Anda di halaman 1dari 11

Edvard

Munch menghasilkan empat versi,

termasuk dua darinya adalah


menggunakan media cat

minyak,satu yang
menggunakan pastel dan

lagi satu ialah dalam


bentuk litograf.

Orang yang sedang menjerit Dua orang rakan Jalan kecil Pagar Matahari yang sedang tenggelam Kota Lidah-lidah api Langit yang berwarna merah darah

sebuah lukisan ekspresionis oleh Edvard Munch yang menjadi sumber

inspirasi bagi banyak pelukis lainnya


dalam aliran ekspresionisme.
Lukisan

ini dianggap oleh banyak

orang sebagai karyanya yang paling penting.

Sebahagian lagi mengatakan lukisan ini melambangkan manusia modern yang tercekam oleh serangan angst (kecemasan eksistensial, dengan cakrawala yang diilhami oleh senja yang merah) yang dilihat setelah letusan Gunung Krakatau pada

tahun1883.

Lanskap di belakang adalah Oslofjord, yang dilihat dari bukit Ekeberg.

Dalam sebuah catatan dalam buku hariannya, Munch menggambarkan ilhamnya untuk citra ini demikian: "Saya sedang berjalan di sebuah jalan kecil dengan dua orang teman matahari sedang tenggelam mendadak langit berubah menjadi merah darah Saya berhenti, merasa lelah, dan bersandar di pagar di atas fjord dan kota yang biru kehitaman tampak darah dan lidah-lidah api temanteman berjalan terus, dan saya berdiri di sana gemetar dan diliputi rasa cemas dan saya merasakan jeritan yang tidak henti-hentinya melintas di alam".

Sabrina Laurent (Mei 2005) menyimpulkan dari

deskripsi Munch tentang ilhamnya bahwa orang


di latar depan itu adalah si pelukis sendiri yang "sebetulnya tidak menjerit tetapi sekadar bereaksi dengan ngeri ketika mendengar jeritan Alam.

Dengan menutupi kedua telinganya dengan tangannya, Munch berusaha keras untuk tidak

mendengar jeritan ini, sehingga


menempatkannya dalam keadaan seolah-olah sedang mengalami serangan panik."

Posisi

di mana ia melukiskan dirinya sendiri

adalah reaksi refleks yang khas dari siapapun yang berjuang untuk menghindari suara yang menekan, entah suara yang sungguhan atau yang dibayang-bayangkan.

Sekian,terima kasih.