Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI ORAL II MANIFESTASI AGING PADA SALIVA DAN GIGI

Disusun oleh: Kelompok C-4 1. Bandaru Rahmatari 2. Angela Faustina K. 3. Monika Werdiningsih 4. Demitria Naranti S. 5. Dinar Arijati 6. Ermada Parselina K. 7. Ummu Aiman Zulfa 8. Bima Baskara 9. Afin Aslihatul Ummah 10. Hayumas Nurlita F.K. 021111122 021111123 021111124 021111125 021111126 021111127 021111128 021111129 021111130 021111131

DEPARTEMEN BIOLOGI ORAL-FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA Semester Genap 2013 / 2014

BAB I PENDAHULUAN

Penuaan atau aging dapat dilihat sebagai suatu penurunan fungsi biologik dari usia kronologik. Aging tidak dapat dihindari dan berjalan dengan kecepatan yang berbeda, tergantung dari susunan genetik seseorang, lingkungan dan gaya hidup, sehingga aging dapat terjadi lebih dini atau lambat bergantung pada kesehatan masing-masing individu (Fowler, 2003). Tubuh mengalami penuaan karena berbagai faktor. Tubuh dan selnya mengalami kerusakan karena sering digunakan dan disalahgunakan (overuse and abuse), berkurangnya produksi hormon, penurunan fungsi genetik, serta dampak dari radikal bebas. Proses penuaan ditandai dengan penurunan energi seluler yang menurunkan kemampuan sel untuk memperbaiki diri. Terjadi dua fenomena, yaitu penurunan fisiologik (kehilangan fungsi tubuh dan sistem organnya) dan peningkatan penyakit (Fowler, 2003). Proses penuaan terjadi dalam dua bentuk, yakni terlihat dan tidak terlihat. Perubahan yang dapat dilihat seperti rontoknya rambut serta perubahan warna dari hitam menjadi putih, kulit yang berkerut dan kendur, berkurangnya daya pendengaran dan penglihatan, berkurangnya stamina, dan lain-lain. Pada rongga mulut, penuaan dapat mempengaruhi kondisi saliva dan gigi. Penuaan dapat berdampak pada atropi kelenjar saliva sehingg berpengaruh pada jumlah yang dihasilkan. Pada gigi, proses penuaan yang terjadi adalah kalsifikasi fibrillar pada pulpa yang terjadi lebih dari 90% gigi tua, dan lesi umum yang berlaku pada gigi tua adalah kalsifikasi pada arteriol. Biasanya kalsifikasi yang terjadi lebih banyak pada bagian akar dari pulpa jika dibandingkan bagian koronal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Aging 2.1.1 Definisi Aging Aging atau penuaan bukan hanya proses menjadi tua. Aging atau penuaan adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan secara perlahan-lahan untuk memperbaiki atau mengganti diri dan mempertahankan struktur, serta fungsi normalnya. Akibatnya tubuh tidak dapat bertahan terhadap kerusakan atau memperbaiki kerusakan tersebut (Cunnningham, 2003). Aging atau penuaan secara praktis dapat dilihat sebagai suatu penurunan fungsi biologik dari usia kronologik. Aging tidak dapat dihindarkan dan berjalan dengan kecepatan berbeda, tergantung dari susunan genetik seseorang, lingkungan dan gaya hidup, sehingga aging dapat terjadi lebih dini atau lambat tergantung kesehatan masing-masing individu (Fowler, 2003). Secara biologi, proses penuaan meliputi perubahan fungsi dan struktur organ, pengembangan, panjang usia dan kematian (Stanley et al, 2006). Proses penuaan ini akan terjadi pada seluruh organ tubuh meliputi organ dalam tubuh, seperti jantung, paru-paru, ginjal, indung telur, otak, dan lain-lain, juga organ terluar dan terluas tubuh, yaitu kulit (Cunnningham, 2003; Yaar & Gilchrest, 2007). Perubahan yang terjadi di dalam tubuh dalam upaya berfungsi secara adekuat untuk dan melawan penyakit dilakukan mulai dari tingkat molekuler dan seluler dalam sistem organ utama.

2.1.2 Proses Aging Proses penuaan ditandai penurunan energi seluler yang menurunkan kemampuan sel untuk memperbaiki diri. Terjadi dua fenomena, yaitu penurunan fisiologik (kehilangan fungsi tubuh dan sistem organnya) dan peningkatan penyakit. Menurut Fowler (2003), aging adalah suatu penyakit dengan karakteristik yang terbagi menjadi 3 fase yaitu : 1. Fase subklinik (usia 25-35 tahun) Kebanyakan hormon mulai menurun : testosteron, growth hormone (GH), dan estrogen. Pembentukan radikal bebas, yang dapat merusak sel dan DNA mulai mempengaruhi

tubuh, seperti diet yang buruk, stress, polusi, paparan berlebihan radiasi ultraviolet dari matahari. Kerusakan ini biasanya tidak tampak dari luar. Individu akan tampak dan merasa normal tanpa tanda dan gejala dari aging atau penyakit. Bahkan, pada umumnya rentang usia ini dianggap usia muda dan normal. 2. Fase transisi (usia 35-45 tahun) Selama tahap ini kadar hormon menurun sampai 25 persen. Kehilangan massa otot yang mengakibatkan kehilangan kekuatan dan energi serta komposisi lemak tubuh yang meninggi. Keadaan ini menyebabkan resistensi insulin, meningkatnya resiko penyakit jantung, pembuluh darah, dan obesitas. Pada tahap ini mulai muncul gejala klinis, seperti penurunan ketajaman penglihatan- pendengaran, rambut putih mulai tumbuh, elastisitan dan pigmentasi kulit menurun, dorongan seksual dan bangkitan seksual menurun. Tergantung dari gaya hidup, radikal bebas merusak sel dengan cepat sehingga individu mulai merasa dan tampak tua. Radikal bebas mulai mempengaruhi ekspresi gen, yang menjadi penyebab dari banyak penyakit aging, termasuk kanker, arthritis, kehilangan daya ingat, penyakit arteri koronaria dan diabetes. 3. Fase Klinik (usia 45 tahun keatas) Orang mengalami penurunan hormon yang berlanjut, termasuk DHEA

(dehydroepiandrosterone), melatonin, GH, testosteron, estrogen, dan hormon tiroid. Terdapat juga kehilangan kemampuan penyerapan nutrisi, vitamin, dan mineral sehingga terjadi penurunan densitas tulang, kehilangan massa otot sekitar 1 kilogram setiap 3 tahun, peningkatan lemak tubuh dan berat badan. Penyakit kronis menjadi sangat jelas terlihat, akibat sistem organ yang mengalami kegagalan. Ketidakmampuan menjadi faktor utama untuk menikmati tahun emas dan seringkali adanya ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Prevalensi penyakit kronis akan meningkat secara dramatik sebagai akibat peningkatan usia (Fowler, 2007). 2.1.3 Faktor yang mempercepat aging Berbagai faktor yang dapat mempercepat proses penuaan (Wibowo, 2003), yaitu : 1. Faktor lingkungan a. Pencemaran lingkungan yang berwujud bahan-bahan polutan dan kimia sebagai hasil pembakaran pabrik, otomotif, dan rumah tangga) akan mempercepat penuaan.

b. Pencemaran lingkungan berwujud suara bising. Dari berbagai penelitian ternyata suara bising akan mampu meningkatkan kadar hormon prolaktin dan mampu menyebabkan apoptosis di berbagai jaringan tubuh. c. Kondisi lingkungan hidup kumuh serta kurangnya penyediaan air bersih akan meningkatkan pemakaian energi tubuh untuk meningkatkan kekebalan. d. Pemakaian obat-obat/jamu yang tidak terkontrol pemakaiannnya sehingga menyebabkan turunnya hormon tubuh secara langsung atau tidak langsung melalui mekanisme umpan balik (hormonal feedback mechanism). e. Sinar matahari secara langsung yang dapat mempercepat penuaan kulit dengan hilangnya elastisitas dan rusaknya kolagen kulit. 2) Faktor diet/makanan. Jumlah nutrisi yang cukup, jenis, dan kualitas makanan yang tidak menggunakan pengawet, pewarna, perasa dari bahan kimia terlarang. Zat beracun dalam makanan dapat menimbulkan kerusakan berbagai organ tubuh, antara lain organ hati. 3) Faktor genetik Genetik seseorang sangat ditentukan oleh genetik orang tuanya. Tetapi faktor genetik ternyata dapat berubah karena infeksi virus, radiasi, dan zat racun dalam makanan/minuman/kulit yang diserap oleh tubuh. 4) Faktor psikik Faktor stres ini ternyata mampu memacu proses apoptosis di berbagai organ/jaringan tubuh. 5) Faktor organik Secara umum, faktor organik adalah : rendahnya kebugaran/fitness, pola makan kurang sehat, penurunan GH dan IGF-I, penurunan testosteron, penurunan melatonin secara konstan setelah usia 30 tahun dan menyebabkan gangguan circandian clock (ritme harian) selanjutnya kulit dan rambut akan berkurang pigmentasinya dan terjadi pula gangguan tidur, peningkatan prolaktin yang sejalan dengan perubahan emosi dan stress, perubahan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH).

2.2 Mineral Saliva 2.2.1 Protein 2.2.1.1 Definisi dan struktur protein Protein adalah molekul makro yang mempunyai berat molekul antara lima ribu hingga beberapa juta. Protein terdiri atas rantai-rantai panjang asam amino yang terikat satu sama lain dalam ikatan peptida. Asam amino terdiri atas unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Ada 4 struktur protein antara lain ; 1) Struktur Primer Struktur primer adalah rantai polipeptida. Struktur primer protein di tentukan oleh ikatan kovalen antara residu asam amino yang berurutan yang membentuk ikatan peptida. 2) Struktur Sekunder Struktur sekunder ditentukan oleh bentuk rantai asam amino : lurus, lipatan, atau gulungan yang mempengaruhi sifat dan kemungkinan jumlah protein yang dapat dibentuk. 3) Struktur tersier Struktur tersier ditentukan oleh ikatan tambahan antara gugus R pada asam-asam amino yang memberi bentuk tiga dimensi sehingga membentuk struktur kompak dan padat suatu protein. 4) Struktur kuartener Struktur kuartener adaalah susunan kompleks yang terdiri dari dua rantai polipeptida atau lebih, yang setiap rantainya bersama dengan struktur primer, sekunder, tersier membentuk satu molekul protein yang besar dan aktif secara biologis.

2.2.2 Kalsium 2.2.2.1 Definisi dan fungsi kalsium Kalsium adalah sebuah elemen kimia dengan simbol Ca dan nomor atom 20. Kalsium merupakan salah satu logam alkali tanah, dan merupakan elemen terabaikan kelima terbanyak di bumi. Kalsium juga merupakan ion terabaikan kelima terbanyak di air laut dilihat dari segi molaritas dan massanya, setelah natrium, klorida, magnesium, dan sulfat. Kalsium adalah mineral yang amat penting bagi manusia, antara lain bagi metabolisme tubuh, penghubung antar saraf, kerja jantung, dan pergerakan otot dan membantu mineralisasi gigi serta mencegah perdarahan akar gigi. (Krieck, 2010) Kalsium merupakan regulator aktivitas kehidupan tubuh manusia. Kalsium mengemban fungsi fisiologis yang penting dalam tahap pertumbuhan manusia, mulai dari anak-anak sampai dewasa bahkan hingga usia tua, kalsium merupakan unsur penting yang tak boleh kurang untuk menjamin tubuh yang sehat dan usia panjang. Kalsium sangat penting bagi pembentukan tulang dan gigi pada anak-anak dan remaja yang sedang tumbuh, dan mempunyai fungsi penting untuk mempertahankan struktur normal sel, penyampaian pesan syaraf, fungsi penyusutan otot, dan denyut normal jantung, serta mempunyai pengaruh dalam mengendalikan pembekuan darah dan tekanan darah. Untuk memenuhi 1% kebutuhan ini, tubuh mengambilnya dari makanan yang dimakan atau dari tulang. Apabila makanan yang dimakan tidak dapat memenuhi kebutuhan, maka tubuh akan mengambilnya dari tulang. Sehingga tulang dapat dikatakan sebagai cadangan kalsium tubuh. Para peneliti juga menemukan bahwa laki-laki dan perempuan selama masa transisi remaja menuju dewasa awal hanya mengkonsumsi kalsium sekitar 153 miligram dan 194 miligram. Kadar konsumsi tersebut jelas jauh di bawah batas ideal konsumsi kalsium manusia yang ditetapkan World Health Organization yakni 1.300 miligram (usia 9-18 tahun), 1.000 miligram (usia 19-50 tahun), dan 1.200 miligram (usia di atas 51). (Republika, 2009)

2.2.3 Fosfat 2.2.3.1 Definisi dan Struktur Fosfat Mineral tubuh dengan kandungan kedua terbanyak adalah fosfat yaitu 1% dari berat badan dan memiliki fungsi yang universal, mulai dari fungsi aerobik sampai keterlibatannya pada sistem pencernaan. Kurang lebih 85% fosfat di dalam tubuh terdapat sebagai garam

kalsium fosfat, yaitu bagian dari kristal hidroksiapatit di dalam tulang dan gigi yang tidak dapat larut. Hidroksipatit memberi kekuatan dan kekakuan pada tulang. Fosfat di dalam tulang berada dalam perbandingan 1:2 dengan kalsium. Fosfat selebihnya terdapat di dalam semua sel tubuh, separuhnya di dalam otot dan di dalam cairan ekstraseluler. (Silverstone, 2006) Fosfat merupakan bagian dari asam nukleat DNA dan RNA yang terdapat dalam tiap inti sel dan sitoplasma tiap sel hidup. Sebagai fosfolipid, fosfat merupakan komponen struktural dinding sel. Sebagai fosfat organik, fosfat memegang peranan penting dalam reaksi yang berkaitan dengan penyimpanan atau pelepasan energi dalam bentuk Adenin Trifosfat (ATP (Maria MS, 2007) Hampir semua bentuk fosfat berikatan dengan oksigen. Tulang merupakan hampir 85% sumber fosfat serum. Sisanya berasal dari sel, dimana bagian ini ikut berperan dalam pembentukan enersi. Fosfat juga merupakan unsur penting dalam pembentukan tulang dan gigi. Berperan penting pula pada pembentukan enersi sel, membran sel dan DNA (asam dioksinukleat). Tubuh kita mendapat pasokan fosfat dari makanan dan mengeluarkannya melalui kencing dan tinja. (Jones, 1949). Kadar normal serum fosfat berkisar 2,5 dan 4,5 mg/dl dan dapat setinggi 6 mg/dl pada bayi dan anak-anak. (Maria MS, 2007) Fosfat adalah penting untuk saraf normal dan fungsi otot serta memberi struktur penyokong untuk tulang dan gigi. Kadar fosfat bervariasi sesuai usia, dengan pengecualiaan sedikit peningkatan pada fosfat wanita setelah menopause. Makanan yang mengandung glukosa, insulin atau gula menyebabkan penurunan sementara pada fosfat karena perpindahan fosfat serum ke dalam sel-sel. (Maria MS, 2007) Kira-kira 85% fosfat tubuh terdapat didalam tulang dan gigi, 14% adalah jaringan lunak, dan kurang dari 1% dalam cairan ekstraseluler (CES). Karena simpanan intraseluler besar, pada kondisi akut tertentu, fosfat dapat bergerak ke dalam atau ke luar sel, menyebabkan perubahan dramatik pada fosfat plasma. Secara kronis, peningkatan subtansial atau penurunan dapat terjadi dalam kadar fosfat intraseluler tanpa perubahan kadar bermakna. Jadi, kadar fosfat plasma tidak selalu menunjukan kadar intraselular (Silverstone, 2006)

Sedangkan definisi dan fungsi dari zat organik yang terdapat di dalam gigi adalah : a) Hidroksiapatit Hidroksiapatit adalah mineral utama yang terdapat di dalam gigi. Hidroksiapatit merupakan sebuah Crystaline Calcium Phosphate, yang terdiri dari kalsium (Ca) dan fosfat (P). Hidroksiapatit dapat terikat langsung secara langsung dengan jaringan dan dapat merangsang tumbuhnya jaringan. b) Kolagen Kandungan kolagen terdapat di sementum, sedangkan pada enamel tidak ada kolagen. Kandungan kolagen ddi dalam gigi tersebut menjaga kekuatan struktur gigi. Jika kekurangan kolagen baik secara patologis atau maupun fisiologis (aging), maka kekuatan struktur gigipun akan berkurang. Kandungan-kandungan zat didalam gigi tersebut berperan penting dalam struktur dan kekuatan gigi. Jika salah satu atau keseluruhan zat tersebut menglami defisiensi baik secara patologis maaupun fisiologis (aging), maka akan berpengaruh juga terhadap struktur, kepadatan, dan kekuatan tulang. (Leventouri, 2011)

2.3. Struktur gigi 2.3.1 Bagian struktur gigi a) Enamel Email adalah lapisan terluar yang melapisi mahkota gigi. Email berasal dari epitel (ektodermal) yang merupakan bahan terkeras pada tubuh manusia dan paling banyak mengandung kalsium. pakan jaringan semitranslusen, sehingga warna gigi bergantung kepada warna dentin di bawah email, ketebaan email, dan banyaknya stain pada email. Secara kimia, email merupakan Kristal yang terkalsifikasi dengan persentase bahan anorganik 96 % hydroxyapatite -Ca10(PO4)6.(OH) 4% bahanorganik (3-4% air) b) Dentine. Dentin merupakan komponen terbesar jaringan keras gigi. Di daerah mahkota ditutupi oleh email, sedangkan di daerah akar ditutupi oleh sementum. Secara internal, dentin membentuk dinding rongga pulpa. Dentin membentuk bagian terbesar dari gigi dan merupakan jaringan yang telah mengalami kalsifikasi sama seperti tulang, tetapi sifatnya

lebih keras karena kadar garam kalsiumnya lebih besar (70%) dalam bentuk hidroksi apatit. Zat antar sel organic (30%) terutama terdiri atas serat-serat kolagen dan glikosaminoglikans, yang disintesis oleh sel yang disebut odontoblas. Adapun sifat fisik dari dentin, ialah keras, warna putih kekuningan, tahanan tarik 250 kg/cm2 dan elastisitas cukup tinggi c) Cementum Merupakan struktur yang memiliki banyak kesamaan dengan tulan, perbedaan dengan tulang terdapat pada vaskularisasinya dan cementum mengandung sel tertutup (cementosit), identik dengan osteosit dari tulang. Cementum berfungsi mengadakan perlekatan dengan ligamen periodontal. Komposisi terdiri dari, 65% bahan anorganik, 23% bahan organik, dan12% air d) Pulpa Ruangan dibagian tengah gigi (dentin) yang berisi jaringan ikat halus, saraf, pembuluh darah dan limfe. Bagian tepi dibatasi odontoblas dan terdapat satu / lebih lubang akhir ( Foramen Apikalis ) berhubungan dengan jaringan periapikal

BAB III PEMBAHASAN Perbedaan gigi Perubahan kandungan, struktur, dan bentuk gigi karena proses penuaan (aging). No 1. Aspek perubahan Struktur - Enamel Menurunnya daya larut terhadap asam, volume pori enamel, Dewasa muda Dewasa tua

kandungan air, dan permeabilitas enamel - Dentin

Pada jaringan pulpa gigi yang Peningkatan dentin sekunder dan lebih muda memiliki sel dan pembentukan sklerotik dentin. struktur interseluler yang lebih Melebarnya peritubular dentin banyak. dan deposit mineral intratubular, tubuli dentin mengalami

penyempitan. Berakibat pada penurunan

vaskularisasi dan fungsi sensasi rasa nyeri.

- Sementum

Bertambahnya sementum yang

ketebalan progresif

sepanjang hidup

2.

Kandungan

Terdiri dari bahan anorganik Terjadi

defisiensi gigi.

konsentrasi Defisiensi gigi

seperti; Kalsium, fosfor, ferum, kandungan magnesium, klorin, kalium fluor, berbagai dan mangan, dan bahan organik berakibat seperti; air dan kolagen. mineralisasi, jaringan, Enamel: bahan anorganik 96 % penurunan hydroxyapatite Ca10(PO4)6.(OH) 4% - kekuatan

kandungan pada

gangguan pembentukan vaskularisasi,

kepadatan tulang,

serta dan

bahan permeabilitas tulang berkurang.

organik (3-4% air). sejumlah karbonat(4%), magnesium sodium(0,6%), Namun (1,2%), sejalan usia, juga

klorida didapatkan

peningkatan

(0,2%), fluorida (0,01%).

kandungan nitrogen dan fluoride bermanfaat sebagai

Dentin: kadar garam kalsiumnya yang

lebih besar (70%) dalam bentuk proteksi individu usia lanjut hidroksi apatit. Zat antar sel terhadap karies. organic (30%) terutama terdiri atas serat-serat kolagen dan glikosaminoglikans. Sementum: 65% bahan

anorganik, 23% bahan organik, dan12% air. 3. Bentuk (morfologi) Kalsifikasi semakin sempurna namun demineralisasi di dalam. Terjadi perubahan warna kuning menjadi lebih coklat. Enamel menghilang karena atrisi (pengurangan sekitar 29m/tahun) Penipisan enamel pada leher gigi

Berkurangnya volume lumen

dengan seluler

cepat pada

ruang pulpa Dentin sekunder terutama pada atap dan dasar kamar pulpa, sklerosis hampir selalu

ditemukan pada akar gigi dengan bentuk seperti gelas. Pulpa semakin menyempit Sementum menebal

Penuaan (aging) merupakan suatu proses yang secara fisiologis alami terjadi pada setiap individu, penuaan juga dapat didefinisikan sebagai suatu proses menghilangnya secara perlahanlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki atau mengganti diri dan mempertahakan struktur serta fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap serangan dari agen-agen penyebab jejas dan berkurangnya kemampuan memperbiki kerusakan yang diderita. Perubahanperubahan yang mengenai struktur orofasial akibat pertambahan usia mempunyai peran klinis yang penting dalam menentukan sebuah perawatan gigi untuk lansia. Beberapa perubahan yang terjadi pada rongga mulut lansia berdampak pada perubahan struktur, kandungan, dan bentuk jaringan keras gigi, serta kandungan saliva.

1. Protein Tingkat di mana protein yang berbeda disintesis dan terdegradasi dalam sel yang berbeda dan dapat berubah sesuai dengan rangsangan yang berbeda atau di bawah kondisi yang berbeda. Keseimbangan ini antara sintesis protein dan degradasi juga memungkinkan sel untuk secara cepat mengubah tingkat intraselular protein untuk beradaptasi dengan perubahan dalam lingkungan ekstraselular. protein yang tepat degradasi juga penting untuk kelangsungan hidup sel di bawah kondisi yang mengakibatkan kerusakan sel yang luas. kerusakan terlalu luas, atau di bawah kondisi yang tidak menguntungkan untuk perbaikan protein, protein yang rusak ditargetkan untuk degradasi. Pada penelitian menunjukkan

penurunan jumlah tingkat degradasi protein dengan usia lebih dari 30, ketika faktor utama dalam degradasi protein mana masih harus ditemukan (Makrides , 1983). Sejak saat itu, penurunan ini terkait usia dalam aktivitas proteolitik dan cacat spesifik dalam sistem proteolitik yang berbeda dengan usia telah ditemukan. Konsekuensi dari perubahan yang berkaitan dengan usia dalam sistem proteolitik tersebar luas dan berkontribusi luas dalam patologi (terakhir di Cuervo, 2004a, Keller et al, 2004; Shintani dan Klionsky, 2004; Ward, 2002

2. Kalsium Tubuh manusia setiap hari kehilangan kurang lebih 600 gram kalsium.Setelah umur 20 tahun, tubuh manusia akan mulai mengalami kekurangan kalsium sebanyak 1% per tahun. Dan setelah umur 50 tahun, jumlah kandungan kalsium dalam tubuh akan menyusut sebanyak 30%. Kehilangan akan mencapai 50% ketika mencapai umur 70 tahun dan seterusnya mengalami masalah kekurangan kalsium. Gejala awal kekurangan kalsium adalah seperti lesu, banyak keringat, gelisah, sesak napas, menurunnya daya tahan tubuh, kurang nafsu makan, sembelit, berak-berak, insomnia, kram, dan sebagainya. Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat didalam tubuh manusia. Kirakira 99% kalsium terdapat di dalam jaringan keras yaitu pada tulang dan gigi. 1% kalsium terdapat pada darah, dan jaringan lunak. Tanpa kalsium yang 1% ini, otot akan mengalami gangguan kontraksi, darah akan sulit membeku, transmisi saraf terganggu, dan sebagainya. Kalsium sangat dibutuhkan tulang dan gigi selama masa pertumbuhan. Kekurangan kalsium dapat menyebabkan gangguan pada gigi, terutama selama proses remineralisasi pembentukan dentin dan email gigi, serta gangguan kepadatan tulang dalam artian osteoporosis. Pada proses menua, kadar kalsium darah dan jaringan akan meningkat, sedangkan kalsium tulang menurun dan kemudian terjadi dekalsifikasi. 3. Fosfat Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat dan rapuh sehingga terjadilah osteoporosis. (Thomas, 2005). Hiperfosfatemia (kadar fosfat yang tinggi dalam darah) adalah suatu keadaan dimana

konsentrasi fosfat dalam darah lebih dari 4,5 mgr/dL darah. Jika pada penderita yang menjalani dialisa, konsentrasi fosfat darahnya meningkat, maka konsentrasi kalsium darah akan menurun. Hal ini merangsang kelenjar paratiroid untuk mengeluarkan hormon paratiroid, yang akan meningkatkan konsentrasi kalsium darah dengan cara mengambil kalsium dari tulang. Jika keadaan ini terus berlanjut, bisa terjadi kelemahan tulang yang progresif, mengakibatkan nyeri dan patah tulang karena cedera yang ringan. Kalsium dan fosfat dapat membentuk kristal pada dinding pembuluh darah dan jantung, menyebabkan arteriosklerosis yang berat dan memicu terjadinya stroke, serangan jantung dan sirkulasi darah yang buruk. Kristal tersebut juga dapat terbentuk di kulit dan menyebabkan rasa gatal yang hebat. Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan darah dan gejala-gejalanya. (Thomas, 2005)

4. Enamel Enamel mengalami sejumah perubahan yang nyata karena pertambahan usia, termasuk kenaikan konsentrasi nitrogen dan fluoride sejalan dengan usia. Peningkatan kandungan fluoride pada permukaan email sangat penting karena hal ini memodifikasi kerentanan terhadap karies dan mempengaruhi sifat adhesive dari email pada individu usia lanjut dalam proses etsa dengan asam fosfor. Perubahan warna enamel dari kuning menjadi lebih cokelat, dan enamel menghilang karena atrisi. Penipisan enamel dibagian leher gigi yang sering disebabkan oleh kekerasan dari sikat gigi. (Guila, 2010). Bertambahnya usia mengakibatkan menurunnya daya larut terhadap asam, volume pori enamel, kandungan air, dan permeabilitas enamel. Penggunaan gigi selama kita hidup akan mengakibatkan fisiologi, berbagai cairan, ion, substansi dengan berat molekul rendah, berbagai gangguan lainnya, dan obat-obatan yang dapat mempengaruhi permeabilitas enamel. Akibatnya permeabilitas enamel menurun. (Roberson, 2002). Secara fisiologi pemakaian gigi dalam proses mastikasi dapat mengakibatkan gigi menjadi atrisi. Normalnya gigi akan mengalami pengurangan sekitar 29m/tahun 5. Dentin Perubahan pada dentin seperti melebarnya peritubular dentine dan deposit mineral intratubular, tubuli dentin mengalami penyempitan. Selain itu perubahan pada fraksi organic dari dentin seperti peningkatan asam mucopolysaccarides. Pembentukan dentin yang berlanjut

sejalan dengan usia menyebabkan reduksi secara bertahap pada ukuran kamar pulpa. Pembentukan dentin sekunder terutama terjadi pada atap dan dasar dari kamar pulpa, pembentukan pada dinding agak berkurang. Perubahan lain yang terjadi pada dentin adalah skeloris melalui pembentukan yang berlanjut dari dentin tubular pada orang tua yang mengalami atrisi. Perubahan ini akan mengarah pada reduksi kerentanan dentinal pada lansia. (Giannini, 2003). Reparatif dentin biasanya terbentuk pada daerah gigi yang mengalami tekanan mekanikal. seiring bertambahnya usia sklerotik dentin juga terbentuk. Sklerotik dentin merupakan suatu bentuk dari akibat penuaan dan iritasi ringan serta beberapa perubahan pada komposisi dentin primer. (Nicholson, 2001)

6. Sementum Sementum juga mengalami perubahan yaitu dengan bertambahnya ketebalan sementum yang progresif sepanjang hidup. Sementum adalah jaringan yang menyerupai tulang yang menutupi akar dan menyediakan perlekatan bagi serabut periodontium utama. (Leong, 2009)

7. Pulpa Perubahan morfologik paling nyata dalam proses penuaan kronologik adalah

berkurangnya secara cepat volume lumen seluler dalam ruang pulpa. Hal ini terjadi akibat deposisi dentin (dentin sekunder dan tersier) secara berkelanjutan dan adanya pembentukan batu pulpa. (Guila, 2010). Seiring bertambahnya usia, ruangan pulpa semakin kecil karena pertumbuhan dari dentin sekunder, diikuti dengan pembentukan reparatif dentin. Akibatnya vaskularisasi menurun dan mengakibat penurunan fungsi defensif pulpa serta penurunan sensasi rasa nyeri akibat dari dentin sklerotik dalam tubulus dentinalis. (Nicholson, 2001) Perubahan klinis pada rongga mulut akibat proses penuaan Perubahan klinis yang dapat terjadi adalah : 1. Jaringan flabby Pada kasus resorbsi tulang alveolar, sering terjadi pada pasien yang sudah lama kehilangan gigi sehingga mengakibatkan linggir alveolar menjadi datar atau jaringan lunak sekitarnya menjadi flabby. Menurut Boucher (cit. Damayanti) jaringan flabby merupakan respon dari jaringan ikat yang mengalami hiperplasia yang awalnya

diakibatkan oleh trauma atau luka yang tidak dapat ditoleransi yang terjadi pada residual ridge. Makin tebal jaringan hiperplastik yang terbentuk, makin besar pula derajat jaringan flabby. 2. Kelenjar saliva Fungsi kelenjar saliva yang mengalami penurunan merupakan suatu keadaan normal pada proses penuaan manusia. Manula mengeluarkan jumlah saliva yang lebih sedikit pada keadaan istirehat, saat berbicara, maupun saat makan. Keadaan ini disebabkan oleh adanya perubahan atropi pada kelenjar saliva sesuai dengan pertambahan umur yang akan menurunkan produksi saliva dan mengubah komposisinya sedikit. Penurunan aliran saliva akan mempersulit fungsi bicara dan penelanan, serta menaikkan jumlah karies gigi, dan meningkatkan kerentanan mukosa terhadap trauma mekanis dan infeksi mikrobial. 3. Lidah dan pengecapan Orang tua biasanya mengeluh tidak adanya rasa makanan, ini dapat disebabkan bertambahnya usia mempengaruhi kepekaan rasa akibat berkurangnya jumlah pengecap pada lidah. Permukaan lidah ditutupi oleh banyak papilla pengecap dan jumlahnya berkurang secara drastis dengan bertambahnya usia. Kesulitan untuk menelan (Dysphagia) biasanya muncul pada manula. Dalam sistem pencernaan, terdapat beberapa fase penting yang berkait erat dengan rongga mulut yaitu pengunyahan, pergerakan lidah dan pergerakan membuka serta menutup mulut (bibir). Sistem pencernaan di rongga mulut menunjukkan penurunan fungsi dengan meningkatnya umur. Robbins dkk (cit. Al-Drees) menyatakan bahwa fungsi penelanan (berkaitan dengan tekanan) menurun dengan meningkatnya umur sehingga manula terpaksa bekerja lebih keras untuk menghasilkan efek tekanan yang adekuat dan dapat menelan makanan, seterusnya akan meningkatkan resiko untuk berkembangnya dysphagia. Fungsi penelanan pasti akan mengalami penurunan pada manula walaupun mempunyai rongga mulut yang sehat. Aksi pergerakan lidah akan berubah dengan meningkatnya umur. Perubahan yang terjadi adalah perlambatan dalam mencapai tekanan otot dan pergerakan yang efektif pada lidah, gangguan pada ketepatan waktu kontraksi otot lidah sehingga menganggu fungsi pencernaan di rongga mulut secara keseluruhannya.

Pada kondisi saliva dewasa muda dan tua juga akan mengalami beberapa perubahan. Volume saliva akan berkurang karena defek glandula parenkim saliva, serta penurunan pH pada saliva. Selain itu, peningkatan usia akan berdampak pada perubahan kandungan mineral saliva Suatu penelitian di Finlandia mengemukakan bahwa seiring meningkatnya usia kandungan fosfat dan kalsium pada saliva mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan penelitian pada wanitua dewasa tua berumur 50-54 menunjukkan kandungan rata-rata fosfat 4.8 mmol/L dan kandungan rata-rata kalsium 1.73 mmol/L. Pada usia 30-34 data menunjukkan rata-rata fosfat sebesar 3.77 mmol/L dan kalsium rata-rata 1.24 mmol/L. Hal ini tidak berlaku pada kandungan magnesium, sodium, potassium, ataupun protein pada saliva, berdasarkan penelitian tersebut umur berpengaruh pada jumlah kalsium dan fosfat pada saliva namun tidak didapatkan efek terhadap konsentrasi magnesium, sodium, potassium, ataupun protein. (Sevon L et al, 2008) Sevon L et al. 2008. The Open Dentistry Journal: Effect of Age on Flow-Rate, Protein, and Electrolyte Composition of Stimulated Whole Saliva in Healthy, Non-Smoking Women. Finland. Dentistry Journal 2, 89-92.

SIMPULAN Perubahan keadaan rongga mulut karena penuaan salah satunya dapat kita lihat pada perubahan kandungan, struktur, dan bentuk jaringan keras gigi, serta kandungan mineral saliva. Berdasarkan ulasan pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa pada dewasa tua terjadi penurunan kandungan mineral gigi (demineralisasi), dan perubahan struktur serta bentuk yakni, perubahan warna gigi menjadi coklat, atrisi, menurunnya daya larut enamel terhadap asam, penurunan permeabilitas enamel, terbentuknya sklerotik dentin, dan menyempitnya ruang pulpa. Pada saliva didapatkan bahwa penuaan berdampak pada peningkatan konsentrasi kalsium dan fosfat namun tidak berpengaruh pada konsentrasi magnesium, sodium, potassium, ataupun protein.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita.2009.Prinsip Dasar Ilmu Gizi.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Avery JK. Oral development histology. 2nd ed. New York. Thieme Medical Pub. Inc. 282-95, 228-40. Essig, Maria G MS; ELS November 27, 2007: health.yahoo.com/.../phosphate-inblood/healthwisehw202265.html. Eva Fauziah, Ismu S Suwelo, Hendarlin Soenawan. 2008. Kandungan Unsur Fluorida pada Email Gigi Tetap Muda yang di Tumpat Semen Ionomer Kaca dan Kompomer. Jakarta: Indonesian Journal of Dentistry. Fowler, B. 2003. Functional and Biological Markers of Aging In : Klatz, R. 2003. Anti-Aging Medical Therapeutics volume 5. Chicago : the A4M Publications.p. 43 Giannini M, Chaves P, Oliverira MT. Effect of Tooth Age on Bond Strength to Dentin. J Appl Oral Sci 2003; 11(4): 342-7 Guila R et al. Aging and Oral Health: Effects in Hard and Soft Tissues. Current Pharmaceutical Design, 2010, 16, 619-630 Jones, WN; Inorganic Chemistry, Philadelphia: Blakiston, 1949; Chapter 20. Johnson, Larry E, MD; Merc Manual of Medical 1994:

Information;www.merc.com/mmhe/sec12/ch155/ch155j.html Krieck, Sven; Grls, Helmar; Westerhausen, Matthias (2010). "Mechanistic Elucidation of the Formation of the Inverse Ca(I) Sandwich Complex [(thf)3Ca(-C6H3-1,3,5Ph3)Ca(thf)3] and Stability of Aryl-Substituted Phenylcalcium Complexes". Journal of the American Chemical Society132 (35): 100818110534020. Lee, Carla AB et all; Fluids and Electrolytes A Practical Approach, 4th ed.; FA Davis Company; Philadelphia USA, 1996: p: 111. Leong NL et al. Age-Related Adaptation of Bone-PDL-Tooth Complex: Rattus-Norvegicus as a Model System. Leventouri et. all. Crystal Structure of Human Dental Apatiite as a Function of Age. 2011. Department of Physics and Center for Biological and Materials Physics, Florida Atlantic University, Boca Raton, FL 33431, USA. Mailhot, Thomas MD etall; American Academy of Emergency Medicine:University of Southern, California, May 24th, 2005

Murray, Robert K. Daryl K. Granner. Victor W. Radwell. 2009.Biokimia Harper Edisi 27.Jakarta: Penerbit Buku Kedokeran (EGC) Nazrul Amar Bin Husin. 2011. Analisa Perubahan Perubahan pada Mukosa Rongga Mulut Akibat Proses Menua pada Manula Perempuan Kelompok Umur 45 69 tahun di Medan Denai. FKG USU Nicholson W.J. Biologic considerations. 2001. In: Summitt B.J., Robbins W.J., Schwartz S.R., Santos dos J., ed. Fundamentals of operative dentistry a contemporary approach 2th. Singapura: Quintessence Books. Roberson M. T. 2002. Clinical significant of dental anatomi, histology, physiology, and occlusion. In: Sturdevants art and science of operative dentistry 4th. St. Louis: Mosby. Silverstone. Bodybuilding.com, 2006. Way Meridian, ID 83642 1-877-991-3411 Sloane, Ethel.2003.Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula.jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC) Stanley, Mickey, and Patricia Gauntlett Beare. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik, ed 2. .Jakarta:EGC Wibowo, S. 2003. Andropause : Keluhan, Diagnosis dan Penanganannya. Dalam : The Concepts of Anti Aging and How to Make Without Disorder. Jakarta : FKUI. hal: 11-17. http://www.republika.co.id/berita/52217/Mudah_Penuhi_Kebutuhan_Kalsium. 25 Mei 2009