Anda di halaman 1dari 54

1

Makalah Dasar Pemberantasan Penyakit (DPP)



PROGRAM PEMBERANTASAN PENYAKIT ISPA
(Infeksi Saluran Pernapasan Akut)



Disusun oleh :
Kelas : A.2011
Kelompok: 5
Anggota :

1. Febri Frans P. S. 25010111120030
2. Ruth D. Siagian 25010111120031
3. Dyah Agustin C. P. 25010111120032
4. Eky Purwati 25010111120033
5. Adi Saputro 25010111120034
6. Anies Yuniar P. 25010111120035
7. Kurnia Nur L. 25010111120036



FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013

2

KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum wr. wb
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah Dasar Pemberantasan Penyakit (DPP) yang berjudul PROGRAM
PEMBERANTASAN PENYAKIT ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)
dengan baik.
Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi besar
Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan orang-orang yang berjuang
di jalan Allah SWT hingga akhir zaman. Semoga kita mendapatkan syafaatnya di
yaumul kiyamah kelak. Aamiin.
Selesainya penulisan makalah ini adalah berkat dukungan dari semua pihak,
untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada
semua pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberi manfaat dan informasi bagi kita semua
khususnya dapat memberikan informasi mengenai penyakit ISPA, pencegahan
beserta pemberantasannya.
Dengan sepenuh hati penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak
memiliki kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat
penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Wassalamu alaikum wr.wb


Semarang, 14 Mei 2013


Penulis




3

DAFTAR ISI

Halaman Judul .................................................................................................. 1
Kata Pengantar ................................................................................................. 2
Daftar Isi........................................................................................................... 3

BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................ 4
B. Tujuan ..................................................................................................... 5
C. Manfaat ................................................................................................... 5
BAB II: ISI
A. Pengertian ISPA...................................................................................... 6
B. Etiologi Penyakit ISPA ........................................................................... 7
C. Masa Inkubasi dan Penularan ISPA ....................................................... 8
D. Gejala dan Tanda Penyakit serta Cara Diagnosis ISPA ......................... 8
E. Transmisi Penyakit ISPA ........................................................................ 12
F. Riwayat Alamiah Penyakit ISPA............................................................ 12
G. Pengobatan ISPA .................................................................................... 14
H. Perkembangan Penyakit ISPA di Indonesia ........................................... 15
I. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit ISPA...................... 16
J. Cara Pencegahan ISPA ........................................................................... 21
K. Gambaran Epidemiologi Umum ISPA ................................................... 23
L. Gambaran Epidemiologi ISPA di Indonesia........................................... 24
M. Tujuan P3M ISPA .................................................................................. 26
N. Strategi P3M ISPA ................................................................................. 27
O. Ukuran Epidemiologi ISPA yang Dapat Dipakai ................................... 48
BAB III: PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................. 50
B. Saran ..................................................................................................... 52

Daftar Pustaka .................................................................................................. 53

4

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) adalah infeksi saluran
pernafasan yang dapat berlangsung sampai 14 hari. Secara klinis ISPA
ditandai dengan gejala akut akibat infeksi yang terjadi di setiap bagian saluran
pernafasan dengan berlangsung tidak lebih dari 14 hari. Infeksi saluran
pernafasan akut merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen,
yang disebabkan oleh 300 lebih jenis virus, bakteri, serta jamur. Virus
penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus yang meliputi virus
influensa, virus pra-influensa dan virus campak.
Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005
menempatkan ISPA sebagai penyebab kematian terbesar di Indonesia dengan
persentase 22,30% dari seluruh kematian. Bukti bahwa ISPA merupakan
penyebab utama kematian adalah banyaknya penderita ISPA yang terus
meningkat. Menurut WHO, ISPA merupakan peringkat keempat dari 15 juta
penyebab pada setiap tahunnya. Jumlah tiap tahun kejadian ISPA di
Indonesia 150.000 kasus atau dapat dikatakan seorang meninggal tiap 5
menitnya. Berdasarkan DEPKES (2006) juga menemukan bahwa 20-30%
kematian disebabkan oleh ISPA.
Faktor penting yang mempengaruhi ISPA adalah pencemaran udara.
Adanya pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme
pertahanan paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan
pernapasan. Tingginya tingkat pencemaran udara menyebabkan ISPA
memiliki angka yang paling banyak diderita oleh masyarakat dibandingkan
penyakit lainnya. Selain faktor tersebut, peningkatan penyebaran penyakit
ISPA juga dikarenakan oleh perubahan iklim serta rendahnya kesadaran
perilaku hidup bersih dan sehat dalam masyarakat. Dalam rangka memahami
lebih jauh tentang ISPA maka di dalam makalah ini akan dijabarkan secara
lengkap semua hal yang berkaitan dengan ISPA.

5

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui etiologi ISPA
2. Untuk mengetahui inkubasi dan penularan ISPA
3. Untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit serta diagnosis ISPA
4. Untuk mengetahui transmisi ISPA
5. Untuk mengetahui riwayat alamiah ISPA
6. Untuk mengetahui pengobatan ISPA
7. Untuk mengetahui perkembangan ISPA di Indonesia
8. Untuk mengetahui faktor resiko ISPA
9. Untuk mengetahui cara pencegahan ISPA
10. Untuk mengetahui gambaran epidemiologi ISPA secara umum
11. Untuk mengetahui gambaran epidemiologi ISPA di Indonesia
12. Untuk mengetahui tujuan P3M ISPA
13. Untuk mengetahui strategi P3M ISPA
14. Untuk mengetahui ukuran epidemiologi ISPA

C. Manfaat
1. Sebagai wawasan dan informasi tentang ISPA bagi pembaca agar dapat
terhindar dari penyakit ISPA sehingga membantu menurunkan prevalensi
ISPA.
2. Sebagai wadah aplikasi ilmu penulis dalam rangka studi tentang
pemberantasan penyakit khususnya ISPA.










6

BAB I
ISI

A. Pengertian ISPA
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) adalah infeksi akut saluran
pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah beserta
adenaksanya (Depkes RI, 1993).
ISPA adalah penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut yang
berlangsung sampai 14 hari lamanya. Saluran pernafasan adalah organ yang
bermula dari hidung hingga alveoli beserta segenap adneksanya seperti sinus-
sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Sedangkan yang dimaksud dengan
infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisma ke dalam tubuh dan
berkembang biak sehingga menimbulkan penyakit (Depkes, 2000).
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran
pernafasan akut yang meliputi saluran pernafasan bagian atas seperti rhinitis,
fharingitis, dan otitis serta saluran pernafasan bagian bawah seperti laryngitis,
bronchitis, bronchiolitis dan pneumonia, yang dapat berlangsung selama 14
hari. Batas waktu 14 hari diambil untuk menentukan batas akut dari penyakit
tersebut. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung sampai alveoli
beserta organ seperti sinus, ruang telinga tengah dan pleura (Depkes RI,
2008).
Pada umumnya suatu penyakit saluran pernafasan dimulai dengan
keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit
mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh
dalam keadaan kegagalan pernafasan dan mungkin meninggal. Bila sudah
dalam kegagalan pernafasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih
rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan
agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat
ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernafasan (Depkes
RI, 2008).
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) adalah suatu penyakit yang
terbanyak di diderita oleh anak-anak, baik di negara berkembang maupun di
7

negara maju dan sudah mampu dan banyak dari mereka perlu masuk rumah
sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran pernapasan
pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada
masa dewasa. (Suprajitno, 2004)
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah proses inflamasi yang
disebabkan oleh virus, bakteri, atipikal (mikroplasma), atau aspirasi substansi
asing yang melibatkan suatu atau semua bagian saluran pernapasan (Wong,
2003).
Infeksi saluran pernapasan akut adalah infeksi yang terutama
mengenai struktur saluran pernapasan diatas laring, tetapi kebanyakan,
penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan bawah secara simultan atau
berurutan. Gambaran patofisioliginya meliputi infiltrat peradangan dan edema
mukosa, kongesti vaskuler, bertambahnya sekresi mukus, dan perubahan dan
struktur fungsi siliare (Behrman, 1999).

B. Etiologi Penyakit ISPA
Mayoritas penyebab dari ISPA adalah oleh virus, dengan frekuensi
lebih dari 90% untuk ISPA bagian atas, sedangkan untuk ISPA bagian bawah
frekuensinya lebih kecil. Penyakit ISPA bagian atas mulai dari hidung,
nasofaring, sinus paranasalis sampai dengan laring hampir 90% disebabkan
oleh viral, sedangkan ISPA bagian bawah hampir 50% diakibatkan oleh
bakteri. Saat ini telah diketahui bahwa penyakit ISPA melibatkan lebih dari
300 tipe antigen dari bakteri maupun virus tersebut (WHO, 1986). WHO
(1986), juga mengemukakan bahwa kebanyakan penyebab ISPA disebabkan
oleh virus dan mikoplasma, dengan pengecualian epiglotitis akut dan
pneumonia dengan distribusi lobular. Adapun virus-virus (agen non bakterial)
yang banyak ditemukan pada ISPA bagian bawah pada bayi dan anak-anak
adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV), adenovirus, parainfluenza, dan
virus influenza A & B.



8

C. Masa Inkubasi dan Penularan ISPA
1. Masa inkubasi
ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat berlangsung
sampai 14 hari, dimana secara klinis suatu tanda dan gejala akut akibat
infeksi yang terjadi di setiap bagian saluran pernafasan atau struktur yang
berhubungan dengan saluran pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari
14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan berlangsungnya proses
akut.

2. Penularan
Pada umumnya ISPA termasuk ke dalam penyakit menular yang
ditularkan melalui udara. Sumber penularan adalah penderita ISPA yang
menyebarkan kuman ke udara pada saat batuk atau bersin dalam bentuk
droplet. Inhalasi merupakan cara terpenting masuknya kuman penyebab
ISPA ke dalam saluran pernapasan yaitu bersama udara yang dihirup,
disamping itu terdapat juga cara penularan langsung yaitu melalui
percikan droplet yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk, bersin dan
berbicara kepada orang di sekitar penderita, trasmisi langsung dapat juga
melalui ciuman, memegang/menggunakan benda yang telah terkena
sekresi saluran pernapasan penderita (Azwar, 1985).

D. Gejala dan Tanda Penyakit serta Cara Diagnosis ISPA
1. Gejala dan Tanda Penyakit ISPA
Penyakit ISPA meliputi hidung, telinga, tenggorokan (pharinx),
trachea, bronchioli dan paru. Tanda dan gejala penyakit ISPA pada anak
bermacam-macam seperti batuk, kesulitan bernapas, sakit tenggorokan,
pilek, demam dan sakit telinga (Depkes RI, 1993).
Sebagian besar dari gejala saluran pernapasan hanya bersifat ringan
seperti batuk dan pilek tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik.
Namun sebagian anak akan menderita radang paru (pneumonia) bila
infeksi paru ini tidak diobati dengan anti biotik akan menyebabkan
kematian (Depkes RI, 1993).
9

a. Tanda dan gejala ISPA dibagi menjadi dua yaitu golongan umur
2 bulan sampai 5 tahun dan golongan umur kurang dari 2 bulan
(Depkes RI, 1993)
1) Tanda dan gejala ISPA untuk golongan umur 2 bulan sampai 5
tahun
a) Pneumonia berat, bila disertai napas sesak yaitu ada tarikan
dinding dada bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik
napas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang,
tidak menangis/meronta).
b) Pneumonia, bila disertai napas cepat, batas napas cepat adalah
untuk umur 2 bulan sampai < 12 bulan sama dengan 50 kali
permenit atau lebih, untuk umur 1-5 tahun sama dengan 40 kali
permenit atau lebih.
c) Bukan pneumonia (batuk pilek biasa), bila tidak ditemukan
tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat.
2) Tanda dan gejala ISPA untuk golongan umur kurang dari 2
bulan
a) Pneumonia berat, bila disertai tanda tarikan kuat dinding dada
bagian bawah atau napas cepat. Atas napas cepat untuk
golongan umur kurang dari 2 bulan yaitu 60 kali permenit atau
lebih.
b) Bukan pneumonia (batuk pilek biasa), bila tidak ditemukan
tanda tarikan kuat dinding dada bagia bawah atau napas cepat.
b. Tanda dan gejala ISPA berdasarkan tingkat keparahan (WHO,
2002):
1) Gejala dari ISPA Ringan
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika
ditemukan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
a) Batuk
b) Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan
suara (misalnya pada waktu berbicara atau menangis).
c) Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.
10

d) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37C.
2) Gejala dari ISPA Sedang
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika
dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-
gejala sebagai berikut :
a) Pernafasan cepat (fast breating) sesuai umur yaitu : untuk
kelompok umur kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per
menit atau lebih dan kelompok umur 2 bulan - <5 tahun :
frekuensi nafas 50 kali atau lebih untuk umur 2 <12 bulan dan
40 kali per menit atau lebih pada umur 12 bulan <5 tahun.
b) Suhu lebih dari 39C (diukur dengan termometer).
c) Tenggorokan berwarna merah.
d) Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak
campak.
e) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.
f) Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).
3) Gejala dari ISPA Berat
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika
dijumpai gejal-gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu
atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
a) Bibir atau kulit membiru.
b) Anak tidak sadar atau kesadaran menurun.
c) Pernafasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah.
d) Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas.
e) Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba.
f) Tenggorokan berwarna merah.

2. Cara Diagnosis
Diagnosis ISPA oleh karena virus dapat ditegakkan dengan
pemeriksaan laboratorium terhadap jasad renik itu sendiri. Pemeriksaan
yang dilakukan adalah biakan virus, serologis, diagnostik virus secara
langsung. Sedangkan diagnosis ISPA oleh karena bakteri dilakukan
11

dengan pemeriksaan sputum, biakan darah, biakan cairan pleura (Halim,
2000).
Diagnosis etiologi pnemonia pada balita sulit untuk ditegakkan
karena dahak biasanya sukar diperoleh. Sedangkan prosedur pemeriksaan
imunologi belum memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan
adanya bakteri sebagai penyebab pnemonia, hanya biakan spesimen fungsi
atau aspirasi paru serta pemeriksaan spesimen darah yang dapat
diandalkan untuk membantu menegakkan diagnosis etiologi pnemonia.
Pemeriksaan cara ini sangat efektif untuk mendapatkan dan
menentukan jenis bakteri penyebab pnemonia pada balita, namun disisi
lain dianggap prosedur yang berbahaya dan bertentangan dengan etika
(terutama jika semata untuk tujuan penelitian). Dengan pertimbangan
tersebut, diagnosa bakteri penyebab pnemonia bagi balita di Indonesia
mendasarkan pada hasil penelitian asing (melalui publikasi WHO), bahwa
Streptococcus, Pnemonia dan Hemophylus influenzae merupakan bakteri
yang selalu ditemukan pada penelitian etiologi di negara berkembang. Di
negara maju pnemonia pada balita disebabkan oleh virus.
Diagnosis pnemonia pada balita didasarkan pada adanya batuk dan
atau kesukaran bernafas disertai peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat)
sesuai umur. Penentuan nafas cepat dilakukan dengan cara menghitung
frekuensi pernafasan dengan menggunkan sound timer. Batas nafas cepat
adalah :
a. Pada anak usia kurang 2 bulan frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali
per menit atau lebih.
b. Pada anak usia 2 bulan - <1 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 50
kali per menit atau lebih.
c. Pada anak usia 1 tahun - <5 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 40
kali per menit atau lebih.
Diagnosis pneumonia berat untuk kelompok umur kurang 2 bulan
ditandai dengan adanya nafas cepat, yaitu frekuensi pernafasan sebanyak
60 kali per menit atau lebih, atau adanya penarikan yang kuat pada dinding
dada sebelah bawah ke dalam. Rujukan penderita pnemonia berat
12

dilakukan dengan gejala batuk atau kesukaran bernafas yang disertai
adanya gejala tidak sadar dan tidak dapat minum. Pada klasifikasi bukan
pneumonia maka diagnosisnya adalah batuk pilek biasa (common cold),
pharyngitis, tonsilitis, otitis atau penyakit non-pnemonia lainnya.

E. Transmisi Penyakit ISPA
Transmisi penyakit ISPA dapat melalui udara. Jasad renik yang berada di
udara akan masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan dan menimbulkan
infeksi, penyakit ISPA dapat pula berasal dari penderita yang kebetulan
mengandung bibit penyakit, baik yang sedang jatuh sakit maupun karier. Jika
jasad renik bersal dari tubuh manusia maka umumnya dikeluarkan melalui
sekresi saluran pernafasan dapat berupa saliva dan sputum. Transmisi penyakit
ISPA juga dapat terjadi melalui kontak langsung/tidak langsung dari benda yang
telah dicemari jasad renik (hand to hand transmission).

F. Riwayat Alamiah Penyakit ISPA
Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus
dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan
menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran pernafasan
bergerak ke atas mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan
refleks spasmus oleh laring. Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak
lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan (Colman, 1992).
Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk
kering. Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan
kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada dinding saluran
pernafasan, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang melebihi
normal. Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan gejala
batuk. Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah
batuk. (Colman, 1992).
Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi
sekunder bakteri. Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme
mukosiliaris yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran
pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri
13

patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti streptococcus
pneumonia, haemophylus influenza dan staphylococcus menyerang mukosa
yang rusak tersebut. Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus
bertambah banyak dan dapat menyumbat saluran pernafasan sehingga timbul
sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang produktif. Invasi bakteri ini
dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi.
Suatu laporan penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan
infeksi virus pada saluran pernafasan dapat menimbulkan gangguan gizi akut
pada bayi dan anak. Virus yang menyerang saluran pernafasan atas dapat
menyebar ke tempat-tempat yang lain dalam tubuh, sehingga dapat
menyebabkan kejang, demam, dan juga menyebar ke saluran pernafasan
bawah. Dampak infeksi sekunder bakteri pun menyerang saluran pernafasan
bawah, sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam
saluran pernafasan atas, sesudah terjadinya infeksi virus, dapat menginfeksi
paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri (Colman, 1992).
Penanganan penyakit saluran pernafasan pada anak harus diperhatikan
aspek imunologis saluran pernafasan terutama dalam hal bahwa sistem imun
di saluran pernafasan yang sebagian besar terdiri dari mukosa, tidak sama
dengan sistem imun sistemik pada umumnya. Sistem imun saluran pernafasan
yang terdiri dari folikel dan jaringan limfoid yang tersebar, merupakan ciri
khas sistem imun mukosa. Ciri khas berikutnya adalah bahwa imunoglobulin
A (IgA) memegang peranan pada saluran pernafasan atas sedangkan
imunoglobulin G (IgG) pada saluran pernafasan bawah. Diketahui pula
bahwa sekretori IgA sangat berperan dalam mempertahankan integritas
mukosa saluran pernafasan (Colman, 1992).
Dari uraian di atas, perjalanan klinis penyakit ISPA ini dapat dibagi
menjadi empat tahap, yaitu:
1) Tahap prepatogenesis, penyebab telah ada tetapi penderita belum
menunjukkan reaksi apa-apa.
2) Tahap inkubasi, virus merusak lapisan epitel dan lapisan
mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan
daya tahan sebelumnya memang sudah rendah.
14

3) Tahap dini penyakit, dimulai dari munculnya gejala penyakit.
Timbul gejala demam dan batuk.
4) Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat, yaitu dapat
sembuh sempurna, sembuh dengan ateletaksis, menjadi kronis
dan dapat meninggal akibat pneumonia.

G. Pengobatan ISPA
ISPA mempunyai variasi klinis yang bermacam-macam, maka timbul
persoalan pada diagnostik dan pengobatannya. Sampai saat ini belum ada
obat yang khusus antivirus. Idealnya pengobatan bagi ISPA bakterial adalah
pengobatan secara rasional dengan mendapatkan antimikroba yang tepat
sesuai dengan kuman penyebab. Untuk itu, kuman penyebab ISPA dideteksi
terlebih dahulu dengan mengambil material pemeriksaan yang tepat,
kemudian dilakukan pemeriksaan mikrobiologik, baru setelah itu diberikan
antimikroba yang sesuai (Halim, 2000).
Kesulitan menentukan pengobatan secara rasional karena kesulitan
memperoleh material pemeriksaan yang tepat, sering kali mikroorganisme itu
baru diketahui dalam waktu yang lama, kuman yang ditemukan adalah kuman
komensal, tidak ditemukan kuman penyebab. Maka sebaiknya pendekatan
yang digunakan adalah pengobatan secara empirik lebih dahulu, setelah
diketahui kuman penyebab beserta anti mikroba yang sesuai, terapi
selanjutnya disesuaikan.
Di dalam referensi yang lain berikut ini disebutkan macm-macam
pengobatan untuk para penderita Pneumonia.
1. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral,
oksigen dan sebagainya.
2. Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita
tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian
kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik
pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.
3. Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan
di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat
15

batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein,
dekstrometorfan dan antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun
panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada
pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai
pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang
tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik
(penisilin) selama 10 hari. Tanda bahaya setiap bayi atau anak dengan
tanda bahaya harus diberikan perawatan khusus untuk pemeriksaan
selanjutnya.

H. Perkembangan Penyakit ISPA di Indonesia
ISPA sering disebut sebagai "pembunuh utama". Kasus ISPA
merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien ke sarana kesehatan
yaitu 40%-60% dari seluruh kunjungan ke Puskesmas dan 15%-30% dari
seluruh kunjungan rawat jalan dan rawat inap Rumah Sakit. Diperkirakan
kematian akibat ISPA khususnya Pneumonia mencapai 5 kasus diantara 1000
balita. Ini berarti ISPA mengakibatkan 150.000 balita meninggal tiap
tahunnya, atau 12.500 korban perbulan, atau 416 kasus perhari, atau 17 anak
perjam atau seorang bayi tiap 5 menit (Depkes, 2004).
Di Indonesia, ISPA masih merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat yang utama terutama pada bayi (0-11 bulan) dan balita (1-4
tahun). Diperkirakan kejadian ISPA pada balita di Indonesia yaitu sebesar 10-
20%. Berdasarkan hasil SKRT, penyakit ISPA pada tahun 1986 berada di
urutan ke-4 (12,4%) sebagai penyebab kematian bayi. Sedangkan pada tahun
1992 dan 1995 menjadi penyebab kematian bayi yang utama yaitu 37,7% dan
33,5%. Hasil SKRT tahun 1998 juga menunjukkan bahwa penyakit ISPA
merupakan penyebab kematian utama pada bayi (36%). Hasil SKRT tahun
2001 menunjukkan bahwa prevalensi tinggi ISPA yaitu sebesar 39% pada
bayi dan 42% pada balita (Depkes RI, 2001).
Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005
menempatkan ISPA sebagai penyebab kematian terbesar di Indonesia dengan
persentase 22,30% dari seluruh kematian (Susilowati, 2010). Bukti bahwa
16

ISPA merupakan penyebab utama kematian adalah banyaknya penderita ISPA
yang terus meningkat.
Berdasarkan DEPKES (2006) juga menemukan bahwa 20-30%
kematian disebabkan oleh ISPA. Selanjutnya berdasarkan hasil laporan
RISKESDAS pada tahun 2007, prevalensi ISPA tertinggi terjadi pada baduta
(>35%), ISPA venderung terjadi lebih tinggi pada kelompok dengan
pendidikan dan tingkat pengeluaran rumah tangga yang rendah.
Data Kemenkes menunjukkan bahwa penyakit ISPA di Indonesia
sepanjang 2007 sampai 2011 mengalami tren kenaikan. Pada 2007 jumlah
kasus ISPA berkategori batuk bukan Pneumonia sebanyak 7.281.411 kasus
dengan 765.333 kasus Pneumonia, kemudian pada 2011 mencapai 18.790.481
juta kasus batuk bukan pneumonia dan 756.577 pneumonia.

I. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit ISPA
Faktor resiko ISPA:
1. Faktor Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Berat badan lahir rendah ditetapkan sebagai suatu berat lahir yang
kurang dari 2500 gram. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
akan meningkatkan resiko kesakitan dan kematian bayi karena bayi
rentan terhadap kondisi-kondisi infeksi saluran pernapasan bagian bawah
(Ngastiyah, 1997).
Menurut Sulistyowati dalam Djaja (2000) bayi dengan berat badan
lahir rendah mempunyai angka kematian lebih tinggi dari pada bayi berat
badan lebih dari 2500 gram saat lahir selama satu tahun pertama
kehidupannya. Pneumonia adalah penyebab terbesar kematian akibat
infeksi pada bayi yang baru lahir dengan berat badan rendah, bila
dibandingkan dengan bayi yang beratnya diatas 2500 gram.
2. Faktor umur
Faktor resiko ISPA juga sering disebutkan dalam literature adalah
faktor umur. Adanya hubungan antara umur anak dengan ISPA mudah
dipahami, karena semakin muda umur balita, semakin rendah daya tahan
tubuhnya. Menurut Tupasi et al. (1998), resiko terjadi ISPA lebih besar
17

pada bayi berumur kurang dari satu tahun, sedangkan menurut Sukar et
al. (1996), anak berumur kurang dari dua tahun memiliki resiko lebih
tinggi untuk terserang ISPA. Depkes (2000), menyebutkan resiko
terjadinya ISPA yaitu pneumonia terjadi pada umur lebih muda lagi yaitu
kurang dari dua bulan.
3. Faktor Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil SDKI tahun 1997 menunjukkan adanya
perbedaan prevalensi 2 minggu pada balita dengan batuk dan napas cepat
(yang merupakan ciri khas pneumonia) antara anak laki-laki dengan
perempuan, dimana prevalensi untuk anak laki-laki adalah 9,4%
sedangkan untuk anak perempuan 8,5% (Depkes RI, 1997).
Ada kecendrungan anak laki-laki lebih sering terserang infeksi dari
pada anak perempuan, tetapi belum diketahui faktor yang
mempengaruhinya (Soetjiningsih, 1995).
4. Faktor Vitamin
Diketahui adanya hubungan antara pemberian vitamin A dengan
resiko terjadi ISPA. Anak dengan xerophthalmia ringan memiliki resiko
2 kali untuk menderita ISPA. Depkes (2000), menyebutkan bahwa
keadaan defisiensi vitamin A merupakan salah satu faktor resiko ISPA.
Defisiensi vitamin A dapat menghambat pertumbuhan balita dan
mengakibatkan pengeringan jaringan epitel saluran pernafasan.
Gangguan pada epitel ini juga menjadi penyebab mudahnya terjadi ISPA.
5. Faktor Gangguan Gizi (Malnutrisi)
Malnutrisi dianggap bertanggungjawab terhadap ISPA pada balita
terutama pada Negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini mudah
dipahami karena keadaan malnutrisi menyebabkan lemahnya daya tahan
tubuh anak. Hal tersebut memudahkan kemasukan agen penyakit ke
dalam tubuh. Malnutrisi menyebabkan resistensi terhadap infeksi
menurun oleh efek nutrisi yang buruk. Menurut WHO (2000), telah
dibuktikan bahawa adanya hubungan antara malnutrisi dengan episode
ISPA.

18

6. Status Imunisasi
Telah diketahui secara teoritis, bahwa imunisasi adalah cara untuk
menimbulkan kekebalan terhadap berbagai penyakit (Kresno, 2000). Dari
penelitian yang dilakukan oleh Dewi dan Sebodo (1996), didapatkan
proporsi kasus balita penderita ISPA terbanyak terdapat anak yang
imunisasinya tidak lengkap (10,25%).
7. Status Sosioekonomi
Diketahui bahwa kepadatan penduduk dan tingkat sosioekonomi
yang rendah mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan
masyarakat. Sebuah penelitian di Filipina telah membuktikan bahwa
sosiaoekonomi orang tua yang rendah akan meningkatkan resiko ISPA
pada anak usia kurang dari 1 tahun (Tupasi et al., 1988).
8. Faktor Pemberian Air Susu Ibu (ASI)
Penelitian-penelitian yang dilakukan pada sepuluh tahun terakhir
ini menunjukkan bahwa ASI kaya akan faktor antibodi cairan tubuh
untuk melawan infeksi bakteri dan virus. Penelitian di Negara-negara
sedang berkembang menunjukkan menunjukkan bahwa ASI melindungi
bayi terhadap infeksi saluran pernapasan berat (Djaja, 2000).
Jika produksi ASI cukup, pertumbuhan bayi umur 4-5 bulan
pertama akan memuaskan, pada umur 5-6 bulan berat badan bayi menjadi
2 kali lipat dari pada berat badan lahir, maka sampai umur 4-5 bulan
tidak perlu memberi makanan tambahan pada bayi tersebut (Pudjiadi,
2000).
Lemahnya koordinasi menelan pada bayi umur dibawah 4 bulan
dapat menimbulkan aspirasi kedalam saluran pernapasan menjadi pemicu
untuk terjadinya infeksi saluran pernapasan (Ngastiyah, 1997).
9. Faktor Pencemaran Udara Dalam Lingkungan
Pencemaran udara di dalam rumah selain berasal dari luar ruangan
dapat pula berasal dari sumber polutan di dalam rumah terutama aktivitas
penghuninya antara lain, penggunaan biomassa untuk memasak maupun
pemanas ruangan, asap dari sumber penerangan yang menggunakan
bahan bakar, asap rokok, penggunaan obat anti nyamuk, pelarut organik
19

yang mudah menguap (formaldehid) yang banyak dipakai pada peralatan
perabot rumah tangga dan sebagainya (Mukono, 1997).
Menurut soesanto (2000) yang dikutip dari Samsuddin (2000),
rumah dengan bahan bakar minyak tanah baik untuk memasak maupun
sumber penerangan memberikan resiko terkena ISPA pada balita 3,8 kali
lebih besar dibandingkan dengan bahan bakar gas.
Asap rokok dalam rumah juga merupakan penyebab utama
terjadinya pencemaran udara dalam ruangan. Hasil penelitian yang
dilakukan Charles (1996), menyebutkan bahwa asap rokok dari orang
yang merokok dalam rumah serta pemakaian obat nyamuk bakar juga
merupakan resiko yang bermakna terhadap terjadinya penyakit ISPA.
Penggunaan obat anti nyamuk bakar sebagai alat untuk
menghindari gigitan nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran
pernapasan karena hasilnya asap dan bau yang tidak sedap. Adanya
pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme
pertahanan paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan
pernapasan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Indra Chahaya
pemakaian obat nyamuk bakar mempunyai exp (B) 19,97 yang berarti
faktor pemakaian obat nyamuk bakar mempunyai 19 kali beresiko
terhadap terjadiya ISPA.
Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernapasan
dapat menyebabkan terjadinya:
a. Iritasi pada saluran pernapasan, hal ini dapat menyebabkan pergerakan
silia menjadi lambat, bahkan berhenti, sehingga mekanisme
pembersihan saluran pernapasan menjadi terganggu.
b. Peningkatan produksi lendir akibat iritasi bahan pencemar.
c. Produksi lendir dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan.
d. Rusaknya sel pembunuh bakteri saluran pernapasan.
e. Pembengkakan saluran pernapasan dan merangsang pertumbuhan sel
sehingga saluran pernapasan menjadi menyempit.
f. Lepasnya silia dan lapisan sel selaput lendir
20

Akibat hal tersebut di atas maka menyebabkan terjadinya kesulitan
bernapas, sehingga benda asing termasuk Mikroorganisme tidak dapat
dikeluarkan dari saluran pernapasan dan hal ini akan memudahkan
terjadinya infeksi saluran pernapasan (Soewasti, 2000).
10. Ventilasi
Ventilasi adalah suatu usaha untuk menyediakan udara segar,
mencegah akumulasi gas beracun dan mikroorganisme, memelihara
temperatur dan kelembaban optimum terhadap udara di dalam ruangan.
Ventilasi yang baik akan memberikan rasa nyaman dan menjaga
kesehatan penghuninya (Mukono, 1997).
Penelitian yang dilakukan oleh Soewasti (2000) membuktikan
bahwa ventilasi berhubungan dengan kejadian ISPA. Penderita ISPA
banyak di temukan pada masyarakat yang mempunyai Ventilasi rumah
dengan perhawaan paling kecil (0 - 0,99 m).
11. Kepadatan Hunian
Kepadatan hunian dapat mempengaruhi kualitas udara di dalam
rumah, dimana semakin banyak jumlah penghuni maka akan semakin
cepat udara di dalam rumah akan mengalami pencemaran. Hal ini sesuai
dengan penelitian Achmadi (1990) yang dikutip oleh Chahaya (2005),
bahwa rumah yang padat sering kali menimbulkan gangguan pernapasan
terutama pada anak-anak dan pengaruh lain pada anak-anak adalah mereka
menekan tumbuh kembang mentalnya. Menurut hasil penelitian Hidayati
(2003) yang di kutip oleh Agustama (2005) menunjukkan bahwa dengan
kepadatan rumah yang tidak memenuhi syarat terhadap terjadinya ISPA
pada balita sebesar 68% dimana jika terjadi kepadatan dalam hunian kamar
akan menyebabkan efek negatif terhadap kesehatan fisik, mental maupun
moril. Rumah dengan penghuni kamar yang padat akan memudahkan
terjadinya penularan penyakit saluran pernapasan.




21

J. Cara Pencegahan ISPA
Cara pencegahan berdasarkan level of prevention:
1. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Ditujukan pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat
kesehatan (health promotion) dan pencegahan khusus (spesific protection)
terhadap penyakit tertentu. Termasuk disini adalah :
a. Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini
diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap
hal-hal yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA. Kegiatan
penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA, penyuluhan
ASI Eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada
ibu dan anak, penyuluhan kesehatan lingkungan, penyuluhan bahaya
rokok.
b. Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi
angka kesakitan ISPA.
c. Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi mal nutrisi.
d. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir
rendah.
e. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani
masalah polusi di dalam maupun di luar rumah.
2. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Dalam penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan
dan diagnosis sedini mungkin. Dalam pelaksanaan program P2 ISPA,
seorang balita keadaan penyakitnya termasuk dalam klasifikasi bukan
pneumonia apabila ditandai dengan batuk, serak, pilek, panas atau demam
(suhu tubuh lebih dari 370C), maka dianjurkan untuk segera diberi
pengobatan.
Upaya pengobatan yang dilakukan terhadap klasifikasi ISPaA atau
bukan pneumonia adalah tanpa pemberian obat antibiotik dan diberikan
perawatan di rumah. Adapun beberapa hal yang perlu dilakukan ibu untuk
mengatasi anaknya yang menderita ISPA adalah :
a. Mengatasi panas (demam).
22

b. Untuk balita, demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau
dengan kompres dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air
(tidak perlu air es).
c. Pemberian makanan dan minuman
Memberikan makanan yang cukup tinggi gizi sedikit-sedikit
tetapi sering, memberi ASI lebih sering. Usahakan memberikan cairan
(air putih, air buah) lebih banyak dari biasanya.
3. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita yang bukan
pneumonia agar tidak menjadi lebih parah (pneumonia) dan
mengakibatkan kecacatan (pneumonia berat) dan berakhir dengan
kematian.
Upaya yang dapat dilakukan pada pencegahan Penyakit bukan
pneumonia pada bayi dan balita yaitu perhatikan apabila timbul gejala
pneumonia seperti nafas menjadi sesak, anak tidak mampu minum dan
sakit menjadi bertambah parah, agar tidak bertambah parah bawalah anak
kembali pada petugas kesehatan dan pemberian perawatan yang spesifik di
rumah dengan memperhatikan asupan gizi dan lebih sering memberikan
ASI.

Cara Pencegahan Menurut Depkes RI, (2002) pencegahan ISPA antara
lain:
1. Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik
Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan mencegah
kita atau terhindar dari penyakit yang terutama antara lain penyakit ISPA.
Misalnya dengan mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna,
banyak minum air putih, olah raga dengan teratur, serta istirahat yang
cukup, kesemuanya itu akan menjaga badan kita tetap sehat. Karena
dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh kita akan semakin
meningkat, sehingga dapat mencegah virus / bakteri penyakit yang akan
masuk ke tubuh kita.


23

2. Imunisasi
Pemberian immunisasi sangat diperlukan baik pada anak-anak
maupun orang dewasa. Immunisasi dilakukan untuk menjaga kekebalan
tubuh kita supaya tidak mudah terserang berbagai macam penyakit yang
disebabkan oleh virus / bakteri.
3. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik akan
mengurangi polusi asap dapur / asap rokok yang ada di dalam rumah,
sehingga dapat mencegah seseorang menghirup asap tersebut yang bisa
menyebabkan terkena penyakit ISPA. Ventilasi yang baik dapat
memelihara kondisi sirkulasi udara (atmosfer) agar tetap segar dan sehat
bagi manusia.
4. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ini disebabkan oleh virus/
bakteri yang ditularkan oleh seseorang yang telah terjangkit penyakit ini
melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh. Bibit penyakit ini
biasanya berupa virus / bakteri di udara yang umumnya berbentuk aerosol
(anatu suspensi yang melayang di udara). Adapun bentuk aerosol yakni
Droplet, Nuclei (sisa dari sekresi saluran pernafasan yang dikeluarkan dari
tubuh secara droplet dan melayang di udara), yang kedua duet (campuran
antara bibit penyakit).

K. Gambaran Epidemiologi Umum ISPA
Penyakit ISPA adalah penyakit yang dapat menyerang semua kelompok
usia dari bayi, anak-anak dan sampai orang tua. ISPA merupakan salah satu
masalah kesehatan yang ada di negara berkembang dan negara maju. Hal ini
disebabkan karena masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian
karena ISPA khususnya pneumonia, terutama pada bayi dan balita. Di
Amerika pneumonia menempati peringkat ke-6 dari semua penyebab
kematian dan peringkat pertama dari seluruh penyakit infeksi. Di Spanyol
angka kematian akibat pneumonia mencapai 25% sedangkan di Inggris dan
Amerika sekitar 12% atau 25-30 per 100.000 penduduk. Sedangkan untuk
24

angka kematian akibat ISPA dan pneumonia pada tahun 1999 untuk negara
Jepang yaitu 10%, Singapura sebesar 10,6%, Thailand sebesar 4,1%, Brunei
sebesar 3,2% dan Philipins tahun 1995 sebesar 11,1% (SEAMIC Health
Statistics, 2000)
ISPA menyebabkan 40% dari kematian anak usia 1 bulan sampai 4
tahun. Hal ini berarti dari seluruh jumlah anak umur 1 bulan sampai 4 tahun
yang meninggal, lebih dari sepertiganya meninggal karena ISPA atau diantara
10 kematian 4 diantaranya meninggal disebabkan oleh ISPA (DepKes, 1985).
Sebagian besar hasil penelitian di negara berkembang menunjukkan bahwa
20-35% kematian bayi dan anak balita disebabkan oleh ISPA. Diperkirakan
bahwa 2-5 juta bayi dan balita di berbagai negara setiap tahun mati karena
ISPA (WHO, 1986)

L. Gambaran Epidemiologi ISPA di Indonesia
Gambaran epidemiologi ISPA di Indonesia berdasarkan distribusi frekuensi
penyakit ISPA dibedakan atas 3 macam yaitu menurut ciri-ciri orang
(person), tempat (place) dan menurut waktu (time).
1. Menurut Orang ( person)
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu
penyebab kematian tersering pada anak di negara sedang berkembang.
Daya tahan tubuh anak sangat berbeda dengan orang dewasa karena sistim
pertahanan tubuhnya belum kuat. Kalau di dalam satu rumah seluruh
anggota keluarga terkena pilek, anak-anak akan lebih mudah tertular.
Dengan kondisi tubuh anak yang masih lemah, proses penyebaran penyakit
pun menjadi lebih cepat.
Di Indonesia, ISPA selalu menempati urutan pertama penyebab
kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga berada pada
daftar 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit tahun
2006, dengan persentase 9,32%.
Berdasarkan hasil penelitian Djaja, dkk dengan menganalisa data
Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 1998, didapatkan bahwa
prevalensi penyakit ISPA berdasarkan umur balita adalah untuk usia <6
25

bulan (4,5%), 6-11 bulan (11,5%), 12-23 bulan (11,8%), 24-35 bulan
(9,9%), 36-47 bulan (9,2%), 48-59 bulan (8,0%).
ISPaA merupakan penyakit yang morbiditasnya sangat tinggi pada
kelompok anak-anak. Episode penyakit batuk pilek pada balita
diperkirakan 3-6 kali per tahun (rata-rata 4 kali per tahun), sehingga
penyakit saluran pernafasan akut merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang penting di seluruh dunia.

2. Menurut Tempat (place)
Dari pengamatan epidemiologi dapat diketahui bahwa angka
kesakitan ISPA di kota cenderung lebih besar daripada di desa. Hal ini
mungkin disebabkan oleh tingkat kepadatan tempat tinggal dan
pencemaran lingkungan di kota yang lebih tinggi daripada di desa.
Menurut penelitian Djaja, dkk (2001) didapatkan prevalensi ISPA di
perkotaan (11,2%) lebih tinggi daripada di pedesaan (8,4%). Prevalensi di
Jawa-Bali (10,7%) lebih tinggi daripada di luar Jawa-Bali (7,8%).

3. Menurut Waktu (time)
Berdasarkan data SKRT 1986-2001, diketahui proporsi kematian
ISPA di Indonesia yaitu pada bayi (umur 0-<1 tahun) di tahun 1986
sebesar 18,85%, tahun 1992 sebesar 36,40%, tahun 1995 sebesar 32,10%
dan tahun 2001 sebesar 27,60% dan pada balita (umur 1-4 tahun) di tahun
1986 sebesar 22,80%, tahun 1992 sebesar 18,20%, tahun 1995 sebesar
38,80% dan tahun 2001 sebesar 22,80%.
Hasil survei program P2ISPA di 12 propinsi di Indonesia (Sumatera
Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Barat,
Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi
Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara
Barat) selama kurun waktu 2000-2002 kasus ISPA terlihat berfluktuasi,
tahun 2000 dengan proporsi 30,1% (479.283 kasus), tahun 2001 proporsi
22,6% (620.147 kasus) dan tahun 2002 proporsi menjadi 22,1% (532.742
kasus).



26

M. Tujuan P3M ISPA
1. Tujuan Umum
Menurunkan angka kesakitan dan kematian karena pneumonia.
2. Tujuan Khusus
a. Pengendalian Pneumonia Balita
1) Tercapainya cakupan penemuan pneumonia Balita sebagai berikut
(tahun 2010: 60%, tahun 2011: 70%, tahun 2012: 80%, tahun 2013:
90%, tahun 2014: 100%).
2) Menurunkan angka kematian pneumonia Balita sebagai kontribusi
penurunan angka kematian Bayi dan Balita, sesuai dengan tujuan
MDGs (44 menjadi 32 per 1.000 kelahiran hidup) dan Indikator
Nasional Angka Kematian Bayi (34 menjadi 23 per 1.000 kelahiran
hidup).
b. Kesiapsiagaan dan Respon terhadap Pandemi Influenza serta
penyakit saluran pernapasan lain yang berpotensi wabah
1) Tersusunnya dokumen Rencana Kontijensi Kesiapsiagaan dan
Respon terhadap Pandemi Influenza di 33 provinsi pada akhir tahun
2014.
2) Tersusunnya Pedoman dan Petunjuk Pelaksanaan Penanggulangan
Pandemi Influenza pada akhir tahun 2014.
3) Tersosialisasinya pedoman-pedoman yang terkait dengan
Kesiapsiagaan dan Respon Pandemi Influenza pada akhir tahun
2014.
4) Tersusunnya Pedoman Latihan (Exercise) dalam Kesiapsiagaan dan
Respon Pandemi Influenza pada akhir tahun 2014.
c. Pengendalian ISPA umur 5 tahun
Terlaksananya kegiatan Surveilans Sentinel Pneumonia di Rumah
Sakit dan Puskesmas dari 10 provinsi pada tahun 2007 menjadi 33
provinsi pada akhir tahun 2014.



27

d. Faktor risiko ISPA
Terjalinnya kerjasama/ kemitraan dengan unit program atau
institusi yang kompeten dalam pengendalian faktor risiko ISPA
khususnya Pneumonia.

N. Strategi P3M ISPA
Strategi Pengendalian ISPA di Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Membangun komitmen dengan pengambil kebijakan di semua tingkat
dengan melaksanakan advokasi dan sosialisasi pengendalian ISPA dalam
rangka pencapaian tujuan nasional dan global.
2. Penguatan jejaring internal dan eksternal (LP/LS, profesi, perguruan
tinggi, LSM, ormas, swasta, lembaga internasional, dll).
3. Penemuan kasus pneumonia dilakukan secara aktif dan pasif.
4. Peningkatan mutu pelayanan melalui ketersediaan tenaga terlatih dan
logistik.
5. Peningkatan peran serta masyarakat dalam rangka deteksi dini
pneumonia Balita dan pencarian pengobatan ke fasilitas pelayanan
kesehatan.
6. Pelaksanaan Autopsi Verbal Balita di masyarakat.
7. Penguatan kesiapsiagaan dan respon pandemi influenza melalui
penyusunan rencana kontinjensi di semua jenjang, latihan (exercise),
penguatan surveilans dan penyiapan sarana prasana.
8. Pencatatan dan pelaporan dikembangkan secara bertahap dengan sistem
komputerisasi berbasis web.
9. Monitoring dan pembinaan teknis dilakukan secara berjenjang, terstandar
dan berkala.
10. Evaluasi program dilaksanakan secara berkala.
Secara rinci, strategi P3M penyakit ISPA dijabarkan dalam 8 kegiatan
pokok yaitu promosi penanggulangan pnemonia balita, kemitraan,
peningkatan penemuan kasus, peningkatan kualitas tatalaksana kasus ISPA,
peningkatan kualitas sumber daya, surveilans ISPA, pemantauan dan evaluasi
dan pengembangan program ISPA.
28

1. Advokasi dan Sosialisasi
Advokasi dan sosialisasi merupakan kegiatan yang penting dalam
upaya untuk mendapatkan komitmen politis dan kesadaran dari semua
pihak pengambil keputusan dan seluruh masyarakat dalam upaya
pengendalian ISPA dalam hal ini Pneumonia sebagai penyebab utama
kematian bayi dan Balita.
a. Advokasi
Dapat dilakukan melalui pertemuan dalam rangka mendapatkan
komitmen dari semua pengambil kebijakan.
b. Sosialisasi
Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran,
kemandirian dan menjalin kerjasama bagi pemangku kepentingan di
semua jenjang melalui pertemuan berkala, penyuluhan/KIE.

Sasaran promosi dalam P3M ISPA mencakup sasaran primer (ibu
balita dan keluarganya), sasaran sekunder (petugas kesehatan dan petugas
lintas program serta lintas sektor), dan sasaran tersier (pengambil
keputusan). Pesan pokok, metode dan media yang digunakan sesuai
dengan sasaran.

2. Penemuan dan Tatalaksana Pneumonia Balita
Kegiatan ini merupakan kegiatan terpenting, karena keberhasilan
upaya penurunan kematian pnemonia pada balita ditentukan oleh
keberhasilan upaya penemuan dan tatalaksana penderita ini.
Dalam kebijakan dan strategi P3M ISPA maka penemuan dan
tatalaksana penderita ini dilaksanakan di rumah tangga dan masyarakat
(keluarga, kader dan posyandu), di tingkat pelayanan kesehatan swasta
(praktek dokter, poliklinik swasta, RS swasta). Dengan demikian yang
melaksanakan kegiatan secara langsung adalah tenaga kesehatan di sarana-
sarana kesehatan tersebut dan kader posyandu di masyarakat. Berikut ini
merupakan prosedur penemuan dan tatalaksana penderita ISPA.

29

a. Penemuan penderita pneumonia
Penemuan dan tatalaksana Pneumonia merupakan kegiatan inti
dalam pengendalian Pneumonia Balita.
1) Penemuan penderita secara pasif
Dalam hal ini penderita yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan
seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Rumah Sakit dan Rumah
sakit swasta.
2) Penemuan penderita secara aktif
Petugas kesehatan bersama kader secara aktif menemukan penderita
baru dan penderita pneumonia yang seharusnya datang untuk
kunjungan ulang 2 hari setelah berobat.

Penemuan penderita pasif dan aktif melalui proses sebagai berikut:
1) Menanyakan Balita yang batuk dan atau kesukaran bernapas.
2) Melakukan pemeriksaan dengan melihat tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam (TDDK) dan hitung napas.
3) Melakukan penentuan tanda bahaya sesuai golongan umur <2
bulan dan 2 bulan - <5 tahun.
4) Melakukan klasifikasi Balita batuk dan atau kesukaran bernapas;
Pneumonia berat, pneumonia dan batuk bukan pneumonia.

Bagan 1. Klasifikasi Balita Batuk dan atau Kesukaran
Bernapas


30

b. Perkiraan jumlah penderita Pneumonia Balita (Perkiraan
pneumonia Balita)
Perkiraan jumlah penderita Pneumonia Balita suatu Puskesmas
didasarkan pada angka insidens Pneumonia Balita dari jumlah Balita di
wilayah kerja Puskesmas yang bersangkutan. Jika angka insidens
pneumonia untuk suatu daerah belum diketahui maka dapat digunakan
angka perkiraan (nasional) insidens pneumonia Balita di Indonesia yang
dihitung 10 % dari total populasi balita.
Jumlah Balita di suatu daerah diperkirakan sebesar 10% dari
jumlah total penduduk. Namun jika provinsi, kabupaten/kota memiliki
data jumlah Balita yang resmi/riil dari pencatatan petugas di
wilayahnya, maka dapat menggunakan data tersebut sebagai dasar
untuk menghitung jumlah penderita pneumonia Balita.
Rumus perkiraan jumlah penderita pneumonia Balita di suatu
wilayah kerja per tahun adalah sebagai berikut :
1) Bila jumlah Balita sudah diketahui

Contoh:
Jumlah Balita di Puskesmas Rembulan = 10.000 Balita
Maka perkiraan jumlah penderita pneumonia Balita =
10% x 10.000 = 1.000 Balita
Atau :
2) Bila jumlah Balita belum diketahui

Contoh:
Angka insidens Pneumonia Balita =10%
Perkiraan jumlah Balita = 10% jumlah penduduk
Jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas Melati = 30.000 orang
Maka:
Perkiraan jumlah penderita pneumonia di wilayah kerja tersebut per
tahun adalah:
10% x 10% x 30.000 = 300 Balita/tahun
Insidens pneumonia Balita = 10% jumlah balita
Perkiraan jumlah Balita = 10% jumlah penduduk
31

Perkiraan Jumlah penderita pneumonia di wilayah kerja Puskesmas
Melati per bulan adalah :

= 25 Balita/bulan
Perhitungan per bulan bermanfaat untuk pemantauan dalam
pencapaian target penderita pneumonia Balita.
c. Target
Target penemuan penderita pneumonia Balita adalah jumlah
penderita pneumonia Balita yang harus ditemukan/dicapai di suatu
wilayah dalam 1 tahun sesuai dengan kebijakan yang berlaku setiap
tahun secara nasional.
Contoh:
Kebijakan tahun 2011 target penemuan penderita pneumonia Balita =
70%
Maka Puskesmas Melati:
Jumlah (minimal) penderita pneumonia Balita yang harus dicapai
adalah
70% x 300 penderita pneumonia Balita = 210 Balita/tahun

= 17-18 Balita/bulan
Bila Puskesmas Melati dalam setahun menemukan 180 penderita maka
pencapaian target penemuan adalah:

= 60%
Berarti Puskesmas Melati tidak mencapai target 70%, oleh karena itu
perlu dianalisis penyebab permasalahannya sehingga dapat diketahui
pemecahan masalah dan dapat ditindaklanjuti untuk tahun berikutnya.
d. Tatalaksana pneumonia Balita
Pola tatalaksana penderita yang dipakai dalam pelaksanaan
Pengendalian ISPA untuk penanggulangan pneumonia pada Balita
didasarkan pada pola tatalaksana penderita ISPA yang diterbitkan
WHO tahun 1988 yang telah mengalami adaptasi sesuai kondisi
Indonesia.
32

Bagan 2. Tatalaksana penderita batuk dan atau kesukaran bernapas
umur < 2 Bulan

Setelah penderita pneumonia Balita ditemukan dilakukan
tatalaksana sebagai
berikut:
1) Pengobatan dengan menggunakan antibiotik: kotrimoksazol,
amoksisilin selama 3 hari dan obat simptomatis yang diperlukan
seperti parasetamol, salbutamol
2) Tindak lanjut bagi penderita yang kunjungan ulang yaitu penderita 2
hari setelah mendapat antibiotik di fasilitas pelayanan kesehatan.
3) Rujukan bagi penderita pneumonia berat atau penyakit sangat berat.
Bagan 3. Tatalaksana Anak Batuk dan atau Kesukaran Bernapas Umur 2
Bulan - < 5 Tahun

33

3. Ketersediaan Logistik
Dukungan logistik sangat diperlukan dalam menunjang pelaksanaan
pengendalian ISPA. Penyediaan logistik dilakukan sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku dan menjadi tanggung jawab
pemerintah pusat dan daerah. Sesuai dengan pembagian kewenangan
antara pusat dan daerah maka pusat akan menyediakan prototipe atau
contoh logistik yang sesuai standard (spesifikasi) untuk pelayanan
kesehatan. Selanjutnya pemerintah daerah berkewajiban memenuhi
kebutuhan logistik sesuai kebutuhan. Logistik yang dibutuhkan antara lain:
a. Obat
1) Tablet Kotrimoksazol 480 mg
2) Sirup Kotrimoksazol 240 mg/5 ml
3) Sirup kering Amoksisilin 125 mg/5 ml
4) Tablet Parasetamol 500 mg
5) Sirup Parasetamol 120 mg/5 ml.

Pola penghitungan jumlah obat yang diperlukan dalam satu tahun
di suatu daerah didasarkan pada rumus berikut :

Obat-obat tersebut di atas merupakan obat yang umum digunakan
di Puskesmas untuk berbagai penyakit sehingga dalam penyediaannya
dilakukan secara terpadu dengan program lain dan proporsi sesuai
kebutuhan. Jika memungkinkan dapat disediakan antibiotik
intramuskular: Ampisilin dan Gentamisin.
34

Untuk menghindari kelebihan obat maka perhitungan kebutuhan
obat berdasarkan hasil cakupan tahun sebelumnya dengan tambahan
10% sebagai buffer stock.
Contoh penghitungan kebutuhan obat:
Target cakupan tahun 2011 = 70%
Pencapaian cakupan tahun 2010 = 30%
Perkiraan jumlah penderita pneumonia Balita = 300 Balita/tahun
Kebutuhan tablet Kotrimoksazol 480 mg setahun
= hasil cakupan tahun sebelumnya x perkiraan pneumonia balita x 6
tablet + 10% bufferstock
= (30% x 300 x 6 tablet ) + 10% (30% x 300 x 6 tablet )
= 540 tablet + 54 tablet = 594 tablet
b. Alat
1) Acute Respiratory Infection Soundtimer
Digunakan untuk menghitung frekuensi napas dalam 1 menit. Alat
ini memiliki masa pakai maksimal 2 tahun (10.000 kali pemakaian).
Jumlah yang diperlukan minimal:

a) Puskesmas
3 buah di tiap Puskesmas
1 buah di tiap Pustu
1 buah di tiap bidan desa, Poskesdes, Polindes, Ponkesdes
b) Kabupaten
1 buah di dinas kesehatan kabupaten/kota
1 buah di rumah sakit umum di ibukota kabupaten/kota
c) Provinsi
1 buah di dinas kesehatan provinsi
1 buah di rumah sakit umum di ibukota provinsi.
2) Oksigen konsentrator
Untuk memproduksi oksigen dari udara bebas. Alat ini
diperuntukkan khususnya bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang
35

menyelenggarakan rawat inap dan unit gawat darurat yang
mempunyai sumber daya energi (listrik/ generator).
3) Oksimeter denyut (Pulseoxymetry)
Sebagai alat pengukur saturasi oksigen dalam darah diperuntukan
bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki oksigen
konsentrator.
c. Pedoman
Sebagai pedoman dalam melaksanakan pengendalian ISPA. Dinas
Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan Puskesmas
masing-masing minimal memiliki 1 set buku pedoman Pengendalian
ISPA, yang terdiri dari:
1) Pedoman Pengendalian ISPA
2) Pedoman Tatalaksana Pneumonia Balita
3) Pedoman Autopsi Verbal
4) Pedoman Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza
5) Pedoman Respon Nasional menghadapi Pandemi Influenza
d. Media KIE (Elektronik dan Cetak)
1) DVD Tatalaksana pneumonia Balita.
Media ini berisi cara-cara bagaimana memeriksa anak yang
menderita batuk, bagaimana menghitung frekuensi napas anak dalam
satu menit dan melihat tanda penderita Pneumonia berat berupa
tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (chestindrawing).
3) TV spot dan Radio Spot tentang pneumonia Balita.
4) Poster, Lefleat, Lembar Balik, Kit Advokasi dan Kit Pemberdayaan
Masyarakat.
e. Media pencatatan dan pelaporan
1) Stempel ISPA
Merupakan alat bantu untuk pencatatan penderita pneumonia Balita
sebagai status penderita.
2) Register harian Pneumonia (non sentinel dan sentinel).
3) Formulir laporan bulanan (non sentinel dan sentinel)

36

Pemantauan logistik dilaksanakan sampai di fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama (dengan menggunakan formulir supervisi) yang
dilakukan oleh petugas pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Di semua
tingkat pemantauan dilakukan sesuai dengan ketentuan pengelolaan barang
milik pemerintah (UU No.19 tahun 2003 tentang badan usaha milik
negara). Penilaian kecukupan logistik dapat dilihat dari indikator logistik
pengendalian ISPA.

4. Supervisi
Supervisi dilakukan untuk menjamin pelaksanaan pengendalian
ISPA berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan/ditetapkan dalam
pedoman baik di provinsi, kabupaten/kota, Puskesmas dan rumah sakit
menggunakan instrumen supervisi (terlampir). Supervisi dilakukan secara
berjenjang difokuskan pada propinsi, kab/kota, Puskesmas yang:
pencapaian cakupan rendah
pencapaian cakupan tinggi namun meragukan
kelengkapan dan ketepatan laporan yang kurang baik

a. Pelaksana supervisi:
1) petugas pusat,
2) petugas provinsi,
3) petugas kabupaten/kota,
4) petugas Puskesmas.
b. Alat:
Formulir(checklist) untuk supervisi mencakup aspek manajemen
program (pencapaian target, pelatihan, logistik) dan aspek tatalaksana.
c. Keluaran
Keluaran dari kegiatan supervisi dan bimbingan teknis pengendalian
ISPA adalah :
1) data umum wilayah
2) data pencapaian target program
3) data pelatihan
37

4) data logistik
5) identifikasi masalah
6) cara pemecahan masalah
7) langkah tindak lanjut, dan
8) laporan supervisi dan bimbingan teknis.

5. Pencatatan dan Pelaporan
Untuk melaksanakan kegiatan pengendalian ISPA diperlukan data
dasar (baseline) dan data program yang lengkap dan akurat.
Data dasar atau informasi tersebut diperoleh dari :
a. Pelaporan rutin berjenjang dari fasilitas pelayanan kesehatan
hingga ke pusat setiap bulan. Pelaporan rutin kasus pneumonia
tidak hanya bersumber dari Puskesmas saja tetapi dari semua
fasilitas pelayanan kesehatan baik swasta maupun pemerintah.
b. Pelaporan surveilans sentinel Pneumonia semua golongan umur
dari lokasi sentinel setiap bulan.
c. Laporan kasus influenza pada saat pandemi
Disamping pencatatatan dan pelaporan tersebut di atas, untuk
memperkuat data dasar diperlukan referensi hasil survei dan penelitian dari
berbagai lembaga mengenai pneumonia.
Data yang telah terkumpul baik dari institusi sendiri maupun dari
institusi luar selanjutnya dilakukan pengolahan dan analisis. Pengolahan
dan analisis data dilaksanakan baik oleh Puskesmas, kabupaten/kota
maupun provinsi. Di tingkat Puskemas pengolahan dan analisis data
diarahkan untuk tujuan tindakan koreksi secara langsung dan perencanaan
operasional tahunan. Sedangkan di tingkat kabupaten/kota diarahkan untuk
tujuan bantuan tindakan dan penentuan kebijakan pengendalian serta
perencanaan tahunan/5 tahunan di wilayah kerjanya masing-masing.
Melalui dukungan data dan informasi ISPA yang akurat
menghasilkan kajian dan evaluasi program yang tajam sehingga tindakan
koreksi yang tepat dan perencanaan tahunan dan menengah (5 tahunan)
dapat dilakukan. Kecenderungan atau potensi masalah yang mungkin
38

timbul dapat diantisipasi dengan baik khususnya dalam pengendalian
Pneumonia.
Data dan kajian perlu disajikan dan disebarluaskan/diseminasi dan
diumpan balikan kepada pengelola program dan pemangku kepentingan
terkait di dalam jejaring.
Diseminasi di tingkat Puskesmas dilakukan pada forum pertemuan
rutin, lokakarya mini Puskesmas, rapat koordinasi kecamatan dan
sebagainya.
Di tingkat kabupaten/kota dan provinsi, diseminasi dilakukan pada
forum pertemuan teknis di dinas kesehatan, rapat koordinasi di tingkat
kabupaten/kota, provinsi, forum dengar pendapat serta diskusi dengan
DPRD dan sebagainya, serta dituangkan dalam bentuk buletin, laporan
tahunan ataupun laporan khusus.
Dalam pelaksanaan Pengendalian ISPA di Indonesia diagnosis tidak
dianggap sama dengan klasifikasi tatalaksana sehingga timbul kerancuan
dalam pencatatan dan pelaporan. Oleh karena itu dalam klasifikasi Bukan
Pneumonia tercakup berbagai diagnosis ISPA (non Pneumonia) seperti:
common cold/ selesma, faringitis, Tonsilitis, Otitis, dsb. Dengan perkataan
lain Batuk Bukan Pneumonia merupakan kelompok diagnosis.

6. Kemitraan dan Jejaring
a. Kemitraan
Kemitraan merupakan faktor penting untuk menunjang
keberhasilan program pembangunan. Kemitraan dalam program
Pengendalian ISPA diarahkan untuk meningkatkan peran serta
masyarakat, lintas program, lintas sektor terkait dan pengambil
keputusan termasuk penyandang dana. Dengan demikian pembangunan
kemitraan diharapkan dapat lebih ditingkatkan, sehingga pendekatan
pelaksanaan pengendalian ISPA khususnya Pneumonia dapat terlaksana
secara terpadu dan komprehensif. Intervensi pengendalian ISPA tidak
hanya tertuju pada penderita saja tetapi terhadap faktor risiko
39

(lingkungan dan kependudukan) dan faktor lain yang berpengaruh
melalui dukungan peran aktif sektor lain yang berkompeten.
Kegiatan kemitraan meliputi pertemuan berkala dengan:
1) lintas program dan sektor terkait,
2) organisasi kemasyarakatan,
3) lembaga swadaya masyarakat,
4) tokoh masyarakat,
5) tokoh agama,
6) perguruan tinggi,
7) organisasi profesi kesehatan,
8) sektor swasta
b. Jejaring
Untuk keberhasilan program Pengendalian ISPA diperlukan
peningkatan jejaring kerja (networking) dengan pemangku kepentingan.
Berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari jejaring antara lain
pengetahuan, keterampilan, informasi, keterbukaan, dukungan,
membangun hubungan, dll dalam upaya pengendalian pneumonia di
semua tingkat.
Jejaring dapat dibangun dengan berbagai pemangku kepentingan
sesuai dengan kebutuhan wilayah (spesifik wilayah) baik sektor
pemerintah, swasta, perguruan tinggi, lembaga/organisasi non
pemerintah, dll. Jejaring dapat dibangun melalui pertemuan atau
pembuatan kesepahaman (MOU). Untuk menjaga kesinambungan
jejaring, maka komunikasi perlu secara intensif melalui pertemuan-
pertemuan berkala dengan mitra terkait.

7. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia
Aspek pelatihan merupakan bagian penting dari Pengendalian ISPA
dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya dalam
penatalaksanaan kasus dan manajemen program. Ada beberapa jenis
pelatihan untuk tenaga kesehatan, yaitu :

40

a. Pelatihan pelatih (TOT)
TOT Tatalaksana Pneumonia Balita, Manajemen Pengendalian ISPA
dan Pandemi Influenza.
Tujuan:
Tersedianya tenaga fasilitator/pelatih pusat, provinsi, dan
kabupaten/kota dalam pengendalian ISPA
Sasaran:
1) Pengelola ISPA Pusat
2) Pengelola ISPA Provinsi
3) Pengelola ISPA Kabupaten/Kota
b. Pelatihan bagi Tenaga Kesehatan
1) Tatalaksana ISPA
Tujuan:
Peserta latih memahami dan mampu mempraktekkan tatalaksana
penderita Pneumonia sesuai standar di tempat kerjanya masing-
masing.
Sasaran:
a) Paramedis Puskesmas, Polindes dan Bidan desa
b) Dokter Puskesmas
c) Dokter Rumah Sakit
d) Paramedis Rumah Sakit
e) Pengelola Program ISPA kabupaten dan provinsi
Materi:
a) Buku/modul Tatalaksana PneumoniaBalita
b) Bagan Tatalaksana Penderita Batuk dan Kesukaran Bernapas
Pada Balita
c) DVD Tatalaksana Pneumonia Balita
Penyelenggaraan:
a) Jumlah peserta optimal30 orang per kelas
b) Rasio fasilitator termasuk MOT dengan peserta diupayakan 1:5
Lama pelatihan: 4 hari

41

2) Pelatihan Manajemen Program Pengendalian ISPA
Tujuan:
Peserta latih memahami dan mampu melaksanakan manajemen
program Pengendalian ISPA secara efektif sesuai kebijakan program
Pengendalian ISPA Nasional dan situasi spesifik setempat.
Sasaran:
a. Pengelola program ISPA provinsi
b. Pengelola program ISPA kabupaten/kota
c. Pengelola program ISPA Puskesmas
Materi:
Pedoman/modul Pelatihan Manajemen Pengendalian ISPA terbitan
Kementerian Kesehatan.
Penyelenggaraan:
Jumlah peserta maksimal 30 orang per kelas
Rasio fasilitator dengan peserta diupayakan 1 : 5
Lama Pelatihan: 4 hari
3) Pelatihan Promosi Pengendalian Pneumonia Balita
Tujuan:
Peserta latih memahami dan mampu mengembangkan promosi
penanggulangan
Pneumonia melalui advokasi, bina suasana dan penggerakan
masyarakat.
Sasaran :
a) Pengelola program ISPA provinsi, kabupaten/kota
b) Pengelola program Promosi Kesehatan provinsi, kabupaten/kota
Materi :
Buku Pedoman/modul Promosi Pengendalian Pneumonia Balita.
Penyelenggaraan:
a) Jumlah peserta maksimal 30 orang per kelas
b) Rasio pengajar/fasilitator dengan peserta diupayakan 1 : 5
Lama pelatihan: 4 hari

42

c. Pelatihan Autopsi Verbal
Tujuan:
Petugas kesehatan mampu mengumpulkan gejala-gejala pada Balita
menjelang kematian melalui metode wawancara yang dilakukan antara
1-3 bulan setelah kematian dan mampu membuat klasifikasi penyakit
yang diderita anak umur <5 tahun menjelang kematiannya.
Sasaran:
c) Pengelola ISPA dan surveilans provinsi, kabupaten/kota dan
Puskesmas.
d) Tenaga kesehatan (keperawatan dan kebidanan) Puskesmas, Pustu
dan Polindes.
e) Pengelola program ISPA Puskesmas.
Materi:
1) Modul pelatihan Autopsi Verbal kematian Balita
2) Formulir wawancara
Penyelenggaraan:
1) Jumlah peserta diupayakan maksimal 30 orang per kelas
2) Rasio pengajar/fasilitator dengan peserta diupayakan 1 : 8-10
Lama pelatihan: 4 hari

d. Pelatihan Pengendalian ISPA Bagi Tenaga non Kesehatan
Keberhasilan Pengendalian ISPA untuk Pengendalian Pneumonia Balita
sangat ditentukan oleh peran serta masyarakat baik untuk
menggerakkan masyarakat dalam berperan untuk melaksanakan
program (kader, TOMA, TOGA dan sebagainya) maupun dalam
menggerakkan masyarakat untuk memanfaatkan sarana dan pelayanan
kesehatan.
Dalam mengembangkan dan meningkatkan peranan masyarakat dalam
Pengendalian ISPA dilaksanakan pelatihan Pengendalian ISPA bagi
tenaga non petugas kesehatan.


43

Tujuan:
Peserta latih memahami dan mampu melaksanakan kegiatan promosi
pengendalian Pneumonia Balita melalui penyampaian informasi
Pneumonia yang benar kepada orang tua/pengasuh Balita dan
masyarakat umum.
Sasaran:
1) Kader
2) TP PKK desa dan kecamatan
3) TOMA
4) TOGA
Materi:
Buku pemberdayaan kader
Penyelenggaraan:
1) Jumlah peserta diupayakan maksimal 30 orang per kelas
2) Rasio fasilitator dengan peserta diupayakan 1 : 10
Lama pelatihan: 1 hari

8. Pengembangan Program
a. Kesiapsiagaan dan Respon Pandemi Influenza
Kegiatan meliputi:
1) Penyusunan pedoman
2) Pertemuan lintas program dan lintas sektor
3) Latihan (exercise) seperti desktop/tabletop, simulasi lapangan
b. Sentinel Surveilans Pneumonia
Kegiatan di Puskesmas dan RS sentinel meliputi:
1) Penemuan dan tatalaksana pneumonia semua golongan umur.
2) Pengumpulan data pneumonia untuk semua golongan umur.
3) Pelaporan dari Puskesmas dan RS sentinel langsung ke Subdit P
ISPA dengan tembusan ke kab/kota dan propinsi.
4) Pengolahan dan analisis data dilakukan di semua jenjang.
5) Umpan balik dari Pusat ke Puskesmas dan RS sentinel dan tembusan
ke kab/kota dan propinsi.
44

6) Pembinaan/monitoring kegiatan pelaksanaan sentinel.
c. Kajian/pemetaan
1) Pengetahuan, sikap dan perilaku (KAP) yang terkait pneumonia.
2) Kesakitan (termasuk faktor risiko) dan kematian.
3) Pengendalian pneumonia di fasilitas kesehatan.
4) Penggunaan dan pemeliharaan logistik ISPA
5) Terapi oksigen dalam tatalaksana kasus pneumonia

9. Autopsi Verbal (Av)
Autopsi verbal Balita merupakan kegiatan meminta keterangan atau
informasi tentang berbagai kejadian yang berkaitan dengan kesakitan
dan/atau tindakan yang dilakukan pada Balita sebelum yang bersangkutan
meninggal dunia, guna mencari penyebab kematian serta faktor
determinan yang sangat esensial dalam pengelolaan kesehatan masyarakat.
Kegiatan ini dilakukan melalui wawancara kepada ibu atau pengasuh
Balita yang dianggap paling tahu terhadap keadaan anak menjelang
meninggal. Petugas yang akan melaksanakan AV adalah petugas yang
sudah mengikuti pelatihan Autopsi Verbal Kematian Pneumonia Balita.
Peran aktif petugas ISPA/Puskemas sangat penting dalam memantau
kematian Balita di wiliyah kerja Puskesmas, baik yang datang maupun
tidak datang ke sarana pelayanan kesehatan setempat. Dari hasil AV akan
didapat data kematian Balita berdasarkan waktu, tempat dan orang sebagai
sumber informasi manajemen dalam menentukan intervensi yang efisien
dan efektif.
Data kematian Balita bermanfaat sebagai:
a. Alat monitoring dan intervensi program kesehatan yang dilaksanakan.
b. Bahan perencanaan penganggaran dan kegiatan kesehatan.
c. Audit kasus kematian untuk upaya pembinaan.
d. Audit manajemen kasus dan kesehatan masyarakat
e. Penentu prioritas program
f. Data sasaran program menurut umur.

45

10. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring atau pemantauan pengendalian ISPA dan kesiapsiagaan
menghadapi pandemi influenza perlu dilakukan untuk menjamin proses
pelaksanaan sudah sesuai dengan jalur yang ditetapkan sebelumnya.
Apabila terdapat ketidaksesuain maka tindakan korektif dapat dilakukan
dengan segera. Monitoring hendaknya dilaksanakan secara berkala
(mingguan, bulanan, triwulan).
Evaluasi lebih menitikberatkan pada hasil atau keluaran/output
yang diperlukan untuk koreksi jangka waktu yang lebih lama misalnya 6
bulan, tahunan dan lima tahunan. Keberhasilan pelaksanaan seluruh
kegiatan pengendalian ISPA akan menjadi masukan bagi perencanaan
tahun/periode berikutnya.
a. Kegiatan monitoring dan evaluasi dalam Pengendalian ISPA
Beberapa komponen yang dapat dipantau/evaluasi adalah:
1) Sumber Daya Manusia
a) Tenaga Puskesmas terlatih dalam manajemen program dan
teknis
b) Tenaga pengelola Pengendalian ISPA terlatih di kabupaten/kota
dan provinsi
2) Sarana dan Prasarana
a) RS Rujukan (FB/AI, Influenza Pandemi) yang memiliki ruang
isolasi, ruang rawat
b) intensif/ ICU dan ambulans sebagai penilaian core capacity
penanggulangan pandemi influenza.
c) Ketersediaan alat komunikasi baik untuk rutin maupun insidentil
(KLB).
3) Logistik
a) Obat:
Ketersediaan antibiotik
Ketersediaan antiviral (oseltamivir)
Ketersediaan obat-obat penunjang (penurun panas, dll)

46

b) Alat:
Tersedianya ARI sound timer
Oksigen konsentrator
Ketersediaan APD untuk petugas RS, laboratorium,
Puskesmas dan lapangan
c) Pedoman (ketersedian dan kondisi sesuai standar)
d) Media KIE dan media audio visual
e) Tersedianya formulir pencatatan dan pelaporan
b. Indikator masukan
1) Sumber Daya Manusia
a) Tenaga fasilitas pelayanan kesehatan yang terlatih dalam
manajemen program dan teknis pengendalian ISPA.
Proporsi Puskesmas dengan Tenaga Terlatih
Pembilang (a):
Jumlah Puskesmas dengan tenaga terlatih yang ada di suatu
wilayah tertentu.
Penyebut (b):
Jumlah seluruh Puskesmas yang ada di wilayah tersebut
Cara perhitungan:

x 100%
b) Tenaga pengelola Pengendalian ISPA terlatih di kabupaten/kota
dan provinsi
2) Sarana dan Prasarana
a) Jumlah RS Rujukan (FB/AI, Influenza Pandemi) yang memiliki
ruang isolasi, ruang rawat intensif/ICU dan ambulans.
b) Tersedianya Alat komunikasi
3) Logistik
a) Tersedianya alat: sound timer dan oksigen konsentrator
Proporsi Puskesmas yang memiliki Alat Bantu Hitung
Napas atau Sound Timer
Pembilang (a):
Jumlah Puskesmas yang memiliki sound timer di suatu
wilayah tertentu.
47

Penyebut (b) :
Jumlah semua Puskesmas yang ada di wilayah tersebut.
Cara perhitungan:

x 100%
b) Ketersediaan antibiotik
c) Ketersediaan antiviral (oseltamivir)
d) Ketersediaan obat-obat penunjang (penurun panas, dll)
e) Ketersediaan APD untuk petugas RS, laboratorium, Puskesmas
dan lapangan.
f) Ketersediaan pedoman
g) Media KIE dan media audio visual
c. Indikator luaran (Evaluasi)
1) Cakupan tatalaksana Pneumonia Balita
Pembilang (a):
Jumlah kasus Pneumonia Balita yang ditatalaksana di suatu
wilayah kerja Puskesmas dalam 1 tahun.
Penyebut (b):
Perkiraan jumlah penemuan PneumoniaBalita di wilayah kerja
Puskesmas tersebut dalam 1 tahun (10% dari jumlah Balita).
Cara penghitungan:

x 100%
2) Jumlah Kasus dan CFR di rumah sakit
3) Cakupan profilaksis massal pada penanggulangan episenter
pandemi
d. Indikator Kinerja Pengendalian ISPA
1) Jumlah propinsi sentinel mencapai 33 provinsi (66 Puskesmas dan
66 RS) tahun 2014.
2) Rencana Kontinjensi Penanggulangan Episenter Pandemi
Influenza: 33 provinsi tahun 2014.
3) Kelengkapan laporan: 100%
4) Ketepatan laporan: 80%



48

O. Ukuran Epidemiologi ISPA yang Dapat Dipakai
1. Ukuran Morbiditas
a. Insiden
Insiden adalah gambaran tentang frekuensi penderita baru suatu
penyakit yang ditemukan pada suatu waktu tertentu di dalam kelompok
masyarakat.
1) Insidence rate
Yaitu Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada
suatu jangka waktu tertentu(umumnya 1 tahun) dibandingkan dengan
jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit baru tersebut pada
pertengahan jangka waktu yang bersangkutan.
Insidence rate =




2) Attack Rate
Yaitu Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada
suatu saat dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin
terkena penyakit tersebut pada saat yang sama.
Attack Rate =





b. Prevalen
Prevalen adalah gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru
yang ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu di sekelompok
masyarakat tertentu.
Poin prevalen rate: Jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit
pada suatu saat dibagi dengan jumlah penduduk pada saat itu.
Poin prevalen rate =




2. Ukuran Mortalitas
a. IMR (Infant Mortality Rate) =


/1000
49

b. PMR (Perinatal Mortality Rate) =



/ 1000

c. NMR (Neonatal Mortality Rate) =


/ 1000


























50

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Penyakit ISPA bagian atas mulai dari hidung, nasofaring, sinus paranasalis
sampai dengan laring hampir 90% disebabkan oleh viral, sedangkan ISPA
bagian bawah hampir 50% diakibatkan oleh bakteri.
2. ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat berlangsung sampai 14
hari.
3. Pada umumnya ISPA termasuk ke dalam penyakit menular yang
ditularkan melalui udara.
4. Tanda dan gejala penyakit ISPA pada anak bermacam-macam seperti
batuk, kesulitan bernapas, sakit tenggorokan, pilek, demam dan sakit
telinga.
5. Diagnosis ISPA oleh karena virus dapat ditegakkan dengan pemeriksaan
laboratorium terhadap jasad renik itu sendiri. Sedangkan diagnosis ISPA
oleh karena bakteri dilakukan dengan pemeriksaan sputum, biakan darah,
biakan cairan pleura.
6. Transmisi penyakit ISPA dapat melalui udara dan melalui kontak
langsung/tidak langsung dari benda yang telah dicemari jasad renik (hand to
hand transmission).
7. Riwayat alamiah ISPA dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu:
a. Tahap prepatogenesis, penyebab telah ada tetapi penderita belum
menunjukkan reaksi apa-apa.
b. Tahap inkubasi, virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa.
Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan
sebelumnya memang sudah rendah.
c. Tahap dini penyakit, dimulai dari munculnya gejala penyakit. Timbul
gejala demam dan batuk.
d. Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat, yaitu dapat sembuh
sempurna, sembuh dengan ateletaksis, menjadi kronis dan dapat
meninggal akibat pneumonia.
51

8. Pengobatan ISPA oleh virus belum ditemukan sedangkan pengobatan bagi
ISPA bakterial adalah pengobatan secara rasional dengan mendapatkan
antimikroba yang tepat sesuai dengan kuman penyebab.
9. Penyakit ISPA di Indonesia sepanjang 2007 sampai 2011 mengalami tren
kenaikan.
10. Faktor yang berpengaruh terhadap ISPA antara lain:
a. Faktor Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
b. Faktor umur
c. Faktor Jenis Kelamin
d. Faktor Vitamin
e. Faktor Gangguan Gizi (Malnutrisi)
f. Status Imunisasi
g. Status Sosioekonomi
h. Faktor Pemberian Air Susu Ibu (ASI)
i. Faktor Pencemaran Udara Dalam Lingkungan
j. Ventilasi
k. Kepadatan Hunian
11. Cara pencegahan ISPA berdasarkan level of prevention:
a. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
1) Penyuluhan
2) Imunisasi
3) Usaha di bidang gizi
4) Program KIA Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP)
b. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Dalam penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya
pengobatan dan diagnosis sedini mungkin.
c. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Memperhatikan apabila timbul gejala pneumonia dan supaya
tidak bertambah parah maka membawa anak pada petugas kesehatan
dan pemberian perawatan yang spesifik di rumah dengan
memperhatikan asupan gizi dan lebih sering memberikan ASI.
52

12. Penyakit ISPA adalah penyakit yang dapat menyerang semua kelompok
usia dari bayi, anak-anak dan sampai orang tua dan merupakan salah satu
masalah kesehatan yang ada di negara berkembang dan negara maju.
13. Di Indonesia, ISPA selalu menempati urutan pertama penyebab kematian
pada kelompok bayi dan balita. Dilihat dari pengamatan epidemiologi
dapat diketahui bahwa angka kesakitan ISPA di kota cenderung lebih
besar daripada di desa. Proporsi kematian akibat ISPA di Indonesia
cenderung meningkat.
14. Tujuan P3M ISPA secara umum adalah untuk menurunkan angka
kesakitan dan kematian karena pneumonia.
11. Strategi yang diterapakan dalam P3M ISPA adalah Membangun
komitmen, Penguatan jejaring internal dan eksternal, Penemuan kasus
pneumonia dilakukan secara aktif dan pasif, Peningkatan mutu
pelayanan, Peningkatan peran serta masyarakat dalam rangka deteksi dini
pneumonia, Pelaksanaan Autopsi Verbal Balita di masyarakat, Penguatan
kesiapsiagaan dan respon pandemi, Pencatatan dan pelaporan secara
bertahap, Monitoring dan pembinaan teknis secara berjenjang, terstandar
dan berkala serta Evaluasi program secara berkala.

B. Saran
ISPA merupakan penyakit infeksi yang dapat menyerang siapa saja.
Oleh karena itu dalam rangka menghindari ISPA, upaya inti seperti perbaikan
kualitas lingkungan sangat perlu dilakukan. Selain itu, hal-hal lain yang
terkait upaya pencegahan ISPA juga perlu dilakukan agar proteksi terhadap
penularan ISPA semakin baik.







53

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, A. 2002. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Penerbit
Mutiara
Departemen Kesehatan RI. 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit
Infeksi Saluran Pernapasan. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
http://125.160.76.194/bidang/yanmed/farmasi/Pharmaceutical/ISPA.pdf
(Diakses: 13 April 2013)
DepKes RI. 1991. Bimbingan Ketrampilan Dalam Penatalaksanaan
Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Anak. Jakarta
DepKes RI. 1992. Direktorat Jendral PPM & PLP. Pedoman
Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ispa). Jakarta
DepKes RI. 2000. Pedoman Pemberantasan Infeksi Saluran
Pernapasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Jakarta
DepKes RI. 2001. Pedoman Pemberantasan Penyakit ISPA. Jakarta
DepKes RI. 2002. Pedoman Pemberantasan Infeksi Saluran
Pernapasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Jakarta
IGN Ranuh, (1997). Masalah ISPA dan Kelangsungan Hidup Anak. .
Surabaya : Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak
Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan. 2011. Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran
Pernapasan Akut. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia Pada
Anak Balita, Orang Dewasa, Usia Lanjut. Jakarta : Pustaka Obor Populer
Mukono. 1997. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap
Gangguan Pernapasan. Jakarta
Rasmaliah. 2004. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan
Penanggulangannya. Fakultas Kesehatan Masyrakat Universitas Sumatera
Utara. http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-rasmaliah9.pdf (Diakses:
13 April 2013)
54

S Djaja, (2001). Determinan Prilaku Pencarian Pengobatan Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita. . - : Buletin Penelitian
Kesehatan
WHO (2007). Pencegahan dan pengendalian infeksi saluran pernapasan
akut (ISPA) yang cenderung menjadi epidemi dan pandemi di fasilitas
pelayanan kesehatan. WHO Interim Guidelines. Available from:
http://www.who.int/csr/resources/publications/csrpublications/en/index7.ht
ml (Diakses: 12 April 2013)
WHO (2008). Pengenalan dini, pelaporan, dan manajemen
pencegahan dan pengendalian infeksi ISPA yang berpotensi menimbulkan
kekhawatiran.
WHO. 2003. Penanganan ISPA Pada Anak di Rumah Sakit Kecil
Negara Berkembang. Jakarta : EGC.
WHO. 2008. Pencegahan dan Pengendalian ISPA di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan. Available from:
http://www.who.int/csr/resource/publication/AMpandemicbahasa.pdf.
(Diakses: 13 April 2013)