun 2003 .d 2008 dapat dilihat pada tabel II.553 25.24 4.31 1.620 33.91 Tahun 2005 .020 61.976 16.12 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Tanah laut Kotabaru Banjar Barito Kuala Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Tabalong Tanah Bumbu Balangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan 2006 40. tidak saja prekrutan peserta KB baru dan memelihara peserta KB aktif yang ada.45 1.555 35.227 2008 44.249 15.726 21.771 28.92 2. sehingga cakupan KB baru dan penundaan usia nikah dapat dilakukan dengan baik.443 30.322 29.348 35.2008 1.49 No.842 44.485 31.654 31.319 23.281 476. tapi juga mendekatkan pelayanan hingga ke pedesaan.729 76.625 69.

keterbatasan fasilitas pelayanan belum memadai.767 26.870 5.457 4. kesempatan kerja. Madura.426 16.143 90.064 6. Kondisi inilah yang sangat membantu dan merupakan modal dasar dalam melakukan kegiatan pembangunan disegala bidang kehidupan. akan faktor yang dapat mempengaruhi cakupan perseta KB Baru.2015 Page 18 .830 Tahun 2007 6. serta penyediaan pelayanan KB gratis bagi penduduk miskin.303 18.519 2008 7. keterbatasan anggaran yang tersedia. Bugis. meningkatkan kesertaan berKB.576 7.841 5. Dampak terbesar adalah terhadap daya tampung pendidikan. penurunan kualitas tenaga kerja.678 7.912 5. namun jumlah mereka relatif kecil.317 4.206 6. serta sebagian kecil suku keturunan Tionghoa. dan persoalan sosial lainnya.542 Sumber : BKKBN Provinsi Pertumbuhan yang tidak terkendali. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .125 17.361 5.019 6. Rendahnya kualitas pelayanan sosial dasar masyarakat.673 4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Tanah laut Kotabaru Banjar Barito Kuala Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Tabalong Tanah Bumbu Balangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan 2006 5. motivasi petugas yang masih rendah.451 6.549 5. Secara umum kondisi pergaulan diantara suku bangsa yang ada sudah sangat kondusif dan hidup secara damai.627 6. sistem administrasi kependudukan belum dilaksanakan secara akurat.459 5.563 117. dapat berakibat pada berbagai persoalan sosial. Batak dan Sunda.926 5.456 4. pelayanan kesehatan.755 8.758 3. munculnya pemukiman kumuh. Beberapa suku bangsa antara lain suku Jawa. serta berbagai determinan sosial di masyarakat. dan komposisinya secara statistik cenderung stabil dari tahun ketahun.6 Peserta KB Baru Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 No.960 7.491 24. Dari aspek keberagaman suku bangsa yang ada di Kalimantan Selatan secara umum didalam komposisi penduduk didominaasi oleh suku asli Banjar.849 6.BAB II Tabel II.119 4.785 7. meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja dan pasangan usia subur tentang KB. Tantangan ke depan adalah mengendalikan Total Fertility Rate (TFR) yang merupakan faktor dominan dalam mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah pertambahan penduduk. meningkatkan akses terhadap pelayanan KB di daerah.306 7.130 9.475 5.011 107.018 7. dan dampak sosial lainya.009 5.959 12.326 3.

03 0.2.54 12.71 1.08 0.19 1.93 76.30 1.76 2.86 3.89 80.80 74.58 25.88 0.92 0.75 82.44 4.55 10.20 0.30 4.12 0.95 1.09 0.72 30.56 1.13 2.54 0. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 2. PDRB Kalsel atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sebagaimana terlihat pada tabel II.BAB II Tabel II.62 Lainnya (7) 2.89 0. 2.76 4. Pertumbuhan dan Struktur PDRB Salah satu pendekatan pengukuran kemajuan bagi perekonomian di suatu daerah ialah dengan melihat perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)nya.16 0.10 0.08 0.45 (5) 1.03 0.79 39.89 96.67 30.80 34.12 0.22 Sunda (6) 1.79 87.70 20.67 98.2015 Page 19 .68 79.29 7.42 95.7 Persentase Penduduk Kalimantan Selatan Menurut Kabupaten/Kota dan 5 Suku Bangsa Terbesar Kabupaten/Kota (1) Tanah Laut Kota Baru Banjar Barito Kuala Tapin HSS HST HSU Tabalong Tanah Bumbu Balangan Banjarmasin Banjar Baru Kal Sel Banjar.79 11.05 2.42 0.91 0.14 0.17 0.2.29 0.09 15.33 11. Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.56 7.42 0.18 1.24 15.1.03 0.61 0.08 0.17 0.42 6.34 Jawa (3) 31.2.63 13.51 0.22 Total (8) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Sumber : Badan Pusat Statistik.07 0.08 0.1.97 6.56 87.52 0. Melayu banjar (2) 61.1.86 2.92 0.30 19.14 Suku Bangsa Bugis Madura (4) 1.75 0.99 0.38 1.12 60.44 1.31 9.07 0.8 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .

200.00 4.262.52% 15.8.55 34. Sektor yang berperan besar selanjutnya adalah pertambangan dan penggalian (19.00 2.72 3.714.047.050.27 2. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.670.62 persen per tahun (Tabel II.90 219.36 4.651.438.132.609.299.35 2.849.758.03 4.03 1.334. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB Migas dengan 2006 7.82 8.06 38.292. Nilai PDRB ADHB (dalam Ribuan Rupiah) Kalsel 2006-2009 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.29% 10.826.39% PDRB tanpa Migas Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan 2009 Nilai PDRB atas dasar harga berlaku dengan migas pada tahun 2006 sebesar Rp.90 5.00 10.860.118.784.310.00 9. Peningkatan nilai PDRB Kalimantan Selatan dari tahun 2006 sampai 2009 terutama disebabkan oleh sektor pertanian dengan kontribusi 22. Pertumbuhan PDRB tanpa migas sedikit lebih tinggi.34.33 4.38 2007 8.96% 13.000.834.932.08% 0.630.005 5.852.705.030.134.049.676. yakni mencapai rata-rata 5.196.799.856.217.2015 Page 20 .364.018.15%.185. hotel dan restoran (15.29%). 50.38%).85 2.56 persen per tahun.93 3.58 294.34 6.647.9) RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .494.62 39. 34.716.130.94 194.00% 99.94 4.861.61% 5.29 34. dan sektor perdagangan.275.00 50. Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Selatan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.474.556.767. Ketiga sektor ini merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar pada pembentukan dan pertumbuhan nilai PDRB Kalimantan Selatan selama ini.00 7.468.758.00 Kontribusi pd Peningkatan 22.340. Seiring dengan itu. walaupun pada tahun 2009 mengalami sedikit perlambatan.843.85% 6.081. 51.930.00 51.87 2.152.777.00 45.7 triliun meningkat menjadi Rp.47 1.38% 6.50 3.BAB II Tabel II.273. PDRB tanpa migas juga meningkat dari Rp.568.2009 pertumbuhan PDRB dengan migas mencapai rata-rata 5. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.777.00 5.28 5.420.546.763.548.142.434.446.875.942.2 triliun pada 2009.00 2009 11.463.18% 100.423.34 2008 10.57 3.18 257.177.89 7.030.721700.788. Selama periode 2006 .4 trilliun menjadi Rp.00 45.97 4.55 2. Peningkatan ini secara umum terjadi pada semua sektor meski dengan besaran yang berbeda-beda.250.5 trilliun.025.210.579.312.990.400.196.15% 19.783.300.553.

BAB II
Tabel II.9. Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2006-2009 (%) RataSektor 2006 2007 2008 2009 rata Pertanian 4,70 5,72 6,48 7,12 6,00 Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Pertumbuhan Eko dengan Migas Pertumbuhan Eko tanpa Migas 7,47 -1,70 3,83 7,02 5,56 6,06 3,24 6,89 4,98 5,05 5,05 2,94 4,14 6,90 6,18 8,23 15,36 6,65 6,01 6,08 7,37 2,59 4,23 5,60 7,07 6,43 5,73 6,63 6,23 6,37 1,73 2,31 5,33 6,06 5,80 5,95 6,44 7,33 5,01 5,11 5.40 1,53 4,38 6,40 6,15 6,67 7,69 6,87 5,56 5,65

Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan 2009

Seluruh sektor ekonomi menunjukkan pertumbuhan rata-rata positif. Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mencapai tingkat pertumbuhan rata-rata tertinggi (7,69%), disusul Jasa-jasa (6,87%), dan Pengangkutan dan Komunikasi (6,67%). Sementara itu, sektor yang tumbuh paling rendah adalah Industri Pengolahan dengan rata-rata 1,53%. Sektor-sektor yang termasuk dalam kelompok sektor primer (Pertanian dan Pertambangan – Penggalian) dan tersier (Perdagangan-hotel-restauran, Pengangkutan dan komunikasi, Keuangan-persewaan-jasa perusahaan, dan Jasa-jasa lainnya) mengalami pertumbuhan yang relative tinggi secara konsisten. Sementara, pertumbuhan dalam kelompok sektor sekunder (Industri pengolahan, Listrik-Gas-Air, dan Bangunan) secara umum cenderungan lebih lambat, kecuali Bangunan. Tabel II.10 memperlihatkan bahwa pembentukan nilai PDRB selama periode 2006 – 2009 didominasi kelompok sektor primer dengan rata-rata 43,95% dan tersier (38,40%) yang utamanya berasal dari Perdagangan-Hotel-Restoran. Besarnya peran sektor primer menunjukkan bahwa Perekonomian Kalimantan Selatan masih sangat tergantung pada sumberdaya alam. Peranan sektor sekunder (17,68%), disisi lain, justru semakin menurun. Sektor sekunder, khususnya Industri pengolahan yang potensial untuk menciptakan nilai tambah dan daya saing lebih tinggi bagi ekonomi peranannya menurun dari 11,68% pada 2006 menjadi 9,87%.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 21

BAB II
Tabel II.10. Kontribusi Sektoral dalam PDRB Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009 RataSektor 2006 2007 2008 2009 rata Pertanian 22,43 22,46 22,15 22,34 22,36 Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Jumlah
Sumber :BPS Tahun 2010

21,86 11,68 0,56 6,56 14,86 8,45 4,10 9,50 100,00

21,70 11,07 0,56 6,48 15,04 8,99 4,46 9,26

21,73 10,31 0,56 6,25 14,95 9,17 4,80 10,07

21,06 9,87 0,58 6,23 15,00 9,23 5,02 10,69

21,59 10,73 0,57 6,38 14,96 8,96 4,60 9,88

100,00 100,00

100,00 100,00

2.2.1.2. Pendapatan Perkapita dan Pemerataan PDRB dapat dikatakan sebagai ukuran kesejahteraan suatu daerah. Di sisi lain, PDRB per kapita dapat dijadikan ukuran kesejahteraan masyarakatnya, karena merupakan nilai rata-rata besaran PDRB untuk tiap orang penduduk. PDRB per kapita meskipun lebih indikatif bagi pengukuran tingkat kesejahteraan namun belum menggambarkan tingkat kemerataan antar penduduk.
Tabel II.11. PDRB Per kapita Dengan Migas Di Kalimantan Selatan 2000 – 2009 Harga Berlaku Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009*) Harga Konstan 2000 PDRB Perkapita Pertumbuhan PDRB Perkapita Pertumbuhan (Rp) (%) (Rp) (%) 6.269.036 6.269.036 6.893.127 7.532.597 8.001.103 8.705.989 9.644.377 10.359.826 11.610.975 13.276.160 14.514.675 9,96 9,28 6,22 8,81 10,78 7,42 12,08 14,34 9.33 6.438.936 6.622.005 6.649.457 6.886.794 7.065.534 7.306.536 7.631.654 7.989.962 8.201.844 2,71 2,84 0,41 3,57 2.60 3,41 4,45 4,70 2,65

Sumber : PDRB, Tahun 2006 – 2009 *) Angka sementara

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 22

BAB II PDRB per kapita atas dasar harga berlaku selama kurun waktu 2000 sampai 2009 berkembang dengan pesat dengan rata-rata peningkatan sebesar 916.182 rupiah per tahun. Kenaikan terbesar terjadi pada tahun yang relatif besar terjadi tahun 2008, 2007 dan 2005 dengan pertumbuhan masing masing diatas 10% (Tabel II.11). PDRB per kapita berdasarkan harga konstan 2000 juga mengalami kecenderungan peningkatan namun relatif lebih rendah daripada tingkat pertumbuhan PDRB per kapita atas dasar harga berlaku. Lebih tingginya pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku disebabkan karena terjadinya peningkatan harga barang dan jasa yang cenderung berlangsung terus menerus.
Tabel II.12. PDRB Perkapita Dengan Migas Menurut Provinsi di Kalimantan 2007 – 2009 (Rp)

Provinsi Kalimantan Barat Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah
Sumber : PDRB, Tahun 2007 – 2009 *) Angka sementara

2007 10.165.998 73.602.055 11.610.975 13.771.080

2008 11.393.992 101.532.771 13.276.160 15.767.356

2009*) 12.471.411 88.920.062 14.514.675 17.366.788

Berdasarkan nilai PDRB total, posisi Kalimantan Selatan dibanding provinsi lainnya di Kalimantan berada diurutan ketiga. Tidak jauh berbeda jika dilihat dari PDRB per kapita, posisi Kalsel juga berada diurutan ketiga dalam wilayah Kalimantan. Provinsi Kalimantan tengah yang secara total nilai PDRBnya berada pada urutan paling rendah ternyata menduduki posisi kedua dilihat dari PDRB per kapitanya (Tabel II.12) Tingkat kemerataan pendapatan di Kalsel relatif konstan dalam periode 2005 – 2009. Berdasarkan angka indeks gini (Gini Ratio) maka tingkat distribusi pendapatan selama ini tergolong pada kemerataan sedang. Hal ini berarti tingkat ketimpangan pendapatan antar penduduk tidak berlangsung tajam. Perbedaan pendapatan kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi tidak terlalu jauh diatas kelompok berpendapatan rendah 2.2.1.3. Pemerataan Pembangunan Tujuan pembangunan dalam aspek kewilayahan diantaranya adalah untuk mewujudkan tercapainya tingkat pembangunan yang relatif merata antar daerah. Terdapat 13 Kabupaten/Kota sebagai daerah-daerah yang tersebar dalam wilayah pembangunan Provinsi Kalsel. Perbandingan PDRB, jumlah penduk, dan PDRB per kapita antar daerah terlihat pada Tabel II.13.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 23

435.556.2008 Tahun 2004 2005 Indeks Williamson 0.538.082 10.152 389.681.571 07. Tabel II.425 6. Untuk mengukur Ketimpangan antar wilayah salah satu alatnya adalah dengan menggunakan indeks williamson. Meski demikian derajat ketimpangan tersebut masih berada kategori sedang.066 06.641. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .935.777 226.856.208 11. Banjar 3.237 4.2.332 05.091 02.Juta) Penduduk (Jiwa) PDRB Per Kapita 4 7.830 1 2 3 01. investasi maupun ekspor.47 2008 0.631 Sumber: BPS.451.909.006 627.905.754.613 12.938. Angka indeks williamson Kalimantan Selatan dari 2004 – 2008 relatif konstan dari tahun ketahun seperti nampak pada Tabel II.045.899.446.711. 2006 0.889.318.009.582 102.2015 Page 24 .397 276. PDRB Kabupaten/Kota menurut lapangan usaha Tahun 2009 Dari tabel tersebut nampak bahwa daerah dengan total PDRB tertinggi adalah Kabupaten Kotabaru sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Huku Sungai Utara.839.942 167. Tapin 908. Kotabaru 4.574 03. tahun 2009 (diolah kembali).008.408 3.128.40 0. Tanah laut 2.14 Indeks Williamson Di Kalimatan Selatan Tahun 2004 . konsumsi pemerintah.839 208. Hulu sungai utara 768. pembentukan modal tetap bruto.245 13.443.4.063 7.521 193. Pengeluaran Agregate PDRB selain disajikan menurut lapangan usaha sebagai cerminan dari nilai tambah yang ditimbulkan akibat adanya berbagai aktivitas ekonomi di setiap sektor (lapangan usaha) juga dapat disajikan menurut penggunaannya. Prov.252 244. Balangan 1.238 153.894 11. perubahan stok dan ekspor netto.14.296 12.416 6.105 216.501 3.333.585 13. PDRB menurut penggunaan dapat menggambarkan kemampuan daerah dalam menggunakan dan mengalokasikan kembali hasil dari proses produksi tersebut baik untuk keperluan konsumsi.957.205.794. Barito kuala 1.618 270.008 16. Hulu sungai selatan 999. Banjarmasin 4. Daerah dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kota Banjarmasin sedangkan yang paling sedikit adalah Kabupaten Balangan.471.192 08.120.429 5.1.727.46 Sumber: BPS. Tabalong 2.056 04. sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Hulu sungai Utara.736.866.950 272.13 PDRB perkapita dengan Migas Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut kab/Kota Tahun 2008 (Ribuan Rupiah) Kabupaten/Kota PDRB (Rp. Kal-Sel. Banjarbaru 858.907. PDRB menurut penggunaan terdiri dari komponen konsumsi rumah tangga.390.160 4.45 2. Tanah bumbu 2.282 5.181 09.737 Kalimantan selatan 27. Nilai PDRB per kapita yang menunjukkan tingkat rata-rata PDRB bagi tiap penduduk yang tertinggi adalah di Kabupaten Kotabaru.BAB II Tabel II.458.120. Hulu sungai tengah 987.536.704.158 13.47 2007 0.

42 41.15 memperlihatkan bahwa selama periode 2007-2009 semua komponen PDRB menurut penggunaannya mengalami peningkatan dan impor mempunyai kontribusi yang cukup besar yaitu 41. Tercatat tahun 2008 kontribusi komponen ekspor sebesar 69.66 persen. belanja barang.3 0.86 68.5 100.justru memperlihatkan pertumbuhan yang sedikit naik.15 PDRB Menurut Penggunaan Di Kalimantan Selatan Tahun 2006 – 2009 (%) Penggunaan Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Bruto Perubahan Stok Ekspor Impor ( .47 15. Tabel II.00 2009*) 50. belanja perjalanan dinas. seperti belanja pegawai. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .49 13.) Total Sumber : PDRB.36 100. komponen impor juga mempunyai kontribusi yang cukup besar yaitu 30.48 100.00 Tabel II.04 20. Selama tiga tahun terakhir kontribusi dari kedua komponen tersebut selalu di atas 40 persen.2015 Page 25 . selama tiga tahun terakhir kontribusinya menunjukkan trend positif pada tahun 2008 mencapai sekitar 18.00 2008 50.35 -21. Tahun 2007 – 2009 2007 51. Sementara itu komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang merupakan pengeluaran untuk pembelian barang modal yang umumnya akan digunakan sebagai alat untuk berproduksi. Sementara itu komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang merupakan pengeluaran untuk pembelian barang modal yang umumnya akan digunakan sebagai alat untuk berproduksi.50 0.64 persen (Tabel II. dan lain-lain-.BAB II Pola distribusi yang terbentuk dari kelima komponen penggunaan PDRB hampir sama setiap tahunnya. Konsumsi pemerintah –yang mencakup pengeluaran rutin.60 64.89 30.43 14.84 -17.5 persen.45 14.12 persen Berbeda dengan Konsumsi RT yang cenderung meningkat pesat.12 -15.99 0.26 persen dan kontribusi komponen konsumsi rumah tangga sebesar 47. Selama ini produksi barang dan jasa sebagian besar masih digunakan untuk keperluan ekspor dan konsumsi rumah tangga.36 persen.67 70.33 18. Lebih rendahnya kontribusi komponen PMTB dibandingkan dengan komponen konsumsi rumah tangga menunjukkan bahwa penggunaan PDRB di Kalimantan Selatan masih cenderung bersifat konsumtif.90 27. Selain kedua komponen itu. selama tiga tahun terakhir kontribusinya menunjukan trend positif pada tahun 2009 mencapai sekitar 20.15).

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Produksi tanaman pangan akan mendukung ketersediaan bahan pangan.) -34. terutama padi. Pada tingkat produksi ini.80 6. Kalimantan Selatan berhasil mencapai surplus beras yang semakin besar dan merupakan provinsi yang kesembilan sebagai penyumbang dan penyangga produksi padi nasional.61 3. Ketersediaan komoditas pangan hewani pada tahun 2009.84 6. jagung. Produksi padi tahun 2005 sebesar 1. Ketahanan pangan akan dicapai apabila terpenuhinya kebutuhan pangan yang cukup. sedangkan kedelai.992 ton pada tahun 2009. jeruk dan pisang. ubi kayu.2015 Page 26 .598.75 15. mesin-mesin dan alat-alat perlengkapannya. seperti padi.51 15.01 Komponen Pembentukan Modal tetap Bruto (dalam bentuk bangunan/konstruksi. minyak sawit dan gula ketersediaan tergolong minus. Ketahanan Pangan Komoditas andalan Kalimantan Selatan adalah padi. Konsumsi Pemerintah 6.06 6.17.2. dan buah-buahan tergolong surplus. Ketersediaan beberapa komoditas bahan pangan nabati pada tahun 2009.92 5. telur dan ikan tergolong surplus.1.35 5. Ketersediaan bahan pangan dan kebutuhan pangan Kalimantan Selatan pada tahun 2009 disajikan pada Tabel II.835 ton naik menjadi 1. Tahun 2007 – 2009 2009*) (4) 5.13 23. Konsumsi Rumah Tangga 10.02 5.13 6.23 Sumber : PDRB. Pembentukan Modal Tetap Bruto 38. Penurunan ini terkait dengan menurunnya investasi PMA dan PMDN pada tahun 2009 ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2. seperti daging. gizi seimbang dan terjangkau oleh seluruh masyarakat. jika dilihat selama kurun waktu tahun 2007-2009 pertumbuhan komponen PMTB Kalimantan Selatan mengalami penurunan walaupun pertumbuhannya masih cukup besar. Impor ( .68 4. beras.01 6.91 Total 6. Komoditi ini juga menjadi komoditas unggulan tingkat nasional.BAB II Tabel II.05 -1. sedangkan ketersediaan susu tergolong minus. ubi jalar. Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba 2. Ekspor 12. jagung.72 5.16 Pertumbuhan PDRB Menurut Penggunaan di Kalimantan Selatan Tahun 2007 – 2009 (%) Komponen Penggunaan 2007 2008 (1) (2) (3) 1. serta segala jenis kendaraan). kacang tanah.51 48.5.956. sayuran.63 2.32 1.

77 13. Ketersediaan dan Kebutuhan Bahan di Kalimantan Selatan Tahun 2009 Komoditi I.52 -18.96 1.14 14.012.17.59 13.59 93.714.767. Kal-Sel.19 31.130.2015 Page 27 .729.13 50.77% dibandingkan surplus padi pada tahun 2008.588.869 16.669.502 50.247.705.978.90 -51. 1.480.591.90 -51. 1.57 -107.999.480.90 51.84 157. Pada tahun 2009. Dengan demikian.600.28 196.18.50 105.096 95 175.157.09 581.911.43 149.975. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 II. Kalimantan selatan potensial mempertahankan swasembada pangan terutama beras sehingga tetap dapat menjadi lumbung beras atau penyangga beras nasional.97 136.82 Minus Menurun Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar Sayur-sayuran Buah-buahan Minyak Sawit Gula 13.953 42.600.559.716.62 124.83 23.68 18.669.766.997.03% dan 104.86 Surplus Meningkat Kedelai -12.77 Surplus Meningkat Jagung -59. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .093 31.58 -50.929.84 -12.18 Tabel II.767.94 -108.28 196.978.235. 2010 Padi atau beras merupakan bahan pangan pokok. surplus padi dan beras mengalami peningkatan masing-masing sebesar 105.559.51 Surplus Meningkat Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Menurun Surplus Meningkat Minus Meningkat Minus Meningkat I.836 97.262.399 1.139.894.769.271.16 16.11 98.36 266.319.97 136.696.130.545.353.95 34.03 Surplus Meningkat Beras 555. Perbandingan Perimbangan Ketersediaan Pangan Nabati di Kalimantan Selatan 2008 Dan 2009 Perimbangan (Ton) Persentase Ket Komoditi Tahun 2008 Tahun 2009 Thd 2008 Pangan Nabati Padi 813.645 139.51 101.83 47.089.978.22 111.50 34.50 690.570.57 -107.089.319.03 2.053.767.48 113.680 265.92 122.59 2.50 581.525. Kal-Sel.73 Sumber: BKP Prov.52 -18.738. 12 13 14 15 Pangan Nabati (Ton) Padi Beras Jagung Kedelai Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar Sayur-sayuran Buah-buahan Minyak Sawit Gula Pangan Hewani (Kg) Daging Telur Susu Ikan Tahun 2009 Ketersediaan Kebutuhan Perimbangan 854.95 104.BAB II Tabel II.14 14.036 47.100.247.86 17.918.32 101.23 -207.65 301.50 -18.23 Keterangan surplus surplus surplus minus surplus surplus surplus minus surplus minus minus surplus surplus minus surplus 2. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sumber : BKP Prov.42 173.83 100.144.87 854.068.144.247.01 5.741.28 68.72 -12.159.326 4.948.09 50.21 62. Perbandingan perimbangan ketersediaan bahan pangan nabati Kalimantan Selatan tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel II.

62 ton sementara ketersediaan dari produksi dalam daerah hanya 95 ton. Produktivitas padi masih dibawah produktivitas nasional. jagung.11%). Pertumbuhan rata-rata konsumsi daging dari tahun 2006-2009 sebesar 40. Masuknya beras kedalam katalog menyebabkan beras akan dikenakan kebijakan penghapusan tarif impor. ubi jalar dan buah-buahan membutuhkan suatu kebijakan untuk menghindari jatuhnya harga bahan pangan yang mengakibatkan petani rugi. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2015 Page 28 . Pencapaian Konsumsi pangan hewani asal ternak masyarakat Kalimantan Selatan tahun 2008 menurut hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional adalah konsumsi daging 15. tentunya persaingan perdagangan beras dari kompetitor-kompetitor produsen beras seperti Thailand dan Vietnam akan semakin berat dan apabila tidak diantisipasi akan semakin memperpuruk kondisi kesejahteraan petani padi. Standar kecukupan konsumsi protein hewani yang ditetapkan FAO adalah minimal sebesar 6. karena mutu yang belum memenuhi standar dan belum adanya jaminan suplai/produksi yang kontinyu.1 Kg daging. 3. selain itu adanya konstribusi daging kuda dan kerbau. namun untuk konsumsi daging sapi potong mengalami pertumbuhan negatif (3.4 gram/kap/hari atau baru mencapai 55. Kalimantan Selatan siap swasembada daging tahun 2014 karena Kalimantan Selatan sejak tahun 2008 mengalami surplus daging dan telur. telur 19.BAB II Surplus bahan pangan seperti padi/beras.59 gram/kapita/hari dan susu 17.53 gram/kapita/hari. telur dan susu di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.29 persen untuk daging. 4 Kg susu per kapita per tahun atau setara dengan daging 27.80 persen untuk susu. Hal ini karena konsumsi masyarakat banyak beralih ke konsumsi daging dari jenis ternak lain yang harganya lebih murah dibanding harga daging sapi potong.21 persen untuk telur dan 30.324 kg diekspor ke provinsi tetangga (Kalimantan Tengah).19. karena itu perlu disikapi dalam menghadapi kemungkinan komoditas beras menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam katalog AFTA ASEAN.5 Kg telur dan 6.87 persen. dan diperlukan pergudangan yang refresentatif untuk menampung kelebihan bahan pangan sehingga kualitas tetap terjaga. Pada tahun 2009 Provinsi Kalimantan Selatan telah mengalami peningkatan surplus daging dan telur dari tahun 2008. kacang.67 gram/kapita/hari. namun masih sangat kekurangan ketersediaan susu. Selain itu. telur 9. dimana kebutuhan akan susu sangat besar yaitu mencapai 301. Sehingga dengan hasil usaha tani demikian produk pertanian Kalimantan Selatan kalau tidak segera dibenahi akan sulit bersaing pada era perdagangan bebas sekarang ini. Konsumsi daging per kapita/hari dari tahun 2006-2009 mengalami kenaikan. produksi daging yang dihasilkan sebesar 1. ubi kayu.2 gram/kap/hari dan susu 5. Produk tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan sebagian besar belum mempunyai daya saing yang kuat. 200.3 gram/kap/hari.646.00 gram/kapita/hari atau setara dengan 10. Konsumsi daging. karena sebagian masyarakat menganggap jenis dagingnya sama dengan daging sapi.

063 5.96 Kebutuhan 23.649 4.679 30.23 -207.451 (7.831 3.166.909 7.65 301.190.248 811. Kalsel.87 B.552.06 B.146. Telur Dan Susu di Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009 Tahun Pertumbuhan No.557 185.162.969 4.205.78 10 Itik 836. 2010 Kurangnya ketersediaan susu disebabkan oleh menurunnya jumlah populasi sapi perah dan masih minimnya sarana prasarana untuk pengolahan susu sapi di Kalimantan Selatan.158 1.717 4. 1 2 3 4 Pangan Hewani (Kg) Daging Telur Susu Ikan Ketersediaan 47. Daging (Kg) 1 Sapi Potong 5. Telur (Kg) 1 Ayam Buras 3.892.403.879. Konsumsi Daging.712.526 1.402 1.61 8 Ayam Ras Petelur 203. Susu (Liter) 1 Sapi Perah 292.524.651 18.911.649 2.74 Rata-rata Pertumbuhan 12.210 25. Tabel II.015.230 356.581 (8.318 21. Ketersediaan dan kebutuhan pangan hewani tahun 2009 disajikan pada Tabel 2.23 Keterangan surplus surplus minus surplus RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .063 264.15 dan perbandingan surplus-minus ketersediaan terhadap kesediaan pangan hewani tahun 2008 disajikan pada Tabel II.252 257.026 16.318 16.20 Ketersediaan dan Kebutuhan Pangan Hewani di Kalimantan Selatan Tahun 2009 Komoditi I.186 10.742.2015 Page 29 .078 13.201 956.970 17.672 309.861 22.157.894.82) Sumber: Dinas Peternakan Prov.938 935.886 88.509 295.60 4 Kambing 232.524 725.752 263.131. 20. Jenis Ternak 2006 2007 2008 2009 A.09 50.BAB II Tabel II.473.19.322 (3.990 12.563 266.76 Rata-rata Pertumbuhan 40.185.31 9 Ayam Ras`Pedaging 19.649.73 Perimbangan 47.096 95 175.617 363.04 3 Itik 15.085.591.613.614.85 3 Kuda 965 2.068.649.494 14.734 129.570.728 5.35) 7 Ayam Buras 3.371 11.242 13.890 24.502 50.467 5.11) 2 Kerbau 773.077.38 2 Ayam Ras Petelur 13.159.714.525.427 37.19 31.755.100.987 1.993 12.605 14.13 50.742 5.502.948 5.48 6 Babi 346.204 16.738.980.053.62 124.299.956 23.78 5 Domba 16.137 520.844 26.823.

21 73.571 3.389. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 2008 58.BAB II Tabel II.998 57.867 16.320 4.09 36.88 Persentase Thd 2008 285.543 Penyandang Cacat 1. Besarnya beban ekonomi dan kecilnya pendapatan yang diperolah sebagian kecil kalangan belum mampu memberikan tingkat kesejahteraan yang baik. konitas adat terpencil dan lain sebagainya sebagaimana tabel II.142.868.21.421.317 Bekas Narapidana 55.002.01 58.842 1.124 1.296 Korban NAPZA 16.2. Pada sisi lain juga terjadi efek terhadap masyarakat dalam bentuk keterbatasan kemampuan sosial dalam masyarakat.594 Lanjut Usia Terlantar No. 2010 2. anak terlantar. Kesejahteraan Sosial 2.46 -207.295 Wanita Rawan Sosial Ekonomi 715 2.300 50.36 55.357 2. anak jalanan.120 36. 1 2 3 4 Pangan Hewani Daging Telur Susu Ikan Perimbangan (Ton) Tahun 2008 Tahun 2009 19.786 652 1.281 1. Salah satu beban tersebut adalah tingginya angka ketergantungan penduduk dalam masyarakat.858 3.671 391 376 920 16. Bentuk keterbatasan ini akan muncul dalam bentuk masalah kesejahteraan sosial seperti balita terlantar.2. Perbandingan Perimbangan Ketersediaan Pangan Hewani di Kalimantan Selatan Tahun 2008 dan 2009 Komoditi I.065 3.114 30.35 -204.16 101.81 11. anak nakal.140 Pengemis 3.22 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 Tahun Kab/Kota 2006 2007 19.758 Anak Terlantar 4.880 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .158 2.086 Wanita Korban Tindak Kekerasan 2.2. wanita rawan sosial ekonomi.29 204. keluarga rentan sosial.2015 Page 30 . Kesejahteraan masyarakat bergantung pada status ekonomi masyarakat.946 Anak Janalan 1. Kal-Sel.288 6.745 Penderita Penyakit Kronis 685 622 Gelandangan 1.284 397 Anak Nakal 237 252 Anak Korban Tindak Kekerasan 479 1.36 Ket Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Meningkat Surplus Meningkat Sumber Data : BKP Prov. Taraf Kesejahteraan Sosial.655 Tuna Susila 38.103.1.586 17.781.836.850 53.029 Balita Terlantar 58.823.22 Tabel II.067.2.27 535.

penyediaan modal usaha mikro.822 9.654 6. meningkatkan bea siswa pendidikan.303 33.435 90 1. Keberhasilan pembangunan kesejahteraan sosial di Kalimantan Selatan. Pada tabel tersebut di atas menunjukkan.249 239 344.2015 Page 31 . 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Kab/Kota Lansia Korban Tindak Kekerasan Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis Keluarga Fakir Miskin Rumah Tidak Layak Huni Korban Bencana Alam Keluarga Tinggal di Daerah Rawan Bencana Komonitas Adat Terpencil Anak Cacat Keluarga Rentan Penderita HIV/AIDS Bencana Sosial Pekerja Migran Terlantar Jumlah 2006 51 5. belum cukup memuaskan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . perlu adanya penetapan prioritas dari sejumlah variabel.269 1.821 19 1. meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program kesejahteraan sosial. Kondisi ini memang tidak dapat dihindari mengingat. hal ini tercermin pada turunanya angka penduduk miskin.887 75.021 6.380 75.419 35. dan pemberdayaan tenaga pendampingan PMKS masih belum optimal.458 1.423 37. Tantangan kedepan adalah meningkatkan ketersediaan dan kecukupan dana bantuan.652 8. dengan melakukan upaya/program bersifat proyek padat karya. namun tidak mengabaikan variabel yang lain. pelayanan kesejahteraan sosial melalui panti sosial dan rehabilitasi sosial. bahwa jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial dari tahun 2006 ke 2007 terjadi peningkatan sebesar 38.BAB II Tahun 2007 4.312 34.793 106. dan melaksanakan revitalisasi program pembangunan kesejahteraan sosial.817 35. peran serta masyarakat dalam pengembangan kesetiakawanan sosial perlu terus ditingkatkan pada berbagai strata kehidupan masyarakat.637 34.46%.425 3. dan dari tahun 2007 ke 2008 terjadi penurunan sebesar 2.921 Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Selatan berbagai upaya telah dilakukan yaitu dengan meningkatkan pendapatan masyarakat dan menurunkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.037 477.726 2008 54 3. mungkin tidak dapat dilaksanakan secara keseluruhan dalam waktu bersamaan. meningkatkan motivasi tenaga pendampingan PMKS. Tingkat kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Selatan pada akhir-akhir ini sudah mengalami peningkatan.406 5.610 33.338 No.346 465. melanjutkan program Gerbangmastaskin.220 29.461 250 35. mendukung dan memfasilitasi pelaksanaan program-program pro-rakyat. Penyelesaian penyandang masalah kesejahteraan sosial. keterbatasan pemerintah memberikan/ menyediakan bantuan.39%.817 67.158 8.

BAB II 2.2.2.2. Pendidikan Angka Partisipasi Sekolah Salah satu indikator keberhasilan pendidikan tercermin pada tingkat partisipasi pendidikan baik secara kasar maupun murni. Terjadi trend capaian angka partisipasi yang sangat baik selama kurun waktu tahun 2005 s.d. 2009
a.

Pada tahun 2005 angka Partisipasi Kasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebesar 41,02, kemudian meningkat menjadi 54,25 pada tahun 2009. Pada tahun 2005 Angka Partisipasi Murni (APM) SD sebesar 92,67 meningkat menjadi 99,02 pada tahun 2009. Khusus untuk APK SLTP pada tahun 2005 sebesar 77,79 menjadi 97,05 pada tahun 2009. APK SLTA pada tahun 2005 sebesar 53,91 meningkat menjadi 74,29 pada tahun 2009. Kondisi ini dapat dilihat pada Tabel II.23 :
Tabel II.23 Angka Partisipasi Sekolah di Kalimantan Selatan Tahun 2005-2009 Indikator APK PAUD APK SD/MI APK SMP/MTs/SMPT APK SMA/SMK/MA Prosentase Capaian 2005 41,02 95,33 77,79 53,91 2006 45,24 95,36 85,01 63,13 2007 48,07 96,26 90,41 72,34 2008 53,50 98,28 96,18 74,22 2009 54,25 99,42 97,05 74,29

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan usia emas untuk mengembangkan intelektual SDM, sekaligus menjadi pondasi dasar pendidikan yang berkualitas. APK PAUD tahun 2009 baru mencapai 54,25%, berarti 45,75% jumlah anak usia PAUD masih perlu perhatian utama di antara jenjang pendidikan lainnya. APK pada jenjang SLTA baru mencapai 74,29%, sisanya masih 35,71% atau lebih belum menduduki sekolah SLTA. Rendahnya APK SLTA ini berarti akan menyumbang angkatan kerja yang kompetensinya hanya berpendidikan SLTP (Pendidikan Dasar), sementara dunia usaha atau lapangan kerja memerlukan tingkat kompetensi yang lebih tinggi. Tabel II.24 Angka Partisipasi Sekolah di Kalimantan Selatan Tahun 2005-2009
Indikator APM PAUD APM SD/MI APM SMP/MTs/SMPT APM SMA/SMK/MA Prosentase Capaian 2005 0 92,67 57,47 53,09 2006 0 94,44 67,70 59,04 2007 0 95,88 75,43 66,13 2008 0 98,12 77,86 63,30 2009 0 99,02 85,06 67,58

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 32

BAB II b. Hasil Ujian Nasional Kualitas pendidikan dapat dilihat pada perolehan nilai hasil ujian yang ditempuh anak didik. Kondisi ini juga mengalami perbaikan meskipun masih perlu upaya yang lebih keras dan terarah dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar terutama penerapan asesmen pada proses daripada hasil untuk memantau kemajuan penguasaan kompetensi anak didik. Rata-rata nilai ujian nasional 6,29 untuk tingkat SLTP dan 6,87 untuk tingkat SLTA pada tahun 2007/2008. Lebih jelas dapat diamati pada tabel II.25
Tabel II.25 Hasil Ujian SLTP dan SLTA di Kalimatan Selatan 2005/2006 S.D 2008/2009 Realisasi Nilai Ujian Jenjang Pendidikan 2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009 SLTP 5,90 6,00 6,29 7,08 SLTA 6,51 6,99 6,87 6,97
Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

Hasil ujian nasional ini menunjukkan tingkat kemampuan siswa secara nasional dalam pembelajaran. Hasil ujian SLTP tahun 2008/2009 rata-rata 7,08 menunjukkan angka yang meningkat dari tahun 2007/2008 dengan rata-rata 6,29 berarti telah terjadi peningkatan perolehan rata-rata nilai hasil ujian yang dialami oleh siswa. Begitu juga dengan hasil ujian SLTA tahun 2008/2009 rata-rata 6,97; juga terjadi peningkatan perolehan rata-rata nilai hasil ujian yang dialami oleh siswa dibanding perolehan tahun 2007/2008 dengan rata-rata 6,87. c. Penuntasan Buta Aksara Dalam rangka penuntasan buta aksara di Kalimantan Selatan telah berhasil menurunkan angka buta aksara bagi penduduk usia 15 s.d 45 tahun. Perkembangan keberhasilan penurunan angka buta aksara ini terlihat pada capaian yang terjadi, di mana pada tahun 2005 jumlah buta aksara sebanyak 44,424 orang telah berhasil dituntaskan pada tahun 2008.
Tabel II.26 Penuntasan Buta Aksara di Kalimantan Selatan 2006 s.d. 2009 Realisasi Indikator Sasaran 2006 2007 2008 2009 Buta Aksara >15 s.d 44 th 44.424 (100%) 11.114 (25,02%) 19.730 (44,41%) 13.580 (30,57%) 16.870

Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

Keberhasilan penuntasan buta aksara dilakukan bekerjasama dengan pemerintah pusat, provinsi dan Kabupaten/Kota. Untuk mempertahankan tuntas buta aksara, perlu terus dilakukan kegiatan pembinaan di setiap kabupaten/kota. Berdasarkan hasil rapat kerja Percepatan Pemberantasan Buta Aksara, di RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 33

BAB II Kalimantan Selatan masih terdapat lembaga pendidikan yang tidak mengajarkan bahasa Indonesia, tetapi pengajaran menggunakan bahasa Arab. Pada sisi lain berdasarkan konsensus Kemendiknas dengan BPS, bahwa Angka Buta Aksara yang terjadi di Kalimantan Selatan masih tersisa sebesar 4,67% pada akhir tahun 2009 untuk usia 15 tahun ke atas. 2.2.2.3. Kesehatan

Secara nasional Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan menurun dari 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI, 2007). Di Provinsi Kalimantan Selatan, prevalensi gizi kurang pada balita menurun 20% pada tahun 2006 menjadi 12,38% pada tahun 2009 (Laporan Program Gizi Dinkes, 2009). Angka Kematian Bayi (AKB) menurun dari 58 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 menjadi 50 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2009. Sejalan dengan itu Umur Harapan Hidup meningkat dari 62 tahun menjadi 63,45 tahun pada tahun 2009 (Susenas 2009, BPS). Upaya kesehatan masyarakat mengalami peningkatan capaian seperti cakupan rawat jalan sudah mencapai 15,26% pada tahun 2009. Cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan meningkat dari 83,48% pada tahun 2007 menjadi 89,80% pada tahun 2009. Cakupan pelayanan antenatal (K4) meningkat dari 78,58% pada tahun 2007 menjadi 83,59% pada tahun 2009. Cakupan kunjungan neonatus meningkat dari 92,13% pada tahun 2007 menjadi 93,25% pada tahun 2009. Pelayanan kesehatan dasar bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di Puskesmas mencapai target yaitu sebesar 100% dan seluruh 1.346 (68.50%) desa di Kalimantan Selatan telah menjadi Desa Siaga. Namun perhatian perlu diberikan kepada pengembangan Desa Siaga karena belum semua desa memiliki Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), masih terbatasnya jumlah Puskesmas yang mampu melaksanakan pelayanan obsterik neonatal emergensi dasar (PONED) dan perlunya peningkatan mobilisasi ibu hamil untuk bersalin pada tenaga kesehatan dan upaya peningkatan kualitas Posyandu menjadi Posyandu Purnama dan Mandiri perlu lebih digiatkan. Upaya kesehatan perorangan mengalami peningkatan dan beberapa indikator telah mencapai target, bahkan melebihi target seperti peningkatan jumlah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan gawat darurat meningkat dan mencapai 90%. Jumlah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan obstetrik neonatal emergensi komprehensif (PONEK) meningkat dari 2 rumah sakit menjadi 5 rumah sakit. Pada program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular juga mengalami peningkatan capaian walaupun penyakit infeksi menular masih tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menonjol di Kalimantan Selatan terutama tuberkulosis paru (TB paru), malaria, DBD dan diare. Cakupan program imunisasi berdasarkan laporan rutin dari Kabupaten/Kota secara umum menunjukkan peningkatan. Cakupan imunisasi pada tahun 2009 adalah BCG 93.4%, DPT-HB3 91.6%, HB (0-7 hari) 59.2%, Polio 4 90.2 % dan Campak 90.8%. Meski telah berjalan baik, program imuniasi belum optimal, karena cakupan saat ini belum merata yang digambarkan melalui persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization (UCI) pada tahun 2009 mencapai 64.68%. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 34

Keadaan gizi pada ibu hamil.7 per 100. terutama pada kasus kardiovaskuler (hipertensi). Dalam pembangunan kesehatan.26 per 100. Hasil Riskesdas menunjukkan terjadinya perbaikan status gizi anak balita. perbaikan gizi perlu difokuskan pada kelompok sasaran ibu hamil dan anak sampai usia 2 tahun mengingat dampaknya terhadap tingkat pertumbuhan fisik. SDM kesehatan merupakan salah satu isu utama yang mendapat perhatian terutama yang terkait dengan jumlah. pemberdayaan masyarakat dan ketersediaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) ditingkat pelayanan primer harus diperhatikan. jenis dan distribusi.000 penduduk belum memenuhi target yang diharapkan. mengubur) dan juga didorong oleh upaya promotif. Rasio tenaga kesehatan per 100. TB paru dan malaria sudah mengalami peningkatan pengendaliannya untuk masa yang akan datang. Untuk dokter spesialis 4. yaitu sebesar 13.8 per 100. berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan peningkatan kasus dan penyebab kematian.000 penduduk).000 penduduk (target 158 per 100.000 penduduk (target 11 per 100.75 per 100.75 per 100. perlu peningkatan upaya promotif dan preventif serta kerja sama sektor terkait dengan man made breeding places. Angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) masih tinggi. Ketersediaan reagen.000 penduduk) dan bidan sebesar 43. prevalensi kekurangan gizi pada anak balita sebesar 10.3 per 100. Untuk penyakit tidak menular. Selain itu perhatian juga perlu diberikan pada penyelenggaraan sistem surveilans dan kewaspadaan dini yang kurang mendapat perhatian pada penganggarannya. Penemuan kasus HIV/AIDS meningkat dengan meningkatnya out reach dan keterbukaan masyarakat terhadap penyakit ini.000 penduduk (target 75 per 100. Oleh karena itu diperlukan penanganan yang lebih seksama yang didukung dengan regulasi yang RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Beberapa hasil yang telah dicapai oleh program perbaikan gizi masyarakat antara lain pemberian kapsul vitamin A pada anak balita usia 6 – 59 bulan sebesar 90% melampaui target 80% dan pemberian tablet besi (Fe) pada ibu hamil telah mencapai 90% dari target 80%.70% yang terdiri dari 10. Untuk malaria. bayi dan anak balita perlu terus ditingkatkan karena masih tingginya bayi yang lahir rendah (BBLR) sebesar 11. perawat sebesar 157.000 penduduk (target 9 per 100. untuk itu perlu perhatian lebih pada upaya deteksi TB paru dan juga keberhasilan pengobatannya. Disparitas status gizi juga cukup lebar antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi.40% gizi kurang dan 0. 41 tahun 2000). dokter umum sebesar 26.000 penduduk).2015 Page 35 . menutup. Kedepan.000 penduduk (target 30 per 100. dokter gigi sebesar 7. diabetes melitus dan obesitas.BAB II Penanggulangan penyakit HIV/AIDS. 2007).30% gizi buruk.000 penduduk). Untuk itu perlu perhatian pada upaya pencegahan yang dapat diupayakan sendiri oleh masyarakat dengan penerapan 3M (menguras.000 penduduk. walaupun demikian angka kematian akibat DBD relatif kecil. selain itu juga terkait dengan pembagian kewenangan dalam pengaturan SDM Kesehatan (PP No. daerah endemis semakin meluas dan ada kecenderungan terjadi resistensi di daerah endemis.9% pada tahun 2009. Case Detection Rate (CDR) TB paru menurun menjadi 30.8% (Riskesdas.5% dan tingginya prevalensi anak balita yang pendek (stunting) akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu lama (kronis) yaitu 36. kecerdasan dan produktivitas generasi yang akan datang. 38 tahun 2000 dan PP No.000 penduduk).

d 2009. dan peningkatan persentase tempat tempat umum (TTU) sehat 78. Walaupun ketersediaan OGB tinggi.15% sedangkan pada tahun 2006 menjadi 8.450 jiwa pada 2006.2.47% dengan target setara dengan $ 2 US perkapita. harga murah tetapi akses masyarakat terhambat karena adanya asymetric information dan praktek pemasaran yang kurang baik dan sekitar 30% obat resep dijual langsung oleh dokter. Kemiskinan Trend angka kemiskinan mengalami penurunan sejak tahun 2005 s.33% dari target 85% pada tahun 2010. meskipun sempat terjadi peningkatan dari 235.2.12% pada tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . manfaat dan kontrol antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dan perannya dalam pembangunan kesehatan.700 jiwa pada 2005 menjadi 278. bidan atau perawat. Ketersediaan obat esensiel generik di sarana pelayanan kesehatan baru mencapai 69. Selain itu kita juga perlu memberikan perhatian pada terjadinya peningkatan rumah tangga yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah dan masih ada rumah tangga yang memelihara unggas atau ternak dalam rumah. akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi telah berhasil ditingkatkan. 2. Dalam pengadaan obat sering terkendala sistem pengadaan yang berpotensi menimbulkan terputusnya ketersediaan obat dan vaksin. Anggaran untuk obat esensiel generik di sektor publik sebesar 14. Untuk kesehatan lingkungan. dan sistem pengembangan karier. seperti peningkatan pada persentase keluarga menghuni rumah yang memenuhi syarat kesehatan mencapai 73.66%. Selama periode tahun 2006 s. namun kita harus memberikan perhatian pada perilaku merokok yang semakin memburuk dengan makin mudanya usia awal perokok. Indikator lainnya seperti Desa Siaga sampai dengan tahun 2009 sudah mencapai 1958 desa/kelurahan se-Kalimantan Selatan. Pembangunan kesehatan perlu memberikan penekanan pada peningkatan kesetaraan gender (gender equity) dalam rangka memberikan kesempatan yang sama untuk memperoleh akses.3%. Diharapkan pada akhir pembangunan 5 tahun ke depan (2015) terjadi pengingkatan Indeks Pembangunan Gender (IPG) Provinsi Kalimantan Selatan. reward-punishment.74% dari target 95%. persentase keluarga menggunakan air bersih meningkat dari 58. Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat mengalami peningkatan capaian.2015 Page 36 . seperti rumah tangga dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) meningkat menjadi 48.d 2009 angka kemiskinan secara konsisten menurun dari 8.23% belum mencapai target sebesar 75%. Prosentase penduduk miskin pada 2005 sebesar 7.3% menjadi 60.4.3 % pada tahun 2006 hingga menjadi 5. selain itu pemberian ASI eksklusif yang menurun disebabkan baik oleh perilaku maupun besarnya pengaruh dari luar seperti pemberian susu formula gratis pada saat ibu melahirkan. Peresepan Obat Generik Berlogo (OGB) di Puskesmas sudah sebesar 90% namun di RSU sebesar 66% dan Rumah Sakit Swasta dan apotek sebesar 49%. partisipasi.5% belum mencapai target 85% pada tahun 2010.BAB II memadai dan pengaturan insentif.

seperti nampak pada tabel berikut ini.34 7.00 13.30 Kalimantan Tengah 35. Kesenjangan kota dan desa dalam hal ini memang masih lebih baik dari provinsi lainnya di Kalimantan maupun secara nasional. Gambar II.787.1 162.000 235. Tabel II. bantuan pangan.8 130.BAB II 2009.0 340.82% sedangkan di perdesaan 5.27 Penduduk Miskin di Kalimantan dan Nasional.8 107. yakni Rp.09 9. 195.35 14.02 Kalimantan Selatan 68. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .12% penduduk miskin diseluruh Kalsel.4 32 530.977 250.000 200.33 5. Akan tetapi. sebesar 4.2015 Page 37 . dan perluasan cakupan keluarga harapan.23 10. beasiswa bagi anak keluarga yang berpenghasilan rendah.82 5.000 50.000 0 Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Jika dilihat pola kemiskinan yang terjadi nampak bahwa kemiskinan dipedesaan sedikit lebih tinggi dari perkotaan. Respon terhadap program nasional penanggulangan kemiskinan terus dilakukan dalam bentuk fasilitasi program yang meliputi bantuan sosial terpadu.73 INDONESIA 11 910.9 4.2 4.900 175. Posisi 2009 ini menempatkan Kalsel menduduki peringkat II pada tingkat nasional atas jumlah penduduk miskin paling sedikit.15 Sumber : BPS Nasional.72 17.000 150.45 8.1 165.3.33% sehingga secara total terdapat sebesar 5.5 20 619.8 7. Maret 2009 Jumlah Penduduk Miskin % Penduduk Miskin (000) Provinsi Kota Desa K+D Kota Desa K+D Kalimantan Barat 94.2009 300. Bantuan tersebut dilakukan dengan mengintegrasikan program perlindungan sosial berbasis keluarga yang mencakup Bantuan Langsung Tunai (BLT).000 100.2 239.12 Kalimantan Timur 77. 2009 Berbagai upaya telah dilakukan dalam mengentaskan kemiskinan di Kalimantan Selatan. Persentase penduduk miskin di pekotaan miskin pada tahun 2005 s/d 2009. kerentanan masyarakat akan kemiskinan masih signifikan mengingat masih besarnya jumlah masyarakat yang berada pada tingkat “hampir miskin” dan standar garis kemiskinan yang dipakai masih jauh dari ideal.450 233.0 10.700 278.8 434.86 7.2 176. Jumlah Penduduk Miskin di Kalimantan Selatan Periode 2005 . jaminan sosial bidang kesehatan.501 218.-.0 4.

6 Pemberdayaan Perempuan Tepat pada bulan bulan oktober.935 118. yaitu tepat sasaran. Pada tahun 2007 jumlah setengah menganggur sebanyak 505.2.209 10 Jumlah Setengah Menganggur (jiwa) 505.598.406 5 Bukan Angkatan Kerja (jiwa) 635.153 317.2.403 2. 2. Pada tahun 2007 TPT sebesar 7.Kalsel Menurut Jenis Kegiatan Tahun 2007-2009 Jumlah Penduduk 15 Tahun Ke atas No.366.743. tepat kegiatan dan tepat waktu. Angka ini menurun pada tahun 2008 menjadi 6.62 6. Pemerintah provinsi juga mendorong maksimalisasi pengguliran Kredit Usaha Rakyat (KUR) keseluruh kabupaten/kota.730.BAB II Pemerintah provinsi menyediakan dana pendamping untuk PNPM Mandiri sesuai kebutuhan dan kebijakan yang ada.62%. Dalam tataran perundang-undangan pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional mendifinikan sebagai “strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi dari perencanaan.636 519.15 70.134 1.28 Perkembangan Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Prov.981 tahun 2007 menjadi 1.487 753.79 6.524.029 6 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%) 73.d 2009 tingkat partisipasi angkatan kerja mengalam perubahan naik dan turun (Fluktuatif) namun serapan terhadap tenaga kerja justru mengalami kecenderungan menurun yang digambarkan dengan jumlah penduduk yang bekerja yakni 1.68 69.594.79% dan turun kembali pada 2009 menjadi 6. Untungnya pada tahun 2009 jumlah penduduk bekerja naik kembali menjadi 1. Meski demikian jumlah setengah menganggur cenderung meningkat.154 2. meningkat pula jumlah angkatan kerja setiap tahunnya. Seleksi atas kegiatan juga dilakukan untuk memenuhi prinsip tiga tepat.2.5. Perkembangan ketenagakerjaan ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.51 7 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 7.916 1.177 4 Pengangguran (jiwa) 131. 2009 Tingkat pengangguran terbuka mengalami kecendrungan menurun.853 3 Bekerja (jiwa) 1. pelaksanaan.754.635.466.191 454.75%.981 1. pemantauan dan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .635.594. Jenis Kegiatan 2007 2008 2009 2. Kesempatan Kerja Sejalan dengan meningkatnya jumlah peduduk.604.483 202.598.604 Sumber : BPS Prov Kalsel.191 206.395 9 Setengah Menganggur Sukarela (jiwa) 291.612 1 Penduduk 15 Tahun ke Atas (jiwa) 2 Angkatan Kerja (jiwa) 1.020 771.2.177 jiwa. Kurun waktu tahun 2007 s. Tabel II.2015 Page 38 . penyusunan.374 118.000 248.75 8 Setengah Penganggur Terpaksa (jiwa) 214.191 jiwa naik menjadi 519. 2.760 tahun 2008.760 1. dengan terjadi perubahan nomenklatur Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (KNPP) menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KNPPPA).

6%. Hal ini menyebabkan kalangan perencana sulit mengintegrasikan pengarusutamaan gender dalam penyusunan kebijakan pada tataran gender.7% dan 22. 2009 Dari data pada Tabel II. Sedangkan kekerasan pada anak dari tahun ke tahun cenderung meningkat. jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak menunjukkan angka yang cenderung meningkat. bahwa pada operasional.29 menunjukkan bahwa. peningkatan akses lapangan kerja bagi perempuan dari 13. Sementara itu. masing-masing 8. 6. 13.29 Tabel II.29% pada tahun 2008.086 2008 376 2. SMP.281 1 Anak Korban Tindak Kekerasan 2 Wanita Korban Tindak Kekerasan Sumber : BPS Prov.29 Kekerasan pada Perempuan dan Anak Di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 No. Kalsel.5% dan 23. serta tujuan dasar pengarusutamaan gender. 72% pada tahun 2006 meningkat menjadi 19. 7.4% pada tahun 2006. jumlah perempuan yang tidak mengikuti pendidikan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Unsur 2006 237 715 Tahun 2007 252 2. Dibidang pendidikan. Hal ini perlu adanya program-program preventif yang lebih optimal dari lembanga-lembanga yang memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap kekerasan pada perempuan dan anak.04% pada tahun 2009. Sayangnya di tingkat perguruan tinggi jumlah perempuan lebih sedikit dibandingkan laki-laki. hampir 2 kali lipat pada tahun 2007 dibandingkan tahun 2006.1%. Kondisi dapat dilihat pada Tabel II.2015 Page 39 .BAB II evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan. 14.6%. Persentase tersebut meningkat pada tahun 2008.7%.5%. Dibidang politik. Demikian juga yang berkaitan dengan pembentukan lembaga dan instansi yang berfungsi untuk memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap kekerasan pada perempuan dan anak. Kondisi umum pembangunan dalam setiap bidang pembangunan dapat digambarkan sebagai berikut. selama ini telah terjadi perbaikan yang mengesankan. dibidang hukum dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pembangunan gender.” Sayangnya berdasarkan hasil evaluasi menunjukan. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak jumlahnya semakin meningkat. tingkat kekerasan yang terjadi pada perempuan meningkat cukup signifikan. partisipasi perempuan di lembaga legislatif meningkat dari 11. pelaksanaan pengarusutamaan gender masih terkendala kurangnya pemahaman aparatur tentang teori dan konsep gender. terdapat sedikit peningkatan partisipasi perempuan selama kurun waktu tiga tahun terakhir. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dan SMA jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki. Sedangkan perempuan yang mengikuti pendidikan SD. Pada jabatan publik. Secara nasional.6% pada tahun 2004 menjadi 18. Gambaran di Kalimantan Selatan. yaitu persentase perempuan yang menduduki jabatan eselon I sampai IV masing-masing sebesar 9. di bidang ekonomi.

30 2008 63. pengembangan pusat-pusat pelayanan sebagai sarana perlindungan perempuan korban kekerasan.80 pada tahun yang sama (tahun 2008). tindak kekerasan pada perempuan.30 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Di Kalimantan Selatan Tahun 2007 s/d 2009 No.20 65.90 Sumber: Kementerian PP&PA bekerjasama dengan BPS Berdasarkan Tabel II.80 65.70 2 Rata-rata Nasional (Indonesia) 63. informasi dan edukasi kualitas hidup dan perlindungan perempuan. Pemahaman akan konsep kesetaraan dan keadilan gender masih sangat terbatas di semua kalangan. di Kalimantan Selatan masih memerlukan pembenahan dan pengembangan khususnya yang berkaitan dengan masalah gender. dan perbedaan jaminan sosial. serta penguatan/pemberdayaan kelembagaan pengarusutamaan gender.10 62. IPG Kalimantan Selatan secara faktual menunjukkan peningkatan jika dilihat dari angka absolut dan sejalan peningkatan IPG nasional. normanorma yang berlaku di dalam masyarakat berkaitan dengan peran gender berdasarkan spesifik lokasi. IPG di Kalimantan Selatan masih lebih rendah dari angka rata-rata nasional. Hal ini dapat dilihat dari nilai IPM dan IPG. Tantangan ke depan adalah melakukan program yang berkaitan dengan peningkatan kualitas hidup perempuan melalui aksi afirmasi. melaksanakan komunikasi. adanya perdagangan perempuan. pendidikan.2015 Page 40 . menjadi faktor dominan dalam menghitung IPG. dan kesehatan). Ekonomi. eksploitasi dan diskriminasi. penataan sistem yang mampu menangkap dinamika gender. Provinsi 2005 Tahun 2006 2007 61. perlindungan perempuan dari tindak kekerasan.BAB II Rumus yang digunakan untuk menghitung Indeks Pembangunan Gender (IPG). yaitu 68. bahwa keberhasilan pembangunan sumber daya manusia secara keseluruhan belum sepenuhnya diikuti dengan keberhasilan dalam pembangunan gender.30.80 65.30 1 Kalimantan Selatan 60. dan kesehatan.72 dan 63.d 2008 dapat dilihat pada Tabel II. misalnya adanya kesenjangan upah pekerja perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Kualitas hidup perempuan masih tertinggal dibandingkan dengan laki-laki.30 Tabel II. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . sama dengan cara menghitung Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Keterbasan ini juga juga terjadi diantara para perencana dan pelaksana pembangunan yang dapat berakibat terlambatnya upaya-upaya mengintegrasikan konsep gender kedalam berbagai program pembangunan. pendidikan. Perkembangan IPG Kalimantan Selatan selama tahun 2005 s. kualitas hidup perempuan juga ditentukan oleh ada tidaknya masalah lain yang langsung maupun tidak langsung mempengaruhi IPG. Walaupun IPM merupakan ukuran kualitas sumber daya manusia. Kondisi ini menunjukkan bahwa dari beberapa komponen perhitungan IPG (ekonomi. serta masih banyak dijumpai faktor sosial budaya yang membatasi kebijakan pengarusutamaan gender di dalam pembangunan. Kesenjangan ini menunjukkan.

IPM Kalimantan Selatan masih berada dibawah rata-rata nasional.57 Tahun 2006 2007 67. Pengetahuan pengetahun juga diakui secara luas sebagai unsur mendasar dari pembangunan manusia. Sebenarnya banyak indikator yang dapat digunakan untuk mengukur usia hidup.10 68. Di Indonesia dihitung dengan metode tidak langsung. dan pengetahuan unsur dasar pembangunan manusia yang diakui secara luas adalah standar hidup layak. Sebagaimana telah disebutkan diatas. Dengan mempertimbangkan ketersediaan data secara internasional UNDP. memilih GDP per kapita riil yang telah disesuaikan (adjusted real GDP per capita) sebagai indikator hidup layak.d 2008 dapat dilihat pada Tabel II.2. bahwa IPM merupakan suatu indeks komposit tiga bidang pembangunan manusia (usia hidup.17 Sumber : BPS Nasional.75 70. Perkembangan IPM Kalimantan Selatan selama tahun 2005 s.59 2008 68. Metode ini menggunakan dua macam data dasar yaitu rata-rata anak yang dilahirkan hidup dan rata-rata anak yang masih hidup.2015 Page 41 .2. berdasarkan Tabel II. Tantangan ke depan adalah pengembangan sektor ekonomi. Pengetahuan diukur dengan dua indikator yaitu angka melek huruf (Literacy Rate) dan rata-rata lama sekolah (Mean Years School). pemberdayaan dan partisipasi RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . pendidikan dan kesehatan yang berbasis pada masyarakat miskin. 1 2 Provinsi Kalimantan Selatan Rata-rata Nasional (Indonesia) 2005 67. Usia hidup Pembangunan manusia harus lebih mengupayakan agar penduduk dapat mencapai “usia hidup” yang panjang dan sehat. Kondisi tersebut memberikan kontribusi rendahnya IPM Kalimantan Selatan.31 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Di Kalimantan Selatan Tahun 2005 s/d 2008 No. Namun demikian jika dilihat dari peringkat antar provinsi.01 70. pengetahuan dan standar hidup).7 Indek Pembangunan Manusia Indeks pembangunan manusia (IPM) menunjukkan jumlah tahun hidup yang diharapkan dapat dinikmati penduduk suatu wilayah. di Kalimantan Selatan masih belum sebagaimana yang diharapkan.4 69. dan standar hidup layak (decent living). Standar hidup Selain usia hidup. IPM Kalimantan Selatan secara faktual menunjukkan peningkatan jika dilihat dari angka absolut dan sejalan peningkatan IPM nasional.31 Tabel II. Banyak indikator alternatif yang dapat digunakan untuk mengukur unsur ini. 2009 Indeks Pembangunan Manusia di Kalimantan Selatan. pengetahuan (knowledge). Namun masih berada dibawah ratarata angka nasional. IPM merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan manusia yang dianggap sangat mendasar yaitu usia hidup (longevity).31 dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan.BAB II 2.72 71.

3 Agama.2015 Page 42 . Fakta ini menunjukkan bahwa kehidupan keberagamaan tidak mengalami konflik sosial yang berarti sebagaimana di daerah lain.393 orang. seperti mesjid (2.91%). Diantara indikator dalam melihat perkembangan sosial keagamaan adalah pertumbuhan jumlah pemeluk dan fasilitas peribadatan dan kegiatan keagamaan. namun Kehidupan beragama di provinsi ini secara ritual menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. pesantren juga menjadi pilihan pendidikan agama bagi anaknya. Kristen 25. dan Wihara Cetyah/Klenteng (10 buah).181 orang (0.346 oarang (0. Katolik 13.78%). Bagi penduduk beragama Islam. dimana kecenderungan mayoritas memberikan apresiasi negatif terhadap pemeluk agama lain.2.3.387 orang (0.14%).4 Jumlah Pemeluk Agama dan Tempat Ibadah di Kalimantan Selatan Tahun 2008 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .49%). Khong Ho Chu 23.1 Keagamaan Sekalipun penduduk Kalimantan Selatan mayoritas beragama Islam. gereja (77 buah).252 buah). Hindu dan Budha 19. Gambar II. Pemuda dan Olahraga 2. Kehidupan ritual keagamaan ditunjang oleh sarana ibadat. Seni Budaya.908 orang (0. serta pembangunan infrastrukur di daerah-daerah tertinggal/terpencil. langgar (6. Pura/Kuil/Sanggah (40 buah). Hal ini ditandai dengan meningkatnya masing-masing jumlah pemeluk agama dan sarana peribadatan. jumlah penduduk menurut agama berturut-turut adalah sebagai berikut: beragama Islam sebanyak 3. Pada 2003.2.869 (96.70%).738 buah). serta agama lainnya. seperti Kaharingan. 2.200.BAB II masyarakat. Di Kalimantan Selatan sekarang terdapat 140 buah pesantren dengan jumlah santri sebanyak 37.

Cetya 10. Sebab bagi pemerintah kualitas keberagamaan tidak selalu diukur dari jumlah pembangunan sarana prasarana ibadah maupun frekuensi kegiatan sosial keagamaan. Klenteng Sumber: BPS Prov. kebebasan berpikir dan berekspresi maupun implikasi regulasi yang bernuansa agama dan kesukuan sebagaimana terjadi di daerah lain. Paham-paham pluralisme terus dikembangkan dan diwujudkan pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam mengembangkan kehidupan keberagamaan yang harmonis. Hal ini dapat dibuktikan dengan tidak adanya laporan kekerasan-kekerasan yang bernuansa agama atau suku. kasus penyesatan. tetapi pemahaman nilai-nilai keberagamaan dan toleransi antar umat beragama. Sanggar Balai 8.362 602 125 8 55 3 12 2 4 1. Gereja 5.32 Jumlah Sarana Ibadah di Kalimantan Selatan Tahun 2006-2008 No. tetapi menjadikan ranah agama sebagai pemahaman penyeimbang dampak buruk dari gerusan budaya-budaya global yang destruktif dan demokrasi yang semakin menggeliat.323 602 119 10 35 3 9 7 4 2008 2. Masjid 2. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .BAB II Tabel II.311 6.270 425 113 20 40 101 15 8 4 2007 2. Nama Fasilitas Ibadah 2006 2. lembaga pendidikan (tak terkecuali pesantren) maupun dialog-dialog antar umat beragama. Toleransi antar-umat beragama dan antar-suku sampai sekarang masih dapat dipertahankan. Untuk pengembangan pendidikan di bidang keagamaan yang juga sebagai modal sosial Pemerintah telah memberikan bantuan pembangunan asrama mahasiswa Kalsel di Kairo dan bantuan pendanaan untuk menyelesaikan pendidikan di Kairo disamping pengembangan pendidikan keagamaan di Kalimantan Selatan dan di Indonesia pada umumnya. konflik tempat ibadah. diantaranya pengejawantahan ajaran-ajaran normatif dan kognitif agama masing-masing dalam semua aspek kehidupan baik perkumpulan keagamaan. Kehidupan keberagamaan yang baik dan nyaman mampu menyediakan batasan-batasan moral penduduk (pemeluk) sebagai bagian dari tugas bersama pemerintah dan pemangku agama. Hal ini dimaksudkan agar kualitas pendidikan keagamaan dapat disejajarkan dengan pendidikan umum yang pada akhirnya akan menyeimbangkan IPTEK dan IMTAQ. Kapel 6. Mushalla 4. Pura 7. Vihara 9. 2009 Dalam konteks ini Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memaknai perkembangan dan pertumbuhan pemeluk agama maupun ketersediaan sarana prasarana serta kegiatan sosial keagamaan tidak sekadar mewujudkan kenyamanan pemeluk dalam menjalankan ibadahnya. sehingga dapat dicegah terjadinya konflik sosial berbasis agama dan suku.650 6.2015 Page 43 . Kalsel.200 4. Langgar 3.

2 Seni dan Budaya Seni dan budaya adalah identitas suatu daerah.2. Seni dan budaya di Kalimantan Selatan sebagaimana di daerah lain mengalami perkembangan pasang surut sebab dan pemangku seni budaya dikonstruksi oleh tiga pilar yakni.2015 Page 44 . maupun bernegara termasuk di masa-masa mendatang tampaknya upaya untuk “menyeharikan” ajaran dan pesan-pesan moral agama menjadi etos kerja guna menjadi modal sosial (social capital) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Islam sebagai agama mayoritas simbol Keberagamaan masyarakat Banjar memiliki nilai-nilai sosial budaya yang mendorong tumbuhnya etos kerja dan semangat wirausaha yang mendorong kemajuan. Kalimantan Selatan yang dihuni oleh mayoritas etnis Banjar dan sebagian etnis Bakumpai dan Dayak sebagai entitas etnis asli memiliki keragaman seni dan budaya yang saling terintegrasi baik nilai-nilai. pelaku maupun lokasi/wilayah kebudayaan (tujuan wisata). (1) pilar nilainilai seni budaya yang berlaku di masyarakat (2) Pilar Kegiatan yang dilakukan dan kokohkan para pemangku seni budaya (adat) dan yang (3) Pilar Peran dan fasilitasi pemerintah daerah. Adalah hal yang menarik ketika terbentuknya Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar (LAKKB) sebagai pilar yang ke-empat (4) guna membangun interaksi seni-budaya Banjar dengan keraton sebagaimana kokohnya kesenian dan kebudayaan di Jawa dan Sumatera sebagai bagian dari upaya pemerintah bersama RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Tantangan kedepan yang menjadi perhatian serius adalah diperlukan penguatan nilai-nilai sosial keagamaan dan konstruksi budaya guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berbasis sosial keagamaan dan budaya tempatan dan terciptanya keharmonisan antar pemeluk agama. berpemerintahan.5 Alur Pikir Transformasi nilai-nilai keagamaan Sosial keagamaan Namun demikian akhir-akhir ini. Catatan historis masyarakat Banjar yang memiliki etos kerja dan etos migrasi (madam) adalah salah satu contoh transformasi nilai-nilai agama dan budaya dalam menjawab tantangan dan zaman pada masa lalu.BAB II Harapan besar pemerintah meningkatnya kualitas keberagamaan dengan indikator meningkatnya sarana prasarana ibadah maupun frekuensi kegiatan sosial keagamaan dapat terwujud transformasi nilai-nilai normatif dan kognitif agama ke dalam perilaku hidup baik dalam kehidupan bermasyarakat. Gambar II.3. berbisnis. toleransi antar umat beragama. Pengembangan pengelolaan kapasitas dan kualitas lembaga sosial keagamaan serta Pembinaan terhadap pendidikan dan perguruan keagamaan yang masih kurang optimal menyentuh kemasyarakat terutama kualitasnya 2. nilai-nilai luhur tersebut semakin terancam oleh nilai-nilai lain .

seni dan nilai-nilainya. Hal ini untuk menegaskan dan meletakkan dasar bahwa kesenian dan kebudayaan Banjar Kalimantan Selatan tidak sekadar sebuah event atau kegiatan tetapi ianya menjadi sebuah bagian dari urat nadi kehidupan yang didukung oleh institusi keraton sebagai mitra pemerintah. 6. 8. 7.33 Perkembangan Kelompok Kesenian Tahun 2006 dan 2009 No. Gambar II. 4. Perda Bangunan Banjar dan Perda Peninggalan bersejarah Tahun 2008 misalnya adalah bentuk jawaban pemerintah Provinsi atas kegelisahan dan keresahan para budayawan dan seniman serta pemangku adat Banjar dalam menjawab tantangan zaman guna melestarikan kebudayaan.BAB II stakeholder memangku seni dan adat daerah Provinsi Kalimantan Selatan. 3. Koordinasi antar SKPD yang berwenang menjadikan ranah pelestarian ini RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Terbitnya Perda yang bernuansa Budaya seperti Perda Seni dan Bahasa Banjar. 1. 10.2015 Page 45 . Itulah sebabnya program pemerintah provinsi dalam rangka mendirikan replika Keraton bagian dari upaya mengintegrasikan kebudayaan Banjar.6 Skema Integrasi 4 Pilar Pelestarian Kebudayaan Banjar Kalsel Tabel II. 5. 9. Kelompok Seni PERFEKINDO SANGGAR BUDAYA SANGGAR ANGGERIK HARIVI KAMBANG BARENTRENG AYU LABUNI BERSUJUD KAMBANG MAYANG BUANA BULUH MARINDU SINAR PUSAKA PUSAKA SAIJAAN BUNGA ANGGERIK 2006 Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif 2009 Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Pelestarian nilai-nilai seni budaya belum optimal terintegrasi dalam kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan menengah di Kalsel termasuk kegiatan ekstra kurikuler. 2.

sehingga terkesan event-event yang dilaksanakan pun sebagai pengguguran kewajiban saja (proyek) bagi aparat birokrasi berwenang yang rendah kreatifitas-inovasi dan pelibatan professional-profesional pegiat seni dan budaya. Sekalipun fasilitas berkesenian dan berkebudayaan bagi para seniman dan pemangku adat relatif terfasilitasi. Selama ini kegiatan pelestarian kebudayaan dan kesenian Banjar termasuk kegiatan promosi wisata hanya dalam konteks tataran pelaksanaan pagelaran seni. Karya seni dan budaya di Kalsel masih dalam konstelasi “jeruk makan jeruk” sebuah ungkapan bahwa karya seni hanya dinikmati sesama seniman dan budayawan belum lagi meluas menjadi bagian hiburan dan transformasi nilai-nilai seni-budaya kepada masyarakat . namun kondisi demikian adalah proses kebudayaan yang statis/mandek dalam perkembangan dan pelestarian kebudayaan. literatur muatan lokal. festival sastra. padahal merupakan medium pelestarian budaya yang efektif. dokumentasi. alat peraga seni-budaya sebagai pelengkap alat kebijakan (perda) yang masih minim. Gambaran ini pun tersirat pada pemanduan kepariwisataan dan pembinaan stakeholder pelengkap dunia kepariwisataan yang masih belum professional sehingga belum memberikan kenyamanan dan kepuasaan bagi pengunjung. berdirinya sanggar-sanggar. fasilitas sarana prasarana. sehingga kehadiran agen-agen traveling yang meningkat belum memberikan layanan yang bernilai kompetitif.2015 Page 46 . Demikian pula peran dan fungsi museum masih menggunakan paradigma lama dimana belum menunjukkan hal yang dinamis dan menarik bagi pengunjung untuk memahami nilai-nilai dan peninggalan tradisi sebagai bagian dari pelestarian kebudayaan. Selain infrastruktur tujuan wisata masih relatif belum memadai. festival tari. berpengaruh terhadap kunjungan wisata seperti sektor jasa perhotelan yang pertumbuhannya relative kecil atas hunian hotel. tetapi mentransformasikan nilai-nilai seni dan kebudayaan dalam kegiatan pemerintahan dan perilaku masyarakat. Karya seni budaya cenderung hanya bagian dari proses komersialisasi promosi wisata yang mengedepankan profit oriented. pelayanan dan promosi pariwisata. ditambah lagi dokumentasi seperti buku-buku budaya Banjar/cerita Banjar. penganugerahan karya cipta seni dan budaya yang diintegrasikan dalam event-event wisata lainnya. Ketidakramahan dan ketidakmemuaskan pelayanan kepariwisataan yang dikelola masyarakat menjadi kontribusi negatif promosi wisata. Kegelisahan seni dan budaya tidak sekedar pada kualitas kegiatan.BAB II terkesan berjalan sendiri-sendiri dan tidak membuahkan hasil yang memuaskan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .

7 Kunjungan Wisatawan ke Kalsel Tahun 2007 Sumber: KDA Tahun 2008 Tantangan ke depan adalah bagaimana meredifinisi dan merevitalisasi budaya Banjar agar menjadi energi kultural untuk membangun modal sosial bagi lestari nilai-nilai dalam perilaku dan kehidupan masyarakat serta menjadi kekuatan pembangunan.2015 Page 47 . Dengan demikian upaya penyadaran terhadap pemuda pemberdayaan dan pengembangan pemuda untuk semakin berperan dalam pembangunan. kepramukaan dan kewirausahaan. pembibitan oleh raga dan pemasalahan olah raga. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan antara lain menyebutkan bahwa sasaran pembangunan kepemudaan adalah usia 16 s/d 30 tahun. Pembangunan dibidang olah raga di Kalimantan Selatan melalui 3 kegiatan pokok yaitu Pengembangan olah raga masyarakat. Disamping itu melakukan pembinaan dan promosi kepariwisataan yang efektif.3 Pemuda dan Olah Raga Perkembangan kualitas bidang pemuda dirasakan belum optimal sehingga kontribusi pemuda dalam pembangunan belum optimal. dan penggalian dokumentasi. 2.2.BAB II Gambar II. Pembinaan terhadap generasi muda meliputi dua pola yaitu di sekolah dan di luar sekolah. Sedangkan pembinaan di luar sekolah adalah pembinaan kewirausahaan guna mengurangi pengangguran. Salah satu bentuk pembinaan nyata terhadap pemuda di RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kegiatan-kegiatan kepemudaan termasuk pelajar generasi muda.3. Selain itu juga dikembangkan pertukaran pelajar dan pertukaran pemuda baik antar negara maupun antar daerah. peninggalan bersejarah dan mendinamisasikan museum-museum bersejarah. Berbagai kegiatan yang masih terkait dengan pembinaan di sekolah adalah seperti pelatihan dasar kepramukaan. pelatihan tingkat mahir dan lanjutan dimaksudkan untuk keberlangsungan pendidikan mental dan spritual termasuk pula pembinaan tentang bela negara.

Terhadap olah raga kesehatan pemerintah daerah menyiapkan tempat-tempat umum yang dilengkapi dengan sarana olah raga. hukum sebagai kewenangan pemerintahan meliputi dua hal.BAB II Kalimantan Selatan adalah dibidang olah raga adalah dikembangkannya olah raga kesehatan.2. Politik dan Pemerintahan 2. Kewenangan Bidang Hukum Pemerintah Provinsi Secara garis besar. 2. pemerintah provinsi memiliki kewenangan untuk terlibat dalam dua hal tesebut dalam pengertian yang limitatif. yaitu : pembuatan peraturan perundang-undangan (law making process) dan penegakan hukum (law enforcement) atas peraturan perundang-undangan itu sendiri. pemerintah daerah provinsi juga dapat membentuk Peraturan Gubernur. Dalam pembuatan peraturan perundan-undangan. olah raga rekreasi dan olah raga prestasi. Perda dapat dibentuk untuk memenuhi kewajiban peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan guna memenuhi kebutuhan. kekhasan dan/atau kearifan lokal daerah setempat. pemerintah daerah provinsi hanya diberikan wewenang untuk membentuk peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya sebagaimana diatur dalam UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah jo UU No. Posisi Peraturan Gubernur sama halnya dengan Peraturan Pemerintah sebagai penjelas dari RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . bangsa dan negara. banua.4 Hukum. Dalam kedua hal tersebut.10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.2. Dalam kedua UU tersebut. demikian juga untuk olah raga rekreasi telah pula dikembangkan sarana olah raga dalam bentuk outbond dan untuk olah raga prestasi telah dikembangkan program pemusatan latihan. Selain dua hal itu. pemerintah daerah provinsi dapat membentuk satu peraturan perundang-undangan berupa Peraturan Daerah (Perda) Provinsi. Langkah – langkah strategik yang diambil pemerintah dari pemetaan masalah soal kepemudaan setidaknya melepaskan dan menghindarkan dari bahaya pengguna narkoba yang berakibat pada tindakan patologi sosial yang merusak masa depan pemuda itu sendiri. Peraturan Gubernur sendiri adalah suatu produk hukum yang mengatur hal-hal yang lebih teknis dari Peraturan Daerah.2015 Page 48 . fungsi pelayanan masyarakat yang melekat pada berbagai fungsi pemerintahan juga menjadi domain kewenangan pemprov yang perlu diperhatikan secara serius.1 Hukum a. Secara yuridis.4. Selain dapat membentuk Perda. meningkatkan sosialisasi dan kampanye bahanyanya narkoba bagi generasi muda dan mengupayakan pembangunan fasilitas kepemudaan dan wadah olahraga yang representatif. Tantangan yang dihadapi di bidang pemuda dan olah raga adalah :mengoptimalkan peran serta pemuda dalam berbagai bidang pembangunan.

b. agama. Peraturan Gubernur dan Keputusan Gubernur mesti merujuk kepada dasar kewenangan yang membuatnya. (2) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). g. c. pelayanan kependudukan. pemanfaatan. Dalam Pasal 13 UU No. Sebagai suatu produk hukum.BAB II UU.2015 Page 49 . dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. pengendalian lingkungan hidup. kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-Undang ini ditentukan menjadi urusan Pemerintah.32 Tahun 2004 tersebut merupakan dasar hukum pemberian kekuasaan yang bersifat otonom kepada daerah (provinsi. dan catatan sipil.32 Tahun 2004. penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota. Klausula dalam Pasal 10 UU No. penanganan bidang kesehatan. f. Perda. d. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. perencanaan. b. (3) Urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. kabupaten/kota). politik luar negeri. dan pengawasan tata ruang.32 Tahun 2004 membagi urusan pemerintahan daerah yang bersifat otonom tersebut atas dua urusan pemerintahan. Untuk menetapkan hal-hal yang bersifat individual dan konkret dari Perda dan Peraturan Gubernur. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota. penyediaan sarana dan prasarana umum. perencanaan dan pengendalian pembangunan. e. h. Kewenangan pemerintah daerah provinsi sendiri dapat dilacak berdasarkan ketentuan dalam UU No. moneter dan fiskal nasional. usaha kecil. yaitu : urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan. e. i. keamanan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dan f. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota. dalam hal ini adalah pemerintah daerah provinsi. seorang Gubernur dapat pula menerbitkan Keputusan Gubernur. UU No. l. d. c. k. pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Dalam Pasal 10 UU tersebut menyatakan : (1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya.32 Tahun 2004 disebutkan definisi urusan wajib dan urusan pilihan yang dimiliki pemerintahan daerah provinsi sebagai berikut : (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: a. yustisi. fasilitasi pengembangan koperasi. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. pertahanan. j. Lebih lanjut.

BAB II m. Perda sebagai salah satu produk hukum daerah juga dapat dibentuk sebagai penjabaran peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. Di tingkat Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan hal demikian diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan nomor 5 tahun 2008. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. Hal ini dapat dilihat dari Gambar II. (2) Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. pemerintahan daerah provinsi juga mendapat limpahan kewenangan pemerintahan dari pemerintah pusat berdasarkan asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan.8 : Gambar II. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Berbagai produk hukum pemerintah daerah provinsi dapat dibentuk untuk menunjang pelbagai kewenangan pemerintahan provinsi sebagaimana dijabarkan di atas. Selain itu. o. p.2015 Page 50 . n. Berdasarkan PP No. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Kendati demikian. pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi terdiri atas 26 bidang yang menjadi urusan wajib dan 8 bidang urusan pemerintahan yang menjadi pilihan.8 Penjabaran Peraturan Perundang-undangan Produk Hukum Pemprov Peraturan Daerah Peraturan Gubernur Hal yang dapat diatur Penjabaran Peraturan Perundangundangan lebih tinggi Urusan Wajib Pemerintahan Provinsi Keputusan Gubernur Urusan Pilihan Pemerintahan Provinsi Aparat Utama Aparat Penegak Hukum Satuan Polisi PP Aparat Pembantu Kepolisian dan Unsur Kamtibmasn RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . kekhasan.38 Tahun 2007 tersebut. Secara lebih terperinci mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan Pemerintahan antara Pemerintah.10 Tahun 2004. pelayanan administrasi umum pemerintahan. sebagaimana amanah Pasal 12 UU No.

Kondisi Kekinian Berdasarkan kewenangan yang dimiliki pemerintah provinsi di bidang hukum sebagaimana dijelaskan sebelumnya.35 Jumlah Perda Provinsi Berdasarkan Jenis Pengaturannya Di Kalimantan Selatan 2008 S/D 2010 Tahun JenisPerda APBD Pajak daerah Retribusi daerah Kelembagaan Penyertaan Modal Pengaturan Sumber : Biro Hukum Pemprov Kalsel. 4. Satuan Polisi Pamong Praja merupakan perangkat pemerintah daerah provinsi yang secara yuridis bertugas untuk itu. 2.2015 Page 51 . b. 2010 Jumlah produk hukum. Akan tetapi dalam kondisi tertentu. 2) Perda tentang Pajak daerah. 5) Perda tentang Penyertaan Modal dan 6) Perda tentang Pengaturan. 2010 2008 3 1 1 8 8 2009 3 6 4 5 9 2010 1 1 1 4 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .34 Jumlah Produk Hukum Yang Dihasilkan Pemda Provinsi Di Kalimantan Selatan Tahun 2006 S/D 2009 No. khususnya perda sebagaimana tabel diatas dapat dibedakan berdasarkan jenisnya. 4) Perda tentang Kelembagaan di daerah. 3. 1. Jenis Produk Hukum Perumusan Perda Perumusan Produk Hukum Peraturan Gubernur Keputusan Gubernur 61 606 75 678 74 612 100 711 2006 21 2007 20 2008 24 2009 29 Sumber : Biro Hukum Pemprov Kalsel. 3) Perda tentang Retribusi daerah.BAB II Di level penegakan hukum. kewenangan pemerintah provinsi secara otonom dapat dilakukan untuk melakukan penegakan hukum atas berbagai produk hukum daerah dimaksud dengan menggunakan Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP). sebagai berikut : 1) Perda tentang APBD. Pemerintah provinsi Kalimantan Selatan telah melakukan pembentukan produk hukum daerah sebagaimana terlihat pada Tabel II.34 Tabel II. pemerintah provinsi dapat meminta bantuan dari pihak kepolisian dan unsur kamtibmas lainnya guna menegakkan produk hukum daerah dimaksud. Tabel II.

selain itu juga lembaga hukum belum disertai dengan akuntabilitas dalam penataan hukum karena belum diatur dengan baik sehingga sangat sulit menentukan siapa yng bertanggung jawab terhadap tata cara dan bagaimana Page 52 2. Sedangkan di ranah penegakan hukum. tokoh masyarakat dan akademisi dalam turut merancang dan mengawal jalannya pembangunan dll yang bisa diformulasikan dalam bentuk Perda maupun produk hukum lainnya yang menjadi kewenangan Pemrov. Kurangnya indenpedensi dan koordinasi kelembagaan hukum berakibat pada sistem hukum. Persoalan tumpang tindih diatas memang bukan domain kewenangan daerah. Dari Perda tentang pengaturan tersebut tercatat pada tahun 2008 sebanyak tiga buah Perda Pengaturan diusulkan oleh DPRD masing-masing Perda tentang Pengawasan Peredaran Minuman dan Makanan Beralkohol. seperti minimnya kontribusi sektor tambang bagi pembangunan. Dari abstraksi diatas terlihat bahwa pembangunan bidang hukum. terutama ulama. Sedangkan sampai dengan Agustus 2010. pemerintah provinsi Kalsel masih menghadapi berbagai kendala. Diterbitkannya Perda-perda telah memberikan konstribusi besar terhadap pembangunan seperti Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pengaturan Jalan umum dan jalan khusus untuk angkutan hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan. diantaranya : 1. serta Perda tentang Perlindungan Anak Terlantar. Daerah hanya menerima impact dari tata kelola pembuatan peraturan di tingkat pusat. Perda Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pendidikan Al Quran di Kalimantan Selatan sedikit banyak telah menjawab beberapa persoalan urgen ke Kalsel-an. khusunya dalam pembuatan peraturan daerah telah menunjukkan kemajuan yang berarti dan telah ikut memberikan konstribusi terhadap pencapaian sasaran pembangunan. yaitu Perda tentang Pelarangan Penggunaan Jalan Umum Untuk Angkutan Pertambangan dan Perkebunan Besar atau Perda Nomor 3 Tahun 2009. keterlibatan stakehoders. Ke depan masih diperlukan ikhtiar yang kuat untuk menghadirkan peraturanperaturan perundang-undangan yang menjadi kewenangan pemerintah Provinsi Kalsel guna menjawab persoalan-persoalan ke-Kalsel-an. Perda tentang Kepurbakalaan. sekaligus telah mampu menampilkan kekhasan daerah ini di banding daerah lain melalui penggunaan urusan pilihan pemerintahan provinsi yang diatur lebih lanjut melalui Perda sebagaimana tergambar pada dua Perda di atas. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Masih banyaknya tumpang tindih peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan secara terpusat berakibat pada inkonsistennya penerapan hukum di daerah. DPRD Kalsel belum mengusulkan satupun Raperda untuk disahkan menjadi Perda. sejarah dan nilai tradisional. Implementasi peraturan perundang-undangan menjadi terhambat karena peraturan pelaksanaannya tidak kunjung terbit. Pada tahun 2009 hanya terdapat satu buah Perda yang diusulkan oleh DPRD Kalsel. sehingga tidak dapat dilaksanakan.BAB II Dari keenam jenis perda tersebut. dilihat dari sisi perancangan dan pengusulannya lebih banyak didominasi dari pihak eksekutif dan hanya perda tentang pengaturan yang berasal dari pihak legislatif (DPRD Provinsi Kalsel).2015 .

maka sesungguhnya ada beberapa aspek yang layak disoroti dalam sub bagian Politik ini. Untuk mencapai hal tersebut. selain memerlukan bedah yang mendalam juga beberapa hal tidak terlalu signifikan pengaruhnya terhadap suatu perencanaan pembangunan di ranah pemerintah provinsi sebagaimana yang hendak disoroti lebih lanjut dalam RPJMD Kalsel 2011-2015 ini. serta 4) regulasi dan kebijaksanaan. Bidang sengketa terfokus pada pengaduan masyarakat dan sifatnya hanya sebagai fasilitator. 2. Jika mengacu pada terminology politik demikian.BAB II yang harus dilakukan dalam pengembangan hukum daerah. Mengurai empat hal tersebut. Misalnya antar Pemprov dengan Kepolisian dan Kejaksaan dalam konteks penegakan berbagai persoalan hukum di daerah. penyusunan pengukuran perkembangan ranah politik di Kalsel dilihat dengan menggunakan indikator demokratisasi sebagaimana akan diuraikan di bawah ini. dalam penyusunan RPJMD Kalsel ini. 1) sistem negara atau sistem politik.2 Politik Secara teoritik. aspek politik lebih ditekankan dari : 1) bagaimana lembaga-lembaga politik di daerah bekerja ? 2) bagaimana hak-hak politik rakyat dapat dipenuhi?. dan bukan bertujuan untuk kepentingan pribadi. yaitu . Independensi institusi hukum tidak berhak diintervensi. seperti penyelesaian illegal loging dan mining. Yang dapat dilakukan adalah koordinsi diantara kelembagaan hukum dapat dilakukan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .4. 3) pengambilan kebijakan. dan 3) bagaimana segala kebijakan dan regulasi dapat menjamin rakyat hak-hak dasar rakyat? Ketiga hal tersebut dapat dirangkum dalam satu sub kajian dalam politik bernama demokrasi. dalam politik diperlukan adanya kekuasaan yang memberikan kewenangan kepada pihak tertentu untuk menjalankan sistem guna mencapai tujuan di atas. Untuk itu. 2) kekuasaan (power).2015 Page 53 . Kekuasaan yang dimiliki lebih lanjut diterjemahkan dalam pengambilan kebijakan (decision making) yang dapat berbentuk suatu kebijaksanaan dan regulasi lainnya yang kesemuanya dihajatkan sekali lagi untuk kepentingan publik dalam arti luas. termasuk oleh pemerintahan provinsi.2. Sehingga dalam bagian politik ini. politik didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berbagai kegiatan dalam suatu sistem negara yang menyangkut proses untuk mencapai tujuan yang bersifat publik (public goals).

2) berekspresi atau berpendapat.BAB II a. hak-hak politik dan institusi demokrasi yang diturunkan dalam beberapa variabel sebagaimana terlihat dalam tabel II. Demokrasi dalam pengertian ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut . dan 8) adanya jaminan kelembagaan bahwa setiap kebijakan pemerintah berdasar pada dukungan suara dan bentuk-bentuk ekspresi lainnya. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 6) adanya Pemilu yang jujur dan adil. 1) membentuk dan ikut serta dalam organisasi. selalu ada perbedaan penerimaan hasil tata kelola pemerintahan. termasuk di Kalsel. Dahl menawarkan konsep demokrasi poliarkhi untuk merekonstruksi ajaran demokrasi populis di atas. bukan “semua orang”. poliarkhi dinilai lebih realistic untuk menggambarkan sebuah fenomena politik tertentu dalam sejarah peradaban manusia. 4) persaingan atau kontestasi di antara warga negara untuk mendapatkan dukungan dalam rangka memperebutkan jabatan-jabatan publik penting. dan tidak ada pemerintahan sepenuhnya untuk semua rakyat. yaitu aspek kebebasan sipil. Dalam prakteknya yang menjalankan pemerintahan ialah segelintir orang. bukan oleh “semua rakyat” dan oleh “banyak orang”. demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan dari. Karenaya secara teoritis. Robert Dahl dan Coppedge mengatakan tidak pernah ada pemerintahan dijalankan langsung oleh semua rakyat. 5) memberikan suara dalam pemilihan umum. Selain itu. Berdasarkan rumusan teoritis tersebut.36. penggunaan indikator yang baku diperlukan untuk menghilangkan kerancuan dan debat dalam memahami konsep demokrasi yang beragam. Juga tidak pernah ada hasil pemerintahan itu untuk rakyat semuanya secara merata. sebab poliarkhi mengacu pada sebuah sistem pemerintahan oleh “banyak rakyat”. Kendati demikian pemerintahan seperti ini tak pernah hadir dalam sejarah ummat manusia. 7) adanya sumber-sumber informasi alternatif di luar yang diberikan pemerintah. Indikator pada table II. oleh dan untuk rakyat.2015 Page 54 .36 penting dibuat untuk mengetahui tingkat demokratisasi suatu wilayah. karena diselenggarakan pemilu sebagai mekanisme pengambilan kebijakan oleh rakyat secara periodik dan didukung oleh kebijakan pemerintah yang terbuka dan dapat dievalusi oleh rakyat pada pemilu berikutnya. Maswardi Rauf dkk dalam merumuskan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) menyederhanakan alat ukur demokratisasi melalui pemantauan atas tiga aspek dalam demokrasi. Menurutnya. 3) menjadi pejabat publik. Indikator Pengukur Demokratisasi Definisi populis tentang demokrasi biasa menyebutkan bahwa.

0 . Dan yang terakhir dari aspek yang pertama ini adalah terkait dengan kebebasan dari diskriminasi yang dimaknai sebagai perlakuan yang tidak membedakan individu warga negara dalam hak dan kewajiban yang dia miliki. Yang dimaksud dengan kebebasan berpendapat adalah kebebasan individu dan kelompok untuk mengeluarkan pendapat.3 dan kebebasan dari diskriminasi = 91. Politik dan Demokratisasi Aspek pertama dari Indeks Demokrasi Indonesia adalah kebebasan sipil. dimana pembedaan tersebut didasarkan pada alasan gender.3 (tinggi) dengan rincian sebagai berikut . ODHA dan hambatan fisik.2015 Page 55 . 4. IDI untuk variabel kebebasan berkumpul dan berserikat = 89. b. psikis dan pembatasan. kebebasan berpendapat = 82. Dalam aspek ini dilihat empat variabel. dan perasaan. suku/ras. afiliasi politik. umur. baik terdaftar atau tidak terdaftar di lembaga pemerintah. serta tidak adanya tindakan represi dari satu kelompok masyarakat terhadap masyarakat lain yang menolak kebijakan pemerintah terkait dengan salah satu keyakinan. Sedangkan berserikat adalah mendirikan atau membentuk organisasi. maka IDI Kalsel untuk aspek yang pertama ini adalah 83. Yang dimaksud dengan kebebasan berkumpul adalah aktivitas kemasyarakatan dalam bentuk pertemuan yang melibatkan lebih dari 2 orang. yaitu kebebasan berkumpul dan berserikat.36 Pengukuran Indeks Demokrasi Indonesia Versi Tim Bappenas Dan UNDP Variabel Kebebasan berkumpul dan berserikat Kebebasan berpendapat Kebebasan berkeyakinan Kebebasan dari Diskriminasi Partisipasi Politik Pengawasan Pemerintahan Pemilu yang bebas dan adil Peran Pemerintah/DPRD Peran Partai Politik Peradilan yang independen Aspek Kebebasan Sipil Indikator 8 indikator 4 indikator 5 indikator 3 indikator 6 indikator 4 indikator 5 indikator 4 indikator 2 indikator 2 indikator Hak-hak Politik Institusi Demokratis Sumber : Laporan Akhir IDI tahun 2008. FGD dan indepth interview dengan beberapa stakeholders terpilih. kebebasan berkeyakinan dan kebebasan dari diskriminasi. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan melalui metode pelacakan pemberitaan di media massa. kebebasan berkeyakinan = 70. kebebasan berpendapat. tanpa adanya rintangan berupa tekanan fisik. Sedangkan yang dimaksud dengan kebebasan berkeyakinan adalah adanya kebebasan individu untuk meyakini kepercayaan atau agama yang ditetapkan pemerintah. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . pandangan. agama. kehendak.BAB II Tabel II.4.

termasuk hak memilih dan dipilih. yaitu Pemilu yang bebas dan adil. termasuk hak memilih dan dipilih = 52. Tabel II. serta variabel lain berupa pengawasan pemerintahan. Yang dimaksud dengan hak memilih adalah hak setiap individu untuk secara bebas memberikan suara dalam pemilihan pejabat publik. Partai Politik dan Peradilan yang independen. mogok. seperti Musrenbang misalnya. yaitu : partisipasi politik.37 Jumlah Kursi Partai-Partai Politik Di DPRD Kalimantan Selatan Pada Pemilu Legislatif 2004 Dan 2009 Perolehan Perolehan Nama Partai Politik Kursi 2004 Kursi 2009 Golongan Karya 13 10 Demokrat 2 9 Persatuan Pembangunan 7 7 Keadilan sejahtera 6 7 Demokrasi Indonesia Perjuangan 7 5 Bintang Reformasi 6 5 Amanat Nasional 5 5 Kebangkitan Bangsa 5 3 Bulan Bintang 4 1 Gerakan Indonesia Raya 0 2 Hati Nurani Rakyat 0 1 Jumlah 55 55 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sedangkan yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemerintahan adalah keterlibatan warga/masyarakat dalam mengawasi secara langsung pelaksanaan keputusan/kebijakan.3 dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemerintahan= 61. Terkait dengan hak dipilih ini. Pengawasan demikian dapat dilakukan dalam bentuk pelaporan/pengaduan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan melalui press statement. tidak adanya manipulasi dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . pengaduan kepada kepolisian dan prakarsa media melalui berita terkait dengan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan. IDI Kalsel dalam aspek yang kedua ini hanya memperoleh angka 56. maupun kelompok dalam berbagai kegiatan. antara lain : adanya kesempatan yang sama dalam kampanye. Yang dimaksud dengan Pemilu yang bebas dan adil adalah pemilu yang memenuhi standar demokratis yang dicerminkan oleh. Peran DPRD.BAB II Aspek kedua dari Indeks Demokrasi Indonesia adalah hak-hak politik yang terdiri dari dua variabel.3 Aspek ketiga dari Indeks Demokrasi Indonesia adalah Institusi Demokratis yang terdiri dari empat variabel. seperti hearing. berikut data tentang jumlah kursi partai-partai politik di DPRD Kalsel dalam dua Pemilu terakhir.8 (rendah) yang terdiri dari variabel partisipasi masyarakat dalam politik. dan melalui salah satu forum multistakeholders.2015 Page 56 . Sedangkan hak dipilih adalah hak setiap individu untuk berkompetisi memperebutkan suara secara bebas dalam suatu pemilihan pejabat publik. Yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat dalam politik adalah keterlibatan masyarakat dalam pembuatan sampai dengan penialaian keputusan politik yang tercermin secara kuantitatif dari keterlibatan baik secara individual. demonstrasi.

3) Partisipasi Politik Pengawasan Pemerintahan Pemilu yang bebas dan adil Peran Pemerintah/DPRD Peran Partai Politik Peradilan yang Independen 52.5 dan Peradilan yang independen =22.1 61. tidak adanya intimidasi dan kekerasan fisik dalam pemberian suara.38 Angka Indeks Demokrasi Indonesia Provinsi Kalsel Tahun 2008 Aspek dan Angka IDI Variabel Angka IDI Kebebasan Sipil Kebebasan berkumpul dan berserikat 89. fungsi komunikasi politik (antara konstituen dan penyelenggara negara). serta fungsi sosialisasi politik. Berdasarkan data tersebut di atas.4 Hak-hak Politik (56.6 22.3) Kebebasan berpendapat 82.4 (sedang).2015 Page 57 . akuntabilitas politik yang tinggi dan adanya hubungan yang kuat antara politisi dan konstituen. Dan aspek yang terakhir adalah peradilan yang independen. Secara kseluruhan Indeks Demokrasi Indonesia Kalsel dapat dilihat pada Tabel II.0 42.38 Tabel II. berjalannya mekanisme checks and balances. dapat dianalisis beberapa permaslahan demokratisasi di Kalsel sebagai berikut : 1.3 56. Angka Indeks Demokrasi Indonesia Kalsel untuk aspek yang terakhir ini adalah 44. Sedangkan peran partai politik dapat dilihat dari sejauh mana parpol mampu melaksanakan fungsinya dalam hal penyerapan aspirasi masyarakat. Secara keseluruhan angka Indeks Demokrasi Indonesia Kalsel pada tahun 2008 hanya berkisar pada angka 61. Partai Politik = 46. Parlemen yang efektif dicirikan dari adanya tingkat partisipasi dan kontestasi politik yang tinggi.4 (83. Hal ini dapat dilihat dari sejauhmana peradilan bebas dari intervensi birokrasi dan politik dalam penanganan berbagai perkara yang dihadapinya. Kekonsistenan pengadilan menjaga independensinya berarti bahwa supremasi hukum dijunjung tinggi.0 Kebebasan berkeyakinan 70. Peran DPRD = 42.6 46. Sedangkan peran DPRD dapat dilihat dari efektivitas pelaksanaan fungsi DPRD dalam rangka konsolidasi demokrasi.8) Institusi Demokratis (44. Pemilu yang bebas dan adil = 56. fungsi pengkaderan dan rekrutmen calon-calon pemimpin politik.1.4 Angka IDI keseluruhan Sumber : Laporan Akhir IDI tahun 2008.0. dimana aspek yang paling menonjol adalah aspek kebebasan sipil. Masih rendahnya partisipasi politik masyakarat yaitu keterlibatan masyarakat dalam pembuatan sampai dengan penilaian keputusan politik yang tercermin RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .3 Kebebasan dari Diskriminasi 91.BAB II penghitungan suara.3 atau sangat rendah. sementara aspek hak-hak politik dan institusi demokratis menunjukan angka yang mengkhawatirkan.3 61. 5.

Dalam pelaksanaaan tugas-tugas dekonsentrasi. Gambaran Umum Penyelenggaraan Pemerintahan (1) Asas. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. dekonsentrasi.32 Tahun 2004 yang dijelaskan sebelumnya. 4. Kelemahan demikian sangat membuka peluang penyalahgunaan kekuasaan oleh aparatur pemerintahan daerah.3 Pemerintahan a. 5. Masih jauhnya kehadiran Peradilan yang bebas dan bersih. Pengawasan demikian dapat dilakukan dalam bentuk pelaporan/pengaduan masyarakat terhadap penyelnggaraan pemerintahan melalui press statement.BAB II secara kuantitatif dari keterlibatan baik secara individual. Belum hadirnya Pemilu yang jurdil. dan tugas pembantuan. intimidasi politik. Belum berjalannya fungsi partai politik secara baik. maupun kelompok dalam berbagai kegiatas. Hal ini terlihat dari masih tebang pilihnya sejumlah kasus. termasuk beberapa Putusan Pengadilan yang seringkali menjadi polemik publik dan mencederai rasa keadilan masyarakat.2015 Page 58 . seperti hearing. Pemerintah provinsi sebagai wakil Pemerintah di Daerah menjalankan tugas dan fungsinya sebagaimana diatur oleh PP Nomor 39 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi yaitu: RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Lema hnya peran DPRD sebagai balancing power kekuasaan eksekutif. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemerintahan yaitu keterlibatan warga/masyarakat dalam mengawasi secara langsung pelaksanaan keputusan/kebijakan. dalam hal fungsi pengkaderan. 2. pengaduan kepada kepolisian dan prakarsa media melalui berita terkait dengan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan. dan melalui salah satu forum multistakeholders. Prinsip dan Dasar Kewenangan Pemerintahan Daerah Provinsi Pelaksanaan asas pemerintahan di tingkat Provinsi pasca diterapkannya otonomi daerah dilakukan berdasarkan tiga asas. Dalam menjalankan asas desentralisasi terdapat urusan wajib dan urusan pilihan pemerintahan sebagaimana diatur dalam UU No. terkait dengan berbagai fakta dan asumsi publik dalam hal adanya money politics. 6.2. yaitu asas desentralisasi. 3. pendidikan politik dan perjuangan aspirasi publik. ketidak netralan birokrasi dan penyelenggara pemilu daerah. Termasuk lemahnya kemampuan anggota DPRD dalam membangun relasi dengan konstituennya. mogok. seperti Musrenbang misalnya. Hal ini dapat diasumsikan bahwa kontrol masyarakat terhadap kebijakan politik lemah. 2. Sedangkan Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu.4. demonstarsi.

kelembagaan. Fasilitasi kerjasama dan penyelesaian perselisihan antar daerah dalam wilayah kerjanya Pelantikan bupati/walikota Fasilitasi penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan Pengkondisian terselenggaranya pemerintah daerah yang baik. penggabungan dan penghapusan daerah. utamanya pemerntah provinsi. dan Kebijakan Nasional di Daerah. perencanaan. sektoral. 6. (2) Personil dan Kelembagaan Sebagai konsekuensi dan pelimpahan kewenangan berdasarkan otonomi daerah. partisipasi masyarakat. nyata.122 orang. dan pengendalian. dan Keputusan DPRD serta Keputusan Pimpinan DPRD Pengawasan Administrasi Kepegawaian dan karier pegawai diwilayahnya sesuai peraturan perundangan Pemberian pertimbangan terhadap pembentukan. pemekaran. bersih dan bertanggungjawab. baik yang dilakukan oleh Badan eksekutif Daerah maupun Badan Legislatif Daerah Memelihara ketentraman dan ketertiban Pembinaan penyelenggaraan Pemerintah Kabupaten/Kota Melaksanakan tugas-tugas tampung tantra Pengawasan represif terhadap pelaksanaan PERDA.313 (2008). penyelenggaraan pemerintahan umum di Provinsi mesti mengacu pada beberapa prinsip yakni prinsip-prinsip demokrasi. 32 Tahun 2004. dan pemerataan. Kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sudah dijabarkan melalui keputusan Gubernur Nomor 0261 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Provinsi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Pemerintah Provinsi sebagaimana disebutkan sebelumnya.834 (2005) menjadi 5. Undang-Undang Dasar 1945. di bidang pemerintahan berdasar UU No.BAB II 1) 2) 3) 4) 5) 6) Aktualisasi nilai-nilai Pancasila.860 (2007). serta perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. keadilan. dan pemanfaatan sumberdaya. jumlah PNS Provinsi Kalimantan Selatan mengalami kenaikan. pembagian. Keputusan Kepala Daerah. pengawasan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2015 Page 59 . Secara kuantatitas. 7) 8) 9) 10) 11) 12) Adapun yang dimaksud dengan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. 5. pelaksanaan. Koordinasi wilayah. Undang-undang tersebut juga mengatur penyerahan kewenangan secara luas. Untuk menjalankan ketiga asas pemerintahan yang diberikan kepada pemerintahan daerah. yakni dari 5. pembinaan. dan bertanggungjawab kepada daerah dengan pengaturan. Pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan pada 2001 mendapatkan limpahan jumlah personil eks Kanwil departemen sebanyak 3.812 (2006).

APBD Provinsi Kalimantan Selatan selalu mengalami surplus anggaran.71% 12.46% 31.10% 0. 3 Rumah Sakit. 1 Pelaksana Harian.422 (2009).34%).71% 1. Selanjutnya pasal 157 UU tersebut mengemukakan bahwa sumber pendapatan daerah adalah : 1) Pendapatan Asli Daerah: a) Hasil pajak daerah b) Hasil retribusi daerah c) Hasil BUMD dan hasil kekayaan Daerah yang dipisahkan d) Lain-lain PAD yang sah. yaitu terdiri dari 3 Assisten.00% Sumber : BKD tahun 2010 Secara kelembagaan Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan No.09% 100. Menurut tingkat pendidikan.89% 0.86%).20% 0.13% 1.92% 5.38% 3. S2 sebanyak 511 orang (7.90% 2.55% 0. S1 sebanyak 1.57% 28.61% 3.28% 1. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada table dibawah ini : Tabel II. D IV sebanyak 77 orang (1.49% 4.39 Jumlah PNS Menurut Jenjang Pendidikan Provinsi Kalsel Tahun 2005 – 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jenjang Pendidikan SD/MI SMP/MTs SMA/MA D-I D-II D-III D-IV S-1 S-2 S-3 216 143 2643 124 64 557 27 1831 226 3 5834 2005 3.60% 2. dan menjadi 6.13% 0.45% 31. jumlah PNS provinsi ini yang berpendidikan S3 sebanyak 6 orang (0. Pasal 155 UU Nomor 32 tahun 2004 menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja daerah(APBD).09% 100.10% 100. Taman dan Pelabuhan.51% 30.59% 43. 4 Sekretariat. 13 Badan dan Inspektorat.18% ). 6 Tahun 2008 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat daerah dan Sekretariat DPRD Provinsi Kalimantan Selatan.05% 100.37% 0.92% 0.08% 100.08% 1. (3) Keuangan Daerah. 9 Biro.21% 27.832 orang (28.45% 45.56% 0.75% 12. Panti.25% 43.00% 2009 237 192 2695 94 48 776 78 1789 507 6 6422 3.97% 1.09%). 2) Dana Perimbangan 3) Pinjaman Daerah 4) Lain-lain pendapatan yang sah Dari tahun anggaran 2000 hingga tahun anggaran 2004.69% 2.18% 7.10% 9. 1 Kantor Perwakilan.02% 0.58% 2.BAB II 6.00% 2010 235 196 2712 89 46 798 77 1832 511 6 6502 3.17% 1.86% 7.27% 1.91% 0.00% 2006 209 131 2553 124 57 593 26 1830 286 3 5812 3.18% ).87% 0.98% 44.61% 0.502 (2010).00% 2008 246 188 2784 137 67 696 36 1769 385 5 6313 3.46% 0.10% 2. Realisasi penerimaan dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 16 Dinas.35%) dan SLTA kebawah sebanyak 3. Laboratorium & Sekolah dan 25 UPTD.2015 Page 60 .00% Kuantitas/Tahun 2007 210 152 2536 112 54 622 30 1812 326 6 5860 3.98% 10. 1 Satpol PP.93% 2.30% 2.05% 100.92% 10.86% 0.18% 28.99% 41.02% 6.01% 41. 28 Balai.06% 11.70% 2.143 orang (48. DI – D III sebanyak 933 orang (14.

Lembaga Teknis Daerah (Badan Daerah+ Kantor) = 16. Satuan Pol PP= 1. setiap intansi membuat dan melaporkan LAKIP dalam forum ekpose.22% per tahun. Dalam kontek kelembagaan telah dilaksanakannya restrukturisasi kelembagaan daerah. Penerapan Akuntabilitas Kinerja Intansi Pemerintah (LAKIP) melalui Peraturan Gubernur Kal Sel Nomor 060 tahun 2010 tentang Penerapan Sistem Akuntabilitas. Sekretariat Daerah = 1. dilakukan penilaian oleh Tim. 596 milyar rupiah pada 2003. 6 Tahun 2008 tentang pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan. maupun tidak langsung. dan menjadi 666 milyar rupiah lebih pada 2004. Sekretariat DPRD = 1. dan menjadi 585 milyar rupiah pada 2004. Provinsi Kal Sel dalam 2 (dua) tahun terakhir. Sedangkan dari sisi belanja masih banyak digunakan untuk belanja rutin pagawai. dimana secara singkat dari sisi pendapatan masih cukup banyak pendapatan yang berasal diluar Pendapatan Asli Daerah (PAD). Masa penilaian/evaluasi yang dilakukan oleh Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi. Ini berarti terjadi kenaikan ratarata 16. 452 milyar rupiah pada 2001. menjadi 461 milyar lebih pada 2001. Kal Sel telah mendapat RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .42% per tahun. baik pada pos belanja langsung. Serta Reformasi Birokrasi Untuk mewujudkan birokrasi pemerintah yang profesional dan berintegritas tinggi dan mampu menyelenggarakan pelayanan prima. Ini berarti terjadi kenaikan ratarata 16.2015 Page 61 .BAB II kurun waktu lima tahun anggaran meningkat dari 342 milyar rupiah pada 2000. Sedangkan banyaknya dana yang terserap pada belanja pegawai membuat dana yang seharusnya dialokasikan untuk keperluan belanja lainnya yang langsung dirasakan rakyat. RSU =3. serta mewujudkan tata pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean governance). Sekretariat DPD Korpri Provinsi = 1. sesuai dengan amanat PP 41 Tahun 2007 tentang Organisasi perangkat Daerah yang dituangkan lebih lanjut dalam Perda No. sedangkan realisasi belanja mencapai 268 milyar rupiah pada 2000. 608 milyar pada 2003. Sedangkan untuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 8 Tahun 2008 sebanyak 53 UPTD. Ketatalaksanaan dan Sumber Daya Aparatur (SDM). belum terlalu maksimal porsinya. (4) Ketatalaksanaan dan Budaya. Secara lebih spesifik terkait dengan pendapatan dan belanja daerah dapat dilihat dalam Bab III RPJMD Kalsel 2011-2015 ini. dengan mekanisme dimulai dari pembuatan SAKIP dijajaran SKPD . Berdasarkan regulasi diatas telah dibentuk 39 Perangkat Daerah yang meliputi Dinas Daerah = 16. belum maksimalnya penerimaan dari sektor PAD mengharuskan Pemprov Kalsel ke depan bekerja lebih keras dan kreatif untuk meningkatkannya. 495 milyar rupiah pada 2002. Secara kualitatif. Sedangkan dalam konteks Ketatalaksanaan/Organisasi Pemerintahan dan pengembangan SDM telah dilakukan beberapa hal sebagai berikut : 1. maka diperlukan reformasi birokrasi melalui 3 aspek penting yaitu : Kelembagaan (Organisasi). 542 milyar rupiah pada 2002.

keterlibatan publik dan sektor swasta dalam tahapan-tahapan pembangunan menjadi aspek lain yang tak boleh diabaikan. 3. BPKP. Nomor 065/00658/Org tanggal 3 Mei 2010. agar melaksanakan pelayanan publik secara optimal. Padahal sejak tahun 2005. jika pengawasan terhadap aparatur pemerintah di perketat. seperti DPRD Kalsel. Selain itu. Telah melaksanakan workshop mind setting bagi pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemerintah provinsi. 5. Budaya Bersih dan Budaya Tertib) setiap tahun dengan memberikan reward yang proporsional. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Spritual dan Quetion (ESQ). Reformasi birokrasi dapat dilaksanakan. II dan III. outbond bagi pejabat eselon II dan III dll. 4. Dalam konteks pengawasan eksternal pula. agar seluruh pejabat eselon I. yaitu pengawasan internal dan eksternal. Menyelenggarakan diklat dan berbagai pelatihan yang berfungsi meningkatkan karakter dan kreativitas aparatur. 2. Sedangkan pengawasan eksternal dilakukan oleh beberapa pihak. Pembentukan Tim Penegakan Disiplin Aparatur di lingkungan Pemerintah provinsi dan direncanakan juga pembentukan kader budaya kerja pada tiap-tiap SKPD. transparansi. publik semestinya harus mengawasi kinerja pemprov. Dalam ranah reformasi birokrasi. Mengadakan pembinaan dan fasilitasi terhadap peningkatan pelayanan publik di Kab/Kota dan juga lingkup pemerintah Provinsi melalui penilaian pelayanan publik secara berjenjang. akseptabilitas dan responsif dalam pelaksaan tata kelola pemerintahan. Melaksanakan Gerakan Disiplin Mandiri (GDM) yang meliputi tri budaya (Budaya Kerja. Secara internal pengawasan tersebut dilakukan secara berjenjang oleh pejabat yang membawahi langsung aparatur di bawahnya . Pengawasan yang efektif salah satunya dapat digagas melalui pengawasan publik yang memadai. Pemprov Kalsel merupakan satu dari sekian Pemprov di Indonesia yang menjadi pilot project pelaksanaan prinsip-prinsip good governance yang tercermin dari adanya akuntabilitas. BPK RI. bahkan KPK dalam ranah tertentu. pemprov Kalsel belum melakukan upaya yang sungguh-sungguh guna menghadirkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).BAB II penilaian 5 (lima) besar Terbaik dari 33 (tiga puluh tiga) Provinsi di Indonesia dalam memberikan Pelayanan Publik Penerapan Pakta Integritas yang dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Kalsel.2015 Page 62 . (5) Pengawasan Daerah Pengawasan terhadap kinerja pemerintah provinsi dilakukan dalam dua ranah. serta melalui peran inspektorat daerah. seperti pelatihan penjenjangan dengan Emosional. secara teoritik pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik tersebut bukan hanya meletakkan pemerintah sebagai pelaksana tunggal pemerintahan. serta disertai adanya reward and punishment yang baik.

Kelembagaan daerah yang ada sekarang perlu dilakukan restrukturisasi fungsi. Ketentuan dalam UU ini mengharuskan setiap SKPD di Pemprov memiliki Pejabat Pengelola Informasi dan Data (PPID) yang berperan untuk melayani. akseptabilitas dan responsif. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2009 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Permasalahan di Ranah Pemerintahan Beberapa permasalahan yang dihadapi Pemprov Kalsel dalam menjalankan kewenangannya di bidang pemerintahan adalah . Hal ini berakibat pada banyak program yang dilakukan tidak berdasar perencanaan dan pemrograman secara matang. Azas penyelenggaraan pemerintahan belum optimal dilaksanakan. Ada kecenderungan tenaga PNS Provinsi mengalami penurunan secara kuantitas. Masih belum terselenggaranya penyusunan SOP dan mantapnya IKU dan IKK di setiap SKPD. namun secara kualitas terjadi peningkatan berdasar pada pendidikan formal yang dimiliki. 5. dalam upaya untuk meningkatkan akuntabilitas kepada masyarakat dalam kerangka sistem pengawasan. sekaligus memberikan penjelasan atas permintaan dan keluhan publik pada layanan SKPD yang bersangkutan. 4. sementara kemampuan untuk meningkatkan sumber pendapatan masih terbatas. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . namun belum ada pelaksana teknisnya di daerah. Selain itu. saat ini Pemprov Kalsel sedang mempersiapkan keterbukaan informasi kinerja yang bisa dipantau secara langsung oleh masyarakat melalui mekanisme hak mendapatkan informasi. 6.BAB II Dalam upaya membuka ruang pengawasan publik. mengingat terjadinya beberapa SKPD yang memiliki fungsi yang sangat besar sementara strukturnya minimal.2015 Page 63 . b. sementara lingkup pekerjaan semakin meningkat seiring dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. sehingga menimbulkan euforia kekuasaan semata. Kebutuhan daerah yang tercermin dalam keuangan daerah dari tahun ketahun selalu meningkat. Pelaksanaan PP ini mesti diaplikasikan dengan baik dan praktis. sehingga sebagian kewenangan tersebut menjadi beban bagi masyarakat. 2. sepanjang tidak menyangkut rahasia negara dan beberapa aspek informasi yang dikecualikan sebagaimana diatur undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. transparansi. bagaimana dan kapan program-program kerja Pemprov Kalsel yang direfresentasikan dari akuntabilitas kinerja setiap SKPD yang ada. Kewenangan yang luas belum diikuti dengan kemampuan pendanaan yang memadai. 1. termasuk beberapa tugas dan kewenangan yang semestinya dilimpahkan oleh Pemerintah Pusat. Dalam konteks ini perlu dilakukan program-program yang mencerminkan nilai-nilai good governance. termasuk pada pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). 3. yaitu akuntabilitas. sehingga publik dapat mengetahui apa.

721 19.038 orang.d.038 orang.836 26.032 SMK 19.371 680 600 1.659 MTs 53. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .768 53. Pada tahun 2007 jumlah murid TK/PAUD 61.221 19.040 Paket A (BLM ADA DATA) SLTP 86.540 SD 379. Salah satu problemnya adalah masih belum jelasnya mekanisme reward and punishment di Pemprov Kalsel.800 Paket C MI 64. Murid Jumlah murid berdasarkan jenjang pendidikan dari TK sampai dengan Madrasah Aliyah dapat dilihat pada Tabel II.579 46. terutama pengawasan internal belum optimal dilakukan.252 MA 19.3.2009 Jumlah Murid Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 61.025 68. tahun 2008 sebanyak 68.117 5. 3.BAB II 7.321 456.213 orang. 2010 Jumlah Murid tingkat SD pada tahun 2007 sebanyak 379. 8.321 orang. dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 64.038 64.1. Pengawasan oleh publik juga belum diatur sedemikian rupa mekanisme dan prosedurnya.038 64.1.300 Paket B SMU 41. Aspek Pelayanan Umum 2.080 1. pada tahun 2008 tetap 64.073 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel.889 Jumlah 724. dan pada tahun 2008 sejumlah 456. 2. 2009 menunjukkan peningkatan.659 orang.895 826.593 orang.721 19.025 orang.539 393. Tabel II.580 1. Penerapan sistem pengawasan.1.40 Jumlah Murid TK/RA pada tahun 2007 s.280 5.460 3.3.40 Jumlah Murid Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan di Kalimatan Selatan Tahun 2007 . dan pada tahun 2009 menjadi 81.768 54.242 45.593 786.213 1.539 orang serta pada tahun 2009 sebanyak 393. Pelayanan Dasar Urusan Wajib 2.593 81. Pendidikan a. sedangkan untuk MI pada tahun 2007 sebanyak 64.540 orang.2015 Page 64 .519 100.559 98. Upaya-upaya reformasi birokrasi masih berjalan lambat dalam menghadapi tuntutan publik yang hendak menghadirkan pemerintahan yang baik dan bersih.

032 orang.242 orang.656 5.325 30. Kualitas guru di perdesaan masih lebih rendah daripada guru di perkotaan.512 SLTP 7.559 orang.746 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel Berdasarkan tabel jumlah murid dan jumlah guru tersebut diatas dapat dihitung rasio guru murid sebagaimana terlihat pada Tabel II.768 2.41 Jumlah Guru Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan di Kalimatan Selatan 2007-2009 Jumlah Guru Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 4. Guru Jumlah guru di Kalimantan Selatan selalu meningkat dari tahun ke tahun dimana sebarannya menurut jenjang pendidikan dapat diliohat pada Tabel II.021 MTs 5. tahun 2008 menjadi 45.854 2.542 25.206 4. sementara untuk MTs pada tahun 2007 sebanyak 53. b.873 9.889 orang.203 3.836 orang. karena layanan terhadap peserta didik juga masih besar. dan masih dirasakan kekurangan guru sehingga seringkali terpaksa mengangkat guru honorer yang kurang berkualitas dengan status yang kurang jelas. dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 54.117 orang.927 SMK 1.721 orang.611 8.768 2.42 Dilihat dari rasio guru dan murid di Kalimantan Selatan menunjukkan kondisi yang sangat baik.371 orang. dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 19.021 6.2015 Page 65 . Jumlah murid SMK meningkat tajam.885 SMU 3. namun demikian di daerah perdesaan rasio guru dan murid masih relatif besar. demikian juga kualitasnya.656 MA 2. terutama untuk sekolah-sekolah pada lingkungan pendidikan agama. serta statusnya.768 Jumlah 54. dan pada tahun 2009 menjadi 26.579 orang dan pada tahun 2009 menjadi 46. tahun 2008 sebanyak 19. pada tahun 2007 jumlah murid SMU sebanyak 41. sedangkan untuk MA pada tahun 2007 sebanyak 19.673 4.656 5.41 Tabel II.221 orang.317 MI 6.021 6.660 SD 22. tahun 2007 jumlah murid SLTP sebanyak 86.BAB II Jumlah Murid pada tingkat SLTP juga semakin meningkat. Langkah kongkret yang perlu diambil adalah pemerataan guru sesuai bidang keahliannya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . tahun 2008 tetap sebanyak 53.519 orang dan pada tahun 2009 menjadi 100.425 5. tahun 2008 tetap sebanyak 19.768 orang.252 orang.321 59.721 orang. Jumlah murid tingkat SMU juga meningkat. pada tahun 2007 sebanyak 19.125 66.844 1. tahun 2008 meningkat menjadi 98. 768.

BAB II Tabel II.3. Sekolah Rasio murid dengan sekolah berdasarkan jenjang pendidikan selama periode 2007-2009 disajikan pada Tabel II.43 Rasio Sekolah dan Murid Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan Di Kalimantan Selatan 2007-2009 Jumlah Murid Per Sekolah Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 44 50 44 SD 131 287 309 SLTP 217 221 170 SMU 273 260 269 SMK 315 325 361 MI 121 121 111 MTs 182 182 170 MA 157 157 160 Rata-rata Per Sekolah 196 200 199 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel. Kesehatan a.4. 2010 Rasio murid dan sekolah pada jenjang TK/PAUD masih sangat kecil. tetapi distribusinya belum merata.2. kondisi ini umumnya disebabkan oleh sarana yang belum memadai dan jarang. jenis.000 penduduk untuk RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Rasio tenaga kesehatan per 100.1. Ketersedian dan Distribusi Tenaga kesehatan. dan kualitas tenaga kesehatan terus meningkat.42 Rasio Guru dan Murid Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan di Kalimantan Selatan 2007-2009 Jumlah Murid Per Satu Orang Guru Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 15 16 14 SD 17 18 13 SLTP 11 11 10 SMU 11 11 12 SMK 10 11 11 MI 11 11 11 MTs 10 10 10 MA 7 7 7 Rata-rata Sekolah 11 12 11 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel. Rasio murid dan sekolah di SMU dengan di SMK terjadi perbedaan yang sangat signifikan. Jumlah. serta relatif jauh dari tempat tinggal anak. 2010 c. 2.43 Tabel II.2015 Page 66 . kondisi ini menunjukkan bahwa minat murid bersekolah di SMK relatif tinggi. dengan rasio hampir 1. Kondisi ini mencerminkan bahwa sekolah TK/PAUD belum banyak menampung anak usia PAUD.

1 di Kab.44 Tabel II.G : Dokter Gigi P.2015 Page 67 . karakteristik geografis di daerah pedesaan lebih sulit.wat : Perawat Bdn : Bidan Dr. kemampuan kabupaten/kota dalam menyediakan fasilitas kesehatan. dokter spesialis.BAB II dokter umum.G 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 6 4 Dr.U : Dokter Umum Dr.U 10 5 13 9 4 7 7 9 4 8 2 8 24 20 11 Dr. 2 di Kab. tidak termasuk RS Swasta (5 di Banjarmasin. dan RS Bhayangkara (1 di Banjarmasin) RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kondisi ini lebih disebabkan karena disparitas antar wilayah (Kabupaten/Kota).M.wat 74 103 42 50 10 64 61 106 131 72 6 79 350 152 93 Bdn 38 36 22 37 4 10 7 15 14 25 10 14 33 28 1 Apt 2 4 3 2 1 3 2 2 2 3 5 3 8 3 3 Sumber : Dinas Kesehatan Prov Kalsel. Banjar). 1 di Banjarbaru.44 Jumlah Tenaga Medik dan Paramedik Di Rumah Sakit Kalimantan Selatan Tahun 2009 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten/Kota Banjarbaru Banjar Batola Tanah Laut Tanah Bumbu Kotabaru Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Balangan Tabalong Banjarmasin (RSUD Pendidikan Ulin) Banjarmasin (RSUD Dr.Sp : Dokter Spesialis Apt : Apoteker Catatan : Data tersebut diatas. 1 di Kab. akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di daerah perkotaan lebih baik (ditinjau dari aspek transpotasi). Kesenjangan tenaga kesehatan lebih jelas terlihat antara daerah perkotaan dan perdesaan baik dari segi jumlah maupun rasionya. perawat. dokter gigi. kondisi tersebut dapat dilihat pada tabel II. dan umumnya masyarakat pedesaan lebih memilih pengobatan alternatif/tradisional karena relatif lebih terjangkau (lebih murah). Ansyari Saleh ) RSUJiwa Sambang Lihum Dr.Sp 7 13 3 4 1 5 4 4 7 4 8 57 18 1 P. Length of Stay (LOS) tenaga kesehatan di daerah pedesaan lebih pendek. dan bidan di Provinsi Kalimantan Selatan cenderung mengalami peningkatan.H. Banjar. Tabalong) dan RS TNI (2 di Banjarmasin. 2009 Keterangan : Dr. tenaga kesehatan lebih terkonsentrasi di daerah perkotaan. kemampuan (finansial) masyarakat di daerah perkotaan lebih baik dibandingkan dengan di daerah pedesaan.

tenaga medik masih sangat kekurangan. Rasio tenaga medik per 100.967 271.200 251.U DrG P. Tenaga Medik dan Paramedik Di Kalimantan Selatan Tahun 2009 No.405 1.45 Jumlah Puskesmas. sehingga pelayanan tidak dapat dilaksanakan secara optimal.819 Jumlah Puskes Dr.2015 Page 68 .000 penduduk masih sebesar 6.230 483. dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan petugas kesehatan (paramedik) terutama yang bertugas di daerah terpencil/tertinggal.961 44 Sumber : Dinas Kesehatan Prov Kalsel dan BPS Jumlah tenaga medik (dokter umum) per Puskesmas berkisar antara 1 s/d 3 orang. Namun demikian secara faktual dilapangan. meningkatkan manjemen institusi pelayanan kesehatan berbasis edidemiologi.122 206. Tantangan kedepan adalah meningkatkan jumlah tenaga medik dan paramedik terampil yang bersedia ditempatkan didaerah pedesaan dan daerah terpencil/tertinggal.725 3. kemudian Tanah laut dan Hulu Sungai Selatan sebesar 17. Hal ini kadang-kadang tidak sesuai dengan obat dan perbekalan kesehatan yang diperlukan oleh unit-unit pelayanan.672 100. Sedangkan rasio puskesmas per 100. sebesar 22. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Banjarbaru Banjar Batola Tanah Laut Tanah Bumbu Kotabaru Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Balangan Tabalong Banjarmasin Jumlah Jumlah Pendduk 159. tenaga medik lebih banyak terkonsentrasi di daerah perkotaan. Sedangkan di daerah pedesaan dan terpencil/tertinggal.2 orang dokter. masih sangat tergantung pada pengadaan/ketersedian di Dinas Kesehatan setempat.569 204. tetapi keterjangkauan.5.806 260.686 602. Rasio terbesar berada di Kabupaten Balangan. serta pengawasan obat dan makanan masih belum optimal. Ketersedian Obat dan Pengawasan Obat-Makanan Ketersediaan dan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan terus membaik.189 210.553 152.07. Ketersedian obat dan perbekalan kesehatan pada unitunit pelayanan. penggunaan dan mutu obat.000 penduduk rata-rata sebesar 12.BAB II Tabel II. dan terendah di Kabupaten Batola sebesar 7.265 276. b.422.wat Bdn Apt mas 7 21 10 42 70 11 24 42 18 145 307 2 16 21 3 114 213 15 44 11 115 173 2 8 35 7 138 109 2 24 39 26 64 111 5 13 14 6 109 134 1 20 36 5 137 151 19 30 6 161 185 2 12 17 3 103 117 5 9 23 3 75 105 2 15 19 10 65 135 1 26 76 29 137 151 11 208 417 137 1.9.7.835 242. Demikian juga halnya untuk tenaga Perawat dan Bidan. Hal ini sebenarnya dapat dikatakan cukup memadai.

baik di puskesmas maupun di rumah sakit. dan bantuan pemerintah pada institusi pelayanan kesehatan pusat di daerah. Di samping itu. tidak semua Puskesmas memiliki tenaga Apoteker. Dari segi ketenagaan. karena alasan transpotasi dan biayanya relatif lebih mahal. meningkatkan perencanaan kefarmasian berbasis epidemiologi. peningkatan upaya keterjangkauan harga obat. tetapi belum sepenuhnya dapat meningkatkan status kesehatan masyarakat miskin terutama untuk daerah pedesaan dan terpencil/tertinggal. keluarga. Upaya ini ditujukan untuk memberdayakan individu. Tantangan ke depan adalah meningkatkan ketersediaan dan pendistribusian obat dan perbekalan kesehatan sesuai keperluan unit-unit pelayanan kesehatan. Dalam penggunaan obat. psikotropika. Keamanan makanan masih belum terjamin. serta berbagai peralatan dan kemasan makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya. untuk melakukan percepatan pencapaian sasaran-sasaran MDGs seperti penurunan AKI. penyakit menular. telah dilakukan upaya penyuluhan dan penyebaran informasi agar obat digunakan secara tepat dan rasional. yang ditandai dengan penyalahgunaan formalin. peredaran narkotika. sebagian besar masih dilaksanakan oleh tenaga Asisten Apoteker. masih belum dapat teratasi. dan zat adiktif lainya secara ilegal. Jaminan pelayanan kesehatan. Anggaran tersebut terutama digunakan untuk membiayai pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin (Askeskin/Jamkesda). d. terutama untuk masyarakat miskin di daerah pedesaan dan tertinggal/terpencil (Askeskin/Jamkesda). AKB. masyarakat yang tidak mampu mendatangi unit-unit pelayanan. bahan berbahaya lain. masih belum terjangkau oleh sebagian masyarakat.BAB II Didaerah pedesaan terpencil/tertinggal. jumlah tenaga farmasi terus meningkat. c. Tantangan ke depan adalah meningkatkan pembiayaan jaminan kesehatan. Dari data yang terdapat pada tabel tersebut diatas. Keterbatasan kemampuan pemerintah daerah untuk pengadaan obat dan perbekalan kesehatan. meningkatkan penegakan hukum bagi pengedar dan pengguna narkotika dan zat adiktif lainnya. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pembangunan Kesehatan. Jaminan Perlindungan Kesehatan Masyarakat Pembiayaan kesehatan sebagian besar masih berasal dari pemerintah pusat dan kontribusi pemerintah daerah. serta menghindari penyalahgunaan. Dsisi lain. dan masyarakat agar mampu melaksanakan upaya pemeliharaan kesehatan secara mandiri. air bersih dan kesehatan lingkungan. Kegiatan kefarmasian di Puskesmas. Akses pelayanan kesehatan. umumnya berobat kepada tenaga kesehatan yang berkeliling (dikenal dengan istilah “mantri keliling”) atau berobat secara tradisional. cemaran mikroba dalam produk makanan termasuk pada jajanan anak sekolah. program ini RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2015 Page 69 . perlu dilakukan peningkatan anggaran. telah mampu meningkatkan akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan. meningkatkan pengawasan penyalahgunaan bahan berbahaya yang terdapat dalam makanan dan minuman. gizi.

Tantangan ke depan adalah meningkatkan promosi kesehatan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat melalui kerjasama lintas sektor. belum dapat dilaksanakan secara optimal disebabkan karena. 2) meningkatkan sinergi masyarakat. pemerintah daerah. Secara nasional. Kemudian diintegrasikan dan diberi nama Pos Pelayanan Terpadu (“Posyandu”). asosiasi. Upaya pemberdayaan masyararakat di bidang kesehatan sudah lama tumbuh didalam kehidupan masyarakat. organisasi masyarakat dan kelompok perduli lainnya untuk mengefektifkan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan. Pos Imunisasi. Walaupun akses masyarakat RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 1) meningkatkan partisipasi seluruh masyarakat. ke kebun. jumlah fasilitas pelayanan kesehatan terus meningkat namun aksesibilitas masyarakat terutama penduduk miskin di daerah terpencil/tertinggal. 2) meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana. Pembentukan PNPM dan Desa Siaga. 4) meningkatkan masyarakat yang berPerilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sedangkan fasilitas Puskesmas Keliling. PKMD diselenggarakan melalui Pos Penanggulangan Diare. e. dulu dikenal dengan nama Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (“PKMD”). kelompok perempuan. dan atau pekerjaan lainnya. Akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan. belum mampu menjangkau. PNPM bertujuan untuk. Posyandu lebih dikembangkan dalam rangka percepatan desa sehat. 3) meningkatkan modal sosial masyarakat yang berkembang sesuai dengan potensi sosial dan budaya serta untuk melestarikan kearifan lokal. 1) meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan. dan Pos-pos lain yang pelayanannya masih terkotak-kotak. lembaga swadaya masyarakat. komunitas adat terpencil dan kelompok lainnya. meningkatkan evaluasi dan revitalisasi PNPM dan Desa Siaga yang sudah terbentuk. masyarakat merasa mendapat tugas/beban tambahan dalam melaksanakan PNPM dan Desa Siaga. 3) meningkatkan keluarga sadar gizi. 5) meningkatkan kesehatan lingkungan desa. waktu pelaksanaan PNPM dan Desa Siaga sering bersamaan dengan waktu masyarakat melaksanakan pekerjaan pribadinya (ke sawah. wabah.2015 Page 70 . Kondisi ini diperburuk dengan kondisi jaringan jalan dan listrik yang masih belum memadai.BAB II lebih dikenal dengan istilah “PNPM” (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat). perguruan tinggi. Di beberapa wilayah masih terdapat masyarakat yang mengalami kendala jarak dan waktu untuk mencapai fasilitas pelayanan kesehatan. 6) meningkatkan kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan. swasta. Desa Siaga bertujuan untuk. Akses masyarakat yang berdomisili dekat (sekitar) fasilitas kesehatan umumnya cukup baik. meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan PNPM dan Desa Siaga melalui pembinaan berkelanjutan. pada tahun 2006 Departemen Kesehatan mencanangkan upaya pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan melalui DESA SIAGA. dan Pos KB Desa. terhadap fasilitas pelayanan kesehatan masih terbatas. termasuk masyarakat miskin. darurat dan sebagainya).

pemanfaatan. (2) pemanfaatan SDA-LH kurang memperhatikan kaidah konservasi sehingga menyebabkan pertambahan luasan lahan kritis. keadaan. dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.1. tanah longsor. kualitas pelayanannya masih perlu ditingkatkan. disamping keterbatasan kemampuan masyarakatnya untuk membeli jasa pelayanan dokter spesialis. pemeliharaan. daya. Wilayah-wilayah di Kalsel yang memiliki daya dukung lingkungan rendah sehingga rawan bencana banjir antara lain. Kabupaten Tabalong. Lingkungan hidup Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda. dan penegakan hukum. Berdasarkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. (7) belum optimalnya pengembangan wilayah strategis dan cepat tumbuh. dapat dikatakan sudah cukup memadai. (3) kurangnya komitmen perusahaan terhadap pemulihan lingkungan hidup.BAB II terhadap pelayanan kesehatan di puskesmas dan jaringannya sudah cukup bagus. termasuk manusia dan perilakunya. yang mempengaruhi alam itu sendiri. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .3. Dampak ekologis dari rusaknya DAS dan Sub-DAS (daratan dan perairan) adalah terjadinya bencana banjir dan tanah longsor yang dirasakan hampir terjadi setiap tahun (musiman). 2007). Secara umum permasalahan sumberdaya alam dan lingkungan hidup di Kalimantan Selatan berupa (1) belum mantapnya penegakan hukum menyangkut illegal logging. dan makhluk hidup. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan. Kalimantan Selatan berada pada urutan 26 dari 33 provinsi. dan asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Length of Stay (lama tinggal) dokter spesialis di rumah sakit Kabupaten/Kota masih sangat pendek. pengendalian. Jumlah dokter spesialis di beberapa rumah sakit Kabupaten/Kota. Namun masih banyak terkonsentrasi dai daerah perkotaan. belum terdistribusi secara merata. terutama pelayanan kesehatan preventif dan promotif. Hal ini terjadi karena keterbatasan kemampuan Kabupaten/Kota menyediakan berbagai fasilitas yang diperlukan. Tantangan ke depan adalah meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat melalui penyediaan sarana dan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai untuk merespons dinamika karakteristik penduduk dan kondisi geografis. Mengingat pentingnya lingkungan hidup ini maka diperlukan suatu usaha Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. (4) sering terjadinya banjir.3. kelangsungan perikehidupan. Balangan. pengawasan.2015 Page 71 . masih belum memadai. rusaknya ekosistem dan berkurangnya keanekaragaman hayati. Jumlah tenaga medik dan paramedik. tanah dan air (6) Belum sinkronnya RTRWP dengan RTRWK. dan illegal mining. terutama di daerah terpencil/tertinggal. 2. dan secara internal kelembagaan masih kurangnya data dan informasi yang terkait dengan PSDAL (Bappeda Kalsel. (5) meningkatnya pencemaran udara. illegal fishing.

sehingga ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi terutama di kawasan Pegunungan Meratus.043 ha lahan kritis yang tersebar di beberapa kabupaten tahun 2009. (2) Pemerintah daerah menyelenggarakan urusan penanaman modal yang menjadi kewenangannya.2. Badan ini tidak bekerja sendiri namun melakukan kerja sama secara intensif dengan instansi-instansi terkait terutama Bappeda.3. serta Kabupaten Tanah Laut. (4) Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya lintas provinsi menjadi urusan Pemerintah. Penanaman modal Kegiatan penanaman modal di Kalimantan Selatan dilakukan dibawah koordiansi Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Provinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan penanaman modal yang diarahkan secara integratif dalam sistem administrasi NKRI mengakibatkan BKPMD dan jajaran Pemerintah Daerah selaku pelaksana harus selalu mengacu pada peraturan dari pusat. 2. dan SKPD nya. (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin kepastian dan keamanan berusaha bagi pelaksanaan penanaman modal. termasuk dalam pemberian berbagai fasilitas dan insentif bagi investor.2. musibah banjir dan tanah longsor tidak bisa terelakkan lagi. akibat kerusakan parah pada kawasan hutan sepanjang DAS dan pegunungan Meratus yang berfungsi sebagai catchment area. mengalami pendangkalan. (3) Penyelenggaraan urusan pemerintahan di bidang penanaman modal yang merupakan urusan wajib pemerintah daerah didasarkan pada kriteria eksternalitas. pada musim kemarau di Kalimanatan selatan sering terjadi kebakaran hutan dan lahan. Sekretariat Daerah. Sementara. Terdapat 656. Sedangkan kondisi sungai-sungai besar ini.25/2007 yang terdapat dalam Pasal 30 ayat 1-9 berikut ini.BAB II Hulu Sungai Utara. kecuali urusan penyelenggaraan penanaman modal yang menjadi urusan Pemerintah.2015 Page 72 . dan efisiensi pelaksanaan kegiatan penanaman modal. akuntabilitas. Hulu Sungai Selatan. Wilayah-wilayah rawan bencana ini. Kondisi ini merupakan produksi gas rumah kaca yang berdampak kepada pemanasan global. Tanah Bumbu dan Kotabaru. Sementara reklamasi dan rehabilitasi areal bekas pertambangan tersebut belum jelas keberhasilannya. laju reboisasi yang dilakukan sangat tidak seimbang. Salah satu acuan pokok yang telah digariskan adalah ketentuan penyelengaraan urusan penanaman modal dalam UU No. Terdapat 761.1.991 ha per tahun.3.743 ha areal izin pertambangan berada di kawasan hutan. Pelayanan Penunjang Urusan Plihan 2. dibandingkan dengan data tahun 2003 maka peningkatan laju lahan kritis mencapai 40. merupakan wilayah yang dilintasi sungai-sungai besar pada sub DAS Barito. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Selain masalah banjir dan longsor. Tapin dan Banjar di bagian utara.

penanaman modal pada bidang industri yang merupakan prioritas tinggi pada skala nasional. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .27 persen. atau menugasi pemerintah kabupaten/kota.67 persen. penanaman modal asing dan penanam modal yang menggunakan modal asing. (6) Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya berada dalam satu kabupaten/kota menjadi urusan pemerintah kabupaten/kota.29 persen.362 atau 59. Realisasi pencapaian target yang paling rendah terjadi pada tahun 2009 adalah sebesar 44. b. bidang penanaman modal lain yang menjadi urusan Pemerintah menurut undangundang. e.3. melimpahkannya kepada gubernur selaku wakil Pemerintah. Pada tahun 2007 merupakan prosentase tertinggi pencapaian realisasi target sasaran tahunan wirausahawan baru yang ditargetkan sebanyak 23. Pemerintah menyelenggarakannya sendiri. Pada tahun 2008 terjadi penurunan realisasi capaian menajdi 66.000 unit.2.2.380 terealisasi sebesar 15. namun masih lebih tinggi dari capaian tahun 2006 yakni 60.BAB II (5) Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya lintas kabupaten/kota menjadi urusan pemerintah provinsi. (9) Ketentuan mengenai pembagian urusan pemerintahan di bidang penanaman modal diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. d. Target yang telah ditetapkan untuk munculnya jumlah wirausaha baru ternyata belum terpenuhi sebagaimana terlihat pada tabel II. yang berasal dari pemerintah negara lain. Diantara kegiatan yang mendukung kebijakan tersebut adalah dengan mondorong tumbuhnya jumlah pengusaha.46. penanaman modal terkait dengan sumber daya alam yang tidak terbarukan dengan tingkat risiko kerusakan lingkungan yang tinggi. penanaman modal yang terkait pada fungsi pemersatu dan penghubung antarwilayah atau ruang lingkupnya lintas provinsi. penanaman modal yang terkait pada pelaksanaan strategi pertahanan dan keamanan nasional. yang menjadi kewenangan Pemerintah adalah : a. (8) Dalam urusan pemerintahan di bidang penanaman modal ang menjadi kewenangan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (7). c.96 persen dari total target penumbuhan Wirausahabaru sejumlah 89.846 atau 67. Sampai dengan akhir Desember 2009 realisasi jumlah wirausahawan baru adalah 53. yang didasarkan perjanjian yang dibuat oleh Pemerintah dan pemerintah negara lain.000 unit. Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) Dalam upaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas pemerintah berusaha menerapkan kebijakan yang mengarah pada pemberdayaan ekonomi rakyat dan sumberdaya lokal.2015 Page 73 .77 persen. dan f. 2. Koperasi. (7) Dalam urusan pemerintahan di bidang penanaman modal. Sasaran jumlah wirausahawan UMKM baru yang tumbuh di Kalimantan Selatan selama periode 2006 – 2009 adalah sebanyak 89.

S.U Tabalong Banjarmasin Banjarbaru Balangan Tnh Bumbu JUMLAH Target TARGET (2006 . hal ini tercermin dari pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun 2009 yang hanya mencapai 709 Koperasi dari 1.200 622 1.551 4.424 1.S.BAB II Tabel II.785 6.611 2.748 228 400 1.109 1.626 60.55 persen.475 1.762 616 387 4. Perkembangan Modal sendiri terjadi peningkatan pada tahun 2009 dari tahun 2008 sebesar 8.2015 Page 74 .247 15.765 7.331 5.094 3.829 500 2.67 21.180 2.643 9.851 2.000 Prosentase 89.S H.180 6.S.96 53.2009) 5. Kalsel tahun 2010 Perkembangan Koperasi di Kalimantan Selatan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dari segi kuantitas. Namun Koperasi tidak aktif juga bertambah dari 671 unit tahun 2008 menjadi 715 unit tahun 2009.46 Target dan Realisasi Jumlah UMKM Wirausaha Baru Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2006 .987 89.288 1.338 5.214 130 398 1.334 6.782 3.467 5.498 Koperasi Aktif atau 47. Apabila dilihat dari prosentase besarnya antara Modal sendiri dan Modal luar pada Koperasi maka Modal sendiri sebesar 34.331 1.77 66.169 5.334 5.10 persen.227 5.33 persen.53 persen.945 53. namun dari segi kualitas masih perlu ditingkatkan.890 6.104 I.27 44.566 868 105 568 1.350 1.380 22. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.T H.475 891 934 193 1.807 4.500 4.353 753 1. Berdasarkan data yang ada menunjukan peningkatan jumlah Koperasi dari 2. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .55 persen.482 3.150 1.000 2006 2007 2008 2009 2 0 1 0 TOTAL 1.646 17.29 67.699 624 1.054 6.688 1.688 1.2009 REALISASI NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 KAB/ KOTA Tanah Laut Kotabaru Banjar Batola Tapin H.816 1. terjadi pertambahan sebanyak 49 unit atau 6.57 persen pada tahun 2009.137 unit pada tahun 2008 menjadi 2.846 14.75 persen pada tahun 2008 dan 47.362 Sumber : Dinas Koperasi & UKM Prov. jadi ada kenaikan sebanyak 76 unit atau 3.418 176 211 1.022 1.007 563 152 824 990 1.378 1.732 4.097 21.362 59.081 420 1.319 149 1.066 13. demikian juga dengan Volume Usaha meningkat pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 63.972 23.213 unit tahun 2009.589 6.282 3.

096 (0. 2. Pemberdayaan Perempuan. Upaya pemberdayaan perempuan sebenarnya berkaitan dengan peningkatan mutu sumberdaya manusia anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan serta menghindari terjadi kekerasan dalam rumah tangga dan justru mendorong peningkatan ekonomi rumah tangga.80 NO 1. Tantangan ke depan adalah tersedianya fasiltas dan anggaran yang memadai. 2. penataan sistem informasi data kependudukan. 4.548. Beberapa tugas dan fungsi institusi kependudukan dan catatan sipil.47 Perkembangan Koperasi di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2008 dan 2009 TAHUN TAHUN KENAIKAN/ URAIAN SATUAN 2008 2009 PENURUNAN (%) Total Koperasi Unit 2.55 Kop.000 669. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .4.466 1.593.3.000 34. melakukan pembinaan kepada masyarakat. 5.3.615.18 Anggota Org/Kop 294.42 Manager Org 464 444 (4.000 176. Kependudukan dan Catatan Sipil Kependudukan dan catatan sipil merupakan salah satu urusan wajib Pemerintah Propvinsi dan Kabupaten/Kota sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang. Konstruksi sosial yang ada menyebabkan ketimpangan peran bahkan mengarah pada tindak kekerasan terhadap perempuan. dan beberapa tugas dan fungsi yang lain.10 SHU Rp.000 0. 3.000 8. 9.22 RAT Kop 660 709 7. 2) kinerja.31) Karyawan Org 3.000 191. Perlindungan Anak dan Lansia Budaya dan ideologi patriarki selama ini relatif menghambat peran dan keberdayaan perempuan. 3) belum optimalnya sistem SIAK. dan meningkatkan sosialisasi pentingnya adminsitrasi kependudukan dan catatan sipil kepada masyarakat. Tdk Aktif Unit 671 715 6.000 (3. diantaranya adalah menata sisten koneksi NIP berbasi SIAK.121 3.556.80) Modal Sendiri Rp. meningkatkan motivasi dan kompetensi petugas.2015 Page 75 . 7. 4) kesadaran masyarakat tentang pentingnya sistem kependudukan dan catatan sipil.644 298. 8. Provinsi dan Kabupaten/Kota bertanggungjawab dalam menyelenggarakan administrasi kependudukan. Aktif Unit 1.735.213 3.000 63.498 2.249 1.2. penataan sistem pelayanan.2.52 Modal Luar Rp. termasuk penyedian fasilitas infrastruktur dan sistem pendanaan yang memadai. mengoptimalkan sistem SIAK.636. maka perlu adanya dukungan dari berbagai pihak.3. diantaranya adalah 1) keterbatasan pemerintah dalam menyediakan berbagai fasilitas dan anggaran. 6. adanya ketentuan dan peraturan yang mengikat.000 318. Permasalah yang terjadi dalam melaksanakan tugas dan fungsi tersebut.000 35. 2.408.BAB II Tabel II.000 331. Usaha Rp.96) Vol.000 410. motivasi dan kompetensi petugas.040.137 2.55 Kop.

yang tidak kalah penting adalah persoalan anak terlantar dan anak yang tidak mendapatkan perlindungan dari orangtua maupun keluarga yang mengalami peningkatan dari tahun. HSU (510 anak). HSS (433 anak). pemerintah maupun swasta/ormas yang dibantu pendanaan dan pembinaan oleh pemerintah Kalimantan Selatan. pendidikan dan ekonomi rumah tangga dengan bekerjasama berbagai pihak sebagai upaya pemberdayaan perempuan. Penyuplai terbesar jumlah lansia adalah RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .ke tahun. Salah satu indikator penanganan terhadap perlindungan anak adalah tertampungnya pada panti asuhan baik dimiliki oleh swasta/ormas. Besarnya jumlah anak asuh ini berkorelasi dengan bertambahnya jumlah panti yang dimiliki swasta/ormas dan pemerintah. Setidaknya tujuan utama adalah keberlangsungan pendidikan dan pertumbuhan sumberdaya manusia dalam rumah tangga maupun peran perempuan dalam ranah publik. Banjarbaru (475 anak) dan Banjarmasin (616 anak).BAB II Upaya pemberdayaan perempuan diperlukan adanya perencanaan. Gambar II. Selain itu peningkatan pengetahuan dalam pemahaman kesehatan.9 Grafik Perkembangan Jumlah Anak Asuh Kalimantan Selatan 2006-2008 Sumber: Prov. HST (475 anak). Persoalan ini ditangani oleh pemerintah dan swasta.Kalsel Dalam Angka 2009.2015 Page 76 . Hal ini disebabkan sebagian meninggal dan ditambah sirkulasi masuk dan keluar panti karena ditangani keluarga dan pendataan yang diakomodasi panti sendiri dalam rangka perlindungan terhadap lansia. penyusunan. BPS Sedangkan perkembangan jumlah lansia terjadi penurunan khususnya tahun 2006. pelaksanaan dan pemantauan terhadap kebijakan pemerintah itu sendiri dan perkembangan sosial yang terjadi dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan serta kepentingan kehidupan keluarga. Pelaksanaan kerjasama dengan mitra pegiat gender misalnya termasuk kampanye dan sosialisasi soal kekerasaan rumah tangga adalah bagian dari upaya pemberdayaan perempuan. Selain itu. Ada empat kabupaten/kota yang relatif besar menangani anak terlantar dibandingkan kabupaten/kota yang lain diantaranya Kab.

dan meningkatkan kesertaan pria dalam ber-KB. Tantangan yang dihadapi ke depan adalah upaya meningkatkan kesertaan ber-KB di daerah dengan CPR rendah. meningkatkan pemakaian kontrasepsi jangka panjang. dengan penggunaan terbanyak pada suntikan. Gambar II. Sementara itu. dan antar status sosial. penyusunan dan pelaksanaan kegiatan yang mendorong keberdayaan perempuan. intensifikasi advokasi dan KIE serta peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB. Disamping itu kegiatan perencanaan. BPS Tantangan kedepan adalah perlunya pemetaan lebih intensif terhadap penanganan anak terlantar dan penduduk lansia untuk dilindungi dan penataan/pembinaan secara intensif penanganan terhadap anak asuk maupun lansia oleh pengelola panti.2015 Page 77 . sementara Kabupaten Balangan dan Tanah Bumbu tidak ada melakukan aktifitas perlindungan terhadap penduduk lansia. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dan bervariasi antar Kabupaten/Kota. Pemakaian kontrasepsi Angka pemakaian kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate/CPR) masih rendah. 2. sebagian besar peserta KB menggunakan kontrasepsi hormonal dan bersifat jangka pendek. pemakaian kontrasepsi yang bersifat jangka panjang. Kesertaan pria dalam pemakaian kontrasepsi juga masih sulit ditingkatkan yang disebabkan oleh masih sangat terbatasnya pilihan metode kontrasepsi pria (hanya kondom dan vasektomi) dan masih sangat kuatnya budaya patriarki di masyarakat yang menganggap bahwa KB adalah urusan perempuan. dan implan cenderung menurun.3.10 Grafik Perkembangan Jumlah Lansia Kalimantan Selatan 2005-2008 Sumber: Prov.2. seperti sterilisasi (tubektomi dan vasektomi). Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera a.Kalsel Dalam Angka 2009. Selain itu. agar tercermin kelayakan pengasuhan dan pelayanan. IUD.5. Kesenjangan CPR antar Kabupaten/Kota mengindikasikan kurang meratanya jangkauan program KB ke seluruh daerah.BAB II Kabupaten Banjar mencapai 71 orang dan Kota Banjarmasin mencapai 139 orang.

kelompok miskin. dan meningkatkan jumlah dan kompetensi tenaga pengelola serta pelaksana program KB di daerah. Tantangan ke depan adalah menyerasikan kebijakan kependudukan agar konsisten dan berkesinambungan. kantor. yang merupakan salah satu kunci penentu keberhasilan program KB. Kebijakan pengendalian penduduk Kebijakan kependudukan yang terkait dengan kuantitas. serta ada yang tidak memiliki institusi untuk melaksanakan program KB. dan mobilitas belum konsisten. Khusus untuk masyarakat miskin. Ketersediaan dan kualitas data dan informasi kependudukan Sumber data kependudukan yang mutakhir seharusnya berasal dari registrasi penduduk yang meliputi data kelahiran. mengalami penurunan dari jumlah sebelum desentralisasi. kurangnya jumlah dan rendahnya kualitas tenaga pencatat. antara lain. Tantangan ke depan adalah meningkatkan peran kelompok-kelompok kegiatan yang ada di tingkat masyarakat sebagai media dalam meningkatkan kesertaan ber-KB. serta meningkatkan cakupan dan kualitas data kependudukan dari berbagai sumber. Pembinaan dan kemandirian peserta KB Peningkatan jumlah peserta KB baru menemui hambatan pada saat CPR telah mencapai di atas 50%. Hal ini terjadi karena kurangnya informasi tentang kewajiban masyarakat untuk melapor dan terbatasnya jangkauan masyarakat ke tempat pelayanan. f. e. serta masih terdapat kebijakan pembangunan lainnya yang kurang mendukung kebijakan pengendalian kuantitas penduduk. Mengingat penanganan masalah kependudukan melibatkan berbagai sektor dan pemangku kepentingan. Kelembagaan KB di beberapa Kabupaten/Kota diwujudkan dalam bentuk badan. d. Jumlah pengendali lapangan atau pengawas PLKB (PPLKB) dan petugas lapangan KB (PLKB) atau penyuluh KB (PKB). Kapasitas kelembagaan Program KB Bentuk kelembagaan KB bervariasi antar daerah. diperlukan upaya inovatif yang. data registrasi belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena masih rendahnya cakupan daerah dan kejadian yang dilaporkan. Sampai saat ini. dan perpindahan. Tantangan ke depan adalah meningkatkan advokasi kepada pemerintah daerah tentang pentingnya program KB. dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam melaporkan perubahan atas peristiwa penting yang dialaminya. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah masih belum optimal. tertinggal. kualitas.BAB II b. Hal ini disebabkan oleh PUS yang belum ber-KB pada umumnya adalah kelompok-kelompok sulit yang tersebar di daerah-daerah terpencil. dan berpendidikan rendah.2015 Page 78 . Untuk mencapai kelompok-kelompok tersebut. Akses dan Kualitas Pelayanan Kesejahteraan Sosial Ketersediaan akses dan kualitas pelayanan kesejahteraan sosial perlu dibedakan berdasarkan kelompok PMKS. dengan menyediakan akses terhadap sumber permodalan. kematian. sinergi para pemangku kepentingan tersebut harus ditingkatkan untuk mewujudkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing. dapat dilakukan melalui pembinaan kelompok-kelompok kegiatan di tingkat akar rumput. c. dan atau dinas. upaya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Tantangan ke depan adalah meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya melaporkan kejadian vital.

masalah kelembagaan masih mendominasi permasalahan pelayanan kesejahteraan sosial.845 929. upaya pemberdayaan sosial yang seharusnya meletakkan berbagai upaya untuk membangun kapasitas individu dan kelembagaan PMKS masih belum berjalan secara optimal. Sedangkan kota Banjarmasin. maka terdapat 1. Pra Sejahtera 55.397 Sumber: Prov. pada umumnya akan menerima tambahan bantuan melalui program lainnya.321 Keluarga Sejahtera I 300.Kalsel Dalam Angka 2009.108 352. Dari data tahapan keluarga sejahtera. Alih fungsi panti sosial.390 17. pada tingkat pelaksanaan.000-an KK.32 %) dan Keluarga Sejahtera mencapai 249. Jika dihitung secara absolut dengan asumsi tiap keluarga terdiri atas 4 jiwa.257 249.382 Keluarga Sejahtera II 337.48 Jumlah Tahapan Keluarga Sejahtera Di Kalimantan Selatan Tahun 2004-2008.487 965. demikian juga halnya dengan akses pelayanan pendidikan.866 Jumlah 884. Ini merupakan angka fantastik. Arus migrasi penduduk miskin desa yang mencari pekerjaan ke tiga daerah ini relatif besar dimana diikuti jumlah pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. Tahun Tahapan Keluarga Sejahtera 2004/2005 2006 Kel.685 222. Penerima bantuan sosial dari sebuah program.288 jiwa atau hampir 38. kegiatan bantuan sosial bagi PMKS yang selama ini dilakukan masih tumpang tindih. Kab.BAB II mempercepat pencapaian target penurunan angka kematian ibu dan anak perlu didukung dengan intervensi yang langsung diberikan kepada mereka.578 20. BPS.152 20.072 80.21 % penduduk Kalimantan Selatan adalah miskin.735 Keluarga Sejahtera III Plus 14.941 195. jika dikumulatif dua tahapan ini berarti ada sekitar 34. Tanah bumbu jumlah Pra Sejahtera masih mencapai angka di atas 10.80%) dari total 965.177 250. Keputusan bagi penyelesaian masalah yang dihadapi oleh PMKS masih lebih banyak dilakukan oleh aparat pemerintah sehingga bantuan yang disediakan pemerintah seringkali tidak tepat sasaran atau tidak tepat guna. Sementara itu. Berdasarkan data kependudukan yang dilaporkan BPS Kalsel dalam Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka 2009 jumlah Keluarga Pra Sejahtera mencapai 80. No 1 2 3 4 5 2007 75. Banjar dan Kab.257 kk (8.835 2008 80.673 895.12 % keluarga miskin.065 KK (25. Kota Banjarbaru relatif mengalami proses perbaikan tahapan kesejahteraan penduduk hingga ke Tahapan Keluarga Sejahtera III.2015 Page 79 .236 373. yang sebelumnya dibangun oleh Pemerintah. Di samping cakupan yang rendah.072 KK .443 210.094 Keluarga Sejahtera III 137.072 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . di beberapa daerah digunakan untuk kegiatan selain pelayanan kesejahteraan sosial. berupa insentif untuk mengakses pelayanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan terdekat. Selanjutnya. Masalah ini dapat dihindari jika penajaman pada tingkat kebijakan dan penetapan sasaran program dilakukan dengan baik. Tabel II.317.162 249.065 392.

000-an. Tabel II. Dengan fungsinya yang mengemban tugas di bidang komunikasi dan informasi sekaligus sebagai media hiburan masyarakat. terjadi peningkatan Keluarga Pra Sejahtera mencapai 5000-an KK.BAB II Jika melihat tren tahapan keluarga sejahtera dari tahun 2007 dan tahun 2008.443 (2007) menjadi 392. perikanan dan perkebunan menjadi prioritas utama antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.2. pembangunan ekonomi antara pembangunan perdesaan dan perkotaan perlu ada keseimbangan.2015 Page 80 .6 Komunikasi dan informatika Keberadaan media massa baik cetak maupun elektronik di Kalimantan Selatan ternyata mampu memberikan kontribusi positif bagi akselerasi pembangunan daerah. Tantangan ke depan adalah meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesejahteraan sosial dengan didukung oleh peningkatan pengelolaan program.685 (2008) atau mencapai 20. Artinya distribusi kesejahteraan mengalami perbaikan pada tahapan-tahapan berikutnya. ini diduga beberapa kabupaten mensupport peningkatan ini.49 Nama Penerbitan Pers di Propinsi Kalimantan Selatan 2007 Nama media cetak Kategori penerbitan Tempat kedudukan Banjarmasin Post SKH Banjarmasin Kalimantan Post SKH Banjarmasin Metro Banjar SKH Banjarmasin Barito Post SKH Banjarmasin Radar Banjamasin SKH Banjarmasin Mata Benua SKH Banjarmasin Serambi Ummah TM Banjarmasin Bidik Banua TM Banjarmasin Gawi Manuntung SKM Banjarmasin Dekrit SKM Banjarmasin Suara kalimantan SKM Banjarmasin Indonesia Merdeka SKM Banjarmasin Spirit Kalsel TM Banjarmasin Borneo Post SKM Banjarmasin Media Masyarakat SKM Banjarmasin Pusaka Daerah SKM Banjarmasin Media Warta SKM Banjarmasin No. Namun demikian. Program-program penguatan pemberdayaan masyarakat dan perekonomian pedesaan di bidang pertanian. Sementara Keluarga Sejahtera I dan II justru terjadi pergerakan relatif tinggi dari 373. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .51 Tabel II. khususnya kabupaten /daerah yang menjadi tujuan pencari kerja.49 s. 2. guna mengurangi arus orang miskin desa menuju kota. urban poverty masih besar menjadi pemasok jumlah tahapan pra sejahtera di Kalimantan Selatan. Data media cetak dan elektronik di Kalimantan Selatan seperti Tabel II. peningkatan kapasitas kelembagaan dan SDM serta tata kelola kepemerintahan.3. hingga tahun 2007 perkembangan media cetak dan elektronik semakin berkembang pesat.d.

9 MHz FM 99.6 KHz FM 104.1 MHz FM 89.2015 Page 81 .5 KHz FM 105.40 MHz FM 88.2 MHz FM 96.1 MHz AM 102.3 MHz Tempat kedudukan Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .50 Nama Radio Swasta dan RSPD di Kalimantan Selatan 2007 No.BAB II No.9 MHz FM 96. 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Nama media cetak Banjarbaru Post Gema Bestari Gerbang Suara Saijaan Bumi Kahuripan Saraba Kawa Post Murakata Aktual Benua Kita Aspirasi Rakyat Warta Post Mercu Buana X-Kasus Tabloid Selidah Post Waja Tablomagazine Bisnis Indonesia Bangkit Prosfek Orbit Post Tabloid Suling Kategori penerbitan SKM TM TM TM TM TM TM SKM SKM SKM SKM SKM TM SKM Mjl TM Mjl SKM SKM Bulanan Tempat kedudukan Banjarbaru Rantau Kandangan Kotabaru Amuntai Tanjung Barabai Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Tanjung Banjarmasin Marabahan Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Sumber: PWI Cabang Kalimantan Selatan Tabel II.9 MHz FM 98.3 MHz AM 88.5 MHz FM 105. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama radio Nusantara Antik Swara Maida Artanusa Siaga Indah Marista Suara Banjar Lazuardi Chandra Rasisonia Iskinada Mustika Telerama Kharismanada Rasisonia Dhirgantara Permai Nirwana Citra Bahana Swara Pelangi Alina ( SUN FM) Gema Suara Akbar Swara Citra Posindo Madinatussalam Abdi Persada Buana Ekaswaratama Radio SKY FM Gelombang FM 102.8 MHz FM 94.7 MHz FM 101.4 MHz FM 103.1 MHz AM 720 KHz AM 738 KHz FM 101.0 MHz FM 90.

BAB II
No. 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Nama radio Bajuin Eka Swaratala Swara Mandiri (Jorong FM) Swara Ruhui Rahayu Bahana Nirmala Selidah satu swara Swara Alkaromah Pratama Swara Cakrawala Martapura Borneo FM Purnama Nada Gema Amandit Dirgahayu Swara Barabai Gema Kuripan Swaracitra Suryanada Gema Meratus Swara Kotabaru Tanjungpuri Perkasa Gematara Batakan Swara Tapin Raya Swara Agung Lestari Gelombang FM 93,3 MHz FM 99,17 MHz AM 774 KHz AM 990 KHz FM 98,8 MHz AM 1584 KHz FM 107,01 MHz FM 103,09 MHz FM 98,20 MHz AM 918 KHz AM 540 KHz AM 612 KHz AM 810 KHz FM 98 MHz FM 96,9 MHz FM 103,6 MHz FM 106,15 MHz FM 103,1 MHz AM 576 KHz FM 103,3 MHz Tempat kedudukan Banjarmasin Banjarmasin Rantau Martapura Marabahan (Batola) Martapura Martapura Banjarbaru Kandangan Kandangan Barabai Barabai Amuntai Banjarbaru Batulicin Tanah Bumbu Kotabaru Tanjung Pelaihari Rantau Amuntai

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Tabel II.51 Nama Televisi Nasional dan Lokal di Kalimantan Selatan TELEVISI KETERANGAN RCTI Jaringan Nasional SCTV sda Metro TV sda Indosiar sda Global TV sda TPI sda ANTV sda Trans TV sda Trans 7 sda TV One sda TVRI Pusat sda TVRI Kalimantan Selatan Lokal Banjar TV Lokal Duta TV Lokal Borneo TV (TV B) Lokal Ran TV – Kab. Tapin Lokal AMTV – Hulu Sungai Utara Lokal Tabalong TV – Tanjung Lokal Indovision Jaringan berlangganan

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 82

BAB II 2.3.2.7. Perpustakaan Jumlah perpustakaan di Kalimanatan Selatan sudah cukup banyak. Ada 13 perpustakaan umum di setiap kabupaten/kota serta sebuah perpustakaan provinsi yang didukung oleh perpustakaan di sekolah-sekolah, pesantren, perguruan tinggi, mesjid, taman bacaan di bawah binaan Dinas Pendidikan, serta perpustakaan terapung yang dikelola oleh Korem 101/Ant dan Ditpolair. Termasuk di dalamnya tiga buah perpustakaan percontohan, yakni sebuah di Kabupaten HSU, dan yang sedang dibangun sebuah di Kecamatan Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan sebuah lagi di Kecamatan Batu Mandi di Kabupaten Balangan. Untuk menjangkau layanan baca bagi masyarakat yang mengalami kendala dalam mengakses keberadaan perpustakaan, terutama di daerah, telah tersedia 6 (enam) buah armada perpustakaan keliling. Salah satu sarana perpustakaan yakni Perpustakaan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) berdiri sejak tahun 1966 memiliki koleksi sebagian besar berupa publikasi dan informasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan teknologi pertanian lahan rawa. Jumlah koleksi perpustakaan saat ini Buku (Teksbook) 3620 judul, Majalah Ilmiah (Jurnal) 815 judul, Monograf (Prosiding, Risalah Seminar, Laporan, dan sejenisnya) 40 judul, Publikasi Teknis (Leaflet, Brosur, dan sejenisnya) 40 judul, Majalah Umum (Trubus dan sejenisnya) 10 judul, dan Surat Kabar 3 judul. Pelayanan menggunakan sistem pelayanan terbuka. Untuk menghadapi tantangan global, maka jumlah judul buku dan bahan koleksi perlu terus ditingkatkan guna meningkatkan gairah minat baca di kalangan masyarakat.

2.3.2.8. Pemuda dan Olahraga Selama ini pemerintah Provinsi lewat SKPD yang berwenang memfasilitasi kegiatan kepemudaan dan olahraga. Baik pembinaan lewat kegiatan seminar, sosialisasi pembangunan, pelibatan kegiatan pemerintah, pertukaran pelajar dan pemuda, pelatihan maupun kegiatan yang bersifat kompetesi prestasi. Sekalipun berbagai institusi memiliki kegiatan-kegiatan yang melibatkan dan memerankan pemuda baik bersifat intelektual-akademis, keterampilan, sosial dan olahraga, namun peran pemerintah untuk melepaskan para pemuda dari jeratan narkoba adalah pekerjaan yang relatif berat.

2.3.2.9. Pelayanan Penunjang Bidang Hukum dan Politik a. Pelayanan Bidang Hukum Dalam konteks pelayanan di bidang hukum, peran pemerintah provinsi sangat terbatas. Hal ini terkait dengan kewenangan yang amat terbatas dalam bidang ini sebagaimana digambarkan pada sub bab sebelumnya.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 83

BAB II Pelayanan dalam bidang hukum yang dilakukan pemerintah provinsi adalah pembuatan berbagai produk hukum daerah, seperti perda, peraturan gubernur dan keputusan gubernur dalam rangka menjamin adanya kepastian hukum bagi masyarakat Kalimantan Selatan dalam berbagai dimensi kehidupan sesuai dengan kewenangan pemerintah provinsi. Jumlah produk hukum daerah yang telah dihasilkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dapat dilihat dalam tabel II.52
Tabel II.52 Jumlah Produk Hukum Yang Dihasilkan Pemda Provinsi Di Kalimantan Selatan 2006 - 2009 No. 1. 2. Jenis Produk Hukum Perumusan Perda Perumusan Produk Hukum Peraturan Gubernur Keputusan Gubernur
Sumber : Biro Hukum Pemprov Kalsel

2006 21

2007 20

2008 24

2009 29

61 606

75 678

74 612

100 711

Selain itu, pelayanan lain di bidang ini dilakukan oleh pemerintah provinsi dalam bentuk penyuluhan hukum pada masyarakat. Penyuluhan hukum yang dilakukan terutama diarahkan kepada peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat atas produk hukum daerah, namun juga dilakukan hal serupa untuk produk-produk hukum nasional, baik berupa UU maupun peraturan perundangundangan lainnya. b. Pelayanan Bidang Politik Pelayanan pemerintah provinsi Kalimantan Selatan dalam bidang politik secara khusus ditangani oleh Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol Linmas). Secara garis besar, Dalam bidang Politik, Badan ini berfungsi untuk melakukan hal-hal sebaga berikut ; 1. Melakukan pendataan dan pembinaan terhadap organisasi sosial kemasyarakatan; 2. Melakukan pembinaan terhadap partai politik di Kalimantan Selatan; 3. Melakukan berbagai program peningkatan kesadaran berbangsa, bernegara, termasuk pendidikan politik kepada masyarakat Kalimantan Selatan Dalam konteks melakukan pendataan terhadap organisasi sosial kemasyarakatan, Badan ini berwenang untuk menentukan legal atau tidaknya suatu organisasi sosial kemasyarakatan, semacam LSM dan Perkumpulan Sosial lainnya melalui penerbitan SKOT. Organisasi yang diakui keberadaan oleh Badan ini saja yang dapat melakukan berbagai kerjasama atau menerima bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Selain itu, penerbitan SKOT juga berfungsi sebagai data dasar untuk melakukan pembinaan lebih lanjut terhadap organisasi sosial kemasyarakatan yang ada sebagai agen sosial di masyarakat. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 84

300) (Perorangan) .BAB II Partai politik juga tidak luput dilakukan pembinaan oleh Badan ini.57 1.57 535.66 102. seperti pendidikan bela negara.43 954.Tidak berjadwal (L.10 Perhubungan Berdasarkan SK Menteri PU Nomor 369/KPTS/M/2005 panjang jalan Nasional di Kalimantan Selatan adalah 876. fungsi-fungsi pelayanan politik dilakukan dengan menggelar berbagai agenda kegiatan. Koordinasi dengan partai politik menjadi sangat penting guna menciptakan kondisi politik daerah yang baik dan harmonis. pendidikan politik dan berbagai kegiatan lainnya. Kegiatan ini selain dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman warga negara terhadap politik dan hal-hal lain terkait kesadaran berbangsa dan bernegara.53 Tabel II.53 Kelas Jalan Nasional Provinsi 340.23 102.3. Pembinaan lain adalah dengan melakukan pendidikan politik terhadap kader dan fungsionaris partai politik. 2.2.15 Kelas Jalan I II IIIA IIIB IIIC Jumlah 340.Kalsel – Kaltim (7 Perusahaan) = 75 Unit Bus Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) . termasuk dalam fungsi ini adalah melakukan koordinasi berkelanjutan dengan partai-partai politik yang ada dan dinyatakan sah keberadaannya oleh Kementrian Hukum dan HAM.2015 Page 85 . Di ranah masyarakat.Rental Car ( 9 Perusahaan ) = 2.15 Sumber : Buku Statistik dan Informasi Perhubungan Kalimantan Selatan Tahun 2007 Ditinjau terhadap penyediaan angkutan umum yang ada dapat dijabarkan sebagai berikut: Angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) .Berjadwal (Bus) ( 17 Perusahaan ) .485 Unit = 139 Unit = 43 Unit Dalam upaya melaksanaan pembinaan terhadap Angkutan Jalan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah menetapkan Perda Nomor 3 Tahun 2003 tentang RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .Kalsel – Kalteng (21 Perusahaan) = 95 Unit Bus .Taksi .594 Unit = 63 Unit = 1.489.00 km dan 1056.38 km jalan provinsi menurut SK Mendagri Nomor 55 Tahun 2000 dengan kelas jalan tertinggi adalah IIIA seperti terlihat pada Tabel II.Angkutan Pedesaan Mikrolet/Pick Up .

000 Rp.500 Kg JBB di atas 7.500 Rp.000 Mobil Barang Pengangkut alat berat Mobil Barang Pengangkut Peti Kemas Mobil Barang Pengangkut bahan berbahaya Mobil Barang Pengangkut barang dgn menggunakan Tangki Mobil Barang secara insedentil mengangkut barang umum yg tdk dpt dipotong-potong Rp. 50.000 Rp. 100. Besarnya tarif retribusi adalah sebagai berikut: Rp. 1.500 Kg Penggunaan Gudang dan atau lapangan penumpukan : Jasa penggunaan gudang M3/Ton Jasa penggunaan lapangan penumpukan M /Ton 3 Rp.BAB II Retribusi Izin Angkutan Khusus Mobil Barang Besarnya tarif retribusi adalah sebagai berikut: Rp. Besarnya tarif retribusi penimbangan kendaraan bermotor adalah sebagai berikut: Rp. Hasil tambang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah batubara dan bijih besi Hasil perusahaan perkebunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah tandan buah segar (TBS) kelapa sawit RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 75.000 Perda Nomor 6 Tahun 2003 tentang Retribusi Penimbangan Kendaraan Bermotor. 100. 175.000 Perda Nomor 5 Tahun 2003 tentang Retribusi Izin Trayek dan Izin Operasi Angkutan Orang Lintas Kabupaten/Kota. 2. 100.500 Rp. 300/hari Rp. 150/hari Perda Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pengendalian Muatan Mobil Barang di Jalan : Setiap mobil barang yang mengangkut barang wajib ditimbang pada alat penimbangan yang dipasang secara tetap. 1. 150. 25.000 Rp. Pengaturan penggunaan jalan adalah sebagai berikut: Setiap angkutan hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan dilarang melewati jalan umum Setiap hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan harus diangkut melalui jalan khusus yang telah ditetapkan oleh Gubernur.000 Mobil Penumpang dengan kapasitas s/d 8 seat Mobil Bus dengan kapasitas 9 s/d 15 seat Mobil Bus dengan kapasitas 16 s/d 25 seat Mobil Bus dengan kapasitas lebih 26 seat Rp. terkecuali yang sudah diatur dengan izin Angkutan Barang Khusus Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang pengaturan penggunaan jalan umum dan jalan khusus untuk angkutan hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan.000 JBB di bawah 2000 Kg JBB 2000 Kg s/d 7.000 Rp.000 Rp.2015 Page 86 . 100.

2015 Page 87 . Pertumbuhan nilai konsumsi rumah tangga dalam periode 2005 -2009 rata-rata 5.54 Persentase Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Menurut Jenisnya Di Kalimantan Selatan 2005-2009 Tahun Makanan Non Makanan Total (dalam Rp) 2005 2006 2007 2008 2009 Rata-rata 65.54 porsi belanja rumah tangga untuk Makanan masih lebih tinggi dari Non Makanan.02 65.755.4.4.588.4.443.05 trilyun (44.43 61.21 100 100 100 100 100 100 9.4.924.BAB II Perhubungan yang menggunakan prasarana selain darat dijabarkan lebih pada sub bahasan 2. 2.19 10.219.328.97 38. Ini berarti kemampunan ekonomi masyarakat secara pasti menjadi semakin kuat.92 trilyun pada tahun 2009.1. Tabel II.02 61.1.56 37. lebih tinggi dari pertumbuhan PDRB yang sebesar rata-rata 5.98 34.202.48%.69%) berasal dari pengeluran konsumsi rumah tangga.21%.68% pertahun dan ternyata pertumbuhan belanja non makanan jauh lebih tinggi yakni mencapai rata-rata 8.1.13. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .1 Pengeluaran konsumsi RT Pengeluaran konsumsi rumah tangga merupakan salah satu bagian penggunaan atau pengeluaran dalam ekonomi yang membentuk PDRB. Meskipun porsinya masih kecil namun tingkat pertumbuhan pengeluaran untuk non makanan sangat pesat.74 12. Nilai Tukar Petani Sektor pertanian tetap merupakan sektor terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Rejional Bruto di Provinsi Kalimantan Selatan walaupun perannya cenderung menurun.99% pertahun. 2. Kemampuan Ekonomi 2.977.1.39 12.46%. Berdasarkan Tabel II.79 34.2.79% pertahun. 28.212.2. Peranan Konsumsi sangat penting dalam membentuk PDRB Kalsel karena dari nilai PDRB Rp.31 Pengeluaran konsumsi rumah tangga terdiri dari komponen pengeluaran untuk makanan dan non makanan. Selain sebagai sektor yang dominan sektor ini juga menyerap tenaga kerja paling banyak.44 62.328. Aspek Daya Saing Daerah 2. sebesar Rp. Selama periode 2005 -2009 pertumbuhan belanja makanan adalah sebesar rata-rata 4.57 38. Hal ini menunjukkan kemampuan masyarakat dalam mencukupi kebutuhannya secara umum cenderung meningkat.98 38. Sementara itu belanja non makanan hanya mencapai rata-rata 37.03 61. Porsi belanja untuk Makanan selama periode 2005 – 2009 rata-rata mencapai 62.4.39 11.

investasi (I).7 Kalsel 90. dan ekspor (X).7 98.2 94.7 117.1 persen ditahun 2005 menjadi 97.56).67 125.Sel. Angka dibawah 100 mempunyai makna bahwa petani selalu membayar lebih banyak daripada apa yang mereka terima. Walaupun NTP selama ini masih dibawah 100 terdapat kecenderungan peningkatan NTP selama periode 2005-2008 dengan besaran 82.8 516.7 571. Nasib petani di Provinsi Kalimatan Selatan kurang lebih sama dengan rekannya di provinsi Kalimantan Tengah dilihat dari besaran Nilai Tukar Petani yang selalu berada dibawah angka 100 (Tabel II. belanja pemerintah (G).BAB II Tabel II.55 NTP 82.8 101. pada tahun 2009 sebesar Rp.92 T meningkat dari tahun 2005 yang sebesar Rp.56 Rata Rata NTP Menurut Provinsi di Kalimantan Tahun 2006 – 2008 Tahun Rata-rata 2006 Rata-rata 2007 Rata-rata 2008 Kalbar 182. Bekerja sebagai petani bukanlah hal yang menguntungkan namun kesempatan untuk bekerja diluar lapangan pertanian nampaknya belum terbuka lebar mengingat adanya gap antara pendidikan dengan tuntutan dunia kerja. Tabel II.74 Kaltim 82.7 78.23.4 112.55 memperlihatkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) selama tahun 20052008 selalu berada dibawah angka 100.69 119.Sel 2009 Tabel II.5 Kalteng 98.5 persen di tahun 2008.24 Indeks Dibayar (Ib) 481.76 Sumber : BP Kal. Sebaliknya petani di Provinsi Kalmantan Barat dan Kalimantan Timur mempunyai nasib yang relatif lebih baik.4 Sumber : Indikator Ekonomi.55 Indeks Nilai Tukar Petani Kalimantan Selatan. Badan Pusat Statistik *) Tahun dasar 2002 Produk total daerah dihitung berdasarkan nilai PDRB.1 588.7 621. Berdasarkan komponen penggunaannya angka total PDRB terbentuk dari penjumlahan pengeluaran Konsumsi (C).7 95.29 T. Tinjauan Ekonomi Kal.5*) 103. dikurangi impor (M).4*) 174.2 94.28. 2005 – 2009 Tahun/Bulan Rata-rata 2005 Rata-rata 2006 Rata-rata 2007 Rata-rata 2008 Rata-rata 2009 Indeks Diterima (It) 394.7 95.2015 Page 88 . RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .74 104.3 77.1 90.

39 Ekspor (X) 15.09 100.794.061.090.37 2.939.72% 19.90 Luar ((X+M)/2) 10.10%.06% 11. cukup tinggi.45 16.15 2.051.347.32 29.07 Investasi (I) 62.361.450.599. Faktor dari dalam (C.06% 17.92% 12.766.262.10 12.57 Total PDRB dan Rata-rata Share Berdasarkan Komponen Penggunaan di Kalimatan Selatan 2005 – 2009 (Rp.600. Hal ini menunjukkan ketergantungan pada ekonomi eksternal. 2005 – 2009 (diolah) Perbandingan besaran share masing-masing komponen pembentuk PDRB menunjukkan komponen yang relatif lebih dominan diantara satu dan lainnya dalam membentuk produksi.72 13. baik internasional maupun nasional.00 20.732.455.544.268.16% 83.900.20% 0.132.67 128.27% Share 3.689.749.juta) Rata-rata (%) Komponen 2005 2009 (share 2005-2009) Konsumsi © 10.221.29 3.736.100.88 114.91%.912.043.90 44. I.87 19.700.89 165.00 19.07% 22.334.595.46 6.720.2015 Page 89 .00 3.744. Daya saing ekonomi Kalsel diantara propinsi lain di Kalimantan menduduki peringkat kedua jika diihat dari besaran ekspor.839. BPS.00 No 1 2 3 4 5 6 7 Sumber : Tinjauan Perekonomian Kalimantan Selatan.46 Impor (M) 5.06% 1. BPS.58 Nilai (US 000 $) dan Share Ekspor Regional Kalimantan Tahun 2006 – 2008 Provinsi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Total Kalimantan Indonesia 2006 Total 620.91 PDRB (Y) 23. Pentingnya perdagangan bagi perekonomian Kalsel juga ditunjukkan dari derajat keterbukaan ekonomi.82 2.94% Sumber : Tinjauan Perekonomian Kalimantan Selatan.331.31 100. Hal ini terlihat pada Tabel II.046.80% Share 3.19 8.90%.799.67 24.158.798.44 Belanja pemerintah (G) 2.170. yakni sebesar 44.380.36 Kadar Keterbukaan Eko Dalam ((C+I+G) 12.BAB II Tabel II.17 16.181. Faktor luar atau disebut keterbukaan ekonomi ((X+M)/2) menyumbang 44.306.48 179.029.662. 2006 s/d 2009 (diolah) RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .005.796.81% 84.46%.43 63.020.648. jika ekspor dihitung sebagai kesatuan didalam Neraca Perdagangan (X – M) maka peranan neraca perdagangan hanya 37.598.471. Berdasarkan tabel II.900.81% 13.0 Share 3.40 310.G) menyumbag 62.0 2008 Total 898.56 komponen paling dominan dalam membentuk PDRB adalah Ekspor dengan rata-rata share pada periode 2005 – 2009 sebesar 63.59% 0.0 2007 Total 728.292.081.225.358.257.58 Tabel II.108.83 18.503.46 44.423.54% 82.001. Akan tetapi. Pembentuk PDRB terbesar selanjutnya adalah dari konsumsi.660.03 62.37 26.369.01 13.07%.918.50 28.

41 0.59 Rata-rata Pertumbuhan dan Share Nilai Ekspor Berdasarkan Jenis Komoditi di Kalimantan Selatan 2004 – 2008 Karet Produk Produk Produk Produk No Indikator Rotan Alam Kayu Perikanan Tambang Lainnya 1 Rata-rata Pertumbuhan (%) 122.0 10.0 20.95 14.35) 8.62 9.0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Tahun Karet Alam Produk Kayu Rotan Produk Perikann Produk Tambang Produk Lainnya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .62%) dengan andalan Batu Bara. Perkembangan komposisi ekspor ini telah lama tidak berubah yakni didominasi produk primer. Share ini menunjukkan kecendrungan meningkat jika dibanding tahuntahun sebelumnya.0 40.11 Gambar II.78 164.41 72. Tabel II. Sebelumnya yang mendominasi adalah produk kayu. BPS. kemudian setelah kayu terbatas digantikan oleh Batu Bara. Akan tetapi dari komposisi yang ada ternyata daya saing ekspor Kalsel masih sangat ditopang oleh produk-produk primer. Komoditas yang tumbuh secara fantastis.0 60.11 Share Nilai Ekspor Menurut Jenis Komoditi di Kalimantan Selatan 2003 . Perkembagan share nilai komoditas ekspor selama periode 2003 – 2008 terlihat pada Gambar II. seperti pada 2008 menguasai 84.0 50. Komoditas ekspor paling dominan adalah produk Tambang (rata-rata 72.02 0.41 2 Rata-rata Share (%) 2. diatas 100%. rata-rata pertumbuhan ekspor selama periode 2004 – 2008 adalah 29.94% dari nasional. Peranan Kalsel terlihat fluktuatif.BAB II Pada 2008.58 100. Struktur komoditas pembentuk daya saing ekspor sangat penting dalam menentukan tingkat kemajuan pembangunan.07%. adalah Karet Alam dan Produk Lainnya.59 terlihat pertumbuhan rata-rata nilai ekspor Kalsel sangat tinggi. 2004 s/d 2009 (diolah) Dari Tabel II.58%.59 Total 29.0 80. Dari distribusi antar propinsi terlihat sangat timpang dimana Kaltim sangat dominan.0 70.08 (3.0 30. Komoditas lainnya jauh tertinggal dengan besaran masing-masing tak lebih dari 10%. Secara total.63 2.00 Sumber : Tinjauan Perekonomian Kalimantan Selatan.2015 Share (%) Page 90 . tapi tidak melebihi 14% selama periode 2006 – 2008 ini. Jika komoditas/produk utama ekspor adalah hasil olahan yang bernilai tambah tinggi maka tingkat kemajuan perekonomian juga tinggi.07 33. share ekspor yang berasal dari wilayah Kalimantan meliputi 22.2008 90.

jalan ini menjadi lintas poros selatan Kalimantan yang menghubungkan ke Provinsi Kalimantan Tengah dan ke Kalimantan Timur.964. Sehubungan dengan pemerataan pembangunan maka perlu perhatian pengembangan wilayah ke arah Barat Laut Kalimantan Selatan terutama memperlancar hubungan darat untuk Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Marabahan dan Amuntai.55 %.2. laut. dan 8. seiring dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dan pembangunan Kalimantan Selatan secara signifikan berdampak peningkatan lalu lintas jalan. kondisi sedang 3. a. udara. Jumlah jalan provinsi yang ada sebanyak 47 ruas jalan sepanjang 832. Infrastruktur. Transportasi Darat Di Provinsi Kalimantan Selatan terdapat 866. Kupang –Manggalo – Batas Kaltim serta Banjarmasin – Martapura – Rantau – Kandangan – Pantai Hambawang – Barabai – Tanjung – Mabu’un – Batu babi – Batas Kaltim. Jumlah Jalan Nasional yang ada sebanyak 74 ruas jalan dengan kondisi baik 79. Sedangkan Lintas jalan yang menghubungkan ke Provinsi Kalimantan Timur juga dapat dilalui dalam dua arah yaitu Banjarmasin – Martapura – Pelaihari – Asam-asam – Kintap – Batulicin – Sei.58 km jalan provinsi (SK Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 188.37 % dan kondisi rusak 23. dengan kondisi baik 74. Sesuai UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada pasal 24 (1) bahwa penyelenggara jalan wajib segera dan patut untuk memperbaiki jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalulintas. 2. kondisi sedang 16.4. sementara untuk kendaraan angkutan penumpang umum : RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .5 – 16 m.1 Fasilitas Transportasi Transportasi di Kalimantan Selatan dilayani oleh transportasi darat. Selain terletak di ibukota provinsi.58 Km. dan sungai dengan gambaran sebagai berikut.44/097/KUM/2008).086 km jalan nasional (SK Menteri PU Nomor 631/KPTS/M/2009).2015 Page 91 . 832.89 % dengan lebar bervariasi antara 4.03 % berdasarkan data tahun 2010.55 % dan kondisi rusak 3.BAB II 2.08 %. peningkatan aksesibilitas antar wilayah pengembangan dan mendukung pengembangan kawasan-kawasan strategis dan sentra produksi. Lintas jalan yang menghubungkan ke Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilalui dalam dua arah yaitu Banjarmasin – Simpang Serapat – Anjir Pasar (Marabahan) – Batas Kalteng serta Banjarmasin – Martapura – Rantau – Kandangan – Pantai Hambawang – Amuntai – Kelua – Pasar Panas (Batas kalteng). Transportasi darat memiliki peran penting untuk meningkatkan aksesibilitas daerah pedalaman.77 Km jalan kabupaten/kota .2.4.

5 m².042.042. (Persero) Angkasa Pura I dengan Fasilitas bandara yaitu : landasan 2. 17 dengan luas lahan 10 Ha. Apron baru 336x152 m² (transporter concept). sebagaimana pada Tabel II. Jumlah pesawat yang mendarat dan berangkat di Bandara Syamsudin Noor pada tahun 2009 sebesar 19. Pada tahun 2009 arus penumpang berangkat sebesar 1.60 berikut : RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Terminal regional tipe A ini berada di Kabupaten Banjar km.197 orang dan arus penumpang yang datang 1.2015 Page 92 .500 x 45 m² (single runway concept).5 Ha dikelola oleh PT.8x23 m². B=96.962 orang.874 buah : 148 buah : 67 rute/trayek : 27 rute/trayek : 17 rute : 20 buah Penyediaan terminal tipe A yang melayani angkutan umum dari angkutan lintas Provinsi (AKAP) sampai Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) diharapkan pembangunannya selesai 100 % tahun 2015 dan segera berfungsi untuk menunjang kegiatan transportasi darat. Bandara Syamsudin Noor sejak tahun 2004 telah menjadi Bandara Embarkasi Haji dengan menggunakan pesawat B-767 seri 300 ER.BAB II Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Jaringan Trayek AKDP Total Jaringan Trayek AKDP beroperasi Jaringan Trayek AKAP Prasarana terminal : 2. Transportasi Udara Arus lalu lintas udara di Kalimantan Selatan menggunakan Bandara Syamsudin Noor yang merupakan tipe bandara Pusat Penyebaran Sekunder (PPS) dan Bandara Stagen yang merupakan tipe bandara Pusat Penyebaran Tersier(PPT).8x23 m². Apron lama 326x90m² (linier concept). b. barang dan perkembangan pesawat terjadi kenaikan yang cukup signifikan pertahunnya.5x27. D=228.077 buah pesawat perhari. Bandara Syamsudin Noor terletak di Kecamatan Landasan Ulin Kotamadya Banjarbaru dengan luas 37. C=228. dan konsep sirkulasi bangunan terminal sistem satu lantai B.5x23 m²). taxiway (A=224. Perkembangan pergerakan orang.

608 7. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .077 7.419 53.572 15. Data perkembangan arus penumpang dan barang melalui Bandara Syamsudin Noor dapat dilihat pada Tabel II.075 1.042.429 7.715 7.268 781. Kalsel 2010.425 5.997.329 Tahun 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 JUMLAH Sumber: Dinas Perhubungan Prov.410.846 TAHUN 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 JUMLAH Sumber : Dinas Perhubungan Prov.d.083.229 5.036.302 7.731 7.986.907 748.473 5.397 652.197 6.61 Jumlah Penumpang Datang.407.111 22.508.698.628 5.708 634.2015 Page 93 .479.427 106.322.216. Berangkat dan Transit Di Bandara Syamsudin Noor 2003-2009 PENUMPANG TOTAL DATANG BERANGKAT TRANSIT 1.346 8.181.475 380.934.62 dan gambar II.395 868.163 6.239.611.601 JUMLAH 13.275 774.774 1.112.103 10.141 7.538 9.619 1.852 50.60 Jumlah Arus Pesawat Datang dan Berangkat di Bandara Syamsudin Noor 2003-2009 PESAWAT JUMLAH DATANG BERANGKAT 9.716 690 1.827 12.148 18.584.714 15.160 66.670 11.259.655.575.942 9.623 2.240 6.380 6.404.BAB II Tabel II.669 8.6%.041 3.651 15.d.539 19.073.537 43. 13 berikut: Tabel II.463.648.547 7.303.415 4.290 3.937 53.62 Jumlah Barang Bongkar dan Muat Di Bandara Syamsudin Noor 2003-209 BARANG (Kg) BONGKAR MUAT 9.373 5.569 7.856 5.622 4. TAHUN 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 Jumlah Tabel II.338.866 15.869 887.207. Kalsel 2010.235 2.651 7.487 11.464 10.401. Kalsel 2010.024.185 608.030 827.865 7.549 681.194 4.792 3.621 15.746 726.348 395.962 1. Ditinjau terhadap arus pergerakan penumpang dan barang yang melalui Bandara Syamsudin Noor dengan rata-rata pertumbuhannya mencapai 16.138 13.440.205 9.940 4.338.261.12 s.61 s.080.757.442 1. Tabel II.712 Sumber: Dinas Perhubungan Prov.588 9.

dapat didarati oleh pesawat Foker-50.2015 Page 94 . Gambar II. dengan load faktor penumpang rata-rata RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .112 Jumlah Penumpang Datang. Ditjen perhubungan Udara. berangkat dan Transit Di Bandara Syamsudin Noor 2003-2009 Kondisi frekuensi penerbangan yang semakin padat terutama pada peak hour pagi memerlukan perhatian perbaikan headway take off dengan penyediaan fasilitas landas hubung (taxiway) karena saat ini keluar-masuknya pesawat dari landasan menuju apron dan sebaliknya masih menggunakan runway sebagai aksesnya.BAB II Gambar II. saat ini mempunyai panjang Landasan 1.13 Grafik Jumlah Barang di Bandara Syamsudin Noor Tahun 2003-2009 Bandara Syamsir Alam (Stagen) termasuk dalam PKW Kotabaru yang dikelola oleh UPT.600 x 30 m². Bandara ini berfungsi sebagai Bandara pengumpan dengan frekuensi penerbangan tujuh kali dalam seminggu untuk rute Banjarmasin – Kotabaru – Banjamasin.

477 JUMLAH 99. navigasi. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .534 50 7.Stagen telah mempunyai fasilitas pendukung seperti terminal penumpang.280 24.769 7 2003 3.375 20.990 1.StagenTahun 2003.122 196.742 41.724 orang terjadi penurunan dibandingkan tahun 2008 sebagaimana Tabel II.015 5 2005 14.2009 PENUMPANG NO TAHUN TOTAL DATANG BERANGKAT TRANSIT 1 2009 18. Berangkat dan Transit Di Bandara Syamsir Alam .62%.776 5 35.061 12.067 Secara grafis perkembangan arus penumpang di Bandara Stagen dapat dilihat pada Gambar II.466 14.384 6 2004 13.63 Data Perkembangan arus Penumpang Di Bandara Syamsir Alam .234 17.686 8.14 : Gambar II.240 17.117 3 2007 12.14 JumlahPenumpang Datang. komunikasi dan sisi darat serta perlu peningkatan SDM untuk menjadikan bandara dengan pelayanan dan perkembangan yang lebih baik.047 30. 63 berikut : Tabel II.77% dan tujuh kali dalam seminggu untuk rute Kotabaru – Balikpapan – Kotabaru dengan load faktor penumpang rata-rata 0.BAB II 0.2009 Bandara Syamsir Alam .341 4 2006 17. Penumpang yang datang pada tahun 2009 sebesar 18.2015 Page 95 .893 3.955 94.964 2 2008 20. fasilitas komunikasi dan navigasi penerbangan serta fasilitas PK-PPK dan fasilitas Security.063 20 21. Peningkatkan fasilitas sarana dan prasarana Bandara Syamsir Alam sangat diperlukan baik fasilitas dari sisi udara.871 1.240 orang dan penumpang yang berangkat sebesar 17.724 35.StagenTahun 2003.

548.BAB II c.648 unit 52. Hal tersebut tidak terlepas dari Alur Ambang Barito dapat dilayani 24 jam.950 m3.373 m2 dan lapangan penumpukan peti kemas 14.T.085.000 m (15 km) lebar 100 m dan kedalaman 6 LWS saat ini kondisi dapat di layani selama 24 jam.582 2007 Sumber : P. Realisasi pungutan chonell fee terhadap kapal yang melalui Alur Ambang Barito tahun 2009 sebagai berikut : Jumlah kapal Muatan Kontribusi : : : 5.642 30.384 43. lapangan penumpukan luas 36.603 2005 11.606.504. Sejak 1 Januari 2009 diberlakukan pungutan kapal-kapal yang mengangkut batubara.2015 Page 96 .964.15 Perkembangan Arus Kapal Luar dan Dalam Negeri di Sungai Barito 48.902 37. Gambar II.802 8.131. 8.13 dengan tingkat pertumbuhan rata-rata tahun terakhir adalah sebesar 9%. hasil hutan dan hasil tambang lainnya.017 35.483. (Persero) Pelabuhan Indonesia III Cabang Banjarmasin Semakin meningkatnya pertumbuhan pelayaran memerlukan perhatian untuk meningkatkan pelayanan dengan mempertimbangkan pelabuhan laut yang lebih RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Peningkatan arus kapal luar dan dalam negeri terlihat pada Gambar II. Alur barito panjang 15. Perkembangan Pelabuhan Trisakti terus berbenah untuk meningkatkan pelayanan dengan membangun dermaga peti kemas dan mempermodern fasilitas peralatan.536 2006 12.959. Transportasi Laut Pelabuhan Trisakti merupakan Pelabuhan Utama di Provinsi Kalimantan Selatan yang berperan dan berfungsi sebagai salah satu pintu gerbang perekonomian dan distribusi berbagai komoditi eksport maupun guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri di berbagai daerah yang memiliki panjang dermaga 510 m.82 ton/m3 Rp.564.- Pengembangan Pelabuhan Trisakti di Banjarmasin lebih difokuskan pada kegiatan arus barang dan penumpang dari pulau jawa atau daerah lain serta untuk menampung arus kegiatan dari wilayah belakang Provinsi Kalimantan Selatan yang mencakup wilayah timur dan tenggara dari Provinsi Kalimantan Tengah serta bagian selatan dari Kalimantan Timur.939 2004 10.369 2003 9.670.

745 100. Data perkembangan permintaan terhadap angkutan penyeberangan Batulicin – Tanjung Serdang dapat dilihat pada Tabel II. Kapal Tunda.64 Perkembangan Permintaan Terhadap Angkutan Penyeberangan Tahun 2008-2009 Batulicin .595 35. Dilihat dari jenis angkutannya yang beroperasi terbagi atas Motor Getek / Klotok.082 104.557 Pergerakan orang dan barang yang menggunakan transportasi sungai dan danau di Kalimantan Selatan masih diminati. penyeberangan lintas Stagen – Tarjun.Tg Serdang Batulicin Tj Serdang Tahun Trip Pnp R-2 R-4 Trip Pnp R-2 7. jumlah Kapal yang melayani dan beroperasi sebanyak 4 buah dan penumpang yang diangkut rata-rata 40.885 Tahun 2008 2009 R-4 55. Tongkang. Fery.752 57.224 124.Tanjung Serdang. Motor Bota/Kapal Motor. Speed Boat. Lintas tersebut mempunyai peranan sangat penting dalam menunjang kelancaran arus penumpang dan barang angkutan penyeberangan di wilayah Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Tanah Bumbu. Lintas Mantuil . dan KM.849 51. Muara Teweh.218 2008 7. Angkutan sungai dan penyeberangan di Kalimantan Selatan disamping menghubungkan daerah-daerah yang belum dapat diakses melalui darat (transportasi darat) juga menghubungkan dengan provinsi Kalimantan Tengah terutama Kota Buntok.504 buah kendaraan pertahun. Hal ini mengingat biaya masih relatif murah. Palangkaraya dan Kapuas. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .Saka Kajang.Jelapat.595 31. Motor Tempel. Untuk lintas Batulicin – Tanjung Serdang yang menghubungkan daratan Kalimantan Selatan dengan Kabupaten Kotabaru di Pulau Laut. Lintas Alalak . LCT (Land Craft Tank).5%. Transportasi Sungai dan Penyeberangan Transportasi sungai kebanyakan terdapat di kota Banjarmasin terutama yang menggunakan sungai Barito dan Sungai Martapura. d.727 orang pertahun dan sebanyak 171. Dari data Dinas Perhubungan Kota 2007 terjadi peningkatan kepadatan lalu lintas angkutan sungai dan danau untuk angkutan penumpang sebesar 13.2015 Page 97 .730 7. Transportasi sungai ini terutama untuk melayani penumpang dan distribusi bahan pokok serta hasil bumi.Tamban.488 59.594 2009 7.791 58. Lintas Banjar Raya . Lintas penyeberangan di Kalimantan Selatan terdapat beberapa lintas penyeberangan yaitu : Lintas Batulicin .BAB II refresentatif karena tingkat pelayanan Pelabuhan Trisakti sangat dipengaruhi oleh kondisi alur Sungai Barito.856 124.852 44.64 : Tabel II.

perbankan di Kalimantan Selatan mencatat pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebagai imbas krisis finansial global.Bank Umum Konvensional 19 20 . Sektor yang banyak menyerap kredit perbankan khususnya KUK adalah sektor lainnya dan sektor perdagangan.3% dari akhir tahun 2008 sehingga mencapai Rp21. Sampai akhir tahun 2009.31%).8 milyar lebih. dan 5. 3 bank umum syariah.347 milyar.33 triliun atau tumbuh 13% (y-o-y). Dana masyarakat yang dihimpun perbankan Kalsel pada akhir tahun 2009 mencapai Rp18. Sedangkan penyaluran melalui bank perkreditan rakyat hanya sebesar 174.go. tabungan.24 triliun. jumlah jaringan bank di Kalimantan Selatan mencapai 19 bank umum konvensional. Namun demikian beberapa indikator masih mencatat pertumbuhan yang positif. 164 Kantor Cabang Pembantu.id/data-pokok/perbankan Ditinjau kinerjanya pada tahun 2009.Kantor Cabang 50 54 .Kantor Cabang Pembantu 56 146 .kalselprov. maupun deposito menunjukkan pertumbuhan yang positif yakni masing-masing sebesar 10. 4 unit usaha syariah serta didukung oleh 22 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) konvensional dan 1 BPR Syariah. Kredit perbankan tersebut terbesar disalurkan melalui bank umum pemerintah sebesar 8. Untuk kelancaran transaksi ekonomi. Tabel II. 410 ATM serta 30 kantor BPR.51% (y-o-y). 55 kantor kas.Unit Usaha Syariah 4 5 Jumlah Jaringan Kantor . aktivitas perbankan Kalimantan Selatan dudukung oleh 60 Kantor Cabang. 17% (y-o-y).86% (y-o-y).Kantor Pusat 1 1 .ATM 201 245 BPR Jumlah Bank Jumlah Kantor 2009 22 19 3 4 1 60 164 55 440 24 24 24 24 23 30 24 24 24 24 23 30 Sumber : http://www. Pertumbuhan asset ini terutama ditopang oleh pertumbuhan kredit dan DPK.Bank Umum Syariah 2 2 .2.24%) serta untuk investasi (27.65 Jaringan Kantor Bank Kalimantan Selatan Bank Umum 2007 2008 Jumlah Bank 21 22 . Volume usaha perbankan (asset) Kalsel tumbuh 13.2015 Page 98 . RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .915 milyar lebih dengan jumlah kredit pada akhir tahun sebesar 13. sisanya melalui bank swasta nasional dan bank asing dan campuran.Kantor Kas 42 44 . seluruh jenis rekening dalam bentuk giro.BAB II 2.234 milyar pada bulan Desember 2008.2 Fasiltas Bank dan Non-Bank Posisi dana simpanan perbankan di Kalimantan Selatan baik melalui Giro. kemudian konsumsi (30.4.45%). Deposito maupun Tabungan pada akhir tahun 2008 mencapai 15. Dana kredit di Kalimantan Selatan tersebut jika dirinci menurut penggunaannya pada akhir tahun 2008 sebagian besar digunakan untuk modal kerja (42.

Ditinjau terhadap kapasitas peningkatan daya listrik dari tahun 2005-2010 terus ditingkatkan rata-rata 17. 2. namun kondisi PDAM rata-rata di kabupaten/Kota cakupan pelayanan masih belum memadai yaitu rata-rata masih sekitar 47.42% (y-o-y). akan tetapi peningkatan ini tidak seimbang dengan tingkat kebutuhan listrik bagi masyarakat pengguna seperti terlihat pada Tabel II. resiko kredit di tahun 2009 terjaga pada level yang aman yakni dengan rasio NPL sebesar 2.76%. 2.4 Fasilitas Listrik Sebagian besar kebutuhan tenaga listrik di Kalimantan Selatan dipenuhi oleh Perusahaan Umum Listrik Negara.2.3 Fasilitas Air Bersih Pelayanan penyediaan air minum tahun 2009 di Kalimantan Selatan secara umum masih belum optimal dan belum dapat menjangkau keseluruh wilayah permukiman baik di perkotaan maupun di wilayah perdesaan.BAB II Sementara itu dari sisi penyaluran kredit. Selain itu keterbatasan pasokan daya khususnya untuk memikul beban puncak serta kondisi alam yang tidak menentu mengakibatkan sering terjadi pemadaman listrik. Dengan perkembangan tersebut.2.4.81% (y-o-y) dan 30. fungsi intermediasi perbankan yang dicerminkan oleh rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) pada tahun 2009 menunjukkan peningkatan yaitu dari 74% di tahun 2008 menjadi 75. seperti air sungai.4. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Pelayanan air minum di daerah perdesaan sebagian besar belum dilayani oleh sistem perpipaan dan masih memanfaatkan sumber-sumber air perairan umum.66. pertumbuhan kredit ini terutama ditopang oleh kredit konsumsi dan kredit investasi yang tumbuh cukup tinggi yakni sebesar 24. Sementara itu. Untuk mencapai target Millenium Development Goal (MDG) terhadap Penyediaan Air minum dan Sanitasi yaitu mengurangi separuh dari jumlah masyarakat yang belum memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi yang berkelanjutan pada tahun 2015 maka penyebaran pelayanan terhadap air bersih/minum ini perlu ditingkatkan.75 %.14% lebih rendah dari rasio NPL pada akhir tahun 2008 yang mencapai 4. danau dan berasal dari sumur dangkal.2015 Page 99 . pada akhir Desember 2009 jumlah kredit yang disalurkan mencapai Rp13.7%. Pelayanan air minum di perkotaan sebagaian besar dilayani oleh Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM).50 %.95 triliun atau tumbuh 16% (y-o-y). Kondisi pembangkit listrik di Kalimantan saat ini relatif sudah tua. berkat kerja keras semua pihak yang berwenang. Cakupan pelayanan air minum di daerah perdesaan masih sangat kecil yaitu baru dapat melayani sekitar 43% dari penduduk perdesaan.

2008 1.60 2006 250.d.00 310.00 303.50 371.51 2009 318. PLN (Persero) Wilayah KalSelTeng.51 Sumber : PT.00 246.67 : Tabel II. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .66 Daya Mampu Listrik dan Beban Puncak di Kalsel Tahun 2005-2010 Kegiatan Daya Mampu Listrik (MW) Beban Puncak (MW) 2005 250.2015 Page 100 . sehingga perlu untuk penambahan pembangkit listrik.31 Sumber : PT.97 2010 457. A.816 147 1. PLN (Persero) Wilayah KalSelTeng.928 1.16 Kapasitas Pemakaian Daya Listrik Ditinjau terhadap sebaran pelayanan fasilitas listrik perlu ditingkatkan walaupun rasio desa terlayani semakin membaik setiap tahunnya seperti terlihat pada Tabel II. 2010 Gambar II.55 2007 250.880 Ratio (%) Desa Berlistrik 87.73 2009 1.00 239. 2009 TAHUN Data Kelistrikan 2006 2007 Desa Berlistrik 1. dalam rangka mengatasi krisis listrik didaerah ini. C. B.92 2008 250. 2010 Mengingat Kebutuhan listrik terus meningkat sementara kemampuan PLN terbatas.783 Desa Belum Berlistrik 168 97 Jumlah 2.08 91 No.958 91.00 262.67 Rasio Desa Berlistrik Di Kalsel 2006 s.BAB II Tabel II.796 162 1.096 1.963 92.

Kab. Kantor pelayanan pos tersebut dibedakan atas kantor pos besar/umum.90. Tanah Laut (pelaihari) dan Kintap. yaitu 7 surat kabar harian (SKH).Rp.68 Penerimaaan Retribusi Izin Radio Amatir 2005 s/d 2009 No 1 2 3 4 5 Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 Target Rp.930.50. Kab.Rp.000. Pemanfaatan telekomunikasi juga menunjang Kerja Tim dalam koordinasi pengamanan Perda No. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .59 159.000.69.000. kantor pos pembantu dan kantor pos.72. 22 unit layanan pos.56. Rp.025.Rp.000. 696 titik layanan.28 175. Sedangkan Radio swasta dan RSPD di Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 28 Radio.000.66 Sumber: Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Prov.4.34 221.662. dan 1105 fasilitas pos lainnya. 9 tabloid mingguan.59. Data dari Kantor Pos dan Giro Daerah IX Banjarmasin mencatat dari lima unit kantor pelayanan pos pada tahun 2008 yaitu di Amuntai. diperlukan prasarana komunikasi yang handal seperti stasion Radio (Reapeter) yang dibangun dii 3 titik yaitu Kota Banjarmasin. 3 tahun 2008 yang melarang penggunanan jalan Negara untuk mengangkut hasil tambang dan kebun.500.617. HSS. Rp. Banjarmasin. 68 unit pos bergerak.Rp. Berikut data penerimaan retribusi izin radio amatir dari tahun 2005 s. Sarana komunikasi yang digunakan di Kalimantan Selatan didominasi oleh telepon kabel dan wireless serta telepon selular selain itu menggunakan SSB maupun internet.000.119.d. kantor pos tambahan.000.Rp.87. Banjarbaru. 14 surat kabar mingguan (SKM). 3 tabloid bulanan dan 2 majalah.5 Fasilitas Telematika Pemanfaatan telekomunikasi di Kalimantan Selatan dari tahun ke tahun terjadi kenaikan dengan banyaknya peserta yang berminat untuk mengikuti ujian amatir radio ( UAR ) baik yang dilaksanakan pada tingkat provinsi hal ini juga berdampak terhadap meningkatnya retribusi yang diterima.2.325.- Persen 62.BAB II 2.153.2015 Page 101 .Rp.500.45 164.110.000.000. Kalsel Keberadaan industri pers di Kalimantan Selatan pada tahun 2008 tercatat ada 35 penerbit.375.- Realisasi Rp. Kandangann dan Kotabaru dengan 156 kelompok kantor pos.500.792.975. 2009: Tabel II. Berkenaan dengan semakin meningkatnya permintaan akan jasa pos di Propinsi Kalimantan Selatan maka di setiap kabupaten/kota tersedia beberapa kantor pelayanan pos.

Loket tersedia Buah 44 34 0 32 0 . RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .69 Jumlah Alat Produksi PT Pos Rayon Kalimantan Selatan Tahun 2008 KANTOR Uraian Satuan Amuntai B. pada 2004 sampai dengan tahun 2008 jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Provinsi Kalimantan Selatan terus mengalami kenaikan.BAB II Tabel II.Masin Kandngan K.Baru Kelompok Kantor unit 33 27 54 19 23 Unit 19 15 7 13 14 Pos Bergerak Trayek 69 37 20 33 20 Terminal 75 54 23 78 76 Unit Layanan Pos buah 3 14 2 3 Jumlah Titik buah 113 104 179 143 157 Layanan Fasilitas Pos : .6 Fasilitas Restoran dan Penginapan Fasilitas restoran dan penginapan sangat berkenaan dengan tingkat wisatawan yang datang.2.Loket terpakai Buah 27 31 0 14 15 Jangkauan Pelayanan Buah Kecamatan Layanan lokasi Buah transmigrasi Jangkauan Pelayanan Kel/Desa Jumlah desa Buah Jumlah jangkauan Buah % Jumlah 156 68 179 306 22 696 271 229 220 188 110 87 32 11 944 944 100 52 21 198 198 52.Bis Surat Buah 93 0 0 48 47 Terpasang .kotak pos sewa Buah 78 0 0 46 105 -Tromolpos Buah 10 0 0 0 210 .710 orang dan 25. toko cinderamata 198 buah dan biro perjalanan wisata 162 buah yang tersebar diseluruh daerah di Provinsi Kalimantan Selatan (Sumber : Mata Banua. disusul dari daerah Kalimantan Tengah dan Jawa Timur masing-masing sebesar 45.2015 Page 102 .kotak pos Buah 0 0 0 141 130 . Dari data yang tercatat hingga tahun 2009 terdapat hotel berbintang sebanyak 20 buah dan hotel melati 178 buah dengan tingkat pertumbuhan jumlah kamar hotel mencapai 20%.4. Senin 23 Agustus 2010).834 orang. Begitu juga dengan kunjungan wisatawan nusantara ke Provinsi Kalimantan Selatan selalu mengalami kenaikan.54 2.66 0 0 576 576 100 19 7 239 239 67. Selain itu juga banyaknya restoran/rumah makan sebanyak 316 buah. Pada Tahun 2008 wisatawan nusantara dari DKI Jakarta mencapai 179. Kebanyakan wisatawan mancanegara yang berkunjung tersebut berasal dari negara-negara di Benua Asia dan Eropa.32 23 8 314 314 100 126 47 2271 2271 88.Baru B. hal ini dikarenakan mulai stabilnya kondisi keamanan.587 orang.

3.3. Masalah PHK yang berlarut-larut dikarenakan ada perusahaan yang tidak dapat membayar pesangaon dan hak-hak karyawan lainnya.2. 4. Terkait dengan regulasi terhadap investasi.1 Keamanan dan Ketertiban Keamanan dan ketertiban dalam konteks investasi dapat dilihat dari . Perkembangan Investasi Perkembangan Investasi PMA dan PMDN 4 tahun terakhir. pemerintah provinsi Kalimantan Selatan memiliki berbagai produk hukum untuk mendukung hal ini. atau terjadi chaos akibat peristiwa politik tertentu. bagaimana kondisi keamanan Kalimantan Selatan dalam mendukung investasi dan keberadaan dunia usaha. 1). Salah satunya adalah dengan diterbitkannya produk hukum yang menjdai dasar bagi terbentuknya Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) sebagai institusi yang secara khusus mengurusi investasi di Kalimantan Selatan.BAB II 2.4. Disisi RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . seperti chaos pasca Pilkada seperti di daerah lain. serta 3). 2.243%. Jumlah PHK yang banyak terjadi dalam 5 tahun belakangan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan industri di sektor Kehutanan. Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhan yang berbeda jauh setiap tahunnya. sejauhmana regulasi di provinsi Kalimantan Selatan dapat menjamin kepastian investasi. walau kuantitasnya tidak terlalu besar. Sementara berbagai problem yang dihadapi dalam menjamin keamanan dan ketertiban berinvestasi masih ada. Sengketa lahan juga seringkali terjadi antara tanah ulayat yang diklaim oleh masyarakat adat dengan tanah yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan tertentu. Sedangkan dari aspek kondisi Kalimantan Selatan. 2). 1) Masalah sengketa lahan akibat terjadinya tumpang tindih segel dan sertifikat tanah.2009 mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Pertumbuhan Penaman Modal Asing selalu negatif kecuali pada 2008 yang tumbuh positif bahkan melonjak tinggi sebesar 1. Sengketa ini biasanya terjadi atas tumpang tindih izin pertambangan yang dikeluarkan oleh Bupati dan/atau Walikota berupa Kuasa Pertambangan.3. demontrasi besar-besaran. 2006 . karena perusahaan tersebut telah dinyatak pailit oleh Peradilan yang berwenang. Investasi & SDM 2. seperti kerusuhan massal. Hal-hal tersebut adalah . Dalam 10 tahun belakangan belum ada data yang menunjukkan terjadi suatu peristiwa gangguan keamanan yang menyebabkan ketidak amanan berinvestasi.2015 Page 103 . khususnya industri pengolahan hasil hutan. sejauhmana penanganan berbagai aktivitas yang dapat menggangu investasi di Kalimantan Selatan. seringkali digelar aksi unjuk rasa oleh kelompok masyarakat tertentu yang hendak menuntut haknya.4. 3) Masalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). 4) Terkait dengan beberapa persoalan tersebut. 2) Masalah sengketa perizinan pertambangan.

000.500.321.000 250.123.2% pada 2006 kemudian tumbuh negatif dari 2007 sampai dengan 2009.2 1.090.6 .000..000.000.000.000 2006 2007 2008 2009 R ealis as i P MA R ealis as i P MDN Nilai Investasi Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN) yang menonjol selama tahun 2008 berdasarkan sektor adalah sektor Industri..000 350.. Tabel II.17 Nilai Investasi PMA dan PMDN di Kalimantan Selatan 2006 .000.70 Nilai dan Tingkat Pertumbuhan Investasi PMA dan PMDN di Kalsel Tahun 2006 – 2009 TAHUN 2006 2007 2008 PMA (US$) Realisasi 24.60.938. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .000.490 .161.naik sekitar 2000% lebih dibanding dengan nilai investasi tahun 2007 yang hanya sebesar Rp.meningkat sebesar 100 persen lebih dibanding tahun 2007 dengan nilai investasi sebesar Rp.243 .108.584.000 400.31.000 Sumber : BKPMD Prov Kalsel.000.445.155.994.000 100.2009 Data R ealis as i In ves tas i 450.700 266.28.890.650 191. Penanaman Modal Dalam Negeri sempat tumbuh positif 38.000.851.000.000..430.1.58.2 .8 PMA 38.320 310. 2010 (diolah kembali) Kecendrungan perkembangan PMA dan PMDN terlihat berbeda.000 50.BAB II lain.233.000) Realisasi 407.7. Hal ini dapat dilihat pada grafik kdibawah ini. Sektor Industri Makanan dan Minuman dengan nilai investasi Rp.000 76.2015 Axis Title Page 104 .59.000 150.-.870 23. khususnya sub sektor Industri Kertas dengan nilai investasi Rp.100.030 PMDN (Rp.000.000.2 .34. Gambar II.52. Sektor Jasa Lainnya mengalami penurunan nilai investasi yang cukup besar sebesar –23 persen lebih.000 300.2 % Pertumbuhan PMDN 2009 146.000 200.8 .500. Nilai PMDN cenderung untuk terus menurun sedangkan PMA cenderung meningkat walaupun sangat fluktuatif.

560. Makanan & Minuman 1.874 1.380 1.3.3 persen dan sektor Industri Makanan dan Minuman yang tumbuh sekitar 9.342 Sumber : BKPMD Prov Kalsel. Mineral Non Logam 37 27 27 Perhotelan 515 508 505 Pengangkutan Industri Lainnya Jasa Lainnya 1.71 Jumlah Tenaga Kerja Pada Proyek PMDN dan PMA Berdasarkan Sektor di Kalsel s/d Tahun 2008 Serapan Tenaga Kerja Proyek PMDN Sektor 2005 TK Indonesia 2006 2007 2008 35.3 9.003 1.793 JUMLAH 202.028 7.916 310 296 9.868 Industri Kertas 256 256 256 Industri Kimia 2.332 Industri Kayu 180.832 1.922 297 8.314 9.Serapan tenaga kerja pada Proyek PMDN berdasarkan sektor pertumbuhannya relatif kecil berkisar 0.155 17.469 15.405 73.6 0 0 0 7.405 1.960.926 73.5 (6) 16 2.1 0 (32) 13.1 % 2005 5 1 5 16 11 26 14 8 86 TK Asing 2006 4 1 5 39 11 23 10 8 101 2007 11 1 5 21 11 27 11 8 95 2008 5 1 5 21 11 27 11 8 89 Pertanian Tan. Potensi Investasi (SDA-Pertanian-Kehutanan dan Pertambangan) a.1 persen sedangkan pada Proyek PMA tumbuh cukup baik berkisar 26 persen.399 33.007 Pertambangan 535 578 442 Ind.093 74. Tabel II.458 14.140.978 Industri Barang Logam 75 75 86 Ind.4 0.163 Peternakan 309 300 309 Perikanan 1.359 9.140 ha dan diperkirakan sekitar 342.387 ha (Dinas Tanaman Pangan Kalsel.4. Kalimantan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .118 433 Kehutanan 10. Sumberdaya Lahan Pertanian Kalimantan Selatan mempunyai sumber daya lahan rawa seluas 1.189 86 27 507 1.613 7. Pada Proyek PMA sektor yang penyerapan tenaga kerjanya tinggi adalah sektor Jasa Lainnya yaitu sebesar 94 persen dan Sektor Perkebunan dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 81 persen dari tahun sebelumnya (2007) sebagaimana tabel dibawah. Pada Proyek PMDN sektor yang memberikan kontribusi cukup tinggi dalam penyerapan tenaga kerja adalah sektor Pertambangan yaitu sebesar 13.5 persen dibanding dengan tahun sebelumnya (2007).007 501 1. 2002.3.Pangan 143 143 143 Perkebunan 3.675. 2010 (diolah kembali) 2.442 -100 2.792 35.BAB II Untuk Penanaman Modal ( PMA ) berdasarkan sektor yang menonjol adalah sektor Jasa Lainnya dengan nilai investasi sebesar US$ 756..2015 Page 105 .066.naik sebesar 100 persen lebih dibanding tahun 2007 dengan nilai US$ 327.

kimia.389 117.118 ha.064 2. Perkembangan produksi komoditas tanaman pangan dan hortikultura disajikan pada Tabel II.08%.636.429 261.BAB II Selatan Dalam Angka.888 244. M.335 31.22 121.956.838 (1. 2003) sangat potensial untuk dikembangkan bagi kegiatan pertanian.904 23. Sementara komoditas kacang-kacangan dan buah-buahan mengalami penurunan.812 ton.222 (1. 2010 Peningkatan produksi beberapa komoditas tanaman pangan berkaitan dengan peningkatan produktivitas.060 3.38 113.322 119.868 1. ubi jalar dan sayuran terus mengalami peningkatan masing-masing meningkat rata-rata per tahun sebesar 4. dan sisanya seluas 199.054 55.143 25.835 48. perkebunan dan kehutanan. ubi jalar sebesar 29.957 95.045 262. Model budidaya di lahan rawa yang telah di kembangkan seperti surjan.26%.269 (58.954.992 ton gkg.283 100. M.812 (2.529 82.60% per tahun. produksi padi diperkirakan mencapai 1.19%) masih berupa lahan tidur yang belum digarap (Anonim. 2.14 264. Besarnya luasan lahan tidur tersebut disebabkan oleh adanya hambatan internal lahan rawa berupa sifat fisika.72 Produksi Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura di Kalimantan Selatan 2005-2009 NO.598 11.875 8. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR SAYURAN BUAH-BUAHAN 2005 1.476 1.548 1.625 ton. 3.14%. Meskipun demikian lahan rawa sangat potensial dikembangkan karena didukung oleh ketersediaan lahan yang luas. kacang tanah menurun rata-rata sebesar 1.548 16.625 5.48%.29% RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .38%.2015 Page 106 .759 18. ubi kayu.955 36.793 1.K. kacang hijau sebesar 1.138 2.16).082 2.11.750 77.415 Perk 2009 rata-rata * (%/tahun) 4.085 26. jagung. dan tata air yang kurang mendukung kegiatan usaha tani (Harun.13 3. 12.22%.158 304.956.284 58. ubikayu sebesar 121..87%.968 50.60) Keterangan: *) angka sementara/perkiraan Sumber : Dinas Pertanian TPH.897 10.298 57.840 1.992 27.14% dan sayuran 0. 27.838 ton.904 47. ketersediaan air melimpah dan teknologi pertanian yang cukup tersedia (Noor. kedelai sebesar 3.897 ton.953. ubi jalar dan sayuran dalam kurun waktu 20052009 masing-masing meningkat rata-rata 3. luas tanam dan luas panen (Gambar II. Pada tahun 2009.74) 1.48 1. kedelai.214 16.87) 15.466 Produksi (Ton) 2006 2007 2008 1. 2007). perikanan. 5.817 15. jagung.74% dan buahbuahan sebesar 2. sawah/tabukan.02 29. ubi kayu.72 Tabel II. Produktivitas padi. jagung sebesar 113. 2007). Pemanfaatan lahan rawa baru sekitar 143.24%. 2003).598. dan budidaya ikan sistem beje dan karamba (1) Potensi Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Produksi padi.968 ton dan sayuran sebesar 264.02% dan 8.166 1. keadaan topografi yang datar. agroforestri.

90 Perk 2009* rata-rata (%/tahun) 40.17 115. Perbandingan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .39 47.73 Produktivitas Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura di Kalimantan Selatan 2005-2009 NO.18 142. jagung sebesar 49.76 133. ubikayu sebesar 148.18 Produksi. 2010 Gambar II.00 ku/ha.73 107.05 11.17 62.69 ku/ha dan sayuran sebesar 48.80 57.BAB II per tahun. namun bila dibandingkan dengan tingkat produktivitas tanaman panganNasional. produktivitas padi diperkirakan mencapai 40.38 (0.83 12.87 10.20 8.70) 148. Produktivitas tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.70 149. ubi jalar sebesar 114.60 101.47 10.87 Keterangan : *) angka sementara/perkiraan Sumber: .08 49.32 136.79 30.63 38.16 3. Pada tahun 2009.52% dibanding rata-rata produktivitas Nasional. Dinas Pertanian TPH.26 11.50 170.78) 11.71 11.26 11.20 45.40 150.10 99. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR SAYURAN BUAH-BUAHAN 2005 34.73 12.24 114.57 (0.10 189.63 10.73 Tabel II.52 34.14 48.70 62.73 ku/ha. Produktivitas padi dan jagung masing-masing baru mencapai 76.29 215.62 11.69 3.20 10.03% dan 89.00 2.16 ku/ha gkg.24 10.40 0.99 146.11 47.50 11. Produktivitas.10 Produktivitas (Ku/Ha) 2006 2007 2008 35.40 ku/ha.41 11.34 11.97 0. pada umumnya produktivitas tanaman pangan Kalimantan Selatan masih dibawah produktivitas Nasional.38 38. Luas Tanam dan Luas Panen Padi di Kalimantan Selatan 2005/2009 Meskipun produktivitas beberapa komoditas tanaman pangan meningkat.2015 Page 107 .

560 2. luas panen padi diperkirakan mencapai 498.39 3.77% RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . ubi jalar seluas 2. kedelai. 1 2 3 4 5 6 7 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR 2005 479.12 87. 2.83 186.938 16.92%.786 1.417 7.69 Indeks (%) 80. kedelai. ubi kayu. jagung. jagung seluas 23.569 24.643 ha.417 (3. Sedangkan luas panen kacang tanah.23% dan 2.664 ha.841 1.84 79.99 95.75 Luas Tanam Komoditas Tanaman Pangan di Kalimantan Selatan 2005-2009 NO. kacang hijau dan buah-buahan masing-masing menurun rata-rata sebesar 1.73 11.938 ha.501 ha.23) 1.91 13.684 5.697 21.038 2.083 15.852 2. kedelai seluas 3. luas tanam padi diperkirakan mencapai 506. 5. Luas tanam tanaman pangan Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.97 10.04% per tahun.16 49. kedelai seluas 3.560 ha.32 Keterangan: *) angka sementara/perkiraan Sumber: Dinas Pertanian TPH.705 2. 13.17) 6.71 42.247 23. dan ubi jalar dalam kurun waktu 2005-2009 masing-masing meningkat rata-rata 1.35%.666 hadan sayuran seluas 10.38%.544 2.917 ha. Pada tahun 2009.19 95. Sedangkan luas tanam kacang tanah dan kacang hijau masing-masing menurun rata-rata sebesar 0. 6.47%. dan 4.32% per tahun. 3. 10.15%.70%.459 7.627 2.591 14.74 Perbandingan Produktivitas Tanaman Pangan Nasional dan Kalimantan Selatan 2009 No.546 1.174 14.664 4.306 520. 4.756 ha. 2.BAB II produktivitas tanaman pangan Kalimantan Selatan dan Nasional disajikan pada Tabel II.250 522. 16.669 ha.388 (0. ubikayu seluas 6. ubikayu seluas 8.39%.320 Perk 2009* rata-rata (%/tahun) 506.79 118. 9.69 40.841 ha.61 Keterangan: Produktivitas Padi dan Palawija (ARAM III 2009) Luas tanam padi.2015 Page 108 .75 Tabel II. ubi jalar dan sayuran dalam kurun waktu 2005-2009 masing-masing meningkat rata-rata 1.15 26.562 8. komoditas Padi Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Produktivitas (Ku/Ha) Nasional Kalsel 49.294 Luas Tanam (Ha) 2006 2007 2008 488.27 12.1 13.547 1. ubi jalar seluas 2.42 103. jagung.06% dan 7.182 2.296 1. 2010 Luas panen padi.017 2. ubi kayu. 1.38 148 114.582 ha. 3.34 110.74 Tabel II. 7. Pada tahun 2009.57 11.917 3. 0.91%.289 23.71% per tahun.04 2. jagung seluas 26.134 13.47 10.015 3.

90 -51.541 15.95% per tahun.157.59 13.501 7.595 2.19 31.643 1.57 -107.417 7.159.86 17.096 95 175.714.84 -12.502 50.23 Keterangan surplus surplus surplus minus surplus surplus surplus minus surplus minus minus surplus surplus minus surplus 2.87 13.13 50.756 9.319.59 2.012. gizi seimbang dan terjangkau oleh seluruh masyarakat.669.52 -18.16 16. ubi jalar.417 7.840 1.918.680 265.90 51.161 1.705. seperti padi.999. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 II. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Luas panen tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.672 505.77 Tabel II.71 12.427 Luas panen (Ha) 2006 2007 2008 462.846 507.307 (7. minyak sawit dan gula ketersediaan tergolong minus.978.50 690. Ketahanan pangan akan dicapai apabila terpenuhinya kebutuhan pangan yang cukup.09 50.326 4.525. seperti daging.301 Perk 2009* rata-rata (%/tahun) 498.036 47.806 3.093 31.994 13.836 97.767. telur dan ikan tergolong surplus.869 16.247.BAB II dan 7.319 17.76 Tabel II.100.600. sedangkan kedelai.591.482 6.578 20.642 1.35 3. sayuran.130.83 47.669 10.65 301. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR SAYURAN BUAH-BUAHAN 2005 459. kacang tanah.77) 8.14 14.626 5. ubi kayu.853 2.569 (1.92 2.399 1.563 (0. Ketersediaan beberapa komoditas bahan pangan nabati pada tahun 2009.975.139 1.948. dan buah-buahan tergolong surplus.666 2. Ketersediaan komoditas pangan hewani pada tahun 2009.73 Sumber: BKP Prov.559.28 68. Kal-Sel.042 22. beras.806 9.43 149.271.47) 1.21 62.235.911. 1.115 14.23 -207.089.260 13.96 1.053.050 8. 12 13 14 15 Pangan Nabati (Ton) Padi Beras Jagung Kedelai Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar Sayur-sayuran Buah-buahan Minyak Sawit Gula Pangan Hewani (Kg) Daging Telur Susu Ikan Tahun 2009 Ketersediaan Kebutuhan Perimbangan 854.691 2.28 196.767.716. sedangkan ketersediaan susu tergolong minus.503 8.62 124.76 Luas Tanam Komoditas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kalimantan Selatan 2005-2009 NO.645 139.97 136.517 1.894.06 10.241 20.95) Keterangan: *) angka sementara/perkiraan Sumber: Dinas Pertanian TPH.50 581.205 8.602 2.77 Ketersediaan Dan Kebutuhan Bahan Kalimantan Selatan Tahun 2009 Komoditi I.068.582 13.881 16.144.769.738.95 34.843 14.2015 Page 109 .123 2.116 1.570. 2010 Produksi tanaman pangan akan mendukung ketersediaan bahan pangan.68 18.766.03 2.978. Ketersediaan bahan pangan dan kebutuhan pangan Kalimantan Selatan pada tahun 2009 disajikan pada Tabel II.70 23.900 15. jagung.480.241 15.83 23.953 42.

jagung. kacang.59 13.77% dibandingkan surplus padi pada tahun 2008.90 -51.01 7 Ubi Jalar 5.03 104.139.247.77 157.83 Persentase Thd 2008 105.58 11 Gula -50.50 10 Minyak Sawit -18.57 -107. Padi 813.72 5 Kacang Tanah 13. Kal-Sel.480.729.48 113. dan diperlukan pergudangan yang refresentatif untuk menampung kelebihan bahan pangan sehingga kualitas tetap terjaga.14 14.089.78 Tabel II.130.09 3 Jagung -59. ubi kayu.353.588.36 266.78 Perbandingan Perimbangan Ketersediaan Pangan Kalimantan Selatan Tahun 2008 dan 2009 Komoditi Perimbangan (Ton) Tahun 2008 Tahun 2009 854.600. surplus padi dan beras mengalami peningkatan masing-masing sebesar 105. Perbandingan perimbangan ketersediaan bahan pangan Kalimantan Selatan tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel II.741.42 9 Buah-buahan 173. Sehingga dengan hasil usaha tani demikian produk pertanian Kalimantan Selatan kalau tidak segera dibenahi akan sulit bersaing pada era perdagangan bebas sekarang ini.696. jagung. beras. ubi jalar dan buah-buahan mengalami surplus meningkat. ubi kayu.669. tentunya persaingan perdagangan beras dari kompetitor-kompetitor produsen beras seperti Thailand dan Vietnam akan semakin tidak sehat dan semakin memperpuruk kondisi kesejahteraan petani padi kita.22 6 Ubi Kayu 111. karena mutu yang belum memenuhi standar dan belum adanya jaminan suplai / produksi yang kontinyu.94 8 Sayur-sayuran -108. kacang tanah.767.97 136.997. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .92 122. Ketersediaan padi.2015 Page 110 .262.144.87 2 Beras 555.50 581.51 Ket I.52 -18.03% dan 104.545.BAB II Padi atau beras merupakan bahan pangan pokok.50 4 Kedelai -12.82 100.28 196.84 -12.247.978.86 93. Rendahnya produktivitas tersebut sangat disayangkan karena apabila komoditas beras menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam katalog AFTA ASEAN yang kena kebijakan penghapusan tarif impor beras. ubi jalar dan buah-buahan membutuhkan suatu kebijakan untuk menghindari jatuhnya harga bahan pangan yang mengakibatkan petani rugi. Pangan Nabati 1.51 101.32 101.929.11 98. Pada tahun 2009. Produk tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan sebagian besar belum mempunyai daya saing yang kuat.559. 2010 Surplus Meningkat Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Menurun Surplus Meningkat Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Menurun Surplus Meningkat Minus Meningkat Minus Meningkat Surplus bahan pangan seperti padi/beras. Kalimantan selatan potensial mempertahankan swasembada pangan terutama beras sehingga dapat menjadi lumbung beras atau penyangga beras nasional.319.77 Sumber : BKP Prov. Dengan demikian.95 34.

meliputi Perkebuan Rakyat (PR) 308.937 243.623 1. yaitu ratarata 6.085 11.03 2006 274.878 7.o98 ton/ha.64 2009* 271.666 507.410 253.764 9.34%).46 2007 289.36 2008 304.608 13.878 ton/ha.80 Tabel II.410 250.820 14. Perkembangan produksi komoditas tanaman perkebunan Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.293 17.744 222.29 Rata-rata pertumbuhan produksi per tahun (1999-2009) 22.951 215.282 573.130 530. 568.482 581.476 376.49 No 1 2 3 4 5 Keterangan: *) angka sementara/perkiraan PR = Perkebunan Rakyat PBN = Perkebunan Besar Negara PBS = Perkebunan Besar Swasta Sumber : Dinas Perkebunan Prov.482 Ha (43. 2010*) angka sementara/perkiraan PR = Perkebunan Rakyat PBN = Perkebunan Besar Negara PBS = Perkebunan Besar Swasta No 1 2 3 4 5 Luas perkebunan Kalimantan selatan mencapai 581.33 Rata-rata pertumbuhan luas kebun per tahun 6. PBN dan PBS pada tahun 2005 sempat menurun 6. Perkebunan Besar Negara (PBN) 19. 635.05 2006 188.296 19.29 2009* 308.402 0.539 -6.79 Produksi Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005-2009 Pola Pengusahaan Produksi Tahun PR PBN PBS Ton/Thn Pertmb % 2005 163. tetapi pada tahun 2006-2009 produksi meningkat berturut-turut sebesar 530.BAB II (2) Potensi Perkebunan Produksi tanaman perkebunan dengan pola pengusahaan PR.085 ton/ha dan 694. Secara keseluruhan pertumbuhan luas kebun dari tahun 2005–2009 mengalami peningkatan.731 Ha (53.623 Ha. Kalsel.001 635.731 19.113 333.08 2008 245.126 530.738 432.08%).74 Sumber : Dinas Perkebunan Prov.352 9.576 155.05% dari tahun sebelumnya dengan produksi 417.334 568.539 ton/ha.76 dan Gambar II.910 17.088 15.938 694.79 Tabel II.859 11.685 349.592 ton/ha. Perkembangan luas areal perkebunan disajikan pada Tabel II.070 4.80 Luas Areal Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005-2009 Pola Pengusahaan Luas Tahun PR PBN PBS Ha Pertmb% 2005 261.58%).410 Ha (3. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .340 407.08 2007 207.592 27. dan Perkebunan Besar Swasta 253. Kalsel.098 9.2015 Page 111 ..988 8.49% per tahun.839 417.196 18.

354.304 790 2. Komoditi Karet Kelapa Dalam Kelapa Hibrida Kelapa Sawit 2005 Luas (Ha) 171.89 3.862 332.28 1.587.661 1.004.983.832 481 1. 9.04 2007 Luas (Ha) 192.312.61 (TBS) 74.75 376.057 2.974 Produksi (ton) 121.61 6. kelapa hibrida dan kelapa sawit disajikan pada Gambar II.990 214.41 30.79 3.12 6.071.00 5.145.07 71.81 Tabel II.83 30.696.018.77 Memperlihatkan perkembangan luas dan produksi beberapa komoditas perkebunan dalam kurun waktu 2005-2008.00 7.701 1. 00 (inti sawit) 2.46 2008 Luas (Ha) 206.252.89 337.778.981.002.287.136.568.799 48.123. 8.774.00 586.142 47.768.00 2.348 4.461 356.901.41 7.630.120 2.815.30 341.00 2. Kopi Cengkeh Lada Kayu Manis Kemiri Pinang Kakao Kapuk Jambu Mente Aren Jahe Sagu Purun 7.00 358. 12.313 Produksi (ton) 101.81 1.00 1. kelapa sawit.30 2.75 397.870 2.48 669.40 381.780 546 1. 2. 16. 10.619 750 - 2.526.47 142.288.898 448 219 2.18 dan Gambar II. kayu manis. lada.77 75.64 5.39 1.79 97.928 1.34 58.BAB II Gambar II. Tabel II. Kalsel.17 3. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .053 2.666.77 1.936 2.540 Produksi (ton) 105.720.994 1.91 460.71 2006 Luas (Ha) 183.585.47 490.08 9.199 47.00 4.024 5. 3.67 1.92 1.06 30.545 672.01 (TBS) 80.32 584.68 317. kakao dan sagu.451 307.08 8.13 54.85 3.549.277. kelapa dalam.808. cengkeh.967 Produksi (ton) 113. 14.57 71.874 499 991 514 - 2.656.41 584.707.00 2. 15.64 631.62 58. 178.312.190.02 (TBS) 67.01 (CPO) 5.152.704.284 4. 17.00 1.77 (CPO) 257.32 (CPO) 4.72 669.602.354 4.497.581.896 1.42 116.81 Luas Areal Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005 – 2008 No 1.00 251.50 1.79 3.00 475.00 4.899 47.119. 13.532. 6.869. 7. kelapa.2015 Page 112 .78 2.14 2.37 52.267.278.79 98.704 586 Sumber Dinas Perkebunan Prov. kopi.18 31. 11.233 5.09 (CPO) 87.36 338.78 243.63 100.67 71.676 495 234 2.288.626 1.99 3.00 512.229.152 358 6.783 1.19 Luas Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005 -2009 Komoditas perkebunan Kalimantan Selatan antara lain adalah karet.92 1.810.82 252. Produksi dan luas areal perkebunan karet.26 494.369.

Peningkatan produksi ini sudah seharusnya terjadi terkait dengan peningkatan luas lahan tiap tahunnya. peningkatan rata-rata komoditi karet adalah 110. 3.49 ton per tahun. Terjadi peningkatan produksi pada komoditi karet. komoditas yang merupakan andalan Provinsi Kalimantan Selatan adalah karet dan kelapa sawit.20 Produksi Beberapa Komoditas Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005-2008 Gambar II.23% dan 7. Gambar II.608. kelapa dalam dan kelapa sawit. Jika dibandingkan produksi tahun 2007 dengan tahun 2008 terjadi peningkatan pada masing-masing 7.08%.032 Ha pada tahun 2009 yang seluruhnya diusahakan oleh perkebunan rakyat.43%. Kelapa dalam cukup banyak diusahakan oleh rakyat dengan luas kebun kelapa dalam mencapai 48. Hasil analisis menunjukan bahwa ada trend peningkatan produksi untuk komoditas utama perkebunan Kalimantan Selatan seperti karet.556.2015 Page 113 . kelapa dalam 30. terjadi penurunan produksi yang sangat menyolok pada komoditi kelapa hibrida pada tahun 2008. kelapa sawit dan kelapa dalam merupakan komoditas yang dominan yang dikembangkan. komoditas karet.38%. Namun.43%.02 ton per tahun. kelapa sawit dan kelapa dalam.21 Luas Areal Beberapa Komoditas Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005 -2008 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dan kelapa sawit 302. hal ini dikarenakan oleh menurunnya luas lahan penanaman kelapa hibrida sebanyak 3.BAB II Dari seluruh komoditas perkebunan yang ada.12 ton per tahun. jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2007 pada tahun 2008 terjadi penurunan sampai 59.760.

Permintaan kelapa sawit dunia terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan konsumen minyak kelapa sawit. Pertumbuhan ternak sapi perah juga negatif karena masyarakat belum terampil dalam memeliharanya.82 dan Gambar II. 2002) pangsa konsumsi kelapa sawit dunia mencapai 19.5 juta ton pada tahun 2016 (Outlook for Elastomer 2008/2009).74%.603 KK Kalsel atau 45. Sumberdaya lahan perkebunan masih luas dan memungkinkan untuk pengembangan tanaman lebih luas lagi. karena selain ketersediaan yang cukup besar dan mutu hasil olahan dari industri telah sesuai SNI juga berdasarkan hasil kajian bisnis karet dan kelapa sawit internasional menunjukan adanya trend konsumsi yang meningkat pada komoditas karet dan kelapa sawit. Hal ini berarti peluang bagi Indonesia termasuk Kalsel untuk meningkatkan produksi karet dan kelapa sawit melalui program pengembangan masih cukup besar. Tercatat tahun 2002 (Oil World. Pada umumnya ternakternak yang berkembang secara alami dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah yang mengalami pertumbuhan negatif seperti kuda dan babi.22 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .1 juta ton akan meningkat menjadi 22. karena hasil analisis data menunjukkan mutu karet olahan rakyat di Kalimantan Selatan masih perlu ditingkatkan. (3) Potensi Peternakan Perkembangan populasi ternak di Kalimantan Selatan pada empat tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan rata-rata 2.057 KK dari 900. Demikian pula kelapa sawit yang produk utamanya CPO dan mempunyai multi fungsi dalam menghasilkan derivative produk. permintaan terhadap komoditi olahan karet tidak didukung oleh hasil olahan rakyat.5 juta ton pada 2012-2016. Namun.20% dari jumlah seluruh KK di Kalimantan Selatan. namun karena kondisi tanaman karet Kalimantan Selatan sudah tua/rusak yang mencapai 30%.BAB II Jumlah rumah tangga (2008) yang melakukan usaha tani perkebunan : 407. Komoditas andalan Kalsel (karet dan kelapa sawit) merupakan komoditas yang prospektif. sehingga perlu dilakukan peremajaan tanaman perkebunan dan peningkatan produktivitas dan antisipasi terhadap serangan hama pada tanaman produktif.5 juta ton pada tahun 2011 menjadi 21.2015 Page 114 . Perkembangan jumlah populasi ternak di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II. Permintaan karet diprediksi terus meningkat. dari 16. dan klon yang digunakan 85% masih klon GT I yg sdh mengalami degenerative dan pernah terserang jamur akar putih (JAP) dan kering alur sadap (KAS) pada tanaman karet produktif.

633 218.435 43. yaitu sebesar 13.BAB II Tabel II.383.436 7.494 3.984.052 Ayam Ras 9 Petelur 1.53%.82 Jumlah Populasi Ternak di Kalimantan Selatan 2006 – 2009 Tahun 2006 2007 2008 2009* No.002 3.462 3.771.128 21.49 (7.037 210.55 1.79 13. Pertumbuhan terbesar terjadi pada kuda.74 Gambar II.624. 2010*)angka sementara Pertumbuhan (%) 4.176 4.534. Produksi daging ayam ras petelur juga cukup tinggi karena adanya penggantian ayam ras petelur yang sudah memasuki ternak masa afkir.721 2.581 7 Babi 7.914.916 2.65 6.216.83 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .00 (9.487.919 4.983.603 4 Kuda 752 737 624 601 5 Kambing 107.78) 9.00) 4.74) 2.240 123.137.714 8 Ayam Buras 9.03 (7.158.971 44. Pertumbuhan terbesar pada ternak kuda karena kondisi kuda sekarang sudah tua dan masyarakat sudah mulai tidak memanfaatkan lagi sebagai tenaga kerja sehingga banyak terjadi pemotongan.733 118.813 28.47%.873 111.920 202.202 12.065 2 Sapi Perah 133 135 124 96 3 Kerbau 41.441 11 Itik 3. Kalsel.452 Rata-rata Pertumbuhan Sumber : Dinas Peternakan Prov.394 Ayam 10 Ras`Pedaging 20.659.860. Jenis Ternak (ekor) 1 Sapi Potong 193.258 6 Domba 374 3.12 2.911. Perkembangan produksi daging Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.791 5.472 5. yaitu 262.274 12.508 19.09 13.2015 Page 115 .232 2.096 43.020 11.665.22 Populasi Ternak Besar di Kalimantan Selatan 2004-2009 Produksi daging selama empat tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.643.

116 6.318 3 Itik 15.84 persen hal ini karena ayam ras petelur dikelola oleh swasta dengan sistem pemeliharaan yang intensif.819 1. Pertumbuhan produksi telur dari unggas lain yang diusahakan peternak kecil juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.124 Pertumbuhan (%) 4.613.908 181.945.016.823. Pertumbuhan produksi telur di Kalimantan selatan disajikan pada Tabel II.585 Rata-rata Pertumbuhan Keterangan: *) angka sementara Sumber : Dinas Peternakan Prov.024.633 Ayam 9 Ras`Pedaging 21.22 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .689.567.080 1.742. sedangkan ayam buras hanya 15.71 persen).892.755.65 17.659 34.56 (19.898 16.877.887 418.13 19.393 5.092 5.58 13.970 Rata-rata Pertumbuhan Keterangan: *) Angka sementara Sumber Dinas Peternakan Prov.84 Produksi Telur di Kalimantan Selatan 2006-2009 Tahun 2006 2007 2008 (kg) 3.12) 90. Kalsel.39) (5.197 37.949.120 5.63 14. Hal ini diduga akibat peternak sudah berhasil menanggulangi penyakit ND (New Castle Diseases) yang selalu menyerang setiap musim pancaroba.933 4.692 74.84 Tabel II.179.793 Ayam Buras Ayam Ras 2 Petelur 13.142 2.693 1.605 14.335 25.723 286.394 117.303 640.552.22 persen.077 No 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Ternak 2009* 6.53 17.2015 Page 116 .216 1.230.468 42.582.936 18.303 1.162.242 13. yaitu sebesar 19.96 262.424 4.917 26.71 20.562.651 317.47 Sapi Potong Kerbau Kuda Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Ras 8 Petelur 243.175 969.649 4.473 866.200 4. 2010 Pertumbuh an (%) 15. 1 Jenis Ternak 2009* 5.052 10 Itik 1.128.77 7.738 26.461.185.296.742 16.196. Pertumbuhan terbesar terjadi pada ayam ras petelur (37.750.318 906.884 91.741 34.484.04 16.475.649. 2010 Produksi telur selama empat tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.BAB II Tabel II.157.796.942 454.679 17.84 19. Kalsel.494.651 No.83 Produksi Daging di Kalimantan Selatan 2006-2009 Tahun 2006 2007 2008 (kg) 6.717 4.692 1.646 1.310 28.597.

2010 (4) Potensi Perikanan Potensi Kawasan Perikanan Kalimantan Selatan meliputi garis pantai sepanjang 1.330 km. Kalsel.173.000 Ha 2.1 Sumber : Dinas Perikanan Prov. Hal ini karena produksi yang semakin turun. kolam seluas 2.86 Potensi Kawasan Perikanan Di Kalimantan Selatan Uraian Garis Pantai Perairan Umum Kolam Tambak Sawah Potensi Kalsel 1.000.9 0.01 persen.672 309.000 Ha 6. yaitu sebesar -21.85 Tabel II. perairan umum seluas 1.ha.139.000 Ha Persentase 1.4 4. Produksi turun karena jumlah sapi perah yang laktasi berkurang dan keterampilan peternak dalam memelihara masih kurang.000 Ha 1.304.734 129.000. tahun 2008 meningkat 4. 2010 Produksi dari sektor perikanan cukup berfluktuasi.3 0.224.51) Sumber: Dinas Peternakan Prov.5 4.400 Ha 53.181 Km 20.752 ha.BAB II Produksi susu selama lima tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan yang negatif. 1 Pertumbuhan (%) (21.382 ha dan sawah 3.382 Ha 3.51%. Produksi susu segar di kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II. Produksi perikanan di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.776 Ha 526.4 ton kemudian mengalami penurunan sebesar 6.2015 Page 117 .400 ha.752 Ha Potensi Nasional 95.87 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dari periode tahun 2006 sampai tahun 2009.330 Km 1.451 No. produksi tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu mencapai 186.85 Produksi Susu Segar di Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009 Tahun 2006 2007 2008 2009 Jenis Ternak (liter) Sapi Perah 292. Kalsel.000. Potensi yang dimiliki dibanding potensi nasional disajikan pada Tabel II.86 Tabel II.17 persen.557 185. tambak seluas 53.44 persen dan tahun 2009 kembali mengalami penurunan 1.

perikanan.108.0 5. Barito Hilir. 8.681.7 4.664. 5.976. Batang Alai.3 3.918. Amandit.064. Tapin.0 5. Tabalong Kiri.6 3. seperti kebutuhan akan air besih. Riam Kiwa.9 49.210 231 586 5 180. 6.562.078 ha.713. dan Riam Kanan. Pengairan teknis/irigasi Riam Kanan sebagai SDA buatan bagi banyak kepentingan pengguna atau pemakai air seperti bahan baku air minum.3 3.727. perikanan (keramba dan kolam ikan) bergantung pada pasokan air sungai tersebut.3 174.174 11. 9.17 2008 106.304.027. maka Sub DAS Riam Kanan ditetapkan sebagai Catchment Area super Prioritas. Martapura.9 53. perikanan. Barito Tengah. Danau Panggang.494.735.7 186. 2.540. Kalsel.951.Laut Perairan Umum Budidaya Air Payau Budidaya Air Tawar Budidaya Keramba Budidaya Sawah Budidaya Jaring Apung Budidaya Net Tancap JUMLAH Perkembangan (%) Sumber : Dinas Perikanan Prov.2 505. Bahalayung. 4. kritis 500. 3.148.420. Sampanahan.7 263.4 2007 98.815.87 Potensi Kawasan Perikanan di Kalimantan Selatan 2006-2009 NO 1.3 5. JENIS USAHA Perikanan Laut Budidaya Per.905 ha akibat buruknya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .112 ha. mengalir ratusan sungai yang menuju ke segala penjuru wilayah Kalimantan Selatan.143. Sumberdaya Perairan Keberadaan sungai di Kalimantan Selatan terhimpun dalam tiga satuan wilayah sungai yaitu wilayah sungai (WS) Barito.5 5.2015 Page 118 .0 7.269 b. di mana sebagian besar kebutuhan masyarakat sangat bergantung.9 265. Dari kawasan Pegunungan Meratus. transportasi air. 2010 2006 121. 7. Balangan. Noor sejak 1972 dan bahan baku pembuatan air mineral kemasan.5 3. Pangeran M.730 -1.573. Kondisi DAS dan beberapa Sub-DAS tersebut saat ini berada dalam keadaan agak kritis seluas 1. Oleh karena fungsinya yang sangat vital. Kawasan sub DAS Riam Kanan selain dimanfaatkan untuk pemukiman 13 desa.552.0 8.2 113.7 6.44 3.1 4. WS Cengal Batulicin dan WS Pulau Laut yang mempunyai beberapa sub-wilayah sungai antara lain Luang. Tabalong Kanan.0 49. dan pertanian.2 596. kegiatan pertanian.6 6.622.01 46.7 -6. juga dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Ir. sangat kritis 55.8 2.654 2009 102.2 182.3 423.BAB II Tabel II.6 4.

29 406. antara lain rotan.77 327. Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Selatan.234. Hutan Tanaman Industri (HTI) sebesar 383.048. Luas kawasan hutan berdasarkan penggunaannya pada tahun 2008 diperuntukkan menjadi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) sekarang IUPHHK (Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu) seluas 291.Ditjen Bina Produksi Kehutanan dalam Statistik kehutanan 2010 Selain kayu bulat hutan juga memproduksi hasil hutan non kayu.38 2009 37.55 84. Sumberdaya Hutan Data terbaru luas hutan di Kalimantan Selatan didasarkan SK Menhut No. pertambangan yang tidak ramah lingkungan dan rendahnya keberhasilan rehabilitasi.820. dan pertambangan sebesar 658.6841 ha .441.38 396. reklamasi dan restorasi lahan terdegradasi. 435/Menhut-II/2009 seluas 1.86 33. hutan produksi terbatas (126.478.907. madu.46 Penghasil HPH IPK HPHTI IPKTM Jumlah Sumber : Data dan Fakta Pembangunan Kehutanan di Kalimantan Selatan. yaitu kawasan suaka alam atau kawasan pelestarian alam (213.24 2008 23. hutan lindung (526.786. Banjarbaru.12 20.89 74.88 Tabel II.51 162.2015 Page 119 .175.37 11.64 1. untuk lebih jelas perkembangan jumlah produksi kayu bulat di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II. dan sarang burung.93 2006 5.72 2007 26.033. HPHTI (Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri).15 563.863. Kawasan hutan tersebut dibagi berdasarkan fungsinya.587. dan Ijin Pemungutan Kayu Tanaman Masyarakat (IPKTM).952. IPK (Ijin Pemungutan Kayu).38 28.745.12 155.88 Jumlah Produksi Kayu Bulat (Dalam Meter Kubik) Kalimantan Selatan 2002-2009 Tahun 2005 46.112.779.285 ha).317.956.424). Kekritisan DAS berarti kekeritisan sumber daya air baik secara kualitas maupun kuantitasnya.425 ha).248.780 ha.63 6.68 276.302.290. c.967 ha. Hak Guna Usaha (HGU) seluas 84. dan hutan lindung (151.481.87 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .537.461. Produksi kayu bulat yang berasal dari hutan ada kecenderungan menurun dari tahun ke tahun Produksi kayu bulat dihasilkan oleh HPH/IUPHHK.982 ha.44 244.42 329.83 120. sirap.BAB II pengelolaan lingkungan seperti timber extraction (penambangan kayu). hutan produksi(762.188 ha).743 ha.85 25.933.40. H.85 123.698.994.660 ha). Data produksi hasil hutan non kayu disajikan dalam Tabel II.

Luas areal yang direhabilitasi setiap tahun berdasarkan jenis kegiatan masing-masing disajikan pada Tabel II.587 ha.090 7.065 75 2007 4.995 12.00 36. Tabel II. hutan menjadi kritis.084 ha.931 4.766 8.237 76.200 2.045 217.919 372.140.00 1. Tabel II.60 1650 3.776 1.41 Produksi kayu bulat yang menurun diyakini karena pengelolaan hutan yang tidak berkelanjutan.462 9.297 13. Realisasi rehabilitasi hutan dari tahun ke tahun cenderung menurun padahal luas lahan kritis semakin meningkat.712 2. Berdasarkan data tersebut.438 65.275 2.144.745 44.000 121.268 71. Akibatnya.468 780 605.215 13.BAB II Tabel II. Sementara lahan kritis pada tahun 2003 seluas 556.959 84.705.229 946.2 2006 125.274 35.00 121.635 256.42 403.930 48.694 110. 2010.603 43.043 ha.953 41.273 467.644 0.060 121.705.200 68.169 No Kabupaten/Kota Kritis 2003 41. namun pada tahun 2008 lahan tidak kritis menjadi hanya 110.88 menyajikan luas lahan tidak kritis dan kritis berdasarkan wilayah administrasi kabupaten/kota tahun 2003 dan 2008.90 Luas Lahan Tidak Kritis dan Lahan Kritis di Kalimantan Selatan 2003 dan 2008 Tidak Kritis Luas Wilayah 2003 2008 359.651 28.250 5.89 Jumlah Produksi Hutan Non Kayu Menurut Jenis di Kalimantan Selatan 2005-2009 Jenis Produk Rotan Madu Sirap Sarang Burung Satuan Kg Liter M3 Kg 2005 168.741 147.550 674 502.052 7.000 181 Sumber : Data dan Fakta Pembangunan Kehutanan di Kal-Sel.494 54.249 50.084 2008 56.297 30.334 57.912 7. terjadi peningkatan lahan kritis rata-rata seluas 40.436 36.634 180. Kal-Sel.198 49.587 110.351.2015 Page 120 . Dishut Prov.344 0 556.2 237.873 761.405 7.901 7.155 52.839 120. Tahun 2003 lahan yang tidak kritis di Kalimantan Selatan mencapai 605.443.267 1.00 2008 58 122 2009 13.89 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . sedangkan tahun 2008 menjadi 761.348 41.158 5.571 192.517 100.622 132.991 ha/tahun.159 9.60 1.043 1 Tabalong 2 Hulu Sungai Utara 3 Balangan 4 Hulu Sungai Tengah 5 Hulu Sungai Selatan 6 Tapin 7 Banjar 8 Banjarbaru 9 Barito Kuala 10 Tanah Laut 11 Tanah Bumbu 12 Kotabaru 13 Banjarmasin JUMLAH Sumber: BPDAS Barito Tahun 2005 dan 2009 Lahan kritis yang meluas setiap tahun seyogyanya harus dilakukan rehabilitasi hutan dan lahan.154 9.522 26.495 2.93 0 72.169 ha. H.

289.35% dari total produksi nasional sebesar 114. HSU. Biji Kronit. Potensi sumber daya mineral unggulan saat ini berupa batubara dan bijih besi.13 ton pada tahun 2003 dan 41. serta keberadaannya hampir menyebar di seluruh kabupaten (Banjar. Tapin. HSS.000 ton (Lapan. Hulu Sungai Selatn dan Banjarbaru.id) Dalam Indonesia Mineral and Coal Statistics.21% dari total produksi nasional sebesar 132. Tabalong. Diorit.2015 Page 121 . Biji Emas. cadangan batubara yang terukur adalah 1. HST. Granit. Arutmin Indonesia. Tanah Bumbu. Periodotit.79 ton pada tahun 2004. Phospat. Gambut. Sumberdaya Mineral dan Pertambangan Kalimantan Selatan kaya akan sumber daya pertambangan dan galian. Berdasarkan data pada tahun 2007.278. Dan jumlah ini merupakan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (2005) dan Indonesian Coal Mining Association (2005) . (3).450. Balangan. Tapin. Banjar. Biji Nikel.tapinkab. Oker.352. PT Tanjung Alam Jaya. yaitu sebesar 54. dan Tabalong).116.6 205 50 250 4800 2003 7936 100 Tahun 2004 15000 0 70 6000 2005 14020 0 0 4250 2006 1600 0 0 875 Sumber: Dinas Kehutanan Prov.540.931. Batu Gamping. diantaranya Minyak Bumi. tahun 2003 adalah 46.16 ton. Tanah Laut. 2004). Lempung. Kaolinesi.915. dimana sebagian besar produksi batubara tersebut dihasilkan oleh perusahaan besar seperti PT. Deposit batubara di (1) Kotabaru diperkirakan 80 juta ton dan bahkan sampai 300 juta ton untuk kedalaman 150 meter. (2) Kabupaten Tabalong mencakup luasan 42. PT.229 ha meliputi 16 kecamatan dengan sumber daya 155. Adaro Indonesia. Andesit. Pasir Kuarsa. Bijih Besi. Kabupaten Tapin memiliki deposit batubara kilap terang sebanyak 116.430 ton dan batubara kilap kusam 429. Batu Bara. Basalt.BAB II Tabel II.Kal. PT Jorong Barutama Greston dan PT Bahari Cakrawala Sebuku.395.91 Kegiatan Pembangunan Hutan di Kalimantan Selatan 2005-2009 Kegiatan 2002 Reboisasi (Ha) Hutan Kemasyarakatan (Ha) Rehabilitasi Hutan Bakau (Ha) Hutan Rakyat (Ha) 2442. Beberapa daerah yang memiliki potensi batubara diantaranya Kabupaten Kotabaru.590 ton (www.Sel (2007) d.80 ton dan meningkat pada tahun 2004.054 milyar ton.977.024. produksi batubara di Kalimantan Selatan. Jumlah produksi tersebut menyumbang sebesar 40. Kotabaru.953 milyar ton sedangkan sumberdaya batubara diperkirakan 6. Granodiorit. Marmer. PT Antang Gunung Meratus.195. Balangan. Potensi batubara cukup besar dengan kualitas yang baik.go. Intan.958. yang tercatat secara resmi pada tahun 2002 adalah 21.

3. Gunung Gumpa. Kemudian tercatat penjualan domestik batubara Kalimantan Selatan pada tahun 2003 sebesar 13.06 miliar. Dalam bentuk tonage telah digali biji besi sebanyak 59. Kabupaten Tanah Bumbu mempunyai cadangan sebanyak 51. Galuh Cempaka yang mempunyai areal konsesi seluas 3. Pulau Laut dan Tanjung Senakin. Blok Sungai Bakar. Sumberdaya bijih besi di Kabupaten Tanah Laut sebesar 2.239.263. Produksi batubara yang tercermin dalam ekspor batubara masih menunjukkan tren yang meningkat seiring dengan tingginya permintaan luar negeri. Selama tahun 2007 – 2008 nilainya meningkat sebesar 10. 2002). Data dari Dinas Pertambangan Kotabaru menunjukkan bahwa lahan yang sudah dieksploatasi untuk bijih besi meliputi areal 9528 ha.38 ton pada tahun 2004. Hasil studi kelayakan yang pernah dilakukan menyebutkan bahwa lokasi tersebut menyimpan intan sejumlah 744.300 ton (insitu) dan 2.25 juta rupiah per orang. sedangkan untuk penjualan ekspor batu bara Kalsel pada tahun 2003 sebesar 32.85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 36. Selain itu diperkirakan deposit bijih besi juga terdapat di Sungai Kupang.674.000 karat di Cempaka dan Danau Seran 84. Sebuku. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan kapasitas pekerja dalam menghasilkan nilai tambah produksi meningkat.168 ton (2005).693.682. Sementara itu deposit diperkirakan sebesar 86 juta ton berada di P.818.530 ton (2004) dan 737. Dalam skala besar saat ini ijin pertambangan intan dikuasai oleh PT. Blok Riam Pinang dan Blok Talok. Gunung Kukusan.21 ton.35 ton.4.71 ton pada tahun 2003 dan sebesar 68.794 juta ton dengan nilai US$1. dari 24.2015 Page 122 .317 juta ton dengan nilai US$ 1.4. Sumber Daya Manusia Tingkat produktivitas pekerja dihitung dengan membandingkan nilai PDRB atas dasar harga berlaku terhadap jumlah pekerja.462.479. Potensi sumber daya alam lainnya yang sangat terkenal dari Kalimantan Selatan adalah pertambangan intan di Kota Banjarbaru.396.49 persen. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .52 ton dan pada tahun 2004 sebesar 14.891.805.BAB II kedua terbesar setelah Kalimantan Timur yang memproduksi sebesar 57.500 ton tersebar di Blok Pelaihari. meningkat 28.43 miliar.99 ton dan pada tahun 2004 sebesar 34.467.66 juta rupiah menjadi 27.499. 2.153. Namun terdapat pula pengaruh besaran inflasi karena menggunakan PDRB harga berlaku. Volume ekspor selama Januari-Juni 2007 mencapai 46.920 ha di Danau Seran dan Cempaka.666.000 ton (deluvial) berupa endapan besi laterit di daerah Gunung Kukusan dan Sungai Kusan hulu.784 karat yang tersebar 660.748 karat (Majalah Warta.

845 TOTAL Sumber: Hasil Sakernas masing-masing Provinsi Tahun 2008 *) Keadaan Bulan Agustus Secara sektoral.579. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . tingkat produktivitas tenaga kerja Kalimantan Selatan pada 2008 sebesar Rp.251.212.035 16. Keuangan dan Jasa) Untuk wilayah regional Kalimantan.2015 Page 123 . sektor primer dan tersier jauh lebih rendah.413.127.708.80 14.230. Angkutan.358 189.207 45.936 11.981 17.670.81 37.623.838. Sementara itu.838. masing-masing Rp.06 43.180 24.16 628..92 Produktivitas Tenaga Kerja menurut Lapangan Usaha di Kalimantan Selatan.699..943. Tabel II.752 181.664.713.25 juta menduduki peringkat kedua setelah Kalimantan Timur (Rp.79 813.742 27.251.573 30.574.252.139 Ket: PRIMER (Pertanian dan Pertambangan) Sumber: BPS Kal.BAB II Tabel II.438.204 39.116.419 22. produktivitas tenaga kerja di sektor sekunder mencapai nilai tertinggi Rp.295.112.24.740.18 7.797.702.222.020.120.423 25.423.93 Produktivitas Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha di Regional Kalimantan.09 1.252.73 781.33 27.395 286.868.07 1. Listrik dan Bangunan) TERSIER (Perdagangan.740 43.767.516 18.25.515.-.106.251.16 24.30 juta rupiah. 2008*) (Rp) Sektor PRIMER SEKUNDER TERSIER KALBAR 5.868.882 KALTENG 10. 2007 – 2008 *) 2007 Sektor PDRB Berlaku (Juta Rp) Tenaga Kerja (Orang) Produktivitas Tenaga Kerja (Rp) PDRB Berlaku (Juta Rp) 2008 Tenaga Kerja (Orang) Produktivitas Tenaga Kerja (Rp) PRIMER SEKUNDER TERSIER TOTAL 17.84 25.596 KALTIM 127.111 28.598.Sel *) Agustus SEKUNDER (Industri.90 20.740.836.27.298.742.422.40 7.231 KALSEL 24.887.90 675.382 106.595.292.868.069.472 34.466.946.137.dan Rp.285.838.742. Sementara itu tingkat produktivitas tenaga kerja di Kalimantan Barat merupakan yang terendah dengan pencapaian sebesar 11.94 juta).068.755..099 37.937.00 23. 43.682.

80 1.30 3.2 307.503.7 3.240.6 32 64.7 168.70 1.00 1.9 293.30 100.495.3 54.4 25.759.9 1.9 3.00 100.1 43.2 69.7 49.7 43 Sumber : Proyeksi BPS Prov.743.984.60 1.BAB II Tabel II.767.489.7 2005 1.61 186.4 70 4.5 193.20 3.4 318.94 Kondisi dan Proyeksi Parameter Kependudukan Kalimantan Selatan 2000 – 2015 Parameter Penduduk Male Female Total Sex ratio Laju pertumbuhan (%) Batita (< 3 tahun) Balita (< 5 tahun) Komposisi umur (%) 0-14 15-64 65+ Dependency ratio (%) 2000 1.7 1.2 26.60 3.4 66.5 2015 1.4 1.00 2. Kalsel.614.10 100.893.9 328.7 4.80 101 1. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .4 196.3 29.625.2015 Page 124 .874.6 2010 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful