Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN AUDIT

AUDITING II


Oleh : Kelompok 10
1. Yeni Karlina 120110110024
2. Lyris Pratiwi 120110110137
3. Ayu Andira 120110110148
4. Fourthynawati M. 120110110149
2014

Universitas Padjadjaran
5/3/2014
LAPORAN AUDIT
Laporan merupakan hal yang sangat penting dalam penugasan audit dan assurance karena
mengomunikasikan temuan temuan auditor. Para pemakai laporan keuangan
mengandalkan laporan auditor untuk memberikan kepastian atas laporan keuangan
perusahaan. Laporan Audit adalah tahap akhir dari keseluruhan proses audit.
LAPORAN AUDIT WAJAR TANPA PENGECUALIAN
Laporan audit standar pengecualian berisi tujuh bagian yang berbeda:
1. Judul Laporan.
Standar auditing mensyaratkan bahwa laporan harus diberi judul yang mengandung
kata independen. Sebagai contoh judul yang tepat mencangkup laporan auditor
independen atau pendapat akuntan independen.
2. Alamat Laporan audit.
Laporan ini umumnya ditujukan kepada perusahaan, para pemegang saham, atau
dewan komisaris perusahaan.
3. Paragraf Pendahuluan.
Paragraf pertama laporan menunjukkan tiga hal.
Pertama, laporan itu membuat suatu pernyataan yang sederhana bahwa kantor
akuntan publik telah melaksanakan audit. Pernyataan ini dibuat untuk membedakan
laporan audit dari laporan kompilasi atau laporan review.
Kedua, paragraf ini menyatakan laporan keuangan yang telah diaudit termasuk
tanggal neraca serta periode akuntansi untuk laporan laba rugi dan laporan arus kas.
Ketiga, paragraf pendahuluan menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan
tanggung jawab manajemen dan bahwa tanggung jawab auditor adalah menyatakan
pendapat atas laporan keuangan itu berdasarkan audit. Tujuan dari pernyataan ini
adalah untuk mengomunikasikan bahwa manajemen bertanggung jawab atas
pemilihan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum yang tepat, dan membuat
pengukuran serta pengungkapan dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut dan
untuk mengklasifikasikan peran manajemen serta aduitor.
4. Paragraf Ruang Lingkup.
Merupakan pernyataan faktual tentang apa yang dilakukan auditor dalam proses
audit. Pertama paragraf ini menyatakan bahwa auditor melaksanakan audit
berdasarkan standar auditing yang berlaku umum. Paragraf ruang lingkup
menyatakan bahwa audit dirancang untuk memperoleh keyakinan yang memadai
bahwa laporan keuangan telah bebas dari salah saji yang material.
5. Paragraf Pendapat.
Paragraf terakhir dalam laporan audit standar menyatakan kesimpulan auditor
berdasarkan hasil audit. Pargraf pernyataan dinyatakan sebagai suatu pendapat saja
bukan sebagai pernyataan yang mutlak atau sebagai jaminan,. Maksudnya adalah
untuk menunjukkan bahwa kesimpulan tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan
profesional.
6. Nama KAP.
Nama mengidentifikasikan KAP atau praktisi yang melaaksanakan audit. Biasanya
dituliskan adalah nama KAP, karena seluruh bagian dari KAP mempunyai tanggung
jawab hukum dan profesional untuk memastikan bahwa kualitas audit memenuhi
standar profesional.
7. Tanggal Laporan Audit.
Tanggal yang tepat untuk dicantumkan pada laporan audit adalah ketika auditor
menyelesaikan prosedur audit dilokasi pemeriksaan. Tanggal ini merupakan hal yang
penting bagi para pemakai laporan karena menunjukkan hari terakhir dari tanggung
jawab auditor untuk mereview atas peristiwa-peristiwa penting setelah tanggal
laporan keuangan.
Laporan Audit Tanpa Pengecualian diterbitkan bila kondisi-kondisi tersebut terpenuhi:
Semua laporan --- Neraca, Laba-rugi, Laba ditahan, dan laporan arus kas ---- sudah
termasuk dalam laporan keuangan
Ketiga standar umum telah dipatuhi dalam semua hal yang berkaitan dengan
penugasan.
Bukti audit yang cukup memadai telah terkumpul dan auditor telah melaksanakan
penugasan audit ini dengan cara yang memungkinkannya untuk menyimpulkan bahwa
ketiga standar pekerjaan lapangan telah dipenuhi.
Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku
umum. Hal ini juga berarti bahwa pengungkapan yang memadai telah tercantum dalam
catatan kaki dan bagian-bagian lain dari laporan keuangan.
Tidak terdapat situasi yang membuat auditor merasa perlu untuk menambahkan sebuah
paragraf penjelasan atau modifikasi kata-kata dalam laporan audit.

LAPORAN AUDIT WAJAR TANPA PENGECUALIAN DENGAN PARAGRAF PENJELASAN
Suatu audit yang lengkap telah dilaksanakan dengan hasil yang memuaskan dan laporan
keuangan telah disajikan dengan wajar, tetapi auditor yakin bahwa penting atau wajib untuk
memberikan informasi tambahan.
Laporan audit wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan atau modifikasi
perkataan sesuai dengan kriteria audit yang lengkap dengan hasil yang memuaskan dan
laporan keuangan yang disajikan secara wajar, tetapi auditor merasa penting atau wajib
untuk memberikan informasi tambahan. Dalam laporan audit dengan pengecualian, tidak
wajar, atau menolak memberikan pendapat, auditor tidak melaksanakan audit yang
memuskan, tidak yakin bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar atau tidak
independen.
Berikut ini adalah penyebab paling penting dari penambahan paragraf penjelasan atau
modifikasi kata-kata pada laporan wajar tanpa pengecualian standar:
Tidak adanya aplikasi yang konsisten dari prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku
umum
Keraguan yang substansial mengenai going concern
Auditor setuju dengan penyimpangan dari prinsip akuntansi yang dirumuskan
Penekanan pada suatu hal atau masalah
Laporan yang melibatkan auditor lain.
Keempat laporan yang pertama memelurkan suatu paragraf penjelasan. Pada setiap kasus,
tiga paragraf laporan standar tetap disertakan tanpa modifikasi dan paragraf penjelasan
yang terpisah akan diikuti dengan paragraf pendapat.
KONSISTENSI DAN KOMPARABILITAS
Auditor harus mampu membedakan antara perubahan yang mempengaruhi konsistensi
pelaporan dengan perubahan yang dapat mempengaruhi komparabilitas tetapi tidak
mempengaruhi konsistensi. Berikut ini contoh perubahan yang mempengaruhi konsistensi
dan karenanya memerlukan paragraf penjelasan jika perubahan tersebut material:
1. Perubahan prinsip akuntansi, seperti perubahan metode penilaian persediaan dari FIFO
menjadi LIPO.
2. Perubahan entitas pelaporan.
3. Koreksi kesalahan yang melibatkan prinsip-prinsip akuntansi yaitu dengan mengubah
prinsip akuntansi yang tidak berlaku umum menjadi prinsip akuntansi yang berlaku
umum.

Perubahan yang mempengaruhi komparability tetapi tidak mempengaruhi konsistensi
sehingga tidak perlu dimasukkan dalam laporan audit yaitu:
1. Perubahan estimasi seperti penurunan umur manfaat aktiva untuk tujuan
penyusutan.
2. koreksi kesalahan yang tidak melibatkan prinsip akuntansi.
3. variasi format dan penyajian informasi keuangan.

Contoh Laporan Audit Wajar tanpa Pengecualian :
Laporan Audit Independen
Kepada Yth.
Direksi dan Dewan Komisaris
PT. GUNADARMA
Jl. Margonda Raya No 100
Pondok Cina Depok

Kami telah mengaudit neraca PT. GUNADARMA per 31 Desember 2001 serta laporan rugi laba, laporan
perubahan laba ditahan, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan
keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung jawab kami adalah pada pernyataan
pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit kami.
Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar
tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai
bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian,
bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi
penilaian atas standar akkuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta
penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberikan
dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal
yang material, posisi keuangan PT. GUNADARMA per 31 Desember 2001, dan hasil usaha, serta arus kas
untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.


Kantor akuntan
Eliya Isfaatun, SE., MMSI

(Eliya Isfaatun, SE., MMSI)
Reg. Neg-D110369

Tanggal, 13 Maret 2002

Contoh Laporan Audit Wajar Tanpa Pengecualian dengan Penjelasan :

LAPORAN AUDIT WAJAR DENGAN PENGECUALIAN
Auditor menyimpulkan bahwa keseluruhan laporan keuangan telah disajikan dengan wajar,
tetapi lingkup audit telah dibatasi secara material atau prinsip akuntansi yang berlaku
umum tidak diikuti pada saat menyiapkan laporan keuangan.
Contoh Laporan Audit Wajar dengan Pengecualian :
Laporan Audit Independen

Kepada Yth.
Direksi dan Dewan Komisaris
PT. GUNADARMA
Jl. Margonda Raya No 100
Pondok Cina Depok


Kami telah mengaudit neraca PT. GUNADARMA per 31 Desember 2001 serta laporan rugi laba,
laporan perubahan laba ditahan, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal
tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung jawab kami
adalah pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit kami.
Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit
meliputi pemeriksaan, a t as dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan
pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas standar akkuntansi yang
digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian
laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar memadai
untuk menyatakan pendapat.
Perusahaan tidak memasukkan kewajiban sewa guna usaha dari aktiva tetap dan kewajiban dalam
neraca terlampir, dan menurut pendapat kami, harus dikapitalisasi agar sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum. Jika kewajiban sewa guna usaha ini dikapitalisasi, aktiva tetap akan
bertambah sebesar Rp. 120.000.000,-, kewajiban jangka panjang sebesar Rp. 120.000.000,-.
Tambahan laba bersih akan berkurang sebesar Rp. 12.000.000 dan laba per lembar saham akan
berkurang sebesar Rp. 1.200,- untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
Menurut pendapat kami, kecuali untuk dampak tidak dikapitalisasinya kewajiban sewa guna usaha
seperti yang kami uraikan dalam paragraph di atas, laporan keuangan yang kami sebut di atas
menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT. GUNADARMA per 31
Desember 2001, dan hasil usaha, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.


Kantor akuntan
Eliya Isfaatun, SE., MMSI

(Eliya Isfaatun, SE., MMSI)
Reg. Neg-D110369

Tanggal, 13 Maret 2002

LAPORAN AUDIT TIDAK WAJAR / TIDAK MEMBERIKAN PENDAPAT
Auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan tidak disajikan secara wajar (pendapat
tidak wajar), sehingga ia tidak dapat memberikan pendapat mengenai apakah laporan
keuangan telah disajikan secara wajar (menolak memberikan pendapat) atau auditor tidak
independen (menolak memberikan pendapat).
Contoh Laporan Audit Tidak Wajar :
Kepada Yth.
Direksi dan Dewan Komisaris
PT. GUNADARMA
Jl. Margonda Raya No 100
Pondok Cina Depok

Kami telah mengaudit neraca PT. GUNADARMA per 31 Desember 2001 serta laporan rugi laba,
laporan perubahan laba ditahan, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan
keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung jawab kami adalah pada pernyataan
pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit kami.
Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan
memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar
pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga
meliputi penilaian atas standar akkuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen,
serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami
memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
Sebagaimana telah dijelaskan dalam catatan X atas laporan keuangan, perusahaan mencantumkan
perkiraan pabrik dan ekuipmen pada nilai appraisal, dan menghitung depresiasinya berdasarkan nilai tersebut.
Karena penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum seperti yang diuraikan diatas, pada
tanggal 31 Desember 2001, saldo persediaan lebih tinggi sebesar Rp. 525.000.000,-. Dengan diperhitungkannya
biaya depresiasi ke dalam biaya overhead pabrik berdasarkan nilai revaluasi yang lebih besar dari harga pokok
aktiva tetap dan aktiva tetap dikurangi akumulasi depresiasinya disajikan lebih tinggi sebesar Rp. 75.500.000
dibandingkan jika disajikan atas dasar harga pokoknya.
Menurut pendapat kami, karena dampak dari hal yang kami uraikan dalam paragraph diatas, laporan
keuangan yang kami sebut di atas tidak menyajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum, posisi keuangan PT. GUNADARMA per 31 Desember 2001, dan hasil usaha, serta arus kas untuk tahun
yang berakhir pada tanggal sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.


Kantor akuntan
Eliya Isfaatun, SE., MMSI

(Eliya Isfaatun, SE., MMSI)
Reg. Neg-D110369

Tanggal, 13 Maret 2002

Contoh Laporan Tidak Memberikan Pendapat :
Kepada Yth.
Direksi dan Dewan Komisaris
PT. GUNADARMA
Jl. Margonda Raya No 100
Pondok Cina Depok


Kami telah ditugasi untuk mengaudit neraca PT. GUNADARMA tanggal 31 Desember 2001 serta laporan rugi
laba, laporan laba ditahan, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan
keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Perusahaan tidak melakukan penghitungan fisik
persediaan dalam tahun 2001 yang dicantumkan dalam laporan keuangan sebesar Rp. 850.000.000 pada tanggal
31 Desember 2001. Lebih lanjut, bukti-bukti yang mendukung harga perolehan aktiva tetap yang dibeli sebelum
tanggal 31 Desember 2001 tidak lagi tersedia dalam arsip perusahaan. Catatan perusahaan tidak memungkinkan
dilaksanakannya penerapan prosedur audit lain terhadap persediaan dan aktiva tetap.
Karena perusahaan tidak melaksanakan penghitungan fisik persediaan dan kami tidak dapat menerapkan
prosedur audit untuk meyakinkan kami atas kuantitas persediaan dan harga pokok persediaan dan harga
perolehan aktiva tetap, lingkup audit kami tidak cukup untuk memungkinkan kami menyatakan pendapat, dan
kami tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan.


Kantor akuntan
Eliya Isfaatun, SE., MMSI


(Eliya Isfaatun, SE., MMSI)
Reg. Neg-D110369

Tanggal, 13 Maret 2002

SARBANES OXLEY ACT SEKSI 404
Menjelaskan pelaporan atas laporan keuangan dan pengendalian internal atas laporan
keuangan internal control over financial reporting. Seksi 404 berisi peraturan yang
mewajibkan manajemen untuk menilai internal kontrol yang sudah dilaksanakan atas
laporan keuangannya serta pengesahan dari auditor eksternal.
Contoh :