Anda di halaman 1dari 7

A.

DEFINISI Definisi penyakit malaria menurut World Health Organization (WHO) adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit malaria ( plasmodium) bentuk aseksual yang masuk ke dalam tubuh manusia yang ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles spp) betina. Definisi penyakit malaria lainnya adalah suatu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh agent tertentu yang infektif dengan perantara suatu vektor dan dapat disebarkan dari suatu sumber infeksi kepada host. Penyakit malaria termasuk salah satu penyakit menular yang dapat menyerang semua orang, bahkan mengakibatkan kematian terutama yang disebabkan oleh parasit Plasmodium falciparum B. ETIOLOGI Penyebab Malaria adalah parasit yang merupakan anggota genus plasmodium. Penyakit Malaria pada manusia umumnya disebabkan oleh 4 jenis plasmodium yaitu Vivax, ovale, malariae dan falciparum, sedangkan plasmodium knowlesi yang kebanyakan ditemukan pada kera atau orang utan kecil jumlahnya ditemukan pada manusia. Nyamuk yang menjadi penyebar dari parasit ini adalah nyamuk Anopheles betina, yang mana nyamuk ini menjadi terinfeksi sebelumnya dengan menggigit orang yang telah terinfeksi oleh parasit plasmodium. Penyakit malaria yang tinggal di dalam sel darah merah dapat juga ditularkan melalui transfusi darah, jarum suntik yang telah terkontaminasi, atau transplantasi organ. Penyakit malaria juga dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayinya. Dari seluruh jenis plasmodium yang menyerang manusia, plasmodium vivax paling sering ditemukan dalam kasus penyakit malaria di seluruh dunia, sementara plasmodium falciparum paling sering ditemukan sebagai penyebab malaria akut yang menyebabkan kematian di seluruh dunia dengan angka sekitar 90% dari total kematian akibat penyakit malaria di seluruh dunia. C. PATOFISIOLOGI Terdapat dua tahap perkembangan penyakit malaria, yaitu tahap exoerthrocitic dan tahap erithrocitic. Tahap exoeriyhrocitic adalah tahap dimana terjadinya infeksi pada sistem hati (liver) manusia yang disebabkan oleh parasit plasmodium, sedangkan tahap erithrocitic adalah tahap terjadinya infeksi pada sel darah merah (eritrosit).

Setelah masuk melalui darah dan sampai di sistem hati manusia, parasit ini akan berkembang biak dengan cepat yang kemudian keluar dan menginfeksi sel darah merah, yang mana proses inilah yang menimbulkan timbulnya demam pada penderita malaria. Selanjutnya adalah parasit plasmodium akan terus berkembang biak dalam sel darah merah yang kemudian keluar untuk menginfeksi sel darah merah lain yang masih sehat, hal inilah yang menyebabkan terjadinya gejala panas atau demam naik turun pada penderita malaria. D. MANIFESTASI KLINIS Gejala-gejala penyakit malaria dipengaruhi oleh daya pertahanan tubuh penderita, jenis plasmodium malaria, serta jumlah parasit yang menginfeksinya. Umumnya, gejala yang disebabkan Plasmodium falciparum lebih berat dan lebih akut dibandingkan dengan jenis plasmodium lain, sedangkan gejala yang disebabkan oleh Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale paling ringan. Gambaran khas dari penyakit malaria adalah demam yang periodik, pembesaran limpa (disebut splenomegali), dan anemia (turunnya kadar hemoglobin dalam darah) (Prabowo, 2004). Malaria ringan a. Demam Biasanya sebelum timbul demam, penderita malaria akan mengeluh lesu, sakit kepala, nyeri pada tulang dan otot, kurang nafsu makan, rasa tidak enak pada perut, diare ringan, dan kadang-kadang merasa dingin di punggung. demamnya Plasmodium timbul vivax menyebabkan tiga hari. malaria tertian yang teratur tiap Plasmodium malariae

menyebabkan quartana yang demamnya timbul teratur tiap 4 hari dan Plasmodium falciparum menyebabkan malaria tropika dengan demam yang timbul secara tidak teratur tiap 24 - 48 jam. Beberapa stadium demam yang khas pada malaria: 1) Stadium menggigil Dimulai dengan perasaan kedinginan hingga menggigil. Pada saat menggigil, seluruh tubuhnya menggigil, denyut nadinya cepat, tetapi lemah, bibir dan jarijari tangannya biru, serta kulitnya pucat. Pada anakanak sering disertai dengan kejang-kejang. Stadium ini berlangsung 15 menit sampai satu jam yang diikuti dengan meningkatnya suhu badan. 2) Stadium puncak dalam

Penderita yang sebelumnya merasa kedinginan berubah menjadi panas sekali. Wajah penderita merah, kulit kering dan terasa panas seperti terbakar, frekuensi pernapasan meningkat, nadi penuh dan berdenyut keras, sakit kepala semakin hebat, muntah-muntah, anak-anak). kesadaran ini menurun, sampai timbul kejang (pada Stadium

berlangsung selama dua jam atau lebih yang diikuti dengan keadaan berkeringat. 3) Stadium berkeringat Penderita berkeringat diseluruh tubuhnya hingga tempat tidurnya basah. Suhu badan turun dengan cepat, penderita merasa sangat lelah, dan sering tertidur. Stadium ini berlangsung 2 - 4 jam. b. Pembesaran limpa Pembesaran limpa merupakan gejala khas pada malaria kronis atau menahun. Limpa menjadi bengkak dan terasa nyeri. Limpa membengkak akibat penyumbatan oleh sel-sel darah merah yang mengandung parasit malaria. Lama-lama, konsistensi limpa menjadi keras karena jaringan ikat pada limpa semakin bertambah. Dengan pengobatan yang baik, limpa berangsur normal kembali c. Anemia Gejala anemia berupa badan terasa lemas, pusing, pucat, penglihatan kabur, jantung berdebar-debar dan kurang nafsu makan. Anemia yang paling berat adalah anemia yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Malaria Berat Malaria berat adalah penyakit akibat infeksi Plasmodium falciparum yang disertai dengan gangguan di berbagai sistem/organ tubuh (Prabowo, 2004).

E. PENCEGAHAN 1. Pencegahan Primer a. Tindakan terhadap manusia Edukasi adalah faktor terpenting pencegahan malaria yang harus diberikan kepada setiap pelancong atau petugas yang akan bekerja di daerah endemis. Materi Modifikasi lingkungan

Menggunakan kelambu (bed net) pada waktu tidur, lebih baik lagi dengan kelambu berinsektisida. Mengolesi badan dengan lotion anti gigitan nyamuk. Menggunakan pembasmi nyamuk, baik bakar, semprot maupun lainnya

Pencegahan dengan obat Melalui pemberian kemoprofilaksis sebagai pencegahan terkena malaria terutama jika pergi ke daerah endemis.Aturan pemakaiannya adalah pendatang sementara ke daerah endemis, dosis doksisiklin 100 mg/hr atau mefloquin 250 mg/minggu. Vaksin terhadap malaria Vaksin terhadap malaria masih dikembangkan.Oleh karena yang paling berbahaya adalah malaria P. falcifarum, maka pembuatan vaksin ditujukan untuk proteksi terhadap P. falcifarum.Pada dasarnya ada 3 jenis vaksin yang dikembangkan, yaitu vaksin sporozoit (bentuk intra hepatik), vaksin terhadap bentuk aseksual, dan vaksin transmission blocking untuk melawan bentuk gametosit. Pencegahan terhadap malaria akibat transfusi a. deteksi darah donor dengan pemeriksaan tetes tebal: biasanya sulit karena parasit malaria biasanya hanya sedikit b. pemeriksaan serologis terhadap donor dengan metode IFA, bila negative dapat sebagai donor, bila hasil 1:256 tidak boleh sebagai donor (infeksi baru) c. pengobatan pencegahan untuk semua donor rutin d. pengobatan terhadap donor tiba-tiba, 48 jam sebelum darah diambil e. pengobatan terhadap penerima darah.

b. Kemoprofilaksis (Tindakan terhadap Plasmodium sp) Walaupun upaya pencegahan gigitan nyamuk cukup efektif mengurangi paparan dengan nyamuk, namun tidak dapat menghilangkan sepenuhnya risiko terkena infeksi. Diperlukan upaya tambahan, yaitu kemoprofilaksis untuk mengurangi risiko jatuh sakit jika telah digigit nyamuk infeksius. Beberapa obat-obat antimalaria yang saat ini digunakan sebagai kemoprofilaksis adalah klorokuin, meflokuin (belum tersedia di Indonesia), doksisiklin, primakuin dan sebagainya. c. Tindakan terhadap vector

Pengendalian secara mekanis Dengan cara ini, sarang atau tempat berkembang biak serangga dimusnahkan, misalnya dengan mengeringkan genangan air yang menjadi sarang nyamuk.

Pengendalian secara biologis. Pengendalian secara biologis dilakukan dengan menggunakan makhluk hidup yang bersifat parasitik terhadap nyamuk atau penggunaan hewan predator atau pemangsa serangga.

2. Pencegahan Sekunder a. Pencarian penderita malaria Pencarian secara aktif melalui skrining yaitu dengan penemuan dini penderita malaria dengan dilakukan pengambilan slide darah dan konfirmasi diagnosis (mikroskopis dan /atau RDT (Rapid Diagnosis Test)) dan secara pasif dengan cara malakukan pencatatan dan pelaporan kunjungan kasus malaria. b. Diagnosa dini Gejala Klinis Diagnosis malaria sering memerlukan anamnesis yang tepat dari penderita tentang keluhan utama (demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare, dan nyeri otot atau pegal-pegal), riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemis malaria, riwayat tinggal di daerah endemis malaria, riwayat sakit malaria, riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir, riwayat mendapat transfusi darah Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan mikroskopis Tes Diagnostik Cepat (RDT, Rapid Diagnostic Test) Universitas Sumatera Utara Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum penderita, meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah leukosit, eritrosit dan trombosit. Bisa juga dilakukan pemeriksaan kimia darah, pemeriksaan foto toraks, EKG (Electrokardiograff), dan pemeriksaan lainnya. c. Pengobatan yang tepat dan adekuat Berbeda dengan penyakit-penyakit yang lain, malaria tidak dapat disembuhkan meskipun dapat diobati untuk menghilangkan gejala-gejala penyakit. Malaria menjadi penyakit yang sangat berbahaya karena parasit dapat tinggal dalam tubuh manusia seumur hidupSaat ini ada tiga jenis obat anti malaria, yaitu Chloroquine, Doxycyline, dan Melfoquine. Tanpa

pengobatan yang tepat akan dapat mengakibatkan kematian penderita. Pengobatan harus dilakukan 24 jam sesudah terlihat adanya gejala.4Pengobatan spesifik untuk semua tipe malaria: 3. Pencegahan Tertier a. Penanganan akibat lanjut dari komplikasi malaria Kematian pada malaria pada umumnya disebabkan oleh malaria berat karena infeksi P. falciparum.Manifestasi malaria berat dapat bervariasi dari kelainan kesadaran sampai gangguan fungsi organ tertentu dan gangguan metabolisme. b. Rehabilitasi mental/ psikologis Pemulihan kondisi penderita malaria, memberikan dukungan moril kepada penderita dan keluarga di dalam pemulihan dari penyakit malaria, melaksanakan rujukan pada penderita yang memerlukan pelayanan tingkat lanjut. F. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan khusus pada kasus-kasus malaria dapat tergantung dari jenis plasmodium,menurut Tjay & Rahardja (2002) antara lain sebagai berikut: a. Malaria tersiana Biasanya ditanggulangi dengan kloroquin namun jika resisten perlu ditambahkan mefloquin single dosis 500mg p.c (atau kinin 3 dd 600 mg selama 4-7 hari). Terapi ini disusul dengan pemberian primaquin 15 mg/hari selama 14 hari. b. Malaria ovale Berikan kinin dan doksisklin (hari pertama 200 mg, lalu 1dd 100 mg selama 6 hari) atau mefloquin ( 2 dosis dari masing-masing 15 dan 10 mg/kg dengan interval 4-6). Primethamin-sulfadoksin (dosis tunggal dari 3 tablet0 yang biasanya dikombinasikan dengan kinin (3 dd 600 mg selama 3 hari). c. Malaria falcifarum Biasanya selama dikombinasi sulfadoksin 1000 mg dan pirimetamin 25 mg/tablet dalam dosis tunggal sebanyak 2-3 tablet, kina 3x 650 mg hari. Antibiotic seperti tetrasiklin 4x 250 mg/hari selama 7-10 hari dan aminosiklin 2x 100 mg/hari selama 7 hari.