BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH RPJMD 2011-2015

BAB II

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
2.1. 2.1.1 Aspek Geografis dan Demografis Letak Geografis dan Batas Administrasi Wilayah

Provinsi Kalimantan Selatan dengan ibukota Banjarmasin terdiri atas 11 kabupaten dan 2 kota, terletak antara 114 °19' 13'' - 116°33' 28'' Bujur Timur dan 1° 21' 49'' – 4 °10' 14'' Lintang Selatan, memiliki luas wilayah hanya 6,98 persen dari luas Pulau Kalimantan secara keseluruhan yaitu seluas 37.530,52 km2 dengan batas –batas : sebelah barat dengan Provinsi Kalimantan Tengah sebelah timur dengan Selat Makasar, sebelah selatan dengan Laut Jawa sebelah utara dengan Provinsi Kalimantan Timur. Kondisi alam Provinsi Kalimantan Selatan terdiri atas daerah pantai, dataran rendah dan perbukitan/pegunungan. Kemiringan tanah dengan 4 kelas klasifikasi menunjukkan bahwa sebesar 43,31 persen wilayah Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2%. Rincian luas menurut kemiringan adalah sebagai berikut: 0 - 2% : 1.625.384 Ha (43,31%) >2 - 15% : 1.182.346 Ha (31,50%) >15 - 40% : 714.127 Ha (19,02%) >40% : 231.195 Ha (6,16%) Menurut jenis tanahnya, meliputi Podsolik Merah Kuning (PMK), Latosol, Litasol, Podsolik Merah Kuning Litosol, Komplek Podsolik Merah Kuning Organosol Gley Humus, PMK Dataran Tinggi, PMK Pegunungan , dan Alluvial. Wilayah Kalimantan Selatan juga banyak dialiri sungai. Sungai tersebut antara lain Sungai Barito, Sungai Riam Kanan, Sungai Riam Kiwa, Sungai Balangan, Sungai Batang Alai, Sungai Amandit, Sungai Tapin, Sungai Kintap, Sungai Batulicin, Sungai Sampanahan dan sebagainya. Umumnya sungai-sungai tersebut berpangkal pada pegunungan Meratus dan bermuara di Laut Jawa dan Selat Makasar. Data tahun 2008 menyebutkan bahwa penggunaan lahan di Kalimantan Selatan meliputi Lahan pemukiman/kampung seluas 59.563 ha, industri 2.489 ha, pertambangan 42.111 Ha, sawah 426.067 ha, pertanian lahan kering semusim 60.680 ha, kebun campuran 171.642 ha, perkebunan 486.448 ha, padang/semak belukar/alang-alang 830.684 ha, hutan 1.613.431 ha, perairan darat 45.731 ha, tanah terbuka 3.713 ha, dan lain-lain 59.997 ha. Wilayah Kalimantan Selatan menyimpan beberapa potensi bahan galian pertambangan seperti mineral, batu bara, minyak dan gas bumi, intan, dan lain-lain.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 2

BAB II 2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah

Potensi Pengembangan Wilayah dievaluasi dari unsur-unsur potensi geografis, penduduk, ekonomi wilayah, sektor andalan, sektor pendukung, sektor investasi, keuangan dan pembiayaan, dan pendukung dan transportasi. Potensi pengembangan wilayah Provinsi Kalimantan Selatan didekati dengan kebijakan perwilayahan. Kebijakan perwilayahan didasarkan atas efektivitas pembangunan di seluruh Provinsi dan untuk mensinkronkan pembangunan berbagai sektor andalan yang akan dikembangkan di masing-masing wilayah kabupaten/kota agar pengembangannya tidak saling tumpang tindih satu sama lain, sehingga potensi yang dimiliki masing-masing daerah dapat dikembangkan secara optimal dan terintegrasi. Pengembangan potensi secara spasial dilakukan melalui kebijakan pengembangan kawasan strategis Provinsi. Kawasan strategis wilayah Provinsi terdiri atas Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan Kawasan Strategis Provinsi (KSP). Kawasan Strategis Nasional dimaksud Kawasan Strategis Nasional Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi yaitu Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Batulicin. Kawasan Strategis Provinsi (KSP) dimaksud terdiri atas (1) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi; (2) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup; (3) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertahanan dan Keamanan Negara. Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi terdiri atas : a. Kawasan Metropolitan Banjar Bakula yang meliputi wilayah administrasi pemerintahan Kota Banjarmasin (Kecamatan Banjarmasin Selatan, Banjarmasin Timur, Banjarmasin Tengah, Banjarmasin Barat, Banjarmasin Utara), Kota Banjarbaru (Kecamatan Banjarbaru Utara, Banjarbaru Selatan, Landasan Ulin, Liang Anggang, Cempaka ), sebagian Kabupaten Banjar (Kecamatan Kertak Hanyar, Gambut, Sungai Tabuk, Aluh- Aluh, Beruntung Baru dan Martapura, Martapura Timur, Martapura Barat, Astambul, Mataraman, Karang Intan), sebagian Kabupaten Barito Kuala (Kecamatan Alalak, Mandastana, Anjir Muara, Anjir Pasar, Tamban, Tabunganen, Mekarsari), sebagian Kabupaten Tanah Laut (Kecamatan Bati-Bati, Kurau, Tambang Ulang, Bumi Makmur); b. Kawasan Rawa Batang Banyu yang meliputi wilayah administrasi pemerintah Kabupaten Barito Kuala (Kecamatan Balawang, Barambai, Cerebon, Wanaraya, Bakumpai, Tabukan, Kuripan), sebagian Kabupaten Banjar (Kecamatan Simpang Empat), sebagian Kabupaten Tapin (Kecamatan Candi Laras Selatan, Candi Laras Utara dan Tapin Tengah), sebagian Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Kecamatan Daha Selatan, Daha Utara, Kalumpang ), Kabupaten Hulu Sungai Utara (Kecamatan Danau Panggang, Babirik, Sungai Pandan, Amuntai Selatan, Amuntai Utara, Amuntai Tengah dan Banjang), sebagian Kabupaten Tabalong (Kecamatan Pugaan, Banua Lawas, Kelua, Muara Harus); c. Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM), yaitu KTM Cahaya Baru di Kabupaten Barito Kuala dan KTM Sengayam di Kabupaten Kotabaru; d. Kawasan Perdagangan, Industri dan Jasa, yaitu kawasan yang berbasis pada pengembangan perdagangan, jasa dan industri dan berpotensi menjadi kawasan ekonomi khusus yaitu di Kawasan Mekar Putih dan Kawasan Pulau Lari-Larian di RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 3

Hulu Sungai Tengah. mencapai kesiapan. 2. gudang amunisi dan daerah ujicoba persenjataan. Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup terdiri atas : a. Kawasan Jorong (Kabupaten Tanah Laut) dan Kawasan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu. gudang amunisi. dan (3) Tanah longsor Banjir terjadi setiap tahun. yaitu kawasan hutan lindung yang memanjang dari Kabupaten Kotabaru sampai dengan Kabupaten Banjar termasuk kawasan Tahura Sultan Adam. dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah. 2) Kawasan tertentu di pegunungan Maratus di Kabupaten Banjar. Tanah Bumbu. Data jumlah banjir di Kalimantan Selatan dari tahun 2006 – 2009 disajikan pada Gambar II.3. daerah basis militer. Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertahanan dan Keamanan Negara terdiri atas : 1) Kawasan tertentu di sepanjang pesisir pantai dan laut di Kabupaten Barito Kuala. Balangan. kerugian harta benda. sosial. ekonomi. daerah basis militer. gudang amunisi. Banjar. Kawasan Pegunungan Meratus. Tapin. daerah latihan militer. (2) Kebakaran hutan dan lahan. biologis. Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala. 3) Kawasan tertentu di Kota Banjarbaru dan Banjarmasin yang diperuntukan bagi basis militer. daerah latihan militer. hidrologis. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Tanah Laut.1. Ada tiga bencana alam yang rawan di Kalimantan Selatan. daerah latihan militer. dan dampak psikologis. geografis. politik. dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu. Tabalong. yaitu: (1) Banjir. Tanah Bumbu dan Kotabaru sebagai daerah pertahanan laut. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. kerusakan lingkungan.1. budaya. klimatologis. daerah uji coba persenjataan.2015 Page 4 . sebagai daerah pertahanan darat dan daerah pertahanan udara. Kotabaru. meredam. Wilayah Rawan Bencana Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan. Tanah Laut.BAB II Kabupaten Kotabaru. daerah pendaratan. daerah pembuangan amunisi dan peralatan pertahanan lainnya. baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. daerah pembuangan amunisi. kawasan terbuka sepanjang pantai timurtenggara wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan berbagai pola pemanfaatan ruang baik lindung maupun budidaya di Kabupaten Tanah Laut. Tanah Bumbu dan Kotabaru. Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis. frekuensinya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. daerah pembuangan amunisi. b. daerah ujicoba persenjataan dan daerah industri pertahanan. Hulu Sungai Selatan.

Pada tahun berikutnya cederung menurun karena faktor alam.925 rumah yang dihuni 6. 3. Tanah Bumbu. sebaliknya pada musim kemarau sering terjadi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan. Tanah Laut. Tabel II. Kebakaran hutan dan lahan cenderung meningkat hingga tahun 2006. Jumlah titik panas per kabupaten di Kalimantan Selatan tahun 2005 – 2009. Balangan. Menurut data Dinas Kesejahteraan Sosial Kalimantan Selatan. yaitu hampir tidak ada musim kemarau yang jelas pada tahuntahun terakhir .1 Jumlah Titik Panas Menurut Kabupaten/Kota Di Kalimantan Selatan Tahun 2005 .1 miliar. Kalimantan Selatan termasuk dalam 10 provinsi yang menjadi perhatian Departemen Kehutanan dalam masalah kebakaran hutan dan lahan ini.2015 Page 5 . Pada musim hujan kebanjiran. menenggelamkan 60 kecamatan dan 551 desa. Hulu Sungai Selatan. Tapin. Banjir yang melanda sembilan kabupaten tersebut. Hulu Sungai Utara. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . yang dapat dilihat dari titik panas (hot spot). berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan tahun 2009. yaitu: Tabalong.1.2009 KABUPATEN Tabalong Balangan HSU HST HSS Tapin Banjar Banjarbaru Barito Kuala Banjarmasin Tanah Laut Tanabu Kotabaru JUMLAH 2005 17 13 14 4 82 79 147 17 98 1 106 40 63 686 2006 171 215 158 109 766 943 1128 167 665 6 479 274 732 5813 TAHUN 2007 90 73 30 16 184 146 146 23 80 11 78 105 183 1165 2008 40 30 15 2 39 5 19 1 18 9 14 1 10 203 2009 45 45 86 25 97 185 215 14 138 2 142 81 183 1258 Sumber : Badan nasional penanggulangan bencana (BNPB). Fasilitas umum yang juga terendam sebanyak 248 sekolah dan 26 puskesmas.BAB II Ada sembilan kabupaten di Kalimantan Selatan yang sering terendam banjir. disajikan pada Tabel II. Beberapa kali kejadian banjir telah pula menimbulkan korban jiwa. Banjar. Banjir yang terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu (khususnya di Kecamatan Kusan Hulu dan Kusan Hilir) telah merendami sedikitnya 1. kerugian akibat bencana alam tersebut mencapai Rp.461 warga dan telah terjadi tiga kali banjir sepanjang tahun 2010. dan Kotabaru.

Kecamatan Hatungun. Peta Indeks Rawan Bencana di Kalsel Sumber: Badan nasional penanggulangan bencana (BNPB). Daerah rawan bencana tanah longsor Kalimantan Selatan berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) disajikan pada Tabel II. warga yang tinggal di pedalaman tersebut menjadi terisolasi. Kabupaten Tapin. Tingkat Kerawanan Bencana Tanah Longsor Menurut Daerah di Kalimantan Selatan Daerah(Kab/Kota) Tingkat Kerawanan Hulu Sungai Selatan Tinggi Tabalong Sedang Balangan Rendah Hulu Sungai Utara Sedang Hulu Sungai Tengah Sedang Kota baru Rendah Tapin Sedang Barito Kuala Sedang Kota Banjarmasin Sedang Kota Banjarbaru Sedang Tanah Laut Sedang Banjar Sedang Tanah Bumbu Rendah Sumber : Badan nasional penanggulangan bencana (BNPB). Gambar II.1. Tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu di Kecamatan Kusan Hulu.2015 Page 6 .2. 2010 Untuk lebih jelas tingkat kerawanan wilayah bencana tanah longsor ini disajikan dalam suatu peta yang ditunjukkan pada Gambar II.1. Akibat bencana tersebut.BAB II Bencana yang juga rawan akibat adanya curah hujan yang tinggi selain banjir adalah tanah longsor. Tabel II. tepatnya di Desa Bagak. Tanah longsor pernah terjadi di perbatasan antara Kabupaten Tapin dan Banjar. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2.

(2) rehabilitasi hutan dan rawa. Struktur Ruang Struktur ruang wilayah Provinsi Kalimantan Selatan meliputi system perkotaan. Kota Banjarbaru dengan fungsi pusat pemerintahan provinsi. dengan fungsi pusat pemerintahan kabupaten. industri nasional. dengan fungsi pemerintahan lokal. tempat manusia dan makhluk lain hidup. sebagai pusat jasa. dan (3) melakukan rencana aksi bersama Kabupaten/Kota dan masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangannya. ruang laut.BAB II Jenis bencana alam yang sering terjadi antara lain adalah bencana banjir dan kebakaran hutan dan lahan. pemerintahan lokal. pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya antara lain : (1) membuat Peraturan Daerah (Perda). dan pendidikan tinggi 4. Amuntai dan Kotabaru. Sistem Perkotaan Sistem perkotaan di Provinsi Kalimantan Selatan adalah : 1. pemerintahan lokal. Tanjung. perdagangan lokal dan jasa pariwisata regional. pelayanan wilayah belakang. sistem jaringan transportasi. dengan fungsi pusat perdagangan regional Banua Anam. Pelaihari. Langkah-langkah yang dilakukan selama ini untuk mengantisipasi terjadinya banjir antara lain : (1) normalisasi daerah aliran sungai (DAS) dan pembuatan batas tebing. 2. Paringin. pelayanan wilayah belakang. sebagai pusat jasa. kota transit 7.1. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) terdiri atas Kota Marabahan. 8. energy dan kelistrikan. Martapura. dengan fungsi pusat perdagangan lokal. Kandangan. dengan fungsi pusat pemerintahan kabupaten. Tata Ruang Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat. 6. dan ruang udara termasuk di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah. Sementara itu tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. pelayanan wilayah belakang 9. pelayanan wilayah belakang 10. perdagangan lokal. 3. Untuk pencegahan terjadi bencana kebakaran hutan dan rawa.1.1. Batulicin. (3) mendorong pemerintah pusat untuk moratorium pertambangan dsb. industri regional. pelayanan jasa kesehatan regional. 2. 2. pemerintahan kabupaten. 5. a. industri dan perdagangan regional dan nasional. Pusat Kegiatan Nasional (PKN) adalah Kota Banjarmasin. pemerintahan lokal. perdagangan lokal. pelayanan wilayah belakang. pelayanan wilayah belakang. industri dan perdagangan regional. perdagangan regional dan nasional. jasa transportasi udara nasional. Barabai.4. Rantau. melakukan kegiatan dan memeliharan kelangsungan hidupnya.2015 Page 7 . (2) membentuk tim penanggulangan kebakaran hutan dengan keterlibatan berbagai sektor. telekomunikasi dan sumber daya air.4. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .

Lianganggang . Terminal meliputi : 1. 3. Jalan bebas hambatan dalam Kawasan Metropolitan Banjarmasin. Kota Martapura. Jaringan jalan bebas hambatan terdiri atas : 1. Pagatan . c) d) c. dengan fungsi pusat industri dan perdagangan intan nasional.Pantai Hambawang – Amuntai . industri dan perdagangan regional dan nasional. Terminal Penumpang Tipe B Kota Banjarmasin. 5.2015 Page 8 . Jalur kereta api untuk angkutan penumpang antar kota PKN. Banjarmasin . Kabupaten Barito Kuala. dan pendidikan tinggi 3. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . terdiri atas : 1. 4. b) Jaringan jalan kolektor primer yang menghubungkan antar Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan (K-1) terdiri atas : 1. Pantai Hambawang – Barabai – Paringin – Mambuun. pemerintahan lokal.Pleihari. Marabahan – Banjarmasin. Jalan kolektor lainnya yaitu ruas Marabahan – Simpang Serapat.Lianganggang. jasa pariwisata nasional. 7. Kuala Kapuas – Banjarmasin. 2. Batulicin – Tanah Grogot. pemerintahan kabupaten. 8. 6.BAB II Pusat kegiatan yang dipromosikan untuk ditetapkan menjadi PKN (PKNp) adalah : 1. Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kabupaten Kotabaru. jasa transportasi udara nasional. perdagangan regional dan nasional. Sistem pengembangan jaringan jalur kereta api meliputi : 1.Batulicin. b. Kota Banjarbaru.Tanjung Mabuun – Batas Provinsi Kalimantan Timur. industri nasional. Pleihari – Pagatan. yaitu ruas Banjarmasin – Palangkaraya. Terminal Penumpang Tipe A di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar. Jalan lintas Selatan Kalimantan yaitu ruas Lianganggang – Pelaihari – Batulicin – Manggalau – Batas Provinsi Kalimantan Timur. Jalan penghubung lintas jalan lintas Kalimantan yaitu Lianganggang Martapura – Kandangan . jasa dan perdagangan nasional. dengan fungsi pusat pemerintahan provinsi. Kota Batulicin sebagai pusat jasa. Jalan lintas Selatan Kalimantan yaitu ruas batas Provinsi Kalimantan Tengah – Banjarmasin – Lianganggang – Batulicin – Batas Provinsi Kalimantan Timur 2. pelayanan wilayah belakang. kegiatan keagamaan regional dan nasional 2. 2. 2. Kelua – Pasar Panas (Batas Provinsi Kalimantan Tengah). Sistem Jaringan Transportasi a) Jaringan jalan arteri primer.

Tatanan kebandar udaraan terdiri atas : 1. 3. yaitu : Batas Kalimantan Timur di Kabupaten Pasir – Kabupaten Kotabaru – Kabupaten Tanah Bumbu – Kabupaten Tanah Laut – Tanjung Selatan. Pembangunan jalur kereta api untuk angkutan penumpang dan barang antar kota PKN dengan PKW dan PKL . Banjarmasin – Batulicin. e. f.BAB II 2. Marabahan. Jaringan prasarana kereta api untuk angkutan barang pada sentra-sentra produksi terutama untuk komoditas sumberdaya mineral dan komoditas perkebunan pada sebelah timur . Pelabuhan penyeberangan nasional yaitu pelabuhan penyeberangan lintas provinsi adalah Pelabuhan Trisakti di Kota Banjarmasin dan Pelabuhan Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. PLTD Amuntai. Batas Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Timur – Kabupaten Tabalong – Kabupaten Balangan . Ujung Panti. Amuntai di Kab. PLTD Gunung Batu Besar Kotabaru.tenggara Kalimantan Selatan. Babirik di Kab. Tanjung – Buntok – Muarateweh. Batas Kalimantan Tengah Banjarmasin – Pelaihari – Asam-Asam – Satui – Pagatan – Batulicin – Kotabaru – Batas Kalimantan Timur. Hulu Sungai Utara. Jalur kereta api untuk angkutan barang pada sentra-sentra produksi terutama untuk komoditas sumberdaya mineral dan komoditas perkebunan pada sebelah barat Pegunungan Meratus. Sistem jaringan energi dan kelistrikan terdiri atas : 1. Hulu Sungai Utara di tepi Sungai Negara. Hulu Sungai Utara. yaitu ruas : Tanjung – Barabai – Rantau – Martapura – Banjarmasin. PLTD Barabai. PLTD Kotabaru. d. PLTD Sungai Bali RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Tapin. Danau Panggang di Kab.2015 Page 9 . Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) meliputi : PLTD Pagatan. 2. 2. Bandar udara pengumpul skala tersier adalah Gusti Syamsir Alam/ Stagen di Kab. PLTD Rantau. 4. Kuripan di Kabupaten Barito Kuala di tepi Sungai Barito. 3. PLTD Sungai Kupang Kotabaru. Pelabuhan (dermaga) Margasari di Kab. Pelabuhan utama yaitu Trisakti di Kota Banjarmasin. Negara di Kab. 2. Pelabuhan pengumpul yaitu Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. Kotabaru. Tanjung – Tanah Grogot – Balikpapan. PLTD Bungkukan Kotabaru. 3. Sistem jaringan pelabuhan (dermaga) sungai terdiri atas : 1. Bandar udara pengumpul skala sekunder adalah Syamsudin Noor – Banjarmasin di Kota Banjarbaru. Hulu Sungai Selatan. yaitu : ruas Batas Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Timur – Kabupaten Tabalong – Kabupaten Hulu Sungai Utara – Kabupaten Hulu Sungai Tengah – Kabupaten Hulu Sungai Selatan – Kabupaten Tapin – Kabupaten Banjar – Kabupaten Tanah Laut. Bandar udara pengumpan Tanjung Warukin di Kabupaten Tabalong g.Batas Kalimantan Timur di Kabupaten Pasir – Kabupaten Kotabaru – Kabupaten Tanah Laut. Pelabuhan (dermaga) Banjar Raya di Kota Banjarmasin. Sistem kepelabuhanan terdiri atas : 1.

DI Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Seluang. Terantang. Handil Bakti. PLTD Tanjung Seloka Kotabaru. 3. DI Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. DI Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. PLTU Tanjung. Jelapat. DI Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. DI Pitap di Kabupaten Balangan. Pangeran Muhammad Noor. Bendung Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. PLTD Semaras Kotabaru. Tabunganen. DI Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. DI Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. DI Pitap di Kabupaten Balangan. DI Kotabaru-Berangas dan DI Sungai Bungur di Kabupaten Kotabaru. Kota Banjarmasin – Rantau . DI Tapin Kabupaten Tapin. saluran irigasi sekunder meliputi : DI Tapin di Kabupaten Tapin. Belanti dan Alalak Padang di Kabupaten Page 10 j. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .BAB II Kotabaru. Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) meliputi : Riam Kanan. 4. PLTU Mulut Tambang Balangan. 3. DI Telaga Langsat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. DI Sungai Bungur di Kabupaten Kotabaru. Jaringan saluran irigasi nasional. i. DI Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Bendung Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. . Bendung Pitap di Kabupaten Balangan. DI Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. Bendung nasional. Tanipah. meliputi : Anjir Tamban. saluran irigasi primer meliputi : Daerah Irigasi (DI) Tapin di Kabupaten Tapin. 2). Bendung Telaga Langsat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kota Marabahan – Kota Banjarmasin. terdiri dari : batas provinsi Kalimantan Tengah – Marabahan – Kota Banjarmasin. Sistem Jaringan telekomunikasi meliputi : Sistem jaringan mikro digital. Barabai – Batas Provinsi Kalimantan Timur. Daerah Irigasi (DI) nasional. Talaran di Kabupaten Barito Kuala. Barambai. DI Jejangkit II di Kabupaten Barito Kuala. terdiri atas : 1). Belawang. meliputi DI Jejangkit II di Kabupaten Barito Kuala. Sengayam dan Sampanahan Kotabaru. h. PLTU Kusan Tanah Bumbu. PLTU Batulicin. Sakalagun. PLTD Tanjung Lontar Kotabaru. DI Telaga Langsat dan DI Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. PLTU IPP Binuang. meliputi Bendung Tapin di Kabupaten Tapin. Kusan Tanah Bumbu. PLTU Sigam Kotabaru. DI Telaga Langsat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. k. Bendungan nasional meliputi Bendungan PLTA Ir. Kandangan – Barabai. Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) meliputi : PLTG Trisakti Banjarmasin.dan DI Pitap (Kab Balangan) Jaringan rawa dan pantai terdiri atas : 1. Anjir Serapat. DI Kotabaru-Berangas di Kabupaten Kotabaru. Rantau – Kandangan.2015 . 2. 2. DI Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. Sistem Jaringan irigasi terdiri atas : 1. DI Batang Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Riam Kanan di Kabupaten Banjar. Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) meliputi : PLTU Asam-Asam Tanah Laut. Jejangkit I. Bendung Karang Intan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru.

TWA Pulau Kembang di Kota Banjarmasin. Polder Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Daerah rawa (DR) nasional meliputi : Anjir Tamban. Situs Gua di Gunung Batu Babi. TWA Pulau Bakut. Muara Sungai Asam-Asam. 3. Belawang. CA Sungai Lulan dan Sungai Bulan. Negara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.2. kawasan sempadan sungai. kawasan terbuka hijau kota yang lokasinya tersebar di Kabupaten/kota c. DAS Negara. Seluang.BAB II Banjar. dan DAS Tapin. Muara Uya di Kabupaten Tabalong. 4. Handil Bakti. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan pantai. DAS Ambawang. CA. e. Negara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Barambai. Jelapat. Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru. Kalsel dan Kalteng meliputi DAS Barito. Wilayah sungai lintas provinsi yaitu WS Barito-Kapuas yang melintasi Prov. Belanti. Saluran/kanal banjir nasional meliputi : Sungai Barabai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Sungai Balangan di Kabupaten Balangan.2015 Page 11 . dan resapan air di sekitar kawasan hutan lindung. Talaran di Kabupaten Barito Kuala. kawasan sempadan mata air. dan kawasan Suaka Margasatwa (SM) yang meliputi : SM Pelaihari. Sakalagun. DAS Riam Kanan. SM Pulau Kaget di Kabupaten Barito Kuala. DAS. DAS Kapuas. 2. Kawasan cagar budaya sebagaimana terdiri atas : Cagar Budaya Candi di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Saluran rawa nasional Muning di Kabupaten Tapin. 2. Anjir Serapat. SM. Selat Laut dan Selat Sebuku. DAS Martapura. Tanipah. Kawasan suaka alam di cagar alam (CA) Teluk Kelumpang. Wilayah sungai (WS) Lintas kabupaten/kota meliputi WS Cengal – Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. Murung. d. SM Kuala Lupak di Kabupaten Tanah Laut. kawasan sekitar danau atau waduk.1. Pola Ruang Pola ruang meliputi kawasan lindung yang terdiri atas : a. Tabunganen. Taman Wisata Alam (TWA) yang meliputi TWA Pelaihari dan TWA Batakan di Kabupaten Tanah Laut. TWA Jaro di Kabupaten Tabalong. pelestarian alam di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam di Kabupaten Banjar. Jejangkit I. Terantang. Kawasan rawan tanah longsor meliputi Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Balangan sampai perbatasan Provinsi Kalimantan Timur. Muning di Kabupaten Tapin.4. DAS Riam Kiwa.dan Polder Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. dan Anjir Alalak Padang di Kabupaten Banjar. b. 5. Gunung Kentawan di Kabupaten Kotabaru. Kabupaten Banjar. CA Teluk Pamukan. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya seperti kawasan hutan lindung di Pegunungan Meratus. kawasan bergambut di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru.

dan perikanan. Kotabaru. Balangan. kawasan pertanian TPH lahan kering tersebar hampir di seluruh wilayah provinsi kecuali Kabupaten Hulu Sungai Utara. dan perikanan. kawasan pertanian TPH lahan basah terdiri dari kawasan pertanian lahan sawah irigasi. pertanian. lahan tadah hujan. Tanah Bumbu dan Kota Banjarmasin membentuk sentra komoditas padi dan hortikultura. Kawasan Andalan Kandangan dan sekitarnya dengan sektor unggulan : pertanian. Perkebunan besar swasta maupun perkebunan besar pemerintah meliputi kawasan perkebunan yang tersebar di wilayah Kabupaten Barito Kuala. lahan pasang surut dan lahan lebak. kehutanan. 3. kawasan pertanian tanaman pangan dan hortikultura (TPH) meliputi kawasan TPH lahan basah dan kawasan TPH lahan kering yang tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Banjar. 7. perkebunan dan pariwisata. Labuan Amas Utara di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. 2. Simpur di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tanah Bumbu j. Daha Selatan. dengan sektor unggulan : perikanan. 2.2015 . perkebunan. Kawasan Andalan terdiri atas : 1. industri. h. Daha Barat. pariwisata. Takisung di Kabupaten Tanah Laut. Teluk Tamiang dan sekitarnya di Kabupaten Kotabaru. pariwisata. Barito Kuala dan Kota Banjarmasin yang membentuk sentra komoditas padi gogo. kawasan pertanian TPH lahan lebak tersebar hampir di seluruh wilayah provinsi kecuali Banjarmasin dan sebagain besar membentuk sentra komoditas palawija dan hortikultura. Tanah Laut. Tapin. Banjar. Tabanio. 3. yaitu KKPD Paminggir. Hulu Sungai Tengah. Daha Utara. Panyipatan. Kandangan. Kelumpang. kawasan pertanian TPH lahan sawah irigasi dikembangkan hampir di seluruh wilayah provinsi kecuali Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala. 6. industri. menetapkan kawasan pertanian pangan berkelanjutan untuk mengendalikan alih fungsi kawasan pertanian. g. Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Kawasan Andalan Laut meliputi : Kawasan Andalan Laut Pulau Laut dsk. kawasan pertanian TPH lahan pasang surut tersebar pada wilayah Kabupaten Barito Kuala. Tanjung Dewa. 4. Kawasan Andalan Batulicin dan sekitarnya dengan sektor unggulan : perkebunan. 5. 8. kawasan pertanian terdiri atas : 1. dan pertambangan. Hulu Sungai Selatan. Tanah Laut. Bakarangan di Kabupaten Tapin. Danau Panggang dan Amuntai Selatan di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kawasan Konservasi Perairan Daratan (KKPD). Kawasan perkebunan terdiri atas : 1. palawija dan hortikultura.BAB II f. Page 12 i. Pusat-pusat distribusi dan industri hasil pertanian di wilayah Kabupatenkabupaten Hulu Sungai Tengah. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . yaitu KKLD Terumbu Karang Bunati di Kabupaten Tanah Bumbu. 4. Kawasan Andalan Banjarmasin Raya dan sekitarnya dangan sektor unggulan : pertanian.

Pantai. Kerasian. yaitu Loksado di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tanah Bumbu. Teluk Tamiang. Jorong. Kawasan peruntukan peternakan terdiri atas : 1.2015 Page 13 . Jorong s. 2. daerah pengembangan unggas. Tanah Laut. Hulu Sungai Utara. 5. Perkebunan rakyat meliputi kawasan perkebunan yang tersebar di wilayah Kabupaten Barito Kuala. rampa. Teluk Tamiang. Budidaya laut berada di Lontar. Lontar. Tanjung Samalantakan. Tanjung Seloka. Tapin. Aluh-Aluh. Selambau. Tanjung Batu. Tanah Laut. m. k. Budidaya tambak di pesisir timur Muara Kintap. Tabalong. Perikanan tangkap di wilayah Pantai Selatan Kalimantan. Berangas. Batulicin. 7. Tanah Bumbu. Kawasan Laut Kintap – Asam-Asam dan sekitarnya di Kabupaten Tanah Laut. Bunati. Kurau. Hulu Sungai Utara. 6. Kawasan Laut Aluh-Aluh dan sekitarnya di Kabupaten Banjar. Hulu Sungai Utara. Kawasan pariwisata terdiri atas : 1. Banjarbaru dan Banjar. Pulau Kembang. Kuala Tambangan. Sarang Tiuang. yaitu Sungai Musang di Kabupaten Banjar. Hulu Sungai Selatan. Tanah Bumbu dan Kotabaru. Birah-birahan. Balangan. Kotabaru dan Balangan yang pada umumnya membentuk sentra komoditas kelapa sawit dan karet. Pagatan Besar.BAB II Banjar. yaitu di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Hulu Sungai Tengah dan daerah pusat pembibitan ternak kerbau/kerbau darat . Tapin. Kawasan Laut Pulau Laut dan sekitarnya di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru. Pagatan. Tanjung Mangkok di Kabupaten Kotabaru. Hulu Sungai Selatan. Hilir Muara. Sebanti. Banjarbaru dan Barito Kuala. Hulu Sungai Tengah. 5. yaitu Kuala Lupak. Sungai Bali. Muara Kintap. Kotabaru. Hulu Sungai Selatan. Tanah Laut. Pamalikan. Banjar. yaitu di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sungai Taib. l. yaitu di Kabupaten Barito Kuala dan pusat pemurnian ternak itik Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Daerah pusat pembibitan ternak sapi. Semisir. Kerayaan. Hulu Sungai Tengah dan Banjarbaru yang pada umumnya membentuk sentra komoditas karet. Teluk Sirih. Tahura Sultan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 2. Sungai Loban. Sebamban. Hulu Sungai Tengah. Takisung. Hulu Sungai Selatan.d Sungai Cuka di Kabupaten Tanah Laut. 3. yaitu di Kabupaten Tapin. Tapin. Obyek wisata alam. daerah pengembangan ternak kambing. Pulau Bakut Kabupaten Barito Kuala. Marabatuan. Tanah Bumbu. Daerah tangkapan nener dan benur. Tabalong. Rencana pengembangan kawasan perikanan dan kelautan terdiri atas : 1. Sungai Danau. 2. di gugus Pulau. yaitu di Kabupaten Kotabaru. kelapa dalam dan kepala sawit dari hasil perkebunan swadaya dan pola kemitraan dengan perkebunan besar swasta. Tabalong. Matasirih. Balangan. 4. Batola. Kotabaru. Tabalong. Danau Panggang dan Danau Bangkau sebagai reservat perikanan darat. Banjar. yaitu di Kabupaten Tanah Laut. 4. Pudi. 3. Batakan. Daerah pendaratan ikan. Muara Asam-Asam. Daerah pusat pembibitan ternak kerbau kalang/kerbau rawa/kerbau darat. Pulau Kaget. Daerah pusat pemurnian ternak Sapi Bali.

Haruyan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Waduk Riam Kanan di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut. Tanjung Puri di Kabupaten Tabalong. 11. Sentra industri di Kota Banjarmasin yang berorientasi pada industri RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Obyek wisata buatan/atraksi antara lain Pasar Terapung Kuin di Kota Banjarmasin. Zona industri Matraman di Kabupaten Banjar yang berorientasi pada industri perkebunan. Gua Temu Luang dan Gua Sunggung di Kabupaten Kotabaru. 9. 2. Sentra industri galangan kapal di Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru di Kabupaten Kotabaru. Danau Undan Banua Lawas di Kabupaten Tabalong. Dayak Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. kehutanan. 4. Kawasan industri Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu yang beorientasi pada industri perkebunan. Pagatan. industri logam. Batakan di Kabupaten Tanah Laut dan Pagatan. Takisung. Obyek wisata pantai Swarangan Jorong. Zona industri Liang Anggang di Kota Banjarbaru yang berorientasi pada industri minuman. Zona Industri Tarjun di Kabupaten Kotabaru yang berorientasi pada industri semen. 12. Teluk Tamiang di Kabupaten Kotabaru. Batang Alai Selatan. perikanan dan kelautan serta industri baja. Kubah Basirih di Kota Banjarmasin. Obyek wisata budaya di Loksado. Pendulangan Intan Sungai Tiung Cempaka di Kota Banjarbaru. keramik.BAB II Adam dan Lembah Kahung di Kabupaten Banjar. Datu Sanggul. 3. gas. 6. 8. Air Terjun Tumpang Dua di Kabupaten Kotabaru. Syech Muhammad Arsyad Pagatan di Kabupaten Tanah Bumbu. Zona Industri Barito Muara Barito Kuala di Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala yang berorientasi pada industri kehutanan. industri kehutanan. 7. 5. Gua Liang Kantin Muara Uya di Kabupaten Tabalong. Bunati di Kabupaten Tanah Bumbu. Zona industri Murung Pudak di Kabupaten Tabalong yang berorientasi pada industri agroindustri. Sentra industri Amuntai di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang berorientasi pada industri perabot kayu dan rotan. 5. bahan kimia.. Zona industri Bati-Bati di Kabupaten Tanah Laut yang berorientasi pada industri peternakan. perkebunan. n. Kawasan industri terdiri atas : 1. 4. agro industri. Obyek wisata budaya Pasar Terapung. 3. Obyek wisata bahari untuk terumbu karang. Upau. 6. yaitu Pulau Kunyit. 2. Zona industri Jorong dan Kintap di Kabupaten Tanah Laut yang berorientasi pada industri bubur kertas dan bijih besi. Kerbau Rawa Danau Panggang di Kabupaten Hulu Sungai Utara. makanan dan kehutanan. Sarang Tiung di Kabupaten Kotabaru. Sentra industri Negara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang berorientasi pada industri kerajinan rumah tangga. kimia. Jaro. Obyek wisata religius Syech Muhammad Arsyad Al Banjari Kalampayan. Pasar Terapung Lok Baintan Sungai Tabuk di Kabupaten Banjar. Air Panas Hantakan.2015 Page 14 . 10.

70 persen per tahunnya. Kawasan pertambangan terdiri atas : 1. Balangan. Kawasan pertahanan dan keamanan yaitu di Kota Banjarbaru. Banjar.1. Kawasan perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Hulu Sungai Utara. Pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 1. Hulu Sungai Utara. 9. Kawasan lainnya terdiri atas : 1.631 jiwa (tahun 2008). 2.446.2015 Page 15 .156 jiwa (tahun 2009). yaitu di Kawasan Mekar Putih dan Kawasan Pulau Lari-Larian di Kabupaten Kotabaru. Tabalong. Barito Kuala dan Pulau Lari-Larian di Kabupaten Kotabaru. Kabupaten Tanah Bumbu. Tanah Laut. Hulu Sungai Selatan. Kawasan pertahanan keamanan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang dikembangkan untuk kepentingan nasional dan provinsi.BAB II kerajinan rakyat kain sasirangan. Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM). Sentra industri kerajinan batu permata Martapura di Kabupaten Banjar. Balangan. Hulu Sungai Tengah. Tanah Laut. 6. industri pengolahan karet. 8. Kawasan Pegunungan Meratus.396. Kawasan Rawa Potensial Batang Banyu. Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. industri pengolahan kayu. 2. o. Tanah Bumbu. Kabupaten Tanah Laut. Hulu Sungai Selatan.5. 3. 7. Tabalong. kawasan perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Kotabaru. Perkembangan Penduduk Penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan berjumlah 3. dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.1. 13. Kabupaten-kabupaten Banjar.680 jiwa (tahun 2007). Kawasan Pelabuhan dan Bandar Udara. Kawasan Strategis Nasional (KSN) adalah Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Batulicin.503. Kawasan pertambangan batubara. Kawasan Berpotensi Pengembangan Ekonomi Khusus. 10.5. Penduduk terbanyak berada di kota Banjarmasin dengan jumlah 639. 3. Tanah Bumbu. p.1. 4. Demografis 2. bertambah menjadi 3. 3. Kawasan wilayah pertambangan rakyat bahan galian intan di Kota Banjarbaru. minyak bumi dan gas di wilayah Cekungan Kabupaten-kabupaten Barito. Tapin. 2.978 jiwa RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 11. Cahaya Baru di Kabupaten Barito Kuala dan Sengayam di Kabupaten Kotabaru. Kawasan pertambangan pola terbuka untuk bahan galian logam dan biji besi di wilayah Kota Banjarbaru. Kawasan Jorong (Kabupaten Tanah Laut) dan Kawasan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu. 5. Kotabaru. 12. Kawasan Metropolitan Banjarmasin / Banjarmasin Raya.

010 489. Dimasa yang akan datang.056 Barito Kuala 269.192 Hulu Sungai Utara 214.396.487 218.000 193.3.007 281.181 Tabalong 191.336 209.4 Tabel II. Laju pertumbuhan penduduk per Kabupaten/Kota.91 1.01 1) 2.767 639.4 Laju pertumbuhan Penduduk Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2003-2008 No.3 Jumlah Penduduk Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2007 s/d 2009 Tahun Kabupaten/Kota 2007 2008 Tanah laut 265.64%.296 Kota Banjarmasin 615.208 Balangan 101.631 No.71 1.978 170. Tabel II.85 0.59 0.278 195.BAB II pada tahun 2009 atau sekitar 18.189 244. Berdasarkan tabel tersebut diatas. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2009 275.24%.68 0.27% dari seluruh penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan.273 154.503.1 0.886 jiwa pada tahun 2009 atau sekitar 14.860 102.8 1.082 Tanah Bumbu 221.298 102.570 627.1 2) Tahun 2005 .d 2009 tidak mengalami banyak perubahan yang berarti.823 3.22 3) 1.886 275.02 1. dapat dilihat pada tabel II.000 276.000 167.402 208.629 270.737 Kalimantan Selatan 3.631 231. pada tahun 2008 terjadi penambahan penduduk sebesar 1.96 Page 16 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Perkembangan penduduk Kalimantan Selatan selama tahun 2007 s.71 1.446.331 498.332 Tapin 152.2008 1.d 2009 dapat dilihat pada tabel II. 1 2 3 4 5 6 7 8 Tanah laut Kotabaru 1) Banjar 3) Barito Kuala Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara 2) Kabupaten/Kota Tahun 2003 . Struktur penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan selama tahun 2007 s.091 Kotabaru 272.49% dan pada tahun 2009 sebesar 1.2015 .448 272.077 153.2005 2.156 Sumber : Badan Pusat Ststistik Kalimantan Selatan. Meningkatnya pertumbuhan penduduk sebagai akibat dari belum optimalnya daerah untuk menggarap sektor keluarga berencana. untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.680 3.571 Hulu Sungai Tengah 242.304 226. perencanaan dan pengelolaan sektor keluarga berencana akan mendapat perhatian lebih serius.191 216.245 Kota Banjarbaru 164.574 Banjar 480.066 Hulu Sungai Selatan 207.948 246. Kabupaten Banjar memiliki penduduk terbanyak kedua dengan jumlah 498.12 0.

976 16.262 Tahun 2007 41.27 1.733 39.2005 1.468 37. tidak saja prekrutan peserta KB baru dan memelihara peserta KB aktif yang ada.983 42.286 44.5 Tabel II.035 16.456 39.92 2.BAB II Tahun 2003 .933 23.647 30. tapi juga mendekatkan pelayanan hingga ke pedesaan.12 2.6 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .561 37.020 61.201 Sumber : BKKBN Provinsi Pencapaian peserta KB baru di Provinsi Kalimantan Selatan selama periode tahun 2006 s.31 1.771 28.5 Peserta KB Aktif Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 No.995 34.348 35.443 30.269 32.660 524. 9 10 11 12 13 14 Tabalong Tanah Bumbu Balangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan Kabupaten/Kota Sumber : BPS Provinsi Keterangan : 1) = Termasuk Kabupaten Tanah Bumbu 2) = Termasuk Kabupaten Balangan 3) = Termasuk Kota Banjarbaru Peran keluarga berencana menjadi sangat penting.249 15.91 Tahun 2005 .049 84. sehingga cakupan KB baru dan penundaan usia nikah dapat dilakukan dengan baik.24 4.181 506.2008 1.49 No.654 31.d 2008 dapat dilihat pada tabel II.338 42.840 31. namun jika dilihat kabupaten/kota terdapat beberapa kabupaten (Hulu Sungai Selatan.553 25.319 23.485 31.620 33.555 35.72 2.227 2008 44. Tanah Bumbu dan Balangan) mengalami penurunan kinerja dalam capaian peserta KB Baru.24 0.729 76.708 63.611 35. Perkembangan peserta KB di Kalimantan Selatan selama tahun 2007 s. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Tanah laut Kotabaru Banjar Barito Kuala Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Tabalong Tanah Bumbu Balangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan 2006 40. Perkembangan capaian peserta KB Baru di Kalimantan Selatan tabel II.2015 Page 17 .281 476.427 24.726 21.45 1.839 27.513 80.842 44.322 29.625 69.d 2008 menunjukkan perkembangan yang cenderung meningkat.

459 5. serta berbagai determinan sosial di masyarakat. Secara umum kondisi pergaulan diantara suku bangsa yang ada sudah sangat kondusif dan hidup secara damai. akan faktor yang dapat mempengaruhi cakupan perseta KB Baru. serta penyediaan pelayanan KB gratis bagi penduduk miskin. dan komposisinya secara statistik cenderung stabil dari tahun ketahun. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Tanah laut Kotabaru Banjar Barito Kuala Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Tabalong Tanah Bumbu Balangan Kota Banjarmasin Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan 2006 5.849 6.959 12. meningkatkan kesertaan berKB.119 4. penurunan kualitas tenaga kerja.563 117.542 Sumber : BKKBN Provinsi Pertumbuhan yang tidak terkendali.019 6.361 5.912 5.303 18.755 8.627 6. meningkatkan akses terhadap pelayanan KB di daerah. sistem administrasi kependudukan belum dilaksanakan secara akurat.426 16.018 7.767 26.673 4.6 Peserta KB Baru Per-Kabupaten di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 No.011 107.457 4. keterbatasan anggaran yang tersedia. Dari aspek keberagaman suku bangsa yang ada di Kalimantan Selatan secara umum didalam komposisi penduduk didominaasi oleh suku asli Banjar. Batak dan Sunda. namun jumlah mereka relatif kecil.519 2008 7.064 6. kesempatan kerja. pelayanan kesehatan.870 5.475 5. serta sebagian kecil suku keturunan Tionghoa. Tantangan ke depan adalah mengendalikan Total Fertility Rate (TFR) yang merupakan faktor dominan dalam mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah pertambahan penduduk.009 5. meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja dan pasangan usia subur tentang KB. dan dampak sosial lainya.BAB II Tabel II.306 7. Madura. Kondisi inilah yang sangat membantu dan merupakan modal dasar dalam melakukan kegiatan pembangunan disegala bidang kehidupan. Beberapa suku bangsa antara lain suku Jawa. dan persoalan sosial lainnya. Bugis.960 7.785 7. dapat berakibat pada berbagai persoalan sosial.576 7.678 7. motivasi petugas yang masih rendah.326 3.2015 Page 18 . Dampak terbesar adalah terhadap daya tampung pendidikan.451 6.491 24.926 5.125 17.830 Tahun 2007 6.130 9.549 5. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .456 4. munculnya pemukiman kumuh.206 6.758 3. keterbatasan fasilitas pelayanan belum memadai.143 90.841 5.317 4. Rendahnya kualitas pelayanan sosial dasar masyarakat.

09 0.29 0.03 0.55 10.14 Suku Bangsa Bugis Madura (4) 1.91 0.62 Lainnya (7) 2.12 0.61 0.42 0.42 6.2.24 15.99 0.80 34.54 0.56 7.68 79.05 2. Melayu banjar (2) 61.93 76.72 30.76 4.2.30 4. PDRB Kalsel atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sebagaimana terlihat pada tabel II.16 0.44 4.7 Persentase Penduduk Kalimantan Selatan Menurut Kabupaten/Kota dan 5 Suku Bangsa Terbesar Kabupaten/Kota (1) Tanah Laut Kota Baru Banjar Barito Kuala Tapin HSS HST HSU Tabalong Tanah Bumbu Balangan Banjarmasin Banjar Baru Kal Sel Banjar.29 7.80 74.12 0.75 82.95 1.08 0.45 (5) 1.09 15.75 0.BAB II Tabel II.89 0. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 2.67 30.76 2.67 98.07 0.56 1.52 0.8 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .03 0.13 2.17 0.18 1.08 0.86 2.79 11.89 96.2015 Page 19 .33 11.79 39.22 Sunda (6) 1.1.58 25.86 3.54 12.03 0.31 9.71 1.51 0. 2.2.12 60.38 1. Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.92 0.92 0.63 13.14 0.19 1.97 6. Pertumbuhan dan Struktur PDRB Salah satu pendekatan pengukuran kemajuan bagi perekonomian di suatu daerah ialah dengan melihat perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)nya.20 0.17 0.10 0.42 95.70 20.08 0.30 19.07 0.34 Jawa (3) 31.1.88 0.79 87.1.42 0.89 80.56 87.44 1.08 0.22 Total (8) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Sumber : Badan Pusat Statistik.30 1.

50 3.130.00% 99.196.93 3.34. yakni mencapai rata-rata 5.856. 51.005 5.217.8.5 trilliun.556.942.834.97 4.00 51.758.18 257.364.609.196.714.047.025.081.200.56 persen per tahun.00 9.BAB II Tabel II.875.494.843.990.334.35 2.33 4.852.85 2.55 34.7 triliun meningkat menjadi Rp.00 5.132.030. Peningkatan ini secara umum terjadi pada semua sektor meski dengan besaran yang berbeda-beda.705.312.423.52% 15.788.38% 6.00 Kontribusi pd Peningkatan 22.134.38%).00 7.03 4.763.579.420.61% 5.777.932.62 39.434.142.826.06 38.94 194.030.57 3. Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Selatan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.651.15% 19.799.39% PDRB tanpa Migas Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan 2009 Nilai PDRB atas dasar harga berlaku dengan migas pada tahun 2006 sebesar Rp.250.85% 6. dan sektor perdagangan.716.87 2. PDRB tanpa migas juga meningkat dari Rp.152.00 50.90 5.00 45.177.474. Sektor yang berperan besar selanjutnya adalah pertambangan dan penggalian (19.94 4.118.4 trilliun menjadi Rp.15%.446.630.262.2015 Page 20 .548.292.185. 50.00 2009 11.82 8.758. walaupun pada tahun 2009 mengalami sedikit perlambatan.777.463.29% 10. Nilai PDRB ADHB (dalam Ribuan Rupiah) Kalsel 2006-2009 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. hotel dan restoran (15.00 2.62 persen per tahun (Tabel II.96% 13.00 10.08% 0.568.27 2.28 5.546.03 1.90 219.9) RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Peningkatan nilai PDRB Kalimantan Selatan dari tahun 2006 sampai 2009 terutama disebabkan oleh sektor pertanian dengan kontribusi 22.861.29%).340.767.00 45.676.930.47 1.050.89 7.210.784.000.36 4.29 34.18% 100. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.00 4. Seiring dengan itu.438. Selama periode 2006 .58 294.275. 34.310.72 3. Ketiga sektor ini merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar pada pembentukan dan pertumbuhan nilai PDRB Kalimantan Selatan selama ini.849.300. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.2 triliun pada 2009.34 6.018.273. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB Migas dengan 2006 7.049.34 2008 10.721700.647.55 2.553.299. Pertumbuhan PDRB tanpa migas sedikit lebih tinggi.2009 pertumbuhan PDRB dengan migas mencapai rata-rata 5.670.38 2007 8.783.400.860.468.

BAB II
Tabel II.9. Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2006-2009 (%) RataSektor 2006 2007 2008 2009 rata Pertanian 4,70 5,72 6,48 7,12 6,00 Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Pertumbuhan Eko dengan Migas Pertumbuhan Eko tanpa Migas 7,47 -1,70 3,83 7,02 5,56 6,06 3,24 6,89 4,98 5,05 5,05 2,94 4,14 6,90 6,18 8,23 15,36 6,65 6,01 6,08 7,37 2,59 4,23 5,60 7,07 6,43 5,73 6,63 6,23 6,37 1,73 2,31 5,33 6,06 5,80 5,95 6,44 7,33 5,01 5,11 5.40 1,53 4,38 6,40 6,15 6,67 7,69 6,87 5,56 5,65

Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan 2009

Seluruh sektor ekonomi menunjukkan pertumbuhan rata-rata positif. Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mencapai tingkat pertumbuhan rata-rata tertinggi (7,69%), disusul Jasa-jasa (6,87%), dan Pengangkutan dan Komunikasi (6,67%). Sementara itu, sektor yang tumbuh paling rendah adalah Industri Pengolahan dengan rata-rata 1,53%. Sektor-sektor yang termasuk dalam kelompok sektor primer (Pertanian dan Pertambangan – Penggalian) dan tersier (Perdagangan-hotel-restauran, Pengangkutan dan komunikasi, Keuangan-persewaan-jasa perusahaan, dan Jasa-jasa lainnya) mengalami pertumbuhan yang relative tinggi secara konsisten. Sementara, pertumbuhan dalam kelompok sektor sekunder (Industri pengolahan, Listrik-Gas-Air, dan Bangunan) secara umum cenderungan lebih lambat, kecuali Bangunan. Tabel II.10 memperlihatkan bahwa pembentukan nilai PDRB selama periode 2006 – 2009 didominasi kelompok sektor primer dengan rata-rata 43,95% dan tersier (38,40%) yang utamanya berasal dari Perdagangan-Hotel-Restoran. Besarnya peran sektor primer menunjukkan bahwa Perekonomian Kalimantan Selatan masih sangat tergantung pada sumberdaya alam. Peranan sektor sekunder (17,68%), disisi lain, justru semakin menurun. Sektor sekunder, khususnya Industri pengolahan yang potensial untuk menciptakan nilai tambah dan daya saing lebih tinggi bagi ekonomi peranannya menurun dari 11,68% pada 2006 menjadi 9,87%.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 21

BAB II
Tabel II.10. Kontribusi Sektoral dalam PDRB Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009 RataSektor 2006 2007 2008 2009 rata Pertanian 22,43 22,46 22,15 22,34 22,36 Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Jumlah
Sumber :BPS Tahun 2010

21,86 11,68 0,56 6,56 14,86 8,45 4,10 9,50 100,00

21,70 11,07 0,56 6,48 15,04 8,99 4,46 9,26

21,73 10,31 0,56 6,25 14,95 9,17 4,80 10,07

21,06 9,87 0,58 6,23 15,00 9,23 5,02 10,69

21,59 10,73 0,57 6,38 14,96 8,96 4,60 9,88

100,00 100,00

100,00 100,00

2.2.1.2. Pendapatan Perkapita dan Pemerataan PDRB dapat dikatakan sebagai ukuran kesejahteraan suatu daerah. Di sisi lain, PDRB per kapita dapat dijadikan ukuran kesejahteraan masyarakatnya, karena merupakan nilai rata-rata besaran PDRB untuk tiap orang penduduk. PDRB per kapita meskipun lebih indikatif bagi pengukuran tingkat kesejahteraan namun belum menggambarkan tingkat kemerataan antar penduduk.
Tabel II.11. PDRB Per kapita Dengan Migas Di Kalimantan Selatan 2000 – 2009 Harga Berlaku Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009*) Harga Konstan 2000 PDRB Perkapita Pertumbuhan PDRB Perkapita Pertumbuhan (Rp) (%) (Rp) (%) 6.269.036 6.269.036 6.893.127 7.532.597 8.001.103 8.705.989 9.644.377 10.359.826 11.610.975 13.276.160 14.514.675 9,96 9,28 6,22 8,81 10,78 7,42 12,08 14,34 9.33 6.438.936 6.622.005 6.649.457 6.886.794 7.065.534 7.306.536 7.631.654 7.989.962 8.201.844 2,71 2,84 0,41 3,57 2.60 3,41 4,45 4,70 2,65

Sumber : PDRB, Tahun 2006 – 2009 *) Angka sementara

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 22

BAB II PDRB per kapita atas dasar harga berlaku selama kurun waktu 2000 sampai 2009 berkembang dengan pesat dengan rata-rata peningkatan sebesar 916.182 rupiah per tahun. Kenaikan terbesar terjadi pada tahun yang relatif besar terjadi tahun 2008, 2007 dan 2005 dengan pertumbuhan masing masing diatas 10% (Tabel II.11). PDRB per kapita berdasarkan harga konstan 2000 juga mengalami kecenderungan peningkatan namun relatif lebih rendah daripada tingkat pertumbuhan PDRB per kapita atas dasar harga berlaku. Lebih tingginya pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku disebabkan karena terjadinya peningkatan harga barang dan jasa yang cenderung berlangsung terus menerus.
Tabel II.12. PDRB Perkapita Dengan Migas Menurut Provinsi di Kalimantan 2007 – 2009 (Rp)

Provinsi Kalimantan Barat Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah
Sumber : PDRB, Tahun 2007 – 2009 *) Angka sementara

2007 10.165.998 73.602.055 11.610.975 13.771.080

2008 11.393.992 101.532.771 13.276.160 15.767.356

2009*) 12.471.411 88.920.062 14.514.675 17.366.788

Berdasarkan nilai PDRB total, posisi Kalimantan Selatan dibanding provinsi lainnya di Kalimantan berada diurutan ketiga. Tidak jauh berbeda jika dilihat dari PDRB per kapita, posisi Kalsel juga berada diurutan ketiga dalam wilayah Kalimantan. Provinsi Kalimantan tengah yang secara total nilai PDRBnya berada pada urutan paling rendah ternyata menduduki posisi kedua dilihat dari PDRB per kapitanya (Tabel II.12) Tingkat kemerataan pendapatan di Kalsel relatif konstan dalam periode 2005 – 2009. Berdasarkan angka indeks gini (Gini Ratio) maka tingkat distribusi pendapatan selama ini tergolong pada kemerataan sedang. Hal ini berarti tingkat ketimpangan pendapatan antar penduduk tidak berlangsung tajam. Perbedaan pendapatan kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi tidak terlalu jauh diatas kelompok berpendapatan rendah 2.2.1.3. Pemerataan Pembangunan Tujuan pembangunan dalam aspek kewilayahan diantaranya adalah untuk mewujudkan tercapainya tingkat pembangunan yang relatif merata antar daerah. Terdapat 13 Kabupaten/Kota sebagai daerah-daerah yang tersebar dalam wilayah pembangunan Provinsi Kalsel. Perbandingan PDRB, jumlah penduk, dan PDRB per kapita antar daerah terlihat pada Tabel II.13.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 23

631 Sumber: BPS.192 08.618 270. Kal-Sel.538. Banjar 3.091 02. pembentukan modal tetap bruto. Hulu sungai selatan 999.866.120.443.521 193. Tapin 908.008. Tanah bumbu 2.425 6.332 05. investasi maupun ekspor.252 244.613 12.006 627.889.009.839.160 4.063 7.2008 Tahun 2004 2005 Indeks Williamson 0.1.446.711. sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Hulu sungai Utara. Hulu sungai tengah 987.585 13.501 3. Barito kuala 1.777 226.641. Angka indeks williamson Kalimantan Selatan dari 2004 – 2008 relatif konstan dari tahun ketahun seperti nampak pada Tabel II.158 13. Kotabaru 4.536. Banjarbaru 858.839 208. Tabel II. PDRB menurut penggunaan terdiri dari komponen konsumsi rumah tangga. Pengeluaran Agregate PDRB selain disajikan menurut lapangan usaha sebagai cerminan dari nilai tambah yang ditimbulkan akibat adanya berbagai aktivitas ekonomi di setiap sektor (lapangan usaha) juga dapat disajikan menurut penggunaannya. Untuk mengukur Ketimpangan antar wilayah salah satu alatnya adalah dengan menggunakan indeks williamson.47 2007 0.45 2.416 6.BAB II Tabel II.435.082 10. Daerah dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kota Banjarmasin sedangkan yang paling sedikit adalah Kabupaten Balangan.238 153. 2006 0.471.333. PDRB menurut penggunaan dapat menggambarkan kemampuan daerah dalam menggunakan dan mengalokasikan kembali hasil dari proses produksi tersebut baik untuk keperluan konsumsi. Hulu sungai utara 768. PDRB Kabupaten/Kota menurut lapangan usaha Tahun 2009 Dari tabel tersebut nampak bahwa daerah dengan total PDRB tertinggi adalah Kabupaten Kotabaru sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Huku Sungai Utara.556.938.Juta) Penduduk (Jiwa) PDRB Per Kapita 4 7.856.935.282 5.128.950 272.14 Indeks Williamson Di Kalimatan Selatan Tahun 2004 .754.208 11.205.13 PDRB perkapita dengan Migas Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut kab/Kota Tahun 2008 (Ribuan Rupiah) Kabupaten/Kota PDRB (Rp. Prov.429 5.582 102.237 4.245 13.907.451. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .14.056 04.105 216. Tanah laut 2. tahun 2009 (diolah kembali).681.40 0.2.296 12.008 16.066 06.704.045.46 Sumber: BPS.458.899. Tabalong 2.318.909.737 Kalimantan selatan 27.2015 Page 24 . Banjarmasin 4.571 07.736.957.47 2008 0.574 03. konsumsi pemerintah.408 3.120. Balangan 1. Nilai PDRB per kapita yang menunjukkan tingkat rata-rata PDRB bagi tiap penduduk yang tertinggi adalah di Kabupaten Kotabaru.152 389.390.830 1 2 3 01.894 11.4.727.794. Meski demikian derajat ketimpangan tersebut masih berada kategori sedang.905.397 276.942 167.181 09. perubahan stok dan ekspor netto.

67 70. selama tiga tahun terakhir kontribusinya menunjukkan trend positif pada tahun 2008 mencapai sekitar 18.49 13.47 15.BAB II Pola distribusi yang terbentuk dari kelima komponen penggunaan PDRB hampir sama setiap tahunnya.12 persen Berbeda dengan Konsumsi RT yang cenderung meningkat pesat.00 Tabel II.15 PDRB Menurut Penggunaan Di Kalimantan Selatan Tahun 2006 – 2009 (%) Penggunaan Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Bruto Perubahan Stok Ekspor Impor ( .84 -17.86 68.26 persen dan kontribusi komponen konsumsi rumah tangga sebesar 47. Tercatat tahun 2008 kontribusi komponen ekspor sebesar 69.50 0.00 2009*) 50. Selain kedua komponen itu.00 2008 50.3 0.04 20. dan lain-lain-.48 100.43 14.2015 Page 25 .36 persen. Tabel II.99 0. Sementara itu komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang merupakan pengeluaran untuk pembelian barang modal yang umumnya akan digunakan sebagai alat untuk berproduksi. komponen impor juga mempunyai kontribusi yang cukup besar yaitu 30. Lebih rendahnya kontribusi komponen PMTB dibandingkan dengan komponen konsumsi rumah tangga menunjukkan bahwa penggunaan PDRB di Kalimantan Selatan masih cenderung bersifat konsumtif.90 27.12 -15. belanja barang.60 64. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . selama tiga tahun terakhir kontribusinya menunjukan trend positif pada tahun 2009 mencapai sekitar 20. Selama ini produksi barang dan jasa sebagian besar masih digunakan untuk keperluan ekspor dan konsumsi rumah tangga.5 100.5 persen.15).33 18. Konsumsi pemerintah –yang mencakup pengeluaran rutin. belanja perjalanan dinas.42 41.15 memperlihatkan bahwa selama periode 2007-2009 semua komponen PDRB menurut penggunaannya mengalami peningkatan dan impor mempunyai kontribusi yang cukup besar yaitu 41. Tahun 2007 – 2009 2007 51.) Total Sumber : PDRB. Selama tiga tahun terakhir kontribusi dari kedua komponen tersebut selalu di atas 40 persen.45 14. seperti belanja pegawai.35 -21.66 persen.justru memperlihatkan pertumbuhan yang sedikit naik. Sementara itu komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang merupakan pengeluaran untuk pembelian barang modal yang umumnya akan digunakan sebagai alat untuk berproduksi.64 persen (Tabel II.36 100.89 30.

5. jeruk dan pisang.91 Total 6.06 6. ubi jalar.835 ton naik menjadi 1.992 ton pada tahun 2009.17.35 5.75 15. Ketersediaan bahan pangan dan kebutuhan pangan Kalimantan Selatan pada tahun 2009 disajikan pada Tabel II. jagung.1.02 5. Impor ( . Komoditi ini juga menjadi komoditas unggulan tingkat nasional.92 5. dan buah-buahan tergolong surplus. beras. serta segala jenis kendaraan). Konsumsi Rumah Tangga 10.01 Komponen Pembentukan Modal tetap Bruto (dalam bentuk bangunan/konstruksi.51 15. minyak sawit dan gula ketersediaan tergolong minus. jika dilihat selama kurun waktu tahun 2007-2009 pertumbuhan komponen PMTB Kalimantan Selatan mengalami penurunan walaupun pertumbuhannya masih cukup besar. Produksi padi tahun 2005 sebesar 1.63 2.2015 Page 26 . Ketersediaan komoditas pangan hewani pada tahun 2009. Pada tingkat produksi ini. jagung. terutama padi. Penurunan ini terkait dengan menurunnya investasi PMA dan PMDN pada tahun 2009 ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2. mesin-mesin dan alat-alat perlengkapannya. telur dan ikan tergolong surplus. Tahun 2007 – 2009 2009*) (4) 5. sayuran.956. Kalimantan Selatan berhasil mencapai surplus beras yang semakin besar dan merupakan provinsi yang kesembilan sebagai penyumbang dan penyangga produksi padi nasional. seperti daging.32 1.72 5. Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba 2.51 48. ubi kayu. Pembentukan Modal Tetap Bruto 38.68 4. kacang tanah.) -34. seperti padi.23 Sumber : PDRB.13 23. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Konsumsi Pemerintah 6. sedangkan ketersediaan susu tergolong minus.61 3.BAB II Tabel II. gizi seimbang dan terjangkau oleh seluruh masyarakat.01 6. Ketahanan Pangan Komoditas andalan Kalimantan Selatan adalah padi.13 6.16 Pertumbuhan PDRB Menurut Penggunaan di Kalimantan Selatan Tahun 2007 – 2009 (%) Komponen Penggunaan 2007 2008 (1) (2) (3) 1.05 -1. sedangkan kedelai. Ketahanan pangan akan dicapai apabila terpenuhinya kebutuhan pangan yang cukup.80 6. Produksi tanaman pangan akan mendukung ketersediaan bahan pangan.598. Ketersediaan beberapa komoditas bahan pangan nabati pada tahun 2009.2.84 6. Ekspor 12.

997. Pada tahun 2009. Ketersediaan dan Kebutuhan Bahan di Kalimantan Selatan Tahun 2009 Komoditi I.766.570. Kal-Sel.59 13.729.669.83 100. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .948.705.767.77% dibandingkan surplus padi pada tahun 2008.130.72 -12.86 17.19 31. 2010 Padi atau beras merupakan bahan pangan pokok.502 50.139.97 136.57 -107. surplus padi dan beras mengalami peningkatan masing-masing sebesar 105.680 265.669.09 50.97 136.235.480.87 854.14 14.767.52 -18. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sumber : BKP Prov.911.247.09 581. Perbandingan perimbangan ketersediaan bahan pangan nabati Kalimantan Selatan tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel II.48 113.588.50 581.86 Surplus Meningkat Kedelai -12.480.13 50.94 -108.03 2.90 -51.036 47.50 105.59 2.247.714.14 14.28 196.767.36 266.093 31.953 42.18 Tabel II.319.591.90 -51.869 16.62 124.894.16 16.11 98.100.83 23. Perbandingan Perimbangan Ketersediaan Pangan Nabati di Kalimantan Selatan 2008 Dan 2009 Perimbangan (Ton) Persentase Ket Komoditi Tahun 2008 Tahun 2009 Thd 2008 Pangan Nabati Padi 813.836 97.90 51.600.247.738.089.319.77 13.2015 Page 27 .645 139.23 Keterangan surplus surplus surplus minus surplus surplus surplus minus surplus minus minus surplus surplus minus surplus 2.741.089. Kal-Sel.975.77 Surplus Meningkat Jagung -59.525. Dengan demikian.51 101.353. Kalimantan selatan potensial mempertahankan swasembada pangan terutama beras sehingga tetap dapat menjadi lumbung beras atau penyangga beras nasional.399 1.918.23 -207.157.57 -107.43 149.012.73 Sumber: BKP Prov.BAB II Tabel II.22 111.262. 1.053.159.95 34. 12 13 14 15 Pangan Nabati (Ton) Padi Beras Jagung Kedelai Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar Sayur-sayuran Buah-buahan Minyak Sawit Gula Pangan Hewani (Kg) Daging Telur Susu Ikan Tahun 2009 Ketersediaan Kebutuhan Perimbangan 854. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 II.03 Surplus Meningkat Beras 555.28 196.545.32 101.50 690.96 1.65 301.01 5.769.696.144.52 -18.68 18. 1.21 62.271.130.59 93.978.326 4.068.58 -50.978.95 104.600.978.144.51 Surplus Meningkat Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Menurun Surplus Meningkat Minus Meningkat Minus Meningkat I.83 47.929.999.03% dan 104.42 173.559.82 Minus Menurun Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar Sayur-sayuran Buah-buahan Minyak Sawit Gula 13.28 68.50 -18.18.50 34.84 157.559.84 -12.096 95 175.92 122.716.17.

Konsumsi daging per kapita/hari dari tahun 2006-2009 mengalami kenaikan. Masuknya beras kedalam katalog menyebabkan beras akan dikenakan kebijakan penghapusan tarif impor.62 ton sementara ketersediaan dari produksi dalam daerah hanya 95 ton.5 Kg telur dan 6. Pencapaian Konsumsi pangan hewani asal ternak masyarakat Kalimantan Selatan tahun 2008 menurut hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional adalah konsumsi daging 15.21 persen untuk telur dan 30. telur dan susu di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.00 gram/kapita/hari atau setara dengan 10. Sehingga dengan hasil usaha tani demikian produk pertanian Kalimantan Selatan kalau tidak segera dibenahi akan sulit bersaing pada era perdagangan bebas sekarang ini. namun masih sangat kekurangan ketersediaan susu.29 persen untuk daging. karena itu perlu disikapi dalam menghadapi kemungkinan komoditas beras menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam katalog AFTA ASEAN. Hal ini karena konsumsi masyarakat banyak beralih ke konsumsi daging dari jenis ternak lain yang harganya lebih murah dibanding harga daging sapi potong. karena sebagian masyarakat menganggap jenis dagingnya sama dengan daging sapi. Selain itu.19.80 persen untuk susu. 4 Kg susu per kapita per tahun atau setara dengan daging 27.324 kg diekspor ke provinsi tetangga (Kalimantan Tengah).2 gram/kap/hari dan susu 5.59 gram/kapita/hari dan susu 17. karena mutu yang belum memenuhi standar dan belum adanya jaminan suplai/produksi yang kontinyu. kacang. 200. Pertumbuhan rata-rata konsumsi daging dari tahun 2006-2009 sebesar 40. Pada tahun 2009 Provinsi Kalimantan Selatan telah mengalami peningkatan surplus daging dan telur dari tahun 2008.2015 Page 28 . Kalimantan Selatan siap swasembada daging tahun 2014 karena Kalimantan Selatan sejak tahun 2008 mengalami surplus daging dan telur.87 persen. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .11%). produksi daging yang dihasilkan sebesar 1. ubi kayu.67 gram/kapita/hari.4 gram/kap/hari atau baru mencapai 55. ubi jalar dan buah-buahan membutuhkan suatu kebijakan untuk menghindari jatuhnya harga bahan pangan yang mengakibatkan petani rugi. namun untuk konsumsi daging sapi potong mengalami pertumbuhan negatif (3. Produk tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan sebagian besar belum mempunyai daya saing yang kuat. telur 9. jagung. Konsumsi daging.1 Kg daging. Produktivitas padi masih dibawah produktivitas nasional. dan diperlukan pergudangan yang refresentatif untuk menampung kelebihan bahan pangan sehingga kualitas tetap terjaga. telur 19.53 gram/kapita/hari. selain itu adanya konstribusi daging kuda dan kerbau.646.BAB II Surplus bahan pangan seperti padi/beras. tentunya persaingan perdagangan beras dari kompetitor-kompetitor produsen beras seperti Thailand dan Vietnam akan semakin berat dan apabila tidak diantisipasi akan semakin memperpuruk kondisi kesejahteraan petani padi. dimana kebutuhan akan susu sangat besar yaitu mencapai 301. Standar kecukupan konsumsi protein hewani yang ditetapkan FAO adalah minimal sebesar 6.3 gram/kap/hari. 3.

318 21.755.557 185.23 -207.613.322 (3.712.649 4. Telur Dan Susu di Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009 Tahun Pertumbuhan No.911.969 4.617 363.956 23.15 dan perbandingan surplus-minus ketersediaan terhadap kesediaan pangan hewani tahun 2008 disajikan pada Tabel II.78 5 Domba 16.078 13.494 14.053.48 6 Babi 346. 2010 Kurangnya ketersediaan susu disebabkan oleh menurunnya jumlah populasi sapi perah dan masih minimnya sarana prasarana untuk pengolahan susu sapi di Kalimantan Selatan.026 16.938 935.752 263.76 Rata-rata Pertumbuhan 40.063 5.742.185.248 811. Jenis Ternak 2006 2007 2008 2009 A.015.890 24. Kalsel.524 725.831 3.980.096 95 175.993 12.190.204 16.74 Rata-rata Pertumbuhan 12.157.166.649 2.734 129.242 13.402 1.09 50.73 Perimbangan 47.679 30.61 8 Ayam Ras Petelur 203.2015 Page 29 . Daging (Kg) 1 Sapi Potong 5.159.063 264.100.649.06 B.371 11.35) 7 Ayam Buras 3. Konsumsi Daging.823.162.146.82) Sumber: Dinas Peternakan Prov.31 9 Ayam Ras`Pedaging 19.205.502 50. Ketersediaan dan kebutuhan pangan hewani tahun 2009 disajikan pada Tabel 2.651 18.614.879.742 5.605 14.886 88.570.581 (8.186 10.19 31.649.230 356.892. 1 2 3 4 Pangan Hewani (Kg) Daging Telur Susu Ikan Ketersediaan 47.11) 2 Kerbau 773.BAB II Tabel II.970 17.210 25.524.509 295.427 37.158 1.318 16.473.894.525.068.87 B.909 7.252 257.502.552.38 2 Ayam Ras Petelur 13.861 22.19.85 3 Kuda 965 2.04 3 Itik 15.563 266.738.451 (7.085.65 301.62 124.299.78 10 Itik 836.20 Ketersediaan dan Kebutuhan Pangan Hewani di Kalimantan Selatan Tahun 2009 Komoditi I.137 520.077.844 26.714. Telur (Kg) 1 Ayam Buras 3.987 1.13 50. 20.60 4 Kambing 232.591. Susu (Liter) 1 Sapi Perah 292.467 5.948 5.23 Keterangan surplus surplus minus surplus RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .403.96 Kebutuhan 23.201 956. Tabel II.728 5.131.672 309.990 12.526 1.717 4.

868.120 36.103. anak jalanan.158 2.655 Tuna Susila 38.16 101.09 36.21 73. Kesejahteraan masyarakat bergantung pada status ekonomi masyarakat.281 1.296 Korban NAPZA 16.029 Balita Terlantar 58. Pada sisi lain juga terjadi efek terhadap masyarakat dalam bentuk keterbatasan kemampuan sosial dalam masyarakat.317 Bekas Narapidana 55.850 53.114 30.2.880 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2.36 Ket Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Meningkat Surplus Meningkat Sumber Data : BKP Prov. Kal-Sel.1.867 16.745 Penderita Penyakit Kronis 685 622 Gelandangan 1. Taraf Kesejahteraan Sosial. 1 2 3 4 Pangan Hewani Daging Telur Susu Ikan Perimbangan (Ton) Tahun 2008 Tahun 2009 19.27 535.842 1. konitas adat terpencil dan lain sebagainya sebagaimana tabel II.421. 2010 2.295 Wanita Rawan Sosial Ekonomi 715 2.140 Pengemis 3.594 Lanjut Usia Terlantar No.46 -207.389. Bentuk keterbatasan ini akan muncul dalam bentuk masalah kesejahteraan sosial seperti balita terlantar.065 3. anak nakal.300 50.35 -204.586 17.067.21.2.786 652 1.81 11.22 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 Tahun Kab/Kota 2006 2007 19.BAB II Tabel II. Salah satu beban tersebut adalah tingginya angka ketergantungan penduduk dalam masyarakat.2.01 58.22 Tabel II.823.671 391 376 920 16.086 Wanita Korban Tindak Kekerasan 2.320 4.36 55.124 1. Perbandingan Perimbangan Ketersediaan Pangan Hewani di Kalimantan Selatan Tahun 2008 dan 2009 Komoditi I.002.781. keluarga rentan sosial.288 6.571 3.858 3. Besarnya beban ekonomi dan kecilnya pendapatan yang diperolah sebagian kecil kalangan belum mampu memberikan tingkat kesejahteraan yang baik.88 Persentase Thd 2008 285.946 Anak Janalan 1.998 57.357 2.836.2015 Page 30 .758 Anak Terlantar 4.142. anak terlantar. wanita rawan sosial ekonomi.284 397 Anak Nakal 237 252 Anak Korban Tindak Kekerasan 479 1.29 204.543 Penyandang Cacat 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 2008 58. Kesejahteraan Sosial 2.

melanjutkan program Gerbangmastaskin. dan dari tahun 2007 ke 2008 terjadi penurunan sebesar 2. Keberhasilan pembangunan kesejahteraan sosial di Kalimantan Selatan.220 29. Penyelesaian penyandang masalah kesejahteraan sosial. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .817 35. Kondisi ini memang tidak dapat dihindari mengingat. 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Kab/Kota Lansia Korban Tindak Kekerasan Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis Keluarga Fakir Miskin Rumah Tidak Layak Huni Korban Bencana Alam Keluarga Tinggal di Daerah Rawan Bencana Komonitas Adat Terpencil Anak Cacat Keluarga Rentan Penderita HIV/AIDS Bencana Sosial Pekerja Migran Terlantar Jumlah 2006 51 5.461 250 35. dan melaksanakan revitalisasi program pembangunan kesejahteraan sosial.652 8.338 No.380 75.BAB II Tahun 2007 4.46%. belum cukup memuaskan. meningkatkan motivasi tenaga pendampingan PMKS. Tantangan kedepan adalah meningkatkan ketersediaan dan kecukupan dana bantuan.346 465. penyediaan modal usaha mikro.021 6. Pada tabel tersebut di atas menunjukkan.435 90 1. pelayanan kesejahteraan sosial melalui panti sosial dan rehabilitasi sosial.822 9.610 33.419 35.269 1.821 19 1. bahwa jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial dari tahun 2006 ke 2007 terjadi peningkatan sebesar 38.654 6.817 67. keterbatasan pemerintah memberikan/ menyediakan bantuan.793 106. Tingkat kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Selatan pada akhir-akhir ini sudah mengalami peningkatan.425 3.2015 Page 31 .303 33.887 75. mungkin tidak dapat dilaksanakan secara keseluruhan dalam waktu bersamaan.423 37. dan pemberdayaan tenaga pendampingan PMKS masih belum optimal.249 239 344. mendukung dan memfasilitasi pelaksanaan program-program pro-rakyat.158 8. dengan melakukan upaya/program bersifat proyek padat karya.458 1.637 34. peran serta masyarakat dalam pengembangan kesetiakawanan sosial perlu terus ditingkatkan pada berbagai strata kehidupan masyarakat.312 34.037 477.406 5. meningkatkan bea siswa pendidikan.921 Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Selatan berbagai upaya telah dilakukan yaitu dengan meningkatkan pendapatan masyarakat dan menurunkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.39%. hal ini tercermin pada turunanya angka penduduk miskin. namun tidak mengabaikan variabel yang lain. meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program kesejahteraan sosial. perlu adanya penetapan prioritas dari sejumlah variabel.726 2008 54 3.

BAB II 2.2.2.2. Pendidikan Angka Partisipasi Sekolah Salah satu indikator keberhasilan pendidikan tercermin pada tingkat partisipasi pendidikan baik secara kasar maupun murni. Terjadi trend capaian angka partisipasi yang sangat baik selama kurun waktu tahun 2005 s.d. 2009
a.

Pada tahun 2005 angka Partisipasi Kasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebesar 41,02, kemudian meningkat menjadi 54,25 pada tahun 2009. Pada tahun 2005 Angka Partisipasi Murni (APM) SD sebesar 92,67 meningkat menjadi 99,02 pada tahun 2009. Khusus untuk APK SLTP pada tahun 2005 sebesar 77,79 menjadi 97,05 pada tahun 2009. APK SLTA pada tahun 2005 sebesar 53,91 meningkat menjadi 74,29 pada tahun 2009. Kondisi ini dapat dilihat pada Tabel II.23 :
Tabel II.23 Angka Partisipasi Sekolah di Kalimantan Selatan Tahun 2005-2009 Indikator APK PAUD APK SD/MI APK SMP/MTs/SMPT APK SMA/SMK/MA Prosentase Capaian 2005 41,02 95,33 77,79 53,91 2006 45,24 95,36 85,01 63,13 2007 48,07 96,26 90,41 72,34 2008 53,50 98,28 96,18 74,22 2009 54,25 99,42 97,05 74,29

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan usia emas untuk mengembangkan intelektual SDM, sekaligus menjadi pondasi dasar pendidikan yang berkualitas. APK PAUD tahun 2009 baru mencapai 54,25%, berarti 45,75% jumlah anak usia PAUD masih perlu perhatian utama di antara jenjang pendidikan lainnya. APK pada jenjang SLTA baru mencapai 74,29%, sisanya masih 35,71% atau lebih belum menduduki sekolah SLTA. Rendahnya APK SLTA ini berarti akan menyumbang angkatan kerja yang kompetensinya hanya berpendidikan SLTP (Pendidikan Dasar), sementara dunia usaha atau lapangan kerja memerlukan tingkat kompetensi yang lebih tinggi. Tabel II.24 Angka Partisipasi Sekolah di Kalimantan Selatan Tahun 2005-2009
Indikator APM PAUD APM SD/MI APM SMP/MTs/SMPT APM SMA/SMK/MA Prosentase Capaian 2005 0 92,67 57,47 53,09 2006 0 94,44 67,70 59,04 2007 0 95,88 75,43 66,13 2008 0 98,12 77,86 63,30 2009 0 99,02 85,06 67,58

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 32

BAB II b. Hasil Ujian Nasional Kualitas pendidikan dapat dilihat pada perolehan nilai hasil ujian yang ditempuh anak didik. Kondisi ini juga mengalami perbaikan meskipun masih perlu upaya yang lebih keras dan terarah dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar terutama penerapan asesmen pada proses daripada hasil untuk memantau kemajuan penguasaan kompetensi anak didik. Rata-rata nilai ujian nasional 6,29 untuk tingkat SLTP dan 6,87 untuk tingkat SLTA pada tahun 2007/2008. Lebih jelas dapat diamati pada tabel II.25
Tabel II.25 Hasil Ujian SLTP dan SLTA di Kalimatan Selatan 2005/2006 S.D 2008/2009 Realisasi Nilai Ujian Jenjang Pendidikan 2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009 SLTP 5,90 6,00 6,29 7,08 SLTA 6,51 6,99 6,87 6,97
Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

Hasil ujian nasional ini menunjukkan tingkat kemampuan siswa secara nasional dalam pembelajaran. Hasil ujian SLTP tahun 2008/2009 rata-rata 7,08 menunjukkan angka yang meningkat dari tahun 2007/2008 dengan rata-rata 6,29 berarti telah terjadi peningkatan perolehan rata-rata nilai hasil ujian yang dialami oleh siswa. Begitu juga dengan hasil ujian SLTA tahun 2008/2009 rata-rata 6,97; juga terjadi peningkatan perolehan rata-rata nilai hasil ujian yang dialami oleh siswa dibanding perolehan tahun 2007/2008 dengan rata-rata 6,87. c. Penuntasan Buta Aksara Dalam rangka penuntasan buta aksara di Kalimantan Selatan telah berhasil menurunkan angka buta aksara bagi penduduk usia 15 s.d 45 tahun. Perkembangan keberhasilan penurunan angka buta aksara ini terlihat pada capaian yang terjadi, di mana pada tahun 2005 jumlah buta aksara sebanyak 44,424 orang telah berhasil dituntaskan pada tahun 2008.
Tabel II.26 Penuntasan Buta Aksara di Kalimantan Selatan 2006 s.d. 2009 Realisasi Indikator Sasaran 2006 2007 2008 2009 Buta Aksara >15 s.d 44 th 44.424 (100%) 11.114 (25,02%) 19.730 (44,41%) 13.580 (30,57%) 16.870

Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel

Keberhasilan penuntasan buta aksara dilakukan bekerjasama dengan pemerintah pusat, provinsi dan Kabupaten/Kota. Untuk mempertahankan tuntas buta aksara, perlu terus dilakukan kegiatan pembinaan di setiap kabupaten/kota. Berdasarkan hasil rapat kerja Percepatan Pemberantasan Buta Aksara, di RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 33

BAB II Kalimantan Selatan masih terdapat lembaga pendidikan yang tidak mengajarkan bahasa Indonesia, tetapi pengajaran menggunakan bahasa Arab. Pada sisi lain berdasarkan konsensus Kemendiknas dengan BPS, bahwa Angka Buta Aksara yang terjadi di Kalimantan Selatan masih tersisa sebesar 4,67% pada akhir tahun 2009 untuk usia 15 tahun ke atas. 2.2.2.3. Kesehatan

Secara nasional Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan menurun dari 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI, 2007). Di Provinsi Kalimantan Selatan, prevalensi gizi kurang pada balita menurun 20% pada tahun 2006 menjadi 12,38% pada tahun 2009 (Laporan Program Gizi Dinkes, 2009). Angka Kematian Bayi (AKB) menurun dari 58 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 menjadi 50 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2009. Sejalan dengan itu Umur Harapan Hidup meningkat dari 62 tahun menjadi 63,45 tahun pada tahun 2009 (Susenas 2009, BPS). Upaya kesehatan masyarakat mengalami peningkatan capaian seperti cakupan rawat jalan sudah mencapai 15,26% pada tahun 2009. Cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan meningkat dari 83,48% pada tahun 2007 menjadi 89,80% pada tahun 2009. Cakupan pelayanan antenatal (K4) meningkat dari 78,58% pada tahun 2007 menjadi 83,59% pada tahun 2009. Cakupan kunjungan neonatus meningkat dari 92,13% pada tahun 2007 menjadi 93,25% pada tahun 2009. Pelayanan kesehatan dasar bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di Puskesmas mencapai target yaitu sebesar 100% dan seluruh 1.346 (68.50%) desa di Kalimantan Selatan telah menjadi Desa Siaga. Namun perhatian perlu diberikan kepada pengembangan Desa Siaga karena belum semua desa memiliki Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), masih terbatasnya jumlah Puskesmas yang mampu melaksanakan pelayanan obsterik neonatal emergensi dasar (PONED) dan perlunya peningkatan mobilisasi ibu hamil untuk bersalin pada tenaga kesehatan dan upaya peningkatan kualitas Posyandu menjadi Posyandu Purnama dan Mandiri perlu lebih digiatkan. Upaya kesehatan perorangan mengalami peningkatan dan beberapa indikator telah mencapai target, bahkan melebihi target seperti peningkatan jumlah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan gawat darurat meningkat dan mencapai 90%. Jumlah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan obstetrik neonatal emergensi komprehensif (PONEK) meningkat dari 2 rumah sakit menjadi 5 rumah sakit. Pada program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular juga mengalami peningkatan capaian walaupun penyakit infeksi menular masih tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menonjol di Kalimantan Selatan terutama tuberkulosis paru (TB paru), malaria, DBD dan diare. Cakupan program imunisasi berdasarkan laporan rutin dari Kabupaten/Kota secara umum menunjukkan peningkatan. Cakupan imunisasi pada tahun 2009 adalah BCG 93.4%, DPT-HB3 91.6%, HB (0-7 hari) 59.2%, Polio 4 90.2 % dan Campak 90.8%. Meski telah berjalan baik, program imuniasi belum optimal, karena cakupan saat ini belum merata yang digambarkan melalui persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization (UCI) pada tahun 2009 mencapai 64.68%. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 34

000 penduduk (target 75 per 100. perbaikan gizi perlu difokuskan pada kelompok sasaran ibu hamil dan anak sampai usia 2 tahun mengingat dampaknya terhadap tingkat pertumbuhan fisik. yaitu sebesar 13. Untuk penyakit tidak menular.000 penduduk (target 11 per 100.000 penduduk (target 9 per 100. 2007).2015 Page 35 . prevalensi kekurangan gizi pada anak balita sebesar 10.000 penduduk). Hasil Riskesdas menunjukkan terjadinya perbaikan status gizi anak balita.3 per 100. Keadaan gizi pada ibu hamil. daerah endemis semakin meluas dan ada kecenderungan terjadi resistensi di daerah endemis.000 penduduk).000 penduduk) dan bidan sebesar 43. berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan peningkatan kasus dan penyebab kematian. menutup.9% pada tahun 2009. dokter gigi sebesar 7. perawat sebesar 157. perlu peningkatan upaya promotif dan preventif serta kerja sama sektor terkait dengan man made breeding places.5% dan tingginya prevalensi anak balita yang pendek (stunting) akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu lama (kronis) yaitu 36. Untuk itu perlu perhatian pada upaya pencegahan yang dapat diupayakan sendiri oleh masyarakat dengan penerapan 3M (menguras. pemberdayaan masyarakat dan ketersediaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) ditingkat pelayanan primer harus diperhatikan. dokter umum sebesar 26. 38 tahun 2000 dan PP No. walaupun demikian angka kematian akibat DBD relatif kecil. Disparitas status gizi juga cukup lebar antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi. Untuk malaria.000 penduduk (target 30 per 100.000 penduduk (target 158 per 100. selain itu juga terkait dengan pembagian kewenangan dalam pengaturan SDM Kesehatan (PP No.000 penduduk). Angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) masih tinggi. SDM kesehatan merupakan salah satu isu utama yang mendapat perhatian terutama yang terkait dengan jumlah. Ketersediaan reagen. Rasio tenaga kesehatan per 100. Untuk dokter spesialis 4. jenis dan distribusi.BAB II Penanggulangan penyakit HIV/AIDS. 41 tahun 2000). Case Detection Rate (CDR) TB paru menurun menjadi 30.40% gizi kurang dan 0. Oleh karena itu diperlukan penanganan yang lebih seksama yang didukung dengan regulasi yang RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kedepan. untuk itu perlu perhatian lebih pada upaya deteksi TB paru dan juga keberhasilan pengobatannya.75 per 100.000 penduduk). kecerdasan dan produktivitas generasi yang akan datang. Dalam pembangunan kesehatan.000 penduduk belum memenuhi target yang diharapkan.7 per 100. Penemuan kasus HIV/AIDS meningkat dengan meningkatnya out reach dan keterbukaan masyarakat terhadap penyakit ini.30% gizi buruk.000 penduduk. mengubur) dan juga didorong oleh upaya promotif. Selain itu perhatian juga perlu diberikan pada penyelenggaraan sistem surveilans dan kewaspadaan dini yang kurang mendapat perhatian pada penganggarannya.75 per 100.8 per 100. Beberapa hasil yang telah dicapai oleh program perbaikan gizi masyarakat antara lain pemberian kapsul vitamin A pada anak balita usia 6 – 59 bulan sebesar 90% melampaui target 80% dan pemberian tablet besi (Fe) pada ibu hamil telah mencapai 90% dari target 80%.26 per 100. diabetes melitus dan obesitas. terutama pada kasus kardiovaskuler (hipertensi). bayi dan anak balita perlu terus ditingkatkan karena masih tingginya bayi yang lahir rendah (BBLR) sebesar 11.8% (Riskesdas. TB paru dan malaria sudah mengalami peningkatan pengendaliannya untuk masa yang akan datang.70% yang terdiri dari 10.

harga murah tetapi akses masyarakat terhambat karena adanya asymetric information dan praktek pemasaran yang kurang baik dan sekitar 30% obat resep dijual langsung oleh dokter. akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi telah berhasil ditingkatkan. 2. Pembangunan kesehatan perlu memberikan penekanan pada peningkatan kesetaraan gender (gender equity) dalam rangka memberikan kesempatan yang sama untuk memperoleh akses.74% dari target 95%.d 2009.66%. Indikator lainnya seperti Desa Siaga sampai dengan tahun 2009 sudah mencapai 1958 desa/kelurahan se-Kalimantan Selatan.3% menjadi 60. dan peningkatan persentase tempat tempat umum (TTU) sehat 78. Dalam pengadaan obat sering terkendala sistem pengadaan yang berpotensi menimbulkan terputusnya ketersediaan obat dan vaksin. Kemiskinan Trend angka kemiskinan mengalami penurunan sejak tahun 2005 s.2. Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat mengalami peningkatan capaian. meskipun sempat terjadi peningkatan dari 235.3 % pada tahun 2006 hingga menjadi 5.2. seperti rumah tangga dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) meningkat menjadi 48. Untuk kesehatan lingkungan.12% pada tahun RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Selain itu kita juga perlu memberikan perhatian pada terjadinya peningkatan rumah tangga yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah dan masih ada rumah tangga yang memelihara unggas atau ternak dalam rumah.23% belum mencapai target sebesar 75%.3%. partisipasi.15% sedangkan pada tahun 2006 menjadi 8.450 jiwa pada 2006.2015 Page 36 . manfaat dan kontrol antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dan perannya dalam pembangunan kesehatan. Walaupun ketersediaan OGB tinggi. Diharapkan pada akhir pembangunan 5 tahun ke depan (2015) terjadi pengingkatan Indeks Pembangunan Gender (IPG) Provinsi Kalimantan Selatan. selain itu pemberian ASI eksklusif yang menurun disebabkan baik oleh perilaku maupun besarnya pengaruh dari luar seperti pemberian susu formula gratis pada saat ibu melahirkan.d 2009 angka kemiskinan secara konsisten menurun dari 8. Selama periode tahun 2006 s.4. dan sistem pengembangan karier.700 jiwa pada 2005 menjadi 278. namun kita harus memberikan perhatian pada perilaku merokok yang semakin memburuk dengan makin mudanya usia awal perokok. persentase keluarga menggunakan air bersih meningkat dari 58. reward-punishment.33% dari target 85% pada tahun 2010.BAB II memadai dan pengaturan insentif. seperti peningkatan pada persentase keluarga menghuni rumah yang memenuhi syarat kesehatan mencapai 73. Ketersediaan obat esensiel generik di sarana pelayanan kesehatan baru mencapai 69. Prosentase penduduk miskin pada 2005 sebesar 7. bidan atau perawat. Peresepan Obat Generik Berlogo (OGB) di Puskesmas sudah sebesar 90% namun di RSU sebesar 66% dan Rumah Sakit Swasta dan apotek sebesar 49%. Anggaran untuk obat esensiel generik di sektor publik sebesar 14.47% dengan target setara dengan $ 2 US perkapita.5% belum mencapai target 85% pada tahun 2010.

0 4.73 INDONESIA 11 910.8 130.15 Sumber : BPS Nasional.900 175. Jumlah Penduduk Miskin di Kalimantan Selatan Periode 2005 .30 Kalimantan Tengah 35.8 107.-.8 7. Respon terhadap program nasional penanggulangan kemiskinan terus dilakukan dalam bentuk fasilitasi program yang meliputi bantuan sosial terpadu. kerentanan masyarakat akan kemiskinan masih signifikan mengingat masih besarnya jumlah masyarakat yang berada pada tingkat “hampir miskin” dan standar garis kemiskinan yang dipakai masih jauh dari ideal. Akan tetapi.33% sehingga secara total terdapat sebesar 5.00 13. seperti nampak pada tabel berikut ini. jaminan sosial bidang kesehatan. Posisi 2009 ini menempatkan Kalsel menduduki peringkat II pada tingkat nasional atas jumlah penduduk miskin paling sedikit.501 218. Gambar II.3. Persentase penduduk miskin di pekotaan miskin pada tahun 2005 s/d 2009. Kesenjangan kota dan desa dalam hal ini memang masih lebih baik dari provinsi lainnya di Kalimantan maupun secara nasional. 2009 Berbagai upaya telah dilakukan dalam mengentaskan kemiskinan di Kalimantan Selatan.4 32 530.2 176.27 Penduduk Miskin di Kalimantan dan Nasional. 195.000 235.000 150. Maret 2009 Jumlah Penduduk Miskin % Penduduk Miskin (000) Provinsi Kota Desa K+D Kota Desa K+D Kalimantan Barat 94.787.09 9.0 340.9 4.72 17.2 4.34 7.02 Kalimantan Selatan 68.700 278.5 20 619.33 5.2 239.0 10. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .12 Kalimantan Timur 77.000 0 Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Jika dilihat pola kemiskinan yang terjadi nampak bahwa kemiskinan dipedesaan sedikit lebih tinggi dari perkotaan.2009 300.35 14. dan perluasan cakupan keluarga harapan.000 50. sebesar 4.1 165.82% sedangkan di perdesaan 5.45 8.000 200. yakni Rp. bantuan pangan. beasiswa bagi anak keluarga yang berpenghasilan rendah. Tabel II.82 5.977 250.BAB II 2009.12% penduduk miskin diseluruh Kalsel.23 10. Bantuan tersebut dilakukan dengan mengintegrasikan program perlindungan sosial berbasis keluarga yang mencakup Bantuan Langsung Tunai (BLT).000 100.8 434.1 162.2015 Page 37 .86 7.450 233.

dengan terjadi perubahan nomenklatur Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (KNPP) menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KNPPPA).191 454.754.154 2.28 Perkembangan Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Prov.Kalsel Menurut Jenis Kegiatan Tahun 2007-2009 Jumlah Penduduk 15 Tahun Ke atas No. Jenis Kegiatan 2007 2008 2009 2. Meski demikian jumlah setengah menganggur cenderung meningkat.000 248.395 9 Setengah Menganggur Sukarela (jiwa) 291.981 1. penyusunan. Perkembangan ketenagakerjaan ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.134 1.d 2009 tingkat partisipasi angkatan kerja mengalam perubahan naik dan turun (Fluktuatif) namun serapan terhadap tenaga kerja justru mengalami kecenderungan menurun yang digambarkan dengan jumlah penduduk yang bekerja yakni 1.760 1. Pada tahun 2007 TPT sebesar 7.79% dan turun kembali pada 2009 menjadi 6.177 jiwa. 2009 Tingkat pengangguran terbuka mengalami kecendrungan menurun.029 6 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%) 73.594. Pemerintah provinsi juga mendorong maksimalisasi pengguliran Kredit Usaha Rakyat (KUR) keseluruh kabupaten/kota.62%.594.598.75%.BAB II Pemerintah provinsi menyediakan dana pendamping untuk PNPM Mandiri sesuai kebutuhan dan kebijakan yang ada.15 70.403 2. Kurun waktu tahun 2007 s.635.743.5. tepat kegiatan dan tepat waktu.406 5 Bukan Angkatan Kerja (jiwa) 635.2.604 Sumber : BPS Prov Kalsel.935 118.730.487 753. Untungnya pada tahun 2009 jumlah penduduk bekerja naik kembali menjadi 1.191 jiwa naik menjadi 519.760 tahun 2008.374 118.020 771.598.2015 Page 38 . Tabel II.51 7 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 7.636 519. Seleksi atas kegiatan juga dilakukan untuk memenuhi prinsip tiga tepat.635.177 4 Pengangguran (jiwa) 131.612 1 Penduduk 15 Tahun ke Atas (jiwa) 2 Angkatan Kerja (jiwa) 1.853 3 Bekerja (jiwa) 1. pemantauan dan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .191 206.2. 2.916 1.524.6 Pemberdayaan Perempuan Tepat pada bulan bulan oktober.153 317.2.466.75 8 Setengah Penganggur Terpaksa (jiwa) 214.68 69. Kesempatan Kerja Sejalan dengan meningkatnya jumlah peduduk. meningkat pula jumlah angkatan kerja setiap tahunnya.483 202.62 6.209 10 Jumlah Setengah Menganggur (jiwa) 505.981 tahun 2007 menjadi 1.604.79 6.366. 2. Pada tahun 2007 jumlah setengah menganggur sebanyak 505.2. Dalam tataran perundang-undangan pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional mendifinikan sebagai “strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi dari perencanaan. pelaksanaan. Angka ini menurun pada tahun 2008 menjadi 6. yaitu tepat sasaran.

Kalsel. tingkat kekerasan yang terjadi pada perempuan meningkat cukup signifikan. di bidang ekonomi. 7. Dibidang pendidikan. peningkatan akses lapangan kerja bagi perempuan dari 13. Kondisi umum pembangunan dalam setiap bidang pembangunan dapat digambarkan sebagai berikut.4% pada tahun 2006. jumlah perempuan yang tidak mengikuti pendidikan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Unsur 2006 237 715 Tahun 2007 252 2. 13.29 Tabel II.BAB II evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan. Sayangnya di tingkat perguruan tinggi jumlah perempuan lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Demikian juga yang berkaitan dengan pembentukan lembaga dan instansi yang berfungsi untuk memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap kekerasan pada perempuan dan anak.6%. dibidang hukum dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pembangunan gender. 6. serta tujuan dasar pengarusutamaan gender. hampir 2 kali lipat pada tahun 2007 dibandingkan tahun 2006. selama ini telah terjadi perbaikan yang mengesankan. 2009 Dari data pada Tabel II. pelaksanaan pengarusutamaan gender masih terkendala kurangnya pemahaman aparatur tentang teori dan konsep gender. Secara nasional. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dan SMA jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki.1%. Sedangkan perempuan yang mengikuti pendidikan SD. yaitu persentase perempuan yang menduduki jabatan eselon I sampai IV masing-masing sebesar 9.6%. Hal ini perlu adanya program-program preventif yang lebih optimal dari lembanga-lembanga yang memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap kekerasan pada perempuan dan anak. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak jumlahnya semakin meningkat.29% pada tahun 2008.2015 Page 39 .29 menunjukkan bahwa.281 1 Anak Korban Tindak Kekerasan 2 Wanita Korban Tindak Kekerasan Sumber : BPS Prov. terdapat sedikit peningkatan partisipasi perempuan selama kurun waktu tiga tahun terakhir. bahwa pada operasional. Gambaran di Kalimantan Selatan. Persentase tersebut meningkat pada tahun 2008. masing-masing 8. 14.086 2008 376 2. Dibidang politik. partisipasi perempuan di lembaga legislatif meningkat dari 11.7% dan 22.” Sayangnya berdasarkan hasil evaluasi menunjukan. jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak menunjukkan angka yang cenderung meningkat.5% dan 23.04% pada tahun 2009.7%.5%. Sementara itu. Sedangkan kekerasan pada anak dari tahun ke tahun cenderung meningkat.6% pada tahun 2004 menjadi 18.29 Kekerasan pada Perempuan dan Anak Di Kalimantan Selatan Tahun 2006 s/d 2008 No. Hal ini menyebabkan kalangan perencana sulit mengintegrasikan pengarusutamaan gender dalam penyusunan kebijakan pada tataran gender. Kondisi dapat dilihat pada Tabel II. SMP. 72% pada tahun 2006 meningkat menjadi 19. Pada jabatan publik.

yaitu 68.80 65. dan perbedaan jaminan sosial. sama dengan cara menghitung Indeks Pembangunan Manusia (IPM). dan kesehatan).10 62.2015 Page 40 . Perkembangan IPG Kalimantan Selatan selama tahun 2005 s. IPG di Kalimantan Selatan masih lebih rendah dari angka rata-rata nasional. pendidikan.30. adanya perdagangan perempuan. Tantangan ke depan adalah melakukan program yang berkaitan dengan peningkatan kualitas hidup perempuan melalui aksi afirmasi.BAB II Rumus yang digunakan untuk menghitung Indeks Pembangunan Gender (IPG). RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . misalnya adanya kesenjangan upah pekerja perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. tindak kekerasan pada perempuan. bahwa keberhasilan pembangunan sumber daya manusia secara keseluruhan belum sepenuhnya diikuti dengan keberhasilan dalam pembangunan gender. normanorma yang berlaku di dalam masyarakat berkaitan dengan peran gender berdasarkan spesifik lokasi. Pemahaman akan konsep kesetaraan dan keadilan gender masih sangat terbatas di semua kalangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa dari beberapa komponen perhitungan IPG (ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari nilai IPM dan IPG. eksploitasi dan diskriminasi. Ekonomi. perlindungan perempuan dari tindak kekerasan. melaksanakan komunikasi. Kualitas hidup perempuan masih tertinggal dibandingkan dengan laki-laki.30 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Di Kalimantan Selatan Tahun 2007 s/d 2009 No.20 65. serta masih banyak dijumpai faktor sosial budaya yang membatasi kebijakan pengarusutamaan gender di dalam pembangunan. Kesenjangan ini menunjukkan. informasi dan edukasi kualitas hidup dan perlindungan perempuan.d 2008 dapat dilihat pada Tabel II.30 Tabel II. di Kalimantan Selatan masih memerlukan pembenahan dan pengembangan khususnya yang berkaitan dengan masalah gender.80 pada tahun yang sama (tahun 2008). Walaupun IPM merupakan ukuran kualitas sumber daya manusia.80 65. kualitas hidup perempuan juga ditentukan oleh ada tidaknya masalah lain yang langsung maupun tidak langsung mempengaruhi IPG. IPG Kalimantan Selatan secara faktual menunjukkan peningkatan jika dilihat dari angka absolut dan sejalan peningkatan IPG nasional.30 1 Kalimantan Selatan 60. dan kesehatan. menjadi faktor dominan dalam menghitung IPG.90 Sumber: Kementerian PP&PA bekerjasama dengan BPS Berdasarkan Tabel II.30 2008 63. pengembangan pusat-pusat pelayanan sebagai sarana perlindungan perempuan korban kekerasan.72 dan 63. Provinsi 2005 Tahun 2006 2007 61. serta penguatan/pemberdayaan kelembagaan pengarusutamaan gender. Keterbasan ini juga juga terjadi diantara para perencana dan pelaksana pembangunan yang dapat berakibat terlambatnya upaya-upaya mengintegrasikan konsep gender kedalam berbagai program pembangunan. pendidikan.70 2 Rata-rata Nasional (Indonesia) 63. penataan sistem yang mampu menangkap dinamika gender.

di Kalimantan Selatan masih belum sebagaimana yang diharapkan. Banyak indikator alternatif yang dapat digunakan untuk mengukur unsur ini.31 dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. pemberdayaan dan partisipasi RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . IPM merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan manusia yang dianggap sangat mendasar yaitu usia hidup (longevity). Kondisi tersebut memberikan kontribusi rendahnya IPM Kalimantan Selatan.2015 Page 41 . Perkembangan IPM Kalimantan Selatan selama tahun 2005 s. Sebagaimana telah disebutkan diatas.17 Sumber : BPS Nasional. berdasarkan Tabel II.4 69. Namun demikian jika dilihat dari peringkat antar provinsi. Tantangan ke depan adalah pengembangan sektor ekonomi. Standar hidup Selain usia hidup. pengetahuan (knowledge).2.01 70. Namun masih berada dibawah ratarata angka nasional. memilih GDP per kapita riil yang telah disesuaikan (adjusted real GDP per capita) sebagai indikator hidup layak. Di Indonesia dihitung dengan metode tidak langsung. Metode ini menggunakan dua macam data dasar yaitu rata-rata anak yang dilahirkan hidup dan rata-rata anak yang masih hidup.2. Usia hidup Pembangunan manusia harus lebih mengupayakan agar penduduk dapat mencapai “usia hidup” yang panjang dan sehat.BAB II 2. bahwa IPM merupakan suatu indeks komposit tiga bidang pembangunan manusia (usia hidup. dan pengetahuan unsur dasar pembangunan manusia yang diakui secara luas adalah standar hidup layak.57 Tahun 2006 2007 67. IPM Kalimantan Selatan masih berada dibawah rata-rata nasional. Pengetahuan diukur dengan dua indikator yaitu angka melek huruf (Literacy Rate) dan rata-rata lama sekolah (Mean Years School). IPM Kalimantan Selatan secara faktual menunjukkan peningkatan jika dilihat dari angka absolut dan sejalan peningkatan IPM nasional.75 70. dan standar hidup layak (decent living). pendidikan dan kesehatan yang berbasis pada masyarakat miskin. Dengan mempertimbangkan ketersediaan data secara internasional UNDP.7 Indek Pembangunan Manusia Indeks pembangunan manusia (IPM) menunjukkan jumlah tahun hidup yang diharapkan dapat dinikmati penduduk suatu wilayah.10 68.31 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Di Kalimantan Selatan Tahun 2005 s/d 2008 No. pengetahuan dan standar hidup).31 Tabel II. Pengetahuan pengetahun juga diakui secara luas sebagai unsur mendasar dari pembangunan manusia.59 2008 68. 2009 Indeks Pembangunan Manusia di Kalimantan Selatan.d 2008 dapat dilihat pada Tabel II. Sebenarnya banyak indikator yang dapat digunakan untuk mengukur usia hidup. 1 2 Provinsi Kalimantan Selatan Rata-rata Nasional (Indonesia) 2005 67.72 71.

2. serta agama lainnya. Di Kalimantan Selatan sekarang terdapat 140 buah pesantren dengan jumlah santri sebanyak 37. Hal ini ditandai dengan meningkatnya masing-masing jumlah pemeluk agama dan sarana peribadatan. Gambar II.2.181 orang (0.869 (96. Pura/Kuil/Sanggah (40 buah). Pemuda dan Olahraga 2.393 orang. Diantara indikator dalam melihat perkembangan sosial keagamaan adalah pertumbuhan jumlah pemeluk dan fasilitas peribadatan dan kegiatan keagamaan. seperti mesjid (2. Katolik 13.3. Pada 2003.200. serta pembangunan infrastrukur di daerah-daerah tertinggal/terpencil.49%). Hindu dan Budha 19. dan Wihara Cetyah/Klenteng (10 buah). seperti Kaharingan.908 orang (0.738 buah).346 oarang (0.78%).BAB II masyarakat. dimana kecenderungan mayoritas memberikan apresiasi negatif terhadap pemeluk agama lain.387 orang (0. namun Kehidupan beragama di provinsi ini secara ritual menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. jumlah penduduk menurut agama berturut-turut adalah sebagai berikut: beragama Islam sebanyak 3.91%). Kristen 25. Khong Ho Chu 23.3 Agama. Seni Budaya. Kehidupan ritual keagamaan ditunjang oleh sarana ibadat.1 Keagamaan Sekalipun penduduk Kalimantan Selatan mayoritas beragama Islam.2.252 buah). Fakta ini menunjukkan bahwa kehidupan keberagamaan tidak mengalami konflik sosial yang berarti sebagaimana di daerah lain.70%). gereja (77 buah). Bagi penduduk beragama Islam. langgar (6.14%).4 Jumlah Pemeluk Agama dan Tempat Ibadah di Kalimantan Selatan Tahun 2008 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2015 Page 42 . pesantren juga menjadi pilihan pendidikan agama bagi anaknya.

kasus penyesatan. Cetya 10.200 4. Paham-paham pluralisme terus dikembangkan dan diwujudkan pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam mengembangkan kehidupan keberagamaan yang harmonis. Nama Fasilitas Ibadah 2006 2. Kapel 6. Mushalla 4. Langgar 3. Kehidupan keberagamaan yang baik dan nyaman mampu menyediakan batasan-batasan moral penduduk (pemeluk) sebagai bagian dari tugas bersama pemerintah dan pemangku agama. Toleransi antar-umat beragama dan antar-suku sampai sekarang masih dapat dipertahankan.270 425 113 20 40 101 15 8 4 2007 2. konflik tempat ibadah. 2009 Dalam konteks ini Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memaknai perkembangan dan pertumbuhan pemeluk agama maupun ketersediaan sarana prasarana serta kegiatan sosial keagamaan tidak sekadar mewujudkan kenyamanan pemeluk dalam menjalankan ibadahnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan tidak adanya laporan kekerasan-kekerasan yang bernuansa agama atau suku.BAB II Tabel II.650 6.32 Jumlah Sarana Ibadah di Kalimantan Selatan Tahun 2006-2008 No. Sanggar Balai 8. Klenteng Sumber: BPS Prov.311 6. kebebasan berpikir dan berekspresi maupun implikasi regulasi yang bernuansa agama dan kesukuan sebagaimana terjadi di daerah lain. Pura 7.2015 Page 43 . Kalsel. Sebab bagi pemerintah kualitas keberagamaan tidak selalu diukur dari jumlah pembangunan sarana prasarana ibadah maupun frekuensi kegiatan sosial keagamaan. Masjid 2. Untuk pengembangan pendidikan di bidang keagamaan yang juga sebagai modal sosial Pemerintah telah memberikan bantuan pembangunan asrama mahasiswa Kalsel di Kairo dan bantuan pendanaan untuk menyelesaikan pendidikan di Kairo disamping pengembangan pendidikan keagamaan di Kalimantan Selatan dan di Indonesia pada umumnya. sehingga dapat dicegah terjadinya konflik sosial berbasis agama dan suku. diantaranya pengejawantahan ajaran-ajaran normatif dan kognitif agama masing-masing dalam semua aspek kehidupan baik perkumpulan keagamaan. Vihara 9. Hal ini dimaksudkan agar kualitas pendidikan keagamaan dapat disejajarkan dengan pendidikan umum yang pada akhirnya akan menyeimbangkan IPTEK dan IMTAQ. tetapi menjadikan ranah agama sebagai pemahaman penyeimbang dampak buruk dari gerusan budaya-budaya global yang destruktif dan demokrasi yang semakin menggeliat. lembaga pendidikan (tak terkecuali pesantren) maupun dialog-dialog antar umat beragama.323 602 119 10 35 3 9 7 4 2008 2. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .362 602 125 8 55 3 12 2 4 1. tetapi pemahaman nilai-nilai keberagamaan dan toleransi antar umat beragama. Gereja 5.

(1) pilar nilainilai seni budaya yang berlaku di masyarakat (2) Pilar Kegiatan yang dilakukan dan kokohkan para pemangku seni budaya (adat) dan yang (3) Pilar Peran dan fasilitasi pemerintah daerah. Pengembangan pengelolaan kapasitas dan kualitas lembaga sosial keagamaan serta Pembinaan terhadap pendidikan dan perguruan keagamaan yang masih kurang optimal menyentuh kemasyarakat terutama kualitasnya 2. toleransi antar umat beragama.BAB II Harapan besar pemerintah meningkatnya kualitas keberagamaan dengan indikator meningkatnya sarana prasarana ibadah maupun frekuensi kegiatan sosial keagamaan dapat terwujud transformasi nilai-nilai normatif dan kognitif agama ke dalam perilaku hidup baik dalam kehidupan bermasyarakat. Kalimantan Selatan yang dihuni oleh mayoritas etnis Banjar dan sebagian etnis Bakumpai dan Dayak sebagai entitas etnis asli memiliki keragaman seni dan budaya yang saling terintegrasi baik nilai-nilai. Gambar II.3. nilai-nilai luhur tersebut semakin terancam oleh nilai-nilai lain . berpemerintahan.2015 Page 44 . Islam sebagai agama mayoritas simbol Keberagamaan masyarakat Banjar memiliki nilai-nilai sosial budaya yang mendorong tumbuhnya etos kerja dan semangat wirausaha yang mendorong kemajuan. pelaku maupun lokasi/wilayah kebudayaan (tujuan wisata). Tantangan kedepan yang menjadi perhatian serius adalah diperlukan penguatan nilai-nilai sosial keagamaan dan konstruksi budaya guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berbasis sosial keagamaan dan budaya tempatan dan terciptanya keharmonisan antar pemeluk agama. maupun bernegara termasuk di masa-masa mendatang tampaknya upaya untuk “menyeharikan” ajaran dan pesan-pesan moral agama menjadi etos kerja guna menjadi modal sosial (social capital) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.5 Alur Pikir Transformasi nilai-nilai keagamaan Sosial keagamaan Namun demikian akhir-akhir ini. berbisnis.2. Adalah hal yang menarik ketika terbentuknya Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar (LAKKB) sebagai pilar yang ke-empat (4) guna membangun interaksi seni-budaya Banjar dengan keraton sebagaimana kokohnya kesenian dan kebudayaan di Jawa dan Sumatera sebagai bagian dari upaya pemerintah bersama RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Seni dan budaya di Kalimantan Selatan sebagaimana di daerah lain mengalami perkembangan pasang surut sebab dan pemangku seni budaya dikonstruksi oleh tiga pilar yakni.2 Seni dan Budaya Seni dan budaya adalah identitas suatu daerah. Catatan historis masyarakat Banjar yang memiliki etos kerja dan etos migrasi (madam) adalah salah satu contoh transformasi nilai-nilai agama dan budaya dalam menjawab tantangan dan zaman pada masa lalu.

Terbitnya Perda yang bernuansa Budaya seperti Perda Seni dan Bahasa Banjar. 6. Koordinasi antar SKPD yang berwenang menjadikan ranah pelestarian ini RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 2. 9. seni dan nilai-nilainya. Perda Bangunan Banjar dan Perda Peninggalan bersejarah Tahun 2008 misalnya adalah bentuk jawaban pemerintah Provinsi atas kegelisahan dan keresahan para budayawan dan seniman serta pemangku adat Banjar dalam menjawab tantangan zaman guna melestarikan kebudayaan. 7. 3.2015 Page 45 .BAB II stakeholder memangku seni dan adat daerah Provinsi Kalimantan Selatan. 5.6 Skema Integrasi 4 Pilar Pelestarian Kebudayaan Banjar Kalsel Tabel II. Gambar II. Kelompok Seni PERFEKINDO SANGGAR BUDAYA SANGGAR ANGGERIK HARIVI KAMBANG BARENTRENG AYU LABUNI BERSUJUD KAMBANG MAYANG BUANA BULUH MARINDU SINAR PUSAKA PUSAKA SAIJAAN BUNGA ANGGERIK 2006 Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif 2009 Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Pelestarian nilai-nilai seni budaya belum optimal terintegrasi dalam kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan menengah di Kalsel termasuk kegiatan ekstra kurikuler. 1.33 Perkembangan Kelompok Kesenian Tahun 2006 dan 2009 No. Hal ini untuk menegaskan dan meletakkan dasar bahwa kesenian dan kebudayaan Banjar Kalimantan Selatan tidak sekadar sebuah event atau kegiatan tetapi ianya menjadi sebuah bagian dari urat nadi kehidupan yang didukung oleh institusi keraton sebagai mitra pemerintah. 10. Itulah sebabnya program pemerintah provinsi dalam rangka mendirikan replika Keraton bagian dari upaya mengintegrasikan kebudayaan Banjar. 4. 8.

festival tari. berdirinya sanggar-sanggar. Ketidakramahan dan ketidakmemuaskan pelayanan kepariwisataan yang dikelola masyarakat menjadi kontribusi negatif promosi wisata. Selain infrastruktur tujuan wisata masih relatif belum memadai. padahal merupakan medium pelestarian budaya yang efektif. Gambaran ini pun tersirat pada pemanduan kepariwisataan dan pembinaan stakeholder pelengkap dunia kepariwisataan yang masih belum professional sehingga belum memberikan kenyamanan dan kepuasaan bagi pengunjung. Karya seni budaya cenderung hanya bagian dari proses komersialisasi promosi wisata yang mengedepankan profit oriented. tetapi mentransformasikan nilai-nilai seni dan kebudayaan dalam kegiatan pemerintahan dan perilaku masyarakat. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Karya seni dan budaya di Kalsel masih dalam konstelasi “jeruk makan jeruk” sebuah ungkapan bahwa karya seni hanya dinikmati sesama seniman dan budayawan belum lagi meluas menjadi bagian hiburan dan transformasi nilai-nilai seni-budaya kepada masyarakat . fasilitas sarana prasarana. namun kondisi demikian adalah proses kebudayaan yang statis/mandek dalam perkembangan dan pelestarian kebudayaan. alat peraga seni-budaya sebagai pelengkap alat kebijakan (perda) yang masih minim. sehingga terkesan event-event yang dilaksanakan pun sebagai pengguguran kewajiban saja (proyek) bagi aparat birokrasi berwenang yang rendah kreatifitas-inovasi dan pelibatan professional-profesional pegiat seni dan budaya. festival sastra. Selama ini kegiatan pelestarian kebudayaan dan kesenian Banjar termasuk kegiatan promosi wisata hanya dalam konteks tataran pelaksanaan pagelaran seni. Sekalipun fasilitas berkesenian dan berkebudayaan bagi para seniman dan pemangku adat relatif terfasilitasi. Demikian pula peran dan fungsi museum masih menggunakan paradigma lama dimana belum menunjukkan hal yang dinamis dan menarik bagi pengunjung untuk memahami nilai-nilai dan peninggalan tradisi sebagai bagian dari pelestarian kebudayaan. sehingga kehadiran agen-agen traveling yang meningkat belum memberikan layanan yang bernilai kompetitif. literatur muatan lokal.BAB II terkesan berjalan sendiri-sendiri dan tidak membuahkan hasil yang memuaskan. penganugerahan karya cipta seni dan budaya yang diintegrasikan dalam event-event wisata lainnya. pelayanan dan promosi pariwisata. dokumentasi. ditambah lagi dokumentasi seperti buku-buku budaya Banjar/cerita Banjar.2015 Page 46 . berpengaruh terhadap kunjungan wisata seperti sektor jasa perhotelan yang pertumbuhannya relative kecil atas hunian hotel. Kegelisahan seni dan budaya tidak sekedar pada kualitas kegiatan.

3 Pemuda dan Olah Raga Perkembangan kualitas bidang pemuda dirasakan belum optimal sehingga kontribusi pemuda dalam pembangunan belum optimal. Salah satu bentuk pembinaan nyata terhadap pemuda di RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kegiatan-kegiatan kepemudaan termasuk pelajar generasi muda. pembibitan oleh raga dan pemasalahan olah raga.BAB II Gambar II. Pembangunan dibidang olah raga di Kalimantan Selatan melalui 3 kegiatan pokok yaitu Pengembangan olah raga masyarakat. Selain itu juga dikembangkan pertukaran pelajar dan pertukaran pemuda baik antar negara maupun antar daerah. Sedangkan pembinaan di luar sekolah adalah pembinaan kewirausahaan guna mengurangi pengangguran.7 Kunjungan Wisatawan ke Kalsel Tahun 2007 Sumber: KDA Tahun 2008 Tantangan ke depan adalah bagaimana meredifinisi dan merevitalisasi budaya Banjar agar menjadi energi kultural untuk membangun modal sosial bagi lestari nilai-nilai dalam perilaku dan kehidupan masyarakat serta menjadi kekuatan pembangunan. Dengan demikian upaya penyadaran terhadap pemuda pemberdayaan dan pengembangan pemuda untuk semakin berperan dalam pembangunan. peninggalan bersejarah dan mendinamisasikan museum-museum bersejarah. kepramukaan dan kewirausahaan. Pembinaan terhadap generasi muda meliputi dua pola yaitu di sekolah dan di luar sekolah.2015 Page 47 .2. Berbagai kegiatan yang masih terkait dengan pembinaan di sekolah adalah seperti pelatihan dasar kepramukaan. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan antara lain menyebutkan bahwa sasaran pembangunan kepemudaan adalah usia 16 s/d 30 tahun. 2. pelatihan tingkat mahir dan lanjutan dimaksudkan untuk keberlangsungan pendidikan mental dan spritual termasuk pula pembinaan tentang bela negara. Disamping itu melakukan pembinaan dan promosi kepariwisataan yang efektif.3. dan penggalian dokumentasi.

demikian juga untuk olah raga rekreasi telah pula dikembangkan sarana olah raga dalam bentuk outbond dan untuk olah raga prestasi telah dikembangkan program pemusatan latihan. Langkah – langkah strategik yang diambil pemerintah dari pemetaan masalah soal kepemudaan setidaknya melepaskan dan menghindarkan dari bahaya pengguna narkoba yang berakibat pada tindakan patologi sosial yang merusak masa depan pemuda itu sendiri. Peraturan Gubernur sendiri adalah suatu produk hukum yang mengatur hal-hal yang lebih teknis dari Peraturan Daerah.10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. banua.1 Hukum a.4. Perda dapat dibentuk untuk memenuhi kewajiban peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan guna memenuhi kebutuhan. Dalam kedua UU tersebut. kekhasan dan/atau kearifan lokal daerah setempat. pemerintah provinsi memiliki kewenangan untuk terlibat dalam dua hal tesebut dalam pengertian yang limitatif. Terhadap olah raga kesehatan pemerintah daerah menyiapkan tempat-tempat umum yang dilengkapi dengan sarana olah raga. meningkatkan sosialisasi dan kampanye bahanyanya narkoba bagi generasi muda dan mengupayakan pembangunan fasilitas kepemudaan dan wadah olahraga yang representatif. Tantangan yang dihadapi di bidang pemuda dan olah raga adalah :mengoptimalkan peran serta pemuda dalam berbagai bidang pembangunan. Kewenangan Bidang Hukum Pemerintah Provinsi Secara garis besar. Politik dan Pemerintahan 2. olah raga rekreasi dan olah raga prestasi.2.BAB II Kalimantan Selatan adalah dibidang olah raga adalah dikembangkannya olah raga kesehatan. Selain dua hal itu. pemerintah daerah provinsi hanya diberikan wewenang untuk membentuk peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya sebagaimana diatur dalam UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah jo UU No.4 Hukum. hukum sebagai kewenangan pemerintahan meliputi dua hal. fungsi pelayanan masyarakat yang melekat pada berbagai fungsi pemerintahan juga menjadi domain kewenangan pemprov yang perlu diperhatikan secara serius. Selain dapat membentuk Perda.2015 Page 48 . yaitu : pembuatan peraturan perundang-undangan (law making process) dan penegakan hukum (law enforcement) atas peraturan perundang-undangan itu sendiri. Posisi Peraturan Gubernur sama halnya dengan Peraturan Pemerintah sebagai penjelas dari RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . pemerintah daerah provinsi dapat membentuk satu peraturan perundang-undangan berupa Peraturan Daerah (Perda) Provinsi. Dalam kedua hal tersebut.2. 2. bangsa dan negara. Secara yuridis. pemerintah daerah provinsi juga dapat membentuk Peraturan Gubernur. Dalam pembuatan peraturan perundan-undangan.

penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. e.2015 Page 49 . UU No. Sebagai suatu produk hukum.32 Tahun 2004. dan f. pelayanan kependudukan.BAB II UU. yustisi.32 Tahun 2004 tersebut merupakan dasar hukum pemberian kekuasaan yang bersifat otonom kepada daerah (provinsi. Dalam Pasal 13 UU No. penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota. penyediaan sarana dan prasarana umum. Kewenangan pemerintah daerah provinsi sendiri dapat dilacak berdasarkan ketentuan dalam UU No. f.32 Tahun 2004 disebutkan definisi urusan wajib dan urusan pilihan yang dimiliki pemerintahan daerah provinsi sebagai berikut : (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: a. i. pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. keamanan. penanganan bidang kesehatan. Untuk menetapkan hal-hal yang bersifat individual dan konkret dari Perda dan Peraturan Gubernur. k. dalam hal ini adalah pemerintah daerah provinsi. Perda. d. l. dan pengawasan tata ruang. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. h. b. politik luar negeri. yaitu : urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan. agama. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Dalam Pasal 10 UU tersebut menyatakan : (1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. seorang Gubernur dapat pula menerbitkan Keputusan Gubernur. j. c. perencanaan. kabupaten/kota). kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-Undang ini ditentukan menjadi urusan Pemerintah. e. moneter dan fiskal nasional. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. g. dan catatan sipil. c. usaha kecil. pengendalian lingkungan hidup. pertahanan. fasilitasi pengembangan koperasi. Lebih lanjut. (3) Urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a.32 Tahun 2004 membagi urusan pemerintahan daerah yang bersifat otonom tersebut atas dua urusan pemerintahan. pemanfaatan. d. Klausula dalam Pasal 10 UU No. perencanaan dan pengendalian pembangunan. (2) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. Peraturan Gubernur dan Keputusan Gubernur mesti merujuk kepada dasar kewenangan yang membuatnya.

8 : Gambar II. kekhasan. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi terdiri atas 26 bidang yang menjadi urusan wajib dan 8 bidang urusan pemerintahan yang menjadi pilihan.38 Tahun 2007 tersebut. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. Di tingkat Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan hal demikian diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan nomor 5 tahun 2008.8 Penjabaran Peraturan Perundang-undangan Produk Hukum Pemprov Peraturan Daerah Peraturan Gubernur Hal yang dapat diatur Penjabaran Peraturan Perundangundangan lebih tinggi Urusan Wajib Pemerintahan Provinsi Keputusan Gubernur Urusan Pilihan Pemerintahan Provinsi Aparat Utama Aparat Penegak Hukum Satuan Polisi PP Aparat Pembantu Kepolisian dan Unsur Kamtibmasn RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Berbagai produk hukum pemerintah daerah provinsi dapat dibentuk untuk menunjang pelbagai kewenangan pemerintahan provinsi sebagaimana dijabarkan di atas. Kendati demikian. Selain itu. o. Berdasarkan PP No.2015 Page 50 . p. Hal ini dapat dilihat dari Gambar II.10 Tahun 2004. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.BAB II m. Perda sebagai salah satu produk hukum daerah juga dapat dibentuk sebagai penjabaran peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. pelayanan administrasi umum pemerintahan. pemerintahan daerah provinsi juga mendapat limpahan kewenangan pemerintahan dari pemerintah pusat berdasarkan asas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. n. (2) Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Secara lebih terperinci mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan Pemerintahan antara Pemerintah. pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. sebagaimana amanah Pasal 12 UU No.

3) Perda tentang Retribusi daerah. Satuan Polisi Pamong Praja merupakan perangkat pemerintah daerah provinsi yang secara yuridis bertugas untuk itu. b.35 Jumlah Perda Provinsi Berdasarkan Jenis Pengaturannya Di Kalimantan Selatan 2008 S/D 2010 Tahun JenisPerda APBD Pajak daerah Retribusi daerah Kelembagaan Penyertaan Modal Pengaturan Sumber : Biro Hukum Pemprov Kalsel. Akan tetapi dalam kondisi tertentu. khususnya perda sebagaimana tabel diatas dapat dibedakan berdasarkan jenisnya.2015 Page 51 . 2010 2008 3 1 1 8 8 2009 3 6 4 5 9 2010 1 1 1 4 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .34 Tabel II. 2010 Jumlah produk hukum. 4) Perda tentang Kelembagaan di daerah.34 Jumlah Produk Hukum Yang Dihasilkan Pemda Provinsi Di Kalimantan Selatan Tahun 2006 S/D 2009 No. Pemerintah provinsi Kalimantan Selatan telah melakukan pembentukan produk hukum daerah sebagaimana terlihat pada Tabel II. pemerintah provinsi dapat meminta bantuan dari pihak kepolisian dan unsur kamtibmas lainnya guna menegakkan produk hukum daerah dimaksud. 5) Perda tentang Penyertaan Modal dan 6) Perda tentang Pengaturan. Jenis Produk Hukum Perumusan Perda Perumusan Produk Hukum Peraturan Gubernur Keputusan Gubernur 61 606 75 678 74 612 100 711 2006 21 2007 20 2008 24 2009 29 Sumber : Biro Hukum Pemprov Kalsel. 2. kewenangan pemerintah provinsi secara otonom dapat dilakukan untuk melakukan penegakan hukum atas berbagai produk hukum daerah dimaksud dengan menggunakan Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP). 1. 3. Kondisi Kekinian Berdasarkan kewenangan yang dimiliki pemerintah provinsi di bidang hukum sebagaimana dijelaskan sebelumnya. sebagai berikut : 1) Perda tentang APBD. Tabel II. 4.BAB II Di level penegakan hukum. 2) Perda tentang Pajak daerah.

khusunya dalam pembuatan peraturan daerah telah menunjukkan kemajuan yang berarti dan telah ikut memberikan konstribusi terhadap pencapaian sasaran pembangunan. diantaranya : 1. Dari abstraksi diatas terlihat bahwa pembangunan bidang hukum. keterlibatan stakehoders. Pada tahun 2009 hanya terdapat satu buah Perda yang diusulkan oleh DPRD Kalsel. serta Perda tentang Perlindungan Anak Terlantar. selain itu juga lembaga hukum belum disertai dengan akuntabilitas dalam penataan hukum karena belum diatur dengan baik sehingga sangat sulit menentukan siapa yng bertanggung jawab terhadap tata cara dan bagaimana Page 52 2. seperti minimnya kontribusi sektor tambang bagi pembangunan.BAB II Dari keenam jenis perda tersebut. DPRD Kalsel belum mengusulkan satupun Raperda untuk disahkan menjadi Perda. Sedangkan sampai dengan Agustus 2010. Dari Perda tentang pengaturan tersebut tercatat pada tahun 2008 sebanyak tiga buah Perda Pengaturan diusulkan oleh DPRD masing-masing Perda tentang Pengawasan Peredaran Minuman dan Makanan Beralkohol. Masih banyaknya tumpang tindih peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan secara terpusat berakibat pada inkonsistennya penerapan hukum di daerah. yaitu Perda tentang Pelarangan Penggunaan Jalan Umum Untuk Angkutan Pertambangan dan Perkebunan Besar atau Perda Nomor 3 Tahun 2009. sehingga tidak dapat dilaksanakan. Persoalan tumpang tindih diatas memang bukan domain kewenangan daerah. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . sejarah dan nilai tradisional. Perda tentang Kepurbakalaan. tokoh masyarakat dan akademisi dalam turut merancang dan mengawal jalannya pembangunan dll yang bisa diformulasikan dalam bentuk Perda maupun produk hukum lainnya yang menjadi kewenangan Pemrov. Kurangnya indenpedensi dan koordinasi kelembagaan hukum berakibat pada sistem hukum. Daerah hanya menerima impact dari tata kelola pembuatan peraturan di tingkat pusat. sekaligus telah mampu menampilkan kekhasan daerah ini di banding daerah lain melalui penggunaan urusan pilihan pemerintahan provinsi yang diatur lebih lanjut melalui Perda sebagaimana tergambar pada dua Perda di atas. Implementasi peraturan perundang-undangan menjadi terhambat karena peraturan pelaksanaannya tidak kunjung terbit. Sedangkan di ranah penegakan hukum. Perda Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pendidikan Al Quran di Kalimantan Selatan sedikit banyak telah menjawab beberapa persoalan urgen ke Kalsel-an. Diterbitkannya Perda-perda telah memberikan konstribusi besar terhadap pembangunan seperti Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pengaturan Jalan umum dan jalan khusus untuk angkutan hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan. dilihat dari sisi perancangan dan pengusulannya lebih banyak didominasi dari pihak eksekutif dan hanya perda tentang pengaturan yang berasal dari pihak legislatif (DPRD Provinsi Kalsel).2015 . terutama ulama. Ke depan masih diperlukan ikhtiar yang kuat untuk menghadirkan peraturanperaturan perundang-undangan yang menjadi kewenangan pemerintah Provinsi Kalsel guna menjawab persoalan-persoalan ke-Kalsel-an. pemerintah provinsi Kalsel masih menghadapi berbagai kendala.

BAB II yang harus dilakukan dalam pengembangan hukum daerah. dalam penyusunan RPJMD Kalsel ini. 3) pengambilan kebijakan. termasuk oleh pemerintahan provinsi. selain memerlukan bedah yang mendalam juga beberapa hal tidak terlalu signifikan pengaruhnya terhadap suatu perencanaan pembangunan di ranah pemerintah provinsi sebagaimana yang hendak disoroti lebih lanjut dalam RPJMD Kalsel 2011-2015 ini. maka sesungguhnya ada beberapa aspek yang layak disoroti dalam sub bagian Politik ini. dan 3) bagaimana segala kebijakan dan regulasi dapat menjamin rakyat hak-hak dasar rakyat? Ketiga hal tersebut dapat dirangkum dalam satu sub kajian dalam politik bernama demokrasi. Mengurai empat hal tersebut.2015 Page 53 . Yang dapat dilakukan adalah koordinsi diantara kelembagaan hukum dapat dilakukan. politik didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berbagai kegiatan dalam suatu sistem negara yang menyangkut proses untuk mencapai tujuan yang bersifat publik (public goals). dalam politik diperlukan adanya kekuasaan yang memberikan kewenangan kepada pihak tertentu untuk menjalankan sistem guna mencapai tujuan di atas. Independensi institusi hukum tidak berhak diintervensi.4. dan bukan bertujuan untuk kepentingan pribadi. yaitu . aspek politik lebih ditekankan dari : 1) bagaimana lembaga-lembaga politik di daerah bekerja ? 2) bagaimana hak-hak politik rakyat dapat dipenuhi?. Kekuasaan yang dimiliki lebih lanjut diterjemahkan dalam pengambilan kebijakan (decision making) yang dapat berbentuk suatu kebijaksanaan dan regulasi lainnya yang kesemuanya dihajatkan sekali lagi untuk kepentingan publik dalam arti luas.2 Politik Secara teoritik. Jika mengacu pada terminology politik demikian. 2. Untuk itu. Bidang sengketa terfokus pada pengaduan masyarakat dan sifatnya hanya sebagai fasilitator. 1) sistem negara atau sistem politik. penyusunan pengukuran perkembangan ranah politik di Kalsel dilihat dengan menggunakan indikator demokratisasi sebagaimana akan diuraikan di bawah ini. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Sehingga dalam bagian politik ini. Untuk mencapai hal tersebut. Misalnya antar Pemprov dengan Kepolisian dan Kejaksaan dalam konteks penegakan berbagai persoalan hukum di daerah. seperti penyelesaian illegal loging dan mining. 2) kekuasaan (power). serta 4) regulasi dan kebijaksanaan.2.

36 penting dibuat untuk mengetahui tingkat demokratisasi suatu wilayah. karena diselenggarakan pemilu sebagai mekanisme pengambilan kebijakan oleh rakyat secara periodik dan didukung oleh kebijakan pemerintah yang terbuka dan dapat dievalusi oleh rakyat pada pemilu berikutnya. demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan dari. Indikator pada table II. oleh dan untuk rakyat. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 3) menjadi pejabat publik. 5) memberikan suara dalam pemilihan umum. 4) persaingan atau kontestasi di antara warga negara untuk mendapatkan dukungan dalam rangka memperebutkan jabatan-jabatan publik penting. Karenaya secara teoritis. sebab poliarkhi mengacu pada sebuah sistem pemerintahan oleh “banyak rakyat”. Berdasarkan rumusan teoritis tersebut. Kendati demikian pemerintahan seperti ini tak pernah hadir dalam sejarah ummat manusia. Indikator Pengukur Demokratisasi Definisi populis tentang demokrasi biasa menyebutkan bahwa. Juga tidak pernah ada hasil pemerintahan itu untuk rakyat semuanya secara merata. poliarkhi dinilai lebih realistic untuk menggambarkan sebuah fenomena politik tertentu dalam sejarah peradaban manusia. 1) membentuk dan ikut serta dalam organisasi.2015 Page 54 . bukan oleh “semua rakyat” dan oleh “banyak orang”.BAB II a. dan 8) adanya jaminan kelembagaan bahwa setiap kebijakan pemerintah berdasar pada dukungan suara dan bentuk-bentuk ekspresi lainnya. Maswardi Rauf dkk dalam merumuskan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) menyederhanakan alat ukur demokratisasi melalui pemantauan atas tiga aspek dalam demokrasi. dan tidak ada pemerintahan sepenuhnya untuk semua rakyat. 6) adanya Pemilu yang jujur dan adil. bukan “semua orang”. Dalam prakteknya yang menjalankan pemerintahan ialah segelintir orang. Demokrasi dalam pengertian ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut . Dahl menawarkan konsep demokrasi poliarkhi untuk merekonstruksi ajaran demokrasi populis di atas. Robert Dahl dan Coppedge mengatakan tidak pernah ada pemerintahan dijalankan langsung oleh semua rakyat. yaitu aspek kebebasan sipil. 7) adanya sumber-sumber informasi alternatif di luar yang diberikan pemerintah. penggunaan indikator yang baku diperlukan untuk menghilangkan kerancuan dan debat dalam memahami konsep demokrasi yang beragam. hak-hak politik dan institusi demokrasi yang diturunkan dalam beberapa variabel sebagaimana terlihat dalam tabel II. 2) berekspresi atau berpendapat. Selain itu. selalu ada perbedaan penerimaan hasil tata kelola pemerintahan. Menurutnya.36. termasuk di Kalsel.

yaitu kebebasan berkumpul dan berserikat. FGD dan indepth interview dengan beberapa stakeholders terpilih. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan melalui metode pelacakan pemberitaan di media massa. kehendak. umur.3 dan kebebasan dari diskriminasi = 91. Sedangkan berserikat adalah mendirikan atau membentuk organisasi. IDI untuk variabel kebebasan berkumpul dan berserikat = 89. dan perasaan. Politik dan Demokratisasi Aspek pertama dari Indeks Demokrasi Indonesia adalah kebebasan sipil.4. dimana pembedaan tersebut didasarkan pada alasan gender. tanpa adanya rintangan berupa tekanan fisik. Yang dimaksud dengan kebebasan berkumpul adalah aktivitas kemasyarakatan dalam bentuk pertemuan yang melibatkan lebih dari 2 orang. serta tidak adanya tindakan represi dari satu kelompok masyarakat terhadap masyarakat lain yang menolak kebijakan pemerintah terkait dengan salah satu keyakinan. pandangan.0 .36 Pengukuran Indeks Demokrasi Indonesia Versi Tim Bappenas Dan UNDP Variabel Kebebasan berkumpul dan berserikat Kebebasan berpendapat Kebebasan berkeyakinan Kebebasan dari Diskriminasi Partisipasi Politik Pengawasan Pemerintahan Pemilu yang bebas dan adil Peran Pemerintah/DPRD Peran Partai Politik Peradilan yang independen Aspek Kebebasan Sipil Indikator 8 indikator 4 indikator 5 indikator 3 indikator 6 indikator 4 indikator 5 indikator 4 indikator 2 indikator 2 indikator Hak-hak Politik Institusi Demokratis Sumber : Laporan Akhir IDI tahun 2008.BAB II Tabel II. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . kebebasan berpendapat. baik terdaftar atau tidak terdaftar di lembaga pemerintah. Dalam aspek ini dilihat empat variabel. kebebasan berkeyakinan = 70.2015 Page 55 . suku/ras.3 (tinggi) dengan rincian sebagai berikut . kebebasan berpendapat = 82. Dan yang terakhir dari aspek yang pertama ini adalah terkait dengan kebebasan dari diskriminasi yang dimaknai sebagai perlakuan yang tidak membedakan individu warga negara dalam hak dan kewajiban yang dia miliki. psikis dan pembatasan. afiliasi politik. Sedangkan yang dimaksud dengan kebebasan berkeyakinan adalah adanya kebebasan individu untuk meyakini kepercayaan atau agama yang ditetapkan pemerintah. agama. b. 4. ODHA dan hambatan fisik. kebebasan berkeyakinan dan kebebasan dari diskriminasi. Yang dimaksud dengan kebebasan berpendapat adalah kebebasan individu dan kelompok untuk mengeluarkan pendapat. maka IDI Kalsel untuk aspek yang pertama ini adalah 83.

37 Jumlah Kursi Partai-Partai Politik Di DPRD Kalimantan Selatan Pada Pemilu Legislatif 2004 Dan 2009 Perolehan Perolehan Nama Partai Politik Kursi 2004 Kursi 2009 Golongan Karya 13 10 Demokrat 2 9 Persatuan Pembangunan 7 7 Keadilan sejahtera 6 7 Demokrasi Indonesia Perjuangan 7 5 Bintang Reformasi 6 5 Amanat Nasional 5 5 Kebangkitan Bangsa 5 3 Bulan Bintang 4 1 Gerakan Indonesia Raya 0 2 Hati Nurani Rakyat 0 1 Jumlah 55 55 No. Tabel II. termasuk hak memilih dan dipilih = 52.3 dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemerintahan= 61. yaitu Pemilu yang bebas dan adil. termasuk hak memilih dan dipilih. serta variabel lain berupa pengawasan pemerintahan. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sedangkan yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemerintahan adalah keterlibatan warga/masyarakat dalam mengawasi secara langsung pelaksanaan keputusan/kebijakan. yaitu : partisipasi politik.8 (rendah) yang terdiri dari variabel partisipasi masyarakat dalam politik. tidak adanya manipulasi dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat dalam politik adalah keterlibatan masyarakat dalam pembuatan sampai dengan penialaian keputusan politik yang tercermin secara kuantitatif dari keterlibatan baik secara individual. berikut data tentang jumlah kursi partai-partai politik di DPRD Kalsel dalam dua Pemilu terakhir. Sedangkan hak dipilih adalah hak setiap individu untuk berkompetisi memperebutkan suara secara bebas dalam suatu pemilihan pejabat publik. mogok. Peran DPRD. Yang dimaksud dengan hak memilih adalah hak setiap individu untuk secara bebas memberikan suara dalam pemilihan pejabat publik. seperti hearing.BAB II Aspek kedua dari Indeks Demokrasi Indonesia adalah hak-hak politik yang terdiri dari dua variabel. IDI Kalsel dalam aspek yang kedua ini hanya memperoleh angka 56. Terkait dengan hak dipilih ini. maupun kelompok dalam berbagai kegiatan. Pengawasan demikian dapat dilakukan dalam bentuk pelaporan/pengaduan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan melalui press statement. pengaduan kepada kepolisian dan prakarsa media melalui berita terkait dengan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan. antara lain : adanya kesempatan yang sama dalam kampanye. Partai Politik dan Peradilan yang independen.2015 Page 56 . dan melalui salah satu forum multistakeholders. Yang dimaksud dengan Pemilu yang bebas dan adil adalah pemilu yang memenuhi standar demokratis yang dicerminkan oleh.3 Aspek ketiga dari Indeks Demokrasi Indonesia adalah Institusi Demokratis yang terdiri dari empat variabel. demonstrasi. seperti Musrenbang misalnya.

6 22. dimana aspek yang paling menonjol adalah aspek kebebasan sipil.4 (sedang).3 61. fungsi pengkaderan dan rekrutmen calon-calon pemimpin politik.3 Kebebasan dari Diskriminasi 91.2015 Page 57 . fungsi komunikasi politik (antara konstituen dan penyelenggara negara). Peran DPRD = 42.38 Tabel II. Secara keseluruhan angka Indeks Demokrasi Indonesia Kalsel pada tahun 2008 hanya berkisar pada angka 61. Sedangkan peran DPRD dapat dilihat dari efektivitas pelaksanaan fungsi DPRD dalam rangka konsolidasi demokrasi. serta fungsi sosialisasi politik.4 Hak-hak Politik (56.1 61. sementara aspek hak-hak politik dan institusi demokratis menunjukan angka yang mengkhawatirkan. 5. Pemilu yang bebas dan adil = 56.38 Angka Indeks Demokrasi Indonesia Provinsi Kalsel Tahun 2008 Aspek dan Angka IDI Variabel Angka IDI Kebebasan Sipil Kebebasan berkumpul dan berserikat 89.BAB II penghitungan suara. Hal ini dapat dilihat dari sejauhmana peradilan bebas dari intervensi birokrasi dan politik dalam penanganan berbagai perkara yang dihadapinya. Sedangkan peran partai politik dapat dilihat dari sejauh mana parpol mampu melaksanakan fungsinya dalam hal penyerapan aspirasi masyarakat.0 Kebebasan berkeyakinan 70.0.3 56. Masih rendahnya partisipasi politik masyakarat yaitu keterlibatan masyarakat dalam pembuatan sampai dengan penilaian keputusan politik yang tercermin RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .3) Partisipasi Politik Pengawasan Pemerintahan Pemilu yang bebas dan adil Peran Pemerintah/DPRD Peran Partai Politik Peradilan yang Independen 52.1. berjalannya mekanisme checks and balances.8) Institusi Demokratis (44.6 46.4 Angka IDI keseluruhan Sumber : Laporan Akhir IDI tahun 2008. dapat dianalisis beberapa permaslahan demokratisasi di Kalsel sebagai berikut : 1. Kekonsistenan pengadilan menjaga independensinya berarti bahwa supremasi hukum dijunjung tinggi.0 42. Secara kseluruhan Indeks Demokrasi Indonesia Kalsel dapat dilihat pada Tabel II. akuntabilitas politik yang tinggi dan adanya hubungan yang kuat antara politisi dan konstituen. Dan aspek yang terakhir adalah peradilan yang independen. Angka Indeks Demokrasi Indonesia Kalsel untuk aspek yang terakhir ini adalah 44. Partai Politik = 46.3 atau sangat rendah.4 (83.5 dan Peradilan yang independen =22.3) Kebebasan berpendapat 82. Parlemen yang efektif dicirikan dari adanya tingkat partisipasi dan kontestasi politik yang tinggi. tidak adanya intimidasi dan kekerasan fisik dalam pemberian suara. Berdasarkan data tersebut di atas.

yaitu asas desentralisasi. 2. 2. Kelemahan demikian sangat membuka peluang penyalahgunaan kekuasaan oleh aparatur pemerintahan daerah. 6. Lema hnya peran DPRD sebagai balancing power kekuasaan eksekutif.BAB II secara kuantitatif dari keterlibatan baik secara individual. Hal ini dapat diasumsikan bahwa kontrol masyarakat terhadap kebijakan politik lemah. pengaduan kepada kepolisian dan prakarsa media melalui berita terkait dengan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan.32 Tahun 2004 yang dijelaskan sebelumnya. dan melalui salah satu forum multistakeholders. Pengawasan demikian dapat dilakukan dalam bentuk pelaporan/pengaduan masyarakat terhadap penyelnggaraan pemerintahan melalui press statement. Belum hadirnya Pemilu yang jurdil. 4. Termasuk lemahnya kemampuan anggota DPRD dalam membangun relasi dengan konstituennya. Masih jauhnya kehadiran Peradilan yang bebas dan bersih. Gambaran Umum Penyelenggaraan Pemerintahan (1) Asas. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.3 Pemerintahan a. Belum berjalannya fungsi partai politik secara baik. termasuk beberapa Putusan Pengadilan yang seringkali menjadi polemik publik dan mencederai rasa keadilan masyarakat. dan tugas pembantuan. 3. mogok. Pemerintah provinsi sebagai wakil Pemerintah di Daerah menjalankan tugas dan fungsinya sebagaimana diatur oleh PP Nomor 39 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi yaitu: RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .4. seperti Musrenbang misalnya. dalam hal fungsi pengkaderan. pendidikan politik dan perjuangan aspirasi publik. Sedangkan Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemerintahan yaitu keterlibatan warga/masyarakat dalam mengawasi secara langsung pelaksanaan keputusan/kebijakan. demonstarsi.2015 Page 58 . intimidasi politik. Dalam pelaksanaaan tugas-tugas dekonsentrasi. maupun kelompok dalam berbagai kegiatas. dekonsentrasi.2. terkait dengan berbagai fakta dan asumsi publik dalam hal adanya money politics. Hal ini terlihat dari masih tebang pilihnya sejumlah kasus. ketidak netralan birokrasi dan penyelenggara pemilu daerah. 5. seperti hearing. Prinsip dan Dasar Kewenangan Pemerintahan Daerah Provinsi Pelaksanaan asas pemerintahan di tingkat Provinsi pasca diterapkannya otonomi daerah dilakukan berdasarkan tiga asas. Dalam menjalankan asas desentralisasi terdapat urusan wajib dan urusan pilihan pemerintahan sebagaimana diatur dalam UU No.

7) 8) 9) 10) 11) 12) Adapun yang dimaksud dengan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. yakni dari 5. Fasilitasi kerjasama dan penyelesaian perselisihan antar daerah dalam wilayah kerjanya Pelantikan bupati/walikota Fasilitasi penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan Pengkondisian terselenggaranya pemerintah daerah yang baik. Pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan pada 2001 mendapatkan limpahan jumlah personil eks Kanwil departemen sebanyak 3. pembagian. dan pemanfaatan sumberdaya.834 (2005) menjadi 5. Untuk menjalankan ketiga asas pemerintahan yang diberikan kepada pemerintahan daerah. (2) Personil dan Kelembagaan Sebagai konsekuensi dan pelimpahan kewenangan berdasarkan otonomi daerah. Kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sudah dijabarkan melalui keputusan Gubernur Nomor 0261 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Provinsi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Pemerintah Provinsi sebagaimana disebutkan sebelumnya.BAB II 1) 2) 3) 4) 5) 6) Aktualisasi nilai-nilai Pancasila.860 (2007). nyata. Koordinasi wilayah.812 (2006). Keputusan Kepala Daerah. Undang-Undang Dasar 1945. dan Keputusan DPRD serta Keputusan Pimpinan DPRD Pengawasan Administrasi Kepegawaian dan karier pegawai diwilayahnya sesuai peraturan perundangan Pemberian pertimbangan terhadap pembentukan. baik yang dilakukan oleh Badan eksekutif Daerah maupun Badan Legislatif Daerah Memelihara ketentraman dan ketertiban Pembinaan penyelenggaraan Pemerintah Kabupaten/Kota Melaksanakan tugas-tugas tampung tantra Pengawasan represif terhadap pelaksanaan PERDA.2015 Page 59 . dan Kebijakan Nasional di Daerah. sektoral. kelembagaan. di bidang pemerintahan berdasar UU No. dan bertanggungjawab kepada daerah dengan pengaturan. 32 Tahun 2004. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . keadilan. 6. penggabungan dan penghapusan daerah. jumlah PNS Provinsi Kalimantan Selatan mengalami kenaikan. pemekaran. utamanya pemerntah provinsi. Secara kuantatitas. perencanaan. penyelenggaraan pemerintahan umum di Provinsi mesti mengacu pada beberapa prinsip yakni prinsip-prinsip demokrasi.313 (2008). serta perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. pembinaan. pelaksanaan. dan pemerataan. Undang-undang tersebut juga mengatur penyerahan kewenangan secara luas. 5.122 orang. bersih dan bertanggungjawab. partisipasi masyarakat. dan pengendalian. pengawasan.

97% 1. APBD Provinsi Kalimantan Selatan selalu mengalami surplus anggaran.59% 43. Realisasi penerimaan dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Pasal 155 UU Nomor 32 tahun 2004 menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja daerah(APBD). D IV sebanyak 77 orang (1. Menurut tingkat pendidikan.69% 2. 9 Biro.55% 0.61% 0.86% 7.18% 28.05% 100.90% 2. (3) Keuangan Daerah. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada table dibawah ini : Tabel II.00% 2010 235 196 2712 89 46 798 77 1832 511 6 6502 3.10% 0. 3 Rumah Sakit.71% 1.38% 3. 16 Dinas. jumlah PNS provinsi ini yang berpendidikan S3 sebanyak 6 orang (0. 1 Kantor Perwakilan.17% 1. Panti.70% 2. 13 Badan dan Inspektorat.06% 11.10% 2.832 orang (28.10% 9.86%).34%).98% 44. 2) Dana Perimbangan 3) Pinjaman Daerah 4) Lain-lain pendapatan yang sah Dari tahun anggaran 2000 hingga tahun anggaran 2004.87% 0.00% 2006 209 131 2553 124 57 593 26 1830 286 3 5812 3. S2 sebanyak 511 orang (7.45% 31.2015 Page 60 . 28 Balai.56% 0.08% 1. Laboratorium & Sekolah dan 25 UPTD.00% Kuantitas/Tahun 2007 210 152 2536 112 54 622 30 1812 326 6 5860 3.00% 2009 237 192 2695 94 48 776 78 1789 507 6 6422 3. Selanjutnya pasal 157 UU tersebut mengemukakan bahwa sumber pendapatan daerah adalah : 1) Pendapatan Asli Daerah: a) Hasil pajak daerah b) Hasil retribusi daerah c) Hasil BUMD dan hasil kekayaan Daerah yang dipisahkan d) Lain-lain PAD yang sah.99% 41.21% 27. 6 Tahun 2008 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat daerah dan Sekretariat DPRD Provinsi Kalimantan Selatan.61% 3.45% 45.51% 30.25% 43.49% 4.92% 5.39 Jumlah PNS Menurut Jenjang Pendidikan Provinsi Kalsel Tahun 2005 – 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jenjang Pendidikan SD/MI SMP/MTs SMA/MA D-I D-II D-III D-IV S-1 S-2 S-3 216 143 2643 124 64 557 27 1831 226 3 5834 2005 3.05% 100. 4 Sekretariat. yaitu terdiri dari 3 Assisten.09%). 1 Satpol PP.98% 10.71% 12.18% ).09% 100.01% 41.08% 100.13% 1.27% 1.143 orang (48.93% 2.502 (2010).10% 100.46% 0.30% 2.13% 0.37% 0.18% 7.92% 10.91% 0. dan menjadi 6.422 (2009).BAB II 6. S1 sebanyak 1.02% 0. DI – D III sebanyak 933 orang (14.28% 1.18% ).20% 0.09% 100. 1 Pelaksana Harian.92% 0.57% 28.60% 2.00% Sumber : BKD tahun 2010 Secara kelembagaan Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan No. Taman dan Pelabuhan.00% 2008 246 188 2784 137 67 696 36 1769 385 5 6313 3.02% 6.58% 2.35%) dan SLTA kebawah sebanyak 3.89% 0.46% 31.75% 12.86% 0.

Sekretariat Daerah = 1. setiap intansi membuat dan melaporkan LAKIP dalam forum ekpose.2015 Page 61 . dan menjadi 666 milyar rupiah lebih pada 2004. (4) Ketatalaksanaan dan Budaya. 6 Tahun 2008 tentang pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan. belum maksimalnya penerimaan dari sektor PAD mengharuskan Pemprov Kalsel ke depan bekerja lebih keras dan kreatif untuk meningkatkannya. 542 milyar rupiah pada 2002. 608 milyar pada 2003. Provinsi Kal Sel dalam 2 (dua) tahun terakhir. maupun tidak langsung. RSU =3. sedangkan realisasi belanja mencapai 268 milyar rupiah pada 2000. menjadi 461 milyar lebih pada 2001. Serta Reformasi Birokrasi Untuk mewujudkan birokrasi pemerintah yang profesional dan berintegritas tinggi dan mampu menyelenggarakan pelayanan prima. Dalam kontek kelembagaan telah dilaksanakannya restrukturisasi kelembagaan daerah. dengan mekanisme dimulai dari pembuatan SAKIP dijajaran SKPD . dimana secara singkat dari sisi pendapatan masih cukup banyak pendapatan yang berasal diluar Pendapatan Asli Daerah (PAD). dan menjadi 585 milyar rupiah pada 2004. Lembaga Teknis Daerah (Badan Daerah+ Kantor) = 16. Kal Sel telah mendapat RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . serta mewujudkan tata pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean governance). Sekretariat DPRD = 1. Sekretariat DPD Korpri Provinsi = 1. Satuan Pol PP= 1. sesuai dengan amanat PP 41 Tahun 2007 tentang Organisasi perangkat Daerah yang dituangkan lebih lanjut dalam Perda No. Ketatalaksanaan dan Sumber Daya Aparatur (SDM). Sedangkan dari sisi belanja masih banyak digunakan untuk belanja rutin pagawai.22% per tahun. Ini berarti terjadi kenaikan ratarata 16.42% per tahun. Sedangkan banyaknya dana yang terserap pada belanja pegawai membuat dana yang seharusnya dialokasikan untuk keperluan belanja lainnya yang langsung dirasakan rakyat. Penerapan Akuntabilitas Kinerja Intansi Pemerintah (LAKIP) melalui Peraturan Gubernur Kal Sel Nomor 060 tahun 2010 tentang Penerapan Sistem Akuntabilitas. Secara lebih spesifik terkait dengan pendapatan dan belanja daerah dapat dilihat dalam Bab III RPJMD Kalsel 2011-2015 ini. Ini berarti terjadi kenaikan ratarata 16. dilakukan penilaian oleh Tim. maka diperlukan reformasi birokrasi melalui 3 aspek penting yaitu : Kelembagaan (Organisasi). Berdasarkan regulasi diatas telah dibentuk 39 Perangkat Daerah yang meliputi Dinas Daerah = 16. Sedangkan dalam konteks Ketatalaksanaan/Organisasi Pemerintahan dan pengembangan SDM telah dilakukan beberapa hal sebagai berikut : 1. Masa penilaian/evaluasi yang dilakukan oleh Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi. 452 milyar rupiah pada 2001. baik pada pos belanja langsung. 495 milyar rupiah pada 2002. Sedangkan untuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 8 Tahun 2008 sebanyak 53 UPTD. Secara kualitatif. 596 milyar rupiah pada 2003.BAB II kurun waktu lima tahun anggaran meningkat dari 342 milyar rupiah pada 2000. belum terlalu maksimal porsinya.

BPK RI. 2. 4. akseptabilitas dan responsif dalam pelaksaan tata kelola pemerintahan. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .BAB II penilaian 5 (lima) besar Terbaik dari 33 (tiga puluh tiga) Provinsi di Indonesia dalam memberikan Pelayanan Publik Penerapan Pakta Integritas yang dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Kalsel. agar melaksanakan pelayanan publik secara optimal. II dan III. seperti DPRD Kalsel. secara teoritik pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik tersebut bukan hanya meletakkan pemerintah sebagai pelaksana tunggal pemerintahan. jika pengawasan terhadap aparatur pemerintah di perketat. Melaksanakan Gerakan Disiplin Mandiri (GDM) yang meliputi tri budaya (Budaya Kerja. 5. Pembentukan Tim Penegakan Disiplin Aparatur di lingkungan Pemerintah provinsi dan direncanakan juga pembentukan kader budaya kerja pada tiap-tiap SKPD. transparansi. 3.2015 Page 62 . seperti pelatihan penjenjangan dengan Emosional. Dalam ranah reformasi birokrasi. yaitu pengawasan internal dan eksternal. serta melalui peran inspektorat daerah. outbond bagi pejabat eselon II dan III dll. Telah melaksanakan workshop mind setting bagi pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemerintah provinsi. keterlibatan publik dan sektor swasta dalam tahapan-tahapan pembangunan menjadi aspek lain yang tak boleh diabaikan. Pemprov Kalsel merupakan satu dari sekian Pemprov di Indonesia yang menjadi pilot project pelaksanaan prinsip-prinsip good governance yang tercermin dari adanya akuntabilitas. Menyelenggarakan diklat dan berbagai pelatihan yang berfungsi meningkatkan karakter dan kreativitas aparatur. agar seluruh pejabat eselon I. bahkan KPK dalam ranah tertentu. pemprov Kalsel belum melakukan upaya yang sungguh-sungguh guna menghadirkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Secara internal pengawasan tersebut dilakukan secara berjenjang oleh pejabat yang membawahi langsung aparatur di bawahnya . Pengawasan yang efektif salah satunya dapat digagas melalui pengawasan publik yang memadai. publik semestinya harus mengawasi kinerja pemprov. serta disertai adanya reward and punishment yang baik. BPKP. Nomor 065/00658/Org tanggal 3 Mei 2010. Dalam konteks pengawasan eksternal pula. Spritual dan Quetion (ESQ). Padahal sejak tahun 2005. Selain itu. Reformasi birokrasi dapat dilaksanakan. Sedangkan pengawasan eksternal dilakukan oleh beberapa pihak. (5) Pengawasan Daerah Pengawasan terhadap kinerja pemerintah provinsi dilakukan dalam dua ranah. Mengadakan pembinaan dan fasilitasi terhadap peningkatan pelayanan publik di Kab/Kota dan juga lingkup pemerintah Provinsi melalui penilaian pelayanan publik secara berjenjang. Budaya Bersih dan Budaya Tertib) setiap tahun dengan memberikan reward yang proporsional.

1. saat ini Pemprov Kalsel sedang mempersiapkan keterbukaan informasi kinerja yang bisa dipantau secara langsung oleh masyarakat melalui mekanisme hak mendapatkan informasi. Azas penyelenggaraan pemerintahan belum optimal dilaksanakan. termasuk pada pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). sepanjang tidak menyangkut rahasia negara dan beberapa aspek informasi yang dikecualikan sebagaimana diatur undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2009 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). b. 6.BAB II Dalam upaya membuka ruang pengawasan publik. Permasalahan di Ranah Pemerintahan Beberapa permasalahan yang dihadapi Pemprov Kalsel dalam menjalankan kewenangannya di bidang pemerintahan adalah . sekaligus memberikan penjelasan atas permintaan dan keluhan publik pada layanan SKPD yang bersangkutan. mengingat terjadinya beberapa SKPD yang memiliki fungsi yang sangat besar sementara strukturnya minimal. Pelaksanaan PP ini mesti diaplikasikan dengan baik dan praktis. 5. sementara lingkup pekerjaan semakin meningkat seiring dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. bagaimana dan kapan program-program kerja Pemprov Kalsel yang direfresentasikan dari akuntabilitas kinerja setiap SKPD yang ada. Ada kecenderungan tenaga PNS Provinsi mengalami penurunan secara kuantitas. termasuk beberapa tugas dan kewenangan yang semestinya dilimpahkan oleh Pemerintah Pusat. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dalam upaya untuk meningkatkan akuntabilitas kepada masyarakat dalam kerangka sistem pengawasan. Kewenangan yang luas belum diikuti dengan kemampuan pendanaan yang memadai. sehingga menimbulkan euforia kekuasaan semata. Dalam konteks ini perlu dilakukan program-program yang mencerminkan nilai-nilai good governance. Kebutuhan daerah yang tercermin dalam keuangan daerah dari tahun ketahun selalu meningkat. akseptabilitas dan responsif. sehingga sebagian kewenangan tersebut menjadi beban bagi masyarakat.2015 Page 63 . transparansi. 2. Hal ini berakibat pada banyak program yang dilakukan tidak berdasar perencanaan dan pemrograman secara matang. 4. namun secara kualitas terjadi peningkatan berdasar pada pendidikan formal yang dimiliki. 3. sementara kemampuan untuk meningkatkan sumber pendapatan masih terbatas. namun belum ada pelaksana teknisnya di daerah. Masih belum terselenggaranya penyusunan SOP dan mantapnya IKU dan IKK di setiap SKPD. Kelembagaan daerah yang ada sekarang perlu dilakukan restrukturisasi fungsi. sehingga publik dapat mengetahui apa. yaitu akuntabilitas. Ketentuan dalam UU ini mengharuskan setiap SKPD di Pemprov memiliki Pejabat Pengelola Informasi dan Data (PPID) yang berperan untuk melayani. Selain itu.

280 5.038 orang.40 Jumlah Murid TK/RA pada tahun 2007 s.593 81. 2. Aspek Pelayanan Umum 2.038 64.895 826. Murid Jumlah murid berdasarkan jenjang pendidikan dari TK sampai dengan Madrasah Aliyah dapat dilihat pada Tabel II.539 orang serta pada tahun 2009 sebanyak 393.038 64. Tabel II. Penerapan sistem pengawasan. sedangkan untuk MI pada tahun 2007 sebanyak 64.889 Jumlah 724. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .593 786.1.252 MA 19. Pengawasan oleh publik juga belum diatur sedemikian rupa mekanisme dan prosedurnya.BAB II 7.032 SMK 19.559 98.321 456.768 53. 8.080 1. Upaya-upaya reformasi birokrasi masih berjalan lambat dalam menghadapi tuntutan publik yang hendak menghadirkan pemerintahan yang baik dan bersih. 2010 Jumlah Murid tingkat SD pada tahun 2007 sebanyak 379.579 46.540 orang.1.836 26.539 393. tahun 2008 sebanyak 68.519 100. terutama pengawasan internal belum optimal dilakukan.3.321 orang.040 Paket A (BLM ADA DATA) SLTP 86.3.300 Paket B SMU 41.460 3.213 1.659 orang.117 5.073 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel.025 orang.371 680 600 1.540 SD 379.721 19.768 54.1.40 Jumlah Murid Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan di Kalimatan Selatan Tahun 2007 .242 45.213 orang.659 MTs 53. Salah satu problemnya adalah masih belum jelasnya mekanisme reward and punishment di Pemprov Kalsel. Pada tahun 2007 jumlah murid TK/PAUD 61. 2009 menunjukkan peningkatan.2015 Page 64 .038 orang. 3.721 19. dan pada tahun 2008 sejumlah 456.221 19.025 68.800 Paket C MI 64.d. Pendidikan a.593 orang. dan pada tahun 2009 menjadi 81. pada tahun 2008 tetap 64. dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 64. Pelayanan Dasar Urusan Wajib 2.580 1.2009 Jumlah Murid Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 61.

karena layanan terhadap peserta didik juga masih besar. tahun 2008 tetap sebanyak 19.611 8. Jumlah murid SMK meningkat tajam. b.125 66. pada tahun 2007 sebanyak 19.656 5. dan pada tahun 2009 menjadi 26. sedangkan untuk MA pada tahun 2007 sebanyak 19.425 5.032 orang.721 orang.873 9. serta statusnya. tahun 2008 menjadi 45.656 MA 2.42 Dilihat dari rasio guru dan murid di Kalimantan Selatan menunjukkan kondisi yang sangat baik.854 2.885 SMU 3.206 4.021 6.41 Jumlah Guru Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan di Kalimatan Selatan 2007-2009 Jumlah Guru Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 4.836 orang. tahun 2008 tetap sebanyak 53. pada tahun 2007 jumlah murid SMU sebanyak 41.371 orang.746 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel Berdasarkan tabel jumlah murid dan jumlah guru tersebut diatas dapat dihitung rasio guru murid sebagaimana terlihat pada Tabel II.325 30.542 25.021 6. tahun 2007 jumlah murid SLTP sebanyak 86.559 orang.768 2.221 orang.2015 Page 65 .660 SD 22.512 SLTP 7. dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 54. tahun 2008 meningkat menjadi 98.889 orang. tahun 2008 sebanyak 19.768 Jumlah 54.252 orang.844 1.317 MI 6.242 orang. namun demikian di daerah perdesaan rasio guru dan murid masih relatif besar.117 orang.021 MTs 5.927 SMK 1.BAB II Jumlah Murid pada tingkat SLTP juga semakin meningkat.519 orang dan pada tahun 2009 menjadi 100.579 orang dan pada tahun 2009 menjadi 46.768 orang. Langkah kongkret yang perlu diambil adalah pemerataan guru sesuai bidang keahliannya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Guru Jumlah guru di Kalimantan Selatan selalu meningkat dari tahun ke tahun dimana sebarannya menurut jenjang pendidikan dapat diliohat pada Tabel II. terutama untuk sekolah-sekolah pada lingkungan pendidikan agama.41 Tabel II.768 2.673 4. demikian juga kualitasnya. Kualitas guru di perdesaan masih lebih rendah daripada guru di perkotaan. 768. dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 19. dan masih dirasakan kekurangan guru sehingga seringkali terpaksa mengangkat guru honorer yang kurang berkualitas dengan status yang kurang jelas.721 orang. sementara untuk MTs pada tahun 2007 sebanyak 53.321 59. Jumlah murid tingkat SMU juga meningkat.203 3.656 5.

Ketersedian dan Distribusi Tenaga kesehatan.1. tetapi distribusinya belum merata.000 penduduk untuk RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .2015 Page 66 . 2010 Rasio murid dan sekolah pada jenjang TK/PAUD masih sangat kecil.2.42 Rasio Guru dan Murid Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan di Kalimantan Selatan 2007-2009 Jumlah Murid Per Satu Orang Guru Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 15 16 14 SD 17 18 13 SLTP 11 11 10 SMU 11 11 12 SMK 10 11 11 MI 11 11 11 MTs 10 10 10 MA 7 7 7 Rata-rata Sekolah 11 12 11 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel. dan kualitas tenaga kesehatan terus meningkat. 2.BAB II Tabel II. Rasio murid dan sekolah di SMU dengan di SMK terjadi perbedaan yang sangat signifikan. Rasio tenaga kesehatan per 100. Kesehatan a. kondisi ini umumnya disebabkan oleh sarana yang belum memadai dan jarang.3. 2010 c.43 Tabel II. serta relatif jauh dari tempat tinggal anak. Kondisi ini mencerminkan bahwa sekolah TK/PAUD belum banyak menampung anak usia PAUD. jenis. Jumlah.43 Rasio Sekolah dan Murid Menurut Jenjang dan Jenis Pendidikan Di Kalimantan Selatan 2007-2009 Jumlah Murid Per Sekolah Jenjang Pendidikan 2007 2008 2009 TK/PAUD 44 50 44 SD 131 287 309 SLTP 217 221 170 SMU 273 260 269 SMK 315 325 361 MI 121 121 111 MTs 182 182 170 MA 157 157 160 Rata-rata Per Sekolah 196 200 199 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel. kondisi ini menunjukkan bahwa minat murid bersekolah di SMK relatif tinggi. Sekolah Rasio murid dengan sekolah berdasarkan jenjang pendidikan selama periode 2007-2009 disajikan pada Tabel II. dengan rasio hampir 1.4.

M.wat 74 103 42 50 10 64 61 106 131 72 6 79 350 152 93 Bdn 38 36 22 37 4 10 7 15 14 25 10 14 33 28 1 Apt 2 4 3 2 1 3 2 2 2 3 5 3 8 3 3 Sumber : Dinas Kesehatan Prov Kalsel. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten/Kota Banjarbaru Banjar Batola Tanah Laut Tanah Bumbu Kotabaru Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Balangan Tabalong Banjarmasin (RSUD Pendidikan Ulin) Banjarmasin (RSUD Dr. Kesenjangan tenaga kesehatan lebih jelas terlihat antara daerah perkotaan dan perdesaan baik dari segi jumlah maupun rasionya. perawat. dan RS Bhayangkara (1 di Banjarmasin) RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .44 Tabel II.Sp : Dokter Spesialis Apt : Apoteker Catatan : Data tersebut diatas.U : Dokter Umum Dr. Ansyari Saleh ) RSUJiwa Sambang Lihum Dr. Kondisi ini lebih disebabkan karena disparitas antar wilayah (Kabupaten/Kota). tidak termasuk RS Swasta (5 di Banjarmasin.G 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 6 4 Dr. kondisi tersebut dapat dilihat pada tabel II.U 10 5 13 9 4 7 7 9 4 8 2 8 24 20 11 Dr.BAB II dokter umum. Banjar).G : Dokter Gigi P. karakteristik geografis di daerah pedesaan lebih sulit.wat : Perawat Bdn : Bidan Dr. 1 di Banjarbaru. dan bidan di Provinsi Kalimantan Selatan cenderung mengalami peningkatan. dokter gigi. kemampuan kabupaten/kota dalam menyediakan fasilitas kesehatan. dan umumnya masyarakat pedesaan lebih memilih pengobatan alternatif/tradisional karena relatif lebih terjangkau (lebih murah).H.Sp 7 13 3 4 1 5 4 4 7 4 8 57 18 1 P. Banjar. 2 di Kab. 1 di Kab. Length of Stay (LOS) tenaga kesehatan di daerah pedesaan lebih pendek. 1 di Kab. 2009 Keterangan : Dr.44 Jumlah Tenaga Medik dan Paramedik Di Rumah Sakit Kalimantan Selatan Tahun 2009 No.2015 Page 67 . dokter spesialis. Tabalong) dan RS TNI (2 di Banjarmasin. tenaga kesehatan lebih terkonsentrasi di daerah perkotaan. kemampuan (finansial) masyarakat di daerah perkotaan lebih baik dibandingkan dengan di daerah pedesaan. akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di daerah perkotaan lebih baik (ditinjau dari aspek transpotasi).

dan terendah di Kabupaten Batola sebesar 7. penggunaan dan mutu obat.806 260. Hal ini sebenarnya dapat dikatakan cukup memadai.U DrG P. Ketersedian Obat dan Pengawasan Obat-Makanan Ketersediaan dan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan terus membaik.189 210.553 152.200 251.45 Jumlah Puskesmas.819 Jumlah Puskes Dr. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Banjarbaru Banjar Batola Tanah Laut Tanah Bumbu Kotabaru Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Balangan Tabalong Banjarmasin Jumlah Jumlah Pendduk 159. Sedangkan di daerah pedesaan dan terpencil/tertinggal.230 483.000 penduduk rata-rata sebesar 12. tenaga medik lebih banyak terkonsentrasi di daerah perkotaan.2 orang dokter. Rasio tenaga medik per 100. sebesar 22.672 100. Tantangan kedepan adalah meningkatkan jumlah tenaga medik dan paramedik terampil yang bersedia ditempatkan didaerah pedesaan dan daerah terpencil/tertinggal. masih sangat tergantung pada pengadaan/ketersedian di Dinas Kesehatan setempat.686 602.wat Bdn Apt mas 7 21 10 42 70 11 24 42 18 145 307 2 16 21 3 114 213 15 44 11 115 173 2 8 35 7 138 109 2 24 39 26 64 111 5 13 14 6 109 134 1 20 36 5 137 151 19 30 6 161 185 2 12 17 3 103 117 5 9 23 3 75 105 2 15 19 10 65 135 1 26 76 29 137 151 11 208 417 137 1. Demikian juga halnya untuk tenaga Perawat dan Bidan. tetapi keterjangkauan.422.5. Hal ini kadang-kadang tidak sesuai dengan obat dan perbekalan kesehatan yang diperlukan oleh unit-unit pelayanan.961 44 Sumber : Dinas Kesehatan Prov Kalsel dan BPS Jumlah tenaga medik (dokter umum) per Puskesmas berkisar antara 1 s/d 3 orang. tenaga medik masih sangat kekurangan.BAB II Tabel II. Rasio terbesar berada di Kabupaten Balangan.2015 Page 68 .122 206. sehingga pelayanan tidak dapat dilaksanakan secara optimal. dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan petugas kesehatan (paramedik) terutama yang bertugas di daerah terpencil/tertinggal. b.265 276.569 204. kemudian Tanah laut dan Hulu Sungai Selatan sebesar 17.7. Tenaga Medik dan Paramedik Di Kalimantan Selatan Tahun 2009 No. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . serta pengawasan obat dan makanan masih belum optimal. Ketersedian obat dan perbekalan kesehatan pada unitunit pelayanan.967 271.405 1.725 3. meningkatkan manjemen institusi pelayanan kesehatan berbasis edidemiologi.9.07.000 penduduk masih sebesar 6.835 242. Namun demikian secara faktual dilapangan. Sedangkan rasio puskesmas per 100.

air bersih dan kesehatan lingkungan. dan bantuan pemerintah pada institusi pelayanan kesehatan pusat di daerah. perlu dilakukan peningkatan anggaran. sebagian besar masih dilaksanakan oleh tenaga Asisten Apoteker. keluarga. tetapi belum sepenuhnya dapat meningkatkan status kesehatan masyarakat miskin terutama untuk daerah pedesaan dan terpencil/tertinggal. jumlah tenaga farmasi terus meningkat. Anggaran tersebut terutama digunakan untuk membiayai pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin (Askeskin/Jamkesda). gizi. baik di puskesmas maupun di rumah sakit. serta menghindari penyalahgunaan. penyakit menular. masih belum dapat teratasi. karena alasan transpotasi dan biayanya relatif lebih mahal. masyarakat yang tidak mampu mendatangi unit-unit pelayanan. d. Dari segi ketenagaan. telah mampu meningkatkan akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan. telah dilakukan upaya penyuluhan dan penyebaran informasi agar obat digunakan secara tepat dan rasional. Keamanan makanan masih belum terjamin. bahan berbahaya lain. Tantangan ke depan adalah meningkatkan ketersediaan dan pendistribusian obat dan perbekalan kesehatan sesuai keperluan unit-unit pelayanan kesehatan. Jaminan pelayanan kesehatan. Akses pelayanan kesehatan. Dari data yang terdapat pada tabel tersebut diatas. Di samping itu. peredaran narkotika. cemaran mikroba dalam produk makanan termasuk pada jajanan anak sekolah. Keterbatasan kemampuan pemerintah daerah untuk pengadaan obat dan perbekalan kesehatan. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pembangunan Kesehatan. AKB. Jaminan Perlindungan Kesehatan Masyarakat Pembiayaan kesehatan sebagian besar masih berasal dari pemerintah pusat dan kontribusi pemerintah daerah. serta berbagai peralatan dan kemasan makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya. Upaya ini ditujukan untuk memberdayakan individu. peningkatan upaya keterjangkauan harga obat. untuk melakukan percepatan pencapaian sasaran-sasaran MDGs seperti penurunan AKI. meningkatkan pengawasan penyalahgunaan bahan berbahaya yang terdapat dalam makanan dan minuman. dan masyarakat agar mampu melaksanakan upaya pemeliharaan kesehatan secara mandiri. umumnya berobat kepada tenaga kesehatan yang berkeliling (dikenal dengan istilah “mantri keliling”) atau berobat secara tradisional. masih belum terjangkau oleh sebagian masyarakat. dan zat adiktif lainya secara ilegal. psikotropika. Kegiatan kefarmasian di Puskesmas.2015 Page 69 . c. terutama untuk masyarakat miskin di daerah pedesaan dan tertinggal/terpencil (Askeskin/Jamkesda). yang ditandai dengan penyalahgunaan formalin. meningkatkan perencanaan kefarmasian berbasis epidemiologi. Dsisi lain. Dalam penggunaan obat. tidak semua Puskesmas memiliki tenaga Apoteker. meningkatkan penegakan hukum bagi pengedar dan pengguna narkotika dan zat adiktif lainnya.BAB II Didaerah pedesaan terpencil/tertinggal. Tantangan ke depan adalah meningkatkan pembiayaan jaminan kesehatan. program ini RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .

Desa Siaga bertujuan untuk. Walaupun akses masyarakat RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan. Tantangan ke depan adalah meningkatkan promosi kesehatan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat melalui kerjasama lintas sektor. Di beberapa wilayah masih terdapat masyarakat yang mengalami kendala jarak dan waktu untuk mencapai fasilitas pelayanan kesehatan. belum mampu menjangkau. komunitas adat terpencil dan kelompok lainnya. darurat dan sebagainya).BAB II lebih dikenal dengan istilah “PNPM” (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat). pemerintah daerah.2015 Page 70 . Akses masyarakat yang berdomisili dekat (sekitar) fasilitas kesehatan umumnya cukup baik. masyarakat merasa mendapat tugas/beban tambahan dalam melaksanakan PNPM dan Desa Siaga. Kondisi ini diperburuk dengan kondisi jaringan jalan dan listrik yang masih belum memadai. PNPM bertujuan untuk. asosiasi. dan Pos KB Desa. meningkatkan evaluasi dan revitalisasi PNPM dan Desa Siaga yang sudah terbentuk. 1) meningkatkan partisipasi seluruh masyarakat. 6) meningkatkan kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan. 4) meningkatkan masyarakat yang berPerilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). jumlah fasilitas pelayanan kesehatan terus meningkat namun aksesibilitas masyarakat terutama penduduk miskin di daerah terpencil/tertinggal. wabah. Posyandu lebih dikembangkan dalam rangka percepatan desa sehat. 1) meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan. perguruan tinggi. waktu pelaksanaan PNPM dan Desa Siaga sering bersamaan dengan waktu masyarakat melaksanakan pekerjaan pribadinya (ke sawah. Sedangkan fasilitas Puskesmas Keliling. Upaya pemberdayaan masyararakat di bidang kesehatan sudah lama tumbuh didalam kehidupan masyarakat. Pos Imunisasi. ke kebun. swasta. Pembentukan PNPM dan Desa Siaga. termasuk masyarakat miskin. terhadap fasilitas pelayanan kesehatan masih terbatas. dan Pos-pos lain yang pelayanannya masih terkotak-kotak. pada tahun 2006 Departemen Kesehatan mencanangkan upaya pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan melalui DESA SIAGA. belum dapat dilaksanakan secara optimal disebabkan karena. meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan PNPM dan Desa Siaga melalui pembinaan berkelanjutan. dulu dikenal dengan nama Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (“PKMD”). Kemudian diintegrasikan dan diberi nama Pos Pelayanan Terpadu (“Posyandu”). PKMD diselenggarakan melalui Pos Penanggulangan Diare. Secara nasional. dan atau pekerjaan lainnya. 3) meningkatkan keluarga sadar gizi. kelompok perempuan. 2) meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana. 5) meningkatkan kesehatan lingkungan desa. organisasi masyarakat dan kelompok perduli lainnya untuk mengefektifkan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan. e. 3) meningkatkan modal sosial masyarakat yang berkembang sesuai dengan potensi sosial dan budaya serta untuk melestarikan kearifan lokal. 2) meningkatkan sinergi masyarakat. lembaga swadaya masyarakat.

daya. yang mempengaruhi alam itu sendiri. dan makhluk hidup. Jumlah tenaga medik dan paramedik. tanah longsor. dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan.BAB II terhadap pelayanan kesehatan di puskesmas dan jaringannya sudah cukup bagus. masih belum memadai. keadaan. illegal fishing. Wilayah-wilayah di Kalsel yang memiliki daya dukung lingkungan rendah sehingga rawan bencana banjir antara lain. terutama pelayanan kesehatan preventif dan promotif. (5) meningkatnya pencemaran udara. Kalimantan Selatan berada pada urutan 26 dari 33 provinsi. termasuk manusia dan perilakunya. Secara umum permasalahan sumberdaya alam dan lingkungan hidup di Kalimantan Selatan berupa (1) belum mantapnya penegakan hukum menyangkut illegal logging.2015 Page 71 . tanah dan air (6) Belum sinkronnya RTRWP dengan RTRWK. Mengingat pentingnya lingkungan hidup ini maka diperlukan suatu usaha Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. 2007). (2) pemanfaatan SDA-LH kurang memperhatikan kaidah konservasi sehingga menyebabkan pertambahan luasan lahan kritis. kelangsungan perikehidupan. rusaknya ekosistem dan berkurangnya keanekaragaman hayati. pemanfaatan. (7) belum optimalnya pengembangan wilayah strategis dan cepat tumbuh. dapat dikatakan sudah cukup memadai. Length of Stay (lama tinggal) dokter spesialis di rumah sakit Kabupaten/Kota masih sangat pendek. (4) sering terjadinya banjir. dan penegakan hukum. disamping keterbatasan kemampuan masyarakatnya untuk membeli jasa pelayanan dokter spesialis. Berdasarkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . kualitas pelayanannya masih perlu ditingkatkan. pengendalian. terutama di daerah terpencil/tertinggal. Tantangan ke depan adalah meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat melalui penyediaan sarana dan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai untuk merespons dinamika karakteristik penduduk dan kondisi geografis. Dampak ekologis dari rusaknya DAS dan Sub-DAS (daratan dan perairan) adalah terjadinya bencana banjir dan tanah longsor yang dirasakan hampir terjadi setiap tahun (musiman). Lingkungan hidup Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda. dan illegal mining. Namun masih banyak terkonsentrasi dai daerah perkotaan.3. Jumlah dokter spesialis di beberapa rumah sakit Kabupaten/Kota.1. pengawasan. Hal ini terjadi karena keterbatasan kemampuan Kabupaten/Kota menyediakan berbagai fasilitas yang diperlukan. Kabupaten Tabalong. belum terdistribusi secara merata. 2. Balangan.3. dan secara internal kelembagaan masih kurangnya data dan informasi yang terkait dengan PSDAL (Bappeda Kalsel. dan asap akibat kebakaran hutan dan lahan. (3) kurangnya komitmen perusahaan terhadap pemulihan lingkungan hidup. pemeliharaan.

Tanah Bumbu dan Kotabaru. termasuk dalam pemberian berbagai fasilitas dan insentif bagi investor.2. dan SKPD nya. Selain masalah banjir dan longsor.2015 Page 72 . laju reboisasi yang dilakukan sangat tidak seimbang. pada musim kemarau di Kalimanatan selatan sering terjadi kebakaran hutan dan lahan. (3) Penyelenggaraan urusan pemerintahan di bidang penanaman modal yang merupakan urusan wajib pemerintah daerah didasarkan pada kriteria eksternalitas. dan efisiensi pelaksanaan kegiatan penanaman modal.25/2007 yang terdapat dalam Pasal 30 ayat 1-9 berikut ini. Sementara. dibandingkan dengan data tahun 2003 maka peningkatan laju lahan kritis mencapai 40. Sementara reklamasi dan rehabilitasi areal bekas pertambangan tersebut belum jelas keberhasilannya. (2) Pemerintah daerah menyelenggarakan urusan penanaman modal yang menjadi kewenangannya. mengalami pendangkalan. (4) Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya lintas provinsi menjadi urusan Pemerintah. Terdapat 656. 2. sehingga ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi terutama di kawasan Pegunungan Meratus. (1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin kepastian dan keamanan berusaha bagi pelaksanaan penanaman modal. akuntabilitas.BAB II Hulu Sungai Utara. akibat kerusakan parah pada kawasan hutan sepanjang DAS dan pegunungan Meratus yang berfungsi sebagai catchment area. kecuali urusan penyelenggaraan penanaman modal yang menjadi urusan Pemerintah. Kondisi ini merupakan produksi gas rumah kaca yang berdampak kepada pemanasan global.743 ha areal izin pertambangan berada di kawasan hutan. Sekretariat Daerah.3.2.1. Sedangkan kondisi sungai-sungai besar ini. musibah banjir dan tanah longsor tidak bisa terelakkan lagi. serta Kabupaten Tanah Laut. merupakan wilayah yang dilintasi sungai-sungai besar pada sub DAS Barito.991 ha per tahun. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Badan ini tidak bekerja sendiri namun melakukan kerja sama secara intensif dengan instansi-instansi terkait terutama Bappeda. Salah satu acuan pokok yang telah digariskan adalah ketentuan penyelengaraan urusan penanaman modal dalam UU No.043 ha lahan kritis yang tersebar di beberapa kabupaten tahun 2009. Wilayah-wilayah rawan bencana ini. Pelayanan Penunjang Urusan Plihan 2. Tapin dan Banjar di bagian utara. Penanaman modal Kegiatan penanaman modal di Kalimantan Selatan dilakukan dibawah koordiansi Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Provinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan penanaman modal yang diarahkan secara integratif dalam sistem administrasi NKRI mengakibatkan BKPMD dan jajaran Pemerintah Daerah selaku pelaksana harus selalu mengacu pada peraturan dari pusat. Terdapat 761.3. Hulu Sungai Selatan.

846 atau 67. (8) Dalam urusan pemerintahan di bidang penanaman modal ang menjadi kewenangan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (7). Pada tahun 2007 merupakan prosentase tertinggi pencapaian realisasi target sasaran tahunan wirausahawan baru yang ditargetkan sebanyak 23.77 persen. namun masih lebih tinggi dari capaian tahun 2006 yakni 60.67 persen. Target yang telah ditetapkan untuk munculnya jumlah wirausaha baru ternyata belum terpenuhi sebagaimana terlihat pada tabel II. melimpahkannya kepada gubernur selaku wakil Pemerintah.2.27 persen.3.000 unit. yang didasarkan perjanjian yang dibuat oleh Pemerintah dan pemerintah negara lain. penanaman modal yang terkait pada fungsi pemersatu dan penghubung antarwilayah atau ruang lingkupnya lintas provinsi. penanaman modal pada bidang industri yang merupakan prioritas tinggi pada skala nasional. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Sasaran jumlah wirausahawan UMKM baru yang tumbuh di Kalimantan Selatan selama periode 2006 – 2009 adalah sebanyak 89. d. yang menjadi kewenangan Pemerintah adalah : a. b. (7) Dalam urusan pemerintahan di bidang penanaman modal. yang berasal dari pemerintah negara lain. e. 2. Sampai dengan akhir Desember 2009 realisasi jumlah wirausahawan baru adalah 53. atau menugasi pemerintah kabupaten/kota. Koperasi. (9) Ketentuan mengenai pembagian urusan pemerintahan di bidang penanaman modal diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.BAB II (5) Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya lintas kabupaten/kota menjadi urusan pemerintah provinsi. (6) Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya berada dalam satu kabupaten/kota menjadi urusan pemerintah kabupaten/kota. dan f.380 terealisasi sebesar 15.000 unit. Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) Dalam upaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas pemerintah berusaha menerapkan kebijakan yang mengarah pada pemberdayaan ekonomi rakyat dan sumberdaya lokal.46.362 atau 59. penanaman modal asing dan penanam modal yang menggunakan modal asing. c.2015 Page 73 . penanaman modal yang terkait pada pelaksanaan strategi pertahanan dan keamanan nasional. bidang penanaman modal lain yang menjadi urusan Pemerintah menurut undangundang. Pada tahun 2008 terjadi penurunan realisasi capaian menajdi 66.2. Realisasi pencapaian target yang paling rendah terjadi pada tahun 2009 adalah sebesar 44.96 persen dari total target penumbuhan Wirausahabaru sejumlah 89. Pemerintah menyelenggarakannya sendiri. Diantara kegiatan yang mendukung kebijakan tersebut adalah dengan mondorong tumbuhnya jumlah pengusaha.29 persen. penanaman modal terkait dengan sumber daya alam yang tidak terbarukan dengan tingkat risiko kerusakan lingkungan yang tinggi.

180 2.972 23.643 9.589 6.000 Prosentase 89.180 6.054 6.566 868 105 568 1.362 59.169 5.829 500 2.987 89.350 1. terjadi pertambahan sebanyak 49 unit atau 6.482 3.10 persen.807 4.418 176 211 1.S H. demikian juga dengan Volume Usaha meningkat pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 63.097 21.27 44.331 1.55 persen.732 4.55 persen.475 891 934 193 1.T H.334 6.150 1.022 1.29 67.782 3.066 13.498 Koperasi Aktif atau 47. jadi ada kenaikan sebanyak 76 unit atau 3. hal ini tercermin dari pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun 2009 yang hanya mencapai 709 Koperasi dari 1.500 4.699 624 1.362 Sumber : Dinas Koperasi & UKM Prov.353 753 1.282 3.380 22.137 unit pada tahun 2008 menjadi 2.646 17.BAB II Tabel II.785 6.611 2.213 unit tahun 2009.S.688 1.53 persen.2009) 5.2009 REALISASI NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 KAB/ KOTA Tanah Laut Kotabaru Banjar Batola Tapin H.67 21.109 1. namun dari segi kualitas masih perlu ditingkatkan.846 14.081 420 1.77 66.945 53.S.288 1.227 5.338 5. Apabila dilihat dari prosentase besarnya antara Modal sendiri dan Modal luar pada Koperasi maka Modal sendiri sebesar 34.2015 Page 74 .467 5.762 616 387 4. Kalsel tahun 2010 Perkembangan Koperasi di Kalimantan Selatan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dari segi kuantitas.475 1.46 Target dan Realisasi Jumlah UMKM Wirausaha Baru Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2006 .319 149 1.007 563 152 824 990 1.890 6.748 228 400 1.688 1.96 53.57 persen pada tahun 2009.75 persen pada tahun 2008 dan 47.424 1. Perkembangan Modal sendiri terjadi peningkatan pada tahun 2009 dari tahun 2008 sebesar 8.331 5.378 1.626 60. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .094 3.851 2.765 7.200 622 1.S.U Tabalong Banjarmasin Banjarbaru Balangan Tnh Bumbu JUMLAH Target TARGET (2006 . Selengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.551 4.104 I.334 5. Namun Koperasi tidak aktif juga bertambah dari 671 unit tahun 2008 menjadi 715 unit tahun 2009.33 persen.000 2006 2007 2008 2009 2 0 1 0 TOTAL 1.816 1.247 15. Berdasarkan data yang ada menunjukan peningkatan jumlah Koperasi dari 2.214 130 398 1.

000 331.096 (0. Upaya pemberdayaan perempuan sebenarnya berkaitan dengan peningkatan mutu sumberdaya manusia anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan serta menghindari terjadi kekerasan dalam rumah tangga dan justru mendorong peningkatan ekonomi rumah tangga. 7.000 410.3.000 191.137 2.735.80 NO 1. Aktif Unit 1. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .000 34.42 Manager Org 464 444 (4. Permasalah yang terjadi dalam melaksanakan tugas dan fungsi tersebut.556.466 1. 9. Tantangan ke depan adalah tersedianya fasiltas dan anggaran yang memadai.000 8. 5. Usaha Rp.18 Anggota Org/Kop 294. maka perlu adanya dukungan dari berbagai pihak. diantaranya adalah 1) keterbatasan pemerintah dalam menyediakan berbagai fasilitas dan anggaran. mengoptimalkan sistem SIAK.000 (3.000 669.3. penataan sistem informasi data kependudukan. Kependudukan dan Catatan Sipil Kependudukan dan catatan sipil merupakan salah satu urusan wajib Pemerintah Propvinsi dan Kabupaten/Kota sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang. Pemberdayaan Perempuan. Provinsi dan Kabupaten/Kota bertanggungjawab dalam menyelenggarakan administrasi kependudukan.644 298. 3. dan meningkatkan sosialisasi pentingnya adminsitrasi kependudukan dan catatan sipil kepada masyarakat. melakukan pembinaan kepada masyarakat.000 0. penataan sistem pelayanan.96) Vol. 4. 2.615.000 318.31) Karyawan Org 3. meningkatkan motivasi dan kompetensi petugas.22 RAT Kop 660 709 7.4.52 Modal Luar Rp.000 176.2015 Page 75 . Beberapa tugas dan fungsi institusi kependudukan dan catatan sipil.10 SHU Rp. 2) kinerja. 2.2.593. 8. 4) kesadaran masyarakat tentang pentingnya sistem kependudukan dan catatan sipil.3. 2. Perlindungan Anak dan Lansia Budaya dan ideologi patriarki selama ini relatif menghambat peran dan keberdayaan perempuan.249 1.000 35.121 3. diantaranya adalah menata sisten koneksi NIP berbasi SIAK.47 Perkembangan Koperasi di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2008 dan 2009 TAHUN TAHUN KENAIKAN/ URAIAN SATUAN 2008 2009 PENURUNAN (%) Total Koperasi Unit 2. termasuk penyedian fasilitas infrastruktur dan sistem pendanaan yang memadai.80) Modal Sendiri Rp.636. 6. dan beberapa tugas dan fungsi yang lain.BAB II Tabel II.2. adanya ketentuan dan peraturan yang mengikat. 3) belum optimalnya sistem SIAK. motivasi dan kompetensi petugas.55 Kop.55 Kop. Tdk Aktif Unit 671 715 6.548.000 63.040.213 3. Konstruksi sosial yang ada menyebabkan ketimpangan peran bahkan mengarah pada tindak kekerasan terhadap perempuan.498 2.408.

Salah satu indikator penanganan terhadap perlindungan anak adalah tertampungnya pada panti asuhan baik dimiliki oleh swasta/ormas.9 Grafik Perkembangan Jumlah Anak Asuh Kalimantan Selatan 2006-2008 Sumber: Prov. Banjarbaru (475 anak) dan Banjarmasin (616 anak). pendidikan dan ekonomi rumah tangga dengan bekerjasama berbagai pihak sebagai upaya pemberdayaan perempuan.Kalsel Dalam Angka 2009. Besarnya jumlah anak asuh ini berkorelasi dengan bertambahnya jumlah panti yang dimiliki swasta/ormas dan pemerintah. Setidaknya tujuan utama adalah keberlangsungan pendidikan dan pertumbuhan sumberdaya manusia dalam rumah tangga maupun peran perempuan dalam ranah publik. penyusunan. HST (475 anak).2015 Page 76 . Gambar II. BPS Sedangkan perkembangan jumlah lansia terjadi penurunan khususnya tahun 2006. pemerintah maupun swasta/ormas yang dibantu pendanaan dan pembinaan oleh pemerintah Kalimantan Selatan. Selain itu peningkatan pengetahuan dalam pemahaman kesehatan. Pelaksanaan kerjasama dengan mitra pegiat gender misalnya termasuk kampanye dan sosialisasi soal kekerasaan rumah tangga adalah bagian dari upaya pemberdayaan perempuan. pelaksanaan dan pemantauan terhadap kebijakan pemerintah itu sendiri dan perkembangan sosial yang terjadi dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan serta kepentingan kehidupan keluarga. Ada empat kabupaten/kota yang relatif besar menangani anak terlantar dibandingkan kabupaten/kota yang lain diantaranya Kab. yang tidak kalah penting adalah persoalan anak terlantar dan anak yang tidak mendapatkan perlindungan dari orangtua maupun keluarga yang mengalami peningkatan dari tahun.BAB II Upaya pemberdayaan perempuan diperlukan adanya perencanaan.ke tahun. Selain itu. HSU (510 anak). HSS (433 anak). Persoalan ini ditangani oleh pemerintah dan swasta. Penyuplai terbesar jumlah lansia adalah RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Hal ini disebabkan sebagian meninggal dan ditambah sirkulasi masuk dan keluar panti karena ditangani keluarga dan pendataan yang diakomodasi panti sendiri dalam rangka perlindungan terhadap lansia.

Kesenjangan CPR antar Kabupaten/Kota mengindikasikan kurang meratanya jangkauan program KB ke seluruh daerah. Kesertaan pria dalam pemakaian kontrasepsi juga masih sulit ditingkatkan yang disebabkan oleh masih sangat terbatasnya pilihan metode kontrasepsi pria (hanya kondom dan vasektomi) dan masih sangat kuatnya budaya patriarki di masyarakat yang menganggap bahwa KB adalah urusan perempuan. Selain itu. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .3. Pemakaian kontrasepsi Angka pemakaian kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate/CPR) masih rendah.BAB II Kabupaten Banjar mencapai 71 orang dan Kota Banjarmasin mencapai 139 orang. seperti sterilisasi (tubektomi dan vasektomi). meningkatkan pemakaian kontrasepsi jangka panjang. 2.2. sebagian besar peserta KB menggunakan kontrasepsi hormonal dan bersifat jangka pendek. dengan penggunaan terbanyak pada suntikan. Sementara itu. dan bervariasi antar Kabupaten/Kota. Gambar II. BPS Tantangan kedepan adalah perlunya pemetaan lebih intensif terhadap penanganan anak terlantar dan penduduk lansia untuk dilindungi dan penataan/pembinaan secara intensif penanganan terhadap anak asuk maupun lansia oleh pengelola panti.2015 Page 77 . penyusunan dan pelaksanaan kegiatan yang mendorong keberdayaan perempuan. Tantangan yang dihadapi ke depan adalah upaya meningkatkan kesertaan ber-KB di daerah dengan CPR rendah. Disamping itu kegiatan perencanaan. dan meningkatkan kesertaan pria dalam ber-KB. agar tercermin kelayakan pengasuhan dan pelayanan. IUD.10 Grafik Perkembangan Jumlah Lansia Kalimantan Selatan 2005-2008 Sumber: Prov. intensifikasi advokasi dan KIE serta peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB.Kalsel Dalam Angka 2009. sementara Kabupaten Balangan dan Tanah Bumbu tidak ada melakukan aktifitas perlindungan terhadap penduduk lansia. dan implan cenderung menurun. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera a. dan antar status sosial.5. pemakaian kontrasepsi yang bersifat jangka panjang.

serta masih terdapat kebijakan pembangunan lainnya yang kurang mendukung kebijakan pengendalian kuantitas penduduk. kematian. dan atau dinas. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah masih belum optimal. dapat dilakukan melalui pembinaan kelompok-kelompok kegiatan di tingkat akar rumput. Mengingat penanganan masalah kependudukan melibatkan berbagai sektor dan pemangku kepentingan. dengan menyediakan akses terhadap sumber permodalan. e. f. Pembinaan dan kemandirian peserta KB Peningkatan jumlah peserta KB baru menemui hambatan pada saat CPR telah mencapai di atas 50%. c. Tantangan ke depan adalah menyerasikan kebijakan kependudukan agar konsisten dan berkesinambungan. Hal ini disebabkan oleh PUS yang belum ber-KB pada umumnya adalah kelompok-kelompok sulit yang tersebar di daerah-daerah terpencil. dan mobilitas belum konsisten. upaya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kebijakan pengendalian penduduk Kebijakan kependudukan yang terkait dengan kuantitas.2015 Page 78 . antara lain. dan perpindahan. kurangnya jumlah dan rendahnya kualitas tenaga pencatat. Untuk mencapai kelompok-kelompok tersebut. serta meningkatkan cakupan dan kualitas data kependudukan dari berbagai sumber. Khusus untuk masyarakat miskin.BAB II b. Ketersediaan dan kualitas data dan informasi kependudukan Sumber data kependudukan yang mutakhir seharusnya berasal dari registrasi penduduk yang meliputi data kelahiran. Jumlah pengendali lapangan atau pengawas PLKB (PPLKB) dan petugas lapangan KB (PLKB) atau penyuluh KB (PKB). kualitas. dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam melaporkan perubahan atas peristiwa penting yang dialaminya. yang merupakan salah satu kunci penentu keberhasilan program KB. kantor. Hal ini terjadi karena kurangnya informasi tentang kewajiban masyarakat untuk melapor dan terbatasnya jangkauan masyarakat ke tempat pelayanan. tertinggal. mengalami penurunan dari jumlah sebelum desentralisasi. Kapasitas kelembagaan Program KB Bentuk kelembagaan KB bervariasi antar daerah. diperlukan upaya inovatif yang. Akses dan Kualitas Pelayanan Kesejahteraan Sosial Ketersediaan akses dan kualitas pelayanan kesejahteraan sosial perlu dibedakan berdasarkan kelompok PMKS. Tantangan ke depan adalah meningkatkan peran kelompok-kelompok kegiatan yang ada di tingkat masyarakat sebagai media dalam meningkatkan kesertaan ber-KB. Sampai saat ini. Kelembagaan KB di beberapa Kabupaten/Kota diwujudkan dalam bentuk badan. sinergi para pemangku kepentingan tersebut harus ditingkatkan untuk mewujudkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing. data registrasi belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena masih rendahnya cakupan daerah dan kejadian yang dilaporkan. Tantangan ke depan adalah meningkatkan advokasi kepada pemerintah daerah tentang pentingnya program KB. d. kelompok miskin. dan berpendidikan rendah. dan meningkatkan jumlah dan kompetensi tenaga pengelola serta pelaksana program KB di daerah. Tantangan ke depan adalah meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya melaporkan kejadian vital. serta ada yang tidak memiliki institusi untuk melaksanakan program KB.

Masalah ini dapat dihindari jika penajaman pada tingkat kebijakan dan penetapan sasaran program dilakukan dengan baik.685 222. pada umumnya akan menerima tambahan bantuan melalui program lainnya. Pra Sejahtera 55.2015 Page 79 .32 %) dan Keluarga Sejahtera mencapai 249.578 20.Kalsel Dalam Angka 2009. berupa insentif untuk mengakses pelayanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan terdekat. demikian juga halnya dengan akses pelayanan pendidikan.382 Keluarga Sejahtera II 337. Penerima bantuan sosial dari sebuah program. Tanah bumbu jumlah Pra Sejahtera masih mencapai angka di atas 10. Banjar dan Kab. No 1 2 3 4 5 2007 75. Selanjutnya. jika dikumulatif dua tahapan ini berarti ada sekitar 34.094 Keluarga Sejahtera III 137. BPS. kegiatan bantuan sosial bagi PMKS yang selama ini dilakukan masih tumpang tindih.866 Jumlah 884. pada tingkat pelaksanaan. Kab.487 965.152 20.236 373. Sementara itu. Alih fungsi panti sosial.443 210.48 Jumlah Tahapan Keluarga Sejahtera Di Kalimantan Selatan Tahun 2004-2008.257 kk (8.072 80.21 % penduduk Kalimantan Selatan adalah miskin.80%) dari total 965. Kota Banjarbaru relatif mengalami proses perbaikan tahapan kesejahteraan penduduk hingga ke Tahapan Keluarga Sejahtera III.065 392.257 249.065 KK (25.072 KK .072 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Tabel II.673 895. Jika dihitung secara absolut dengan asumsi tiap keluarga terdiri atas 4 jiwa. Keputusan bagi penyelesaian masalah yang dihadapi oleh PMKS masih lebih banyak dilakukan oleh aparat pemerintah sehingga bantuan yang disediakan pemerintah seringkali tidak tepat sasaran atau tidak tepat guna.317.BAB II mempercepat pencapaian target penurunan angka kematian ibu dan anak perlu didukung dengan intervensi yang langsung diberikan kepada mereka.390 17. Sedangkan kota Banjarmasin.835 2008 80.177 250.12 % keluarga miskin. Di samping cakupan yang rendah.321 Keluarga Sejahtera I 300.108 352.288 jiwa atau hampir 38. Dari data tahapan keluarga sejahtera. Arus migrasi penduduk miskin desa yang mencari pekerjaan ke tiga daerah ini relatif besar dimana diikuti jumlah pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. masalah kelembagaan masih mendominasi permasalahan pelayanan kesejahteraan sosial.845 929. yang sebelumnya dibangun oleh Pemerintah.735 Keluarga Sejahtera III Plus 14.162 249. maka terdapat 1.000-an KK. Berdasarkan data kependudukan yang dilaporkan BPS Kalsel dalam Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka 2009 jumlah Keluarga Pra Sejahtera mencapai 80. upaya pemberdayaan sosial yang seharusnya meletakkan berbagai upaya untuk membangun kapasitas individu dan kelembagaan PMKS masih belum berjalan secara optimal.397 Sumber: Prov. di beberapa daerah digunakan untuk kegiatan selain pelayanan kesejahteraan sosial. Tahun Tahapan Keluarga Sejahtera 2004/2005 2006 Kel. Ini merupakan angka fantastik.941 195.

3.49 Nama Penerbitan Pers di Propinsi Kalimantan Selatan 2007 Nama media cetak Kategori penerbitan Tempat kedudukan Banjarmasin Post SKH Banjarmasin Kalimantan Post SKH Banjarmasin Metro Banjar SKH Banjarmasin Barito Post SKH Banjarmasin Radar Banjamasin SKH Banjarmasin Mata Benua SKH Banjarmasin Serambi Ummah TM Banjarmasin Bidik Banua TM Banjarmasin Gawi Manuntung SKM Banjarmasin Dekrit SKM Banjarmasin Suara kalimantan SKM Banjarmasin Indonesia Merdeka SKM Banjarmasin Spirit Kalsel TM Banjarmasin Borneo Post SKM Banjarmasin Media Masyarakat SKM Banjarmasin Pusaka Daerah SKM Banjarmasin Media Warta SKM Banjarmasin No. Data media cetak dan elektronik di Kalimantan Selatan seperti Tabel II.6 Komunikasi dan informatika Keberadaan media massa baik cetak maupun elektronik di Kalimantan Selatan ternyata mampu memberikan kontribusi positif bagi akselerasi pembangunan daerah. guna mengurangi arus orang miskin desa menuju kota. hingga tahun 2007 perkembangan media cetak dan elektronik semakin berkembang pesat. Namun demikian. Dengan fungsinya yang mengemban tugas di bidang komunikasi dan informasi sekaligus sebagai media hiburan masyarakat. Program-program penguatan pemberdayaan masyarakat dan perekonomian pedesaan di bidang pertanian. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .49 s. khususnya kabupaten /daerah yang menjadi tujuan pencari kerja. peningkatan kapasitas kelembagaan dan SDM serta tata kelola kepemerintahan. ini diduga beberapa kabupaten mensupport peningkatan ini. Artinya distribusi kesejahteraan mengalami perbaikan pada tahapan-tahapan berikutnya.BAB II Jika melihat tren tahapan keluarga sejahtera dari tahun 2007 dan tahun 2008.51 Tabel II.d. Sementara Keluarga Sejahtera I dan II justru terjadi pergerakan relatif tinggi dari 373. urban poverty masih besar menjadi pemasok jumlah tahapan pra sejahtera di Kalimantan Selatan.443 (2007) menjadi 392. perikanan dan perkebunan menjadi prioritas utama antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Tabel II.000-an. pembangunan ekonomi antara pembangunan perdesaan dan perkotaan perlu ada keseimbangan.2015 Page 80 .685 (2008) atau mencapai 20. Tantangan ke depan adalah meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesejahteraan sosial dengan didukung oleh peningkatan pengelolaan program. 2.2. terjadi peningkatan Keluarga Pra Sejahtera mencapai 5000-an KK.

40 MHz FM 88.4 MHz FM 103.5 KHz FM 105. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama radio Nusantara Antik Swara Maida Artanusa Siaga Indah Marista Suara Banjar Lazuardi Chandra Rasisonia Iskinada Mustika Telerama Kharismanada Rasisonia Dhirgantara Permai Nirwana Citra Bahana Swara Pelangi Alina ( SUN FM) Gema Suara Akbar Swara Citra Posindo Madinatussalam Abdi Persada Buana Ekaswaratama Radio SKY FM Gelombang FM 102.3 MHz AM 88.3 MHz Tempat kedudukan Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .9 MHz FM 96.9 MHz FM 99.9 MHz FM 98.2015 Page 81 .2 MHz FM 96.50 Nama Radio Swasta dan RSPD di Kalimantan Selatan 2007 No.1 MHz FM 89.7 MHz FM 101. 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Nama media cetak Banjarbaru Post Gema Bestari Gerbang Suara Saijaan Bumi Kahuripan Saraba Kawa Post Murakata Aktual Benua Kita Aspirasi Rakyat Warta Post Mercu Buana X-Kasus Tabloid Selidah Post Waja Tablomagazine Bisnis Indonesia Bangkit Prosfek Orbit Post Tabloid Suling Kategori penerbitan SKM TM TM TM TM TM TM SKM SKM SKM SKM SKM TM SKM Mjl TM Mjl SKM SKM Bulanan Tempat kedudukan Banjarbaru Rantau Kandangan Kotabaru Amuntai Tanjung Barabai Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Tanjung Banjarmasin Marabahan Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Banjarmasin Sumber: PWI Cabang Kalimantan Selatan Tabel II.1 MHz AM 102.5 MHz FM 105.BAB II No.6 KHz FM 104.8 MHz FM 94.0 MHz FM 90.1 MHz AM 720 KHz AM 738 KHz FM 101.

BAB II
No. 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Nama radio Bajuin Eka Swaratala Swara Mandiri (Jorong FM) Swara Ruhui Rahayu Bahana Nirmala Selidah satu swara Swara Alkaromah Pratama Swara Cakrawala Martapura Borneo FM Purnama Nada Gema Amandit Dirgahayu Swara Barabai Gema Kuripan Swaracitra Suryanada Gema Meratus Swara Kotabaru Tanjungpuri Perkasa Gematara Batakan Swara Tapin Raya Swara Agung Lestari Gelombang FM 93,3 MHz FM 99,17 MHz AM 774 KHz AM 990 KHz FM 98,8 MHz AM 1584 KHz FM 107,01 MHz FM 103,09 MHz FM 98,20 MHz AM 918 KHz AM 540 KHz AM 612 KHz AM 810 KHz FM 98 MHz FM 96,9 MHz FM 103,6 MHz FM 106,15 MHz FM 103,1 MHz AM 576 KHz FM 103,3 MHz Tempat kedudukan Banjarmasin Banjarmasin Rantau Martapura Marabahan (Batola) Martapura Martapura Banjarbaru Kandangan Kandangan Barabai Barabai Amuntai Banjarbaru Batulicin Tanah Bumbu Kotabaru Tanjung Pelaihari Rantau Amuntai

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Tabel II.51 Nama Televisi Nasional dan Lokal di Kalimantan Selatan TELEVISI KETERANGAN RCTI Jaringan Nasional SCTV sda Metro TV sda Indosiar sda Global TV sda TPI sda ANTV sda Trans TV sda Trans 7 sda TV One sda TVRI Pusat sda TVRI Kalimantan Selatan Lokal Banjar TV Lokal Duta TV Lokal Borneo TV (TV B) Lokal Ran TV – Kab. Tapin Lokal AMTV – Hulu Sungai Utara Lokal Tabalong TV – Tanjung Lokal Indovision Jaringan berlangganan

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 82

BAB II 2.3.2.7. Perpustakaan Jumlah perpustakaan di Kalimanatan Selatan sudah cukup banyak. Ada 13 perpustakaan umum di setiap kabupaten/kota serta sebuah perpustakaan provinsi yang didukung oleh perpustakaan di sekolah-sekolah, pesantren, perguruan tinggi, mesjid, taman bacaan di bawah binaan Dinas Pendidikan, serta perpustakaan terapung yang dikelola oleh Korem 101/Ant dan Ditpolair. Termasuk di dalamnya tiga buah perpustakaan percontohan, yakni sebuah di Kabupaten HSU, dan yang sedang dibangun sebuah di Kecamatan Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan sebuah lagi di Kecamatan Batu Mandi di Kabupaten Balangan. Untuk menjangkau layanan baca bagi masyarakat yang mengalami kendala dalam mengakses keberadaan perpustakaan, terutama di daerah, telah tersedia 6 (enam) buah armada perpustakaan keliling. Salah satu sarana perpustakaan yakni Perpustakaan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) berdiri sejak tahun 1966 memiliki koleksi sebagian besar berupa publikasi dan informasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan teknologi pertanian lahan rawa. Jumlah koleksi perpustakaan saat ini Buku (Teksbook) 3620 judul, Majalah Ilmiah (Jurnal) 815 judul, Monograf (Prosiding, Risalah Seminar, Laporan, dan sejenisnya) 40 judul, Publikasi Teknis (Leaflet, Brosur, dan sejenisnya) 40 judul, Majalah Umum (Trubus dan sejenisnya) 10 judul, dan Surat Kabar 3 judul. Pelayanan menggunakan sistem pelayanan terbuka. Untuk menghadapi tantangan global, maka jumlah judul buku dan bahan koleksi perlu terus ditingkatkan guna meningkatkan gairah minat baca di kalangan masyarakat.

2.3.2.8. Pemuda dan Olahraga Selama ini pemerintah Provinsi lewat SKPD yang berwenang memfasilitasi kegiatan kepemudaan dan olahraga. Baik pembinaan lewat kegiatan seminar, sosialisasi pembangunan, pelibatan kegiatan pemerintah, pertukaran pelajar dan pemuda, pelatihan maupun kegiatan yang bersifat kompetesi prestasi. Sekalipun berbagai institusi memiliki kegiatan-kegiatan yang melibatkan dan memerankan pemuda baik bersifat intelektual-akademis, keterampilan, sosial dan olahraga, namun peran pemerintah untuk melepaskan para pemuda dari jeratan narkoba adalah pekerjaan yang relatif berat.

2.3.2.9. Pelayanan Penunjang Bidang Hukum dan Politik a. Pelayanan Bidang Hukum Dalam konteks pelayanan di bidang hukum, peran pemerintah provinsi sangat terbatas. Hal ini terkait dengan kewenangan yang amat terbatas dalam bidang ini sebagaimana digambarkan pada sub bab sebelumnya.

RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015

Page 83

BAB II Pelayanan dalam bidang hukum yang dilakukan pemerintah provinsi adalah pembuatan berbagai produk hukum daerah, seperti perda, peraturan gubernur dan keputusan gubernur dalam rangka menjamin adanya kepastian hukum bagi masyarakat Kalimantan Selatan dalam berbagai dimensi kehidupan sesuai dengan kewenangan pemerintah provinsi. Jumlah produk hukum daerah yang telah dihasilkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dapat dilihat dalam tabel II.52
Tabel II.52 Jumlah Produk Hukum Yang Dihasilkan Pemda Provinsi Di Kalimantan Selatan 2006 - 2009 No. 1. 2. Jenis Produk Hukum Perumusan Perda Perumusan Produk Hukum Peraturan Gubernur Keputusan Gubernur
Sumber : Biro Hukum Pemprov Kalsel

2006 21

2007 20

2008 24

2009 29

61 606

75 678

74 612

100 711

Selain itu, pelayanan lain di bidang ini dilakukan oleh pemerintah provinsi dalam bentuk penyuluhan hukum pada masyarakat. Penyuluhan hukum yang dilakukan terutama diarahkan kepada peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat atas produk hukum daerah, namun juga dilakukan hal serupa untuk produk-produk hukum nasional, baik berupa UU maupun peraturan perundangundangan lainnya. b. Pelayanan Bidang Politik Pelayanan pemerintah provinsi Kalimantan Selatan dalam bidang politik secara khusus ditangani oleh Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol Linmas). Secara garis besar, Dalam bidang Politik, Badan ini berfungsi untuk melakukan hal-hal sebaga berikut ; 1. Melakukan pendataan dan pembinaan terhadap organisasi sosial kemasyarakatan; 2. Melakukan pembinaan terhadap partai politik di Kalimantan Selatan; 3. Melakukan berbagai program peningkatan kesadaran berbangsa, bernegara, termasuk pendidikan politik kepada masyarakat Kalimantan Selatan Dalam konteks melakukan pendataan terhadap organisasi sosial kemasyarakatan, Badan ini berwenang untuk menentukan legal atau tidaknya suatu organisasi sosial kemasyarakatan, semacam LSM dan Perkumpulan Sosial lainnya melalui penerbitan SKOT. Organisasi yang diakui keberadaan oleh Badan ini saja yang dapat melakukan berbagai kerjasama atau menerima bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Selain itu, penerbitan SKOT juga berfungsi sebagai data dasar untuk melakukan pembinaan lebih lanjut terhadap organisasi sosial kemasyarakatan yang ada sebagai agen sosial di masyarakat. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 - 2015 Page 84

66 102.Tidak berjadwal (L.2015 Page 85 .3.00 km dan 1056.38 km jalan provinsi menurut SK Mendagri Nomor 55 Tahun 2000 dengan kelas jalan tertinggi adalah IIIA seperti terlihat pada Tabel II.594 Unit = 63 Unit = 1.Kalsel – Kalteng (21 Perusahaan) = 95 Unit Bus .Angkutan Pedesaan Mikrolet/Pick Up .57 1.Rental Car ( 9 Perusahaan ) = 2. pendidikan politik dan berbagai kegiatan lainnya. Koordinasi dengan partai politik menjadi sangat penting guna menciptakan kondisi politik daerah yang baik dan harmonis.485 Unit = 139 Unit = 43 Unit Dalam upaya melaksanaan pembinaan terhadap Angkutan Jalan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah menetapkan Perda Nomor 3 Tahun 2003 tentang RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .BAB II Partai politik juga tidak luput dilakukan pembinaan oleh Badan ini.489. seperti pendidikan bela negara. termasuk dalam fungsi ini adalah melakukan koordinasi berkelanjutan dengan partai-partai politik yang ada dan dinyatakan sah keberadaannya oleh Kementrian Hukum dan HAM.53 Tabel II. fungsi-fungsi pelayanan politik dilakukan dengan menggelar berbagai agenda kegiatan. Pembinaan lain adalah dengan melakukan pendidikan politik terhadap kader dan fungsionaris partai politik.15 Kelas Jalan I II IIIA IIIB IIIC Jumlah 340. Kegiatan ini selain dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman warga negara terhadap politik dan hal-hal lain terkait kesadaran berbangsa dan bernegara.15 Sumber : Buku Statistik dan Informasi Perhubungan Kalimantan Selatan Tahun 2007 Ditinjau terhadap penyediaan angkutan umum yang ada dapat dijabarkan sebagai berikut: Angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) .2.Kalsel – Kaltim (7 Perusahaan) = 75 Unit Bus Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) .10 Perhubungan Berdasarkan SK Menteri PU Nomor 369/KPTS/M/2005 panjang jalan Nasional di Kalimantan Selatan adalah 876.Taksi .43 954. Di ranah masyarakat.57 535.23 102. 2.53 Kelas Jalan Nasional Provinsi 340.300) (Perorangan) .Berjadwal (Bus) ( 17 Perusahaan ) .

000 Rp.500 Kg JBB di atas 7. Pengaturan penggunaan jalan adalah sebagai berikut: Setiap angkutan hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan dilarang melewati jalan umum Setiap hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan harus diangkut melalui jalan khusus yang telah ditetapkan oleh Gubernur. 25. 175. 150/hari Perda Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pengendalian Muatan Mobil Barang di Jalan : Setiap mobil barang yang mengangkut barang wajib ditimbang pada alat penimbangan yang dipasang secara tetap.000 JBB di bawah 2000 Kg JBB 2000 Kg s/d 7.000 Rp. 150.000 Rp.000 Rp. 1. 2. 75. 100. 50. 100.500 Kg Penggunaan Gudang dan atau lapangan penumpukan : Jasa penggunaan gudang M3/Ton Jasa penggunaan lapangan penumpukan M /Ton 3 Rp. Besarnya tarif retribusi penimbangan kendaraan bermotor adalah sebagai berikut: Rp.000 Mobil Barang Pengangkut alat berat Mobil Barang Pengangkut Peti Kemas Mobil Barang Pengangkut bahan berbahaya Mobil Barang Pengangkut barang dgn menggunakan Tangki Mobil Barang secara insedentil mengangkut barang umum yg tdk dpt dipotong-potong Rp.000 Mobil Penumpang dengan kapasitas s/d 8 seat Mobil Bus dengan kapasitas 9 s/d 15 seat Mobil Bus dengan kapasitas 16 s/d 25 seat Mobil Bus dengan kapasitas lebih 26 seat Rp.500 Rp. terkecuali yang sudah diatur dengan izin Angkutan Barang Khusus Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang pengaturan penggunaan jalan umum dan jalan khusus untuk angkutan hasil tambang dan hasil perusahaan perkebunan.000 Rp. 1. 100.000 Perda Nomor 5 Tahun 2003 tentang Retribusi Izin Trayek dan Izin Operasi Angkutan Orang Lintas Kabupaten/Kota. 100.500 Rp. Besarnya tarif retribusi adalah sebagai berikut: Rp.2015 Page 86 .BAB II Retribusi Izin Angkutan Khusus Mobil Barang Besarnya tarif retribusi adalah sebagai berikut: Rp. Hasil tambang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah batubara dan bijih besi Hasil perusahaan perkebunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah tandan buah segar (TBS) kelapa sawit RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .000 Perda Nomor 6 Tahun 2003 tentang Retribusi Penimbangan Kendaraan Bermotor. 300/hari Rp.

92 trilyun pada tahun 2009.68% pertahun dan ternyata pertumbuhan belanja non makanan jauh lebih tinggi yakni mencapai rata-rata 8.54 porsi belanja rumah tangga untuk Makanan masih lebih tinggi dari Non Makanan. Nilai Tukar Petani Sektor pertanian tetap merupakan sektor terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Rejional Bruto di Provinsi Kalimantan Selatan walaupun perannya cenderung menurun.19 10. Berdasarkan Tabel II. Hal ini menunjukkan kemampuan masyarakat dalam mencukupi kebutuhannya secara umum cenderung meningkat.69%) berasal dari pengeluran konsumsi rumah tangga.4.1.48%.1.4. Aspek Daya Saing Daerah 2.2015 Page 87 .BAB II Perhubungan yang menggunakan prasarana selain darat dijabarkan lebih pada sub bahasan 2.56 37.202.212.755.79% pertahun.2.328.05 trilyun (44.99% pertahun.74 12.79 34.588.1. sebesar Rp. Selama periode 2005 -2009 pertumbuhan belanja makanan adalah sebesar rata-rata 4. lebih tinggi dari pertumbuhan PDRB yang sebesar rata-rata 5.1.39 12. Kemampuan Ekonomi 2. Sementara itu belanja non makanan hanya mencapai rata-rata 37. 2.31 Pengeluaran konsumsi rumah tangga terdiri dari komponen pengeluaran untuk makanan dan non makanan.21%.443.02 65.98 34. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .03 61.4.2.54 Persentase Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Menurut Jenisnya Di Kalimantan Selatan 2005-2009 Tahun Makanan Non Makanan Total (dalam Rp) 2005 2006 2007 2008 2009 Rata-rata 65. 2.4.1 Pengeluaran konsumsi RT Pengeluaran konsumsi rumah tangga merupakan salah satu bagian penggunaan atau pengeluaran dalam ekonomi yang membentuk PDRB. Selain sebagai sektor yang dominan sektor ini juga menyerap tenaga kerja paling banyak.977. Porsi belanja untuk Makanan selama periode 2005 – 2009 rata-rata mencapai 62.21 100 100 100 100 100 100 9. Peranan Konsumsi sangat penting dalam membentuk PDRB Kalsel karena dari nilai PDRB Rp. Ini berarti kemampunan ekonomi masyarakat secara pasti menjadi semakin kuat.328.219. Tabel II.46%.57 38.98 38. Pertumbuhan nilai konsumsi rumah tangga dalam periode 2005 -2009 rata-rata 5.44 62.43 61.39 11.4.97 38.13.02 61.924. Meskipun porsinya masih kecil namun tingkat pertumbuhan pengeluaran untuk non makanan sangat pesat. 28.

dikurangi impor (M).55 NTP 82.4 Sumber : Indikator Ekonomi.4 112.56 Rata Rata NTP Menurut Provinsi di Kalimantan Tahun 2006 – 2008 Tahun Rata-rata 2006 Rata-rata 2007 Rata-rata 2008 Kalbar 182.3 77.7 78. Badan Pusat Statistik *) Tahun dasar 2002 Produk total daerah dihitung berdasarkan nilai PDRB.2 94. 2005 – 2009 Tahun/Bulan Rata-rata 2005 Rata-rata 2006 Rata-rata 2007 Rata-rata 2008 Rata-rata 2009 Indeks Diterima (It) 394.8 516.56).2015 Page 88 .29 T. Angka dibawah 100 mempunyai makna bahwa petani selalu membayar lebih banyak daripada apa yang mereka terima.7 621. Tabel II.2 94. Sebaliknya petani di Provinsi Kalmantan Barat dan Kalimantan Timur mempunyai nasib yang relatif lebih baik. belanja pemerintah (G). Tinjauan Ekonomi Kal.7 95. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .67 125. Berdasarkan komponen penggunaannya angka total PDRB terbentuk dari penjumlahan pengeluaran Konsumsi (C).5 Kalteng 98.76 Sumber : BP Kal. investasi (I).Sel. pada tahun 2009 sebesar Rp. dan ekspor (X).55 Indeks Nilai Tukar Petani Kalimantan Selatan.BAB II Tabel II.5*) 103.74 Kaltim 82.1 90.69 119.7 95.1 588. Bekerja sebagai petani bukanlah hal yang menguntungkan namun kesempatan untuk bekerja diluar lapangan pertanian nampaknya belum terbuka lebar mengingat adanya gap antara pendidikan dengan tuntutan dunia kerja.8 101.Sel 2009 Tabel II.7 571.1 persen ditahun 2005 menjadi 97. Nasib petani di Provinsi Kalimatan Selatan kurang lebih sama dengan rekannya di provinsi Kalimantan Tengah dilihat dari besaran Nilai Tukar Petani yang selalu berada dibawah angka 100 (Tabel II.7 117.23.74 104.92 T meningkat dari tahun 2005 yang sebesar Rp.4*) 174.7 98.5 persen di tahun 2008.7 Kalsel 90.28.24 Indeks Dibayar (Ib) 481. Walaupun NTP selama ini masih dibawah 100 terdapat kecenderungan peningkatan NTP selama periode 2005-2008 dengan besaran 82.55 memperlihatkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) selama tahun 20052008 selalu berada dibawah angka 100.

57 Total PDRB dan Rata-rata Share Berdasarkan Komponen Penggunaan di Kalimatan Selatan 2005 – 2009 (Rp.36 Kadar Keterbukaan Eko Dalam ((C+I+G) 12.07 Investasi (I) 62.91%.89 165.503.689.544.32 29. BPS.720.06% 1.061.31 100. Hal ini menunjukkan ketergantungan pada ekonomi eksternal.225.334.262.80% Share 3.91 PDRB (Y) 23.455.450.306.06% 11. Faktor dari dalam (C.600. Daya saing ekonomi Kalsel diantara propinsi lain di Kalimantan menduduki peringkat kedua jika diihat dari besaran ekspor.918.10%.juta) Rata-rata (%) Komponen 2005 2009 (share 2005-2009) Konsumsi © 10.100.900.662.87 19.29 3.369.599.046.00 19.796.001.081. yakni sebesar 44. Hal ini terlihat pada Tabel II.44 Belanja pemerintah (G) 2.20% 0.799.749.598. Faktor luar atau disebut keterbukaan ekonomi ((X+M)/2) menyumbang 44.051.07% 22.020.660.648.744.59% 0.798.G) menyumbag 62.06% 17.2015 Page 89 .292.10 12.423.BAB II Tabel II.108.595.170. 2005 – 2009 (diolah) Perbandingan besaran share masing-masing komponen pembentuk PDRB menunjukkan komponen yang relatif lebih dominan diantara satu dan lainnya dalam membentuk produksi.00 20.00 No 1 2 3 4 5 6 7 Sumber : Tinjauan Perekonomian Kalimantan Selatan.15 2.181.67 128.766.19 8.67 24. Pentingnya perdagangan bagi perekonomian Kalsel juga ditunjukkan dari derajat keterbukaan ekonomi.39 Ekspor (X) 15.40 310.380.471.331.912.94% Sumber : Tinjauan Perekonomian Kalimantan Selatan. Pembentuk PDRB terbesar selanjutnya adalah dari konsumsi.347.361. Akan tetapi.54% 82.83 18.16% 83.90 44.48 179.005.00 3. Berdasarkan tabel II.90%.029.794.257.72 13.90 Luar ((X+M)/2) 10.58 Nilai (US 000 $) dan Share Ekspor Regional Kalimantan Tahun 2006 – 2008 Provinsi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Total Kalimantan Indonesia 2006 Total 620.43 63.732.01 13.132.090.50 28.46 Impor (M) 5.358.81% 84.839.37 26.82 2.46%. jika ekspor dihitung sebagai kesatuan didalam Neraca Perdagangan (X – M) maka peranan neraca perdagangan hanya 37.221.45 16. I. cukup tinggi.900.939.09 100.88 114.07%. baik internasional maupun nasional.27% Share 3.81% 13.46 6.043. BPS.37 2.0 Share 3. 2006 s/d 2009 (diolah) RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .92% 12.158.736.700.0 2008 Total 898.17 16.268.58 Tabel II.72% 19.56 komponen paling dominan dalam membentuk PDRB adalah Ekspor dengan rata-rata share pada periode 2005 – 2009 sebesar 63.03 62.0 2007 Total 728.46 44.

Komoditas ekspor paling dominan adalah produk Tambang (rata-rata 72. share ekspor yang berasal dari wilayah Kalimantan meliputi 22. Komoditas lainnya jauh tertinggal dengan besaran masing-masing tak lebih dari 10%.35) 8. Tabel II. tapi tidak melebihi 14% selama periode 2006 – 2008 ini. Dari distribusi antar propinsi terlihat sangat timpang dimana Kaltim sangat dominan.58%.00 Sumber : Tinjauan Perekonomian Kalimantan Selatan.2008 90. Perkembagan share nilai komoditas ekspor selama periode 2003 – 2008 terlihat pada Gambar II. Komoditas yang tumbuh secara fantastis.41 0.11 Share Nilai Ekspor Menurut Jenis Komoditi di Kalimantan Selatan 2003 .0 40.59 Total 29. Share ini menunjukkan kecendrungan meningkat jika dibanding tahuntahun sebelumnya.08 (3.95 14. BPS.41 72.59 terlihat pertumbuhan rata-rata nilai ekspor Kalsel sangat tinggi. Sebelumnya yang mendominasi adalah produk kayu. seperti pada 2008 menguasai 84.0 70.BAB II Pada 2008. kemudian setelah kayu terbatas digantikan oleh Batu Bara. rata-rata pertumbuhan ekspor selama periode 2004 – 2008 adalah 29.59 Rata-rata Pertumbuhan dan Share Nilai Ekspor Berdasarkan Jenis Komoditi di Kalimantan Selatan 2004 – 2008 Karet Produk Produk Produk Produk No Indikator Rotan Alam Kayu Perikanan Tambang Lainnya 1 Rata-rata Pertumbuhan (%) 122.94% dari nasional.02 0.0 50.07 33.07%.58 100.78 164.11 Gambar II. Akan tetapi dari komposisi yang ada ternyata daya saing ekspor Kalsel masih sangat ditopang oleh produk-produk primer. 2004 s/d 2009 (diolah) Dari Tabel II.62 9. Jika komoditas/produk utama ekspor adalah hasil olahan yang bernilai tambah tinggi maka tingkat kemajuan perekonomian juga tinggi.0 80.0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Tahun Karet Alam Produk Kayu Rotan Produk Perikann Produk Tambang Produk Lainnya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Peranan Kalsel terlihat fluktuatif. Secara total. Perkembangan komposisi ekspor ini telah lama tidak berubah yakni didominasi produk primer. adalah Karet Alam dan Produk Lainnya.0 30.41 2 Rata-rata Share (%) 2.63 2.0 20.0 60. Struktur komoditas pembentuk daya saing ekspor sangat penting dalam menentukan tingkat kemajuan pembangunan.0 10.62%) dengan andalan Batu Bara.2015 Share (%) Page 90 . diatas 100%.

Jumlah jalan provinsi yang ada sebanyak 47 ruas jalan sepanjang 832.5 – 16 m.2.58 Km. Selain terletak di ibukota provinsi. peningkatan aksesibilitas antar wilayah pengembangan dan mendukung pengembangan kawasan-kawasan strategis dan sentra produksi. udara.964. jalan ini menjadi lintas poros selatan Kalimantan yang menghubungkan ke Provinsi Kalimantan Tengah dan ke Kalimantan Timur.086 km jalan nasional (SK Menteri PU Nomor 631/KPTS/M/2009). dan 8. kondisi sedang 16. laut. seiring dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dan pembangunan Kalimantan Selatan secara signifikan berdampak peningkatan lalu lintas jalan.03 % berdasarkan data tahun 2010. 832. a.08 %.BAB II 2.37 % dan kondisi rusak 23.89 % dengan lebar bervariasi antara 4.77 Km jalan kabupaten/kota . Sedangkan Lintas jalan yang menghubungkan ke Provinsi Kalimantan Timur juga dapat dilalui dalam dua arah yaitu Banjarmasin – Martapura – Pelaihari – Asam-asam – Kintap – Batulicin – Sei. dan sungai dengan gambaran sebagai berikut. 2.4.2.58 km jalan provinsi (SK Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 188.55 % dan kondisi rusak 3. kondisi sedang 3.2015 Page 91 . Transportasi darat memiliki peran penting untuk meningkatkan aksesibilitas daerah pedalaman.4. Lintas jalan yang menghubungkan ke Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilalui dalam dua arah yaitu Banjarmasin – Simpang Serapat – Anjir Pasar (Marabahan) – Batas Kalteng serta Banjarmasin – Martapura – Rantau – Kandangan – Pantai Hambawang – Amuntai – Kelua – Pasar Panas (Batas kalteng). dengan kondisi baik 74. sementara untuk kendaraan angkutan penumpang umum : RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Jumlah Jalan Nasional yang ada sebanyak 74 ruas jalan dengan kondisi baik 79. Infrastruktur.44/097/KUM/2008). Kupang –Manggalo – Batas Kaltim serta Banjarmasin – Martapura – Rantau – Kandangan – Pantai Hambawang – Barabai – Tanjung – Mabu’un – Batu babi – Batas Kaltim. Sehubungan dengan pemerataan pembangunan maka perlu perhatian pengembangan wilayah ke arah Barat Laut Kalimantan Selatan terutama memperlancar hubungan darat untuk Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Marabahan dan Amuntai. Transportasi Darat Di Provinsi Kalimantan Selatan terdapat 866. Sesuai UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada pasal 24 (1) bahwa penyelenggara jalan wajib segera dan patut untuk memperbaiki jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalulintas.55 %.1 Fasilitas Transportasi Transportasi di Kalimantan Selatan dilayani oleh transportasi darat.

Jumlah pesawat yang mendarat dan berangkat di Bandara Syamsudin Noor pada tahun 2009 sebesar 19. b. dan konsep sirkulasi bangunan terminal sistem satu lantai B.8x23 m².5x23 m²). Apron baru 336x152 m² (transporter concept). C=228.962 orang. Bandara Syamsudin Noor terletak di Kecamatan Landasan Ulin Kotamadya Banjarbaru dengan luas 37. Perkembangan pergerakan orang.BAB II Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Jaringan Trayek AKDP Total Jaringan Trayek AKDP beroperasi Jaringan Trayek AKAP Prasarana terminal : 2. D=228.5 Ha dikelola oleh PT. Bandara Syamsudin Noor sejak tahun 2004 telah menjadi Bandara Embarkasi Haji dengan menggunakan pesawat B-767 seri 300 ER.500 x 45 m² (single runway concept). taxiway (A=224.042. (Persero) Angkasa Pura I dengan Fasilitas bandara yaitu : landasan 2.2015 Page 92 .874 buah : 148 buah : 67 rute/trayek : 27 rute/trayek : 17 rute : 20 buah Penyediaan terminal tipe A yang melayani angkutan umum dari angkutan lintas Provinsi (AKAP) sampai Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) diharapkan pembangunannya selesai 100 % tahun 2015 dan segera berfungsi untuk menunjang kegiatan transportasi darat.077 buah pesawat perhari. sebagaimana pada Tabel II. Pada tahun 2009 arus penumpang berangkat sebesar 1.5x27.042.8x23 m².5 m².197 orang dan arus penumpang yang datang 1.60 berikut : RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 17 dengan luas lahan 10 Ha. barang dan perkembangan pesawat terjadi kenaikan yang cukup signifikan pertahunnya. Transportasi Udara Arus lalu lintas udara di Kalimantan Selatan menggunakan Bandara Syamsudin Noor yang merupakan tipe bandara Pusat Penyebaran Sekunder (PPS) dan Bandara Stagen yang merupakan tipe bandara Pusat Penyebaran Tersier(PPT). Apron lama 326x90m² (linier concept). B=96. Terminal regional tipe A ini berada di Kabupaten Banjar km.

623 2.427 106.538 9.714 15.60 Jumlah Arus Pesawat Datang dan Berangkat di Bandara Syamsudin Noor 2003-2009 PESAWAT JUMLAH DATANG BERANGKAT 9.934.61 s.537 43.866 15. Data perkembangan arus penumpang dan barang melalui Bandara Syamsudin Noor dapat dilihat pada Tabel II.651 15.380 6.746 726.712 Sumber: Dinas Perhubungan Prov.346 8.628 5.569 7.539 19.229 5.669 8.259.621 15.141 7.698.112.239.61 Jumlah Penumpang Datang.194 4.487 11.62 dan gambar II.608 7.077 7.207.148 18. 13 berikut: Tabel II.073.BAB II Tabel II.473 5.275 774.575.429 7.611.856 5.395 868.986.62 Jumlah Barang Bongkar dan Muat Di Bandara Syamsudin Noor 2003-209 BARANG (Kg) BONGKAR MUAT 9.329 Tahun 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 JUMLAH Sumber: Dinas Perhubungan Prov. Kalsel 2010.549 681. Kalsel 2010.181.508.111 22.163 6. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .651 7.619 1.041 3.731 7.907 748.348 395.584. Ditinjau terhadap arus pergerakan penumpang dan barang yang melalui Bandara Syamsudin Noor dengan rata-rata pertumbuhannya mencapai 16. TAHUN 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 Jumlah Tabel II.942 9.240 6.268 781.261.2015 Page 93 .997.185 608.601 JUMLAH 13.475 380.869 887.464 10.373 5.655.547 7.d. Kalsel 2010.083.205 9.940 4.774 1.12 s.715 7. Berangkat dan Transit Di Bandara Syamsudin Noor 2003-2009 PENUMPANG TOTAL DATANG BERANGKAT TRANSIT 1.442 1.338.322.138 13.397 652.024.075 1.404. Tabel II.036.670 11.290 3.080.197 6.303.827 12.479.401.846 TAHUN 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 JUMLAH Sumber : Dinas Perhubungan Prov.030 827.415 4.160 66.757.716 690 1.d.852 50.103 10.937 53.410.463.648.792 3.338.6%.216.235 2.419 53.962 1.042.425 5.588 9.302 7.407.440.572 15.865 7.708 634.622 4.

600 x 30 m².112 Jumlah Penumpang Datang.2015 Page 94 . Ditjen perhubungan Udara.BAB II Gambar II. saat ini mempunyai panjang Landasan 1.13 Grafik Jumlah Barang di Bandara Syamsudin Noor Tahun 2003-2009 Bandara Syamsir Alam (Stagen) termasuk dalam PKW Kotabaru yang dikelola oleh UPT. Bandara ini berfungsi sebagai Bandara pengumpan dengan frekuensi penerbangan tujuh kali dalam seminggu untuk rute Banjarmasin – Kotabaru – Banjamasin. Gambar II. berangkat dan Transit Di Bandara Syamsudin Noor 2003-2009 Kondisi frekuensi penerbangan yang semakin padat terutama pada peak hour pagi memerlukan perhatian perbaikan headway take off dengan penyediaan fasilitas landas hubung (taxiway) karena saat ini keluar-masuknya pesawat dari landasan menuju apron dan sebaliknya masih menggunakan runway sebagai aksesnya. dengan load faktor penumpang rata-rata RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . dapat didarati oleh pesawat Foker-50.

990 1. komunikasi dan sisi darat serta perlu peningkatan SDM untuk menjadikan bandara dengan pelayanan dan perkembangan yang lebih baik.240 orang dan penumpang yang berangkat sebesar 17.534 50 7. 63 berikut : Tabel II.955 94. fasilitas komunikasi dan navigasi penerbangan serta fasilitas PK-PPK dan fasilitas Security.StagenTahun 2003. Peningkatkan fasilitas sarana dan prasarana Bandara Syamsir Alam sangat diperlukan baik fasilitas dari sisi udara.280 24.466 14.117 3 2007 12.375 20.724 35.742 41.Stagen telah mempunyai fasilitas pendukung seperti terminal penumpang.067 Secara grafis perkembangan arus penumpang di Bandara Stagen dapat dilihat pada Gambar II.477 JUMLAH 99.BAB II 0.StagenTahun 2003.686 8.871 1.63 Data Perkembangan arus Penumpang Di Bandara Syamsir Alam .047 30.122 196. navigasi.776 5 35.62%.14 JumlahPenumpang Datang.234 17.769 7 2003 3.893 3.061 12.2009 Bandara Syamsir Alam .063 20 21. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .964 2 2008 20.77% dan tujuh kali dalam seminggu untuk rute Kotabaru – Balikpapan – Kotabaru dengan load faktor penumpang rata-rata 0.384 6 2004 13.240 17.2015 Page 95 .724 orang terjadi penurunan dibandingkan tahun 2008 sebagaimana Tabel II. Berangkat dan Transit Di Bandara Syamsir Alam . Penumpang yang datang pada tahun 2009 sebesar 18.14 : Gambar II.341 4 2006 17.015 5 2005 14.2009 PENUMPANG NO TAHUN TOTAL DATANG BERANGKAT TRANSIT 1 2009 18.

Peningkatan arus kapal luar dan dalam negeri terlihat pada Gambar II.- Pengembangan Pelabuhan Trisakti di Banjarmasin lebih difokuskan pada kegiatan arus barang dan penumpang dari pulau jawa atau daerah lain serta untuk menampung arus kegiatan dari wilayah belakang Provinsi Kalimantan Selatan yang mencakup wilayah timur dan tenggara dari Provinsi Kalimantan Tengah serta bagian selatan dari Kalimantan Timur. Realisasi pungutan chonell fee terhadap kapal yang melalui Alur Ambang Barito tahun 2009 sebagai berikut : Jumlah kapal Muatan Kontribusi : : : 5.606.959.131.950 m3. Alur barito panjang 15.13 dengan tingkat pertumbuhan rata-rata tahun terakhir adalah sebesar 9%.642 30.T.504.483.548. Sejak 1 Januari 2009 diberlakukan pungutan kapal-kapal yang mengangkut batubara.902 37. lapangan penumpukan luas 36.BAB II c.564.670. Gambar II.582 2007 Sumber : P.82 ton/m3 Rp.384 43. (Persero) Pelabuhan Indonesia III Cabang Banjarmasin Semakin meningkatnya pertumbuhan pelayaran memerlukan perhatian untuk meningkatkan pelayanan dengan mempertimbangkan pelabuhan laut yang lebih RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .369 2003 9.536 2006 12.017 35.000 m (15 km) lebar 100 m dan kedalaman 6 LWS saat ini kondisi dapat di layani selama 24 jam.085. Perkembangan Pelabuhan Trisakti terus berbenah untuk meningkatkan pelayanan dengan membangun dermaga peti kemas dan mempermodern fasilitas peralatan.802 8. 8.373 m2 dan lapangan penumpukan peti kemas 14. Transportasi Laut Pelabuhan Trisakti merupakan Pelabuhan Utama di Provinsi Kalimantan Selatan yang berperan dan berfungsi sebagai salah satu pintu gerbang perekonomian dan distribusi berbagai komoditi eksport maupun guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri di berbagai daerah yang memiliki panjang dermaga 510 m. Hal tersebut tidak terlepas dari Alur Ambang Barito dapat dilayani 24 jam.15 Perkembangan Arus Kapal Luar dan Dalam Negeri di Sungai Barito 48.939 2004 10.603 2005 11.2015 Page 96 . hasil hutan dan hasil tambang lainnya.964.648 unit 52.

Lintas Mantuil . Transportasi sungai ini terutama untuk melayani penumpang dan distribusi bahan pokok serta hasil bumi. Transportasi Sungai dan Penyeberangan Transportasi sungai kebanyakan terdapat di kota Banjarmasin terutama yang menggunakan sungai Barito dan Sungai Martapura.557 Pergerakan orang dan barang yang menggunakan transportasi sungai dan danau di Kalimantan Selatan masih diminati.727 orang pertahun dan sebanyak 171.595 35.Tg Serdang Batulicin Tj Serdang Tahun Trip Pnp R-2 R-4 Trip Pnp R-2 7.2015 Page 97 .752 57. penyeberangan lintas Stagen – Tarjun. Hal ini mengingat biaya masih relatif murah. Lintas tersebut mempunyai peranan sangat penting dalam menunjang kelancaran arus penumpang dan barang angkutan penyeberangan di wilayah Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Tanah Bumbu. LCT (Land Craft Tank).224 124.504 buah kendaraan pertahun. Fery. Lintas Alalak . dan KM. Dilihat dari jenis angkutannya yang beroperasi terbagi atas Motor Getek / Klotok.218 2008 7. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Motor Bota/Kapal Motor. Motor Tempel.595 31.849 51. Data perkembangan permintaan terhadap angkutan penyeberangan Batulicin – Tanjung Serdang dapat dilihat pada Tabel II. d. Muara Teweh. Angkutan sungai dan penyeberangan di Kalimantan Selatan disamping menghubungkan daerah-daerah yang belum dapat diakses melalui darat (transportasi darat) juga menghubungkan dengan provinsi Kalimantan Tengah terutama Kota Buntok.Jelapat.Saka Kajang.Tanjung Serdang. Untuk lintas Batulicin – Tanjung Serdang yang menghubungkan daratan Kalimantan Selatan dengan Kabupaten Kotabaru di Pulau Laut. jumlah Kapal yang melayani dan beroperasi sebanyak 4 buah dan penumpang yang diangkut rata-rata 40.5%.730 7.885 Tahun 2008 2009 R-4 55. Lintas Banjar Raya .64 Perkembangan Permintaan Terhadap Angkutan Penyeberangan Tahun 2008-2009 Batulicin . Tongkang.594 2009 7.Tamban.BAB II refresentatif karena tingkat pelayanan Pelabuhan Trisakti sangat dipengaruhi oleh kondisi alur Sungai Barito.791 58.488 59.082 104. Dari data Dinas Perhubungan Kota 2007 terjadi peningkatan kepadatan lalu lintas angkutan sungai dan danau untuk angkutan penumpang sebesar 13. Lintas penyeberangan di Kalimantan Selatan terdapat beberapa lintas penyeberangan yaitu : Lintas Batulicin . Palangkaraya dan Kapuas.64 : Tabel II.856 124. Kapal Tunda.745 100.852 44. Speed Boat.

Bank Umum Syariah 2 2 .24%) serta untuk investasi (27.86% (y-o-y). Dana masyarakat yang dihimpun perbankan Kalsel pada akhir tahun 2009 mencapai Rp18.65 Jaringan Kantor Bank Kalimantan Selatan Bank Umum 2007 2008 Jumlah Bank 21 22 . Deposito maupun Tabungan pada akhir tahun 2008 mencapai 15. Tabel II.Kantor Cabang 50 54 . Pertumbuhan asset ini terutama ditopang oleh pertumbuhan kredit dan DPK. jumlah jaringan bank di Kalimantan Selatan mencapai 19 bank umum konvensional. 17% (y-o-y). kemudian konsumsi (30. 164 Kantor Cabang Pembantu.Unit Usaha Syariah 4 5 Jumlah Jaringan Kantor .24 triliun.BAB II 2.234 milyar pada bulan Desember 2008.id/data-pokok/perbankan Ditinjau kinerjanya pada tahun 2009. Namun demikian beberapa indikator masih mencatat pertumbuhan yang positif. Untuk kelancaran transaksi ekonomi.51% (y-o-y).31%).33 triliun atau tumbuh 13% (y-o-y). 55 kantor kas. Kredit perbankan tersebut terbesar disalurkan melalui bank umum pemerintah sebesar 8. Dana kredit di Kalimantan Selatan tersebut jika dirinci menurut penggunaannya pada akhir tahun 2008 sebagian besar digunakan untuk modal kerja (42.kalselprov. perbankan di Kalimantan Selatan mencatat pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebagai imbas krisis finansial global.ATM 201 245 BPR Jumlah Bank Jumlah Kantor 2009 22 19 3 4 1 60 164 55 440 24 24 24 24 23 30 24 24 24 24 23 30 Sumber : http://www. Sektor yang banyak menyerap kredit perbankan khususnya KUK adalah sektor lainnya dan sektor perdagangan. maupun deposito menunjukkan pertumbuhan yang positif yakni masing-masing sebesar 10.2015 Page 98 . seluruh jenis rekening dalam bentuk giro. sisanya melalui bank swasta nasional dan bank asing dan campuran. 410 ATM serta 30 kantor BPR. aktivitas perbankan Kalimantan Selatan dudukung oleh 60 Kantor Cabang. 4 unit usaha syariah serta didukung oleh 22 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) konvensional dan 1 BPR Syariah.347 milyar.4. Sampai akhir tahun 2009.2 Fasiltas Bank dan Non-Bank Posisi dana simpanan perbankan di Kalimantan Selatan baik melalui Giro.Kantor Kas 42 44 .2.go. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .45%).Kantor Cabang Pembantu 56 146 . dan 5.Bank Umum Konvensional 19 20 . Sedangkan penyaluran melalui bank perkreditan rakyat hanya sebesar 174. tabungan. 3 bank umum syariah.3% dari akhir tahun 2008 sehingga mencapai Rp21.Kantor Pusat 1 1 .915 milyar lebih dengan jumlah kredit pada akhir tahun sebesar 13.8 milyar lebih. Volume usaha perbankan (asset) Kalsel tumbuh 13.

resiko kredit di tahun 2009 terjaga pada level yang aman yakni dengan rasio NPL sebesar 2.50 %. Pelayanan air minum di daerah perdesaan sebagian besar belum dilayani oleh sistem perpipaan dan masih memanfaatkan sumber-sumber air perairan umum.BAB II Sementara itu dari sisi penyaluran kredit. 2.42% (y-o-y).3 Fasilitas Air Bersih Pelayanan penyediaan air minum tahun 2009 di Kalimantan Selatan secara umum masih belum optimal dan belum dapat menjangkau keseluruh wilayah permukiman baik di perkotaan maupun di wilayah perdesaan. Pelayanan air minum di perkotaan sebagaian besar dilayani oleh Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM). namun kondisi PDAM rata-rata di kabupaten/Kota cakupan pelayanan masih belum memadai yaitu rata-rata masih sekitar 47.7%.81% (y-o-y) dan 30.14% lebih rendah dari rasio NPL pada akhir tahun 2008 yang mencapai 4. danau dan berasal dari sumur dangkal. berkat kerja keras semua pihak yang berwenang. akan tetapi peningkatan ini tidak seimbang dengan tingkat kebutuhan listrik bagi masyarakat pengguna seperti terlihat pada Tabel II.2.95 triliun atau tumbuh 16% (y-o-y). pada akhir Desember 2009 jumlah kredit yang disalurkan mencapai Rp13.76%. Sementara itu.2015 Page 99 . pertumbuhan kredit ini terutama ditopang oleh kredit konsumsi dan kredit investasi yang tumbuh cukup tinggi yakni sebesar 24.2. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .4 Fasilitas Listrik Sebagian besar kebutuhan tenaga listrik di Kalimantan Selatan dipenuhi oleh Perusahaan Umum Listrik Negara. Selain itu keterbatasan pasokan daya khususnya untuk memikul beban puncak serta kondisi alam yang tidak menentu mengakibatkan sering terjadi pemadaman listrik. Kondisi pembangkit listrik di Kalimantan saat ini relatif sudah tua. seperti air sungai. fungsi intermediasi perbankan yang dicerminkan oleh rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) pada tahun 2009 menunjukkan peningkatan yaitu dari 74% di tahun 2008 menjadi 75. Dengan perkembangan tersebut. Untuk mencapai target Millenium Development Goal (MDG) terhadap Penyediaan Air minum dan Sanitasi yaitu mengurangi separuh dari jumlah masyarakat yang belum memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi yang berkelanjutan pada tahun 2015 maka penyebaran pelayanan terhadap air bersih/minum ini perlu ditingkatkan. Ditinjau terhadap kapasitas peningkatan daya listrik dari tahun 2005-2010 terus ditingkatkan rata-rata 17.4.66. Cakupan pelayanan air minum di daerah perdesaan masih sangat kecil yaitu baru dapat melayani sekitar 43% dari penduduk perdesaan.75 %. 2.4.

PLN (Persero) Wilayah KalSelTeng. C.97 2010 457.60 2006 250.08 91 No.816 147 1.928 1.00 310.67 : Tabel II.d. A.92 2008 250. dalam rangka mengatasi krisis listrik didaerah ini.BAB II Tabel II.00 262. B.67 Rasio Desa Berlistrik Di Kalsel 2006 s.00 303.66 Daya Mampu Listrik dan Beban Puncak di Kalsel Tahun 2005-2010 Kegiatan Daya Mampu Listrik (MW) Beban Puncak (MW) 2005 250.963 92. PLN (Persero) Wilayah KalSelTeng.31 Sumber : PT.958 91.783 Desa Belum Berlistrik 168 97 Jumlah 2.096 1.2015 Page 100 .796 162 1. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .51 Sumber : PT.880 Ratio (%) Desa Berlistrik 87.73 2009 1.51 2009 318.55 2007 250.16 Kapasitas Pemakaian Daya Listrik Ditinjau terhadap sebaran pelayanan fasilitas listrik perlu ditingkatkan walaupun rasio desa terlayani semakin membaik setiap tahunnya seperti terlihat pada Tabel II. 2010 Gambar II. 2008 1. 2009 TAHUN Data Kelistrikan 2006 2007 Desa Berlistrik 1. sehingga perlu untuk penambahan pembangkit listrik.00 246.00 239. 2010 Mengingat Kebutuhan listrik terus meningkat sementara kemampuan PLN terbatas.50 371.

662. Rp.56. 2009: Tabel II. Banjarbaru.66 Sumber: Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Prov. Banjarmasin. Tanah Laut (pelaihari) dan Kintap. Kab.72. Berkenaan dengan semakin meningkatnya permintaan akan jasa pos di Propinsi Kalimantan Selatan maka di setiap kabupaten/kota tersedia beberapa kantor pelayanan pos.110.50.500.000.d.153.Rp.119.68 Penerimaaan Retribusi Izin Radio Amatir 2005 s/d 2009 No 1 2 3 4 5 Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 Target Rp. kantor pos pembantu dan kantor pos.617.59 159. Kantor pelayanan pos tersebut dibedakan atas kantor pos besar/umum.4. yaitu 7 surat kabar harian (SKH). 68 unit pos bergerak.000.34 221.- Realisasi Rp.BAB II 2.45 164.500. Sedangkan Radio swasta dan RSPD di Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 28 Radio.Rp.000. 3 tabloid bulanan dan 2 majalah. Pemanfaatan telekomunikasi juga menunjang Kerja Tim dalam koordinasi pengamanan Perda No. 3 tahun 2008 yang melarang penggunanan jalan Negara untuk mengangkut hasil tambang dan kebun. Kab.28 175.000.Rp.375.69. 14 surat kabar mingguan (SKM). dan 1105 fasilitas pos lainnya.025. 22 unit layanan pos.5 Fasilitas Telematika Pemanfaatan telekomunikasi di Kalimantan Selatan dari tahun ke tahun terjadi kenaikan dengan banyaknya peserta yang berminat untuk mengikuti ujian amatir radio ( UAR ) baik yang dilaksanakan pada tingkat provinsi hal ini juga berdampak terhadap meningkatnya retribusi yang diterima.Rp.930.792. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . 696 titik layanan.000. Kandangann dan Kotabaru dengan 156 kelompok kantor pos.000.Rp.975. Sarana komunikasi yang digunakan di Kalimantan Selatan didominasi oleh telepon kabel dan wireless serta telepon selular selain itu menggunakan SSB maupun internet. diperlukan prasarana komunikasi yang handal seperti stasion Radio (Reapeter) yang dibangun dii 3 titik yaitu Kota Banjarmasin.000.90.Rp.000. 9 tabloid mingguan. HSS. Kalsel Keberadaan industri pers di Kalimantan Selatan pada tahun 2008 tercatat ada 35 penerbit.59.87. Rp.000.500. Data dari Kantor Pos dan Giro Daerah IX Banjarmasin mencatat dari lima unit kantor pelayanan pos pada tahun 2008 yaitu di Amuntai.2.325. Berikut data penerimaan retribusi izin radio amatir dari tahun 2005 s. kantor pos tambahan.- Persen 62.2015 Page 101 .

32 23 8 314 314 100 126 47 2271 2271 88. disusul dari daerah Kalimantan Tengah dan Jawa Timur masing-masing sebesar 45.Bis Surat Buah 93 0 0 48 47 Terpasang .Baru B.Loket tersedia Buah 44 34 0 32 0 .BAB II Tabel II.6 Fasilitas Restoran dan Penginapan Fasilitas restoran dan penginapan sangat berkenaan dengan tingkat wisatawan yang datang.Masin Kandngan K.kotak pos sewa Buah 78 0 0 46 105 -Tromolpos Buah 10 0 0 0 210 .kotak pos Buah 0 0 0 141 130 .69 Jumlah Alat Produksi PT Pos Rayon Kalimantan Selatan Tahun 2008 KANTOR Uraian Satuan Amuntai B.2015 Page 102 .Loket terpakai Buah 27 31 0 14 15 Jangkauan Pelayanan Buah Kecamatan Layanan lokasi Buah transmigrasi Jangkauan Pelayanan Kel/Desa Jumlah desa Buah Jumlah jangkauan Buah % Jumlah 156 68 179 306 22 696 271 229 220 188 110 87 32 11 944 944 100 52 21 198 198 52.66 0 0 576 576 100 19 7 239 239 67. Begitu juga dengan kunjungan wisatawan nusantara ke Provinsi Kalimantan Selatan selalu mengalami kenaikan.Baru Kelompok Kantor unit 33 27 54 19 23 Unit 19 15 7 13 14 Pos Bergerak Trayek 69 37 20 33 20 Terminal 75 54 23 78 76 Unit Layanan Pos buah 3 14 2 3 Jumlah Titik buah 113 104 179 143 157 Layanan Fasilitas Pos : .834 orang. pada 2004 sampai dengan tahun 2008 jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Provinsi Kalimantan Selatan terus mengalami kenaikan. Kebanyakan wisatawan mancanegara yang berkunjung tersebut berasal dari negara-negara di Benua Asia dan Eropa.54 2.4. Senin 23 Agustus 2010). hal ini dikarenakan mulai stabilnya kondisi keamanan.587 orang.2.710 orang dan 25. Selain itu juga banyaknya restoran/rumah makan sebanyak 316 buah. Dari data yang tercatat hingga tahun 2009 terdapat hotel berbintang sebanyak 20 buah dan hotel melati 178 buah dengan tingkat pertumbuhan jumlah kamar hotel mencapai 20%. toko cinderamata 198 buah dan biro perjalanan wisata 162 buah yang tersebar diseluruh daerah di Provinsi Kalimantan Selatan (Sumber : Mata Banua. Pada Tahun 2008 wisatawan nusantara dari DKI Jakarta mencapai 179. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .

sejauhmana regulasi di provinsi Kalimantan Selatan dapat menjamin kepastian investasi. bagaimana kondisi keamanan Kalimantan Selatan dalam mendukung investasi dan keberadaan dunia usaha. 4. Disisi RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Masalah PHK yang berlarut-larut dikarenakan ada perusahaan yang tidak dapat membayar pesangaon dan hak-hak karyawan lainnya. atau terjadi chaos akibat peristiwa politik tertentu. Sengketa lahan juga seringkali terjadi antara tanah ulayat yang diklaim oleh masyarakat adat dengan tanah yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan tertentu. 3) Masalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).3. Sementara berbagai problem yang dihadapi dalam menjamin keamanan dan ketertiban berinvestasi masih ada. Perkembangan Investasi Perkembangan Investasi PMA dan PMDN 4 tahun terakhir. 2) Masalah sengketa perizinan pertambangan. karena perusahaan tersebut telah dinyatak pailit oleh Peradilan yang berwenang.2.2015 Page 103 .1 Keamanan dan Ketertiban Keamanan dan ketertiban dalam konteks investasi dapat dilihat dari . 2).4. khususnya industri pengolahan hasil hutan. Salah satunya adalah dengan diterbitkannya produk hukum yang menjdai dasar bagi terbentuknya Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) sebagai institusi yang secara khusus mengurusi investasi di Kalimantan Selatan. Jumlah PHK yang banyak terjadi dalam 5 tahun belakangan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan industri di sektor Kehutanan.3. seperti kerusuhan massal. serta 3).2009 mengalami fluktuasi yang cukup tajam. sejauhmana penanganan berbagai aktivitas yang dapat menggangu investasi di Kalimantan Selatan. Hal-hal tersebut adalah . 1) Masalah sengketa lahan akibat terjadinya tumpang tindih segel dan sertifikat tanah. pemerintah provinsi Kalimantan Selatan memiliki berbagai produk hukum untuk mendukung hal ini. 2. Sedangkan dari aspek kondisi Kalimantan Selatan. demontrasi besar-besaran. 1). Pertumbuhan Penaman Modal Asing selalu negatif kecuali pada 2008 yang tumbuh positif bahkan melonjak tinggi sebesar 1.243%. seperti chaos pasca Pilkada seperti di daerah lain.3. 4) Terkait dengan beberapa persoalan tersebut. Dalam 10 tahun belakangan belum ada data yang menunjukkan terjadi suatu peristiwa gangguan keamanan yang menyebabkan ketidak amanan berinvestasi. seringkali digelar aksi unjuk rasa oleh kelompok masyarakat tertentu yang hendak menuntut haknya. walau kuantitasnya tidak terlalu besar. Terkait dengan regulasi terhadap investasi.BAB II 2. Sengketa ini biasanya terjadi atas tumpang tindih izin pertambangan yang dikeluarkan oleh Bupati dan/atau Walikota berupa Kuasa Pertambangan. Investasi & SDM 2. Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhan yang berbeda jauh setiap tahunnya. 2006 .4.

60.000 300.000.000) Realisasi 407.meningkat sebesar 100 persen lebih dibanding tahun 2007 dengan nilai investasi sebesar Rp. 2010 (diolah kembali) Kecendrungan perkembangan PMA dan PMDN terlihat berbeda.000 350. Penanaman Modal Dalam Negeri sempat tumbuh positif 38.490 .2 1.000.2009 Data R ealis as i In ves tas i 450.994.123.BAB II lain.445.430. Gambar II.8 .59. Hal ini dapat dilihat pada grafik kdibawah ini.870 23. Sektor Industri Makanan dan Minuman dengan nilai investasi Rp.321.naik sekitar 2000% lebih dibanding dengan nilai investasi tahun 2007 yang hanya sebesar Rp.000.2 % Pertumbuhan PMDN 2009 146.2% pada 2006 kemudian tumbuh negatif dari 2007 sampai dengan 2009.000.000 Sumber : BKPMD Prov Kalsel.000 100. Sektor Jasa Lainnya mengalami penurunan nilai investasi yang cukup besar sebesar –23 persen lebih..500.000 400.000.000.000 200. khususnya sub sektor Industri Kertas dengan nilai investasi Rp. Tabel II.851.17 Nilai Investasi PMA dan PMDN di Kalimantan Selatan 2006 .000.000.000.890.34.70 Nilai dan Tingkat Pertumbuhan Investasi PMA dan PMDN di Kalsel Tahun 2006 – 2009 TAHUN 2006 2007 2008 PMA (US$) Realisasi 24.650 191. Nilai PMDN cenderung untuk terus menurun sedangkan PMA cenderung meningkat walaupun sangat fluktuatif.243 ..000 2006 2007 2008 2009 R ealis as i P MA R ealis as i P MDN Nilai Investasi Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN) yang menonjol selama tahun 2008 berdasarkan sektor adalah sektor Industri.000 250.000 50..52.030 PMDN (Rp.58.000 150.000.000.155.28.000.090.500.6 .000 76.2 .161.-.320 310.31.000.584.8 PMA 38.233..100.1.700 266.938. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .108.7.2015 Axis Title Page 104 .2 .

Pada Proyek PMA sektor yang penyerapan tenaga kerjanya tinggi adalah sektor Jasa Lainnya yaitu sebesar 94 persen dan Sektor Perkebunan dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 81 persen dari tahun sebelumnya (2007) sebagaimana tabel dibawah.359 9.5 (6) 16 2. 2010 (diolah kembali) 2.1 persen sedangkan pada Proyek PMA tumbuh cukup baik berkisar 26 persen.1 % 2005 5 1 5 16 11 26 14 8 86 TK Asing 2006 4 1 5 39 11 23 10 8 101 2007 11 1 5 21 11 27 11 8 95 2008 5 1 5 21 11 27 11 8 89 Pertanian Tan. Tabel II.399 33.332 Industri Kayu 180.314 9.71 Jumlah Tenaga Kerja Pada Proyek PMDN dan PMA Berdasarkan Sektor di Kalsel s/d Tahun 2008 Serapan Tenaga Kerja Proyek PMDN Sektor 2005 TK Indonesia 2006 2007 2008 35.916 310 296 9.Pangan 143 143 143 Perkebunan 3. Sumberdaya Lahan Pertanian Kalimantan Selatan mempunyai sumber daya lahan rawa seluas 1. Potensi Investasi (SDA-Pertanian-Kehutanan dan Pertambangan) a.3.155 17.978 Industri Barang Logam 75 75 86 Ind.405 1.6 0 0 0 7.007 Pertambangan 535 578 442 Ind.613 7.4 0.874 1.3 9. 2002.387 ha (Dinas Tanaman Pangan Kalsel.189 86 27 507 1. Kalimantan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .560.675.163 Peternakan 309 300 309 Perikanan 1.793 JUMLAH 202.093 74.832 1.405 73.028 7.140.469 15.118 433 Kehutanan 10.926 73.3. Pada Proyek PMDN sektor yang memberikan kontribusi cukup tinggi dalam penyerapan tenaga kerja adalah sektor Pertambangan yaitu sebesar 13.BAB II Untuk Penanaman Modal ( PMA ) berdasarkan sektor yang menonjol adalah sektor Jasa Lainnya dengan nilai investasi sebesar US$ 756.140 ha dan diperkirakan sekitar 342.naik sebesar 100 persen lebih dibanding tahun 2007 dengan nilai US$ 327.792 35.4.960.2015 Page 105 .342 Sumber : BKPMD Prov Kalsel.1 0 (32) 13.007 501 1.380 1.003 1.442 -100 2.Serapan tenaga kerja pada Proyek PMDN berdasarkan sektor pertumbuhannya relatif kecil berkisar 0.066.5 persen dibanding dengan tahun sebelumnya (2007)..3 persen dan sektor Industri Makanan dan Minuman yang tumbuh sekitar 9.922 297 8. Makanan & Minuman 1.458 14. Mineral Non Logam 37 27 27 Perhotelan 515 508 505 Pengangkutan Industri Lainnya Jasa Lainnya 1.868 Industri Kertas 256 256 256 Industri Kimia 2.

955 36.26%.. ubi kayu.838 ton.14 264.02 29.60) Keterangan: *) angka sementara/perkiraan Sumber : Dinas Pertanian TPH.838 (1. Meskipun demikian lahan rawa sangat potensial dikembangkan karena didukung oleh ketersediaan lahan yang luas.158 304. 2003).840 1.38%.953.269 (58.082 2. Perkembangan produksi komoditas tanaman pangan dan hortikultura disajikan pada Tabel II.466 Produksi (Ton) 2006 2007 2008 1.74) 1.954.283 100. ubikayu sebesar 121. kacang hijau sebesar 1.835 48.72 Produksi Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura di Kalimantan Selatan 2005-2009 NO.054 55.29% RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .K.48 1.956.817 15.957 95. Pemanfaatan lahan rawa baru sekitar 143. jagung.13 3.389 117.897 10.138 2.904 23.476 1. jagung sebesar 113. ubi jalar dan sayuran dalam kurun waktu 20052009 masing-masing meningkat rata-rata 3. dan tata air yang kurang mendukung kegiatan usaha tani (Harun. M. perikanan.22%. Produktivitas padi.759 18.875 8.548 1. kimia.045 262. kedelai.968 50. jagung.598.529 82.14% dan sayuran 0. 5.166 1.636.222 (1.2015 Page 106 .19%) masih berupa lahan tidur yang belum digarap (Anonim.548 16.904 47. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR SAYURAN BUAH-BUAHAN 2005 1. 12.11. perkebunan dan kehutanan. dan budidaya ikan sistem beje dan karamba (1) Potensi Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Produksi padi.118 ha.868 1.064 2. kacang tanah menurun rata-rata sebesar 1.87) 15. ubi jalar sebesar 29. keadaan topografi yang datar. ubi jalar dan sayuran terus mengalami peningkatan masing-masing meningkat rata-rata per tahun sebesar 4. ubi kayu.060 3.888 244. Model budidaya di lahan rawa yang telah di kembangkan seperti surjan. produksi padi diperkirakan mencapai 1. 2007).284 58. 2003) sangat potensial untuk dikembangkan bagi kegiatan pertanian.08%.60% per tahun.085 26.22 121. dan sisanya seluas 199.87%.02% dan 8.214 16.48%. M. 2010 Peningkatan produksi beberapa komoditas tanaman pangan berkaitan dengan peningkatan produktivitas.812 ton.72 Tabel II.812 (2. Pada tahun 2009. kedelai sebesar 3. agroforestri.968 ton dan sayuran sebesar 264.14%. sawah/tabukan.750 77.625 ton. Besarnya luasan lahan tidur tersebut disebabkan oleh adanya hambatan internal lahan rawa berupa sifat fisika.298 57.BAB II Selatan Dalam Angka.429 261. 3. 2.992 27.24%. luas tanam dan luas panen (Gambar II.793 1.38 113.598 11.16).335 31.415 Perk 2009 rata-rata * (%/tahun) 4.625 5. Sementara komoditas kacang-kacangan dan buah-buahan mengalami penurunan.74% dan buahbuahan sebesar 2.322 119. ketersediaan air melimpah dan teknologi pertanian yang cukup tersedia (Noor.992 ton gkg.897 ton.143 25.956. 27. 2007).

73 ku/ha.73 107.32 136. produktivitas padi diperkirakan mencapai 40.97 0. Pada tahun 2009.00 2. Produktivitas padi dan jagung masing-masing baru mencapai 76.BAB II per tahun.71 11.87 10.40 ku/ha.47 10.05 11.76 133.79 30.69 3.16 3.70 149.73 Tabel II.83 12. Luas Tanam dan Luas Panen Padi di Kalimantan Selatan 2005/2009 Meskipun produktivitas beberapa komoditas tanaman pangan meningkat.50 11.78) 11.17 115. Produktivitas tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.16 ku/ha gkg.08 49.40 150.11 47.00 ku/ha. ubi jalar sebesar 114. ubikayu sebesar 148.29 215.39 47.20 45.20 8.99 146. 2010 Gambar II.10 189. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR SAYURAN BUAH-BUAHAN 2005 34.63 38.57 (0.24 10.18 142.70) 148.38 38.14 48.69 ku/ha dan sayuran sebesar 48. pada umumnya produktivitas tanaman pangan Kalimantan Selatan masih dibawah produktivitas Nasional.10 Produktivitas (Ku/Ha) 2006 2007 2008 35.62 11. Perbandingan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .34 11.73 Produktivitas Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura di Kalimantan Selatan 2005-2009 NO.26 11.40 0.03% dan 89.10 99.52% dibanding rata-rata produktivitas Nasional.18 Produksi.52 34.87 Keterangan : *) angka sementara/perkiraan Sumber: .70 62.63 10.50 170.90 Perk 2009* rata-rata (%/tahun) 40. Produktivitas.41 11. Dinas Pertanian TPH.20 10.17 62.38 (0.73 12.24 114.60 101. namun bila dibandingkan dengan tingkat produktivitas tanaman panganNasional. jagung sebesar 49.26 11.2015 Page 107 .80 57.

643 ha.BAB II produktivitas tanaman pangan Kalimantan Selatan dan Nasional disajikan pada Tabel II.77% RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .938 16. dan 4.591 14.92%.79 118.32 Keterangan: *) angka sementara/perkiraan Sumber: Dinas Pertanian TPH. 16.459 7.32% per tahun.39%.16 49.560 ha. 1.99 95.23) 1. 2.417 7.73 11. luas panen padi diperkirakan mencapai 498.15 26.546 1. 9. Pada tahun 2009.71 42.182 2. kedelai. 4.91%. ubi jalar seluas 2.786 1. Pada tahun 2009. 10.23% dan 2.250 522.697 21.74 Tabel II.938 ha.544 2.2015 Page 108 .756 ha.38%.664 4. Sedangkan luas tanam kacang tanah dan kacang hijau masing-masing menurun rata-rata sebesar 0. komoditas Padi Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Produktivitas (Ku/Ha) Nasional Kalsel 49. ubi jalar seluas 2. jagung seluas 26.917 ha.74 Perbandingan Produktivitas Tanaman Pangan Nasional dan Kalimantan Selatan 2009 No.27 12.015 3.42 103.69 Indeks (%) 80.1 13.852 2.627 2. ubikayu seluas 6.174 14.388 (0.705 2.97 10. 3.669 ha. kedelai. jagung.664 ha. 2. kacang hijau dan buah-buahan masing-masing menurun rata-rata sebesar 1.134 13.84 79.34 110.69 40. 7. dan ubi jalar dalam kurun waktu 2005-2009 masing-masing meningkat rata-rata 1.91 13. kedelai seluas 3.289 23.038 2.15%.75 Luas Tanam Komoditas Tanaman Pangan di Kalimantan Selatan 2005-2009 NO. Sedangkan luas panen kacang tanah.47%. 1 2 3 4 5 6 7 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR 2005 479. Luas tanam tanaman pangan Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.684 5.917 3.560 2.12 87.569 24. 3.75 Tabel II.47 10.70%.04% per tahun. 2010 Luas panen padi.61 Keterangan: Produktivitas Padi dan Palawija (ARAM III 2009) Luas tanam padi.296 1.841 1. 6. ubi jalar dan sayuran dalam kurun waktu 2005-2009 masing-masing meningkat rata-rata 1.83 186.501 ha.35%.17) 6.320 Perk 2009* rata-rata (%/tahun) 506.71% per tahun.841 ha. ubi kayu. luas tanam padi diperkirakan mencapai 506.547 1.57 11.306 520. jagung.294 Luas Tanam (Ha) 2006 2007 2008 488. 5.562 8.19 95.39 3. ubikayu seluas 8.04 2. kedelai seluas 3.417 (3.666 hadan sayuran seluas 10. 13.083 15. 0.06% dan 7.38 148 114. jagung seluas 23.017 2.582 ha.247 23. ubi kayu.

13 50.28 68.157.BAB II dan 7.96 1.73 Sumber: BKP Prov.86 17.806 3. Luas panen tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II. sayuran.23 -207.97 136.14 14.319 17.666 2. Ketersediaan beberapa komoditas bahan pangan nabati pada tahun 2009.161 1.068. seperti daging.417 7.975.116 1.600.76 Luas Tanam Komoditas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kalimantan Selatan 2005-2009 NO.756 9.036 47.480.43 149.205 8.994 13.602 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KOMODITAS PADI JAGUNG KEDELAI KACANG TANAH KACANG HIJAU UBI KAYU UBI JALAR SAYURAN BUAH-BUAHAN 2005 459. kacang tanah.83 47.525.869 16. 2010 Produksi tanaman pangan akan mendukung ketersediaan bahan pangan.247.50 690.999.123 2.59 13.47) 1.76 Tabel II.144. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .096 95 175.595 2.559.680 265.738.643 1.569 (1.541 15.59 2.503 8.806 9.948. dan buah-buahan tergolong surplus.846 507.642 1.417 7.130.260 13.691 2. Ketersediaan komoditas pangan hewani pada tahun 2009.301 Perk 2009* rata-rata (%/tahun) 498.68 18. minyak sawit dan gula ketersediaan tergolong minus.672 505.77) 8.843 14. seperti padi.271.626 5.089.52 -18.502 50. Ketahanan pangan akan dicapai apabila terpenuhinya kebutuhan pangan yang cukup.62 124.482 6.235. telur dan ikan tergolong surplus.769.319.95% per tahun. Kal-Sel.71 12.83 23.918.900 15.669 10.35 3.705.92 2.563 (0. 1.766.95) Keterangan: *) angka sementara/perkiraan Sumber: Dinas Pertanian TPH.159.19 31.16 16.911. beras.853 2.517 1.978.582 13.953 42.326 4.70 23.894.77 Tabel II.03 2. jagung.23 Keterangan surplus surplus surplus minus surplus surplus surplus minus surplus minus minus surplus surplus minus surplus 2.09 50.65 301.501 7.115 14.90 51.836 97. ubi jalar.716.28 196.012.50 581.669.881 16. sedangkan ketersediaan susu tergolong minus.241 20.767.093 31. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 II.139 1. ubi kayu.95 34.578 20.645 139.06 10. Ketersediaan bahan pangan dan kebutuhan pangan Kalimantan Selatan pada tahun 2009 disajikan pada Tabel II.57 -107.21 62.307 (7.100.714.050 8. 12 13 14 15 Pangan Nabati (Ton) Padi Beras Jagung Kedelai Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar Sayur-sayuran Buah-buahan Minyak Sawit Gula Pangan Hewani (Kg) Daging Telur Susu Ikan Tahun 2009 Ketersediaan Kebutuhan Perimbangan 854.840 1.591.767. gizi seimbang dan terjangkau oleh seluruh masyarakat.042 22.87 13.399 1.241 15.978.90 -51.570.053. sedangkan kedelai.77 Ketersediaan Dan Kebutuhan Bahan Kalimantan Selatan Tahun 2009 Komoditi I.2015 Page 109 .427 Luas panen (Ha) 2006 2007 2008 462.84 -12.

22 6 Ubi Kayu 111.51 101.480.353.86 93.089.78 Tabel II.84 -12. Produk tanaman pangan dan hortikultura Kalimantan Selatan sebagian besar belum mempunyai daya saing yang kuat.696.144.36 266.130.42 9 Buah-buahan 173.32 101. ubi jalar dan buah-buahan mengalami surplus meningkat.319.87 2 Beras 555. jagung.588. Pangan Nabati 1.50 581.559.95 34.14 14. Kalimantan selatan potensial mempertahankan swasembada pangan terutama beras sehingga dapat menjadi lumbung beras atau penyangga beras nasional. Rendahnya produktivitas tersebut sangat disayangkan karena apabila komoditas beras menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam katalog AFTA ASEAN yang kena kebijakan penghapusan tarif impor beras.767.139. dan diperlukan pergudangan yang refresentatif untuk menampung kelebihan bahan pangan sehingga kualitas tetap terjaga.729. ubi kayu.03 104. jagung.545.94 8 Sayur-sayuran -108.997. Kal-Sel. kacang.77 Sumber : BKP Prov.97 136. tentunya persaingan perdagangan beras dari kompetitor-kompetitor produsen beras seperti Thailand dan Vietnam akan semakin tidak sehat dan semakin memperpuruk kondisi kesejahteraan petani padi kita.2015 Page 110 .82 100. Padi 813.83 Persentase Thd 2008 105.247. surplus padi dan beras mengalami peningkatan masing-masing sebesar 105. Perbandingan perimbangan ketersediaan bahan pangan Kalimantan Selatan tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel II. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .50 10 Minyak Sawit -18.03% dan 104. Ketersediaan padi. Sehingga dengan hasil usaha tani demikian produk pertanian Kalimantan Selatan kalau tidak segera dibenahi akan sulit bersaing pada era perdagangan bebas sekarang ini.51 Ket I.78 Perbandingan Perimbangan Ketersediaan Pangan Kalimantan Selatan Tahun 2008 dan 2009 Komoditi Perimbangan (Ton) Tahun 2008 Tahun 2009 854.929.09 3 Jagung -59. Pada tahun 2009. 2010 Surplus Meningkat Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Menurun Surplus Meningkat Surplus Meningkat Surplus Meningkat Minus Menurun Surplus Meningkat Minus Meningkat Minus Meningkat Surplus bahan pangan seperti padi/beras. ubi jalar dan buah-buahan membutuhkan suatu kebijakan untuk menghindari jatuhnya harga bahan pangan yang mengakibatkan petani rugi.57 -107.BAB II Padi atau beras merupakan bahan pangan pokok.741.978. Dengan demikian. kacang tanah. ubi kayu.28 196.11 98.48 113.52 -18.59 13.90 -51.72 5 Kacang Tanah 13.669.77% dibandingkan surplus padi pada tahun 2008.58 11 Gula -50.01 7 Ubi Jalar 5.92 122.77 157.247. beras. karena mutu yang belum memenuhi standar dan belum adanya jaminan suplai / produksi yang kontinyu.50 4 Kedelai -12.262.600.

839 417.910 17. meliputi Perkebuan Rakyat (PR) 308. Perkembangan produksi komoditas tanaman perkebunan Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.731 Ha (53. 2010*) angka sementara/perkiraan PR = Perkebunan Rakyat PBN = Perkebunan Besar Negara PBS = Perkebunan Besar Swasta No 1 2 3 4 5 Luas perkebunan Kalimantan selatan mencapai 581.539 -6. Perkembangan luas areal perkebunan disajikan pada Tabel II. Secara keseluruhan pertumbuhan luas kebun dari tahun 2005–2009 mengalami peningkatan.859 11.878 7.623 Ha.576 155.126 530.085 ton/ha dan 694.352 9. 635.74 Sumber : Dinas Perkebunan Prov.937 243.340 407.33 Rata-rata pertumbuhan luas kebun per tahun 6. yaitu ratarata 6.731 19.196 18.80 Tabel II.296 19.098 9.o98 ton/ha.46 2007 289. 568.80 Luas Areal Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005-2009 Pola Pengusahaan Luas Tahun PR PBN PBS Ha Pertmb% 2005 261. PBN dan PBS pada tahun 2005 sempat menurun 6.402 0.764 9.482 581.05 2006 188.334 568.282 573.293 17.410 Ha (3.001 635.79 Tabel II..36 2008 304. Perkebunan Besar Negara (PBN) 19.BAB II (2) Potensi Perkebunan Produksi tanaman perkebunan dengan pola pengusahaan PR.08%).085 11.03 2006 274.08 2008 245.05% dari tahun sebelumnya dengan produksi 417.592 27.130 530.938 694.738 432.685 349.76 dan Gambar II.476 376.49% per tahun. dan Perkebunan Besar Swasta 253.2015 Page 111 .820 14.088 15.878 ton/ha.49 No 1 2 3 4 5 Keterangan: *) angka sementara/perkiraan PR = Perkebunan Rakyat PBN = Perkebunan Besar Negara PBS = Perkebunan Besar Swasta Sumber : Dinas Perkebunan Prov.623 1.744 222.539 ton/ha. Kalsel.29 2009* 308.608 13.666 507.410 253.08 2007 207.79 Produksi Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005-2009 Pola Pengusahaan Produksi Tahun PR PBN PBS Ton/Thn Pertmb % 2005 163.951 215.482 Ha (43.58%).113 333.592 ton/ha.64 2009* 271.29 Rata-rata pertumbuhan produksi per tahun (1999-2009) 22.34%). tetapi pada tahun 2006-2009 produksi meningkat berturut-turut sebesar 530.410 250.070 4.988 8. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Kalsel.

277.901.696.00 2.78 243.874 499 991 514 - 2.312.42 116. lada.701 1.808.00 475. 14.61 (TBS) 74. kopi.313 Produksi (ton) 101.252.304 790 2.13 54.08 8.278.67 1. 8.870 2. Tabel II.053 2.369.119.532.545 672.41 7.99 3. kelapa dalam.526.18 31.983.62 58.799 48.002.19 Luas Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005 -2009 Komoditas perkebunan Kalimantan Selatan antara lain adalah karet.780 546 1. kakao dan sagu.81 Tabel II.83 30.28 1.704.00 4.81 Luas Areal Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005 – 2008 No 1.267.869.190.288.75 376.81 1.00 7.120 2.832 481 1.549.50 1. 9.152.64 5.898 448 219 2.07 71.057 2.67 71.02 (TBS) 67.89 337.354 4. cengkeh.199 47. 6.00 586. kelapa hibrida dan kelapa sawit disajikan pada Gambar II.30 341.899 47.284 4.48 669.00 4.123.00 1.994 1.018. 15.142 47.774.18 dan Gambar II. Kalsel.37 52.312.581.77 1.461 356.36 338.233 5.32 584. kayu manis.619 750 - 2. 2010 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .00 358.676 495 234 2. Komoditi Karet Kelapa Dalam Kelapa Hibrida Kelapa Sawit 2005 Luas (Ha) 171.91 460.77 (CPO) 257. 00 (inti sawit) 2. 12.79 3.568.451 307.145.229. kelapa.024 5.2015 Page 112 .967 Produksi (ton) 113.85 3.89 3. 13.78 2.666.656.47 142.68 317.00 2.26 494. kelapa sawit.348 4.287.71 2006 Luas (Ha) 183.928 1.778. Kopi Cengkeh Lada Kayu Manis Kemiri Pinang Kakao Kapuk Jambu Mente Aren Jahe Sagu Purun 7.34 58.46 2008 Luas (Ha) 206.071.815.004.630.661 1.61 6.354.30 2. 2.08 9.00 1.783 1.72 669.152 358 6. 16.39 1.626 1. 10.01 (TBS) 80.64 631.82 252.936 2.79 3.981.92 1.17 3.136.990 214.00 251.497.06 30.707.720.602.77 75.41 584.77 Memperlihatkan perkembangan luas dan produksi beberapa komoditas perkebunan dalam kurun waktu 2005-2008.896 1.BAB II Gambar II. 11.768.41 30. 178. Produksi dan luas areal perkebunan karet.04 2007 Luas (Ha) 192.79 97.585.09 (CPO) 87.704 586 Sumber Dinas Perkebunan Prov.810.32 (CPO) 4.79 98. 3.47 490.587.40 381.57 71.00 512.12 6.14 2.288.63 100.974 Produksi (ton) 121. 17. 7.75 397.00 5.00 2.01 (CPO) 5.862 332.92 1.540 Produksi (ton) 105.

kelapa dalam 30.2015 Page 113 . Peningkatan produksi ini sudah seharusnya terjadi terkait dengan peningkatan luas lahan tiap tahunnya. peningkatan rata-rata komoditi karet adalah 110.20 Produksi Beberapa Komoditas Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005-2008 Gambar II. jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2007 pada tahun 2008 terjadi penurunan sampai 59.38%. kelapa sawit dan kelapa dalam.08%. terjadi penurunan produksi yang sangat menyolok pada komoditi kelapa hibrida pada tahun 2008. dan kelapa sawit 302.BAB II Dari seluruh komoditas perkebunan yang ada.032 Ha pada tahun 2009 yang seluruhnya diusahakan oleh perkebunan rakyat. Namun. Hasil analisis menunjukan bahwa ada trend peningkatan produksi untuk komoditas utama perkebunan Kalimantan Selatan seperti karet. komoditas yang merupakan andalan Provinsi Kalimantan Selatan adalah karet dan kelapa sawit. Gambar II. kelapa dalam dan kelapa sawit.23% dan 7.21 Luas Areal Beberapa Komoditas Perkebunan di Kalimantan Selatan 2005 -2008 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . komoditas karet.49 ton per tahun.12 ton per tahun. Kelapa dalam cukup banyak diusahakan oleh rakyat dengan luas kebun kelapa dalam mencapai 48.556. Terjadi peningkatan produksi pada komoditi karet.760. 3. hal ini dikarenakan oleh menurunnya luas lahan penanaman kelapa hibrida sebanyak 3. Jika dibandingkan produksi tahun 2007 dengan tahun 2008 terjadi peningkatan pada masing-masing 7.608.43%.02 ton per tahun. kelapa sawit dan kelapa dalam merupakan komoditas yang dominan yang dikembangkan.43%.

Namun. karena selain ketersediaan yang cukup besar dan mutu hasil olahan dari industri telah sesuai SNI juga berdasarkan hasil kajian bisnis karet dan kelapa sawit internasional menunjukan adanya trend konsumsi yang meningkat pada komoditas karet dan kelapa sawit.20% dari jumlah seluruh KK di Kalimantan Selatan. Permintaan kelapa sawit dunia terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan konsumen minyak kelapa sawit.22 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .BAB II Jumlah rumah tangga (2008) yang melakukan usaha tani perkebunan : 407.057 KK dari 900. karena hasil analisis data menunjukkan mutu karet olahan rakyat di Kalimantan Selatan masih perlu ditingkatkan. Perkembangan jumlah populasi ternak di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II. Komoditas andalan Kalsel (karet dan kelapa sawit) merupakan komoditas yang prospektif.82 dan Gambar II.5 juta ton pada tahun 2016 (Outlook for Elastomer 2008/2009). Sumberdaya lahan perkebunan masih luas dan memungkinkan untuk pengembangan tanaman lebih luas lagi. dan klon yang digunakan 85% masih klon GT I yg sdh mengalami degenerative dan pernah terserang jamur akar putih (JAP) dan kering alur sadap (KAS) pada tanaman karet produktif. dari 16. Hal ini berarti peluang bagi Indonesia termasuk Kalsel untuk meningkatkan produksi karet dan kelapa sawit melalui program pengembangan masih cukup besar. permintaan terhadap komoditi olahan karet tidak didukung oleh hasil olahan rakyat. 2002) pangsa konsumsi kelapa sawit dunia mencapai 19.74%.603 KK Kalsel atau 45. Pertumbuhan ternak sapi perah juga negatif karena masyarakat belum terampil dalam memeliharanya.1 juta ton akan meningkat menjadi 22.5 juta ton pada 2012-2016. Permintaan karet diprediksi terus meningkat. (3) Potensi Peternakan Perkembangan populasi ternak di Kalimantan Selatan pada empat tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan rata-rata 2. namun karena kondisi tanaman karet Kalimantan Selatan sudah tua/rusak yang mencapai 30%. Pada umumnya ternakternak yang berkembang secara alami dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah yang mengalami pertumbuhan negatif seperti kuda dan babi. Tercatat tahun 2002 (Oil World.2015 Page 114 .5 juta ton pada tahun 2011 menjadi 21. Demikian pula kelapa sawit yang produk utamanya CPO dan mempunyai multi fungsi dalam menghasilkan derivative produk. sehingga perlu dilakukan peremajaan tanaman perkebunan dan peningkatan produktivitas dan antisipasi terhadap serangan hama pada tanaman produktif.

2010*)angka sementara Pertumbuhan (%) 4.03 (7.65 6.258 6 Domba 374 3.472 5.441 11 Itik 3.394 Ayam 10 Ras`Pedaging 20.BAB II Tabel II.12 2.83 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .216.137.873 111.53%.020 11.435 43.916 2.232 2.733 118.128 21. Jenis Ternak (ekor) 1 Sapi Potong 193.791 5.158.487.771.096 43.452 Rata-rata Pertumbuhan Sumber : Dinas Peternakan Prov.714 8 Ayam Buras 9.74) 2.643.09 13.603 4 Kuda 752 737 624 601 5 Kambing 107.065 2 Sapi Perah 133 135 124 96 3 Kerbau 41.00) 4.494 3.436 7. Produksi daging ayam ras petelur juga cukup tinggi karena adanya penggantian ayam ras petelur yang sudah memasuki ternak masa afkir.052 Ayam Ras 9 Petelur 1.74 Gambar II.914.984.55 1. Pertumbuhan terbesar pada ternak kuda karena kondisi kuda sekarang sudah tua dan masyarakat sudah mulai tidak memanfaatkan lagi sebagai tenaga kerja sehingga banyak terjadi pemotongan.983. Kalsel.49 (7.462 3.00 (9.813 28.971 44.633 218.47%.911.383. Perkembangan produksi daging Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.860.919 4.665.2015 Page 115 .22 Populasi Ternak Besar di Kalimantan Selatan 2004-2009 Produksi daging selama empat tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.176 4. yaitu sebesar 13.79 13.82 Jumlah Populasi Ternak di Kalimantan Selatan 2006 – 2009 Tahun 2006 2007 2008 2009* No.240 123.624.002 3.508 19.202 12. Pertumbuhan terbesar terjadi pada kuda. yaitu 262.920 202.274 12.534.659.78) 9.721 2.581 7 Babi 7.037 210.

242 13.738 26. Pertumbuhan terbesar terjadi pada ayam ras petelur (37.116 6.793 Ayam Buras Ayam Ras 2 Petelur 13.689.162.651 No.796.84 Tabel II.473 866.605 14.157.13 19.823.649.092 5.945.71 persen).475.142 2. Kalsel.567.646 1.56 (19.741 34.052 10 Itik 1.83 Produksi Daging di Kalimantan Selatan 2006-2009 Tahun 2006 2007 2008 (kg) 6.22 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .197 37. 2010 Pertumbuh an (%) 15. yaitu sebesar 19.120 5.468 42.71 20.016.024. Hal ini diduga akibat peternak sudah berhasil menanggulangi penyakit ND (New Castle Diseases) yang selalu menyerang setiap musim pancaroba. Pertumbuhan produksi telur dari unggas lain yang diusahakan peternak kecil juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.723 286.755.898 16.942 454.585 Rata-rata Pertumbuhan Keterangan: *) angka sementara Sumber : Dinas Peternakan Prov.179.296. Kalsel.124 Pertumbuhan (%) 4.335 25.47 Sapi Potong Kerbau Kuda Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Ras 8 Petelur 243.424 4.393 5.230. sedangkan ayam buras hanya 15.63 14.651 317.080 1.750.128.461.318 906.633 Ayam 9 Ras`Pedaging 21.949.12) 90.692 74.303 640.970 Rata-rata Pertumbuhan Keterangan: *) Angka sementara Sumber Dinas Peternakan Prov.884 91.659 34.613.84 persen hal ini karena ayam ras petelur dikelola oleh swasta dengan sistem pemeliharaan yang intensif.196.494.933 4.04 16.200 4.2015 Page 116 .84 Produksi Telur di Kalimantan Selatan 2006-2009 Tahun 2006 2007 2008 (kg) 3.394 117.936 18. 1 Jenis Ternak 2009* 5.582.175 969.310 28.649 4.BAB II Tabel II.717 4.84 19.484.552.216 1.58 13. Pertumbuhan produksi telur di Kalimantan selatan disajikan pada Tabel II.185.077 No 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Ternak 2009* 6.892.303 1.887 418.917 26.877.597.908 181. 2010 Produksi telur selama empat tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.22 persen.65 17.39) (5.742 16.562.693 1.819 1.692 1.77 7.53 17.742.96 262.318 3 Itik 15.679 17.

51) Sumber: Dinas Peternakan Prov. Produksi susu segar di kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.557 185. Produksi perikanan di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II.86 Tabel II.01 persen.000. 2010 (4) Potensi Perikanan Potensi Kawasan Perikanan Kalimantan Selatan meliputi garis pantai sepanjang 1.382 Ha 3. tambak seluas 53.224.400 Ha 53.5 4.51%.87 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .000 Ha 2. kolam seluas 2.181 Km 20. Potensi yang dimiliki dibanding potensi nasional disajikan pada Tabel II.85 Tabel II.4 4.44 persen dan tahun 2009 kembali mengalami penurunan 1.304.776 Ha 526.86 Potensi Kawasan Perikanan Di Kalimantan Selatan Uraian Garis Pantai Perairan Umum Kolam Tambak Sawah Potensi Kalsel 1. produksi tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu mencapai 186.000.000 Ha 6.000. 2010 Produksi dari sektor perikanan cukup berfluktuasi.173. Kalsel.752 Ha Potensi Nasional 95.734 129.752 ha. Produksi turun karena jumlah sapi perah yang laktasi berkurang dan keterampilan peternak dalam memelihara masih kurang.85 Produksi Susu Segar di Kalimantan Selatan Tahun 2006-2009 Tahun 2006 2007 2008 2009 Jenis Ternak (liter) Sapi Perah 292. tahun 2008 meningkat 4.BAB II Produksi susu selama lima tahun terakhir (2006-2009) mengalami pertumbuhan yang negatif.000 Ha Persentase 1. perairan umum seluas 1. Hal ini karena produksi yang semakin turun.672 309.382 ha dan sawah 3.400 ha.451 No. 1 Pertumbuhan (%) (21.ha.4 ton kemudian mengalami penurunan sebesar 6.330 km. yaitu sebesar -21. dari periode tahun 2006 sampai tahun 2009.139.17 persen.3 0.1 Sumber : Dinas Perikanan Prov.330 Km 1.9 0.2015 Page 117 . Kalsel.000 Ha 1.

905 ha akibat buruknya RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .976.3 5.7 -6. dan Riam Kanan. kritis 500. 6. Sumberdaya Perairan Keberadaan sungai di Kalimantan Selatan terhimpun dalam tiga satuan wilayah sungai yaitu wilayah sungai (WS) Barito.622. 5.2 505.304. Barito Hilir.2 596. transportasi air.44 3. Barito Tengah. Oleh karena fungsinya yang sangat vital. 3.027. juga dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Ir. WS Cengal Batulicin dan WS Pulau Laut yang mempunyai beberapa sub-wilayah sungai antara lain Luang. Kalsel.540. 2010 2006 121.664.148. seperti kebutuhan akan air besih. Danau Panggang.3 174.01 46.9 49.7 4.3 3.143.BAB II Tabel II.713.6 3. perikanan. Bahalayung.0 8.8 2. perikanan (keramba dan kolam ikan) bergantung pada pasokan air sungai tersebut. Kondisi DAS dan beberapa Sub-DAS tersebut saat ini berada dalam keadaan agak kritis seluas 1. Balangan.815.6 4.112 ha. 8. dan pertanian.494.174 11.3 3.1 4.064.2 113.210 231 586 5 180.269 b.Laut Perairan Umum Budidaya Air Payau Budidaya Air Tawar Budidaya Keramba Budidaya Sawah Budidaya Jaring Apung Budidaya Net Tancap JUMLAH Perkembangan (%) Sumber : Dinas Perikanan Prov. kegiatan pertanian.573. Dari kawasan Pegunungan Meratus. Amandit. JENIS USAHA Perikanan Laut Budidaya Per.0 5.87 Potensi Kawasan Perikanan di Kalimantan Selatan 2006-2009 NO 1.7 6.654 2009 102.420.17 2008 106.735.7 263.5 5. Tapin.108.552.727. Noor sejak 1972 dan bahan baku pembuatan air mineral kemasan. Pengairan teknis/irigasi Riam Kanan sebagai SDA buatan bagi banyak kepentingan pengguna atau pemakai air seperti bahan baku air minum. 2.3 423. 4. 7.0 49.2015 Page 118 .078 ha.9 265. di mana sebagian besar kebutuhan masyarakat sangat bergantung. Pangeran M. perikanan. Tabalong Kiri.730 -1.562.0 7. Kawasan sub DAS Riam Kanan selain dimanfaatkan untuk pemukiman 13 desa.951. sangat kritis 55.4 2007 98. mengalir ratusan sungai yang menuju ke segala penjuru wilayah Kalimantan Selatan.5 3.2 182.681. Riam Kiwa. maka Sub DAS Riam Kanan ditetapkan sebagai Catchment Area super Prioritas. Martapura. Batang Alai. Tabalong Kanan.6 6.918.0 5.9 53.7 186. Sampanahan. 9.

55 84.820. Sumberdaya Hutan Data terbaru luas hutan di Kalimantan Selatan didasarkan SK Menhut No.12 20.698. madu. pertambangan yang tidak ramah lingkungan dan rendahnya keberhasilan rehabilitasi. HPHTI (Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri).77 327. Luas kawasan hutan berdasarkan penggunaannya pada tahun 2008 diperuntukkan menjadi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) sekarang IUPHHK (Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu) seluas 291.88 Jumlah Produksi Kayu Bulat (Dalam Meter Kubik) Kalimantan Selatan 2002-2009 Tahun 2005 46.112.033.42 329.933.93 2006 5.441.88 Tabel II.660 ha).38 2009 37.994.38 396.85 25. dan pertambangan sebesar 658.478.68 276.12 155. hutan produksi(762.85 123.907. Produksi kayu bulat yang berasal dari hutan ada kecenderungan menurun dari tahun ke tahun Produksi kayu bulat dihasilkan oleh HPH/IUPHHK. Kawasan hutan tersebut dibagi berdasarkan fungsinya.83 120.40.745. Data produksi hasil hutan non kayu disajikan dalam Tabel II.37 11.234.38 28.967 ha. dan Ijin Pemungutan Kayu Tanaman Masyarakat (IPKTM).952.743 ha. hutan lindung (526.15 563.72 2007 26.29 406.779. Hak Guna Usaha (HGU) seluas 84.302.461.285 ha).64 1.481.317.6841 ha .63 6.BAB II pengelolaan lingkungan seperti timber extraction (penambangan kayu). Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Selatan.786.290.24 2008 23. dan hutan lindung (151.863.248.587.Ditjen Bina Produksi Kehutanan dalam Statistik kehutanan 2010 Selain kayu bulat hutan juga memproduksi hasil hutan non kayu.425 ha).424).537. Hutan Tanaman Industri (HTI) sebesar 383.175. hutan produksi terbatas (126. H.89 74.46 Penghasil HPH IPK HPHTI IPKTM Jumlah Sumber : Data dan Fakta Pembangunan Kehutanan di Kalimantan Selatan. sirap. IPK (Ijin Pemungutan Kayu).048. 435/Menhut-II/2009 seluas 1.87 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .86 33. Banjarbaru.780 ha. untuk lebih jelas perkembangan jumlah produksi kayu bulat di Kalimantan Selatan disajikan pada Tabel II. yaitu kawasan suaka alam atau kawasan pelestarian alam (213. c.2015 Page 119 . dan sarang burung.188 ha). reklamasi dan restorasi lahan terdegradasi. antara lain rotan. Kekritisan DAS berarti kekeritisan sumber daya air baik secara kualitas maupun kuantitasnya.956.44 244.51 162.982 ha.

000 181 Sumber : Data dan Fakta Pembangunan Kehutanan di Kal-Sel. Dishut Prov.065 75 2007 4.267 1.443.144.438 65.462 9.550 674 502.42 403.436 36.344 0 556.200 2.00 36.140.297 13.BAB II Tabel II.89 Jumlah Produksi Hutan Non Kayu Menurut Jenis di Kalimantan Selatan 2005-2009 Jenis Produk Rotan Madu Sirap Sarang Burung Satuan Kg Liter M3 Kg 2005 168.200 68.60 1. Sementara lahan kritis pada tahun 2003 seluas 556.468 780 605.158 5. Akibatnya.587 110.705. Tabel II.043 ha.052 7.89 RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .88 menyajikan luas lahan tidak kritis dan kritis berdasarkan wilayah administrasi kabupaten/kota tahun 2003 dan 2008.873 761.198 49.169 ha.634 180.953 41.237 76.766 8.41 Produksi kayu bulat yang menurun diyakini karena pengelolaan hutan yang tidak berkelanjutan.991 ha/tahun.776 1. 2010.275 2.090 7.587 ha. sedangkan tahun 2008 menjadi 761.90 Luas Lahan Tidak Kritis dan Lahan Kritis di Kalimantan Selatan 2003 dan 2008 Tidak Kritis Luas Wilayah 2003 2008 359.60 1650 3.351.901 7.495 2.2015 Page 120 .00 121.000 121. Luas areal yang direhabilitasi setiap tahun berdasarkan jenis kegiatan masing-masing disajikan pada Tabel II.084 2008 56. namun pada tahun 2008 lahan tidak kritis menjadi hanya 110.169 No Kabupaten/Kota Kritis 2003 41.348 41.930 48.297 30.741 147.705.603 43.635 256. Kal-Sel.694 110.644 0.229 946.839 120. Tahun 2003 lahan yang tidak kritis di Kalimantan Selatan mencapai 605. Realisasi rehabilitasi hutan dari tahun ke tahun cenderung menurun padahal luas lahan kritis semakin meningkat.931 4.159 9.745 44.622 132.00 2008 58 122 2009 13. Tabel II.00 1.995 12.522 26.93 0 72. H.2 2006 125.154 9.712 2.250 5.273 467.919 372.249 50.494 54.959 84.155 52.084 ha.651 28.912 7.043 1 Tabalong 2 Hulu Sungai Utara 3 Balangan 4 Hulu Sungai Tengah 5 Hulu Sungai Selatan 6 Tapin 7 Banjar 8 Banjarbaru 9 Barito Kuala 10 Tanah Laut 11 Tanah Bumbu 12 Kotabaru 13 Banjarmasin JUMLAH Sumber: BPDAS Barito Tahun 2005 dan 2009 Lahan kritis yang meluas setiap tahun seyogyanya harus dilakukan rehabilitasi hutan dan lahan.334 57.215 13.060 121.045 217.274 35.571 192.517 100. hutan menjadi kritis. terjadi peningkatan lahan kritis rata-rata seluas 40. Berdasarkan data tersebut.405 7.2 237.268 71.

Batu Bara.540.13 ton pada tahun 2003 dan 41. Berdasarkan data pada tahun 2007. diantaranya Minyak Bumi. yang tercatat secara resmi pada tahun 2002 adalah 21. tahun 2003 adalah 46. Balangan. Phospat. Jumlah produksi tersebut menyumbang sebesar 40.35% dari total produksi nasional sebesar 114. yaitu sebesar 54.21% dari total produksi nasional sebesar 132. PT.80 ton dan meningkat pada tahun 2004. PT Tanjung Alam Jaya. Adaro Indonesia.054 milyar ton. Marmer. Deposit batubara di (1) Kotabaru diperkirakan 80 juta ton dan bahkan sampai 300 juta ton untuk kedalaman 150 meter. PT Jorong Barutama Greston dan PT Bahari Cakrawala Sebuku.000 ton (Lapan. PT Antang Gunung Meratus.195. Arutmin Indonesia. Kabupaten Tapin memiliki deposit batubara kilap terang sebanyak 116.430 ton dan batubara kilap kusam 429.352. HSS. Periodotit. Oker. Biji Nikel. HSU. Andesit.289. Tapin.id) Dalam Indonesia Mineral and Coal Statistics. Basalt. Hulu Sungai Selatn dan Banjarbaru.tapinkab.2015 Page 121 . Banjar. Gambut.229 ha meliputi 16 kecamatan dengan sumber daya 155. dan Tabalong). serta keberadaannya hampir menyebar di seluruh kabupaten (Banjar. Kotabaru. Granodiorit.79 ton pada tahun 2004. Pasir Kuarsa.6 205 50 250 4800 2003 7936 100 Tahun 2004 15000 0 70 6000 2005 14020 0 0 4250 2006 1600 0 0 875 Sumber: Dinas Kehutanan Prov. 2004). produksi batubara di Kalimantan Selatan. Potensi batubara cukup besar dengan kualitas yang baik.Kal.590 ton (www.024. Batu Gamping. Tapin.go.Sel (2007) d. Biji Kronit.395.450. Tanah Laut. Kaolinesi. (2) Kabupaten Tabalong mencakup luasan 42.91 Kegiatan Pembangunan Hutan di Kalimantan Selatan 2005-2009 Kegiatan 2002 Reboisasi (Ha) Hutan Kemasyarakatan (Ha) Rehabilitasi Hutan Bakau (Ha) Hutan Rakyat (Ha) 2442.931. Granit.953 milyar ton sedangkan sumberdaya batubara diperkirakan 6. Sumberdaya Mineral dan Pertambangan Kalimantan Selatan kaya akan sumber daya pertambangan dan galian. Intan.116.278.958.915. Beberapa daerah yang memiliki potensi batubara diantaranya Kabupaten Kotabaru. (3). Biji Emas. cadangan batubara yang terukur adalah 1.BAB II Tabel II. Bijih Besi. dimana sebagian besar produksi batubara tersebut dihasilkan oleh perusahaan besar seperti PT.977. Potensi sumber daya mineral unggulan saat ini berupa batubara dan bijih besi. Lempung. Diorit. Tanah Bumbu. Dan jumlah ini merupakan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .16 ton. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (2005) dan Indonesian Coal Mining Association (2005) . Tabalong. Balangan. HST.

Dalam bentuk tonage telah digali biji besi sebanyak 59.06 miliar.239. Selain itu diperkirakan deposit bijih besi juga terdapat di Sungai Kupang.4. Sebuku. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan kapasitas pekerja dalam menghasilkan nilai tambah produksi meningkat.43 miliar. Kabupaten Tanah Bumbu mempunyai cadangan sebanyak 51.920 ha di Danau Seran dan Cempaka. sedangkan untuk penjualan ekspor batu bara Kalsel pada tahun 2003 sebesar 32.499. 2002).530 ton (2004) dan 737. Gunung Gumpa. Volume ekspor selama Januari-Juni 2007 mencapai 46. 2.71 ton pada tahun 2003 dan sebesar 68. Sementara itu deposit diperkirakan sebesar 86 juta ton berada di P.666. Data dari Dinas Pertambangan Kotabaru menunjukkan bahwa lahan yang sudah dieksploatasi untuk bijih besi meliputi areal 9528 ha.168 ton (2005).479.21 ton.66 juta rupiah menjadi 27. Selama tahun 2007 – 2008 nilainya meningkat sebesar 10.462.500 ton tersebar di Blok Pelaihari.467. Sumberdaya bijih besi di Kabupaten Tanah Laut sebesar 2.BAB II kedua terbesar setelah Kalimantan Timur yang memproduksi sebesar 57. Namun terdapat pula pengaruh besaran inflasi karena menggunakan PDRB harga berlaku.85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 36.153. Blok Riam Pinang dan Blok Talok.396.317 juta ton dengan nilai US$ 1.000 karat di Cempaka dan Danau Seran 84.794 juta ton dengan nilai US$1.000 ton (deluvial) berupa endapan besi laterit di daerah Gunung Kukusan dan Sungai Kusan hulu.2015 Page 122 .693.300 ton (insitu) dan 2. Pulau Laut dan Tanjung Senakin. Produksi batubara yang tercermin dalam ekspor batubara masih menunjukkan tren yang meningkat seiring dengan tingginya permintaan luar negeri.674.748 karat (Majalah Warta.49 persen. Blok Sungai Bakar.805.263.818. meningkat 28.682.4. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .3. Dalam skala besar saat ini ijin pertambangan intan dikuasai oleh PT.25 juta rupiah per orang.38 ton pada tahun 2004. Gunung Kukusan. dari 24. Potensi sumber daya alam lainnya yang sangat terkenal dari Kalimantan Selatan adalah pertambangan intan di Kota Banjarbaru. Galuh Cempaka yang mempunyai areal konsesi seluas 3.99 ton dan pada tahun 2004 sebesar 34.784 karat yang tersebar 660. Hasil studi kelayakan yang pernah dilakukan menyebutkan bahwa lokasi tersebut menyimpan intan sejumlah 744.891. Sumber Daya Manusia Tingkat produktivitas pekerja dihitung dengan membandingkan nilai PDRB atas dasar harga berlaku terhadap jumlah pekerja.52 ton dan pada tahun 2004 sebesar 14.35 ton. Kemudian tercatat penjualan domestik batubara Kalimantan Selatan pada tahun 2003 sebesar 13.

120.438.27.139 Ket: PRIMER (Pertanian dan Pertambangan) Sumber: BPS Kal.382 106.664.230.752 181.623.699.93 Produktivitas Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha di Regional Kalimantan.358 189. 2007 – 2008 *) 2007 Sektor PDRB Berlaku (Juta Rp) Tenaga Kerja (Orang) Produktivitas Tenaga Kerja (Rp) PDRB Berlaku (Juta Rp) 2008 Tenaga Kerja (Orang) Produktivitas Tenaga Kerja (Rp) PRIMER SEKUNDER TERSIER TOTAL 17.742.90 20.742 27.251.423 25.020. Sementara itu.251.423.180 24.882 KALTENG 10.231 KALSEL 24.395 286.16 24.713.419 22. produktivitas tenaga kerja di sektor sekunder mencapai nilai tertinggi Rp.838.207 45.596 KALTIM 127.94 juta).868. masing-masing Rp.573 30.937.595.845 TOTAL Sumber: Hasil Sakernas masing-masing Provinsi Tahun 2008 *) Keadaan Bulan Agustus Secara sektoral.472 34.112.81 37.00 23.285.25.682.40 7.33 27.2015 Page 123 .90 675.887.579. 2008*) (Rp) Sektor PRIMER SEKUNDER TERSIER KALBAR 5.07 1.574.981 17.838. sektor primer dan tersier jauh lebih rendah.212. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 . Keuangan dan Jasa) Untuk wilayah regional Kalimantan.-.708. tingkat produktivitas tenaga kerja Kalimantan Selatan pada 2008 sebesar Rp.670.516 18..755. Listrik dan Bangunan) TERSIER (Perdagangan.84 25.BAB II Tabel II.252.251.413.702. Angkutan.06 43.222..740.936 11.80 14.515.25 juta menduduki peringkat kedua setelah Kalimantan Timur (Rp.79 813. Sementara itu tingkat produktivitas tenaga kerja di Kalimantan Barat merupakan yang terendah dengan pencapaian sebesar 11. 43.868.946..24.09 1.422.92 Produktivitas Tenaga Kerja menurut Lapangan Usaha di Kalimantan Selatan.73 781.18 7.16 628.252.106.767.069.Sel *) Agustus SEKUNDER (Industri.292.127. Tabel II.836.204 39.742.797.868.740.099 37.838.111 28.137.068.598.035 16.466.dan Rp.30 juta rupiah.116.298.295.943.740 43.

00 2.2015 Page 124 .60 3. Kalsel.2 307.10 100.625.4 25.80 1.3 29.4 66.767.759.893.9 3.874. RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan 2011 .9 1.80 101 1.70 1.5 2015 1.7 43 Sumber : Proyeksi BPS Prov.7 2005 1.60 1.20 3.4 196.7 49.7 168.2 26.7 1.4 70 4.30 3.7 4.30 100.BAB II Tabel II.94 Kondisi dan Proyeksi Parameter Kependudukan Kalimantan Selatan 2000 – 2015 Parameter Penduduk Male Female Total Sex ratio Laju pertumbuhan (%) Batita (< 3 tahun) Balita (< 5 tahun) Komposisi umur (%) 0-14 15-64 65+ Dependency ratio (%) 2000 1.61 186.240.9 293.6 2010 1.7 3.489.614.00 100.503.495.4 318.6 32 64.2 69.1 43.00 1.5 193.4 1.3 54.984.743.9 328.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful