Anda di halaman 1dari 15

Tetrasiklin

Senyawa tetrasiklin diperoleh dari streptomyces aureofaciens (klortetrasiklin) dan streptomyces rimosus (oksitetrasiklin). Tetrasiklin -> basa yang sukar larut dalam air -> bentuk garam natrium atau garam HCl-nya mudah larut Kering -> bentuk basa dan garam HCl tetrasiklin bersifat relative stabil. Larutan -> kebanyakan tetrasiklin sangat labil jadi cepat berkurang potensinya

Mekanisme aksi
A. farmakodinamik Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya. Paling sedikit terjadi 2 proses dalam masuknya antibiotic ke dalam ribosom bakteri gram-negatif; 1.difusi pasif melalui kanal hidrofilik, 2.system transport aktif. Setelah masuk maka antibiotic berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi masuknya komplek tRNA asam amino pada lokasi asam amino.

B. farmakokinetik Absorpsi Sekitar 30-80 % tetrasiklin diserap dalam saluran cerna. Doksisiklin dan minosiklin diserap lebih dari 90%. Absorpsi ini sebagian besar berlangsung dilambung dan usus halus bagian atas. Adanya makanan dalam lambung menghambat penyerapan golongan tetrasiklin, kecuali minosiklin dan doksisklin.

lanjutan
Absorpsi berbagai jenis tetrasiklin dihambat dalam derajat tertentu oleh PH tinggi dan pembentukan kelat yaitu kompleks tetrasiklin dengan suatu zat lain yang sukar diserap seperti aluminium hidroksid, garam kalsium dan magnesium yang biasanya terdapat dalam antacid dan juga ferum

Distribusi.
Distribusi tetrasiklin berlangsung ke seluruh tubuh kecuali jaringan lemak. Afinitas yang besar terjadi pada jaringan dengan kecepatan metabolisme dan pertumbuhan yang cepat seperti hati, tulang, gigi, dan jaringan neoplasma. Dalam jaringan tulang dan gigi, tetrasiklin akan disimpan dalam bentuk kompleks kalsium. Tetrasiklin akan membentuk ikatan dengan protein plasma.

lanjutan
Sehingga lama kerja suatu kelompok senyawa tetrasiklin ini tidak ditentukan oleh ikatan proteinnya, melainkan ditentukan oleh sifatsifat kimia masing-masing senyawa. Tetrasiklin dapat berikatan dengan protein sebesar 65%. Distribusi dalam plasenta dapat terjadi dengan mudah karena senyawa tetrasiklin dapat melewati plasenta. Kadar tetrasiklin yang tinggi juga terdapat dalam air susu.

Ekskresi
Golongan tetrasiklin dieksresi melalui urin dengan filtrasi glomerulus, dan melalui empedu. Pada pemberian peroral kira-kira 20-55% golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin. Golongan tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai kadar 10 kali kadar dalam serum. Sebagian besar obat yang diekskresi ke dalam lumen usus, mengalami sirkulasi enterohepatik : maka obat ini masih terdapat dalam darah untuk waktu lama setelah terapi dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada saluran empedu atau gangguan faal hati obat ini akan mengalami kumulasi dalam darah.Obat yang tidak diserap diekskresi melalui tinja.

Interaksi
Tetasiklin membentuk kompleks tak-larut dengan sediaan besi, aluminium, magnesium dan kalsium, sehingga resorpsinya dari usus gagal. Oleh karena itu, zat tetrasiklin, terkecuali doksisiklin dan minosiklin tidak boleh diminum bersamaan dengan makanan (khususnya susu) atau antasida. TC, OTC dan minosiklin dapat menghambat hidrolisa dari conjugated estrogen dalam usus. Turunnya kadar estrogen dalam darah dapat menimbulkan spotting setelah penggunaan antikonseptiva yang mengandung etinilestradiol atau mestranol.

Efek Samping
Pada umumnya antibiotika golongan tetrasiklin merupakan obat yang aman, walaupun dapat memperburuk kondisi gagal-ginjal yang sudah ada. Pada penggunaan oral sering terjadi gangguan lambung-usus (mual, muntah, diare). Penyebabnya adalah rangsangan kimiawi terhadap mukosa lambung dan/atau perubahan flora-usus oleh bagian obat yang tidak diserap, terutama pada tetraksilin. Hal terakhir dapat menimbulkan pula supra-in-feksi oleh antara lain jamur candida albicans.

Lanjutan Efek samping yang lebih serius adalah sifat penyerapannya pada jaringan tulang dan gigi yang sedang tumbuh pada janin dan anak-anak. Pembentukan kompleks tetrasiklin-kalsiumfosfat dapat menimbulkan gangguan pada struktur kristal dari gigi serta pewarnaan dengan titik-titik kuning-coklat yang lebih mudah berlubang (caries). Efeksamping lain adalah fotosensitasi, yaitu kulit menjadi peka terhadap cahaya, menjadi kemerah0merahan dan gatal-gatal. Pada kehamilan semua tetrasiklin tidak boleh diberikan setelah bulan keempat dari kehamilan, dan begitu pula tidak bagi wanita yang menyusui dan pada anak-anak sampai usia 8th.

dosis
Tetrasiklin : TC, Achromycin, Hostacycline, Steclin. Digunakan per oral dan jura parenteral. Pada infeksi berat dapat diberikan secara i.v atau i.m. Secara ttopikal digunakan sebagai salep kulit 3%, salep mata 1% dan tets mata 0.5%. Dosis: infeksi umum 4 dd 250-500 mg (garam / HCl/fosfat) 1 jam a.c atau 2 jam p.c. Infeksi Chlammydia: 4 dd 500 mg selama 7 haru, acne 3-4 dd 250 mg selama 1 bulan, setiap minggu dikurangi 250 mg sapai tercapai stabilisasi (selama 3-6 bulan). Malaria: 4 dd 250-500 mg selama 7-10 hari dikombinasi dengan kinin. Infeksi H. Pylori: 4 dd 500 mg selama 1-2 minggu.

Doksisiklin: vibramycin, dumoxin, doxin, siclidon Derivat long-acting berkhasiat terhadap banyak kuman resisten TC atau penisilin. Resorpsinya dari usus hampir lengkap, maka tidak membahayakn terganggunya flora usus. Masa paruhnya panjang 14-17 jam, maka cukup ditakarkan 1x sehari 100 mg setelah dimulai dengan, loading-dose dari 200 mg. Karena pentakaran yang sederhana ini doksisiklin sering kali digunakan pada banyak infeksi, termasuk penyakit kelamin(gonore, sifilis, dan chlamydia). Adakalanya juga digunakan pada malaria dan profilaksisnya. Dosis: infeksi umum/mlaria (bersama kinin) : dimulai dengan 200 mg, kemudian 1 dd 100mg (garam hyclate/HCl) selama 7-10 hari. Anakanak semula 4mg/kg, lalu 2mg/kg/hari. Gonore, chlamydia: 2dd 100 mg selama 7 hari, sifilis: 1 dd 200 mg selama 15-30 hari atau 300 mg/hari selama 10 hari. Malaria profilaksis: diatas 12 th 1 dd 100 mg. Pada infeksi berat, doksisiklin diberikan secara i.v/infus. Perhatian: doksisiklin (dan derivat-derivatnya) dapat menimbulkan borok kerongkongan bila ditelan pada keadaan berbaring atau dengan terlampau sedikit air.

Minosiklin )minocin) adalah juga derivta lng-acting yang diresorpsi hampir lengkap di usus. Bersifat lipofil, maka penetrasinya ke dalam CCS baik, juga ke dalam liur dan kulit, maka dianjurkan pada meningitis, bronchitis kronis dan acen.lebih sering menimbulkan efek samping seperti mual dan muntah, juga gangguan vestibuler (organ keseimbangan) dengan gejala pusing tujuh keliling. Dosis: infeksi umum semula 200 mg, ke mudian 1 dd 100 mg delama 5-10 hati, gonore semula 200 mg, lalu 2 dd 100 mg selama 4-6 hari. Acne: 1 dd mg