BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH RPJMD 2011-2015

BAB II

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
2.1. 2.1.1 Aspek Geografis dan Demografis Letak Geografis dan Batas Administrasi Wilayah

Provinsi Kalimantan Selatan dengan ibukota Banjarmasin terdiri atas 11 kabupaten dan 2 kota, terletak antara 114 °19' 13'' - 116°33' 28'' Bujur Timur dan 1° 21' 49'' – 4 °10' 14'' Lintang Selatan, memiliki luas wilayah hanya 6,98 persen dari luas Pulau Kalimantan secara keseluruhan yaitu seluas 37.530,52 km2 dengan batas –batas : sebelah barat dengan Provinsi Kalimantan Tengah sebelah timur dengan Selat Makasar, sebelah selatan dengan Laut Jawa sebelah utara dengan Provinsi Kalimantan Timur. Kondisi alam Provinsi Kalimantan Selatan terdiri atas daerah pantai, dataran rendah dan perbukitan/pegunungan. Kemiringan tanah dengan 4 kelas klasifikasi menunjukkan bahwa sebesar 43,31 persen wilayah Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2%. Rincian luas menurut kemiringan adalah sebagai berikut: 0 - 2% : 1.625.384 Ha (43,31%) >2 - 15% : 1.182.346 Ha (31,50%) >15 - 40% : 714.127 Ha (19,02%) >40% : 231.195 Ha (6,16%) Menurut jenis tanahnya, meliputi Podsolik Merah Kuning (PMK), Latosol, Litasol, Podsolik Merah Kuning Litosol, Komplek Podsolik Merah Kuning Organosol Gley Humus, PMK Dataran Tinggi, PMK Pegunungan , dan Alluvial. Wilayah Kalimantan Selatan juga banyak dialiri sungai. Sungai tersebut antara lain Sungai Barito, Sungai Riam Kanan, Sungai Riam Kiwa, Sungai Balangan, Sungai Batang Alai, Sungai Amandit, Sungai Tapin, Sungai Kintap, Sungai Batulicin, Sungai Sampanahan dan sebagainya. Umumnya sungai-sungai tersebut berpangkal pada pegunungan Meratus dan bermuara di Laut Jawa dan Selat Makasar. Data tahun 2008 menyebutkan bahwa penggunaan lahan di Kalimantan Selatan meliputi Lahan pemukiman/kampung seluas 59.563 ha, industri 2.489 ha, pertambangan 42.111 Ha, sawah 426.067 ha, pertanian lahan kering semusim 60.680 ha, kebun campuran 171.642 ha, perkebunan 486.448 ha, padang/semak belukar/alang-alang 830.684 ha, hutan 1.613.431 ha, perairan darat 45.731 ha, tanah terbuka 3.713 ha, dan lain-lain 59.997 ha. Wilayah Kalimantan Selatan menyimpan beberapa potensi bahan galian pertambangan seperti mineral, batu bara, minyak dan gas bumi, intan, dan lain-lain.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 2

BAB II 2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah

Potensi Pengembangan Wilayah dievaluasi dari unsur-unsur potensi geografis, penduduk, ekonomi wilayah, sektor andalan, sektor pendukung, sektor investasi, keuangan dan pembiayaan, dan pendukung dan transportasi. Potensi pengembangan wilayah Provinsi Kalimantan Selatan didekati dengan kebijakan perwilayahan. Kebijakan perwilayahan didasarkan atas efektivitas pembangunan di seluruh Provinsi dan untuk mensinkronkan pembangunan berbagai sektor andalan yang akan dikembangkan di masing-masing wilayah kabupaten/kota agar pengembangannya tidak saling tumpang tindih satu sama lain, sehingga potensi yang dimiliki masing-masing daerah dapat dikembangkan secara optimal dan terintegrasi. Pengembangan potensi secara spasial dilakukan melalui kebijakan pengembangan kawasan strategis Provinsi. Kawasan strategis wilayah Provinsi terdiri atas Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan Kawasan Strategis Provinsi (KSP). Kawasan Strategis Nasional dimaksud Kawasan Strategis Nasional Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi yaitu Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Batulicin. Kawasan Strategis Provinsi (KSP) dimaksud terdiri atas (1) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi; (2) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup; (3) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertahanan dan Keamanan Negara. Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi terdiri atas : a. Kawasan Metropolitan Banjar Bakula yang meliputi wilayah administrasi pemerintahan Kota Banjarmasin (Kecamatan Banjarmasin Selatan, Banjarmasin Timur, Banjarmasin Tengah, Banjarmasin Barat, Banjarmasin Utara), Kota Banjarbaru (Kecamatan Banjarbaru Utara, Banjarbaru Selatan, Landasan Ulin, Liang Anggang, Cempaka ), sebagian Kabupaten Banjar (Kecamatan Kertak Hanyar, Gambut, Sungai Tabuk, Aluh- Aluh, Beruntung Baru dan Martapura, Martapura Timur, Martapura Barat, Astambul, Mataraman, Karang Intan), sebagian Kabupaten Barito Kuala (Kecamatan Alalak, Mandastana, Anjir Muara, Anjir Pasar, Tamban, Tabunganen, Mekarsari), sebagian Kabupaten Tanah Laut (Kecamatan Bati-Bati, Kurau, Tambang Ulang, Bumi Makmur); b. Kawasan Rawa Batang Banyu yang meliputi wilayah administrasi pemerintah Kabupaten Barito Kuala (Kecamatan Balawang, Barambai, Cerebon, Wanaraya, Bakumpai, Tabukan, Kuripan), sebagian Kabupaten Banjar (Kecamatan Simpang Empat), sebagian Kabupaten Tapin (Kecamatan Candi Laras Selatan, Candi Laras Utara dan Tapin Tengah), sebagian Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Kecamatan Daha Selatan, Daha Utara, Kalumpang ), Kabupaten Hulu Sungai Utara (Kecamatan Danau Panggang, Babirik, Sungai Pandan, Amuntai Selatan, Amuntai Utara, Amuntai Tengah dan Banjang), sebagian Kabupaten Tabalong (Kecamatan Pugaan, Banua Lawas, Kelua, Muara Harus); c. Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM), yaitu KTM Cahaya Baru di Kabupaten Barito Kuala dan KTM Sengayam di Kabupaten Kotabaru; d. Kawasan Perdagangan, Industri dan Jasa, yaitu kawasan yang berbasis pada pengembangan perdagangan, jasa dan industri dan berpotensi menjadi kawasan ekonomi khusus yaitu di Kawasan Mekar Putih dan Kawasan Pulau Lari-Larian di RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 3

biologis. dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah. 2) Kawasan tertentu di pegunungan Maratus di Kabupaten Banjar. Balangan.BAB II Kabupaten Kotabaru. daerah pendaratan. klimatologis. Tanah Laut. ekonomi. dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu. daerah basis militer. gudang amunisi. daerah pembuangan amunisi. baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. 2.1. dan dampak psikologis. daerah uji coba persenjataan. budaya. kawasan terbuka sepanjang pantai timurtenggara wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan berbagai pola pemanfaatan ruang baik lindung maupun budidaya di Kabupaten Tanah Laut. daerah pembuangan amunisi. (2) Kebakaran hutan dan lahan. sebagai daerah pertahanan darat dan daerah pertahanan udara. frekuensinya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. gudang amunisi dan daerah ujicoba persenjataan. Tanah Bumbu dan Kotabaru. Tapin. gudang amunisi. daerah basis militer. Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertahanan dan Keamanan Negara terdiri atas : 1) Kawasan tertentu di sepanjang pesisir pantai dan laut di Kabupaten Barito Kuala. sosial. kerugian harta benda. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. daerah pembuangan amunisi dan peralatan pertahanan lainnya. kerusakan lingkungan. Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala. yaitu: (1) Banjir. b. meredam. Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis. Ada tiga bencana alam yang rawan di Kalimantan Selatan. Kawasan Pegunungan Meratus. Tanah Bumbu dan Kotabaru sebagai daerah pertahanan laut. 3) Kawasan tertentu di Kota Banjarbaru dan Banjarmasin yang diperuntukan bagi basis militer. daerah latihan militer. mencapai kesiapan. yaitu kawasan hutan lindung yang memanjang dari Kabupaten Kotabaru sampai dengan Kabupaten Banjar termasuk kawasan Tahura Sultan Adam. geografis. Tanah Bumbu.1. Hulu Sungai Tengah. daerah latihan militer.3. daerah latihan militer. Banjar. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dan (3) Tanah longsor Banjir terjadi setiap tahun. Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup terdiri atas : a. Kotabaru. Wilayah Rawan Bencana Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan. Kawasan Jorong (Kabupaten Tanah Laut) dan Kawasan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu. Data jumlah banjir di Kalimantan Selatan dari tahun 2006 – 2009 disajikan pada Gambar II. politik. Hulu Sungai Selatan.2015 Page 4 . Tanah Laut. daerah ujicoba persenjataan dan daerah industri pertahanan. hidrologis. Tabalong.

Balangan. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . menenggelamkan 60 kecamatan dan 551 desa.1. Menurut data Dinas Kesejahteraan Sosial Kalimantan Selatan. Tabel II. yaitu hampir tidak ada musim kemarau yang jelas pada tahuntahun terakhir . Hulu Sungai Utara.2015 Page 5 .BAB II Ada sembilan kabupaten di Kalimantan Selatan yang sering terendam banjir.925 rumah yang dihuni 6. Banjar. Kebakaran hutan dan lahan cenderung meningkat hingga tahun 2006. Beberapa kali kejadian banjir telah pula menimbulkan korban jiwa. berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan tahun 2009. sebaliknya pada musim kemarau sering terjadi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan. Pada musim hujan kebanjiran. Fasilitas umum yang juga terendam sebanyak 248 sekolah dan 26 puskesmas. Jumlah titik panas per kabupaten di Kalimantan Selatan tahun 2005 – 2009. yang dapat dilihat dari titik panas (hot spot). Banjir yang terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu (khususnya di Kecamatan Kusan Hulu dan Kusan Hilir) telah merendami sedikitnya 1. 3.2009 KABUPATEN Tabalong Balangan HSU HST HSS Tapin Banjar Banjarbaru Barito Kuala Banjarmasin Tanah Laut Tanabu Kotabaru JUMLAH 2005 17 13 14 4 82 79 147 17 98 1 106 40 63 686 2006 171 215 158 109 766 943 1128 167 665 6 479 274 732 5813 TAHUN 2007 90 73 30 16 184 146 146 23 80 11 78 105 183 1165 2008 40 30 15 2 39 5 19 1 18 9 14 1 10 203 2009 45 45 86 25 97 185 215 14 138 2 142 81 183 1258 Sumber : Badan nasional penanggulangan bencana (BNPB). kerugian akibat bencana alam tersebut mencapai Rp. yaitu: Tabalong.461 warga dan telah terjadi tiga kali banjir sepanjang tahun 2010. Tapin.1 miliar. dan Kotabaru. Kalimantan Selatan termasuk dalam 10 provinsi yang menjadi perhatian Departemen Kehutanan dalam masalah kebakaran hutan dan lahan ini. Pada tahun berikutnya cederung menurun karena faktor alam. Tanah Laut. Banjir yang melanda sembilan kabupaten tersebut. disajikan pada Tabel II.1 Jumlah Titik Panas Menurut Kabupaten/Kota Di Kalimantan Selatan Tahun 2005 . Hulu Sungai Selatan. Tanah Bumbu.

Akibat bencana tersebut.2015 Page 6 . Tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu di Kecamatan Kusan Hulu. Tingkat Kerawanan Bencana Tanah Longsor Menurut Daerah di Kalimantan Selatan Daerah(Kab/Kota) Tingkat Kerawanan Hulu Sungai Selatan Tinggi Tabalong Sedang Balangan Rendah Hulu Sungai Utara Sedang Hulu Sungai Tengah Sedang Kota baru Rendah Tapin Sedang Barito Kuala Sedang Kota Banjarmasin Sedang Kota Banjarbaru Sedang Tanah Laut Sedang Banjar Sedang Tanah Bumbu Rendah Sumber : Badan nasional penanggulangan bencana (BNPB). Gambar II.BAB II Bencana yang juga rawan akibat adanya curah hujan yang tinggi selain banjir adalah tanah longsor. Tanah longsor pernah terjadi di perbatasan antara Kabupaten Tapin dan Banjar. warga yang tinggal di pedalaman tersebut menjadi terisolasi.2. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Tabel II.2. tepatnya di Desa Bagak. Kabupaten Tapin. Peta Indeks Rawan Bencana di Kalsel Sumber: Badan nasional penanggulangan bencana (BNPB).1. Kecamatan Hatungun. Daerah rawan bencana tanah longsor Kalimantan Selatan berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) disajikan pada Tabel II. 2010 Untuk lebih jelas tingkat kerawanan wilayah bencana tanah longsor ini disajikan dalam suatu peta yang ditunjukkan pada Gambar II.1.

Martapura. melakukan kegiatan dan memeliharan kelangsungan hidupnya. perdagangan lokal.2015 Page 7 . sistem jaringan transportasi. a. 2. pelayanan wilayah belakang. perdagangan lokal. Langkah-langkah yang dilakukan selama ini untuk mengantisipasi terjadinya banjir antara lain : (1) normalisasi daerah aliran sungai (DAS) dan pembuatan batas tebing. Sistem Perkotaan Sistem perkotaan di Provinsi Kalimantan Selatan adalah : 1. 8. industri dan perdagangan regional dan nasional. dan pendidikan tinggi 4. telekomunikasi dan sumber daya air. Tanjung. perdagangan regional dan nasional. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) terdiri atas Kota Marabahan. industri regional. Sementara itu tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. dengan fungsi pusat perdagangan lokal. pemerintahan lokal.1. Kandangan. Pelaihari. 3. sebagai pusat jasa. pemerintahan lokal. pemerintahan lokal. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . pelayanan wilayah belakang 10. 6. (3) mendorong pemerintah pusat untuk moratorium pertambangan dsb.BAB II Jenis bencana alam yang sering terjadi antara lain adalah bencana banjir dan kebakaran hutan dan lahan. dan ruang udara termasuk di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah. 5. (2) rehabilitasi hutan dan rawa. pelayanan wilayah belakang. pelayanan wilayah belakang.1. (2) membentuk tim penanggulangan kebakaran hutan dengan keterlibatan berbagai sektor. Untuk pencegahan terjadi bencana kebakaran hutan dan rawa. pelayanan jasa kesehatan regional.4. industri dan perdagangan regional. 2. pelayanan wilayah belakang 9. sebagai pusat jasa. kota transit 7. pelayanan wilayah belakang. Batulicin. Rantau. tempat manusia dan makhluk lain hidup. perdagangan lokal dan jasa pariwisata regional. industri nasional.1. 2. Paringin. Amuntai dan Kotabaru. Kota Banjarbaru dengan fungsi pusat pemerintahan provinsi. energy dan kelistrikan. jasa transportasi udara nasional. pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya antara lain : (1) membuat Peraturan Daerah (Perda). dengan fungsi pusat pemerintahan kabupaten. Barabai. ruang laut. dan (3) melakukan rencana aksi bersama Kabupaten/Kota dan masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangannya. dengan fungsi pemerintahan lokal.4. Tata Ruang Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat. dengan fungsi pusat pemerintahan kabupaten. Struktur Ruang Struktur ruang wilayah Provinsi Kalimantan Selatan meliputi system perkotaan. dengan fungsi pusat perdagangan regional Banua Anam. pemerintahan kabupaten. Pusat Kegiatan Nasional (PKN) adalah Kota Banjarmasin.

Kuala Kapuas – Banjarmasin. perdagangan regional dan nasional. Banjarmasin . Jalan penghubung lintas jalan lintas Kalimantan yaitu Lianganggang Martapura – Kandangan . yaitu ruas Banjarmasin – Palangkaraya. jasa pariwisata nasional. Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kabupaten Kotabaru. c) d) c. Jalan lintas Selatan Kalimantan yaitu ruas batas Provinsi Kalimantan Tengah – Banjarmasin – Lianganggang – Batulicin – Batas Provinsi Kalimantan Timur 2. 2. dengan fungsi pusat pemerintahan provinsi. Kota Banjarbaru. jasa transportasi udara nasional. 2. Batulicin – Tanah Grogot. Terminal Penumpang Tipe B Kota Banjarmasin. jasa dan perdagangan nasional. Kelua – Pasar Panas (Batas Provinsi Kalimantan Tengah).Pleihari. 3. pemerintahan lokal.Batulicin. Kabupaten Barito Kuala. Jalan kolektor lainnya yaitu ruas Marabahan – Simpang Serapat. Lianganggang .Tanjung Mabuun – Batas Provinsi Kalimantan Timur. industri nasional. Pantai Hambawang – Barabai – Paringin – Mambuun. Jalan bebas hambatan dalam Kawasan Metropolitan Banjarmasin. Sistem Jaringan Transportasi a) Jaringan jalan arteri primer. Kota Martapura. Terminal Penumpang Tipe A di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar. Terminal meliputi : 1. pelayanan wilayah belakang. Jalur kereta api untuk angkutan penumpang antar kota PKN. 2. kegiatan keagamaan regional dan nasional 2.Pantai Hambawang – Amuntai . 6. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . industri dan perdagangan regional dan nasional. dengan fungsi pusat industri dan perdagangan intan nasional. Marabahan – Banjarmasin. terdiri atas : 1.BAB II Pusat kegiatan yang dipromosikan untuk ditetapkan menjadi PKN (PKNp) adalah : 1. Pagatan . 5. 4. Pleihari – Pagatan. Kabupaten Hulu Sungai Utara.2015 Page 8 . Jalan lintas Selatan Kalimantan yaitu ruas Lianganggang – Pelaihari – Batulicin – Manggalau – Batas Provinsi Kalimantan Timur. b. Sistem pengembangan jaringan jalur kereta api meliputi : 1. b) Jaringan jalan kolektor primer yang menghubungkan antar Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan (K-1) terdiri atas : 1. 7. 8.Lianganggang. dan pendidikan tinggi 3. pemerintahan kabupaten. Jaringan jalan bebas hambatan terdiri atas : 1. Kota Batulicin sebagai pusat jasa.

Marabahan. Pembangunan jalur kereta api untuk angkutan penumpang dan barang antar kota PKN dengan PKW dan PKL . PLTD Amuntai. Batas Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Timur – Kabupaten Tabalong – Kabupaten Balangan . 2. Danau Panggang di Kab. Batas Kalimantan Tengah Banjarmasin – Pelaihari – Asam-Asam – Satui – Pagatan – Batulicin – Kotabaru – Batas Kalimantan Timur. Kotabaru. Bandar udara pengumpul skala sekunder adalah Syamsudin Noor – Banjarmasin di Kota Banjarbaru. Hulu Sungai Utara di tepi Sungai Negara. Tapin. Pelabuhan penyeberangan nasional yaitu pelabuhan penyeberangan lintas provinsi adalah Pelabuhan Trisakti di Kota Banjarmasin dan Pelabuhan Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) meliputi : PLTD Pagatan. yaitu : Batas Kalimantan Timur di Kabupaten Pasir – Kabupaten Kotabaru – Kabupaten Tanah Bumbu – Kabupaten Tanah Laut – Tanjung Selatan.BAB II 2. PLTD Barabai. Sistem kepelabuhanan terdiri atas : 1. Pelabuhan pengumpul yaitu Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu.tenggara Kalimantan Selatan. Bandar udara pengumpul skala tersier adalah Gusti Syamsir Alam/ Stagen di Kab. 3. Hulu Sungai Utara. 3. 2. Sistem jaringan pelabuhan (dermaga) sungai terdiri atas : 1. PLTD Rantau. yaitu ruas : Tanjung – Barabai – Rantau – Martapura – Banjarmasin.Batas Kalimantan Timur di Kabupaten Pasir – Kabupaten Kotabaru – Kabupaten Tanah Laut. Pelabuhan (dermaga) Margasari di Kab. PLTD Bungkukan Kotabaru. PLTD Sungai Bali RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Bandar udara pengumpan Tanjung Warukin di Kabupaten Tabalong g. Jaringan prasarana kereta api untuk angkutan barang pada sentra-sentra produksi terutama untuk komoditas sumberdaya mineral dan komoditas perkebunan pada sebelah timur . yaitu : ruas Batas Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Timur – Kabupaten Tabalong – Kabupaten Hulu Sungai Utara – Kabupaten Hulu Sungai Tengah – Kabupaten Hulu Sungai Selatan – Kabupaten Tapin – Kabupaten Banjar – Kabupaten Tanah Laut. Pelabuhan (dermaga) Banjar Raya di Kota Banjarmasin. Negara di Kab. Banjarmasin – Batulicin. d. Babirik di Kab. PLTD Gunung Batu Besar Kotabaru.2015 Page 9 . Hulu Sungai Utara. Jalur kereta api untuk angkutan barang pada sentra-sentra produksi terutama untuk komoditas sumberdaya mineral dan komoditas perkebunan pada sebelah barat Pegunungan Meratus. Tanjung – Tanah Grogot – Balikpapan. 3. 2. Sistem jaringan energi dan kelistrikan terdiri atas : 1. Pelabuhan utama yaitu Trisakti di Kota Banjarmasin. f. Hulu Sungai Selatan. Ujung Panti. PLTD Kotabaru. PLTD Sungai Kupang Kotabaru. e. Tanjung – Buntok – Muarateweh. Tatanan kebandar udaraan terdiri atas : 1. Amuntai di Kab. 4. Kuripan di Kabupaten Barito Kuala di tepi Sungai Barito.

4. Kota Marabahan – Kota Banjarmasin. DI Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Belawang. Handil Bakti. Bendung nasional. meliputi Bendung Tapin di Kabupaten Tapin. DI Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Terantang. 2. PLTU Sigam Kotabaru. meliputi DI Jejangkit II di Kabupaten Barito Kuala. DI Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. PLTU IPP Binuang. Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) meliputi : PLTU Asam-Asam Tanah Laut. Barambai. Bendung Karang Intan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru.2015 . PLTD Tanjung Seloka Kotabaru. Sistem Jaringan irigasi terdiri atas : 1. Bendung Pitap di Kabupaten Balangan. Bendung Telaga Langsat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Bendung Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Bendungan nasional meliputi Bendungan PLTA Ir. Sistem Jaringan telekomunikasi meliputi : Sistem jaringan mikro digital. Jaringan saluran irigasi nasional. DI Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. DI Telaga Langsat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Pangeran Muhammad Noor. 3. Kusan Tanah Bumbu. DI Telaga Langsat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Sengayam dan Sampanahan Kotabaru. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 2. 3. PLTU Kusan Tanah Bumbu. PLTU Batulicin. Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) meliputi : PLTG Trisakti Banjarmasin. Daerah Irigasi (DI) nasional. DI Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. DI Tapin Kabupaten Tapin. DI Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. DI Sungai Bungur di Kabupaten Kotabaru. terdiri dari : batas provinsi Kalimantan Tengah – Marabahan – Kota Banjarmasin. Rantau – Kandangan. DI Kotabaru-Berangas di Kabupaten Kotabaru. PLTD Tanjung Lontar Kotabaru. Jelapat. DI Kotabaru-Berangas dan DI Sungai Bungur di Kabupaten Kotabaru. Anjir Serapat. . DI Jejangkit II di Kabupaten Barito Kuala. DI Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. terdiri atas : 1). PLTU Mulut Tambang Balangan. meliputi : Anjir Tamban. Tanipah. 2).BAB II Kotabaru. Seluang. DI Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. h. Kota Banjarmasin – Rantau . Kandangan – Barabai.dan DI Pitap (Kab Balangan) Jaringan rawa dan pantai terdiri atas : 1. Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) meliputi : Riam Kanan. DI Pitap di Kabupaten Balangan. DI Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. DI Pitap di Kabupaten Balangan. DI Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Sakalagun. PLTU Tanjung. PLTD Semaras Kotabaru. Barabai – Batas Provinsi Kalimantan Timur. Talaran di Kabupaten Barito Kuala. Bendung Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Jejangkit I. Belanti dan Alalak Padang di Kabupaten Page 10 j. saluran irigasi primer meliputi : Daerah Irigasi (DI) Tapin di Kabupaten Tapin. Riam Kanan di Kabupaten Banjar. saluran irigasi sekunder meliputi : DI Tapin di Kabupaten Tapin. k. Tabunganen. i. DI Telaga Langsat dan DI Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

2. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Gunung Kentawan di Kabupaten Kotabaru. SM. TWA Jaro di Kabupaten Tabalong. Muara Uya di Kabupaten Tabalong. DAS Kapuas. Talaran di Kabupaten Barito Kuala. Jejangkit I. DAS Martapura. kawasan sempadan mata air. Anjir Serapat. Kawasan rawan tanah longsor meliputi Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Balangan sampai perbatasan Provinsi Kalimantan Timur. TWA Pulau Kembang di Kota Banjarmasin. pelestarian alam di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam di Kabupaten Banjar. dan DAS Tapin. DAS Riam Kanan. 2. kawasan terbuka hijau kota yang lokasinya tersebar di Kabupaten/kota c. Terantang.2. Wilayah sungai lintas provinsi yaitu WS Barito-Kapuas yang melintasi Prov. Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru. TWA Pulau Bakut. Selat Laut dan Selat Sebuku. SM Pulau Kaget di Kabupaten Barito Kuala. DAS Ambawang. Kawasan suaka alam di cagar alam (CA) Teluk Kelumpang. Kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan pantai. Saluran/kanal banjir nasional meliputi : Sungai Barabai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Sungai Balangan di Kabupaten Balangan.BAB II Banjar. kawasan bergambut di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya seperti kawasan hutan lindung di Pegunungan Meratus. Kalsel dan Kalteng meliputi DAS Barito. e. Muning di Kabupaten Tapin. Situs Gua di Gunung Batu Babi. Negara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. b. dan Anjir Alalak Padang di Kabupaten Banjar. Tabunganen. DAS. d. Wilayah sungai (WS) Lintas kabupaten/kota meliputi WS Cengal – Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. Kawasan cagar budaya sebagaimana terdiri atas : Cagar Budaya Candi di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Negara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Murung. Belanti. SM Kuala Lupak di Kabupaten Tanah Laut. CA Sungai Lulan dan Sungai Bulan. Sakalagun.4. Taman Wisata Alam (TWA) yang meliputi TWA Pelaihari dan TWA Batakan di Kabupaten Tanah Laut.1. Belawang. Kabupaten Banjar. DAS Negara. Barambai. Polder Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. kawasan sempadan sungai. Seluang. Tanipah. 5.2015 Page 11 . Pola Ruang Pola ruang meliputi kawasan lindung yang terdiri atas : a. Daerah rawa (DR) nasional meliputi : Anjir Tamban. CA. 3. Jelapat. kawasan sekitar danau atau waduk. Handil Bakti.dan Polder Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Saluran rawa nasional Muning di Kabupaten Tapin. 4. dan resapan air di sekitar kawasan hutan lindung. dan kawasan Suaka Margasatwa (SM) yang meliputi : SM Pelaihari. DAS Riam Kiwa. CA Teluk Pamukan. Muara Sungai Asam-Asam.

Simpur di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. 2. kawasan pertanian TPH lahan sawah irigasi dikembangkan hampir di seluruh wilayah provinsi kecuali Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala. dan perikanan. Daha Barat. kawasan pertanian terdiri atas : 1. Hulu Sungai Selatan. 4. Daha Selatan. Pusat-pusat distribusi dan industri hasil pertanian di wilayah Kabupatenkabupaten Hulu Sungai Tengah. Tanjung Dewa. industri. Kawasan perkebunan terdiri atas : 1. Tanah Bumbu dan Kota Banjarmasin membentuk sentra komoditas padi dan hortikultura. lahan tadah hujan. Kawasan Andalan Kandangan dan sekitarnya dengan sektor unggulan : pertanian. Tabanio. pariwisata. perkebunan. Kawasan Konservasi Perairan Daratan (KKPD). pariwisata. Tanah Laut. industri. Kawasan Andalan Laut meliputi : Kawasan Andalan Laut Pulau Laut dsk. 3. kawasan pertanian TPH lahan pasang surut tersebar pada wilayah Kabupaten Barito Kuala. Perkebunan besar swasta maupun perkebunan besar pemerintah meliputi kawasan perkebunan yang tersebar di wilayah Kabupaten Barito Kuala. 7. Labuan Amas Utara di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. dengan sektor unggulan : perikanan. Kawasan Andalan Banjarmasin Raya dan sekitarnya dangan sektor unggulan : pertanian. perkebunan dan pariwisata. Tapin. Tanah Laut. Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). h. kawasan pertanian TPH lahan lebak tersebar hampir di seluruh wilayah provinsi kecuali Banjarmasin dan sebagain besar membentuk sentra komoditas palawija dan hortikultura. 5. g. kawasan pertanian TPH lahan kering tersebar hampir di seluruh wilayah provinsi kecuali Kabupaten Hulu Sungai Utara. kawasan pertanian tanaman pangan dan hortikultura (TPH) meliputi kawasan TPH lahan basah dan kawasan TPH lahan kering yang tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Selatan. 8.BAB II f. Kandangan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Page 12 i. 2. Banjar. Takisung di Kabupaten Tanah Laut. Kelumpang. kehutanan. menetapkan kawasan pertanian pangan berkelanjutan untuk mengendalikan alih fungsi kawasan pertanian.2015 . kawasan pertanian TPH lahan basah terdiri dari kawasan pertanian lahan sawah irigasi. dan pertambangan. Panyipatan. pertanian. Banjar. Kawasan Andalan Batulicin dan sekitarnya dengan sektor unggulan : perkebunan. Kawasan Andalan terdiri atas : 1. yaitu KKLD Terumbu Karang Bunati di Kabupaten Tanah Bumbu. Daha Utara. Teluk Tamiang dan sekitarnya di Kabupaten Kotabaru. 6. Balangan. palawija dan hortikultura. Barito Kuala dan Kota Banjarmasin yang membentuk sentra komoditas padi gogo. Bakarangan di Kabupaten Tapin. yaitu KKPD Paminggir. Hulu Sungai Tengah. Danau Panggang dan Amuntai Selatan di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kotabaru. 3. dan perikanan. Tanah Bumbu j. 4. lahan pasang surut dan lahan lebak.

Pulau Bakut Kabupaten Barito Kuala. Hulu Sungai Utara. Kurau. Banjar. Kawasan Laut Aluh-Aluh dan sekitarnya di Kabupaten Banjar. 3. Budidaya laut berada di Lontar. Tanjung Samalantakan. di gugus Pulau. daerah pengembangan unggas. Tanah Laut. m. Kerasian. Hulu Sungai Utara. Sarang Tiuang. Lontar. Rencana pengembangan kawasan perikanan dan kelautan terdiri atas : 1. Aluh-Aluh. Hulu Sungai Selatan. Banjarbaru dan Barito Kuala. Pamalikan. Tanah Bumbu. Birah-birahan. Hulu Sungai Selatan. Tapin. yaitu di Kabupaten Tapin. Sungai Bali. 2. Marabatuan. Takisung. Daerah pusat pemurnian ternak Sapi Bali. rampa. 5. Tanjung Mangkok di Kabupaten Kotabaru. Tabalong. Daerah tangkapan nener dan benur. Jorong s. Batakan. 5. Sebamban. Tanjung Seloka. Banjarbaru dan Banjar. Tapin. 4. Pulau Kaget. Obyek wisata alam. Hulu Sungai Tengah. Jorong. Kerayaan. Perikanan tangkap di wilayah Pantai Selatan Kalimantan. Pudi. Danau Panggang dan Danau Bangkau sebagai reservat perikanan darat. Tabalong. 3. Perkebunan rakyat meliputi kawasan perkebunan yang tersebar di wilayah Kabupaten Barito Kuala. yaitu di Kabupaten Barito Kuala dan pusat pemurnian ternak itik Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Pagatan. Sungai Loban. Hulu Sungai Tengah. Sebanti. yaitu Loksado di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Teluk Sirih. Banjar. Kawasan Laut Pulau Laut dan sekitarnya di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru. Tapin. Batulicin. Sungai Taib. yaitu di Kabupaten Tanah Laut.BAB II Banjar. yaitu di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Hulu Sungai Tengah dan daerah pusat pembibitan ternak kerbau/kerbau darat . 4. Kotabaru dan Balangan yang pada umumnya membentuk sentra komoditas kelapa sawit dan karet. Tanah Laut. Kawasan peruntukan peternakan terdiri atas : 1. Tahura Sultan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 6. k. Pantai. Budidaya tambak di pesisir timur Muara Kintap. Muara Asam-Asam. Berangas. Teluk Tamiang. Hulu Sungai Selatan. Hilir Muara. yaitu di Kabupaten Kotabaru. 2. Tanah Bumbu dan Kotabaru. Hulu Sungai Tengah dan Banjarbaru yang pada umumnya membentuk sentra komoditas karet. Balangan. Hulu Sungai Utara. Tanjung Batu. Daerah pusat pembibitan ternak sapi. Muara Kintap. yaitu di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Teluk Tamiang. daerah pengembangan ternak kambing.d Sungai Cuka di Kabupaten Tanah Laut. Selambau. Pagatan Besar. Tanah Laut. Kawasan Laut Kintap – Asam-Asam dan sekitarnya di Kabupaten Tanah Laut. Balangan.2015 Page 13 . Daerah pendaratan ikan. Tanah Bumbu. Batola. Sungai Danau. Kotabaru. yaitu Sungai Musang di Kabupaten Banjar. Tabalong. Matasirih. Daerah pusat pembibitan ternak kerbau kalang/kerbau rawa/kerbau darat. kelapa dalam dan kepala sawit dari hasil perkebunan swadaya dan pola kemitraan dengan perkebunan besar swasta. 2. Semisir. Tanah Bumbu. Kawasan pariwisata terdiri atas : 1. yaitu Kuala Lupak. Bunati. Kotabaru. Tabalong. Kuala Tambangan. Hulu Sungai Selatan. Pulau Kembang. 7. l.

Sarang Tiung di Kabupaten Kotabaru. Kubah Basirih di Kota Banjarmasin. Bunati di Kabupaten Tanah Bumbu. Zona Industri Barito Muara Barito Kuala di Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala yang berorientasi pada industri kehutanan.BAB II Adam dan Lembah Kahung di Kabupaten Banjar. bahan kimia. 10. 7. perikanan dan kelautan serta industri baja. Tanjung Puri di Kabupaten Tabalong. kimia. Air Panas Hantakan. Kawasan industri terdiri atas : 1. 4. Zona industri Liang Anggang di Kota Banjarbaru yang berorientasi pada industri minuman. 2. Zona industri Bati-Bati di Kabupaten Tanah Laut yang berorientasi pada industri peternakan. Syech Muhammad Arsyad Pagatan di Kabupaten Tanah Bumbu. Danau Undan Banua Lawas di Kabupaten Tabalong. Zona industri Matraman di Kabupaten Banjar yang berorientasi pada industri perkebunan. Zona industri Jorong dan Kintap di Kabupaten Tanah Laut yang berorientasi pada industri bubur kertas dan bijih besi. Teluk Tamiang di Kabupaten Kotabaru. 3. Sentra industri Negara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang berorientasi pada industri kerajinan rumah tangga. 5. 12. 5. Pasar Terapung Lok Baintan Sungai Tabuk di Kabupaten Banjar. agro industri. Takisung. industri logam. Zona Industri Tarjun di Kabupaten Kotabaru yang berorientasi pada industri semen. kehutanan. keramik. 4. Obyek wisata bahari untuk terumbu karang.2015 Page 14 . Sentra industri Amuntai di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang berorientasi pada industri perabot kayu dan rotan. Obyek wisata buatan/atraksi antara lain Pasar Terapung Kuin di Kota Banjarmasin. industri kehutanan. 6. n. Batang Alai Selatan. Haruyan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Pagatan. Pendulangan Intan Sungai Tiung Cempaka di Kota Banjarbaru. 9. Zona industri Murung Pudak di Kabupaten Tabalong yang berorientasi pada industri agroindustri. gas. 6. Gua Temu Luang dan Gua Sunggung di Kabupaten Kotabaru. Datu Sanggul. Jaro. Obyek wisata budaya Pasar Terapung. Dayak Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Obyek wisata pantai Swarangan Jorong. Gua Liang Kantin Muara Uya di Kabupaten Tabalong. Obyek wisata budaya di Loksado. makanan dan kehutanan. Upau. 11. Waduk Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut. Batakan di Kabupaten Tanah Laut dan Pagatan. perkebunan.. Obyek wisata religius Syech Muhammad Arsyad Al Banjari Kalampayan. Sentra industri galangan kapal di Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru di Kabupaten Kotabaru. Sentra industri di Kota Banjarmasin yang berorientasi pada industri RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kerbau Rawa Danau Panggang di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Air Terjun Tumpang Dua di Kabupaten Kotabaru. 3. Kawasan industri Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu yang beorientasi pada industri perkebunan. 8. yaitu Pulau Kunyit. 2.

6. 7.1. minyak bumi dan gas di wilayah Cekungan Kabupaten-kabupaten Barito. Kawasan pertambangan batubara. 3. Kawasan Strategis Nasional (KSN) adalah Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Batulicin. Banjar.70 persen per tahunnya.2015 Page 15 . dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.BAB II kerajinan rakyat kain sasirangan. Kawasan Jorong (Kabupaten Tanah Laut) dan Kawasan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu. Kawasan pertambangan pola terbuka untuk bahan galian logam dan biji besi di wilayah Kota Banjarbaru. Kawasan wilayah pertambangan rakyat bahan galian intan di Kota Banjarbaru. p. Kawasan Metropolitan Banjarmasin / Banjarmasin Raya. 2. kawasan perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Kotabaru.680 jiwa (tahun 2007). Kabupaten Tanah Laut. Hulu Sungai Selatan. 9. Kawasan pertambangan terdiri atas : 1. Kawasan perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Hulu Sungai Utara. o. Cahaya Baru di Kabupaten Barito Kuala dan Sengayam di Kabupaten Kotabaru.156 jiwa (tahun 2009). 5. Kawasan pertahanan keamanan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang dikembangkan untuk kepentingan nasional dan provinsi. Hulu Sungai Selatan. Kabupaten-kabupaten Banjar. bertambah menjadi 3. Tabalong. Kabupaten Tanah Bumbu. Tabalong.446. 13.1.5. Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM). Kawasan lainnya terdiri atas : 1. Balangan. Hulu Sungai Utara. Tanah Laut. 12. Penduduk terbanyak berada di kota Banjarmasin dengan jumlah 639. 2. Kawasan Berpotensi Pengembangan Ekonomi Khusus. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. industri pengolahan kayu. Sentra industri kerajinan batu permata Martapura di Kabupaten Banjar.503.1. Kawasan Pelabuhan dan Bandar Udara. Tapin. 8. Barito Kuala dan Pulau Lari-Larian di Kabupaten Kotabaru. 2. Kawasan pertahanan dan keamanan yaitu di Kota Banjarbaru. Demografis 2. Perkembangan Penduduk Penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan berjumlah 3. 11. Balangan.5. 3. yaitu di Kawasan Mekar Putih dan Kawasan Pulau Lari-Larian di Kabupaten Kotabaru. industri pengolahan karet. Tanah Bumbu. Kawasan Pegunungan Meratus. 10. Kawasan Rawa Potensial Batang Banyu.978 jiwa RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Tanah Bumbu.396. Pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 1.631 jiwa (tahun 2008). 3. 4. Kotabaru. Hulu Sungai Tengah. Tanah Laut.

000 193.066 Hulu Sungai Selatan 207. Berdasarkan tabel tersebut diatas.d 2009 dapat dilihat pada tabel II.1 2) Tahun 2005 .304 226.192 Hulu Sungai Utara 214. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2009 275.BAB II pada tahun 2009 atau sekitar 18.767 639. Tabel II. Meningkatnya pertumbuhan penduduk sebagai akibat dari belum optimalnya daerah untuk menggarap sektor keluarga berencana.96 Page 16 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .823 3.189 244.02 1.446.010 489.22 3) 1.24%.12 0. Struktur penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan selama tahun 2007 s.85 0.886 275.007 281.091 Kotabaru 272.000 167.273 154. untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.396.629 270.886 jiwa pada tahun 2009 atau sekitar 14.71 1.191 216.332 Tapin 152.570 627.298 102.331 498. pada tahun 2008 terjadi penambahan penduduk sebesar 1.948 246.631 No.000 276.4 Laju pertumbuhan Penduduk Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2003-2008 No.574 Banjar 480.3 Jumlah Penduduk Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2007 s/d 2009 Tahun Kabupaten/Kota 2007 2008 Tanah laut 265.59 0. dapat dilihat pada tabel II.336 209.68 0.631 231.8 1.d 2009 tidak mengalami banyak perubahan yang berarti.156 Sumber : Badan Pusat Ststistik Kalimantan Selatan.503.680 3.01 1) 2.082 Tanah Bumbu 221. Perkembangan penduduk Kalimantan Selatan selama tahun 2007 s.27% dari seluruh penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan.448 272.056 Barito Kuala 269.978 170.571 Hulu Sungai Tengah 242.245 Kota Banjarbaru 164.278 195.077 153.2015 .1 0. Laju pertumbuhan penduduk per Kabupaten/Kota.181 Tabalong 191.737 Kalimantan Selatan 3.3.296 Kota Banjarmasin 615.860 102. perencanaan dan pengelolaan sektor keluarga berencana akan mendapat perhatian lebih serius.71 1. Dimasa yang akan datang.2008 1. Kabupaten Banjar memiliki penduduk terbanyak kedua dengan jumlah 498.4 Tabel II.487 218. 1 2 3 4 5 6 7 8 Tanah laut Kotabaru 1) Banjar 3) Barito Kuala Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara 2) Kabupaten/Kota Tahun 2003 .402 208.64%.91 1.208 Balangan 101.49% dan pada tahun 2009 sebesar 1.2005 2.

45 1.24 4.468 37. Perkembangan capaian peserta KB Baru di Kalimantan Selatan tabel II. 9 10 11 12 13 14 Tabalong Tanah Bumbu Balangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan Kabupaten/Kota Sumber : BPS Provinsi Keterangan : 1) = Termasuk Kabupaten Tanah Bumbu 2) = Termasuk Kabupaten Balangan 3) = Termasuk Kota Banjarbaru Peran keluarga berencana menjadi sangat penting.976 16.91 Tahun 2005 .2008 1.625 69.5 Tabel II.31 1.d 2008 dapat dilihat pada tabel II.842 44.24 0.181 506. tidak saja prekrutan peserta KB baru dan memelihara peserta KB aktif yang ada.269 32.983 42.201 Sumber : BKKBN Provinsi Pencapaian peserta KB baru di Provinsi Kalimantan Selatan selama periode tahun 2006 s. tapi juga mendekatkan pelayanan hingga ke pedesaan.771 28.049 84.561 37.d 2008 menunjukkan perkembangan yang cenderung meningkat.456 39.840 31.348 35.729 76.733 39.286 44.443 30.555 35.49 No.660 524.708 63.995 34.611 35.485 31. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Tanah laut Kotabaru Banjar Barito Kuala Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Tabalong Tanah Bumbu Balangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan 2006 40.BAB II Tahun 2003 .513 80.322 29.654 31.319 23.647 30.427 24.227 2008 44.5 Peserta KB Aktif Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 No.12 2.035 16.338 42.6 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .92 2. Perkembangan peserta KB di Kalimantan Selatan selama tahun 2007 s.933 23.020 61.262 Tahun 2007 41. namun jika dilihat kabupaten/kota terdapat beberapa kabupaten (Hulu Sungai Selatan.249 15.2015 Page 17 .839 27.281 476.553 25.72 2.620 33.2005 1. Tanah Bumbu dan Balangan) mengalami penurunan kinerja dalam capaian peserta KB Baru.27 1.726 21. sehingga cakupan KB baru dan penundaan usia nikah dapat dilakukan dengan baik.

627 6.119 4.451 6.009 5.BAB II Tabel II.519 2008 7. kesempatan kerja.018 7.841 5. dapat berakibat pada berbagai persoalan sosial.960 7.6 Peserta KB Baru Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 No.926 5.755 8.673 4. Dampak terbesar adalah terhadap daya tampung pendidikan. namun jumlah mereka relatif kecil.576 7.143 90. Tantangan ke depan adalah mengendalikan Total Fertility Rate (TFR) yang merupakan faktor dominan dalam mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah pertambahan penduduk. meningkatkan kesertaan berKB. serta penyediaan pelayanan KB gratis bagi penduduk miskin. Rendahnya kualitas pelayanan sosial dasar masyarakat.542 Sumber : BKKBN Provinsi Pertumbuhan yang tidak terkendali.785 7. serta berbagai determinan sosial di masyarakat.678 7.912 5. munculnya pemukiman kumuh.870 5. Bugis.563 117. Dari aspek keberagaman suku bangsa yang ada di Kalimantan Selatan secara umum didalam komposisi penduduk didominaasi oleh suku asli Banjar.2015 Page 18 . keterbatasan fasilitas pelayanan belum memadai.361 5. Batak dan Sunda. Secara umum kondisi pergaulan diantara suku bangsa yang ada sudah sangat kondusif dan hidup secara damai.758 3. dan komposisinya secara statistik cenderung stabil dari tahun ketahun.303 18.849 6.456 4. Beberapa suku bangsa antara lain suku Jawa.064 6. serta sebagian kecil suku keturunan Tionghoa. dan persoalan sosial lainnya. akan faktor yang dapat mempengaruhi cakupan perseta KB Baru.475 5.457 4.125 17.959 12.011 107.306 7.767 26. keterbatasan anggaran yang tersedia. motivasi petugas yang masih rendah.130 9.317 4.426 16.206 6.019 6. penurunan kualitas tenaga kerja. meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja dan pasangan usia subur tentang KB. meningkatkan akses terhadap pelayanan KB di daerah.326 3. dan dampak sosial lainya.459 5. pelayanan kesehatan. sistem administrasi kependudukan belum dilaksanakan secara akurat. Madura. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .549 5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Tanah laut Kotabaru Banjar Barito Kuala Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Tabalong Tanah Bumbu Balangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan 2006 5. Kondisi inilah yang sangat membantu dan merupakan modal dasar dalam melakukan kegiatan pembangunan disegala bidang kehidupan.491 24.830 Tahun 2007 6.

56 1.54 0.2015 Page 19 .20 0.03 0.99 0.33 11. 2.07 0.72 30.56 7. Pertumbuhan dan Struktur PDRB Salah satu pendekatan pengukuran kemajuan bagi perekonomian di suatu daerah ialah dengan melihat perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)nya.07 0.86 2.42 0.92 0. PDRB Kalsel atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sebagaimana terlihat pada tabel II.86 3.75 82.76 2.1.71 1.18 1.BAB II Tabel II.79 11.22 Sunda (6) 1.05 2.34 Jawa (3) 31.30 4.42 95.97 6.12 60.62 Lainnya (7) 2.89 96.03 0. Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.03 0. Melayu banjar (2) 61.2.44 1.89 0.88 0.56 87.95 1.67 30.31 9.22 Total (8) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Sumber : Badan Pusat Statistik.70 20.63 13.80 34.17 0.09 0.45 (5) 1.80 74.08 0.79 39.67 98.42 6.92 0.89 80.2.75 0.09 15.42 0.44 4.38 1.76 4.7 Persentase Penduduk Kalimantan Selatan Menurut Kabupaten/Kota dan 5 Suku Bangsa Terbesar Kabupaten/Kota (1) Tanah Laut Kota Baru Banjar Barito Kuala Tapin HSS HST HSU Tabalong Tanah Bumbu Balangan Banjarmasin Banjar Baru Kal Sel Banjar.30 19.17 0.54 12.61 0.16 0.08 0.91 0.68 79.12 0.12 0.08 0.14 0.29 7.24 15. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 2.51 0.58 25.13 2.93 76.14 Suku Bangsa Bugis Madura (4) 1.1.19 1.1.8 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .29 0.79 87.30 1.52 0.10 0.08 0.2.55 10.

340.494.714. Peningkatan nilai PDRB Kalimantan Selatan dari tahun 2006 sampai 2009 terutama disebabkan oleh sektor pertanian dengan kontribusi 22.721700.00 9.00 4.548.777.030.47 1.15% 19.82 8.00 2009 11.130. PDRB tanpa migas juga meningkat dari Rp.27 2. Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Selatan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.00% 99. 51.081.87 2.468.767.85 2. walaupun pada tahun 2009 mengalami sedikit perlambatan.38%).420.2015 Page 20 .52% 15.262.930.049.34 2008 10.00 45.55 2.861.217.196.438.152.00 10.025.62 39.38 2007 8.35 2.58 294.118. yakni mencapai rata-rata 5.050.005 5.799.932.942.57 3.55 34.273.788.434.310.018.29% 10.705.15%.875. Selama periode 2006 .4 trilliun menjadi Rp.784.670.030.34 6.06 38.300.38% 6. Pertumbuhan PDRB tanpa migas sedikit lebih tinggi.826.03 4. hotel dan restoran (15.96% 13.2 triliun pada 2009.62 persen per tahun (Tabel II.556. Seiring dengan itu.856.50 3. 50.5 trilliun.94 4.03 1.852.00 7.94 194.647.200.08% 0.00 5. Peningkatan ini secara umum terjadi pada semua sektor meski dengan besaran yang berbeda-beda.93 3.134.210. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan. Sektor yang berperan besar selanjutnya adalah pertambangan dan penggalian (19.990.400.00 Kontribusi pd Peningkatan 22.00 45.292.777.177. dan sektor perdagangan.90 219.446.783.250.28 5.553.89 7.185.474.849.00 2.763.834.34.BAB II Tabel II.609.56 persen per tahun.00 50.9) RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .00 51.29 34.61% 5.72 3.047.196.39% PDRB tanpa Migas Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan 2009 Nilai PDRB atas dasar harga berlaku dengan migas pada tahun 2006 sebesar Rp.716. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB Migas dengan 2006 7.423.546. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.630.90 5. Ketiga sektor ini merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar pada pembentukan dan pertumbuhan nilai PDRB Kalimantan Selatan selama ini.843. 34.85% 6.334.18% 100.000.299.142.312.676.860.651.463.2009 pertumbuhan PDRB dengan migas mencapai rata-rata 5. Nilai PDRB ADHB (dalam Ribuan Rupiah) Kalsel 2006-2009 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.18 257.758.275.132.364.7 triliun meningkat menjadi Rp.29%).97 4.758.8.579.568.36 4.33 4.

BAB II
Tabel II.9. Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2006-2009 (%) RataSektor 2006 2007 2008 2009 rata Pertanian 4,70 5,72 6,48 7,12 6,00 Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Pertumbuhan Eko dengan Migas Pertumbuhan Eko tanpa Migas 7,47 -1,70 3,83 7,02 5,56 6,06 3,24 6,89 4,98 5,05 5,05 2,94 4,14 6,90 6,18 8,23 15,36 6,65 6,01 6,08 7,37 2,59 4,23 5,60 7,07 6,43 5,73 6,63 6,23 6,37 1,73 2,31 5,33 6,06 5,80 5,95 6,44 7,33 5,01 5,11 5.40 1,53 4,38 6,40 6,15 6,67 7,69 6,87 5,56 5,65

Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan 2009

Seluruh sektor ekonomi menunjukkan pertumbuhan rata-rata positif. Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mencapai tingkat pertumbuhan rata-rata tertinggi (7,69%), disusul Jasa-jasa (6,87%), dan Pengangkutan dan Komunikasi (6,67%). Sementara itu, sektor yang tumbuh paling rendah adalah Industri Pengolahan dengan rata-rata 1,53%. Sektor-sektor yang termasuk dalam kelompok sektor primer (Pertanian dan Pertambangan – Penggalian) dan tersier (Perdagangan-hotel-restauran, Pengangkutan dan komunikasi, Keuangan-persewaan-jasa perusahaan, dan Jasa-jasa lainnya) mengalami pertumbuhan yang relative tinggi secara konsisten. Sementara, pertumbuhan dalam kelompok sektor sekunder (Industri pengolahan, Listrik-Gas-Air, dan Bangunan) secara umum cenderungan lebih lambat, kecuali Bangunan. Tabel II.10 memperlihatkan bahwa pembentukan nilai PDRB selama periode 2006 – 2009 didominasi kelompok sektor primer dengan rata-rata 43,95% dan tersier (38,40%) yang utamanya berasal dari Perdagangan-Hotel-Restoran. Besarnya peran sektor primer menunjukkan bahwa Perekonomian Kalimantan Selatan masih sangat tergantung pada sumberdaya alam. Peranan sektor sekunder (17,68%), disisi lain, justru semakin menurun. Sektor sekunder, khususnya Industri pengolahan yang potensial untuk menciptakan nilai tambah dan daya saing lebih tinggi bagi ekonomi peranannya menurun dari 11,68% pada 2006 menjadi 9,87%.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 21

BAB II
Tabel II.10. Kontribusi Sektoral dalam PDRB Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009 RataSektor 2006 2007 2008 2009 rata Pertanian 22,43 22,46 22,15 22,34 22,36 Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Jumlah
Sumber :BPS Tahun 2010

21,86 11,68 0,56 6,56 14,86 8,45 4,10 9,50 100,00

21,70 11,07 0,56 6,48 15,04 8,99 4,46 9,26

21,73 10,31 0,56 6,25 14,95 9,17 4,80 10,07

21,06 9,87 0,58 6,23 15,00 9,23 5,02 10,69

21,59 10,73 0,57 6,38 14,96 8,96 4,60 9,88

100,00 100,00

100,00 100,00

2.2.1.2. Pendapatan Perkapita dan Pemerataan PDRB dapat dikatakan sebagai ukuran kesejahteraan suatu daerah. Di sisi lain, PDRB per kapita dapat dijadikan ukuran kesejahteraan masyarakatnya, karena merupakan nilai rata-rata besaran PDRB untuk tiap orang penduduk. PDRB per kapita meskipun lebih indikatif bagi pengukuran tingkat kesejahteraan namun belum menggambarkan tingkat kemerataan antar penduduk.
Tabel II.11. PDRB Per kapita Dengan Migas Di Kalimantan Selatan 2000 – 2009 Harga Berlaku Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009*) Harga Konstan 2000 PDRB Perkapita Pertumbuhan PDRB Perkapita Pertumbuhan (Rp) (%) (Rp) (%) 6.269.036 6.269.036 6.893.127 7.532.597 8.001.103 8.705.989 9.644.377 10.359.826 11.610.975 13.276.160 14.514.675 9,96 9,28 6,22 8,81 10,78 7,42 12,08 14,34 9.33 6.438.936 6.622.005 6.649.457 6.886.794 7.065.534 7.306.536 7.631.654 7.989.962 8.201.844 2,71 2,84 0,41 3,57 2.60 3,41 4,45 4,70 2,65

Sumber : PDRB, Tahun 2006 – 2009 *) Angka sementara

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 22

BAB II PDRB per kapita atas dasar harga berlaku selama kurun waktu 2000 sampai 2009 berkembang dengan pesat dengan rata-rata peningkatan sebesar 916.182 rupiah per tahun. Kenaikan terbesar terjadi pada tahun yang relatif besar terjadi tahun 2008, 2007 dan 2005 dengan pertumbuhan masing masing diatas 10% (Tabel II.11). PDRB per kapita berdasarkan harga konstan 2000 juga mengalami kecenderungan peningkatan namun relatif lebih rendah daripada tingkat pertumbuhan PDRB per kapita atas dasar harga berlaku. Lebih tingginya pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku disebabkan karena terjadinya peningkatan harga barang dan jasa yang cenderung berlangsung terus menerus.
Tabel II.12. PDRB Perkapita Dengan Migas Menurut Provinsi di Kalimantan 2007 – 2009 (Rp)

Provinsi Kalimantan Barat Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah
Sumber : PDRB, Tahun 2007 – 2009 *) Angka sementara

2007 10.165.998 73.602.055 11.610.975 13.771.080

2008 11.393.992 101.532.771 13.276.160 15.767.356

2009*) 12.471.411 88.920.062 14.514.675 17.366.788

Berdasarkan nilai PDRB total, posisi Kalimantan Selatan dibanding provinsi lainnya di Kalimantan berada diurutan ketiga. Tidak jauh berbeda jika dilihat dari PDRB per kapita, posisi Kalsel juga berada diurutan ketiga dalam wilayah Kalimantan. Provinsi Kalimantan tengah yang secara total nilai PDRBnya berada pada urutan paling rendah ternyata menduduki posisi kedua dilihat dari PDRB per kapitanya (Tabel II.12) Tingkat kemerataan pendapatan di Kalsel relatif konstan dalam periode 2005 – 2009. Berdasarkan angka indeks gini (Gini Ratio) maka tingkat distribusi pendapatan selama ini tergolong pada kemerataan sedang. Hal ini berarti tingkat ketimpangan pendapatan antar penduduk tidak berlangsung tajam. Perbedaan pendapatan kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi tidak terlalu jauh diatas kelompok berpendapatan rendah 2.2.1.3. Pemerataan Pembangunan Tujuan pembangunan dalam aspek kewilayahan diantaranya adalah untuk mewujudkan tercapainya tingkat pembangunan yang relatif merata antar daerah. Terdapat 13 Kabupaten/Kota sebagai daerah-daerah yang tersebar dalam wilayah pembangunan Provinsi Kalsel. Perbandingan PDRB, jumlah penduk, dan PDRB per kapita antar daerah terlihat pada Tabel II.13.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 23

408 3.008 16.894 11.1.009.471. Kal-Sel.152 389.446. Banjar 3.46 Sumber: BPS. Hulu sungai tengah 987.839.957.458.181 09.318.237 4.238 153.538. Pengeluaran Agregate PDRB selain disajikan menurut lapangan usaha sebagai cerminan dari nilai tambah yang ditimbulkan akibat adanya berbagai aktivitas ekonomi di setiap sektor (lapangan usaha) juga dapat disajikan menurut penggunaannya.390.082 10. Tapin 908.839 208.641. Banjarmasin 4.2015 Page 24 . PDRB menurut penggunaan terdiri dari komponen konsumsi rumah tangga. Tanah laut 2. sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Hulu sungai Utara.711.521 193.105 216.45 2.889.120. tahun 2009 (diolah kembali).907.938.435. pembentukan modal tetap bruto.063 7.158 13. 2006 0.536.333. Angka indeks williamson Kalimantan Selatan dari 2004 – 2008 relatif konstan dari tahun ketahun seperti nampak pada Tabel II.909.47 2007 0.501 3.397 276.582 102.128. PDRB Kabupaten/Kota menurut lapangan usaha Tahun 2009 Dari tabel tersebut nampak bahwa daerah dengan total PDRB tertinggi adalah Kabupaten Kotabaru sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Huku Sungai Utara.556. Tabel II.13 PDRB perkapita dengan Migas Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut kab/Kota Tahun 2008 (Ribuan Rupiah) Kabupaten/Kota PDRB (Rp.899. konsumsi pemerintah.296 12.736.830 1 2 3 01. Prov. Meski demikian derajat ketimpangan tersebut masih berada kategori sedang.935.245 13.47 2008 0. perubahan stok dan ekspor netto.14.443.192 08.585 13.613 12.091 02. Nilai PDRB per kapita yang menunjukkan tingkat rata-rata PDRB bagi tiap penduduk yang tertinggi adalah di Kabupaten Kotabaru.40 0. investasi maupun ekspor. Tabalong 2.727.Juta) Penduduk (Jiwa) PDRB Per Kapita 4 7. Tanah bumbu 2.754.14 Indeks Williamson Di Kalimatan Selatan Tahun 2004 . Kotabaru 4. Barito kuala 1. Hulu sungai utara 768.066 06.866. PDRB menurut penggunaan dapat menggambarkan kemampuan daerah dalam menggunakan dan mengalokasikan kembali hasil dari proses produksi tersebut baik untuk keperluan konsumsi.571 07.282 5.451.631 Sumber: BPS.006 627.681. Hulu sungai selatan 999.2.205. Untuk mengukur Ketimpangan antar wilayah salah satu alatnya adalah dengan menggunakan indeks williamson.416 6.905.777 226.574 03.120.942 167.045.618 270.2008 Tahun 2004 2005 Indeks Williamson 0.856.425 6.208 11.BAB II Tabel II.704.332 05. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Daerah dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kota Banjarmasin sedangkan yang paling sedikit adalah Kabupaten Balangan.160 4. Banjarbaru 858.4.252 244. Balangan 1.056 04.737 Kalimantan selatan 27.008.429 5.950 272.794.

35 -21. Tabel II.12 persen Berbeda dengan Konsumsi RT yang cenderung meningkat pesat. Selain kedua komponen itu.36 persen.50 0.) Total Sumber : PDRB.12 -15. Tercatat tahun 2008 kontribusi komponen ekspor sebesar 69. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .5 100.15 memperlihatkan bahwa selama periode 2007-2009 semua komponen PDRB menurut penggunaannya mengalami peningkatan dan impor mempunyai kontribusi yang cukup besar yaitu 41.00 2008 50. belanja barang.3 0. Tahun 2007 – 2009 2007 51. selama tiga tahun terakhir kontribusinya menunjukkan trend positif pada tahun 2008 mencapai sekitar 18. Selama tiga tahun terakhir kontribusi dari kedua komponen tersebut selalu di atas 40 persen.99 0.42 41.67 70.04 20.26 persen dan kontribusi komponen konsumsi rumah tangga sebesar 47. Sementara itu komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang merupakan pengeluaran untuk pembelian barang modal yang umumnya akan digunakan sebagai alat untuk berproduksi.BAB II Pola distribusi yang terbentuk dari kelima komponen penggunaan PDRB hampir sama setiap tahunnya. Selama ini produksi barang dan jasa sebagian besar masih digunakan untuk keperluan ekspor dan konsumsi rumah tangga.2015 Page 25 .5 persen.49 13.48 100. belanja perjalanan dinas.66 persen.45 14.15). Konsumsi pemerintah –yang mencakup pengeluaran rutin.33 18.00 2009*) 50.60 64. komponen impor juga mempunyai kontribusi yang cukup besar yaitu 30.90 27. Sementara itu komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang merupakan pengeluaran untuk pembelian barang modal yang umumnya akan digunakan sebagai alat untuk berproduksi. Lebih rendahnya kontribusi komponen PMTB dibandingkan dengan komponen konsumsi rumah tangga menunjukkan bahwa penggunaan PDRB di Kalimantan Selatan masih cenderung bersifat konsumtif. seperti belanja pegawai.15 PDRB Menurut Penggunaan Di Kalimantan Selatan Tahun 2006 – 2009 (%) Penggunaan Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Bruto Perubahan Stok Ekspor Impor ( .36 100.64 persen (Tabel II. selama tiga tahun terakhir kontribusinya menunjukan trend positif pada tahun 2009 mencapai sekitar 20.89 30.00 Tabel II. dan lain-lain-.justru memperlihatkan pertumbuhan yang sedikit naik.43 14.84 -17.86 68.47 15.

ubi kayu. beras. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Konsumsi Rumah Tangga 10. Produksi tanaman pangan akan mendukung ketersediaan bahan pangan. Ketersediaan komoditas pangan hewani pada tahun 2009. Ketahanan Pangan Komoditas andalan Kalimantan Selatan adalah padi. sedangkan kedelai. gizi seimbang dan terjangkau oleh seluruh masyarakat. kacang tanah.598. jagung. jeruk dan pisang.992 ton pada tahun 2009.17.13 23.5. seperti padi.06 6. jagung. Ketahanan pangan akan dicapai apabila terpenuhinya kebutuhan pangan yang cukup.32 1. Ketersediaan bahan pangan dan kebutuhan pangan Kalimantan Selatan pada tahun 2009 disajikan pada Tabel II.01 6. serta segala jenis kendaraan). Ekspor 12.1.61 3.13 6.84 6. Kalimantan Selatan berhasil mencapai surplus beras yang semakin besar dan merupakan provinsi yang kesembilan sebagai penyumbang dan penyangga produksi padi nasional.51 48.35 5.2015 Page 26 .51 15.63 2. seperti daging. Penurunan ini terkait dengan menurunnya investasi PMA dan PMDN pada tahun 2009 ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2.72 5. Produksi padi tahun 2005 sebesar 1. mesin-mesin dan alat-alat perlengkapannya. minyak sawit dan gula ketersediaan tergolong minus. ubi jalar.01 Komponen Pembentukan Modal tetap Bruto (dalam bentuk bangunan/konstruksi. jika dilihat selama kurun waktu tahun 2007-2009 pertumbuhan komponen PMTB Kalimantan Selatan mengalami penurunan walaupun pertumbuhannya masih cukup besar.68 4. Konsumsi Pemerintah 6.BAB II Tabel II.92 5. Tahun 2007 – 2009 2009*) (4) 5.16 Pertumbuhan PDRB Menurut Penggunaan di Kalimantan Selatan Tahun 2007 – 2009 (%) Komponen Penggunaan 2007 2008 (1) (2) (3) 1. terutama padi.956. sedangkan ketersediaan susu tergolong minus.2. Ketersediaan beberapa komoditas bahan pangan nabati pada tahun 2009. Komoditi ini juga menjadi komoditas unggulan tingkat nasional. sayuran.91 Total 6.02 5. Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba 2. telur dan ikan tergolong surplus.835 ton naik menjadi 1. Pada tingkat produksi ini.75 15. Pembentukan Modal Tetap Bruto 38.80 6.23 Sumber : PDRB.05 -1. Impor ( .) -34. dan buah-buahan tergolong surplus.

089.680 265.978.96 1. Kal-Sel.705.271.03 2.053. Kalimantan selatan potensial mempertahankan swasembada pangan terutama beras sehingga tetap dapat menjadi lumbung beras atau penyangga beras nasional.94 -108. Dengan demikian.09 581.77 Surplus Meningkat Jagung -59.92 122.100.319.50 581.159.97 136.588.999.52 -18.90 -51.738.18.97 136. surplus padi dan beras mengalami peningkatan masing-masing sebesar 105.600.51 101.82 Minus Menurun Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar Sayur-sayuran Buah-buahan Minyak Sawit Gula 13.525.645 139.14 14.57 -107.948.62 124.83 47.130.997.84 157.918.953 42.36 266. 1.77% dibandingkan surplus padi pada tahun 2008.58 -50.399 1.353.95 104. Kal-Sel. 2010 Padi atau beras merupakan bahan pangan pokok.502 50.50 105.21 62.093 31.43 149.480.2015 Page 27 .14 14.600.139.012.86 Surplus Meningkat Kedelai -12.716.247.48 113.326 4.28 196.978.130.767.096 95 175.559.262. 12 13 14 15 Pangan Nabati (Ton) Padi Beras Jagung Kedelai Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar Sayur-sayuran Buah-buahan Minyak Sawit Gula Pangan Hewani (Kg) Daging Telur Susu Ikan Tahun 2009 Ketersediaan Kebutuhan Perimbangan 854.696.869 16.929.23 Keterangan surplus surplus surplus minus surplus surplus surplus minus surplus minus minus surplus surplus minus surplus 2.42 173.90 -51.83 23.157.22 111.319.32 101.068.17.836 97.089.28 196.247. 1.144.09 50.19 31.57 -107. Perbandingan Perimbangan Ketersediaan Pangan Nabati di Kalimantan Selatan 2008 Dan 2009 Perimbangan (Ton) Persentase Ket Komoditi Tahun 2008 Tahun 2009 Thd 2008 Pangan Nabati Padi 813.570. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .50 -18.559.13 50.72 -12.95 34.03 Surplus Meningkat Beras 555. Ketersediaan dan Kebutuhan Bahan di Kalimantan Selatan Tahun 2009 Komoditi I.247.669.18 Tabel II.036 47.77 13.911. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 II.144.741.65 301.545. Pada tahun 2009.975.591.894. Perbandingan perimbangan ketersediaan bahan pangan nabati Kalimantan Selatan tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel II.84 -12.83 100.59 2.16 16.669.73 Sumber: BKP Prov.480.50 690.767.86 17.729.51 Surplus Meningkat Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Menurun Surplus Meningkat Minus Meningkat Minus Meningkat I.978.235.BAB II Tabel II.59 13.52 -18.50 34.28 68. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sumber : BKP Prov.23 -207.59 93.90 51.68 18.01 5.03% dan 104.767.714.11 98.87 854.766.769.

Hal ini karena konsumsi masyarakat banyak beralih ke konsumsi daging dari jenis ternak lain yang harganya lebih murah dibanding harga daging sapi potong. Standar kecukupan konsumsi protein hewani yang ditetapkan FAO adalah minimal sebesar 6.646. kacang. Pencapaian Konsumsi pangan hewani asal ternak masyarakat Kalimantan Selatan tahun 2008 menurut hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional adalah konsumsi daging 15. namun masih sangat kekurangan ketersediaan susu.BAB II Surplus bahan pangan seperti padi/beras. karena mutu yang belum memenuhi standar dan belum adanya jaminan suplai/produksi yang kontinyu. ubi jalar dan buah-buahan membutuhkan suatu kebijakan untuk menghindari jatuhnya harga bahan pangan yang mengakibatkan petani rugi. telur 9.324 kg diekspor ke provinsi tetangga (Kalimantan Tengah).4 gram/kap/hari atau baru mencapai 55. dan diperlukan pergudangan yang refresentatif untuk menampung kelebihan bahan pangan sehingga kualitas tetap terjaga. telur dan susu di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.1 Kg daging.11%). Konsumsi daging. ubi kayu.5 Kg telur dan 6. Sehingga dengan hasil usaha tani demikian produk pertanian Kalimantan Selatan kalau tidak segera dibenahi akan sulit bersaing pada era perdagangan bebas sekarang ini. jagung. Masuknya beras kedalam katalog menyebabkan beras akan dikenakan kebijakan penghapusan tarif impor. tentunya persaingan perdagangan beras dari kompetitor-kompetitor produsen beras seperti Thailand dan Vietnam akan semakin berat dan apabila tidak diantisipasi akan semakin memperpuruk kondisi kesejahteraan petani padi.62 ton sementara ketersediaan dari produksi dalam daerah hanya 95 ton. Konsumsi daging per kapita/hari dari tahun 2006-2009 mengalami kenaikan. selain itu adanya konstribusi daging kuda dan kerbau. karena itu perlu disikapi dalam menghadapi kemungkinan komoditas beras menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam katalog AFTA ASEAN.29 persen untuk daging.3 gram/kap/hari. karena sebagian masyarakat menganggap jenis dagingnya sama dengan daging sapi. Selain itu. Produk tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan sebagian besar belum mempunyai daya saing yang kuat. 200. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .67 gram/kapita/hari.2015 Page 28 . telur 19.19. dimana kebutuhan akan susu sangat besar yaitu mencapai 301.21 persen untuk telur dan 30. Pertumbuhan rata-rata konsumsi daging dari tahun 2006-2009 sebesar 40.59 gram/kapita/hari dan susu 17. Produktivitas padi masih dibawah produktivitas nasional.53 gram/kapita/hari. Pada tahun 2009 Provinsi Kalimantan Selatan telah mengalami peningkatan surplus daging dan telur dari tahun 2008.00 gram/kapita/hari atau setara dengan 10.80 persen untuk susu. 4 Kg susu per kapita per tahun atau setara dengan daging 27.2 gram/kap/hari dan susu 5. Kalimantan Selatan siap swasembada daging tahun 2014 karena Kalimantan Selatan sejak tahun 2008 mengalami surplus daging dan telur. 3.87 persen. namun untuk konsumsi daging sapi potong mengalami pertumbuhan negatif (3. produksi daging yang dihasilkan sebesar 1.

651 18.61 8 Ayam Ras Petelur 203.525.35) 7 Ayam Buras 3.137 520.712.230 356.728 5.563 266. 20.617 363.322 (3. Susu (Liter) 1 Sapi Perah 292.892. Daging (Kg) 1 Sapi Potong 5.87 B.613.063 264.649 4.131.210 25.742.679 30.09 50.04 3 Itik 15.831 3.494 14.78 5 Domba 16.717 4.31 9 Ayam Ras`Pedaging 19.714.879.23 Keterangan surplus surplus minus surplus RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .894.13 50.402 1.427 37.371 11.823.502. Kalsel.738.38 2 Ayam Ras Petelur 13.980.74 Rata-rata Pertumbuhan 12. Ketersediaan dan kebutuhan pangan hewani tahun 2009 disajikan pada Tabel 2.100.11) 2 Kerbau 773.201 956.956 23.318 21.19 31.649 2. Konsumsi Daging.48 6 Babi 346.2015 Page 29 .649.649.299.473.524 725.159.20 Ketersediaan dan Kebutuhan Pangan Hewani di Kalimantan Selatan Tahun 2009 Komoditi I.970 17.65 301. 2010 Kurangnya ketersediaan susu disebabkan oleh menurunnya jumlah populasi sapi perah dan masih minimnya sarana prasarana untuk pengolahan susu sapi di Kalimantan Selatan.581 (8.60 4 Kambing 232.752 263.158 1.591.909 7. 1 2 3 4 Pangan Hewani (Kg) Daging Telur Susu Ikan Ketersediaan 47.844 26.318 16.502 50.190.077.526 1.166.552.248 811.570.403.15 dan perbandingan surplus-minus ketersediaan terhadap kesediaan pangan hewani tahun 2008 disajikan pada Tabel II.987 1.990 12. Tabel II.015.861 22.078 13.451 (7.06 B.23 -207.162.96 Kebutuhan 23.969 4.993 12.157.146.186 10.524. Jenis Ternak 2006 2007 2008 2009 A.62 124.672 309.85 3 Kuda 965 2.82) Sumber: Dinas Peternakan Prov.911.BAB II Tabel II.948 5.734 129.76 Rata-rata Pertumbuhan 40.755.085.204 16.938 935.73 Perimbangan 47.185.78 10 Itik 836.068.509 295. Telur Dan Susu di Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009 Tahun Pertumbuhan No.557 185.063 5.886 88.242 13.890 24.605 14.742 5.252 257.19.053.205.026 16.467 5.096 95 175.614. Telur (Kg) 1 Ayam Buras 3.

2. Besarnya beban ekonomi dan kecilnya pendapatan yang diperolah sebagian kecil kalangan belum mampu memberikan tingkat kesejahteraan yang baik.300 50. keluarga rentan sosial.320 4.786 652 1.22 Tabel II. Kesejahteraan masyarakat bergantung pada status ekonomi masyarakat. wanita rawan sosial ekonomi. 2010 2.745 Penderita Penyakit Kronis 685 622 Gelandangan 1.065 3.01 58. Kesejahteraan Sosial 2.758 Anak Terlantar 4.850 53.114 30.36 Ket Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Meningkat Surplus Meningkat Sumber Data : BKP Prov.22 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 Tahun Kab/Kota 2006 2007 19.029 Balita Terlantar 58.858 3. anak jalanan.296 Korban NAPZA 16.35 -204.2.09 36.27 535.836. anak nakal.295 Wanita Rawan Sosial Ekonomi 715 2.868. konitas adat terpencil dan lain sebagainya sebagaimana tabel II.140 Pengemis 3. Pada sisi lain juga terjadi efek terhadap masyarakat dalam bentuk keterbatasan kemampuan sosial dalam masyarakat. 1 2 3 4 Pangan Hewani Daging Telur Susu Ikan Perimbangan (Ton) Tahun 2008 Tahun 2009 19.421.2015 Page 30 . Kal-Sel.998 57.21.81 11.1.2. Bentuk keterbatasan ini akan muncul dalam bentuk masalah kesejahteraan sosial seperti balita terlantar.2.103.781.357 2.317 Bekas Narapidana 55.002.120 36. Salah satu beban tersebut adalah tingginya angka ketergantungan penduduk dalam masyarakat.946 Anak Janalan 1.29 204. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 2008 58.BAB II Tabel II.880 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .46 -207.142.284 397 Anak Nakal 237 252 Anak Korban Tindak Kekerasan 479 1.281 1. anak terlantar.124 1.067.389. Perbandingan Perimbangan Ketersediaan Pangan Hewani di Kalimantan Selatan Tahun 2008 dan 2009 Komoditi I.671 391 376 920 16.655 Tuna Susila 38.88 Persentase Thd 2008 285. Taraf Kesejahteraan Sosial.867 16.586 17.571 3.543 Penyandang Cacat 1.21 73.158 2.594 Lanjut Usia Terlantar No.086 Wanita Korban Tindak Kekerasan 2.36 55.842 1.288 6.823.16 101.

mendukung dan memfasilitasi pelaksanaan program-program pro-rakyat. penyediaan modal usaha mikro. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .249 239 344.822 9.338 No. dan pemberdayaan tenaga pendampingan PMKS masih belum optimal.269 1.346 465. Tingkat kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Selatan pada akhir-akhir ini sudah mengalami peningkatan. Pada tabel tersebut di atas menunjukkan.037 477.39%.821 19 1. belum cukup memuaskan.637 34.021 6.654 6.158 8.312 34.887 75.220 29.380 75. meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program kesejahteraan sosial.46%.921 Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Selatan berbagai upaya telah dilakukan yaitu dengan meningkatkan pendapatan masyarakat dan menurunkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.458 1.BAB II Tahun 2007 4.406 5. keterbatasan pemerintah memberikan/ menyediakan bantuan.817 35. bahwa jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial dari tahun 2006 ke 2007 terjadi peningkatan sebesar 38. meningkatkan bea siswa pendidikan.2015 Page 31 .435 90 1.610 33. perlu adanya penetapan prioritas dari sejumlah variabel. dan melaksanakan revitalisasi program pembangunan kesejahteraan sosial.419 35. dengan melakukan upaya/program bersifat proyek padat karya.423 37. melanjutkan program Gerbangmastaskin. mungkin tidak dapat dilaksanakan secara keseluruhan dalam waktu bersamaan.817 67. 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Kab/Kota Lansia Korban Tindak Kekerasan Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis Keluarga Fakir Miskin Rumah Tidak Layak Huni Korban Bencana Alam Keluarga Tinggal di Daerah Rawan Bencana Komonitas Adat Terpencil Anak Cacat Keluarga Rentan Penderita HIV/AIDS Bencana Sosial Pekerja Migran Terlantar Jumlah 2006 51 5.726 2008 54 3.461 250 35. Keberhasilan pembangunan kesejahteraan sosial di Kalimantan Selatan. meningkatkan motivasi tenaga pendampingan PMKS. peran serta masyarakat dalam pengembangan kesetiakawanan sosial perlu terus ditingkatkan pada berbagai strata kehidupan masyarakat. Penyelesaian penyandang masalah kesejahteraan sosial.793 106.425 3. namun tidak mengabaikan variabel yang lain.652 8. dan dari tahun 2007 ke 2008 terjadi penurunan sebesar 2. pelayanan kesejahteraan sosial melalui panti sosial dan rehabilitasi sosial.303 33. hal ini tercermin pada turunanya angka penduduk miskin. Tantangan kedepan adalah meningkatkan ketersediaan dan kecukupan dana bantuan. Kondisi ini memang tidak dapat dihindari mengingat.

BAB II 2.2.2.2. Pendidikan Angka Partisipasi Sekolah Salah satu indikator keberhasilan pendidikan tercermin pada tingkat partisipasi pendidikan baik secara kasar maupun murni. Terjadi trend capaian angka partisipasi yang sangat baik selama kurun waktu tahun 2005 s.d. 2009
a.

Pada tahun 2005 angka Partisipasi Kasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebesar 41,02, kemudian meningkat menjadi 54,25 pada tahun 2009. Pada tahun 2005 Angka Partisipasi Murni (APM) SD sebesar 92,67 meningkat menjadi 99,02 pada tahun 2009. Khusus untuk APK SLTP pada tahun 2005 sebesar 77,79 menjadi 97,05 pada tahun 2009. APK SLTA pada tahun 2005 sebesar 53,91 meningkat menjadi 74,29 pada tahun 2009. Kondisi ini dapat dilihat pada Tabel II.23 :
Tabel II.23 Angka Partisipasi Sekolah di Kalimantan Selatan Tahun 2005-2009 Indikator APK PAUD APK SD/MI APK SMP/MTs/SMPT APK SMA/SMK/MA Prosentase Capaian 2005 41,02 95,33 77,79 53,91 2006 45,24 95,36 85,01 63,13 2007 48,07 96,26 90,41 72,34 2008 53,50 98,28 96,18 74,22 2009 54,25 99,42 97,05 74,29

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan usia emas untuk mengembangkan intelektual SDM, sekaligus menjadi pondasi dasar pendidikan yang berkualitas. APK PAUD tahun 2009 baru mencapai 54,25%, berarti 45,75% jumlah anak usia PAUD masih perlu perhatian utama di antara jenjang pendidikan lainnya. APK pada jenjang SLTA baru mencapai 74,29%, sisanya masih 35,71% atau lebih belum menduduki sekolah SLTA. Rendahnya APK SLTA ini berarti akan menyumbang angkatan kerja yang kompetensinya hanya berpendidikan SLTP (Pendidikan Dasar), sementara dunia usaha atau lapangan kerja memerlukan tingkat kompetensi yang lebih tinggi. Tabel II.24 Angka Partisipasi Sekolah di Kalimantan Selatan Tahun 2005-2009
Indikator APM PAUD APM SD/MI APM SMP/MTs/SMPT APM SMA/SMK/MA Prosentase Capaian 2005 0 92,67 57,47 53,09 2006 0 94,44 67,70 59,04 2007 0 95,88 75,43 66,13 2008 0 98,12 77,86 63,30 2009 0 99,02 85,06 67,58

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 32

BAB II b. Hasil Ujian Nasional Kualitas pendidikan dapat dilihat pada perolehan nilai hasil ujian yang ditempuh anak didik. Kondisi ini juga mengalami perbaikan meskipun masih perlu upaya yang lebih keras dan terarah dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar terutama penerapan asesmen pada proses daripada hasil untuk memantau kemajuan penguasaan kompetensi anak didik. Rata-rata nilai ujian nasional 6,29 untuk tingkat SLTP dan 6,87 untuk tingkat SLTA pada tahun 2007/2008. Lebih jelas dapat diamati pada tabel II.25
Tabel II.25 Hasil Ujian SLTP dan SLTA di Kalimatan Selatan 2005/2006 S.D 2008/2009 Realisasi Nilai Ujian Jenjang Pendidikan 2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009 SLTP 5,90 6,00 6,29 7,08 SLTA 6,51 6,99 6,87 6,97
Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

Hasil ujian nasional ini menunjukkan tingkat kemampuan siswa secara nasional dalam pembelajaran. Hasil ujian SLTP tahun 2008/2009 rata-rata 7,08 menunjukkan angka yang meningkat dari tahun 2007/2008 dengan rata-rata 6,29 berarti telah terjadi peningkatan perolehan rata-rata nilai hasil ujian yang dialami oleh siswa. Begitu juga dengan hasil ujian SLTA tahun 2008/2009 rata-rata 6,97; juga terjadi peningkatan perolehan rata-rata nilai hasil ujian yang dialami oleh siswa dibanding perolehan tahun 2007/2008 dengan rata-rata 6,87. c. Penuntasan Buta Aksara Dalam rangka penuntasan buta aksara di Kalimantan Selatan telah berhasil menurunkan angka buta aksara bagi penduduk usia 15 s.d 45 tahun. Perkembangan keberhasilan penurunan angka buta aksara ini terlihat pada capaian yang terjadi, di mana pada tahun 2005 jumlah buta aksara sebanyak 44,424 orang telah berhasil dituntaskan pada tahun 2008.
Tabel II.26 Penuntasan Buta Aksara di Kalimantan Selatan 2006 s.d. 2009 Realisasi Indikator Sasaran 2006 2007 2008 2009 Buta Aksara >15 s.d 44 th 44.424 (100%) 11.114 (25,02%) 19.730 (44,41%) 13.580 (30,57%) 16.870

Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

Keberhasilan penuntasan buta aksara dilakukan bekerjasama dengan pemerintah pusat, provinsi dan Kabupaten/Kota. Untuk mempertahankan tuntas buta aksara, perlu terus dilakukan kegiatan pembinaan di setiap kabupaten/kota. Berdasarkan hasil rapat kerja Percepatan Pemberantasan Buta Aksara, di RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 33

BAB II Kalimantan Selatan masih terdapat lembaga pendidikan yang tidak mengajarkan bahasa Indonesia, tetapi pengajaran menggunakan bahasa Arab. Pada sisi lain berdasarkan konsensus Kemendiknas dengan BPS, bahwa Angka Buta Aksara yang terjadi di Kalimantan Selatan masih tersisa sebesar 4,67% pada akhir tahun 2009 untuk usia 15 tahun ke atas. 2.2.2.3. Kesehatan

Secara nasional Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan menurun dari 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI, 2007). Di Provinsi Kalimantan Selatan, prevalensi gizi kurang pada balita menurun 20% pada tahun 2006 menjadi 12,38% pada tahun 2009 (Laporan Program Gizi Dinkes, 2009). Angka Kematian Bayi (AKB) menurun dari 58 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 menjadi 50 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2009. Sejalan dengan itu Umur Harapan Hidup meningkat dari 62 tahun menjadi 63,45 tahun pada tahun 2009 (Susenas 2009, BPS). Upaya kesehatan masyarakat mengalami peningkatan capaian seperti cakupan rawat jalan sudah mencapai 15,26% pada tahun 2009. Cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan meningkat dari 83,48% pada tahun 2007 menjadi 89,80% pada tahun 2009. Cakupan pelayanan antenatal (K4) meningkat dari 78,58% pada tahun 2007 menjadi 83,59% pada tahun 2009. Cakupan kunjungan neonatus meningkat dari 92,13% pada tahun 2007 menjadi 93,25% pada tahun 2009. Pelayanan kesehatan dasar bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di Puskesmas mencapai target yaitu sebesar 100% dan seluruh 1.346 (68.50%) desa di Kalimantan Selatan telah menjadi Desa Siaga. Namun perhatian perlu diberikan kepada pengembangan Desa Siaga karena belum semua desa memiliki Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), masih terbatasnya jumlah Puskesmas yang mampu melaksanakan pelayanan obsterik neonatal emergensi dasar (PONED) dan perlunya peningkatan mobilisasi ibu hamil untuk bersalin pada tenaga kesehatan dan upaya peningkatan kualitas Posyandu menjadi Posyandu Purnama dan Mandiri perlu lebih digiatkan. Upaya kesehatan perorangan mengalami peningkatan dan beberapa indikator telah mencapai target, bahkan melebihi target seperti peningkatan jumlah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan gawat darurat meningkat dan mencapai 90%. Jumlah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan obstetrik neonatal emergensi komprehensif (PONEK) meningkat dari 2 rumah sakit menjadi 5 rumah sakit. Pada program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular juga mengalami peningkatan capaian walaupun penyakit infeksi menular masih tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menonjol di Kalimantan Selatan terutama tuberkulosis paru (TB paru), malaria, DBD dan diare. Cakupan program imunisasi berdasarkan laporan rutin dari Kabupaten/Kota secara umum menunjukkan peningkatan. Cakupan imunisasi pada tahun 2009 adalah BCG 93.4%, DPT-HB3 91.6%, HB (0-7 hari) 59.2%, Polio 4 90.2 % dan Campak 90.8%. Meski telah berjalan baik, program imuniasi belum optimal, karena cakupan saat ini belum merata yang digambarkan melalui persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization (UCI) pada tahun 2009 mencapai 64.68%. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 34

Selain itu perhatian juga perlu diberikan pada penyelenggaraan sistem surveilans dan kewaspadaan dini yang kurang mendapat perhatian pada penganggarannya. Keadaan gizi pada ibu hamil. Kedepan. SDM kesehatan merupakan salah satu isu utama yang mendapat perhatian terutama yang terkait dengan jumlah.000 penduduk). kecerdasan dan produktivitas generasi yang akan datang.3 per 100. 2007).2015 Page 35 .8 per 100. Hasil Riskesdas menunjukkan terjadinya perbaikan status gizi anak balita. 41 tahun 2000).000 penduduk. Case Detection Rate (CDR) TB paru menurun menjadi 30. dokter umum sebesar 26.30% gizi buruk.40% gizi kurang dan 0. Penemuan kasus HIV/AIDS meningkat dengan meningkatnya out reach dan keterbukaan masyarakat terhadap penyakit ini.8% (Riskesdas. Disparitas status gizi juga cukup lebar antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi.75 per 100. Untuk itu perlu perhatian pada upaya pencegahan yang dapat diupayakan sendiri oleh masyarakat dengan penerapan 3M (menguras.000 penduduk) dan bidan sebesar 43. Oleh karena itu diperlukan penanganan yang lebih seksama yang didukung dengan regulasi yang RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . bayi dan anak balita perlu terus ditingkatkan karena masih tingginya bayi yang lahir rendah (BBLR) sebesar 11. prevalensi kekurangan gizi pada anak balita sebesar 10. berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan peningkatan kasus dan penyebab kematian. pemberdayaan masyarakat dan ketersediaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) ditingkat pelayanan primer harus diperhatikan.26 per 100. menutup. selain itu juga terkait dengan pembagian kewenangan dalam pengaturan SDM Kesehatan (PP No. perlu peningkatan upaya promotif dan preventif serta kerja sama sektor terkait dengan man made breeding places.000 penduduk).000 penduduk). jenis dan distribusi. Untuk penyakit tidak menular. Untuk dokter spesialis 4. Beberapa hasil yang telah dicapai oleh program perbaikan gizi masyarakat antara lain pemberian kapsul vitamin A pada anak balita usia 6 – 59 bulan sebesar 90% melampaui target 80% dan pemberian tablet besi (Fe) pada ibu hamil telah mencapai 90% dari target 80%. Untuk malaria. TB paru dan malaria sudah mengalami peningkatan pengendaliannya untuk masa yang akan datang. Rasio tenaga kesehatan per 100.7 per 100.000 penduduk (target 9 per 100.9% pada tahun 2009. terutama pada kasus kardiovaskuler (hipertensi). yaitu sebesar 13.70% yang terdiri dari 10. perbaikan gizi perlu difokuskan pada kelompok sasaran ibu hamil dan anak sampai usia 2 tahun mengingat dampaknya terhadap tingkat pertumbuhan fisik. Angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) masih tinggi. 38 tahun 2000 dan PP No.000 penduduk (target 75 per 100.000 penduduk (target 11 per 100. untuk itu perlu perhatian lebih pada upaya deteksi TB paru dan juga keberhasilan pengobatannya. Dalam pembangunan kesehatan. dokter gigi sebesar 7.000 penduduk (target 158 per 100.000 penduduk (target 30 per 100.000 penduduk). Ketersediaan reagen. mengubur) dan juga didorong oleh upaya promotif.000 penduduk belum memenuhi target yang diharapkan. perawat sebesar 157.75 per 100. daerah endemis semakin meluas dan ada kecenderungan terjadi resistensi di daerah endemis. walaupun demikian angka kematian akibat DBD relatif kecil. diabetes melitus dan obesitas.BAB II Penanggulangan penyakit HIV/AIDS.5% dan tingginya prevalensi anak balita yang pendek (stunting) akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu lama (kronis) yaitu 36.

dan peningkatan persentase tempat tempat umum (TTU) sehat 78. Peresepan Obat Generik Berlogo (OGB) di Puskesmas sudah sebesar 90% namun di RSU sebesar 66% dan Rumah Sakit Swasta dan apotek sebesar 49%.d 2009 angka kemiskinan secara konsisten menurun dari 8.450 jiwa pada 2006. Diharapkan pada akhir pembangunan 5 tahun ke depan (2015) terjadi pengingkatan Indeks Pembangunan Gender (IPG) Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam pengadaan obat sering terkendala sistem pengadaan yang berpotensi menimbulkan terputusnya ketersediaan obat dan vaksin. Walaupun ketersediaan OGB tinggi. dan sistem pengembangan karier.33% dari target 85% pada tahun 2010. Selama periode tahun 2006 s. 2. Selain itu kita juga perlu memberikan perhatian pada terjadinya peningkatan rumah tangga yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah dan masih ada rumah tangga yang memelihara unggas atau ternak dalam rumah. Pembangunan kesehatan perlu memberikan penekanan pada peningkatan kesetaraan gender (gender equity) dalam rangka memberikan kesempatan yang sama untuk memperoleh akses.3% menjadi 60. akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi telah berhasil ditingkatkan.12% pada tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .66%. harga murah tetapi akses masyarakat terhambat karena adanya asymetric information dan praktek pemasaran yang kurang baik dan sekitar 30% obat resep dijual langsung oleh dokter. Ketersediaan obat esensiel generik di sarana pelayanan kesehatan baru mencapai 69. Prosentase penduduk miskin pada 2005 sebesar 7.74% dari target 95%. reward-punishment.5% belum mencapai target 85% pada tahun 2010. Kemiskinan Trend angka kemiskinan mengalami penurunan sejak tahun 2005 s. bidan atau perawat.d 2009. namun kita harus memberikan perhatian pada perilaku merokok yang semakin memburuk dengan makin mudanya usia awal perokok.15% sedangkan pada tahun 2006 menjadi 8. Anggaran untuk obat esensiel generik di sektor publik sebesar 14.3%.700 jiwa pada 2005 menjadi 278. selain itu pemberian ASI eksklusif yang menurun disebabkan baik oleh perilaku maupun besarnya pengaruh dari luar seperti pemberian susu formula gratis pada saat ibu melahirkan. Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat mengalami peningkatan capaian.23% belum mencapai target sebesar 75%. seperti peningkatan pada persentase keluarga menghuni rumah yang memenuhi syarat kesehatan mencapai 73.4. manfaat dan kontrol antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dan perannya dalam pembangunan kesehatan. seperti rumah tangga dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) meningkat menjadi 48. meskipun sempat terjadi peningkatan dari 235.2. persentase keluarga menggunakan air bersih meningkat dari 58.BAB II memadai dan pengaturan insentif.2015 Page 36 . Indikator lainnya seperti Desa Siaga sampai dengan tahun 2009 sudah mencapai 1958 desa/kelurahan se-Kalimantan Selatan.2. Untuk kesehatan lingkungan.3 % pada tahun 2006 hingga menjadi 5. partisipasi.47% dengan target setara dengan $ 2 US perkapita.

kerentanan masyarakat akan kemiskinan masih signifikan mengingat masih besarnya jumlah masyarakat yang berada pada tingkat “hampir miskin” dan standar garis kemiskinan yang dipakai masih jauh dari ideal.000 100.-.0 10.35 14. jaminan sosial bidang kesehatan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .9 4.2 176. Akan tetapi.977 250.73 INDONESIA 11 910.000 150.8 434.34 7.1 162.09 9.30 Kalimantan Tengah 35. Respon terhadap program nasional penanggulangan kemiskinan terus dilakukan dalam bentuk fasilitasi program yang meliputi bantuan sosial terpadu. Maret 2009 Jumlah Penduduk Miskin % Penduduk Miskin (000) Provinsi Kota Desa K+D Kota Desa K+D Kalimantan Barat 94.000 0 Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Jika dilihat pola kemiskinan yang terjadi nampak bahwa kemiskinan dipedesaan sedikit lebih tinggi dari perkotaan.2 239. 2009 Berbagai upaya telah dilakukan dalam mengentaskan kemiskinan di Kalimantan Selatan.000 235. bantuan pangan.45 8.2009 300.82% sedangkan di perdesaan 5.23 10. Jumlah Penduduk Miskin di Kalimantan Selatan Periode 2005 . Bantuan tersebut dilakukan dengan mengintegrasikan program perlindungan sosial berbasis keluarga yang mencakup Bantuan Langsung Tunai (BLT).BAB II 2009.82 5.02 Kalimantan Selatan 68. sebesar 4.450 233.33 5.27 Penduduk Miskin di Kalimantan dan Nasional.33% sehingga secara total terdapat sebesar 5.8 107.501 218. seperti nampak pada tabel berikut ini.2015 Page 37 .000 50.00 13.4 32 530.12% penduduk miskin diseluruh Kalsel. yakni Rp. Persentase penduduk miskin di pekotaan miskin pada tahun 2005 s/d 2009.0 340.8 130.900 175.86 7. Gambar II.72 17. 195.787.8 7.5 20 619.15 Sumber : BPS Nasional.700 278.3.2 4.0 4. dan perluasan cakupan keluarga harapan. Tabel II. beasiswa bagi anak keluarga yang berpenghasilan rendah.12 Kalimantan Timur 77.000 200.1 165. Kesenjangan kota dan desa dalam hal ini memang masih lebih baik dari provinsi lainnya di Kalimantan maupun secara nasional. Posisi 2009 ini menempatkan Kalsel menduduki peringkat II pada tingkat nasional atas jumlah penduduk miskin paling sedikit.

935 118.177 4 Pengangguran (jiwa) 131.2. pemantauan dan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .75%.75 8 Setengah Penganggur Terpaksa (jiwa) 214.483 202.598. meningkat pula jumlah angkatan kerja setiap tahunnya. pelaksanaan. dengan terjadi perubahan nomenklatur Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (KNPP) menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KNPPPA).635.594. Angka ini menurun pada tahun 2008 menjadi 6.d 2009 tingkat partisipasi angkatan kerja mengalam perubahan naik dan turun (Fluktuatif) namun serapan terhadap tenaga kerja justru mengalami kecenderungan menurun yang digambarkan dengan jumlah penduduk yang bekerja yakni 1.68 69.79 6.853 3 Bekerja (jiwa) 1.191 jiwa naik menjadi 519.403 2.2.760 1.754. 2009 Tingkat pengangguran terbuka mengalami kecendrungan menurun. Tabel II. Pada tahun 2007 jumlah setengah menganggur sebanyak 505. Jenis Kegiatan 2007 2008 2009 2.28 Perkembangan Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Prov.020 771.6 Pemberdayaan Perempuan Tepat pada bulan bulan oktober.916 1.177 jiwa.209 10 Jumlah Setengah Menganggur (jiwa) 505.2015 Page 38 .604 Sumber : BPS Prov Kalsel.487 753.029 6 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%) 73.635.Kalsel Menurut Jenis Kegiatan Tahun 2007-2009 Jumlah Penduduk 15 Tahun Ke atas No. Pada tahun 2007 TPT sebesar 7.594.5.604. Kurun waktu tahun 2007 s.62%.2. Pemerintah provinsi juga mendorong maksimalisasi pengguliran Kredit Usaha Rakyat (KUR) keseluruh kabupaten/kota.000 248.62 6. Meski demikian jumlah setengah menganggur cenderung meningkat. Seleksi atas kegiatan juga dilakukan untuk memenuhi prinsip tiga tepat. yaitu tepat sasaran. 2.191 454.981 1.743.154 2.153 317.395 9 Setengah Menganggur Sukarela (jiwa) 291.191 206.760 tahun 2008.730.134 1. 2.79% dan turun kembali pada 2009 menjadi 6. Kesempatan Kerja Sejalan dengan meningkatnya jumlah peduduk. Perkembangan ketenagakerjaan ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.BAB II Pemerintah provinsi menyediakan dana pendamping untuk PNPM Mandiri sesuai kebutuhan dan kebijakan yang ada. Dalam tataran perundang-undangan pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional mendifinikan sebagai “strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi dari perencanaan.374 118.2.636 519.15 70.51 7 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 7. Untungnya pada tahun 2009 jumlah penduduk bekerja naik kembali menjadi 1.366.524.612 1 Penduduk 15 Tahun ke Atas (jiwa) 2 Angkatan Kerja (jiwa) 1.406 5 Bukan Angkatan Kerja (jiwa) 635.981 tahun 2007 menjadi 1. tepat kegiatan dan tepat waktu.466.598. penyusunan.

2015 Page 39 .1%.29 menunjukkan bahwa. jumlah perempuan yang tidak mengikuti pendidikan lebih banyak dibandingkan laki-laki. hampir 2 kali lipat pada tahun 2007 dibandingkan tahun 2006. Gambaran di Kalimantan Selatan.BAB II evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan. Sementara itu.6%. yaitu persentase perempuan yang menduduki jabatan eselon I sampai IV masing-masing sebesar 9. jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak menunjukkan angka yang cenderung meningkat. Kondisi dapat dilihat pada Tabel II. selama ini telah terjadi perbaikan yang mengesankan. di bidang ekonomi. Unsur 2006 237 715 Tahun 2007 252 2. 14. SMP.6% pada tahun 2004 menjadi 18. peningkatan akses lapangan kerja bagi perempuan dari 13. tingkat kekerasan yang terjadi pada perempuan meningkat cukup signifikan. Pada jabatan publik.7%. bahwa pada operasional.29% pada tahun 2008. Kondisi umum pembangunan dalam setiap bidang pembangunan dapat digambarkan sebagai berikut. 13. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 72% pada tahun 2006 meningkat menjadi 19. Persentase tersebut meningkat pada tahun 2008. terdapat sedikit peningkatan partisipasi perempuan selama kurun waktu tiga tahun terakhir. Secara nasional. Sedangkan kekerasan pada anak dari tahun ke tahun cenderung meningkat. partisipasi perempuan di lembaga legislatif meningkat dari 11.4% pada tahun 2006. Dibidang pendidikan.086 2008 376 2. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak jumlahnya semakin meningkat.5% dan 23. 2009 Dari data pada Tabel II. pelaksanaan pengarusutamaan gender masih terkendala kurangnya pemahaman aparatur tentang teori dan konsep gender. Kalsel. Sedangkan perempuan yang mengikuti pendidikan SD. 7. Dibidang politik. Hal ini menyebabkan kalangan perencana sulit mengintegrasikan pengarusutamaan gender dalam penyusunan kebijakan pada tataran gender.5%. Demikian juga yang berkaitan dengan pembentukan lembaga dan instansi yang berfungsi untuk memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap kekerasan pada perempuan dan anak. Hal ini perlu adanya program-program preventif yang lebih optimal dari lembanga-lembanga yang memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap kekerasan pada perempuan dan anak.6%. dibidang hukum dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pembangunan gender. Sayangnya di tingkat perguruan tinggi jumlah perempuan lebih sedikit dibandingkan laki-laki.” Sayangnya berdasarkan hasil evaluasi menunjukan.04% pada tahun 2009. masing-masing 8.29 Kekerasan pada Perempuan dan Anak Di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 No.7% dan 22. dan SMA jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki. serta tujuan dasar pengarusutamaan gender. 6.29 Tabel II.281 1 Anak Korban Tindak Kekerasan 2 Wanita Korban Tindak Kekerasan Sumber : BPS Prov.

normanorma yang berlaku di dalam masyarakat berkaitan dengan peran gender berdasarkan spesifik lokasi. Ekonomi. Tantangan ke depan adalah melakukan program yang berkaitan dengan peningkatan kualitas hidup perempuan melalui aksi afirmasi.90 Sumber: Kementerian PP&PA bekerjasama dengan BPS Berdasarkan Tabel II.10 62. IPG di Kalimantan Selatan masih lebih rendah dari angka rata-rata nasional. pengembangan pusat-pusat pelayanan sebagai sarana perlindungan perempuan korban kekerasan.80 65. Kualitas hidup perempuan masih tertinggal dibandingkan dengan laki-laki. serta masih banyak dijumpai faktor sosial budaya yang membatasi kebijakan pengarusutamaan gender di dalam pembangunan. penataan sistem yang mampu menangkap dinamika gender. bahwa keberhasilan pembangunan sumber daya manusia secara keseluruhan belum sepenuhnya diikuti dengan keberhasilan dalam pembangunan gender. informasi dan edukasi kualitas hidup dan perlindungan perempuan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . melaksanakan komunikasi. menjadi faktor dominan dalam menghitung IPG.30 Tabel II. dan kesehatan).BAB II Rumus yang digunakan untuk menghitung Indeks Pembangunan Gender (IPG). Perkembangan IPG Kalimantan Selatan selama tahun 2005 s. adanya perdagangan perempuan. eksploitasi dan diskriminasi. perlindungan perempuan dari tindak kekerasan. dan kesehatan. IPG Kalimantan Selatan secara faktual menunjukkan peningkatan jika dilihat dari angka absolut dan sejalan peningkatan IPG nasional. di Kalimantan Selatan masih memerlukan pembenahan dan pengembangan khususnya yang berkaitan dengan masalah gender. Provinsi 2005 Tahun 2006 2007 61.20 65.30 2008 63. Keterbasan ini juga juga terjadi diantara para perencana dan pelaksana pembangunan yang dapat berakibat terlambatnya upaya-upaya mengintegrasikan konsep gender kedalam berbagai program pembangunan. Walaupun IPM merupakan ukuran kualitas sumber daya manusia. pendidikan.30 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Di Kalimantan Selatan Tahun 2007 s/d 2009 No. yaitu 68. pendidikan. dan perbedaan jaminan sosial. tindak kekerasan pada perempuan. Kesenjangan ini menunjukkan. kualitas hidup perempuan juga ditentukan oleh ada tidaknya masalah lain yang langsung maupun tidak langsung mempengaruhi IPG.70 2 Rata-rata Nasional (Indonesia) 63.80 65.d 2008 dapat dilihat pada Tabel II.80 pada tahun yang sama (tahun 2008). Kondisi ini menunjukkan bahwa dari beberapa komponen perhitungan IPG (ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari nilai IPM dan IPG.30. misalnya adanya kesenjangan upah pekerja perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki.72 dan 63. sama dengan cara menghitung Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pemahaman akan konsep kesetaraan dan keadilan gender masih sangat terbatas di semua kalangan.30 1 Kalimantan Selatan 60.2015 Page 40 . serta penguatan/pemberdayaan kelembagaan pengarusutamaan gender.

memilih GDP per kapita riil yang telah disesuaikan (adjusted real GDP per capita) sebagai indikator hidup layak.72 71.BAB II 2.2015 Page 41 . IPM Kalimantan Selatan masih berada dibawah rata-rata nasional. Di Indonesia dihitung dengan metode tidak langsung. Standar hidup Selain usia hidup. Sebagaimana telah disebutkan diatas. Sebenarnya banyak indikator yang dapat digunakan untuk mengukur usia hidup.01 70. Pengetahuan pengetahun juga diakui secara luas sebagai unsur mendasar dari pembangunan manusia. Kondisi tersebut memberikan kontribusi rendahnya IPM Kalimantan Selatan.59 2008 68.10 68. Dengan mempertimbangkan ketersediaan data secara internasional UNDP. Namun demikian jika dilihat dari peringkat antar provinsi.75 70. Usia hidup Pembangunan manusia harus lebih mengupayakan agar penduduk dapat mencapai “usia hidup” yang panjang dan sehat. Tantangan ke depan adalah pengembangan sektor ekonomi.2.17 Sumber : BPS Nasional. Banyak indikator alternatif yang dapat digunakan untuk mengukur unsur ini. 2009 Indeks Pembangunan Manusia di Kalimantan Selatan. di Kalimantan Selatan masih belum sebagaimana yang diharapkan. IPM merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan manusia yang dianggap sangat mendasar yaitu usia hidup (longevity).57 Tahun 2006 2007 67.2. Namun masih berada dibawah ratarata angka nasional.7 Indek Pembangunan Manusia Indeks pembangunan manusia (IPM) menunjukkan jumlah tahun hidup yang diharapkan dapat dinikmati penduduk suatu wilayah. berdasarkan Tabel II. dan standar hidup layak (decent living).31 dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan.4 69. pemberdayaan dan partisipasi RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Perkembangan IPM Kalimantan Selatan selama tahun 2005 s. IPM Kalimantan Selatan secara faktual menunjukkan peningkatan jika dilihat dari angka absolut dan sejalan peningkatan IPM nasional.d 2008 dapat dilihat pada Tabel II. Metode ini menggunakan dua macam data dasar yaitu rata-rata anak yang dilahirkan hidup dan rata-rata anak yang masih hidup. pendidikan dan kesehatan yang berbasis pada masyarakat miskin. 1 2 Provinsi Kalimantan Selatan Rata-rata Nasional (Indonesia) 2005 67. bahwa IPM merupakan suatu indeks komposit tiga bidang pembangunan manusia (usia hidup. dan pengetahuan unsur dasar pembangunan manusia yang diakui secara luas adalah standar hidup layak. Pengetahuan diukur dengan dua indikator yaitu angka melek huruf (Literacy Rate) dan rata-rata lama sekolah (Mean Years School). pengetahuan (knowledge).31 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Di Kalimantan Selatan Tahun 2005 s/d 2008 No.31 Tabel II. pengetahuan dan standar hidup).

2. Pada 2003.252 buah).2.1 Keagamaan Sekalipun penduduk Kalimantan Selatan mayoritas beragama Islam.908 orang (0. jumlah penduduk menurut agama berturut-turut adalah sebagai berikut: beragama Islam sebanyak 3.70%). dimana kecenderungan mayoritas memberikan apresiasi negatif terhadap pemeluk agama lain.78%). gereja (77 buah). Pemuda dan Olahraga 2. Diantara indikator dalam melihat perkembangan sosial keagamaan adalah pertumbuhan jumlah pemeluk dan fasilitas peribadatan dan kegiatan keagamaan. Hal ini ditandai dengan meningkatnya masing-masing jumlah pemeluk agama dan sarana peribadatan.869 (96. serta agama lainnya. Kehidupan ritual keagamaan ditunjang oleh sarana ibadat.3. Pura/Kuil/Sanggah (40 buah).4 Jumlah Pemeluk Agama dan Tempat Ibadah di Kalimantan Selatan Tahun 2008 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Katolik 13.49%). Hindu dan Budha 19.346 oarang (0.181 orang (0. langgar (6. serta pembangunan infrastrukur di daerah-daerah tertinggal/terpencil. Di Kalimantan Selatan sekarang terdapat 140 buah pesantren dengan jumlah santri sebanyak 37. Kristen 25. dan Wihara Cetyah/Klenteng (10 buah). Fakta ini menunjukkan bahwa kehidupan keberagamaan tidak mengalami konflik sosial yang berarti sebagaimana di daerah lain. Khong Ho Chu 23. namun Kehidupan beragama di provinsi ini secara ritual menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.2015 Page 42 .91%). Seni Budaya.3 Agama.14%).BAB II masyarakat.200.387 orang (0. Bagi penduduk beragama Islam.738 buah).393 orang. seperti Kaharingan. pesantren juga menjadi pilihan pendidikan agama bagi anaknya. seperti mesjid (2. 2. Gambar II.

Kapel 6. Nama Fasilitas Ibadah 2006 2. Kalsel. Langgar 3.650 6.BAB II Tabel II.362 602 125 8 55 3 12 2 4 1. tetapi menjadikan ranah agama sebagai pemahaman penyeimbang dampak buruk dari gerusan budaya-budaya global yang destruktif dan demokrasi yang semakin menggeliat. Sanggar Balai 8. diantaranya pengejawantahan ajaran-ajaran normatif dan kognitif agama masing-masing dalam semua aspek kehidupan baik perkumpulan keagamaan.200 4. Toleransi antar-umat beragama dan antar-suku sampai sekarang masih dapat dipertahankan. tetapi pemahaman nilai-nilai keberagamaan dan toleransi antar umat beragama. Kehidupan keberagamaan yang baik dan nyaman mampu menyediakan batasan-batasan moral penduduk (pemeluk) sebagai bagian dari tugas bersama pemerintah dan pemangku agama. kebebasan berpikir dan berekspresi maupun implikasi regulasi yang bernuansa agama dan kesukuan sebagaimana terjadi di daerah lain. lembaga pendidikan (tak terkecuali pesantren) maupun dialog-dialog antar umat beragama. Mushalla 4.2015 Page 43 . sehingga dapat dicegah terjadinya konflik sosial berbasis agama dan suku. Hal ini dimaksudkan agar kualitas pendidikan keagamaan dapat disejajarkan dengan pendidikan umum yang pada akhirnya akan menyeimbangkan IPTEK dan IMTAQ. 2009 Dalam konteks ini Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memaknai perkembangan dan pertumbuhan pemeluk agama maupun ketersediaan sarana prasarana serta kegiatan sosial keagamaan tidak sekadar mewujudkan kenyamanan pemeluk dalam menjalankan ibadahnya. Vihara 9. konflik tempat ibadah.32 Jumlah Sarana Ibadah di Kalimantan Selatan Tahun 2006-2008 No. Pura 7. Paham-paham pluralisme terus dikembangkan dan diwujudkan pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam mengembangkan kehidupan keberagamaan yang harmonis. Klenteng Sumber: BPS Prov. Untuk pengembangan pendidikan di bidang keagamaan yang juga sebagai modal sosial Pemerintah telah memberikan bantuan pembangunan asrama mahasiswa Kalsel di Kairo dan bantuan pendanaan untuk menyelesaikan pendidikan di Kairo disamping pengembangan pendidikan keagamaan di Kalimantan Selatan dan di Indonesia pada umumnya. Masjid 2.311 6. Cetya 10.270 425 113 20 40 101 15 8 4 2007 2. Hal ini dapat dibuktikan dengan tidak adanya laporan kekerasan-kekerasan yang bernuansa agama atau suku. Gereja 5.323 602 119 10 35 3 9 7 4 2008 2. Sebab bagi pemerintah kualitas keberagamaan tidak selalu diukur dari jumlah pembangunan sarana prasarana ibadah maupun frekuensi kegiatan sosial keagamaan. kasus penyesatan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .

berpemerintahan.3. maupun bernegara termasuk di masa-masa mendatang tampaknya upaya untuk “menyeharikan” ajaran dan pesan-pesan moral agama menjadi etos kerja guna menjadi modal sosial (social capital) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kalimantan Selatan yang dihuni oleh mayoritas etnis Banjar dan sebagian etnis Bakumpai dan Dayak sebagai entitas etnis asli memiliki keragaman seni dan budaya yang saling terintegrasi baik nilai-nilai. toleransi antar umat beragama. Catatan historis masyarakat Banjar yang memiliki etos kerja dan etos migrasi (madam) adalah salah satu contoh transformasi nilai-nilai agama dan budaya dalam menjawab tantangan dan zaman pada masa lalu. Gambar II. Seni dan budaya di Kalimantan Selatan sebagaimana di daerah lain mengalami perkembangan pasang surut sebab dan pemangku seni budaya dikonstruksi oleh tiga pilar yakni. Adalah hal yang menarik ketika terbentuknya Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar (LAKKB) sebagai pilar yang ke-empat (4) guna membangun interaksi seni-budaya Banjar dengan keraton sebagaimana kokohnya kesenian dan kebudayaan di Jawa dan Sumatera sebagai bagian dari upaya pemerintah bersama RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2. nilai-nilai luhur tersebut semakin terancam oleh nilai-nilai lain .2015 Page 44 .5 Alur Pikir Transformasi nilai-nilai keagamaan Sosial keagamaan Namun demikian akhir-akhir ini. Islam sebagai agama mayoritas simbol Keberagamaan masyarakat Banjar memiliki nilai-nilai sosial budaya yang mendorong tumbuhnya etos kerja dan semangat wirausaha yang mendorong kemajuan. pelaku maupun lokasi/wilayah kebudayaan (tujuan wisata).2 Seni dan Budaya Seni dan budaya adalah identitas suatu daerah. Pengembangan pengelolaan kapasitas dan kualitas lembaga sosial keagamaan serta Pembinaan terhadap pendidikan dan perguruan keagamaan yang masih kurang optimal menyentuh kemasyarakat terutama kualitasnya 2. Tantangan kedepan yang menjadi perhatian serius adalah diperlukan penguatan nilai-nilai sosial keagamaan dan konstruksi budaya guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berbasis sosial keagamaan dan budaya tempatan dan terciptanya keharmonisan antar pemeluk agama. (1) pilar nilainilai seni budaya yang berlaku di masyarakat (2) Pilar Kegiatan yang dilakukan dan kokohkan para pemangku seni budaya (adat) dan yang (3) Pilar Peran dan fasilitasi pemerintah daerah. berbisnis.BAB II Harapan besar pemerintah meningkatnya kualitas keberagamaan dengan indikator meningkatnya sarana prasarana ibadah maupun frekuensi kegiatan sosial keagamaan dapat terwujud transformasi nilai-nilai normatif dan kognitif agama ke dalam perilaku hidup baik dalam kehidupan bermasyarakat.

6 Skema Integrasi 4 Pilar Pelestarian Kebudayaan Banjar Kalsel Tabel II. 1. 9. 8. 4. 10. seni dan nilai-nilainya. Perda Bangunan Banjar dan Perda Peninggalan bersejarah Tahun 2008 misalnya adalah bentuk jawaban pemerintah Provinsi atas kegelisahan dan keresahan para budayawan dan seniman serta pemangku adat Banjar dalam menjawab tantangan zaman guna melestarikan kebudayaan.BAB II stakeholder memangku seni dan adat daerah Provinsi Kalimantan Selatan. Kelompok Seni PERFEKINDO SANGGAR BUDAYA SANGGAR ANGGERIK HARIVI KAMBANG BARENTRENG AYU LABUNI BERSUJUD KAMBANG MAYANG BUANA BULUH MARINDU SINAR PUSAKA PUSAKA SAIJAAN BUNGA ANGGERIK 2006 Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif 2009 Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Pelestarian nilai-nilai seni budaya belum optimal terintegrasi dalam kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan menengah di Kalsel termasuk kegiatan ekstra kurikuler. 7. Terbitnya Perda yang bernuansa Budaya seperti Perda Seni dan Bahasa Banjar. 5.33 Perkembangan Kelompok Kesenian Tahun 2006 dan 2009 No. 2. 3. 6. Hal ini untuk menegaskan dan meletakkan dasar bahwa kesenian dan kebudayaan Banjar Kalimantan Selatan tidak sekadar sebuah event atau kegiatan tetapi ianya menjadi sebuah bagian dari urat nadi kehidupan yang didukung oleh institusi keraton sebagai mitra pemerintah. Gambar II. Itulah sebabnya program pemerintah provinsi dalam rangka mendirikan replika Keraton bagian dari upaya mengintegrasikan kebudayaan Banjar.2015 Page 45 . Koordinasi antar SKPD yang berwenang menjadikan ranah pelestarian ini RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .

literatur muatan lokal. Selama ini kegiatan pelestarian kebudayaan dan kesenian Banjar termasuk kegiatan promosi wisata hanya dalam konteks tataran pelaksanaan pagelaran seni. berdirinya sanggar-sanggar. penganugerahan karya cipta seni dan budaya yang diintegrasikan dalam event-event wisata lainnya. Kegelisahan seni dan budaya tidak sekedar pada kualitas kegiatan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . alat peraga seni-budaya sebagai pelengkap alat kebijakan (perda) yang masih minim.2015 Page 46 . padahal merupakan medium pelestarian budaya yang efektif. Gambaran ini pun tersirat pada pemanduan kepariwisataan dan pembinaan stakeholder pelengkap dunia kepariwisataan yang masih belum professional sehingga belum memberikan kenyamanan dan kepuasaan bagi pengunjung. fasilitas sarana prasarana. berpengaruh terhadap kunjungan wisata seperti sektor jasa perhotelan yang pertumbuhannya relative kecil atas hunian hotel. Karya seni dan budaya di Kalsel masih dalam konstelasi “jeruk makan jeruk” sebuah ungkapan bahwa karya seni hanya dinikmati sesama seniman dan budayawan belum lagi meluas menjadi bagian hiburan dan transformasi nilai-nilai seni-budaya kepada masyarakat . festival tari. pelayanan dan promosi pariwisata. dokumentasi.BAB II terkesan berjalan sendiri-sendiri dan tidak membuahkan hasil yang memuaskan. tetapi mentransformasikan nilai-nilai seni dan kebudayaan dalam kegiatan pemerintahan dan perilaku masyarakat. namun kondisi demikian adalah proses kebudayaan yang statis/mandek dalam perkembangan dan pelestarian kebudayaan. ditambah lagi dokumentasi seperti buku-buku budaya Banjar/cerita Banjar. festival sastra. Karya seni budaya cenderung hanya bagian dari proses komersialisasi promosi wisata yang mengedepankan profit oriented. sehingga terkesan event-event yang dilaksanakan pun sebagai pengguguran kewajiban saja (proyek) bagi aparat birokrasi berwenang yang rendah kreatifitas-inovasi dan pelibatan professional-profesional pegiat seni dan budaya. sehingga kehadiran agen-agen traveling yang meningkat belum memberikan layanan yang bernilai kompetitif. Sekalipun fasilitas berkesenian dan berkebudayaan bagi para seniman dan pemangku adat relatif terfasilitasi. Selain infrastruktur tujuan wisata masih relatif belum memadai. Demikian pula peran dan fungsi museum masih menggunakan paradigma lama dimana belum menunjukkan hal yang dinamis dan menarik bagi pengunjung untuk memahami nilai-nilai dan peninggalan tradisi sebagai bagian dari pelestarian kebudayaan. Ketidakramahan dan ketidakmemuaskan pelayanan kepariwisataan yang dikelola masyarakat menjadi kontribusi negatif promosi wisata.

Kegiatan-kegiatan kepemudaan termasuk pelajar generasi muda. Sedangkan pembinaan di luar sekolah adalah pembinaan kewirausahaan guna mengurangi pengangguran.2. Pembangunan dibidang olah raga di Kalimantan Selatan melalui 3 kegiatan pokok yaitu Pengembangan olah raga masyarakat.2015 Page 47 . Pembinaan terhadap generasi muda meliputi dua pola yaitu di sekolah dan di luar sekolah. pembibitan oleh raga dan pemasalahan olah raga. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan antara lain menyebutkan bahwa sasaran pembangunan kepemudaan adalah usia 16 s/d 30 tahun. Disamping itu melakukan pembinaan dan promosi kepariwisataan yang efektif. Dengan demikian upaya penyadaran terhadap pemuda pemberdayaan dan pengembangan pemuda untuk semakin berperan dalam pembangunan. Selain itu juga dikembangkan pertukaran pelajar dan pertukaran pemuda baik antar negara maupun antar daerah.3. Berbagai kegiatan yang masih terkait dengan pembinaan di sekolah adalah seperti pelatihan dasar kepramukaan.BAB II Gambar II. Salah satu bentuk pembinaan nyata terhadap pemuda di RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . kepramukaan dan kewirausahaan.3 Pemuda dan Olah Raga Perkembangan kualitas bidang pemuda dirasakan belum optimal sehingga kontribusi pemuda dalam pembangunan belum optimal. peninggalan bersejarah dan mendinamisasikan museum-museum bersejarah. pelatihan tingkat mahir dan lanjutan dimaksudkan untuk keberlangsungan pendidikan mental dan spritual termasuk pula pembinaan tentang bela negara. 2.7 Kunjungan Wisatawan ke Kalsel Tahun 2007 Sumber: KDA Tahun 2008 Tantangan ke depan adalah bagaimana meredifinisi dan merevitalisasi budaya Banjar agar menjadi energi kultural untuk membangun modal sosial bagi lestari nilai-nilai dalam perilaku dan kehidupan masyarakat serta menjadi kekuatan pembangunan. dan penggalian dokumentasi.

demikian juga untuk olah raga rekreasi telah pula dikembangkan sarana olah raga dalam bentuk outbond dan untuk olah raga prestasi telah dikembangkan program pemusatan latihan. Secara yuridis. pemerintah provinsi memiliki kewenangan untuk terlibat dalam dua hal tesebut dalam pengertian yang limitatif. Dalam kedua hal tersebut. bangsa dan negara.4. Politik dan Pemerintahan 2. Selain dua hal itu. banua. pemerintah daerah provinsi hanya diberikan wewenang untuk membentuk peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya sebagaimana diatur dalam UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah jo UU No. 2. pemerintah daerah provinsi dapat membentuk satu peraturan perundang-undangan berupa Peraturan Daerah (Perda) Provinsi. meningkatkan sosialisasi dan kampanye bahanyanya narkoba bagi generasi muda dan mengupayakan pembangunan fasilitas kepemudaan dan wadah olahraga yang representatif. Peraturan Gubernur sendiri adalah suatu produk hukum yang mengatur hal-hal yang lebih teknis dari Peraturan Daerah. Langkah – langkah strategik yang diambil pemerintah dari pemetaan masalah soal kepemudaan setidaknya melepaskan dan menghindarkan dari bahaya pengguna narkoba yang berakibat pada tindakan patologi sosial yang merusak masa depan pemuda itu sendiri.BAB II Kalimantan Selatan adalah dibidang olah raga adalah dikembangkannya olah raga kesehatan.1 Hukum a.2015 Page 48 . olah raga rekreasi dan olah raga prestasi. kekhasan dan/atau kearifan lokal daerah setempat. hukum sebagai kewenangan pemerintahan meliputi dua hal. Perda dapat dibentuk untuk memenuhi kewajiban peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan guna memenuhi kebutuhan. Terhadap olah raga kesehatan pemerintah daerah menyiapkan tempat-tempat umum yang dilengkapi dengan sarana olah raga.2. Kewenangan Bidang Hukum Pemerintah Provinsi Secara garis besar.10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.4 Hukum. Dalam pembuatan peraturan perundan-undangan. pemerintah daerah provinsi juga dapat membentuk Peraturan Gubernur.2. fungsi pelayanan masyarakat yang melekat pada berbagai fungsi pemerintahan juga menjadi domain kewenangan pemprov yang perlu diperhatikan secara serius. Posisi Peraturan Gubernur sama halnya dengan Peraturan Pemerintah sebagai penjelas dari RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Tantangan yang dihadapi di bidang pemuda dan olah raga adalah :mengoptimalkan peran serta pemuda dalam berbagai bidang pembangunan. yaitu : pembuatan peraturan perundang-undangan (law making process) dan penegakan hukum (law enforcement) atas peraturan perundang-undangan itu sendiri. Dalam kedua UU tersebut. Selain dapat membentuk Perda.

penyediaan sarana dan prasarana umum. dan f. d. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. b. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. Perda. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota. pertahanan. perencanaan. e. agama. Dalam Pasal 13 UU No. Peraturan Gubernur dan Keputusan Gubernur mesti merujuk kepada dasar kewenangan yang membuatnya. c. Kewenangan pemerintah daerah provinsi sendiri dapat dilacak berdasarkan ketentuan dalam UU No. pelayanan kependudukan. d.32 Tahun 2004 disebutkan definisi urusan wajib dan urusan pilihan yang dimiliki pemerintahan daerah provinsi sebagai berikut : (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: a. f. yaitu : urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan. fasilitasi pengembangan koperasi. h. e. dalam hal ini adalah pemerintah daerah provinsi.32 Tahun 2004. penanganan bidang kesehatan. l. Untuk menetapkan hal-hal yang bersifat individual dan konkret dari Perda dan Peraturan Gubernur.BAB II UU. penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota. UU No. j. yustisi. pengendalian lingkungan hidup. (3) Urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. pemanfaatan. b. i. kabupaten/kota). g. Lebih lanjut. pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. keamanan. moneter dan fiskal nasional. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-Undang ini ditentukan menjadi urusan Pemerintah. dan catatan sipil. Sebagai suatu produk hukum. seorang Gubernur dapat pula menerbitkan Keputusan Gubernur. (2) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota.32 Tahun 2004 membagi urusan pemerintahan daerah yang bersifat otonom tersebut atas dua urusan pemerintahan. perencanaan dan pengendalian pembangunan. Dalam Pasal 10 UU tersebut menyatakan : (1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. dan pengawasan tata ruang. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.2015 Page 49 .32 Tahun 2004 tersebut merupakan dasar hukum pemberian kekuasaan yang bersifat otonom kepada daerah (provinsi. c. politik luar negeri. Klausula dalam Pasal 10 UU No. usaha kecil. k.

38 Tahun 2007 tersebut. n. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. kekhasan. Perda sebagai salah satu produk hukum daerah juga dapat dibentuk sebagai penjabaran peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. o.8 : Gambar II.BAB II m. urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi terdiri atas 26 bidang yang menjadi urusan wajib dan 8 bidang urusan pemerintahan yang menjadi pilihan. Selain itu.10 Tahun 2004. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. p. Kendati demikian. (2) Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. pelayanan administrasi umum pemerintahan. Secara lebih terperinci mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Berdasarkan PP No. pemerintahan daerah provinsi juga mendapat limpahan kewenangan pemerintahan dari pemerintah pusat berdasarkan asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Di tingkat Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan hal demikian diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan nomor 5 tahun 2008. pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota.2015 Page 50 .8 Penjabaran Peraturan Perundang-undangan Produk Hukum Pemprov Peraturan Daerah Peraturan Gubernur Hal yang dapat diatur Penjabaran Peraturan Perundangundangan lebih tinggi Urusan Wajib Pemerintahan Provinsi Keputusan Gubernur Urusan Pilihan Pemerintahan Provinsi Aparat Utama Aparat Penegak Hukum Satuan Polisi PP Aparat Pembantu Kepolisian dan Unsur Kamtibmasn RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . sebagaimana amanah Pasal 12 UU No. Berbagai produk hukum pemerintah daerah provinsi dapat dibentuk untuk menunjang pelbagai kewenangan pemerintahan provinsi sebagaimana dijabarkan di atas. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Hal ini dapat dilihat dari Gambar II. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota.

4) Perda tentang Kelembagaan di daerah.2015 Page 51 . 1. Satuan Polisi Pamong Praja merupakan perangkat pemerintah daerah provinsi yang secara yuridis bertugas untuk itu.35 Jumlah Perda Provinsi Berdasarkan Jenis Pengaturannya Di Kalimantan Selatan 2008 S/D 2010 Tahun JenisPerda APBD Pajak daerah Retribusi daerah Kelembagaan Penyertaan Modal Pengaturan Sumber : Biro Hukum Pemprov Kalsel. 4. Tabel II. 5) Perda tentang Penyertaan Modal dan 6) Perda tentang Pengaturan. 2. kewenangan pemerintah provinsi secara otonom dapat dilakukan untuk melakukan penegakan hukum atas berbagai produk hukum daerah dimaksud dengan menggunakan Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP). sebagai berikut : 1) Perda tentang APBD. b. 3) Perda tentang Retribusi daerah. Kondisi Kekinian Berdasarkan kewenangan yang dimiliki pemerintah provinsi di bidang hukum sebagaimana dijelaskan sebelumnya. 3. 2010 2008 3 1 1 8 8 2009 3 6 4 5 9 2010 1 1 1 4 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .34 Tabel II. Pemerintah provinsi Kalimantan Selatan telah melakukan pembentukan produk hukum daerah sebagaimana terlihat pada Tabel II. khususnya perda sebagaimana tabel diatas dapat dibedakan berdasarkan jenisnya. 2010 Jumlah produk hukum. Akan tetapi dalam kondisi tertentu. 2) Perda tentang Pajak daerah.BAB II Di level penegakan hukum. pemerintah provinsi dapat meminta bantuan dari pihak kepolisian dan unsur kamtibmas lainnya guna menegakkan produk hukum daerah dimaksud.34 Jumlah Produk Hukum Yang Dihasilkan Pemda Provinsi Di Kalimantan Selatan Tahun 2006 S/D 2009 No. Jenis Produk Hukum Perumusan Perda Perumusan Produk Hukum Peraturan Gubernur Keputusan Gubernur 61 606 75 678 74 612 100 711 2006 21 2007 20 2008 24 2009 29 Sumber : Biro Hukum Pemprov Kalsel.

selain itu juga lembaga hukum belum disertai dengan akuntabilitas dalam penataan hukum karena belum diatur dengan baik sehingga sangat sulit menentukan siapa yng bertanggung jawab terhadap tata cara dan bagaimana Page 52 2. Implementasi peraturan perundang-undangan menjadi terhambat karena peraturan pelaksanaannya tidak kunjung terbit.2015 . Sedangkan sampai dengan Agustus 2010. Perda Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pendidikan Al Quran di Kalimantan Selatan sedikit banyak telah menjawab beberapa persoalan urgen ke Kalsel-an. Dari abstraksi diatas terlihat bahwa pembangunan bidang hukum. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Diterbitkannya Perda-perda telah memberikan konstribusi besar terhadap pembangunan seperti Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pengaturan Jalan umum dan jalan khusus untuk angkutan hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan. sejarah dan nilai tradisional. Kurangnya indenpedensi dan koordinasi kelembagaan hukum berakibat pada sistem hukum. tokoh masyarakat dan akademisi dalam turut merancang dan mengawal jalannya pembangunan dll yang bisa diformulasikan dalam bentuk Perda maupun produk hukum lainnya yang menjadi kewenangan Pemrov. Persoalan tumpang tindih diatas memang bukan domain kewenangan daerah. DPRD Kalsel belum mengusulkan satupun Raperda untuk disahkan menjadi Perda. Sedangkan di ranah penegakan hukum. Ke depan masih diperlukan ikhtiar yang kuat untuk menghadirkan peraturanperaturan perundang-undangan yang menjadi kewenangan pemerintah Provinsi Kalsel guna menjawab persoalan-persoalan ke-Kalsel-an. seperti minimnya kontribusi sektor tambang bagi pembangunan. serta Perda tentang Perlindungan Anak Terlantar. sekaligus telah mampu menampilkan kekhasan daerah ini di banding daerah lain melalui penggunaan urusan pilihan pemerintahan provinsi yang diatur lebih lanjut melalui Perda sebagaimana tergambar pada dua Perda di atas. Perda tentang Kepurbakalaan. keterlibatan stakehoders. diantaranya : 1. terutama ulama. sehingga tidak dapat dilaksanakan. yaitu Perda tentang Pelarangan Penggunaan Jalan Umum Untuk Angkutan Pertambangan dan Perkebunan Besar atau Perda Nomor 3 Tahun 2009. Daerah hanya menerima impact dari tata kelola pembuatan peraturan di tingkat pusat.BAB II Dari keenam jenis perda tersebut. Pada tahun 2009 hanya terdapat satu buah Perda yang diusulkan oleh DPRD Kalsel. khusunya dalam pembuatan peraturan daerah telah menunjukkan kemajuan yang berarti dan telah ikut memberikan konstribusi terhadap pencapaian sasaran pembangunan. Dari Perda tentang pengaturan tersebut tercatat pada tahun 2008 sebanyak tiga buah Perda Pengaturan diusulkan oleh DPRD masing-masing Perda tentang Pengawasan Peredaran Minuman dan Makanan Beralkohol. pemerintah provinsi Kalsel masih menghadapi berbagai kendala. Masih banyaknya tumpang tindih peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan secara terpusat berakibat pada inkonsistennya penerapan hukum di daerah. dilihat dari sisi perancangan dan pengusulannya lebih banyak didominasi dari pihak eksekutif dan hanya perda tentang pengaturan yang berasal dari pihak legislatif (DPRD Provinsi Kalsel).

Bidang sengketa terfokus pada pengaduan masyarakat dan sifatnya hanya sebagai fasilitator. maka sesungguhnya ada beberapa aspek yang layak disoroti dalam sub bagian Politik ini.4. 3) pengambilan kebijakan.2. Untuk mencapai hal tersebut. Kekuasaan yang dimiliki lebih lanjut diterjemahkan dalam pengambilan kebijakan (decision making) yang dapat berbentuk suatu kebijaksanaan dan regulasi lainnya yang kesemuanya dihajatkan sekali lagi untuk kepentingan publik dalam arti luas.BAB II yang harus dilakukan dalam pengembangan hukum daerah. termasuk oleh pemerintahan provinsi. 2) kekuasaan (power). penyusunan pengukuran perkembangan ranah politik di Kalsel dilihat dengan menggunakan indikator demokratisasi sebagaimana akan diuraikan di bawah ini. serta 4) regulasi dan kebijaksanaan. Jika mengacu pada terminology politik demikian. dan bukan bertujuan untuk kepentingan pribadi. politik didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berbagai kegiatan dalam suatu sistem negara yang menyangkut proses untuk mencapai tujuan yang bersifat publik (public goals). 2. aspek politik lebih ditekankan dari : 1) bagaimana lembaga-lembaga politik di daerah bekerja ? 2) bagaimana hak-hak politik rakyat dapat dipenuhi?. Misalnya antar Pemprov dengan Kepolisian dan Kejaksaan dalam konteks penegakan berbagai persoalan hukum di daerah. dan 3) bagaimana segala kebijakan dan regulasi dapat menjamin rakyat hak-hak dasar rakyat? Ketiga hal tersebut dapat dirangkum dalam satu sub kajian dalam politik bernama demokrasi. dalam penyusunan RPJMD Kalsel ini. yaitu . RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Mengurai empat hal tersebut. dalam politik diperlukan adanya kekuasaan yang memberikan kewenangan kepada pihak tertentu untuk menjalankan sistem guna mencapai tujuan di atas. seperti penyelesaian illegal loging dan mining.2015 Page 53 . Untuk itu. Sehingga dalam bagian politik ini.2 Politik Secara teoritik. 1) sistem negara atau sistem politik. Independensi institusi hukum tidak berhak diintervensi. selain memerlukan bedah yang mendalam juga beberapa hal tidak terlalu signifikan pengaruhnya terhadap suatu perencanaan pembangunan di ranah pemerintah provinsi sebagaimana yang hendak disoroti lebih lanjut dalam RPJMD Kalsel 2011-2015 ini. Yang dapat dilakukan adalah koordinsi diantara kelembagaan hukum dapat dilakukan.

bukan “semua orang”. 4) persaingan atau kontestasi di antara warga negara untuk mendapatkan dukungan dalam rangka memperebutkan jabatan-jabatan publik penting. dan 8) adanya jaminan kelembagaan bahwa setiap kebijakan pemerintah berdasar pada dukungan suara dan bentuk-bentuk ekspresi lainnya. Berdasarkan rumusan teoritis tersebut. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 7) adanya sumber-sumber informasi alternatif di luar yang diberikan pemerintah. 6) adanya Pemilu yang jujur dan adil.BAB II a. 3) menjadi pejabat publik. Demokrasi dalam pengertian ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut . Maswardi Rauf dkk dalam merumuskan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) menyederhanakan alat ukur demokratisasi melalui pemantauan atas tiga aspek dalam demokrasi. selalu ada perbedaan penerimaan hasil tata kelola pemerintahan. Dalam prakteknya yang menjalankan pemerintahan ialah segelintir orang.36. demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan dari. oleh dan untuk rakyat. sebab poliarkhi mengacu pada sebuah sistem pemerintahan oleh “banyak rakyat”.36 penting dibuat untuk mengetahui tingkat demokratisasi suatu wilayah. termasuk di Kalsel. Juga tidak pernah ada hasil pemerintahan itu untuk rakyat semuanya secara merata. hak-hak politik dan institusi demokrasi yang diturunkan dalam beberapa variabel sebagaimana terlihat dalam tabel II. bukan oleh “semua rakyat” dan oleh “banyak orang”. karena diselenggarakan pemilu sebagai mekanisme pengambilan kebijakan oleh rakyat secara periodik dan didukung oleh kebijakan pemerintah yang terbuka dan dapat dievalusi oleh rakyat pada pemilu berikutnya. Dahl menawarkan konsep demokrasi poliarkhi untuk merekonstruksi ajaran demokrasi populis di atas. Kendati demikian pemerintahan seperti ini tak pernah hadir dalam sejarah ummat manusia. Indikator Pengukur Demokratisasi Definisi populis tentang demokrasi biasa menyebutkan bahwa. yaitu aspek kebebasan sipil. 1) membentuk dan ikut serta dalam organisasi. penggunaan indikator yang baku diperlukan untuk menghilangkan kerancuan dan debat dalam memahami konsep demokrasi yang beragam.2015 Page 54 . Selain itu. Karenaya secara teoritis. dan tidak ada pemerintahan sepenuhnya untuk semua rakyat. Menurutnya. Robert Dahl dan Coppedge mengatakan tidak pernah ada pemerintahan dijalankan langsung oleh semua rakyat. Indikator pada table II. 5) memberikan suara dalam pemilihan umum. 2) berekspresi atau berpendapat. poliarkhi dinilai lebih realistic untuk menggambarkan sebuah fenomena politik tertentu dalam sejarah peradaban manusia.

suku/ras. Dalam aspek ini dilihat empat variabel.0 . afiliasi politik. Sedangkan berserikat adalah mendirikan atau membentuk organisasi. Sedangkan yang dimaksud dengan kebebasan berkeyakinan adalah adanya kebebasan individu untuk meyakini kepercayaan atau agama yang ditetapkan pemerintah. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . serta tidak adanya tindakan represi dari satu kelompok masyarakat terhadap masyarakat lain yang menolak kebijakan pemerintah terkait dengan salah satu keyakinan. umur.2015 Page 55 .4. IDI untuk variabel kebebasan berkumpul dan berserikat = 89. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan melalui metode pelacakan pemberitaan di media massa.36 Pengukuran Indeks Demokrasi Indonesia Versi Tim Bappenas Dan UNDP Variabel Kebebasan berkumpul dan berserikat Kebebasan berpendapat Kebebasan berkeyakinan Kebebasan dari Diskriminasi Partisipasi Politik Pengawasan Pemerintahan Pemilu yang bebas dan adil Peran Pemerintah/DPRD Peran Partai Politik Peradilan yang independen Aspek Kebebasan Sipil Indikator 8 indikator 4 indikator 5 indikator 3 indikator 6 indikator 4 indikator 5 indikator 4 indikator 2 indikator 2 indikator Hak-hak Politik Institusi Demokratis Sumber : Laporan Akhir IDI tahun 2008.BAB II Tabel II. baik terdaftar atau tidak terdaftar di lembaga pemerintah. maka IDI Kalsel untuk aspek yang pertama ini adalah 83. kebebasan berkeyakinan = 70. Dan yang terakhir dari aspek yang pertama ini adalah terkait dengan kebebasan dari diskriminasi yang dimaknai sebagai perlakuan yang tidak membedakan individu warga negara dalam hak dan kewajiban yang dia miliki. tanpa adanya rintangan berupa tekanan fisik. b. agama. Yang dimaksud dengan kebebasan berpendapat adalah kebebasan individu dan kelompok untuk mengeluarkan pendapat.3 (tinggi) dengan rincian sebagai berikut . yaitu kebebasan berkumpul dan berserikat. kebebasan berkeyakinan dan kebebasan dari diskriminasi. psikis dan pembatasan. 4. dimana pembedaan tersebut didasarkan pada alasan gender. kebebasan berpendapat. kehendak. ODHA dan hambatan fisik. FGD dan indepth interview dengan beberapa stakeholders terpilih. kebebasan berpendapat = 82.3 dan kebebasan dari diskriminasi = 91. Politik dan Demokratisasi Aspek pertama dari Indeks Demokrasi Indonesia adalah kebebasan sipil. dan perasaan. Yang dimaksud dengan kebebasan berkumpul adalah aktivitas kemasyarakatan dalam bentuk pertemuan yang melibatkan lebih dari 2 orang. pandangan.

3 Aspek ketiga dari Indeks Demokrasi Indonesia adalah Institusi Demokratis yang terdiri dari empat variabel. dan melalui salah satu forum multistakeholders. mogok. demonstrasi. Terkait dengan hak dipilih ini. Peran DPRD.3 dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemerintahan= 61. Sedangkan hak dipilih adalah hak setiap individu untuk berkompetisi memperebutkan suara secara bebas dalam suatu pemilihan pejabat publik. pengaduan kepada kepolisian dan prakarsa media melalui berita terkait dengan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan. Yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat dalam politik adalah keterlibatan masyarakat dalam pembuatan sampai dengan penialaian keputusan politik yang tercermin secara kuantitatif dari keterlibatan baik secara individual. termasuk hak memilih dan dipilih = 52. Yang dimaksud dengan hak memilih adalah hak setiap individu untuk secara bebas memberikan suara dalam pemilihan pejabat publik. Tabel II. Partai Politik dan Peradilan yang independen.8 (rendah) yang terdiri dari variabel partisipasi masyarakat dalam politik.37 Jumlah Kursi Partai-Partai Politik Di DPRD Kalimantan Selatan Pada Pemilu Legislatif 2004 Dan 2009 Perolehan Perolehan Nama Partai Politik Kursi 2004 Kursi 2009 Golongan Karya 13 10 Demokrat 2 9 Persatuan Pembangunan 7 7 Keadilan sejahtera 6 7 Demokrasi Indonesia Perjuangan 7 5 Bintang Reformasi 6 5 Amanat Nasional 5 5 Kebangkitan Bangsa 5 3 Bulan Bintang 4 1 Gerakan Indonesia Raya 0 2 Hati Nurani Rakyat 0 1 Jumlah 55 55 No. serta variabel lain berupa pengawasan pemerintahan. seperti Musrenbang misalnya. yaitu : partisipasi politik.BAB II Aspek kedua dari Indeks Demokrasi Indonesia adalah hak-hak politik yang terdiri dari dua variabel. yaitu Pemilu yang bebas dan adil. termasuk hak memilih dan dipilih. Yang dimaksud dengan Pemilu yang bebas dan adil adalah pemilu yang memenuhi standar demokratis yang dicerminkan oleh. tidak adanya manipulasi dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . antara lain : adanya kesempatan yang sama dalam kampanye. Pengawasan demikian dapat dilakukan dalam bentuk pelaporan/pengaduan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan melalui press statement. maupun kelompok dalam berbagai kegiatan.2015 Page 56 . IDI Kalsel dalam aspek yang kedua ini hanya memperoleh angka 56. seperti hearing. berikut data tentang jumlah kursi partai-partai politik di DPRD Kalsel dalam dua Pemilu terakhir. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sedangkan yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemerintahan adalah keterlibatan warga/masyarakat dalam mengawasi secara langsung pelaksanaan keputusan/kebijakan.

0 42.6 22. Secara keseluruhan angka Indeks Demokrasi Indonesia Kalsel pada tahun 2008 hanya berkisar pada angka 61.3 atau sangat rendah. dimana aspek yang paling menonjol adalah aspek kebebasan sipil.0 Kebebasan berkeyakinan 70.6 46.8) Institusi Demokratis (44. serta fungsi sosialisasi politik. fungsi pengkaderan dan rekrutmen calon-calon pemimpin politik.5 dan Peradilan yang independen =22. Angka Indeks Demokrasi Indonesia Kalsel untuk aspek yang terakhir ini adalah 44. Berdasarkan data tersebut di atas.38 Tabel II. Secara kseluruhan Indeks Demokrasi Indonesia Kalsel dapat dilihat pada Tabel II. Dan aspek yang terakhir adalah peradilan yang independen. Peran DPRD = 42.3) Kebebasan berpendapat 82.4 (83. Parlemen yang efektif dicirikan dari adanya tingkat partisipasi dan kontestasi politik yang tinggi.0. Sedangkan peran partai politik dapat dilihat dari sejauh mana parpol mampu melaksanakan fungsinya dalam hal penyerapan aspirasi masyarakat. tidak adanya intimidasi dan kekerasan fisik dalam pemberian suara. Masih rendahnya partisipasi politik masyakarat yaitu keterlibatan masyarakat dalam pembuatan sampai dengan penilaian keputusan politik yang tercermin RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . berjalannya mekanisme checks and balances.4 Angka IDI keseluruhan Sumber : Laporan Akhir IDI tahun 2008.4 Hak-hak Politik (56.1 61.3) Partisipasi Politik Pengawasan Pemerintahan Pemilu yang bebas dan adil Peran Pemerintah/DPRD Peran Partai Politik Peradilan yang Independen 52.3 56. sementara aspek hak-hak politik dan institusi demokratis menunjukan angka yang mengkhawatirkan. fungsi komunikasi politik (antara konstituen dan penyelenggara negara).38 Angka Indeks Demokrasi Indonesia Provinsi Kalsel Tahun 2008 Aspek dan Angka IDI Variabel Angka IDI Kebebasan Sipil Kebebasan berkumpul dan berserikat 89.2015 Page 57 . Sedangkan peran DPRD dapat dilihat dari efektivitas pelaksanaan fungsi DPRD dalam rangka konsolidasi demokrasi. akuntabilitas politik yang tinggi dan adanya hubungan yang kuat antara politisi dan konstituen.3 61. Hal ini dapat dilihat dari sejauhmana peradilan bebas dari intervensi birokrasi dan politik dalam penanganan berbagai perkara yang dihadapinya. Pemilu yang bebas dan adil = 56.3 Kebebasan dari Diskriminasi 91.4 (sedang). Kekonsistenan pengadilan menjaga independensinya berarti bahwa supremasi hukum dijunjung tinggi.BAB II penghitungan suara.1. Partai Politik = 46. dapat dianalisis beberapa permaslahan demokratisasi di Kalsel sebagai berikut : 1. 5.

Dalam menjalankan asas desentralisasi terdapat urusan wajib dan urusan pilihan pemerintahan sebagaimana diatur dalam UU No. Pemerintah provinsi sebagai wakil Pemerintah di Daerah menjalankan tugas dan fungsinya sebagaimana diatur oleh PP Nomor 39 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi yaitu: RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . mogok.3 Pemerintahan a.BAB II secara kuantitatif dari keterlibatan baik secara individual. Gambaran Umum Penyelenggaraan Pemerintahan (1) Asas. 3. 5. Belum hadirnya Pemilu yang jurdil. Lema hnya peran DPRD sebagai balancing power kekuasaan eksekutif. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemerintahan yaitu keterlibatan warga/masyarakat dalam mengawasi secara langsung pelaksanaan keputusan/kebijakan. Hal ini terlihat dari masih tebang pilihnya sejumlah kasus. yaitu asas desentralisasi. intimidasi politik.2. Pengawasan demikian dapat dilakukan dalam bentuk pelaporan/pengaduan masyarakat terhadap penyelnggaraan pemerintahan melalui press statement. dan melalui salah satu forum multistakeholders.32 Tahun 2004 yang dijelaskan sebelumnya. pendidikan politik dan perjuangan aspirasi publik. terkait dengan berbagai fakta dan asumsi publik dalam hal adanya money politics. demonstarsi. Hal ini dapat diasumsikan bahwa kontrol masyarakat terhadap kebijakan politik lemah. pengaduan kepada kepolisian dan prakarsa media melalui berita terkait dengan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan. ketidak netralan birokrasi dan penyelenggara pemilu daerah. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prinsip dan Dasar Kewenangan Pemerintahan Daerah Provinsi Pelaksanaan asas pemerintahan di tingkat Provinsi pasca diterapkannya otonomi daerah dilakukan berdasarkan tiga asas. seperti Musrenbang misalnya. Kelemahan demikian sangat membuka peluang penyalahgunaan kekuasaan oleh aparatur pemerintahan daerah. Termasuk lemahnya kemampuan anggota DPRD dalam membangun relasi dengan konstituennya. dekonsentrasi. Belum berjalannya fungsi partai politik secara baik. Masih jauhnya kehadiran Peradilan yang bebas dan bersih. termasuk beberapa Putusan Pengadilan yang seringkali menjadi polemik publik dan mencederai rasa keadilan masyarakat.4. Dalam pelaksanaaan tugas-tugas dekonsentrasi.2015 Page 58 . dalam hal fungsi pengkaderan. maupun kelompok dalam berbagai kegiatas. seperti hearing. 2. dan tugas pembantuan. 4. Sedangkan Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. 6. 2.

(2) Personil dan Kelembagaan Sebagai konsekuensi dan pelimpahan kewenangan berdasarkan otonomi daerah. Koordinasi wilayah. serta perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Secara kuantatitas. dan Keputusan DPRD serta Keputusan Pimpinan DPRD Pengawasan Administrasi Kepegawaian dan karier pegawai diwilayahnya sesuai peraturan perundangan Pemberian pertimbangan terhadap pembentukan.812 (2006).122 orang. dan Kebijakan Nasional di Daerah. Undang-Undang Dasar 1945. 32 Tahun 2004. 5. bersih dan bertanggungjawab. kelembagaan. penggabungan dan penghapusan daerah. Kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sudah dijabarkan melalui keputusan Gubernur Nomor 0261 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Provinsi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Pemerintah Provinsi sebagaimana disebutkan sebelumnya. dan pemerataan. Untuk menjalankan ketiga asas pemerintahan yang diberikan kepada pemerintahan daerah. perencanaan. pengawasan. Pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan pada 2001 mendapatkan limpahan jumlah personil eks Kanwil departemen sebanyak 3. penyelenggaraan pemerintahan umum di Provinsi mesti mengacu pada beberapa prinsip yakni prinsip-prinsip demokrasi.834 (2005) menjadi 5. partisipasi masyarakat. pembinaan. 7) 8) 9) 10) 11) 12) Adapun yang dimaksud dengan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. pelaksanaan.860 (2007). dan pemanfaatan sumberdaya. dan pengendalian. Fasilitasi kerjasama dan penyelesaian perselisihan antar daerah dalam wilayah kerjanya Pelantikan bupati/walikota Fasilitasi penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan Pengkondisian terselenggaranya pemerintah daerah yang baik. utamanya pemerntah provinsi. sektoral. yakni dari 5. dan bertanggungjawab kepada daerah dengan pengaturan. nyata. jumlah PNS Provinsi Kalimantan Selatan mengalami kenaikan. pembagian. pemekaran. di bidang pemerintahan berdasar UU No. Undang-undang tersebut juga mengatur penyerahan kewenangan secara luas.2015 Page 59 .BAB II 1) 2) 3) 4) 5) 6) Aktualisasi nilai-nilai Pancasila. 6.313 (2008). keadilan. Keputusan Kepala Daerah. baik yang dilakukan oleh Badan eksekutif Daerah maupun Badan Legislatif Daerah Memelihara ketentraman dan ketertiban Pembinaan penyelenggaraan Pemerintah Kabupaten/Kota Melaksanakan tugas-tugas tampung tantra Pengawasan represif terhadap pelaksanaan PERDA. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .

00% 2006 209 131 2553 124 57 593 26 1830 286 3 5812 3.86% 0.71% 12. Menurut tingkat pendidikan.09%). D IV sebanyak 77 orang (1. Taman dan Pelabuhan.75% 12.06% 11. Laboratorium & Sekolah dan 25 UPTD.49% 4.10% 100.27% 1.86%).28% 1.38% 3.92% 5. yaitu terdiri dari 3 Assisten.34%).08% 100.46% 0.502 (2010).02% 0.51% 30.00% 2010 235 196 2712 89 46 798 77 1832 511 6 6502 3.00% Sumber : BKD tahun 2010 Secara kelembagaan Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan No. 1 Satpol PP. 2) Dana Perimbangan 3) Pinjaman Daerah 4) Lain-lain pendapatan yang sah Dari tahun anggaran 2000 hingga tahun anggaran 2004.422 (2009). 1 Pelaksana Harian.46% 31.35%) dan SLTA kebawah sebanyak 3. 3 Rumah Sakit.97% 1.08% 1.143 orang (48.05% 100.18% 7. jumlah PNS provinsi ini yang berpendidikan S3 sebanyak 6 orang (0.18% 28.832 orang (28.87% 0.58% 2.00% 2008 246 188 2784 137 67 696 36 1769 385 5 6313 3. DI – D III sebanyak 933 orang (14. APBD Provinsi Kalimantan Selatan selalu mengalami surplus anggaran.17% 1.91% 0.70% 2.10% 9.05% 100.BAB II 6.13% 1.56% 0.57% 28.45% 45.18% ).30% 2.02% 6. 28 Balai.39 Jumlah PNS Menurut Jenjang Pendidikan Provinsi Kalsel Tahun 2005 – 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jenjang Pendidikan SD/MI SMP/MTs SMA/MA D-I D-II D-III D-IV S-1 S-2 S-3 216 143 2643 124 64 557 27 1831 226 3 5834 2005 3.2015 Page 60 . (3) Keuangan Daerah.98% 44. Selanjutnya pasal 157 UU tersebut mengemukakan bahwa sumber pendapatan daerah adalah : 1) Pendapatan Asli Daerah: a) Hasil pajak daerah b) Hasil retribusi daerah c) Hasil BUMD dan hasil kekayaan Daerah yang dipisahkan d) Lain-lain PAD yang sah.92% 0. 13 Badan dan Inspektorat.09% 100. 1 Kantor Perwakilan.89% 0.99% 41. 16 Dinas.10% 0.98% 10.90% 2.21% 27.61% 3. S1 sebanyak 1.00% 2009 237 192 2695 94 48 776 78 1789 507 6 6422 3.93% 2.69% 2.55% 0.20% 0. S2 sebanyak 511 orang (7.13% 0.37% 0.09% 100. Panti. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada table dibawah ini : Tabel II. Pasal 155 UU Nomor 32 tahun 2004 menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja daerah(APBD). 9 Biro.45% 31. 4 Sekretariat.01% 41.60% 2.61% 0.00% Kuantitas/Tahun 2007 210 152 2536 112 54 622 30 1812 326 6 5860 3. dan menjadi 6.10% 2.25% 43.71% 1.18% ).92% 10. 6 Tahun 2008 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat daerah dan Sekretariat DPRD Provinsi Kalimantan Selatan.59% 43.86% 7. Realisasi penerimaan dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .

Provinsi Kal Sel dalam 2 (dua) tahun terakhir. RSU =3.22% per tahun. Sekretariat DPRD = 1. setiap intansi membuat dan melaporkan LAKIP dalam forum ekpose. Sekretariat DPD Korpri Provinsi = 1. Sedangkan banyaknya dana yang terserap pada belanja pegawai membuat dana yang seharusnya dialokasikan untuk keperluan belanja lainnya yang langsung dirasakan rakyat. Secara kualitatif. Sedangkan dari sisi belanja masih banyak digunakan untuk belanja rutin pagawai. dan menjadi 585 milyar rupiah pada 2004. sesuai dengan amanat PP 41 Tahun 2007 tentang Organisasi perangkat Daerah yang dituangkan lebih lanjut dalam Perda No. dan menjadi 666 milyar rupiah lebih pada 2004. Lembaga Teknis Daerah (Badan Daerah+ Kantor) = 16. Satuan Pol PP= 1. maupun tidak langsung. 596 milyar rupiah pada 2003. Ini berarti terjadi kenaikan ratarata 16. belum maksimalnya penerimaan dari sektor PAD mengharuskan Pemprov Kalsel ke depan bekerja lebih keras dan kreatif untuk meningkatkannya. menjadi 461 milyar lebih pada 2001. dengan mekanisme dimulai dari pembuatan SAKIP dijajaran SKPD .BAB II kurun waktu lima tahun anggaran meningkat dari 342 milyar rupiah pada 2000. Sekretariat Daerah = 1. belum terlalu maksimal porsinya. 542 milyar rupiah pada 2002. maka diperlukan reformasi birokrasi melalui 3 aspek penting yaitu : Kelembagaan (Organisasi). serta mewujudkan tata pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean governance).2015 Page 61 . sedangkan realisasi belanja mencapai 268 milyar rupiah pada 2000. 608 milyar pada 2003. Sedangkan untuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 8 Tahun 2008 sebanyak 53 UPTD. dimana secara singkat dari sisi pendapatan masih cukup banyak pendapatan yang berasal diluar Pendapatan Asli Daerah (PAD). 495 milyar rupiah pada 2002. Berdasarkan regulasi diatas telah dibentuk 39 Perangkat Daerah yang meliputi Dinas Daerah = 16. Masa penilaian/evaluasi yang dilakukan oleh Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi. baik pada pos belanja langsung. (4) Ketatalaksanaan dan Budaya. Sedangkan dalam konteks Ketatalaksanaan/Organisasi Pemerintahan dan pengembangan SDM telah dilakukan beberapa hal sebagai berikut : 1. 6 Tahun 2008 tentang pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan. dilakukan penilaian oleh Tim. 452 milyar rupiah pada 2001. Serta Reformasi Birokrasi Untuk mewujudkan birokrasi pemerintah yang profesional dan berintegritas tinggi dan mampu menyelenggarakan pelayanan prima. Ketatalaksanaan dan Sumber Daya Aparatur (SDM). Dalam kontek kelembagaan telah dilaksanakannya restrukturisasi kelembagaan daerah. Penerapan Akuntabilitas Kinerja Intansi Pemerintah (LAKIP) melalui Peraturan Gubernur Kal Sel Nomor 060 tahun 2010 tentang Penerapan Sistem Akuntabilitas. Ini berarti terjadi kenaikan ratarata 16.42% per tahun. Secara lebih spesifik terkait dengan pendapatan dan belanja daerah dapat dilihat dalam Bab III RPJMD Kalsel 2011-2015 ini. Kal Sel telah mendapat RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .

seperti pelatihan penjenjangan dengan Emosional. II dan III. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . serta melalui peran inspektorat daerah. Spritual dan Quetion (ESQ). Dalam ranah reformasi birokrasi. Telah melaksanakan workshop mind setting bagi pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemerintah provinsi. Nomor 065/00658/Org tanggal 3 Mei 2010. 3. Mengadakan pembinaan dan fasilitasi terhadap peningkatan pelayanan publik di Kab/Kota dan juga lingkup pemerintah Provinsi melalui penilaian pelayanan publik secara berjenjang. jika pengawasan terhadap aparatur pemerintah di perketat. Dalam konteks pengawasan eksternal pula. transparansi. agar melaksanakan pelayanan publik secara optimal. serta disertai adanya reward and punishment yang baik. Pembentukan Tim Penegakan Disiplin Aparatur di lingkungan Pemerintah provinsi dan direncanakan juga pembentukan kader budaya kerja pada tiap-tiap SKPD. Pengawasan yang efektif salah satunya dapat digagas melalui pengawasan publik yang memadai. (5) Pengawasan Daerah Pengawasan terhadap kinerja pemerintah provinsi dilakukan dalam dua ranah. Padahal sejak tahun 2005. BPKP. publik semestinya harus mengawasi kinerja pemprov. agar seluruh pejabat eselon I. Melaksanakan Gerakan Disiplin Mandiri (GDM) yang meliputi tri budaya (Budaya Kerja. yaitu pengawasan internal dan eksternal. BPK RI.BAB II penilaian 5 (lima) besar Terbaik dari 33 (tiga puluh tiga) Provinsi di Indonesia dalam memberikan Pelayanan Publik Penerapan Pakta Integritas yang dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Kalsel. Sedangkan pengawasan eksternal dilakukan oleh beberapa pihak. outbond bagi pejabat eselon II dan III dll. 2. Selain itu. Budaya Bersih dan Budaya Tertib) setiap tahun dengan memberikan reward yang proporsional. Secara internal pengawasan tersebut dilakukan secara berjenjang oleh pejabat yang membawahi langsung aparatur di bawahnya . 5. seperti DPRD Kalsel. keterlibatan publik dan sektor swasta dalam tahapan-tahapan pembangunan menjadi aspek lain yang tak boleh diabaikan.2015 Page 62 . pemprov Kalsel belum melakukan upaya yang sungguh-sungguh guna menghadirkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). secara teoritik pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik tersebut bukan hanya meletakkan pemerintah sebagai pelaksana tunggal pemerintahan. 4. akseptabilitas dan responsif dalam pelaksaan tata kelola pemerintahan. Pemprov Kalsel merupakan satu dari sekian Pemprov di Indonesia yang menjadi pilot project pelaksanaan prinsip-prinsip good governance yang tercermin dari adanya akuntabilitas. Reformasi birokrasi dapat dilaksanakan. Menyelenggarakan diklat dan berbagai pelatihan yang berfungsi meningkatkan karakter dan kreativitas aparatur. bahkan KPK dalam ranah tertentu.

Kelembagaan daerah yang ada sekarang perlu dilakukan restrukturisasi fungsi. Azas penyelenggaraan pemerintahan belum optimal dilaksanakan. sekaligus memberikan penjelasan atas permintaan dan keluhan publik pada layanan SKPD yang bersangkutan. b. yaitu akuntabilitas. Dalam konteks ini perlu dilakukan program-program yang mencerminkan nilai-nilai good governance.BAB II Dalam upaya membuka ruang pengawasan publik. transparansi. namun belum ada pelaksana teknisnya di daerah. sehingga sebagian kewenangan tersebut menjadi beban bagi masyarakat. Ketentuan dalam UU ini mengharuskan setiap SKPD di Pemprov memiliki Pejabat Pengelola Informasi dan Data (PPID) yang berperan untuk melayani. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . mengingat terjadinya beberapa SKPD yang memiliki fungsi yang sangat besar sementara strukturnya minimal. Permasalahan di Ranah Pemerintahan Beberapa permasalahan yang dihadapi Pemprov Kalsel dalam menjalankan kewenangannya di bidang pemerintahan adalah . 4. Selain itu. sepanjang tidak menyangkut rahasia negara dan beberapa aspek informasi yang dikecualikan sebagaimana diatur undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. namun secara kualitas terjadi peningkatan berdasar pada pendidikan formal yang dimiliki. termasuk pada pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Kewenangan yang luas belum diikuti dengan kemampuan pendanaan yang memadai. Masih belum terselenggaranya penyusunan SOP dan mantapnya IKU dan IKK di setiap SKPD. 2. sehingga publik dapat mengetahui apa. sehingga menimbulkan euforia kekuasaan semata. termasuk beberapa tugas dan kewenangan yang semestinya dilimpahkan oleh Pemerintah Pusat. 5. saat ini Pemprov Kalsel sedang mempersiapkan keterbukaan informasi kinerja yang bisa dipantau secara langsung oleh masyarakat melalui mekanisme hak mendapatkan informasi. Kebutuhan daerah yang tercermin dalam keuangan daerah dari tahun ketahun selalu meningkat.2015 Page 63 . dalam upaya untuk meningkatkan akuntabilitas kepada masyarakat dalam kerangka sistem pengawasan. Ada kecenderungan tenaga PNS Provinsi mengalami penurunan secara kuantitas. bagaimana dan kapan program-program kerja Pemprov Kalsel yang direfresentasikan dari akuntabilitas kinerja setiap SKPD yang ada. 3. sementara lingkup pekerjaan semakin meningkat seiring dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2009 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). akseptabilitas dan responsif. 6. sementara kemampuan untuk meningkatkan sumber pendapatan masih terbatas. Pelaksanaan PP ini mesti diaplikasikan dengan baik dan praktis. Hal ini berakibat pada banyak program yang dilakukan tidak berdasar perencanaan dan pemrograman secara matang. 1.

8.580 1.889 Jumlah 724.221 19. terutama pengawasan internal belum optimal dilakukan.768 53. 3.540 SD 379. Penerapan sistem pengawasan.d.40 Jumlah Murid TK/RA pada tahun 2007 s. Murid Jumlah murid berdasarkan jenjang pendidikan dari TK sampai dengan Madrasah Aliyah dapat dilihat pada Tabel II.721 19. 2009 menunjukkan peningkatan. 2.539 393. tahun 2008 sebanyak 68.1. Pada tahun 2007 jumlah murid TK/PAUD 61.025 68.800 Paket C MI 64.038 64.593 orang.252 MA 19.117 5.539 orang serta pada tahun 2009 sebanyak 393. Aspek Pelayanan Umum 2. sedangkan untuk MI pada tahun 2007 sebanyak 64. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .659 MTs 53.038 64.2009 Jumlah Murid Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 61. Pelayanan Dasar Urusan Wajib 2.1. 2010 Jumlah Murid tingkat SD pada tahun 2007 sebanyak 379. Upaya-upaya reformasi birokrasi masih berjalan lambat dalam menghadapi tuntutan publik yang hendak menghadirkan pemerintahan yang baik dan bersih.40 Jumlah Murid Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan di Kalimatan Selatan Tahun 2007 .073 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel.300 Paket B SMU 41.579 46.659 orang. dan pada tahun 2008 sejumlah 456.032 SMK 19. Pendidikan a.721 19.213 1.895 826.519 100.025 orang.836 26.593 81. pada tahun 2008 tetap 64.038 orang.3.321 456.3. Tabel II.038 orang.321 orang. Pengawasan oleh publik juga belum diatur sedemikian rupa mekanisme dan prosedurnya.460 3.280 5.2015 Page 64 .BAB II 7.768 54. dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 64.540 orang. dan pada tahun 2009 menjadi 81.559 98.242 45. Salah satu problemnya adalah masih belum jelasnya mekanisme reward and punishment di Pemprov Kalsel.371 680 600 1.593 786.040 Paket A (BLM ADA DATA) SLTP 86.213 orang.1.080 1.

dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 19.519 orang dan pada tahun 2009 menjadi 100.844 1. 768.41 Tabel II.425 5.021 MTs 5. dan masih dirasakan kekurangan guru sehingga seringkali terpaksa mengangkat guru honorer yang kurang berkualitas dengan status yang kurang jelas.656 MA 2.325 30. Jumlah murid SMK meningkat tajam.117 orang. b.371 orang.579 orang dan pada tahun 2009 menjadi 46. demikian juga kualitasnya.768 orang. tahun 2008 meningkat menjadi 98. pada tahun 2007 jumlah murid SMU sebanyak 41. namun demikian di daerah perdesaan rasio guru dan murid masih relatif besar.721 orang.611 8.42 Dilihat dari rasio guru dan murid di Kalimantan Selatan menunjukkan kondisi yang sangat baik.673 4.317 MI 6. Jumlah murid tingkat SMU juga meningkat.41 Jumlah Guru Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan di Kalimatan Selatan 2007-2009 Jumlah Guru Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 4.021 6. dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 54. karena layanan terhadap peserta didik juga masih besar. Kualitas guru di perdesaan masih lebih rendah daripada guru di perkotaan.721 orang.768 2.2015 Page 65 . Langkah kongkret yang perlu diambil adalah pemerataan guru sesuai bidang keahliannya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .203 3.927 SMK 1.021 6. tahun 2007 jumlah murid SLTP sebanyak 86. tahun 2008 tetap sebanyak 53. tahun 2008 sebanyak 19.221 orang.321 59.125 66.512 SLTP 7.252 orang. tahun 2008 tetap sebanyak 19.206 4. Guru Jumlah guru di Kalimantan Selatan selalu meningkat dari tahun ke tahun dimana sebarannya menurut jenjang pendidikan dapat diliohat pada Tabel II.889 orang. sedangkan untuk MA pada tahun 2007 sebanyak 19.656 5. dan pada tahun 2009 menjadi 26. serta statusnya.559 orang. sementara untuk MTs pada tahun 2007 sebanyak 53.885 SMU 3. pada tahun 2007 sebanyak 19.768 2.660 SD 22.836 orang.BAB II Jumlah Murid pada tingkat SLTP juga semakin meningkat.873 9.768 Jumlah 54. tahun 2008 menjadi 45.854 2.032 orang. terutama untuk sekolah-sekolah pada lingkungan pendidikan agama.746 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel Berdasarkan tabel jumlah murid dan jumlah guru tersebut diatas dapat dihitung rasio guru murid sebagaimana terlihat pada Tabel II.242 orang.656 5.542 25.

43 Rasio Sekolah dan Murid Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan Di Kalimantan Selatan 2007-2009 Jumlah Murid Per Sekolah Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 44 50 44 SD 131 287 309 SLTP 217 221 170 SMU 273 260 269 SMK 315 325 361 MI 121 121 111 MTs 182 182 170 MA 157 157 160 Rata-rata Per Sekolah 196 200 199 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel.2015 Page 66 . tetapi distribusinya belum merata. 2010 Rasio murid dan sekolah pada jenjang TK/PAUD masih sangat kecil. Jumlah. Sekolah Rasio murid dengan sekolah berdasarkan jenjang pendidikan selama periode 2007-2009 disajikan pada Tabel II. serta relatif jauh dari tempat tinggal anak. Kondisi ini mencerminkan bahwa sekolah TK/PAUD belum banyak menampung anak usia PAUD. kondisi ini menunjukkan bahwa minat murid bersekolah di SMK relatif tinggi.2. Ketersedian dan Distribusi Tenaga kesehatan. dengan rasio hampir 1.4. Rasio tenaga kesehatan per 100.3.000 penduduk untuk RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kesehatan a. jenis.42 Rasio Guru dan Murid Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan di Kalimantan Selatan 2007-2009 Jumlah Murid Per Satu Orang Guru Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 15 16 14 SD 17 18 13 SLTP 11 11 10 SMU 11 11 12 SMK 10 11 11 MI 11 11 11 MTs 10 10 10 MA 7 7 7 Rata-rata Sekolah 11 12 11 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel. dan kualitas tenaga kesehatan terus meningkat. 2. 2010 c.1. Rasio murid dan sekolah di SMU dengan di SMK terjadi perbedaan yang sangat signifikan. kondisi ini umumnya disebabkan oleh sarana yang belum memadai dan jarang.43 Tabel II.BAB II Tabel II.

H. Tabalong) dan RS TNI (2 di Banjarmasin.Sp 7 13 3 4 1 5 4 4 7 4 8 57 18 1 P.44 Jumlah Tenaga Medik dan Paramedik Di Rumah Sakit Kalimantan Selatan Tahun 2009 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten/Kota Banjarbaru Banjar Batola Tanah Laut Tanah Bumbu Kotabaru Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Balangan Tabalong Banjarmasin (RSUD Pendidikan Ulin) Banjarmasin (RSUD Dr. dokter gigi. akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di daerah perkotaan lebih baik (ditinjau dari aspek transpotasi).U : Dokter Umum Dr.wat : Perawat Bdn : Bidan Dr. 2 di Kab. karakteristik geografis di daerah pedesaan lebih sulit. kemampuan (finansial) masyarakat di daerah perkotaan lebih baik dibandingkan dengan di daerah pedesaan. dan RS Bhayangkara (1 di Banjarmasin) RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dan bidan di Provinsi Kalimantan Selatan cenderung mengalami peningkatan. Kesenjangan tenaga kesehatan lebih jelas terlihat antara daerah perkotaan dan perdesaan baik dari segi jumlah maupun rasionya.44 Tabel II. Length of Stay (LOS) tenaga kesehatan di daerah pedesaan lebih pendek. kondisi tersebut dapat dilihat pada tabel II.wat 74 103 42 50 10 64 61 106 131 72 6 79 350 152 93 Bdn 38 36 22 37 4 10 7 15 14 25 10 14 33 28 1 Apt 2 4 3 2 1 3 2 2 2 3 5 3 8 3 3 Sumber : Dinas Kesehatan Prov Kalsel.BAB II dokter umum. 1 di Kab. tenaga kesehatan lebih terkonsentrasi di daerah perkotaan. kemampuan kabupaten/kota dalam menyediakan fasilitas kesehatan. 2009 Keterangan : Dr. Ansyari Saleh ) RSUJiwa Sambang Lihum Dr. Banjar. 1 di Kab.M. Banjar). dan umumnya masyarakat pedesaan lebih memilih pengobatan alternatif/tradisional karena relatif lebih terjangkau (lebih murah).G 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 6 4 Dr.Sp : Dokter Spesialis Apt : Apoteker Catatan : Data tersebut diatas. tidak termasuk RS Swasta (5 di Banjarmasin. perawat.G : Dokter Gigi P. Kondisi ini lebih disebabkan karena disparitas antar wilayah (Kabupaten/Kota). dokter spesialis.2015 Page 67 .U 10 5 13 9 4 7 7 9 4 8 2 8 24 20 11 Dr. 1 di Banjarbaru.

569 204. sebesar 22.200 251.07.45 Jumlah Puskesmas.U DrG P. Hal ini kadang-kadang tidak sesuai dengan obat dan perbekalan kesehatan yang diperlukan oleh unit-unit pelayanan. b. Namun demikian secara faktual dilapangan.405 1.422.2015 Page 68 . tenaga medik masih sangat kekurangan.686 602.725 3. Ketersedian obat dan perbekalan kesehatan pada unitunit pelayanan.967 271.672 100. Sedangkan di daerah pedesaan dan terpencil/tertinggal.BAB II Tabel II.835 242. Tantangan kedepan adalah meningkatkan jumlah tenaga medik dan paramedik terampil yang bersedia ditempatkan didaerah pedesaan dan daerah terpencil/tertinggal. dan terendah di Kabupaten Batola sebesar 7.189 210. Sedangkan rasio puskesmas per 100. Rasio terbesar berada di Kabupaten Balangan. Ketersedian Obat dan Pengawasan Obat-Makanan Ketersediaan dan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan terus membaik. tenaga medik lebih banyak terkonsentrasi di daerah perkotaan.230 483. penggunaan dan mutu obat.9. sehingga pelayanan tidak dapat dilaksanakan secara optimal.265 276. tetapi keterjangkauan. Rasio tenaga medik per 100.000 penduduk rata-rata sebesar 12.122 206.806 260.wat Bdn Apt mas 7 21 10 42 70 11 24 42 18 145 307 2 16 21 3 114 213 15 44 11 115 173 2 8 35 7 138 109 2 24 39 26 64 111 5 13 14 6 109 134 1 20 36 5 137 151 19 30 6 161 185 2 12 17 3 103 117 5 9 23 3 75 105 2 15 19 10 65 135 1 26 76 29 137 151 11 208 417 137 1.7. serta pengawasan obat dan makanan masih belum optimal.000 penduduk masih sebesar 6. kemudian Tanah laut dan Hulu Sungai Selatan sebesar 17. masih sangat tergantung pada pengadaan/ketersedian di Dinas Kesehatan setempat. Hal ini sebenarnya dapat dikatakan cukup memadai. Tenaga Medik dan Paramedik Di Kalimantan Selatan Tahun 2009 No.961 44 Sumber : Dinas Kesehatan Prov Kalsel dan BPS Jumlah tenaga medik (dokter umum) per Puskesmas berkisar antara 1 s/d 3 orang.553 152. dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan petugas kesehatan (paramedik) terutama yang bertugas di daerah terpencil/tertinggal. meningkatkan manjemen institusi pelayanan kesehatan berbasis edidemiologi. Demikian juga halnya untuk tenaga Perawat dan Bidan.2 orang dokter. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Banjarbaru Banjar Batola Tanah Laut Tanah Bumbu Kotabaru Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Balangan Tabalong Banjarmasin Jumlah Jumlah Pendduk 159. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .5.819 Jumlah Puskes Dr.

serta berbagai peralatan dan kemasan makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya. Tantangan ke depan adalah meningkatkan ketersediaan dan pendistribusian obat dan perbekalan kesehatan sesuai keperluan unit-unit pelayanan kesehatan. telah mampu meningkatkan akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan. cemaran mikroba dalam produk makanan termasuk pada jajanan anak sekolah. masih belum terjangkau oleh sebagian masyarakat. jumlah tenaga farmasi terus meningkat. yang ditandai dengan penyalahgunaan formalin. keluarga. Anggaran tersebut terutama digunakan untuk membiayai pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin (Askeskin/Jamkesda). sebagian besar masih dilaksanakan oleh tenaga Asisten Apoteker. peredaran narkotika. dan zat adiktif lainya secara ilegal. tidak semua Puskesmas memiliki tenaga Apoteker. penyakit menular. Dari data yang terdapat pada tabel tersebut diatas. d. psikotropika. gizi.2015 Page 69 . masyarakat yang tidak mampu mendatangi unit-unit pelayanan. tetapi belum sepenuhnya dapat meningkatkan status kesehatan masyarakat miskin terutama untuk daerah pedesaan dan terpencil/tertinggal. Di samping itu. telah dilakukan upaya penyuluhan dan penyebaran informasi agar obat digunakan secara tepat dan rasional. Dari segi ketenagaan. Jaminan pelayanan kesehatan. untuk melakukan percepatan pencapaian sasaran-sasaran MDGs seperti penurunan AKI. baik di puskesmas maupun di rumah sakit. umumnya berobat kepada tenaga kesehatan yang berkeliling (dikenal dengan istilah “mantri keliling”) atau berobat secara tradisional. Keterbatasan kemampuan pemerintah daerah untuk pengadaan obat dan perbekalan kesehatan. karena alasan transpotasi dan biayanya relatif lebih mahal. meningkatkan pengawasan penyalahgunaan bahan berbahaya yang terdapat dalam makanan dan minuman. Tantangan ke depan adalah meningkatkan pembiayaan jaminan kesehatan. dan bantuan pemerintah pada institusi pelayanan kesehatan pusat di daerah. meningkatkan penegakan hukum bagi pengedar dan pengguna narkotika dan zat adiktif lainnya. peningkatan upaya keterjangkauan harga obat. Kegiatan kefarmasian di Puskesmas. masih belum dapat teratasi. Upaya ini ditujukan untuk memberdayakan individu. Dsisi lain. AKB. perlu dilakukan peningkatan anggaran. Jaminan Perlindungan Kesehatan Masyarakat Pembiayaan kesehatan sebagian besar masih berasal dari pemerintah pusat dan kontribusi pemerintah daerah. Dalam penggunaan obat. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pembangunan Kesehatan. terutama untuk masyarakat miskin di daerah pedesaan dan tertinggal/terpencil (Askeskin/Jamkesda). dan masyarakat agar mampu melaksanakan upaya pemeliharaan kesehatan secara mandiri. serta menghindari penyalahgunaan. Akses pelayanan kesehatan. air bersih dan kesehatan lingkungan. bahan berbahaya lain. program ini RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .BAB II Didaerah pedesaan terpencil/tertinggal. c. Keamanan makanan masih belum terjamin. meningkatkan perencanaan kefarmasian berbasis epidemiologi.

belum mampu menjangkau. dulu dikenal dengan nama Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (“PKMD”). swasta. 4) meningkatkan masyarakat yang berPerilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). 3) meningkatkan keluarga sadar gizi.BAB II lebih dikenal dengan istilah “PNPM” (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat). masyarakat merasa mendapat tugas/beban tambahan dalam melaksanakan PNPM dan Desa Siaga. Pembentukan PNPM dan Desa Siaga. jumlah fasilitas pelayanan kesehatan terus meningkat namun aksesibilitas masyarakat terutama penduduk miskin di daerah terpencil/tertinggal.2015 Page 70 . dan Pos KB Desa. 2) meningkatkan sinergi masyarakat. Akses masyarakat yang berdomisili dekat (sekitar) fasilitas kesehatan umumnya cukup baik. pemerintah daerah. Posyandu lebih dikembangkan dalam rangka percepatan desa sehat. dan atau pekerjaan lainnya. darurat dan sebagainya). PKMD diselenggarakan melalui Pos Penanggulangan Diare. Walaupun akses masyarakat RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Tantangan ke depan adalah meningkatkan promosi kesehatan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat melalui kerjasama lintas sektor. termasuk masyarakat miskin. 6) meningkatkan kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan. Upaya pemberdayaan masyararakat di bidang kesehatan sudah lama tumbuh didalam kehidupan masyarakat. Pos Imunisasi. 1) meningkatkan partisipasi seluruh masyarakat. Desa Siaga bertujuan untuk. ke kebun. dan Pos-pos lain yang pelayanannya masih terkotak-kotak. Kondisi ini diperburuk dengan kondisi jaringan jalan dan listrik yang masih belum memadai. Di beberapa wilayah masih terdapat masyarakat yang mengalami kendala jarak dan waktu untuk mencapai fasilitas pelayanan kesehatan. 1) meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan. perguruan tinggi. waktu pelaksanaan PNPM dan Desa Siaga sering bersamaan dengan waktu masyarakat melaksanakan pekerjaan pribadinya (ke sawah. 3) meningkatkan modal sosial masyarakat yang berkembang sesuai dengan potensi sosial dan budaya serta untuk melestarikan kearifan lokal. 5) meningkatkan kesehatan lingkungan desa. e. meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan PNPM dan Desa Siaga melalui pembinaan berkelanjutan. asosiasi. Kemudian diintegrasikan dan diberi nama Pos Pelayanan Terpadu (“Posyandu”). meningkatkan evaluasi dan revitalisasi PNPM dan Desa Siaga yang sudah terbentuk. 2) meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana. PNPM bertujuan untuk. pada tahun 2006 Departemen Kesehatan mencanangkan upaya pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan melalui DESA SIAGA. organisasi masyarakat dan kelompok perduli lainnya untuk mengefektifkan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan. komunitas adat terpencil dan kelompok lainnya. kelompok perempuan. wabah. lembaga swadaya masyarakat. Akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan. Sedangkan fasilitas Puskesmas Keliling. Secara nasional. terhadap fasilitas pelayanan kesehatan masih terbatas. belum dapat dilaksanakan secara optimal disebabkan karena.

yang mempengaruhi alam itu sendiri. Length of Stay (lama tinggal) dokter spesialis di rumah sakit Kabupaten/Kota masih sangat pendek. terutama di daerah terpencil/tertinggal. Kabupaten Tabalong. kelangsungan perikehidupan. terutama pelayanan kesehatan preventif dan promotif. belum terdistribusi secara merata. daya. termasuk manusia dan perilakunya.3. dan penegakan hukum. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan. dan secara internal kelembagaan masih kurangnya data dan informasi yang terkait dengan PSDAL (Bappeda Kalsel. rusaknya ekosistem dan berkurangnya keanekaragaman hayati. (2) pemanfaatan SDA-LH kurang memperhatikan kaidah konservasi sehingga menyebabkan pertambahan luasan lahan kritis. Jumlah dokter spesialis di beberapa rumah sakit Kabupaten/Kota. Kalimantan Selatan berada pada urutan 26 dari 33 provinsi.3. (3) kurangnya komitmen perusahaan terhadap pemulihan lingkungan hidup. Hal ini terjadi karena keterbatasan kemampuan Kabupaten/Kota menyediakan berbagai fasilitas yang diperlukan. dan makhluk hidup. Balangan. tanah dan air (6) Belum sinkronnya RTRWP dengan RTRWK. 2007). Tantangan ke depan adalah meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat melalui penyediaan sarana dan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai untuk merespons dinamika karakteristik penduduk dan kondisi geografis. Lingkungan hidup Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda. pengawasan. (4) sering terjadinya banjir. illegal fishing. Mengingat pentingnya lingkungan hidup ini maka diperlukan suatu usaha Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. masih belum memadai.2015 Page 71 . tanah longsor. 2. pengendalian. dapat dikatakan sudah cukup memadai. dan illegal mining. pemanfaatan. disamping keterbatasan kemampuan masyarakatnya untuk membeli jasa pelayanan dokter spesialis. Berdasarkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.1. kualitas pelayanannya masih perlu ditingkatkan. dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. pemeliharaan. Dampak ekologis dari rusaknya DAS dan Sub-DAS (daratan dan perairan) adalah terjadinya bencana banjir dan tanah longsor yang dirasakan hampir terjadi setiap tahun (musiman). (7) belum optimalnya pengembangan wilayah strategis dan cepat tumbuh. Jumlah tenaga medik dan paramedik. keadaan. Secara umum permasalahan sumberdaya alam dan lingkungan hidup di Kalimantan Selatan berupa (1) belum mantapnya penegakan hukum menyangkut illegal logging. dan asap akibat kebakaran hutan dan lahan. (5) meningkatnya pencemaran udara. Wilayah-wilayah di Kalsel yang memiliki daya dukung lingkungan rendah sehingga rawan bencana banjir antara lain. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .BAB II terhadap pelayanan kesehatan di puskesmas dan jaringannya sudah cukup bagus. Namun masih banyak terkonsentrasi dai daerah perkotaan.

Kegiatan penanaman modal yang diarahkan secara integratif dalam sistem administrasi NKRI mengakibatkan BKPMD dan jajaran Pemerintah Daerah selaku pelaksana harus selalu mengacu pada peraturan dari pusat. Sekretariat Daerah.2. Sedangkan kondisi sungai-sungai besar ini. (4) Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya lintas provinsi menjadi urusan Pemerintah. (3) Penyelenggaraan urusan pemerintahan di bidang penanaman modal yang merupakan urusan wajib pemerintah daerah didasarkan pada kriteria eksternalitas. musibah banjir dan tanah longsor tidak bisa terelakkan lagi.1. mengalami pendangkalan.991 ha per tahun.2015 Page 72 . dibandingkan dengan data tahun 2003 maka peningkatan laju lahan kritis mencapai 40. Selain masalah banjir dan longsor. laju reboisasi yang dilakukan sangat tidak seimbang. pada musim kemarau di Kalimanatan selatan sering terjadi kebakaran hutan dan lahan. (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin kepastian dan keamanan berusaha bagi pelaksanaan penanaman modal.3. akibat kerusakan parah pada kawasan hutan sepanjang DAS dan pegunungan Meratus yang berfungsi sebagai catchment area.743 ha areal izin pertambangan berada di kawasan hutan. Wilayah-wilayah rawan bencana ini. Penanaman modal Kegiatan penanaman modal di Kalimantan Selatan dilakukan dibawah koordiansi Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Provinsi Kalimantan Selatan. 2. dan efisiensi pelaksanaan kegiatan penanaman modal. kecuali urusan penyelenggaraan penanaman modal yang menjadi urusan Pemerintah. Hulu Sungai Selatan.BAB II Hulu Sungai Utara. merupakan wilayah yang dilintasi sungai-sungai besar pada sub DAS Barito. sehingga ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi terutama di kawasan Pegunungan Meratus. Terdapat 656. Tanah Bumbu dan Kotabaru. Pelayanan Penunjang Urusan Plihan 2. Kondisi ini merupakan produksi gas rumah kaca yang berdampak kepada pemanasan global. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .3. (2) Pemerintah daerah menyelenggarakan urusan penanaman modal yang menjadi kewenangannya.2.043 ha lahan kritis yang tersebar di beberapa kabupaten tahun 2009. akuntabilitas. serta Kabupaten Tanah Laut. Sementara reklamasi dan rehabilitasi areal bekas pertambangan tersebut belum jelas keberhasilannya.25/2007 yang terdapat dalam Pasal 30 ayat 1-9 berikut ini. termasuk dalam pemberian berbagai fasilitas dan insentif bagi investor. Badan ini tidak bekerja sendiri namun melakukan kerja sama secara intensif dengan instansi-instansi terkait terutama Bappeda. Sementara. Tapin dan Banjar di bagian utara. Salah satu acuan pokok yang telah digariskan adalah ketentuan penyelengaraan urusan penanaman modal dalam UU No. dan SKPD nya. Terdapat 761.

(6) Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya berada dalam satu kabupaten/kota menjadi urusan pemerintah kabupaten/kota.BAB II (5) Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya lintas kabupaten/kota menjadi urusan pemerintah provinsi.67 persen. Pada tahun 2008 terjadi penurunan realisasi capaian menajdi 66. d.000 unit. b. Target yang telah ditetapkan untuk munculnya jumlah wirausaha baru ternyata belum terpenuhi sebagaimana terlihat pada tabel II.96 persen dari total target penumbuhan Wirausahabaru sejumlah 89. dan f. yang berasal dari pemerintah negara lain. 2.2. (8) Dalam urusan pemerintahan di bidang penanaman modal ang menjadi kewenangan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (7). namun masih lebih tinggi dari capaian tahun 2006 yakni 60. melimpahkannya kepada gubernur selaku wakil Pemerintah.3. (7) Dalam urusan pemerintahan di bidang penanaman modal. Realisasi pencapaian target yang paling rendah terjadi pada tahun 2009 adalah sebesar 44.000 unit.27 persen. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . atau menugasi pemerintah kabupaten/kota. penanaman modal pada bidang industri yang merupakan prioritas tinggi pada skala nasional. penanaman modal yang terkait pada fungsi pemersatu dan penghubung antarwilayah atau ruang lingkupnya lintas provinsi. Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) Dalam upaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas pemerintah berusaha menerapkan kebijakan yang mengarah pada pemberdayaan ekonomi rakyat dan sumberdaya lokal. penanaman modal yang terkait pada pelaksanaan strategi pertahanan dan keamanan nasional. Koperasi.362 atau 59. yang didasarkan perjanjian yang dibuat oleh Pemerintah dan pemerintah negara lain. Diantara kegiatan yang mendukung kebijakan tersebut adalah dengan mondorong tumbuhnya jumlah pengusaha. bidang penanaman modal lain yang menjadi urusan Pemerintah menurut undangundang. c. Sampai dengan akhir Desember 2009 realisasi jumlah wirausahawan baru adalah 53. Sasaran jumlah wirausahawan UMKM baru yang tumbuh di Kalimantan Selatan selama periode 2006 – 2009 adalah sebanyak 89.380 terealisasi sebesar 15. e.29 persen. penanaman modal asing dan penanam modal yang menggunakan modal asing.2015 Page 73 . (9) Ketentuan mengenai pembagian urusan pemerintahan di bidang penanaman modal diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. yang menjadi kewenangan Pemerintah adalah : a.77 persen. penanaman modal terkait dengan sumber daya alam yang tidak terbarukan dengan tingkat risiko kerusakan lingkungan yang tinggi. Pada tahun 2007 merupakan prosentase tertinggi pencapaian realisasi target sasaran tahunan wirausahawan baru yang ditargetkan sebanyak 23.46. Pemerintah menyelenggarakannya sendiri.846 atau 67.2.

180 2.732 4. demikian juga dengan Volume Usaha meningkat pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 63.214 130 398 1.500 4.227 5.000 2006 2007 2008 2009 2 0 1 0 TOTAL 1.748 228 400 1.066 13.890 6.33 persen.785 6.350 1. terjadi pertambahan sebanyak 49 unit atau 6.2009) 5.467 5.643 9.331 5.551 4.75 persen pada tahun 2008 dan 47.77 66.334 5.10 persen.S.29 67.589 6.081 420 1.331 1.362 59.57 persen pada tahun 2009.646 17.807 4.688 1.762 616 387 4. namun dari segi kualitas masih perlu ditingkatkan.699 624 1.67 21.169 5.S.022 1.380 22.626 60. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .829 500 2.53 persen.247 15.109 1.362 Sumber : Dinas Koperasi & UKM Prov.282 3. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Berdasarkan data yang ada menunjukan peningkatan jumlah Koperasi dari 2.000 Prosentase 89.816 1. Kalsel tahun 2010 Perkembangan Koperasi di Kalimantan Selatan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dari segi kuantitas. hal ini tercermin dari pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun 2009 yang hanya mencapai 709 Koperasi dari 1.482 3.137 unit pada tahun 2008 menjadi 2.498 Koperasi Aktif atau 47.334 6.338 5.765 7.55 persen.BAB II Tabel II.475 891 934 193 1.846 14.96 53.U Tabalong Banjarmasin Banjarbaru Balangan Tnh Bumbu JUMLAH Target TARGET (2006 .46 Target dan Realisasi Jumlah UMKM Wirausaha Baru Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2006 .180 6.200 622 1.T H.054 6.104 I.418 176 211 1.094 3.611 2.288 1. jadi ada kenaikan sebanyak 76 unit atau 3. Apabila dilihat dari prosentase besarnya antara Modal sendiri dan Modal luar pada Koperasi maka Modal sendiri sebesar 34.150 1.378 1.475 1.2015 Page 74 .55 persen.319 149 1.566 868 105 568 1.S.424 1.213 unit tahun 2009. Namun Koperasi tidak aktif juga bertambah dari 671 unit tahun 2008 menjadi 715 unit tahun 2009.2009 REALISASI NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 KAB/ KOTA Tanah Laut Kotabaru Banjar Batola Tapin H.945 53.987 89.353 753 1.097 21.27 44.S H.688 1.007 563 152 824 990 1. Perkembangan Modal sendiri terjadi peningkatan pada tahun 2009 dari tahun 2008 sebesar 8.782 3.972 23.851 2.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kependudukan dan Catatan Sipil Kependudukan dan catatan sipil merupakan salah satu urusan wajib Pemerintah Propvinsi dan Kabupaten/Kota sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang. 5. penataan sistem pelayanan.548.121 3. Tantangan ke depan adalah tersedianya fasiltas dan anggaran yang memadai. termasuk penyedian fasilitas infrastruktur dan sistem pendanaan yang memadai. 4) kesadaran masyarakat tentang pentingnya sistem kependudukan dan catatan sipil.000 0. 6.000 410. motivasi dan kompetensi petugas. 7.80) Modal Sendiri Rp.137 2. 4. Provinsi dan Kabupaten/Kota bertanggungjawab dalam menyelenggarakan administrasi kependudukan.644 298.000 331.55 Kop.408. Beberapa tugas dan fungsi institusi kependudukan dan catatan sipil.80 NO 1.42 Manager Org 464 444 (4.213 3. maka perlu adanya dukungan dari berbagai pihak.10 SHU Rp.96) Vol.55 Kop. meningkatkan motivasi dan kompetensi petugas.31) Karyawan Org 3. Aktif Unit 1. diantaranya adalah 1) keterbatasan pemerintah dalam menyediakan berbagai fasilitas dan anggaran. Permasalah yang terjadi dalam melaksanakan tugas dan fungsi tersebut.47 Perkembangan Koperasi di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2008 dan 2009 TAHUN TAHUN KENAIKAN/ URAIAN SATUAN 2008 2009 PENURUNAN (%) Total Koperasi Unit 2. diantaranya adalah menata sisten koneksi NIP berbasi SIAK.18 Anggota Org/Kop 294.000 318.000 63.3.636.BAB II Tabel II. Konstruksi sosial yang ada menyebabkan ketimpangan peran bahkan mengarah pada tindak kekerasan terhadap perempuan. 2. melakukan pembinaan kepada masyarakat. 9. Perlindungan Anak dan Lansia Budaya dan ideologi patriarki selama ini relatif menghambat peran dan keberdayaan perempuan. 2.615.040.000 35. mengoptimalkan sistem SIAK. 2.498 2.593.096 (0. penataan sistem informasi data kependudukan.000 191. 3.556.3. dan meningkatkan sosialisasi pentingnya adminsitrasi kependudukan dan catatan sipil kepada masyarakat.249 1.2.000 (3.000 176. 8.000 34.000 8.2. Tdk Aktif Unit 671 715 6. Pemberdayaan Perempuan.52 Modal Luar Rp. Usaha Rp.3. 3) belum optimalnya sistem SIAK.22 RAT Kop 660 709 7. adanya ketentuan dan peraturan yang mengikat.2015 Page 75 . dan beberapa tugas dan fungsi yang lain. 2) kinerja.4.000 669.735.466 1. Upaya pemberdayaan perempuan sebenarnya berkaitan dengan peningkatan mutu sumberdaya manusia anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan serta menghindari terjadi kekerasan dalam rumah tangga dan justru mendorong peningkatan ekonomi rumah tangga.

HSU (510 anak). Persoalan ini ditangani oleh pemerintah dan swasta. HST (475 anak). BPS Sedangkan perkembangan jumlah lansia terjadi penurunan khususnya tahun 2006. Banjarbaru (475 anak) dan Banjarmasin (616 anak). Penyuplai terbesar jumlah lansia adalah RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . yang tidak kalah penting adalah persoalan anak terlantar dan anak yang tidak mendapatkan perlindungan dari orangtua maupun keluarga yang mengalami peningkatan dari tahun. Besarnya jumlah anak asuh ini berkorelasi dengan bertambahnya jumlah panti yang dimiliki swasta/ormas dan pemerintah. Hal ini disebabkan sebagian meninggal dan ditambah sirkulasi masuk dan keluar panti karena ditangani keluarga dan pendataan yang diakomodasi panti sendiri dalam rangka perlindungan terhadap lansia.2015 Page 76 . penyusunan. pelaksanaan dan pemantauan terhadap kebijakan pemerintah itu sendiri dan perkembangan sosial yang terjadi dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan serta kepentingan kehidupan keluarga. Pelaksanaan kerjasama dengan mitra pegiat gender misalnya termasuk kampanye dan sosialisasi soal kekerasaan rumah tangga adalah bagian dari upaya pemberdayaan perempuan. Salah satu indikator penanganan terhadap perlindungan anak adalah tertampungnya pada panti asuhan baik dimiliki oleh swasta/ormas.Kalsel Dalam Angka 2009.ke tahun. Selain itu peningkatan pengetahuan dalam pemahaman kesehatan. Setidaknya tujuan utama adalah keberlangsungan pendidikan dan pertumbuhan sumberdaya manusia dalam rumah tangga maupun peran perempuan dalam ranah publik.9 Grafik Perkembangan Jumlah Anak Asuh Kalimantan Selatan 2006-2008 Sumber: Prov.BAB II Upaya pemberdayaan perempuan diperlukan adanya perencanaan. HSS (433 anak). Ada empat kabupaten/kota yang relatif besar menangani anak terlantar dibandingkan kabupaten/kota yang lain diantaranya Kab. Gambar II. pendidikan dan ekonomi rumah tangga dengan bekerjasama berbagai pihak sebagai upaya pemberdayaan perempuan. Selain itu. pemerintah maupun swasta/ormas yang dibantu pendanaan dan pembinaan oleh pemerintah Kalimantan Selatan.

sebagian besar peserta KB menggunakan kontrasepsi hormonal dan bersifat jangka pendek. Disamping itu kegiatan perencanaan. BPS Tantangan kedepan adalah perlunya pemetaan lebih intensif terhadap penanganan anak terlantar dan penduduk lansia untuk dilindungi dan penataan/pembinaan secara intensif penanganan terhadap anak asuk maupun lansia oleh pengelola panti. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera a. dan implan cenderung menurun. penyusunan dan pelaksanaan kegiatan yang mendorong keberdayaan perempuan. sementara Kabupaten Balangan dan Tanah Bumbu tidak ada melakukan aktifitas perlindungan terhadap penduduk lansia.BAB II Kabupaten Banjar mencapai 71 orang dan Kota Banjarmasin mencapai 139 orang. dan meningkatkan kesertaan pria dalam ber-KB.2015 Page 77 .Kalsel Dalam Angka 2009. Sementara itu. Tantangan yang dihadapi ke depan adalah upaya meningkatkan kesertaan ber-KB di daerah dengan CPR rendah. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .10 Grafik Perkembangan Jumlah Lansia Kalimantan Selatan 2005-2008 Sumber: Prov. agar tercermin kelayakan pengasuhan dan pelayanan. Kesenjangan CPR antar Kabupaten/Kota mengindikasikan kurang meratanya jangkauan program KB ke seluruh daerah. IUD.5.3. Kesertaan pria dalam pemakaian kontrasepsi juga masih sulit ditingkatkan yang disebabkan oleh masih sangat terbatasnya pilihan metode kontrasepsi pria (hanya kondom dan vasektomi) dan masih sangat kuatnya budaya patriarki di masyarakat yang menganggap bahwa KB adalah urusan perempuan. 2. dengan penggunaan terbanyak pada suntikan. dan antar status sosial. Gambar II.2. pemakaian kontrasepsi yang bersifat jangka panjang. intensifikasi advokasi dan KIE serta peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB. seperti sterilisasi (tubektomi dan vasektomi). meningkatkan pemakaian kontrasepsi jangka panjang. dan bervariasi antar Kabupaten/Kota. Selain itu. Pemakaian kontrasepsi Angka pemakaian kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate/CPR) masih rendah.

upaya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .BAB II b. Ketersediaan dan kualitas data dan informasi kependudukan Sumber data kependudukan yang mutakhir seharusnya berasal dari registrasi penduduk yang meliputi data kelahiran.2015 Page 78 . kantor. dan perpindahan. serta masih terdapat kebijakan pembangunan lainnya yang kurang mendukung kebijakan pengendalian kuantitas penduduk. dan mobilitas belum konsisten. sinergi para pemangku kepentingan tersebut harus ditingkatkan untuk mewujudkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing. dan meningkatkan jumlah dan kompetensi tenaga pengelola serta pelaksana program KB di daerah. Jumlah pengendali lapangan atau pengawas PLKB (PPLKB) dan petugas lapangan KB (PLKB) atau penyuluh KB (PKB). Kebijakan pengendalian penduduk Kebijakan kependudukan yang terkait dengan kuantitas. c. antara lain. Kapasitas kelembagaan Program KB Bentuk kelembagaan KB bervariasi antar daerah. dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam melaporkan perubahan atas peristiwa penting yang dialaminya. Hal ini terjadi karena kurangnya informasi tentang kewajiban masyarakat untuk melapor dan terbatasnya jangkauan masyarakat ke tempat pelayanan. diperlukan upaya inovatif yang. Tantangan ke depan adalah meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya melaporkan kejadian vital. kematian. mengalami penurunan dari jumlah sebelum desentralisasi. serta ada yang tidak memiliki institusi untuk melaksanakan program KB. f. Hal ini disebabkan oleh PUS yang belum ber-KB pada umumnya adalah kelompok-kelompok sulit yang tersebar di daerah-daerah terpencil. e. d. dan atau dinas. kelompok miskin. dan berpendidikan rendah. tertinggal. Tantangan ke depan adalah menyerasikan kebijakan kependudukan agar konsisten dan berkesinambungan. Kelembagaan KB di beberapa Kabupaten/Kota diwujudkan dalam bentuk badan. Sampai saat ini. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah masih belum optimal. Tantangan ke depan adalah meningkatkan peran kelompok-kelompok kegiatan yang ada di tingkat masyarakat sebagai media dalam meningkatkan kesertaan ber-KB. Khusus untuk masyarakat miskin. Tantangan ke depan adalah meningkatkan advokasi kepada pemerintah daerah tentang pentingnya program KB. data registrasi belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena masih rendahnya cakupan daerah dan kejadian yang dilaporkan. serta meningkatkan cakupan dan kualitas data kependudukan dari berbagai sumber. Akses dan Kualitas Pelayanan Kesejahteraan Sosial Ketersediaan akses dan kualitas pelayanan kesejahteraan sosial perlu dibedakan berdasarkan kelompok PMKS. dapat dilakukan melalui pembinaan kelompok-kelompok kegiatan di tingkat akar rumput. Mengingat penanganan masalah kependudukan melibatkan berbagai sektor dan pemangku kepentingan. kualitas. dengan menyediakan akses terhadap sumber permodalan. Pembinaan dan kemandirian peserta KB Peningkatan jumlah peserta KB baru menemui hambatan pada saat CPR telah mencapai di atas 50%. yang merupakan salah satu kunci penentu keberhasilan program KB. kurangnya jumlah dan rendahnya kualitas tenaga pencatat. Untuk mencapai kelompok-kelompok tersebut.

317. Di samping cakupan yang rendah.BAB II mempercepat pencapaian target penurunan angka kematian ibu dan anak perlu didukung dengan intervensi yang langsung diberikan kepada mereka.21 % penduduk Kalimantan Selatan adalah miskin. Tanah bumbu jumlah Pra Sejahtera masih mencapai angka di atas 10. Jika dihitung secara absolut dengan asumsi tiap keluarga terdiri atas 4 jiwa.321 Keluarga Sejahtera I 300.162 249.065 392.257 249.152 20.673 895.487 965.12 % keluarga miskin. masalah kelembagaan masih mendominasi permasalahan pelayanan kesejahteraan sosial.941 195.866 Jumlah 884.48 Jumlah Tahapan Keluarga Sejahtera Di Kalimantan Selatan Tahun 2004-2008.32 %) dan Keluarga Sejahtera mencapai 249. Sementara itu. Masalah ini dapat dihindari jika penajaman pada tingkat kebijakan dan penetapan sasaran program dilakukan dengan baik. di beberapa daerah digunakan untuk kegiatan selain pelayanan kesejahteraan sosial.443 210.288 jiwa atau hampir 38. Tahun Tahapan Keluarga Sejahtera 2004/2005 2006 Kel. pada tingkat pelaksanaan. Alih fungsi panti sosial. Berdasarkan data kependudukan yang dilaporkan BPS Kalsel dalam Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka 2009 jumlah Keluarga Pra Sejahtera mencapai 80. Pra Sejahtera 55. Keputusan bagi penyelesaian masalah yang dihadapi oleh PMKS masih lebih banyak dilakukan oleh aparat pemerintah sehingga bantuan yang disediakan pemerintah seringkali tidak tepat sasaran atau tidak tepat guna. Selanjutnya.397 Sumber: Prov.2015 Page 79 . BPS. Tabel II.072 KK .177 250.835 2008 80.845 929. berupa insentif untuk mengakses pelayanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan terdekat. maka terdapat 1. demikian juga halnya dengan akses pelayanan pendidikan. yang sebelumnya dibangun oleh Pemerintah.257 kk (8. Dari data tahapan keluarga sejahtera.000-an KK. Arus migrasi penduduk miskin desa yang mencari pekerjaan ke tiga daerah ini relatif besar dimana diikuti jumlah pertumbuhan penduduk yang terus meningkat.072 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Banjar dan Kab.094 Keluarga Sejahtera III 137.108 352.236 373.390 17. Kota Banjarbaru relatif mengalami proses perbaikan tahapan kesejahteraan penduduk hingga ke Tahapan Keluarga Sejahtera III.Kalsel Dalam Angka 2009. Ini merupakan angka fantastik. Penerima bantuan sosial dari sebuah program.80%) dari total 965.065 KK (25. upaya pemberdayaan sosial yang seharusnya meletakkan berbagai upaya untuk membangun kapasitas individu dan kelembagaan PMKS masih belum berjalan secara optimal. Kab.685 222.382 Keluarga Sejahtera II 337.072 80.578 20. No 1 2 3 4 5 2007 75. kegiatan bantuan sosial bagi PMKS yang selama ini dilakukan masih tumpang tindih. Sedangkan kota Banjarmasin. jika dikumulatif dua tahapan ini berarti ada sekitar 34. pada umumnya akan menerima tambahan bantuan melalui program lainnya.735 Keluarga Sejahtera III Plus 14.

BAB II Jika melihat tren tahapan keluarga sejahtera dari tahun 2007 dan tahun 2008.d.51 Tabel II. urban poverty masih besar menjadi pemasok jumlah tahapan pra sejahtera di Kalimantan Selatan. 2. ini diduga beberapa kabupaten mensupport peningkatan ini. Program-program penguatan pemberdayaan masyarakat dan perekonomian pedesaan di bidang pertanian. Sementara Keluarga Sejahtera I dan II justru terjadi pergerakan relatif tinggi dari 373. peningkatan kapasitas kelembagaan dan SDM serta tata kelola kepemerintahan. Artinya distribusi kesejahteraan mengalami perbaikan pada tahapan-tahapan berikutnya.443 (2007) menjadi 392.6 Komunikasi dan informatika Keberadaan media massa baik cetak maupun elektronik di Kalimantan Selatan ternyata mampu memberikan kontribusi positif bagi akselerasi pembangunan daerah. Dengan fungsinya yang mengemban tugas di bidang komunikasi dan informasi sekaligus sebagai media hiburan masyarakat. Namun demikian.49 Nama Penerbitan Pers di Propinsi Kalimantan Selatan 2007 Nama media cetak Kategori penerbitan Tempat kedudukan Banjarmasin Post SKH Banjarmasin Kalimantan Post SKH Banjarmasin Metro Banjar SKH Banjarmasin Barito Post SKH Banjarmasin Radar Banjamasin SKH Banjarmasin Mata Benua SKH Banjarmasin Serambi Ummah TM Banjarmasin Bidik Banua TM Banjarmasin Gawi Manuntung SKM Banjarmasin Dekrit SKM Banjarmasin Suara kalimantan SKM Banjarmasin Indonesia Merdeka SKM Banjarmasin Spirit Kalsel TM Banjarmasin Borneo Post SKM Banjarmasin Media Masyarakat SKM Banjarmasin Pusaka Daerah SKM Banjarmasin Media Warta SKM Banjarmasin No. hingga tahun 2007 perkembangan media cetak dan elektronik semakin berkembang pesat. guna mengurangi arus orang miskin desa menuju kota.49 s. terjadi peningkatan Keluarga Pra Sejahtera mencapai 5000-an KK.3. khususnya kabupaten /daerah yang menjadi tujuan pencari kerja. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Tabel II. Tantangan ke depan adalah meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesejahteraan sosial dengan didukung oleh peningkatan pengelolaan program. pembangunan ekonomi antara pembangunan perdesaan dan perkotaan perlu ada keseimbangan.2.2015 Page 80 . Data media cetak dan elektronik di Kalimantan Selatan seperti Tabel II. perikanan dan perkebunan menjadi prioritas utama antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.000-an.685 (2008) atau mencapai 20.

2 MHz FM 96.5 MHz FM 105.3 MHz AM 88.40 MHz FM 88.1 MHz AM 720 KHz AM 738 KHz FM 101.1 MHz FM 89.0 MHz FM 90.2015 Page 81 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama radio Nusantara Antik Swara Maida Artanusa Siaga Indah Marista Suara Banjar Lazuardi Chandra Rasisonia Iskinada Mustika Telerama Kharismanada Rasisonia Dhirgantara Permai Nirwana Citra Bahana Swara Pelangi Alina ( SUN FM) Gema Suara Akbar Swara Citra Posindo Madinatussalam Abdi Persada Buana Ekaswaratama Radio SKY FM Gelombang FM 102.9 MHz FM 99.9 MHz FM 98.50 Nama Radio Swasta dan RSPD di Kalimantan Selatan 2007 No.3 MHz Tempat kedudukan Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .8 MHz FM 94.9 MHz FM 96. 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Nama media cetak Banjarbaru Post Gema Bestari Gerbang Suara Saijaan Bumi Kahuripan Saraba Kawa Post Murakata Aktual Benua Kita Aspirasi Rakyat Warta Post Mercu Buana X-Kasus Tabloid Selidah Post Waja Tablomagazine Bisnis Indonesia Bangkit Prosfek Orbit Post Tabloid Suling Kategori penerbitan SKM TM TM TM TM TM TM SKM SKM SKM SKM SKM TM SKM Mjl TM Mjl SKM SKM Bulanan Tempat kedudukan Banjarbaru Rantau Kandangan Kotabaru Amuntai Tanjung Barabai Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Tanjung Banjarmasin Marabahan Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Sumber: PWI Cabang Kalimantan Selatan Tabel II.7 MHz FM 101.4 MHz FM 103.6 KHz FM 104.5 KHz FM 105.BAB II No.1 MHz AM 102.

BAB II
No. 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Nama radio Bajuin Eka Swaratala Swara Mandiri (Jorong FM) Swara Ruhui Rahayu Bahana Nirmala Selidah satu swara Swara Alkaromah Pratama Swara Cakrawala Martapura Borneo FM Purnama Nada Gema Amandit Dirgahayu Swara Barabai Gema Kuripan Swaracitra Suryanada Gema Meratus Swara Kotabaru Tanjungpuri Perkasa Gematara Batakan Swara Tapin Raya Swara Agung Lestari Gelombang FM 93,3 MHz FM 99,17 MHz AM 774 KHz AM 990 KHz FM 98,8 MHz AM 1584 KHz FM 107,01 MHz FM 103,09 MHz FM 98,20 MHz AM 918 KHz AM 540 KHz AM 612 KHz AM 810 KHz FM 98 MHz FM 96,9 MHz FM 103,6 MHz FM 106,15 MHz FM 103,1 MHz AM 576 KHz FM 103,3 MHz Tempat kedudukan Banjarmasin Banjarmasin Rantau Martapura Marabahan (Batola) Martapura Martapura Banjarbaru Kandangan Kandangan Barabai Barabai Amuntai Banjarbaru Batulicin Tanah Bumbu Kotabaru Tanjung Pelaihari Rantau Amuntai

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Tabel II.51 Nama Televisi Nasional dan Lokal di Kalimantan Selatan TELEVISI KETERANGAN RCTI Jaringan Nasional SCTV sda Metro TV sda Indosiar sda Global TV sda TPI sda ANTV sda Trans TV sda Trans 7 sda TV One sda TVRI Pusat sda TVRI Kalimantan Selatan Lokal Banjar TV Lokal Duta TV Lokal Borneo TV (TV B) Lokal Ran TV – Kab. Tapin Lokal AMTV – Hulu Sungai Utara Lokal Tabalong TV – Tanjung Lokal Indovision Jaringan berlangganan

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 82

BAB II 2.3.2.7. Perpustakaan Jumlah perpustakaan di Kalimanatan Selatan sudah cukup banyak. Ada 13 perpustakaan umum di setiap kabupaten/kota serta sebuah perpustakaan provinsi yang didukung oleh perpustakaan di sekolah-sekolah, pesantren, perguruan tinggi, mesjid, taman bacaan di bawah binaan Dinas Pendidikan, serta perpustakaan terapung yang dikelola oleh Korem 101/Ant dan Ditpolair. Termasuk di dalamnya tiga buah perpustakaan percontohan, yakni sebuah di Kabupaten HSU, dan yang sedang dibangun sebuah di Kecamatan Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan sebuah lagi di Kecamatan Batu Mandi di Kabupaten Balangan. Untuk menjangkau layanan baca bagi masyarakat yang mengalami kendala dalam mengakses keberadaan perpustakaan, terutama di daerah, telah tersedia 6 (enam) buah armada perpustakaan keliling. Salah satu sarana perpustakaan yakni Perpustakaan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) berdiri sejak tahun 1966 memiliki koleksi sebagian besar berupa publikasi dan informasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan teknologi pertanian lahan rawa. Jumlah koleksi perpustakaan saat ini Buku (Teksbook) 3620 judul, Majalah Ilmiah (Jurnal) 815 judul, Monograf (Prosiding, Risalah Seminar, Laporan, dan sejenisnya) 40 judul, Publikasi Teknis (Leaflet, Brosur, dan sejenisnya) 40 judul, Majalah Umum (Trubus dan sejenisnya) 10 judul, dan Surat Kabar 3 judul. Pelayanan menggunakan sistem pelayanan terbuka. Untuk menghadapi tantangan global, maka jumlah judul buku dan bahan koleksi perlu terus ditingkatkan guna meningkatkan gairah minat baca di kalangan masyarakat.

2.3.2.8. Pemuda dan Olahraga Selama ini pemerintah Provinsi lewat SKPD yang berwenang memfasilitasi kegiatan kepemudaan dan olahraga. Baik pembinaan lewat kegiatan seminar, sosialisasi pembangunan, pelibatan kegiatan pemerintah, pertukaran pelajar dan pemuda, pelatihan maupun kegiatan yang bersifat kompetesi prestasi. Sekalipun berbagai institusi memiliki kegiatan-kegiatan yang melibatkan dan memerankan pemuda baik bersifat intelektual-akademis, keterampilan, sosial dan olahraga, namun peran pemerintah untuk melepaskan para pemuda dari jeratan narkoba adalah pekerjaan yang relatif berat.

2.3.2.9. Pelayanan Penunjang Bidang Hukum dan Politik a. Pelayanan Bidang Hukum Dalam konteks pelayanan di bidang hukum, peran pemerintah provinsi sangat terbatas. Hal ini terkait dengan kewenangan yang amat terbatas dalam bidang ini sebagaimana digambarkan pada sub bab sebelumnya.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 83

BAB II Pelayanan dalam bidang hukum yang dilakukan pemerintah provinsi adalah pembuatan berbagai produk hukum daerah, seperti perda, peraturan gubernur dan keputusan gubernur dalam rangka menjamin adanya kepastian hukum bagi masyarakat Kalimantan Selatan dalam berbagai dimensi kehidupan sesuai dengan kewenangan pemerintah provinsi. Jumlah produk hukum daerah yang telah dihasilkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dapat dilihat dalam tabel II.52
Tabel II.52 Jumlah Produk Hukum Yang Dihasilkan Pemda Provinsi Di Kalimantan Selatan 2006 - 2009 No. 1. 2. Jenis Produk Hukum Perumusan Perda Perumusan Produk Hukum Peraturan Gubernur Keputusan Gubernur
Sumber : Biro Hukum Pemprov Kalsel

2006 21

2007 20

2008 24

2009 29

61 606

75 678

74 612

100 711

Selain itu, pelayanan lain di bidang ini dilakukan oleh pemerintah provinsi dalam bentuk penyuluhan hukum pada masyarakat. Penyuluhan hukum yang dilakukan terutama diarahkan kepada peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat atas produk hukum daerah, namun juga dilakukan hal serupa untuk produk-produk hukum nasional, baik berupa UU maupun peraturan perundangundangan lainnya. b. Pelayanan Bidang Politik Pelayanan pemerintah provinsi Kalimantan Selatan dalam bidang politik secara khusus ditangani oleh Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol Linmas). Secara garis besar, Dalam bidang Politik, Badan ini berfungsi untuk melakukan hal-hal sebaga berikut ; 1. Melakukan pendataan dan pembinaan terhadap organisasi sosial kemasyarakatan; 2. Melakukan pembinaan terhadap partai politik di Kalimantan Selatan; 3. Melakukan berbagai program peningkatan kesadaran berbangsa, bernegara, termasuk pendidikan politik kepada masyarakat Kalimantan Selatan Dalam konteks melakukan pendataan terhadap organisasi sosial kemasyarakatan, Badan ini berwenang untuk menentukan legal atau tidaknya suatu organisasi sosial kemasyarakatan, semacam LSM dan Perkumpulan Sosial lainnya melalui penerbitan SKOT. Organisasi yang diakui keberadaan oleh Badan ini saja yang dapat melakukan berbagai kerjasama atau menerima bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Selain itu, penerbitan SKOT juga berfungsi sebagai data dasar untuk melakukan pembinaan lebih lanjut terhadap organisasi sosial kemasyarakatan yang ada sebagai agen sosial di masyarakat. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 84

594 Unit = 63 Unit = 1.2. termasuk dalam fungsi ini adalah melakukan koordinasi berkelanjutan dengan partai-partai politik yang ada dan dinyatakan sah keberadaannya oleh Kementrian Hukum dan HAM.15 Kelas Jalan I II IIIA IIIB IIIC Jumlah 340.15 Sumber : Buku Statistik dan Informasi Perhubungan Kalimantan Selatan Tahun 2007 Ditinjau terhadap penyediaan angkutan umum yang ada dapat dijabarkan sebagai berikut: Angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) .57 1. Koordinasi dengan partai politik menjadi sangat penting guna menciptakan kondisi politik daerah yang baik dan harmonis. seperti pendidikan bela negara.Kalsel – Kaltim (7 Perusahaan) = 75 Unit Bus Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) . pendidikan politik dan berbagai kegiatan lainnya.38 km jalan provinsi menurut SK Mendagri Nomor 55 Tahun 2000 dengan kelas jalan tertinggi adalah IIIA seperti terlihat pada Tabel II. Di ranah masyarakat.Kalsel – Kalteng (21 Perusahaan) = 95 Unit Bus .2015 Page 85 .300) (Perorangan) .485 Unit = 139 Unit = 43 Unit Dalam upaya melaksanaan pembinaan terhadap Angkutan Jalan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah menetapkan Perda Nomor 3 Tahun 2003 tentang RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .57 535.3.53 Tabel II.53 Kelas Jalan Nasional Provinsi 340. Pembinaan lain adalah dengan melakukan pendidikan politik terhadap kader dan fungsionaris partai politik. fungsi-fungsi pelayanan politik dilakukan dengan menggelar berbagai agenda kegiatan.00 km dan 1056.23 102.Tidak berjadwal (L.BAB II Partai politik juga tidak luput dilakukan pembinaan oleh Badan ini. 2.Berjadwal (Bus) ( 17 Perusahaan ) .43 954.Taksi .66 102.10 Perhubungan Berdasarkan SK Menteri PU Nomor 369/KPTS/M/2005 panjang jalan Nasional di Kalimantan Selatan adalah 876.Angkutan Pedesaan Mikrolet/Pick Up .489.Rental Car ( 9 Perusahaan ) = 2. Kegiatan ini selain dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman warga negara terhadap politik dan hal-hal lain terkait kesadaran berbangsa dan bernegara.

100. 1. Besarnya tarif retribusi penimbangan kendaraan bermotor adalah sebagai berikut: Rp.500 Kg JBB di atas 7.000 Rp.500 Rp.000 Rp. 100.000 Mobil Barang Pengangkut alat berat Mobil Barang Pengangkut Peti Kemas Mobil Barang Pengangkut bahan berbahaya Mobil Barang Pengangkut barang dgn menggunakan Tangki Mobil Barang secara insedentil mengangkut barang umum yg tdk dpt dipotong-potong Rp.000 Mobil Penumpang dengan kapasitas s/d 8 seat Mobil Bus dengan kapasitas 9 s/d 15 seat Mobil Bus dengan kapasitas 16 s/d 25 seat Mobil Bus dengan kapasitas lebih 26 seat Rp. 1.000 Rp.000 Perda Nomor 5 Tahun 2003 tentang Retribusi Izin Trayek dan Izin Operasi Angkutan Orang Lintas Kabupaten/Kota.000 Rp. 25. 300/hari Rp.500 Kg Penggunaan Gudang dan atau lapangan penumpukan : Jasa penggunaan gudang M3/Ton Jasa penggunaan lapangan penumpukan M /Ton 3 Rp.000 Rp. terkecuali yang sudah diatur dengan izin Angkutan Barang Khusus Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang pengaturan penggunaan jalan umum dan jalan khusus untuk angkutan hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan.2015 Page 86 . Pengaturan penggunaan jalan adalah sebagai berikut: Setiap angkutan hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan dilarang melewati jalan umum Setiap hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan harus diangkut melalui jalan khusus yang telah ditetapkan oleh Gubernur.BAB II Retribusi Izin Angkutan Khusus Mobil Barang Besarnya tarif retribusi adalah sebagai berikut: Rp. 100. Besarnya tarif retribusi adalah sebagai berikut: Rp. 100. 75. 175. Hasil tambang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah batubara dan bijih besi Hasil perusahaan perkebunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah tandan buah segar (TBS) kelapa sawit RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .000 JBB di bawah 2000 Kg JBB 2000 Kg s/d 7. 150/hari Perda Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pengendalian Muatan Mobil Barang di Jalan : Setiap mobil barang yang mengangkut barang wajib ditimbang pada alat penimbangan yang dipasang secara tetap. 2. 150.000 Perda Nomor 6 Tahun 2003 tentang Retribusi Penimbangan Kendaraan Bermotor. 50.500 Rp.

28.39 12.1.2. Hal ini menunjukkan kemampuan masyarakat dalam mencukupi kebutuhannya secara umum cenderung meningkat.79 34. Aspek Daya Saing Daerah 2.68% pertahun dan ternyata pertumbuhan belanja non makanan jauh lebih tinggi yakni mencapai rata-rata 8.BAB II Perhubungan yang menggunakan prasarana selain darat dijabarkan lebih pada sub bahasan 2.03 61.05 trilyun (44.2. Kemampuan Ekonomi 2.92 trilyun pada tahun 2009. 2.212.4.202.588.1 Pengeluaran konsumsi RT Pengeluaran konsumsi rumah tangga merupakan salah satu bagian penggunaan atau pengeluaran dalam ekonomi yang membentuk PDRB. lebih tinggi dari pertumbuhan PDRB yang sebesar rata-rata 5. sebesar Rp.54 porsi belanja rumah tangga untuk Makanan masih lebih tinggi dari Non Makanan.13.755.79% pertahun.219.56 37.98 38.31 Pengeluaran konsumsi rumah tangga terdiri dari komponen pengeluaran untuk makanan dan non makanan. 2.1. Pertumbuhan nilai konsumsi rumah tangga dalam periode 2005 -2009 rata-rata 5.02 61.39 11. Ini berarti kemampunan ekonomi masyarakat secara pasti menjadi semakin kuat.1.443. Peranan Konsumsi sangat penting dalam membentuk PDRB Kalsel karena dari nilai PDRB Rp.328.924. Selama periode 2005 -2009 pertumbuhan belanja makanan adalah sebesar rata-rata 4.99% pertahun.4.54 Persentase Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Menurut Jenisnya Di Kalimantan Selatan 2005-2009 Tahun Makanan Non Makanan Total (dalam Rp) 2005 2006 2007 2008 2009 Rata-rata 65.977.43 61.21%.4.57 38. Porsi belanja untuk Makanan selama periode 2005 – 2009 rata-rata mencapai 62.98 34. Meskipun porsinya masih kecil namun tingkat pertumbuhan pengeluaran untuk non makanan sangat pesat.4. Sementara itu belanja non makanan hanya mencapai rata-rata 37.48%. Nilai Tukar Petani Sektor pertanian tetap merupakan sektor terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Rejional Bruto di Provinsi Kalimantan Selatan walaupun perannya cenderung menurun.44 62.74 12.328. Selain sebagai sektor yang dominan sektor ini juga menyerap tenaga kerja paling banyak.4.1. Tabel II.02 65.97 38.46%.21 100 100 100 100 100 100 9.19 10. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2015 Page 87 . Berdasarkan Tabel II.69%) berasal dari pengeluran konsumsi rumah tangga.

24 Indeks Dibayar (Ib) 481.8 101.4*) 174. Walaupun NTP selama ini masih dibawah 100 terdapat kecenderungan peningkatan NTP selama periode 2005-2008 dengan besaran 82.5 persen di tahun 2008.5*) 103. Berdasarkan komponen penggunaannya angka total PDRB terbentuk dari penjumlahan pengeluaran Konsumsi (C).4 112.7 98.1 persen ditahun 2005 menjadi 97.55 Indeks Nilai Tukar Petani Kalimantan Selatan. dikurangi impor (M).7 95. dan ekspor (X).28.56 Rata Rata NTP Menurut Provinsi di Kalimantan Tahun 2006 – 2008 Tahun Rata-rata 2006 Rata-rata 2007 Rata-rata 2008 Kalbar 182.Sel.4 Sumber : Indikator Ekonomi.2015 Page 88 .2 94.76 Sumber : BP Kal.BAB II Tabel II. Nasib petani di Provinsi Kalimatan Selatan kurang lebih sama dengan rekannya di provinsi Kalimantan Tengah dilihat dari besaran Nilai Tukar Petani yang selalu berada dibawah angka 100 (Tabel II. Tinjauan Ekonomi Kal.56).Sel 2009 Tabel II.5 Kalteng 98. Tabel II. 2005 – 2009 Tahun/Bulan Rata-rata 2005 Rata-rata 2006 Rata-rata 2007 Rata-rata 2008 Rata-rata 2009 Indeks Diterima (It) 394.7 95.23. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .1 90.2 94.7 117.7 78.3 77.29 T.55 memperlihatkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) selama tahun 20052008 selalu berada dibawah angka 100.69 119. pada tahun 2009 sebesar Rp. Sebaliknya petani di Provinsi Kalmantan Barat dan Kalimantan Timur mempunyai nasib yang relatif lebih baik.1 588.74 104. Bekerja sebagai petani bukanlah hal yang menguntungkan namun kesempatan untuk bekerja diluar lapangan pertanian nampaknya belum terbuka lebar mengingat adanya gap antara pendidikan dengan tuntutan dunia kerja.7 621.74 Kaltim 82.7 Kalsel 90.8 516. belanja pemerintah (G).92 T meningkat dari tahun 2005 yang sebesar Rp.67 125. Angka dibawah 100 mempunyai makna bahwa petani selalu membayar lebih banyak daripada apa yang mereka terima. Badan Pusat Statistik *) Tahun dasar 2002 Produk total daerah dihitung berdasarkan nilai PDRB.7 571. investasi (I).55 NTP 82.

732.720.17 16.80% Share 3.57 Total PDRB dan Rata-rata Share Berdasarkan Komponen Penggunaan di Kalimatan Selatan 2005 – 2009 (Rp.796.07% 22.83 18.81% 13. Hal ini terlihat pada Tabel II.27% Share 3.36 Kadar Keterbukaan Eko Dalam ((C+I+G) 12.660.48 179.01 13.00 20.794.005.88 114.07%.939.82 2.juta) Rata-rata (%) Komponen 2005 2009 (share 2005-2009) Konsumsi © 10.181.108. baik internasional maupun nasional.020.051.170. Pembentuk PDRB terbesar selanjutnya adalah dari konsumsi.32 29.43 63.87 19.544.369.001.81% 84.334.736. Faktor dari dalam (C.59% 0.839.00 3.700.306. 2006 s/d 2009 (diolah) RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .090.06% 1. Berdasarkan tabel II. yakni sebesar 44.46 Impor (M) 5.503.599.06% 11.292.67 24.00 No 1 2 3 4 5 6 7 Sumber : Tinjauan Perekonomian Kalimantan Selatan.648. cukup tinggi.94% Sumber : Tinjauan Perekonomian Kalimantan Selatan.225.03 62.44 Belanja pemerintah (G) 2.799.37 26.46 44.221.09 100.91%.600.061.0 2007 Total 728.06% 17.46%.58 Tabel II.380.257.100. Pentingnya perdagangan bagi perekonomian Kalsel juga ditunjukkan dari derajat keterbukaan ekonomi.67 128.72 13.89 165.20% 0.40 310.15 2.29 3.423.BAB II Tabel II.90 44. jika ekspor dihitung sebagai kesatuan didalam Neraca Perdagangan (X – M) maka peranan neraca perdagangan hanya 37.132.331. BPS.46 6. I.046.07 Investasi (I) 62.662.744.39 Ekspor (X) 15.766. Faktor luar atau disebut keterbukaan ekonomi ((X+M)/2) menyumbang 44.749. BPS.358.689.10%.900.90 Luar ((X+M)/2) 10.029.72% 19.91 PDRB (Y) 23.043.262.450.50 28.37 2.798. Akan tetapi.912.00 19.58 Nilai (US 000 $) dan Share Ekspor Regional Kalimantan Tahun 2006 – 2008 Provinsi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Total Kalimantan Indonesia 2006 Total 620.16% 83.90%.0 2008 Total 898.2015 Page 89 .54% 82.471.361. Daya saing ekonomi Kalsel diantara propinsi lain di Kalimantan menduduki peringkat kedua jika diihat dari besaran ekspor.158.081.19 8.31 100.45 16.G) menyumbag 62.0 Share 3.918.598.92% 12.455. Hal ini menunjukkan ketergantungan pada ekonomi eksternal.347.900.268.595.10 12.56 komponen paling dominan dalam membentuk PDRB adalah Ekspor dengan rata-rata share pada periode 2005 – 2009 sebesar 63. 2005 – 2009 (diolah) Perbandingan besaran share masing-masing komponen pembentuk PDRB menunjukkan komponen yang relatif lebih dominan diantara satu dan lainnya dalam membentuk produksi.

BPS. tapi tidak melebihi 14% selama periode 2006 – 2008 ini.2015 Share (%) Page 90 . seperti pada 2008 menguasai 84. Peranan Kalsel terlihat fluktuatif.95 14. Akan tetapi dari komposisi yang ada ternyata daya saing ekspor Kalsel masih sangat ditopang oleh produk-produk primer.41 2 Rata-rata Share (%) 2.0 20.0 50. adalah Karet Alam dan Produk Lainnya. Dari distribusi antar propinsi terlihat sangat timpang dimana Kaltim sangat dominan.62%) dengan andalan Batu Bara. Secara total. Perkembangan komposisi ekspor ini telah lama tidak berubah yakni didominasi produk primer.11 Gambar II.0 40.0 30.07%.59 Total 29.58 100.0 80.78 164. Tabel II.59 terlihat pertumbuhan rata-rata nilai ekspor Kalsel sangat tinggi. share ekspor yang berasal dari wilayah Kalimantan meliputi 22.0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Tahun Karet Alam Produk Kayu Rotan Produk Perikann Produk Tambang Produk Lainnya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2008 90.11 Share Nilai Ekspor Menurut Jenis Komoditi di Kalimantan Selatan 2003 .00 Sumber : Tinjauan Perekonomian Kalimantan Selatan.02 0.0 70.08 (3.BAB II Pada 2008. Komoditas ekspor paling dominan adalah produk Tambang (rata-rata 72. Perkembagan share nilai komoditas ekspor selama periode 2003 – 2008 terlihat pada Gambar II. Komoditas lainnya jauh tertinggal dengan besaran masing-masing tak lebih dari 10%. Struktur komoditas pembentuk daya saing ekspor sangat penting dalam menentukan tingkat kemajuan pembangunan. Share ini menunjukkan kecendrungan meningkat jika dibanding tahuntahun sebelumnya.94% dari nasional.0 60.41 0. rata-rata pertumbuhan ekspor selama periode 2004 – 2008 adalah 29.63 2. Komoditas yang tumbuh secara fantastis.0 10. kemudian setelah kayu terbatas digantikan oleh Batu Bara.35) 8. diatas 100%.58%. 2004 s/d 2009 (diolah) Dari Tabel II.62 9. Sebelumnya yang mendominasi adalah produk kayu.41 72.07 33.59 Rata-rata Pertumbuhan dan Share Nilai Ekspor Berdasarkan Jenis Komoditi di Kalimantan Selatan 2004 – 2008 Karet Produk Produk Produk Produk No Indikator Rotan Alam Kayu Perikanan Tambang Lainnya 1 Rata-rata Pertumbuhan (%) 122. Jika komoditas/produk utama ekspor adalah hasil olahan yang bernilai tambah tinggi maka tingkat kemajuan perekonomian juga tinggi.

89 % dengan lebar bervariasi antara 4.1 Fasilitas Transportasi Transportasi di Kalimantan Selatan dilayani oleh transportasi darat. peningkatan aksesibilitas antar wilayah pengembangan dan mendukung pengembangan kawasan-kawasan strategis dan sentra produksi. jalan ini menjadi lintas poros selatan Kalimantan yang menghubungkan ke Provinsi Kalimantan Tengah dan ke Kalimantan Timur. a.37 % dan kondisi rusak 23. Jumlah jalan provinsi yang ada sebanyak 47 ruas jalan sepanjang 832.55 % dan kondisi rusak 3.58 km jalan provinsi (SK Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 188. 2.086 km jalan nasional (SK Menteri PU Nomor 631/KPTS/M/2009).77 Km jalan kabupaten/kota . Selain terletak di ibukota provinsi. laut. kondisi sedang 16. Sesuai UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada pasal 24 (1) bahwa penyelenggara jalan wajib segera dan patut untuk memperbaiki jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalulintas. Transportasi Darat Di Provinsi Kalimantan Selatan terdapat 866. Transportasi darat memiliki peran penting untuk meningkatkan aksesibilitas daerah pedalaman.2. dengan kondisi baik 74.44/097/KUM/2008). seiring dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dan pembangunan Kalimantan Selatan secara signifikan berdampak peningkatan lalu lintas jalan.BAB II 2.2015 Page 91 . Kupang –Manggalo – Batas Kaltim serta Banjarmasin – Martapura – Rantau – Kandangan – Pantai Hambawang – Barabai – Tanjung – Mabu’un – Batu babi – Batas Kaltim. Sedangkan Lintas jalan yang menghubungkan ke Provinsi Kalimantan Timur juga dapat dilalui dalam dua arah yaitu Banjarmasin – Martapura – Pelaihari – Asam-asam – Kintap – Batulicin – Sei.03 % berdasarkan data tahun 2010. 832.55 %.5 – 16 m. sementara untuk kendaraan angkutan penumpang umum : RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .4.964. kondisi sedang 3. dan sungai dengan gambaran sebagai berikut. dan 8.08 %.4. Jumlah Jalan Nasional yang ada sebanyak 74 ruas jalan dengan kondisi baik 79.2. Sehubungan dengan pemerataan pembangunan maka perlu perhatian pengembangan wilayah ke arah Barat Laut Kalimantan Selatan terutama memperlancar hubungan darat untuk Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Marabahan dan Amuntai. udara.58 Km. Infrastruktur. Lintas jalan yang menghubungkan ke Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilalui dalam dua arah yaitu Banjarmasin – Simpang Serapat – Anjir Pasar (Marabahan) – Batas Kalteng serta Banjarmasin – Martapura – Rantau – Kandangan – Pantai Hambawang – Amuntai – Kelua – Pasar Panas (Batas kalteng).

C=228. barang dan perkembangan pesawat terjadi kenaikan yang cukup signifikan pertahunnya. Perkembangan pergerakan orang.BAB II Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Jaringan Trayek AKDP Total Jaringan Trayek AKDP beroperasi Jaringan Trayek AKAP Prasarana terminal : 2.042. B=96. Jumlah pesawat yang mendarat dan berangkat di Bandara Syamsudin Noor pada tahun 2009 sebesar 19. Terminal regional tipe A ini berada di Kabupaten Banjar km.2015 Page 92 . Apron lama 326x90m² (linier concept).60 berikut : RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 17 dengan luas lahan 10 Ha.5 Ha dikelola oleh PT. D=228.8x23 m². Transportasi Udara Arus lalu lintas udara di Kalimantan Selatan menggunakan Bandara Syamsudin Noor yang merupakan tipe bandara Pusat Penyebaran Sekunder (PPS) dan Bandara Stagen yang merupakan tipe bandara Pusat Penyebaran Tersier(PPT).197 orang dan arus penumpang yang datang 1. Apron baru 336x152 m² (transporter concept).874 buah : 148 buah : 67 rute/trayek : 27 rute/trayek : 17 rute : 20 buah Penyediaan terminal tipe A yang melayani angkutan umum dari angkutan lintas Provinsi (AKAP) sampai Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) diharapkan pembangunannya selesai 100 % tahun 2015 dan segera berfungsi untuk menunjang kegiatan transportasi darat. b. Bandara Syamsudin Noor sejak tahun 2004 telah menjadi Bandara Embarkasi Haji dengan menggunakan pesawat B-767 seri 300 ER. taxiway (A=224.500 x 45 m² (single runway concept).077 buah pesawat perhari.5x23 m²).8x23 m².5 m².5x27.962 orang. (Persero) Angkasa Pura I dengan Fasilitas bandara yaitu : landasan 2. dan konsep sirkulasi bangunan terminal sistem satu lantai B. Pada tahun 2009 arus penumpang berangkat sebesar 1.042. Bandara Syamsudin Noor terletak di Kecamatan Landasan Ulin Kotamadya Banjarbaru dengan luas 37. sebagaimana pada Tabel II.

BAB II Tabel II. 13 berikut: Tabel II.714 15.235 2.415 4.475 380.622 4.240 6.538 9.479.621 15.572 15.205 9.651 15.547 7. Kalsel 2010.866 15. TAHUN 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 Jumlah Tabel II.601 JUMLAH 13.138 13.338.940 4.329 Tahun 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 JUMLAH Sumber: Dinas Perhubungan Prov.651 7.464 10.539 19.194 4.575.427 106.61 s.163 6.655.401.648.419 53.404.216.080.111 22.852 50.229 5.619 1.716 690 1.303.185 608.207.463.588 9.030 827.181.290 3.473 5.934.708 634.623 2.60 Jumlah Arus Pesawat Datang dan Berangkat di Bandara Syamsudin Noor 2003-2009 PESAWAT JUMLAH DATANG BERANGKAT 9.442 1.669 8.268 781.846 TAHUN 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 JUMLAH Sumber : Dinas Perhubungan Prov.508. Data perkembangan arus penumpang dan barang melalui Bandara Syamsudin Noor dapat dilihat pada Tabel II. Ditinjau terhadap arus pergerakan penumpang dan barang yang melalui Bandara Syamsudin Noor dengan rata-rata pertumbuhannya mencapai 16.346 8.141 7.537 43.041 3.628 5.62 dan gambar II. Berangkat dan Transit Di Bandara Syamsudin Noor 2003-2009 PENUMPANG TOTAL DATANG BERANGKAT TRANSIT 1.2015 Page 93 .429 7.083. Tabel II.322. Kalsel 2010.549 681.275 774.569 7.261.d.042.942 9.148 18.103 10.584.731 7.12 s.397 652.962 1.112.608 7.440.036.865 7.6%.61 Jumlah Penumpang Datang.907 748.425 5.698.869 887. Kalsel 2010.670 11.075 1.712 Sumber: Dinas Perhubungan Prov.160 66.757.746 726.348 395.611.373 5.197 6.997.774 1.62 Jumlah Barang Bongkar dan Muat Di Bandara Syamsudin Noor 2003-209 BARANG (Kg) BONGKAR MUAT 9.856 5.410.259.338.395 868.302 7.792 3.407.986.024.937 53.077 7.239. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .715 7.073.d.487 11.380 6.827 12.

dengan load faktor penumpang rata-rata RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Bandara ini berfungsi sebagai Bandara pengumpan dengan frekuensi penerbangan tujuh kali dalam seminggu untuk rute Banjarmasin – Kotabaru – Banjamasin.BAB II Gambar II.13 Grafik Jumlah Barang di Bandara Syamsudin Noor Tahun 2003-2009 Bandara Syamsir Alam (Stagen) termasuk dalam PKW Kotabaru yang dikelola oleh UPT. Gambar II.112 Jumlah Penumpang Datang. dapat didarati oleh pesawat Foker-50. Ditjen perhubungan Udara.2015 Page 94 . berangkat dan Transit Di Bandara Syamsudin Noor 2003-2009 Kondisi frekuensi penerbangan yang semakin padat terutama pada peak hour pagi memerlukan perhatian perbaikan headway take off dengan penyediaan fasilitas landas hubung (taxiway) karena saat ini keluar-masuknya pesawat dari landasan menuju apron dan sebaliknya masih menggunakan runway sebagai aksesnya.600 x 30 m². saat ini mempunyai panjang Landasan 1.

955 94.047 30. 63 berikut : Tabel II.280 24.871 1. Penumpang yang datang pada tahun 2009 sebesar 18.063 20 21.724 35.015 5 2005 14.964 2 2008 20.477 JUMLAH 99.742 41.Stagen telah mempunyai fasilitas pendukung seperti terminal penumpang. navigasi.2009 PENUMPANG NO TAHUN TOTAL DATANG BERANGKAT TRANSIT 1 2009 18. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Berangkat dan Transit Di Bandara Syamsir Alam .061 12.893 3.BAB II 0.686 8.240 orang dan penumpang yang berangkat sebesar 17.067 Secara grafis perkembangan arus penumpang di Bandara Stagen dapat dilihat pada Gambar II.14 JumlahPenumpang Datang.990 1.776 5 35.StagenTahun 2003.2009 Bandara Syamsir Alam .117 3 2007 12.240 17.234 17.122 196.77% dan tujuh kali dalam seminggu untuk rute Kotabaru – Balikpapan – Kotabaru dengan load faktor penumpang rata-rata 0.769 7 2003 3. komunikasi dan sisi darat serta perlu peningkatan SDM untuk menjadikan bandara dengan pelayanan dan perkembangan yang lebih baik.375 20.62%.384 6 2004 13.341 4 2006 17.466 14.63 Data Perkembangan arus Penumpang Di Bandara Syamsir Alam .14 : Gambar II. Peningkatkan fasilitas sarana dan prasarana Bandara Syamsir Alam sangat diperlukan baik fasilitas dari sisi udara.StagenTahun 2003. fasilitas komunikasi dan navigasi penerbangan serta fasilitas PK-PPK dan fasilitas Security.534 50 7.724 orang terjadi penurunan dibandingkan tahun 2008 sebagaimana Tabel II.2015 Page 95 .

548.000 m (15 km) lebar 100 m dan kedalaman 6 LWS saat ini kondisi dapat di layani selama 24 jam. Sejak 1 Januari 2009 diberlakukan pungutan kapal-kapal yang mengangkut batubara. Hal tersebut tidak terlepas dari Alur Ambang Barito dapat dilayani 24 jam.564. Alur barito panjang 15. Transportasi Laut Pelabuhan Trisakti merupakan Pelabuhan Utama di Provinsi Kalimantan Selatan yang berperan dan berfungsi sebagai salah satu pintu gerbang perekonomian dan distribusi berbagai komoditi eksport maupun guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri di berbagai daerah yang memiliki panjang dermaga 510 m.BAB II c.950 m3. hasil hutan dan hasil tambang lainnya.2015 Page 96 .384 43.483. lapangan penumpukan luas 36.642 30.504.536 2006 12.369 2003 9.964. 8. Gambar II.603 2005 11.606.648 unit 52.939 2004 10.902 37.085.T.- Pengembangan Pelabuhan Trisakti di Banjarmasin lebih difokuskan pada kegiatan arus barang dan penumpang dari pulau jawa atau daerah lain serta untuk menampung arus kegiatan dari wilayah belakang Provinsi Kalimantan Selatan yang mencakup wilayah timur dan tenggara dari Provinsi Kalimantan Tengah serta bagian selatan dari Kalimantan Timur. Realisasi pungutan chonell fee terhadap kapal yang melalui Alur Ambang Barito tahun 2009 sebagai berikut : Jumlah kapal Muatan Kontribusi : : : 5.82 ton/m3 Rp.15 Perkembangan Arus Kapal Luar dan Dalam Negeri di Sungai Barito 48. (Persero) Pelabuhan Indonesia III Cabang Banjarmasin Semakin meningkatnya pertumbuhan pelayaran memerlukan perhatian untuk meningkatkan pelayanan dengan mempertimbangkan pelabuhan laut yang lebih RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .131.13 dengan tingkat pertumbuhan rata-rata tahun terakhir adalah sebesar 9%. Perkembangan Pelabuhan Trisakti terus berbenah untuk meningkatkan pelayanan dengan membangun dermaga peti kemas dan mempermodern fasilitas peralatan.802 8.373 m2 dan lapangan penumpukan peti kemas 14. Peningkatan arus kapal luar dan dalam negeri terlihat pada Gambar II.017 35.582 2007 Sumber : P.959.670.

Lintas Alalak .856 124.5%.557 Pergerakan orang dan barang yang menggunakan transportasi sungai dan danau di Kalimantan Selatan masih diminati. Dari data Dinas Perhubungan Kota 2007 terjadi peningkatan kepadatan lalu lintas angkutan sungai dan danau untuk angkutan penumpang sebesar 13. Fery.595 35. Kapal Tunda.727 orang pertahun dan sebanyak 171.64 Perkembangan Permintaan Terhadap Angkutan Penyeberangan Tahun 2008-2009 Batulicin .885 Tahun 2008 2009 R-4 55.852 44. LCT (Land Craft Tank). dan KM. Hal ini mengingat biaya masih relatif murah. Lintas Mantuil .224 124.Tamban.218 2008 7.752 57.BAB II refresentatif karena tingkat pelayanan Pelabuhan Trisakti sangat dipengaruhi oleh kondisi alur Sungai Barito.Jelapat. Lintas Banjar Raya .082 104. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Untuk lintas Batulicin – Tanjung Serdang yang menghubungkan daratan Kalimantan Selatan dengan Kabupaten Kotabaru di Pulau Laut.594 2009 7. Motor Bota/Kapal Motor.2015 Page 97 . Tongkang.Saka Kajang.Tg Serdang Batulicin Tj Serdang Tahun Trip Pnp R-2 R-4 Trip Pnp R-2 7.Tanjung Serdang. Palangkaraya dan Kapuas. jumlah Kapal yang melayani dan beroperasi sebanyak 4 buah dan penumpang yang diangkut rata-rata 40. penyeberangan lintas Stagen – Tarjun. Motor Tempel. Muara Teweh.791 58.504 buah kendaraan pertahun.488 59. Data perkembangan permintaan terhadap angkutan penyeberangan Batulicin – Tanjung Serdang dapat dilihat pada Tabel II. d. Lintas penyeberangan di Kalimantan Selatan terdapat beberapa lintas penyeberangan yaitu : Lintas Batulicin . Angkutan sungai dan penyeberangan di Kalimantan Selatan disamping menghubungkan daerah-daerah yang belum dapat diakses melalui darat (transportasi darat) juga menghubungkan dengan provinsi Kalimantan Tengah terutama Kota Buntok.745 100. Dilihat dari jenis angkutannya yang beroperasi terbagi atas Motor Getek / Klotok. Transportasi Sungai dan Penyeberangan Transportasi sungai kebanyakan terdapat di kota Banjarmasin terutama yang menggunakan sungai Barito dan Sungai Martapura.730 7. Speed Boat.595 31. Lintas tersebut mempunyai peranan sangat penting dalam menunjang kelancaran arus penumpang dan barang angkutan penyeberangan di wilayah Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Tanah Bumbu.849 51.64 : Tabel II. Transportasi sungai ini terutama untuk melayani penumpang dan distribusi bahan pokok serta hasil bumi.

aktivitas perbankan Kalimantan Selatan dudukung oleh 60 Kantor Cabang.BAB II 2. 17% (y-o-y).24 triliun. Tabel II.51% (y-o-y).2 Fasiltas Bank dan Non-Bank Posisi dana simpanan perbankan di Kalimantan Selatan baik melalui Giro.ATM 201 245 BPR Jumlah Bank Jumlah Kantor 2009 22 19 3 4 1 60 164 55 440 24 24 24 24 23 30 24 24 24 24 23 30 Sumber : http://www. Sektor yang banyak menyerap kredit perbankan khususnya KUK adalah sektor lainnya dan sektor perdagangan. Volume usaha perbankan (asset) Kalsel tumbuh 13.2. tabungan. kemudian konsumsi (30.347 milyar. perbankan di Kalimantan Selatan mencatat pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebagai imbas krisis finansial global.33 triliun atau tumbuh 13% (y-o-y).3% dari akhir tahun 2008 sehingga mencapai Rp21.go. Namun demikian beberapa indikator masih mencatat pertumbuhan yang positif. 3 bank umum syariah. Sampai akhir tahun 2009. Dana kredit di Kalimantan Selatan tersebut jika dirinci menurut penggunaannya pada akhir tahun 2008 sebagian besar digunakan untuk modal kerja (42. Dana masyarakat yang dihimpun perbankan Kalsel pada akhir tahun 2009 mencapai Rp18.65 Jaringan Kantor Bank Kalimantan Selatan Bank Umum 2007 2008 Jumlah Bank 21 22 . 55 kantor kas. sisanya melalui bank swasta nasional dan bank asing dan campuran.2015 Page 98 . Sedangkan penyaluran melalui bank perkreditan rakyat hanya sebesar 174. 410 ATM serta 30 kantor BPR.Kantor Cabang 50 54 . Pertumbuhan asset ini terutama ditopang oleh pertumbuhan kredit dan DPK.Bank Umum Syariah 2 2 .Bank Umum Konvensional 19 20 . dan 5.24%) serta untuk investasi (27.31%).86% (y-o-y).234 milyar pada bulan Desember 2008.915 milyar lebih dengan jumlah kredit pada akhir tahun sebesar 13. Kredit perbankan tersebut terbesar disalurkan melalui bank umum pemerintah sebesar 8. maupun deposito menunjukkan pertumbuhan yang positif yakni masing-masing sebesar 10.Kantor Cabang Pembantu 56 146 .Kantor Kas 42 44 . 4 unit usaha syariah serta didukung oleh 22 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) konvensional dan 1 BPR Syariah. jumlah jaringan bank di Kalimantan Selatan mencapai 19 bank umum konvensional.Kantor Pusat 1 1 .4. 164 Kantor Cabang Pembantu.kalselprov.45%). Deposito maupun Tabungan pada akhir tahun 2008 mencapai 15. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . seluruh jenis rekening dalam bentuk giro.8 milyar lebih.id/data-pokok/perbankan Ditinjau kinerjanya pada tahun 2009.Unit Usaha Syariah 4 5 Jumlah Jaringan Kantor . Untuk kelancaran transaksi ekonomi.

4 Fasilitas Listrik Sebagian besar kebutuhan tenaga listrik di Kalimantan Selatan dipenuhi oleh Perusahaan Umum Listrik Negara.4. danau dan berasal dari sumur dangkal.BAB II Sementara itu dari sisi penyaluran kredit. pertumbuhan kredit ini terutama ditopang oleh kredit konsumsi dan kredit investasi yang tumbuh cukup tinggi yakni sebesar 24.95 triliun atau tumbuh 16% (y-o-y). 2. namun kondisi PDAM rata-rata di kabupaten/Kota cakupan pelayanan masih belum memadai yaitu rata-rata masih sekitar 47.2. Selain itu keterbatasan pasokan daya khususnya untuk memikul beban puncak serta kondisi alam yang tidak menentu mengakibatkan sering terjadi pemadaman listrik. akan tetapi peningkatan ini tidak seimbang dengan tingkat kebutuhan listrik bagi masyarakat pengguna seperti terlihat pada Tabel II. resiko kredit di tahun 2009 terjaga pada level yang aman yakni dengan rasio NPL sebesar 2. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Ditinjau terhadap kapasitas peningkatan daya listrik dari tahun 2005-2010 terus ditingkatkan rata-rata 17.81% (y-o-y) dan 30. Sementara itu.7%.66. Pelayanan air minum di perkotaan sebagaian besar dilayani oleh Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM). Pelayanan air minum di daerah perdesaan sebagian besar belum dilayani oleh sistem perpipaan dan masih memanfaatkan sumber-sumber air perairan umum. pada akhir Desember 2009 jumlah kredit yang disalurkan mencapai Rp13. seperti air sungai.76%. fungsi intermediasi perbankan yang dicerminkan oleh rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) pada tahun 2009 menunjukkan peningkatan yaitu dari 74% di tahun 2008 menjadi 75.4.3 Fasilitas Air Bersih Pelayanan penyediaan air minum tahun 2009 di Kalimantan Selatan secara umum masih belum optimal dan belum dapat menjangkau keseluruh wilayah permukiman baik di perkotaan maupun di wilayah perdesaan. Dengan perkembangan tersebut. berkat kerja keras semua pihak yang berwenang.2015 Page 99 .75 %.14% lebih rendah dari rasio NPL pada akhir tahun 2008 yang mencapai 4.2. 2.42% (y-o-y). Cakupan pelayanan air minum di daerah perdesaan masih sangat kecil yaitu baru dapat melayani sekitar 43% dari penduduk perdesaan. Kondisi pembangkit listrik di Kalimantan saat ini relatif sudah tua.50 %. Untuk mencapai target Millenium Development Goal (MDG) terhadap Penyediaan Air minum dan Sanitasi yaitu mengurangi separuh dari jumlah masyarakat yang belum memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi yang berkelanjutan pada tahun 2015 maka penyebaran pelayanan terhadap air bersih/minum ini perlu ditingkatkan.

096 1. B.796 162 1.73 2009 1.00 239.d. sehingga perlu untuk penambahan pembangkit listrik. C. PLN (Persero) Wilayah KalSelTeng. dalam rangka mengatasi krisis listrik didaerah ini.50 371. 2009 TAHUN Data Kelistrikan 2006 2007 Desa Berlistrik 1. PLN (Persero) Wilayah KalSelTeng.67 : Tabel II.00 310.97 2010 457.816 147 1.00 303.928 1.55 2007 250.31 Sumber : PT.00 262.2015 Page 100 .958 91.880 Ratio (%) Desa Berlistrik 87.66 Daya Mampu Listrik dan Beban Puncak di Kalsel Tahun 2005-2010 Kegiatan Daya Mampu Listrik (MW) Beban Puncak (MW) 2005 250.963 92.00 246.16 Kapasitas Pemakaian Daya Listrik Ditinjau terhadap sebaran pelayanan fasilitas listrik perlu ditingkatkan walaupun rasio desa terlayani semakin membaik setiap tahunnya seperti terlihat pada Tabel II. 2008 1. 2010 Mengingat Kebutuhan listrik terus meningkat sementara kemampuan PLN terbatas.783 Desa Belum Berlistrik 168 97 Jumlah 2.08 91 No. 2010 Gambar II.92 2008 250. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .67 Rasio Desa Berlistrik Di Kalsel 2006 s.BAB II Tabel II.60 2006 250.51 2009 318.51 Sumber : PT. A.

000.2.50. Berkenaan dengan semakin meningkatnya permintaan akan jasa pos di Propinsi Kalimantan Selatan maka di setiap kabupaten/kota tersedia beberapa kantor pelayanan pos. Tanah Laut (pelaihari) dan Kintap.000. 2009: Tabel II.68 Penerimaaan Retribusi Izin Radio Amatir 2005 s/d 2009 No 1 2 3 4 5 Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 Target Rp. 9 tabloid mingguan. 68 unit pos bergerak.000.025.Rp.325.45 164. Sedangkan Radio swasta dan RSPD di Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 28 Radio. 22 unit layanan pos.500. Rp.87. diperlukan prasarana komunikasi yang handal seperti stasion Radio (Reapeter) yang dibangun dii 3 titik yaitu Kota Banjarmasin.110.000. Kab.153. HSS.2015 Page 101 .Rp. Kalsel Keberadaan industri pers di Kalimantan Selatan pada tahun 2008 tercatat ada 35 penerbit. dan 1105 fasilitas pos lainnya.69. Kantor pelayanan pos tersebut dibedakan atas kantor pos besar/umum. kantor pos tambahan.59.4.617. Banjarbaru.792. Kandangann dan Kotabaru dengan 156 kelompok kantor pos. Sarana komunikasi yang digunakan di Kalimantan Selatan didominasi oleh telepon kabel dan wireless serta telepon selular selain itu menggunakan SSB maupun internet.930. 14 surat kabar mingguan (SKM). 3 tahun 2008 yang melarang penggunanan jalan Negara untuk mengangkut hasil tambang dan kebun. Pemanfaatan telekomunikasi juga menunjang Kerja Tim dalam koordinasi pengamanan Perda No.- Persen 62. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Rp.000.000.- Realisasi Rp.Rp.5 Fasilitas Telematika Pemanfaatan telekomunikasi di Kalimantan Selatan dari tahun ke tahun terjadi kenaikan dengan banyaknya peserta yang berminat untuk mengikuti ujian amatir radio ( UAR ) baik yang dilaksanakan pada tingkat provinsi hal ini juga berdampak terhadap meningkatnya retribusi yang diterima. 696 titik layanan.500.72. 3 tabloid bulanan dan 2 majalah.56.000.Rp.975.375.28 175.34 221.000.Rp.66 Sumber: Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Prov. Banjarmasin.59 159.BAB II 2.662. Kab.Rp. Berikut data penerimaan retribusi izin radio amatir dari tahun 2005 s. yaitu 7 surat kabar harian (SKH).119.d. kantor pos pembantu dan kantor pos.90. Data dari Kantor Pos dan Giro Daerah IX Banjarmasin mencatat dari lima unit kantor pelayanan pos pada tahun 2008 yaitu di Amuntai.500.000.

4.2.Baru Kelompok Kantor unit 33 27 54 19 23 Unit 19 15 7 13 14 Pos Bergerak Trayek 69 37 20 33 20 Terminal 75 54 23 78 76 Unit Layanan Pos buah 3 14 2 3 Jumlah Titik buah 113 104 179 143 157 Layanan Fasilitas Pos : .32 23 8 314 314 100 126 47 2271 2271 88.Bis Surat Buah 93 0 0 48 47 Terpasang . RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .Masin Kandngan K.Loket terpakai Buah 27 31 0 14 15 Jangkauan Pelayanan Buah Kecamatan Layanan lokasi Buah transmigrasi Jangkauan Pelayanan Kel/Desa Jumlah desa Buah Jumlah jangkauan Buah % Jumlah 156 68 179 306 22 696 271 229 220 188 110 87 32 11 944 944 100 52 21 198 198 52.6 Fasilitas Restoran dan Penginapan Fasilitas restoran dan penginapan sangat berkenaan dengan tingkat wisatawan yang datang.587 orang.2015 Page 102 .kotak pos sewa Buah 78 0 0 46 105 -Tromolpos Buah 10 0 0 0 210 . pada 2004 sampai dengan tahun 2008 jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Provinsi Kalimantan Selatan terus mengalami kenaikan. Dari data yang tercatat hingga tahun 2009 terdapat hotel berbintang sebanyak 20 buah dan hotel melati 178 buah dengan tingkat pertumbuhan jumlah kamar hotel mencapai 20%. Begitu juga dengan kunjungan wisatawan nusantara ke Provinsi Kalimantan Selatan selalu mengalami kenaikan. Kebanyakan wisatawan mancanegara yang berkunjung tersebut berasal dari negara-negara di Benua Asia dan Eropa. Selain itu juga banyaknya restoran/rumah makan sebanyak 316 buah.BAB II Tabel II.kotak pos Buah 0 0 0 141 130 . hal ini dikarenakan mulai stabilnya kondisi keamanan.69 Jumlah Alat Produksi PT Pos Rayon Kalimantan Selatan Tahun 2008 KANTOR Uraian Satuan Amuntai B. toko cinderamata 198 buah dan biro perjalanan wisata 162 buah yang tersebar diseluruh daerah di Provinsi Kalimantan Selatan (Sumber : Mata Banua.66 0 0 576 576 100 19 7 239 239 67. Pada Tahun 2008 wisatawan nusantara dari DKI Jakarta mencapai 179. disusul dari daerah Kalimantan Tengah dan Jawa Timur masing-masing sebesar 45.Baru B. Senin 23 Agustus 2010).834 orang.54 2.Loket tersedia Buah 44 34 0 32 0 .710 orang dan 25.

Jumlah PHK yang banyak terjadi dalam 5 tahun belakangan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan industri di sektor Kehutanan. walau kuantitasnya tidak terlalu besar.2015 Page 103 . 4. Sengketa lahan juga seringkali terjadi antara tanah ulayat yang diklaim oleh masyarakat adat dengan tanah yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan tertentu.3. Disisi RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .1 Keamanan dan Ketertiban Keamanan dan ketertiban dalam konteks investasi dapat dilihat dari . seringkali digelar aksi unjuk rasa oleh kelompok masyarakat tertentu yang hendak menuntut haknya.2009 mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Pertumbuhan Penaman Modal Asing selalu negatif kecuali pada 2008 yang tumbuh positif bahkan melonjak tinggi sebesar 1.BAB II 2. Sengketa ini biasanya terjadi atas tumpang tindih izin pertambangan yang dikeluarkan oleh Bupati dan/atau Walikota berupa Kuasa Pertambangan. seperti chaos pasca Pilkada seperti di daerah lain.2. 4) Terkait dengan beberapa persoalan tersebut. 1) Masalah sengketa lahan akibat terjadinya tumpang tindih segel dan sertifikat tanah. Sedangkan dari aspek kondisi Kalimantan Selatan. demontrasi besar-besaran. sejauhmana penanganan berbagai aktivitas yang dapat menggangu investasi di Kalimantan Selatan. karena perusahaan tersebut telah dinyatak pailit oleh Peradilan yang berwenang. Sementara berbagai problem yang dihadapi dalam menjamin keamanan dan ketertiban berinvestasi masih ada. Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhan yang berbeda jauh setiap tahunnya.4.243%. Perkembangan Investasi Perkembangan Investasi PMA dan PMDN 4 tahun terakhir. seperti kerusuhan massal. Investasi & SDM 2. Hal-hal tersebut adalah . Terkait dengan regulasi terhadap investasi. atau terjadi chaos akibat peristiwa politik tertentu. Masalah PHK yang berlarut-larut dikarenakan ada perusahaan yang tidak dapat membayar pesangaon dan hak-hak karyawan lainnya. 2. Dalam 10 tahun belakangan belum ada data yang menunjukkan terjadi suatu peristiwa gangguan keamanan yang menyebabkan ketidak amanan berinvestasi. Salah satunya adalah dengan diterbitkannya produk hukum yang menjdai dasar bagi terbentuknya Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) sebagai institusi yang secara khusus mengurusi investasi di Kalimantan Selatan. 2) Masalah sengketa perizinan pertambangan.3. pemerintah provinsi Kalimantan Selatan memiliki berbagai produk hukum untuk mendukung hal ini. 1). khususnya industri pengolahan hasil hutan. 2006 .4. 2). sejauhmana regulasi di provinsi Kalimantan Selatan dapat menjamin kepastian investasi. serta 3). 3) Masalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).3. bagaimana kondisi keamanan Kalimantan Selatan dalam mendukung investasi dan keberadaan dunia usaha.

8 .994.000.-. khususnya sub sektor Industri Kertas dengan nilai investasi Rp.70 Nilai dan Tingkat Pertumbuhan Investasi PMA dan PMDN di Kalsel Tahun 2006 – 2009 TAHUN 2006 2007 2008 PMA (US$) Realisasi 24.030 PMDN (Rp.233. Penanaman Modal Dalam Negeri sempat tumbuh positif 38.000. Sektor Jasa Lainnya mengalami penurunan nilai investasi yang cukup besar sebesar –23 persen lebih.000.890.584.000.161.938.700 266.000 100..000.7.000.000 200.243 .500. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .31.000 300.000. Hal ini dapat dilihat pada grafik kdibawah ini.17 Nilai Investasi PMA dan PMDN di Kalimantan Selatan 2006 .1.490 .8 PMA 38.000.500.000.2015 Axis Title Page 104 .870 23. Nilai PMDN cenderung untuk terus menurun sedangkan PMA cenderung meningkat walaupun sangat fluktuatif.000 250.28.000.090.000.650 191.851.58.000 76.2009 Data R ealis as i In ves tas i 450. 2010 (diolah kembali) Kecendrungan perkembangan PMA dan PMDN terlihat berbeda.100.BAB II lain.naik sekitar 2000% lebih dibanding dengan nilai investasi tahun 2007 yang hanya sebesar Rp.000.445.60..000 400.59.000 2006 2007 2008 2009 R ealis as i P MA R ealis as i P MDN Nilai Investasi Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN) yang menonjol selama tahun 2008 berdasarkan sektor adalah sektor Industri.2% pada 2006 kemudian tumbuh negatif dari 2007 sampai dengan 2009.2 .6 .155.34. Gambar II.123.52.000 50.321.320 310. Sektor Industri Makanan dan Minuman dengan nilai investasi Rp.2 .meningkat sebesar 100 persen lebih dibanding tahun 2007 dengan nilai investasi sebesar Rp.000 Sumber : BKPMD Prov Kalsel.000) Realisasi 407..2 1.108.2 % Pertumbuhan PMDN 2009 146.000.430.000 350.. Tabel II.000 150.

naik sebesar 100 persen lebih dibanding tahun 2007 dengan nilai US$ 327.332 Industri Kayu 180.792 35. Kalimantan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .Pangan 143 143 143 Perkebunan 3.342 Sumber : BKPMD Prov Kalsel.3 persen dan sektor Industri Makanan dan Minuman yang tumbuh sekitar 9.832 1.405 73. Pada Proyek PMDN sektor yang memberikan kontribusi cukup tinggi dalam penyerapan tenaga kerja adalah sektor Pertambangan yaitu sebesar 13.926 73..978 Industri Barang Logam 75 75 86 Ind.Serapan tenaga kerja pada Proyek PMDN berdasarkan sektor pertumbuhannya relatif kecil berkisar 0. Tabel II.387 ha (Dinas Tanaman Pangan Kalsel. Pada Proyek PMA sektor yang penyerapan tenaga kerjanya tinggi adalah sektor Jasa Lainnya yaitu sebesar 94 persen dan Sektor Perkebunan dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 81 persen dari tahun sebelumnya (2007) sebagaimana tabel dibawah.469 15.BAB II Untuk Penanaman Modal ( PMA ) berdasarkan sektor yang menonjol adalah sektor Jasa Lainnya dengan nilai investasi sebesar US$ 756.874 1.314 9. Mineral Non Logam 37 27 27 Perhotelan 515 508 505 Pengangkutan Industri Lainnya Jasa Lainnya 1.405 1.560.675.1 % 2005 5 1 5 16 11 26 14 8 86 TK Asing 2006 4 1 5 39 11 23 10 8 101 2007 11 1 5 21 11 27 11 8 95 2008 5 1 5 21 11 27 11 8 89 Pertanian Tan.003 1.4.380 1.140.359 9.1 persen sedangkan pada Proyek PMA tumbuh cukup baik berkisar 26 persen.793 JUMLAH 202.093 74.4 0. Sumberdaya Lahan Pertanian Kalimantan Selatan mempunyai sumber daya lahan rawa seluas 1.163 Peternakan 309 300 309 Perikanan 1.613 7. 2002.155 17.118 433 Kehutanan 10.6 0 0 0 7. Potensi Investasi (SDA-Pertanian-Kehutanan dan Pertambangan) a.140 ha dan diperkirakan sekitar 342.5 persen dibanding dengan tahun sebelumnya (2007).868 Industri Kertas 256 256 256 Industri Kimia 2.189 86 27 507 1.442 -100 2.71 Jumlah Tenaga Kerja Pada Proyek PMDN dan PMA Berdasarkan Sektor di Kalsel s/d Tahun 2008 Serapan Tenaga Kerja Proyek PMDN Sektor 2005 TK Indonesia 2006 2007 2008 35. 2010 (diolah kembali) 2.922 297 8.007 501 1.399 33.458 14.3.028 7.066.3 9.1 0 (32) 13.007 Pertambangan 535 578 442 Ind.960. Makanan & Minuman 1.916 310 296 9.2015 Page 105 .5 (6) 16 2.3.

992 27. luas tanam dan luas panen (Gambar II. produksi padi diperkirakan mencapai 1.22%. kacang hijau sebesar 1.19%) masih berupa lahan tidur yang belum digarap (Anonim.888 244. keadaan topografi yang datar.954. 2007).812 (2.636.897 10. ubikayu sebesar 121.298 57.840 1. kedelai.956.992 ton gkg. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR SAYURAN BUAH-BUAHAN 2005 1.085 26.759 18.72 Tabel II.335 31.868 1.16).793 1. 2007).284 58. 2003).904 47.24%.. Meskipun demikian lahan rawa sangat potensial dikembangkan karena didukung oleh ketersediaan lahan yang luas. 2003) sangat potensial untuk dikembangkan bagi kegiatan pertanian.897 ton.750 77.817 15.548 1.13 3.87%.064 2. 2. Produktivitas padi.22 121.968 50.054 55. Pada tahun 2009.14 264.838 (1.214 16. ketersediaan air melimpah dan teknologi pertanian yang cukup tersedia (Noor.143 25. ubi kayu.060 3.118 ha.548 16. ubi jalar dan sayuran terus mengalami peningkatan masing-masing meningkat rata-rata per tahun sebesar 4. kedelai sebesar 3.904 23. ubi jalar dan sayuran dalam kurun waktu 20052009 masing-masing meningkat rata-rata 3.953. 5. 2010 Peningkatan produksi beberapa komoditas tanaman pangan berkaitan dengan peningkatan produktivitas. perkebunan dan kehutanan.48 1.322 119.957 95.60% per tahun. Sementara komoditas kacang-kacangan dan buah-buahan mengalami penurunan.K. sawah/tabukan.87) 15.BAB II Selatan Dalam Angka.08%.72 Produksi Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura di Kalimantan Selatan 2005-2009 NO. M. ubi jalar sebesar 29.625 ton. dan budidaya ikan sistem beje dan karamba (1) Potensi Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Produksi padi.955 36. 12.02 29. agroforestri.138 2.74% dan buahbuahan sebesar 2.48%. perikanan. ubi kayu.166 1. dan tata air yang kurang mendukung kegiatan usaha tani (Harun. Besarnya luasan lahan tidur tersebut disebabkan oleh adanya hambatan internal lahan rawa berupa sifat fisika. jagung.14% dan sayuran 0. M.812 ton. kimia.968 ton dan sayuran sebesar 264.283 100.158 304.598. Perkembangan produksi komoditas tanaman pangan dan hortikultura disajikan pada Tabel II.082 2. jagung sebesar 113. Pemanfaatan lahan rawa baru sekitar 143.476 1. dan sisanya seluas 199.529 82.598 11.466 Produksi (Ton) 2006 2007 2008 1.02% dan 8.956. 3.625 5.835 48.2015 Page 106 . 27.26%. kacang tanah menurun rata-rata sebesar 1.74) 1. jagung.875 8.429 261. Model budidaya di lahan rawa yang telah di kembangkan seperti surjan.222 (1.29% RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .38%.269 (58.045 262.415 Perk 2009 rata-rata * (%/tahun) 4.60) Keterangan: *) angka sementara/perkiraan Sumber : Dinas Pertanian TPH.38 113.11.14%.838 ton.389 117.

38 38.52 34.16 3.73 107.47 10.26 11.76 133.73 12.71 11. Produktivitas padi dan jagung masing-masing baru mencapai 76.70 149.00 ku/ha. Luas Tanam dan Luas Panen Padi di Kalimantan Selatan 2005/2009 Meskipun produktivitas beberapa komoditas tanaman pangan meningkat.39 47. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR SAYURAN BUAH-BUAHAN 2005 34.62 11. 2010 Gambar II.78) 11. Pada tahun 2009. jagung sebesar 49. produktivitas padi diperkirakan mencapai 40.14 48.10 99.20 8.87 10.20 10.18 Produksi.18 142.40 ku/ha.2015 Page 107 .41 11. Produktivitas.24 10.87 Keterangan : *) angka sementara/perkiraan Sumber: .00 2.05 11.24 114.70 62.40 150.69 3.38 (0.70) 148.90 Perk 2009* rata-rata (%/tahun) 40.03% dan 89.83 12. ubi jalar sebesar 114.99 146.97 0.73 Produktivitas Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura di Kalimantan Selatan 2005-2009 NO.79 30.10 189.63 10.73 ku/ha.20 45.26 11.16 ku/ha gkg.10 Produktivitas (Ku/Ha) 2006 2007 2008 35.50 170.BAB II per tahun. Perbandingan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .73 Tabel II.63 38. Produktivitas tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II. Dinas Pertanian TPH. namun bila dibandingkan dengan tingkat produktivitas tanaman panganNasional.57 (0.80 57. pada umumnya produktivitas tanaman pangan Kalimantan Selatan masih dibawah produktivitas Nasional.60 101.29 215.52% dibanding rata-rata produktivitas Nasional.11 47.17 115.32 136.08 49.34 11. ubikayu sebesar 148.17 62.69 ku/ha dan sayuran sebesar 48.50 11.40 0.

75 Tabel II.77% RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .547 1.417 7. 2010 Luas panen padi.627 2. 1.15%.38 148 114.786 1.74 Perbandingan Produktivitas Tanaman Pangan Nasional dan Kalimantan Selatan 2009 No.664 ha.06% dan 7.705 2. ubi kayu. ubikayu seluas 6.04% per tahun.35%. jagung seluas 23. kedelai seluas 3.70%.12 87.32 Keterangan: *) angka sementara/perkiraan Sumber: Dinas Pertanian TPH.289 23.938 ha.16 49.591 14. Sedangkan luas panen kacang tanah. jagung.42 103. dan 4.27 12.664 4.134 13.38%.47%.69 40.34 110.39%. luas tanam padi diperkirakan mencapai 506.296 1.84 79. 0.47 10.73 11. ubi kayu.69 Indeks (%) 80.841 ha. komoditas Padi Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Produktivitas (Ku/Ha) Nasional Kalsel 49.562 8.79 118.015 3. kedelai.15 26. 16.57 11. ubi jalar dan sayuran dalam kurun waktu 2005-2009 masing-masing meningkat rata-rata 1. 9. Sedangkan luas tanam kacang tanah dan kacang hijau masing-masing menurun rata-rata sebesar 0. luas panen padi diperkirakan mencapai 498.643 ha.938 16.71 42.71% per tahun.91%. dan ubi jalar dalam kurun waktu 2005-2009 masing-masing meningkat rata-rata 1. 13.04 2.294 Luas Tanam (Ha) 2006 2007 2008 488.852 2.083 15. 5.306 520.459 7. 3.39 3.017 2.917 ha.75 Luas Tanam Komoditas Tanaman Pangan di Kalimantan Selatan 2005-2009 NO.182 2. kacang hijau dan buah-buahan masing-masing menurun rata-rata sebesar 1.417 (3.544 2.97 10. 7.23) 1. jagung.917 3.684 5. 6.697 21.666 hadan sayuran seluas 10.1 13.038 2.2015 Page 108 .546 1.250 522.99 95.756 ha.17) 6.83 186. 2. kedelai. Pada tahun 2009. kedelai seluas 3. 4.32% per tahun.61 Keterangan: Produktivitas Padi dan Palawija (ARAM III 2009) Luas tanam padi.841 1.19 95. 3.560 2.501 ha. ubi jalar seluas 2.669 ha. ubikayu seluas 8.582 ha.247 23. ubi jalar seluas 2.BAB II produktivitas tanaman pangan Kalimantan Selatan dan Nasional disajikan pada Tabel II.174 14. 2. Pada tahun 2009.388 (0.569 24.560 ha.91 13. jagung seluas 26. Luas tanam tanaman pangan Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.74 Tabel II.23% dan 2.92%.320 Perk 2009* rata-rata (%/tahun) 506. 1 2 3 4 5 6 7 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR 2005 479. 10.

205 8. seperti daging.139 1.846 507.123 2.563 (0.053. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .319.672 505.716.83 47.65 301.76 Luas Tanam Komoditas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kalimantan Selatan 2005-2009 NO.57 -107.90 51.92 2.417 7.77 Ketersediaan Dan Kebutuhan Bahan Kalimantan Selatan Tahun 2009 Komoditi I.247.666 2.76 Tabel II.241 20.50 690.999. ubi jalar.159.502 50.042 22.569 (1.95% per tahun.399 1.705.144.417 7.271.840 1.853 2.806 3.541 15.978.578 20.900 15.BAB II dan 7.84 -12.645 139.918.115 14.319 17. beras.642 1.95) Keterangan: *) angka sementara/perkiraan Sumber: Dinas Pertanian TPH.068.480.35 3.669 10. telur dan ikan tergolong surplus. sayuran. sedangkan ketersediaan susu tergolong minus.161 1.643 1.95 34. seperti padi.86 17.680 265. 12 13 14 15 Pangan Nabati (Ton) Padi Beras Jagung Kedelai Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar Sayur-sayuran Buah-buahan Minyak Sawit Gula Pangan Hewani (Kg) Daging Telur Susu Ikan Tahun 2009 Ketersediaan Kebutuhan Perimbangan 854.52 -18.50 581.71 12.87 13.626 5.881 16.767.036 47. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 II.06 10.307 (7.911.13 50.975.691 2.766. 2010 Produksi tanaman pangan akan mendukung ketersediaan bahan pangan.994 13.326 4.2015 Page 109 .525.21 62. Ketahanan pangan akan dicapai apabila terpenuhinya kebutuhan pangan yang cukup. gizi seimbang dan terjangkau oleh seluruh masyarakat.157.806 9.59 13.012.96 1. Ketersediaan komoditas pangan hewani pada tahun 2009.241 15.260 13. dan buah-buahan tergolong surplus. kacang tanah.482 6.669.570.100.59 2.595 2.089.68 18.73 Sumber: BKP Prov.235. minyak sawit dan gula ketersediaan tergolong minus.953 42.90 -51.756 9.301 Perk 2009* rata-rata (%/tahun) 498. ubi kayu.14 14.978.050 8. jagung.19 31.83 23.23 -207. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR SAYURAN BUAH-BUAHAN 2005 459.23 Keterangan surplus surplus surplus minus surplus surplus surplus minus surplus minus minus surplus surplus minus surplus 2.77) 8. sedangkan kedelai.600.62 124.43 149. Luas panen tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II. Ketersediaan bahan pangan dan kebutuhan pangan Kalimantan Selatan pada tahun 2009 disajikan pada Tabel II.09 50.096 95 175.582 13.602 2.503 8.836 97.28 68. Kal-Sel.738.28 196.843 14.427 Luas panen (Ha) 2006 2007 2008 462. 1.501 7.769.130.767. Ketersediaan beberapa komoditas bahan pangan nabati pada tahun 2009.03 2.517 1.948.714.869 16.591.093 31.16 16.77 Tabel II.116 1.559.47) 1.70 23.97 136.894.

BAB II Padi atau beras merupakan bahan pangan pokok.144.089.319.94 8 Sayur-sayuran -108.139. 2010 Surplus Meningkat Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Menurun Surplus Meningkat Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Menurun Surplus Meningkat Minus Meningkat Minus Meningkat Surplus bahan pangan seperti padi/beras.28 196.01 7 Ubi Jalar 5.14 14. ubi kayu.77 157.97 136.51 101. Sehingga dengan hasil usaha tani demikian produk pertanian Kalimantan Selatan kalau tidak segera dibenahi akan sulit bersaing pada era perdagangan bebas sekarang ini.767.353.669. surplus padi dan beras mengalami peningkatan masing-masing sebesar 105.588. jagung.03 104. Dengan demikian.48 113.696.84 -12. Produk tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan sebagian besar belum mempunyai daya saing yang kuat. Padi 813.03% dan 104. beras.50 10 Minyak Sawit -18.83 Persentase Thd 2008 105.82 100.2015 Page 110 .32 101.22 6 Ubi Kayu 111. Rendahnya produktivitas tersebut sangat disayangkan karena apabila komoditas beras menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam katalog AFTA ASEAN yang kena kebijakan penghapusan tarif impor beras.262.77% dibandingkan surplus padi pada tahun 2008.247. Pada tahun 2009.57 -107.78 Perbandingan Perimbangan Ketersediaan Pangan Kalimantan Selatan Tahun 2008 dan 2009 Komoditi Perimbangan (Ton) Tahun 2008 Tahun 2009 854.72 5 Kacang Tanah 13.545.58 11 Gula -50. Pangan Nabati 1. Kalimantan selatan potensial mempertahankan swasembada pangan terutama beras sehingga dapat menjadi lumbung beras atau penyangga beras nasional. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .997. tentunya persaingan perdagangan beras dari kompetitor-kompetitor produsen beras seperti Thailand dan Vietnam akan semakin tidak sehat dan semakin memperpuruk kondisi kesejahteraan petani padi kita.929.36 266.78 Tabel II. kacang tanah.978.42 9 Buah-buahan 173.729.247. Ketersediaan padi.59 13.86 93. ubi kayu.50 581.480. Perbandingan perimbangan ketersediaan bahan pangan Kalimantan Selatan tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel II.87 2 Beras 555. ubi jalar dan buah-buahan membutuhkan suatu kebijakan untuk menghindari jatuhnya harga bahan pangan yang mengakibatkan petani rugi.741. jagung.11 98.90 -51.92 122. ubi jalar dan buah-buahan mengalami surplus meningkat.130.600.52 -18.77 Sumber : BKP Prov.50 4 Kedelai -12. Kal-Sel. karena mutu yang belum memenuhi standar dan belum adanya jaminan suplai / produksi yang kontinyu.95 34.09 3 Jagung -59. dan diperlukan pergudangan yang refresentatif untuk menampung kelebihan bahan pangan sehingga kualitas tetap terjaga. kacang.559.51 Ket I.

859 11.731 Ha (53.731 19.08 2007 207.608 13.34%).402 0. meliputi Perkebuan Rakyat (PR) 308. Perkembangan produksi komoditas tanaman perkebunan Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.666 507.410 253.482 Ha (43.49% per tahun.49 No 1 2 3 4 5 Keterangan: *) angka sementara/perkiraan PR = Perkebunan Rakyat PBN = Perkebunan Besar Negara PBS = Perkebunan Besar Swasta Sumber : Dinas Perkebunan Prov.196 18. 635.951 215.293 17.2015 Page 111 .64 2009* 271.113 333. dan Perkebunan Besar Swasta 253. Perkebunan Besar Negara (PBN) 19.74 Sumber : Dinas Perkebunan Prov.126 530. Kalsel.623 Ha.340 407.820 14.744 222.098 9.938 694.410 Ha (3.088 15. tetapi pada tahun 2006-2009 produksi meningkat berturut-turut sebesar 530.539 -6.80 Luas Areal Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005-2009 Pola Pengusahaan Luas Tahun PR PBN PBS Ha Pertmb% 2005 261.29 Rata-rata pertumbuhan produksi per tahun (1999-2009) 22. Secara keseluruhan pertumbuhan luas kebun dari tahun 2005–2009 mengalami peningkatan.410 250.878 ton/ha.58%).910 17.988 8.79 Produksi Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005-2009 Pola Pengusahaan Produksi Tahun PR PBN PBS Ton/Thn Pertmb % 2005 163.738 432.282 573.539 ton/ha.001 635.05 2006 188. yaitu ratarata 6. 2010*) angka sementara/perkiraan PR = Perkebunan Rakyat PBN = Perkebunan Besar Negara PBS = Perkebunan Besar Swasta No 1 2 3 4 5 Luas perkebunan Kalimantan selatan mencapai 581. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . PBN dan PBS pada tahun 2005 sempat menurun 6.476 376.46 2007 289.085 ton/ha dan 694.685 349.BAB II (2) Potensi Perkebunan Produksi tanaman perkebunan dengan pola pengusahaan PR.05% dari tahun sebelumnya dengan produksi 417.878 7.80 Tabel II.482 581.29 2009* 308.33 Rata-rata pertumbuhan luas kebun per tahun 6.764 9. Kalsel. 568.576 155.36 2008 304.08%).296 19.334 568.130 530.352 9. Perkembangan luas areal perkebunan disajikan pada Tabel II.o98 ton/ha.79 Tabel II.085 11.839 417.592 ton/ha.592 27.76 dan Gambar II.623 1.08 2008 245.937 243..070 4.03 2006 274.

284 4.123.549. 10.862 332.75 397. Produksi dan luas areal perkebunan karet.30 2.47 490.545 672.72 669.057 2.277. kayu manis.48 669.61 6.666.142 47.67 71.312. 16.002.994 1.278.461 356.810.41 30.78 2.46 2008 Luas (Ha) 206.00 5.720.967 Produksi (ton) 113.983.40 381.869.00 358.30 341.288.832 481 1.13 54.61 (TBS) 74.304 790 2. Komoditi Karet Kelapa Dalam Kelapa Hibrida Kelapa Sawit 2005 Luas (Ha) 171.936 2. cengkeh.01 (CPO) 5.267.77 (CPO) 257.09 (CPO) 87.12 6.661 1.145.990 214.701 1.57 71.19 Luas Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005 -2009 Komoditas perkebunan Kalimantan Selatan antara lain adalah karet. 17.06 30.136.89 3.00 2.870 2.119.67 1.451 307.00 512.190. kelapa. Tabel II.898 448 219 2.2015 Page 112 .619 750 - 2.354 4.41 7.799 48.18 dan Gambar II. 15.17 3. 7.774. 3.99 3.768.00 2.815.81 1.120 2.287.81 Luas Areal Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005 – 2008 No 1.348 4.82 252.77 Memperlihatkan perkembangan luas dan produksi beberapa komoditas perkebunan dalam kurun waktu 2005-2008.585.64 631. kelapa sawit.47 142.08 9.874 499 991 514 - 2.79 98.707. 00 (inti sawit) 2.540 Produksi (ton) 105.83 30.808.32 584.79 3.00 251.34 58.79 97.981.79 3. kelapa hibrida dan kelapa sawit disajikan pada Gambar II.00 4. 178.28 1. kelapa dalam. 6.01 (TBS) 80.704 586 Sumber Dinas Perkebunan Prov.00 1.64 5.75 376.32 (CPO) 4.704.928 1.568.656. kopi.71 2006 Luas (Ha) 183.62 58.974 Produksi (ton) 121.354.199 47. 14.899 47.778.00 7.024 5.896 1. 2.676 495 234 2.526.08 8.89 337.50 1.41 584.696.02 (TBS) 67.07 71.00 475.626 1.497.312.00 1.85 3. 12. lada.581. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .78 243.00 586.229.81 Tabel II.369.053 2.00 4.071.18 31.233 5.42 116.BAB II Gambar II. kakao dan sagu.00 2.152 358 6.39 1.532.313 Produksi (ton) 101.018. Kalsel. Kopi Cengkeh Lada Kayu Manis Kemiri Pinang Kakao Kapuk Jambu Mente Aren Jahe Sagu Purun 7.91 460.36 338.37 52.901. 11.92 1.783 1. 13.92 1.780 546 1.288.152.602.26 494. 8.77 1. 9.63 100.04 2007 Luas (Ha) 192.77 75.14 2.630.587.252.68 317.004.

Peningkatan produksi ini sudah seharusnya terjadi terkait dengan peningkatan luas lahan tiap tahunnya. Namun. peningkatan rata-rata komoditi karet adalah 110.08%. hal ini dikarenakan oleh menurunnya luas lahan penanaman kelapa hibrida sebanyak 3. dan kelapa sawit 302. Jika dibandingkan produksi tahun 2007 dengan tahun 2008 terjadi peningkatan pada masing-masing 7. komoditas karet.032 Ha pada tahun 2009 yang seluruhnya diusahakan oleh perkebunan rakyat.23% dan 7. Gambar II. kelapa dalam dan kelapa sawit.38%.12 ton per tahun.BAB II Dari seluruh komoditas perkebunan yang ada. kelapa dalam 30. jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2007 pada tahun 2008 terjadi penurunan sampai 59. 3. Kelapa dalam cukup banyak diusahakan oleh rakyat dengan luas kebun kelapa dalam mencapai 48.760. kelapa sawit dan kelapa dalam. komoditas yang merupakan andalan Provinsi Kalimantan Selatan adalah karet dan kelapa sawit.2015 Page 113 .49 ton per tahun.02 ton per tahun.556. Terjadi peningkatan produksi pada komoditi karet. Hasil analisis menunjukan bahwa ada trend peningkatan produksi untuk komoditas utama perkebunan Kalimantan Selatan seperti karet. kelapa sawit dan kelapa dalam merupakan komoditas yang dominan yang dikembangkan.608.43%. terjadi penurunan produksi yang sangat menyolok pada komoditi kelapa hibrida pada tahun 2008.20 Produksi Beberapa Komoditas Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005-2008 Gambar II.21 Luas Areal Beberapa Komoditas Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005 -2008 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .43%.

sehingga perlu dilakukan peremajaan tanaman perkebunan dan peningkatan produktivitas dan antisipasi terhadap serangan hama pada tanaman produktif. Permintaan kelapa sawit dunia terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan konsumen minyak kelapa sawit. Permintaan karet diprediksi terus meningkat.2015 Page 114 .20% dari jumlah seluruh KK di Kalimantan Selatan. Pertumbuhan ternak sapi perah juga negatif karena masyarakat belum terampil dalam memeliharanya.1 juta ton akan meningkat menjadi 22. Komoditas andalan Kalsel (karet dan kelapa sawit) merupakan komoditas yang prospektif.5 juta ton pada tahun 2011 menjadi 21.603 KK Kalsel atau 45. Sumberdaya lahan perkebunan masih luas dan memungkinkan untuk pengembangan tanaman lebih luas lagi. 2002) pangsa konsumsi kelapa sawit dunia mencapai 19.82 dan Gambar II. Hal ini berarti peluang bagi Indonesia termasuk Kalsel untuk meningkatkan produksi karet dan kelapa sawit melalui program pengembangan masih cukup besar.5 juta ton pada 2012-2016. namun karena kondisi tanaman karet Kalimantan Selatan sudah tua/rusak yang mencapai 30%.22 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dari 16. Namun. Pada umumnya ternakternak yang berkembang secara alami dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah yang mengalami pertumbuhan negatif seperti kuda dan babi. Tercatat tahun 2002 (Oil World.BAB II Jumlah rumah tangga (2008) yang melakukan usaha tani perkebunan : 407. permintaan terhadap komoditi olahan karet tidak didukung oleh hasil olahan rakyat. Perkembangan jumlah populasi ternak di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.057 KK dari 900.5 juta ton pada tahun 2016 (Outlook for Elastomer 2008/2009). (3) Potensi Peternakan Perkembangan populasi ternak di Kalimantan Selatan pada empat tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan rata-rata 2.74%. Demikian pula kelapa sawit yang produk utamanya CPO dan mempunyai multi fungsi dalam menghasilkan derivative produk. karena hasil analisis data menunjukkan mutu karet olahan rakyat di Kalimantan Selatan masih perlu ditingkatkan. dan klon yang digunakan 85% masih klon GT I yg sdh mengalami degenerative dan pernah terserang jamur akar putih (JAP) dan kering alur sadap (KAS) pada tanaman karet produktif. karena selain ketersediaan yang cukup besar dan mutu hasil olahan dari industri telah sesuai SNI juga berdasarkan hasil kajian bisnis karet dan kelapa sawit internasional menunjukan adanya trend konsumsi yang meningkat pada komoditas karet dan kelapa sawit.

158.202 12.065 2 Sapi Perah 133 135 124 96 3 Kerbau 41.603 4 Kuda 752 737 624 601 5 Kambing 107.002 3.53%.55 1.919 4.916 2.983.472 5. Pertumbuhan terbesar terjadi pada kuda.971 44. yaitu 262.83 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .79 13.813 28.441 11 Itik 3.216.462 3.176 4.09 13.82 Jumlah Populasi Ternak di Kalimantan Selatan 2006 – 2009 Tahun 2006 2007 2008 2009* No.508 19. 2010*)angka sementara Pertumbuhan (%) 4.383.49 (7.240 123. Kalsel.873 111.914.394 Ayam 10 Ras`Pedaging 20.052 Ayam Ras 9 Petelur 1.274 12.03 (7.494 3.00 (9.659.BAB II Tabel II.128 21.47%.733 118.624.78) 9.00) 4.984.920 202.860.232 2.791 5.037 210. Produksi daging ayam ras petelur juga cukup tinggi karena adanya penggantian ayam ras petelur yang sudah memasuki ternak masa afkir.65 6.22 Populasi Ternak Besar di Kalimantan Selatan 2004-2009 Produksi daging selama empat tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Pertumbuhan terbesar pada ternak kuda karena kondisi kuda sekarang sudah tua dan masyarakat sudah mulai tidak memanfaatkan lagi sebagai tenaga kerja sehingga banyak terjadi pemotongan.771.096 43.452 Rata-rata Pertumbuhan Sumber : Dinas Peternakan Prov.020 11. Perkembangan produksi daging Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.435 43.2015 Page 115 .534.581 7 Babi 7.74 Gambar II.721 2.643.74) 2.258 6 Domba 374 3.436 7.137.633 218.714 8 Ayam Buras 9.911. Jenis Ternak (ekor) 1 Sapi Potong 193.12 2.487. yaitu sebesar 13.665.

84 persen hal ini karena ayam ras petelur dikelola oleh swasta dengan sistem pemeliharaan yang intensif.613.116 6.303 1.157.582.71 20.793 Ayam Buras Ayam Ras 2 Petelur 13.605 14. Kalsel.945. Kalsel.823.197 37.887 418.128.016.693 1.200 4.83 Produksi Daging di Kalimantan Selatan 2006-2009 Tahun 2006 2007 2008 (kg) 6.949.22 persen.917 26.56 (19.484.22 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Pertumbuhan terbesar terjadi pada ayam ras petelur (37.47 Sapi Potong Kerbau Kuda Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Ras 8 Petelur 243.738 26.310 28.080 1.092 5.13 19.649 4.755.12) 90.303 640.394 117.750.717 4.142 2.318 3 Itik 15.970 Rata-rata Pertumbuhan Keterangan: *) Angka sementara Sumber Dinas Peternakan Prov.908 181.646 1.567.473 866.892.216 1.742 16.475.689.692 1.335 25.BAB II Tabel II.63 14. Pertumbuhan produksi telur dari unggas lain yang diusahakan peternak kecil juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Pertumbuhan produksi telur di Kalimantan selatan disajikan pada Tabel II. 1 Jenis Ternak 2009* 5.942 454.196.175 969.742.585 Rata-rata Pertumbuhan Keterangan: *) angka sementara Sumber : Dinas Peternakan Prov.898 16.04 16.494.58 13.120 5.552.296.124 Pertumbuhan (%) 4.230.649.242 13.71 persen).318 906.796.162.651 317.659 34.877.53 17.77 7.2015 Page 116 .179.884 91.651 No.692 74.185.936 18.39) (5.84 Tabel II.393 5. 2010 Produksi telur selama empat tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.84 Produksi Telur di Kalimantan Selatan 2006-2009 Tahun 2006 2007 2008 (kg) 3.633 Ayam 9 Ras`Pedaging 21.024.597. Hal ini diduga akibat peternak sudah berhasil menanggulangi penyakit ND (New Castle Diseases) yang selalu menyerang setiap musim pancaroba.679 17. sedangkan ayam buras hanya 15. yaitu sebesar 19. 2010 Pertumbuh an (%) 15.468 42.562.819 1.461.052 10 Itik 1.077 No 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Ternak 2009* 6.96 262.65 17.424 4.933 4.84 19.741 34.723 286.

dari periode tahun 2006 sampai tahun 2009.BAB II Produksi susu selama lima tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan yang negatif.44 persen dan tahun 2009 kembali mengalami penurunan 1.85 Produksi Susu Segar di Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009 Tahun 2006 2007 2008 2009 Jenis Ternak (liter) Sapi Perah 292.000.2015 Page 117 .382 Ha 3.752 ha.17 persen. Kalsel. tahun 2008 meningkat 4.51) Sumber: Dinas Peternakan Prov. 2010 Produksi dari sektor perikanan cukup berfluktuasi. tambak seluas 53.000 Ha 6.557 185.86 Potensi Kawasan Perikanan Di Kalimantan Selatan Uraian Garis Pantai Perairan Umum Kolam Tambak Sawah Potensi Kalsel 1. kolam seluas 2. Produksi susu segar di kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.000 Ha Persentase 1. yaitu sebesar -21.752 Ha Potensi Nasional 95.4 4.451 No.ha.173.87 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .400 Ha 53.4 ton kemudian mengalami penurunan sebesar 6.734 129. produksi tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu mencapai 186.181 Km 20.000 Ha 1.139.776 Ha 526. Produksi perikanan di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.1 Sumber : Dinas Perikanan Prov.000 Ha 2.01 persen.304.85 Tabel II.5 4. 1 Pertumbuhan (%) (21. Potensi yang dimiliki dibanding potensi nasional disajikan pada Tabel II.000.3 0.86 Tabel II.400 ha.330 km. 2010 (4) Potensi Perikanan Potensi Kawasan Perikanan Kalimantan Selatan meliputi garis pantai sepanjang 1.9 0. perairan umum seluas 1.382 ha dan sawah 3. Produksi turun karena jumlah sapi perah yang laktasi berkurang dan keterampilan peternak dalam memelihara masih kurang.000. Hal ini karena produksi yang semakin turun.224.51%. Kalsel.330 Km 1.672 309.

9 49. Tabalong Kanan.174 11.44 3. 9.3 3. Barito Tengah.420.951.7 6. Balangan.304.573. Sampanahan. 4.027.7 4. Pengairan teknis/irigasi Riam Kanan sebagai SDA buatan bagi banyak kepentingan pengguna atau pemakai air seperti bahan baku air minum. mengalir ratusan sungai yang menuju ke segala penjuru wilayah Kalimantan Selatan.622. di mana sebagian besar kebutuhan masyarakat sangat bergantung. perikanan.0 49. Riam Kiwa.5 5. Dari kawasan Pegunungan Meratus.0 7. Oleh karena fungsinya yang sangat vital.1 4. seperti kebutuhan akan air besih.918.210 231 586 5 180. 7.5 3. Danau Panggang.9 265.727. 2010 2006 121. WS Cengal Batulicin dan WS Pulau Laut yang mempunyai beberapa sub-wilayah sungai antara lain Luang. Barito Hilir.7 186. juga dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Ir.269 b.664. Martapura.552.148.3 423.2015 Page 118 .064. Tapin. sangat kritis 55.108. transportasi air. kritis 500. Bahalayung.654 2009 102.540.Laut Perairan Umum Budidaya Air Payau Budidaya Air Tawar Budidaya Keramba Budidaya Sawah Budidaya Jaring Apung Budidaya Net Tancap JUMLAH Perkembangan (%) Sumber : Dinas Perikanan Prov. Sumberdaya Perairan Keberadaan sungai di Kalimantan Selatan terhimpun dalam tiga satuan wilayah sungai yaitu wilayah sungai (WS) Barito. 6. Pangeran M.713.730 -1.562.735.2 113.0 5. Amandit.4 2007 98. 3.7 -6.078 ha.2 505.8 2. perikanan.976.0 8.2 596.143.BAB II Tabel II.7 263.9 53. dan Riam Kanan.815.6 3.3 3.01 46. 8. Kawasan sub DAS Riam Kanan selain dimanfaatkan untuk pemukiman 13 desa.2 182. kegiatan pertanian. Kalsel. dan pertanian.112 ha. Kondisi DAS dan beberapa Sub-DAS tersebut saat ini berada dalam keadaan agak kritis seluas 1.681.3 5. perikanan (keramba dan kolam ikan) bergantung pada pasokan air sungai tersebut.0 5.494.6 4. maka Sub DAS Riam Kanan ditetapkan sebagai Catchment Area super Prioritas.87 Potensi Kawasan Perikanan di Kalimantan Selatan 2006-2009 NO 1. Noor sejak 1972 dan bahan baku pembuatan air mineral kemasan. 2.905 ha akibat buruknya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 5.6 6. Tabalong Kiri. JENIS USAHA Perikanan Laut Budidaya Per.17 2008 106. Batang Alai.3 174.

Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Selatan.290.982 ha.6841 ha . Data produksi hasil hutan non kayu disajikan dalam Tabel II. Kawasan hutan tersebut dibagi berdasarkan fungsinya.51 162.15 563.285 ha). IPK (Ijin Pemungutan Kayu).72 2007 26.188 ha).863.907.55 84.42 329. Hak Guna Usaha (HGU) seluas 84.698.40.85 25.461.29 406. hutan lindung (526.44 244. yaitu kawasan suaka alam atau kawasan pelestarian alam (213.64 1. dan pertambangan sebesar 658. Luas kawasan hutan berdasarkan penggunaannya pada tahun 2008 diperuntukkan menjadi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) sekarang IUPHHK (Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu) seluas 291.83 120. reklamasi dan restorasi lahan terdegradasi.048.88 Jumlah Produksi Kayu Bulat (Dalam Meter Kubik) Kalimantan Selatan 2002-2009 Tahun 2005 46. madu.317.425 ha).779.424). dan hutan lindung (151.302. Hutan Tanaman Industri (HTI) sebesar 383. H.86 33.786.12 155.88 Tabel II.660 ha).46 Penghasil HPH IPK HPHTI IPKTM Jumlah Sumber : Data dan Fakta Pembangunan Kehutanan di Kalimantan Selatan. c.38 396.24 2008 23.537.68 276.933.93 2006 5. hutan produksi(762.033. hutan produksi terbatas (126.Ditjen Bina Produksi Kehutanan dalam Statistik kehutanan 2010 Selain kayu bulat hutan juga memproduksi hasil hutan non kayu.994.780 ha.248.63 6. dan Ijin Pemungutan Kayu Tanaman Masyarakat (IPKTM). Banjarbaru. antara lain rotan.743 ha.234.2015 Page 119 .956.87 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . HPHTI (Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri). untuk lebih jelas perkembangan jumlah produksi kayu bulat di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.38 28.175.952.112. sirap.481.441. 435/Menhut-II/2009 seluas 1.12 20. dan sarang burung. Produksi kayu bulat yang berasal dari hutan ada kecenderungan menurun dari tahun ke tahun Produksi kayu bulat dihasilkan oleh HPH/IUPHHK.478.37 11.745.967 ha. pertambangan yang tidak ramah lingkungan dan rendahnya keberhasilan rehabilitasi. Kekritisan DAS berarti kekeritisan sumber daya air baik secara kualitas maupun kuantitasnya.85 123.820.77 327.38 2009 37.89 74.BAB II pengelolaan lingkungan seperti timber extraction (penambangan kayu).587. Sumberdaya Hutan Data terbaru luas hutan di Kalimantan Selatan didasarkan SK Menhut No.

931 4.237 76.405 7. Realisasi rehabilitasi hutan dari tahun ke tahun cenderung menurun padahal luas lahan kritis semakin meningkat.351.250 5.587 110.494 54. Tahun 2003 lahan yang tidak kritis di Kalimantan Selatan mencapai 605.334 57.901 7.348 41. Berdasarkan data tersebut.495 2.2015 Page 120 .712 2.060 121.084 ha.267 1.297 13.635 256.198 49.88 menyajikan luas lahan tidak kritis dan kritis berdasarkan wilayah administrasi kabupaten/kota tahun 2003 dan 2008.000 181 Sumber : Data dan Fakta Pembangunan Kehutanan di Kal-Sel.159 9. H.959 84.644 0.268 71. namun pada tahun 2008 lahan tidak kritis menjadi hanya 110.745 44.200 68.065 75 2007 4.00 1.41 Produksi kayu bulat yang menurun diyakini karena pengelolaan hutan yang tidak berkelanjutan.651 28.436 36.154 9.912 7.275 2. Sementara lahan kritis pada tahun 2003 seluas 556.2 2006 125.158 5.587 ha.144.215 13.443.052 7.42 403.995 12.249 50.468 780 605.155 52.438 65.090 7.873 761. Luas areal yang direhabilitasi setiap tahun berdasarkan jenis kegiatan masing-masing disajikan pada Tabel II.00 36.930 48. Kal-Sel.140.084 2008 56.766 8.000 121.BAB II Tabel II.169 ha. Akibatnya.991 ha/tahun. 2010.741 147. sedangkan tahun 2008 menjadi 761.953 41.297 30.229 946.462 9.2 237. terjadi peningkatan lahan kritis rata-rata seluas 40.045 217.344 0 556.839 120.89 Jumlah Produksi Hutan Non Kayu Menurut Jenis di Kalimantan Selatan 2005-2009 Jenis Produk Rotan Madu Sirap Sarang Burung Satuan Kg Liter M3 Kg 2005 168.90 Luas Lahan Tidak Kritis dan Lahan Kritis di Kalimantan Selatan 2003 dan 2008 Tidak Kritis Luas Wilayah 2003 2008 359.89 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .200 2. Tabel II.169 No Kabupaten/Kota Kritis 2003 41.634 180. Tabel II.043 1 Tabalong 2 Hulu Sungai Utara 3 Balangan 4 Hulu Sungai Tengah 5 Hulu Sungai Selatan 6 Tapin 7 Banjar 8 Banjarbaru 9 Barito Kuala 10 Tanah Laut 11 Tanah Bumbu 12 Kotabaru 13 Banjarmasin JUMLAH Sumber: BPDAS Barito Tahun 2005 dan 2009 Lahan kritis yang meluas setiap tahun seyogyanya harus dilakukan rehabilitasi hutan dan lahan.694 110.60 1650 3.603 43.00 121.93 0 72.517 100.776 1.274 35.550 674 502.919 372.273 467. hutan menjadi kritis.522 26.043 ha.705.622 132. Dishut Prov.00 2008 58 122 2009 13.60 1.705.571 192.

35% dari total produksi nasional sebesar 114. cadangan batubara yang terukur adalah 1.915. Lempung. Batu Gamping. Diorit.21% dari total produksi nasional sebesar 132.go.tapinkab. Berdasarkan data pada tahun 2007.024. Balangan.6 205 50 250 4800 2003 7936 100 Tahun 2004 15000 0 70 6000 2005 14020 0 0 4250 2006 1600 0 0 875 Sumber: Dinas Kehutanan Prov. Andesit. Kaolinesi.116. Intan.80 ton dan meningkat pada tahun 2004. PT Tanjung Alam Jaya.289. PT.054 milyar ton. Bijih Besi. Granodiorit. Dan jumlah ini merupakan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Periodotit. Biji Emas. diantaranya Minyak Bumi. Potensi batubara cukup besar dengan kualitas yang baik. (2) Kabupaten Tabalong mencakup luasan 42. Biji Kronit. Potensi sumber daya mineral unggulan saat ini berupa batubara dan bijih besi.id) Dalam Indonesia Mineral and Coal Statistics.590 ton (www.540. Banjar. yaitu sebesar 54.450.352.Sel (2007) d. Basalt. (3). Tanah Bumbu. Oker. Gambut. dan Tabalong).79 ton pada tahun 2004. Deposit batubara di (1) Kotabaru diperkirakan 80 juta ton dan bahkan sampai 300 juta ton untuk kedalaman 150 meter. Pasir Kuarsa.000 ton (Lapan. PT Jorong Barutama Greston dan PT Bahari Cakrawala Sebuku. Tabalong.229 ha meliputi 16 kecamatan dengan sumber daya 155. yang tercatat secara resmi pada tahun 2002 adalah 21.395. Balangan.13 ton pada tahun 2003 dan 41. Tapin.BAB II Tabel II.977.195. Tanah Laut. Marmer. HSS.16 ton.278.Kal. Biji Nikel. HST. HSU. produksi batubara di Kalimantan Selatan.2015 Page 121 . Phospat.91 Kegiatan Pembangunan Hutan di Kalimantan Selatan 2005-2009 Kegiatan 2002 Reboisasi (Ha) Hutan Kemasyarakatan (Ha) Rehabilitasi Hutan Bakau (Ha) Hutan Rakyat (Ha) 2442. Kabupaten Tapin memiliki deposit batubara kilap terang sebanyak 116. Kotabaru. tahun 2003 adalah 46. Hulu Sungai Selatn dan Banjarbaru. Arutmin Indonesia. Adaro Indonesia. PT Antang Gunung Meratus. Sumberdaya Mineral dan Pertambangan Kalimantan Selatan kaya akan sumber daya pertambangan dan galian. Beberapa daerah yang memiliki potensi batubara diantaranya Kabupaten Kotabaru. dimana sebagian besar produksi batubara tersebut dihasilkan oleh perusahaan besar seperti PT.931. Tapin. Granit. Batu Bara. serta keberadaannya hampir menyebar di seluruh kabupaten (Banjar. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (2005) dan Indonesian Coal Mining Association (2005) .953 milyar ton sedangkan sumberdaya batubara diperkirakan 6. 2004).958. Jumlah produksi tersebut menyumbang sebesar 40.430 ton dan batubara kilap kusam 429.

Blok Sungai Bakar.500 ton tersebar di Blok Pelaihari.4. Volume ekspor selama Januari-Juni 2007 mencapai 46.479.06 miliar.805.666.784 karat yang tersebar 660. Kemudian tercatat penjualan domestik batubara Kalimantan Selatan pada tahun 2003 sebesar 13. Produksi batubara yang tercermin dalam ekspor batubara masih menunjukkan tren yang meningkat seiring dengan tingginya permintaan luar negeri.317 juta ton dengan nilai US$ 1.462.71 ton pada tahun 2003 dan sebesar 68.300 ton (insitu) dan 2. Selain itu diperkirakan deposit bijih besi juga terdapat di Sungai Kupang.530 ton (2004) dan 737. Dalam bentuk tonage telah digali biji besi sebanyak 59. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan kapasitas pekerja dalam menghasilkan nilai tambah produksi meningkat.2015 Page 122 . Blok Riam Pinang dan Blok Talok. Gunung Kukusan.52 ton dan pada tahun 2004 sebesar 14. Namun terdapat pula pengaruh besaran inflasi karena menggunakan PDRB harga berlaku.BAB II kedua terbesar setelah Kalimantan Timur yang memproduksi sebesar 57.153.682.3.168 ton (2005).43 miliar. Galuh Cempaka yang mempunyai areal konsesi seluas 3.4.85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 36.396.920 ha di Danau Seran dan Cempaka. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .263.99 ton dan pada tahun 2004 sebesar 34.467.38 ton pada tahun 2004. Kabupaten Tanah Bumbu mempunyai cadangan sebanyak 51. Selama tahun 2007 – 2008 nilainya meningkat sebesar 10.000 karat di Cempaka dan Danau Seran 84.49 persen. sedangkan untuk penjualan ekspor batu bara Kalsel pada tahun 2003 sebesar 32. 2002). dari 24. Pulau Laut dan Tanjung Senakin.66 juta rupiah menjadi 27.674.000 ton (deluvial) berupa endapan besi laterit di daerah Gunung Kukusan dan Sungai Kusan hulu.891. 2. meningkat 28. Sementara itu deposit diperkirakan sebesar 86 juta ton berada di P. Sebuku. Potensi sumber daya alam lainnya yang sangat terkenal dari Kalimantan Selatan adalah pertambangan intan di Kota Banjarbaru.693.35 ton. Sumberdaya bijih besi di Kabupaten Tanah Laut sebesar 2.21 ton. Hasil studi kelayakan yang pernah dilakukan menyebutkan bahwa lokasi tersebut menyimpan intan sejumlah 744. Data dari Dinas Pertambangan Kotabaru menunjukkan bahwa lahan yang sudah dieksploatasi untuk bijih besi meliputi areal 9528 ha.239.794 juta ton dengan nilai US$1.818.748 karat (Majalah Warta. Dalam skala besar saat ini ijin pertambangan intan dikuasai oleh PT. Sumber Daya Manusia Tingkat produktivitas pekerja dihitung dengan membandingkan nilai PDRB atas dasar harga berlaku terhadap jumlah pekerja. Gunung Gumpa.25 juta rupiah per orang.499.

285.422. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .099 37.207 45.797.515.25.670. sektor primer dan tersier jauh lebih rendah.595.946.702.740.742 27.472 34.80 14.BAB II Tabel II.423 25.Sel *) Agustus SEKUNDER (Industri.419 22.252.231 KALSEL 24.943.868.30 juta rupiah.222.120.18 7.251.742. Sementara itu. masing-masing Rp.180 24.887.358 189.598.94 juta).09 1.868.382 106.596 KALTIM 127.981 17.623.230.33 27.251.752 181.937. Angkutan.836.06 43.292. Keuangan dan Jasa) Untuk wilayah regional Kalimantan.-.79 813.127.466.139 Ket: PRIMER (Pertanian dan Pertambangan) Sumber: BPS Kal.16 628.dan Rp.755.423.682.16 24.708. Tabel II.298. tingkat produktivitas tenaga kerja Kalimantan Selatan pada 2008 sebesar Rp.116. 2007 – 2008 *) 2007 Sektor PDRB Berlaku (Juta Rp) Tenaga Kerja (Orang) Produktivitas Tenaga Kerja (Rp) PDRB Berlaku (Juta Rp) 2008 Tenaga Kerja (Orang) Produktivitas Tenaga Kerja (Rp) PRIMER SEKUNDER TERSIER TOTAL 17. Listrik dan Bangunan) TERSIER (Perdagangan.395 286.664.92 Produktivitas Tenaga Kerja menurut Lapangan Usaha di Kalimantan Selatan.73 781.936 11.035 16.438.252.25 juta menduduki peringkat kedua setelah Kalimantan Timur (Rp.84 25.111 28.24.40 7. Sementara itu tingkat produktivitas tenaga kerja di Kalimantan Barat merupakan yang terendah dengan pencapaian sebesar 11.07 1.838.90 675..574.90 20. produktivitas tenaga kerja di sektor sekunder mencapai nilai tertinggi Rp.838.516 18.295.740.00 23.251.212.27.868.068.767.742..020.069.713.106.573 30.882 KALTENG 10.93 Produktivitas Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha di Regional Kalimantan.81 37.137..838.204 39. 2008*) (Rp) Sektor PRIMER SEKUNDER TERSIER KALBAR 5.579.2015 Page 123 .740 43. 43.112.845 TOTAL Sumber: Hasil Sakernas masing-masing Provinsi Tahun 2008 *) Keadaan Bulan Agustus Secara sektoral.413.699.

614.80 101 1.7 4.60 3.1 43.7 43 Sumber : Proyeksi BPS Prov.7 49.984.743.874.9 328.4 66.3 54.61 186.10 100.2 69.9 293.70 1.7 2005 1.30 100.495.3 29.60 1.4 318.4 70 4.BAB II Tabel II. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .80 1.9 1.4 25.7 3.00 100. Kalsel.6 2010 1.2015 Page 124 .2 26.4 1.7 1.5 2015 1.240.00 2.6 32 64.5 193.625.893.00 1.503.759.4 196.9 3.7 168.767.30 3.94 Kondisi dan Proyeksi Parameter Kependudukan Kalimantan Selatan 2000 – 2015 Parameter Penduduk Male Female Total Sex ratio Laju pertumbuhan (%) Batita (< 3 tahun) Balita (< 5 tahun) Komposisi umur (%) 0-14 15-64 65+ Dependency ratio (%) 2000 1.2 307.489.20 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful