FEBRITA FAJRIN

1102007115

GISKA DIANVAYANI 1102007

PENGARUH EPINEFRIN DAN ASETILKOLIN TERHADAP OTOT USUS February 14, 2010
Filed under: Uncategorized — oktavie @ 1:10 pm DASAR TEORI Kontrol Saraf Terhadap Fungsi Gastrointestinal-Sistem Saraf Enterik Traktus gastrointestinal memiliki sistem persarafan sendiri yang disebut sistem saraf enterik. Sistem ini seluruhnya terletak di dinding usus, mulai dari esofagus dan memanjang sampai ke anus. Jumlah neuron pada sistem enterik ini sekitar 100 juta, hampir sama dengan jumlah pada keseluruhan medula spinalis; Sistem saraf enterik yang sangat berkembang ini bersifat penting, terutama dalam mengatur fungsi pergerakan dan gastrointestinal. Sistem saraf enterik terutama terdiri atas dua pleksus: (1) pleksus bagian luar yang terletak diantara lapisan otot longitudinala dan sirkular, disebut pleksus mienterikus atau pleksus Auerbach, dan (2) satu pleksus bagian dalam, disebut pleksus submukosa atau pleksus meissner yang terletak di dalam submukosa. Pleksus mienterikus terutama mengatur pergerakan gastrointestinal, dan pleksus submukosa terutama mengatur sekresi gastrointestinal dan aliran darah lokal. Selain itu, terdapat serabut-serabut simpatis dan parasimpatis ektrinsik yang berhubungan ke kedua pleksus mienterikus dan submukosa. Walaupun sistem saraf enterik dapat berfungsi dengan sendirinya, tidak bergantung dari saraf-saraf ekstrinsik ini, perangsangan oleh sistem parasimpatis dan simpatis dapat sangat meningkatkan atau menghambat fungsi gastrointestinal lebih lanjut. Pada ujung-ujung saraf simpatis yang berasal dari epitelium gastrointestinal atau dinding usus dan mengirimkan serabut-serabut aferen ke kedua pleksus sistem enterik, dan (1) ke ganglia prevertebra dari sistem saraf simpatis, (2) ke medula spinalis, dan (3) ke dalam saraf vagus menuju ke batang otak. Saraf-saraf sensoris ini dapat mengadakan refleksrefleks lokal di dalam dinding usus itu sendiri dan refleks-refleks lain yang disiarkan ke usus baik dari ganglia prevertebra maupun dari daerah basal otak.

serat pascaganglion. hampir selalu menghambat aktivitas gastrointestinal. serat preganglion. dan neuron motorik. selain pembahasan hal berikut: Asetilkolin paling sering merangsang aktivitas gastrointestinal. (11) metenkefalin. para peneliti dari seluruh dunia telah mengidentifikasikan selusin atau lebih zat-zat neurontransmiter yang berbeda yang dilepaskan oleh ujung-ujung saraf dari berbagai tipe neuron enterik. (9) somatostatin. Badan sel neuron yang pertama di rantai tersebut terletak di SSP.Jenis-Jenis Neurontransmiter yang Disekresi oleh Neuron-Neuron Enterik Dalam usaha untuk lebih memahami berbagai fungsi sistem saraf enterik gastrointestinal. . Dua dari neurontransmiter yang telah kita kenal adalah (1) asetilkolin. (10) leu-enkefalin. Aksonnya. yang terdapat di dalam suatu ganglion di luar SSP. Fungsi-fungsi khusus dari banyak neurontransmiter ini tidak terlalu dikenal untuk dibahas disini. dan (12) bombesin. serat pascaganglion parasimpatis. yang mencapai traktus gastrointestinal terutama lewat aliran darah setelah disekresikan oleh medula adrenal ke dalam sirkulasi. Akson neuron kedua. (6) kolisistokinin. Yang lain adalah (3) adenosin trifosfat. dengan neurotransmitter terakhir yang berbeda antara saraf simpatis dan parasimpatis. bersinaps dengan badan sel neuron kedua. (7) substansi P. Epinefrin hormon primer yang dikeluarkan oleh medula adrenal Tempat pengeluaran Asetilkolin dan Norepinefrin ASETILKOLIN NOREPINEFRIN Semua ujung (terminal) praganglion system Sebagian besar ujung pascaganglion simpatis saraf otonom Semua ujung pascaganglion parasimpatis Medulla adrenal Ujung pascaganglion simpatis di kelenjanr Susunan saraf pusat keringat dan sebagian pembuluh darah di otot rangka Ujung neuron aferen yang mempersarafi otot rangka (neuron motorik) Susunan saraf pusat Pengaturan Otonom Traktus Gastrointestinal Jalur saraf otonom terdiri dari suatu rantai dua neuron. Asetilkolin (Ach) merupakan neurontransmiter yang dikeluarkan oleh semua serat praganglion otonom. Substansi transmiter lain yang disebutkan tadi adalah gabungan dari bahan-bahan eksitator dan inhibitor. dan (2) norepinefrin. mempersarafi organ-organ efektor. Hal ini juga berlaku pada epinefrin. (5) dopamin. Setiap jalur saraf otonom yang berjalan dari SSP ke suatu organ terdiri dari SSP ke suatu organ terdiri dari suatu rantai yang terdiri dari dua neuron. (8) polipeptida intestinal vasoaktif. (4) serotonin. Norepinefrin.

dan anus diperkirakan mendapat persarafan parasimpatis yang lebih baik daripada nagian usus yang lain. Sebagian serat praganglion melewati rantai ganglion tanpa membentuk sinaps dan kemudian berakhir di ganglion kolateral simpatis yang terletak disekitar separuh jalan antara SSP dan organ-organ yang dipersarafi. Serat-serat pascaganglion yang sangat pendek berakhir di sel-sel organ yang bersangkutan itu sendiri. Serat-serat pascaganglion parasimpatis mengeluarkan asetilkolin.Sistem saraf otonom terdiri dari dua divisi-sistem simpatis dan parasimpatis. Perangsangan saraf parasimpatis ini menimbulakan peningkatan umum dari aktivitas seluruh sistem saraf enterik. rektum. serabut saraf parasimpatis kranial hampir seluruhnya di dalam saraf vagus. Serat-serat praganglion simpatis dan parasimpatis mengeluarkan neurotransmitter yang sama. Seratserat ini berukuran lebih panjang dibandingkan dengan serat praganglion simpatis karena serat-serat itu tidak terputus sampai mencapai ganglion terminal yang terletak di dalam atau dekat dengan organ efektor. Baik asetilkolin maupun norepinefrin juga berfungsi sebagai zat perantara kimiawi di bagian tubuh lainnya. Parasimpatis sakral bersal darisegmen sakral kedua. Arean sigmoid. tetapi ujung-ujung pasca ganglion kedua system ini mengeluarkan neurotransmitter yang berlainan (neurotransmitter yang mempengaruhi organ efektor). karena mengeluarkan noradrenalin. dan keempat dari medula spinalis serta berjalan melalui saraf pelvis ke seluruh bagian distal usus besar dan sepanjang anus. Serat-serat saraf simpatis berasal dari daerah torakal dan lumbal korda spinalis. . Fungsi serabut ini terutama untuk menjalankan reflak defekasi. dengan serat pascaganglion menjalani jarak sisanya. disebut serat kolinergik. Sebagian besar serat preganglion simpatis berukuran sangat pendek. Sebaliknya sebagian besar serat pascaganglion simpatis disebut serat adrenergic. yaitu asetilkolin (Ach). Kecuali untuk beberapa serabut parasimpatiske regio mulut dan faring dari saluran pencernaan. lebih umum dikel sebagai norepinefrin. Dengan demikian. lambung. Neuron-neuron postganglionik dari sistem parasimpatis gastrointestinal terletak terutama di pleksus mienterikus dan pleksus submukosa. Serat-serat praganglion parasimpatis berasal dari daerah cranial dan sacral SSP. dan sedikit usus sampai separuh bagian pertama usus besar. Serat pascaganglion panjang yang berasal dari rantai ganglion itu berakhir di organ-organ efektor. bersinaps dengan badan sel neuron pascaganglion didalam ganglion yang terdapat di rantai ganglion simpatis yang terletak di kedua sisi korda spinalis. pankreas. serat-serat itu bersama dengan semua serat praganglion otonom. serabut-serabut ini memberi inervasi yang yang luas pada esofagus. v Persarafan Parasimpatis Persarafan parasimpatis ke usus dibagi atas divisi kranial dan divisi sakral. Hal ini kemudian akan memperkuat aktivitas sebagian besar fungsi gastrointestinal. ketiga.

sebagaimana yang berlaku pada sistem parasimpatis. dan serabut-serabut post ganglionik lalu menyebar melalui saraf simpatis postganglionik ke semua bagian usus. Sistem simpatis menghasilkan pengaruhnya melalui dua cara: (1) pada tahap yang kecil melalui pengaruh langsung sekresi norepinefrin untuk menghambat otot polos traktus intestinal (kecuali otot mukosa yang tereksitasi oleh norepinefrin). Kabanyakan badan neuron simpatik postganglionik berada di ganglia ini.v Persarafan Simpatis Serabut-serabut simpatis yang berjalan ke traktus gastrointestinal bersal dari medula spinalis antara segmen T-5 dan L-2. menimbulkan banyak efek yang berlawanan dengan yang ditimbulkan oleh sistem parasimpatis. Ujung-ujung saraf simpatis sebagian besar menyekresikan norepinefrin dan juga epinefrin dalam jumlah sedikit. Sistem simpatis pada dasarnya menginervasi seluruh traktus gastrointestinal. dan banyak dari serabut ini kemudian berjalan melalui rantai ke ganglia yang terletak jauh seperti ganglion seliaka dan berbagai ganglion mesenterica. memasuki rantai simpatis yang terlatak di sisi lateral kolumna spinalis. dan (2) pada tahap yang besar melalui pengaruh inhibisi dari norepinefrin pada neuron-neuron pada seluruh sistem saraf enterik. tidak hanya meluas dekat dengan rongga mulut dan anus. Perangsangan yang kuat pada sistem simpatis dapat menginhibisi peregerakan motor usus begitu hebat sehingga dapat benar-benar menghentikan pergerakan makanan melalui traktus gastrointestinal. perangsangan sistem saraf simpatis menghambat aktivitas traktus gastrointestinal. Pada umumnya. Efek sistem saraf otonom pada pada berbagai organ ORGAN Saluran pencernaan Jenis reseptor simpatis • Efek stimulasi simpatis • α. Sebagian besar serabut preganglionik yang mempersarafi usus. sesudah meninggalkan medula. β2 (organ-organ) Efek stimulasi parasimpatis ↓motilitas (gerakan) • ↑ motilitas .

HASIL PRAKTIKUM Pengaruh epinefrin Pengaruh asetilkolin .

Karena asetilkolin merupakan neurotransmitter yang dihasilkan pada pasca ganglion saraf parasimpatis yang berpengaruh terhadap peningkatan motilitas usus. 2007 Despopoulos. 20th Edition. Sedangkan pada pemberian larutan asetilkolin akan terlihat adanya peningkatan frekuensi dan amplitudo dari peregangan usus. Edisi 11. Serabut saraf parasimpatis berguna untuk meningkatkan aktivitas traktus gastrointestital dalam percobaan ini adalah pergerakan atau motilitas usus. EGC. 2003 Ganong. Jalur saraf otonom terdiri dari suaru rantai dua neuron. Agamemnon. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA • • • • • Dorland. Dalam hal ini serabut saraf simpatis memiliki hasil kerja yang berlawanan dari serabut saraf parasimpatis. Review of medical physiology. kontrol pada traktus gastrointestinal juga dipengaruhi oleh saraf ekstrinsik. Color atlas of physiology. USA. Hal ini dapat terjadi karena epinefrin memberikan efek simpatis pada otot usus sehingga menghasilkan penurunan motilitas usus. Buku ajar fisiologi kedokteran. WF. Dari hasil praktikum diatas dapat terlihat bahwa dengan pemberian larutan epinefrin akan menghasilkan penurunan frekuensi dan amplitudo jika dibandingkan dengan kontrolnya. KESIMPULAN • • Pemberian larutan epinefrin akan menurunkan motilitas usus. Thieme Stuttgart. Kamus kedokteran Dorland. Asetilkolin pada saraf parasimpatis dan Epinefrin pada saraf simpatis. Pada masing-masing serabut mengsekresikan neurontransmiter yang berbeda untuk menghasilkan efek tersebut. Edisi 2. 5th Edition. 2001 . AC. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. dengan neurontransmiter terakhir yang berbeda antara saraf simpatis dan saraf parasimpatis. L.PEMBAHASAN Selain sistem saraf enterik. Hall JE. Stefan Sibernagl. N. McGraw-Hill. Jakarta. New York. 2002 Sherwood. Pemberian larutan asetilkolin akan meningkatkan motilitas usus. Edisi 29. yaitu sistem saraf otonom. EGC. 2001 Guyton. Jakarta. Sedangkan serabut saraf simpatis bekerja dengan efek yang berlawanan yaitu menghambat aktivitas traktus gastrointestinal. EGC.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful