Anda di halaman 1dari 33

1

POLIMER SENYAWA ORGANIK



Pengertian Polimer dan Sejarahnya

Polimer adalah molekul besar (makromolekul) yang terbangun oleh susunan unit
ulangan kimia yang kecil, sederhana dan terikat oleh ikatan kovalen. Unit ulangan ini
biasanya setara atau hampir setara dengan monomer yaitu bahan awal dari polimer.
Monomer merupakan sebarang zat yang dapat dikonversi menjadi suatu polimer. Untuk
contoh, etilena adalah monomer yang dapat dipolimerisasi menjadi polietilena (lihat
reaksi berikut). Asam amino termasuk monomer juga, yang dapat dipolimerisasi menjadi
polipeptida dengan pelepasan air.

Reaksi :
Monomer polimer













Unit ulangan dapat memiliki struktur linear atau bercabang. Unit ulangan
bercabang dapat membentuk polimer jaringan tiga dimensi. Tabel 1.2 menunjukkan
beberapa contoh polimer, monomer, dan unit ulangannya.

n H
2
N
C
C N C C
O
R
H
H
R
O
H
OH
n
- H
2
O
asam amino
polipeptida
monomer Unit Ulangan terikat secara
kovaken dengan unit ulangan lainnya
CH
2
CH
2
H
2
C CH
2
n
n
etilena
Polimer polietilena
polimerisasi
2

Tabel 1.2 Polimer, monomer, dan unit ulangannya

Polimer
Monomer

unit ulangan

Polietilena CH
2
= CH
2


- CH
2
CH
2


poli(vinil klorida) CH
2
= CHCl

- CH
2
CHCl




Poliisobutilena



















CH
2
C
CH
3
CH
3
CH
2
C
CH
3
CH
3
3



Polistirena







Polikaprolaktam (nylon-6)











Poliisoprena (karet alam)









Sejarah Konsep Polimer

Polimer merupakan molekul besar yang terbentuk dari unit-unit berulang
sederhana. Nama ini diturunkan dari bahasa yunani Poly, yang berarti banyak, dan mer,
yang berarti bagian. Jika hanya ada beberapa unit monomer yang bergabung bersama,
polimer dengan berat molekul rendah yang terjadi, disebut oligomer (bahasa yunani
oligos beberapa). Makromolekul merupakan istilah yang sinonim dengan polimer.
CH
2
CH CH
2
CH
H - N(CH
2
)
5
C - OH
H
O
- N(CH
2
)
5
C -
H
O
CH
2
= CH - C = CH
2
CH
3
- CH
2
CH = C - CH
2
-
CH
3
4

Polimer sintesis dari moleku-molekul sederhana yang disebut monomer (bagian
tunggal).
Kata polimer pertama kali digunakan oleh kimiawan Swedia, Berzelius pada
tahun 1833. Sepanjang abad 19 para kimiawan bekerja dengan makromolekul tanpa
memiliki suatu pengertian yang jelas mengenai strukturnya. Sebenarnya beberapa
polimer alam yang termodifikasi telah dikomersialkan. Sebagai contoh, solulosa nitrat
dipasarkan di bawah nama-nama celluloid dan guncotton. Sepanjang tahun 1839
dilaporkan mengenai polimerisasi stirena, dan selama 1860-an dipublikasikan sintesis
poli (etilena glikol) dan poli (etilena suksinat) bahkan dengan struktur-struktur yang
tepat.
Kira-kira pada waktu yang sama, isoprena diperoleh sebagai produk degradasi
dari karet, meskipun fakta bahwa isoprene tergabung dalam polimer tersebut saat ini
belum diketahui. Banyak contoh lain dari kimia makromolekul biasa ditemukan dalam
literatur-literatur kimia abad ke-19.
Manusia sejak dulu telah berusaha untuk mengembangkan bahan-bahan buatan
(sintetik) yang diharapkan dapat memberikan sifat-sifat unggul yang tidak didapatkan
dari bahan-bahan alami yang ada disekitarnya. Bahan plastik buatan pertama kali
dikembangkan pada abad ke-19, dan saat ini di awal abad ke-21 jenis bahan ini telah ada
disekeliling kita dalam bentuk dan kegunaan yang sangat beragam. Cellulose nitrate
merupakan salah satu jenis bahan plastik yang pertama-tama dikembangkan. Bahan ini
ditemukan oleh Alexander Parkes dipertengahan abad ke-19 dan pertama kali
dipamerkan pada suatu Pameran Akbar di London tahun 1862 dalam bentuk sol sepatu
dan bola-bola billiard. Pada tahun 1869 John Wesley Hyatt mengembangkan bahan
Cellulose nitrate ini lebih lanjut dengan cara mencampurkannya dengan camphor menjadi
bahan baru yang kemudian diberi nama Celluloid. Bahan ini menjadi sangat popular
digunakan pada produk-produk sisir rambut, kancing pakaian dan gagang pisau.
Pada era awal ini, bahan-bahan polimer baru dikembangkan melalui proses
modifikasi kimiawi dari bahan polimer alami, dimana bahan rayon (di kenal juga sebagai
sutera buatan) merupakan contoh yang paling terkenal. Bahan rayon yang tergolong
sebagai bahan semi-sintetik ini dibuat dari bahan dasar selulosa yang dimodifikasi secara
kimiawi dan hingga saat ini masih digunakan pada produk-produk karpet, pakaian dan
dapat pula diproses menjadi lembaran yang tansparan (cellophane).Salah satu bahan
sintetik yang pertama kali dikembangkan adalah Bakelite, yang ditemukan pada tahun
1909 oleh kimiawan kelahiran Belgia Leo Baekeland (yang telah memperoleh banyak
5

sukses dengan penemuannya mengenai kertas foto sennsitif cahaya), dan dikenal
komersial sebagai bakelit. Sampai dekade 1920-an bakelit merupakan salah satu jenis
dari produk-produk konsumsi yang dipakai luas, dan penemuannya meraih visibilitas
yang paling mewah. Bakelite adalah bahan yang saat ini popular dengan nama Phenol
formaldehyde, dibuat dari phenol dan formaldehyde yang menghasilkan bahan polimer
dengan sifat-sifat keras, ringan, kuat, tahan panas, dapat dicetak dan merupakan isolator
listrik yang sangat baik, dan karenanya bahan ini banyak dipakai dalam berbagai aplikasi
di industri listrik. Bahan plastik terus mengalami perkembangan sepanjang tahun 1920-an
dan 1930-an.
Polimer-polimer lainnya khususnya cat alkid (polyester) dan karet polibutadiena,
sekitar waktu itu juga diperkenalakan. Namun mesipun tercapai sukses-sikses komersial
seperti di atas, kebanyakan ilmuan tidakn memiliki konsep yang jelas mengenai struktur
polimer. Teori yang berlaku saat ini adalah bahwa polimer merupakan kumpuln dari
molekul-molekul kecil, sangat menyerupai koloid, tetapi terkait berkait bersama melalui
suatu gaya sekunder yang misterius.
Teori kumpulan atau penggabungan ini akhirnya memberikan jalan, tanpa
sedikitpun hambatan, keteori seorang kimiawan Jerman Hermann Staudinger, yang
mempertalikan sifat-sifat berharga dari polimer dengan gaya-gaya antar molekul biasa
antara molekul-molekul yang mempunyai berat molekul sangat tinggi. Hermann
Staudinger (23 Maret 1881 8 September 1965) adalah seorang kimiawan Jerman yang
menunjukkan adanya makromolekul yang disebutnya sebagai polimer. Ia merupakan
pemenang Nobel Kimia tahun 1953. Ia juga dikenal akan penemuan ketena dan reaksi
Staudinger. Ketena adalah kelompok senyawa organik yang mengikuti rumus R
2
C=C=O.
Hermann Staudinger adalah pelopor dalam penelitian ketena. Ketena yang paling
sederhana adalah ketika kedua gugus R merupakan atom hidrogen, dan nama ketena juga
dapat merujuk kepada senyawa ini. Selama masa ini, Staudinger adalah seorang praktikus
kimia organik yang utama, yang sudah menjadi ilmu yang luar biasa dihormati, dipimpin
oleh para kimiawan seperti Johann Friedrich Wilhelm Adolf von Baeyer, Hermann Emil
Fischer, dan Richard Martin Willsttter. Dari tahun 1914, kimia organik telah
menemukan lebih dari 100.000 senyawa sintesis yang digunakan dalam berbagai bidang,
teramsuk pewarna dan farmasi. Meski belum berusia 40 tahun, Staudinger dianggap
sebagai kimiawan organik terkenal. Selama 1920-an, Staudinger memutuskan untuk
meninggalkan persinggahan kimia organik yang prestisius ke ilmu polimer. Semangat
6

rintisan Staudinger mengantarkannya melepaskan diri dari pemikiran kimiawan organik
tradisional dan mengembangkan gagasan baru dan revolusioner.
Pada tahun 1926, ia ditunjuk ke sebuah kedudukan di Universitas Albert Ludwigs
Freiburg, di mana ia mencurahkan semua usahanya untuk mendirikan dan
mengembangkan batas-batas ilmu polimer. Topik penelitiannya termasuk karet alami,
selulosa, dan polimer sintesis seperti polioksimetilena, polistirena, dan polietilena oksida,
yang dianggap Staudinger sebagai sistem contoh bagi biopolimer yang lebih kompleks.
Seperti membuat polimer sintesis, Staudinger mencoba menentukan berat molekul
polimer dengan menggunakan analisis kelompok akhir, mengukur viskositas larutan
polimer, dan menggunakan analisis mikroskop elektron.
Hermann Staudinger selalu memelihara hubungan dekat dengan industri untuk
mendapatkan dana bagi penelitiannya dan bertindak sebagai penasihat teknis bagi
perusahaan yang tertarik dalam plastik dan karet. Selama bertahun-tahun, "Frderverein"
(perkumpulan pendukung) Lembaga Kimia Makromolekul menghubungkan manajer riset
sejumlah perusahaan yang mendukung riset polimer di Freiburg im Breisgau. Seminar
kelompok dalam Staudinger, yang bermula pada tahun 1950, menarik kimiawan
akademik dan industri, dan segera menjadi pertemuan polimer terbesar Jerman dengan
lebih dari 700 peserta selama 1990-an.
Saudinger juga memperkenalkan istilah makromolekul. Makromolekul adalah
molekul yang sangat besar. Polimer baik itu alami maupun sintetik merupakan
makromolekul, misalnya hemoglobin. Beberapa senyawa non-polimer juga ada yang
termasuk ke dalam makromolekul, misalnya lipid. Bagaimanapun juga, sistem jaringan
atom besar lainnya seperti ikatan kovalen logam tidak dapat dikatakan sebagai
makromolekul. Istilah makromolekul ini pertama kali diperkenalkan oleh pemenang
hadiah nobel Hermann Staudinger sekitar tahun 1920-an.
Sebagai pengakuan terhadap sumbangannya tersebut, Saudinger memperoleh
hadiah nobel dalam bidang kimia pada tahun 1953. Pada tahun1930-an, pekerjaan brilian
dari seorang kimiawan Amerika Wallace Hume Carothers menempatkan teori-teori
Saudinger sebagai dasar eksperimen yang kuat dan membawa perkembangan seara
komersial dari karet neoprene tanpa bukti dan sert-serat poliamida (nilon). Wallace Hume
Carothers (27 April 1896 - 29 April 1937) adalah seorang kimiawan Amerika Serikat, yang
berasal dari perusahaan industri E.I. du Pont de Nemours and Company, dihormati atas
penemuan nilon pada tahun 1935.
7

Perang dunia II membawa perkembangan-perkembangan yang berarti dalam
kimia polimer, teristimewa dengan perkembangan karet sintetis karena daerah-daerah
penghasil karet alam di timur jauh menjadi tidak bisa dimasuki akibat pendudukan oleh
negara-negara sekutu. Banyak bahan-bahan plastik yang baru dikembangkan ini
kemudian digunakan pada Perang Dunia II, dan pada tahun 1050-an bahan-bahan ini
telah hadir di rumah-rumah dalam berbagai jenis produk. Banyak bahan-bahan plastik
yang baru dikembangkan ini kemudian digunakan pada Perang Dunia II, dan pada tahun
1050-an bahan-bahan ini telah hadir di rumah-rumah dalam berbagai jenis produk.
Di antara perkembangan-perkembangan yang berarti pada tahun-tahun sesudah
perang adalah penemuan katalis-katalis koordinasi baru untuk menginisiasi reksi-reaksi
oleh Karl Ziegler di Jerman, dan penerapannya oleh Giulio Natta di Italia dari sistem-
sistem baru tersebut ke pengembangan polimer-polimer yang memiliki stereokimia
terkontrol. Pekerjaan mereka telah menciptakan suatu revolusi dalm industri polimer,
karena inilah maka polimer-polimer yang disebut stereoregular memiliki sifat-sifat
mekanik, yang dalam banyak hal lebih baik daripada sifat-sifat polimer yang
nonstereoregular. Polietilen merupakan salah satu jenis polimer yang banyak digunakan
untuk berbagai aplikasi, seperti membuat isolasi kabel listrik, plastik kantong, tanki, baju
anti air, dll. Polietilen merupakan plastik pertama yang produksinya melebihi 1 milyar
pound pertahun sejak 1959.
Polietilen adalah polimer sintetik yang terdiri dari monomer-monomer molekul
etena. Sebelum tahun 1950-an, produksi etilen pada skala industri dilakukan pada
tekanan tinggi. Penemuan polietilen peretama kali oleh para ahli kimia Inggris di
Imperial Chemicals Industries (ICI) pada tahun 1932. Polietilen yang ditemukan oleh
ahli kimia di ICI adalah polietilen bercabang dan bermassa jenis rendah, sehingga
polimer tersebut munjadi sulit meleleh dan kurang padat. Polietilen linier (tidak
bercabang) berkepadatan tinggi baru diproduksi pada tahun 1950-an dengan metode baru
pada tekanan rendah.
Pada tahun 1953, Dr. Karl Ziegler melakukan percobaan mencampurkan reagen
alkil litium dan organometalik lainnya dengan etilen. Tujuannya untuk
mempolimerisasikan etilen pada tekanan rendah. Pada awalnya percobaan ini hanya
menghasilkan polietilen dengan jumlah yang sedikit. Pada suatu hari, percobaan ini tidak
menghasilkan polimer sama sekali, tetapi hanya terdapat sebuah dimer etilen. Dr. Ziegler
dan timnya kebingungan dengan hasil tersebut. Setelah diselidiki, ternyata penyebabnya
8

adalah bejana reaksi yang masih kotor akibat lupa dibersihkan pada percobaan yang lain.
Bejana tersebut mengandung sedikit senyawa nikel.
Dr. Ziegler dan timnya menyelidiki pengaruh nikel dan logam lainnya terhadap
reaksi polimerisasi etilen. Beberapa logam lain menunjukan reaksi yang serupa dengan
kehadiran logam nikel yaitu menginhibisi reaksi polimerisasi etilen. Namun, ada satu hal
yang mengejutkan senyawa logam klorida (TiCl
4
) dan senyawa trietil aluminium menjadi
kombinasi katalis yang sangat efektif untuk polimerisasi etilen. Polietilen yang dihasilkan
mempunyai massa molekul yang tinggi, titik leleh tinggi, dan linier. Polietilen linier ini
dapat digunakan untuk keperluan yang lebih luas, seperti perkakas rumah tangga, gelas,
piring, dll.
Berkat karya penemuannya, Karl Ziegler dianugerahi hadiah nobel kimia pada
tahun 1963 bersama Prof. Giulio Natta yang mengembangkan katalis Ziegler lebih lanjut
untuk reaksi-reaksi polimerisasi lainnya. Salah satu prinsip yang disampaikan Ziegler
adalah Selalu memperhatikan perkembangan-perkembangan tak terduga dan jangan
mengabaikan fenomena baru meskipun tidak ada hubungannya dengan proyek utama.
Betapa pentingnya penemuan-penemuan mereka, sehingga pada athun 1963 Zigler dan
Natta bersama-sama memperoleh hadiah nobel kimia. Sama juga bobotnya adalah karya
Paul Flory (hadiah nobel 1974), yang mempelopori suatu dasar kuntitatif untuk sifat-sifat
polimer, apakah itu berupa sifat-sifat makromolekul dalam larutan atau dalam badan
polimer atau fenomena kimia seperti pengikat silangan dan transfer rantai.
Pekerjaan dengan polimer ini dimulai pada polyacetilen. Polimer banyak
dipelajari karena struktur, sifat dan mekanismenya yang unik dan atraktif. Penemuan
polimer yang dapat menghantarkan arus listrik, dikenal dengan polimer konduktif pada
pertengahan tahun 1970-an dan telah melahirkan penelitian yang intensif yang
menunjukkan sifat-sifat elektrik pada polimer yang berkisar dari insulating (tidak dapat
menghantar), semi konduktif sampai konduktif. Material jenis baru yang bersifat
semikonduktif dan konduktif ini dapat disebut gabungan sifat-sifat elektrik dan optic
semikonduktor anorganik dengan polimer yang memiliki kelenturan mekanis.
Karena semua polimer sintesis dipreparasi melalui monomer-monomer yang
terikat bersama, maka beberapa untit kimia akan berulang kembali terus-menerus. Unit
demikian ditulis dalam (siku) dan dianggap sebagai unit ulang. Unit-unitn ulang yang
terjadi seperti [CH
2
] dan [CF
2
], tetapi unit-unit ulang leih lazim ditegaskan dengan
istiloah struktur monomer, sedangkan unit-unit ulang paling kecil direferensikan sebagai
unit dasar (unit monomer).
9

Saat ini manusia sudah memasuki Era Plastik, dimana pada 50 tahun terakhir
volume produksi plastik dunia telah meningkat secara luar biasa, sementara itu tingkat
konsumsi bahan plastik telah meningkat dari sekitar satu juta ton pada tahun 1939
menjadi lebih dari 120 juta ton pada tahun 1994. Dewasa ini bahan plastic telah banyak
menggantikan bahan-bahan tradisional seperti kayu, logam, gelas, kulit, kertas dan karet
karena bahan plastic bias lebih ringan, lebih kuat, lebih tahan karat, lebih tahan terhadap
iklim dan merupakan isolator listrik yang sangat baik. Bahan plastik sangat mudah
dibentuk menjadi berbagai produk dengan menggunakan mesin cetak dan mesin ekstrusi.
Sifat-sifatnya yang unggul dan kemudahan pemrosesannya seringkali menjadikan plastik
sebagai bahan yang paling ekonomis untuk digunakan dalam berbagai keperluan. Kini
bahan plastik digunakan dalam berbagai industri dan bisnis. Bahan ini telah memenuhi
rumah-rumah kita, sekolah-sekolah, rumah sakit dan bahkan bahan ini ada dalam pakaian
yang kita kenakan sehari-hari. Banyak dari nama-nama bahan plastik telah menjadi
istilah-istilah yang familiar dalam kehidupan sehari-hari: nylon, polyester, dan PVC,
misalnya.
Dari para ahli kimia diatas, muncullah konsep polimer yang terangkum dalam
Kimia Polimer. Sampai saat ini konsep polimer semakin berkembang dengan semakin
majunya teknologi. Dan konsep polimer banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan
manusia ssuai dengan fungsinya. Dalam tahun-tahun terakhir ini sejumlah kemajuan
penting dalam sains polimer. Contoh-contohnya:
Polimer yang memiliki kestabilan termal dan oksidasi istimewa, dipakai dalam
aplikasi-aplikasi aerospace berkinerja tinggi.
Plastik-plastik teknik, polimer yang dirancang untuk menggantikan logam. Serat
aromatik berkekuatan tinggi, yang didasarkan pada teknologi Kristal cair, digunakan
dalam berbagai aplikasi dari mulai kawat ban sampai kabel-kabel untuk menjangkarkan
platform-platform pemboran minyak lepas pantai.
Polimer tak dapat nyala, termasuk beberapa yang memancarkan asap beracun
dalam jumlah minimum. Polimer-polimer dapat urai, yang tidak hanya membantu
mengurangi volume sampah plastic yang menyesakan pandangan tetapi juga
memungkinkan terkendealinya penyebaran obat-obatan atau bahan kimia pertanian
Polimer untuk aplikasi-aplikasi medis yang berspektrum luas, mulia dari jahitan
bedah dapat urai sampai ke organ-organ buatan. Polimer konduktif , polimer-polimer
yang memperlihatkan konduktivitas listrik yang sebanding dengan konduktivitas logam-
logam.
10

Polimer yang digunakan sebagai zat bantu tak larut untuk katalis-katalis atau
untuk sintesis protein otomat atau asam nukleat (Bruce Merrifiekd, yang mempelopori
sintesis protein berfasa padat, menerima Hadah Nobel Kimia tahun 1984). Setelah
mengetahui kata polimer pertama kali yang digunakan oleh kimiawan Swedia, Berzelius
pada tahun 1833 dan terus menerus berkembang konsepnya sesuai dengan kebutuhan
manusia.

Tatanama dan Proses Polimerisasi

Tata Nama (Nomenklatur)
Jumlah yang sangat besar dari struktur polimer menuntut adanya sistem tata nama
yang masuk akal. Berikut ini adalah aturan pemberian nama polimer vinil yang
didasarkan atas nama monomer (nama sumber atau umum), taktisitas dan isomer :
Nama monomer satu kata :
Ditandai dengan melekatkan awalan poli pada nama monomer


Contoh :
Polistirena




polietilena

Politetrafluoroetilena
(teflon, merk dari du Pont)

Nama monomer lebih dari satu kata atau didahului sebuah huruf atau angka
Nama monomer diletakkan dalam kurung diawali poli
Contoh :
Poli(asam akrilat)

CH CH
2
CH
2
CH
2
CF
2
CF
2
CH
2
CH
CO
2
H
11



Poli(-metil stirena)






Poli(1-pentena)


Untuk taktisitas polimer
- diawali huruf i untuk isotaktik atau s (sindiotaktik) sebelum poli
Contoh : i-polistirena (polimer polistirena dengan taktisitas isotaktik)

Untuk isomer struktural dan geometrik
- Ditunjukkan dengan menggunakan awalan cis atau trans dan 1,2- atau 1,4-
sebelum poli
Contoh : trans-1,4-poli(1,3-butadiena)

IUPAC merekomendasikan nama polimer diturunkan dari struktur unit dasar, atau
unit ulang konstitusi (CRU singkatan dari constitutional repeating unit) melalui tahapan
sebagai berikut :
1. Pengidentifikasian unit struktural terkecil (CRU)
2. Sub unit CRU ditetapkan prioritasnya berdasarkan titik pengikatan dan ditulis
prioritasnya menurun dari kiri ke kanan (lihat penulisan nama polistirena)


3. Substituen-substituen diberi nomor dari kiri ke kanan
CH CH
2
CH
2
CH
CH
2
CH
2
CH
3
CH
2
C
CH
3
12

4. Nama CRU diletakkan dalam kurung biasa (atau kurung siku dan kurung
biasa kalau perlu), dan diawali dengan poli



Tabel 1.3 Contoh pemberian beberapa nama polimer menurut sumber
monomernya dan IUPAC

Nama Sumber Nama IUPAC
Polietilena
Politetrafluoroetilena
Polistirena
Poli(asam akrilat)
Poli(-metilstirena)
Poli(1-pentena)
Poli(metilena)
Poli(difluorometilena)
Poli(1-feniletilena)
Poli(1-karboksilatoetilena)
Poli(1-metil-1-feniletilena)
Poli[1-(1-propil)etilena]
Untuk tata nama polimer non vinil seperti polimer kondensasi umumnya lebih
rumit darpada polimer vinil. Polimer polimer ini biasanya dinamai sesuai dengan
monomer mula-mula atau gugus fungsional dari unit ulangan.

Contoh : nylon, umumnya disebut nylon-6,6 (66 atau 6/6), lebih deskriptif disebut
poli(heksametilen adipamida) yang menunjukkan poliamidasi heksametilendiamin
(disebut juga 1,6-heksan diamin) dengan asam adipat. Lihat gambar berikut


Mengikuti rekomendasi IUPAC, kopolimer (polimer yang diturunkan dari lebih
satu jenis monomer) dinamai dengan cara menggabungkan istilah konektif yang ditulis
miring antara nama nama monomer yang dimasukkan dalam kurung atau antara dua atau
n HO - C - (CH
2
)
4
- C - OH + n H
2
N - (CH
2
)
6
- NH
2

asam adipat heksametilediamin
C - (CH
2
)
4
- C - NH - (CH
2
)
6
- NH
O
O
nylon-6,6
n

13

lebih nama polimer. Istilah konektif menandai jenis kopolimer sebagaimana enam kelas
kopolimer yang ditunjukkan dalam tabel 1.4 berikut

Tabel 1.4 Berbagai jenis kopolimer
Jenis kopolimer Konektif Contoh
Tak dikhususkan -co- Poli[stirena-co-(metil metakrilat)]
Statistik -stat- Poli(stirena-stat-butadiena)
Random/acak -ran- Poli[etilen-ran-(vinil asetat)]
Alternating (bergantian) -alt- Poli(stirena-alt-(maleat anhidrida)]
Blok -blok- Polistirena-blok-polibutadiena
Graft (cangkok/tempel) -graft- Polibutadiena-graft-polistirena

Proses Polimerisasi
Polimerisasi kondensasi adalah polimerisasi yang disertai dengan pembentukan
molekul kecil (H
2
O, NH
3
).
Contoh :
Alkohol + asam ester + air

HOCH
2
CH
2
OH + + H
2
O



Polimerisasi adisi adalah polimerisasi yang disertai dengan pemutusan ikatan
rangkap diikuti oleh adisi monomer.
Contoh :



HOC - (CH
2
)
4
COH
O
O
n H
2
C = CH CH
2 C
Cl
Cl
H
n
polivinilklorida (PVC) vinilklorida
14

Klasifikasi Polimer atau jenis-jenis polimer
Polimer dapat diklasifikasikan atas dasar asalnya (sumbernya), dan strukturnya.
a. Asal atau sumbernya
1. Polimer Alam :
tumbuhan : karet alam, selulosa
hewan : wool, sutera
mineral
2. Polimer Sintetik :
hasil polimerisasi kondensasi
hasil polimerisasi adisi

b. Struktur
Berdasarkan strukturnya polimer dibedakan atas :
1. Polimer linear
Polimer linear terdiri dari rantai panjang atom-atom skeletal yang dapat mengikat
gugus substituen. Polimer ini biasanya dapat larut dalam beberapa pelarut, dan dalam
keadaan padat pada temperatur normal. Polimer ini terdapat sebagai elastomer, bahan
yang fleksibel (lentur) atau termoplastik seperti gelas).

Rantai utama linear


Contoh :
Polietilena, poli(vinil klorida) atau PVC, poli(metil metakrilat) (juga dikenal
sebagai PMMA, Lucite, Plexiglas, atau perspex), poliakrilonitril (orlon atau creslan) dan
nylon 6.
2. Polimer bercabang
15

Polimer bercabang dapat divisualisasi sebagai polimer linear dengan percabangan
pada struktur dasar yang sama sebagai rantai utama. Struktur polimer bercabang
diilustrasikan sebagai berikut
Rantai utama
(terdiri dari atom-atom skeletal)






3. Polimer jaringan tiga dimensi (three-dimension network)
Polimer jaringan tiga dimensi adalah polimer dengan ikatan kimianya terdapat
antara rantai, seperti digambarkan pada gambar berikut. Bahan ini biasanya diswell
(digembungkan) oleh pelarut tetapi tidak sampai larut. Ketaklarutan ini dapat digunakan
sebagai kriteria dari struktur jaringan. Makin besar persen sambung-silang (cross-links)
makin kecil jumlah penggembungannya (swelling). Jika derajat sambung-silang cukup
tinggi, polimer dapat menjadi kaku, titik leleh tinggi, padat yang tak dapat
digembungkan, misalnya intan (diamond).
Ikatan kimia






Polimer linear dan bercabang memiliki sifat :
1. Lentur
16

2. Berat Molekul relatif kecil
3. Termoplastik

Kopolimer
Kopolimer adalah suatu polimer yang dibuat dari dua atau lebih monomer yang
berlainan. Berikut ini adalah jenis jenis kopolimer yang terbentuk dari monomer pertama
(A) dan monomer ke dua (B).

Jenis kopolimer :
1. Kopolimer blok
Kopolimer blok mengandung blok dari satu monomer yang dihubungkan dengan
blok monomer yang lain. Kopolimer blok biasanya terbentuk melalui proses
polimerisasi ionik. Untuk polimer ini, dua sifat fisik yang khas yang dimiliki dua
homopolimer tetap terjaga.

-A-A-A-A-A----------B-B-B-B-B-
Poli(A-b-B)

2. Kopolimer graft (tempel/cangkok)
Kopolimer graft biasanya dibuat dengan mengikatkan bersama dua polimer yang
berbeda. Untuk contoh, homopolimer yang diturunkan dari monomer A dapat
diinduksi untuk bereaksi dengan homopolimer yang diturunkan dari monomer B
untuk menghasilkan kopolimer graft, yang ditunjukkan pada gambar berikut

Poli(A-g-B)


A B
m
n
A A A A A
A
B
B
B
B
B
B
B
B
B
17




Perkembangan selanjutnya ada yang berbentuk kopolimer sisir (comb copolymer) dan
bintang (star copolymer).





3. Kopolimer bergantian (alternating)
Kopolimer yang teratur yang mengandung sequensial (deretan) bergantian dua
unit monomer. Polimerisasi olefin yang terjadi lewat mekanisme jenis ionik dapat
menghasilkan kopolimer jenis ini.
Poli(A-alt-B)
4. Kopolimer Acak
Dalam kopolimer acak, tidak ada sequensial yang teratur. Kopolimer acak sering
terbentuk jika jenis monomer olefin mengalami kopolimerisasi lewat proses jenis
radikal bebas. Sifat kopolimer acak sungguh berbeda dari homopolimernya.

poli(A-co-B)

Polimer Organik
Polimer merupakan obyek kajian yang menarik dan sekaligus rumit. Karena itu
sering dilakukan penggolongan polimer untuk mempermudah mempelajarinya. Tiga
macam cara penggolongan polimer adalah berdasarkan sumbernya, keseragaman
B B A
A
A B B B B A
A
A
B
kopolimer sisir
A
A
A
A
A
A
B
A
A
kopolimer bintang
18

monomernya, dan proses polimerisasinya. Selain itu juga dikenal cara-cara penggolongan
lainnya, misalnya atas dasar pola rantainya, konfigurasinya, reaksinya terhadap panas,
atau atas dasar pemakaiannya.
Penggunaan polimer tergantung pada sifat-sifatnya, dan sifat-sifat tersebut
ditentukan oleh struktur serta massa molekulnya. Tiga faktor utama (dalam kaitannya
dengan struktur) yang menentukan sifat polimer adalah komposisi kimiawi, pola rantai,
dan penjajaran rantai-rantai polimer dalam produk akhir. Faktor-faktor ini antara lain
menentukan titik lebur, kekuatan, kelenturan, kelarutan, serta reaksi polimer terhadap
panas, sedangkan massa molekul polimer menentukan kelarutan polimer, ketercetakan
dan kekentalan larutan (lelehan) polimer. Pemahaman tentang hubungan antara sifat dan
struktur ini, serta kemampuan membangun struktur polimer sesuai dengan sifat-sifat yang
diinginkan, merupakan modal penting bagi pengembangan industri polimer.
Kelompok polimer sintesis:
1. Berdasarkan Jenis reaksi polimerisasi, yaitu:
Polimer Adisi : Terbentuk dari reaksi polimerisasi adisi
Polimer Kondensasi : Terbentuk dari reaksi polimerisasi kondensasi
1. Berdasarkan Jenis monomer penyusun, yaitu:
Homopolimer : Terdiri dari monomer-monomer sejenis
Kopolimer : Terdiri dari setidaknya 2 jenis monomer
2. Berdasarkan Sifat karakteristik, yaitu:
Termoplas : Lunak jika dipanaskan, dapat dicetak kembali menjadi
bentuk lain
Termoset : Mempunyai bentuk permanen dan tidak jadi lunak jika
dipanaskan
Elastomer: Elastis, dapat mulur jika ditarik dan dapat kembali lagi ke
bentuk awal




19

JENIS REAKSI POLIMERISASI
a. POLIMERISASI ADISI
Terbentuk dari penggabungan monomer-monomer melalui reaksi adisi yang melibatkan
ikatan rangkap.
b. Polimerisasi Kondensasi
Terbentuk dari penggabungan monomer-monomer melalui reaksi kondensasi di mana
dilepaskan molekul kecil, seperti H
2
O, HCl, CH
3
OH.

Sifat-sifat Polimer Organik
Polimer Alam: Mudah dirombak/ diuraikan oleh mikroorganisme
Polimer Sintetik: Sukar diuraikan oleh mikroorganisme, Sifatnya ditentukan
oleh strukturnya (Panjang rantai, Gaya antar molekul, Percabangan, Ikatan silang
antar rantai molekul).

Contoh-contoh Polimer Organik
Polimer yang berasal dari alam atau polimer organik misalnya: karet alam,
sellulosa, protein. Sedangkan yang termasuk polimer anorganik atau polimer sitetis
misalnya: PVC dan teflon. Para ahli kimia telah berhasil menggali pengetahuan yang
berguna bagi sistesis polimer untuk memenuhi berbagai tujuan dan hal ini menyebabkan
industri polimer berkembang dengan pesat di abad ini. Hal ini ditandai dengan semakin
merambahnya polimer-polimer sintetik dalam berbagai segi kehidupan.
Secara detail dapat dijelaskan contoh-contoh polimer organic seperti yang dibawah ini:
20

1. Plastik
Istilah plastik mencakup produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik. Mereka
terbentuk dari kondensasi organik atau penambahan polimer dan bisa juga terdiri dari zat
lain untuk meningkatkan performa atau ekonomi. Ada beberapa polimer alami yang
termasuk plastik. Plastik dapt dibentuk menjadi film atau fiber sintetik. Nama ini berasal
dari fakta bahwa banyak dari mereka "malleable", memiliki properti keplastikan. Plastik
didesain dengan varias yang sangat banyak dalam properti yang dapat menoleransi panas,
keras, "reliency" dan lain-lain. Digabungkan dengan kemampuan adaptasinya, komposisi
yang umum dan beratnya yang ringan memastikan plastik digunakan hampir di seluruh
bidang industri.Pellet atau bijih plastik yang siap diproses lebih lanjut (injection molding,
ekstrusi, dll).
Plastik dapat juga menuju ke setiap barang yang memiliki karakter yang deformasi
atau gagal karena shear stress-lihat keplastikan (fisika) dan ductile.Plastik dapat
dikategorisasikan dengan banyak cara tapi paling umum dengan melihat tulang-belakang
polimernya (vinyl{chloride}, polyethylene, acrylic, silicone, urethane, dll.). Klasifikasi
lainnya juga umum.Plastik adalah polimer; rantai-panjang atom mengikat satu sama lain.
Rantai ini membentuk banyak unit molekul berulang, atau "monomer". Plastik yang
umum terdiri dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen, chlorine atau
belerang di tulang belakang. (beberapa minat komersial juga berdasar silikon).


Jenis Plastik
Sifat fisikanya
o Termoplastik. Merupakan jenis plastik yang bisa didaur-ulang/dicetak lagi
dengan proses pemanasan ulang. Contoh: polietilen (PE), polistiren (PS),
ABS, polikarbonat (PC)
o Termoset. Merupakan jenis plastik yang tidak bisa didaur-ulang/dicetak
lagi. Pemanasan ulang akan menyebabkan kerusakan molekul-
molekulnya. Contoh: resin epoksi, bakelit, resin melamin, urea-
formaldehida.
21

Kinerja dan penggunaanya
o Plastik komoditas
sifat mekanik tidak terlalu bagus
tidak tahan panas
Contohnya: PE, PS, ABS, PMMA, SAN
Aplikasi: barang-barang elektronik, pembungkus makanan, botol
minuman
o Plastik teknik
Tahan panas, temperatur operasi di atas 100 C
Sifat mekanik bagus
Contohnya: PA, POM, PC, PBT
Aplikasi: komponen otomotif dan elektronik
o Plastik teknik khusus
Temperatur operasi di atas 150 C
Sifat mekanik sangat bagus (kekuatan tarik di atas 500 Kgf/cm)
Contohnya: PSF, PES, PAI, PAR
Aplikasi: komponen pesawat
Berdasarkan jumlah rantai karbonnya
o 1 ~ 4 Gas (LPG, LNG)
o 5 ~ 11 Cair (bensin)
o 9 ~ 16 Cairan dengan viskositas rendah
o 16 ~ 25 Cairan dengan viskositas tinggi (oli, gemuk)
o 25 ~ 30 Padat (parafin, lilin)
o 1000 ~ 3000 Plastik (polistiren, polietilen, dll)

Berdasarkan sumbernya
o Polimer alami : kayu, kulit binatang, kapas, karet alam, rambut
o Polimer sintetis:
Tidak terdapat secara alami: nylon, poliester, polipropilen,
polistiren
Terdapat di alam tetapi dibuat oleh proses buatan: karet sintetis
Polimer alami yang dimodifikasi: seluloid, cellophane (bahan
dasarnya dari selulosa tetapi telah mengalami modifikasi secara
radikal sehingga kehilangan sifat-sifat kimia dan fisika asalnya).
22

Proses manufaktur plastik
Injection molding
Bijih plastik (pellet) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas
diinjeksikan ke dalam cetakan.
Ekstrusi
Bijih plastik (pellet) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas
secara kontinyu ditekan melalui sebuah orifice sehingga menghasilkan penampang yang
kontinyu.
Thermoforming
Lembaran plastik yang dipanaskan ditekan ke dalam suatu cetakan.
Blow molding
Bijih plastik (pellet) yang dilelehkan oleh sekrup di dalam tabung yang berpemanas
secara kontinyu diekstrusi membentuk pipa (parison) kemudian ditiup di dalam cetakan.

2. Teflon
Nama Teflon merupakan nama dagang nama ilmiahnya adalah
politetrafluoroetilena (PTFE) dihasilkan dari proses polimerisasi adisi turunan etilen (
tetrafluoroetilena) (CF
2
= CF2), tahan terhadap bahan kimia, panas dan sangat licin.
Penggunaan teflon sebagai pelapis barang yang panas seperti tangki di pabrik kimia,
pelapis panci dan kuali anti lengket di dapur serta pelapis dasar setrika. Teflon
merupakan lapisan tipis yang sangat tahan panas dan tahan terhadap bahan kimia.
Umumnya digunakan untuk melapisi wajan (panci anti lengket), pelapis tangki di pabrik
kimia, pipa anti patah, dan kabel listrik.

3. Pembuatan Elektrode Poli-(O-Fenilen Vinilena) dan Penggunaannya pada
Baterai Organik yang Dapat Diisi Kembali
23

Konduktivitas polimer terkonjugasi diperoleh setelah polimer tersebut didop
dengan suatu unsur (ion-ion) sehingga dapat membentuk delokalisasi awan elektron di
sepanjang rantai polimernya (soliton). Dalam pembuatan polimer ini diperlukan bahan
dasar yang sangat sulit diperoleh di pasaran. Untuk mengatasi hal tersebut sekaligus
memodifikasi polimer terkonjugasi yang sudah ada maka dilakukan sintesis poli-(O-
fenilen vinilena), disingkat OPV. Polimer ini merupakan isomer dari polimer PPV.
Penelitian berlangsung dalam dua tahap; pada tahap pertama disintesis polimer OPV
dilanjutkan penelitian tahap kedua yakni simulasi baterai rechargeable dengan
menggunakan polimer OPV sebagai elektrode.
Bahan dasar untuk polimerisasi ialah klorometilbenzaldehida untuk polime-risasi
Grignard dan o-tolualdehida untuk polimerisasi kondensasi, sedangkan monomer
disintesis melalui reaksi Reimer-Tiemann. Polimerisasi anionik dari pereaksi Grignard
atau o-metilbenzaldehida dilaksanakan dalam kondisi refluks. Larutan pekat polimer
diperoleh dari ekstrak dalam pelarut diklorometana. Lapisan polimer di atas logam
dicetak dari larutan pekat polimer OPV pada suhu 200
o
C. Identifikasi polimer OPV
meliputi analisis difraksi sinar X, resonans magnetik inti (NMR), dan inframerah
tertransformasi Fourier (FTIR), resistivitas, dan kelarutan. OPV sebagai elektrode pada
prototipe baterai sekunder yang dapat diisi kembali diuji dengan metode Nigrey et al.
dengan modifikasi. Dalam proses doping digunakan larutan ZnCl
2
dan AlCl
3
dalam
pelarut propilena karbonat atau air. OPV dilapiskan pada permukaan elektrode karbon
atau platina dengan cara penuangan pada suhu 120-200
o
C dengan aliran gas nitrogen.
Sifat charge-discharge diamati menggunakan sistem baterai (+)Pt(OPV)/elektrolit/Al
atau
Zn(-) dan (+)C(OPV)/elektrolit/Al atau Zn(-) dengan arus tetap sebesar 40
Am/cm
2
. Sel berukuran 5 cm x 5 cm x 2 cm dengan volume elektrolit sekitar 10 ml.
Perubahan potensial dipantau dengan komputer melalui interface Cassy-E-LeyBold.
Monometer klorometilbenzaldehida telah mengalami hidrasi oleh molekul air
membentuk hidroksimetilbenzaldehida yang ditunjukkan oleh spektrum gas
kromatografi-spektrometer massa pada m/e 135/136, 107, 91, dan 77. Indeks bias 1.4899
dan bobot jenis 0.9460. Spektrum FT-IR menunjukkan adanya campuran dari isomer
orto, meta, dan para. Demikian pula, polimer OPV (reaksi Grignard) menunjukkan
adanya campuran geometri trans dan cis dengan nisbah 3:2, sedangkan polimer OPV dari
24

proses kondensasi menunjukkan nisbah trans:cis 4:5. Cetakan polimer OPV cenderung
berwarna cokelat kekuningan sampai gelap dengan kesan mengkilap. Pada spektrum
NMR terlihat adanya pergeseran kimia di sekitar 2.5 ppm sehingga mungkin polimer
OPV ini sebagian masih belum terhidrasi sempurna. Tidak adanya pita serapan pada
spektrum difraksi sinar X menunjukkan bahwa polimer OPV bersifat amorf. Polimer-
polimer tersebut praktis larut dalam pelarut nonpolar. Resistans polimer OPV sangat
tinggi, yaitu sekitar 20 x 10
4
ohm dan energi celah 0.138 eV untuk polimer OPV hasil
reaksi Grignard, sedangkan polimer OPV hasil kondensasi mempunyai resistans 21.18
ohm dan energi celahnya 0.695 eV.
Prototipe baterai sekunder yang ditunjukkan oleh sistem (+) Pt (OPV)/ZnCl
2
0.3
M:H
2
O/Zn (-) cukup baik karena potensial discharge maksimum 1 volt dan minimum
0.2 volt pada siklus pertama selama 60 menit dengan kapasitas rata-rata sekitar 0.166-0.9
Ah/kg. Efisiensi energi di atas 100% di sekitar pelepasan 10 menit pertama kemudian
turun hampir 40%-nya dengan potensial rata-rata 0.2 volt. Penelitian ini masih perlu
dikembangkan lebih lanjut untuk memperoleh system baterai organik yang menggunakan
lapisan OPV dengan kapasitas yang lebih efektif.
4. Lampu dioda dari hibridisasi benang nano seng oksida (ZnO) dengan polimer
organik
Perkembangan teknologi lampu dioda (LED) menggunakan bahan inorganik yang
fleksibel dan lentur telah mampu direalisasikan dengan menggunakan ZnO yang
berbentuk benang nano yang bertindak sebagai komponen optis.Diawali oleh emisi sinar
ultra violet(uv) dengan panjang gelombang 393 nm dari benang nano ZnO, para peneliti
kini telah menemukan spectrum yang berada pada rentang cahaya tampak hingga
mendekati sinar infra merah (500-1100 nm) mampu dihasilkan oleh LED yang
berbasiskan benang nano dari ZnO.
25


Gambar 1. Diagram dari struktur LED berbasis benang nano pada
substrate plastic Penemuan ini di pelopori oleh Prof. Rolf Knenkamp dari
Portland State University in Oregon. Hasil penemuannya melaporkan
bahwa LED dari bahan inorganik diprediksikan menjadi alternative masa
depan untuk menggantikan semua perangkat elektronik dan photonic dari
bahan organic.
Struktur dari divais LED berbasiskan benang nano yang lentur dapat di lihat pada
gambar 1. Dari gambar tersebut benang nano ZnO ditumbuhkan diatas substrate
polyethylene terephtalate (bahan plastic) yang telah dilapisi oleh indium tin okside (ITO).
Kristal tunggal benang nano tersebut ditumbuhkan dengan metode elektrodeposisi
dengan temperature 80
o
C di atas ITO. Proses penumbuhan kira-kira memakan waktu satu
jam dengan arah tumbuh vertical dan m danhomogeny. Dari hasil karakterisasi, panjang
benang nano rata-rata 2 diameter 70-120 nm. Lalu benang-benang nano tersebut di lapisi
dengan lapisan tipis polysterene sebagai isolator yang mengisi tiap celah diantara
benang-benang nano. Lapisan tipis polysterene melapisi benang nano dengan ketebalan
kira-kira 10 nm. Proses pengisian celah atau pelapisan benang-benang nano tersebut
menggunakan metode spin coating. Lalu bagian atas dilapisi pula menggunakan
poly(3,4-ethylene-dioxythiophene) poly(styrenesulfonate), PEDOT/PSS, selanjutnya
dilapisi emas (sebagai kontak Ohmic) yang berperan sebagai anoda (elektroda positif).
26


Gambar 2. Benang-benang nano ZnO yang berada dilapisi oleh lapisan
tipis polystyrene
Dari penelitian lebih lanjut, ternyata benang-benang nano ZnO tersebut melekat
sangat kuat diatas substrate meskipun dibengkokan dengan jari-jari kelengkungan <10
m.Dari sisi intensitas cahaya yang diemisikan, LED benang nano yang berada diatas
substrate plastic memancarkan cahaya dengan intensitas lebih rendah dibandingkan
diatas substrate gelas. Namun demikian distribusi spectrum cahaya yang teramati dari
elektroluminisensi memiliki kemiripan yaitu berada di rentang cahaya tampak.Penemuan
ini mengindikasikan bahwa hibridisasi teknologi nano dengan polimer organic memiliki
potensi untuk dikembangkan dalam ranah aplikasi optoelektronika di masa depan.
5. Karet
Karet alam atau karet mentah memiliki sifat fleksibel, harganya relative ringan tapi
daya sambung dan daya rekat jauh lebih rendah disbanding karet sintesis bila dibuat
perekat. Karet alam tidak bisa dipakai untuk penyambung plastic. Perekat yang dipakai
dan terbuat dari karet sintesis atau karet alam tidak tahan terhadap bahan pelarut minyak
bahan oksidasi dan sinar ultraviolet, mudah sekali rusak bila terkena panas. Tahan
terhadap panas pada suhu 35-40 derajat Celsius sebelum divulkanisasi, jika divulkanisasi
tahan terhadap panas 70 derajat Celsius. Karet alam larut dengan baik pada pelarut
hidrokarbon.Perekat ini berguna untuk benda ringan seperti kain karet busa yang
mengelupas pada beban 3kilogram/cm2 pada suhu kamar.
27

Karet nitril karboksil adalah karet yang mengandung gugus asam karboksilat. Perekat
yang dibuat dari bahan ini tidak saja memiliki daya rekat yang tinggi terhadap logam tapi
juga mempercepat reaksi resinya terhadap senyawa lain yang gunanya member kekuatan
adhesive dan kohesif, dan lebih tahan minyak. Karet alam adalah polimer hidrokarbon
tak jenuh. Senyawa ini secara komersial diperoleh dari getah karet. Struktur kimianya
sebagian dijelaskan pada abad ke jika dipanaskan tanpa udara(isoprene).



Kebanyakan karet memiliki ikatan molekul lebih dari 10000000. Besarnya variasi
menurut metode pengolahan. KKaret mentah mengandung kira-kira -1, -2, -3 persen air
dan sedikit bahan organic, serta poliisoprena. Penggolongan suatu jenis konvensional
dilakukan dasar-dasar visualisasi atau sifat-sifat yang dapat dilihat oleh mata, misalnya
warna karet, adanya endapan serta noda-noda lainnya. Sistem penggolongan tersebut
sama sekali tidak memberikan informasi tentang sifat-sifat karet teknis dari karet
28

mentahnya (terutama untuk barang-barang jadi karet mentahnya) dan tidak ada hubungan
langsung antara warna gelombung udara dan noda-noda tertentu lainnya dengan sifat-
sifat teknis karet yang menjadi persyaratan barang-barang jadi karet yang diproduksi.
Polimer alami juga sangat penting untuk kehidupan organisme. Tanpa struktur
polimer alam seperti sellulosa pada tanaman atau protein bahwa konstruksi urat dan otot
hewan. Hewan tidak hidup serta tanaman tidak dapat berdiri diatasnya tali gravitasi. Kita
semua diciptakan laut, dimana membrane halus kita didukung oleh aliran di dalam air.
Enzim tanaman dan hewan bahwa katalis semua reaksi biokimia penting sebagai polimer
asam amino. Terakhirnya, dioksiribosanukleat (DNA) merupakan bahan genetic. Warisan
semua tanaman dan hewan-hwan adalah polimer asam nukleat. Bentuk polimer datang
dari yunani (poly) dan menunjukkan sebuah molekul besar yang dibuat dari banyak
bagian makromolekul adalah suatu bentuk sinonim dari polimer. Polimer-polimer dibuat
oleh garis bersama molekul sederhana yang disebut dengan monomer (bagian tunggal).
6. Batubara
Batubara merupakan sedimen organik, lebih tepatnya merupakan batuan organik,
terdiri dari kandungan bermacam-macam pseudomineral. Batubara terbentuk dari sisa
tumbuhan yang membusuk dan terkumpul dalam suatu daerah dengan kondisi banyak air,
biasa disebut rawa-rawa. Kondisi tersebut yang menghambat penguraian menyeluruh dari
sisa-sisa tumbuhan yang kemudian mengalami proses perubahan menjadi batubara.
Selain tumbuhan yang ditemukan bermacam-macam, tingkat kematangan juga
bervariasi, karena dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lokal. Kondisi lokal ini biasanya
kandungan oksigen, tingkat keasaman, dan kehadiran mikroba. Pada umumnya sisa-sisa
tanaman tersebut dapat berupa pepohonan, ganggang, lumut, bunga, serta tumbuhan yang
biasa hidup di rawa-rawa. Ditemukannya jenis flora yang terdapat pada sebuah lapisan
batubara tergantung pada kondisi iklim setempat. Dalam suatu cebakan yang sama, sifat-
sifat analitik yang ditemukan dapat berbeda, selain karena tumbuhan asalnya yang
mungkin berbeda, juga karena banyaknya reaksi kimia yang mempengaruhi kematangan
suatu batubara.
29

Secara umum, setelah sisa tanaman tersebut terkumpul dalam suatu kondisi tertentu
yang mendukung (banyak air), pembentukan dari peat (gambut) umumnya terjadi. Dalam
hal ini peat tidak dimasukkan sebagai golongan batubara, namun terbentuknya peat
merupakan tahap awal dari terbentuknya batubara. Proses pembentukan batubara sendiri
secara singkat dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dari sisa-sisa tumbuhan yang
ada, mulai dari pembentukan peat (peatifikasi) kemudian lignit dan menjadi berbagai
macam tingkat batubara, disebut juga sebagai proses coalifikasi, yang kemudian berubah
menjadi antrasit. Pembentukan batubara ini sangat menentukan kualitas batubara, dimana
proses yang berlangsung selain melibatkan metamorfosis dari sisa tumbuhan, juga
tergantung pada keadaan pada waktu geologi tersebut dan kondisi lokal seperti iklim dan
tekanan. Jadi pembentukan batubara berlangsung dengan penimbunan akumulasi dari
sisa tumbuhan yang mengakibatkan perubahan seperti pengayaan unsur karbon, alterasi,
pengurangan kandungan air, dalam tahap awal pengaruh dari mikroorganisme juga
memegang peranan yang sangat penting.
PENYUSUN BATUBARA
Konsep bahwa batubara berasal dari sisa tumbuhan diperkuat dengan ditemukannya
cetakan tumbuhan di dalam lapisan batubara. Dalam penyusunannya batubara diperkaya
dengan berbagai macam polimer organik yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin,
dll. Namun komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari
tumbuhan penyusunnya.
Lignin
Lignin merupakan suatu unsur yang memegang peranan penting dalam merubah susunan
sisa tumbuhan menjadi batubara. Sementara ini susunan molekul umum dari lignin belum
diketahui dengan pasti, namun susunannya dapat diketahui dari lignin yang terdapat pada
berbagai macam jenis tanaman. Sebagai contoh lignin yang terdapat pada rumput
mempunyai susunan p-koumaril alkohol yang kompleks. Pada umumnya lignin
merupakan polimer dari satu atau beberapa jenis alkohol.
Hingga saat ini, sangat sedikit bukti kuat yang mendukung teori bahwa lignin merupakan
unsur organik utama yang menyusun batubara.
30

Karbohidrat
Gula atau monosakarida merupakan alkohol polihirik yang mengandung antara lima
sampai delapan atom karbon. Pada umumnya gula muncul sebagai kombinasi antara
gugus karbonil dengan hidroksil yang membentuk siklus hemiketal. Bentuk lainnya
mucul sebagai disakarida, trisakarida, ataupun polisakarida. Jenis polisakarida inilah
yang umumnya menyusun batubara, karena dalam tumbuhan jenis inilah yang paling
banyak mengandung polisakarida (khususnya selulosa) yang kemudian terurai dan
membentuk batubara.
Protein
Protein merupakan bahan organik yang mengandung nitrogen yang selalu hadir sebagai
protoplasma dalam sel mahluk hidup. Struktur dari protein pada umumnya adalah rantai
asam amino yang dihubungkan oleh rantai amida. Protein pada tumbuhan umunya
muncul sebagai steroid, lilin.
Material Organik Lain
Resin
Resin merupakan material yang muncul apabila tumbuhan mengalami luka pada
batangnya.
Tanin
Tanin umumnya banyak ditemukan pada tumbuhan, khususnya pada bagian batangnya.
Alkaloida
Alkaloida merupakan komponen organik penting terakhir yang menyusun batubara.
Alkaloida sendiri terdiri dari molekul nitrogen dasar yang muncul dalam bentuk rantai.
Porphirin
Porphirin merupakan komponen nitrogen yang berdasar atas sistem pyrrole. Porphirin
biasanya terdiri atas suatu struktur siklik yang terdiri atas empat cincin pyrolle yang
31

tergabung dengan jembatan methin. Kandungan unsur porphirin dalam batubara ini telah
diajukan sebagai marker yang sangat penting untuk mendeterminasi perkembangan dari
proses coalifikasi.
Hidrokarbon
Unsur ini terdiri atas bisiklik alkali, hidrokarbon terpentin, dan pigmen kartenoid.
Sebagai tambahan, munculnya turunan picene yang mirip dengan sistem aromatik
polinuklir dalam ekstrak batubara dijadikan tanda inklusi material sterane-type dalam
pembentukan batubara. Ini menandakan bahwa struktur rangka tetap utuh selama proses
pematangan, dan tidak adanya perubahan serta penambahan struktur rangka yang baru.
Konstituen Tumbuhan yang Inorganik (Mineral)
Selain material organik yang telah dibahas diatas, juga ditemukan adanya material
inorganik yang menyusun batubara. Secara umum mineral ini dapat dibagi menjadi dua
jenis, yaitu unsur mineral inheren dan unsur mineral eksternal. Unsur mineral inheren
adalah material inorganik yang berasal dari tumbuhan yang menyusun bahan organik
yang terdapat dalam lapisan batubara. Sedangkan unsur mineral eksternal merupakan
unsur yang dibawa dari luar kedalam lapisan batubara, pada umumya jenis inilah yang
menyusun bagian inorganik dalam sebuah lapisan batubara.
PROSES PEMBENTUKAN BATUBARA
Pembentukan batubara pada umumnya dijelaskan dengan asumsi bahwa material
tanaman terkumpul dalam suatu periode waktu yang lama, mengalami peluruhan
sebagian kemudian hasilnya teralterasi oleh berbagai macam proses kimia dan fisika.
Selain itu juga, dinyatakan bahwa proses pembentukan batubara harus ditandai dengan
terbentuknya peat.
Pembentukan Lapisan Source
Teori Rawa Peat (Gambut) Autocthon
Teori ini menjelaskan bahwa pembentukan batubara berasal dari akumulasi sisa-sisa
tanaman yang kemudian tertutup oleh sedimen diatasnya dalam suatu area yang sama.
32

Dan dalam pembentukannya harus mempunyai waktu geologi yang cukup, yang
kemudian teralterasi menjadi tahapan batubara yang dimulai dengan terbentuknya peat
yang kemudian berlanjut dengan berbagai macam kualitas antrasit. Kelemahan dari teori
ini adalah tidak mengakomodasi adanya transportasi yang bisa menyebabkan banyaknya
kandungan mineral dalam batubara.
Teori Transportasi Allotocton
Teori ini mengungkapkan bahwa pembentukan batubara bukan berasal dari
degradasi/peluruhan sisa-sisa tanaman yang insitu dalam sebuah lingkungan rawa peat,
melainkan akumulasi dari transportasi material yang terkumpul didalam lingkungan
aqueous seperti danau, laut, delta, hutan bakau. Teori ini menjelaskan bahwa terjadi
proses yang berbeda untuk setiap jenis batubara yang berbeda pula.
Proses Geokimia dan Metamorfosis
Setelah terbentuknya lapisan source, maka berlangsunglah berbagai macam proses.
Proses pertama adalah diagenesis, berlangsung pada kondisi temperatur dan tekanan yang
normal dan juga melibatkan proses biokimia. Hasilnya adalah proses pembentukan
batubara akan terjadi, dan bahkan akan terbentuk dalam lapisan itu sendiri. Hasil dari
proses awal ini adalah peat, atau material lignit yang lunak. Dalam tahap ini proses
biokimia mendominasi, yang mengakibatkan kurangnya kandungan oksigen. Setelah
tahap biokimia ini selesai maka berikutnya prosesnya didominasi oleh proses fisik dan
kimia yang ditentukan oleh kondisi temperatur dan tekanan. Temperatur dan tekanan
berperan penting karena kenaikan temperatur akan mempercepat proses reaksi, dan
tekanan memungkinkan reaksi terjadi dan menghasilkan unsur-unsur gas. Proses
metamorfisme (temperatur dan tekanan) ini terjadi karena penimbunan material pada
suatu kedalaman tertentu atau karena pergerakan bumi secara terus-menerus didalam
waktu dalam skala waktu geologi.
HETEROATOM DALAM BATUBARA
Heteroatom dalam batubara bisa berasal dari dalam (sisa-sisa tumbuhan) dan berasal dari
luar yang masuk selama terjadinya proses pematangan. Nitrogen pada batubara pada
umumnya ditemukan dengan kisaran 0,5 1,5 % w/w yang kemungkinan berasal dari
33

cairan yang terbentuk selama proses pembentukan batubara. Oksigen pada batubara
dengan kandungan 20 30 % w/w terdapat pada lignit atau 1,5 2,5 % w/w untuk
antrasit, berasal dari bermacam-macam material penyusun tumbuhan yang terakumulasi
ataupun berasal dari inklusi oksigen yang terjadi pada saat kontak lapisan source dengan
oksigen di udara terbuka atau air pada saat terjadinya sedimentasi. Variasi kandungan
sulfur pada batubara berkisar antara 0,5 5 % w/w yang muncul dalam bentuk sulfur
organik dan sulfur inorganik yang umumnya muncul dalam bentuk pirit. Sumber sulfur
dalam batubara berasal dari berbagai sumber. Pada batubara dengan kandungan sulfur
rendah, sulfurnya berasal material tumbuhan penyusun batubara. Sedangkan untuk
batubara dengan kandungan sulfur menengah-tinggi, sulfurnya berasal dari air laut.