Anda di halaman 1dari 16

EKSISTENSI, SUBSTANSI DAN ESENSI EKSISTENSI TUHAN Dalil aqli yang menunjukkan adanya Allah 1.

Adanya alam semesta beserta isinya termasuk makhluk yang beragam merupakan bukti adanya sang pencipta, yaitu Allah swt. Belum pernah ada yang mengaku telah membuat dan menciptakan alam semesta beserta isinya kecuali Allah. Lagi pula, secara akal, mustahil bila sesuatu ada tanpa ada yang mengadakannya. Bahkan sesuatu yang sangat remeh-temeh sekalipun. Tak ada makanan tanpa ada yang menyiapkannya. Apalagi semesta dan seisinya lengkap dengan gemintang, matahari, bulan, planet dan galaksi-galaksinya. 2. Dalil aqli lain yang menun ukkan keberadaan Allah adalah keberadaan !irman-"ya yang selalu kita baca dan tadaburi. #ustahil ada ucapan tanpa ada yang mengucapkannya. #ustahil ada kalam tanpa ada mutakallimnya. $adi, !irman Allah merupakan bukti akan adanya Allah. %irman Allah merupakan undang-undang yang paripurna bagi umat manusia. &a merupakan hukum yang mengandung kebaikan bagi umat manusia, sebagaimana uga mengandung te'ri-te'ri ilmiah tak terbantahkan. (elain itu, !irman Allah uga menerangkan banyak masalah gaib dan ke adian-ke adian se arah. %irman yang suci dan luar biasa seperti ini mustahil berasal dari se'rang manusia. (ebab ia berada di luar kuasa manusia dan le)el pengetahuan mereka. Bila tidak mungkin berasal dari ucapan manusia maka tentu berasal dari pencipta manusia, yaitu Allah Ta*ala. +. adanya sistem yang sangat detail dalam hukum alam, di mana semua tidak bisa terlepas darinya merupakan bukti lain bahwa semua ada yang mengaturnya. Dan bila bukan manusia yang mengatur semua ini, maka siapa lagi kalau bukan tuhannya manusia, yaitu Allah. Dalil "aqli adalah dalil yang bersumber dari Al- ,ur-an dan Al-.adits sedangkan Dalil Aqli adalah dalil yang bersumber dari akal pikiran c'nt'hnya i ma- dan ,iyas para ulama dan sahabat "abi. Tuhan itu memiliki eksistensi. /ernyataan tentang &,# haruslah disertai dengan pernyataan bahwa Tuhan itu ada. (ebab sesuatu akan men adi sempurna ika ia mamiliki eksistensi. Berdasarkan gagasan Arist'teles itu, hukum alam ter adi 'leh sebuah pr'ses l'gika 'byekti! 0di luar realitas yang ditangkap subyek1 yang didahului 'leh suatu sebab, dan berakhir pada akibat. Dalam l'gika, pr'ses sebab-akibat ini disebut dengan istilah kausalitas. 2agasan kausalitas dianggap benar dalam dunia ilmiah, dan bahkan kausalitas sering di adikan pusat ka ian ilmiah yang membahas tentang k'relasi dan k'linear 0statistika1.

akal kita terbatas dan tidak dapat men angkau kebenaran hakiki. Lh'....3 kalau begitu apakah islam ini bukanlah suatu kebenaran hakiki4 (ebab kita mengimani &slam ini karena akal kita yang berkata bahwa agama &slam adalah satu-satunya agama yang paling benar dan tidak ada salahnya, tidak ada k'ntradiksinya.. dan lain-lain. Adalah suatu hal yang sangat keliru kalau sese'rang mengimani kebenaran &slam karena &slam berkata bahwa &slamlah yang paling benar. (ebab agama-agama lain pun berkata demikian, dan kalau demikian halnya, lalu dengan apa kita menentukan bahwa agama &slam 0al-,ur5an dan hadits1 adalah agama yang benar4 Bisakah kita membenarkan al,ur5an yang mengatakan bahwa Tuhan itu ada dan 6sa, hanya karena al,ur5an berkata bahwa ia adalah kitab yang benar4 Dan kalau Anda berkata bisa, mengapa Anda tidak mengatakan bahwa Tuhan itu tiga sebagaimana dikatakan dalam kitab lain yang uga mengaku benar4 Membuktikan ada dan Esanya Tuhan 0Allah1 dengan al-,ur5an sama halnya dengan tidak membuktikan apa-apa. (ebab ketika Anda berargumen dengan al-,ur5an bahwa itu ada dan 6sa, sementara al,ur5an mengaku sebagai kitab yang diturunkan dari Tuhan yang 6sa, berarti Anda berargumen dengan sesuatu yang masih perlu argumen. 7aitu argumen yang dapat membuktikan bahwa al-,ur5an dari Tuhan 7ang 6sa 0Allah1. Anda tentu tidak akan dapat membuktikan bahwa al-,ur5an dari Tuhan 7ang 6sa. (ebab Anda sendiri belum dapat membuktikan keberadaan dan ke6saan-"ya sedikit pun. "ah, kalau Anda belum membuktikan keberadaan-"ya, bagaimana Anda dapat membuktikan bahwa al-,ur5an dari-"ya. Dia sa a belum terbukti, apalagi !irman-!irman-"ya. pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.. Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada4 (emua itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya. mengartikan agama dengan menggunakan ilmu !ilsa!at adalah !ilsa!at sebagai media untuk manusia mencari makna Tuhan atau ma*ri!atullah secara mendalam, dan menggunakan l'gikanya sebagai alat pencari makna islam itu sendiri. Tetapi yang perlu digarisbawahi, l'gika manusia memiliki keterbatasan. (ehingga Al-,uran tidak semua ayatnya dapat di ter emahkan secara l'gika, c'nt'hnya sa a ayat tentang keberadaan tuhan. 8u ud Tuhan itu adalah eksklusi!, yang berbeda dengan yang lain. (i!at, 8u ud, eksistensi dan keberadaan sama sekali tidak bisa dipahami secara penuh 'leh akal manusia. #aka, baginya, untuk memahami itu semua, maka diturunkanlah "abi, sebagai utusan Allah, yang akan men elaskan

hal-hal yang tidak mampu disingkap 'leh akal manusia. /en elasan Allah yang dibawa 'leh "abi melalui media yang dinamakan wahyu. Al 9ind, secara elas meyakini bahwa rasi' manusia memiliki sisi kelemahan. 9arena kelemahan itulah, tidak semua pengetahuan tidak bisa ditangkap 'leh akal. #aka untuk membantu pemahaman yang tidak bisa di elaskan akal maka, manusia perlu dibimbing 'leh wahyu. SUBSTANSI /ara ulama ahli kalam berkata, :Apa pun yang terlintas dalam benakmu, Allah adalah selain itu.; (ementara para ulama su!i beru ar, :Apa pun yang terlintas dalam benakmu, Allah auh, auh, dan auh di luar itu.; 6ngkau terbungkus 'leh banyak hi ab se'lah-'lah berada dalam lentera. Descartes mengatakan, :#anusia terbatas dari semua sisi. 6ntitas yang terbatas tidak mungkin mampu memikirkan sesuatu yang tidak terbatas.; 8u ud Allah adalah wu ud yang tidak terbatas dan tidak terhingga. 9arena itu, menusia yang lemah dan terbatas ini tidak mungkin mampu men angkau-"ya. (e'rang sastrawan $erman, 2''the, bertutur, :#ereka menyebut-#u dengan seribu satu nama, wahai <at 7ang Tidak Ter angkau. (eandainya aku menyebut-#u dengan tidak hanya seribu nama, tetapi dengan ribuan nama, aku tetap tidak bisa memu i-#u secara sempurna. (ebab, 6ngkau di luar dan di atas semua gambaran.; /ara pemikir berpendapat bahwa Allah ada, tetapi wu ud-"ya tidak dapat di angkau. Allah bukanlah sesuatu yang dapat di angkau. #ata tidak bisa melihat-"ya dan telinga tidak bisa mendengar-"ya. $ika demikian, yang harus kau lakukan hanyalah mengikuti a aran para nabi mengenai hak"ya seraya beriman kepada-"ya. Allah (wt adalah Tuhan yang menampakkan diri-"ya di agat raya dan pada diri kita saat ruh dan kalbu naik menu u-"ya. 9eberadaan-"ya tertanam secara kuat auh di dalam lubuk hati dan ruh kita. /erasaan iwa yang men adi landasan seluruh pengetahuan kita ini lebih kuat daripada semua pengetahuan kita yang terbatas, serta dari pada semua akal dan pemikiran kita. "amun, kita sering lalai terhadap diri kita dan terhadap p'tensi ini sehingga ter atuh dalam kesalahan dan kesesatan. (ecara !il's'!is, Tuhan adalah segala sesuatu yang dipercayai dan yang diutamakan. (egala sesuatu yang dianggap lebih benar dari yang lain sebenarnya itulah tuhan. #isalnya, ika ada 'rang yang lebih percaya bahwa manusia lebih kuat daripada Tuhan yang se ati, maka se atinya 'rang tersebut mentuhankan manusia. (ubstansi inilah yang harus dipahami, sehingga dengan memahami substansi ini maka sebagai 'rang tei sey'gyanya lebih respek lagi kepada Tuhan dan memikirkan ulang apaka ia telah prcaya penuh dan mengutamakan penuh akan Tuhan. Di dalam iman 9risten mempercayai bahwa hanya 7esus kristuslah $uru (elamat, maka seharunya 'rang 9risten lebih respek lagi kepada 9ristus

dan lebih mengutamakan Dia dari apapun uga. &ngat bahwa segala sesuatu bisa men adi tuhan bagi kita ika hal itu kita lebih utamakan. Substansi da at dita!si"kan sebagai #yang membentuk sesuatu$ atau bahan untuk membentuk benda% benda Bicara tentang eksistensi Tuhan, merupakan sebuah 'byek ka ian yang memang sudah lama ada, tepatnya se ak kemunculan !ilsa!at /ra('crates 0 masa Ana=imandr's, >en'phas, hingga /armenides 1. 8alaupun tidak membahas tentang Tuhan secara utuh, namun para !il's'! tersebut setidaknya membahas tentang adanya Tuhan. 9ata : Tuhan :,meru uk kepada suatu <at Abadi dan (upranatural, biasanya dikatakan mengawasi dan memerintah manusia dan alam semesta atau agat raya. .al ini bisa uga digunakan untuk meru uk kepada beberapa k'nsep-k'nsep yang mirip dengan ini misalkan sebuah bentuk energi atau kesadaran yang merasuki seluruh alam semesta, di mana keberadaan-"ya membuat alam semesta ada? sumber segala yang ada? keba ikan yang terbaik dan tertinggi dalam semua makhluk hidup atau apapun yang tak bisa dimengerti atau di elaskan. Banyak ta!sir daripada nama @Tuhan@ ini yang bertentangan satu sama lain. #eskipun kepercayaan akan Tuhan ada dalam semua kebudayaan dan peradaban, tetapi de!inisinya lain-lain. &stilah Tuan uga banyak kedekatan makna dengan kata Tuhan, dimana Tuhan uga merupakan ma ikan atau uragannya alam semesta. Tuhan punya hamba sedangkan Tuan punya sahaya atau budak. Dengan kemutlakannya, Tuhan tentunya tidak terikat 'leh tempat dan waktu. Baginya tidak dipengaruhi yang dulu atau yang akan datang. Tuhan tidak memerlukan tempat, sehingga pertanyaan tentang dimana Tuhan hanya akan membatasi kekuasaannya. #aka baginya tidak ada kapan lahir atau kapan mati. #anusia dalam mencari Tuhan dengan bekal kemampuan penggunaan akalnya dapat mencapai tingkat eksistensinya. 9emungkinan se auh ini, kemutlakan Tuhan menyebabkan manusia yang relati! itu tidak dapat men angkau substansi Tuhan. Dengan demikian in!'rmasi tentang substansi Tuhan itu apa, tentunya berasal dari (ang #utlak atau Tuhan itu sendiri. .akikat DAat 0substansi1 Tuhan tidak mungkin diketahui 'leh rasi' dan tidak dapat diketemukan asal atau keadarnya. (ubstansi Tuhan tidak dapat diliput 'leh pemikiran dan manusia tidak mampu membuat perantaraan atau mediat'r untuk mengetahuinya. A. /6#BA.A(A" (BB(TA"(& TB.A" Casi' manusia terdapat titik puncak dari kecendikiaan dan kekuatan penemuan rasi' sangat terbatas dan lemah mengetahui hakikat sesuatu. Casi' tidak mampu mengetahui hakikat benda dan hakikat at'm yang tersusun padahal benda itu adalah sesuatu yang paling melekat pada manusia1D1E. 1

$ika p'sisi rasi' k'ndisinya semacam itu, di dalam iwa, cahaya, benda, dan sesuatu yang terdapat di alam yang riil dan abstrak, maka bagaimana mungkin rasi' dapat mengetahui substansi Tuhan dan berupaya menangkap asa atau kadar substansi-"ya. (ubstansi Tuhan lebih besar dari sesuatu yang ditangkap 'leh rasi' yang yang diliputi 'leh pemikiran. (ubstansi Tuhan tetap ada sebagaimana kekuatan eksistensi yang telah ada. 6ksistensi Tuhan sama dengan ketentuan benda yang riil dan bermula dan benda-benda yang rasi'nalistik. Fleh karenanya Allah ber!irman :penglihatan tidak dapat menangkap Allah sedang Allah dapat menangkap penglihatan. Allah #aha .alus dan #aha #engetahui. B. BB9T& 69(&(T6"(& TB.A" Bntuk mengetahui eksistensi Allah diantaranya ada dua met'de,yakni mengenal diri dan memperhatikan cakrawala. #engenal diri sendiri hakikatnya adalah membuktikan eksistensi Allah dan mengetahui adanya Allah. (eperti yang di elaskan dalam Al-,ur*an :Dan di dalam dirimu sendiri,tidakkah kalian memperhatikan? G ,(.H1 I21J,dan dalam hadits "abi :Barangsiapa mengenaldirinya sendiri,maka dia mengenal Tuhan. 6ksistensi Allah adalah riil seperti matahari yang bercahaya pada waktu pagi. (etiap benda di alam ini menyaksikan dan membuktikan eksistensi adanya Allah. Berbagai benda alam dan unsur-unsurnya akan memperkuat bahwa ia mempunyai pencipta dan pengatur. Alam dengan segala isinya membuktikan bahwa itu semua adalah bukti eksistensi adanya Allah. Bukti akan adanya eksistensi Tuhan dapat dilakukan melalui H met'de yakni I A. Argumen Fnt'l'gis Fnt'l'gis berasal dari kata ontos, yang berarti sesuatu yang berwu ud. Fnt'l'gi uga bisa disebut sebagai ilmu yang mempela ari wu ud tentang hakikat yang ada 2D2E. Argumen ini tidak berdasarkan pada alam nyata semata, namun uga berdasarkan pada l'gika. Fnt'l'gi, pertama kali digunakan 'leh /lat' 0 H2K L +HK (# 1 dengan te'ri idenya. 7ang dimaksud dengan ide, menurut dia, adalah konsep universal dari tiap sesuatu+D+E. Tiap L tiap yang ada di alam ini mesti mempunyai ide. M'nt'h ide yang terdapat pada manusia adalah berpikir dan badan hidup. (etiap sesuatau yang ada di dunia ini intinya mempunyai sebuah ide. &de inilah yang men adi dasar wu ud dari sesuatuHDHE. &de berada di dalam alam tersendiri, di luar alam nyata ini yakni yang dinamakan dengan alam ide. 9arena ide merupakan dasar wu ud sesuatu, maka yang tampak nyata di alam yang kita alami hanyalah bayangan. Bayangan tersebut hakikatnya berasal dari ide yang ada dalam sesuatu tersebut. &de tersebut merupakan sesuatu yang kekal. 7ang mempunyai wu ud hanyalah ide dan benda L benda yang ditangkap 2 3 4

dengan indera hanyalah khayalan atau ilusi belaka. &de L ide tersebut saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya, namun semuanya bersatu dalam sebuah ide tertinggi yang diberi nama ide kebaikan atau The Absolute Good, yaitu yang #utlak BaikNDNE. 7ang #utlak Baik itu adalah tu uan, sumber dan sebab dari segala sesuatu. 7ang #utlak Baik itu disebut uga dengan Tuhan. Dengan te'ri ini, membuktikan bahwa alam beserta isinya bersumber dari 7ang #utlak Baik, atau yang disebut dengan Tuhan. Argumen 'nt'l'gi kedua dicetuskan 'leh (t. Agustinus 0 +NH L HNO (# 1. #enurut Agustinus, manusia dengan pengalamannya bahwa dalam alam ini ada kebenaran. "amun, terkadang akal meragukan kebenaran tersebut. Akal dapat berpikir bahwa diatas kebenaran L kebenaran yang diragukan tadi, ada kebenaran yang mutlak, tetap dan abadi. Dan kebenaran yang mutlak tadi disebut uga dengan istilah Tuhan. (edangkan menurut Al 2h'Aali, se'rang !il's'! &slam, alan untuk mengetahui Tuhan dengan pengalaman dapat dilakukan ika ada integrasi antara r'h L asad. /r'sese integrasi r'h L asad ini disebut sebagai pr'ses perc'baan atau pengalaman. Dengan ini manusia akan memper'leh pengalaman lahir maupun batin. Bagi &mam Al 2h'Aali, pengalaman memegang peranan penting dalam usaha manusia mencapai pengetahuan yang tertinggi, yaitu ma ri!atullah"[6]. B. Argumen 9'sm'l'gis Argumen k'sm'l'gis, bisa uga disebut sebagai argumen sebab L akibat. (esuatu yang ter adi di alam ini, pasti ada sebabnya. (ebab itulah yang men adikan adanya P ter adinya sesuatu itu. (ebab alam lebih wa ib dan ada daripada alam itu sendiri. (esuatu yang menyebabkan ter adinya alam ini, bisa dipastikan 7ang 9uasa, #aha Besar. Atau disebut uga to aperion#[7]. 7ang 9uasa 0 (ebab Btama 1 ini tidak disebabkan 'leh sebab yang lain. Dia bersi!at $iyamuhu bina!sihi % berdiri sendiri &. Argumen k'sm'l'gis ini dinyatakan pertama kali 'leh Arist'teles 0 +KH L +22 (# 1. Dia adalah murid /lat', yang n'tabene penggagas argumen 'nt'l'gis. #enurut Arist'teles, setiap benda yang ditangkap dengan indera mempunyai materi dan bentukKDKE. Bentuk terdapat dalam benda dan membuat materi mempunyai sebuah bentuk P rupa. Bentuk bukanlah bayangan atau ilusi, akan tetapi bentuk adalah sebuah hakikat dari benda itu sendiri. Bentuk tidak dapat dilepaskan dalam materi. #ateri dan bentuk dapat dipisahkan dalam akal, namun tidak dapat dipisahkan dalam kenyataan. Bentuk sebagai hakikat dari sesuatu tidak berubah L ubah dan kekal, namun dalam inderawi terdapat perubahan. Antara materi dan bentuk ada suatu penghubung yang dinamakan gerak. 7ang menggerakkan adalah bentuk dan yang digerakkan adalah materi. Dalam gerak itu tentunya ada yang menggerakkan. 7ang 5 6 7 8

a. b. c.

d.

e.

menggerakkan itulah yang disebut sebagai /enggerak Btama. Bentuk dalam arti /enggerak Btama mestilah sempurna dan kekal. Dia tidak mungkin berha at kepada yang lain. Tuhan menggerakkan alam bukan sebagai penyebab e!isien 0 penyebab karena ada p'tensi 1, melainkan dia menggerakkan karena sebab tu uan. Arist'teles mengatakan bahwa Tuhan menggerakkan karena dicintai 0 'e produces motion as being love 1QDQE. (emua yang ada di alam ini bergerak menu u ke /enggerak yang sempurna itu. penggerak /ertama, menurut Arist'teles, adalah Aat yang immateri, abadi dan sempurna. Al 9indi 0 RQS L KR+ # 1, !il's'! &slam, berargumen bahwa alam ini diciptakan dan penciptanya adalah Allah. (egala yang ter adi di alam ini pasti ada sebab akibatnya. (emua rentetan sebab musabab ini berakhir pada sebab utama, yakni Tuhan pencipta alam. /encipta alam adalah esa dan berbeda dengan alam. Tiap benda, menurut 9indi, mempunyai dua hakikat, yakni hakikat pertikular 0 uA*i 1 dan hakikat uni)ersal 0 kulli 1. "amun, Tuhan tidak mempunyai hakikat partikular maupun uni)ersal. Dia bersi!at 6sa, 7ang Benar, 7ang (atu. (elain Dia, semuanya bersi!at banyak. Th'mas Aquinas 0 122N L 12RH # 1 men'lak pendapat para te'l'g bahwa eksistensi Tuhan adalah masalah keimanan. Dia menga ukan keberadaan L "ya dengan N dalil. Adanya si!at gerak. (esuatu yang bergerak di alam tidak mungkin bergerak begitu sa a tanpa ada yang menggerakkan. Tentunya semua gerak beru ung pada /enggerak Btama. Adanya kausalitas. (egala yang ter adi di alam ini, merupakan sebab musabab dari sesuatu. (ebab musabab itu 0 sebab e!isien 1 beru ung pada (ebab Btama. Dialah yang menyebabkan akibat L akibat di dunia ini. Adanya kemungkinan dan kemestian. 9emungkinan berdalil 'ada sesuatu yang ada namun adanya itu adalah diadakan. Dia bisa sa a mugkin ada dan mungkin uga tidak ada. Dari kemungkinan L kemungkinan tadi, ada sesuatu yang adanya itu adalah wa ib dan mesti. Dialah yang mengadakan sesuatu yang mungkin tadi. Dialah yang disebut sebagai Tuhan. 9'nsep gradasi. (etiap yang ada di alam ini mempunyai lebih dan kurang. "amun lebih dan kurang adalah keterangan tentang sesuatu yang berbeda sesuai dengan keserupaannya dalam cara L cara yang berbeda, yaitu sesuai yang maksimum. (esuatu dikatakan lebih panas ika ada sesuatu yang serupa P menyerupai yang panas. $adi ada sesuatu yang lebih panas, lebih benar, paling baik, dll. Akibatnya harus ada sesuatu yang paling di atas itu semua, dan itu harus paling tinggi dalam kebenaran dan paling besar dalam eksistensi. (esuatu yang paling di atas semua tadi, yang men adi ukuran P sebab dari semuanya, disebut Tuhan. Adanya keteraturan dunia. 9ita mengetahui segala benda P makhluk di alam ini mempunyai akti)itas dan tu uan. Akti)is mereka selalu sama atau hampir sama untuk mencapai hasil terbaik. $adi, tidak mungkin mereka mencapai tu uan itu merupakan sebuah kebetulan semata. Dengan demikian, mereka sebenarnya sudah seperti di desain dahulu. (egla 9

sesuatu yang memiliki kekurangan tidak akan dapat mencapai tu uan P hasil terbaik ika tidak digerakkan 'leh sesuatu yang mempunyai kelebihan, seperti pengetahuan dan kecerdasan. 9arena itu, sesuatu yang cerdas harus ada karena semua makhluk diarahkan untuk mencapai tu uan mereka, dan sesuatu itu kita namakan Tuhan. M. Argumen Tele'l'gis Berasal dari kata telos, yang berarti tu uan. Dengan kata lain, alam ini berpr'ses dengan adanya menu u ke suatu tu uan tertentu. Dan segala yang ada didalamnya beker asama untuk mencapai tu uan tersebut. 8illiam /aley 0 1RH+ L 1KON # 1, se'rang te'l'g &nggris, menyatakan bahwa alam ini penuh dengan keteraturan. Langit yang biru dan tinggi. Bintang L bintang yang bertebaran. Dan diatas itu semua ada /encipta 7ang #aha 9uasa. Tuhan menciptakan itu semua ada tu uan tertentu. (eperti halnya Tuhan menciptakan mata bagi makhluknya. Dalam paham tele'l'gi, segala sesuatu dipandang sebagai 'rganisasi yang tersusun dari bagian L bagian yang mempunyai hubungan erat dan saling beker asama. Tu uan dari itu semua adalah untuk kebaikan dunia dalam keseluruhan. Alam ini beredar dan bere)'lusi bukan karena kebetulan, tetapi beredar dan bere)'lusi kepada tu uan tertentu, yaitu kebaikan uni)ersal, dan tentunya ada yang menggerakkan menu u ke tu uan tersebut dan membuat alam ini beredar maupun bere)'lusi ke arah itu. <at inilah yang dinamakan Tuhan1OD1OE. D. Argumen #'ral Argumen m'ral dipel'p'ri pertama kali 'leh &mmanuel 9ant 0 1R2H L 1KOH # 1. 9ant, dalam tesis awalnya menyatakan bahwa manusia mempunyai m'ral dan yang tertanam dalam iwa dan hati sanubarinya11D11E. Dalam hati sanubari, tentu adanya bisikan L bisikan yang bisa sa a kita namakan perintah. /erintah ini bersi!at abs'lut mutlak dan uni)ersal. /erbuatan baik P ahat dilakukan karena perintah mengatakan demikian. 9ant berpendapat bahwa perbuatan baik semakin baik bukan karena akibat dari perbuatan itu dan tidak pula agama yang menga arkan bahwa perbuatan itu baik. /erasaan manusia yang menyatakan bahwa ia harus berbuat baik ataupun untuk men auhi larangannya, tidak didapatkan di dunia ini, namun dibawa se ak lahir. #anusia lahir dengan perasaan itu. Antara apa yang ada dalam sanubari 0 perintah 1 dan praktik di dunia, selalu ter adi k'ntradiksi. Begitulah apa yang 9ant gambarkan. Tetapi sungguhpun demikian, manusia tetap merasa wa ib mendengarkan perintah sanubari ini. Dalam k'ntradiksi ini 0 yang baik tidak selamanya membawa kebaikan dan yang buruk tidak selamanya mendapat hukuman sewa arnya di dunia 1, mesti akan akan ada hidup kedua di alam kedua setelah alam sekarang. Di dalam alam kedua ini, semua perbuatan kan mendapat balasannya masing L masing. Dari kedua perasaan ini timbul perasaan ketiga. 9edua perasaan itu berasal dari suatu <at 7ang #aha Adil. <at inilah yang dinamakan Tuhan. 10 11

/erintah hati sanubari yang bersi!at mutlak ini bukan hanya mengandung arti bahwa manusia wa ib patuh kepada perintah tersebut. Akan tetapi perintah tersebut uga mengandung arti bahwa pada akhirnya perintah tersebut akan membawa kepada (ummun Bonum atau kesenangan yang tertinggi yang terdiri dari persatuan antara keba ikan dan kesenangan yang timbul dari keadaan manusia yang dapat memenuhi keinginan L keinginannya. (onnum Bonum ini sebenarnya membawa kepada adanya Tuhan. (onnum Bonum tidak tercapai dalam alam ini karena ada perintah sanubari dan perintah manusia yang selalu k'ntradiksi. Artinya, dalam alam m'ral 0 sanubari 1 dan alam materil 0 keinginan manusia 1 terdapat suatu pemisah. #anusia akan mencapai kebahagiannya ika dapat melenyapkan pemisah ini. untuk memisahkan pemisah ini dibutuhkan kekuatan yang besar daripada kekuatan manusia. 9ekuatan inilah yang disebut sebagai Tuhan. 9ant uga berpendapat bahwa l'gika tidak dapat membawa keyakinan tentang adanya Tuhan. Fleh karenanya, dia berpendapat bahwa perasaanlah yang mampu membawa manusia kepada keyakinan akan adanya Tuhan. Akal, hanya memberi kebebasan untuk percaya atau tidak adanya Tuhan, sedangkan sanubari memberi perintah kepadanya untuk percaya bahwa Tuhan itu ada. #anusia diberi perintah untuk melaksanakan hal baik lewat hati sanubari. /erbuatan L perbuatan itu tentu ada nilai L nilainya. /erasaan itu diper'leh bukan dari pengalaman, tetapi telah ada dalam diri manusia. /erintah ini tentunya ada P berasal dari suatu <at yang tahu baik dan buruk. <at inilah yang dinamakan Tuhan. "ilai L nilai tersebut tidak terdapat dalam manusia, melainkan terdapat dalam diri Tuhan. (elain H argumen diatas 0 'nt'l'gis, k'sm'l'gis, tele'l'gis dan m'ral 1, ada beberapa dalil yang menyatakan atau menegaskan bahwasannya Tuhan itu ada. 8alaupun dalil L dalil ini intinya sama dengan argumen L argumen diatas, namun bahsa yang digunakan sedikit berbeda dengan yang diatas. Dalil L dalil tersebut antara lain I a& /reu)e #etaphisique, yaitu dalil akal semata. #enurut akal, alam yang besar dan luas ini, tentu tidak akan ter adi dengan sendirinya. /asti ada yang menciptakan. Dan dialah yang disebut sebagai Tuhan. #anusia, walaupun kuat dan pintar, namun tetaplah tidak sempurna. (edangkan Tuhan, yang n'tabene sebagai pencipta, tentu Dia adalah sempurna, dan tentu dia tidak diciptakan. b& /reu)e /hisique, dalil yang terdiri dari alam. Dalil ini pertama kali dipakai 'leh Abul 'useil Al Alla!)*[12]. Dia memulai dalil ini dengan te'ri at'm. #enurutnya semua yang ada di alam ini dapat dibagi L bagi sampai ke bagian yang terkecil yang dinamakan dengan istilah molekul. Tiap m'lekul terdiri dari at'm L at'm. At'm ini berputar disekitar at'm lainnya. Dari perputaran ini menimbulkan daya tarik menarik antara m'lekul L m'lekul. Dan yang menggerakkan itulah yang dinamakan dengan istilah Tuhan. '& /reu)e Tele'l'gique, dalil yang diambil dari susunan dan keindahan alam. Di dalam alam ini, ada semacam susunan dan peraturan yang 12

d&

1.

2.

+.

bagus. Bintang L bintang maupun planet L planet beredar sesuai dengan garis edarnya dan tidak saling bertabrakan. Begitu uga darah yag ada dalam manusia. Beredar dengan teratur sesuai alannya sendiri L sendiri. Dari !en'mena itu semua, tentu ada yang dinamakan Dieu +rganisateur, 7ang #aha #engatur. Dialah yang disebut dengan Tuhan. /reu)e #'ral, yaitu dalil yang diambil dari m'ral. 8alaupun alam ini sudah diciptakan dengan baik dan indah, namun tetap sa a ada yang tidak beres dalam kehidupan kecil didalamnya 0 manusia 1. (eakan tidak ada keadilan dalam kehidupan manusia di dunia ini. suatu saat, pasti akan ada yang membereskan dari ketidakadilan L ketidakadilan tersebut. Dialah (ang #aha /emberes segala sesuatu, yang dinamakan Tuhan.1+D1+E #enurut (ayyid sabiq, ada tiga te'ri yang bisa digunakan dalam membuktikan kebenaran eksistensi TuhanI Alam semesta bermula atau muncul dari tidak ada Te'ri ini batil secara !undamental karena musabab selalu terikat dengan sebab dan kesimpulan selalu terikat dengan pendahuluan. /ernyataan bahwa alam semesta bermula atau muncul dari tidak ada men adi ada berarti menyatakan bahawa alam semesta berwu ud dengan sendirinya dan muncul secara terpisah dari sebabnya. 9eberaddan sesuatu dengan sendirinya yang terputus dari sebabnya adalah muhal. $ika kita katakana alam semesta berwu ud dengan sendirinya dan terputus dari sebabnya, maka hal ini sama dengan ucapan kita bahwa ketidakadaan merupakan sebab adanya sesuatu yang ada, dan hal ini muhal. Alam semesta bermula dan muncul secara kebetulan dengan sendirinya Te'ri yang ke dua ini lebih rumit daripada te'ri yang pertama. Te'ri ini sama dengan te'ri e)'lusi, suatu met'de unik penyangkal keberadaan Allah L menyatakan bahwa m'lekul-m'lekul an'rganik membentuk asamasam amin' secara kebetulan, asam-asam amin' membentuk pr'teinpr'tein secara kebetulan, dan akhirnya pr'tein-pr'tein membentuk makhluk hidup secara lagi-lagi kebetulan. Akan tetapi, kemungkinan pembentukan makhluk hidup secara kebetulan ini lebih kecil daripada kemungkinan pembentukan #enara 6i!!el dengan cara yang serupa, karena sel manusia bahkan lebih rumit daripada segala struktur buatan manusia di dunia ini. Bagaimana mungkin mengira bahwa keseimbangan di dunia ini timbul secara kebetulan bila keserasian alam yang luar biasa ini pun bisa teramati dengan mata telan ang4 /ernyataan bahwa alam semesta, yang semua unsurnya menyiratkan keberadaan /enciptanya, muncul dengan kehendaknya sendiri itu tidak masuk akal. 9arena itu, pada keseimbangan yang bisa dilihat di mana-mana dari tubuh kita sampai u ung-u ung ter auh alam semesta yang luasnya tak terbayangkan ini pasti ada pemiliknya. Alam semesta ini diciptakan 'leh DAat yang mewu udkan Te'ri ke tiga ini menetapkan bahwa alam semesta ada yang menciptakan dan ada yang mengatur. Te'ri ini sesuai dengan hasil pengertian rasi' dan l'gika n'rmal. $adi, siapakah /encipta ini yang 13

mentakdirkan segala sesuatu secara cermat dan menciptakan semuanya4 &a tidak mungkin Aat material yang hadir di alam semesta ini, karena &a pasti sudah ada sebelum adanya alam semesta dan menciptakan alam semesta dari sana. /encipta 7ang #ahakuasa ialah yang mengadakan segala sesuatu, sekalipun keberadaan-"ya tanpa awal atau pun akhir. Agama menga ari kita identitas /encipta kita yang keberadaannya kita temukan melalui akal kita. #elalui agama yang diungkapkan kepada kita, kita tahu bahwa Dia itu Allah, #aha /engasih dan #aha /emurah, 7ang menciptakan langit dan bumi dari kehampaan. #eskipun kebanyakan 'rang mempunyai kemampuan untuk memahami kenyataan ini, mereka men alani kehidupan tanpa menyadari hal itu. Bila mereka memandang lukisan pa angan, mereka tak ub siapa pelukisnya. Lalu, mereka memu i-mu i senimannya pan ang-lebar perihal keindahan karya seninya. 8alau ada kenyataan bahwa mereka menghadapi begitu banyak keaslian yang menggambarkan hal itu di sekeliling mereka, mereka masih tidak mengakui keberadaan Allah, satusatunya pemilik keindahan-keindahan ini. (esungguhnya, penelitian yang mendalam pun tidak dibutuhkan untuk memahami keberadaan Allah. Bahkan seandainya sese'rang harus tinggal di suatu ruang se ak kelahirannya, pernak-pernik bukti di ruang itu sa a sudah cukup bagi dia untuk menyadari keberadaan Allah.1HD1HE Dari ketiga te'ri di atas dapat kisa simpulkan bahwa alam semesta ber alan dengan :kesadaran; 0consciousness1 tertentu. Lantas, apa sumber kesadaran ini4 Tentu sa a bukan makhluk-makhluk yang terdapat di dalamnya. Tidak ada satu pun yang men aga keserasian tatanan ini. 9eberadaan dan keagungan Allah mengungkap sendiri melalui bukti-bukti yang tak terhitung di alam semesta. (ebenarnya, tidak ada satu 'rang pun di bumi ini yang tidak akan menerima kenyataan bukti ini dalam hati sanubarinya. ESENSI TUHAN Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." Ayat diatas mengandung sejarah pertanyaan kafir Quraisy kepada a!i "uhammad sa# tentang nasa! dari $a!! a!i "uhammad sa#% &mam Ahmad meri#ayatkan dari '!ay !in (a)a! !ah#a *rang+*rang kafir Quraisy pernah !erkata, - .ai "uhammad, terangkan/ah kepada kami tentang nasa! $a!!+"u001% "aka A//ah s#t% !erfirman yang ter2antum da/am A/+Qur)an surah a/+&kh/as ayat 1+4% 3a/am ri#ayat /ain, &krimah mengatakan4 -ketika *rang+ *rang yahudi mengatakan4 -(ami menyem!ah 5'6air putera tuhan, *rang asrani mengatakan4 -(ami menyem!ah A/+"asih putera tuhan, *rang "ajusi mengatakan4 -(ami menyem!ah matahari dan !u/an1, dan *rang musyrik mengatakan4 -(ami menyem!ah 7erha/a1% "aka A//ah !erfirman -Dia-lah Allah, yang Maha Esa. ![2] Artiny ada/ah 3ia+/ah yang 8ungga/ dan satu+satunya, 3ia yang maha esa tanpa ada yang menandingi dan 14 15

menyerupai+ ya% 3an ge/ar itu tak !isa digunakan siapapun untuk di!erikan penetapan ke2ua/i hanya A//ah s#t% &nti dari ayat diatas ada/ah menje/askan tentang ke+9sa+an A//ah se!agai tuhan umat is/am yang diajarkan */eh a!i "uhammad sa#% 3an manusia tidak !*/eh mempersekutukannya dengan sesuatu apapun% (arena A//ah ada/ah yang "aha 8ungga/, "aha :empurna% 'mat is/am #aji! menyakini !ah#a tuhan yang patut disem!ah hanya/ah A//ah yang 9sa% :ega/a i!adah yang di/akukan semata+mata hanya mengharap ridh* dari+ ya% (arena A//ah /ah yang memi/iki sega/a apa yang ada di!umi dan di/angit dan ha/ ini merupakan !entuk kemut/akkan+ ya se!agai tuhan pen2ipta a/am semesta dan se/uruh jagat raya !eserta isinya% firman ya da/am surah A/+Anka!uut 461% Dan "esungguhnya #ika ka$u tanyakan kepada $ereka: ""iapakah yang $en#adikan langit dan bu$i dan $enundukkan $atahari dan bulan%" tentu $ereka akan $en#a&ab: "Allah", Maka betapakah $ereka 'dapat( dipalingkan 'dari #alan yang benar(. Ayat ini tidak saja diyakini */eh umat is/am saja, para kafir Quraisy juga memper2ayai !ah#a A//ah ada/ah pen2ipta a/am ini% namun ha/ ini tidak mem!uat mereka masuk is/am, karena mereka hanya per2aya A//ah se!agai pen2ipta !ukan A//ah se!agai yang disem!ah atau mengingkari tauhid '/uhiyah% "ereka ingkar untuk menyem!ah kepada A//ah, da/am !eri!adah mereka menyem!ah se/ain A//ah% ;e/as sudah !ah#asanya 9sensi 8uhan da/am ajaran is/am ada/ah 9sa<tungga/= yakni A//ah yang "aha 9sa, tidak ada yang mengingkari ke+9sa+an A//ah% 3an sejak A6a/i A//ah te/ah ada, 3ia tidak mati dan tidak pu/a ada akhirnya% (arena A//ah memang se/a/u ada dan akan terus ada% 3isisi /ain ketika is/am turun yang di !a#a */eh a!i "uhammad yang di ajarkan pertama ka/i ada/ah tauhid, se/ama 13 tahun !e/iau mengajarkannya di k*ta makkah% 7e/iau mengu!ah umat yang terpe2ah!e/ah menjadi umat yang !ersatu, mem!a#a umat yang tengge/am da/am kemusyrikan menjadi umat yang !ertauhid yang meng+9sa+kan A//ah s#t se!agai tuhan umat is/am% 8idak ada sekutu !agi+ ya% &tu/ah ajaran pertama is/am dimana umatnya di#aji!kan untuk mentauhidkan A//ah s#t se!agai pen2ipta, pe/indung dan sesem!ahan yang !erhak untuk disem!ah% 3a/am !ahasa i/miah dikena/ dengan Monoteis$e yaitu memper2ayai adanya satu tuhan% 8entunya /a#an dari m*n*teisme ada/ah politeis$e yakni per2aya /e!ih dari satu tuhan% >aham m*n*teisme ini/ah yang dianut */eh umat is/am da/am !eragama% &s/am se!agai agama sama#i yang diyakini */eh umatnya sangat menjunjung tinggi ke+9sa+an tuhan% >ara u/ama sa/afiayah yang ah/i da/am !idang ini pun mengajarkan !ah#a da/am is/am tidak ada sekutu !agi A//ah dan !arangsiapa yang tidak per2aya akan ke+9sa+an ya maka ia sungguh te/ah !er!uat syirik% 9sa !ukan !erarti satu, karena satu menunjukkan !i/angan yang merupakan sa/ah satu dari unsur kehidupan% :e/ain itu juga, satu menunjukkan sesuatu yang dapat di!agi+!agi menjadi !e!erapa !agian% (arenanya, esensi 8uhan tidak dapat dikatakan identik dengan satu, me/ainkan esa%

(ita dapat mengam!i/ makna dari pengertian esensi 8uhan yang !ersifat mut/ak, yang tidak terikat dengan apapun yang identik dengan kehidupan% ?aitu, esensi 8uhan, meskipun tidak terikat dan tidak identik dengan kehidupan, !ukan !erarti !ah#a esensi 8uhan !erada di /uar sega/a sesuatu tentang kehidupan% (arena, saat kita mengatakan esensi 8uhan !erada di /uar rea/itas kehidupan, kita akan memi/iki k*nsep yang seakan+akan 8uhan !erada jauh dari

kehidupan kita, yaitu !erada di /uar diri kita maupun di /uar rea/itas kehidupan, dan ha/ ini akan menjadikan diri kita mem!uat suatu pr*yeksi se2ara tidak sadar mengenai esensi 8uhan% "isa/nya, saat kita !erd*a, kita seakan+akan sedang mem*h*n kepada sesuatu yang kita yakini se!agai 8uhan% "eskipun kita meyakini 8uhan yang kita yakini ini ada/ah esa, akan tetapi peri/aku seperti !er!i2ara kepada sesuatu yang se*/ah+*/ah !erada di /uar diri kita dan di /uar rea/itas kehidupan kita, sepertinya, nampak seperti me/ukiskan se!uah s*s*k yang tak tergam!arkan, yang merupakan hasi/ dari pr*yeksi da/am diri kita, !erupa perasaan ataupun pikiran% Apakah ha/ seperti ini !enar0 7ukankah ha/ seperti ini sama saja seperti sedang !er!i2ara untuk mem*h*n kepada se!uah !enda, tetapi da/am ha/ ini !enda terse!ut !ukan yang dapat dijamah */eh ke/ima indera manusia karena seperti !erupa pr*yeksi dari pikiran dan perasaan kita0 7ukankah ha/ ini sama saja, tidak !er!eda0

@/eh se!a! itu, penting seka/i !agi kita untuk menyadari !ah#a esensi 8uhan tidak dapat kita pikirkan maupun kita rasakan, karena yang kita ketahui dari esensi 8uhan hanya/ah !ah#a 8uhan itu esa atas kemut/akan dari sisi esensi+ ya% :edangkan yang dapat kita ketahui se2ara pasti hanya/ah eksistensi 8uhan% afas yang !erhem!us me/a/ui dada kita, gerakan ke/*pak mata kita, suara ki2au !urung yang indah, dan semua ha/ yang ada di kehidupan% .anya ha/+ ha/ seperti itu yang dapat dan se!aiknya untuk mengingat 8uhan% (ita hanya dapat mengingat 8uhan me/a/ui eksistensi+ ya, yang akan mengingatkan kita tentang esensi+ ya yang esa atas kemut/akan dari sisi esensi+ ya, tetapi kita tidak sanggup memikirkan, merasakan, dan mengingat esensi+ ya terse!ut% (arenanya, da/am ha/ ini, kita diingatkan !ah#a da/am mengimani ke!eradaan 8uhan, terutama dari segi esensi+ ya, kita pun sudah dik*dratkan untuk !erserah diri dan hati mengenai ha/ terse!ut% (arena, saat kita men2*!a mengimani tentang esensi 8uhan, da/am keadaan itu juga kita akan terje!ak da/am se!uah keadaan yang parad*ks, yaitu sega/a penje/asan dan k*nsep maupun kata+kata dan pikiran maupun juga perasaan kita tidak dapat me#aki/kan se2ara pasti mengenai esensi 8uhan, dan di saat seperti itu/ah kita per/u menyerahkan diri, !aik hati maupun pikiran kita, kepada 8uhan% "engapa0 (arena keimanan kita mengenai ke!eradaan 8uhan, terutama esensi 8uhan, per/u kita serahkan kem!a/i kepada 8uhan, agar kita tidak terje!ak da/am perasaan dan pikiran mengenai esensi+ ya, yang se/ama ini kita yakini% (arena, pernahkah kita mendengar se!uah pernyataan yang kurang /e!ih seperti, akan ada !anyak *rang yang merasa sudah !erada pada ke!enaran akan tetapi se!enarnya tidak0

3ari sekian penje/asan pada tu/isan ka/i ini, se!enarnya tu/isan ini hanya !ermaksud untuk mengingatkan, !ah#a saat mengingat 8uhan yang esa atas kemut/akan dari sisi esensi+ ya, kita tidak per/u jauh+jauh merasakan seakan+akan 8uhan itu !erada di /uar diri kita dan jauh dari rea/itas kehidupan% "emang !enar, esensi 8uhan tidak terikat dan tidak dapat dikaitkan dan diidentikkan dengan apapun yang masih menyangkut dengan rea/itas kehidupan% Akan tetapi, mengapa kita tidak mengingat 8uhan dengan f*kus pada eksistensi+ ya saja, yaitu sega/a ha/ yang ada di kehidupan, yang pastinya sangat dekat dengan diri kita dan !erada di sekitar kita% 3an untuk pers*a/an tentang esensi 8uhan, kita serahkan diri kita, hati dan pikiran kita da/am mengingat esensi 8uhan, kepada+ ya% (arena, sungguh, esensi 8uhan tidak dapat dipikirkan, dikatakan, dik*nsepsikan, dirasakan, disim!*/kan, dan /ain se!againya, dengan apapun yang masih ada kaitannya dengan rea/itas kehidupan, termasuk juga tu/isan ini yang men2*!a untuk menje/askan esensi 8uhan%

Prolog 3i/ihat dari sisi pen2iptaan, manusia merupakan makh/uk yang pa/ing sempurna% .a/ itu dapat di!uktikan me/a/ui !er!agai sarana yang dimi/ikinya% Ae!ih dari itu, para i/mu#an te/ah mem!uktikan !ah#a di da/am tu!uh manusia terdapat !er!agai unsur yang terkandung di jagad raya ini% 3engan kata /ain, tu!uh manusia merupakan miniatur jagad raya% @/eh karena itu, sering dikatakan !ah#a manusia merupakan !entuk mikr*2*sm*s% :ementara a/am semesta ini se!agai makr*2*sm*s% :e!agaimana masih !anyak teka+teki yang terdapat di a/am semesta ini yang !e/um dapat disingkap */eh i/mu pengetahuan, demikian pu/a ha/nya !ah#a di da/am tu!uh manusia masih !anyak pers*a/an yang menjadi tanda tanya !esar !agi para i/muan% Atas dasar itu/ah, se*rang anthr*p*/*g terkemuka yang !ernama A/eBis (ar/ mem!eri nama karyanya tentang manusia dengan judu/ -"anusia, "akh/uk "isterius1% 3ari sekian !anyak unsur yang terdapat di da/am diri manusia, aka/ merupakan unsur terpenting yang mem!edakan ia dengan makh/uk+makh/uk hidup /ainnya di jagad raya ini% 3engan aka/, manusia dapat menentukan mana yang !aik dan mana yang !uruk% 3engan aka/ manusia mampu men2apai kemajuan sains dan tekn*/*gi% 3an dengan aka/ pu/a manusia dapat menja/ani hidup !ers*sia/, !erp*/itik, !er!udaya, !er!angsa dan !ernegara dengan !aik% A/hasi/, dengan sarana aka/ manusia dapat men2apai kesempurnaan insaniah+nya% 8anpa aka/ manusia tidak akan dapat men2apai kesempurnaan dirinya% 3an tanpa aka/ manusia tak u!ahnya !agaikan !inatang yang hidupnya m*n*t*n dan tidak !erkem!ang sesuai dengan tuntutan hidupnya se!agai manusia% Akal dan Tuhan 7anyak pihak te/ah !erusaha untuk mendefinisikan aka/% "ereka te/ah mendefinisikan aka/ dari !er!agai sudut pandang% 3a/am kajian fi/safat etika, !iasanya aka/ di!agi menjadi dua !agianC aka/ te*ritis dan aka/ praktis% >ada kesempatan ini kami tidak ingin menyi!ukkan diri untuk menentukan manakah definisi yang !enar dan manakah yang sa/ah, atau menjustifikasi semua definisi yang ada% (arena untuk ha/ itu diper/ukan tu/isan tersendiri di /uar pem!ahasan ini% :e2ara g/*!a/, aka/ sering didefinisikan se!agai sarana pendeteksi ha/+ha/ yang !ersifat uniDersa/% 7erangkat dari definisi terse!ut, maka aka/ tidak memi/iki kemampuan untuk mendeteksi ha/+ha/ yang !ersifat partiku/ar% 3engan uraian singkat ini dapat diam!i/ kesimpu/an, !ah#a aka/ memi/iki radius kemampuan yang sangat ter!atas% 3engan kata /ain !ah#a aka/ manusia memi/iki !atasan+!atasan pendeteksian tertentu yang !erkaitan dengan ha/+ha/ uniDersa/ saja% :edang ha/+ha/ yang sangat partiku/ar, aka/ akan angkat tangan dan tidak mampu untuk me/akukan deteksi% 'ntuk mem!uktikan keter!atasan dan ke/emahan aka/ manusia, kami akan menyinggung dua argumen utama se2ara je/as dan !ersifat rasi*na/, khususnya da/am mendeteksi #ujud 8uhan%% >ertama4 :ehu!ungan dengan pers*a/an ->em!uktian ke!eradaan 8uhan1 kita dapati !ah#a semua yang ada di a/am semesta ini merupakan hasi/ 2iptaan 8uhan, termasuk manusia dan aka/nya% 3i da/am kajian i/mu fi/safat te/ah dije/askan se2ara detai/

mengenai hukum kausa/itas !ah#a -se!a!1 mesti memi/iki semua kesempurnaan eksistensia/ -aki!at1, dan !ukan se!a/iknya% 3engan ungkapan /ain !ah#a setiap -aki!at1 memi/iki radius !atasan yang /e!ih sempit di!anding -se!a!1 nya% "ata rantai se!a!+ aki!at itu terus !erja/an se2ara Dertika/ hingga !erakhir pada satu -se!a!1 yang tidak memi/iki penye!a! dan ke#ujudannya tidak dise!a!kan */eh se!a! apapun, yaitu -se!a!1 yang tidak memi/iki !atas dan !ersifat a!s*/ut% "akh/uk manusia merupakan sa/ah satu !agian dari a/am semesta yang tidak ke/uar dari mata rantai pen2iptaan% @/eh karena itu manusia memi/iki keter!atasan dan kekurangan sesuai dengan peringkat eksistensi #ujudnya% :edang eksistensi 8uhan jauh di atas peringkat eksistensi manusia% 3ari penje/asan ringkas ini dapat diam!i/ kesimpu/an !ah#a 2iptaan 8uhan yang !ernama manusia dengan sega/a atri!ut yang disandangnya memi/iki keter!atasan yang sangat te!a/% (edua4 :ete/ah (ita ketahui !ah#a manusia ada/ah makh/uk yang !ersifat ter!atas, dan !ukan a!s*/ut, dengan demikian maka sega/a ha/ yang menempe/ pada dirinyapun tidak !ersifat a!s*/ut tetapi memi/iki !er!agai kekurangan dan keter!atasan% :ementara sesuatu yang tidak ter!atas dan !ersifat a!s*/ut itu mustahi/ menempe/ dan !ersandar pada sesuatu yang ter!atas% 8idak se*rangpun mengingkari !ah#a setiap manusia memi/iki aka/ se!agai a/at !erpikir% Apa!i/a te/ah kita !uktikan !ah#a manusia itu merupakan makh/uk dan 2iptaan yang memi/iki !er!agai kekurangan dan keter!atasan, maka +dengan demikian+ dapat kita tetapkan pu/a !ah#a aka/ pikiran manusia memi/iki kekurangan dan keter!atasan pu/a% 3engan memperhatikan se2ara 2ermat uraian terse!ut, dapat disimpu/kan !ah#a antara dua !entuk eksistensi ter!atas terse!ut, yaitu manusia dan aka/nya terdapat keserasian% 3an ha/ itu merupakan k*nsek#ensi /*gis antara keduanya% 7erkaitan dengan masa/ah 8uhan, !anyak pem!ahasan te*/*gis dan fi/*s*fis yang te/ah menetapkan !ah#a 8uhan !ersifat a!s*/ut dan tidak ter!atas% :ementara aka/ manusia !ersifat ter!atas% "erupakan satu ha/ yang gam!/ang !agi semua *rang !ah#a mustahi/ sesuatu yang ter!atas itu mampu mendeteksi semua sisi yang dimi/iki */eh eksistensi yang !ersifat a!s*/ut dan tidak !atas% 3engan demikian hanya ha/+ha/ yang !ersifat uniDersa/ dari 8uhan saja yang dapat dideteksi */eh aka/ manusia% Adapun esensi sejati 8uhan, maka aka/ manusia tidak mungkin mampu untuk mengena/ dan mengetahuinya se2ara sempurna% Epilog "et*de apapun yang akan dijadikan /andasan da/am upaya mengena/ 8uhan dan memahami eksistensi+ ya, ada satu ha/ yang tidak !*/eh di/upakan sama seka/i */eh setiap *rang yang !erupaya mengena/ #ujud 8uhan, yaitu mengakui kekurangan, ke/emahan dan keter!atasan daya na/ar aka/nya% 8anpa mengakui kekurangan dan keter!atasan aka/nya terse!ut dapat menim!u/kan !anyak k*nsek#ensi negatif !agi dirinya% >ertama4 3ia akan menganggap !ah#a hakikat dan esensi 8uhan hanya ter!atas pada apa yang dia ketahui% >adaha/ se!enarnya esensi 8uhan jauh /e!ih da/am dari apa yang dipahaminya dan tidak mungkin ia dapat men2apainya% >er/u dipahami pu/a !ah#a pemahaman manusia terhadap #ujud 8uhan memi/iki gradasi yang !eragam% 3an pemahamannya itu akan terus !erja/an menuju kepada satu titik kesempurnaan insaniahnya% 7etapapun sempurnanya pengetahuan manusia +yang !ersum!er dari aka/nya yang ter!atas+ tentang #ujud 8uhan, ia tidak mungkin dapat men2apai hakikat dan esensi 8uhan yang tidak ter!atas% .akikat dan esensi 8uhan, tidak akan pernah dikena/ */eh manusia se!agaimana /ayaknya 3ia mengena/ 6at+ ya sendiri% .a/ ini !erkaitan dengan pers*a/an 8uhan itu sendiri%

(edua4 3ia akan merasa s*m!*ng dan !angga diri% 3an ha/ ini merupakan k*nsek#ensi umum yang akan diper*/eh setiap pen2ari 8uhan yang tidak diiringi dengan pengakuan akan ke/emahan dan keter!atasan aka/nya% 3ia akan merasa !ah#a pengetahuannya terhadap 8uhan ada/ah yang ter!aik di!anding pengetahuan yang /ainnya, dan kes*m!*ngan inte/ektua/ terhadap sesamanya pun akan menjangkiti hatinya% :em*ga kita dijauhkan dari ha/ itu%