Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM AGROKLIMATOLOGI

PENGENALAN ALAT ALAT PENGUKUR UNSUR IKLIM ATAU CUACA

Oleh: Indah Ayuningtyas Wardani NIM A1H010096

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2011

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cuaca dan iklim merupakan suatu keadaan udara pada suatu daerah yang dapat mempengaruhi berbagai aktivitas manusia. Cuaca dapat dikatakan sebagai keadaan udara di suatu tempat pada saat tertentu dalam waktu yang singkat dan cepat berubah. Cuaca biasanya dikatakan sebagai suatu keadaan udara pada daerah yang sangat terbatas atau ruang yang sempit. Cuaca memiliki pengaruh yang sangat penting dalam berbagai kegiatan manusia, diantaranya pada pengolahan lahan pertanian. Cuaca yang yang berubah- ubah dengan cepat di daerah lahan pertanian dapat menyebabkan kerugian dalam hasil produksi tanaman. Hal tersebut dikarenakan penanganan lahan yang tidak sesuai dengan cuaca yag sedang terjadi pada daerah pengolahan. Pengukuran dan pencatatan tentang iklim atau cuaca yang penting dalam pertanian antara lain : curah hujan (jumlah dan intensitas hujan), evaporasi (permukaan tanah dan tanaman), radiasi matahari (lama penyinaran dan intensitas penyinaran matahari), kelembaban, suhu temperatur (udara dan tanah), dan angin (arah dan kecepatan angin. Cuaca dan iklim di suatu daerah dapat diketahui dengan mlakukan pengukuran unsur iklim dan cuaca. Alat pengukur cuaca terdapat berbagai jenis sesuai dengan unsur cuaca yang ingin diketahui. Stasiun pengamatan atau pengukuran iklim atau cuaca bagi pertanian lazimnya mempunyai perlengkapan seperti berikut : sheller (kotak stevenson), termometer suhu minimum dan maksimum, temometer bola basah dan bola kering, termohigrograf, penakar hujan (ombrometer), anemometer, evaporimeter, solarimeter, sunshine duration record dan termometer tanah.

B. Tujuan

1. 2. 3.

Melatih mahasiswa agar mengetahui cara kerja peralatan ukur iklim atau cuaca. Melatih mahasiswa agar mengetahui cara pengamatan unsur iklim atau cuaca. Melatih mahasiswa agar mengetahui tata letak dan pemasangan peralatan ukur iklim atau cuaca.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Iklim adalah integrasi secara umum dari kondisi cuaca yang mencakup periode waktu tertentu pada suatu wilayah sedangkan cuaca menggambarkan kondisi atmosfir pada suatu saat, dimana atmosfir sendiri diartikan sebagai selubung udara di sekitar bumi yang terdiri dari campuran gas dan zat, yaitu sekitar 98 % unsur nitrogen dan oksigen serta 2 % lainnya terdiri dari gas argon, ozon, uap hydrogen, karbondioksida, neon , helium, krypton, xenon dan partikelpartikel organik maupun anorganik yang menyelubungi bumi. Atmosfir ini terdiri dari 2 lapisan, yaitu lapisan bawah disebut troposfer dan bagian atasnya disebut stratosfer. Pada lapisan troposfer sering terjadi peristiwa meteorik, angin, adanya awan dan hujan sedangkan pada lapisan atasnya hal tersebut tidak ada, namun terdapat sedikit uap air, temperaturnya sangat rendah dan terdapat lapisan ozon yang dapat melindungi bumi karena dapat menyerap ultraviolet dari sinar matahari. Kondisi cuaca ataupun iklim ini dicirikan oleh unsur-unsur atau komponen atau parameter cuaca atau iklim antara lain suhu, angin, kelembaban, penguapan, curah hujan serta lama dan intensitas penyinaran matahari. Kondisi dari unsur-unsur tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain tinggi tempat, lintang tempat dan posisi matahari (Gunawan, 2001). Menentukan iklim suatu tempat atau daerah diperlukan data cuaca yang telah terkumpul lama (10-30 tahun), dari hasil pengukuran cuaca dengan alat ukur yang khusus (instrumentasi klimatologi). Alat-alat yang digunakan harus tahan lama dari pengaruh-pengaruh buruk cuaca untuk dapat setiap waktu mengukur perubahan cuaca. Alat dibuat sedemikian rupa agar hasil pengukuran tidak berubah ketelitiannya. Pemeliharaan alat yang baik membawa keuntungan pemakaian lebih lama. Pemasangan alat di tempat terbuka memerlukan persyaratan tertentu agar tidak mengalami salah pengukuran. Agar data yang diperoleh dapat dibandingkan, kemudian perbedaan data yang didapat bukanlah akibat kesalahan prosedur, tetapi benar- benar merupakan akibat iklimnya yang berbeda, perlu adanya beberapa keseragaman: keseragaman peralatan keseragaman pemasangan alat keseragaman waktu pengamatan

keseragaman pengumpulan data

Menurut WMO (World meteorology Organization) dalam penempatan stasiun klimatologi pertanian diutamakan di stasiun percobaan agronomi, hortikultura, peternakan, kehutanan, hidrologi, lembaga penelitian tanah, kebun raya ataupun cagar alam serta daerah yang perubahan cuacanya sering menmyebabkan kerugian terhadap produksi pertanian. Penempatan stasiun klimatologi atau meterologi sedapat mungkin memenuhi syarat antara lain : 1. Sekeliling luasa terpelihara dengan tanaman penutup (rerumputan atau tanaman yang rendah) sebatas pada pengaruh batas angin 2. Disekitar atau dekatnya tidak ada jalan raya (jalan besar) 3. Tempatnya pada tanah yang datar 4. Bebas atau jauh dari bangunan dan pohon-pohon besar 5. Letak stasiun jangan terlalu jauh dengan penagamat dan keperluan pengamat. Hal ini akan lebih baik dalam ketepatan waktu dan kondisi yang dapat dipercaya (Katasapoetra, 1986). Beberapa alat- alat penguur unsur cuaca dan iklim diataranya adalah A. Alat pengukur lama penyinaran dan intensitas penyinaran matahari Lama penyinaran matahari adalah lamanya matahari bersinar cerah sampai permukaan bumi dalam periode satu hari mulai dari terbit sampai terbenam yang dinyatakan dalam satuan waktu, yaitu jam. Lama penyinaran matahari ini seringkali tidak penuh satu hari. Hal ini dapat disebabkan karena sinar matahari terhalang oleh awan, aerosol atau kabut. Intensitas radiasi matahari diartikan sebagai banyaknya atau jumlah energi dari cahaya matahari yang diterima bumi, pada luas tertentu serta jangka waktu tertentu. Satuan yang banyak digunakan adalah : kalori/cm 2/menit disebut juga Langley per menit, ditulis ly/menit. Menurut WMO sinar matahari dikatakan cerah apabila intensitas radiasinya mencapai 21 mW/cm2 atau lebih; 21 mW/cm2 = 0,3 kalori/cm2/menit. 1. Pengukur lama penyinaran matahari : sunshine durotion tipe compbell stokes dan tipe jordan.

2. Pengukur intensitas penyinaran matahari: solarimeter pyroheliometer tipe bimetal actinograph dll. B. Alat pengukur suhu atau temperatur udara dan tanah 1. Untuk data seketika digunakan termometer gelas air raksa. Termometer gelas merkuri atau termometer gelas air raksa adalah termometer yang tabungnya terbuat dari bahan gelas atau bahan plastik transparan dan untuk alat sensor untuk pembacaannya digunakan air raksa yang mempunyai titik beku 40 derajat celcius. Penggunaan termometer ini sangat bervariasi untuk melakukan pengamatan rutin dengan rentang suhu yang dapat diukur biasanya antara 20 sampai 50 C dengan tanda skalanya umumnya antara 0,2 atau 0,5 C atau dengan perkiraan setengahnya, yaitu 0,1 atau 0,25 C. 2. Untuk pencatatan dalan grafik digunakan air raksa dalam baja atau termograf bimetal.

Gambar 1. Temograf 3. Untuk temperatur maksimum digunakan termometer gelas air raksa atau termograf bimetal. Termometer maksimum adalah termometer untuk mengetahui temperatur tertinggi selama waktu yang diamati.Termometer ini juga merupakan termometer kelas air raksa biasa kecuali pada tabung kapiler yang menbekati bola tempat air raksa atau reservoarnya dibuat sekat menyempit atau di bagian atas cairan ada jarum penunjuk dari bahan kaca sebagai indek pembacaan.

Gambar 2. Thermometer maksimum 4. Untuk temperatur minimum digunakan termometer gelas alcohol atau termograf bimetal. Temperatur minimum yaitu suhu terendah dalam suatu periode pengukuran umumnya diukur dengan menggunakan termometer gelas alkohol, yang mempunyai titik beku 114.9 C. Pada alkohol dalam abung kecil terdapat jarum penunjuk sebagai indek pembacaaan.

Gambar 3. Termometer minimum 5. Temperatur bola basah atau kering digunakan termometer gelas air raksa. Termometer bola basah dan bola kering adalah dua termometer gelas air raksa biasa yang dipasang tegak, dimana yang satu dibagian reservoarnya dibalut dengan kain yang dapat menyerap air, seperti kain kaos atau kain perban yang dicelupan kedalam air di gelas yang disimpan di bawah termometer, sebagai termometer bola basah dan yang satu lagi tidak didiamkan sebagai termometer bola kering. C. Alat pengukur tekanan udara dan kecepatan angin 1. Kecepatan Angin Kecepatan angin adalah jarak tempuh angin atau pergeraakan udara per satuan waktu dan dinyatakan dalam satuan meter per detik (m/d), kilometer per jam (km/j), dan mil per jam (mi/j). Satuan mil (mil laut) per jam disebut juga knot (kn); 1 kn = 1,85 km/j = 1,151mi/j = 0,514 m/d atau 1 m/d = 2,237 mi/j = 1,944 kn. Kecepatan angin bervariasi dengan ketinggian dari permukaan tanah, sehingga dikenal adanya profil angin, dimana makin tinggi gerakan angin makin cepat. Kecepatan angin diukur dengan

menggunakan alat yang disebut Anemometer atau Anemograf. Ada beberapa beberapa tipe Anemometer , b. Anemometer propeller c. Anemometer tabung bertekanan 2. Arah Angin Arah angin adalah arah dari mana tiupan angin berasal. Bila angin itu datang dari selatan, maka arah anginnya adalah utara, datangnya dari laut, dinyatakan angin laut. Arah angin untuk angi di daerah permukaan biasanya dinyatakan dalam 16 arah kompas yang dikenal dengan istilah Wind Rose, sedangkan untuk angin di daerah atas dinyatakan dengan derajat dimulai dari arah utara bergerak searah jarum jam sampai di arah yang bersangkutan. Bila tidak ada tiupan angin maka arah angin dinyatakan dengan kode 00 dan bila angin berasal dari titik utara dinyatakan dengan 3600. Arah angin tiap saat dapat dilihat dari posisi panah angin (Wind Vane), atau dari posisi kantong angin (Wind Sack). yaitu : a. Anemometer dengan tiga atau empat mangkok

Gambar 4. Enam belas mata angin D. Alat pengukur penguapan 1. Panci kelas A, diameter 120 cm dan tinggi atau tebal 25 cm 2. Panci jepang, diameter panci 20 cm dan dikelilingi jeruji 3. Picheatmometer, berupa gelas berskala cm3

4. Panci colorado, dll E. Alat pengukur kelembaban udara 1. Psikrometer 2. Sling psikrometer, psikrometer yang diputar dalam mengukur kelembaban suatu tempat. 3. Higrometer, terdiri dari bahan yang peka terhadap perubahan uap air (biasaanya berupa semacam rambut). Alat yang bisa laangsung mencatat data disebut Higrograf. Prinsip kerjanya adalah bila udara lembab rambut bertambah panjang dan udara kering rambut menyusut. Perubahan panjang ini secara mekanis dapat ditransfer ke jarum penunjuk pada skala antara 0 sampai 100%. 4. Termohigrometer, gabungan termometer dan higrometer dalam satu alat ukur. Alat ini menggunakan prinsip dengan sensor rambut untuk mengukur kelembaban udara dan menggunakan bimetal untuk sensor suhu udara. Kedua sensor dihubungkan secara mekanis ke jarum penunjuk yang merupakan pena penulis di atas kertas pias yang berputar menurut waktu. Alat dapat mencatat suhu dan kelembaban setiap waktu secara otomatis pada pias. F. Alat pengukur hujan 1. Alat pengukur hujan biasa: Ombrometer biasa, Ombrometer Observatorium. 2. Alat pengukur hujan otomatis (recorder): Tilting Bucket, Floating, Weighing dll.

III. METODOLOGI A. Alat dan bahan Alat dan bahan yang digunakan adalah : 1. iklim/cuaca : a. Termometer Maksimum - Minimum b. Anemometer Digital c. Sunshine Duration d. Solarimeter Tipe Silikon Cell e. Solarimeter Tipe Gunbelani f. Ombrometer Biasa g. Piche Evaporimeter h. Sunshine Duration Tipe Campbell Stokes i. Cup Anemometer j. Ombrometer Observasi 2. 3. 4. Kertas gambar Pena Mistar B. Cara kerja 1. Menyiapkan alat-alat pengukuran unsur cuaca/iklim. 2. Menggambar masing-masing alat pengukuran unsur cuaca/ilkim. Contoh alat untuk mengukur unsur

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2008. Alat- Alat Klimatologi Konvensional.

http://www.klimatologibanjarbaru.com. Diakses 11 Mei 2010 Anonim. 2010. Presipitasi. http://bhupalaka.files.wordpress.com. Diakses 11 Mei 2010 Kartasapoetra, Ir Ance Gunarsih. 1986. KLIMATOLOGI. Jakarta : PT Bina Aksara. Nawawi, Gunawan. 2001. Pengantar Klimatologi Pertanian. Departemen Pendidikan Nasional: Bandung