Anda di halaman 1dari 4

TINJAUAN BAHAN 1.

Sampel Tanah Sampel tanah disini berfungsi sebagai sumber mikroba penghasil amilase, protease, dan lipase yang akan diisolasi. Di dalam tanah terdapat banyak sekali kehidupan baik bakteri, jamur dan mikroorganisme lain. Di dalam tanah, keadaan mikroba sangat beragam baik jumlah jenis, kepadatan populasi, maupun aktivitas fungsionalnya. Keanekaragaman ini berkaitan dengan perbedaan kandungan dan jenis bahan organik, kadar air, jenis penggunaan tanah, tingkat pengelolaan tanah, dan kandungan senyawa pencemar (Panagan, 2011). Peptone Pepton adalah produk campuran polipeptida, dipeptida, dan asam amino, dapat dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung protein rnelalui reaksi hidrolisis asam atau enzimatis. Pepton digunakan dalam media sebagai salah satu sumber Nitrogen (N) untuk pertumbuhan kultur. Pepton mengandung banyak senyawa N sederhana di dalamnya, sehingga mudah dilepas unsur Nitrogennya tersebut. Selain sebagai sumber N, pepton juga sebagai sumber S organic untuk kultur. Pepton dapat diekstrak dari protein hewani berupa daging organ tubuh bagian dalam, gelatin, susu dan kasein serta tanaman maupun kamir (Sutarma, 2000). K2HPO4 Di kalium fosfat (K2HPO4), memiliki kandungan berupa unsure K yang tinggi dan sebagai sumber P. Fungsi K2HPO4 adalah sebagai larutan buffer untuk menstabilkan pH medium (Sutarma, 2000). KH2PO4 KH2PO4 merupakan larutan penyangga asam (buffer asam) yang berfungsi untuk larutan pengencer. Larutan pengencer diperlukan untuk membuar media pertumbuhan bakteri supaya konsentrasinya tidak terlalu pekat dan memudahkan pertumbuhan mikroorganisme yang diinginkan. KH2PO4 tidak mempengharuhi pH sehingga baik untuk digunakan sebagai larutan pengencer. Hal ini karena pertumbuhan bakteri sensitive terhadap perubahan pH, sehingga diperlukan larutan pengencer yang dapat mempertahankan kondisi pH media yang cenderung asam (<7). Kandungan kalium dan fosfat pada KH2PO4 berguna untuk memberi nutrisi sel mikroorganisme serta sebagai elemen kunci dalam pengendalian metabolism sel, proses transport, dan dibutuhkan pada metabolisme karbohidrat (Sutarma, 2000). MgSO4.7H2O MgSO4.7H2O atau Epsom salt (garam Epsom) memiliki pH 6,0 (5,5 ke 7,0) dan hampir semua mineral bentuk MgSO4 terjadi sebagai hidrat. MgSO4.7H2O berperan sebagai sumber S yang berperan dalam stabilisasi ribosom, stabilisasi membrane, dan dinding sel (Sutarma, 2000). MnSO4.H2O MnSO4.H2O berfungsi sebagai sumber mineral Mangan (Mn) yang berperan dalam pertumbuhan mikroba (Sutarma, 2000). CaCl2.7H2O CaCl2.7H2O berfungsi sebagai sumber mineral yakni Kalsium dan Kalium untuk mendukung pertumbuhan mikroorganisme (Sutarma, 2000).

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Agar Agar memiliki struktur D-galactose, 3,6-anhydro-L-galactose, dan Dglucuronic acid dan biasanya terbuat dari ganggang merah. Agar berfungsi sebagai gelling agent pada media yang terbuat dari ekstrak alga. Peran agar disini bukan sebagai nutrisi bagi mikroorganisme tetapi lebih bersifat mekanis, yakni berfungsi untuk memadatkan media cair sehingga sel tidak larut dalam cairan. Agar cocok digunakan sebagai bahan pemdat karena setelah agar dilarutkan pada suhu mendidih dapat didinginkan sampai suhu 40-42C sebelum memadat dan tidak akan mencair lagi sebelum suhu mencapai 80-90C. Agar merupakan bahan yang cocok untuk digunakan, meskipun padat, akan tetapi agar lunak dan mudah ditembus oleh biakan. Selain itu agar mengandung sejumlah air yang diperlukan bagi biakan. Agar juga lebih stabil bila dibandingkan dengan air yang lebih mudah menguap dan berubah (Handayani, 2012). Akuades Akuades berfungsi sebagai pelarut dalam pembuatan media. Akuades dapat melarutkan agar, pepton, dan sumber-sumber mineral lain seperti CaCl2.7H2O, MnSO4.H2O, MgSO4.7H2O, dan lain-lain dalam pembuatan media. Akuades juga berfungsi untuk menghomogenkan medium dan sumber O (Fuad, 2001). Pati Pati pada isolasi bakteri penghasil enzim amilase berfungsi sebagai substrat untuk pertumbuhan bakteri penghasil amilase. Pati disini akan didegradasi oleh bakteri penghasil amilase. Pati juga menjadi indikator dalam penentuan indeks amilolitik atau penentuan bakteri yang mampu mendegradasi pati. Uji ini dilakukan dengan meneteskan iodin 1% pada isolat dalam media pati tersebut. Pati yang tidak terurai akan berwarna biru kehitaman karena mengikat iodium. Pati yang terurai akan ditandai dengan adanya pembentukan zona bening yang menunjukkan bahwa pati yang terdapat di dalam media dihidrolisis oleh enzim amilase menjadi senyawa yang sederhana seperti maltosa, dekstrin dan glukosa (Rachmania, 2004). Skim Susu skim merupakan susu yang mengandung protein tinggi sekitar 3,7% dan lemak sekitar 0,1% . Susu skim digunakan sebagi sumber substrat. Susu skim mengandung kasein yang dapat dipecah oleh mikroorganisme proteolitik menjadi senyawa nitrogen terlarut sehingga pada koloni dikelilingi area bening, sehingga kejadian tersebut menunjukkan bahwa mikroba tersebut mempunyai aktivitas proteolitik (Naiola, 2002). Iodin Iodin berfungsi sebagai indikator yang digunakan pada isolasi mikroorganisme penghasil amilase. Pada uji ini Iodin 1% diteteskan di atas koloni. Penetasan larutan Iodin 1% diberikan untuk membuktikkan apakah bakteri yang tumbuh pada media adalah bakteri amilolitik. Pati yang tidak terhidrolisis akan membentuk warna biru dengan iodin yang menunjukkan tidak terdapatnya enzim amilase yang dihasilkan oleh bakteri selain bakteri amilolitik. Pati yang terhidrolisis di sekeliling koloni akan terlihat areal bening, sebagai akibat aktivitas enzim amilase. Warna jernih tersebut mengindikasikan bahwa pati atau amilum sudah terhidrolisis oleh enzim pada bakteri. Sedangkan pati yang terhidrolisis sebagian akan terlihat areal berwarna coklat kemerahan di sekeliling koloni (Setyati, 2012). Rhodamin B-agar

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

Rhodamin B-agar digunakan sebagai medium dalam isolasi mikroorganisme penghasil lipase. Rhodamin B merupakan indikator fluorosens yang sensitif terhadap lipase. Bakteri penghasil lipase akan menghasilkan kompleks berwarna orange pada media Rhodamin B. Hal ini disebabkan oleh reaksi antara Rhodamin B dengan asam lemak yang merupakan produk dari kerja lipase yang dihasilkan oleh mikroba membentuk senyawa kompleks berwarna orange dan berpendar di bawah radiasi sinar UV (Telussa, 2013). Nutrient Broth Komposisi dalam nutrient broth adalah ekstrak beef dan pepton. Media ini berbentuk cair. Sumber N dalam nutrient broth dimanfaatkan sebagai makanan dan sumber nutrisi bagi pertumbuhan mikroba (Fuad, 2001). Nutrient Agar Nutrien agar adalah medium padat yang digunakan untuk uji air dan produk dairy. Nutrient Agar juga digunakan untuk pertumbuhan sebagian besar mikroorganisme heterotrof. Komposisi media ini ialah ekstrak beef, pepton, dan agar. Nutrient Agar merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam berbagai uji seperti uji biasa dari air, sewage, produk pangan, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni (Fuad, 2001). Olive Oil Olive oil digunakan dalam isolasi mikroorganisme penghasil lipase sebagai substrat dan sebagai induser bagi mikroba dalam memproduksi lipase. Olive oil terdiri dari trigliserida dengan ester asam lemak rantai panjang yang merupakan substrat spesifik yang dikatalisis oleh lipase. Produk hasil hidrolisis substrat tersebut akan berpendar warna orange apabila disinari di bawah lampu UV pada panjang gelombang 350 nm. Pendaran ini terjadi karena terbentuknya suatu kompleks antara ion asam lemak yang dihasilkan pada reaksi hidrolisis enzimatik oleh lipase dengan kationik rhodamine B. Olive oil juga berfungsi sebagai induser karena mengandung asam lemak oleat-linoleat yang cukup tinggi, maka trigliserida ini tepat untuk digunakan sebagai induser bagi lipase (Telussa, 2013). Tributyrin Agar Tributyrin agar atau Tween 80 digunakan dalam isolasi mikroorganisme penghasil lipase sebagai substrat bagi enzim (Telussa, 2013).

DAFTAR PUSTAKA Fatoni, Amin. 2012. Isolasi dan Karakterisasi Protease Ekstraseluler dari Bakteri dalam Limbah Cair Tahu. Jurnal Natur Indonesia Vol 10. Fuad, Fathir.2001. Media Pertumbuhan Mikroba. http://fuadfathir.multiply.com. Diunduh pada tanggal 24 April 2014 pukul 20.56 WIB. Handayani, dkk. 2012. Penuntun Praktikum Mikrobiologi. Universitas Negeri Jakarta. Jakarta Lidya, B dan Djenar,N. S. 2000. Dasar Bioproses. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Naiola, E., N. Widhyastuti. 2002. Isolasi, Seleksi dan Optimasi Produksi Protease dari Beberapa Isolat Bakteri. Jurnal Berita Biologi, , 6(3): 467- 473. Nurosid, Oedjijono, dan P. Lestari. 2008. Kemampuan Azospirillum sp. JG3 dalam Menghasilkan Lipase pada Medium Campuran Dedak dan Onggok dengan Waktu Inkubasi Berbeda.Purwokerto: Universitas Jendral Sudirman. Panagan, Almundy. 2011. Isolasi Mikroba Penghasil Antibiotika dari Tanah Kampus Unsri Indralaya Menggunakan Media Ekstrak Tanah. Jurnal Penelitian Sains. Vol.14(3).27 30. Rachmania N, Iswati R, Imas T. 2004. Karakterisasi -amilase Bacillus firmus KH.9.4 alkalotoleran dari Limbah Cair Tapioka. Biota 3: 129-135. Santoso. 2010. Seri Buku Kuliah Biokimia Kedokteran I : Enzimologi. Semarang : Aneka Ilmu. Setyati, Wilis Ari. 2012. Isolasi dan Seleksi Bakteri Penghasil Enzim Ekstraseluler (Proteolitik, Amilolitik, Lipolitik dan Selulolitik) yang Berasal dari Sedimen Kawasan Mangrove. Jurnal Ilmu Kelautan. Vol. 17 (3) 164-168. Sutarma. 2000. Kultur Media Bakteri. Bogor: Balai Penelitian Veteriner. Telussa, Ivonne. 2013. Isolasi Bakteri Penghasil Enzim Lipase Dari Coco Butter Subtitute dan Karakterisasi Lipasenya. Ambon: Universitas Pattimura. Trismilah. 2012. Kinetika Pertumbuhan Beberapa Mikroba Penghasil -Amilase Menggunakan Molase Sebagai Sumber Karbon. Jakarta: Universitas Pancasila. Zulfikar, 2010. Peptida sebagai Rantai Protein. http://www.chem-is-try.org diunduh pada tanggal 24 April 2014 pukul 19.54 WIB.