Anda di halaman 1dari 9

NABI MUHAMMAD SAW., KOTA MADINAH, JABAL UHUD, MASJID QUBA, MASJID JUM’AH, MASJID KIBLATAIN, MASJID SAHABAT, BIR ‘ALI

Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW, lahir di Mekkah dan meninggal di kota Madinah. Rasulullah lahir dan besar di kota Mekkah kemudian hijrah di kota Madinah. Sekilas tentang hijrahnya Rasulullah ke kota Madinah.

Di Mekkah terdapat Ka’bah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim. Masyarakat jahiliyah

Arab dari berbagai suku berziarah ke Ka’bah dalam suatu kegiatan tahunan, dan mereka menjalankan berbagai tradisi keagamaan mereka dalam kunjungan tersebut. Muhammad mengambil peluang ini untuk menyebarkan Islam. Di antara mereka yang tertarik dengan seruannya ialah sekumpulan orang dari Yathrib (dikemudian hari berganti nama menjadi Madinah). Mereka menemui Muhammad dan beberapa orang Islam dari Mekkah di suatu tempat bernama Aqabahsecara sembunyi-sembunyi. Setelah menganut Islam, mereka lalu bersumpah untuk melindungi Islam, Rasulullah (Muhammad) dan orang-orang Islam Mekkah. Tahun berikutnya, sekumpulan masyarakat Islam dari Yathrib datang lagi ke Mekkah. Mereka menemui Muhammad di tempat mereka bertemu sebelumnya. Abbas bin Abdul Muthalib, yaitu pamannya yang saat itu belum menganut Islam, turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka mengundang orang-orang Islam Mekkah untuk berhijrah ke Yathrib. Muhammad akhirnya setuju untuk berhijrah ke kota itu. Mengetahui bahwa banyak masyarakat Islam berniat meninggalkan Mekkah, masyarakatjahiliyah Mekkah berusaha menghalang-halanginya, karena beranggapan bahwa bila dibiarkan berhijrah ke Yathrib, orang-orang Islam akan mendapat peluang untuk

mengembangkan agama mereka ke daerah-daerah yang lain. Setelah berlangsung selama kurang lebih dua bulan, masyarakat Islam dari Mekkah pada akhirnya berhasil sampai dengan selamat ke Yathrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah atau “Madinatun Nabi” (kota Nabi).

Di Madinah, pemerintahan (kalifah) Islam diwujudkan di bawah pimpinan Muhammad. Umat

Islam bebas beribadah (salat) dan bermasyarakat di Madinah. Quraish Makkah yang mengetahui hal ini kemudian melancarkan beberapa serangan ke Madinah, akan tetapi semuanya dapat diatasi oleh umat Islam. Satu perjanjian damai kemudian dibuat dengan pihak

Quraish. Walaupun demikian, perjanjian itu kemudian diingkari oleh pihak Quraish dengan cara menyerang sekutu umat Islam.

Kota Madinah kota ini dianggap sebagai kota suci kedua. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, kota ini menjadi pusat dakwah, pengajaran dan pemerintahan Islam. Dari kota ini Islam menyebar ke seluruh jazirah Arabia lalu ke seluruh dunia. Kota madinah adalah merupakan tanah haram, yakni tanah suci yang tidak boleh selain orang islam untuk memasukinya. Sabda Rasulullah : Nabi Ibrahim AS membangun kota Makkah menjadi Tanah Haram dan mendoa’akan bagi kemakmuran penduduknya. Aku membangun kota madinah menjadi tanah Haram sebagaimana Nabi Ibrahim mengharamkan kota Makkah dan mendoa’akan kemakmuran bagi penduduknya seperti Nabi Ibrahim mendo’akan penduduk Makkah”.

Kota Madinah secara geografis terletak antara 39″ – 40″BT dan 24″ – 25″ LU. Permukaan kota rata dan dikelilingi bukit-bukit, tinggi daratan kota ini adalah kira-kira 600 meter dari permukaan air laut. madinah merupakan kota yang subur dan mudah didapat air karena pada zaman dahulu merupakan oase besar yang ada ditengah-tengah padang pasir.

Rasulullah menjadikan kota ini sebagai tempat tinggalnya hingga beliau wafat, Rasulullah pula yang mengganti nama Yastrib menjadi al-Madinah al Munawarah yang mempunyai arti kota yang mendapat cahaya atau nama lainnya yaitu Madinan an-Nabi yang artinya kota nabi.

Pada masa sebelum Islam berkembang, kota Madinah bernama Yatsrib, dikenal sebagai pusat perdagangan. Kemudian ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah, kota ini diganti namanya menjadi Madinah sebagai pusat perkembangan Islam sampai beliau wafat dan dimakamkan di sana. Selanjutnya kota ini menjadi pusat kekhalifahan sebagai penerus Nabi Muhammad. Terdapat tiga khalifah yang memerintah dari kota ini yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Pada masa Ali bin Abi Thalib pemerintahan dipindahkan

keKufah di Irak karena terjadi gejolak politik akibat terbunuhnya khalifah Utsman oleh kaum

pemberontak.

Selanjutnya

ketika

kekuasaan

beralih

kepada

bani

maka

pemerintahan

dipindahkan

ke

dan

ketika

pemerintahan

berpindah

kepada

bani Abassiyah, pemerintahan dipindahkan ke kota Baghdad. Pada masa Nabi Muhammad SAW, penduduk kota Madinah adalah orang yang beragama Islam dan orang Yahudi yang dilindungi keberadaannya. Namun karena pengkhianatan yang dilakukan terhadap penduduk Madinah ketika perang Ahzab, maka kaum Yahudi diusir ke luar Madinah.

Jabal Uhud Jabal Uhud yang berjarak 5 Km sebelah utara kota madinah. Gunung ini mempunyai ketinggian 1050 meter dan panjangnya 7 KM serta tidak besambungan dengan gunung- gunung yang lainnya. Pada umumnya gunun g-gunung di madinah saling bersambungan, karenanya gunung yang berdiri sendiri tersebut disebut jabal Uhud yang mempunyai arti gunung yang menyendiri.

Jabal Uhud ini mempunyai arti penting dalam perkembangan sejarah islam, disinilah terjadi peperangan antara 700 kaum Muslimin dengan 3.000 kaum kafir Quraisy pada tahun ketiga hijrah. pada awal peperangan kaum Muslimin mengalami kemenangan yang sangat berarti, namun karena ketidak disiplinan para pemanah yang berada dipuncak Uhud dimana mereka mengabaikan perintah Rasulullah untuk tetap berada ditempatnya. Mereka silau dengan harta pampasan perang yang ditinggalkan olehkaum kafir Quraisy dan turun dari tempatnya. keadaan semacam itu terbaca oleh Khalid binWalid pemimpin tentara berkuda kaum Quraisy dan mereka mengadakan penyerangan balik, sehingga membuat kaum Muslimin kelabakan. Banyak kaum Muslimin yang meninggal secara sahid diantaranya paman Rasulullah ssendiri yaitu Sayyidina Hamzah bin Abdul Mutholib, semua syahidin tadi sejumlah 70 orang dikuburkan bersama lengkap dengan pakaian yang dipakainya. Makam para syuhada ini sekarang diberi pagar keliling setinggi 3 meter dan dariluar pagar kita dapat melihat ke dalam yang hanya nampak tanah datar serta dua batu hitam sebagai nisan dari makam Hamzah bin Abdul Muthalib ( paman Rasulullah) dan makam Abdullah bin Jahsy ( sepupu Rasulullah) sedangkan makam syuhada yang lainnya ( 68 syuhada) ada di dalam lokasi tersebut tapi tanpa ada tanda-tanda khusus. Konon pada tahun 46H (667M) atau 43 tahun

setelah peristiwa perang, terjadi banjir besar disekitar Uhud, makam Hamzah dan Abdullah longsor dan tampak keduanya masih utuh dan segar seperti baru gugur.

Jabal Magnet Madinah selain dikenal sebagai kota nabi, memiliki panorama alam yang indah yang dikelilingi oleh deretan perbukitan atau dalam bahasa Arab dikenal jabal. Disamping jabal Uhud yang terkenal karena sejarah peperangan zaman Rasulullah SAW, ada lagi jabal magnet, tempat wisata yang menarik jamaah haji termasuk Indonesia itu, terletak sekitar 30 KM dari kota Madinah menuju arah kota Tabuk.

Namun, jabal magnet yang sudah terkenal dikalangan jamaah haji Indonesia itu, ternyata tidak dikenal oleh warga asli Madinah, bahkan yang lebih tahu adalah warga Madinah yang merupakan pendatang. Dan setelah diketahui, ternyata warga asli Madinah menyebutnya bukan dengan jabal magnet (bukit magnet), tetapi Manthaqotul Baido (tanah putih). Jabal magnet terletak diluar wilayah haram, kawasan ini ditempuh sekitar 30 menit dari pusat kota Madinah. Untuk mengakses ke arah jabal magnet melalui hamparan pasir, pepohonan dan gunung berbatu menambah keindahannya. Konon jabal magnet ini merupakan pusat magnet terbesar didunia, hal ini dirasakan dari daya magnet terhadap mobil yang dalam posisi perseneling netral, mobil dapat melaju kencang. Sebaliknya, kendaraan yang melintas menuju di jabal magnet akan terasa berat, karena terjadi arus tarik menarik. Jalan-jalan di kota Madinah menurun, namun kondisinya tidak curam, yang mengherankan, ketika kendaraan terus melaju dengan kecepatan tinggi hingga mencapai 120 KM/jam, meski mesin mobil dimatikan. Namun, keajaiban yang ada di tanah suci itu hanya berlangsung sekira

2-3 kilometer.

Melihat fenomena yang ada itu, membuat kita bertanya-tanya akan keajaiban dari ciptaan

Allah. Hanya Dialah yang mengetahui rahasia dibalik semua ciptaannya.

MASJID QUBA

Di Madinah ada banyak tempat bersejarah yang

penting untuk diziarahi. Salah satunya Masjid Quba. Inilah masjid yang batu batanya dipikul Nabi Muhammad SAW sendiri. Masjid Quba terletak di perkampungan Quba, kira-kira 3 kilometer dari arah selatan Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMAA). Mengunjungi masjid ini, dari kejauhan akan terlihat empat menara putih tinggi menjulang. Setelah dekat terlihat pohon kurma mengelilingi masjid.Masjid Quba adalah masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah ketika beliau hampir sampai di yastrib ( nama kota Madinah sebelum di ubah) dalam perjalanan hijrahnya, masjid

ini terletak 5 KM tenggara dari kota madinah. Masjid Quba’ dibangun nabi pada hari senen

tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun pertama hijrah atau 13 tahun dari kenabian Rasulullah (20

September 622M), kala melaksanakan perjalanan hijrah bersama sahabat Abu Bakar, setibanya

di Quba beliau disambut dengan meriah oleh penduduk Quba,. kemudian beliau tinggal

dirumah Kalsum bin hadam dari kabila Aamir bn Auf, Di lahan kalsum inilah Rasulullah

membangun masjid yang peletakan batu pertamanya dilakukan Rasulullah sendiri dan

bn Auf, Di lahan kalsum inilah Rasulullah membangun masjid yang peletakan batu pertamanya dilakukan Rasulullah sendiri

dilanjutkan oleh sahabat-sahabatnya. Dizaman Rasulullah, masjid ini mengalami dua kali perbaikan.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah sering mengunjungi masjid Quba dengan berkendaraan atau berjalan kaki, sampai disana beliau sholat dua rakaat. Kunjungan beliau sering dilakukan di hari sabtu. Masjid ini sekarang cukup megah dan luas serta mempunyai enam kubah. Tempat parkir sangat luas dan dihiasi dengan taman-taman sehingga menambah keanggunan masjid ini. Masjid pertama yang dibina dalam sejarah Islam berasaskan Taqwa dan Iman yang padu. Dalam satu riwayat yang sahih Rasulullah selalu ke Masjid Quba pada tiap-tiap hari sabtu samaada dengan menaiki unta ataupun berjalan kaki. Adakalanya Rasulullah pergi pada hari Isnin dan Khamis. Rasulullah juga bersabda yang bermaksud: “Sesiapa yang berwudhu dirumahnya, kemudian pergi ke Masjid Quba untuk bersolat, akan diberi pahala seperti menunaikan Umrah.”

Lokasi masjid quba’ Masjid ini terlatak diperkampungan Quba kira-kira 3KM dari arah selatan Bandar Madinah. Nama Quba di ambil nama dari sebuah telaga yang berada ditempat itu. Masjid ini berbentuk empat persegi dan luas kawasannya kira-kira 5035 meter persegi.

Sejarah Pembinaan Quba Ketika Rasulullah tiba diperkampungan Quba dalam perjalanan Hijrah dari Makkah ke Madinah, Baginda tinggal disana empat hari bersama Bani Amru bin Auf dirumah Kalthum bin Al-Hadm. Pada hari pertama itulah baginda terus membina Masjid Quba yang menjadi masjid pertama dibina dalam sejarah umat ini. Tempat solat Rasulullah. Mihrab yang ada sekarang bukanlah tempat solat Rasulullah. Menurut ahli sejarah As Samhudi dan Ibnu Abi Laila, tempat solat Rasulullah terletak dibahagian timur tiang yang rosak dan barisan tiang baru telah diletakkan berhampiran Mihrab itu.

MASJID JUM’AH Masjid ini terletak 700 meter sebelah utara dari masjid Quba’. Di lokasi ini pertama kali Rasulullah melakukan sholat Jum’at. Diriwayatkan, setelah empat hari Rasulullah tinggal di Quba, beliau melanjutkan perjalanannya kembali ke kota yastrib, bertepatan ketika itu hari Jum’at. Ketika sampai pada sebuah wadi di kampung Bani Salim ibnu Auf beliau mengajak semua pengikutnya untuk melaksanakan sholat Jum’at berjama’ah dan beliau sendiri yang mengimami dan itulah yang pertama sekali sholat Jum’at dalam islam yang terjadi pada tahun pertama hijrah.

MASJID QIBLATA’IN Masjid Qiblatain adalah masjid berkiblat dua, terletak disebelah barat laut Kota madinah berjarak 4 KM. Saat itu hari senen bulan Rajab tahun kedua Hijrah, tepatnya bulan ke tujuh belas sejak Rasulullah tinggal di madinah, beliau berkunjung ke kampung bani Salamah untuk suatu ta’ziyah. Tuan rumah sangat senang dengan kehadiran Rasulullah dan menyediakan makanan besar, serta memohon Rasulullah bersedia menerima hidangan yang disediakan. ketika waktu dluhur tiba, Rasulullah sholat dluhur berjama’ah ketika itu kiblatnya adalah masjidil Aqsa di Palestina, ketika shalat dapat dua raka’at turunlah wahyu Surat al Baqarah

ayat 144, yaitu “Sungguh Kami (sering) melihnat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kamiakan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu kearah Masjidil haram.Dan di mana saja kamu berada palingkanlah mukamu ke arahnya.”. Setelah menerima wahyu tersebut, Nabi menghentikan sementara jama’ah shatlanya, kemudian mengajak makmumnya untuk meneruskan shalatnya dengan berganti arah kiblat menghadap ke Ka’bah di masjidil haram. Kemudian rumah tersebut oleh yang empunya dijadikan masjid dengan nama masjid Qioblatain. Bangunan ini sekarang menjadi salah satu bangunan mesjid yang mewah.

MASJID SAHABAT Disekitar Masjid Nabawi terdapat beberapa masjid yang diberi nama sahabat utama nabi, yaitu masjid Abu Bakar, masjid Umar, Masjid ali bin Abi thalib dan lainnya. masjid-masjid ini dulunya merupakan tempat tinggal yang kemudian diabadikan ssebagai bangunan masjid. Masjid Abubakar, dengan bangunan yang sederhana hanya memiliki satu kubah dan satu menara. Ruangan dalam masjid ini berbentuk lingkaran sesuai dengan bangunan kubah. Sehingga bagi orang didalam masjid bagaikan shalat dibawah tangkuban setengah bola raksasa. masjid Umar, dengan bangunan yang agak megah juga memiliki satu kubah dan satu menara. Kubah di masjid ini dihiasi ornamen yang mirip dipasang di masjid nabawi. Masjid

Ali, bangunannnya agak merah, memiliki tujuh buah kubah dan satu menara

atau Masjid Tujuh disebut juga dengan masjid Khamsah atau Masjid Lima adalah sekelompok masjid yangjumlahnya ada tujuhbuah yang terletak dikaki bukit Sa;a yaitu 3 KM disebelah barat laut Masjid nabawi. Ketika perang khandaq (parit) yakni pada bulan Syawal tahun kelima Hijrah, Rasulullah serta kau m muslimin atas saran Salaman Al Farisi membuat benteng pertahanan berupa parit (Khandaq) dengan tujuh pos pertahanan, yang dijaga sahabat-sahabat. Rasulullah . Untuk mengenai peristiwa tersebut, di bekas pos pertahanan tersebut didirikan masjid dengan nama sahabat nabi yang menempatipos pertahanan tersebut. Kini, hanya tinggal lima pos pertahanan dan dilokasi sekitar masjid-masjid ini sangat indah sekali karena berupa taman yang penuh dengan pepohonan dan bunga.

Masjid Sab’ah

BIR’ALI Bir ‘Ali adalah suatu tempat 12 KM selatan kota Madinah. Tempat ini merupakah miqot bagi penduduk Madinah atau yang datang dari arah/ lewat madinah. Bir ‘ali disebut juga dengan Abar ‘Ali atau Dzur Hulaifah/ Bir ‘ali / Dzul Hulaifah merupakan salah satu tempat miqot disandarkan pada hadits Nabi

salah satu tempat miqot disandarkan pada hadits Nabi  MASJID DISEKITAR MASJID AL-FATH (MASJID TUJUH)

MASJID DISEKITAR MASJID AL-FATH (MASJID TUJUH) Disekitar pinggir Jabal Sila’terdapat lagi beberapa buah masjid yang dikenali sebagai Masjid Tujuh. Namun begitu bilangannya yang masih kekal sehingga hari ini hanyalah empat buah saja. 1) Masjid Salman Al-Farisi 2) Masjid Umar Bin Al-Khattab 3) Masjid Ali Bin Abi Talib

4) Masjid Fatimah Zahra’ 5) Masjid Abu Bakar Al-Siddiq (Baru Saja Diruntuhkan) Menurut sejarah tempat asal kawasan masjid ini adalah merupakan tempat perkemahan tentera Islam semasa peperangan Ahzab

MENGENAL MASJID AL HARAM

Sejarah Pembangunan Ka'bah dan Masjid Al Haram Bicara kota Makkah tidak lepas dari dua tempat suci nan istimewa yaitu Ka'bah dan Masjid al-Haram. Tidaklah lengkap bicara sejarah kota Makkah tanpa bicara sejarah pembangunan Ka'bah dan Masjid al-Haram.

Pembangunan Ka'bah

Ka’bah merupakan tempat tertinggi dan terhormat bagi kaum muslimin baik kaya atau miskin, pribadi atau masyarakat dan dimana saja mereka berada sehingga sepanjang sejarah Islam ka’bah inni terpelihara kesucciaan dan kehormataannya dan tetap menjadi pusat perhatian para pelayannya. Adapun riwayat-riwayat dalam buku- buku sejarah dan siroh yang mengungkap tentang pembangunan dan pemeliharaan ka’bah walaupun sebagian riwayat-riwayat tersebut tidak otentik ditinjau dari sudut periwayatannya telah memberikan penjelasan bahwa telah terjadi beberapa kali pembangunan dan pendirian ka’bah, yaitu:

1. Pembangunan dan pemeliharaan para malaikat sebagaimana yang diriwayatkan Al Azrooqy. (Lihat: Akhbaru Makkah 1/2 dan lihat As Suhaily dalam Raudhul Unfi 1/222-223 dan Ibnu Hajar dalam Fathul Baari13/144 serta Al Baihaqy dalam Ad Dalail 2/44)

2. Pembangunan dan pemeliharaan adam sebagaimana yang diriwayatkan Al Baihaqy dan yang lainnya. (lihat Fathul Bari 13/144)

3. Pembangunan dan pemeliharaan anak-anak adam sebagaimana yang diriwayatkan Al Azrooqy dan yang lainnya dari Wahb bin Munabih,dan menurut As Suhaily yang membangun adalah Syiets bin Adam. (Lihat:

Akhbar Makah 1/8, Assiroh Asy Syamiyah 1/172 dan Raudhu Unfi 1/221Bidayah wan Nihayah 1/178)

4. Pembangunan dan pemeliharaan Ibrohim dan anaknya Ismail. Hal ini dijelaskan AlQur’an dan hadits-hadits bahkan riwayat-riwayat tersebut menjelaskan bahwa Ibrohim dan Ismail lah orang pertama yang mendirikan dan membangun ka’bah walaupun tempat ka’bah yaitu satu dataran yang tinggi lagi menonjol dari sekitarnya telah dikenal para malaikat dan para Nabi sebelum Ibrohim dan dia adalah tempat yang ditinggikan dan diagungkan dari zaman terdahulu sampai datangnya Ibrohim dan membangun pondasi serta bangunannya bersama anaknya Ismail. Adapun riwayat-riwayat yang menjelaskan bahwa ka’bah telah diabngun sebelumnya hampir semuanya mauquf kepada para shohabat atau tabi’in dan hanya diriwayatkan oleh ahli sejarah dan siroh seperti Al Azroqy, Al Fakihany dan sebagian ahli tafsir dan ahli hadits yang mereka itu tidak berpegang teguh dalam meriwayatkannya syarat-syarat keotentikannya,sehingga berkata Ibnu Katsir setelah memastikan bahwa Ibrohim dan Ismail lah orang pertama yang membangun ka’bah:

”Dan tidak ada stupun khobar (riwayat) yang absah (otentik) dari Al Ma’shum (Nabi) yang menjelaskan baahwa ka’bah telah dibangun sebelum Al Kholil (Ibrohim)” . (Lihat: Bidayah wan Nihayah 1/178) Berkata Abu Syuhbah setelah merajihkan pendapat Ibnu Katsir rahimahullah :

”Tidaklah apa yang telah kami rajihkan dan ambil sebagai pendapat kami bertentangan dengan riwayat yang mengatakan bahwa tidak ada seorang Nabi pun kecuali telah berhaji ke baitullah (Ka’bah)” dan riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dengan sanad kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

“Rasulullah telah berhaji, ketika sampai di wadi asfaan,beliau berkata:”Wahai abu bakar, wadi apa ini? Berkata Abu Bakar:”Ini adalah wadi asfaan kemudian beliua berkata:”Sungguh telah melewati wadi ini nuh, hud dan ibrahim diatas onta-onta merah mereka yang dikendalikan dengan tali kekang dan sarung- sarung mereka dari Aba’ dan selendang-selendang mereka dari nimaar berhaji ke Al Bait Al Atiiq (ka’bah)”.

Dan apa yang telah dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dengan sanad kepada Ibnu Abbas beliau berkata:

“Ketika Rasulullah melewati wadi asfaan saat beliau berhaji beliau berkata:”Wahai abu bakar wadi apa ini? Berkata Abu Bakar: ”Ini adalah wadi asfaan” kemudian beliau berkata: ”Sungguh telah melewati wadi ini hud dan soleh diatas onta-onta merah mereka yang dikendalikan dengan tali kekang dan sarung-sarung mereka dari Aba’ dan selendang-selendang mereka dari nimaar bertalbiah dan berhaji ke Al Bait Al Atiiq (ka’bah)” Karena maksudnya adalah berhaji ketempat nya walaupun belum ada disana bangunannya.

5. Pembangunan bangsa amaaliq dan jurhum sebagaimana yang dinukil oleh As Syami dari riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ishaq bin Rahuyah dalam musnadnya, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Al Baihaqy dalam Ad Dalail dari Ali. (lihat Subul Huda wa Rasyad 1/172) Berkata As Suhaily: ”Dan disebutkan bahwa ka’bah dibangun dizaman jurhum sekali atau dua kali karena banjir yang telah menghancurkan tembaok ka’bah,dan itu bukan termasuk pembangunanya akan tetapi itu hanyalah perbaikan (pemugaran) dari sesuatu yang ada” (Lihat: Raudhu Unfi 1/222)

6. Pembangunan Qushay bin Kilaab, berkata Aas Saamy: ”Hal itu dinukil olehAz Zubair bin Bakaar dalam kitab An Nasab dan ditegaskan hal itu oleh Abu Ishaaq Al Mawardy dalam Al Ahkaam As Sulthoniyah”. (Lihat: Subul huda war rosyad 1/192)

7. Pembangunan bangsa Qurays dan tentang hal ini akan dijelaskan secara khusus kemudian.

8. Pembangunan Abdullah bin Az Zubair, sebagaimana diriwayatkan oleh Syaeikhon. (Lihat: Subul huda war rosyad 1/192)

9. Ketika Ibnu Az Zubair menetapkan rencana pembangunan kembali ka’bah yang sesuai dengan asas dan bentuk yang telah dibangun Ibrohim dan Ismail sebelum adanya perubahan dari kaum Quraisy, maka beliau sampaikan kepada kaum muslimin yang akhirnya disetujui dan kaum muslimin langsung ikut serta dalam menghancurkan bangunan ka’bah yang ada sampai rata dengan tanah lalu mereka mencari asas pondasi bangunan ka’bah yang dibangun oleh ibrohim setelah menemuinya maka mereka menegakkan tiang-tiang disekitarnya dan menutupinya dengan penutup dan mulailah mereka membangun dan meninggikan bangunan ka’bah bersama-sama serta menambah tiga hasta yang telah dikurangi kaum quraisy dan menambah tinggi ka’bah sepuluh hasta lalu membuat dua pintu dari arah timur dan barat satu untuk masuk dan yang lain untuk keluar. Hal itu sesuai dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Syaikhan ( Bukhari dan Muslim), yang berbunyi:

Wahai Aisyah kalau bukan karena kaummu baru lepas dari kejahiliyahan sungguh aku perintahkan untuk membangun ka’bah lalu dihancurkan dan aku masukkan padanya apa yang telah dikeluarkan darinya dan aku akan rendahkan (tempelkan pintunya) dengan tanah serta aku buatkan pintu timur dan barat dan aku sesuaikan dengan asas pondasi Ibrohim.

Kemudian Al Azraqy dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Ibrohim membangun ka’bah dengan tinggi 9 hasta, panjang 32 hasta dan lebar 22 hasta tanpa atap penutup.sedang As Suhaily mengisahkan bahwa tinggi ka’bah adalah 9 hasta dari zaman Ismail, lalu ketika dibangun quraisy sebelum islam ditambah 9 hasta, maka menjadi 18 hasta lalu mereka meninggikan pintunya dari tanah sehingga tidak naik kecuali dengan tangga, kemudian ketikaa dibangun oleh Ibnu Az Zubair maka dia menambah 9 hasta sehingga menjadi 27 hasta dan ini masih sampai sekarang. (Lihat: Tarikh Makkah 1/64, dan Raudhul Unfi 1/221)

10. Pembangunan Al Hajaaj bin Yusuf Ats Tsaqafy atas perintah Kholifah Abdul Malik bin Marwan Al Umawy, sebagimana diriwayatkan oleh Imam Muslim (2/972/H 1333/402) hal itu terjadi karena keraguan Abdul Malik terhadap pendengaran Abdullah bin Az Zubaair dari Aisyah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

11. Kalau bukan karena kaummu yang baru dari kejahiliyahan atau berkata ke kufuraan sungguh aku akan menghancurkannya (Ka’bah) dan menjadikan untuknya pintu dan aku tempelkan pintunya ketanah serta aku masukkah padanya hijir ismail. Kemudian Al Haarits bin abdullah bin Abi Robi’ah menguatkan dan membenarkan pendengaran Abdullah bin Az Zubair dihadapan Abdul Malik,maka kemuidian beliau menyesal akan penghancuran bangunan

Ka’bah yang telah dibangun Abdullah bin Az Zubair dan pembangunannya kembali sebagaimana yang ada sebelumnya. (Muslim 2/972/H1333/403) Demikian juga diriwayatkan bahwa Kholifah Harun Ar Rosyid telah berencana untuk menghancurkan ka’bah dan membangunnya kembali sebagaimana bangunan Abdullah bin Az Zubair , akan tetapi Imam Malik bin Anas berkata kepadanya: ”Aku bersumpah demi Allah wahai amirul mukminin janganlah kamu menjadikan ka’bah ini sebagai permainan para raja setelah engkau sehingga tidaklah seorang dari mereka yang ingin merubahnya kecuali dia akan merubahnya dan kemudian hilanglah kewibawaannya dari hati-hati kaum muslimin”. Lalu beliau menggagalkan rencana tersebut,sehingga ka’bah masih seperti itu sampai sekarang ini.

Pembangunan Masjid al-Haram Masjid Al Haram adalah masjid yang ada padanya ka’bah, dahulu masjid ini tidak bertembok akan tetapi dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk dari semua arah dan perluasan yang pertama terjadi pada masjid ini setelah datangnya islam yaitu pada masa pemerintahan Umar bin Al Khothob radhiyallahu 'anhu ketika beliau melihat bahwa masjid tidak bisa menampung para jamaah haji dan orang yang berziarah lalu beliau membeli rumah-rumah yang ada disekitarnya untuk perluasan dan mendirikan tembok atau dinding disekeliling ka’bah setinggi manusia. (lihat Tarikh Makkah 2/28-29)

Dan pada masa pemerintahan Utsman terjadi lagi perluasan demikian juga pada masa Abdullah bin Az Zubair, lalu pada masa pemerintahan bani Umayah,Walid bin Abdil Malik menambah sebidang tanah untuk masjid dan merenovasi dengan membangunnya melengkung dan menghiasinya dengan kepingan-kepingan batu dan didukung dengan tonggak-tonggak dari marmer yang dibawa dari mesir dan syiria.kemudian semasa pemerintahan bani Abassiyah,khalifah Abu Ja’far Al Manshur menambah sebidang tanah lagi untuk masjid dan membangun serambi bundar, dan ketika kholifah Al Mahdy melaksanakan haji tahun 776 H, beliau membeli rumah-rumah yang berada disekitar masjid dan tempat sa’i (mas’a) dan meratakan rumah-rumah tersebut dan menambahkannya kedalam masjid sehingga luas masjid menjadi 1200.000 hasta persegi kemudian pada masa kholifah Al Mu’tadid billah dan Al Mu’tadir billah pun terjadi perluasan akan teytapi perluasan yang cukup besar terjadi pada tahun 306 H/918 M dan setelah itutidak terjadi perluasan sampai pada pemerintahan kerajaan Saudi Arabiyah akan tetapi terjadi renovasi dan restorasi diantara masa-masa tersebut. (lihat dua kota suci, terbitan kementerian penerangan informasi luar negeri KSA, hal.10)

Pemerintah Saudi Arabiyah sebagaimana pemerintah yang lainnya yang berkuasa di makkah telah memberikan

perhatian yang sangat baik termasuk masjid haram sehingga pada masa raja Saud bin Abdul Aziz ditetapkan pelaksanaan perluasan besar-besaran atas masjid Al Haram yang dilaksanakan mulai dari tahun 1375 H/1955 M dan dibagi menjadi beberapa tahap:

1. Tahap pertama dimulai tahun 1375 H/1955 M yang mencakup beberapa realisasi pembangunan yang terpenting diantaranya:

Membongkar fasilitas tempat tinggal dan perdagangan yang berlokasi didekat tempat sa’I (mas’a) dan bangunan-bangunan yang terleetak sebelah timur Marwa serta membangun jalan baru yang membentangsepanjang shafa dan marwa ke Qarwa,Qarara dan Syamiyah.

Membangun tempat sa’i dua tingkat dengan panjang dari dalam 394,5 meter dan lebar 20 meter untuk mengakomodasi orang yang sholat dalam jumlah yang lebih banyak dengan tinggi lantai dasar 12 meter dan lantai atas 9 meter.

Membangun ditengah-tengah mas’a sebuah pagar pembatas panjang hingga menjadi dua bagian.salah satunya untuk pelaksanaan sa’i dari shafa ke marwa dan yang lain dari marwa ke shofa,guna menghindari tabrakan ketika pelaksanaan sa’i.

Membuat 16 pintu yang menghadap ke timur mas’a.dua tempat masuk untuk lantai atas: satu untuk

shafa dan satu untuk marwa. Dari dalam telah dibangun dua jenjang masuk dari dalam masjid, satu dekat pintu (bab) al-shofa dan yang lain dekat pintu (bab) al-salam dan dibawah tanah dibangun ruangan setinggi 3,5 meter

.Membangun saluran khusus untuk mencegah banjir.

2. Tahap kedua dimulai tahun 1379 H/1959 M, diantaranya:

Membangun fondasi serambi bagian timur dan dindingnya dilapisi marmer,sementara kubah dan

plafon dengan batu-batu pahatan.

Menyelesaikan bagian yang belum selesai pada pembuatan saluran air pencegah banjir.

Membangun gang melingkar diatas shofa yang sesuai dengan tingkat atas serambi bagian timur mas’a dan antara serambi dan mas’a dihubungkan dengan plafon bundar yang berbentuk kubah.gang

ini dikhususkan untuk mereka yang masuk melalui pintu (bab) al-Shofa yang baru menuju ke kedua lantai.

3. Tahap ketiga dimulai pada tahun 1318 H/1981 M diantaranya adalah:

Membangun bagian kedua serambi barat daya dan menyelesaikan lantai bawahnya.

Membangun serambi utama didaerah yang membentang dari pintu (bab) Al-Umroh ke pintu (bab) Al-Salam.

Menyelesaikan pembangunan bawah tanah yang dibangun di bawah masjid al-haram, kecuali mas’a.

Setelah mas’a dimasukkan ke masjid al-haram, luas lantai atas dan lantai bawah masing-masing 8.000 m2 lima halaman masjid untuk umum juga telah dibangun sekitar masjid yang sekarang mempunyaoi 64 pintu, serta sejumlah terowongan dari semua jurusan yang dilengkapi dengan toilet dan tempat-tempat berwudhu.areal masjid haram setelah diperluas menjadi 193.000m2. sebelumnya seluas 29.127 m2, yaitu bertambah seluas 131.041 m2.ini membuat masjid mempu menampung 400.000 orang yang sholat. Perluasan ini meliputi restorasi ka’bah, areal tempat tawaf (al-mathof) dan merenovasi Maqom Ibrohim. Kemudian pada pemerintahan raja Fahd bin Abdul Aziz terdapat perluasan dan perbaikan arsitektur masjid haram termasuk menggabungkan bagian baru kepada masjid yang sekarang dari arah barat diareal pasar kecil antara pintu (bab) al-umroh dengan pintu (bab) al-malik. Areal perluasan bangunan ini seluas 57.000 m2 yang terdiri dari lantai bawah tanah, lantai dasar dan lantai satu. Areal ini dapat menampung 190.000 orang sholat.

Proyek ini termasuk menyelesaikan halaman-halaman luar yang terdiri dari halaman yang tertinggal dekat pasar kecil dan halaman yang berlokasi sebelah timur mas’a dengan areal seluas 59.000 m2. Areal ini dapat mengakomodasikan 130.000 orang sholat. Maka areal masjid setelah perluasan sekarang, atap dan halaman seluas 328.000 m2 yang dapat mengakomodasikan 730.000 orang shalat.

Perluasan bangunan ini memiliki satu pintu masuk utama dan 18 pintu biasa. Disamping itu, bangunan yang yang telah ada memiliki 3 pintu masuk utama dan 27 pintu biasa. Dalam merancang bangunan perluasan ini adalah dengan membangun dua pintu masuk untuk ruang bawah tanah di samping 4 pintu masuk yang telah ada. Bangunan perluasan ini juga mempunyai dua menara setinggi 89 meter yang didisain arsitektur dan materialnya sama dengan tujuh menara sebelumnya.Untuk fasilitas jalan masuk orang-orang sholat ke atap bangunan perluasan pada musim-musim tertentu, telah dibangun 2 eskalator, satu terletak sebelah utara dan yang lain sebelah selatan dengan areal masing-masing 375 m2. Kedua bangunan ini mempunyai 2 set eskalator yang masing-masing berkapasitas 15.000 orang per jam. Ini disamping dua set eskalator dalam bangunan itu yang masing-masing berada dekat dengan pintu masuk utama. Eskalator-eskalator ini ditambah dengan 8 buah tangga dibangun untuk mempermudah gerakan jamaah haji dan orang sholat. Maka masjid haram dan perluasan bangunannya telah memiliki tujuh eskalator, tersebar diseluruh penjuru masjid guna melayani pengunjung lantai pertama. Setiap lantai bangunan memiliki 492 tiang yang semuanya dilapisi dengan marmar dengan tinggi 4,3 meter untuk lantai dasar dan 4,7 meter untuk lantai pertama. Dasar tiang-tiang berbentuk segi enam. Bagian muka bangunan perluasan, tinggi 20,96 meter dihiasi dengan prasasti Islami terbuat dari marmer dan batu-batu buatan. Masjid Al-Haram sekarang terdiri dari 3 lantai, lantai bawah tanah tingginya 4 meter, lantai dasar dan lantai satu masing-masing setinggi 10 meter. Atap perluasan masjid semuanya dilantai dengan marmer hingga dapat dipergunakan untuk sholat.

Tiga kubah bagi perluasan masjid itu berlokasi di tengah-tengah sejajar dengan pintu masuk utama, tingginya 13 meter, dan sekitarnya dibuat jendela-jendela celah. Bentuk luar kubah-kubah ini sama dengan kubah-kubah yang telah ada. Perluasan yang dilakukan oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz terus dilakukan dengan memperluas masjid dengan pengembangan horisontal dari lantai-latai yang sudah ada: ruang bawah tanah, lantai dasar, lantai satu dan atap. Ruangan awah tanah semuanya terletak dibawah permukaan tanah secara mekanis telah diperlengkapi dengan ventilasi udara . Sementara itu lantai dasar dan lantai satu berada diatas permukaan tanah. Ventilasi udaranya dibuat alami melalui jendela yang saling berlawanan