P. 1
2 Gambaran Umum Kondisi Daerah

2 Gambaran Umum Kondisi Daerah

|Views: 640|Likes:
Dipublikasikan oleh Sony Wicaksono

More info:

Published by: Sony Wicaksono on May 25, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2015

pdf

text

original

BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH RPJMD 2011-2015

BAB II

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
2.1. 2.1.1 Aspek Geografis dan Demografis Letak Geografis dan Batas Administrasi Wilayah

Provinsi Kalimantan Selatan dengan ibukota Banjarmasin terdiri atas 11 kabupaten dan 2 kota, terletak antara 114 °19' 13'' - 116°33' 28'' Bujur Timur dan 1° 21' 49'' – 4 °10' 14'' Lintang Selatan, memiliki luas wilayah hanya 6,98 persen dari luas Pulau Kalimantan secara keseluruhan yaitu seluas 37.530,52 km2 dengan batas –batas : sebelah barat dengan Provinsi Kalimantan Tengah sebelah timur dengan Selat Makasar, sebelah selatan dengan Laut Jawa sebelah utara dengan Provinsi Kalimantan Timur. Kondisi alam Provinsi Kalimantan Selatan terdiri atas daerah pantai, dataran rendah dan perbukitan/pegunungan. Kemiringan tanah dengan 4 kelas klasifikasi menunjukkan bahwa sebesar 43,31 persen wilayah Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2%. Rincian luas menurut kemiringan adalah sebagai berikut: 0 - 2% : 1.625.384 Ha (43,31%) >2 - 15% : 1.182.346 Ha (31,50%) >15 - 40% : 714.127 Ha (19,02%) >40% : 231.195 Ha (6,16%) Menurut jenis tanahnya, meliputi Podsolik Merah Kuning (PMK), Latosol, Litasol, Podsolik Merah Kuning Litosol, Komplek Podsolik Merah Kuning Organosol Gley Humus, PMK Dataran Tinggi, PMK Pegunungan , dan Alluvial. Wilayah Kalimantan Selatan juga banyak dialiri sungai. Sungai tersebut antara lain Sungai Barito, Sungai Riam Kanan, Sungai Riam Kiwa, Sungai Balangan, Sungai Batang Alai, Sungai Amandit, Sungai Tapin, Sungai Kintap, Sungai Batulicin, Sungai Sampanahan dan sebagainya. Umumnya sungai-sungai tersebut berpangkal pada pegunungan Meratus dan bermuara di Laut Jawa dan Selat Makasar. Data tahun 2008 menyebutkan bahwa penggunaan lahan di Kalimantan Selatan meliputi Lahan pemukiman/kampung seluas 59.563 ha, industri 2.489 ha, pertambangan 42.111 Ha, sawah 426.067 ha, pertanian lahan kering semusim 60.680 ha, kebun campuran 171.642 ha, perkebunan 486.448 ha, padang/semak belukar/alang-alang 830.684 ha, hutan 1.613.431 ha, perairan darat 45.731 ha, tanah terbuka 3.713 ha, dan lain-lain 59.997 ha. Wilayah Kalimantan Selatan menyimpan beberapa potensi bahan galian pertambangan seperti mineral, batu bara, minyak dan gas bumi, intan, dan lain-lain.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 2

BAB II 2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah

Potensi Pengembangan Wilayah dievaluasi dari unsur-unsur potensi geografis, penduduk, ekonomi wilayah, sektor andalan, sektor pendukung, sektor investasi, keuangan dan pembiayaan, dan pendukung dan transportasi. Potensi pengembangan wilayah Provinsi Kalimantan Selatan didekati dengan kebijakan perwilayahan. Kebijakan perwilayahan didasarkan atas efektivitas pembangunan di seluruh Provinsi dan untuk mensinkronkan pembangunan berbagai sektor andalan yang akan dikembangkan di masing-masing wilayah kabupaten/kota agar pengembangannya tidak saling tumpang tindih satu sama lain, sehingga potensi yang dimiliki masing-masing daerah dapat dikembangkan secara optimal dan terintegrasi. Pengembangan potensi secara spasial dilakukan melalui kebijakan pengembangan kawasan strategis Provinsi. Kawasan strategis wilayah Provinsi terdiri atas Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan Kawasan Strategis Provinsi (KSP). Kawasan Strategis Nasional dimaksud Kawasan Strategis Nasional Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi yaitu Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Batulicin. Kawasan Strategis Provinsi (KSP) dimaksud terdiri atas (1) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi; (2) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup; (3) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertahanan dan Keamanan Negara. Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi terdiri atas : a. Kawasan Metropolitan Banjar Bakula yang meliputi wilayah administrasi pemerintahan Kota Banjarmasin (Kecamatan Banjarmasin Selatan, Banjarmasin Timur, Banjarmasin Tengah, Banjarmasin Barat, Banjarmasin Utara), Kota Banjarbaru (Kecamatan Banjarbaru Utara, Banjarbaru Selatan, Landasan Ulin, Liang Anggang, Cempaka ), sebagian Kabupaten Banjar (Kecamatan Kertak Hanyar, Gambut, Sungai Tabuk, Aluh- Aluh, Beruntung Baru dan Martapura, Martapura Timur, Martapura Barat, Astambul, Mataraman, Karang Intan), sebagian Kabupaten Barito Kuala (Kecamatan Alalak, Mandastana, Anjir Muara, Anjir Pasar, Tamban, Tabunganen, Mekarsari), sebagian Kabupaten Tanah Laut (Kecamatan Bati-Bati, Kurau, Tambang Ulang, Bumi Makmur); b. Kawasan Rawa Batang Banyu yang meliputi wilayah administrasi pemerintah Kabupaten Barito Kuala (Kecamatan Balawang, Barambai, Cerebon, Wanaraya, Bakumpai, Tabukan, Kuripan), sebagian Kabupaten Banjar (Kecamatan Simpang Empat), sebagian Kabupaten Tapin (Kecamatan Candi Laras Selatan, Candi Laras Utara dan Tapin Tengah), sebagian Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Kecamatan Daha Selatan, Daha Utara, Kalumpang ), Kabupaten Hulu Sungai Utara (Kecamatan Danau Panggang, Babirik, Sungai Pandan, Amuntai Selatan, Amuntai Utara, Amuntai Tengah dan Banjang), sebagian Kabupaten Tabalong (Kecamatan Pugaan, Banua Lawas, Kelua, Muara Harus); c. Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM), yaitu KTM Cahaya Baru di Kabupaten Barito Kuala dan KTM Sengayam di Kabupaten Kotabaru; d. Kawasan Perdagangan, Industri dan Jasa, yaitu kawasan yang berbasis pada pengembangan perdagangan, jasa dan industri dan berpotensi menjadi kawasan ekonomi khusus yaitu di Kawasan Mekar Putih dan Kawasan Pulau Lari-Larian di RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 3

Kotabaru. Tanah Bumbu. Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala. daerah ujicoba persenjataan dan daerah industri pertahanan.1. dan (3) Tanah longsor Banjir terjadi setiap tahun.BAB II Kabupaten Kotabaru. frekuensinya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Ada tiga bencana alam yang rawan di Kalimantan Selatan. gudang amunisi. Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis. meredam. Tanah Laut. sosial. daerah latihan militer. gudang amunisi dan daerah ujicoba persenjataan. mencapai kesiapan. Hulu Sungai Tengah. (2) Kebakaran hutan dan lahan. Tabalong. Wilayah Rawan Bencana Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan. daerah pendaratan. daerah latihan militer. hidrologis. klimatologis. yaitu: (1) Banjir. kerusakan lingkungan. daerah pembuangan amunisi dan peralatan pertahanan lainnya. Balangan.1. Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertahanan dan Keamanan Negara terdiri atas : 1) Kawasan tertentu di sepanjang pesisir pantai dan laut di Kabupaten Barito Kuala. Tanah Bumbu dan Kotabaru. daerah basis militer. politik. ekonomi. dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu. kerugian harta benda. b. baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. dan dampak psikologis. Kawasan Pegunungan Meratus. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . biologis. daerah uji coba persenjataan. yaitu kawasan hutan lindung yang memanjang dari Kabupaten Kotabaru sampai dengan Kabupaten Banjar termasuk kawasan Tahura Sultan Adam. budaya. Tapin. dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah. 3) Kawasan tertentu di Kota Banjarbaru dan Banjarmasin yang diperuntukan bagi basis militer. Banjar. 2. Data jumlah banjir di Kalimantan Selatan dari tahun 2006 – 2009 disajikan pada Gambar II. Tanah Laut. Tanah Bumbu dan Kotabaru sebagai daerah pertahanan laut.2015 Page 4 . Hulu Sungai Selatan.3. daerah pembuangan amunisi. daerah latihan militer. daerah pembuangan amunisi. geografis. kawasan terbuka sepanjang pantai timurtenggara wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan berbagai pola pemanfaatan ruang baik lindung maupun budidaya di Kabupaten Tanah Laut. Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup terdiri atas : a. gudang amunisi. sebagai daerah pertahanan darat dan daerah pertahanan udara. Kawasan Jorong (Kabupaten Tanah Laut) dan Kawasan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu. daerah basis militer. 2) Kawasan tertentu di pegunungan Maratus di Kabupaten Banjar. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.

berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan tahun 2009. Kebakaran hutan dan lahan cenderung meningkat hingga tahun 2006.925 rumah yang dihuni 6. disajikan pada Tabel II.1. Beberapa kali kejadian banjir telah pula menimbulkan korban jiwa. 3. Tanah Laut. Kalimantan Selatan termasuk dalam 10 provinsi yang menjadi perhatian Departemen Kehutanan dalam masalah kebakaran hutan dan lahan ini. yaitu hampir tidak ada musim kemarau yang jelas pada tahuntahun terakhir . dan Kotabaru. Tabel II. Banjir yang terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu (khususnya di Kecamatan Kusan Hulu dan Kusan Hilir) telah merendami sedikitnya 1. Jumlah titik panas per kabupaten di Kalimantan Selatan tahun 2005 – 2009. Pada musim hujan kebanjiran. Menurut data Dinas Kesejahteraan Sosial Kalimantan Selatan. yang dapat dilihat dari titik panas (hot spot).2015 Page 5 . Hulu Sungai Utara. Tapin.1 miliar. kerugian akibat bencana alam tersebut mencapai Rp.1 Jumlah Titik Panas Menurut Kabupaten/Kota Di Kalimantan Selatan Tahun 2005 . menenggelamkan 60 kecamatan dan 551 desa. sebaliknya pada musim kemarau sering terjadi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan.BAB II Ada sembilan kabupaten di Kalimantan Selatan yang sering terendam banjir. Tanah Bumbu. Banjir yang melanda sembilan kabupaten tersebut. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Pada tahun berikutnya cederung menurun karena faktor alam. Hulu Sungai Selatan. yaitu: Tabalong. Banjar.461 warga dan telah terjadi tiga kali banjir sepanjang tahun 2010.2009 KABUPATEN Tabalong Balangan HSU HST HSS Tapin Banjar Banjarbaru Barito Kuala Banjarmasin Tanah Laut Tanabu Kotabaru JUMLAH 2005 17 13 14 4 82 79 147 17 98 1 106 40 63 686 2006 171 215 158 109 766 943 1128 167 665 6 479 274 732 5813 TAHUN 2007 90 73 30 16 184 146 146 23 80 11 78 105 183 1165 2008 40 30 15 2 39 5 19 1 18 9 14 1 10 203 2009 45 45 86 25 97 185 215 14 138 2 142 81 183 1258 Sumber : Badan nasional penanggulangan bencana (BNPB). Balangan. Fasilitas umum yang juga terendam sebanyak 248 sekolah dan 26 puskesmas.

Gambar II. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kecamatan Hatungun. Kabupaten Tapin.BAB II Bencana yang juga rawan akibat adanya curah hujan yang tinggi selain banjir adalah tanah longsor. Akibat bencana tersebut.2.2. Peta Indeks Rawan Bencana di Kalsel Sumber: Badan nasional penanggulangan bencana (BNPB). Daerah rawan bencana tanah longsor Kalimantan Selatan berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) disajikan pada Tabel II. Tanah longsor pernah terjadi di perbatasan antara Kabupaten Tapin dan Banjar.2015 Page 6 .1. tepatnya di Desa Bagak. warga yang tinggal di pedalaman tersebut menjadi terisolasi. 2010 Untuk lebih jelas tingkat kerawanan wilayah bencana tanah longsor ini disajikan dalam suatu peta yang ditunjukkan pada Gambar II.1. Tabel II. Tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu di Kecamatan Kusan Hulu. Tingkat Kerawanan Bencana Tanah Longsor Menurut Daerah di Kalimantan Selatan Daerah(Kab/Kota) Tingkat Kerawanan Hulu Sungai Selatan Tinggi Tabalong Sedang Balangan Rendah Hulu Sungai Utara Sedang Hulu Sungai Tengah Sedang Kota baru Rendah Tapin Sedang Barito Kuala Sedang Kota Banjarmasin Sedang Kota Banjarbaru Sedang Tanah Laut Sedang Banjar Sedang Tanah Bumbu Rendah Sumber : Badan nasional penanggulangan bencana (BNPB).

pelayanan wilayah belakang. 5. dengan fungsi pusat pemerintahan kabupaten. 2. tempat manusia dan makhluk lain hidup.BAB II Jenis bencana alam yang sering terjadi antara lain adalah bencana banjir dan kebakaran hutan dan lahan. perdagangan lokal. dengan fungsi pusat pemerintahan kabupaten. dan pendidikan tinggi 4. sistem jaringan transportasi. kota transit 7. Amuntai dan Kotabaru. dan (3) melakukan rencana aksi bersama Kabupaten/Kota dan masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangannya. Kandangan. industri dan perdagangan regional. Langkah-langkah yang dilakukan selama ini untuk mengantisipasi terjadinya banjir antara lain : (1) normalisasi daerah aliran sungai (DAS) dan pembuatan batas tebing. 2. Martapura. industri dan perdagangan regional dan nasional. dengan fungsi pusat perdagangan regional Banua Anam. 3. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Tanjung. industri regional. pelayanan wilayah belakang. 8. Kota Banjarbaru dengan fungsi pusat pemerintahan provinsi. Struktur Ruang Struktur ruang wilayah Provinsi Kalimantan Selatan meliputi system perkotaan.1. Pelaihari. (3) mendorong pemerintah pusat untuk moratorium pertambangan dsb. pelayanan wilayah belakang 9. dengan fungsi pusat perdagangan lokal.2015 Page 7 . Pusat Kegiatan Nasional (PKN) adalah Kota Banjarmasin. sebagai pusat jasa. jasa transportasi udara nasional. dan ruang udara termasuk di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah. (2) rehabilitasi hutan dan rawa. (2) membentuk tim penanggulangan kebakaran hutan dengan keterlibatan berbagai sektor.4. Sistem Perkotaan Sistem perkotaan di Provinsi Kalimantan Selatan adalah : 1. a. industri nasional. Barabai.1. pemerintahan lokal. pelayanan wilayah belakang. perdagangan lokal. dengan fungsi pemerintahan lokal. Batulicin. Paringin.1. melakukan kegiatan dan memeliharan kelangsungan hidupnya. perdagangan regional dan nasional. ruang laut. Tata Ruang Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat. pemerintahan lokal. Rantau. pelayanan jasa kesehatan regional. Untuk pencegahan terjadi bencana kebakaran hutan dan rawa. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) terdiri atas Kota Marabahan. 6. Sementara itu tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. energy dan kelistrikan. pemerintahan kabupaten. 2. pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya antara lain : (1) membuat Peraturan Daerah (Perda). pelayanan wilayah belakang 10. perdagangan lokal dan jasa pariwisata regional. pemerintahan lokal. telekomunikasi dan sumber daya air.4. sebagai pusat jasa. pelayanan wilayah belakang.

4. Terminal meliputi : 1. jasa pariwisata nasional.Pleihari. 7. jasa dan perdagangan nasional. Kabupaten Barito Kuala. Jalan lintas Selatan Kalimantan yaitu ruas batas Provinsi Kalimantan Tengah – Banjarmasin – Lianganggang – Batulicin – Batas Provinsi Kalimantan Timur 2.Tanjung Mabuun – Batas Provinsi Kalimantan Timur. Jalur kereta api untuk angkutan penumpang antar kota PKN. c) d) c. industri nasional. Kota Martapura. Jalan bebas hambatan dalam Kawasan Metropolitan Banjarmasin. Terminal Penumpang Tipe B Kota Banjarmasin. Marabahan – Banjarmasin. industri dan perdagangan regional dan nasional. pemerintahan kabupaten. b. terdiri atas : 1. Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kabupaten Kotabaru. pemerintahan lokal. jasa transportasi udara nasional. Sistem Jaringan Transportasi a) Jaringan jalan arteri primer. yaitu ruas Banjarmasin – Palangkaraya. Jaringan jalan bebas hambatan terdiri atas : 1. 2. 8. Pleihari – Pagatan. dengan fungsi pusat industri dan perdagangan intan nasional. Pagatan . Kota Batulicin sebagai pusat jasa. Sistem pengembangan jaringan jalur kereta api meliputi : 1. 2. Banjarmasin . Jalan lintas Selatan Kalimantan yaitu ruas Lianganggang – Pelaihari – Batulicin – Manggalau – Batas Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Hulu Sungai Utara. dengan fungsi pusat pemerintahan provinsi.Lianganggang.BAB II Pusat kegiatan yang dipromosikan untuk ditetapkan menjadi PKN (PKNp) adalah : 1. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kota Banjarbaru.Batulicin. kegiatan keagamaan regional dan nasional 2. 3. Lianganggang . Jalan penghubung lintas jalan lintas Kalimantan yaitu Lianganggang Martapura – Kandangan . 5. dan pendidikan tinggi 3.Pantai Hambawang – Amuntai . Jalan kolektor lainnya yaitu ruas Marabahan – Simpang Serapat.2015 Page 8 . Batulicin – Tanah Grogot. perdagangan regional dan nasional. Pantai Hambawang – Barabai – Paringin – Mambuun. 2. pelayanan wilayah belakang. 6. Terminal Penumpang Tipe A di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar. b) Jaringan jalan kolektor primer yang menghubungkan antar Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan (K-1) terdiri atas : 1. Kuala Kapuas – Banjarmasin. Kelua – Pasar Panas (Batas Provinsi Kalimantan Tengah).

e.2015 Page 9 . Hulu Sungai Utara. Sistem kepelabuhanan terdiri atas : 1.BAB II 2. 3. yaitu : ruas Batas Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Timur – Kabupaten Tabalong – Kabupaten Hulu Sungai Utara – Kabupaten Hulu Sungai Tengah – Kabupaten Hulu Sungai Selatan – Kabupaten Tapin – Kabupaten Banjar – Kabupaten Tanah Laut. Danau Panggang di Kab. Hulu Sungai Utara di tepi Sungai Negara. Ujung Panti. PLTD Bungkukan Kotabaru. Sistem jaringan pelabuhan (dermaga) sungai terdiri atas : 1. Tanjung – Buntok – Muarateweh. PLTD Rantau. PLTD Barabai. Pembangunan jalur kereta api untuk angkutan penumpang dan barang antar kota PKN dengan PKW dan PKL . 2. Pelabuhan utama yaitu Trisakti di Kota Banjarmasin. PLTD Sungai Kupang Kotabaru. PLTD Amuntai. Tatanan kebandar udaraan terdiri atas : 1.tenggara Kalimantan Selatan. Batas Kalimantan Tengah Banjarmasin – Pelaihari – Asam-Asam – Satui – Pagatan – Batulicin – Kotabaru – Batas Kalimantan Timur. Marabahan. Amuntai di Kab. Babirik di Kab. PLTD Sungai Bali RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Jaringan prasarana kereta api untuk angkutan barang pada sentra-sentra produksi terutama untuk komoditas sumberdaya mineral dan komoditas perkebunan pada sebelah timur . yaitu ruas : Tanjung – Barabai – Rantau – Martapura – Banjarmasin. Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) meliputi : PLTD Pagatan. Sistem jaringan energi dan kelistrikan terdiri atas : 1. Bandar udara pengumpul skala sekunder adalah Syamsudin Noor – Banjarmasin di Kota Banjarbaru. yaitu : Batas Kalimantan Timur di Kabupaten Pasir – Kabupaten Kotabaru – Kabupaten Tanah Bumbu – Kabupaten Tanah Laut – Tanjung Selatan. Batas Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Timur – Kabupaten Tabalong – Kabupaten Balangan . Bandar udara pengumpan Tanjung Warukin di Kabupaten Tabalong g. Hulu Sungai Selatan. Negara di Kab. Pelabuhan penyeberangan nasional yaitu pelabuhan penyeberangan lintas provinsi adalah Pelabuhan Trisakti di Kota Banjarmasin dan Pelabuhan Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. 2. Tapin. 2. Kuripan di Kabupaten Barito Kuala di tepi Sungai Barito. 3.Batas Kalimantan Timur di Kabupaten Pasir – Kabupaten Kotabaru – Kabupaten Tanah Laut. Kotabaru. PLTD Kotabaru. Tanjung – Tanah Grogot – Balikpapan. Jalur kereta api untuk angkutan barang pada sentra-sentra produksi terutama untuk komoditas sumberdaya mineral dan komoditas perkebunan pada sebelah barat Pegunungan Meratus. Banjarmasin – Batulicin. d. Pelabuhan (dermaga) Banjar Raya di Kota Banjarmasin. Bandar udara pengumpul skala tersier adalah Gusti Syamsir Alam/ Stagen di Kab. Pelabuhan pengumpul yaitu Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. Hulu Sungai Utara. f. 3. 4. Pelabuhan (dermaga) Margasari di Kab. PLTD Gunung Batu Besar Kotabaru.

saluran irigasi primer meliputi : Daerah Irigasi (DI) Tapin di Kabupaten Tapin. PLTU Sigam Kotabaru. Jejangkit I. . Kusan Tanah Bumbu. Bendung Telaga Langsat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Belawang. Bendung Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. DI Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Bendung Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. DI Kotabaru-Berangas di Kabupaten Kotabaru. PLTD Tanjung Lontar Kotabaru. 3.2015 . PLTU IPP Binuang. Sakalagun. meliputi Bendung Tapin di Kabupaten Tapin. Sengayam dan Sampanahan Kotabaru. Seluang. PLTU Kusan Tanah Bumbu. Barambai. Jelapat. DI Jejangkit II di Kabupaten Barito Kuala. Rantau – Kandangan. DI Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Bendung nasional. Tanipah. Jaringan saluran irigasi nasional.BAB II Kotabaru. Kota Marabahan – Kota Banjarmasin. h. Bendung Karang Intan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. DI Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.dan DI Pitap (Kab Balangan) Jaringan rawa dan pantai terdiri atas : 1. DI Sungai Bungur di Kabupaten Kotabaru. Anjir Serapat. Sistem Jaringan telekomunikasi meliputi : Sistem jaringan mikro digital. DI Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Bendung Pitap di Kabupaten Balangan. DI Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. terdiri dari : batas provinsi Kalimantan Tengah – Marabahan – Kota Banjarmasin. 4. Tabunganen. Sistem Jaringan irigasi terdiri atas : 1. meliputi : Anjir Tamban. k. Belanti dan Alalak Padang di Kabupaten Page 10 j. Barabai – Batas Provinsi Kalimantan Timur. DI Kotabaru-Berangas dan DI Sungai Bungur di Kabupaten Kotabaru. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kandangan – Barabai. DI Tapin Kabupaten Tapin. DI Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Pangeran Muhammad Noor. DI Pitap di Kabupaten Balangan. DI Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. PLTU Mulut Tambang Balangan. 2). Riam Kanan di Kabupaten Banjar. Daerah Irigasi (DI) nasional. Talaran di Kabupaten Barito Kuala. DI Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. DI Telaga Langsat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) meliputi : PLTU Asam-Asam Tanah Laut. DI Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. meliputi DI Jejangkit II di Kabupaten Barito Kuala. PLTD Tanjung Seloka Kotabaru. saluran irigasi sekunder meliputi : DI Tapin di Kabupaten Tapin. Kota Banjarmasin – Rantau . DI Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. i. PLTU Tanjung. 3. Terantang. Bendungan nasional meliputi Bendungan PLTA Ir. 2. Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) meliputi : Riam Kanan. Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) meliputi : PLTG Trisakti Banjarmasin. PLTU Batulicin. PLTD Semaras Kotabaru. DI Telaga Langsat dan DI Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. DI Pitap di Kabupaten Balangan. DI Telaga Langsat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. terdiri atas : 1). Handil Bakti. 2.

2. Polder Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Saluran/kanal banjir nasional meliputi : Sungai Barabai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Sungai Balangan di Kabupaten Balangan. Anjir Serapat. Wilayah sungai lintas provinsi yaitu WS Barito-Kapuas yang melintasi Prov. SM. Handil Bakti. Terantang. TWA Jaro di Kabupaten Tabalong. Wilayah sungai (WS) Lintas kabupaten/kota meliputi WS Cengal – Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu.2. TWA Pulau Kembang di Kota Banjarmasin. 5. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya seperti kawasan hutan lindung di Pegunungan Meratus. Belawang. Muara Uya di Kabupaten Tabalong. Tabunganen. dan kawasan Suaka Margasatwa (SM) yang meliputi : SM Pelaihari. Kawasan rawan tanah longsor meliputi Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Balangan sampai perbatasan Provinsi Kalimantan Timur. Tanipah. d. Talaran di Kabupaten Barito Kuala. SM Kuala Lupak di Kabupaten Tanah Laut. Kabupaten Banjar. b. Saluran rawa nasional Muning di Kabupaten Tapin. CA Sungai Lulan dan Sungai Bulan. Seluang. Jelapat. DAS Ambawang. dan Anjir Alalak Padang di Kabupaten Banjar. Murung. pelestarian alam di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam di Kabupaten Banjar.1. Situs Gua di Gunung Batu Babi. kawasan sempadan mata air. CA Teluk Pamukan. Negara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Gunung Kentawan di Kabupaten Kotabaru. Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru. DAS. Barambai. Taman Wisata Alam (TWA) yang meliputi TWA Pelaihari dan TWA Batakan di Kabupaten Tanah Laut.dan Polder Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. DAS Martapura. dan resapan air di sekitar kawasan hutan lindung. kawasan sempadan sungai. Kawasan suaka alam di cagar alam (CA) Teluk Kelumpang. Muara Sungai Asam-Asam. dan DAS Tapin. DAS Negara. Kawasan cagar budaya sebagaimana terdiri atas : Cagar Budaya Candi di Kabupaten Hulu Sungai Utara.2015 Page 11 . Pola Ruang Pola ruang meliputi kawasan lindung yang terdiri atas : a. DAS Riam Kiwa. Kalsel dan Kalteng meliputi DAS Barito. TWA Pulau Bakut. Sakalagun. DAS Riam Kanan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 4. kawasan bergambut di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan pantai. Belanti. DAS Kapuas. 2. kawasan sekitar danau atau waduk. Daerah rawa (DR) nasional meliputi : Anjir Tamban. Jejangkit I. SM Pulau Kaget di Kabupaten Barito Kuala. Selat Laut dan Selat Sebuku. 3.4. Muning di Kabupaten Tapin. CA. Negara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. kawasan terbuka hijau kota yang lokasinya tersebar di Kabupaten/kota c. e.BAB II Banjar.

8. Kelumpang. Teluk Tamiang dan sekitarnya di Kabupaten Kotabaru. 3. kawasan pertanian TPH lahan lebak tersebar hampir di seluruh wilayah provinsi kecuali Banjarmasin dan sebagain besar membentuk sentra komoditas palawija dan hortikultura. Tapin. yaitu KKLD Terumbu Karang Bunati di Kabupaten Tanah Bumbu. 5. Kawasan Konservasi Perairan Daratan (KKPD).2015 . pariwisata. dan pertambangan. Kawasan Andalan Banjarmasin Raya dan sekitarnya dangan sektor unggulan : pertanian. Pusat-pusat distribusi dan industri hasil pertanian di wilayah Kabupatenkabupaten Hulu Sungai Tengah. Daha Barat. h. Tanah Bumbu j. 6. Hulu Sungai Tengah. Kawasan Andalan terdiri atas : 1. 4. Kawasan Andalan Laut meliputi : Kawasan Andalan Laut Pulau Laut dsk. Tanah Bumbu dan Kota Banjarmasin membentuk sentra komoditas padi dan hortikultura. dan perikanan. kawasan pertanian TPH lahan kering tersebar hampir di seluruh wilayah provinsi kecuali Kabupaten Hulu Sungai Utara. industri. Labuan Amas Utara di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Panyipatan. Kawasan Andalan Batulicin dan sekitarnya dengan sektor unggulan : perkebunan. Kawasan Andalan Kandangan dan sekitarnya dengan sektor unggulan : pertanian. kawasan pertanian terdiri atas : 1. pertanian. pariwisata. perkebunan. palawija dan hortikultura. Danau Panggang dan Amuntai Selatan di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Bakarangan di Kabupaten Tapin. kawasan pertanian tanaman pangan dan hortikultura (TPH) meliputi kawasan TPH lahan basah dan kawasan TPH lahan kering yang tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Selatan. kawasan pertanian TPH lahan sawah irigasi dikembangkan hampir di seluruh wilayah provinsi kecuali Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala. Kotabaru. industri. Simpur di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Perkebunan besar swasta maupun perkebunan besar pemerintah meliputi kawasan perkebunan yang tersebar di wilayah Kabupaten Barito Kuala. Balangan. kehutanan. g. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . yaitu KKPD Paminggir. perkebunan dan pariwisata. lahan tadah hujan. lahan pasang surut dan lahan lebak. Tanjung Dewa. dengan sektor unggulan : perikanan. Kandangan. 4. Tanah Laut. Tanah Laut. 2. Banjar. Takisung di Kabupaten Tanah Laut. Daha Utara. menetapkan kawasan pertanian pangan berkelanjutan untuk mengendalikan alih fungsi kawasan pertanian. 2. Tabanio. kawasan pertanian TPH lahan pasang surut tersebar pada wilayah Kabupaten Barito Kuala. Hulu Sungai Selatan. kawasan pertanian TPH lahan basah terdiri dari kawasan pertanian lahan sawah irigasi. Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). 7. Kawasan perkebunan terdiri atas : 1. dan perikanan. 3. Daha Selatan. Barito Kuala dan Kota Banjarmasin yang membentuk sentra komoditas padi gogo. Page 12 i. Banjar.BAB II f.

yaitu di Kabupaten Tanah Laut. Pamalikan. l. 4. Hulu Sungai Selatan. Tapin. 3. Perikanan tangkap di wilayah Pantai Selatan Kalimantan. Semisir. Tanah Bumbu. Pagatan Besar. Pantai. Kerayaan. Takisung. Budidaya laut berada di Lontar. Pulau Kembang. Kerasian. yaitu di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Hulu Sungai Tengah dan daerah pusat pembibitan ternak kerbau/kerbau darat . Kawasan Laut Pulau Laut dan sekitarnya di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru. Bunati. m. Tanjung Samalantakan. Kawasan Laut Kintap – Asam-Asam dan sekitarnya di Kabupaten Tanah Laut. Sarang Tiuang. Kurau. 6. Tapin. Pulau Bakut Kabupaten Barito Kuala. Aluh-Aluh. Perkebunan rakyat meliputi kawasan perkebunan yang tersebar di wilayah Kabupaten Barito Kuala. Obyek wisata alam. Banjarbaru dan Barito Kuala. Tanah Bumbu. 2. Tanah Laut. Tabalong. Tabalong. Tabalong. Daerah pusat pembibitan ternak sapi. Birah-birahan. Daerah pusat pembibitan ternak kerbau kalang/kerbau rawa/kerbau darat. yaitu di Kabupaten Kotabaru. 3. Sungai Bali. Daerah tangkapan nener dan benur. Tapin. rampa. Muara Kintap. 2. Danau Panggang dan Danau Bangkau sebagai reservat perikanan darat. Teluk Sirih. Lontar. Tanah Bumbu. Sungai Loban. Teluk Tamiang. kelapa dalam dan kepala sawit dari hasil perkebunan swadaya dan pola kemitraan dengan perkebunan besar swasta. Sungai Taib. Balangan. Hulu Sungai Utara. Batola. Tanah Laut. Matasirih. Pulau Kaget. Kotabaru dan Balangan yang pada umumnya membentuk sentra komoditas kelapa sawit dan karet. Kotabaru. yaitu di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Pudi. Tahura Sultan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kawasan pariwisata terdiri atas : 1. Jorong s. Banjar. Hulu Sungai Tengah. Sungai Danau. daerah pengembangan unggas. Jorong. Hulu Sungai Selatan. Tanah Laut.d Sungai Cuka di Kabupaten Tanah Laut. Marabatuan. yaitu Kuala Lupak. daerah pengembangan ternak kambing. 5. Sebamban. Tanah Bumbu dan Kotabaru. di gugus Pulau. Daerah pendaratan ikan. Hulu Sungai Selatan. 4. Sebanti. Tanjung Batu. Hulu Sungai Tengah. Teluk Tamiang. Tanjung Seloka. Hulu Sungai Utara. yaitu Sungai Musang di Kabupaten Banjar. Rencana pengembangan kawasan perikanan dan kelautan terdiri atas : 1. 5. Kawasan Laut Aluh-Aluh dan sekitarnya di Kabupaten Banjar. Banjarbaru dan Banjar. Batakan. Hulu Sungai Tengah dan Banjarbaru yang pada umumnya membentuk sentra komoditas karet. Muara Asam-Asam. Pagatan. 2.2015 Page 13 . Kotabaru. yaitu di Kabupaten Barito Kuala dan pusat pemurnian ternak itik Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kawasan peruntukan peternakan terdiri atas : 1. Hulu Sungai Selatan. yaitu di Kabupaten Tapin. Daerah pusat pemurnian ternak Sapi Bali. yaitu Loksado di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Balangan. Selambau. Kuala Tambangan. Tanjung Mangkok di Kabupaten Kotabaru. Hulu Sungai Utara. Berangas. Hilir Muara. 7. Banjar. k. Budidaya tambak di pesisir timur Muara Kintap. Batulicin. Tabalong.BAB II Banjar.

kimia. keramik. Air Terjun Tumpang Dua di Kabupaten Kotabaru. Zona Industri Barito Muara Barito Kuala di Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala yang berorientasi pada industri kehutanan. 3. Pendulangan Intan Sungai Tiung Cempaka di Kota Banjarbaru. Obyek wisata buatan/atraksi antara lain Pasar Terapung Kuin di Kota Banjarmasin. 11. Zona Industri Tarjun di Kabupaten Kotabaru yang berorientasi pada industri semen. 4. 7. Gua Liang Kantin Muara Uya di Kabupaten Tabalong. Zona industri Bati-Bati di Kabupaten Tanah Laut yang berorientasi pada industri peternakan. kehutanan. Teluk Tamiang di Kabupaten Kotabaru. 5. Dayak Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pasar Terapung Lok Baintan Sungai Tabuk di Kabupaten Banjar. 2. Bunati di Kabupaten Tanah Bumbu. agro industri. Zona industri Liang Anggang di Kota Banjarbaru yang berorientasi pada industri minuman. Upau. Jaro. Zona industri Murung Pudak di Kabupaten Tabalong yang berorientasi pada industri agroindustri. Obyek wisata budaya Pasar Terapung. gas. 3. Batakan di Kabupaten Tanah Laut dan Pagatan. Kerbau Rawa Danau Panggang di Kabupaten Hulu Sungai Utara. 6. perkebunan. Sentra industri galangan kapal di Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru di Kabupaten Kotabaru. bahan kimia. 10. 9. industri logam. Sentra industri di Kota Banjarmasin yang berorientasi pada industri RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kawasan industri terdiri atas : 1. Gua Temu Luang dan Gua Sunggung di Kabupaten Kotabaru. perikanan dan kelautan serta industri baja. industri kehutanan. Obyek wisata bahari untuk terumbu karang. Obyek wisata religius Syech Muhammad Arsyad Al Banjari Kalampayan. Tanjung Puri di Kabupaten Tabalong. 5. 4. Zona industri Matraman di Kabupaten Banjar yang berorientasi pada industri perkebunan.BAB II Adam dan Lembah Kahung di Kabupaten Banjar. Batang Alai Selatan. Syech Muhammad Arsyad Pagatan di Kabupaten Tanah Bumbu. Pagatan. Obyek wisata budaya di Loksado. Kubah Basirih di Kota Banjarmasin. Waduk Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut. Zona industri Jorong dan Kintap di Kabupaten Tanah Laut yang berorientasi pada industri bubur kertas dan bijih besi. Sentra industri Negara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang berorientasi pada industri kerajinan rumah tangga. 12. yaitu Pulau Kunyit. Takisung. makanan dan kehutanan. Danau Undan Banua Lawas di Kabupaten Tabalong. Obyek wisata pantai Swarangan Jorong. Sentra industri Amuntai di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang berorientasi pada industri perabot kayu dan rotan. 8.. Air Panas Hantakan. Haruyan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Sarang Tiung di Kabupaten Kotabaru. 6. 2.2015 Page 14 . Datu Sanggul. n. Kawasan industri Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu yang beorientasi pada industri perkebunan.

3. 2.1. Kawasan pertahanan keamanan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang dikembangkan untuk kepentingan nasional dan provinsi. Kawasan pertambangan batubara. p. 10.978 jiwa RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2015 Page 15 . 4. Kawasan wilayah pertambangan rakyat bahan galian intan di Kota Banjarbaru. Hulu Sungai Selatan. Kawasan Metropolitan Banjarmasin / Banjarmasin Raya. Kawasan Rawa Potensial Batang Banyu. Hulu Sungai Tengah. Tanah Bumbu. o. minyak bumi dan gas di wilayah Cekungan Kabupaten-kabupaten Barito. Kabupaten-kabupaten Banjar. Tapin. Hulu Sungai Selatan. 3. Tanah Laut. Kawasan Pelabuhan dan Bandar Udara. Kawasan pertahanan dan keamanan yaitu di Kota Banjarbaru. Perkembangan Penduduk Penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan berjumlah 3. 3. Kawasan Jorong (Kabupaten Tanah Laut) dan Kawasan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu.156 jiwa (tahun 2009). bertambah menjadi 3. 2. yaitu di Kawasan Mekar Putih dan Kawasan Pulau Lari-Larian di Kabupaten Kotabaru. Penduduk terbanyak berada di kota Banjarmasin dengan jumlah 639.1. Pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 1. Balangan. 13. Barito Kuala dan Pulau Lari-Larian di Kabupaten Kotabaru. Tabalong. 8.396. Kawasan lainnya terdiri atas : 1.5. dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Tanah Bumbu.BAB II kerajinan rakyat kain sasirangan. Kawasan Pegunungan Meratus. Cahaya Baru di Kabupaten Barito Kuala dan Sengayam di Kabupaten Kotabaru. 5. Hulu Sungai Utara. kawasan perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Kotabaru. Balangan. Kabupaten Tanah Laut. Kawasan Strategis Nasional (KSN) adalah Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Batulicin.503. Kabupaten Tanah Bumbu.5. 9. Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM). 7. 6.631 jiwa (tahun 2008). Tabalong. Kawasan perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Hulu Sungai Utara.680 jiwa (tahun 2007). 2. industri pengolahan kayu.446. Kawasan pertambangan terdiri atas : 1. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.1.70 persen per tahunnya. Sentra industri kerajinan batu permata Martapura di Kabupaten Banjar. Tanah Laut. Demografis 2. 11. Banjar. 12. industri pengolahan karet. Kawasan Berpotensi Pengembangan Ekonomi Khusus. Kotabaru. Kawasan pertambangan pola terbuka untuk bahan galian logam dan biji besi di wilayah Kota Banjarbaru.

91 1.208 Balangan 101.278 195.631 231.767 639.948 246.886 275.273 154.978 170.27% dari seluruh penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan.181 Tabalong 191.68 0. dapat dilihat pada tabel II.156 Sumber : Badan Pusat Ststistik Kalimantan Selatan.189 244.59 0.22 3) 1. pada tahun 2008 terjadi penambahan penduduk sebesar 1.12 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 Tanah laut Kotabaru 1) Banjar 3) Barito Kuala Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara 2) Kabupaten/Kota Tahun 2003 . Tabel II.4 Laju pertumbuhan Penduduk Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2003-2008 No.d 2009 tidak mengalami banyak perubahan yang berarti.336 209.680 3. Struktur penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan selama tahun 2007 s.066 Hulu Sungai Selatan 207.8 1. untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.331 498.000 276.056 Barito Kuala 269.487 218.304 226.000 167.091 Kotabaru 272.3.446.296 Kota Banjarmasin 615.332 Tapin 152.000 193.448 272.1 2) Tahun 2005 .1 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2009 275.64%.d 2009 dapat dilihat pada tabel II.886 jiwa pada tahun 2009 atau sekitar 14.823 3. Kabupaten Banjar memiliki penduduk terbanyak kedua dengan jumlah 498. Perkembangan penduduk Kalimantan Selatan selama tahun 2007 s.631 No.49% dan pada tahun 2009 sebesar 1.192 Hulu Sungai Utara 214.245 Kota Banjarbaru 164. Meningkatnya pertumbuhan penduduk sebagai akibat dari belum optimalnya daerah untuk menggarap sektor keluarga berencana.010 489. Berdasarkan tabel tersebut diatas. perencanaan dan pengelolaan sektor keluarga berencana akan mendapat perhatian lebih serius.571 Hulu Sungai Tengah 242.402 208. Dimasa yang akan datang.629 270.570 627.2015 .4 Tabel II.3 Jumlah Penduduk Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2007 s/d 2009 Tahun Kabupaten/Kota 2007 2008 Tanah laut 265.298 102.737 Kalimantan Selatan 3.71 1.2005 2. Laju pertumbuhan penduduk per Kabupaten/Kota.860 102.574 Banjar 480.007 281.85 0.01 1) 2.077 153.2008 1.BAB II pada tahun 2009 atau sekitar 18.02 1.396.191 216.96 Page 16 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .503.24%.71 1.082 Tanah Bumbu 221.

92 2. Perkembangan peserta KB di Kalimantan Selatan selama tahun 2007 s.286 44.708 63.733 39.771 28.553 25.2008 1.049 84.49 No.249 15. namun jika dilihat kabupaten/kota terdapat beberapa kabupaten (Hulu Sungai Selatan.976 16.12 2.5 Tabel II.27 1.620 33. 9 10 11 12 13 14 Tabalong Tanah Bumbu Balangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan Kabupaten/Kota Sumber : BPS Provinsi Keterangan : 1) = Termasuk Kabupaten Tanah Bumbu 2) = Termasuk Kabupaten Balangan 3) = Termasuk Kota Banjarbaru Peran keluarga berencana menjadi sangat penting.181 506.5 Peserta KB Aktif Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 No.2015 Page 17 . tapi juga mendekatkan pelayanan hingga ke pedesaan.6 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .660 524. Perkembangan capaian peserta KB Baru di Kalimantan Selatan tabel II.24 4.281 476.456 39.555 35. sehingga cakupan KB baru dan penundaan usia nikah dapat dilakukan dengan baik.611 35.24 0.319 23.561 37. tidak saja prekrutan peserta KB baru dan memelihara peserta KB aktif yang ada.035 16.468 37.842 44.72 2.726 21.BAB II Tahun 2003 .d 2008 menunjukkan perkembangan yang cenderung meningkat.262 Tahun 2007 41. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Tanah laut Kotabaru Banjar Barito Kuala Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Tabalong Tanah Bumbu Balangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan 2006 40.91 Tahun 2005 .647 30.840 31.322 29.933 23.427 24.d 2008 dapat dilihat pada tabel II.625 69.839 27.45 1.227 2008 44.513 80.443 30.201 Sumber : BKKBN Provinsi Pencapaian peserta KB baru di Provinsi Kalimantan Selatan selama periode tahun 2006 s.485 31.2005 1.654 31.729 76.338 42. Tanah Bumbu dan Balangan) mengalami penurunan kinerja dalam capaian peserta KB Baru.995 34.983 42.020 61.31 1.269 32.348 35.

563 117. serta penyediaan pelayanan KB gratis bagi penduduk miskin.673 4.576 7.830 Tahun 2007 6. Kondisi inilah yang sangat membantu dan merupakan modal dasar dalam melakukan kegiatan pembangunan disegala bidang kehidupan.678 7.009 5. serta berbagai determinan sosial di masyarakat. dan komposisinya secara statistik cenderung stabil dari tahun ketahun.130 9. Dari aspek keberagaman suku bangsa yang ada di Kalimantan Selatan secara umum didalam komposisi penduduk didominaasi oleh suku asli Banjar.451 6.785 7.959 12.627 6.542 Sumber : BKKBN Provinsi Pertumbuhan yang tidak terkendali.912 5. Dampak terbesar adalah terhadap daya tampung pendidikan.758 3. meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja dan pasangan usia subur tentang KB.755 8.491 24.475 5. Beberapa suku bangsa antara lain suku Jawa.841 5.426 16. meningkatkan kesertaan berKB. dan dampak sosial lainya. dapat berakibat pada berbagai persoalan sosial.549 5. keterbatasan fasilitas pelayanan belum memadai. Tantangan ke depan adalah mengendalikan Total Fertility Rate (TFR) yang merupakan faktor dominan dalam mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah pertambahan penduduk.849 6. Rendahnya kualitas pelayanan sosial dasar masyarakat.926 5.064 6. munculnya pemukiman kumuh. meningkatkan akses terhadap pelayanan KB di daerah. dan persoalan sosial lainnya.011 107.306 7. motivasi petugas yang masih rendah.457 4. serta sebagian kecil suku keturunan Tionghoa. sistem administrasi kependudukan belum dilaksanakan secara akurat.018 7.456 4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Tanah laut Kotabaru Banjar Barito Kuala Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Tabalong Tanah Bumbu Balangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan 2006 5. Secara umum kondisi pergaulan diantara suku bangsa yang ada sudah sangat kondusif dan hidup secara damai.317 4.459 5.019 6. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . penurunan kualitas tenaga kerja.960 7.119 4.870 5. pelayanan kesehatan.BAB II Tabel II.326 3. Madura.303 18.6 Peserta KB Baru Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 No. Batak dan Sunda.361 5.143 90.125 17. akan faktor yang dapat mempengaruhi cakupan perseta KB Baru.206 6.767 26. keterbatasan anggaran yang tersedia.519 2008 7. kesempatan kerja. namun jumlah mereka relatif kecil. Bugis.2015 Page 18 .

70 20. Pertumbuhan dan Struktur PDRB Salah satu pendekatan pengukuran kemajuan bagi perekonomian di suatu daerah ialah dengan melihat perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)nya.03 0.03 0.8 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .30 4.07 0.56 87.30 1.72 30.99 0.08 0.BAB II Tabel II.92 0.61 0.2.30 19.09 15.54 12.71 1.1.75 82.12 60.55 10. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 2.62 Lainnya (7) 2.95 1.45 (5) 1. Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.2.89 80.22 Sunda (6) 1.16 0.63 13.34 Jawa (3) 31.52 0.76 4.88 0.17 0.79 11.29 7.80 74.2015 Page 19 .05 2.67 30.03 0.10 0.68 79.1.19 1.08 0.13 2.07 0.79 39.89 0.56 7.51 0.14 Suku Bangsa Bugis Madura (4) 1.92 0.38 1. PDRB Kalsel atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sebagaimana terlihat pada tabel II.33 11.31 9.44 1.67 98.29 0.18 1.14 0.79 87.17 0.1.58 25.54 0.42 0.80 34.2. Melayu banjar (2) 61.93 76.42 95.97 6.22 Total (8) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Sumber : Badan Pusat Statistik.24 15. 2.20 0.12 0.08 0.44 4.12 0.86 3.42 0.56 1.7 Persentase Penduduk Kalimantan Selatan Menurut Kabupaten/Kota dan 5 Suku Bangsa Terbesar Kabupaten/Kota (1) Tanah Laut Kota Baru Banjar Barito Kuala Tapin HSS HST HSU Tabalong Tanah Bumbu Balangan Banjarmasin Banjar Baru Kal Sel Banjar.86 2.08 0.09 0.91 0.76 2.42 6.89 96.75 0.

777.364.118.27 2.29 34.90 219.00% 99.15% 19.546.61% 5.434.90 5. Pertumbuhan PDRB tanpa migas sedikit lebih tinggi.58 294.00 2.050.081.00 50.177.030.62 39. Selama periode 2006 .262.18 257.826. Peningkatan ini secara umum terjadi pada semua sektor meski dengan besaran yang berbeda-beda.15%.2009 pertumbuhan PDRB dengan migas mencapai rata-rata 5.942.758.647. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB Migas dengan 2006 7.34.856.783.4 trilliun menjadi Rp.025.299.57 3. hotel dan restoran (15.97 4.47 1.9) RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .00 7.758.00 45.35 2. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.676. walaupun pada tahun 2009 mengalami sedikit perlambatan. yakni mencapai rata-rata 5.200. Ketiga sektor ini merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar pada pembentukan dan pertumbuhan nilai PDRB Kalimantan Selatan selama ini.400.705.716.2 triliun pada 2009.553.932.767.273.788.843.152.39% PDRB tanpa Migas Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan 2009 Nilai PDRB atas dasar harga berlaku dengan migas pada tahun 2006 sebesar Rp. Peningkatan nilai PDRB Kalimantan Selatan dari tahun 2006 sampai 2009 terutama disebabkan oleh sektor pertanian dengan kontribusi 22. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.556. dan sektor perdagangan.579.000.89 7.36 4.87 2.34 2008 10.00 4.85 2.030.132.340.142.38%). 50.292.714.52% 15.763.134.210.312.5 trilliun.03 4.423.784.18% 100.250.06 38.7 triliun meningkat menjadi Rp.8.721700.463.00 10.474.875.34 6.93 3.018.468.38 2007 8.38% 6.29%).185.55 34.00 9.196.62 persen per tahun (Tabel II.00 Kontribusi pd Peningkatan 22.334.2015 Page 20 . Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Selatan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.438. Sektor yang berperan besar selanjutnya adalah pertambangan dan penggalian (19.55 2.33 4.85% 6.00 51.50 3. Seiring dengan itu.548. Nilai PDRB ADHB (dalam Ribuan Rupiah) Kalsel 2006-2009 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.049.834.310.651.96% 13.630.777.860.930.217.799.29% 10.861.005 5. 34.849.300.03 1.130.00 2009 11. PDRB tanpa migas juga meningkat dari Rp.047.00 5.990.82 8. 51.420.852.446.00 45.494.08% 0.568.BAB II Tabel II.275.94 4.28 5.72 3.670.196.609.56 persen per tahun.94 194.

BAB II
Tabel II.9. Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2006-2009 (%) RataSektor 2006 2007 2008 2009 rata Pertanian 4,70 5,72 6,48 7,12 6,00 Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Pertumbuhan Eko dengan Migas Pertumbuhan Eko tanpa Migas 7,47 -1,70 3,83 7,02 5,56 6,06 3,24 6,89 4,98 5,05 5,05 2,94 4,14 6,90 6,18 8,23 15,36 6,65 6,01 6,08 7,37 2,59 4,23 5,60 7,07 6,43 5,73 6,63 6,23 6,37 1,73 2,31 5,33 6,06 5,80 5,95 6,44 7,33 5,01 5,11 5.40 1,53 4,38 6,40 6,15 6,67 7,69 6,87 5,56 5,65

Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan 2009

Seluruh sektor ekonomi menunjukkan pertumbuhan rata-rata positif. Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mencapai tingkat pertumbuhan rata-rata tertinggi (7,69%), disusul Jasa-jasa (6,87%), dan Pengangkutan dan Komunikasi (6,67%). Sementara itu, sektor yang tumbuh paling rendah adalah Industri Pengolahan dengan rata-rata 1,53%. Sektor-sektor yang termasuk dalam kelompok sektor primer (Pertanian dan Pertambangan – Penggalian) dan tersier (Perdagangan-hotel-restauran, Pengangkutan dan komunikasi, Keuangan-persewaan-jasa perusahaan, dan Jasa-jasa lainnya) mengalami pertumbuhan yang relative tinggi secara konsisten. Sementara, pertumbuhan dalam kelompok sektor sekunder (Industri pengolahan, Listrik-Gas-Air, dan Bangunan) secara umum cenderungan lebih lambat, kecuali Bangunan. Tabel II.10 memperlihatkan bahwa pembentukan nilai PDRB selama periode 2006 – 2009 didominasi kelompok sektor primer dengan rata-rata 43,95% dan tersier (38,40%) yang utamanya berasal dari Perdagangan-Hotel-Restoran. Besarnya peran sektor primer menunjukkan bahwa Perekonomian Kalimantan Selatan masih sangat tergantung pada sumberdaya alam. Peranan sektor sekunder (17,68%), disisi lain, justru semakin menurun. Sektor sekunder, khususnya Industri pengolahan yang potensial untuk menciptakan nilai tambah dan daya saing lebih tinggi bagi ekonomi peranannya menurun dari 11,68% pada 2006 menjadi 9,87%.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 21

BAB II
Tabel II.10. Kontribusi Sektoral dalam PDRB Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009 RataSektor 2006 2007 2008 2009 rata Pertanian 22,43 22,46 22,15 22,34 22,36 Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Jumlah
Sumber :BPS Tahun 2010

21,86 11,68 0,56 6,56 14,86 8,45 4,10 9,50 100,00

21,70 11,07 0,56 6,48 15,04 8,99 4,46 9,26

21,73 10,31 0,56 6,25 14,95 9,17 4,80 10,07

21,06 9,87 0,58 6,23 15,00 9,23 5,02 10,69

21,59 10,73 0,57 6,38 14,96 8,96 4,60 9,88

100,00 100,00

100,00 100,00

2.2.1.2. Pendapatan Perkapita dan Pemerataan PDRB dapat dikatakan sebagai ukuran kesejahteraan suatu daerah. Di sisi lain, PDRB per kapita dapat dijadikan ukuran kesejahteraan masyarakatnya, karena merupakan nilai rata-rata besaran PDRB untuk tiap orang penduduk. PDRB per kapita meskipun lebih indikatif bagi pengukuran tingkat kesejahteraan namun belum menggambarkan tingkat kemerataan antar penduduk.
Tabel II.11. PDRB Per kapita Dengan Migas Di Kalimantan Selatan 2000 – 2009 Harga Berlaku Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009*) Harga Konstan 2000 PDRB Perkapita Pertumbuhan PDRB Perkapita Pertumbuhan (Rp) (%) (Rp) (%) 6.269.036 6.269.036 6.893.127 7.532.597 8.001.103 8.705.989 9.644.377 10.359.826 11.610.975 13.276.160 14.514.675 9,96 9,28 6,22 8,81 10,78 7,42 12,08 14,34 9.33 6.438.936 6.622.005 6.649.457 6.886.794 7.065.534 7.306.536 7.631.654 7.989.962 8.201.844 2,71 2,84 0,41 3,57 2.60 3,41 4,45 4,70 2,65

Sumber : PDRB, Tahun 2006 – 2009 *) Angka sementara

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 22

BAB II PDRB per kapita atas dasar harga berlaku selama kurun waktu 2000 sampai 2009 berkembang dengan pesat dengan rata-rata peningkatan sebesar 916.182 rupiah per tahun. Kenaikan terbesar terjadi pada tahun yang relatif besar terjadi tahun 2008, 2007 dan 2005 dengan pertumbuhan masing masing diatas 10% (Tabel II.11). PDRB per kapita berdasarkan harga konstan 2000 juga mengalami kecenderungan peningkatan namun relatif lebih rendah daripada tingkat pertumbuhan PDRB per kapita atas dasar harga berlaku. Lebih tingginya pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku disebabkan karena terjadinya peningkatan harga barang dan jasa yang cenderung berlangsung terus menerus.
Tabel II.12. PDRB Perkapita Dengan Migas Menurut Provinsi di Kalimantan 2007 – 2009 (Rp)

Provinsi Kalimantan Barat Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah
Sumber : PDRB, Tahun 2007 – 2009 *) Angka sementara

2007 10.165.998 73.602.055 11.610.975 13.771.080

2008 11.393.992 101.532.771 13.276.160 15.767.356

2009*) 12.471.411 88.920.062 14.514.675 17.366.788

Berdasarkan nilai PDRB total, posisi Kalimantan Selatan dibanding provinsi lainnya di Kalimantan berada diurutan ketiga. Tidak jauh berbeda jika dilihat dari PDRB per kapita, posisi Kalsel juga berada diurutan ketiga dalam wilayah Kalimantan. Provinsi Kalimantan tengah yang secara total nilai PDRBnya berada pada urutan paling rendah ternyata menduduki posisi kedua dilihat dari PDRB per kapitanya (Tabel II.12) Tingkat kemerataan pendapatan di Kalsel relatif konstan dalam periode 2005 – 2009. Berdasarkan angka indeks gini (Gini Ratio) maka tingkat distribusi pendapatan selama ini tergolong pada kemerataan sedang. Hal ini berarti tingkat ketimpangan pendapatan antar penduduk tidak berlangsung tajam. Perbedaan pendapatan kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi tidak terlalu jauh diatas kelompok berpendapatan rendah 2.2.1.3. Pemerataan Pembangunan Tujuan pembangunan dalam aspek kewilayahan diantaranya adalah untuk mewujudkan tercapainya tingkat pembangunan yang relatif merata antar daerah. Terdapat 13 Kabupaten/Kota sebagai daerah-daerah yang tersebar dalam wilayah pembangunan Provinsi Kalsel. Perbandingan PDRB, jumlah penduk, dan PDRB per kapita antar daerah terlihat pada Tabel II.13.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 23

pembentukan modal tetap bruto. konsumsi pemerintah.618 270.192 08.47 2007 0. PDRB menurut penggunaan dapat menggambarkan kemampuan daerah dalam menggunakan dan mengalokasikan kembali hasil dari proses produksi tersebut baik untuk keperluan konsumsi.332 05.13 PDRB perkapita dengan Migas Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut kab/Kota Tahun 2008 (Ribuan Rupiah) Kabupaten/Kota PDRB (Rp. PDRB Kabupaten/Kota menurut lapangan usaha Tahun 2009 Dari tabel tersebut nampak bahwa daerah dengan total PDRB tertinggi adalah Kabupaten Kotabaru sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Huku Sungai Utara.158 13.446. Angka indeks williamson Kalimantan Selatan dari 2004 – 2008 relatif konstan dari tahun ketahun seperti nampak pada Tabel II.40 0.160 4.009. Untuk mengukur Ketimpangan antar wilayah salah satu alatnya adalah dengan menggunakan indeks williamson.736.521 193.008.894 11.556. 2006 0.252 244.4. Prov.2.585 13.181 09.128.839.205.091 02.105 216. tahun 2009 (diolah kembali). Hulu sungai utara 768.Juta) Penduduk (Jiwa) PDRB Per Kapita 4 7. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .935.333. Daerah dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kota Banjarmasin sedangkan yang paling sedikit adalah Kabupaten Balangan.909.14 Indeks Williamson Di Kalimatan Selatan Tahun 2004 .245 13. Kal-Sel.613 12. Banjarmasin 4.435. sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Hulu sungai Utara.066 06.120.397 276.063 7.045.899.443.390. Banjar 3. Tanah laut 2.536.425 6.704.641.777 226. Pengeluaran Agregate PDRB selain disajikan menurut lapangan usaha sebagai cerminan dari nilai tambah yang ditimbulkan akibat adanya berbagai aktivitas ekonomi di setiap sektor (lapangan usaha) juga dapat disajikan menurut penggunaannya. Barito kuala 1. Tabel II.2008 Tahun 2004 2005 Indeks Williamson 0.296 12.45 2. Banjarbaru 858.471.282 5. Nilai PDRB per kapita yang menunjukkan tingkat rata-rata PDRB bagi tiap penduduk yang tertinggi adalah di Kabupaten Kotabaru.BAB II Tabel II.237 4.950 272. Hulu sungai selatan 999.056 04.737 Kalimantan selatan 27. Kotabaru 4. Tabalong 2.574 03.582 102.889. Hulu sungai tengah 987.907.008 16.942 167.501 3.14.451.938.408 3.830 1 2 3 01. Meski demikian derajat ketimpangan tersebut masih berada kategori sedang. investasi maupun ekspor.120.152 389.866. perubahan stok dan ekspor netto.754.839 208.1.631 Sumber: BPS. PDRB menurut penggunaan terdiri dari komponen konsumsi rumah tangga.681. Tanah bumbu 2.458.2015 Page 24 .006 627.905.711.416 6.571 07.082 10.208 11.957.856.47 2008 0.238 153.429 5.794.727.46 Sumber: BPS. Balangan 1.538. Tapin 908.318.

49 13.00 Tabel II. dan lain-lain-.86 68.60 64.64 persen (Tabel II.66 persen.12 persen Berbeda dengan Konsumsi RT yang cenderung meningkat pesat.00 2009*) 50.00 2008 50.12 -15. Sementara itu komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang merupakan pengeluaran untuk pembelian barang modal yang umumnya akan digunakan sebagai alat untuk berproduksi.84 -17.2015 Page 25 . Selain kedua komponen itu.15 memperlihatkan bahwa selama periode 2007-2009 semua komponen PDRB menurut penggunaannya mengalami peningkatan dan impor mempunyai kontribusi yang cukup besar yaitu 41.47 15. Selama ini produksi barang dan jasa sebagian besar masih digunakan untuk keperluan ekspor dan konsumsi rumah tangga.36 persen.3 0.33 18. komponen impor juga mempunyai kontribusi yang cukup besar yaitu 30.5 persen. Sementara itu komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang merupakan pengeluaran untuk pembelian barang modal yang umumnya akan digunakan sebagai alat untuk berproduksi.35 -21. Tabel II.89 30.43 14.90 27. Selama tiga tahun terakhir kontribusi dari kedua komponen tersebut selalu di atas 40 persen. belanja barang. Tercatat tahun 2008 kontribusi komponen ekspor sebesar 69.36 100. selama tiga tahun terakhir kontribusinya menunjukkan trend positif pada tahun 2008 mencapai sekitar 18.48 100. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .BAB II Pola distribusi yang terbentuk dari kelima komponen penggunaan PDRB hampir sama setiap tahunnya. belanja perjalanan dinas. Tahun 2007 – 2009 2007 51.) Total Sumber : PDRB. seperti belanja pegawai. Lebih rendahnya kontribusi komponen PMTB dibandingkan dengan komponen konsumsi rumah tangga menunjukkan bahwa penggunaan PDRB di Kalimantan Selatan masih cenderung bersifat konsumtif. Konsumsi pemerintah –yang mencakup pengeluaran rutin.45 14.15).5 100.42 41.justru memperlihatkan pertumbuhan yang sedikit naik.04 20.26 persen dan kontribusi komponen konsumsi rumah tangga sebesar 47.67 70.15 PDRB Menurut Penggunaan Di Kalimantan Selatan Tahun 2006 – 2009 (%) Penggunaan Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Bruto Perubahan Stok Ekspor Impor ( .99 0. selama tiga tahun terakhir kontribusinya menunjukan trend positif pada tahun 2009 mencapai sekitar 20.50 0.

BAB II Tabel II.992 ton pada tahun 2009.598. telur dan ikan tergolong surplus.13 6.01 6. Konsumsi Rumah Tangga 10.51 48.75 15.16 Pertumbuhan PDRB Menurut Penggunaan di Kalimantan Selatan Tahun 2007 – 2009 (%) Komponen Penggunaan 2007 2008 (1) (2) (3) 1.80 6. sayuran. jagung. Pada tingkat produksi ini.61 3. Produksi tanaman pangan akan mendukung ketersediaan bahan pangan. Ketahanan Pangan Komoditas andalan Kalimantan Selatan adalah padi. Ketahanan pangan akan dicapai apabila terpenuhinya kebutuhan pangan yang cukup.835 ton naik menjadi 1.32 1.51 15. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .956.68 4.63 2.5. dan buah-buahan tergolong surplus. Penurunan ini terkait dengan menurunnya investasi PMA dan PMDN pada tahun 2009 ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2. terutama padi.1. Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba 2.2015 Page 26 .13 23. minyak sawit dan gula ketersediaan tergolong minus.84 6. serta segala jenis kendaraan). Ketersediaan bahan pangan dan kebutuhan pangan Kalimantan Selatan pada tahun 2009 disajikan pada Tabel II. beras.72 5.06 6. jika dilihat selama kurun waktu tahun 2007-2009 pertumbuhan komponen PMTB Kalimantan Selatan mengalami penurunan walaupun pertumbuhannya masih cukup besar. kacang tanah. seperti daging. Ketersediaan beberapa komoditas bahan pangan nabati pada tahun 2009. Kalimantan Selatan berhasil mencapai surplus beras yang semakin besar dan merupakan provinsi yang kesembilan sebagai penyumbang dan penyangga produksi padi nasional. jeruk dan pisang. ubi jalar. sedangkan ketersediaan susu tergolong minus. gizi seimbang dan terjangkau oleh seluruh masyarakat. Tahun 2007 – 2009 2009*) (4) 5.35 5.91 Total 6.17. sedangkan kedelai.05 -1. Impor ( . ubi kayu. seperti padi.2. Produksi padi tahun 2005 sebesar 1.23 Sumber : PDRB. Pembentukan Modal Tetap Bruto 38. Ekspor 12.02 5. Konsumsi Pemerintah 6.) -34. jagung. Komoditi ini juga menjadi komoditas unggulan tingkat nasional.92 5. Ketersediaan komoditas pangan hewani pada tahun 2009.01 Komponen Pembentukan Modal tetap Bruto (dalam bentuk bangunan/konstruksi. mesin-mesin dan alat-alat perlengkapannya.

1. Kal-Sel.139.97 136.13 50.978.94 -108.705.86 Surplus Meningkat Kedelai -12.911.90 -51.767.86 17.97 136.036 47.144.28 196.235.769.57 -107.82 Minus Menurun Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar Sayur-sayuran Buah-buahan Minyak Sawit Gula 13.696.729.978.72 -12.978.73 Sumber: BKP Prov.11 98.068.600.28 68.247.51 101.716.247. Dengan demikian.18 Tabel II.23 Keterangan surplus surplus surplus minus surplus surplus surplus minus surplus minus minus surplus surplus minus surplus 2.22 111.159. 12 13 14 15 Pangan Nabati (Ton) Padi Beras Jagung Kedelai Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar Sayur-sayuran Buah-buahan Minyak Sawit Gula Pangan Hewani (Kg) Daging Telur Susu Ikan Tahun 2009 Ketersediaan Kebutuhan Perimbangan 854.50 105.21 62.130.053.14 14.09 581.84 -12.23 -207.588.591.77 Surplus Meningkat Jagung -59.03% dan 104.480.089.559.83 23. Pada tahun 2009.869 16.669.59 93.929. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sumber : BKP Prov.50 34.836 97.767.36 266.096 95 175.399 1.83 47.157.90 51.714.600.32 101.18.353.87 854.28 196.766. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .525.262.92 122.43 149.14 14.130. Perbandingan Perimbangan Ketersediaan Pangan Nabati di Kalimantan Selatan 2008 Dan 2009 Perimbangan (Ton) Persentase Ket Komoditi Tahun 2008 Tahun 2009 Thd 2008 Pangan Nabati Padi 813.894.58 -50. 1.100.03 2.012. 2010 Padi atau beras merupakan bahan pangan pokok.738.01 5.62 124.84 157.319. Ketersediaan dan Kebutuhan Bahan di Kalimantan Selatan Tahun 2009 Komoditi I.669.52 -18.48 113.680 265. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 II.90 -51.559.089. Perbandingan perimbangan ketersediaan bahan pangan nabati Kalimantan Selatan tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel II.144. surplus padi dan beras mengalami peningkatan masing-masing sebesar 105.17.999.51 Surplus Meningkat Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Menurun Surplus Meningkat Minus Meningkat Minus Meningkat I.95 104.570.57 -107.741. Kalimantan selatan potensial mempertahankan swasembada pangan terutama beras sehingga tetap dapat menjadi lumbung beras atau penyangga beras nasional.16 16.545.502 50.59 13.77% dibandingkan surplus padi pada tahun 2008.65 301.03 Surplus Meningkat Beras 555.093 31.09 50.19 31.83 100.326 4.59 2.42 173.2015 Page 27 . Kal-Sel.767.645 139.271.95 34.50 -18.480.953 42.948.50 690.997.68 18.96 1.BAB II Tabel II.52 -18.319.975.50 581.77 13.247.918.

3. Standar kecukupan konsumsi protein hewani yang ditetapkan FAO adalah minimal sebesar 6.21 persen untuk telur dan 30. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Masuknya beras kedalam katalog menyebabkan beras akan dikenakan kebijakan penghapusan tarif impor. Pada tahun 2009 Provinsi Kalimantan Selatan telah mengalami peningkatan surplus daging dan telur dari tahun 2008. produksi daging yang dihasilkan sebesar 1.5 Kg telur dan 6.19. 200.4 gram/kap/hari atau baru mencapai 55. Hal ini karena konsumsi masyarakat banyak beralih ke konsumsi daging dari jenis ternak lain yang harganya lebih murah dibanding harga daging sapi potong. ubi jalar dan buah-buahan membutuhkan suatu kebijakan untuk menghindari jatuhnya harga bahan pangan yang mengakibatkan petani rugi. kacang.87 persen. Selain itu. namun masih sangat kekurangan ketersediaan susu.62 ton sementara ketersediaan dari produksi dalam daerah hanya 95 ton. karena itu perlu disikapi dalam menghadapi kemungkinan komoditas beras menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam katalog AFTA ASEAN.67 gram/kapita/hari. Pertumbuhan rata-rata konsumsi daging dari tahun 2006-2009 sebesar 40.324 kg diekspor ke provinsi tetangga (Kalimantan Tengah). Konsumsi daging per kapita/hari dari tahun 2006-2009 mengalami kenaikan.53 gram/kapita/hari. dan diperlukan pergudangan yang refresentatif untuk menampung kelebihan bahan pangan sehingga kualitas tetap terjaga. Pencapaian Konsumsi pangan hewani asal ternak masyarakat Kalimantan Selatan tahun 2008 menurut hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional adalah konsumsi daging 15. Produktivitas padi masih dibawah produktivitas nasional. ubi kayu. karena sebagian masyarakat menganggap jenis dagingnya sama dengan daging sapi. Kalimantan Selatan siap swasembada daging tahun 2014 karena Kalimantan Selatan sejak tahun 2008 mengalami surplus daging dan telur. Produk tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan sebagian besar belum mempunyai daya saing yang kuat.00 gram/kapita/hari atau setara dengan 10. Sehingga dengan hasil usaha tani demikian produk pertanian Kalimantan Selatan kalau tidak segera dibenahi akan sulit bersaing pada era perdagangan bebas sekarang ini. tentunya persaingan perdagangan beras dari kompetitor-kompetitor produsen beras seperti Thailand dan Vietnam akan semakin berat dan apabila tidak diantisipasi akan semakin memperpuruk kondisi kesejahteraan petani padi.3 gram/kap/hari. telur 9.59 gram/kapita/hari dan susu 17.11%). jagung. karena mutu yang belum memenuhi standar dan belum adanya jaminan suplai/produksi yang kontinyu. telur dan susu di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.2015 Page 28 . telur 19.BAB II Surplus bahan pangan seperti padi/beras. dimana kebutuhan akan susu sangat besar yaitu mencapai 301. selain itu adanya konstribusi daging kuda dan kerbau. namun untuk konsumsi daging sapi potong mengalami pertumbuhan negatif (3.2 gram/kap/hari dan susu 5. 4 Kg susu per kapita per tahun atau setara dengan daging 27.29 persen untuk daging. Konsumsi daging.646.80 persen untuk susu.1 Kg daging.

62 124.31 9 Ayam Ras`Pedaging 19.581 (8.844 26.714.502 50.427 37.563 266.956 23.649.078 13.166.015.09 50.78 5 Domba 16.879.894.948 5.861 22.402 1.717 4.403.2015 Page 29 .158 1.494 14.993 12.591.19 31.131.617 363.318 16.728 5.970 17. 1 2 3 4 Pangan Hewani (Kg) Daging Telur Susu Ikan Ketersediaan 47.146.909 7.672 309. Telur (Kg) 1 Ayam Buras 3.13 50.BAB II Tabel II. Tabel II.614.892.613.157.210 25.60 4 Kambing 232. 2010 Kurangnya ketersediaan susu disebabkan oleh menurunnya jumlah populasi sapi perah dan masih minimnya sarana prasarana untuk pengolahan susu sapi di Kalimantan Selatan.82) Sumber: Dinas Peternakan Prov.755.100.48 6 Babi 346.467 5.990 12.20 Ketersediaan dan Kebutuhan Pangan Hewani di Kalimantan Selatan Tahun 2009 Komoditi I.502.23 -207.649.063 5.451 (7.73 Perimbangan 47.742.322 (3.987 1.734 129.74 Rata-rata Pertumbuhan 12.068.06 B.318 21.526 1.911.85 3 Kuda 965 2.65 301.890 24.61 8 Ayam Ras Petelur 203.552.886 88.248 811.823.38 2 Ayam Ras Petelur 13.085.04 3 Itik 15.76 Rata-rata Pertumbuhan 40.053.524 725.19.557 185.077.96 Kebutuhan 23.738.23 Keterangan surplus surplus minus surplus RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .752 263.35) 7 Ayam Buras 3. Konsumsi Daging. Telur Dan Susu di Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009 Tahun Pertumbuhan No.063 264.371 11.252 257.509 295.525. Daging (Kg) 1 Sapi Potong 5.190.242 13.11) 2 Kerbau 773.570.299. Jenis Ternak 2006 2007 2008 2009 A.649 4. Kalsel.831 3.162.201 956.230 356.186 10.026 16.649 2.15 dan perbandingan surplus-minus ketersediaan terhadap kesediaan pangan hewani tahun 2008 disajikan pada Tabel II.78 10 Itik 836.524. Ketersediaan dan kebutuhan pangan hewani tahun 2009 disajikan pada Tabel 2.679 30.205.980.742 5.938 935.712. 20.651 18. Susu (Liter) 1 Sapi Perah 292.159.969 4.605 14.204 16.473.185.096 95 175.87 B.137 520.

Taraf Kesejahteraan Sosial.998 57.065 3.29 204.300 50. Kesejahteraan masyarakat bergantung pada status ekonomi masyarakat.867 16.21.850 53.22 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 Tahun Kab/Kota 2006 2007 19.946 Anak Janalan 1.655 Tuna Susila 38.357 2. Bentuk keterbatasan ini akan muncul dalam bentuk masalah kesejahteraan sosial seperti balita terlantar.88 Persentase Thd 2008 285.781.2.124 1. 2010 2. wanita rawan sosial ekonomi.823.858 3.284 397 Anak Nakal 237 252 Anak Korban Tindak Kekerasan 479 1.317 Bekas Narapidana 55.114 30. Kal-Sel. Besarnya beban ekonomi dan kecilnya pendapatan yang diperolah sebagian kecil kalangan belum mampu memberikan tingkat kesejahteraan yang baik.594 Lanjut Usia Terlantar No.103. Salah satu beban tersebut adalah tingginya angka ketergantungan penduduk dalam masyarakat.295 Wanita Rawan Sosial Ekonomi 715 2.36 55.836.002.067. 1 2 3 4 Pangan Hewani Daging Telur Susu Ikan Perimbangan (Ton) Tahun 2008 Tahun 2009 19.BAB II Tabel II.2.46 -207.320 4.029 Balita Terlantar 58.1.09 36.086 Wanita Korban Tindak Kekerasan 2.786 652 1. Kesejahteraan Sosial 2.281 1. keluarga rentan sosial. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 2008 58. Perbandingan Perimbangan Ketersediaan Pangan Hewani di Kalimantan Selatan Tahun 2008 dan 2009 Komoditi I. konitas adat terpencil dan lain sebagainya sebagaimana tabel II.120 36. anak nakal.22 Tabel II. anak jalanan.586 17.842 1.543 Penyandang Cacat 1.81 11.2.868.36 Ket Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Meningkat Surplus Meningkat Sumber Data : BKP Prov. Pada sisi lain juga terjadi efek terhadap masyarakat dalam bentuk keterbatasan kemampuan sosial dalam masyarakat.671 391 376 920 16. anak terlantar.2.389.288 6.2015 Page 30 .35 -204.571 3.140 Pengemis 3.27 535.16 101.01 58.142.158 2.296 Korban NAPZA 16.421.758 Anak Terlantar 4.21 73.880 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .745 Penderita Penyakit Kronis 685 622 Gelandangan 1.

037 477.2015 Page 31 .887 75.435 90 1.338 No.021 6.303 33.654 6. penyediaan modal usaha mikro. meningkatkan motivasi tenaga pendampingan PMKS. Tantangan kedepan adalah meningkatkan ketersediaan dan kecukupan dana bantuan. meningkatkan bea siswa pendidikan. melanjutkan program Gerbangmastaskin. meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program kesejahteraan sosial. Tingkat kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Selatan pada akhir-akhir ini sudah mengalami peningkatan.726 2008 54 3.46%. 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Kab/Kota Lansia Korban Tindak Kekerasan Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis Keluarga Fakir Miskin Rumah Tidak Layak Huni Korban Bencana Alam Keluarga Tinggal di Daerah Rawan Bencana Komonitas Adat Terpencil Anak Cacat Keluarga Rentan Penderita HIV/AIDS Bencana Sosial Pekerja Migran Terlantar Jumlah 2006 51 5.458 1.610 33.423 37. Kondisi ini memang tidak dapat dihindari mengingat. belum cukup memuaskan.821 19 1.637 34. dan pemberdayaan tenaga pendampingan PMKS masih belum optimal.652 8. Penyelesaian penyandang masalah kesejahteraan sosial. keterbatasan pemerintah memberikan/ menyediakan bantuan. Pada tabel tersebut di atas menunjukkan. bahwa jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial dari tahun 2006 ke 2007 terjadi peningkatan sebesar 38. Keberhasilan pembangunan kesejahteraan sosial di Kalimantan Selatan.380 75. dan melaksanakan revitalisasi program pembangunan kesejahteraan sosial.461 250 35. dengan melakukan upaya/program bersifat proyek padat karya.BAB II Tahun 2007 4. mendukung dan memfasilitasi pelaksanaan program-program pro-rakyat.220 29. peran serta masyarakat dalam pengembangan kesetiakawanan sosial perlu terus ditingkatkan pada berbagai strata kehidupan masyarakat.249 239 344.822 9. dan dari tahun 2007 ke 2008 terjadi penurunan sebesar 2. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .817 67.406 5.425 3. pelayanan kesejahteraan sosial melalui panti sosial dan rehabilitasi sosial.793 106. namun tidak mengabaikan variabel yang lain. perlu adanya penetapan prioritas dari sejumlah variabel.158 8.269 1.39%.346 465. mungkin tidak dapat dilaksanakan secara keseluruhan dalam waktu bersamaan.921 Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Selatan berbagai upaya telah dilakukan yaitu dengan meningkatkan pendapatan masyarakat dan menurunkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.817 35.419 35. hal ini tercermin pada turunanya angka penduduk miskin.312 34.

BAB II 2.2.2.2. Pendidikan Angka Partisipasi Sekolah Salah satu indikator keberhasilan pendidikan tercermin pada tingkat partisipasi pendidikan baik secara kasar maupun murni. Terjadi trend capaian angka partisipasi yang sangat baik selama kurun waktu tahun 2005 s.d. 2009
a.

Pada tahun 2005 angka Partisipasi Kasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebesar 41,02, kemudian meningkat menjadi 54,25 pada tahun 2009. Pada tahun 2005 Angka Partisipasi Murni (APM) SD sebesar 92,67 meningkat menjadi 99,02 pada tahun 2009. Khusus untuk APK SLTP pada tahun 2005 sebesar 77,79 menjadi 97,05 pada tahun 2009. APK SLTA pada tahun 2005 sebesar 53,91 meningkat menjadi 74,29 pada tahun 2009. Kondisi ini dapat dilihat pada Tabel II.23 :
Tabel II.23 Angka Partisipasi Sekolah di Kalimantan Selatan Tahun 2005-2009 Indikator APK PAUD APK SD/MI APK SMP/MTs/SMPT APK SMA/SMK/MA Prosentase Capaian 2005 41,02 95,33 77,79 53,91 2006 45,24 95,36 85,01 63,13 2007 48,07 96,26 90,41 72,34 2008 53,50 98,28 96,18 74,22 2009 54,25 99,42 97,05 74,29

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan usia emas untuk mengembangkan intelektual SDM, sekaligus menjadi pondasi dasar pendidikan yang berkualitas. APK PAUD tahun 2009 baru mencapai 54,25%, berarti 45,75% jumlah anak usia PAUD masih perlu perhatian utama di antara jenjang pendidikan lainnya. APK pada jenjang SLTA baru mencapai 74,29%, sisanya masih 35,71% atau lebih belum menduduki sekolah SLTA. Rendahnya APK SLTA ini berarti akan menyumbang angkatan kerja yang kompetensinya hanya berpendidikan SLTP (Pendidikan Dasar), sementara dunia usaha atau lapangan kerja memerlukan tingkat kompetensi yang lebih tinggi. Tabel II.24 Angka Partisipasi Sekolah di Kalimantan Selatan Tahun 2005-2009
Indikator APM PAUD APM SD/MI APM SMP/MTs/SMPT APM SMA/SMK/MA Prosentase Capaian 2005 0 92,67 57,47 53,09 2006 0 94,44 67,70 59,04 2007 0 95,88 75,43 66,13 2008 0 98,12 77,86 63,30 2009 0 99,02 85,06 67,58

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 32

BAB II b. Hasil Ujian Nasional Kualitas pendidikan dapat dilihat pada perolehan nilai hasil ujian yang ditempuh anak didik. Kondisi ini juga mengalami perbaikan meskipun masih perlu upaya yang lebih keras dan terarah dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar terutama penerapan asesmen pada proses daripada hasil untuk memantau kemajuan penguasaan kompetensi anak didik. Rata-rata nilai ujian nasional 6,29 untuk tingkat SLTP dan 6,87 untuk tingkat SLTA pada tahun 2007/2008. Lebih jelas dapat diamati pada tabel II.25
Tabel II.25 Hasil Ujian SLTP dan SLTA di Kalimatan Selatan 2005/2006 S.D 2008/2009 Realisasi Nilai Ujian Jenjang Pendidikan 2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009 SLTP 5,90 6,00 6,29 7,08 SLTA 6,51 6,99 6,87 6,97
Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

Hasil ujian nasional ini menunjukkan tingkat kemampuan siswa secara nasional dalam pembelajaran. Hasil ujian SLTP tahun 2008/2009 rata-rata 7,08 menunjukkan angka yang meningkat dari tahun 2007/2008 dengan rata-rata 6,29 berarti telah terjadi peningkatan perolehan rata-rata nilai hasil ujian yang dialami oleh siswa. Begitu juga dengan hasil ujian SLTA tahun 2008/2009 rata-rata 6,97; juga terjadi peningkatan perolehan rata-rata nilai hasil ujian yang dialami oleh siswa dibanding perolehan tahun 2007/2008 dengan rata-rata 6,87. c. Penuntasan Buta Aksara Dalam rangka penuntasan buta aksara di Kalimantan Selatan telah berhasil menurunkan angka buta aksara bagi penduduk usia 15 s.d 45 tahun. Perkembangan keberhasilan penurunan angka buta aksara ini terlihat pada capaian yang terjadi, di mana pada tahun 2005 jumlah buta aksara sebanyak 44,424 orang telah berhasil dituntaskan pada tahun 2008.
Tabel II.26 Penuntasan Buta Aksara di Kalimantan Selatan 2006 s.d. 2009 Realisasi Indikator Sasaran 2006 2007 2008 2009 Buta Aksara >15 s.d 44 th 44.424 (100%) 11.114 (25,02%) 19.730 (44,41%) 13.580 (30,57%) 16.870

Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

Keberhasilan penuntasan buta aksara dilakukan bekerjasama dengan pemerintah pusat, provinsi dan Kabupaten/Kota. Untuk mempertahankan tuntas buta aksara, perlu terus dilakukan kegiatan pembinaan di setiap kabupaten/kota. Berdasarkan hasil rapat kerja Percepatan Pemberantasan Buta Aksara, di RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 33

BAB II Kalimantan Selatan masih terdapat lembaga pendidikan yang tidak mengajarkan bahasa Indonesia, tetapi pengajaran menggunakan bahasa Arab. Pada sisi lain berdasarkan konsensus Kemendiknas dengan BPS, bahwa Angka Buta Aksara yang terjadi di Kalimantan Selatan masih tersisa sebesar 4,67% pada akhir tahun 2009 untuk usia 15 tahun ke atas. 2.2.2.3. Kesehatan

Secara nasional Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan menurun dari 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI, 2007). Di Provinsi Kalimantan Selatan, prevalensi gizi kurang pada balita menurun 20% pada tahun 2006 menjadi 12,38% pada tahun 2009 (Laporan Program Gizi Dinkes, 2009). Angka Kematian Bayi (AKB) menurun dari 58 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 menjadi 50 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2009. Sejalan dengan itu Umur Harapan Hidup meningkat dari 62 tahun menjadi 63,45 tahun pada tahun 2009 (Susenas 2009, BPS). Upaya kesehatan masyarakat mengalami peningkatan capaian seperti cakupan rawat jalan sudah mencapai 15,26% pada tahun 2009. Cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan meningkat dari 83,48% pada tahun 2007 menjadi 89,80% pada tahun 2009. Cakupan pelayanan antenatal (K4) meningkat dari 78,58% pada tahun 2007 menjadi 83,59% pada tahun 2009. Cakupan kunjungan neonatus meningkat dari 92,13% pada tahun 2007 menjadi 93,25% pada tahun 2009. Pelayanan kesehatan dasar bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di Puskesmas mencapai target yaitu sebesar 100% dan seluruh 1.346 (68.50%) desa di Kalimantan Selatan telah menjadi Desa Siaga. Namun perhatian perlu diberikan kepada pengembangan Desa Siaga karena belum semua desa memiliki Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), masih terbatasnya jumlah Puskesmas yang mampu melaksanakan pelayanan obsterik neonatal emergensi dasar (PONED) dan perlunya peningkatan mobilisasi ibu hamil untuk bersalin pada tenaga kesehatan dan upaya peningkatan kualitas Posyandu menjadi Posyandu Purnama dan Mandiri perlu lebih digiatkan. Upaya kesehatan perorangan mengalami peningkatan dan beberapa indikator telah mencapai target, bahkan melebihi target seperti peningkatan jumlah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan gawat darurat meningkat dan mencapai 90%. Jumlah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan obstetrik neonatal emergensi komprehensif (PONEK) meningkat dari 2 rumah sakit menjadi 5 rumah sakit. Pada program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular juga mengalami peningkatan capaian walaupun penyakit infeksi menular masih tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menonjol di Kalimantan Selatan terutama tuberkulosis paru (TB paru), malaria, DBD dan diare. Cakupan program imunisasi berdasarkan laporan rutin dari Kabupaten/Kota secara umum menunjukkan peningkatan. Cakupan imunisasi pada tahun 2009 adalah BCG 93.4%, DPT-HB3 91.6%, HB (0-7 hari) 59.2%, Polio 4 90.2 % dan Campak 90.8%. Meski telah berjalan baik, program imuniasi belum optimal, karena cakupan saat ini belum merata yang digambarkan melalui persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization (UCI) pada tahun 2009 mencapai 64.68%. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 34

000 penduduk (target 75 per 100. terutama pada kasus kardiovaskuler (hipertensi). pemberdayaan masyarakat dan ketersediaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) ditingkat pelayanan primer harus diperhatikan.000 penduduk). kecerdasan dan produktivitas generasi yang akan datang.000 penduduk (target 9 per 100.2015 Page 35 . Disparitas status gizi juga cukup lebar antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi. yaitu sebesar 13. Untuk itu perlu perhatian pada upaya pencegahan yang dapat diupayakan sendiri oleh masyarakat dengan penerapan 3M (menguras. Untuk malaria.8 per 100. Untuk dokter spesialis 4. Kedepan. Hasil Riskesdas menunjukkan terjadinya perbaikan status gizi anak balita.9% pada tahun 2009.000 penduduk (target 11 per 100.70% yang terdiri dari 10. Oleh karena itu diperlukan penanganan yang lebih seksama yang didukung dengan regulasi yang RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Beberapa hasil yang telah dicapai oleh program perbaikan gizi masyarakat antara lain pemberian kapsul vitamin A pada anak balita usia 6 – 59 bulan sebesar 90% melampaui target 80% dan pemberian tablet besi (Fe) pada ibu hamil telah mencapai 90% dari target 80%. TB paru dan malaria sudah mengalami peningkatan pengendaliannya untuk masa yang akan datang. Ketersediaan reagen. diabetes melitus dan obesitas.75 per 100.8% (Riskesdas. 41 tahun 2000).000 penduduk).5% dan tingginya prevalensi anak balita yang pendek (stunting) akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu lama (kronis) yaitu 36. berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan peningkatan kasus dan penyebab kematian. daerah endemis semakin meluas dan ada kecenderungan terjadi resistensi di daerah endemis. mengubur) dan juga didorong oleh upaya promotif. selain itu juga terkait dengan pembagian kewenangan dalam pengaturan SDM Kesehatan (PP No. Rasio tenaga kesehatan per 100. dokter gigi sebesar 7. perlu peningkatan upaya promotif dan preventif serta kerja sama sektor terkait dengan man made breeding places. Untuk penyakit tidak menular. 38 tahun 2000 dan PP No.000 penduduk).000 penduduk (target 158 per 100. untuk itu perlu perhatian lebih pada upaya deteksi TB paru dan juga keberhasilan pengobatannya. prevalensi kekurangan gizi pada anak balita sebesar 10. 2007). jenis dan distribusi.000 penduduk) dan bidan sebesar 43. Keadaan gizi pada ibu hamil.000 penduduk.75 per 100.000 penduduk (target 30 per 100. Selain itu perhatian juga perlu diberikan pada penyelenggaraan sistem surveilans dan kewaspadaan dini yang kurang mendapat perhatian pada penganggarannya.40% gizi kurang dan 0. dokter umum sebesar 26. perbaikan gizi perlu difokuskan pada kelompok sasaran ibu hamil dan anak sampai usia 2 tahun mengingat dampaknya terhadap tingkat pertumbuhan fisik. menutup. Penemuan kasus HIV/AIDS meningkat dengan meningkatnya out reach dan keterbukaan masyarakat terhadap penyakit ini.26 per 100. walaupun demikian angka kematian akibat DBD relatif kecil. Case Detection Rate (CDR) TB paru menurun menjadi 30. Dalam pembangunan kesehatan.3 per 100. SDM kesehatan merupakan salah satu isu utama yang mendapat perhatian terutama yang terkait dengan jumlah. perawat sebesar 157.30% gizi buruk. Angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) masih tinggi.BAB II Penanggulangan penyakit HIV/AIDS.000 penduduk belum memenuhi target yang diharapkan.000 penduduk).7 per 100. bayi dan anak balita perlu terus ditingkatkan karena masih tingginya bayi yang lahir rendah (BBLR) sebesar 11.

reward-punishment.2015 Page 36 .12% pada tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .23% belum mencapai target sebesar 75%.450 jiwa pada 2006.47% dengan target setara dengan $ 2 US perkapita. Dalam pengadaan obat sering terkendala sistem pengadaan yang berpotensi menimbulkan terputusnya ketersediaan obat dan vaksin. bidan atau perawat. akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi telah berhasil ditingkatkan.d 2009.3%.74% dari target 95%. harga murah tetapi akses masyarakat terhambat karena adanya asymetric information dan praktek pemasaran yang kurang baik dan sekitar 30% obat resep dijual langsung oleh dokter. meskipun sempat terjadi peningkatan dari 235. selain itu pemberian ASI eksklusif yang menurun disebabkan baik oleh perilaku maupun besarnya pengaruh dari luar seperti pemberian susu formula gratis pada saat ibu melahirkan.2.66%. Kemiskinan Trend angka kemiskinan mengalami penurunan sejak tahun 2005 s.d 2009 angka kemiskinan secara konsisten menurun dari 8. Prosentase penduduk miskin pada 2005 sebesar 7. Walaupun ketersediaan OGB tinggi. partisipasi.15% sedangkan pada tahun 2006 menjadi 8. Untuk kesehatan lingkungan. namun kita harus memberikan perhatian pada perilaku merokok yang semakin memburuk dengan makin mudanya usia awal perokok. dan sistem pengembangan karier. persentase keluarga menggunakan air bersih meningkat dari 58. Selain itu kita juga perlu memberikan perhatian pada terjadinya peningkatan rumah tangga yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah dan masih ada rumah tangga yang memelihara unggas atau ternak dalam rumah. dan peningkatan persentase tempat tempat umum (TTU) sehat 78.33% dari target 85% pada tahun 2010. seperti peningkatan pada persentase keluarga menghuni rumah yang memenuhi syarat kesehatan mencapai 73.4. Selama periode tahun 2006 s. Ketersediaan obat esensiel generik di sarana pelayanan kesehatan baru mencapai 69. Peresepan Obat Generik Berlogo (OGB) di Puskesmas sudah sebesar 90% namun di RSU sebesar 66% dan Rumah Sakit Swasta dan apotek sebesar 49%. 2. seperti rumah tangga dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) meningkat menjadi 48. Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat mengalami peningkatan capaian. Diharapkan pada akhir pembangunan 5 tahun ke depan (2015) terjadi pengingkatan Indeks Pembangunan Gender (IPG) Provinsi Kalimantan Selatan.3 % pada tahun 2006 hingga menjadi 5. Anggaran untuk obat esensiel generik di sektor publik sebesar 14. Indikator lainnya seperti Desa Siaga sampai dengan tahun 2009 sudah mencapai 1958 desa/kelurahan se-Kalimantan Selatan.700 jiwa pada 2005 menjadi 278.3% menjadi 60. manfaat dan kontrol antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dan perannya dalam pembangunan kesehatan.2.BAB II memadai dan pengaturan insentif. Pembangunan kesehatan perlu memberikan penekanan pada peningkatan kesetaraan gender (gender equity) dalam rangka memberikan kesempatan yang sama untuk memperoleh akses.5% belum mencapai target 85% pada tahun 2010.

2 239. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . seperti nampak pada tabel berikut ini.787. Respon terhadap program nasional penanggulangan kemiskinan terus dilakukan dalam bentuk fasilitasi program yang meliputi bantuan sosial terpadu.BAB II 2009.27 Penduduk Miskin di Kalimantan dan Nasional.73 INDONESIA 11 910. dan perluasan cakupan keluarga harapan.000 235.1 165.02 Kalimantan Selatan 68.5 20 619.8 7.000 50. jaminan sosial bidang kesehatan. Akan tetapi.000 0 Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Jika dilihat pola kemiskinan yang terjadi nampak bahwa kemiskinan dipedesaan sedikit lebih tinggi dari perkotaan.0 4.09 9.15 Sumber : BPS Nasional.3.000 200.9 4. 195.0 10.2015 Page 37 . kerentanan masyarakat akan kemiskinan masih signifikan mengingat masih besarnya jumlah masyarakat yang berada pada tingkat “hampir miskin” dan standar garis kemiskinan yang dipakai masih jauh dari ideal. Gambar II.700 278.86 7.72 17.977 250.8 434.23 10.0 340.501 218.12% penduduk miskin diseluruh Kalsel.82 5. 2009 Berbagai upaya telah dilakukan dalam mengentaskan kemiskinan di Kalimantan Selatan.34 7. Bantuan tersebut dilakukan dengan mengintegrasikan program perlindungan sosial berbasis keluarga yang mencakup Bantuan Langsung Tunai (BLT).2009 300. Persentase penduduk miskin di pekotaan miskin pada tahun 2005 s/d 2009.33% sehingga secara total terdapat sebesar 5.000 100.30 Kalimantan Tengah 35.450 233. Tabel II. yakni Rp.00 13.33 5.-. beasiswa bagi anak keluarga yang berpenghasilan rendah. bantuan pangan. sebesar 4.900 175.8 107.45 8. Maret 2009 Jumlah Penduduk Miskin % Penduduk Miskin (000) Provinsi Kota Desa K+D Kota Desa K+D Kalimantan Barat 94.000 150. Posisi 2009 ini menempatkan Kalsel menduduki peringkat II pada tingkat nasional atas jumlah penduduk miskin paling sedikit.12 Kalimantan Timur 77.82% sedangkan di perdesaan 5.1 162.2 4.4 32 530.2 176. Kesenjangan kota dan desa dalam hal ini memang masih lebih baik dari provinsi lainnya di Kalimantan maupun secara nasional.8 130. Jumlah Penduduk Miskin di Kalimantan Selatan Periode 2005 .35 14.

Perkembangan ketenagakerjaan ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.916 1.981 1. 2009 Tingkat pengangguran terbuka mengalami kecendrungan menurun. Kesempatan Kerja Sejalan dengan meningkatnya jumlah peduduk.68 69.153 317.730.635.62 6.754.79 6. 2.598. pelaksanaan. penyusunan. Pada tahun 2007 jumlah setengah menganggur sebanyak 505.594.406 5 Bukan Angkatan Kerja (jiwa) 635.604.020 771.981 tahun 2007 menjadi 1.374 118. Pemerintah provinsi juga mendorong maksimalisasi pengguliran Kredit Usaha Rakyat (KUR) keseluruh kabupaten/kota.487 753. Pada tahun 2007 TPT sebesar 7. Meski demikian jumlah setengah menganggur cenderung meningkat. 2.134 1.79% dan turun kembali pada 2009 menjadi 6. pemantauan dan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .935 118.191 jiwa naik menjadi 519.2.743.d 2009 tingkat partisipasi angkatan kerja mengalam perubahan naik dan turun (Fluktuatif) namun serapan terhadap tenaga kerja justru mengalami kecenderungan menurun yang digambarkan dengan jumlah penduduk yang bekerja yakni 1. dengan terjadi perubahan nomenklatur Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (KNPP) menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KNPPPA). Tabel II. tepat kegiatan dan tepat waktu.403 2.760 tahun 2008.366.604 Sumber : BPS Prov Kalsel.598.Kalsel Menurut Jenis Kegiatan Tahun 2007-2009 Jumlah Penduduk 15 Tahun Ke atas No. Untungnya pada tahun 2009 jumlah penduduk bekerja naik kembali menjadi 1. Kurun waktu tahun 2007 s.635.BAB II Pemerintah provinsi menyediakan dana pendamping untuk PNPM Mandiri sesuai kebutuhan dan kebijakan yang ada.28 Perkembangan Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Prov.524.15 70.000 248.5.75%. Jenis Kegiatan 2007 2008 2009 2.2015 Page 38 .191 206.466. Seleksi atas kegiatan juga dilakukan untuk memenuhi prinsip tiga tepat.177 jiwa.594.75 8 Setengah Penganggur Terpaksa (jiwa) 214.177 4 Pengangguran (jiwa) 131.209 10 Jumlah Setengah Menganggur (jiwa) 505.51 7 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 7.636 519.395 9 Setengah Menganggur Sukarela (jiwa) 291. Angka ini menurun pada tahun 2008 menjadi 6.191 454.2.154 2.6 Pemberdayaan Perempuan Tepat pada bulan bulan oktober. yaitu tepat sasaran.483 202.760 1.62%. meningkat pula jumlah angkatan kerja setiap tahunnya.853 3 Bekerja (jiwa) 1.2.612 1 Penduduk 15 Tahun ke Atas (jiwa) 2 Angkatan Kerja (jiwa) 1. Dalam tataran perundang-undangan pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional mendifinikan sebagai “strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi dari perencanaan.2.029 6 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%) 73.

jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak menunjukkan angka yang cenderung meningkat. Sementara itu. 14.BAB II evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan. Gambaran di Kalimantan Selatan.4% pada tahun 2006.2015 Page 39 .6% pada tahun 2004 menjadi 18. Hal ini perlu adanya program-program preventif yang lebih optimal dari lembanga-lembanga yang memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap kekerasan pada perempuan dan anak.” Sayangnya berdasarkan hasil evaluasi menunjukan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Sedangkan kekerasan pada anak dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Sedangkan perempuan yang mengikuti pendidikan SD. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak jumlahnya semakin meningkat.7% dan 22. Hal ini menyebabkan kalangan perencana sulit mengintegrasikan pengarusutamaan gender dalam penyusunan kebijakan pada tataran gender.5%. 7. Kondisi umum pembangunan dalam setiap bidang pembangunan dapat digambarkan sebagai berikut.6%. 2009 Dari data pada Tabel II. Demikian juga yang berkaitan dengan pembentukan lembaga dan instansi yang berfungsi untuk memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap kekerasan pada perempuan dan anak. 13. dibidang hukum dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pembangunan gender.29 Tabel II. yaitu persentase perempuan yang menduduki jabatan eselon I sampai IV masing-masing sebesar 9. masing-masing 8. tingkat kekerasan yang terjadi pada perempuan meningkat cukup signifikan. SMP. Dibidang politik.04% pada tahun 2009.29% pada tahun 2008. selama ini telah terjadi perbaikan yang mengesankan.6%.1%. Unsur 2006 237 715 Tahun 2007 252 2. Secara nasional. di bidang ekonomi. serta tujuan dasar pengarusutamaan gender. Pada jabatan publik.29 menunjukkan bahwa. jumlah perempuan yang tidak mengikuti pendidikan lebih banyak dibandingkan laki-laki. pelaksanaan pengarusutamaan gender masih terkendala kurangnya pemahaman aparatur tentang teori dan konsep gender. partisipasi perempuan di lembaga legislatif meningkat dari 11.086 2008 376 2. peningkatan akses lapangan kerja bagi perempuan dari 13. Kalsel.5% dan 23. bahwa pada operasional. Kondisi dapat dilihat pada Tabel II.281 1 Anak Korban Tindak Kekerasan 2 Wanita Korban Tindak Kekerasan Sumber : BPS Prov. Sayangnya di tingkat perguruan tinggi jumlah perempuan lebih sedikit dibandingkan laki-laki. 72% pada tahun 2006 meningkat menjadi 19. hampir 2 kali lipat pada tahun 2007 dibandingkan tahun 2006. Persentase tersebut meningkat pada tahun 2008. terdapat sedikit peningkatan partisipasi perempuan selama kurun waktu tiga tahun terakhir. 6.7%. Dibidang pendidikan. dan SMA jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki.29 Kekerasan pada Perempuan dan Anak Di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 No.

30. di Kalimantan Selatan masih memerlukan pembenahan dan pengembangan khususnya yang berkaitan dengan masalah gender. pendidikan. adanya perdagangan perempuan.30 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Di Kalimantan Selatan Tahun 2007 s/d 2009 No. dan perbedaan jaminan sosial. eksploitasi dan diskriminasi.80 65.90 Sumber: Kementerian PP&PA bekerjasama dengan BPS Berdasarkan Tabel II. melaksanakan komunikasi. serta masih banyak dijumpai faktor sosial budaya yang membatasi kebijakan pengarusutamaan gender di dalam pembangunan. IPG Kalimantan Selatan secara faktual menunjukkan peningkatan jika dilihat dari angka absolut dan sejalan peningkatan IPG nasional. perlindungan perempuan dari tindak kekerasan.80 pada tahun yang sama (tahun 2008).30 1 Kalimantan Selatan 60. menjadi faktor dominan dalam menghitung IPG. dan kesehatan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . sama dengan cara menghitung Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPG di Kalimantan Selatan masih lebih rendah dari angka rata-rata nasional.30 Tabel II.10 62. Provinsi 2005 Tahun 2006 2007 61. bahwa keberhasilan pembangunan sumber daya manusia secara keseluruhan belum sepenuhnya diikuti dengan keberhasilan dalam pembangunan gender. tindak kekerasan pada perempuan. Ekonomi. yaitu 68.30 2008 63. dan kesehatan).80 65. normanorma yang berlaku di dalam masyarakat berkaitan dengan peran gender berdasarkan spesifik lokasi. Tantangan ke depan adalah melakukan program yang berkaitan dengan peningkatan kualitas hidup perempuan melalui aksi afirmasi.BAB II Rumus yang digunakan untuk menghitung Indeks Pembangunan Gender (IPG). informasi dan edukasi kualitas hidup dan perlindungan perempuan. penataan sistem yang mampu menangkap dinamika gender. kualitas hidup perempuan juga ditentukan oleh ada tidaknya masalah lain yang langsung maupun tidak langsung mempengaruhi IPG.70 2 Rata-rata Nasional (Indonesia) 63. pendidikan.d 2008 dapat dilihat pada Tabel II. Pemahaman akan konsep kesetaraan dan keadilan gender masih sangat terbatas di semua kalangan. Perkembangan IPG Kalimantan Selatan selama tahun 2005 s. Kualitas hidup perempuan masih tertinggal dibandingkan dengan laki-laki. misalnya adanya kesenjangan upah pekerja perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. serta penguatan/pemberdayaan kelembagaan pengarusutamaan gender. Kondisi ini menunjukkan bahwa dari beberapa komponen perhitungan IPG (ekonomi. Keterbasan ini juga juga terjadi diantara para perencana dan pelaksana pembangunan yang dapat berakibat terlambatnya upaya-upaya mengintegrasikan konsep gender kedalam berbagai program pembangunan.20 65. pengembangan pusat-pusat pelayanan sebagai sarana perlindungan perempuan korban kekerasan.2015 Page 40 . Hal ini dapat dilihat dari nilai IPM dan IPG. Walaupun IPM merupakan ukuran kualitas sumber daya manusia.72 dan 63. Kesenjangan ini menunjukkan.

7 Indek Pembangunan Manusia Indeks pembangunan manusia (IPM) menunjukkan jumlah tahun hidup yang diharapkan dapat dinikmati penduduk suatu wilayah. Kondisi tersebut memberikan kontribusi rendahnya IPM Kalimantan Selatan. Sebenarnya banyak indikator yang dapat digunakan untuk mengukur usia hidup. berdasarkan Tabel II. pengetahuan dan standar hidup). Perkembangan IPM Kalimantan Selatan selama tahun 2005 s. Pengetahuan pengetahun juga diakui secara luas sebagai unsur mendasar dari pembangunan manusia. memilih GDP per kapita riil yang telah disesuaikan (adjusted real GDP per capita) sebagai indikator hidup layak.2015 Page 41 .75 70. Usia hidup Pembangunan manusia harus lebih mengupayakan agar penduduk dapat mencapai “usia hidup” yang panjang dan sehat.59 2008 68. Namun masih berada dibawah ratarata angka nasional. Pengetahuan diukur dengan dua indikator yaitu angka melek huruf (Literacy Rate) dan rata-rata lama sekolah (Mean Years School). Tantangan ke depan adalah pengembangan sektor ekonomi. 1 2 Provinsi Kalimantan Selatan Rata-rata Nasional (Indonesia) 2005 67.31 Tabel II. Di Indonesia dihitung dengan metode tidak langsung. IPM Kalimantan Selatan masih berada dibawah rata-rata nasional.BAB II 2. Metode ini menggunakan dua macam data dasar yaitu rata-rata anak yang dilahirkan hidup dan rata-rata anak yang masih hidup. dan pengetahuan unsur dasar pembangunan manusia yang diakui secara luas adalah standar hidup layak. IPM Kalimantan Selatan secara faktual menunjukkan peningkatan jika dilihat dari angka absolut dan sejalan peningkatan IPM nasional. Dengan mempertimbangkan ketersediaan data secara internasional UNDP.72 71. Sebagaimana telah disebutkan diatas. Banyak indikator alternatif yang dapat digunakan untuk mengukur unsur ini. dan standar hidup layak (decent living).2.57 Tahun 2006 2007 67. Standar hidup Selain usia hidup.31 dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan.01 70. pengetahuan (knowledge). bahwa IPM merupakan suatu indeks komposit tiga bidang pembangunan manusia (usia hidup.17 Sumber : BPS Nasional.4 69.2. pendidikan dan kesehatan yang berbasis pada masyarakat miskin. 2009 Indeks Pembangunan Manusia di Kalimantan Selatan.31 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Di Kalimantan Selatan Tahun 2005 s/d 2008 No. IPM merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan manusia yang dianggap sangat mendasar yaitu usia hidup (longevity). di Kalimantan Selatan masih belum sebagaimana yang diharapkan. pemberdayaan dan partisipasi RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .d 2008 dapat dilihat pada Tabel II. Namun demikian jika dilihat dari peringkat antar provinsi.10 68.

Hindu dan Budha 19. seperti mesjid (2.14%).908 orang (0.2015 Page 42 . Hal ini ditandai dengan meningkatnya masing-masing jumlah pemeluk agama dan sarana peribadatan.393 orang.181 orang (0.3 Agama. Fakta ini menunjukkan bahwa kehidupan keberagamaan tidak mengalami konflik sosial yang berarti sebagaimana di daerah lain.2.4 Jumlah Pemeluk Agama dan Tempat Ibadah di Kalimantan Selatan Tahun 2008 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .49%). seperti Kaharingan.3.1 Keagamaan Sekalipun penduduk Kalimantan Selatan mayoritas beragama Islam. langgar (6. Pada 2003.BAB II masyarakat.70%).2.78%).387 orang (0. Gambar II. jumlah penduduk menurut agama berturut-turut adalah sebagai berikut: beragama Islam sebanyak 3.738 buah). pesantren juga menjadi pilihan pendidikan agama bagi anaknya. Seni Budaya. Kristen 25.91%). Kehidupan ritual keagamaan ditunjang oleh sarana ibadat. namun Kehidupan beragama di provinsi ini secara ritual menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. 2. Khong Ho Chu 23. serta agama lainnya. Pura/Kuil/Sanggah (40 buah). Bagi penduduk beragama Islam. gereja (77 buah). Katolik 13. serta pembangunan infrastrukur di daerah-daerah tertinggal/terpencil.252 buah). Pemuda dan Olahraga 2. dimana kecenderungan mayoritas memberikan apresiasi negatif terhadap pemeluk agama lain.346 oarang (0.200. Di Kalimantan Selatan sekarang terdapat 140 buah pesantren dengan jumlah santri sebanyak 37. dan Wihara Cetyah/Klenteng (10 buah).869 (96. Diantara indikator dalam melihat perkembangan sosial keagamaan adalah pertumbuhan jumlah pemeluk dan fasilitas peribadatan dan kegiatan keagamaan.

Untuk pengembangan pendidikan di bidang keagamaan yang juga sebagai modal sosial Pemerintah telah memberikan bantuan pembangunan asrama mahasiswa Kalsel di Kairo dan bantuan pendanaan untuk menyelesaikan pendidikan di Kairo disamping pengembangan pendidikan keagamaan di Kalimantan Selatan dan di Indonesia pada umumnya. diantaranya pengejawantahan ajaran-ajaran normatif dan kognitif agama masing-masing dalam semua aspek kehidupan baik perkumpulan keagamaan. Gereja 5. Nama Fasilitas Ibadah 2006 2. Hal ini dapat dibuktikan dengan tidak adanya laporan kekerasan-kekerasan yang bernuansa agama atau suku. tetapi pemahaman nilai-nilai keberagamaan dan toleransi antar umat beragama. Klenteng Sumber: BPS Prov.200 4. Hal ini dimaksudkan agar kualitas pendidikan keagamaan dapat disejajarkan dengan pendidikan umum yang pada akhirnya akan menyeimbangkan IPTEK dan IMTAQ.650 6. tetapi menjadikan ranah agama sebagai pemahaman penyeimbang dampak buruk dari gerusan budaya-budaya global yang destruktif dan demokrasi yang semakin menggeliat. Sebab bagi pemerintah kualitas keberagamaan tidak selalu diukur dari jumlah pembangunan sarana prasarana ibadah maupun frekuensi kegiatan sosial keagamaan. Mushalla 4.BAB II Tabel II. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .270 425 113 20 40 101 15 8 4 2007 2. Kapel 6. Cetya 10. Toleransi antar-umat beragama dan antar-suku sampai sekarang masih dapat dipertahankan.323 602 119 10 35 3 9 7 4 2008 2. Langgar 3.2015 Page 43 . Vihara 9.362 602 125 8 55 3 12 2 4 1. Masjid 2. Paham-paham pluralisme terus dikembangkan dan diwujudkan pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam mengembangkan kehidupan keberagamaan yang harmonis. lembaga pendidikan (tak terkecuali pesantren) maupun dialog-dialog antar umat beragama. Kehidupan keberagamaan yang baik dan nyaman mampu menyediakan batasan-batasan moral penduduk (pemeluk) sebagai bagian dari tugas bersama pemerintah dan pemangku agama.32 Jumlah Sarana Ibadah di Kalimantan Selatan Tahun 2006-2008 No. sehingga dapat dicegah terjadinya konflik sosial berbasis agama dan suku. 2009 Dalam konteks ini Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memaknai perkembangan dan pertumbuhan pemeluk agama maupun ketersediaan sarana prasarana serta kegiatan sosial keagamaan tidak sekadar mewujudkan kenyamanan pemeluk dalam menjalankan ibadahnya. konflik tempat ibadah.311 6. Sanggar Balai 8. Kalsel. kebebasan berpikir dan berekspresi maupun implikasi regulasi yang bernuansa agama dan kesukuan sebagaimana terjadi di daerah lain. kasus penyesatan. Pura 7.

Kalimantan Selatan yang dihuni oleh mayoritas etnis Banjar dan sebagian etnis Bakumpai dan Dayak sebagai entitas etnis asli memiliki keragaman seni dan budaya yang saling terintegrasi baik nilai-nilai.2. maupun bernegara termasuk di masa-masa mendatang tampaknya upaya untuk “menyeharikan” ajaran dan pesan-pesan moral agama menjadi etos kerja guna menjadi modal sosial (social capital) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (1) pilar nilainilai seni budaya yang berlaku di masyarakat (2) Pilar Kegiatan yang dilakukan dan kokohkan para pemangku seni budaya (adat) dan yang (3) Pilar Peran dan fasilitasi pemerintah daerah. pelaku maupun lokasi/wilayah kebudayaan (tujuan wisata). Catatan historis masyarakat Banjar yang memiliki etos kerja dan etos migrasi (madam) adalah salah satu contoh transformasi nilai-nilai agama dan budaya dalam menjawab tantangan dan zaman pada masa lalu. Seni dan budaya di Kalimantan Selatan sebagaimana di daerah lain mengalami perkembangan pasang surut sebab dan pemangku seni budaya dikonstruksi oleh tiga pilar yakni.BAB II Harapan besar pemerintah meningkatnya kualitas keberagamaan dengan indikator meningkatnya sarana prasarana ibadah maupun frekuensi kegiatan sosial keagamaan dapat terwujud transformasi nilai-nilai normatif dan kognitif agama ke dalam perilaku hidup baik dalam kehidupan bermasyarakat. Tantangan kedepan yang menjadi perhatian serius adalah diperlukan penguatan nilai-nilai sosial keagamaan dan konstruksi budaya guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berbasis sosial keagamaan dan budaya tempatan dan terciptanya keharmonisan antar pemeluk agama. Adalah hal yang menarik ketika terbentuknya Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar (LAKKB) sebagai pilar yang ke-empat (4) guna membangun interaksi seni-budaya Banjar dengan keraton sebagaimana kokohnya kesenian dan kebudayaan di Jawa dan Sumatera sebagai bagian dari upaya pemerintah bersama RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Pengembangan pengelolaan kapasitas dan kualitas lembaga sosial keagamaan serta Pembinaan terhadap pendidikan dan perguruan keagamaan yang masih kurang optimal menyentuh kemasyarakat terutama kualitasnya 2. berpemerintahan.2 Seni dan Budaya Seni dan budaya adalah identitas suatu daerah. Gambar II.2015 Page 44 .3. berbisnis. toleransi antar umat beragama.5 Alur Pikir Transformasi nilai-nilai keagamaan Sosial keagamaan Namun demikian akhir-akhir ini. nilai-nilai luhur tersebut semakin terancam oleh nilai-nilai lain . Islam sebagai agama mayoritas simbol Keberagamaan masyarakat Banjar memiliki nilai-nilai sosial budaya yang mendorong tumbuhnya etos kerja dan semangat wirausaha yang mendorong kemajuan.

BAB II stakeholder memangku seni dan adat daerah Provinsi Kalimantan Selatan. 2. 6. seni dan nilai-nilainya. 4. 9. Terbitnya Perda yang bernuansa Budaya seperti Perda Seni dan Bahasa Banjar. Hal ini untuk menegaskan dan meletakkan dasar bahwa kesenian dan kebudayaan Banjar Kalimantan Selatan tidak sekadar sebuah event atau kegiatan tetapi ianya menjadi sebuah bagian dari urat nadi kehidupan yang didukung oleh institusi keraton sebagai mitra pemerintah. Kelompok Seni PERFEKINDO SANGGAR BUDAYA SANGGAR ANGGERIK HARIVI KAMBANG BARENTRENG AYU LABUNI BERSUJUD KAMBANG MAYANG BUANA BULUH MARINDU SINAR PUSAKA PUSAKA SAIJAAN BUNGA ANGGERIK 2006 Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif 2009 Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Pelestarian nilai-nilai seni budaya belum optimal terintegrasi dalam kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan menengah di Kalsel termasuk kegiatan ekstra kurikuler.33 Perkembangan Kelompok Kesenian Tahun 2006 dan 2009 No. Koordinasi antar SKPD yang berwenang menjadikan ranah pelestarian ini RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 7.6 Skema Integrasi 4 Pilar Pelestarian Kebudayaan Banjar Kalsel Tabel II. 3. 10.2015 Page 45 . 5. 8. Gambar II. Itulah sebabnya program pemerintah provinsi dalam rangka mendirikan replika Keraton bagian dari upaya mengintegrasikan kebudayaan Banjar. 1. Perda Bangunan Banjar dan Perda Peninggalan bersejarah Tahun 2008 misalnya adalah bentuk jawaban pemerintah Provinsi atas kegelisahan dan keresahan para budayawan dan seniman serta pemangku adat Banjar dalam menjawab tantangan zaman guna melestarikan kebudayaan.

fasilitas sarana prasarana. Gambaran ini pun tersirat pada pemanduan kepariwisataan dan pembinaan stakeholder pelengkap dunia kepariwisataan yang masih belum professional sehingga belum memberikan kenyamanan dan kepuasaan bagi pengunjung. Selain infrastruktur tujuan wisata masih relatif belum memadai. Karya seni budaya cenderung hanya bagian dari proses komersialisasi promosi wisata yang mengedepankan profit oriented. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . namun kondisi demikian adalah proses kebudayaan yang statis/mandek dalam perkembangan dan pelestarian kebudayaan.2015 Page 46 . tetapi mentransformasikan nilai-nilai seni dan kebudayaan dalam kegiatan pemerintahan dan perilaku masyarakat. Karya seni dan budaya di Kalsel masih dalam konstelasi “jeruk makan jeruk” sebuah ungkapan bahwa karya seni hanya dinikmati sesama seniman dan budayawan belum lagi meluas menjadi bagian hiburan dan transformasi nilai-nilai seni-budaya kepada masyarakat . pelayanan dan promosi pariwisata. sehingga kehadiran agen-agen traveling yang meningkat belum memberikan layanan yang bernilai kompetitif. berpengaruh terhadap kunjungan wisata seperti sektor jasa perhotelan yang pertumbuhannya relative kecil atas hunian hotel.BAB II terkesan berjalan sendiri-sendiri dan tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Kegelisahan seni dan budaya tidak sekedar pada kualitas kegiatan. Selama ini kegiatan pelestarian kebudayaan dan kesenian Banjar termasuk kegiatan promosi wisata hanya dalam konteks tataran pelaksanaan pagelaran seni. Demikian pula peran dan fungsi museum masih menggunakan paradigma lama dimana belum menunjukkan hal yang dinamis dan menarik bagi pengunjung untuk memahami nilai-nilai dan peninggalan tradisi sebagai bagian dari pelestarian kebudayaan. Ketidakramahan dan ketidakmemuaskan pelayanan kepariwisataan yang dikelola masyarakat menjadi kontribusi negatif promosi wisata. Sekalipun fasilitas berkesenian dan berkebudayaan bagi para seniman dan pemangku adat relatif terfasilitasi. alat peraga seni-budaya sebagai pelengkap alat kebijakan (perda) yang masih minim. festival tari. penganugerahan karya cipta seni dan budaya yang diintegrasikan dalam event-event wisata lainnya. berdirinya sanggar-sanggar. festival sastra. padahal merupakan medium pelestarian budaya yang efektif. sehingga terkesan event-event yang dilaksanakan pun sebagai pengguguran kewajiban saja (proyek) bagi aparat birokrasi berwenang yang rendah kreatifitas-inovasi dan pelibatan professional-profesional pegiat seni dan budaya. dokumentasi. ditambah lagi dokumentasi seperti buku-buku budaya Banjar/cerita Banjar. literatur muatan lokal.

2015 Page 47 . Pembangunan dibidang olah raga di Kalimantan Selatan melalui 3 kegiatan pokok yaitu Pengembangan olah raga masyarakat.3 Pemuda dan Olah Raga Perkembangan kualitas bidang pemuda dirasakan belum optimal sehingga kontribusi pemuda dalam pembangunan belum optimal. Salah satu bentuk pembinaan nyata terhadap pemuda di RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .BAB II Gambar II. pelatihan tingkat mahir dan lanjutan dimaksudkan untuk keberlangsungan pendidikan mental dan spritual termasuk pula pembinaan tentang bela negara. Pembinaan terhadap generasi muda meliputi dua pola yaitu di sekolah dan di luar sekolah.2.3. peninggalan bersejarah dan mendinamisasikan museum-museum bersejarah. Sedangkan pembinaan di luar sekolah adalah pembinaan kewirausahaan guna mengurangi pengangguran. Berbagai kegiatan yang masih terkait dengan pembinaan di sekolah adalah seperti pelatihan dasar kepramukaan. Kegiatan-kegiatan kepemudaan termasuk pelajar generasi muda. Disamping itu melakukan pembinaan dan promosi kepariwisataan yang efektif. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan antara lain menyebutkan bahwa sasaran pembangunan kepemudaan adalah usia 16 s/d 30 tahun. pembibitan oleh raga dan pemasalahan olah raga.7 Kunjungan Wisatawan ke Kalsel Tahun 2007 Sumber: KDA Tahun 2008 Tantangan ke depan adalah bagaimana meredifinisi dan merevitalisasi budaya Banjar agar menjadi energi kultural untuk membangun modal sosial bagi lestari nilai-nilai dalam perilaku dan kehidupan masyarakat serta menjadi kekuatan pembangunan. kepramukaan dan kewirausahaan. Dengan demikian upaya penyadaran terhadap pemuda pemberdayaan dan pengembangan pemuda untuk semakin berperan dalam pembangunan. 2. dan penggalian dokumentasi. Selain itu juga dikembangkan pertukaran pelajar dan pertukaran pemuda baik antar negara maupun antar daerah.

Langkah – langkah strategik yang diambil pemerintah dari pemetaan masalah soal kepemudaan setidaknya melepaskan dan menghindarkan dari bahaya pengguna narkoba yang berakibat pada tindakan patologi sosial yang merusak masa depan pemuda itu sendiri. Selain dua hal itu. fungsi pelayanan masyarakat yang melekat pada berbagai fungsi pemerintahan juga menjadi domain kewenangan pemprov yang perlu diperhatikan secara serius.4. bangsa dan negara. pemerintah daerah provinsi dapat membentuk satu peraturan perundang-undangan berupa Peraturan Daerah (Perda) Provinsi.2. meningkatkan sosialisasi dan kampanye bahanyanya narkoba bagi generasi muda dan mengupayakan pembangunan fasilitas kepemudaan dan wadah olahraga yang representatif. Peraturan Gubernur sendiri adalah suatu produk hukum yang mengatur hal-hal yang lebih teknis dari Peraturan Daerah. Dalam kedua hal tersebut. Secara yuridis. pemerintah provinsi memiliki kewenangan untuk terlibat dalam dua hal tesebut dalam pengertian yang limitatif. banua.4 Hukum. hukum sebagai kewenangan pemerintahan meliputi dua hal. Selain dapat membentuk Perda. pemerintah daerah provinsi hanya diberikan wewenang untuk membentuk peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya sebagaimana diatur dalam UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah jo UU No.2015 Page 48 . Politik dan Pemerintahan 2. Perda dapat dibentuk untuk memenuhi kewajiban peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan guna memenuhi kebutuhan.BAB II Kalimantan Selatan adalah dibidang olah raga adalah dikembangkannya olah raga kesehatan. 2. Tantangan yang dihadapi di bidang pemuda dan olah raga adalah :mengoptimalkan peran serta pemuda dalam berbagai bidang pembangunan. Terhadap olah raga kesehatan pemerintah daerah menyiapkan tempat-tempat umum yang dilengkapi dengan sarana olah raga. Posisi Peraturan Gubernur sama halnya dengan Peraturan Pemerintah sebagai penjelas dari RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Dalam kedua UU tersebut. yaitu : pembuatan peraturan perundang-undangan (law making process) dan penegakan hukum (law enforcement) atas peraturan perundang-undangan itu sendiri. Dalam pembuatan peraturan perundan-undangan. kekhasan dan/atau kearifan lokal daerah setempat. Kewenangan Bidang Hukum Pemerintah Provinsi Secara garis besar.1 Hukum a.2. olah raga rekreasi dan olah raga prestasi.10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. demikian juga untuk olah raga rekreasi telah pula dikembangkan sarana olah raga dalam bentuk outbond dan untuk olah raga prestasi telah dikembangkan program pemusatan latihan. pemerintah daerah provinsi juga dapat membentuk Peraturan Gubernur.

usaha kecil. i. c. f. pelayanan kependudukan. perencanaan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . kabupaten/kota). g. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota.32 Tahun 2004 tersebut merupakan dasar hukum pemberian kekuasaan yang bersifat otonom kepada daerah (provinsi. moneter dan fiskal nasional. yaitu : urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan. seorang Gubernur dapat pula menerbitkan Keputusan Gubernur. b. dan f. (3) Urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. d. e. Dalam Pasal 10 UU tersebut menyatakan : (1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Lebih lanjut. penanganan bidang kesehatan. dalam hal ini adalah pemerintah daerah provinsi. fasilitasi pengembangan koperasi. Sebagai suatu produk hukum. pertahanan. d.2015 Page 49 . Dalam Pasal 13 UU No.32 Tahun 2004 membagi urusan pemerintahan daerah yang bersifat otonom tersebut atas dua urusan pemerintahan.32 Tahun 2004. penyediaan sarana dan prasarana umum. pengendalian lingkungan hidup. yustisi. agama. Klausula dalam Pasal 10 UU No. (2) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Peraturan Gubernur dan Keputusan Gubernur mesti merujuk kepada dasar kewenangan yang membuatnya. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial.32 Tahun 2004 disebutkan definisi urusan wajib dan urusan pilihan yang dimiliki pemerintahan daerah provinsi sebagai berikut : (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: a. keamanan. Kewenangan pemerintah daerah provinsi sendiri dapat dilacak berdasarkan ketentuan dalam UU No. perencanaan dan pengendalian pembangunan. UU No. penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota. e. b. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota. c.BAB II UU. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. Perda. h. politik luar negeri. kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-Undang ini ditentukan menjadi urusan Pemerintah. j. pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. pemanfaatan. dan catatan sipil. dan pengawasan tata ruang. k. l. Untuk menetapkan hal-hal yang bersifat individual dan konkret dari Perda dan Peraturan Gubernur.

Berdasarkan PP No. o. Kendati demikian. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Berbagai produk hukum pemerintah daerah provinsi dapat dibentuk untuk menunjang pelbagai kewenangan pemerintahan provinsi sebagaimana dijabarkan di atas.8 : Gambar II. urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi terdiri atas 26 bidang yang menjadi urusan wajib dan 8 bidang urusan pemerintahan yang menjadi pilihan. Selain itu. Di tingkat Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan hal demikian diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan nomor 5 tahun 2008. (2) Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. p. kekhasan. sebagaimana amanah Pasal 12 UU No.38 Tahun 2007 tersebut.10 Tahun 2004. pelayanan administrasi umum pemerintahan.8 Penjabaran Peraturan Perundang-undangan Produk Hukum Pemprov Peraturan Daerah Peraturan Gubernur Hal yang dapat diatur Penjabaran Peraturan Perundangundangan lebih tinggi Urusan Wajib Pemerintahan Provinsi Keputusan Gubernur Urusan Pilihan Pemerintahan Provinsi Aparat Utama Aparat Penegak Hukum Satuan Polisi PP Aparat Pembantu Kepolisian dan Unsur Kamtibmasn RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2015 Page 50 . Hal ini dapat dilihat dari Gambar II. Perda sebagai salah satu produk hukum daerah juga dapat dibentuk sebagai penjabaran peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Secara lebih terperinci mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan Pemerintahan antara Pemerintah. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. n. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. pemerintahan daerah provinsi juga mendapat limpahan kewenangan pemerintahan dari pemerintah pusat berdasarkan asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan.BAB II m.

sebagai berikut : 1) Perda tentang APBD. kewenangan pemerintah provinsi secara otonom dapat dilakukan untuk melakukan penegakan hukum atas berbagai produk hukum daerah dimaksud dengan menggunakan Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP). Kondisi Kekinian Berdasarkan kewenangan yang dimiliki pemerintah provinsi di bidang hukum sebagaimana dijelaskan sebelumnya.BAB II Di level penegakan hukum. 4. 2) Perda tentang Pajak daerah. 3. 3) Perda tentang Retribusi daerah.34 Tabel II. 2010 2008 3 1 1 8 8 2009 3 6 4 5 9 2010 1 1 1 4 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . khususnya perda sebagaimana tabel diatas dapat dibedakan berdasarkan jenisnya.35 Jumlah Perda Provinsi Berdasarkan Jenis Pengaturannya Di Kalimantan Selatan 2008 S/D 2010 Tahun JenisPerda APBD Pajak daerah Retribusi daerah Kelembagaan Penyertaan Modal Pengaturan Sumber : Biro Hukum Pemprov Kalsel. Tabel II.2015 Page 51 . Satuan Polisi Pamong Praja merupakan perangkat pemerintah daerah provinsi yang secara yuridis bertugas untuk itu. 2010 Jumlah produk hukum. 5) Perda tentang Penyertaan Modal dan 6) Perda tentang Pengaturan. Jenis Produk Hukum Perumusan Perda Perumusan Produk Hukum Peraturan Gubernur Keputusan Gubernur 61 606 75 678 74 612 100 711 2006 21 2007 20 2008 24 2009 29 Sumber : Biro Hukum Pemprov Kalsel. 4) Perda tentang Kelembagaan di daerah. Akan tetapi dalam kondisi tertentu.34 Jumlah Produk Hukum Yang Dihasilkan Pemda Provinsi Di Kalimantan Selatan Tahun 2006 S/D 2009 No. pemerintah provinsi dapat meminta bantuan dari pihak kepolisian dan unsur kamtibmas lainnya guna menegakkan produk hukum daerah dimaksud. 1. b. Pemerintah provinsi Kalimantan Selatan telah melakukan pembentukan produk hukum daerah sebagaimana terlihat pada Tabel II. 2.

selain itu juga lembaga hukum belum disertai dengan akuntabilitas dalam penataan hukum karena belum diatur dengan baik sehingga sangat sulit menentukan siapa yng bertanggung jawab terhadap tata cara dan bagaimana Page 52 2. Perda tentang Kepurbakalaan. Perda Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pendidikan Al Quran di Kalimantan Selatan sedikit banyak telah menjawab beberapa persoalan urgen ke Kalsel-an. Diterbitkannya Perda-perda telah memberikan konstribusi besar terhadap pembangunan seperti Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pengaturan Jalan umum dan jalan khusus untuk angkutan hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan. pemerintah provinsi Kalsel masih menghadapi berbagai kendala. keterlibatan stakehoders. serta Perda tentang Perlindungan Anak Terlantar. Sedangkan di ranah penegakan hukum. sekaligus telah mampu menampilkan kekhasan daerah ini di banding daerah lain melalui penggunaan urusan pilihan pemerintahan provinsi yang diatur lebih lanjut melalui Perda sebagaimana tergambar pada dua Perda di atas. DPRD Kalsel belum mengusulkan satupun Raperda untuk disahkan menjadi Perda. tokoh masyarakat dan akademisi dalam turut merancang dan mengawal jalannya pembangunan dll yang bisa diformulasikan dalam bentuk Perda maupun produk hukum lainnya yang menjadi kewenangan Pemrov. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Persoalan tumpang tindih diatas memang bukan domain kewenangan daerah. dilihat dari sisi perancangan dan pengusulannya lebih banyak didominasi dari pihak eksekutif dan hanya perda tentang pengaturan yang berasal dari pihak legislatif (DPRD Provinsi Kalsel). sejarah dan nilai tradisional. terutama ulama. diantaranya : 1. yaitu Perda tentang Pelarangan Penggunaan Jalan Umum Untuk Angkutan Pertambangan dan Perkebunan Besar atau Perda Nomor 3 Tahun 2009. Dari Perda tentang pengaturan tersebut tercatat pada tahun 2008 sebanyak tiga buah Perda Pengaturan diusulkan oleh DPRD masing-masing Perda tentang Pengawasan Peredaran Minuman dan Makanan Beralkohol. Sedangkan sampai dengan Agustus 2010. sehingga tidak dapat dilaksanakan. seperti minimnya kontribusi sektor tambang bagi pembangunan.2015 . Pada tahun 2009 hanya terdapat satu buah Perda yang diusulkan oleh DPRD Kalsel. Implementasi peraturan perundang-undangan menjadi terhambat karena peraturan pelaksanaannya tidak kunjung terbit. Daerah hanya menerima impact dari tata kelola pembuatan peraturan di tingkat pusat. Kurangnya indenpedensi dan koordinasi kelembagaan hukum berakibat pada sistem hukum. Dari abstraksi diatas terlihat bahwa pembangunan bidang hukum. khusunya dalam pembuatan peraturan daerah telah menunjukkan kemajuan yang berarti dan telah ikut memberikan konstribusi terhadap pencapaian sasaran pembangunan.BAB II Dari keenam jenis perda tersebut. Ke depan masih diperlukan ikhtiar yang kuat untuk menghadirkan peraturanperaturan perundang-undangan yang menjadi kewenangan pemerintah Provinsi Kalsel guna menjawab persoalan-persoalan ke-Kalsel-an. Masih banyaknya tumpang tindih peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan secara terpusat berakibat pada inkonsistennya penerapan hukum di daerah.

1) sistem negara atau sistem politik. yaitu . dan bukan bertujuan untuk kepentingan pribadi.4. dan 3) bagaimana segala kebijakan dan regulasi dapat menjamin rakyat hak-hak dasar rakyat? Ketiga hal tersebut dapat dirangkum dalam satu sub kajian dalam politik bernama demokrasi. politik didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berbagai kegiatan dalam suatu sistem negara yang menyangkut proses untuk mencapai tujuan yang bersifat publik (public goals). selain memerlukan bedah yang mendalam juga beberapa hal tidak terlalu signifikan pengaruhnya terhadap suatu perencanaan pembangunan di ranah pemerintah provinsi sebagaimana yang hendak disoroti lebih lanjut dalam RPJMD Kalsel 2011-2015 ini. Bidang sengketa terfokus pada pengaduan masyarakat dan sifatnya hanya sebagai fasilitator. 2. termasuk oleh pemerintahan provinsi. Yang dapat dilakukan adalah koordinsi diantara kelembagaan hukum dapat dilakukan. Misalnya antar Pemprov dengan Kepolisian dan Kejaksaan dalam konteks penegakan berbagai persoalan hukum di daerah. dalam politik diperlukan adanya kekuasaan yang memberikan kewenangan kepada pihak tertentu untuk menjalankan sistem guna mencapai tujuan di atas. Jika mengacu pada terminology politik demikian. Independensi institusi hukum tidak berhak diintervensi. Untuk itu.2015 Page 53 . Sehingga dalam bagian politik ini.2. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 3) pengambilan kebijakan. maka sesungguhnya ada beberapa aspek yang layak disoroti dalam sub bagian Politik ini. serta 4) regulasi dan kebijaksanaan. aspek politik lebih ditekankan dari : 1) bagaimana lembaga-lembaga politik di daerah bekerja ? 2) bagaimana hak-hak politik rakyat dapat dipenuhi?.2 Politik Secara teoritik. Mengurai empat hal tersebut. penyusunan pengukuran perkembangan ranah politik di Kalsel dilihat dengan menggunakan indikator demokratisasi sebagaimana akan diuraikan di bawah ini. Kekuasaan yang dimiliki lebih lanjut diterjemahkan dalam pengambilan kebijakan (decision making) yang dapat berbentuk suatu kebijaksanaan dan regulasi lainnya yang kesemuanya dihajatkan sekali lagi untuk kepentingan publik dalam arti luas. 2) kekuasaan (power). seperti penyelesaian illegal loging dan mining. Untuk mencapai hal tersebut.BAB II yang harus dilakukan dalam pengembangan hukum daerah. dalam penyusunan RPJMD Kalsel ini.

penggunaan indikator yang baku diperlukan untuk menghilangkan kerancuan dan debat dalam memahami konsep demokrasi yang beragam. termasuk di Kalsel.36. 2) berekspresi atau berpendapat. 3) menjadi pejabat publik.36 penting dibuat untuk mengetahui tingkat demokratisasi suatu wilayah. hak-hak politik dan institusi demokrasi yang diturunkan dalam beberapa variabel sebagaimana terlihat dalam tabel II. selalu ada perbedaan penerimaan hasil tata kelola pemerintahan. oleh dan untuk rakyat. sebab poliarkhi mengacu pada sebuah sistem pemerintahan oleh “banyak rakyat”. 5) memberikan suara dalam pemilihan umum. Karenaya secara teoritis. Berdasarkan rumusan teoritis tersebut. bukan “semua orang”. Kendati demikian pemerintahan seperti ini tak pernah hadir dalam sejarah ummat manusia.2015 Page 54 . Dahl menawarkan konsep demokrasi poliarkhi untuk merekonstruksi ajaran demokrasi populis di atas. Demokrasi dalam pengertian ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut . poliarkhi dinilai lebih realistic untuk menggambarkan sebuah fenomena politik tertentu dalam sejarah peradaban manusia. Menurutnya. Robert Dahl dan Coppedge mengatakan tidak pernah ada pemerintahan dijalankan langsung oleh semua rakyat.BAB II a. 1) membentuk dan ikut serta dalam organisasi. 4) persaingan atau kontestasi di antara warga negara untuk mendapatkan dukungan dalam rangka memperebutkan jabatan-jabatan publik penting. 6) adanya Pemilu yang jujur dan adil. Indikator pada table II. Selain itu. Maswardi Rauf dkk dalam merumuskan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) menyederhanakan alat ukur demokratisasi melalui pemantauan atas tiga aspek dalam demokrasi. yaitu aspek kebebasan sipil. Indikator Pengukur Demokratisasi Definisi populis tentang demokrasi biasa menyebutkan bahwa. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dan tidak ada pemerintahan sepenuhnya untuk semua rakyat. 7) adanya sumber-sumber informasi alternatif di luar yang diberikan pemerintah. karena diselenggarakan pemilu sebagai mekanisme pengambilan kebijakan oleh rakyat secara periodik dan didukung oleh kebijakan pemerintah yang terbuka dan dapat dievalusi oleh rakyat pada pemilu berikutnya. dan 8) adanya jaminan kelembagaan bahwa setiap kebijakan pemerintah berdasar pada dukungan suara dan bentuk-bentuk ekspresi lainnya. Dalam prakteknya yang menjalankan pemerintahan ialah segelintir orang. demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan dari. Juga tidak pernah ada hasil pemerintahan itu untuk rakyat semuanya secara merata. bukan oleh “semua rakyat” dan oleh “banyak orang”.

kebebasan berpendapat = 82. umur. afiliasi politik.4. maka IDI Kalsel untuk aspek yang pertama ini adalah 83. Sedangkan yang dimaksud dengan kebebasan berkeyakinan adalah adanya kebebasan individu untuk meyakini kepercayaan atau agama yang ditetapkan pemerintah. Yang dimaksud dengan kebebasan berpendapat adalah kebebasan individu dan kelompok untuk mengeluarkan pendapat. Yang dimaksud dengan kebebasan berkumpul adalah aktivitas kemasyarakatan dalam bentuk pertemuan yang melibatkan lebih dari 2 orang. dan perasaan.36 Pengukuran Indeks Demokrasi Indonesia Versi Tim Bappenas Dan UNDP Variabel Kebebasan berkumpul dan berserikat Kebebasan berpendapat Kebebasan berkeyakinan Kebebasan dari Diskriminasi Partisipasi Politik Pengawasan Pemerintahan Pemilu yang bebas dan adil Peran Pemerintah/DPRD Peran Partai Politik Peradilan yang independen Aspek Kebebasan Sipil Indikator 8 indikator 4 indikator 5 indikator 3 indikator 6 indikator 4 indikator 5 indikator 4 indikator 2 indikator 2 indikator Hak-hak Politik Institusi Demokratis Sumber : Laporan Akhir IDI tahun 2008. Dalam aspek ini dilihat empat variabel. tanpa adanya rintangan berupa tekanan fisik. b.BAB II Tabel II. kebebasan berkeyakinan = 70. baik terdaftar atau tidak terdaftar di lembaga pemerintah. kebebasan berkeyakinan dan kebebasan dari diskriminasi. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan melalui metode pelacakan pemberitaan di media massa. Dan yang terakhir dari aspek yang pertama ini adalah terkait dengan kebebasan dari diskriminasi yang dimaknai sebagai perlakuan yang tidak membedakan individu warga negara dalam hak dan kewajiban yang dia miliki.3 (tinggi) dengan rincian sebagai berikut . kehendak.0 . FGD dan indepth interview dengan beberapa stakeholders terpilih. 4. serta tidak adanya tindakan represi dari satu kelompok masyarakat terhadap masyarakat lain yang menolak kebijakan pemerintah terkait dengan salah satu keyakinan. yaitu kebebasan berkumpul dan berserikat. pandangan. dimana pembedaan tersebut didasarkan pada alasan gender.2015 Page 55 . Sedangkan berserikat adalah mendirikan atau membentuk organisasi. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . IDI untuk variabel kebebasan berkumpul dan berserikat = 89. ODHA dan hambatan fisik. suku/ras. kebebasan berpendapat.3 dan kebebasan dari diskriminasi = 91. psikis dan pembatasan. Politik dan Demokratisasi Aspek pertama dari Indeks Demokrasi Indonesia adalah kebebasan sipil. agama.

tidak adanya manipulasi dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . pengaduan kepada kepolisian dan prakarsa media melalui berita terkait dengan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan.3 dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemerintahan= 61. yaitu Pemilu yang bebas dan adil.BAB II Aspek kedua dari Indeks Demokrasi Indonesia adalah hak-hak politik yang terdiri dari dua variabel. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sedangkan yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemerintahan adalah keterlibatan warga/masyarakat dalam mengawasi secara langsung pelaksanaan keputusan/kebijakan.2015 Page 56 . yaitu : partisipasi politik. Terkait dengan hak dipilih ini. Tabel II.3 Aspek ketiga dari Indeks Demokrasi Indonesia adalah Institusi Demokratis yang terdiri dari empat variabel. Yang dimaksud dengan hak memilih adalah hak setiap individu untuk secara bebas memberikan suara dalam pemilihan pejabat publik. termasuk hak memilih dan dipilih. Pengawasan demikian dapat dilakukan dalam bentuk pelaporan/pengaduan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan melalui press statement. Peran DPRD. Yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat dalam politik adalah keterlibatan masyarakat dalam pembuatan sampai dengan penialaian keputusan politik yang tercermin secara kuantitatif dari keterlibatan baik secara individual. maupun kelompok dalam berbagai kegiatan. termasuk hak memilih dan dipilih = 52. demonstrasi. berikut data tentang jumlah kursi partai-partai politik di DPRD Kalsel dalam dua Pemilu terakhir. mogok. Sedangkan hak dipilih adalah hak setiap individu untuk berkompetisi memperebutkan suara secara bebas dalam suatu pemilihan pejabat publik. seperti hearing. IDI Kalsel dalam aspek yang kedua ini hanya memperoleh angka 56. Yang dimaksud dengan Pemilu yang bebas dan adil adalah pemilu yang memenuhi standar demokratis yang dicerminkan oleh.8 (rendah) yang terdiri dari variabel partisipasi masyarakat dalam politik. Partai Politik dan Peradilan yang independen. seperti Musrenbang misalnya. dan melalui salah satu forum multistakeholders. serta variabel lain berupa pengawasan pemerintahan. antara lain : adanya kesempatan yang sama dalam kampanye.37 Jumlah Kursi Partai-Partai Politik Di DPRD Kalimantan Selatan Pada Pemilu Legislatif 2004 Dan 2009 Perolehan Perolehan Nama Partai Politik Kursi 2004 Kursi 2009 Golongan Karya 13 10 Demokrat 2 9 Persatuan Pembangunan 7 7 Keadilan sejahtera 6 7 Demokrasi Indonesia Perjuangan 7 5 Bintang Reformasi 6 5 Amanat Nasional 5 5 Kebangkitan Bangsa 5 3 Bulan Bintang 4 1 Gerakan Indonesia Raya 0 2 Hati Nurani Rakyat 0 1 Jumlah 55 55 No.

3 56. Masih rendahnya partisipasi politik masyakarat yaitu keterlibatan masyarakat dalam pembuatan sampai dengan penilaian keputusan politik yang tercermin RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .38 Angka Indeks Demokrasi Indonesia Provinsi Kalsel Tahun 2008 Aspek dan Angka IDI Variabel Angka IDI Kebebasan Sipil Kebebasan berkumpul dan berserikat 89. Pemilu yang bebas dan adil = 56. 5. Hal ini dapat dilihat dari sejauhmana peradilan bebas dari intervensi birokrasi dan politik dalam penanganan berbagai perkara yang dihadapinya. Angka Indeks Demokrasi Indonesia Kalsel untuk aspek yang terakhir ini adalah 44. sementara aspek hak-hak politik dan institusi demokratis menunjukan angka yang mengkhawatirkan. fungsi komunikasi politik (antara konstituen dan penyelenggara negara).0. Secara keseluruhan angka Indeks Demokrasi Indonesia Kalsel pada tahun 2008 hanya berkisar pada angka 61.0 Kebebasan berkeyakinan 70.4 (sedang).1.3 atau sangat rendah.4 Angka IDI keseluruhan Sumber : Laporan Akhir IDI tahun 2008. Sedangkan peran partai politik dapat dilihat dari sejauh mana parpol mampu melaksanakan fungsinya dalam hal penyerapan aspirasi masyarakat. serta fungsi sosialisasi politik.3) Kebebasan berpendapat 82. berjalannya mekanisme checks and balances. dimana aspek yang paling menonjol adalah aspek kebebasan sipil.3) Partisipasi Politik Pengawasan Pemerintahan Pemilu yang bebas dan adil Peran Pemerintah/DPRD Peran Partai Politik Peradilan yang Independen 52.0 42.4 (83.38 Tabel II. fungsi pengkaderan dan rekrutmen calon-calon pemimpin politik.3 61. tidak adanya intimidasi dan kekerasan fisik dalam pemberian suara.BAB II penghitungan suara. Kekonsistenan pengadilan menjaga independensinya berarti bahwa supremasi hukum dijunjung tinggi.3 Kebebasan dari Diskriminasi 91.6 46. Peran DPRD = 42. dapat dianalisis beberapa permaslahan demokratisasi di Kalsel sebagai berikut : 1.6 22. Parlemen yang efektif dicirikan dari adanya tingkat partisipasi dan kontestasi politik yang tinggi. Dan aspek yang terakhir adalah peradilan yang independen.5 dan Peradilan yang independen =22.2015 Page 57 .4 Hak-hak Politik (56. Berdasarkan data tersebut di atas. Sedangkan peran DPRD dapat dilihat dari efektivitas pelaksanaan fungsi DPRD dalam rangka konsolidasi demokrasi. Partai Politik = 46. akuntabilitas politik yang tinggi dan adanya hubungan yang kuat antara politisi dan konstituen.1 61.8) Institusi Demokratis (44. Secara kseluruhan Indeks Demokrasi Indonesia Kalsel dapat dilihat pada Tabel II.

Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prinsip dan Dasar Kewenangan Pemerintahan Daerah Provinsi Pelaksanaan asas pemerintahan di tingkat Provinsi pasca diterapkannya otonomi daerah dilakukan berdasarkan tiga asas. dalam hal fungsi pengkaderan. Lema hnya peran DPRD sebagai balancing power kekuasaan eksekutif. 3. Pemerintah provinsi sebagai wakil Pemerintah di Daerah menjalankan tugas dan fungsinya sebagaimana diatur oleh PP Nomor 39 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi yaitu: RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . pengaduan kepada kepolisian dan prakarsa media melalui berita terkait dengan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan. dekonsentrasi. seperti Musrenbang misalnya. Kelemahan demikian sangat membuka peluang penyalahgunaan kekuasaan oleh aparatur pemerintahan daerah. 4.32 Tahun 2004 yang dijelaskan sebelumnya.4. 2. dan tugas pembantuan. seperti hearing.3 Pemerintahan a. dan melalui salah satu forum multistakeholders. Belum hadirnya Pemilu yang jurdil. ketidak netralan birokrasi dan penyelenggara pemilu daerah. 5. Gambaran Umum Penyelenggaraan Pemerintahan (1) Asas.BAB II secara kuantitatif dari keterlibatan baik secara individual. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemerintahan yaitu keterlibatan warga/masyarakat dalam mengawasi secara langsung pelaksanaan keputusan/kebijakan. Termasuk lemahnya kemampuan anggota DPRD dalam membangun relasi dengan konstituennya. 6. maupun kelompok dalam berbagai kegiatas. Dalam pelaksanaaan tugas-tugas dekonsentrasi. Pengawasan demikian dapat dilakukan dalam bentuk pelaporan/pengaduan masyarakat terhadap penyelnggaraan pemerintahan melalui press statement. Hal ini dapat diasumsikan bahwa kontrol masyarakat terhadap kebijakan politik lemah. Sedangkan Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. demonstarsi. Dalam menjalankan asas desentralisasi terdapat urusan wajib dan urusan pilihan pemerintahan sebagaimana diatur dalam UU No. terkait dengan berbagai fakta dan asumsi publik dalam hal adanya money politics. intimidasi politik. 2. Masih jauhnya kehadiran Peradilan yang bebas dan bersih.2. yaitu asas desentralisasi. Belum berjalannya fungsi partai politik secara baik. Hal ini terlihat dari masih tebang pilihnya sejumlah kasus. pendidikan politik dan perjuangan aspirasi publik. mogok. termasuk beberapa Putusan Pengadilan yang seringkali menjadi polemik publik dan mencederai rasa keadilan masyarakat.2015 Page 58 .

jumlah PNS Provinsi Kalimantan Selatan mengalami kenaikan. keadilan. 6. serta perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. pelaksanaan. partisipasi masyarakat. sektoral. dan Kebijakan Nasional di Daerah. dan Keputusan DPRD serta Keputusan Pimpinan DPRD Pengawasan Administrasi Kepegawaian dan karier pegawai diwilayahnya sesuai peraturan perundangan Pemberian pertimbangan terhadap pembentukan. penyelenggaraan pemerintahan umum di Provinsi mesti mengacu pada beberapa prinsip yakni prinsip-prinsip demokrasi.313 (2008). dan pemanfaatan sumberdaya. nyata. baik yang dilakukan oleh Badan eksekutif Daerah maupun Badan Legislatif Daerah Memelihara ketentraman dan ketertiban Pembinaan penyelenggaraan Pemerintah Kabupaten/Kota Melaksanakan tugas-tugas tampung tantra Pengawasan represif terhadap pelaksanaan PERDA. 32 Tahun 2004. di bidang pemerintahan berdasar UU No. penggabungan dan penghapusan daerah. Undang-undang tersebut juga mengatur penyerahan kewenangan secara luas. Untuk menjalankan ketiga asas pemerintahan yang diberikan kepada pemerintahan daerah. yakni dari 5.BAB II 1) 2) 3) 4) 5) 6) Aktualisasi nilai-nilai Pancasila. dan bertanggungjawab kepada daerah dengan pengaturan.860 (2007). Keputusan Kepala Daerah. Koordinasi wilayah. Fasilitasi kerjasama dan penyelesaian perselisihan antar daerah dalam wilayah kerjanya Pelantikan bupati/walikota Fasilitasi penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan Pengkondisian terselenggaranya pemerintah daerah yang baik. pembinaan. dan pemerataan. 7) 8) 9) 10) 11) 12) Adapun yang dimaksud dengan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. pemekaran. Undang-Undang Dasar 1945.122 orang. dan pengendalian. Secara kuantatitas. bersih dan bertanggungjawab. perencanaan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . pembagian. pengawasan. (2) Personil dan Kelembagaan Sebagai konsekuensi dan pelimpahan kewenangan berdasarkan otonomi daerah. Kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sudah dijabarkan melalui keputusan Gubernur Nomor 0261 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Provinsi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Pemerintah Provinsi sebagaimana disebutkan sebelumnya. 5. kelembagaan.834 (2005) menjadi 5. utamanya pemerntah provinsi. Pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan pada 2001 mendapatkan limpahan jumlah personil eks Kanwil departemen sebanyak 3.812 (2006).2015 Page 59 .

86% 0. (3) Keuangan Daerah.70% 2. 13 Badan dan Inspektorat. Pasal 155 UU Nomor 32 tahun 2004 menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja daerah(APBD). 28 Balai.30% 2.00% 2006 209 131 2553 124 57 593 26 1830 286 3 5812 3.10% 9. Realisasi penerimaan dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 4 Sekretariat.39 Jumlah PNS Menurut Jenjang Pendidikan Provinsi Kalsel Tahun 2005 – 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jenjang Pendidikan SD/MI SMP/MTs SMA/MA D-I D-II D-III D-IV S-1 S-2 S-3 216 143 2643 124 64 557 27 1831 226 3 5834 2005 3. yaitu terdiri dari 3 Assisten. 1 Satpol PP. Selanjutnya pasal 157 UU tersebut mengemukakan bahwa sumber pendapatan daerah adalah : 1) Pendapatan Asli Daerah: a) Hasil pajak daerah b) Hasil retribusi daerah c) Hasil BUMD dan hasil kekayaan Daerah yang dipisahkan d) Lain-lain PAD yang sah.90% 2.59% 43.18% ). 16 Dinas. 6 Tahun 2008 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat daerah dan Sekretariat DPRD Provinsi Kalimantan Selatan.46% 31.00% 2010 235 196 2712 89 46 798 77 1832 511 6 6502 3.86%).92% 10.98% 10.87% 0.28% 1. APBD Provinsi Kalimantan Selatan selalu mengalami surplus anggaran.98% 44.18% 28.422 (2009).60% 2.502 (2010). Taman dan Pelabuhan.09% 100.02% 0.61% 3.13% 1.17% 1.08% 1. Menurut tingkat pendidikan.34%).92% 0. jumlah PNS provinsi ini yang berpendidikan S3 sebanyak 6 orang (0.02% 6. 2) Dana Perimbangan 3) Pinjaman Daerah 4) Lain-lain pendapatan yang sah Dari tahun anggaran 2000 hingga tahun anggaran 2004.38% 3.27% 1.2015 Page 60 .09%).18% 7.61% 0.71% 1.18% ).01% 41.10% 0. 1 Kantor Perwakilan. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada table dibawah ini : Tabel II.58% 2.69% 2.49% 4.86% 7.05% 100. 1 Pelaksana Harian.00% 2009 237 192 2695 94 48 776 78 1789 507 6 6422 3.46% 0.89% 0.143 orang (48.05% 100. S2 sebanyak 511 orang (7. dan menjadi 6.93% 2. DI – D III sebanyak 933 orang (14.99% 41.57% 28.BAB II 6. Laboratorium & Sekolah dan 25 UPTD. 9 Biro.91% 0.06% 11.45% 31.08% 100. Panti.71% 12.37% 0. D IV sebanyak 77 orang (1.45% 45.20% 0.13% 0.75% 12.00% Kuantitas/Tahun 2007 210 152 2536 112 54 622 30 1812 326 6 5860 3.00% 2008 246 188 2784 137 67 696 36 1769 385 5 6313 3. 3 Rumah Sakit.10% 100.92% 5.21% 27.00% Sumber : BKD tahun 2010 Secara kelembagaan Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan No.51% 30.55% 0. S1 sebanyak 1.832 orang (28.10% 2.35%) dan SLTA kebawah sebanyak 3.97% 1.25% 43.56% 0.09% 100.

Satuan Pol PP= 1. Sekretariat DPRD = 1.2015 Page 61 . Penerapan Akuntabilitas Kinerja Intansi Pemerintah (LAKIP) melalui Peraturan Gubernur Kal Sel Nomor 060 tahun 2010 tentang Penerapan Sistem Akuntabilitas. sedangkan realisasi belanja mencapai 268 milyar rupiah pada 2000. maupun tidak langsung. Lembaga Teknis Daerah (Badan Daerah+ Kantor) = 16. maka diperlukan reformasi birokrasi melalui 3 aspek penting yaitu : Kelembagaan (Organisasi). baik pada pos belanja langsung. Berdasarkan regulasi diatas telah dibentuk 39 Perangkat Daerah yang meliputi Dinas Daerah = 16. 6 Tahun 2008 tentang pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan. RSU =3. dimana secara singkat dari sisi pendapatan masih cukup banyak pendapatan yang berasal diluar Pendapatan Asli Daerah (PAD). dan menjadi 585 milyar rupiah pada 2004. Ketatalaksanaan dan Sumber Daya Aparatur (SDM). Dalam kontek kelembagaan telah dilaksanakannya restrukturisasi kelembagaan daerah. Sedangkan untuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 8 Tahun 2008 sebanyak 53 UPTD. serta mewujudkan tata pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean governance). 608 milyar pada 2003. (4) Ketatalaksanaan dan Budaya. Sekretariat DPD Korpri Provinsi = 1. Sekretariat Daerah = 1. Provinsi Kal Sel dalam 2 (dua) tahun terakhir. Secara kualitatif. 542 milyar rupiah pada 2002.BAB II kurun waktu lima tahun anggaran meningkat dari 342 milyar rupiah pada 2000. Sedangkan dalam konteks Ketatalaksanaan/Organisasi Pemerintahan dan pengembangan SDM telah dilakukan beberapa hal sebagai berikut : 1. 495 milyar rupiah pada 2002. belum terlalu maksimal porsinya. 452 milyar rupiah pada 2001. Sedangkan dari sisi belanja masih banyak digunakan untuk belanja rutin pagawai. dilakukan penilaian oleh Tim. Masa penilaian/evaluasi yang dilakukan oleh Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi. Serta Reformasi Birokrasi Untuk mewujudkan birokrasi pemerintah yang profesional dan berintegritas tinggi dan mampu menyelenggarakan pelayanan prima. 596 milyar rupiah pada 2003. menjadi 461 milyar lebih pada 2001.42% per tahun. sesuai dengan amanat PP 41 Tahun 2007 tentang Organisasi perangkat Daerah yang dituangkan lebih lanjut dalam Perda No. belum maksimalnya penerimaan dari sektor PAD mengharuskan Pemprov Kalsel ke depan bekerja lebih keras dan kreatif untuk meningkatkannya. Kal Sel telah mendapat RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . setiap intansi membuat dan melaporkan LAKIP dalam forum ekpose. Ini berarti terjadi kenaikan ratarata 16. dengan mekanisme dimulai dari pembuatan SAKIP dijajaran SKPD . Sedangkan banyaknya dana yang terserap pada belanja pegawai membuat dana yang seharusnya dialokasikan untuk keperluan belanja lainnya yang langsung dirasakan rakyat. Secara lebih spesifik terkait dengan pendapatan dan belanja daerah dapat dilihat dalam Bab III RPJMD Kalsel 2011-2015 ini. dan menjadi 666 milyar rupiah lebih pada 2004. Ini berarti terjadi kenaikan ratarata 16.22% per tahun.

II dan III.2015 Page 62 . Telah melaksanakan workshop mind setting bagi pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemerintah provinsi. yaitu pengawasan internal dan eksternal. Budaya Bersih dan Budaya Tertib) setiap tahun dengan memberikan reward yang proporsional. Padahal sejak tahun 2005. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . keterlibatan publik dan sektor swasta dalam tahapan-tahapan pembangunan menjadi aspek lain yang tak boleh diabaikan. agar melaksanakan pelayanan publik secara optimal. 5. Pembentukan Tim Penegakan Disiplin Aparatur di lingkungan Pemerintah provinsi dan direncanakan juga pembentukan kader budaya kerja pada tiap-tiap SKPD. akseptabilitas dan responsif dalam pelaksaan tata kelola pemerintahan. bahkan KPK dalam ranah tertentu. Pemprov Kalsel merupakan satu dari sekian Pemprov di Indonesia yang menjadi pilot project pelaksanaan prinsip-prinsip good governance yang tercermin dari adanya akuntabilitas. 2. Dalam ranah reformasi birokrasi. Menyelenggarakan diklat dan berbagai pelatihan yang berfungsi meningkatkan karakter dan kreativitas aparatur. transparansi. 3. Secara internal pengawasan tersebut dilakukan secara berjenjang oleh pejabat yang membawahi langsung aparatur di bawahnya . Reformasi birokrasi dapat dilaksanakan. serta disertai adanya reward and punishment yang baik. seperti pelatihan penjenjangan dengan Emosional. 4. Pengawasan yang efektif salah satunya dapat digagas melalui pengawasan publik yang memadai. Selain itu. pemprov Kalsel belum melakukan upaya yang sungguh-sungguh guna menghadirkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Spritual dan Quetion (ESQ). Mengadakan pembinaan dan fasilitasi terhadap peningkatan pelayanan publik di Kab/Kota dan juga lingkup pemerintah Provinsi melalui penilaian pelayanan publik secara berjenjang. publik semestinya harus mengawasi kinerja pemprov. jika pengawasan terhadap aparatur pemerintah di perketat. Sedangkan pengawasan eksternal dilakukan oleh beberapa pihak. Dalam konteks pengawasan eksternal pula. serta melalui peran inspektorat daerah. BPK RI. BPKP.BAB II penilaian 5 (lima) besar Terbaik dari 33 (tiga puluh tiga) Provinsi di Indonesia dalam memberikan Pelayanan Publik Penerapan Pakta Integritas yang dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Kalsel. agar seluruh pejabat eselon I. secara teoritik pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik tersebut bukan hanya meletakkan pemerintah sebagai pelaksana tunggal pemerintahan. seperti DPRD Kalsel. Melaksanakan Gerakan Disiplin Mandiri (GDM) yang meliputi tri budaya (Budaya Kerja. Nomor 065/00658/Org tanggal 3 Mei 2010. outbond bagi pejabat eselon II dan III dll. (5) Pengawasan Daerah Pengawasan terhadap kinerja pemerintah provinsi dilakukan dalam dua ranah.

transparansi. Kewenangan yang luas belum diikuti dengan kemampuan pendanaan yang memadai. yaitu akuntabilitas. sehingga menimbulkan euforia kekuasaan semata. termasuk pada pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). 1. 2. sementara lingkup pekerjaan semakin meningkat seiring dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Hal ini berakibat pada banyak program yang dilakukan tidak berdasar perencanaan dan pemrograman secara matang. b. Azas penyelenggaraan pemerintahan belum optimal dilaksanakan. 5. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2009 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). akseptabilitas dan responsif. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 4. Masih belum terselenggaranya penyusunan SOP dan mantapnya IKU dan IKK di setiap SKPD. 6. Selain itu. 3. Dalam konteks ini perlu dilakukan program-program yang mencerminkan nilai-nilai good governance. sehingga sebagian kewenangan tersebut menjadi beban bagi masyarakat. mengingat terjadinya beberapa SKPD yang memiliki fungsi yang sangat besar sementara strukturnya minimal. termasuk beberapa tugas dan kewenangan yang semestinya dilimpahkan oleh Pemerintah Pusat. bagaimana dan kapan program-program kerja Pemprov Kalsel yang direfresentasikan dari akuntabilitas kinerja setiap SKPD yang ada. sehingga publik dapat mengetahui apa. sekaligus memberikan penjelasan atas permintaan dan keluhan publik pada layanan SKPD yang bersangkutan. sementara kemampuan untuk meningkatkan sumber pendapatan masih terbatas. Pelaksanaan PP ini mesti diaplikasikan dengan baik dan praktis. dalam upaya untuk meningkatkan akuntabilitas kepada masyarakat dalam kerangka sistem pengawasan. Ada kecenderungan tenaga PNS Provinsi mengalami penurunan secara kuantitas. Kebutuhan daerah yang tercermin dalam keuangan daerah dari tahun ketahun selalu meningkat. Ketentuan dalam UU ini mengharuskan setiap SKPD di Pemprov memiliki Pejabat Pengelola Informasi dan Data (PPID) yang berperan untuk melayani.2015 Page 63 . namun belum ada pelaksana teknisnya di daerah. Kelembagaan daerah yang ada sekarang perlu dilakukan restrukturisasi fungsi. namun secara kualitas terjadi peningkatan berdasar pada pendidikan formal yang dimiliki. sepanjang tidak menyangkut rahasia negara dan beberapa aspek informasi yang dikecualikan sebagaimana diatur undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.BAB II Dalam upaya membuka ruang pengawasan publik. saat ini Pemprov Kalsel sedang mempersiapkan keterbukaan informasi kinerja yang bisa dipantau secara langsung oleh masyarakat melalui mekanisme hak mendapatkan informasi. Permasalahan di Ranah Pemerintahan Beberapa permasalahan yang dihadapi Pemprov Kalsel dalam menjalankan kewenangannya di bidang pemerintahan adalah .

d. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .080 1. sedangkan untuk MI pada tahun 2007 sebanyak 64.889 Jumlah 724.300 Paket B SMU 41.519 100.038 64.032 SMK 19. Pada tahun 2007 jumlah murid TK/PAUD 61.371 680 600 1.3.593 81.593 786.1.073 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel.836 26. dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 64. Aspek Pelayanan Umum 2. 2.579 46.252 MA 19.895 826. dan pada tahun 2008 sejumlah 456.280 5.038 64. Tabel II.40 Jumlah Murid TK/RA pada tahun 2007 s.321 orang. dan pada tahun 2009 menjadi 81.659 MTs 53.038 orang.242 45.659 orang.768 54.721 19. Murid Jumlah murid berdasarkan jenjang pendidikan dari TK sampai dengan Madrasah Aliyah dapat dilihat pada Tabel II. Salah satu problemnya adalah masih belum jelasnya mekanisme reward and punishment di Pemprov Kalsel.539 393.40 Jumlah Murid Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan di Kalimatan Selatan Tahun 2007 .221 19.1. 2009 menunjukkan peningkatan. 8.025 orang.580 1.1.2015 Page 64 .721 19.540 orang. Pendidikan a.025 68.3.213 orang.593 orang.540 SD 379. tahun 2008 sebanyak 68.117 5.768 53.321 456. 2010 Jumlah Murid tingkat SD pada tahun 2007 sebanyak 379.559 98. pada tahun 2008 tetap 64. 3. Pengawasan oleh publik juga belum diatur sedemikian rupa mekanisme dan prosedurnya. Pelayanan Dasar Urusan Wajib 2.213 1.038 orang.2009 Jumlah Murid Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 61. Penerapan sistem pengawasan.800 Paket C MI 64.BAB II 7.539 orang serta pada tahun 2009 sebanyak 393. Upaya-upaya reformasi birokrasi masih berjalan lambat dalam menghadapi tuntutan publik yang hendak menghadirkan pemerintahan yang baik dan bersih.460 3.040 Paket A (BLM ADA DATA) SLTP 86. terutama pengawasan internal belum optimal dilakukan.

tahun 2008 menjadi 45.768 orang.221 orang.512 SLTP 7.656 5.021 6.656 MA 2. tahun 2008 meningkat menjadi 98.519 orang dan pada tahun 2009 menjadi 100.542 25. tahun 2008 tetap sebanyak 53. demikian juga kualitasnya.721 orang. dan pada tahun 2009 menjadi 26.844 1.927 SMK 1.206 4. serta statusnya.317 MI 6. sementara untuk MTs pada tahun 2007 sebanyak 53. namun demikian di daerah perdesaan rasio guru dan murid masih relatif besar.125 66. Guru Jumlah guru di Kalimantan Selatan selalu meningkat dari tahun ke tahun dimana sebarannya menurut jenjang pendidikan dapat diliohat pada Tabel II.673 4.242 orang.656 5. b. tahun 2008 sebanyak 19.42 Dilihat dari rasio guru dan murid di Kalimantan Selatan menunjukkan kondisi yang sangat baik.885 SMU 3.321 59. 768. Jumlah murid SMK meningkat tajam.021 6.371 orang. dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 19. tahun 2007 jumlah murid SLTP sebanyak 86.611 8. tahun 2008 tetap sebanyak 19.721 orang.660 SD 22.425 5.BAB II Jumlah Murid pada tingkat SLTP juga semakin meningkat.579 orang dan pada tahun 2009 menjadi 46.032 orang.2015 Page 65 . pada tahun 2007 jumlah murid SMU sebanyak 41.854 2.325 30.41 Tabel II.873 9. Kualitas guru di perdesaan masih lebih rendah daripada guru di perkotaan.836 orang. terutama untuk sekolah-sekolah pada lingkungan pendidikan agama. Langkah kongkret yang perlu diambil adalah pemerataan guru sesuai bidang keahliannya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 54. karena layanan terhadap peserta didik juga masih besar.768 2.117 orang.252 orang.203 3.768 2.559 orang.021 MTs 5. Jumlah murid tingkat SMU juga meningkat.41 Jumlah Guru Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan di Kalimatan Selatan 2007-2009 Jumlah Guru Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 4.746 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel Berdasarkan tabel jumlah murid dan jumlah guru tersebut diatas dapat dihitung rasio guru murid sebagaimana terlihat pada Tabel II.768 Jumlah 54. pada tahun 2007 sebanyak 19.889 orang. sedangkan untuk MA pada tahun 2007 sebanyak 19. dan masih dirasakan kekurangan guru sehingga seringkali terpaksa mengangkat guru honorer yang kurang berkualitas dengan status yang kurang jelas.

dengan rasio hampir 1. dan kualitas tenaga kesehatan terus meningkat. Kondisi ini mencerminkan bahwa sekolah TK/PAUD belum banyak menampung anak usia PAUD.2. kondisi ini menunjukkan bahwa minat murid bersekolah di SMK relatif tinggi.BAB II Tabel II. Rasio tenaga kesehatan per 100. kondisi ini umumnya disebabkan oleh sarana yang belum memadai dan jarang. 2010 c.43 Tabel II. serta relatif jauh dari tempat tinggal anak. Sekolah Rasio murid dengan sekolah berdasarkan jenjang pendidikan selama periode 2007-2009 disajikan pada Tabel II.000 penduduk untuk RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . tetapi distribusinya belum merata. jenis. Rasio murid dan sekolah di SMU dengan di SMK terjadi perbedaan yang sangat signifikan.3.2015 Page 66 .42 Rasio Guru dan Murid Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan di Kalimantan Selatan 2007-2009 Jumlah Murid Per Satu Orang Guru Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 15 16 14 SD 17 18 13 SLTP 11 11 10 SMU 11 11 12 SMK 10 11 11 MI 11 11 11 MTs 10 10 10 MA 7 7 7 Rata-rata Sekolah 11 12 11 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel.43 Rasio Sekolah dan Murid Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan Di Kalimantan Selatan 2007-2009 Jumlah Murid Per Sekolah Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 44 50 44 SD 131 287 309 SLTP 217 221 170 SMU 273 260 269 SMK 315 325 361 MI 121 121 111 MTs 182 182 170 MA 157 157 160 Rata-rata Per Sekolah 196 200 199 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel. 2010 Rasio murid dan sekolah pada jenjang TK/PAUD masih sangat kecil. Ketersedian dan Distribusi Tenaga kesehatan. 2. Jumlah. Kesehatan a.4.1.

G 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 6 4 Dr.44 Jumlah Tenaga Medik dan Paramedik Di Rumah Sakit Kalimantan Selatan Tahun 2009 No. karakteristik geografis di daerah pedesaan lebih sulit. Length of Stay (LOS) tenaga kesehatan di daerah pedesaan lebih pendek.44 Tabel II.Sp : Dokter Spesialis Apt : Apoteker Catatan : Data tersebut diatas. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten/Kota Banjarbaru Banjar Batola Tanah Laut Tanah Bumbu Kotabaru Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Balangan Tabalong Banjarmasin (RSUD Pendidikan Ulin) Banjarmasin (RSUD Dr. akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di daerah perkotaan lebih baik (ditinjau dari aspek transpotasi). tidak termasuk RS Swasta (5 di Banjarmasin.2015 Page 67 . Kesenjangan tenaga kesehatan lebih jelas terlihat antara daerah perkotaan dan perdesaan baik dari segi jumlah maupun rasionya. dokter spesialis. 1 di Kab. dan bidan di Provinsi Kalimantan Selatan cenderung mengalami peningkatan. 1 di Kab. dan RS Bhayangkara (1 di Banjarmasin) RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .M. 2 di Kab. dan umumnya masyarakat pedesaan lebih memilih pengobatan alternatif/tradisional karena relatif lebih terjangkau (lebih murah). dokter gigi.H.BAB II dokter umum. Banjar. tenaga kesehatan lebih terkonsentrasi di daerah perkotaan. 1 di Banjarbaru.U : Dokter Umum Dr. Tabalong) dan RS TNI (2 di Banjarmasin.wat : Perawat Bdn : Bidan Dr.U 10 5 13 9 4 7 7 9 4 8 2 8 24 20 11 Dr. 2009 Keterangan : Dr. Kondisi ini lebih disebabkan karena disparitas antar wilayah (Kabupaten/Kota). perawat.Sp 7 13 3 4 1 5 4 4 7 4 8 57 18 1 P.wat 74 103 42 50 10 64 61 106 131 72 6 79 350 152 93 Bdn 38 36 22 37 4 10 7 15 14 25 10 14 33 28 1 Apt 2 4 3 2 1 3 2 2 2 3 5 3 8 3 3 Sumber : Dinas Kesehatan Prov Kalsel. kondisi tersebut dapat dilihat pada tabel II.G : Dokter Gigi P. Banjar). kemampuan kabupaten/kota dalam menyediakan fasilitas kesehatan. Ansyari Saleh ) RSUJiwa Sambang Lihum Dr. kemampuan (finansial) masyarakat di daerah perkotaan lebih baik dibandingkan dengan di daerah pedesaan.

672 100.230 483. tenaga medik masih sangat kekurangan.000 penduduk rata-rata sebesar 12.U DrG P. kemudian Tanah laut dan Hulu Sungai Selatan sebesar 17. penggunaan dan mutu obat.5. b. Sedangkan di daerah pedesaan dan terpencil/tertinggal.405 1. sehingga pelayanan tidak dapat dilaksanakan secara optimal. sebesar 22. Demikian juga halnya untuk tenaga Perawat dan Bidan. serta pengawasan obat dan makanan masih belum optimal.961 44 Sumber : Dinas Kesehatan Prov Kalsel dan BPS Jumlah tenaga medik (dokter umum) per Puskesmas berkisar antara 1 s/d 3 orang.967 271. masih sangat tergantung pada pengadaan/ketersedian di Dinas Kesehatan setempat. Hal ini kadang-kadang tidak sesuai dengan obat dan perbekalan kesehatan yang diperlukan oleh unit-unit pelayanan.07. dan terendah di Kabupaten Batola sebesar 7. Ketersedian obat dan perbekalan kesehatan pada unitunit pelayanan.200 251. tetapi keterjangkauan. Hal ini sebenarnya dapat dikatakan cukup memadai.2015 Page 68 . meningkatkan manjemen institusi pelayanan kesehatan berbasis edidemiologi. dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan petugas kesehatan (paramedik) terutama yang bertugas di daerah terpencil/tertinggal. Rasio tenaga medik per 100.569 204.189 210. Sedangkan rasio puskesmas per 100.422. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Banjarbaru Banjar Batola Tanah Laut Tanah Bumbu Kotabaru Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Balangan Tabalong Banjarmasin Jumlah Jumlah Pendduk 159.553 152.000 penduduk masih sebesar 6. Tenaga Medik dan Paramedik Di Kalimantan Selatan Tahun 2009 No. tenaga medik lebih banyak terkonsentrasi di daerah perkotaan.122 206.2 orang dokter.7.45 Jumlah Puskesmas. Namun demikian secara faktual dilapangan. Rasio terbesar berada di Kabupaten Balangan.725 3.BAB II Tabel II.819 Jumlah Puskes Dr.686 602.835 242. Ketersedian Obat dan Pengawasan Obat-Makanan Ketersediaan dan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan terus membaik.806 260.wat Bdn Apt mas 7 21 10 42 70 11 24 42 18 145 307 2 16 21 3 114 213 15 44 11 115 173 2 8 35 7 138 109 2 24 39 26 64 111 5 13 14 6 109 134 1 20 36 5 137 151 19 30 6 161 185 2 12 17 3 103 117 5 9 23 3 75 105 2 15 19 10 65 135 1 26 76 29 137 151 11 208 417 137 1. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .9. Tantangan kedepan adalah meningkatkan jumlah tenaga medik dan paramedik terampil yang bersedia ditempatkan didaerah pedesaan dan daerah terpencil/tertinggal.265 276.

baik di puskesmas maupun di rumah sakit. serta menghindari penyalahgunaan. yang ditandai dengan penyalahgunaan formalin. bahan berbahaya lain. jumlah tenaga farmasi terus meningkat. peningkatan upaya keterjangkauan harga obat. telah mampu meningkatkan akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan. psikotropika. karena alasan transpotasi dan biayanya relatif lebih mahal. terutama untuk masyarakat miskin di daerah pedesaan dan tertinggal/terpencil (Askeskin/Jamkesda). serta berbagai peralatan dan kemasan makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya. untuk melakukan percepatan pencapaian sasaran-sasaran MDGs seperti penurunan AKI. dan bantuan pemerintah pada institusi pelayanan kesehatan pusat di daerah. masih belum terjangkau oleh sebagian masyarakat.2015 Page 69 . c. peredaran narkotika. meningkatkan penegakan hukum bagi pengedar dan pengguna narkotika dan zat adiktif lainnya. masyarakat yang tidak mampu mendatangi unit-unit pelayanan. meningkatkan perencanaan kefarmasian berbasis epidemiologi. program ini RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dan masyarakat agar mampu melaksanakan upaya pemeliharaan kesehatan secara mandiri.BAB II Didaerah pedesaan terpencil/tertinggal. tetapi belum sepenuhnya dapat meningkatkan status kesehatan masyarakat miskin terutama untuk daerah pedesaan dan terpencil/tertinggal. Upaya ini ditujukan untuk memberdayakan individu. Dalam penggunaan obat. penyakit menular. Tantangan ke depan adalah meningkatkan ketersediaan dan pendistribusian obat dan perbekalan kesehatan sesuai keperluan unit-unit pelayanan kesehatan. meningkatkan pengawasan penyalahgunaan bahan berbahaya yang terdapat dalam makanan dan minuman. Keamanan makanan masih belum terjamin. Anggaran tersebut terutama digunakan untuk membiayai pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin (Askeskin/Jamkesda). Dari segi ketenagaan. perlu dilakukan peningkatan anggaran. telah dilakukan upaya penyuluhan dan penyebaran informasi agar obat digunakan secara tepat dan rasional. air bersih dan kesehatan lingkungan. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pembangunan Kesehatan. masih belum dapat teratasi. cemaran mikroba dalam produk makanan termasuk pada jajanan anak sekolah. Dari data yang terdapat pada tabel tersebut diatas. Jaminan pelayanan kesehatan. sebagian besar masih dilaksanakan oleh tenaga Asisten Apoteker. Keterbatasan kemampuan pemerintah daerah untuk pengadaan obat dan perbekalan kesehatan. dan zat adiktif lainya secara ilegal. keluarga. umumnya berobat kepada tenaga kesehatan yang berkeliling (dikenal dengan istilah “mantri keliling”) atau berobat secara tradisional. Jaminan Perlindungan Kesehatan Masyarakat Pembiayaan kesehatan sebagian besar masih berasal dari pemerintah pusat dan kontribusi pemerintah daerah. Dsisi lain. AKB. Kegiatan kefarmasian di Puskesmas. Tantangan ke depan adalah meningkatkan pembiayaan jaminan kesehatan. tidak semua Puskesmas memiliki tenaga Apoteker. Di samping itu. Akses pelayanan kesehatan. gizi. d.

organisasi masyarakat dan kelompok perduli lainnya untuk mengefektifkan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan. kelompok perempuan. darurat dan sebagainya). termasuk masyarakat miskin. Posyandu lebih dikembangkan dalam rangka percepatan desa sehat. wabah. Pembentukan PNPM dan Desa Siaga. Di beberapa wilayah masih terdapat masyarakat yang mengalami kendala jarak dan waktu untuk mencapai fasilitas pelayanan kesehatan.2015 Page 70 . belum dapat dilaksanakan secara optimal disebabkan karena. pada tahun 2006 Departemen Kesehatan mencanangkan upaya pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan melalui DESA SIAGA. Pos Imunisasi. 3) meningkatkan modal sosial masyarakat yang berkembang sesuai dengan potensi sosial dan budaya serta untuk melestarikan kearifan lokal. 2) meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana. dan Pos-pos lain yang pelayanannya masih terkotak-kotak. belum mampu menjangkau. terhadap fasilitas pelayanan kesehatan masih terbatas.BAB II lebih dikenal dengan istilah “PNPM” (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat). 5) meningkatkan kesehatan lingkungan desa. Akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan. asosiasi. pemerintah daerah. waktu pelaksanaan PNPM dan Desa Siaga sering bersamaan dengan waktu masyarakat melaksanakan pekerjaan pribadinya (ke sawah. dan Pos KB Desa. komunitas adat terpencil dan kelompok lainnya. Desa Siaga bertujuan untuk. 1) meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan. meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan PNPM dan Desa Siaga melalui pembinaan berkelanjutan. perguruan tinggi. masyarakat merasa mendapat tugas/beban tambahan dalam melaksanakan PNPM dan Desa Siaga. 4) meningkatkan masyarakat yang berPerilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). 6) meningkatkan kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan. Sedangkan fasilitas Puskesmas Keliling. PKMD diselenggarakan melalui Pos Penanggulangan Diare. lembaga swadaya masyarakat. Secara nasional. swasta. dan atau pekerjaan lainnya. Kemudian diintegrasikan dan diberi nama Pos Pelayanan Terpadu (“Posyandu”). PNPM bertujuan untuk. jumlah fasilitas pelayanan kesehatan terus meningkat namun aksesibilitas masyarakat terutama penduduk miskin di daerah terpencil/tertinggal. ke kebun. e. Walaupun akses masyarakat RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Upaya pemberdayaan masyararakat di bidang kesehatan sudah lama tumbuh didalam kehidupan masyarakat. 1) meningkatkan partisipasi seluruh masyarakat. Kondisi ini diperburuk dengan kondisi jaringan jalan dan listrik yang masih belum memadai. dulu dikenal dengan nama Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (“PKMD”). 2) meningkatkan sinergi masyarakat. meningkatkan evaluasi dan revitalisasi PNPM dan Desa Siaga yang sudah terbentuk. 3) meningkatkan keluarga sadar gizi. Akses masyarakat yang berdomisili dekat (sekitar) fasilitas kesehatan umumnya cukup baik. Tantangan ke depan adalah meningkatkan promosi kesehatan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat melalui kerjasama lintas sektor.

terutama di daerah terpencil/tertinggal. Hal ini terjadi karena keterbatasan kemampuan Kabupaten/Kota menyediakan berbagai fasilitas yang diperlukan.1. tanah longsor. disamping keterbatasan kemampuan masyarakatnya untuk membeli jasa pelayanan dokter spesialis. 2007). Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan. pemanfaatan. illegal fishing. dan illegal mining. 2. Jumlah tenaga medik dan paramedik. pemeliharaan. termasuk manusia dan perilakunya. Berdasarkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. pengendalian. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2015 Page 71 . kelangsungan perikehidupan. Balangan. Kalimantan Selatan berada pada urutan 26 dari 33 provinsi. rusaknya ekosistem dan berkurangnya keanekaragaman hayati. belum terdistribusi secara merata. Dampak ekologis dari rusaknya DAS dan Sub-DAS (daratan dan perairan) adalah terjadinya bencana banjir dan tanah longsor yang dirasakan hampir terjadi setiap tahun (musiman). Secara umum permasalahan sumberdaya alam dan lingkungan hidup di Kalimantan Selatan berupa (1) belum mantapnya penegakan hukum menyangkut illegal logging. kualitas pelayanannya masih perlu ditingkatkan. dan secara internal kelembagaan masih kurangnya data dan informasi yang terkait dengan PSDAL (Bappeda Kalsel. Namun masih banyak terkonsentrasi dai daerah perkotaan. dan penegakan hukum. Tantangan ke depan adalah meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat melalui penyediaan sarana dan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai untuk merespons dinamika karakteristik penduduk dan kondisi geografis. masih belum memadai. Length of Stay (lama tinggal) dokter spesialis di rumah sakit Kabupaten/Kota masih sangat pendek. (5) meningkatnya pencemaran udara. (2) pemanfaatan SDA-LH kurang memperhatikan kaidah konservasi sehingga menyebabkan pertambahan luasan lahan kritis.3. dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Mengingat pentingnya lingkungan hidup ini maka diperlukan suatu usaha Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Wilayah-wilayah di Kalsel yang memiliki daya dukung lingkungan rendah sehingga rawan bencana banjir antara lain. (4) sering terjadinya banjir. pengawasan. dan asap akibat kebakaran hutan dan lahan. (7) belum optimalnya pengembangan wilayah strategis dan cepat tumbuh. (3) kurangnya komitmen perusahaan terhadap pemulihan lingkungan hidup. Lingkungan hidup Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda. tanah dan air (6) Belum sinkronnya RTRWP dengan RTRWK.3. dan makhluk hidup.BAB II terhadap pelayanan kesehatan di puskesmas dan jaringannya sudah cukup bagus. keadaan. Jumlah dokter spesialis di beberapa rumah sakit Kabupaten/Kota. daya. dapat dikatakan sudah cukup memadai. Kabupaten Tabalong. terutama pelayanan kesehatan preventif dan promotif. yang mempengaruhi alam itu sendiri.

Penanaman modal Kegiatan penanaman modal di Kalimantan Selatan dilakukan dibawah koordiansi Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Provinsi Kalimantan Selatan. pada musim kemarau di Kalimanatan selatan sering terjadi kebakaran hutan dan lahan. Hulu Sungai Selatan. Tanah Bumbu dan Kotabaru. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Terdapat 656. kecuali urusan penyelenggaraan penanaman modal yang menjadi urusan Pemerintah.743 ha areal izin pertambangan berada di kawasan hutan.1. termasuk dalam pemberian berbagai fasilitas dan insentif bagi investor. Sekretariat Daerah. laju reboisasi yang dilakukan sangat tidak seimbang. Badan ini tidak bekerja sendiri namun melakukan kerja sama secara intensif dengan instansi-instansi terkait terutama Bappeda. serta Kabupaten Tanah Laut. musibah banjir dan tanah longsor tidak bisa terelakkan lagi. Kondisi ini merupakan produksi gas rumah kaca yang berdampak kepada pemanasan global.2.043 ha lahan kritis yang tersebar di beberapa kabupaten tahun 2009. akibat kerusakan parah pada kawasan hutan sepanjang DAS dan pegunungan Meratus yang berfungsi sebagai catchment area. Sedangkan kondisi sungai-sungai besar ini. Selain masalah banjir dan longsor.2015 Page 72 . Wilayah-wilayah rawan bencana ini. dibandingkan dengan data tahun 2003 maka peningkatan laju lahan kritis mencapai 40. Terdapat 761. Salah satu acuan pokok yang telah digariskan adalah ketentuan penyelengaraan urusan penanaman modal dalam UU No. sehingga ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi terutama di kawasan Pegunungan Meratus. dan efisiensi pelaksanaan kegiatan penanaman modal. Sementara.2. (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin kepastian dan keamanan berusaha bagi pelaksanaan penanaman modal.25/2007 yang terdapat dalam Pasal 30 ayat 1-9 berikut ini.3.3. Pelayanan Penunjang Urusan Plihan 2.BAB II Hulu Sungai Utara. (2) Pemerintah daerah menyelenggarakan urusan penanaman modal yang menjadi kewenangannya. Tapin dan Banjar di bagian utara. dan SKPD nya. Kegiatan penanaman modal yang diarahkan secara integratif dalam sistem administrasi NKRI mengakibatkan BKPMD dan jajaran Pemerintah Daerah selaku pelaksana harus selalu mengacu pada peraturan dari pusat. merupakan wilayah yang dilintasi sungai-sungai besar pada sub DAS Barito.991 ha per tahun. Sementara reklamasi dan rehabilitasi areal bekas pertambangan tersebut belum jelas keberhasilannya. 2. (3) Penyelenggaraan urusan pemerintahan di bidang penanaman modal yang merupakan urusan wajib pemerintah daerah didasarkan pada kriteria eksternalitas. akuntabilitas. (4) Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya lintas provinsi menjadi urusan Pemerintah. mengalami pendangkalan.

Koperasi.67 persen. Target yang telah ditetapkan untuk munculnya jumlah wirausaha baru ternyata belum terpenuhi sebagaimana terlihat pada tabel II. yang berasal dari pemerintah negara lain. yang menjadi kewenangan Pemerintah adalah : a. penanaman modal pada bidang industri yang merupakan prioritas tinggi pada skala nasional. b.000 unit.46. penanaman modal asing dan penanam modal yang menggunakan modal asing. penanaman modal yang terkait pada pelaksanaan strategi pertahanan dan keamanan nasional.2.846 atau 67. Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) Dalam upaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas pemerintah berusaha menerapkan kebijakan yang mengarah pada pemberdayaan ekonomi rakyat dan sumberdaya lokal. c. Pemerintah menyelenggarakannya sendiri.27 persen. yang didasarkan perjanjian yang dibuat oleh Pemerintah dan pemerintah negara lain. Sasaran jumlah wirausahawan UMKM baru yang tumbuh di Kalimantan Selatan selama periode 2006 – 2009 adalah sebanyak 89. (7) Dalam urusan pemerintahan di bidang penanaman modal.96 persen dari total target penumbuhan Wirausahabaru sejumlah 89. penanaman modal yang terkait pada fungsi pemersatu dan penghubung antarwilayah atau ruang lingkupnya lintas provinsi. Diantara kegiatan yang mendukung kebijakan tersebut adalah dengan mondorong tumbuhnya jumlah pengusaha.380 terealisasi sebesar 15. 2.BAB II (5) Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya lintas kabupaten/kota menjadi urusan pemerintah provinsi.000 unit.2. Realisasi pencapaian target yang paling rendah terjadi pada tahun 2009 adalah sebesar 44. atau menugasi pemerintah kabupaten/kota. dan f.3. penanaman modal terkait dengan sumber daya alam yang tidak terbarukan dengan tingkat risiko kerusakan lingkungan yang tinggi. (6) Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya berada dalam satu kabupaten/kota menjadi urusan pemerintah kabupaten/kota. e. Sampai dengan akhir Desember 2009 realisasi jumlah wirausahawan baru adalah 53.77 persen.362 atau 59.29 persen. (9) Ketentuan mengenai pembagian urusan pemerintahan di bidang penanaman modal diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . (8) Dalam urusan pemerintahan di bidang penanaman modal ang menjadi kewenangan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (7).2015 Page 73 . melimpahkannya kepada gubernur selaku wakil Pemerintah. Pada tahun 2008 terjadi penurunan realisasi capaian menajdi 66. Pada tahun 2007 merupakan prosentase tertinggi pencapaian realisasi target sasaran tahunan wirausahawan baru yang ditargetkan sebanyak 23. d. bidang penanaman modal lain yang menjadi urusan Pemerintah menurut undangundang. namun masih lebih tinggi dari capaian tahun 2006 yakni 60.

094 3.350 1.2009) 5.762 616 387 4.482 3.77 66. terjadi pertambahan sebanyak 49 unit atau 6.S.829 500 2.180 6. Berdasarkan data yang ada menunjukan peningkatan jumlah Koperasi dari 2.699 624 1.180 2.467 5.566 868 105 568 1.362 59. Kalsel tahun 2010 Perkembangan Koperasi di Kalimantan Selatan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dari segi kuantitas.288 1.007 563 152 824 990 1.200 622 1.104 I.T H.334 6.55 persen.2009 REALISASI NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 KAB/ KOTA Tanah Laut Kotabaru Banjar Batola Tapin H.785 6. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini. namun dari segi kualitas masih perlu ditingkatkan.29 67.589 6.498 Koperasi Aktif atau 47.S. Namun Koperasi tidak aktif juga bertambah dari 671 unit tahun 2008 menjadi 715 unit tahun 2009. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .551 4. demikian juga dengan Volume Usaha meningkat pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 63. Perkembangan Modal sendiri terjadi peningkatan pada tahun 2009 dari tahun 2008 sebesar 8.53 persen.626 60.424 1.334 5.732 4.150 1.67 21.890 6.33 persen. jadi ada kenaikan sebanyak 76 unit atau 3.475 1.972 23.137 unit pada tahun 2008 menjadi 2.BAB II Tabel II.319 149 1.247 15. hal ini tercermin dari pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun 2009 yang hanya mencapai 709 Koperasi dari 1.S H.097 21.782 3.846 14.S.748 228 400 1.000 2006 2007 2008 2009 2 0 1 0 TOTAL 1.96 53.2015 Page 74 .807 4.945 53.851 2.U Tabalong Banjarmasin Banjarbaru Balangan Tnh Bumbu JUMLAH Target TARGET (2006 .338 5.57 persen pada tahun 2009.022 1.362 Sumber : Dinas Koperasi & UKM Prov.214 130 398 1.816 1.688 1.213 unit tahun 2009.987 89.765 7.081 420 1.475 891 934 193 1.000 Prosentase 89.27 44.109 1.75 persen pada tahun 2008 dan 47.611 2.10 persen.643 9.378 1.282 3.353 753 1. Apabila dilihat dari prosentase besarnya antara Modal sendiri dan Modal luar pada Koperasi maka Modal sendiri sebesar 34.331 5.227 5.55 persen.054 6.500 4.331 1.46 Target dan Realisasi Jumlah UMKM Wirausaha Baru Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2006 .169 5.066 13.688 1.418 176 211 1.646 17.380 22.

dan meningkatkan sosialisasi pentingnya adminsitrasi kependudukan dan catatan sipil kepada masyarakat.498 2. Konstruksi sosial yang ada menyebabkan ketimpangan peran bahkan mengarah pada tindak kekerasan terhadap perempuan.31) Karyawan Org 3. 9.80 NO 1. Usaha Rp. 5. 2.80) Modal Sendiri Rp. 4) kesadaran masyarakat tentang pentingnya sistem kependudukan dan catatan sipil. penataan sistem informasi data kependudukan.3. 2.615. maka perlu adanya dukungan dari berbagai pihak.000 669.10 SHU Rp.000 191.000 63. penataan sistem pelayanan.466 1. 4. 7. diantaranya adalah menata sisten koneksi NIP berbasi SIAK.213 3. Aktif Unit 1.000 (3. 3.4.47 Perkembangan Koperasi di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2008 dan 2009 TAHUN TAHUN KENAIKAN/ URAIAN SATUAN 2008 2009 PENURUNAN (%) Total Koperasi Unit 2.3. dan beberapa tugas dan fungsi yang lain. motivasi dan kompetensi petugas. Kependudukan dan Catatan Sipil Kependudukan dan catatan sipil merupakan salah satu urusan wajib Pemerintah Propvinsi dan Kabupaten/Kota sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang.096 (0.2015 Page 75 . 2) kinerja.42 Manager Org 464 444 (4.137 2. Tdk Aktif Unit 671 715 6. mengoptimalkan sistem SIAK.2.000 318.249 1.548.000 8.3.2. Upaya pemberdayaan perempuan sebenarnya berkaitan dengan peningkatan mutu sumberdaya manusia anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan serta menghindari terjadi kekerasan dalam rumah tangga dan justru mendorong peningkatan ekonomi rumah tangga.593.556. Provinsi dan Kabupaten/Kota bertanggungjawab dalam menyelenggarakan administrasi kependudukan. Tantangan ke depan adalah tersedianya fasiltas dan anggaran yang memadai.040. 6.000 0.55 Kop.96) Vol.735.644 298. Perlindungan Anak dan Lansia Budaya dan ideologi patriarki selama ini relatif menghambat peran dan keberdayaan perempuan. termasuk penyedian fasilitas infrastruktur dan sistem pendanaan yang memadai. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .000 34. adanya ketentuan dan peraturan yang mengikat. Permasalah yang terjadi dalam melaksanakan tugas dan fungsi tersebut. 3) belum optimalnya sistem SIAK.000 176.22 RAT Kop 660 709 7. meningkatkan motivasi dan kompetensi petugas. Pemberdayaan Perempuan.408. Beberapa tugas dan fungsi institusi kependudukan dan catatan sipil.000 35.636. melakukan pembinaan kepada masyarakat.52 Modal Luar Rp. 8. 2.18 Anggota Org/Kop 294.121 3.BAB II Tabel II.55 Kop.000 331. diantaranya adalah 1) keterbatasan pemerintah dalam menyediakan berbagai fasilitas dan anggaran.000 410.

Salah satu indikator penanganan terhadap perlindungan anak adalah tertampungnya pada panti asuhan baik dimiliki oleh swasta/ormas.2015 Page 76 . pelaksanaan dan pemantauan terhadap kebijakan pemerintah itu sendiri dan perkembangan sosial yang terjadi dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan serta kepentingan kehidupan keluarga. HSS (433 anak). Persoalan ini ditangani oleh pemerintah dan swasta.Kalsel Dalam Angka 2009. HST (475 anak). pemerintah maupun swasta/ormas yang dibantu pendanaan dan pembinaan oleh pemerintah Kalimantan Selatan. Hal ini disebabkan sebagian meninggal dan ditambah sirkulasi masuk dan keluar panti karena ditangani keluarga dan pendataan yang diakomodasi panti sendiri dalam rangka perlindungan terhadap lansia.9 Grafik Perkembangan Jumlah Anak Asuh Kalimantan Selatan 2006-2008 Sumber: Prov. Banjarbaru (475 anak) dan Banjarmasin (616 anak). HSU (510 anak). Penyuplai terbesar jumlah lansia adalah RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Selain itu peningkatan pengetahuan dalam pemahaman kesehatan.BAB II Upaya pemberdayaan perempuan diperlukan adanya perencanaan. Besarnya jumlah anak asuh ini berkorelasi dengan bertambahnya jumlah panti yang dimiliki swasta/ormas dan pemerintah. Setidaknya tujuan utama adalah keberlangsungan pendidikan dan pertumbuhan sumberdaya manusia dalam rumah tangga maupun peran perempuan dalam ranah publik. Pelaksanaan kerjasama dengan mitra pegiat gender misalnya termasuk kampanye dan sosialisasi soal kekerasaan rumah tangga adalah bagian dari upaya pemberdayaan perempuan. penyusunan. BPS Sedangkan perkembangan jumlah lansia terjadi penurunan khususnya tahun 2006.ke tahun. pendidikan dan ekonomi rumah tangga dengan bekerjasama berbagai pihak sebagai upaya pemberdayaan perempuan. Ada empat kabupaten/kota yang relatif besar menangani anak terlantar dibandingkan kabupaten/kota yang lain diantaranya Kab. Selain itu. yang tidak kalah penting adalah persoalan anak terlantar dan anak yang tidak mendapatkan perlindungan dari orangtua maupun keluarga yang mengalami peningkatan dari tahun. Gambar II.

pemakaian kontrasepsi yang bersifat jangka panjang. sebagian besar peserta KB menggunakan kontrasepsi hormonal dan bersifat jangka pendek. Pemakaian kontrasepsi Angka pemakaian kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate/CPR) masih rendah.3. meningkatkan pemakaian kontrasepsi jangka panjang. 2. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera a. seperti sterilisasi (tubektomi dan vasektomi). dan meningkatkan kesertaan pria dalam ber-KB. Tantangan yang dihadapi ke depan adalah upaya meningkatkan kesertaan ber-KB di daerah dengan CPR rendah. Disamping itu kegiatan perencanaan. dan bervariasi antar Kabupaten/Kota. penyusunan dan pelaksanaan kegiatan yang mendorong keberdayaan perempuan.10 Grafik Perkembangan Jumlah Lansia Kalimantan Selatan 2005-2008 Sumber: Prov. dengan penggunaan terbanyak pada suntikan. Selain itu. Kesenjangan CPR antar Kabupaten/Kota mengindikasikan kurang meratanya jangkauan program KB ke seluruh daerah.2.BAB II Kabupaten Banjar mencapai 71 orang dan Kota Banjarmasin mencapai 139 orang. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .5.2015 Page 77 . Kesertaan pria dalam pemakaian kontrasepsi juga masih sulit ditingkatkan yang disebabkan oleh masih sangat terbatasnya pilihan metode kontrasepsi pria (hanya kondom dan vasektomi) dan masih sangat kuatnya budaya patriarki di masyarakat yang menganggap bahwa KB adalah urusan perempuan. dan implan cenderung menurun. agar tercermin kelayakan pengasuhan dan pelayanan. sementara Kabupaten Balangan dan Tanah Bumbu tidak ada melakukan aktifitas perlindungan terhadap penduduk lansia. intensifikasi advokasi dan KIE serta peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB.Kalsel Dalam Angka 2009. IUD. dan antar status sosial. Gambar II. Sementara itu. BPS Tantangan kedepan adalah perlunya pemetaan lebih intensif terhadap penanganan anak terlantar dan penduduk lansia untuk dilindungi dan penataan/pembinaan secara intensif penanganan terhadap anak asuk maupun lansia oleh pengelola panti.

Kelembagaan KB di beberapa Kabupaten/Kota diwujudkan dalam bentuk badan. kematian. data registrasi belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena masih rendahnya cakupan daerah dan kejadian yang dilaporkan. serta masih terdapat kebijakan pembangunan lainnya yang kurang mendukung kebijakan pengendalian kuantitas penduduk. dan mobilitas belum konsisten. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah masih belum optimal.2015 Page 78 . dengan menyediakan akses terhadap sumber permodalan. dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam melaporkan perubahan atas peristiwa penting yang dialaminya. Untuk mencapai kelompok-kelompok tersebut. diperlukan upaya inovatif yang. Sampai saat ini. mengalami penurunan dari jumlah sebelum desentralisasi. dan meningkatkan jumlah dan kompetensi tenaga pengelola serta pelaksana program KB di daerah. e. Tantangan ke depan adalah menyerasikan kebijakan kependudukan agar konsisten dan berkesinambungan. Khusus untuk masyarakat miskin. Jumlah pengendali lapangan atau pengawas PLKB (PPLKB) dan petugas lapangan KB (PLKB) atau penyuluh KB (PKB). serta meningkatkan cakupan dan kualitas data kependudukan dari berbagai sumber. c. dan berpendidikan rendah. Kebijakan pengendalian penduduk Kebijakan kependudukan yang terkait dengan kuantitas. dan atau dinas. Tantangan ke depan adalah meningkatkan advokasi kepada pemerintah daerah tentang pentingnya program KB. Ketersediaan dan kualitas data dan informasi kependudukan Sumber data kependudukan yang mutakhir seharusnya berasal dari registrasi penduduk yang meliputi data kelahiran. yang merupakan salah satu kunci penentu keberhasilan program KB. Pembinaan dan kemandirian peserta KB Peningkatan jumlah peserta KB baru menemui hambatan pada saat CPR telah mencapai di atas 50%. tertinggal. upaya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . antara lain. Kapasitas kelembagaan Program KB Bentuk kelembagaan KB bervariasi antar daerah. Tantangan ke depan adalah meningkatkan peran kelompok-kelompok kegiatan yang ada di tingkat masyarakat sebagai media dalam meningkatkan kesertaan ber-KB. Mengingat penanganan masalah kependudukan melibatkan berbagai sektor dan pemangku kepentingan. sinergi para pemangku kepentingan tersebut harus ditingkatkan untuk mewujudkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing. dapat dilakukan melalui pembinaan kelompok-kelompok kegiatan di tingkat akar rumput. Akses dan Kualitas Pelayanan Kesejahteraan Sosial Ketersediaan akses dan kualitas pelayanan kesejahteraan sosial perlu dibedakan berdasarkan kelompok PMKS. serta ada yang tidak memiliki institusi untuk melaksanakan program KB. dan perpindahan. f.BAB II b. d. Hal ini disebabkan oleh PUS yang belum ber-KB pada umumnya adalah kelompok-kelompok sulit yang tersebar di daerah-daerah terpencil. kualitas. Tantangan ke depan adalah meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya melaporkan kejadian vital. kelompok miskin. kurangnya jumlah dan rendahnya kualitas tenaga pencatat. kantor. Hal ini terjadi karena kurangnya informasi tentang kewajiban masyarakat untuk melapor dan terbatasnya jangkauan masyarakat ke tempat pelayanan.

072 KK .152 20. Kab.21 % penduduk Kalimantan Selatan adalah miskin.257 kk (8. kegiatan bantuan sosial bagi PMKS yang selama ini dilakukan masih tumpang tindih.065 KK (25. upaya pemberdayaan sosial yang seharusnya meletakkan berbagai upaya untuk membangun kapasitas individu dan kelembagaan PMKS masih belum berjalan secara optimal. Kota Banjarbaru relatif mengalami proses perbaikan tahapan kesejahteraan penduduk hingga ke Tahapan Keluarga Sejahtera III.321 Keluarga Sejahtera I 300.578 20.162 249.397 Sumber: Prov.072 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .735 Keluarga Sejahtera III Plus 14. Tanah bumbu jumlah Pra Sejahtera masih mencapai angka di atas 10. masalah kelembagaan masih mendominasi permasalahan pelayanan kesejahteraan sosial.32 %) dan Keluarga Sejahtera mencapai 249.BAB II mempercepat pencapaian target penurunan angka kematian ibu dan anak perlu didukung dengan intervensi yang langsung diberikan kepada mereka.065 392.866 Jumlah 884.80%) dari total 965. BPS. pada tingkat pelaksanaan. demikian juga halnya dengan akses pelayanan pendidikan.12 % keluarga miskin.236 373.Kalsel Dalam Angka 2009.443 210. Selanjutnya. maka terdapat 1.000-an KK.487 965.108 352. Dari data tahapan keluarga sejahtera. Di samping cakupan yang rendah. Banjar dan Kab.48 Jumlah Tahapan Keluarga Sejahtera Di Kalimantan Selatan Tahun 2004-2008.288 jiwa atau hampir 38.382 Keluarga Sejahtera II 337.317. Berdasarkan data kependudukan yang dilaporkan BPS Kalsel dalam Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka 2009 jumlah Keluarga Pra Sejahtera mencapai 80.072 80.390 17.835 2008 80.673 895. jika dikumulatif dua tahapan ini berarti ada sekitar 34. Pra Sejahtera 55. Tahun Tahapan Keluarga Sejahtera 2004/2005 2006 Kel.177 250. Masalah ini dapat dihindari jika penajaman pada tingkat kebijakan dan penetapan sasaran program dilakukan dengan baik. Tabel II. Alih fungsi panti sosial. yang sebelumnya dibangun oleh Pemerintah.685 222. di beberapa daerah digunakan untuk kegiatan selain pelayanan kesejahteraan sosial. Jika dihitung secara absolut dengan asumsi tiap keluarga terdiri atas 4 jiwa.845 929. Keputusan bagi penyelesaian masalah yang dihadapi oleh PMKS masih lebih banyak dilakukan oleh aparat pemerintah sehingga bantuan yang disediakan pemerintah seringkali tidak tepat sasaran atau tidak tepat guna. Ini merupakan angka fantastik. Arus migrasi penduduk miskin desa yang mencari pekerjaan ke tiga daerah ini relatif besar dimana diikuti jumlah pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. pada umumnya akan menerima tambahan bantuan melalui program lainnya. Sementara itu.094 Keluarga Sejahtera III 137. Penerima bantuan sosial dari sebuah program.257 249.941 195. Sedangkan kota Banjarmasin. berupa insentif untuk mengakses pelayanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan terdekat. No 1 2 3 4 5 2007 75.2015 Page 79 .

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . urban poverty masih besar menjadi pemasok jumlah tahapan pra sejahtera di Kalimantan Selatan. Sementara Keluarga Sejahtera I dan II justru terjadi pergerakan relatif tinggi dari 373.3.BAB II Jika melihat tren tahapan keluarga sejahtera dari tahun 2007 dan tahun 2008. Program-program penguatan pemberdayaan masyarakat dan perekonomian pedesaan di bidang pertanian.000-an.51 Tabel II. terjadi peningkatan Keluarga Pra Sejahtera mencapai 5000-an KK. guna mengurangi arus orang miskin desa menuju kota. ini diduga beberapa kabupaten mensupport peningkatan ini. Tantangan ke depan adalah meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesejahteraan sosial dengan didukung oleh peningkatan pengelolaan program.d. khususnya kabupaten /daerah yang menjadi tujuan pencari kerja.2. 2. peningkatan kapasitas kelembagaan dan SDM serta tata kelola kepemerintahan.49 s. hingga tahun 2007 perkembangan media cetak dan elektronik semakin berkembang pesat. pembangunan ekonomi antara pembangunan perdesaan dan perkotaan perlu ada keseimbangan. Namun demikian. Artinya distribusi kesejahteraan mengalami perbaikan pada tahapan-tahapan berikutnya.49 Nama Penerbitan Pers di Propinsi Kalimantan Selatan 2007 Nama media cetak Kategori penerbitan Tempat kedudukan Banjarmasin Post SKH Banjarmasin Kalimantan Post SKH Banjarmasin Metro Banjar SKH Banjarmasin Barito Post SKH Banjarmasin Radar Banjamasin SKH Banjarmasin Mata Benua SKH Banjarmasin Serambi Ummah TM Banjarmasin Bidik Banua TM Banjarmasin Gawi Manuntung SKM Banjarmasin Dekrit SKM Banjarmasin Suara kalimantan SKM Banjarmasin Indonesia Merdeka SKM Banjarmasin Spirit Kalsel TM Banjarmasin Borneo Post SKM Banjarmasin Media Masyarakat SKM Banjarmasin Pusaka Daerah SKM Banjarmasin Media Warta SKM Banjarmasin No. Tabel II.6 Komunikasi dan informatika Keberadaan media massa baik cetak maupun elektronik di Kalimantan Selatan ternyata mampu memberikan kontribusi positif bagi akselerasi pembangunan daerah.443 (2007) menjadi 392. Data media cetak dan elektronik di Kalimantan Selatan seperti Tabel II.2015 Page 80 . Dengan fungsinya yang mengemban tugas di bidang komunikasi dan informasi sekaligus sebagai media hiburan masyarakat.685 (2008) atau mencapai 20. perikanan dan perkebunan menjadi prioritas utama antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

8 MHz FM 94.6 KHz FM 104.0 MHz FM 90.9 MHz FM 98.5 KHz FM 105.7 MHz FM 101.9 MHz FM 96.50 Nama Radio Swasta dan RSPD di Kalimantan Selatan 2007 No.3 MHz AM 88.1 MHz AM 102.5 MHz FM 105.3 MHz Tempat kedudukan Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .1 MHz AM 720 KHz AM 738 KHz FM 101.BAB II No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama radio Nusantara Antik Swara Maida Artanusa Siaga Indah Marista Suara Banjar Lazuardi Chandra Rasisonia Iskinada Mustika Telerama Kharismanada Rasisonia Dhirgantara Permai Nirwana Citra Bahana Swara Pelangi Alina ( SUN FM) Gema Suara Akbar Swara Citra Posindo Madinatussalam Abdi Persada Buana Ekaswaratama Radio SKY FM Gelombang FM 102.40 MHz FM 88.2015 Page 81 .1 MHz FM 89. 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Nama media cetak Banjarbaru Post Gema Bestari Gerbang Suara Saijaan Bumi Kahuripan Saraba Kawa Post Murakata Aktual Benua Kita Aspirasi Rakyat Warta Post Mercu Buana X-Kasus Tabloid Selidah Post Waja Tablomagazine Bisnis Indonesia Bangkit Prosfek Orbit Post Tabloid Suling Kategori penerbitan SKM TM TM TM TM TM TM SKM SKM SKM SKM SKM TM SKM Mjl TM Mjl SKM SKM Bulanan Tempat kedudukan Banjarbaru Rantau Kandangan Kotabaru Amuntai Tanjung Barabai Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Tanjung Banjarmasin Marabahan Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Sumber: PWI Cabang Kalimantan Selatan Tabel II.4 MHz FM 103.9 MHz FM 99.2 MHz FM 96.

BAB II
No. 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Nama radio Bajuin Eka Swaratala Swara Mandiri (Jorong FM) Swara Ruhui Rahayu Bahana Nirmala Selidah satu swara Swara Alkaromah Pratama Swara Cakrawala Martapura Borneo FM Purnama Nada Gema Amandit Dirgahayu Swara Barabai Gema Kuripan Swaracitra Suryanada Gema Meratus Swara Kotabaru Tanjungpuri Perkasa Gematara Batakan Swara Tapin Raya Swara Agung Lestari Gelombang FM 93,3 MHz FM 99,17 MHz AM 774 KHz AM 990 KHz FM 98,8 MHz AM 1584 KHz FM 107,01 MHz FM 103,09 MHz FM 98,20 MHz AM 918 KHz AM 540 KHz AM 612 KHz AM 810 KHz FM 98 MHz FM 96,9 MHz FM 103,6 MHz FM 106,15 MHz FM 103,1 MHz AM 576 KHz FM 103,3 MHz Tempat kedudukan Banjarmasin Banjarmasin Rantau Martapura Marabahan (Batola) Martapura Martapura Banjarbaru Kandangan Kandangan Barabai Barabai Amuntai Banjarbaru Batulicin Tanah Bumbu Kotabaru Tanjung Pelaihari Rantau Amuntai

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Tabel II.51 Nama Televisi Nasional dan Lokal di Kalimantan Selatan TELEVISI KETERANGAN RCTI Jaringan Nasional SCTV sda Metro TV sda Indosiar sda Global TV sda TPI sda ANTV sda Trans TV sda Trans 7 sda TV One sda TVRI Pusat sda TVRI Kalimantan Selatan Lokal Banjar TV Lokal Duta TV Lokal Borneo TV (TV B) Lokal Ran TV – Kab. Tapin Lokal AMTV – Hulu Sungai Utara Lokal Tabalong TV – Tanjung Lokal Indovision Jaringan berlangganan

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 82

BAB II 2.3.2.7. Perpustakaan Jumlah perpustakaan di Kalimanatan Selatan sudah cukup banyak. Ada 13 perpustakaan umum di setiap kabupaten/kota serta sebuah perpustakaan provinsi yang didukung oleh perpustakaan di sekolah-sekolah, pesantren, perguruan tinggi, mesjid, taman bacaan di bawah binaan Dinas Pendidikan, serta perpustakaan terapung yang dikelola oleh Korem 101/Ant dan Ditpolair. Termasuk di dalamnya tiga buah perpustakaan percontohan, yakni sebuah di Kabupaten HSU, dan yang sedang dibangun sebuah di Kecamatan Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan sebuah lagi di Kecamatan Batu Mandi di Kabupaten Balangan. Untuk menjangkau layanan baca bagi masyarakat yang mengalami kendala dalam mengakses keberadaan perpustakaan, terutama di daerah, telah tersedia 6 (enam) buah armada perpustakaan keliling. Salah satu sarana perpustakaan yakni Perpustakaan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) berdiri sejak tahun 1966 memiliki koleksi sebagian besar berupa publikasi dan informasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan teknologi pertanian lahan rawa. Jumlah koleksi perpustakaan saat ini Buku (Teksbook) 3620 judul, Majalah Ilmiah (Jurnal) 815 judul, Monograf (Prosiding, Risalah Seminar, Laporan, dan sejenisnya) 40 judul, Publikasi Teknis (Leaflet, Brosur, dan sejenisnya) 40 judul, Majalah Umum (Trubus dan sejenisnya) 10 judul, dan Surat Kabar 3 judul. Pelayanan menggunakan sistem pelayanan terbuka. Untuk menghadapi tantangan global, maka jumlah judul buku dan bahan koleksi perlu terus ditingkatkan guna meningkatkan gairah minat baca di kalangan masyarakat.

2.3.2.8. Pemuda dan Olahraga Selama ini pemerintah Provinsi lewat SKPD yang berwenang memfasilitasi kegiatan kepemudaan dan olahraga. Baik pembinaan lewat kegiatan seminar, sosialisasi pembangunan, pelibatan kegiatan pemerintah, pertukaran pelajar dan pemuda, pelatihan maupun kegiatan yang bersifat kompetesi prestasi. Sekalipun berbagai institusi memiliki kegiatan-kegiatan yang melibatkan dan memerankan pemuda baik bersifat intelektual-akademis, keterampilan, sosial dan olahraga, namun peran pemerintah untuk melepaskan para pemuda dari jeratan narkoba adalah pekerjaan yang relatif berat.

2.3.2.9. Pelayanan Penunjang Bidang Hukum dan Politik a. Pelayanan Bidang Hukum Dalam konteks pelayanan di bidang hukum, peran pemerintah provinsi sangat terbatas. Hal ini terkait dengan kewenangan yang amat terbatas dalam bidang ini sebagaimana digambarkan pada sub bab sebelumnya.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 83

BAB II Pelayanan dalam bidang hukum yang dilakukan pemerintah provinsi adalah pembuatan berbagai produk hukum daerah, seperti perda, peraturan gubernur dan keputusan gubernur dalam rangka menjamin adanya kepastian hukum bagi masyarakat Kalimantan Selatan dalam berbagai dimensi kehidupan sesuai dengan kewenangan pemerintah provinsi. Jumlah produk hukum daerah yang telah dihasilkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dapat dilihat dalam tabel II.52
Tabel II.52 Jumlah Produk Hukum Yang Dihasilkan Pemda Provinsi Di Kalimantan Selatan 2006 - 2009 No. 1. 2. Jenis Produk Hukum Perumusan Perda Perumusan Produk Hukum Peraturan Gubernur Keputusan Gubernur
Sumber : Biro Hukum Pemprov Kalsel

2006 21

2007 20

2008 24

2009 29

61 606

75 678

74 612

100 711

Selain itu, pelayanan lain di bidang ini dilakukan oleh pemerintah provinsi dalam bentuk penyuluhan hukum pada masyarakat. Penyuluhan hukum yang dilakukan terutama diarahkan kepada peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat atas produk hukum daerah, namun juga dilakukan hal serupa untuk produk-produk hukum nasional, baik berupa UU maupun peraturan perundangundangan lainnya. b. Pelayanan Bidang Politik Pelayanan pemerintah provinsi Kalimantan Selatan dalam bidang politik secara khusus ditangani oleh Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol Linmas). Secara garis besar, Dalam bidang Politik, Badan ini berfungsi untuk melakukan hal-hal sebaga berikut ; 1. Melakukan pendataan dan pembinaan terhadap organisasi sosial kemasyarakatan; 2. Melakukan pembinaan terhadap partai politik di Kalimantan Selatan; 3. Melakukan berbagai program peningkatan kesadaran berbangsa, bernegara, termasuk pendidikan politik kepada masyarakat Kalimantan Selatan Dalam konteks melakukan pendataan terhadap organisasi sosial kemasyarakatan, Badan ini berwenang untuk menentukan legal atau tidaknya suatu organisasi sosial kemasyarakatan, semacam LSM dan Perkumpulan Sosial lainnya melalui penerbitan SKOT. Organisasi yang diakui keberadaan oleh Badan ini saja yang dapat melakukan berbagai kerjasama atau menerima bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Selain itu, penerbitan SKOT juga berfungsi sebagai data dasar untuk melakukan pembinaan lebih lanjut terhadap organisasi sosial kemasyarakatan yang ada sebagai agen sosial di masyarakat. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 84

00 km dan 1056.300) (Perorangan) .15 Kelas Jalan I II IIIA IIIB IIIC Jumlah 340.10 Perhubungan Berdasarkan SK Menteri PU Nomor 369/KPTS/M/2005 panjang jalan Nasional di Kalimantan Selatan adalah 876.23 102.38 km jalan provinsi menurut SK Mendagri Nomor 55 Tahun 2000 dengan kelas jalan tertinggi adalah IIIA seperti terlihat pada Tabel II.489. Koordinasi dengan partai politik menjadi sangat penting guna menciptakan kondisi politik daerah yang baik dan harmonis. 2. seperti pendidikan bela negara.485 Unit = 139 Unit = 43 Unit Dalam upaya melaksanaan pembinaan terhadap Angkutan Jalan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah menetapkan Perda Nomor 3 Tahun 2003 tentang RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .Angkutan Pedesaan Mikrolet/Pick Up .Tidak berjadwal (L.BAB II Partai politik juga tidak luput dilakukan pembinaan oleh Badan ini.Berjadwal (Bus) ( 17 Perusahaan ) . pendidikan politik dan berbagai kegiatan lainnya.2015 Page 85 .Rental Car ( 9 Perusahaan ) = 2. Kegiatan ini selain dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman warga negara terhadap politik dan hal-hal lain terkait kesadaran berbangsa dan bernegara.43 954.2.53 Tabel II. termasuk dalam fungsi ini adalah melakukan koordinasi berkelanjutan dengan partai-partai politik yang ada dan dinyatakan sah keberadaannya oleh Kementrian Hukum dan HAM.15 Sumber : Buku Statistik dan Informasi Perhubungan Kalimantan Selatan Tahun 2007 Ditinjau terhadap penyediaan angkutan umum yang ada dapat dijabarkan sebagai berikut: Angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) .Kalsel – Kalteng (21 Perusahaan) = 95 Unit Bus .Taksi .Kalsel – Kaltim (7 Perusahaan) = 75 Unit Bus Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) .57 1. Di ranah masyarakat.66 102. fungsi-fungsi pelayanan politik dilakukan dengan menggelar berbagai agenda kegiatan.57 535.3.594 Unit = 63 Unit = 1. Pembinaan lain adalah dengan melakukan pendidikan politik terhadap kader dan fungsionaris partai politik.53 Kelas Jalan Nasional Provinsi 340.

500 Kg JBB di atas 7.000 Rp. 2. Pengaturan penggunaan jalan adalah sebagai berikut: Setiap angkutan hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan dilarang melewati jalan umum Setiap hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan harus diangkut melalui jalan khusus yang telah ditetapkan oleh Gubernur.500 Rp.500 Rp.000 Rp. 100.000 JBB di bawah 2000 Kg JBB 2000 Kg s/d 7. 1.000 Rp. 150/hari Perda Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pengendalian Muatan Mobil Barang di Jalan : Setiap mobil barang yang mengangkut barang wajib ditimbang pada alat penimbangan yang dipasang secara tetap.000 Mobil Penumpang dengan kapasitas s/d 8 seat Mobil Bus dengan kapasitas 9 s/d 15 seat Mobil Bus dengan kapasitas 16 s/d 25 seat Mobil Bus dengan kapasitas lebih 26 seat Rp. Hasil tambang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah batubara dan bijih besi Hasil perusahaan perkebunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah tandan buah segar (TBS) kelapa sawit RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 1. 75.000 Rp. 150. 25. Besarnya tarif retribusi adalah sebagai berikut: Rp. 50. 100.000 Perda Nomor 5 Tahun 2003 tentang Retribusi Izin Trayek dan Izin Operasi Angkutan Orang Lintas Kabupaten/Kota. terkecuali yang sudah diatur dengan izin Angkutan Barang Khusus Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang pengaturan penggunaan jalan umum dan jalan khusus untuk angkutan hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan. 100.500 Kg Penggunaan Gudang dan atau lapangan penumpukan : Jasa penggunaan gudang M3/Ton Jasa penggunaan lapangan penumpukan M /Ton 3 Rp. 100. Besarnya tarif retribusi penimbangan kendaraan bermotor adalah sebagai berikut: Rp. 300/hari Rp.000 Mobil Barang Pengangkut alat berat Mobil Barang Pengangkut Peti Kemas Mobil Barang Pengangkut bahan berbahaya Mobil Barang Pengangkut barang dgn menggunakan Tangki Mobil Barang secara insedentil mengangkut barang umum yg tdk dpt dipotong-potong Rp. 175.000 Rp.BAB II Retribusi Izin Angkutan Khusus Mobil Barang Besarnya tarif retribusi adalah sebagai berikut: Rp.000 Perda Nomor 6 Tahun 2003 tentang Retribusi Penimbangan Kendaraan Bermotor.2015 Page 86 .

4.99% pertahun.588.69%) berasal dari pengeluran konsumsi rumah tangga.46%.44 62.924.02 61.54 porsi belanja rumah tangga untuk Makanan masih lebih tinggi dari Non Makanan. Ini berarti kemampunan ekonomi masyarakat secara pasti menjadi semakin kuat.219.4.BAB II Perhubungan yang menggunakan prasarana selain darat dijabarkan lebih pada sub bahasan 2.328.57 38. Kemampuan Ekonomi 2.4.1.79 34.2.2.1.443.98 34.4.68% pertahun dan ternyata pertumbuhan belanja non makanan jauh lebih tinggi yakni mencapai rata-rata 8. Selain sebagai sektor yang dominan sektor ini juga menyerap tenaga kerja paling banyak. Pertumbuhan nilai konsumsi rumah tangga dalam periode 2005 -2009 rata-rata 5.05 trilyun (44. Selama periode 2005 -2009 pertumbuhan belanja makanan adalah sebesar rata-rata 4.202.92 trilyun pada tahun 2009.21%.39 11. 2.1.13.31 Pengeluaran konsumsi rumah tangga terdiri dari komponen pengeluaran untuk makanan dan non makanan. Tabel II. Aspek Daya Saing Daerah 2. Hal ini menunjukkan kemampuan masyarakat dalam mencukupi kebutuhannya secara umum cenderung meningkat.98 38.328. 28.977.56 37.1 Pengeluaran konsumsi RT Pengeluaran konsumsi rumah tangga merupakan salah satu bagian penggunaan atau pengeluaran dalam ekonomi yang membentuk PDRB. Porsi belanja untuk Makanan selama periode 2005 – 2009 rata-rata mencapai 62.03 61.1.19 10.74 12.21 100 100 100 100 100 100 9.43 61. Sementara itu belanja non makanan hanya mencapai rata-rata 37.48%.39 12. sebesar Rp. Nilai Tukar Petani Sektor pertanian tetap merupakan sektor terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Rejional Bruto di Provinsi Kalimantan Selatan walaupun perannya cenderung menurun. lebih tinggi dari pertumbuhan PDRB yang sebesar rata-rata 5.755.97 38. Meskipun porsinya masih kecil namun tingkat pertumbuhan pengeluaran untuk non makanan sangat pesat.02 65. 2. Berdasarkan Tabel II. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .4.79% pertahun.54 Persentase Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Menurut Jenisnya Di Kalimantan Selatan 2005-2009 Tahun Makanan Non Makanan Total (dalam Rp) 2005 2006 2007 2008 2009 Rata-rata 65.212. Peranan Konsumsi sangat penting dalam membentuk PDRB Kalsel karena dari nilai PDRB Rp.2015 Page 87 .

56).55 memperlihatkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) selama tahun 20052008 selalu berada dibawah angka 100.28.2015 Page 88 . Berdasarkan komponen penggunaannya angka total PDRB terbentuk dari penjumlahan pengeluaran Konsumsi (C).29 T.8 101.2 94.4*) 174.7 78. Tabel II. dan ekspor (X).7 621. Tinjauan Ekonomi Kal.7 95.56 Rata Rata NTP Menurut Provinsi di Kalimantan Tahun 2006 – 2008 Tahun Rata-rata 2006 Rata-rata 2007 Rata-rata 2008 Kalbar 182.1 persen ditahun 2005 menjadi 97.5*) 103.BAB II Tabel II. pada tahun 2009 sebesar Rp.55 NTP 82. dikurangi impor (M). Nasib petani di Provinsi Kalimatan Selatan kurang lebih sama dengan rekannya di provinsi Kalimantan Tengah dilihat dari besaran Nilai Tukar Petani yang selalu berada dibawah angka 100 (Tabel II. belanja pemerintah (G).74 104.2 94.24 Indeks Dibayar (Ib) 481. Walaupun NTP selama ini masih dibawah 100 terdapat kecenderungan peningkatan NTP selama periode 2005-2008 dengan besaran 82.4 Sumber : Indikator Ekonomi.Sel.7 98.69 119.1 90.76 Sumber : BP Kal.23.5 persen di tahun 2008.7 95.74 Kaltim 82.8 516. Bekerja sebagai petani bukanlah hal yang menguntungkan namun kesempatan untuk bekerja diluar lapangan pertanian nampaknya belum terbuka lebar mengingat adanya gap antara pendidikan dengan tuntutan dunia kerja.67 125.3 77.1 588.7 571.Sel 2009 Tabel II. 2005 – 2009 Tahun/Bulan Rata-rata 2005 Rata-rata 2006 Rata-rata 2007 Rata-rata 2008 Rata-rata 2009 Indeks Diterima (It) 394.4 112. Angka dibawah 100 mempunyai makna bahwa petani selalu membayar lebih banyak daripada apa yang mereka terima. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .7 Kalsel 90. investasi (I).55 Indeks Nilai Tukar Petani Kalimantan Selatan.5 Kalteng 98.92 T meningkat dari tahun 2005 yang sebesar Rp.7 117. Badan Pusat Statistik *) Tahun dasar 2002 Produk total daerah dihitung berdasarkan nilai PDRB. Sebaliknya petani di Provinsi Kalmantan Barat dan Kalimantan Timur mempunyai nasib yang relatif lebih baik.

37 2.45 16.46 6.798.912.06% 1.749.361. Hal ini terlihat pada Tabel II. Pentingnya perdagangan bagi perekonomian Kalsel juga ditunjukkan dari derajat keterbukaan ekonomi.46 44.029.600.423.90%.262.89 165.00 19.595.00 3.043.108.001.900.181.660.15 2.72% 19.471.67 128.32 29.72 13. Faktor luar atau disebut keterbukaan ekonomi ((X+M)/2) menyumbang 44.503.306.67 24.380.07% 22.17 16.57 Total PDRB dan Rata-rata Share Berdasarkan Komponen Penggunaan di Kalimatan Selatan 2005 – 2009 (Rp.juta) Rata-rata (%) Komponen 2005 2009 (share 2005-2009) Konsumsi © 10.37 26.648. I.331.80% Share 3.G) menyumbag 62.40 310.31 100.48 179. BPS.88 114.58 Nilai (US 000 $) dan Share Ekspor Regional Kalimantan Tahun 2006 – 2008 Provinsi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Total Kalimantan Indonesia 2006 Total 620.00 No 1 2 3 4 5 6 7 Sumber : Tinjauan Perekonomian Kalimantan Selatan.369.225.939.56 komponen paling dominan dalam membentuk PDRB adalah Ekspor dengan rata-rata share pada periode 2005 – 2009 sebesar 63.732. BPS.91 PDRB (Y) 23.662.794.10%.158.07%.00 20.0 2007 Total 728.29 3.91%.347. jika ekspor dihitung sebagai kesatuan didalam Neraca Perdagangan (X – M) maka peranan neraca perdagangan hanya 37.81% 13.83 18.090.599. Pembentuk PDRB terbesar selanjutnya adalah dari konsumsi.358.81% 84.87 19.90 Luar ((X+M)/2) 10.54% 82. Hal ini menunjukkan ketergantungan pada ekonomi eksternal.16% 83. 2005 – 2009 (diolah) Perbandingan besaran share masing-masing komponen pembentuk PDRB menunjukkan komponen yang relatif lebih dominan diantara satu dan lainnya dalam membentuk produksi.455.0 2008 Total 898.720.39 Ekspor (X) 15.268.58 Tabel II.450.839.046.061.50 28.900.06% 17.799.03 62.005.221.700.100.19 8. 2006 s/d 2009 (diolah) RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . yakni sebesar 44.081.292.44 Belanja pemerintah (G) 2.94% Sumber : Tinjauan Perekonomian Kalimantan Selatan.132.257.10 12.766.544. Daya saing ekonomi Kalsel diantara propinsi lain di Kalimantan menduduki peringkat kedua jika diihat dari besaran ekspor. Akan tetapi.27% Share 3.689.46%.736. cukup tinggi.06% 11.36 Kadar Keterbukaan Eko Dalam ((C+I+G) 12.90 44.020. baik internasional maupun nasional.07 Investasi (I) 62.0 Share 3.82 2.744.051.01 13. Faktor dari dalam (C.20% 0.92% 12.918.43 63.46 Impor (M) 5.59% 0. Berdasarkan tabel II.796.170.598.09 100.2015 Page 89 .BAB II Tabel II.334.

00 Sumber : Tinjauan Perekonomian Kalimantan Selatan.41 72. Peranan Kalsel terlihat fluktuatif. BPS. 2004 s/d 2009 (diolah) Dari Tabel II.59 Rata-rata Pertumbuhan dan Share Nilai Ekspor Berdasarkan Jenis Komoditi di Kalimantan Selatan 2004 – 2008 Karet Produk Produk Produk Produk No Indikator Rotan Alam Kayu Perikanan Tambang Lainnya 1 Rata-rata Pertumbuhan (%) 122. Komoditas ekspor paling dominan adalah produk Tambang (rata-rata 72. tapi tidak melebihi 14% selama periode 2006 – 2008 ini.2008 90.0 80.62%) dengan andalan Batu Bara. Struktur komoditas pembentuk daya saing ekspor sangat penting dalam menentukan tingkat kemajuan pembangunan.59 terlihat pertumbuhan rata-rata nilai ekspor Kalsel sangat tinggi. kemudian setelah kayu terbatas digantikan oleh Batu Bara.11 Gambar II.0 50.58%.95 14.78 164.59 Total 29.08 (3. Akan tetapi dari komposisi yang ada ternyata daya saing ekspor Kalsel masih sangat ditopang oleh produk-produk primer.58 100.0 20.62 9.11 Share Nilai Ekspor Menurut Jenis Komoditi di Kalimantan Selatan 2003 .0 70.0 10.41 0. Tabel II. Perkembangan komposisi ekspor ini telah lama tidak berubah yakni didominasi produk primer.41 2 Rata-rata Share (%) 2.94% dari nasional. adalah Karet Alam dan Produk Lainnya. Jika komoditas/produk utama ekspor adalah hasil olahan yang bernilai tambah tinggi maka tingkat kemajuan perekonomian juga tinggi. Secara total.0 30.35) 8. Share ini menunjukkan kecendrungan meningkat jika dibanding tahuntahun sebelumnya.0 40.63 2. rata-rata pertumbuhan ekspor selama periode 2004 – 2008 adalah 29. Sebelumnya yang mendominasi adalah produk kayu. Perkembagan share nilai komoditas ekspor selama periode 2003 – 2008 terlihat pada Gambar II. seperti pada 2008 menguasai 84.07%.0 60. share ekspor yang berasal dari wilayah Kalimantan meliputi 22. Komoditas yang tumbuh secara fantastis.2015 Share (%) Page 90 .BAB II Pada 2008. Dari distribusi antar propinsi terlihat sangat timpang dimana Kaltim sangat dominan.0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Tahun Karet Alam Produk Kayu Rotan Produk Perikann Produk Tambang Produk Lainnya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .07 33.02 0. Komoditas lainnya jauh tertinggal dengan besaran masing-masing tak lebih dari 10%. diatas 100%.

dan 8. Jumlah Jalan Nasional yang ada sebanyak 74 ruas jalan dengan kondisi baik 79. peningkatan aksesibilitas antar wilayah pengembangan dan mendukung pengembangan kawasan-kawasan strategis dan sentra produksi. seiring dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dan pembangunan Kalimantan Selatan secara signifikan berdampak peningkatan lalu lintas jalan.964. kondisi sedang 16.1 Fasilitas Transportasi Transportasi di Kalimantan Selatan dilayani oleh transportasi darat.BAB II 2. dan sungai dengan gambaran sebagai berikut. Kupang –Manggalo – Batas Kaltim serta Banjarmasin – Martapura – Rantau – Kandangan – Pantai Hambawang – Barabai – Tanjung – Mabu’un – Batu babi – Batas Kaltim. Lintas jalan yang menghubungkan ke Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilalui dalam dua arah yaitu Banjarmasin – Simpang Serapat – Anjir Pasar (Marabahan) – Batas Kalteng serta Banjarmasin – Martapura – Rantau – Kandangan – Pantai Hambawang – Amuntai – Kelua – Pasar Panas (Batas kalteng). kondisi sedang 3. 2.4.08 %.2.2015 Page 91 .58 Km. Jumlah jalan provinsi yang ada sebanyak 47 ruas jalan sepanjang 832. dengan kondisi baik 74.37 % dan kondisi rusak 23.55 %.58 km jalan provinsi (SK Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 188. laut. sementara untuk kendaraan angkutan penumpang umum : RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Selain terletak di ibukota provinsi.03 % berdasarkan data tahun 2010. a. jalan ini menjadi lintas poros selatan Kalimantan yang menghubungkan ke Provinsi Kalimantan Tengah dan ke Kalimantan Timur.77 Km jalan kabupaten/kota . Transportasi Darat Di Provinsi Kalimantan Selatan terdapat 866.5 – 16 m.44/097/KUM/2008). udara.55 % dan kondisi rusak 3. Sedangkan Lintas jalan yang menghubungkan ke Provinsi Kalimantan Timur juga dapat dilalui dalam dua arah yaitu Banjarmasin – Martapura – Pelaihari – Asam-asam – Kintap – Batulicin – Sei. Sesuai UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada pasal 24 (1) bahwa penyelenggara jalan wajib segera dan patut untuk memperbaiki jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalulintas. 832. Sehubungan dengan pemerataan pembangunan maka perlu perhatian pengembangan wilayah ke arah Barat Laut Kalimantan Selatan terutama memperlancar hubungan darat untuk Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Marabahan dan Amuntai.2.89 % dengan lebar bervariasi antara 4. Transportasi darat memiliki peran penting untuk meningkatkan aksesibilitas daerah pedalaman.086 km jalan nasional (SK Menteri PU Nomor 631/KPTS/M/2009).4. Infrastruktur.

962 orang. sebagaimana pada Tabel II. dan konsep sirkulasi bangunan terminal sistem satu lantai B. Apron baru 336x152 m² (transporter concept). (Persero) Angkasa Pura I dengan Fasilitas bandara yaitu : landasan 2. Terminal regional tipe A ini berada di Kabupaten Banjar km.5 Ha dikelola oleh PT.197 orang dan arus penumpang yang datang 1.042. taxiway (A=224.042.874 buah : 148 buah : 67 rute/trayek : 27 rute/trayek : 17 rute : 20 buah Penyediaan terminal tipe A yang melayani angkutan umum dari angkutan lintas Provinsi (AKAP) sampai Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) diharapkan pembangunannya selesai 100 % tahun 2015 dan segera berfungsi untuk menunjang kegiatan transportasi darat.2015 Page 92 . B=96. Bandara Syamsudin Noor sejak tahun 2004 telah menjadi Bandara Embarkasi Haji dengan menggunakan pesawat B-767 seri 300 ER. barang dan perkembangan pesawat terjadi kenaikan yang cukup signifikan pertahunnya. Jumlah pesawat yang mendarat dan berangkat di Bandara Syamsudin Noor pada tahun 2009 sebesar 19.5 m².077 buah pesawat perhari.8x23 m². Pada tahun 2009 arus penumpang berangkat sebesar 1.8x23 m². D=228.BAB II Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Jaringan Trayek AKDP Total Jaringan Trayek AKDP beroperasi Jaringan Trayek AKAP Prasarana terminal : 2. Apron lama 326x90m² (linier concept). Bandara Syamsudin Noor terletak di Kecamatan Landasan Ulin Kotamadya Banjarbaru dengan luas 37. Transportasi Udara Arus lalu lintas udara di Kalimantan Selatan menggunakan Bandara Syamsudin Noor yang merupakan tipe bandara Pusat Penyebaran Sekunder (PPS) dan Bandara Stagen yang merupakan tipe bandara Pusat Penyebaran Tersier(PPT). Perkembangan pergerakan orang. C=228.5x27. 17 dengan luas lahan 10 Ha.60 berikut : RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .500 x 45 m² (single runway concept). b.5x23 m²).

866 15. 13 berikut: Tabel II.329 Tahun 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 JUMLAH Sumber: Dinas Perhubungan Prov.030 827.651 7.715 7.584.827 12.479.235 2.425 5.655.395 868.373 5.852 50.997.628 5.322.670 11. Kalsel 2010.714 15.669 8.080.429 7.440.348 395.404.077 7.024.708 634.275 774.463.197 6.937 53.141 7.986.611.205 9.419 53.442 1.BAB II Tabel II.259.181.346 8.588 9.041 3.261.619 1.934.163 6.62 Jumlah Barang Bongkar dan Muat Di Bandara Syamsudin Noor 2003-209 BARANG (Kg) BONGKAR MUAT 9.746 726. Data perkembangan arus penumpang dan barang melalui Bandara Syamsudin Noor dapat dilihat pada Tabel II.207.792 3.407.572 15.621 15.648.216.846 TAHUN 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 JUMLAH Sumber : Dinas Perhubungan Prov.111 22.547 7.962 1.869 887.907 748.042.549 681.12 s.539 19. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .415 4.338.427 106.942 9.073.239.487 11.940 4.083.475 380.268 781.622 4.303.401.698.075 1.338.865 7.036.538 9.473 5.569 7.608 7.d.601 JUMLAH 13.240 6. Ditinjau terhadap arus pergerakan penumpang dan barang yang melalui Bandara Syamsudin Noor dengan rata-rata pertumbuhannya mencapai 16.148 18.623 2.d.229 5.61 Jumlah Penumpang Datang.60 Jumlah Arus Pesawat Datang dan Berangkat di Bandara Syamsudin Noor 2003-2009 PESAWAT JUMLAH DATANG BERANGKAT 9. Tabel II.575.508.537 43.194 4.410.302 7.380 6.397 652.62 dan gambar II.61 s.138 13.2015 Page 93 .757.856 5. Berangkat dan Transit Di Bandara Syamsudin Noor 2003-2009 PENUMPANG TOTAL DATANG BERANGKAT TRANSIT 1.716 690 1.651 15.464 10. Kalsel 2010.731 7.103 10. Kalsel 2010.290 3.112. TAHUN 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 Jumlah Tabel II.160 66.6%.185 608.712 Sumber: Dinas Perhubungan Prov.774 1.

Ditjen perhubungan Udara. Gambar II.13 Grafik Jumlah Barang di Bandara Syamsudin Noor Tahun 2003-2009 Bandara Syamsir Alam (Stagen) termasuk dalam PKW Kotabaru yang dikelola oleh UPT.112 Jumlah Penumpang Datang. Bandara ini berfungsi sebagai Bandara pengumpan dengan frekuensi penerbangan tujuh kali dalam seminggu untuk rute Banjarmasin – Kotabaru – Banjamasin. berangkat dan Transit Di Bandara Syamsudin Noor 2003-2009 Kondisi frekuensi penerbangan yang semakin padat terutama pada peak hour pagi memerlukan perhatian perbaikan headway take off dengan penyediaan fasilitas landas hubung (taxiway) karena saat ini keluar-masuknya pesawat dari landasan menuju apron dan sebaliknya masih menggunakan runway sebagai aksesnya.BAB II Gambar II. dapat didarati oleh pesawat Foker-50. saat ini mempunyai panjang Landasan 1.600 x 30 m². dengan load faktor penumpang rata-rata RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2015 Page 94 .

77% dan tujuh kali dalam seminggu untuk rute Kotabaru – Balikpapan – Kotabaru dengan load faktor penumpang rata-rata 0.686 8.061 12.280 24.067 Secara grafis perkembangan arus penumpang di Bandara Stagen dapat dilihat pada Gambar II.63 Data Perkembangan arus Penumpang Di Bandara Syamsir Alam .341 4 2006 17.063 20 21.240 orang dan penumpang yang berangkat sebesar 17.964 2 2008 20.015 5 2005 14.BAB II 0.047 30. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .769 7 2003 3.955 94.871 1.776 5 35.466 14.2009 PENUMPANG NO TAHUN TOTAL DATANG BERANGKAT TRANSIT 1 2009 18.534 50 7.742 41.477 JUMLAH 99. Berangkat dan Transit Di Bandara Syamsir Alam . komunikasi dan sisi darat serta perlu peningkatan SDM untuk menjadikan bandara dengan pelayanan dan perkembangan yang lebih baik.122 196.384 6 2004 13.990 1. Penumpang yang datang pada tahun 2009 sebesar 18.2015 Page 95 .375 20.StagenTahun 2003.724 orang terjadi penurunan dibandingkan tahun 2008 sebagaimana Tabel II. fasilitas komunikasi dan navigasi penerbangan serta fasilitas PK-PPK dan fasilitas Security. navigasi.240 17.893 3.Stagen telah mempunyai fasilitas pendukung seperti terminal penumpang.14 JumlahPenumpang Datang.StagenTahun 2003.14 : Gambar II.117 3 2007 12.62%.2009 Bandara Syamsir Alam . Peningkatkan fasilitas sarana dan prasarana Bandara Syamsir Alam sangat diperlukan baik fasilitas dari sisi udara. 63 berikut : Tabel II.724 35.234 17.

373 m2 dan lapangan penumpukan peti kemas 14.2015 Page 96 .603 2005 11.- Pengembangan Pelabuhan Trisakti di Banjarmasin lebih difokuskan pada kegiatan arus barang dan penumpang dari pulau jawa atau daerah lain serta untuk menampung arus kegiatan dari wilayah belakang Provinsi Kalimantan Selatan yang mencakup wilayah timur dan tenggara dari Provinsi Kalimantan Tengah serta bagian selatan dari Kalimantan Timur. (Persero) Pelabuhan Indonesia III Cabang Banjarmasin Semakin meningkatnya pertumbuhan pelayaran memerlukan perhatian untuk meningkatkan pelayanan dengan mempertimbangkan pelabuhan laut yang lebih RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .950 m3.670.606. Hal tersebut tidak terlepas dari Alur Ambang Barito dapat dilayani 24 jam.902 37.T.964.939 2004 10.384 43. Perkembangan Pelabuhan Trisakti terus berbenah untuk meningkatkan pelayanan dengan membangun dermaga peti kemas dan mempermodern fasilitas peralatan. lapangan penumpukan luas 36. Sejak 1 Januari 2009 diberlakukan pungutan kapal-kapal yang mengangkut batubara.BAB II c.82 ton/m3 Rp. Transportasi Laut Pelabuhan Trisakti merupakan Pelabuhan Utama di Provinsi Kalimantan Selatan yang berperan dan berfungsi sebagai salah satu pintu gerbang perekonomian dan distribusi berbagai komoditi eksport maupun guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri di berbagai daerah yang memiliki panjang dermaga 510 m.802 8. Realisasi pungutan chonell fee terhadap kapal yang melalui Alur Ambang Barito tahun 2009 sebagai berikut : Jumlah kapal Muatan Kontribusi : : : 5. Alur barito panjang 15.504.959.13 dengan tingkat pertumbuhan rata-rata tahun terakhir adalah sebesar 9%.642 30.15 Perkembangan Arus Kapal Luar dan Dalam Negeri di Sungai Barito 48. Gambar II.483. 8.017 35. Peningkatan arus kapal luar dan dalam negeri terlihat pada Gambar II.536 2006 12.000 m (15 km) lebar 100 m dan kedalaman 6 LWS saat ini kondisi dapat di layani selama 24 jam.548.582 2007 Sumber : P.085. hasil hutan dan hasil tambang lainnya.131.648 unit 52.564.369 2003 9.

jumlah Kapal yang melayani dan beroperasi sebanyak 4 buah dan penumpang yang diangkut rata-rata 40. Lintas penyeberangan di Kalimantan Selatan terdapat beberapa lintas penyeberangan yaitu : Lintas Batulicin .224 124. Palangkaraya dan Kapuas.557 Pergerakan orang dan barang yang menggunakan transportasi sungai dan danau di Kalimantan Selatan masih diminati. Muara Teweh.082 104.594 2009 7.5%. Motor Tempel. Untuk lintas Batulicin – Tanjung Serdang yang menghubungkan daratan Kalimantan Selatan dengan Kabupaten Kotabaru di Pulau Laut.218 2008 7.2015 Page 97 . dan KM. Transportasi Sungai dan Penyeberangan Transportasi sungai kebanyakan terdapat di kota Banjarmasin terutama yang menggunakan sungai Barito dan Sungai Martapura.504 buah kendaraan pertahun. Lintas Alalak .Saka Kajang. LCT (Land Craft Tank).856 124. Transportasi sungai ini terutama untuk melayani penumpang dan distribusi bahan pokok serta hasil bumi. Tongkang. Lintas tersebut mempunyai peranan sangat penting dalam menunjang kelancaran arus penumpang dan barang angkutan penyeberangan di wilayah Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Tanah Bumbu.Tamban.Jelapat.Tg Serdang Batulicin Tj Serdang Tahun Trip Pnp R-2 R-4 Trip Pnp R-2 7. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Lintas Banjar Raya . Angkutan sungai dan penyeberangan di Kalimantan Selatan disamping menghubungkan daerah-daerah yang belum dapat diakses melalui darat (transportasi darat) juga menghubungkan dengan provinsi Kalimantan Tengah terutama Kota Buntok.488 59.852 44.752 57.727 orang pertahun dan sebanyak 171.745 100.849 51.64 : Tabel II.BAB II refresentatif karena tingkat pelayanan Pelabuhan Trisakti sangat dipengaruhi oleh kondisi alur Sungai Barito. Lintas Mantuil . d. Speed Boat.64 Perkembangan Permintaan Terhadap Angkutan Penyeberangan Tahun 2008-2009 Batulicin . Hal ini mengingat biaya masih relatif murah. Dari data Dinas Perhubungan Kota 2007 terjadi peningkatan kepadatan lalu lintas angkutan sungai dan danau untuk angkutan penumpang sebesar 13. Dilihat dari jenis angkutannya yang beroperasi terbagi atas Motor Getek / Klotok.791 58.595 31. Fery. Motor Bota/Kapal Motor. penyeberangan lintas Stagen – Tarjun.595 35.730 7.Tanjung Serdang. Data perkembangan permintaan terhadap angkutan penyeberangan Batulicin – Tanjung Serdang dapat dilihat pada Tabel II. Kapal Tunda.885 Tahun 2008 2009 R-4 55.

24%) serta untuk investasi (27. aktivitas perbankan Kalimantan Selatan dudukung oleh 60 Kantor Cabang.Bank Umum Syariah 2 2 .51% (y-o-y).86% (y-o-y).id/data-pokok/perbankan Ditinjau kinerjanya pada tahun 2009. 55 kantor kas. Kredit perbankan tersebut terbesar disalurkan melalui bank umum pemerintah sebesar 8. 3 bank umum syariah. 4 unit usaha syariah serta didukung oleh 22 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) konvensional dan 1 BPR Syariah.2. jumlah jaringan bank di Kalimantan Selatan mencapai 19 bank umum konvensional.Kantor Pusat 1 1 .2 Fasiltas Bank dan Non-Bank Posisi dana simpanan perbankan di Kalimantan Selatan baik melalui Giro. perbankan di Kalimantan Selatan mencatat pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebagai imbas krisis finansial global. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Dana masyarakat yang dihimpun perbankan Kalsel pada akhir tahun 2009 mencapai Rp18. dan 5. Sampai akhir tahun 2009.31%). Deposito maupun Tabungan pada akhir tahun 2008 mencapai 15. 17% (y-o-y).2015 Page 98 .kalselprov. Pertumbuhan asset ini terutama ditopang oleh pertumbuhan kredit dan DPK.4. kemudian konsumsi (30. 164 Kantor Cabang Pembantu.Bank Umum Konvensional 19 20 . Namun demikian beberapa indikator masih mencatat pertumbuhan yang positif.33 triliun atau tumbuh 13% (y-o-y). 410 ATM serta 30 kantor BPR.8 milyar lebih.Unit Usaha Syariah 4 5 Jumlah Jaringan Kantor . Untuk kelancaran transaksi ekonomi. Dana kredit di Kalimantan Selatan tersebut jika dirinci menurut penggunaannya pada akhir tahun 2008 sebagian besar digunakan untuk modal kerja (42.347 milyar. Volume usaha perbankan (asset) Kalsel tumbuh 13.45%).Kantor Cabang Pembantu 56 146 .3% dari akhir tahun 2008 sehingga mencapai Rp21.65 Jaringan Kantor Bank Kalimantan Selatan Bank Umum 2007 2008 Jumlah Bank 21 22 . seluruh jenis rekening dalam bentuk giro.234 milyar pada bulan Desember 2008. tabungan. sisanya melalui bank swasta nasional dan bank asing dan campuran.Kantor Kas 42 44 .Kantor Cabang 50 54 . Sektor yang banyak menyerap kredit perbankan khususnya KUK adalah sektor lainnya dan sektor perdagangan.go.24 triliun.BAB II 2.ATM 201 245 BPR Jumlah Bank Jumlah Kantor 2009 22 19 3 4 1 60 164 55 440 24 24 24 24 23 30 24 24 24 24 23 30 Sumber : http://www. Sedangkan penyaluran melalui bank perkreditan rakyat hanya sebesar 174. Tabel II.915 milyar lebih dengan jumlah kredit pada akhir tahun sebesar 13. maupun deposito menunjukkan pertumbuhan yang positif yakni masing-masing sebesar 10.

Pelayanan air minum di daerah perdesaan sebagian besar belum dilayani oleh sistem perpipaan dan masih memanfaatkan sumber-sumber air perairan umum. pada akhir Desember 2009 jumlah kredit yang disalurkan mencapai Rp13. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .4 Fasilitas Listrik Sebagian besar kebutuhan tenaga listrik di Kalimantan Selatan dipenuhi oleh Perusahaan Umum Listrik Negara.4. seperti air sungai.76%. Sementara itu. Cakupan pelayanan air minum di daerah perdesaan masih sangat kecil yaitu baru dapat melayani sekitar 43% dari penduduk perdesaan. 2. Untuk mencapai target Millenium Development Goal (MDG) terhadap Penyediaan Air minum dan Sanitasi yaitu mengurangi separuh dari jumlah masyarakat yang belum memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi yang berkelanjutan pada tahun 2015 maka penyebaran pelayanan terhadap air bersih/minum ini perlu ditingkatkan. Pelayanan air minum di perkotaan sebagaian besar dilayani oleh Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM).4. Selain itu keterbatasan pasokan daya khususnya untuk memikul beban puncak serta kondisi alam yang tidak menentu mengakibatkan sering terjadi pemadaman listrik. namun kondisi PDAM rata-rata di kabupaten/Kota cakupan pelayanan masih belum memadai yaitu rata-rata masih sekitar 47.95 triliun atau tumbuh 16% (y-o-y).50 %.3 Fasilitas Air Bersih Pelayanan penyediaan air minum tahun 2009 di Kalimantan Selatan secara umum masih belum optimal dan belum dapat menjangkau keseluruh wilayah permukiman baik di perkotaan maupun di wilayah perdesaan.2. Ditinjau terhadap kapasitas peningkatan daya listrik dari tahun 2005-2010 terus ditingkatkan rata-rata 17. danau dan berasal dari sumur dangkal. 2. fungsi intermediasi perbankan yang dicerminkan oleh rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) pada tahun 2009 menunjukkan peningkatan yaitu dari 74% di tahun 2008 menjadi 75.2.66.BAB II Sementara itu dari sisi penyaluran kredit. akan tetapi peningkatan ini tidak seimbang dengan tingkat kebutuhan listrik bagi masyarakat pengguna seperti terlihat pada Tabel II. Dengan perkembangan tersebut.75 %. pertumbuhan kredit ini terutama ditopang oleh kredit konsumsi dan kredit investasi yang tumbuh cukup tinggi yakni sebesar 24.81% (y-o-y) dan 30.7%.2015 Page 99 . Kondisi pembangkit listrik di Kalimantan saat ini relatif sudah tua.14% lebih rendah dari rasio NPL pada akhir tahun 2008 yang mencapai 4. berkat kerja keras semua pihak yang berwenang. resiko kredit di tahun 2009 terjaga pada level yang aman yakni dengan rasio NPL sebesar 2.42% (y-o-y).

00 239.963 92. PLN (Persero) Wilayah KalSelTeng.92 2008 250.50 371. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .60 2006 250. sehingga perlu untuk penambahan pembangkit listrik. 2008 1.096 1.00 262.00 303.16 Kapasitas Pemakaian Daya Listrik Ditinjau terhadap sebaran pelayanan fasilitas listrik perlu ditingkatkan walaupun rasio desa terlayani semakin membaik setiap tahunnya seperti terlihat pada Tabel II.958 91. dalam rangka mengatasi krisis listrik didaerah ini.816 147 1.928 1. 2009 TAHUN Data Kelistrikan 2006 2007 Desa Berlistrik 1.51 Sumber : PT.08 91 No. 2010 Gambar II.67 : Tabel II.31 Sumber : PT.67 Rasio Desa Berlistrik Di Kalsel 2006 s. A.00 246.66 Daya Mampu Listrik dan Beban Puncak di Kalsel Tahun 2005-2010 Kegiatan Daya Mampu Listrik (MW) Beban Puncak (MW) 2005 250.BAB II Tabel II.00 310.880 Ratio (%) Desa Berlistrik 87.55 2007 250. PLN (Persero) Wilayah KalSelTeng.73 2009 1.d.783 Desa Belum Berlistrik 168 97 Jumlah 2. 2010 Mengingat Kebutuhan listrik terus meningkat sementara kemampuan PLN terbatas. B.97 2010 457. C.2015 Page 100 .51 2009 318.796 162 1.

kantor pos pembantu dan kantor pos.69. 68 unit pos bergerak.72. 3 tabloid bulanan dan 2 majalah. Banjarmasin. 696 titik layanan. 9 tabloid mingguan.617.4.d. Data dari Kantor Pos dan Giro Daerah IX Banjarmasin mencatat dari lima unit kantor pelayanan pos pada tahun 2008 yaitu di Amuntai. 22 unit layanan pos.975. Kantor pelayanan pos tersebut dibedakan atas kantor pos besar/umum. dan 1105 fasilitas pos lainnya.000. kantor pos tambahan.59.87.000. Rp.45 164.- Realisasi Rp. HSS.500.000.000.50. Berkenaan dengan semakin meningkatnya permintaan akan jasa pos di Propinsi Kalimantan Selatan maka di setiap kabupaten/kota tersedia beberapa kantor pelayanan pos. Tanah Laut (pelaihari) dan Kintap. Rp. Kab. Kandangann dan Kotabaru dengan 156 kelompok kantor pos.56.BAB II 2.59 159.Rp.119.2. Berikut data penerimaan retribusi izin radio amatir dari tahun 2005 s.000.5 Fasilitas Telematika Pemanfaatan telekomunikasi di Kalimantan Selatan dari tahun ke tahun terjadi kenaikan dengan banyaknya peserta yang berminat untuk mengikuti ujian amatir radio ( UAR ) baik yang dilaksanakan pada tingkat provinsi hal ini juga berdampak terhadap meningkatnya retribusi yang diterima.000.930. Sarana komunikasi yang digunakan di Kalimantan Selatan didominasi oleh telepon kabel dan wireless serta telepon selular selain itu menggunakan SSB maupun internet.- Persen 62.500. Pemanfaatan telekomunikasi juga menunjang Kerja Tim dalam koordinasi pengamanan Perda No.325.662.153.34 221.000. Kab.Rp. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 2009: Tabel II. yaitu 7 surat kabar harian (SKH).110. Sedangkan Radio swasta dan RSPD di Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 28 Radio.000.Rp.90.66 Sumber: Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Prov. diperlukan prasarana komunikasi yang handal seperti stasion Radio (Reapeter) yang dibangun dii 3 titik yaitu Kota Banjarmasin. 14 surat kabar mingguan (SKM). Banjarbaru. Kalsel Keberadaan industri pers di Kalimantan Selatan pada tahun 2008 tercatat ada 35 penerbit.000.375.025.28 175.792.Rp.Rp.68 Penerimaaan Retribusi Izin Radio Amatir 2005 s/d 2009 No 1 2 3 4 5 Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 Target Rp. 3 tahun 2008 yang melarang penggunanan jalan Negara untuk mengangkut hasil tambang dan kebun.500.Rp.2015 Page 101 .

66 0 0 576 576 100 19 7 239 239 67.710 orang dan 25. Selain itu juga banyaknya restoran/rumah makan sebanyak 316 buah.BAB II Tabel II.6 Fasilitas Restoran dan Penginapan Fasilitas restoran dan penginapan sangat berkenaan dengan tingkat wisatawan yang datang.2. Senin 23 Agustus 2010).54 2.2015 Page 102 . Begitu juga dengan kunjungan wisatawan nusantara ke Provinsi Kalimantan Selatan selalu mengalami kenaikan. Dari data yang tercatat hingga tahun 2009 terdapat hotel berbintang sebanyak 20 buah dan hotel melati 178 buah dengan tingkat pertumbuhan jumlah kamar hotel mencapai 20%.587 orang. Pada Tahun 2008 wisatawan nusantara dari DKI Jakarta mencapai 179.Baru B.69 Jumlah Alat Produksi PT Pos Rayon Kalimantan Selatan Tahun 2008 KANTOR Uraian Satuan Amuntai B.Loket tersedia Buah 44 34 0 32 0 .kotak pos sewa Buah 78 0 0 46 105 -Tromolpos Buah 10 0 0 0 210 . pada 2004 sampai dengan tahun 2008 jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Provinsi Kalimantan Selatan terus mengalami kenaikan.Bis Surat Buah 93 0 0 48 47 Terpasang . RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .Loket terpakai Buah 27 31 0 14 15 Jangkauan Pelayanan Buah Kecamatan Layanan lokasi Buah transmigrasi Jangkauan Pelayanan Kel/Desa Jumlah desa Buah Jumlah jangkauan Buah % Jumlah 156 68 179 306 22 696 271 229 220 188 110 87 32 11 944 944 100 52 21 198 198 52.Masin Kandngan K.834 orang. toko cinderamata 198 buah dan biro perjalanan wisata 162 buah yang tersebar diseluruh daerah di Provinsi Kalimantan Selatan (Sumber : Mata Banua.4. Kebanyakan wisatawan mancanegara yang berkunjung tersebut berasal dari negara-negara di Benua Asia dan Eropa.32 23 8 314 314 100 126 47 2271 2271 88.kotak pos Buah 0 0 0 141 130 . hal ini dikarenakan mulai stabilnya kondisi keamanan. disusul dari daerah Kalimantan Tengah dan Jawa Timur masing-masing sebesar 45.Baru Kelompok Kantor unit 33 27 54 19 23 Unit 19 15 7 13 14 Pos Bergerak Trayek 69 37 20 33 20 Terminal 75 54 23 78 76 Unit Layanan Pos buah 3 14 2 3 Jumlah Titik buah 113 104 179 143 157 Layanan Fasilitas Pos : .

243%. Disisi RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .BAB II 2. 2). Sengketa lahan juga seringkali terjadi antara tanah ulayat yang diklaim oleh masyarakat adat dengan tanah yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan tertentu. Salah satunya adalah dengan diterbitkannya produk hukum yang menjdai dasar bagi terbentuknya Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) sebagai institusi yang secara khusus mengurusi investasi di Kalimantan Selatan. seperti kerusuhan massal. Hal-hal tersebut adalah . 2. 4.2009 mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Sengketa ini biasanya terjadi atas tumpang tindih izin pertambangan yang dikeluarkan oleh Bupati dan/atau Walikota berupa Kuasa Pertambangan. Dalam 10 tahun belakangan belum ada data yang menunjukkan terjadi suatu peristiwa gangguan keamanan yang menyebabkan ketidak amanan berinvestasi. demontrasi besar-besaran. sejauhmana regulasi di provinsi Kalimantan Selatan dapat menjamin kepastian investasi.1 Keamanan dan Ketertiban Keamanan dan ketertiban dalam konteks investasi dapat dilihat dari . karena perusahaan tersebut telah dinyatak pailit oleh Peradilan yang berwenang. 4) Terkait dengan beberapa persoalan tersebut. Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhan yang berbeda jauh setiap tahunnya. Sedangkan dari aspek kondisi Kalimantan Selatan. Sementara berbagai problem yang dihadapi dalam menjamin keamanan dan ketertiban berinvestasi masih ada. Perkembangan Investasi Perkembangan Investasi PMA dan PMDN 4 tahun terakhir. seperti chaos pasca Pilkada seperti di daerah lain. seringkali digelar aksi unjuk rasa oleh kelompok masyarakat tertentu yang hendak menuntut haknya. 3) Masalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). 1) Masalah sengketa lahan akibat terjadinya tumpang tindih segel dan sertifikat tanah. 2006 .4.4.2.3. sejauhmana penanganan berbagai aktivitas yang dapat menggangu investasi di Kalimantan Selatan. 1). khususnya industri pengolahan hasil hutan. Masalah PHK yang berlarut-larut dikarenakan ada perusahaan yang tidak dapat membayar pesangaon dan hak-hak karyawan lainnya. Jumlah PHK yang banyak terjadi dalam 5 tahun belakangan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan industri di sektor Kehutanan.3.3. 2) Masalah sengketa perizinan pertambangan. serta 3). Investasi & SDM 2. walau kuantitasnya tidak terlalu besar.2015 Page 103 . atau terjadi chaos akibat peristiwa politik tertentu. bagaimana kondisi keamanan Kalimantan Selatan dalam mendukung investasi dan keberadaan dunia usaha. pemerintah provinsi Kalimantan Selatan memiliki berbagai produk hukum untuk mendukung hal ini. Pertumbuhan Penaman Modal Asing selalu negatif kecuali pada 2008 yang tumbuh positif bahkan melonjak tinggi sebesar 1. Terkait dengan regulasi terhadap investasi.

2% pada 2006 kemudian tumbuh negatif dari 2007 sampai dengan 2009. 2010 (diolah kembali) Kecendrungan perkembangan PMA dan PMDN terlihat berbeda. Gambar II.321.445.851.7.000.-.584.naik sekitar 2000% lebih dibanding dengan nilai investasi tahun 2007 yang hanya sebesar Rp.890.000 2006 2007 2008 2009 R ealis as i P MA R ealis as i P MDN Nilai Investasi Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN) yang menonjol selama tahun 2008 berdasarkan sektor adalah sektor Industri. khususnya sub sektor Industri Kertas dengan nilai investasi Rp.233.650 191.000.70 Nilai dan Tingkat Pertumbuhan Investasi PMA dan PMDN di Kalsel Tahun 2006 – 2009 TAHUN 2006 2007 2008 PMA (US$) Realisasi 24.108.000 150.490 .000.000 Sumber : BKPMD Prov Kalsel. Sektor Industri Makanan dan Minuman dengan nilai investasi Rp.31.320 310.430.000.000 100.030 PMDN (Rp.000.000 250.500.2 .000 76.8 PMA 38.2 . Nilai PMDN cenderung untuk terus menurun sedangkan PMA cenderung meningkat walaupun sangat fluktuatif.500.2015 Axis Title Page 104 .000 350.000..000 400. Hal ini dapat dilihat pada grafik kdibawah ini. Tabel II.2 % Pertumbuhan PMDN 2009 146.2009 Data R ealis as i In ves tas i 450.59. Sektor Jasa Lainnya mengalami penurunan nilai investasi yang cukup besar sebesar –23 persen lebih.000.994.60.000.34.000.2 1.28..161.000.000) Realisasi 407.000 300.000.870 23.155.123.243 ..000 50.meningkat sebesar 100 persen lebih dibanding tahun 2007 dengan nilai investasi sebesar Rp.1.000.6 .090.8 .BAB II lain.000 200.52..58.100.000. Penanaman Modal Dalam Negeri sempat tumbuh positif 38.700 266.17 Nilai Investasi PMA dan PMDN di Kalimantan Selatan 2006 . RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .938.

442 -100 2.5 persen dibanding dengan tahun sebelumnya (2007).960.189 86 27 507 1.874 1.675. Kalimantan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .978 Industri Barang Logam 75 75 86 Ind.007 Pertambangan 535 578 442 Ind.922 297 8.793 JUMLAH 202. 2002.1 % 2005 5 1 5 16 11 26 14 8 86 TK Asing 2006 4 1 5 39 11 23 10 8 101 2007 11 1 5 21 11 27 11 8 95 2008 5 1 5 21 11 27 11 8 89 Pertanian Tan.613 7.140.1 0 (32) 13.Pangan 143 143 143 Perkebunan 3.916 310 296 9.118 433 Kehutanan 10.028 7.163 Peternakan 309 300 309 Perikanan 1. Sumberdaya Lahan Pertanian Kalimantan Selatan mempunyai sumber daya lahan rawa seluas 1.5 (6) 16 2.naik sebesar 100 persen lebih dibanding tahun 2007 dengan nilai US$ 327.2015 Page 105 .868 Industri Kertas 256 256 256 Industri Kimia 2.BAB II Untuk Penanaman Modal ( PMA ) berdasarkan sektor yang menonjol adalah sektor Jasa Lainnya dengan nilai investasi sebesar US$ 756.3. Pada Proyek PMDN sektor yang memberikan kontribusi cukup tinggi dalam penyerapan tenaga kerja adalah sektor Pertambangan yaitu sebesar 13.093 74.155 17.342 Sumber : BKPMD Prov Kalsel. Tabel II.399 33. 2010 (diolah kembali) 2.380 1.71 Jumlah Tenaga Kerja Pada Proyek PMDN dan PMA Berdasarkan Sektor di Kalsel s/d Tahun 2008 Serapan Tenaga Kerja Proyek PMDN Sektor 2005 TK Indonesia 2006 2007 2008 35.. Mineral Non Logam 37 27 27 Perhotelan 515 508 505 Pengangkutan Industri Lainnya Jasa Lainnya 1.140 ha dan diperkirakan sekitar 342.007 501 1.6 0 0 0 7.359 9.003 1.332 Industri Kayu 180.3 persen dan sektor Industri Makanan dan Minuman yang tumbuh sekitar 9.792 35.4.Serapan tenaga kerja pada Proyek PMDN berdasarkan sektor pertumbuhannya relatif kecil berkisar 0. Potensi Investasi (SDA-Pertanian-Kehutanan dan Pertambangan) a.4 0.405 73.469 15.066.405 1. Pada Proyek PMA sektor yang penyerapan tenaga kerjanya tinggi adalah sektor Jasa Lainnya yaitu sebesar 94 persen dan Sektor Perkebunan dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 81 persen dari tahun sebelumnya (2007) sebagaimana tabel dibawah.3 9.832 1.926 73.387 ha (Dinas Tanaman Pangan Kalsel.3.560. Makanan & Minuman 1.314 9.1 persen sedangkan pada Proyek PMA tumbuh cukup baik berkisar 26 persen.458 14.

dan sisanya seluas 199.87%.72 Tabel II. 2003) sangat potensial untuk dikembangkan bagi kegiatan pertanian.K. luas tanam dan luas panen (Gambar II.955 36. 3.956.476 1.904 47.138 2. 2007).812 ton.14%.835 48. jagung sebesar 113.082 2.389 117.60% per tahun. kedelai sebesar 3.812 (2.14 264.954.72 Produksi Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura di Kalimantan Selatan 2005-2009 NO.22 121.48 1. ketersediaan air melimpah dan teknologi pertanian yang cukup tersedia (Noor. perkebunan dan kehutanan. produksi padi diperkirakan mencapai 1. ubi jalar dan sayuran terus mengalami peningkatan masing-masing meningkat rata-rata per tahun sebesar 4.875 8.02% dan 8.750 77. Pemanfaatan lahan rawa baru sekitar 143. jagung. 2007).598 11..968 ton dan sayuran sebesar 264.335 31.838 (1.214 16.529 82.284 58.26%. Meskipun demikian lahan rawa sangat potensial dikembangkan karena didukung oleh ketersediaan lahan yang luas. keadaan topografi yang datar.953.87) 15.298 57. dan budidaya ikan sistem beje dan karamba (1) Potensi Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Produksi padi. jagung.2015 Page 106 .957 95. ubi jalar sebesar 29.322 119.74) 1. 12.02 29.38 113.11. 27.817 15.283 100. Sementara komoditas kacang-kacangan dan buah-buahan mengalami penurunan.222 (1.897 ton. Produktivitas padi.429 261.793 1.118 ha.054 55.992 ton gkg.74% dan buahbuahan sebesar 2. Model budidaya di lahan rawa yang telah di kembangkan seperti surjan.22%.48%. 2003).956.897 10. 2.085 26.060 3.625 5.143 25.08%.16).840 1.838 ton.29% RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 2010 Peningkatan produksi beberapa komoditas tanaman pangan berkaitan dengan peningkatan produktivitas.888 244. ubikayu sebesar 121.38%. ubi kayu. M.166 1.968 50.548 1.625 ton. agroforestri.BAB II Selatan Dalam Angka.045 262. Perkembangan produksi komoditas tanaman pangan dan hortikultura disajikan pada Tabel II. kacang hijau sebesar 1. ubi kayu. dan tata air yang kurang mendukung kegiatan usaha tani (Harun.19%) masih berupa lahan tidur yang belum digarap (Anonim.548 16.466 Produksi (Ton) 2006 2007 2008 1.24%. Pada tahun 2009.598.158 304. Besarnya luasan lahan tidur tersebut disebabkan oleh adanya hambatan internal lahan rawa berupa sifat fisika.904 23.992 27. ubi jalar dan sayuran dalam kurun waktu 20052009 masing-masing meningkat rata-rata 3.759 18. M.13 3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR SAYURAN BUAH-BUAHAN 2005 1.269 (58. kacang tanah menurun rata-rata sebesar 1. sawah/tabukan. kedelai. perikanan.636.60) Keterangan: *) angka sementara/perkiraan Sumber : Dinas Pertanian TPH. 5.14% dan sayuran 0.868 1. kimia.064 2.415 Perk 2009 rata-rata * (%/tahun) 4.

62 11.20 45.97 0.63 38.52% dibanding rata-rata produktivitas Nasional.40 0.10 Produktivitas (Ku/Ha) 2006 2007 2008 35.20 8.03% dan 89.99 146.17 62.63 10.70 62. Perbandingan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .83 12.57 (0.78) 11. ubikayu sebesar 148.29 215. Dinas Pertanian TPH. namun bila dibandingkan dengan tingkat produktivitas tanaman panganNasional.10 99.05 11.39 47.69 ku/ha dan sayuran sebesar 48.50 170.73 107.11 47. produktivitas padi diperkirakan mencapai 40.20 10.34 11. jagung sebesar 49.70 149.60 101.71 11.87 Keterangan : *) angka sementara/perkiraan Sumber: .18 Produksi.BAB II per tahun.16 3.24 114.17 115.10 189.80 57. pada umumnya produktivitas tanaman pangan Kalimantan Selatan masih dibawah produktivitas Nasional. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR SAYURAN BUAH-BUAHAN 2005 34.14 48.50 11. Produktivitas.00 ku/ha.16 ku/ha gkg.73 12.73 Tabel II. ubi jalar sebesar 114.38 (0.47 10.26 11.73 Produktivitas Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura di Kalimantan Selatan 2005-2009 NO.00 2. Produktivitas tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.41 11.40 ku/ha.2015 Page 107 . Luas Tanam dan Luas Panen Padi di Kalimantan Selatan 2005/2009 Meskipun produktivitas beberapa komoditas tanaman pangan meningkat.79 30. Pada tahun 2009.26 11.52 34.08 49.69 3.76 133. 2010 Gambar II.38 38. Produktivitas padi dan jagung masing-masing baru mencapai 76.90 Perk 2009* rata-rata (%/tahun) 40.40 150.32 136.18 142.24 10.87 10.73 ku/ha.70) 148.

560 2.71% per tahun.786 1.174 14.06% dan 7.756 ha.501 ha.388 (0.69 Indeks (%) 80. 3. 1 2 3 4 5 6 7 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR 2005 479.27 12.664 4.91%.83 186.247 23.841 ha.705 2.038 2. 10. Luas tanam tanaman pangan Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.77% RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 13.74 Tabel II.2015 Page 108 . dan 4.917 3.69 40. dan ubi jalar dalam kurun waktu 2005-2009 masing-masing meningkat rata-rata 1. 2.35%. Pada tahun 2009. luas panen padi diperkirakan mencapai 498.42 103.1 13.294 Luas Tanam (Ha) 2006 2007 2008 488.19 95. ubi kayu.75 Luas Tanam Komoditas Tanaman Pangan di Kalimantan Selatan 2005-2009 NO. komoditas Padi Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Produktivitas (Ku/Ha) Nasional Kalsel 49.71 42.04% per tahun.560 ha. 7. ubi jalar seluas 2.938 ha. luas tanam padi diperkirakan mencapai 506. 2010 Luas panen padi.99 95.591 14.47%.23% dan 2.15%.250 522.289 23. 0. ubi jalar dan sayuran dalam kurun waktu 2005-2009 masing-masing meningkat rata-rata 1.34 110.017 2.39%. 1. kedelai seluas 3.852 2.BAB II produktivitas tanaman pangan Kalimantan Selatan dan Nasional disajikan pada Tabel II. jagung seluas 26.684 5. 4.547 1.669 ha.544 2.320 Perk 2009* rata-rata (%/tahun) 506.70%.38%.38 148 114.32 Keterangan: *) angka sementara/perkiraan Sumber: Dinas Pertanian TPH. ubi jalar seluas 2.32% per tahun. Sedangkan luas panen kacang tanah.97 10. kacang hijau dan buah-buahan masing-masing menurun rata-rata sebesar 1. ubi kayu.17) 6. jagung seluas 23.083 15.582 ha.296 1.12 87.697 21.562 8.91 13.417 7. ubikayu seluas 8. ubikayu seluas 6. 2.627 2. 9. jagung.57 11. kedelai. Pada tahun 2009.917 ha.643 ha.306 520.182 2.938 16. 5.664 ha. 3.546 1.74 Perbandingan Produktivitas Tanaman Pangan Nasional dan Kalimantan Selatan 2009 No. kedelai seluas 3.92%.459 7. 6.841 1.666 hadan sayuran seluas 10.04 2. kedelai.015 3.47 10.569 24.79 118.73 11.61 Keterangan: Produktivitas Padi dan Palawija (ARAM III 2009) Luas tanam padi.84 79.23) 1.75 Tabel II.15 26.39 3.134 13.417 (3. 16.16 49. jagung. Sedangkan luas tanam kacang tanah dan kacang hijau masing-masing menurun rata-rata sebesar 0.

116 1.846 507.2015 Page 109 .570.767.978.525.144.756 9.089.14 14.559.669 10.95 34.503 8. 2010 Produksi tanaman pangan akan mendukung ketersediaan bahan pangan. seperti daging.95) Keterangan: *) angka sementara/perkiraan Sumber: Dinas Pertanian TPH.911.83 23.06 10. ubi jalar.948.669.068.247.19 31.953 42.139 1.28 196.918.767.096 95 175. sayuran.09 50.578 20. Ketersediaan komoditas pangan hewani pada tahun 2009. gizi seimbang dan terjangkau oleh seluruh masyarakat.97 136.806 9.47) 1.738.582 13.13 50.28 68.042 22. beras.900 15.881 16.96 1.053.417 7. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR SAYURAN BUAH-BUAHAN 2005 459. 12 13 14 15 Pangan Nabati (Ton) Padi Beras Jagung Kedelai Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar Sayur-sayuran Buah-buahan Minyak Sawit Gula Pangan Hewani (Kg) Daging Telur Susu Ikan Tahun 2009 Ketersediaan Kebutuhan Perimbangan 854.836 97.666 2. telur dan ikan tergolong surplus.595 2.399 1.205 8.35 3. jagung.517 1.869 16.680 265.161 1.260 13.840 1.307 (7. dan buah-buahan tergolong surplus. Ketersediaan bahan pangan dan kebutuhan pangan Kalimantan Selatan pada tahun 2009 disajikan pada Tabel II.480.716.569 (1. 1.83 47.157.093 31.68 18.326 4.766.501 7.672 505.705.71 12.642 1.77 Ketersediaan Dan Kebutuhan Bahan Kalimantan Selatan Tahun 2009 Komoditi I.301 Perk 2009* rata-rata (%/tahun) 498. sedangkan ketersediaan susu tergolong minus.159.23 -207.77 Tabel II.92 2.319. Ketahanan pangan akan dicapai apabila terpenuhinya kebutuhan pangan yang cukup.130.417 7.50 581.84 -12.95% per tahun.050 8.59 2.427 Luas panen (Ha) 2006 2007 2008 462.806 3.77) 8.90 -51. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .76 Tabel II.115 14.502 50.03 2.999.271.21 62. Luas panen tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.23 Keterangan surplus surplus surplus minus surplus surplus surplus minus surplus minus minus surplus surplus minus surplus 2.769.235.894.626 5.714.036 47. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 II. minyak sawit dan gula ketersediaan tergolong minus.59 13.853 2. ubi kayu.241 20.87 13.843 14.563 (0.012.645 139.643 1.541 15.BAB II dan 7. Ketersediaan beberapa komoditas bahan pangan nabati pada tahun 2009.602 2.52 -18.50 690.994 13.65 301.691 2.241 15. seperti padi.73 Sumber: BKP Prov.70 23.482 6.978.100.319 17.600.975. sedangkan kedelai. kacang tanah.86 17.90 51.123 2.57 -107.76 Luas Tanam Komoditas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kalimantan Selatan 2005-2009 NO.591.62 124.16 16.43 149. Kal-Sel.

353.72 5 Kacang Tanah 13.51 101.36 266.01 7 Ubi Jalar 5. kacang tanah.77% dibandingkan surplus padi pada tahun 2008.319.32 101.78 Tabel II.09 3 Jagung -59. Perbandingan perimbangan ketersediaan bahan pangan Kalimantan Selatan tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel II.92 122.600. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .58 11 Gula -50. dan diperlukan pergudangan yang refresentatif untuk menampung kelebihan bahan pangan sehingga kualitas tetap terjaga. ubi jalar dan buah-buahan membutuhkan suatu kebijakan untuk menghindari jatuhnya harga bahan pangan yang mengakibatkan petani rugi.480. surplus padi dan beras mengalami peningkatan masing-masing sebesar 105. karena mutu yang belum memenuhi standar dan belum adanya jaminan suplai / produksi yang kontinyu.741.14 14.57 -107. jagung. Dengan demikian. Produk tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan sebagian besar belum mempunyai daya saing yang kuat. Ketersediaan padi. Pada tahun 2009.77 157.130. ubi kayu.83 Persentase Thd 2008 105.42 9 Buah-buahan 173.247.2015 Page 110 . Kalimantan selatan potensial mempertahankan swasembada pangan terutama beras sehingga dapat menjadi lumbung beras atau penyangga beras nasional.94 8 Sayur-sayuran -108.82 100.78 Perbandingan Perimbangan Ketersediaan Pangan Kalimantan Selatan Tahun 2008 dan 2009 Komoditi Perimbangan (Ton) Tahun 2008 Tahun 2009 854.262.729.089.997.767. Kal-Sel. kacang. Sehingga dengan hasil usaha tani demikian produk pertanian Kalimantan Selatan kalau tidak segera dibenahi akan sulit bersaing pada era perdagangan bebas sekarang ini.28 196.50 581.BAB II Padi atau beras merupakan bahan pangan pokok. ubi kayu.247.51 Ket I.545.144.77 Sumber : BKP Prov.86 93.52 -18.95 34. ubi jalar dan buah-buahan mengalami surplus meningkat.50 10 Minyak Sawit -18.559. Rendahnya produktivitas tersebut sangat disayangkan karena apabila komoditas beras menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam katalog AFTA ASEAN yang kena kebijakan penghapusan tarif impor beras.669.696.929. jagung.84 -12.978.50 4 Kedelai -12.97 136.03% dan 104.90 -51.59 13. Padi 813.139.87 2 Beras 555.22 6 Ubi Kayu 111. beras.11 98.48 113.03 104. 2010 Surplus Meningkat Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Menurun Surplus Meningkat Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Menurun Surplus Meningkat Minus Meningkat Minus Meningkat Surplus bahan pangan seperti padi/beras. Pangan Nabati 1. tentunya persaingan perdagangan beras dari kompetitor-kompetitor produsen beras seperti Thailand dan Vietnam akan semakin tidak sehat dan semakin memperpuruk kondisi kesejahteraan petani padi kita.588.

635.130 530.33 Rata-rata pertumbuhan luas kebun per tahun 6.410 250.49 No 1 2 3 4 5 Keterangan: *) angka sementara/perkiraan PR = Perkebunan Rakyat PBN = Perkebunan Besar Negara PBS = Perkebunan Besar Swasta Sumber : Dinas Perkebunan Prov.196 18.666 507.03 2006 274.410 Ha (3. meliputi Perkebuan Rakyat (PR) 308.46 2007 289.820 14.988 8.623 1.744 222.482 581. tetapi pada tahun 2006-2009 produksi meningkat berturut-turut sebesar 530. Secara keseluruhan pertumbuhan luas kebun dari tahun 2005–2009 mengalami peningkatan.o98 ton/ha.088 15. PBN dan PBS pada tahun 2005 sempat menurun 6.910 17.576 155.608 13.BAB II (2) Potensi Perkebunan Produksi tanaman perkebunan dengan pola pengusahaan PR. dan Perkebunan Besar Swasta 253.410 253. Kalsel.79 Tabel II.36 2008 304. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .29 Rata-rata pertumbuhan produksi per tahun (1999-2009) 22.539 -6.951 215.340 407.839 417.098 9.58%).113 333.293 17.878 ton/ha.05% dari tahun sebelumnya dengan produksi 417.334 568.623 Ha.29 2009* 308.352 9.476 376.34%). Perkembangan produksi komoditas tanaman perkebunan Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.76 dan Gambar II.08 2008 245.731 Ha (53.80 Luas Areal Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005-2009 Pola Pengusahaan Luas Tahun PR PBN PBS Ha Pertmb% 2005 261.49% per tahun.085 11.938 694. Perkebunan Besar Negara (PBN) 19.070 4. 568.764 9.64 2009* 271.74 Sumber : Dinas Perkebunan Prov.592 27. 2010*) angka sementara/perkiraan PR = Perkebunan Rakyat PBN = Perkebunan Besar Negara PBS = Perkebunan Besar Swasta No 1 2 3 4 5 Luas perkebunan Kalimantan selatan mencapai 581.79 Produksi Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005-2009 Pola Pengusahaan Produksi Tahun PR PBN PBS Ton/Thn Pertmb % 2005 163.001 635.937 243.592 ton/ha.878 7. Kalsel.282 573.126 530. yaitu ratarata 6.085 ton/ha dan 694. Perkembangan luas areal perkebunan disajikan pada Tabel II.685 349.08%).2015 Page 111 .402 0.08 2007 207.859 11..296 19.731 19.539 ton/ha.05 2006 188.482 Ha (43.80 Tabel II.738 432.

06 30.77 Memperlihatkan perkembangan luas dan produksi beberapa komoditas perkebunan dalam kurun waktu 2005-2008.994 1.01 (CPO) 5.77 75.32 584.354.532. 2.46 2008 Luas (Ha) 206.233 5.64 5.284 4. kakao dan sagu.00 586.81 Luas Areal Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005 – 2008 No 1.77 1.79 97.354 4.64 631.14 2.869.47 142.50 1.981.288.874 499 991 514 - 2. kelapa dalam.2015 Page 112 .778.707.61 (TBS) 74.79 98.26 494.41 584.783 1.89 337.13 54.896 1.81 1.123.83 30.00 475.004.581.40 381.77 (CPO) 257.39 1. Kopi Cengkeh Lada Kayu Manis Kemiri Pinang Kakao Kapuk Jambu Mente Aren Jahe Sagu Purun 7.585.967 Produksi (ton) 113.92 1.02 (TBS) 67.602.00 2.002.810. kayu manis.661 1.313 Produksi (ton) 101. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . kelapa hibrida dan kelapa sawit disajikan pada Gambar II.89 3.799 48.91 460.696. kelapa.19 Luas Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005 -2009 Komoditas perkebunan Kalimantan Selatan antara lain adalah karet.780 546 1.71 2006 Luas (Ha) 183. 11.00 1.63 100. lada.00 5.136.899 47.304 790 2.288.28 1. 12.68 317.01 (TBS) 80.32 (CPO) 4.369. kopi. 16.12 6.30 341.85 3. 10.451 307.81 Tabel II. 9. 15.815.41 30.78 243.676 495 234 2.018.37 52.04 2007 Luas (Ha) 192.07 71.00 1.120 2.497.312.34 58.18 dan Gambar II. 00 (inti sawit) 2.619 750 - 2.587.656.774. 17.549.287.832 481 1.67 1.720.870 2.053 2.626 1.704 586 Sumber Dinas Perkebunan Prov.229.348 4.701 1.41 7.526.62 58.199 47.00 4.09 (CPO) 87.312.75 397.704.00 2.08 8.898 448 219 2.768. 8.30 2.00 358.17 3.057 2.278.00 4.82 252. 13.00 251.47 490.983. 6.00 512.00 2.08 9.36 338.974 Produksi (ton) 121.92 1.72 669.568.901.99 3.00 7.152 358 6. 7.936 2.071.190.862 332.142 47.152.024 5.BAB II Gambar II.119. Kalsel. 3.545 672. cengkeh.18 31.808.79 3.61 6.75 376.145.252. Tabel II.267.277. kelapa sawit.540 Produksi (ton) 105.928 1.990 214.79 3.461 356. 178. Komoditi Karet Kelapa Dalam Kelapa Hibrida Kelapa Sawit 2005 Luas (Ha) 171.630.78 2. Produksi dan luas areal perkebunan karet.57 71.42 116.48 669. 14.67 71.666.

49 ton per tahun. Hasil analisis menunjukan bahwa ada trend peningkatan produksi untuk komoditas utama perkebunan Kalimantan Selatan seperti karet.556.760. kelapa sawit dan kelapa dalam merupakan komoditas yang dominan yang dikembangkan. Jika dibandingkan produksi tahun 2007 dengan tahun 2008 terjadi peningkatan pada masing-masing 7. Peningkatan produksi ini sudah seharusnya terjadi terkait dengan peningkatan luas lahan tiap tahunnya. kelapa sawit dan kelapa dalam.2015 Page 113 .38%. kelapa dalam dan kelapa sawit.608.08%.43%. 3.21 Luas Areal Beberapa Komoditas Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005 -2008 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . komoditas yang merupakan andalan Provinsi Kalimantan Selatan adalah karet dan kelapa sawit. Namun.032 Ha pada tahun 2009 yang seluruhnya diusahakan oleh perkebunan rakyat.02 ton per tahun. jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2007 pada tahun 2008 terjadi penurunan sampai 59. kelapa dalam 30. peningkatan rata-rata komoditi karet adalah 110.23% dan 7. dan kelapa sawit 302. hal ini dikarenakan oleh menurunnya luas lahan penanaman kelapa hibrida sebanyak 3.12 ton per tahun.BAB II Dari seluruh komoditas perkebunan yang ada. komoditas karet. Terjadi peningkatan produksi pada komoditi karet. Kelapa dalam cukup banyak diusahakan oleh rakyat dengan luas kebun kelapa dalam mencapai 48. terjadi penurunan produksi yang sangat menyolok pada komoditi kelapa hibrida pada tahun 2008. Gambar II.43%.20 Produksi Beberapa Komoditas Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005-2008 Gambar II.

karena selain ketersediaan yang cukup besar dan mutu hasil olahan dari industri telah sesuai SNI juga berdasarkan hasil kajian bisnis karet dan kelapa sawit internasional menunjukan adanya trend konsumsi yang meningkat pada komoditas karet dan kelapa sawit. Demikian pula kelapa sawit yang produk utamanya CPO dan mempunyai multi fungsi dalam menghasilkan derivative produk. dari 16. sehingga perlu dilakukan peremajaan tanaman perkebunan dan peningkatan produktivitas dan antisipasi terhadap serangan hama pada tanaman produktif. karena hasil analisis data menunjukkan mutu karet olahan rakyat di Kalimantan Selatan masih perlu ditingkatkan.BAB II Jumlah rumah tangga (2008) yang melakukan usaha tani perkebunan : 407.5 juta ton pada tahun 2011 menjadi 21. 2002) pangsa konsumsi kelapa sawit dunia mencapai 19. Perkembangan jumlah populasi ternak di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.20% dari jumlah seluruh KK di Kalimantan Selatan. namun karena kondisi tanaman karet Kalimantan Selatan sudah tua/rusak yang mencapai 30%. permintaan terhadap komoditi olahan karet tidak didukung oleh hasil olahan rakyat. Komoditas andalan Kalsel (karet dan kelapa sawit) merupakan komoditas yang prospektif.22 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .057 KK dari 900. Namun. dan klon yang digunakan 85% masih klon GT I yg sdh mengalami degenerative dan pernah terserang jamur akar putih (JAP) dan kering alur sadap (KAS) pada tanaman karet produktif. Permintaan karet diprediksi terus meningkat. Pada umumnya ternakternak yang berkembang secara alami dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah yang mengalami pertumbuhan negatif seperti kuda dan babi.5 juta ton pada tahun 2016 (Outlook for Elastomer 2008/2009). Permintaan kelapa sawit dunia terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan konsumen minyak kelapa sawit. Pertumbuhan ternak sapi perah juga negatif karena masyarakat belum terampil dalam memeliharanya.5 juta ton pada 2012-2016.74%.2015 Page 114 . Sumberdaya lahan perkebunan masih luas dan memungkinkan untuk pengembangan tanaman lebih luas lagi. Hal ini berarti peluang bagi Indonesia termasuk Kalsel untuk meningkatkan produksi karet dan kelapa sawit melalui program pengembangan masih cukup besar.1 juta ton akan meningkat menjadi 22. (3) Potensi Peternakan Perkembangan populasi ternak di Kalimantan Selatan pada empat tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan rata-rata 2.603 KK Kalsel atau 45.82 dan Gambar II. Tercatat tahun 2002 (Oil World.

603 4 Kuda 752 737 624 601 5 Kambing 107.714 8 Ayam Buras 9.052 Ayam Ras 9 Petelur 1.240 123.916 2.BAB II Tabel II.624.441 11 Itik 3.472 5.659. Produksi daging ayam ras petelur juga cukup tinggi karena adanya penggantian ayam ras petelur yang sudah memasuki ternak masa afkir.002 3.55 1.984.202 12.791 5.873 111.435 43. Kalsel.911.128 21.643.771. Pertumbuhan terbesar terjadi pada kuda.65 6.12 2.158.096 43.74) 2.971 44.383.633 218.274 12.83 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .53%.00 (9.03 (7.00) 4.49 (7.581 7 Babi 7.09 13. yaitu 262.065 2 Sapi Perah 133 135 124 96 3 Kerbau 41.721 2. Perkembangan produksi daging Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II. 2010*)angka sementara Pertumbuhan (%) 4.665.860.436 7.137.22 Populasi Ternak Besar di Kalimantan Selatan 2004-2009 Produksi daging selama empat tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.020 11.914.534.733 118.813 28.74 Gambar II.79 13.216.508 19. Jenis Ternak (ekor) 1 Sapi Potong 193.2015 Page 115 .394 Ayam 10 Ras`Pedaging 20.487.82 Jumlah Populasi Ternak di Kalimantan Selatan 2006 – 2009 Tahun 2006 2007 2008 2009* No.78) 9.47%.452 Rata-rata Pertumbuhan Sumber : Dinas Peternakan Prov. Pertumbuhan terbesar pada ternak kuda karena kondisi kuda sekarang sudah tua dan masyarakat sudah mulai tidak memanfaatkan lagi sebagai tenaga kerja sehingga banyak terjadi pemotongan.258 6 Domba 374 3.920 202.232 2.494 3. yaitu sebesar 13.983.919 4.462 3.037 210.176 4.

71 persen).84 Produksi Telur di Kalimantan Selatan 2006-2009 Tahun 2006 2007 2008 (kg) 3.124 Pertumbuhan (%) 4.47 Sapi Potong Kerbau Kuda Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Ras 8 Petelur 243.83 Produksi Daging di Kalimantan Selatan 2006-2009 Tahun 2006 2007 2008 (kg) 6.128.12) 90.303 640.942 454.646 1.197 37.597.585 Rata-rata Pertumbuhan Keterangan: *) angka sementara Sumber : Dinas Peternakan Prov. 1 Jenis Ternak 2009* 5.424 4. Hal ini diduga akibat peternak sudah berhasil menanggulangi penyakit ND (New Castle Diseases) yang selalu menyerang setiap musim pancaroba.22 persen.484.2015 Page 116 . Kalsel.052 10 Itik 1.898 16.562.230. Pertumbuhan produksi telur dari unggas lain yang diusahakan peternak kecil juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.296.738 26.892.04 16.200 4.335 25.393 5.917 26. sedangkan ayam buras hanya 15.175 969.318 3 Itik 15.142 2.461.742 16.242 13.196. 2010 Pertumbuh an (%) 15.908 181.016.84 persen hal ini karena ayam ras petelur dikelola oleh swasta dengan sistem pemeliharaan yang intensif. Pertumbuhan terbesar terjadi pada ayam ras petelur (37.567.65 17.723 286.84 Tabel II. 2010 Produksi telur selama empat tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.473 866.080 1.552.56 (19.750.877.394 117.651 No.649 4.936 18.475.582. yaitu sebesar 19.13 19.162.793 Ayam Buras Ayam Ras 2 Petelur 13.651 317.633 Ayam 9 Ras`Pedaging 21.494.692 74. Pertumbuhan produksi telur di Kalimantan selatan disajikan pada Tabel II.949.741 34.157.613.823.884 91.63 14.303 1.077 No 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Ternak 2009* 6.689.120 5.679 17.717 4.116 6.468 42.605 14.58 13. Kalsel.933 4.945.755.22 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .887 418.742.84 19.318 906.092 5.819 1.692 1.970 Rata-rata Pertumbuhan Keterangan: *) Angka sementara Sumber Dinas Peternakan Prov.796.693 1.185.310 28.179.024.53 17.39) (5.659 34.77 7.71 20.216 1.96 262.BAB II Tabel II.649.

kolam seluas 2. 2010 (4) Potensi Perikanan Potensi Kawasan Perikanan Kalimantan Selatan meliputi garis pantai sepanjang 1. tambak seluas 53.51) Sumber: Dinas Peternakan Prov.86 Potensi Kawasan Perikanan Di Kalimantan Selatan Uraian Garis Pantai Perairan Umum Kolam Tambak Sawah Potensi Kalsel 1.382 Ha 3.672 309. Produksi susu segar di kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II. Hal ini karena produksi yang semakin turun.139. produksi tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu mencapai 186.44 persen dan tahun 2009 kembali mengalami penurunan 1.85 Produksi Susu Segar di Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009 Tahun 2006 2007 2008 2009 Jenis Ternak (liter) Sapi Perah 292. tahun 2008 meningkat 4.330 Km 1. 2010 Produksi dari sektor perikanan cukup berfluktuasi.181 Km 20. perairan umum seluas 1.5 4.BAB II Produksi susu selama lima tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan yang negatif.000 Ha Persentase 1. yaitu sebesar -21.000 Ha 6.1 Sumber : Dinas Perikanan Prov.3 0.000 Ha 1.000.51%.2015 Page 117 . Potensi yang dimiliki dibanding potensi nasional disajikan pada Tabel II. Kalsel. Produksi turun karena jumlah sapi perah yang laktasi berkurang dan keterampilan peternak dalam memelihara masih kurang.173.752 Ha Potensi Nasional 95. Produksi perikanan di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.776 Ha 526.87 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .9 0.400 ha. 1 Pertumbuhan (%) (21.400 Ha 53.734 129.382 ha dan sawah 3.86 Tabel II.000.85 Tabel II.330 km.4 ton kemudian mengalami penurunan sebesar 6.000 Ha 2.224. dari periode tahun 2006 sampai tahun 2009.557 185.451 No. Kalsel.4 4.304.ha.752 ha.17 persen.000.01 persen.

6.143.2015 Page 118 . 2.108.210 231 586 5 180.5 3.7 263.8 2.735. perikanan.5 5.905 ha akibat buruknya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . kegiatan pertanian. 8. Noor sejak 1972 dan bahan baku pembuatan air mineral kemasan.730 -1. Tapin.078 ha.622.918.9 265.0 7. Tabalong Kiri.1 4. Martapura.3 5. maka Sub DAS Riam Kanan ditetapkan sebagai Catchment Area super Prioritas. Tabalong Kanan. 3. Dari kawasan Pegunungan Meratus.0 8. 5.2 596.0 5. kritis 500.7 4.112 ha.727.01 46. perikanan. mengalir ratusan sungai yang menuju ke segala penjuru wilayah Kalimantan Selatan. Kawasan sub DAS Riam Kanan selain dimanfaatkan untuk pemukiman 13 desa. 4. Pangeran M. Sumberdaya Perairan Keberadaan sungai di Kalimantan Selatan terhimpun dalam tiga satuan wilayah sungai yaitu wilayah sungai (WS) Barito. Amandit.420.2 505. JENIS USAHA Perikanan Laut Budidaya Per.027.4 2007 98.664. 9.269 b.7 186.0 5.44 3.681.976.540.7 6. 7.174 11. dan pertanian.BAB II Tabel II. Kondisi DAS dan beberapa Sub-DAS tersebut saat ini berada dalam keadaan agak kritis seluas 1.2 113. Danau Panggang. Oleh karena fungsinya yang sangat vital.Laut Perairan Umum Budidaya Air Payau Budidaya Air Tawar Budidaya Keramba Budidaya Sawah Budidaya Jaring Apung Budidaya Net Tancap JUMLAH Perkembangan (%) Sumber : Dinas Perikanan Prov. Bahalayung.7 -6. Batang Alai.3 174.3 3.6 6. Pengairan teknis/irigasi Riam Kanan sebagai SDA buatan bagi banyak kepentingan pengguna atau pemakai air seperti bahan baku air minum.494. juga dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Ir.552. 2010 2006 121.148.562.87 Potensi Kawasan Perikanan di Kalimantan Selatan 2006-2009 NO 1. seperti kebutuhan akan air besih.6 3. WS Cengal Batulicin dan WS Pulau Laut yang mempunyai beberapa sub-wilayah sungai antara lain Luang.573. Kalsel.064. dan Riam Kanan.3 423.2 182.654 2009 102. Balangan.951.815.9 49.6 4.713.9 53.17 2008 106. Barito Hilir. sangat kritis 55. Barito Tengah. transportasi air.0 49. di mana sebagian besar kebutuhan masyarakat sangat bergantung. perikanan (keramba dan kolam ikan) bergantung pada pasokan air sungai tersebut. Riam Kiwa. Sampanahan.3 3.304.

hutan lindung (526.441.38 28. antara lain rotan. sirap. Kekritisan DAS berarti kekeritisan sumber daya air baik secara kualitas maupun kuantitasnya. madu.745.85 25. untuk lebih jelas perkembangan jumlah produksi kayu bulat di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.88 Jumlah Produksi Kayu Bulat (Dalam Meter Kubik) Kalimantan Selatan 2002-2009 Tahun 2005 46.15 563. hutan produksi terbatas (126.86 33.38 2009 37.2015 Page 119 . pertambangan yang tidak ramah lingkungan dan rendahnya keberhasilan rehabilitasi. c.38 396. yaitu kawasan suaka alam atau kawasan pelestarian alam (213. 435/Menhut-II/2009 seluas 1.994.302.77 327.660 ha).12 20.Ditjen Bina Produksi Kehutanan dalam Statistik kehutanan 2010 Selain kayu bulat hutan juga memproduksi hasil hutan non kayu.248.12 155.863. Hak Guna Usaha (HGU) seluas 84. reklamasi dan restorasi lahan terdegradasi.780 ha.048.779.85 123.46 Penghasil HPH IPK HPHTI IPKTM Jumlah Sumber : Data dan Fakta Pembangunan Kehutanan di Kalimantan Selatan.478.93 2006 5.6841 ha .537. Luas kawasan hutan berdasarkan penggunaannya pada tahun 2008 diperuntukkan menjadi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) sekarang IUPHHK (Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu) seluas 291. dan hutan lindung (151.786. H.64 1. hutan produksi(762.285 ha).933.37 11.72 2007 26.68 276.425 ha).112.317.290. Kawasan hutan tersebut dibagi berdasarkan fungsinya. Hutan Tanaman Industri (HTI) sebesar 383. Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Selatan.424).24 2008 23.83 120. HPHTI (Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri).188 ha).42 329. Data produksi hasil hutan non kayu disajikan dalam Tabel II.461.40.63 6.88 Tabel II.952.907.587. Banjarbaru.175.743 ha.29 406.234.956.967 ha. IPK (Ijin Pemungutan Kayu).820. dan Ijin Pemungutan Kayu Tanaman Masyarakat (IPKTM). dan pertambangan sebesar 658.982 ha.BAB II pengelolaan lingkungan seperti timber extraction (penambangan kayu).481.033.89 74.51 162. Produksi kayu bulat yang berasal dari hutan ada kecenderungan menurun dari tahun ke tahun Produksi kayu bulat dihasilkan oleh HPH/IUPHHK.44 244.87 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .55 84. Sumberdaya Hutan Data terbaru luas hutan di Kalimantan Selatan didasarkan SK Menhut No. dan sarang burung.698.

Berdasarkan data tersebut.BAB II Tabel II.93 0 72.060 121.603 43.745 44.043 1 Tabalong 2 Hulu Sungai Utara 3 Balangan 4 Hulu Sungai Tengah 5 Hulu Sungai Selatan 6 Tapin 7 Banjar 8 Banjarbaru 9 Barito Kuala 10 Tanah Laut 11 Tanah Bumbu 12 Kotabaru 13 Banjarmasin JUMLAH Sumber: BPDAS Barito Tahun 2005 dan 2009 Lahan kritis yang meluas setiap tahun seyogyanya harus dilakukan rehabilitasi hutan dan lahan.571 192.215 13.090 7.154 9.348 41.912 7.953 41.405 7.901 7.89 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .351.766 8. Tabel II.084 ha.00 36.90 Luas Lahan Tidak Kritis dan Lahan Kritis di Kalimantan Selatan 2003 dan 2008 Tidak Kritis Luas Wilayah 2003 2008 359.052 7.991 ha/tahun.2015 Page 120 .587 110.436 36.495 2.273 467.468 780 605.158 5. Akibatnya.000 121.443.550 674 502.60 1.705.60 1650 3.169 ha.2 237.705.140.297 13.635 256.873 761.634 180.522 26.41 Produksi kayu bulat yang menurun diyakini karena pengelolaan hutan yang tidak berkelanjutan.198 49.839 120. sedangkan tahun 2008 menjadi 761.438 65.344 0 556.712 2. Kal-Sel. Tahun 2003 lahan yang tidak kritis di Kalimantan Selatan mencapai 605.045 217.250 5.959 84.155 52. namun pada tahun 2008 lahan tidak kritis menjadi hanya 110.200 68. terjadi peningkatan lahan kritis rata-rata seluas 40.919 372.517 100.065 75 2007 4.334 57.931 4. Tabel II.644 0. Dishut Prov.494 54.89 Jumlah Produksi Hutan Non Kayu Menurut Jenis di Kalimantan Selatan 2005-2009 Jenis Produk Rotan Madu Sirap Sarang Burung Satuan Kg Liter M3 Kg 2005 168.88 menyajikan luas lahan tidak kritis dan kritis berdasarkan wilayah administrasi kabupaten/kota tahun 2003 dan 2008.587 ha.229 946.651 28.159 9.00 1.200 2.622 132. H.268 71. Luas areal yang direhabilitasi setiap tahun berdasarkan jenis kegiatan masing-masing disajikan pada Tabel II.776 1.741 147.00 2008 58 122 2009 13.297 30.084 2008 56.2 2006 125.00 121.930 48.144.267 1.42 403. hutan menjadi kritis.237 76.043 ha.694 110.275 2.274 35.169 No Kabupaten/Kota Kritis 2003 41.000 181 Sumber : Data dan Fakta Pembangunan Kehutanan di Kal-Sel. 2010.249 50. Realisasi rehabilitasi hutan dari tahun ke tahun cenderung menurun padahal luas lahan kritis semakin meningkat. Sementara lahan kritis pada tahun 2003 seluas 556.462 9.995 12.

go. Phospat. cadangan batubara yang terukur adalah 1. Batu Gamping. tahun 2003 adalah 46. Sumberdaya Mineral dan Pertambangan Kalimantan Selatan kaya akan sumber daya pertambangan dan galian.Sel (2007) d.2015 Page 121 .000 ton (Lapan. Marmer.195. Biji Nikel. Pasir Kuarsa. Biji Kronit. PT.958.931. Bijih Besi.21% dari total produksi nasional sebesar 132. yaitu sebesar 54. Tapin. Tanah Laut. Berdasarkan data pada tahun 2007.16 ton. yang tercatat secara resmi pada tahun 2002 adalah 21.79 ton pada tahun 2004.915.977.229 ha meliputi 16 kecamatan dengan sumber daya 155. Intan.35% dari total produksi nasional sebesar 114. Granit. HSU. Hulu Sungai Selatn dan Banjarbaru. Jumlah produksi tersebut menyumbang sebesar 40.Kal. diantaranya Minyak Bumi. HSS.278. Adaro Indonesia. Beberapa daerah yang memiliki potensi batubara diantaranya Kabupaten Kotabaru. Balangan. Batu Bara. Lempung.395.953 milyar ton sedangkan sumberdaya batubara diperkirakan 6. Basalt. Banjar.024. dan Tabalong).6 205 50 250 4800 2003 7936 100 Tahun 2004 15000 0 70 6000 2005 14020 0 0 4250 2006 1600 0 0 875 Sumber: Dinas Kehutanan Prov.352.80 ton dan meningkat pada tahun 2004. Kaolinesi. HST.590 ton (www. serta keberadaannya hampir menyebar di seluruh kabupaten (Banjar. Potensi batubara cukup besar dengan kualitas yang baik. PT Antang Gunung Meratus. Balangan. Andesit. produksi batubara di Kalimantan Selatan. Tapin. Potensi sumber daya mineral unggulan saat ini berupa batubara dan bijih besi. Biji Emas.116.91 Kegiatan Pembangunan Hutan di Kalimantan Selatan 2005-2009 Kegiatan 2002 Reboisasi (Ha) Hutan Kemasyarakatan (Ha) Rehabilitasi Hutan Bakau (Ha) Hutan Rakyat (Ha) 2442. Diorit. Kabupaten Tapin memiliki deposit batubara kilap terang sebanyak 116.450.BAB II Tabel II. PT Jorong Barutama Greston dan PT Bahari Cakrawala Sebuku.054 milyar ton. Tabalong. Tanah Bumbu. Arutmin Indonesia. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (2005) dan Indonesian Coal Mining Association (2005) .540. 2004).430 ton dan batubara kilap kusam 429. PT Tanjung Alam Jaya. dimana sebagian besar produksi batubara tersebut dihasilkan oleh perusahaan besar seperti PT. Periodotit. Dan jumlah ini merupakan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kotabaru.tapinkab. Gambut. Oker. Granodiorit. Deposit batubara di (1) Kotabaru diperkirakan 80 juta ton dan bahkan sampai 300 juta ton untuk kedalaman 150 meter.13 ton pada tahun 2003 dan 41.289. (2) Kabupaten Tabalong mencakup luasan 42.id) Dalam Indonesia Mineral and Coal Statistics. (3).

Sementara itu deposit diperkirakan sebesar 86 juta ton berada di P.784 karat yang tersebar 660.99 ton dan pada tahun 2004 sebesar 34.666.300 ton (insitu) dan 2.530 ton (2004) dan 737. Blok Riam Pinang dan Blok Talok.818. Potensi sumber daya alam lainnya yang sangat terkenal dari Kalimantan Selatan adalah pertambangan intan di Kota Banjarbaru. Gunung Kukusan.06 miliar. Selain itu diperkirakan deposit bijih besi juga terdapat di Sungai Kupang. Sumberdaya bijih besi di Kabupaten Tanah Laut sebesar 2. Galuh Cempaka yang mempunyai areal konsesi seluas 3.805. Kabupaten Tanah Bumbu mempunyai cadangan sebanyak 51.71 ton pada tahun 2003 dan sebesar 68.479. Data dari Dinas Pertambangan Kotabaru menunjukkan bahwa lahan yang sudah dieksploatasi untuk bijih besi meliputi areal 9528 ha.168 ton (2005).317 juta ton dengan nilai US$ 1.2015 Page 122 . 2.748 karat (Majalah Warta.000 karat di Cempaka dan Danau Seran 84. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .66 juta rupiah menjadi 27.153.25 juta rupiah per orang.38 ton pada tahun 2004. 2002). Dalam skala besar saat ini ijin pertambangan intan dikuasai oleh PT.920 ha di Danau Seran dan Cempaka. Volume ekspor selama Januari-Juni 2007 mencapai 46. Dalam bentuk tonage telah digali biji besi sebanyak 59.693. Namun terdapat pula pengaruh besaran inflasi karena menggunakan PDRB harga berlaku. Selama tahun 2007 – 2008 nilainya meningkat sebesar 10.000 ton (deluvial) berupa endapan besi laterit di daerah Gunung Kukusan dan Sungai Kusan hulu.682. dari 24.49 persen.500 ton tersebar di Blok Pelaihari.4. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan kapasitas pekerja dalam menghasilkan nilai tambah produksi meningkat.35 ton.499.21 ton. Sebuku. Pulau Laut dan Tanjung Senakin.462.4.263.467.891. Produksi batubara yang tercermin dalam ekspor batubara masih menunjukkan tren yang meningkat seiring dengan tingginya permintaan luar negeri. Gunung Gumpa.794 juta ton dengan nilai US$1. meningkat 28.674.52 ton dan pada tahun 2004 sebesar 14.85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 36. Hasil studi kelayakan yang pernah dilakukan menyebutkan bahwa lokasi tersebut menyimpan intan sejumlah 744.BAB II kedua terbesar setelah Kalimantan Timur yang memproduksi sebesar 57.239. Kemudian tercatat penjualan domestik batubara Kalimantan Selatan pada tahun 2003 sebesar 13.43 miliar. Sumber Daya Manusia Tingkat produktivitas pekerja dihitung dengan membandingkan nilai PDRB atas dasar harga berlaku terhadap jumlah pekerja. Blok Sungai Bakar. sedangkan untuk penjualan ekspor batu bara Kalsel pada tahun 2003 sebesar 32.396.3.

740 43. Keuangan dan Jasa) Untuk wilayah regional Kalimantan.-.. masing-masing Rp.664.358 189.708.84 25.868.18 7. Listrik dan Bangunan) TERSIER (Perdagangan.295.515.252.231 KALSEL 24.90 675.251.09 1.212.33 27.579.943.73 781.887.dan Rp.25. Angkutan. tingkat produktivitas tenaga kerja Kalimantan Selatan pada 2008 sebesar Rp. 2007 – 2008 *) 2007 Sektor PDRB Berlaku (Juta Rp) Tenaga Kerja (Orang) Produktivitas Tenaga Kerja (Rp) PDRB Berlaku (Juta Rp) 2008 Tenaga Kerja (Orang) Produktivitas Tenaga Kerja (Rp) PRIMER SEKUNDER TERSIER TOTAL 17.598.755.946.797.020.936 11.423 25.035 16.702.742 27.413.838.137.682.222.472 34.16 24.699.2015 Page 123 . Sementara itu tingkat produktivitas tenaga kerja di Kalimantan Barat merupakan yang terendah dengan pencapaian sebesar 11.116.069.285.868.740.838.16 628.740.252.767.937.111 28.251.. 43.180 24.298.099 37.120.81 37.127.438.752 181. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .24.596 KALTIM 127.419 22. Sementara itu.466.516 18.742.422.00 23.40 7.868. 2008*) (Rp) Sektor PRIMER SEKUNDER TERSIER KALBAR 5. Tabel II.981 17.30 juta rupiah.94 juta).BAB II Tabel II.230.670.623.573 30.93 Produktivitas Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha di Regional Kalimantan.574. sektor primer dan tersier jauh lebih rendah..25 juta menduduki peringkat kedua setelah Kalimantan Timur (Rp.79 813.713.395 286.068.882 KALTENG 10.595.Sel *) Agustus SEKUNDER (Industri.845 TOTAL Sumber: Hasil Sakernas masing-masing Provinsi Tahun 2008 *) Keadaan Bulan Agustus Secara sektoral. produktivitas tenaga kerja di sektor sekunder mencapai nilai tertinggi Rp.251.382 106.204 39.07 1.80 14.139 Ket: PRIMER (Pertanian dan Pertambangan) Sumber: BPS Kal.106.06 43.836.838.90 20.423.292.742.27.207 45.92 Produktivitas Tenaga Kerja menurut Lapangan Usaha di Kalimantan Selatan.112.

874.1 43.00 1.BAB II Tabel II.2 26.6 2010 1.3 29.60 3.00 2.9 328.489.61 186.30 3.00 100.9 293.9 3.4 318. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .70 1.759.7 168.4 66.4 70 4.3 54.80 1.5 2015 1.4 1.767.7 1.7 43 Sumber : Proyeksi BPS Prov.2 307.20 3.743.984.5 193. Kalsel.7 3.80 101 1.10 100.6 32 64.240.495.2015 Page 124 .30 100.503.893.7 49.7 2005 1.614.625.94 Kondisi dan Proyeksi Parameter Kependudukan Kalimantan Selatan 2000 – 2015 Parameter Penduduk Male Female Total Sex ratio Laju pertumbuhan (%) Batita (< 3 tahun) Balita (< 5 tahun) Komposisi umur (%) 0-14 15-64 65+ Dependency ratio (%) 2000 1.9 1.4 25.60 1.2 69.7 4.4 196.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->