Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MATA KULIAH ILMU TAFSIR MAKALAH dan PRESENTASI

FIQIH

Pro Kontra Membaca Bismillah Dalam Sholat

TUGAS MATA KULIAH ILMU TAFSIR MAKALAH dan PRESENTASI “ FIQIH ” Pro Kontra Membaca Bismillah Dalam

Disusun Oleh :

Nur Hayati Alfia Nur Halima Nurotul Aini Umrotun Moh. Samin

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH

AL IBROHIMY

TANJUNGBUMI BANGKALAN

2012

1

DAFTAR ISI

Halaman sampul ................................................................................................................. Daftar isi ............................................................................................................................. Kata pengantar ....................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................

  • 1.1. Latar Belakang ......................................................................................................

  • 1.2. Ruang lingkup ......................................................................................................

  • 1.3. Tujuan pembahasan ..............................................................................................

  • 1.4. Manfaat ................................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................

  • 2.1. Lafadz Basmalah ..................................................................................................

  • 2.2. Pendapat Para Imam Madzhab .............................................................................

  • 2.3. Pembagian Basmalah dalam sholat .....................................................................

  • 2.4. Kadar sholat .........................................................................................................

BAB III PENUTUP .........................................................................................................

  • 4.1. Kesimpulan ...........................................................................................................

  • 4.2. Saran .....................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................

2

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat-Nya panulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah Fiqih yang berjudul “Pro Kontra Membaca Basmalah dalam sholat”. Penulisan makalah ini adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas Mata Kuliah“ Fiqih” STITAL Tanjungbumi.

Dalam makalah ini kami membahas tentang Pro Kontra Membaca Basmalah dalam sholat, dengan adanya makalah ini pula diharapkan para mahasiswa dapat mengetahui Terjadinya Pro Kontra Membaca Basmalah dalam sholat. Dan dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pembaca, terutama dari Desen Pengampu, sangat diharapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dalam penyusunan makalah ini dan penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini bernilai ibadah. Amin Yaa Rabbal Alamin.

Tanjungbumi, 4 Desember 2012

Penulis

3

  • A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Masalah membaca Basmalah dalam fatihah shalat merupakan salah satu masalah besar dalam agama Islam karena menyangkut sah atau tidaknya shalat. Bagaimanakah hukum membaca basmalah dalam surat al-Fatihah ketika shalat? Dan kalau wajib, apakah harus dikeraskan bacaannya? Membaca Basmalah merupakan ibadah yang paling besar sesudah tauhid, demikian dikatakan oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu juz III, hal.334.

  • B. Ruang Lingkup Pembahasan Agar pembahasan didalam makalah kami mudah dipahami, maka kami membatasi pembahasan dalam makalah kami, yaitu :

    • 1. Sekilas tentang lafadz basmallah

    • 2. Bagaimana pendapat para imam madzhab tentang bacaan basmallah

  • C. Tujuan Pembahasan

    • 1. Menjelaskan tentang lafadz basmallah

    • 2. Untuk menjelaskan berbagai pendapat para imam madzhab tentang bacaan basmallah.

  • D. Manfaat Kita dapat mengetahui pendapat para imam madzhab mengenai bacaan basmallah dalam surat.

  • 4

    • A. Lafadz Basmallah

    BAB II PEMBAHASAN

    Tidak berbeda dengan pendapat ulama dalam hal Basmalah, bahwa basmalah merupakan firman Allah swt. Yang tercantum dalam al-Qur`an, paling tidak pada

    Q.S An-Naml [27]:30.          Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

    Tidak seorang ulamapun mengingkari pentingnya mengucapkan Basmalah pada awal membaca surah, tidak terkecuali termasuk ketika seseorang akan melakukan segala kegiatan, baik yang berhubungan dengan ibadah atau yang lainnya, seperti ketika akan melakukan kegiatan lainnya, yang tentunya bersifat positif. Walaupun para ulama mengakui bahwa hadits ini tidak ditemukan dalam keenam buku hadits standar, tetapi mereka berbeda pendapat menyangkut basmalah yang tercantum dalam surah al-Fatihah. Apakah Basmalah termasuk bagian dari surah al-Fatihah atau tidak.

    • B. Pendapat Para Imam Madzhab Tentang Hukum Membaca Basmallah

      • 1. Menurut Madzhab Maliki Bahwa basmalah bukan merupakan satu ayat dari surat al-Fatihah bahkan bukan merupakan satu ayat dari al-Quran. Hal ini berdasarkan hadits nabi yang diriwayatkan „Aisyah Ra. (Diriwayatkan oleh Dar al-Quthni dalam kitab Tafsir Ayatul Ahkam, juz I, hal. 35) Berdasarkan keterangan tersebut, maka tidak wajib membaca basmalah pada waktu fatihahnya shalat baik sirri atau keras. Imam Malik berpendapat bahwa Basmalah bukan bagian dari al-Fatihah, dan karena itu Basmalah tidak dibaca ketika membaca al-Fatihah dalam shalat. Beliau beralasan antara lain karena al-Quran bersifat mutawwatir, dalam arti periwayatannya disampaikan oleh orang banyak yang jumlahnya meyakinkan. Sedang riwayat tentang Basmalah dalam al-Fatihah tidak demikian. Buktinya

    5

    adalah kenyataan tentang terjadinya perbedaan pendapat. Disamping itu menurut penganut madzhab Malik, tidak ada satu riwayatpun yang bernilai shahih yang dapat dijadikan dalil bahwa basmalah pada al-Fatihah adalah bagian dari al- Qur`an. Bahkan justru sebaliknya, sekian banyak riwayat yang membuktikan bahwa Basmalah bukan bagian darinya. Salah satu diantaranya adalah hadits yang membagi al-Fatihah menjadi dua bagian, satu bagian bagi Allah dimulai dengan alhamdullilahi rabbil`alamin (tanpa menyebut Bismillahirrahmanirrahim) dan satu bagiannya untuk manusia yang dimulai dari waiyyaka nasta`in sampai dengan akhir surah ini. Alasan lain, dan inilah yang terpenting dan terkuat, adalah pengamatan Imam Malik terhadap pengamalan penduduk madinah. Beliau menemukan bahwa imam atau masyarakat umum tidak membaca Basmalah ketika membaca surah al-Fatihah.

    Berbeda dengan Imam Syafi`i yang menilai Basmalah sebagai awal surah al- Fatihah, dan karena shalat tidak sah tanpa membaca al-Fatihah, maka Basmalah harus dibaca ketika membaca surah al-Fatihah. Alasannya cukup banyak. Fakhruddin ar-Razi menguraikan tidak kurang dari lima belas dalil. Antara lain riwayat Abu Ghurairah yang menyatakan bahwa Nabi saw, bersabda, Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat, awalannya adalah Bismilllahirrahmanirrahim” (HR. ath-Thabrani dan Ibn Mardawih). Demikian juga informasi istri Nabi saw. Ummu Salamah yang menyatakan bahwa Rasul saw. Membaca al-Fatihah termausk Basmalah (HR. Abu Daud Ahmad Ibn Hanbal dan al-Baihaqi). Imam Bukhari juga meriwayatkan bahwa sahabat Nabi saw. Membaca al-Qur`an. Anas menjawab, beliau memanjangkan bismillah, ar-rahman, dan ar-rahim. Disamping itu, telah menjadi ijma` (kesepakatan) bahwa seluruh umat islam mengakui segala yang tercantum dalam mushaf sebagai ayat al-Qur`an. Itu

    sebabnya ulama sepakat tidak menganggap kata “Amin” yang dibaca pada akhir

    surah al-Fatihah sebagai ayat al-Qur`an. Sedangkan Basmalah, tidak ada seorangpun yang menolak pencantumannya dalam Mushaf. Imam Abu Hanifah mengambil jalan tengah setelah menggabungkan dan mengkompromikan dalil-dalil diatas. Menurut beliau, Basmalah dibaca dalam shalat ketika membaca surah al-Fatihah, tetapi tidak dengan suara keras.

    6

    2.

    Madzhab Hanafi

    2. Madzhab Hanafi

    Membaca Basmalah dalam Fatihah sholat itu hukumnya wajib namun dengan

    suara pelan. Dalam riwayat lain bagi Ibnu Huzaimah : “Mereka membaca Bismillahir- rahmaanir-raahiim”membacanya dengan pelan”. (Subulus Salam I/333).

    • 3. Madzhab Hambali Membaca Basmallah dengan pelan dan tidak sunat untuk dikeraskan.

    • 4. Menurut Madzhab Syafi‟i Hukum membaca Basmalah dalam al-Fatihah ketika shalat adalah wajib, karena bacaan Basmalah itu salah satu ayat dari al-Fatihah yang menjadi rukun shalat itu sendiri.

           

    Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang 1 dan Al Quran yang agung. (QS. Al-Hijr: 87)

    Imam syafi’i berkata : Bismillahirrahmanirrahim adalah termasuk ayat tujuh dari fatihah, kalau ditinggalkan semuanya atau sebagiannya tidaklah cukup rakaat shalat yang tertinggal membaca bismillahirrahmanirrahim dalam rakaat itu. (al-Umm, juz I, hal. 107).

    Apabila Nabi membaca (surat al-Fatihah) dan menjadi imam manusia, maka Nabi memulai (bacaan surat al-Fatihah) dengan bacaan basmalah. (Diriwayatkan dari Dar al-Quthni dalam kitab al-Majmu‟, juz III, hal. 34).

    Dari Abu Hurairah ra, Nabi bersabda: Apabila kalian membaca surat al-Fatihah, maka bacalah basmalah. Sesungguhnya surat al-Fatihah adalah ummul qur‟an, ummul kitab dan sab‟ul matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang), sedangkan basmalah adalah termasuk satu ayat dari surat al-Fatihah. (Diriwayatkan oleh Dar al-Quthni dalam kitab Tafsir Ayatul Ahkam, juz I, hal. 34)

    1 Yang dimaksud tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang ialah surat Al-Faatihah yang terdiri dari tujuh ayat. sebagian ahli tafsir mengatakan tujuh surat-surat yang panjang Yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa', Al 'Araaf, Al An'aam dan Al- Anfaal atau At-Taubah.

    7

    Diceritakan dari Ibnu Abbas, Bahwasannya Rasulullah itu memulai shalat dengan bacaan basmalah. (Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dalam kitab Tafsir Ayatul Ahkam, juz I, hal. 47) Dari keterangan di atas Basmalah termasuk salah satu ayat dari surat al-Fatihah. Membaca surat al-Fatihah dalam shalat termasuk rukunnya shalat. Bagi yang ber‟itiqad kalau basmalah itu bukan salah satu ayat dari al-Fatihah maka shalatnya tidak sah dan batal. Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa basmalah merupakan sebagian surat dari al-Fatihah, sehingga harus dibaca manakala membaca al-Fatihah dalam shalat. Dan juga basmalah disunnahkan untuk dikeraskan sebagaimana sunnahnya mengeraskan al-Fatihah dalam shalat jahriyyah (shalat yang disunnahkan untuk mengeraskan suara). Seperti terlihat diatas, masing-masing pendapat mempunyai dalil dan alasan- alasannya. Masing-masing mengandalkan riwayat yang dinisbahkan oleh para sahabat Rasul kepada Rasul saw. Baik riwayat tersebut merupakan ucapan maupun pengamalan beliau.

    Para ulama berbeda pendapat apakah bismillahirrahmanirrahim itu bagian dari Al-Fatihah atau bukan Imam Ali Ash-Shabuni dalam Tafsir Ayatil Ahkam menjelaskan perbedaan pandangan ini :

    • 1. Madzhab Syafi‟y : bagian dari Al-Fatihah dan juga bagian dari semua surat surat yang lain

    • 2. Madzhab Maliky : bukan ayat dari Al-Fatihah ataupun dari surat surat yang lain di AlQuran

    • 3. Madzhab Hanafy : adalah ayat dari Al-Quran dan diturunkan terpisah dari tiap surat di Al-Quran dan juga bukan bagian dari Al-Fatihah

    • C. Pembagian Bismillah dalam sholat

      • 1. Kelompok Malik dan Al Auza‟iy tidak membacanya baik secara pelan pelan ataupun keras.

      • 2. Kelompok pengikut Ibnu Juroij dan Asy Syafi‟iy membacanya dengan keras.

    8

    3. Kelompok ketiga yang pertengahan adalah mayoritas dari para fuqoha ahlil

    hadits bersama dengan fuqoha ahlur ro‟yi, mereka membaca Basmalah dengan

    perlahan, sebagaimana dinukilkan dari mayoritas Shohabat.

    • D. Kadar / Ukuran Sholat Para fuqoha hadits memilih sholat Nabi shollallohu „alaihi wasallam yang beliau sering mengerjakannya. Itulah sholat yang pertengahan yang saling berdekatan, yang mana beliau mempersingkat berdiri dan duduknya, dan memanjangkan ruku‟ dan sujudnya, menyamakan ruku‟, sujud, dan I‟tidalnya

    هب همأأ دجو نم لمعأأ الم ففخأأف بيصمإ ءكاب عسمأأف ،اهليطأأ نأأ ديرأأ ناأأو ةلاصمإ فى لخد لأ

    نيإ

    “Sungguh aku masuk ke dalam sholat dan ingin memanjangkannya, lalu aku mendengar tangisan bayi maka akupun menyingkatnya karena aku tahu kegundahan ibunya karenanya.” Nabi shollallohu „alaihi wasallam terkadang memanjangkannya karena suatu sebab, sebagaimana membaca pada sholat Maghrib dengan surat yang terpanjang Di antara fuqoha ada juga yang tidak menganggap mustahab pemanjangan I‟tidal dari ruku‟ dan sujud. Dari mereka ada yang menganggapnya sebagai rukun yang singkat dibangun dari anggapan bahwasanya I‟tidal tadi itu disyariatkan sebagai

    penyerta saja dalam rangka sebagai pemisah dan bukan sebagai tujuan. Di antara mereka ada yang menyamakan antara dua rekaat yang pertama, ada juga yang

    menganggap mustahab bahwasanya imam tidak membaca tasbih dalam ruku‟ dan sujud lebih dari tiga tasbih. Ada juga pendapat-pendapat yang lain.” (“Majmu‟ul Fatawa”/22/hal. 405 dst).

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh juga berkata : “Alhamdulillahi robbil „alamin. Adapun hadits Anas tentang peniadaan jahr (baca basmalah dengan keras), maka hadits tadi jelas sekali dan tidak bisa dita‟wilkan seperti itu, karena

    diriwayatkan oleh Muslim dalam “Shohih” beliau, Anas berkata :

    “Aku sholat di belakang Nabi -shollallohu „alaihi wasallam-, Abu Bakr, Umar, dan Utsman, mereka selalu membuka sholatnya dengan Alhamdulillahirobbil

    „alamin.Mereka tidak menyebutkan bismillahirrohmanirrohim di awal bacaan atau di akhirnya.” (sudah lewat di awal kitab ini, HR. Muslim (399)).

    Peniadaan seperti ini tidak boleh dilakukan kecuali berdasarkan ilmu tentang hal itu.Tidak boleh ditiadakan hanya semata mata karena beliau tidak mendengarnya,

    9

    bersamaan dengan kemungkinan Nabi membacanya dengan keras tapi beliau tidak mendengarnya.

    Dan lafazh lain yang ada di “Shohih Muslim”:

    .يمحرمإ نحمرمإ الله مسبب لىصي لاق وأأ رهيج منهم ًإدحأأ عسمأأ لمف نثماعو رعمو ركب بيأأو بينمإ فلخ تيلص

    “Aku sholat di belakang Nabi -shollallohu „alaihi wasallam-, Abu Bakr, Umar, dan Utsman, tapi aku tidak mendengar seorangpun dari mereka membaca keras atau berkata: sholat dengan bismillahirrohmanirrohim.”

    Di sini beliau meniadakan pendengaran basmalah. Andaikata hadits Anas tadi tidak diriwayatkan kecuali dengan lafazh ini, tidak boleh dita‟wilkan bahwasanya Nabi shollallohu „alaihi wasallam membacanya dengan keras tapi tidak didengar oleh Anas, dari beberapa sisi:

    1) Bahwasanya Anas hanyalah meriwayatkan ini untuk menjelaskan pada mereka apa yang sering dikerjakan oleh Nabi shollallohu „alaihi wasallam, karena orang- orang tidaklah butuh untuk tahu apakah Anas mendengar ataukah tidak selain untuk menjadikan tidak mendengarnya beliau bacaan basmalah tadi sebagai dalil tentang tidak dikeraskannya basmalah.

    2) Lafazh seperti ini di dalam adat kebiasaan menjadi penunjuk tentang tidak

    adanya perkara yang tidak diketahui. Jika seseorang berkata: “Kami tidak mendengar” atau “kami tidak melihat” terhadap sesuatu yang biasanya bisa didengar atau dilihat, maka maksudnya dengan gaya ucapan tadi adalah:

    peniadaan wujud dari sesuatu tadi. Ungkapan ketidaktahuan seperti tadi merupakan dalil peniadaan wujud dari sesuatu tadi. 3) Anas itu selalu melayani Nabi shollallohu „alaihi wasallam sejak kedatangan beliau ke Madinah sampai beliau wafat (Kemudian beliau juga menyertai Abu Bakr, Umar dan Utsman, mengurusi berbagai urusan untuk Abu Bakr dan Umar, dan tidak mungkin bersamaan dengan panjangnya masa pemerintahan mereka, maka dengan ini jelaslah bahwasanya barangsiapa mengartikan hadits tadi bahwasanya : “mereka membacanya dengan keras tapi Anaslah yang barangkali tidak mendengar”, maka yang demikian itu adalah penyelewengan makna hadits, bukan lagi ta‟wil, meskipun tidak diriwayatkan kecuali lafazh tadi. Maka lafazh yang ini lebih utama daripada riwayat tadi. Dan kedua riwayat ini meniadakan ta‟wil orang yang mena‟wilkan ucapannya : (هيملاعلا بر لله دمحلاب ةلاصلا نوحتتفي)

    10

    Maksud Anas adalah: Karena ucapan beliau:

    اهرخ أ فى فى لاو ةءإرق لوأأ فى يمحرمإ نحمرمإ الله مسب نوركذي لا ،ينلماعمإ بر لله دلحمبا نوحتتفي

    “Mereka selalu membuka sholat mereka dengan Alhamdulillahirobbil „alamin.Mereka tidak menyebutkan bismillahirrohmanirrohim di awal bacaan atau di akhirnya.”

    Ini adalah kalimat yang terang dan jelas maksud beliau adalah bahwasanya mereka itu selalu membuka sholat mereka dengan ayat Bismillahirrohmanirrohim, bukan dengan surat Al fatihah yang awalnya adalah Bismillahirrohmanirrohim, karena jika maksud Anas adalah surat Al Fatihah, pastilah kedua hadits beliau tadi akan bertolak belakang. Dan ini memang bukanlah perkara yang perlu ditanyakan

    هرخ أ لىإ ينلماعمإ بر لله دلحمبا ةءإرقمإو يربكتمبا ةلاصمإ حتتفي نكا بينمإ نأأ

    “Bahwasanya

    Nabi

    selalu

    memulai

    sholat

    dengan

    takbir

    dan

    bacaan

    Alhamdulillahirobbil alamin dan seterusnya.”

    Diriwayatkan juga: “Beliau memulai bacaan dengan Alhamdulillahirobbil „alamin, Arrohmanirrohim, Malikiyaumiddin.”(Riwayat ini terang sekali bahwasanya yang

    diinginkan dari kalimat : Alhadulillahirobbil „alamin adalah ayat, (bersamaan penjelasan ini semua, tidak ada di dalam hadits Anas peniadaan bacaan Basmalah secara pelan pelan, karena beliau juga meriwayatkan:

    ،يمحرمإ نحمرمإ الله مسبب نورهيج لا إونكاف

    11

    • A. Kesimpulan

    BAB III

    PENUTUP

    • 1. Pendapat Madzhab Maliki Tidak memakai Bismillah karena Bismillah bukan ayat dari Surat Al-Fatihah, alasanya adalah sabda Nabi : Dari Aisyah r.a : “Sesungguhnya Rosulullah memulai sholat dengan takbir dan membaca alhamdulillahi robbil‟alamin (Riwayat Muslim)

    • 2. Pendapat Madzhab Hanafi Membaca Basmalah dalam Fatihah sholat itu hukumnya wajib namun dengan suara pelan, alasanya adalah : Dalam riwayat lain bagi Ibnu Huzaimah : “Mereka membaca Bismillahir- rahmaanir-raahiim”membacanya dengan pelan”. (Subulus Salam I/333).

    • 3. Pendapat Madzhab Hambali\ Membaca Basmallah dengan pelan dan tidak sunat untuk dikeraskan.

    • 4. Pendapat Madzhab Syafi‟i Wajib membaca Basmallah, dengan alasan :

      • a. Abu Hurairoh r.a, Nabi Muhammad SAW: Sesungguhnya rosulluloh telah bersabda “Jika kalian membaca alhamdulillahi robbil‟alamin, maka bacalah bismillaahir rohmaanir rohiim. Sesungguhnya itu ummul Qur‟an, ummul kitab, dan sab‟ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang), dan bismillaahir rohmaanir rohiim termasuk salah satu ayat surat Al-Fatihah. (Riwayat Daruqutni dari Hadits Abdul Hamid bin Za‟far dari Nuh bin Abi Bilal dari Sa‟id bin Sa‟id Al-Maqburi dari Abu Hurairoh r.a)

      • b. Hadits Anas r.a, sesungguhnya ia ditanya tentang bacaan rosululloh SAW dalam sholat, jawab Anas “Sesungguhnya rosululloh memanjangkan bacaannya… seterusnya beliau membaca bismillaahir rohmaanir rohiim alhamdulillahir robbil‟alamiin maaliki yaumid diin…” (riwayat Bukhori)

    • B. Saran Bacaan basmallah dalam surat alfatihah itu memang banyak pendapat dari para Imam, ada yang membolehkan tapi ada juga yang melarangnya. Dan karena kita sudah mengetahui pendapat empat madzhab tentang bacaan basmallah dalam surat fatihah yang mana kesemuanya Imam Madzhab berpendapat bahwa membaca

    12

    bismillahir rahmanir rahim dalam surat fatihah adalah wajib walaupun ada yang dibaca keras ataupun pelan, yang jelas adalah wajib, kecuali Imam Maliki yang tidak mewajibkan membaca basmallah. Maka kita harus tegas dalam mengambil

    keputusan “kita akan membaca basmallah dalam surat fatihah ketika kita melaksanakan sholat, atau kita tidak.” Ingat sholat adalah Pokok Ibadah, jadi jangan

    sampai kita keliru dalam mengambil keputusan, dan akhirnya kritik dan saran yang membangun selalu saya harapkan untuk kesempurnaan makalah selanjutnya, akhirnya saya ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah sudi membantu untuk penyelesaian makalah ini.

    13

    DAFTAR PUSTAKA

    Al-Quran Al-Karim Ahmad. Muhammad. M. Mudzakir, Ulumul Hadits, Bandung, CV. Pustaka Setia. 2006. Fatawa Mu„ashirah (edisi terjemahan oleh al-Hamid al-Husaini dengan judul Fatwa- Fatwa Mutakhir; Pustaka Hidayah, Bandung 1996). Thahir bin shalih al-Jazari, Jawahirul Kalamiyah fi Idhohil aqidatul Islamiyah, al- Hidayah, Surabaya. http//www.google.com

    14