Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN TUTORIAL BLOK KEDOKTERAN TROPIS MODUL I : LESU

OLEH: KELOMPOK VI Ivana Yusuf Andi Asas Mubarak Reskiyani Ashar Nur Ismiastuty Alimuddin Dewi Sartika Azhar Fauzan Miftahulhaq H. Ali Ahmad Yani Sahfirani Harry Murdi Abbas

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2013

SKENARIO Seorang anak perempuan berumur 8 tahun diantar ibunya ke puskesmas dengan keluhan lesu. Gejala ini juga disertai dengan penurunan nafsu makan dan tidak mempunyai keinginan belajar dan bermain. Keadaan ini dialami oleh anak tersebut sejak 8 bulan yang lalu sejak pulang dari berlibur di kampungnya di kabupaten Mamuju selama 1 bulan. ANALISIS KUNCI Anak perempuan Usia 8 tahun Lesu, sejak 8 bulan lalu Kabupaten Mamuju

PERTANYAAN 1. Apa saja yang dapat menyebabkan lesu? 2. Bagaimana patomekanisme lesu? 3. Penyakit apa saja yang memiliki gejala lesu? 4. Bagaimana menegakkan diagnosisnya? 5. Bagaimana penatalaksanaannya? 6. Bagaiman pencegahannya? 7. Bagaimana prognosisnya? PEMBAHASAN 1. Terjadinya suatu penyakit dapat disebabkan oleh dua hal yaitu penyebab infeksi dan non-infeksi. Pada diskusi kelompok, kami hanya membahas Lesu dari aspek kausa infeksi. Definisi lesu atau malaise itu sendiri adalah ... Penyakit infeksi, khususnya Penyakit parasitik yang merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia antara lain : a. Malaria b. Toksoplasmosis c. Penyakit yang disebabkan cacing yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helmints) d. Filariasis e. mikosis superfisialis Walaupun begitu, berdasarkan data dari kasus yaitu :

Anak perempuan berumur 8 tahun Keluhan utama Lesu sejak 8 bulan lalu Setelah berlibur di Mamuju

Maka arah diskusi kami hanya menuju pada penyakit Malaria, Penyakit yang disebabkan cacing yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helmints) dan Filariasis. 2. Patomekanisme Lesu
Petomekanisme gejala

Infeksi parasit

Hemolisis

Mengambil nutrisi

Menghisap darah

Gangguan tidur

Defisiensi bahan2 pembentuk darah

Anemia

LESU

Penjelasan bagan 1. Infeksi parasit yang dapat menyebabkan terjadinya hemolisis eritrosit adalah adanya infeksi plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina(hospes definitif). Seperti kita ketahui, habitat yang paling disukai oleh plasmodium dalam tubuh manusia adalah eritrosit, yang digunakan sebagai tempat untuk reproduksi aseksual . Sehingga, apabila plasmodium menginfeksi, dan menyebabkan eritrosit pecah sehingga mengeluarkan plasmodium dalam darah, maka akan terjadi interaksi antigen (plasmodium) dan antibodi yang menyebabkan dilepaskannya sitokin(IL-1, TNF ) yang dapat merangsang pusat thermoregulator tubuh (hipothalamus) sehingga menyebabkan gejala demam. Gejala demam ini merupakan gejala utama dari penyakit malaria. Anemia terjadi apabila jumlah eritorit yang pecah sangat banyak sehingga menyebabkan berkurangnya kemampuan darah untuk mengangkut oksigen. Anemia ini bila berlangsung terus-menerus akan memberikan manifestasi lesu pada anak.

2. infeksi parasit yang mengambil nutrisi pada tubuh manusia. Nutrisi yang dimaksud dalam hal ini adalah bahan-bahan pembentuk darah seperti : a. asam folat, dan vitamin B12 yang merupakan bahan pokok pembentuk inti sel b. Fe : sangat diperlukan dalam pembentukan hemoglobin c. cobalt,magnesium, Cu, Zn, asam amino, dll. Apabila terjadi defisiensi salah saru darii zat-zat tersebut, maka akan mengganggu pembentukan eritrosit yang baru juga mempengaruhi pembentukan hemoglobin. Sehingga apabila terus terjadi dapat mengakibatkan terjadinya anemia. Parasit yang hidup dengan menyerap zat-zat makanan yang terdapat pada mukosa usus apabila menginfeksi manusia adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Taenia saginata, Taenia solium , Schistosoma japonicum,dll. 3. infeksi parasit yang dapat menghisap darah. Pada infeksi kronik parasit penghisap darah seperti jenis cacing tambang dan Strongyloides stercoralis, dapat terjadi anemia hipokrom mikrositer. 4. infeksi Enterobius vermicularis dapat memberikan gejala berupa pruritus ani yang khususnya bermenifestasi saat malam hari. Sehingga, akan mengganggu tidur penderita yang akhirnya dapat menyebabkan lesu.

3. Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan lesu Berdasarkan epidemiologi dan prevalensi terjadinya penyakit khususnya di daerah Sulawesi Barat (Kab. Mamuju) maka differensial diagnosisnya yaitu : o Penyakit yang disebabkan transmitted helminths) Alasannya : Pada kasus ini, pasien sebelumnya pernah berlibur ke Kab. Mamuju selama 1 bulan. Menurut laporan epidemiologi dari Dinkes Polewali Mandar tahun 2009 disebutkan bahwa prevalensi kecacingan pada anak SD di tahun 2009 kembali tinggi yaitu sekitar 64,5 % setelah pada dua tahun sebelumnya (2007) prevalensi kecacingan ini hanya sekitar 13,26 %. Penurunan prevalensi pada tahun 2007 tersebut terjadi karena pada tahun 2005 dimana angka kecacingan pada daerah ini mencapai angka 35-45 %, mendapat intervensi dari pemerintah yaitu pemberian obat cacing pada anak SD (pirantel pamoat dan Albendazole) serta pengembangan Perilaku

cacing yang ditularkan

melalui

tanah(soil

Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan perbaikan sarana air bersih serta sanitasi. Intervensi ini telah memberikan hasil yang sangat signifikan dittahun 2006-2007. Pada tahun 2008 intervensi tersebut tidak dilakukan lagi secara maksimal bahkan cenderung diabaikan, dengan alasan prevalensi kecacingan di tahun 2007 telah turun sampai batas indikator yang dikatakan sebagai kategori ringan. Hal iniah yang mengakibatkan mulai tahun 2009 kembali terjadi peningkatan prevalensi kecacingan di daerah tersebut . (Sumber : Laporan Epidemiologi Epidemiologi dinkes Polewali Mandar 2009) Walaupun tidak ada data mengenai prevalensi kecacingan khususnya di kab. Mamuju, akan tetapi data dari Kab. Polewali Mandar yang memiliki daerah geografis yang sama dengan Kab. Mamuju sudah dapat menggambarkan tentang angka kejadian kecacingan yang masih tinggi di Sulawesi barat sampai pada data tahun 2009. Atas dasar itulah mengapa Penyakit yang disebabkan cacing yang ditularkan melalui tanah ini menjadi salah satu diferensial diagnosis kelompok kami. o Malaria Alasannya : karena daerah Mamuju masih merupakan daerah endemis kejadian Malaria. Akan tetapi, jika dilihat dari keluhan utama pasien yaitu lesu, maka penyakit Malaria ini tidak dapat dimasukkan sebagai Diferensial diagnosis, kecuali ada data yang menyebutkan bahwa pasien sebelumnya pernah mengalami demam. o Filariasis
Alasannya : Dalam modul eliminasi penyakit kaki gajah yang diterbitkan oleh Depkes RI melalui Ditjen PPM dan PL direktorat P2B2 subdit Filariasis dan Scistosomiasis (2002) endemisitas kejadian filariasis salah satunya juga terdapat di Kab. Mamuju, Sulawesi Barat. Terbukti sampai pada tahun 2010 pemerintah setempat(berkoordinasi dengan Subdit filariasis & schistomiasis, Direktorat P2B2, ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan Republik Indonesia) masih memberikan obat anti filaria secara massal pada warganya. Hal ini menunjukkan bahwa masih tingginya kejadian Filaria di daerah tersebut.

4. Differensial diagnosis I. Ascariasis A. Definisi Ascariasis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides biasa disebut round worm of man yaitu suatu penyakit parasit usus pada manusia yang terbesar, disebut juga cacing gelang. Penyebarannya luas dan

merata di daerah tropik, sub-tropik dan lebih banyak ditemukan di daerah pinggiran dibandingkan di kota. Cacing ini hidup di rongga usus halus. Di Indonesia, penderita Askariasis didominasi oleh anak-anak.

B. Etiologi Ascaris lumbricoides merupakan cacing bulat besar yang biasanya bersarang dalam usus halus. Adanya cacing didalam usus penderita akan mengadakan gangguan keseimbangan fisiologi yang normal dalam usus, mengadakan iritasi setempat sehingga mengganggu gerakan peristaltik dan penyerapan makanan.

C. Morfologi Cacing betina dewasa mempunyai bentuk tubuh posterior yang membulat (conical), berwarna putih kemerah-merahan dan mempunyai ekor lurus tidak melengkung. Cacing betina mempunyai panjang 22 - 35 cm dan memiliki lebar 3 -6 mm. Sementara cacing jantan dewasa mempunyai ukuran lebih kecil, dengan panjangnya 12 - 13 cm dan lebarnya 2 - 4 mm, juga mempunyai warna yang sama dengan cacing betina, tetapi mempunyai ekor yang melengkung kearah ventral Kepalanya mempunyai tiga bibir pada ujung anterior (bagian depan) dan mempunyai gigi-gigi kecil atau dentikel pada pinggirnya, bibirnya dapat ditutup atau dipanjangkan untuk memasukkan makanan. Pada potongan melintang cacing mempunyai kutikulum tebal yang berdampingan dengan hipodermis dan menonjol kedalam rongga badan sebagai korda lateral. Sel otot somatik besar dan panjang dan terletak di hipodermis; gambaran histologinya merupakan sifat tipe polymyarincoelomyarin. Alat

reproduksi dan saluran pencernaan mengapung didalam rongga badan, cacing jantan mempunyai dua buah spekulum yang dapat keluar dari kloaka dan pada cacing betina, vulva terbuka pada perbatasan sepertiga badan anterior dan tengah, bagian ini lebih kecil dan dikenal sebagai cincin kopulasi.

Telur Ascaris lumbocoides Telur yang di buahi (fertilized) berbentuk ovoid dengan ukuran 60-70 x 0-50 mikron. Bila baru dikeluarkan tidak infektif dan berisi satu sel tunggal. Sel ini dikelilingi suatu membran vitelin yang tipis untuk meningkatkan daya tahan telur cacing tersebut terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga dapat bertahan hidup sampai satu tahun. Di sekitar membran ini ada kulit bening dan tebal yang dikelilingi lagi oleh lapisan albuminoid yang permukaanya tidak teratur atau berdungkul (mamillation). Lapisan albuminoid ini kadang-kadang dilepaskan atau hilang oleh zat kimia yang menghasilkan telur tanpa kulit (decorticated). Didalam rongga usus, telur memperoleh warna kecoklatan dari pigmen empedu. Telur yang tidak dibuahi

(unfertilized) berada dalam tinja, bentuk telur lebih lonjong dan mempunyai ukuran 88-94 x 40-44 mikron, memiliki dinding yang tipis, berwarna coklat dengan lapisan albuminoid yang kurang sempurna dan isinya tidak teratur. D. Daur Hidup Manusia merupakan satu-satunya hospes definitif Ascaris lumbricoides, jika tertelan telur yang infektif, maka didalam usus halus bagian atas telur akan pecah dan melepaskan larva infektif dan menembus dinding usus masuk kedalam vena porta hati yang kemudian bersama dengan aliran darah menuju jantung kanan dan selanjutnya melalui arteri pulmonalis ke paru-paru dengan masa migrasi berlangsung selama sekitar 15 hari. Dalam paru-paru larva tumbuh dan berganti kulit sebanyak 2 kali kemudian keluar dari kapiler, masuk ke alveolus dan seterusnya larva masuk sampai ke bronkus, trakhea, laring dan kemudian ke faring, berpindah ke oesopagus dan tertelan melalui saliva atau merayap melalui epiglottis masuk kedalam traktus digestivus. Terakhir larva sampai kedalam usus halus bagian atas, larva berganti kulit lagi menjadi cacing dewasa. Umur cacing dewasa kira-kira satu tahun, dan kemudian keluar secara spontan.

Siklus hidup cacing ascaris mempunyai masa yang cukup panjang, dua bulan sejak infeksi pertama terjadi, seekor cacing betina mulai mampu mengeluarkan 200.000 250.000 butir telur setiap harinya, waktu yang diperlukan adalah 3 4 minggu untuk tumbuh menjadi bentuk infektif. Menurut penelitian stadium ini merupakan stadium larva, dimana telur tersebut keluar bersama tinja manusia dan diluar akan mengalami perubahan dari

stadium larva I sampai stadium III yang bersifat infektif. Telur-telur ini tahan terhadap berbagai desinfektan dan dapat tetap hidup

bertahun-tahun di tempat yang lembab. Didaerah hiperendemik, anak-anak terkena infeksi secara terus-menerus sehingga jika beberapa cacing keluar, yang lain menjadi dewasa dan menggantikannya. Jumlah telur ascaris yang cukup besar dan dapat hidup selama beberapa tahun maka larvanya dapat tersebar dimanamana, menyebar melalui tanah, air, ataupun melalui binatang. Maka bila makanan atau minuman yang mengandung telur ascaris infektif masuk kedalam tubuh maka siklus hidup cacing akan berlanjut sehingga larva itu berubah menjadi cacing. Jadi larva cacing ascaris hanya dapat menginfeksi tubuh melalui makanan yang tidak dimasak ataupun melalui kontak langsung dengan kulit.

Life Circle of Ascaris lumbricoides. E. Epidemiologi Pada umumnya frekuensi tertingi penyakit ini diderita oleh anak-anak sedangkan orang dewasa frekuensinya rendah. Hal ini disebabkan oleh karena kesadaran anak-anak akan kebersihan dan kesehatan masih rendah ataupun mereka tidak berpikir sampai ke tahap itu. Sehinga anak-anak lebih mudah diinfeksi oleh larva cacing Ascaris misalnya melalui makanan, ataupun infeksi melalui kulit akibat kontak langsung dengan tanah yang mengandung telur Ascaris lumbricoides. Faktor host merupakan salah satu hal yang penting karena manusia sebagai sumber infeksi dapat mengurangi kontaminasi ataupun pencemaran tanah oleh telur dan larva cacing, selain itu manusia justru akan menambah polusi lingkungan sekitarnya. Di pedesan kasus ini lebih tinggi prevalensinya, hal ini terjadi karena buruknya sistem sanitasi lingkungan di pedesaan, tidak adanya jamban sehingga tinja manusia tidak terisolasi sehingga larva cacing mudah menyebar. Hal ini juga terjadi pada golongan masyarakat yang memiliki tingkat social ekonomi yang rendah, sehingga memiliki kebiasaan membuang hajat (defekasi) ditanah, yang kemudian tanah akan terkontaminasi dengan telur cacing yang infektif dan larva cacing yang seterusnya akan terjadi reinfeksi secara terus menerus pada daerah endemik Perkembangan telur dan larva cacing sangat cocok pada iklim tropik dengan suhu optimal adalah 23oC sampai 30oC. Jenis tanah liat merupakan tanah yang

sangat cocok untuk perkembangan telur cacing, sementara dengan bantuan angin maka telur cacing yang infektif bersama dengan debu dapat menyebar ke lingkungan F. Penularan Penularan Ascariasis dapat terjadi melalui bebrapa jalan yaitu masuknya telur yang infektif kedalammulut bersama makanan atau minuman yang tercemar, tertelan telur melalui tangan yang kotor dan terhirupnya telur infektif bersama debu udara dimana telur infektif tersebut akan menetas pada saluran pernapasan bagian atas, untuk kemudian menembus pembuluh darah dan memasuki aliran darah. G. Gejala Klinis Kelainan-kelainan yang terjadi pada tubuh penderita terjadi akibat

pengaruh migrasi larva dan adanya cacing dewasa. Pada umumnya orang yang kena infeksi tidak menunjukkan gejala, tetapi dengan jumlah cacing yang cukup besar (hyperinfeksi) terutama pada anak-anak akan menimbulkan kekurangan gizi, selain itu cacing itu sendiri dapat mengeluarkan cairan tubuh yang menimbulkan reaksi toksik sehingga terjadi gejala seperti demam typhoid yang disertai dengan tanda alergi seperti urtikaria, odema diwajah, konjungtivitis dan iritasi pernapasan bagian atas. Cacing dewasa dapat pula menimbulkan berbagai akibat mekanik seperti obstruksi usus, perforasi ulkus diusus. Oleh karena adanya migrasi cacing ke organ-organ misalnya ke lambung, oesophagus, mulut, hidung dan bronkus dapat menyumbat pernapasan penderita. Ada kalanya askariasis menimbulkan manifestasi berat dan gawat dalam beberapa keadaan sebagai berikut : 1. Bila sejumlah besar cacing menggumpal menjadi suatu bolus yang menyumbat rongga usus dan menyebabkan gejala abdomen akut. 2. Pada migrasi ektopik dapat menyebabkan masuknya cacing kedalam apendiks, saluran empedu (duktus choledocus) dan ductus pankreatikus. Bila cacing masuk ke dalam saluran empedu, terjadi kolik yang berat disusul kolangitis supuratif dan abses multiple. Peradangan terjadi karena

desintegrasi cacing yang terjebak dan infeksi sekunder. Desintegrasi betina menyebabkan dilepaskannya telur dalam jumlah yang besar yang dapat dikenali dalam pemeriksaan histologi. Untuk menegakkan diagnosis pasti harus ditemukan cacing

dewasa dalam tinja atau muntahan penderita dan telur cacing dengan bentuk yang khas dapat dijumpai dalam tinja atau didalam cairan empedu penderita melalui pemeriksaan mikroskopik.

H. Diagnosis Anamnesis tambahan yang bisa diajukan sesuai kasus : 1. Selain lesu, apakah pasien pernah menderita demam? 2. Apakah pasien pernah mengeluh sesak nafas? 3. apakah sebelumnya pernah ada gejala berupa muntah, nyeri perut, ataupun diare? Untuk mendiagnosis pasti Ditemukan telur pada tinja /ditemukan cacing dewasa pada anus, hidung, atau mulut

I. Pencegahan dan Upaya Penanggulangan Berdasarkan kepada siklus hidup dan sifat telur cacing ini, maka upaya pencegahannya dapat dilakukan sebagai berikut : 1. Penyuluhan kesehatan Penyuluhan kesehatan tentang sanitasi yang baik dan tepat guna, Hygiene keluarga dan hygiene pribadi seperti Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman. Sebelum melakukan persiapan makanan dan hendak makan, tangan dicuci terlebih dahulu dengan menggunkan sabun. Bagi yang mengkonsumsi sayuran segar (mentah) sebagai lalapan, hendaklah dicuci bersih dan disiram lagi dengan air hangat. Karena telur cacing Ascaris dapat hidup dalam tanah selama bertahuntahun, pencegahan dan

pemberantasan di daerah endemik adalah sulit. Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini adalah sebagai berikut : 1. Mengadakan kemotrapi massal setiap 6 bulan sekali didaerah endemik ataupun daerah yang rawan terhadap penyakit askariasis. 2. Memberi penyuluhan tentang sanitasi lingkungan. 3. Melakukan usaha aktif dan preventif untuk dapat mematahkan siklus hidup cacing misalnya memakai jamban/WC.

4. Makan makanan yang dimasak saja. 5. Menghindari sayuran mentah (hijau) dan selada di daerah yang menggunakan tinja sebagai pupuk

J. Pengobatan Bila mungkin, semua yang positif sebaiknya diobati, tanpa melihat beban cacing karena jumlah cacing yang kecilpun dapat menyebabkan migrasi ektopik dengan akibat yang membahayakan. Untuk pengobatan tentunya semua obat dapat digunakan untuk mengobati Ascariasis, baik untuk pengobatan perseorangan maupun pengobatan massal. Pada waktu yang lalu obat yang sering dipakai seperti : piperazin, minyak chenopodium, hetrazan dan tiabendazol. Oleh karena obat tersebut menimbulkan efek samping dan sulitnya pemberian obat tersebut, maka obat cacing sekarang ini berspektrum luas, lebih aman dan memberikan efek samping yang lebih kecil dan mudah pemakaiannya Adapun obat yang sekarang ini dipakai dalam pengobatan adalah : 1. Mebendazol. Obat ini adalah obat cacing berspektrum luas dengan toleransi hospes yang baik. Diberikan satu tablet (100 mg) dua kali sehari selama tiga hari, tanpa melihat umur, dengan menggunakan obat ini sudah dilaporkan beberapa kasus terjadi migrasi ektopik. 2. Pirantel Pamoat. Dosis tunggal sebesar 10 mg/kg berat badan adalah efektif untuk menyembuhkan kasus lebih dari 90 %. Gejala sampingan, bila ada adalah ringan dan obat ini biasanya dapat diterima (welltolerated). Obat ini mempunyai keunggulan karena efektif terhadap cacing kremi dan cacing tambang. Obat berspekturm luas ini berguna di daerah endemik dimana infeksi multipel berbagai cacing Nematoda merupakan hal yang biasa.

3. Levamisol Hidroklorida. Obat ini agaknya merupakan obat anti-askaris yang paling efektif yang menyebabkan kelumpuhan cacing dengan cepat. Obat ini diberikan dalam dosis tunggal yaitu 150 mg untuk orang dewasa dan 50 mg untuk orang dengan berat badan <10 kg. Efek sampingan mebendazol. 4. Garam Piperazin. Obat ini dipakai secara luas, karena murah dan efektif, juga untuk Enterobius vermicularis, tetapi tidak terhadap cacing tambang. Piperazin sitrat diberikan dalam dosis tunggal sebesar 30 ml (5 ml adalah ekuivalen dengan 750 mg piperazin). Reaksi sampingan lebih sering daripada pirantel pamoat dan mebendazol. Ada kalanya dilaporkan gejala susunan syaraf pusat seperti berjalan tidak tetap (unsteadiness) dan vertigo. K. Prognosis & komplikasi Pada umumnya baik. Kesembuhannya mencapai 70 -99%. Komplikasi bisa disebabkan oleh cacing dewasa yang berrgerak ke organ tertentu menyebabkan blockage usus. Komplikasi yang mungkin terjadi : 1. Penghambatan sekresi liver 2. Ileus obstrutif 3. Perforasi Usus lebih banyak dari pada pirantel pamoat dan

II.

Trichuriasis

A. Morfologi Trichuris trichiura termasuk nematoda usus yang biasanya dinamakan cacing cemeti atau cambuk, karena tubuhnya menyerupai cemeti dengan bagian depan yang tipis dan bagian belakangnya yang jauh lebih tebal. Cacing ini pada umumnya hidup di sekum manusia, sebagai penyebab Trichuriasis dan tersebar secara kosmopilitan. Trichuris trichiura jauh lebih kecil dari Ascaris lumbricoides, anterior panjang dan sangat halus, posterior lebih tebal. Betina panjangnya 35-50 mm, dan jantan panjangnya 30-45 mm. Telur berukuran 50-54 x 32 mikron, bentuk seperti

tempayan/tong, di kedua ujung ada operkulum (mukus yang jernih) berwarna kuning tengguli, bagian dalam jernih, dan dalam feses segar terdapat sel telur.

Cacing Trichuris trichiura dewasa Telur dengan ukuran 50-55 m x 22-24 m berbentuk seperti tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur bagian luar berwarna kekuning-kuningan dan bagian dalamnya jernih

Telur Trichuris Trichura Telur yang keluar bersama tinja penderita belum mengandung larva, oleh karena itu belum infektif. Jika telur jatuh di tanah yang sesuai, dalam waktu 3-4 minggu telur berkembang menjadi infektif. Bila telur yang infektif termakan manusia, di dalam usus halus dinding telur pecah dan larva cacing keluar menuju sekum untuk selanjutnya tumbuh menjadi dewasa. Untuk mengambil makanannya, cacing memasukkan bagian anterior tubuhnya ke dalam mukosa usus hospes. Satu bulan sejak masuknya telur ke dalam mulut, cacing dewasa telah mulai mampu bertelur. Cacing ini dapat hidup beberapa tahun lamanya di dalam usus manusia

Cycle hidup Trichuris trichura B. Epidemiologi Daerah penyebaran dari Trichuris trichiura, sama dengan Ascaris lumbricoides, sehingga kedua cacing ini sering di temukan bersama-sama dalam 1 hospes. Di Indonesia, Frekuensinya tinggi, terutama didaearah-daerah pedesaan, antara 30% - 90%. Terutama ditemukan pada anak-anak. Faktor terpenting dalam penyebaran trichuriasis adalah kontaminasi tanah oleh feses penderita, yang akan berkembang dengan baik pada tanah liat, lembab dan teduh. Yang penting untuk penyebaran penyakit adalah kontaminasi tanah dengan tinja. Telur tumbuh di tanah liat, tempat lembab, dan teduh dengan suhu optimum kira 30 derajat celcius. Di berbagai negeri pemakaian tinja sebagai pupuk kebun merupakan sumber infeksi. Frekuensi di Indonesia masih sangat tinggi. Di beberapa daerah pedesaan di Indonesia frekuensinya berkisar antara 30-90 %. Di daerah yang sangat endemik infeksi dapat dicegah dengan pengobatan penderita trikuriasis, pembuatan jamban yang baik dan pendidikan tentang sanitasi dan kebersihan perorangan, terutama anak. Mencuci tangan sebelum makan, mencuci dengan baik sayuran yang dimakan mentah adalah pentingapalagi di negera-negera yang memakai tinja sebagai pupuk C. Gejala Klinik Cacing Trichuris trichiura pada manusia terutama hidup di sekum, akan tetapi dapat juga ditemukan di kolon asendens. Pada infeksi berat, terutama pada anak, cacing ini tersebar di seluruh kolon dan rektum. Kadang-kadang terlihat di mukosa

rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita pada waktu defekasi. Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus, hingga terjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat perlekatannya dapat terjadi perdarahan. Di samping itu rupanya cacing ini mengisap darah hospesnya, sehingga dapat menyebabkan anemia. Gejala klinik hanya timbul jika terdapat infeksi yang berat. Penderita mengalami anemia yang berat dengan hemoglobin di bawah 3 %, diare disertai oleh tinja yang berdarah, nyeri perut dan muntah-muntah serta mual. Berat badan penderita akan menurun. Kadang-kadang pada anak dan bayi terjadi prolaps dari rektum dengan cacing tampak melekat pada mukosa. D. Penularan Trichuris trichiura pada manusia terutama hidup di sekum dapat juga ditemukan di dalam kolon asendens. Pada infeksi berat, terutama pada anak cacing ini tersebar diseluruh kolon dan rektum, kadang-kadang terlihat pada mukosa rektu yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita sewaktu defekasi. Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus hingga terjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat pelekatannya dapat menimbulkan perdarahan. Di samping itu cacing ini juga mengisap darah hospesnya sehingga dapat menyebabkan anemia.

E. Diagnosis Anamnesis tambahan yang dapat diajukan sesuai dengan kasus: 1. Selain lesu, apakah anak pernah mengalami diare dengan tinja berdarah? 2. Adakah penurunan berat badan ? 3. Apakah ada nyeri perut dan mual yang dirasakan sebleumnya? Untuk diganosis pasti Ditemukannya telur atau cacing pada pemeriksaan tinja.

F. Pengobatan Perawatan umum Hygiene pasien diperbaiki dan diberikan diet tinggi kalori, sedangkan anemia dapat diatasi dengan pemberian preparat besi. Pengobatan spesifik

Bila keadaan ringan dan tak menimbulkan gejala, penyakit ini tidak diobati. Tetapi bila menimbulkan gejala, dapat diberkan obat. Diltiasimin Jodida, diberikan dengan dosis 10-15 mg/kg bb/hari selama 3-5 hari. Stilbazium Yodida, diberikan dengan dosis 10 mg/kg bb/hari, 2 kali sehari selama 3 hari dan bila diperlukan dapat diberikan dalam waktu yang lebih lama. Efek samping obat ini adalah rasa mual, nyeri pada perut dan warna tinja menjadi merah. Heksiresorsinol 0,2%, dapat diberikan 500 ml dalam bentuk enema, dalam waktu 1 jam. Mebendazole, diberikan dengan dosis 100 mg, 2 kali sehari selama 3 hari, atau dengan dosis tunggal 600 mg.

G. Komplikasi Bila infeksi berat dapat terjadi perforasi usus atau prolapsus rekti

H. Prognosis Dengan pengobatan yang adekuat prognosis baik

III.

Filariasis

A. Definisi Filariasis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh infestasi satu atau dua cacing jenis filarial yaitu Wucheria bancrofti atau Brugia malayi. Cacing filarial ini termasuk family filaridae, yang bentuknya langsing dan ditemukan di dalam system peredaran darah limfe, otot, jaringan ikat atau rongga serosa pada vertebrata. Cacing bentuk dewasa dapat ditemukan pada pembuluh dan jaringan limfa pasien.

B. Siklus Hidup & morfologi Hospes definitif adalah hanya manusia. Penularan penyakit ini melalui vector nyamuk yang sesuai. Cacing bentuk dewasa tinggal di pembuluh limfe dan mikrofilaria terdapat di oembuluh darah dan limfe. Pada manusia W. bancrofti dapat hidup selama kira-kira 5 tahun. Sesudah menembus kulit melalui gigitan nyamuk, larva meneruskan perjalanannya ke

pembuluh dan kelenjar limfe tempat mereka tumbuh sampai dewasa dalam waktu satu tahun. Cacing dewasa ini sering menimbulkan varises saluran limfe anggota kaki bagian bawah, kelenjar ari-ari, dan epididymis pada laki-laki serta kelenjar labium pada wanita. Mikrofilaria kemudian meninggalkan cacing induknya, menembus dinding pembuluh limfe menuju ke pembuluh darah yang berdekatan atau terbawa oleh saluran limfe ke dalam aliran darah.

Wuchereria bancrofti

Brugia malayi

Brugia timori

Cacing jantan dan betina hidup di saluran dan kelenjar limfe; bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih susu. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung. Microfilaria ini hidup di dalam darah dan terdapat di aliran darah tepi pada waktu-waktu tertentu saja, jadi mempunyai periodisitas. Pada umumnya, microfilaria W. bancrofti bersifat periodisitas nokturna, artinya microfilaria hanya terdapat di dalam darah tepi pada waktu malam. Pada siang hari, microfilaria terdapat di kapiler alat dalam paru, jantung, ginjal dan sebagainya.

C. Epidemiologi Menurut Laurence (1967) dalam Soeyoko, 2002) penyakit kaki gajah telah dikenal 600 tahun sebelum Masehi, sejak diketahui ada seorang pengikut agama Budha menderita kakinya bengkak seperti kaki gajah sehingga orang tersebut diusir dari lingkungannya. Filariasis limfatik mempengaruhi lebih dari 170 juta orang di seluruh dunia dan ditemukan di tempat tropik dan subtropik. Sekurang-kurangnya terdapat 21 juta penderita limfatik filariasis di equatorial Afrika dan amerika selatan filariasis di seluruh dunia masih terus meningkat. Filariasis di Indonesia pertama kali dilaporkan di Jakarta yaitu dengan ditemukannya penderita filariasis skrotum. Pada saat itu pula maka Jakarta diketahui endemik filariasis limfatik yang disebabkan oleh W. bancrofti. Mikrofilaria dari filaria tersebut mempunyai morfologi yang berbeda dengan W. bancrofti. Demikian juga manifestasi klinisnya berbeda dengan manifestasi klinis oleh infeksi W.bancrofti. Brugia malayi belum teridentifikasi sampai tahun 1927, pada saat itu masih dinamakan Filaria malayi. Pada tahun yang sama Lichtenstein merubah nama genus menjadi Brugia tetapi nama spesies tetap. Pinhao dan David dan Edeson (1961) dalam Sudomo, 2008) telah menemukan mikrofilaria yang mirip dengan microfilaria B.malayi pada manusia di Timor Portugis. Biasanya daerah endemik B.malayi adalah daerah dengan hutan rawa (swampy forest), sepanjang sungai besar atau badan air yang lain. Sedangkan daerah endemik W. bancrofti perkotaan adalah daerah perkotaan yang kumuh, padat penduduknya dan banyak genangan air kotor sebagai habitat dari vektor parasit tersebut, yaitu Cx. Quinquefasciatus, tidak seperti W. bancrofti, gambaran epidemiologi B. malayi lebih rumit. Spesies Brugia malayi di Indonesia dibagi menjadi tiga bentuk (strain) yang dibagi menurut periodisitas mikrofilaria di dalam darah, yaitu bentuk periodik nokturna, sub-periodik nokturna dan non- periodik. Walaupun antara berbagai tipe B. malayi dapat dibedakan secara morfologi dan epidemiologi, tetapi manifestasi klinisnya sama saja.

D. Patologi Perubahan patologi utama disebabkan oleh kerusakan pembuluh getah bening akibat inflamasi yang ditimbulkan oleh cacing dewasa, bukan oleh mikrofilaria. Cacing dewasa hidup di pembuluh getah bening aferen atau sinus kelenjar getah bening dan menyebabkan pelebaran pembuluh getah bening dan penebalan dinding pembuluh. Infiltrasi sel plasma, eosinofil, dan makrofag di dalam dan disekitar pembuluh getah bening yang mengalami inflamasi bersama dengan proliferasi sel endotel dan jaringan penunjang, menyebabkan berliku-likunya system limfatik dan kerusakan atau inkompetensi katup pembuluh getah bening. Limfedema dan perubahan kronik akibat stasis bersama dengan edema keras terjadi pada kulit yang mendasarinya. Perubahan-perubahan yang terjadi pada kulit yang mendasarinya. Perubahan-perubahan yang terjadi akibat filariasis ini disebabkan oleh efek langsung daric acing ini dan oleh respon imun pejamuterhadap parasit. Respon imun ini dipercaya menyebabkan proses granulomatosa dan proliferasi yang menyebabkan obstruksi total pembuluh getah bening.

E. Gejala Klinik Gejala klisnis filariasis limfatik disebabkan oleh microfilaria dan cacing dewasa baik yang hidup maupun yang mati. Microfilaria biasanya tidak menimbulkan kelainan tetapi dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan occult filariasis. Gejala yang disebabkan oleh cacing dewasa menyebabkan limfadenitis dan limfagitis retrograd dalam stadium akut, disusul dengan obstruktif menahun 10 sampai 15 tahun

kemudiam.

Perjalanan

filariasis

dapat

dibagi

beberapa

stadium:

stadium

mikrofilaremia tanpa gejala klinis, stadium akut dan stadium menahun. Ketiga stadium tumpang tindih, tanpa ada batasan yang nyata. Gejala klinis filariasis bankrofti yang terdapat di suatu daerah mungkin berbeda dengan dengan yang terdapat di daerah lain. Pada penderita mikrofilaremia tanpa gejala klinis, pemeriksaan dengan limfosintigrafi menunjukkan adanya kerusakan limfe. Cacing dewasa hidup dapat menyumbat saluran limfe dan terjadi dilatasi pada saluran limfe, disebut lymphangiektasia. Jika jumlah cacing dewasa banyak dan lymphangietaksia terjadi secara intensif menyebabkan disfungsi system limfatik. Cacing yang mati menimbulkan reaksi imflamasi. Setelah infiltrasi limfositik yang intensif, lumen tertutup dan cacing mengalami kalsifikasi. Sumbatan sirkulasi limfatik terus berlanjut pada individu yang terinfeksi berat sampai semua saluran limfatik tertutup menyebabkan limfedema di daerah yang terkena. Selain itu, juga terjadi hipertrofi otot polos di sekitar daerah yang terkena Stadium akut ditandai dengan peradangan pada saluran dan kelenjar limfe, berupa limfaadenitis dan limfagitis retrograd yang disertai demam dan malaise.

Gejala peradangan tersebut hilang timbul beberapa kali setahun dan berlangsung beberapa hari sampai satu atau dua minggu lamanya. Peradangan pada system limfatik alat kelamin laki-laki seperti funikulitis, epididimitis dan orkitis sering dijumpai. Saluran sperma meradang, membengkak menyerupai tali dan sangat nyeri pada perabaan. Kadang-kadang saluran sperma yang meradang tersebut menyerupai hernia inkarserata. Pada stadium menahun gejala klinis yang paling sering dijumpai adalah hidrokel. Dapat pula dijumpai gejala limfedema dan elephantiasis yang mengenai seluruh tungkai, seluruh lengan, testis, payudara dan vulva. Kadangkadanag terjadi kiluria, yaitu urin yang berwarna putih susu yang terjadi karena dilatasi pembuluh limfe pada system ekskretori dan urinary. Umumnya penduduk yang tinggal di daerah endemis tidak menunjukan peradangan yang berat walaupun mereka mengandung mikrofilaria.

F. Diagnosis Cara diagnosis filariasis yang benar mutlak harus diketahui agar dapat

mengidentifikasi daerah-daerah yang menjadi sumber penularan dan perlu mendapatkan prioritas pengobatan serta dapat menemukan daerah endemis baru. Cara

diagnosis tepat juga mempunyai peran penting untuk mengevaluasi keberhasilan program pengendalian filariasis di suatu daerah. Ketajaman diagnosis sangat diperlukan untuk keberhasilan Eliminasi Filariasis di Indonesia tahun 2010. Kondisi Indonesia yang sangat bervariasi membutuhkan beberapa metoda diagnosis, dimana pengelola program filariasis di daerah dapat memilih cara diagnosis sesuai dengan kemampuan dan fasilitas tersedia. Diagnosis filariasis limfatik telah banyak mengalami perkembangan dari cara konvensional sederhana dan murah sampai cara diagnosis biaya mahal mempergunakan alat-alat yang canggih hanya dapat dilakukan di laboratorium tertentu. Cara diagnosis tersebut di antaranya: pemeriksaan klinis, pemeriksaan langsung darah segar ujung jari, pemeriksaan darah jari/vena dengan pewarnaan, pemeriksaan darah dengan quantitatif buffy coat (QBC), pemeriksaan ultrasound (filara dance sign) terutama untuk evaluasi hasil pengobatan dan hanya dapat digunakan untuk infeksi filaria oleh W. bancrofti, pemeriksaan serologis deteksi antibodi, deteksi antigen beredar dengan teknik ELISA Sandwich menggunakan antibodi monoclonal, immuno chromatographic test (ICT Filariasis) merupakan cara diagnosis filariasis paling sensitif pada saat ini deteksi DNA dengan metoda polymerase chain reaction (PCR) dan lymphangiography. Pemeriksaan klinis merupakan cara diagnosis paling cepat dan murah tapi gejala klinis filariasis sangat bervariasi, mempunyai spektrum sangat luas dan sangat tergantung masing-masing individu dan spesies penyebabnya. Penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimtomatik), atau menunjukkan gejala-gejala akut dan ada yang berkembang menjadi kronik. Gejala-gejala klinis seperti demam, limfadenitis, limfangitis desendens, abses, funikulitis, epididimitis dan orkitis sifatnya sementara dan dapat sembuh spontan tanpa pengobatan serta dapat terjadi berulangulang. Gejala akut (demam) biasanya muncul jika penderita bekerja berat (kelelahan) dan segera hilang setelah istirahat penuh. Limfadenitis dan limfangitis dapat timbul pada sistem limfe dimana saja, tetapi kebanyakan di daerah lipat paha kemudian menjalar ke arah distal (desendens) terlihat sepert tali berwarna merah dan terasa nyeri. Gejala kronik seperti sikatrik, hidrokel testis dan elephantiasis sifatnya menetap. Pada filariasis bancrofti dapat terjadi elephantiasis pada seluruh kaki atau lengan sedangkan pada filariasis malayi atau timori hanya terjadi elefantiasis di bawah lutut. Di daerah endemik filariasis munculnya gejala-gejala klinis bervariasi, ada yang cepat, ada yang lambat sampai beberapa tahun, tetapi ada yang tidak

menunjukkan gejala klinis sama sekali sepanjang hidupnya walaupun sudah terinfeksi filaria. Penduduk berasal dari daerah non-endemis filariasis apabila terkena infeksi pada umumnya akan menunjukkan gejala-gejala akut, munculnya lebih cepat daripada penduduk asli dan penderita tampak sakit lebih berat. Diagnosis filariasis berdasarkan pemeriksaan klinis memang murah dan cepat, namun banyak kelemahannya karena sebagian besar penderita walaupun telah terinfeksi filaria tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali (asimtomatik) terutama pada penduduk asli, sehingga diperlukan konfirmasi cara diagnosis lainnya. Pemeriksaan klinis dapat dimanfaatkan untuk dengan cepat memperkirakan atau menentukan tingkat endemisitas suatu daerah, karena berdasarkan pengalaman beberapa kali penelitian dapat disimpulkan bahwa jika diantara 1000 penduduk ditemukan seorang menderita elephantiasis dapat diperkirakan ada 10 penderita menunjukkan gejala klinis akut dan kurang lebih terdapat 100 penderita yang didalam darahnya terdapat mikrofilaria (10%). Keadaan ini menyebabkan daerah tersebut dengan cepat dapat diperkirakan tingkat endemisitasnya, yaitu 10% (Dep.Kes.RI., 1999). Atau hasil pemeriksaan klinis merupakan petunjuk awal ditemukannya daerah endemik filariasis baru, dan hasil temuan ini harus segera dilanjutkan dengan pemeriksaan darah ujung jari untuk menentukan angka mikrofilaria di daerah tersebut dengan pasti. Konfirmasi diagnosis filariasis yang paling tepat dan murah adalah dengan cara pemeriksaan mikroskopis darah ujung jari untuk mengetahui adanya mikrofilaria. Darah ujung jari yang diambil waktu malam hari dapat dipulas dengan Giemsa atau dilihat secara langsung dengan mikroskop. Pemeriksaan darah segar tanpa pewarnaan secara langsung sangat bermanfaat bagi daerah baru yang masyarakatnya belum mengenal filariasis dan cara diagnosis ini sekaligus dapat digunakan sebagai media penyuluhan. Anamnesia tambahan yang dapat diajukan sesuai dengan kasus yang dibahas 1. Apakah gejala lesu ini pertama kali dialami oleh anak tersebut? 2. Apakah sebelumnya pernah mengalami demam berulang selama 3- 5 hari? 3. Apakah ada pembengkakan didaerah lipatan paha atau ketiak?

G. Pengobatan Perawatan Umum Istirahat di tempat tidur, pindah tempat ke daerah yang dingin akan mengurangi derajat serangan akut. Antibiotic dapat diberikan untuk infeksi sekunder dan abses. Pengikatan di daerah bendungan akan mengurangi oedema. Medikamentosa Obat pilihan dapat diberikan dietilkarbamasin sitrat (DEC). Dosis untuk filariasis bancrofti adalah 6 mg/kg BB/hari selama12 hari dan dosis ini dapat diulang 23kali. Dosis untuk filariasis brugia adalah 5 mg/kg BB/hari selama 10 hari dan dosis ini dapat diulang 2-3 kali. Pembedahan Pada elephantiasis membutuhkan tindakan pembedahan H. Pencegahan Pencegahan massal Kontrol penyakit pada populasi adalah melalui kontrol vektor (nyamuk). Namun hal ini terbukti tidak efektif mengingat panjangnya masa hidup parasite (4-8 tahun). Baru-batu ini, khususnya dengan dikenalnya pengobatan dosis tunggal, sekali pertahun, 2 regimen obat (Albendazol 400 mg dan Ivermectin 200 mg/kgBB cukup efektif). Hal ini merupakan pendekatan alternative dalam menurunkan jumlah mikrofilaria dalam populasi. Pada pengobatan massal program pengendalian filariasis) pemberian DEC dosis standar tidak dianjuran lagi mengingat efek sampingnya. Untuk out, DEC diberikan dengan disis rendah (6mg/kgBB), dengan jangka waktu pemberian yang lebih lama untuk mecapai dosis total yang sama misalnya dalam bentuk garam DEC 0,2-0,4% selama 9-12 bulan. Atau pemberian obat dapat dilakukan seminggu sekali, atau dosis tunggal setiap 6 blan atau 1 tahun.

I. Prognosis Pada kasus-kasus dini dan sedang, prognosis baik terutama bila pasien pindah dari tempat endemic. Pengawasan daerah endemic tersebut dapat dilakukan dengan pemberian obat, serta pemberantasan vektornya. Pada kasus-kasus lanjut terutama dengan edema tungkai, prognosis lebih buruk.

IV.

Infeksi cacing tambang

A. Definisi Ada beberapa spesies cacing tambang yang penting, diantaranya Hospes ia manusia : Necator americanus Ancylostoma duodenale Hospes anjing dan kucing : Ancylostoma braziliense Ancylostoma ceylanicum Ancylostoma caninum Apabila disebabkan oleh Necator americanus, maka penyakitnya disebut Necatoriasis. Bila penyebabnya Ancylostoma duodenale, penyakitnya disebut Ancylostomiasis. Penyebaran cacing ini di seluruh daerah khatulistiwa dan di tempat lain dengan keadaan yang sesuai. Perbedaan antara kedua cacing ini adalah pada suhu optimum yang dibutuhkan untuk bertumbuh. Untuk N. Americanus adalah 28C 32C dan untuk A. Duodenale sedikit lebih rendah : 23C - 25C. Inilah sebab mengapa N. Americanus lebih banyak ditemukan di Indonesia daripada A. duodenale. B. Etiologi Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit. Infeksi A. duodenale juga dapat terjadi dengan menelan larva filariform. berikut : Karakteristik Ukuran cacing dewasa Jantan Betina 0,7 0,9 cm 0,9 1,1 cm 3 5 tahun 0,8 1,1 cm 1,0 1,3 cm N. americanus A. duodenale Karakteristiknya adalah sebagai

Umur cacing dewasa

1 tahun

Lokasi cacing dewasa

Usus halus 49 56 hari

Usus halus

Masa prepaten

53 hari

Jumlah

telur

cacing 5000 10.000

10.000 25.000

betina/hari

Rute infeksi

Perkutan

Oral, perkutan

C. Daur hidup Cacing dewasa hidup melekat pada mukosa usus halus. Cacing betina N. americanus bertelur 9.000 butir, sedangkan A.duodenale 10.000 butir perhari. Telurtelur tersebut keluar bersama dengan tinja penderita, setelah 1 1 hari telur menetas mengeluarkan larva rhabditiform. Dalam waktu 3 - 5 hari larva rhabditiform tumbuh menjadi Filariform (bentuk infektif) yang dapat menembus kulit (tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur tercampur humus dan terlindung dari sinar matahari, suhu utk N. americanus 28 - 32 C, sedangkan A. duodenale 23 25 C). Cara infeksi adalah larva filiriform menembus kulit masuk kapiler darah, mengikuti aliran darah ke jantung kanan lalu ke paru. Setelah sampai diparu larva filariform Menembus dinding alveolus masuk ke alveolus kemudian ke bronkiolus, bronkus, trakea sampai ke faring.

Dari faring larva tertelan masuk ke esofagus, lambung, usus halus. Setelah sampai di usus halus larva filariform berkembang menjadi cacingdewasa jantan dan betina yang melekat pada mukosa usus halus.Waktu yang diperlukan mulai larva filariform menembus kulit sampai menjadi dewasa di usus halus 10 -12 minggu.

Cacing dewasa dapat hidup selama 5 tahun. Seekor cacing N. americanus dapat mengisap darah 0,05 0,1cc perhari, sedangkan A.duodenale mengisap darah 0,08 0,34 cc perhari.

D. Epidemiologi Insidens tinggi ditemukan pada penduduk di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, khususnya di perkebunan. Pada umumnya prevalensi cacing tambang berkisar 30 50 % di berbagai daeraah di Indonesia. Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan didaerah perkebunan.

E. Patologi dan gejala klinis Walaupun memiliki sifat yang hampir sama, N.americanus dan A.duodenale memberikan gejala yang berbeda. 1. Stadium larva - Pada saat menembus kulit menimbulkan rasa gatal yang disebut Ground itch - Pada paru-paru biasanya tanpa gejala, kadang-kadang menyebabkan pneumonistis 2. Cacing dewasa : Gejalanya tergantung pada : Jumlah cacing Keadaan gizi penderita (Fe dan protein) Species cacing Infeksi akut yang ringan biasanya tanpa gejala Infeksi menahun yang sedang/berat menyebabkan mikrositer dengan gejala pucat, lemah, lesu, letih. Anemia hipokrom

Cacing tambang biasanya tidak menyebabkan kematian, tetapi daya tahan berkurang dan prestasi kerja turun.

F. Diagnosis Anamnesis tambahan yang dapat diajukan sesuai dengan kasus: 1. Apakah pernah merasakan gatal pada telapak kaki misalnya? 2. Bagaimana dengan kebiasaan anak memakai sendal di luar rumah Diagnosis pasti Ditemukan : telur dalam tinja segar larva rhabditiform atau filariform dalam tinja lama

G. Pengobatan Obat pilihan I 1) Mebendazol Obat pilihan II Albendazol

Dosis : 2 kali 100 mg selama 3 Dosis : dosis tunggal 400 hari 2) Pirantel pamoat Dosis : A.duodenale: dosis tunggal 10 mg/kgBB N.americanus : sda, selama 3 hari mg

H. Prognosis Pengobatan yang adekuat, umunya prognosis baik

Daftar Pustaka Staf pengajar Departemen parasitologi, FKUI, jakarta. Buku ajar Parasitologi kedokteran, FK-UI . 2008. Balai Penerbit FKUI : Jakarta Departemen Farmakologi dan terapeutik, FKUI.Farmakologi dan Terapi, ed. 5 (cetak ulang dan perbaikan). 2009. Balai Penerbit FKUI : Jakarta Widoyono. Penyakit Tropis. 2006. Penerbit Erlangga: Jakarta Arsad Rahim Ali. Prevalensi kecacingan Anak SD di Polewali Mandar Kembali tinggi. Dikutip dari Laporan Epidemiologi dinkes Polewali Mandar 2009. arali2008.wordpress.com Diakses : 15 juni 20113. Rasmaliah. Askariasis sebagai penyakit cacing yang perlu diingat kembali. Epidemiologi FKM-USU. repository.usu.ac.id. Diakses tanggal 15 juni 2013 Prof. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K),MARS ( Direktur jendral pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan (P2PL) kementrian kesehatan). Penyakit kecacingan Masih dianggap sepele. www. depkes.go.id . Diakses tanggal 15 Juni 2013 USU repository open Acces: Hubungan Antara Hygiene dan Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Askariasis Pada Anak SD Negeri 068426 Belawan. Depkes RI, Ditjen PPM & PL direktorat P2B2 subdit Filariasis dan Scistosomiasis (2002), Pedoman pengobatan massal penyakit kaki Gajah (Filariasis), Jakarta. (Dikutip dari Filariasis, Haryono Setyowidodo, Prodi ilmu kedokteran tropik, UNAIR, program pendidikan Magister, 2010). Rencana Nasional, program akselerasi eliminasi filariasis di Indonesia, 2010 2014 www.pppl.depkes.go.id.