Anda di halaman 1dari 144

1

BUKU AJAR
RANCANG BANGUN ALAT
PENANGKAPAN IKAN






DISUSUN OLEH :
Prof.Dr.Ir. Najamuddin, M.Sc.








PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011

2
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
LEMBAGA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
J L. Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar 90245 (Gedung Perpustakaan Unhas Lantai Dasar)
Telp. (0411) 586 200, Ext. 1064 Fax. (0411) 585 188 e-mail : lkpp@unhas.ac.id

HALAMAN PENGESAHAN

HIBAH PENULISAN
BUKU AJAR BAGI TENAGA AKADEMIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN 2011

Judul Buku Ajar : Rancang Bangun Alat Penangkapan Ikan

Nama Lengkap : Prof.Dr.Ir. Najamudin, M.Sc..
NIP : 19600701 198601 1 001
Pangkat/Golongan : Pembina Utama Madya /IV.d
Jurusan/Program Studi : Perikanan/ Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
Fakultas/Universitas : Ilmu Kelautan dan Perikanan/Hasanuddin
Alamat e-mail : najapsp@yahoo.co.id
Biaya : Rp. 5.000.000,- (Lima juta rupiah)
Dibiayai oleh dana DIPA BLU Universitas Hasanuddin
Tahun 2011 Sesuai SK Rektor Unhas
Nomor : /H4.2KU.10/2011 Tanggal


Makassar, 29 Nopember 2011


Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan



Prof. Dr. Ir. A. Niartiningsih, M.P.
NIP. 19611201 198703 2 002


Penulis,



Prof.Dr.Ir. Najamudin, M.Sc
NIP. 19600701 198601 1 001


Mengetahui :
Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Pendidikan (LKPP)
Universitas Hasanuddin




Prof. Dr. Ir. Lellah Rahim, M.Sc.
NIP. 19630501 198803 1 004

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. sebab dengan rakhmat dan
taufiq-Nya jualah sehingga penulisan buku ajar ini dapat diselesaikan dengan baik.
Penulis menyusun buku ajar ini dilandasi oleh tanggung jawab moral untuk memperbaiki
proses pembelajaran dalam mencapai target kompetensi yang diharapkan pada mata kuliah
rancang bangun alat penangkapan ikan.
Dalam penyusunan buku ajar ini, penulis banyak menerima bantuan dan masukan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dari lubuk hati yang paling dalam, penulis
menyampaikan penghargaan, rasa hormat dan terima kasih kepada :
1. Rektor Universitas Hasanuddin melalui LKPP yang telah memberikan
kepercayaan kepada penulis untuk menyusun buku ajar ini.
2. Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan dan Ketua Program Studi
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan yang telah mengusulkan dan menyetuji buku
ajar ini.
3. Kepada semua teman-teman staf pengajar yang telah memberikan informasi dan
motivasi sehingga penulisan buku ajar ini dapat diselesaikan.
4. Kepada semua pihak yang tidak sempat disebutkan namanya satu persatu, penulis
menghaturkan banyak terima kasih atas segala bantuannya.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa buku ajar ini masih
jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritikan dan saran yang bersifat membangun
sangat diharapkan demi penyempurnaan di masa mendatang. Semoga buku ajar ini dapat
memberikan manfaat dan lebih mempermudah dalam memahami materi kuliah.

Makassar, 29 Nopember 2011

Penyusun

ii

DAFTAR ISI
URAIAN Hal
KATA PENGANTAR . ii
DAFTAR ISI . iii
BAB 1 PENDAHULUAN . 1
1.1 Gambaran Lulusan Program Studi Pemanfaaatan
Sumberdaya Perikanan
. 1
1.2 Analisis Kebutuhan Pembelajaran . 1
1.3 GBRP . 3
BAB 2 ALAT DAN SISTIM PENANGKAPAN IKAN . 6
2.1 Pendahuluan . 6
2.2 Uraian Bahan Pembelajaran . 6
2.2.1. Teori alat penangkapan ikan dan system
penangkapan ikan
. 6
2.2.2. Klasifikasi alat penangkapan ikan . 9
2.2.3. Disain alat penangkapan ikan . 16
2.2.4. Faktor yang mempengaruhi disain alat
penangkapan ikan
. 21
2.3 Penutup .
BAB 3 GEOMETRI JARING, GAYA DAN MODEL ALAT
PENANGKAPAN IKAN
. 27
3.1 Pendahuluan . 27
3.2 Uraian Bahan Pembelajaran . 27
3.2.1. Bahan dasar alat penangkapan ikan . 27
3.2.2. Analisis sistim pemotongan jaring . 33
3.2.3. Gaya yang bekerja pada alat penangkapan ikan . 37
3.2.4. Model alat penangkapan ikan . 43
3.3 Penutup . 49
BAB 4 DISAIN TRAWL .. 51
4.1 Pendahuluan . 51
4.2 Uraian Bahan Pembelajaran . 51
4.3 Penutup . 64
BAB 5 DISAIN PURSE SEINE . 66
5.1 Pendahuluan . 66
5.2 Uraian Bahan Pembelajaran . 66
5.3 Penutup . 80
BAB 6 DISAIN PAYANG .. 82
6.1 Pendahuluan . 82
6.2 Uraian Bahan Pembelajaran . 82
6.3 Penutup . 84
iii
BAB 7 DISAIN GILL NET . 86
7.1 Pendahuluan . 86
7.2 Uraian Bahan Pembelajaran . 86
7.3 Penutup . 100
BAB 8 DISAIN SET NET .. 102
8.1 Pendahuluan . 102
8.2 Uraian Bahan Pembelajaran . 102
8.3 Penutup . 117
BAB 9 DISAIN FYKE NET .. 118
9.1 Pendahuluan . 118
9.2 Uraian Bahan Pembelajaran . 118
9.3 Penutup . 123
BAB 10 DISAIN PUKAT PANTAI DAN JARING ANGKAT .. 125
10.1 Pendahuluan . 125
10.2 Uraian Bahan Pembelajaran . 125
10.2.1. Disain pukat pantai . 125
10.2.2. Disain jarring angkat . 128
10.3 Penutup . 129
BAB 11 DISAIN PANCING .. 131
11.1 Pendahuluan . 131
11.2 Uraian Bahan Pembelajaran . 131
11.3 Penutup . 138
DAFTAR PUSTAKA .. 139

1
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Gambaran Profil Lulusan Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
Kompetensi Utama :
1) Lulusan mampu menguasai dan menerapkan manajemen perikanan tangkap
yang berkelanjutan
2) Lulusan mampu menguasai dan menerapkan ilmu dan teknologi rancang
bangun alat tangkap dan kapal perikanan
3) Lulusan mampu menguasai dan menerapkan ilmu dan teknologi penangkapan
ikan yang berkelanjutan
4) Lulusan mampu menguasai dan menerapkan ilmu dan teknologi sistem
informasi perikanan tangkap yang berkelanjutan
5) Lulusan mampu menguasai dan menerapkan ilmu dan teknologi sistem
penanganan hasil tangkapan.
Kompetensi Pendukung :
1. Lulusan mampu menguasai IPTEK pengolahan hasil perikanan; dan
2. Lulusan mampu menerapkan IPTEK pengolahan hasil perikanan..
3. Lulusan mampu bekerjasama, berkomunikasi dan beradaptasi dalam
lingkungan kerja
4. Lulusan mampu berkarya secara individu atau tim dalam usaha perikanan
tangkap
Kompetensi Lainnya (Institusional) :
Lulusan mampu bekerja sama, menyesuaikan diri, mengembangkan diri dan
berfikir logis, analitis & profesional.

1.2. Analisis Kebutuhan Pembelajaran
Mata Kuliah : Rancangbangun Alat Penangkapan Ikan
Kode mk. : 302 L 233



2
Sasaran Belajar/TIU : Setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa
diharapkan akan mampu membuat disain berbagai
alat penangkapan ikan.






















entry behaviour
Bahan & alat penangkapan ikan (prasyarat)

Pendahuluan
Membuat disain trawl
Alat & system penangkapan ikan serta
perkembangannya
Menggambarkan geometri jarring, menghitung gaya-gay a
yg bekerja, model alat penangkapan ikan
Membuat disain gill net
Membuat disain set net
Membuat disain payang
Membuat disain purse seine
Membuat disain fyke net
Membuat disain pukat pantai
& jarring angkat
Membuat disain pancing 16
15
11
10
6-8
12-13
14
9
4-5
2-3
1
3
1.3. GBRP
Mata Kuliah : Rancangbangun Alat Penangkapan Ikan
Nomor/Kode SKS : 302 L233 / 3
Deskripsi Singkat : Mata kuliah ini merupakan lanjutan dari mk. bahan dan alat
penangkapan ikan yang membahas tentang disain dan
konstruksi berbagai alat penangkapan ikan, kalkulasi bahan
serta hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam disain
masing-masing alat..

Mingg
u ke
SasaranPembelaja
ran
Materi
Pembelajaran
Strategi
Pembelajaran
Indikator
Penilaian
Bob
ot
Nilai
(%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Menjelaskan
kontrak
pembelajaran,
kompetensi yg
akan dicapai
Kontrak
Pembelajaran
Kuliah Kejelasan
kontrak
perkuliahan

2-3 Menguraikan
berbagai teori alat
dan sistem
penangkapan ikan,
merumuskan
faktor yang
mempengaruhi
rancang bangun
Alat dan system
penangkapan
ikan serta
perkembangann
ya
Pertimbangan
rancang bangun
alat penangkap
ikan
Kuliah+tugas
kajian pustaka
(Cooperative
learning)
Kejelasan mhs
mengidentifik
asi sistem
penangkapan
ikan &
merumuskan
faktor yg
mempengaruh
i rancang
bangun
8
4-5 Menggambarkan
geometri jarring
dan menghitung
gaya-gaya luar
yang bekerja &
model alat
penangkapan ikan
Geometri dari
jarring,
kalkulasi bahan
dan gaya-gaya
luar yang
bekerja pada
jarring, model
alat
penangkapan
ikan
Kuliah+kerja
kelompok+Present
asi (Collaborative
learning)
Kejelasan
menguraikan
dimensi ja-
ring Ketepat-
an menghi-
tung gaya
yang bekerja,
Ketepatan
model,
kerjasama tim.
9
6-8 Menjelaskan
prinsip disain alat
penangkap ikan &
mendisain alat
penangkap ikan
trawl
Prinsip-prinsip
disain dan
mendisain alat
penangkapan
ikan trawl
Kuliah+kerja
individu+tutorial
(project based
learning)
Kejelasan dan
ketepatan
disain alat
penangkapan
ikan trawl
13


4
GBRP lanjutan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
9 Menjelaskan
prinsip disain &
mendisain alat
penangkap ikan
purse seine
Prinsip-prinsip
disain dan
mendisain alat
penangkapan
ikan purse seine
Kuliah+kerja
individu+tutorial
(project based
learning)
Kejelasan dan
ketepatan
disain alat
penangkapan
ikan purse
seine
6
10 Menjelaskan
prinsip disain &
mendisain alat
penangkap ikan
payang
Prinsip-prinsip
disain dan
mendisain alat
penangkapan
ikan payang
Kuliah+kerja
individu+tutorial
(project based
learning)
Kejelasan dan
ketepatan
disain alat
penangkapan
ikan payang
6
11. Menjelaskan
prinsip disain &
mendisain alat
penangkap ikan
gill net
Prinsip-prinsip
disain dan
mendisain alat
penangkapan
ikan gill net
Kuliah+kerja
individu+tutorial
(project based
learning)
Kejelasan dan
ketepatan
disain alat
penangkapan
ikan gill net
6
12.-13 Menjelaskan
prinsip disain &
mendisain alat
penangkap ikan
set net
Prinsip-prinsip
disain dan
mendisain alat
penangkapan
ikan set net
Kuliah+kerja
individu+tutorial
(project based
learning)
Kejelasan dan
ketepatan
disain alat
penangkapan
ikan set net
9
14. Menjelaskan
prinsip disain &
mendisain alat
penangkap ikan
fyke net
Prinsip-prinsip
disain dan
mendisain alat
penangkapan
ikan fyke net
Kuliah+kerja
individu+tutorial
(project based
learning)
Kejelasan dan
ketepatan
disain alat
penangkapan
ikan fyke net
6
15. Menjelaskan
prinsip disain &
mendisain alat
penangkap ikan
pukat pantai dan
jaring angkat
Prinsip-prinsip
disain dan
mendisain alat
penangkapan
ikan pukat
pantai dan
jaring angkat
Kuliah+kerja
individu+tutorial
(project based
learning)
Kejelasan dan
ketepatan
disain alat
penangkapan
ikan pukat
pantai dan
jaring angkat
6
16. Menjelaskan
prinsip disain &
mendisain alat
penangkap ikan
pancing
Prinsip-prinsip
disain dan
mendisain alat
penangkapan
ikan pancing
Kuliah+kerja
individu+tutorial
(project based
learning)
Kejelasan dan
ketepatan
disain alat
penangkapan
ikan pancing
6
17-18 Menyusun
langkah rancang
bangun alat
penangkap ikan,
hitungan disertai
dengan
argumentasi
Uji Kompetensi
& Remedial
Studi Kasus +
Presentasi
(Problem solving
learning)
Kejelasan lang-
kah rancang
bangun, ke-
jelasan alasan,
ketepatan
hitungan dan
kemampuan
analogi
25

5
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1978. Catalogue of Fishing Gear Design. FAO-UN. Fishing News (Books) Ltd.
London.
Anonim, 2007. Katalog Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Anonim, 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Ayodhyoa, A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Ben-Yami, M. 1994. Purse Seining Manual. Fishing News (Books) Ltd. London.
FAO. 1975. Catalogue of small scale fishing gear. Fishing News (Books) Ltd. London.
FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for Fishing Gear Designs. Fishing News (Books)
Ltd. London. 241 p.
Kristjonson, H. 1959. Modern Fishing Gear of the World. Vol 1. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1964. Modern Fishing Gear of the World. Vol 2. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1972. Modern Fishing Gear of the World. Vol 3. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Martasuganda, S. 2005. Set net (Teichi Ami) ; Serial Teknologi Penagkapan Ikan
Berwawasan Lingkungan. Departemen PSP FPIK. IPB Bogor.
Menon, T.R----. Hand Book on Tuna Long Lining. Central Institute of Fisheries, Nautical
and Engineering Training. Ministry of Agriculture and Irrigation. Government of India.
Muslim, A. 2008. Studi Bio-Fisik Lokasi Pemasangan Set Net (Teichi Ami) Di Perairan
Tanjung Palette Kabupaten Bone. Skripsi. PS. PSP, FIKP UNHAS. Tidak Dipublikasikan.
Muhraeni. 2008. Hubungan Beberapa Parameter Oseanografi Dengan Komposisi Dan
Jumlah Hasil Tangkapan Pada Alat Tangkap Set Net (Teichi Ami) Di Perairan Tanjung
Pallette Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Skripsi. PS. PSP, FIKP UNHAS. Tidak
Dipublikasikan
NOMURA. 1978. Fishing Techniques. I & 2. Japan International Cooperation Agency.
Tokyo.
NIELSEN, L. A. AND D. L. JOHNSON [eds.]. 1983. Fisheries Techniques. American
Fisheries Society, Bethesda, Maryland. 468 p.
Prichard, M. 1987. Lets Go Fishing. Octopus Books Limited. Hong Kong.
Sadhori, N. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Angkasa, Bandung. 182 hal.
Subani, W. dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia.
Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta.
Von Brandt, A. 1984. Fishing Catching Method of the World. 3
rd
Edition. Fishing news
(Books) Ltd. England
6

BAB 2. ALAT DAN SISTEM PENANGKAPAN IKAN
2.1. Pendahuluan
Sasaran pembelajaran :
a) Menguraikan berbagai teori alat dan system penangkapan ikan
b) Merumuskan factor-faktor yang mempengaruhi rancangbangun alat penangkapan
ikan
c) Menguraikan cara-cara mendisain alat penangkapan ikan
d) Menguraikan peranan ahli rancanbangun alat penangkapan ikan

2.2. Uraian Bahan Pembelajaran
2.2.1 Teori alat penangkapan ikan dan sistem penangkapan ikan
Mata kuliah rancang bangun alat penangkap ikan adalah lanjutan dari mata kuliah
bahan dan alat penangkapan ikan serta dasar penangkapan ikan. Pada kuliah seelumnya,
mahasiswa sudah mendapatkan materi tentang bahan-bahan yang dapat digunakan dalam
pembuatan suatu alat penangkap ikan serta bagaimana bentuk dan cara pengoperasian
berbagai alat penangkap ikan. Pada mata kuliah ini, mahasiswa akan diantar untuk
merancang (design) suatu alat penangkap ikan. Perancangan (designing) alat penangkap
ikan adalah proses mempersiapkan spesifikasi teknik dan menggambar alat penangkap
ikan untuk memuaskan kebutuhan penanganan alat, teknik, operasi, ekonomi dan social.
Penyelesaian masalah yang terlibat dalam pembuatan alat penangkap ikan untuk
memuaskan karakteristik spesifk adalah sangat kompleks, pertama karena teknologi sangat
kompleks dan kedua sebab jumlah karakteristik konflik harus diselesaikan.
Teknologi penangkapan ikan, sebagai sebuah kajian ilmiah ditemukan dan
dikembangkan pada abad ke 20 terutama oleh ilmuan Rusia dan Jepang. Itu mewakili
generalisasi dari akumulasi pengalaman praktek oleh banyak generasi nelayan di seluruh
dunia. Teori dikembangkan oleh Professor F.I. Baranov (Rusia) dan Professor Tauti
(Jepang), demikian pula serangkaian pengamatan oleh pekerja lainnya, memberikan
kontribusi pemahaman yang lebih baik tentang penangkapan ikan dan proses yang
berhubungan serta interaksinya antara ikan, alat tangkap dan kapal penangkap ikan.
Prosedur telah dilakukan secara obyektif membandingkan metode penangkapan ikan dan
alat penangkapan ikan untuk membantu memilih yang paling sesuai dan memungkinkan
evaluasi awal kelayakan secara tehnik dan ekonomi terhadap penyempurnaan teknologi
dan inovasi.
7
Hanya pengetahuan yang banyak dimiliki oleh nelayan adalah pengalaman dan apa
yang telah mereka warisi dari orang tuanya. Mereka sering tidak percaya terhadap hasil
penelitian secara teoritis, terutama disebabkan mereka tidak mengetahui bagaimana
mengambil keuntungan dari temuan baru tersebut. Namun demikian, dengan perubahan
dinamika yang telah terjadi pada akhir-akhir tahun pada perikanan dunia, perbaikan seleksi
daerah penangkapan ikan, alat dan metode panangkapan ikan, dan melibatkan peralatan
canggih seperti peralatan untuk memonitor, alat penangkapan ikan yang besar dan kuat dan
mesin automatic, nelayan tipe baru dibutuhkan dimana mereka mampu menggabungkan
pengalaman praktek dengan secara teori.
Analisis secara teoritis dapat diaplikasikan untuk mencari solusi terhadap masalah-
masalah keahlian teknik dan teknologi yang muncul dalam aktivitas nelayan, ahli
teknologi penangkapan ikan, manajer perikanan dll. Beberapa yang sering ditemui adalah
:
1. Pemilihan alat penangkapan ikan dan tipe kapal sesuai dengan data sumberdaya
perikanan pada daerah tertentu;
2. Penentuan parameter teknik yang optimal untuk alat penangkapan ikan, dengan
memperhatikan karakteristik daerah, jenis ikan dan tipe kapal yang tersedia;
3. Disain alat penangkap ikan dan perhitungan kualitas dan banyaknya bahan yang
dibutuhkan untuk konstruksi dan perlengkapan lainnya;
4. Penentuan pola operasi terbaik (kecepatan penarikan, posisi penangkapan ikan,
pemasang perlengkapan secara rinci dsb) pada berbagai kondisi;
5. Demonstrasi kemungkinan untuk penyempurnaan dan implementasinya pada alat
penangkap ikan yang digunakan pada lokasi tertentu;
6. Modifikasi alat penangkap ikan tradisional untuk beroperasi pada kondisi yang
berbeda.
Kesemua hal tersebut di atas menyinggung banyak factor yang terlibat dalam disain dan
perhitungan alat penangkap ikan. Beberapa diantaranya yang terpenting adalah :
1. Ikan (spesies, tipe dan ukuran konsentrasi, tingkah laku, kecepatan migrasi,
karakteristik biomentrik individu ikan, dsb.);
2. Daerah penangkapan ikan (sumberdaya ikan, ketersediaan makanan, jarak dari
pelabuhan, kedalaman, kecepatan arus, suhu, salinitas, ketersediaan umpan, dsb);
3. Tingkatan teknologi (keterampilan nelayan, ketersediaan dan tipe kapal penangkap
ikan, kesesuaian alat penangkap ikan, ketersediaan bahan, dsb.);
8
4. Kondisi ekonomi (permintaan umum dan preferensi pasar tertentu, jarak ke pasar,
ketersediaan modal, dsb.).
Untuk membuat buku ajar ini bermanfaat, terutama bagi sebanyak mungkin
pembacanya, matematik tingkat tinggi tidak digunakan dan perhatian lebih banyak
dicurahkan pada masalah sederhana dan umum. Selain itu juga disertai dengan contoh
perhitungan sehingga akan lebih mudah dipahami dan dipraktekkan di lapangan.
Alat penangkapan ikan kelihatannya masih kebudayaan primitive seperti tombak,
panah dan pancing yang terbuat dari batu, cangkang, tulang dan gigi binatang. Pada
perangkap ikan di perairan dangkal, penghalang tanah dan batu, dikonstruksi tumpukan
ranting kayu, kaleng penjebak dan labyrinths. Penangkapan ikan yang lebih aktif
menggunakan panah, tombak, rakit, penjepit, penggaruk, juga dengan menggunakan tali
dan joran.
Perkembangan terakhir dari alat penangkapan ikan dan metode penangkapan ikan
adalah perbaikan bentuk alat tangkap dan lebih khusus ukuran alat yang lebih besar dan
meningkatkan kecepatan penarikan dan penanganan alat. Akibatnya, lebih besar volume
air dapat disapu dan lebih cepat oleh alat tangkap, dengan meningkatkan potensi ikan
tertangkap. Ini secara luas telah memungkinkan melalui penggunakan bahan sistetis dalam
alat penangkap ikan komersil. Pada sisi lain, peningkatan ukuran alat penangkapan ikan
dan pengoperasian pada perairan yang lebih dalam dan lebih jauh diperlukan kapal
penangkap ikan yang lebih kuat, lebih cepat dan lebih besar, lebih banyak kekuatan mesin
dan listrik per nelayan di atas kapal dan meningkatkan jangkauan operasi dari peralatan
pendeteksi ikan.
Perkembangan teknik ditambah perbaikan komunikasi dan pelayanan peramalan
cuaca memungkinkan lebih banyak waktu dicurahkan untuk penangkapan melalui
pengurangan waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan antara daerah penangkapan, untuk
mendapatkan gerombolan ikan dan menangani alat penangkap ikan. Perkembangan
peralatan untuk menemukan dan mengikuti pergerakan gerombolan ikan dan memonitor
serta mengontrol alat penangkap ikan selama operasi telah ditingkatkan akurasinya untuk
tujuan penangkapan ikan dan cenderung diset secara automatik. Tidak diragukan lagi,
teknologi penangkapan ikan dapat berkontribusi terhadap perkembangan perikanan pada
Negara berkembang khususnya memperbaiki alat dan metoda yang ada melalui intoduksi
sesuatu yang baru.
Alat penangkap ikan harus dipertimbangkan sebagai bagian dari system yang juga
termasuk mesin pananganan alat, kapal penangkap ikan, peralatan untuk mendapatkan dan
9
memonitor keberadan ikan, ikan target dan lingkungannya. Efisiensi operasi penangkapan
ikan tergantung dari derajat dimana system dipahami dan dikontrol, kesesuaian terhadap
kondisi tertentu, kesesuaian dengan peralatan teknik, terhadap kondisi tertentu dimana
parameter alat tangkap sudah dipilih untuk mengeksploitasi karakteristik tingkah laku ikan.
Peranan yang dimainkan oleh unsur sistem penangkapan ikan modern akan lebih
mudah dipahami dengan merujuk pada generalisasi model informasi (Lukashov, 1972)
seperti diperlihatkan pada Gambar 1. Semua kotak kecuali ikan mewakili unsur tehnik
untuk penangkapan ikan. Alat pendeteksi lokasi ikan adalah echosounder. Modifikasi
tingkah laku ikan adalah sumber cahaya. Kotrol agen untuk modifikasi tingkah laku ikan
dan untuk alat penangkap ikan termasuk anak buah kapal dan mesin-mesin dek. Peralatan
monitor termasuk peralatan seperti alat pendeteksi jaring (net sounder) dan alat pengukur
tegangan tali.












Gaambar 1. Generalisasi informasi model system penangkapan ikan

2.2.2. Klasifikasi alat penangkapan ikan (BPPI, 2007)
Klasifikasi alat penangkapan ikan disusun untuk menggolongkan dan
mengelompokkan setiap jenis alat penangkapan ikan yang sesuai dengan perkembangan di
perairan Indonesia berdasarkan spesifikasi teknis dan cara pengoperasiannya. Dalam
pengklasifikasian alat penangkapan ikan juga tercantum singkatan dank ode yang
disesuaikan dengan penamaan yang digunakan untuk setiap jenis alat untuk memudahkan
pengidentifikasian dan pengelompokannya.
IKAN
MODIFIKASI
TINGKAH LAKU
IKAN
ALAT PENDETEKSI
LOKASI IKAN
ALAT PENANGKAP
IKAN
MONITOR
MODIFIKASI
TINGKAH LAKU
AGEN
KONTROL
TINGKAH LAKU
AGEN
KONTROL
ALAT
MONITOR
ALAT
TANGKAP
PUSAT KONTROL
10
Klasifikasi ini dikeluarkan berdasarkan hasil inventarisasi dan identifikasi alat
penangkap ikan yang ada di Indonesia oleh Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan,
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan dengan
mengadopsi Klasifikasi yang dikeluarkan oleh FAO (Definition and Clasification of
Fishing Gear Categories, 1989) dan ditambahkan dengan penggolongan yang ada di
Indonesia.
Tabel 2.1. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Berdasarkan ISSCFG
No. Penggolongan Singkatan Kode
ISSCFG
(1) (2) (3) (4)
1. SURROUNDING NETS - 01.0.0
With purse line (Purse Seines) PS 01.1.0
- One boat operated purse seines PS1 01.1.1
- Two boat operated purse seines PS2 01.1.2
Without purse line (lampara) LA 01.2.0
2. SEINE NETS 02.0.0
Beach Seine SB 02.1.0
Boat Or Vessel Seines SV 02.2.0
- Danish seine (dogol) SDN 02.2.1
- Scottish seine SSC 02.2.2
- Pair seine SPR 02.2.3
Seine nets (not specified) SX 02.9.0
3. TRAWL 03.0.0
Bottom trawl 03.1.0
- Beam Trawl TBB 03.1.1
- Otter trawl OTB 03.1.2
- Pair trawl PTB 03.1.3
- Nephtops trawl TBN 03.1.4
- Shrimp Trawl TBS 03.1.5
- Bottom Trawl (not specified) TB 03.1.9
Tabel 2.1. Lanjutan .
(1) (2) (3) (4)
11
Midwater trawl (Trawl Pertengahan ) 03.2.0
- Trawl berpapan OTM 03.2.1
- Trawl dua kapal PTM 03.2.2
- Trawl udang TMS 03.2.3
- Trawl pertengahan lainnya TM 03.2.9
Trawl kembar berpapan OTT 03.3.0
Trawl berpapan lainnya OT 03.4.9
Trawl dua kapal lainnya PT 03.5.9
Trawl lainnya TX 03.9.0
4. DGEDGES (PENGGARUK) 04.0.0
Boat dredges (Penggaruk berperahu/kapal) DRB 04.1.0
Hand dredges (Penggaruk biasa) DRH 04.2.0
5. LIFT NETS (TANGKUL) 05.0.0
Tangkul biasa (Portable liftnet) LNP 05.1.0
Bagan perahu (Boat operated liftnet) LNB 05.2.0
Tangkul pantai LNS 05.3.0
6. FALLING GEARS (ALAT YG DIJATUHKAN) 06.0.0
Jala FCN 06.1.0
Alat jatuh lainnya FG 06.9.0
7. GILL NETS & ENTANGLING NETS (JARING
INSANG & JARING PUNTAL)
07.0.0
Jaring insang menetap GNS 07.1.0
Jaring insang hanyut GND 07.2.0
Jaring insang lingkar GNC 07.3.0
Jaring insang berpancang GNI 07.4.0
Jaring gondrong (trammel net) GTR 07.5.0
Jaring kombinasi gillnettrammel net GTN 07.6.0
Jaring insang & jaring puntal lainnya GEN 07.9.0
- Jaring insang lainnya GN 07.9.1


Tabel 2.1. lanjutan .
(1) (2) (3) (4)
12
8. TRAPS 08.0.0
Stationary uncovered pound nets FPN 08.1.0
Pots FPO 08.2.0
Fyke nets FYK 08.3.0
Stow nets FSM 08.4.0
Barriers, Fences, weirs, etc. FWR 08.5.0
Aerial traps FAR 08.6.0
Traps (not specified) FIX 08.9.0
9. HOOK AND LINES (PANCING) 09.0.0
Pancing ulur dan pancing berjoran biasa LHP 09.1.0
Pancing ulur dan pancing berjoran dimekanisasi LHM 09.2.0
Rawai menetap LLS 09.3.0
Rawai hanyut LLD 09.4.0
Rawai lainnya LL 09.5.0
Tonda LTL 09.6.0
Pancing lainnya LX 09.9.0
10. GRAPPLING & WOUNDING (ALAT
PENJEPIT & MELUKAI)
10.0.0
Harpoons (Tombak) HAR 10.1.0
11. HARVESTING MACHINES 11.0.0
Pumps HMP 11.1.0
Mechanized dredges HMD 11.2.0
Harvesting machines (not specified) HMX 11.9.0
12. Miscellaneous gear MIS 20.0.0
13. Recreational Fishing Gears RG 25.0.0
14. Gear not Known (not specified) NK 99.0.0


13

Tabel 2.2. Klasifikasi alat penangkapan ikan (BPPI Semarang)
No. Penggolongan Singkatan Kode
KAPI
(1) (2) (3) (4)
1. JARING LINGKAR JL 01.0.0
Jaring lingkar bertali kerut (pukat cincin) JLPC 01.1.0
- Pukat cincin satu kapal JLPC-1K 01.1.1
- Pukat cincin dua kapal JLPC-2K 01.1.2
Jaring lingkar tanpa tali kerut (lampara) JLLA 01.2.0
2. PUKAT TARIKa PT 02.0.0
Pukat Tarik Pantai PTP 02.1.0
Pukat Tarik Berkapal PTK 02.2.0
- Payang PTK-Py 02.2.1
- Dogol PTK-Dg 02.2.2
- Cantrang PTK-Cn 02.2.3
- Lampara Dasar PTK-Ld 02.2.4
PUKAT TARIK LAINNYA PTL 02.9.0
3. PUKAT HELA PH 03.0.0
Pukat Hela Pertengahan PHT 03.1.0
- Pukat Hela Pertengahan Berpapan PHT-Pp 03.1.1
- Pukat Hela Pertengahan Dua Kapal PHT-2K 03.1.2
- Pukat Hela Pertengahan Lainnya PHT-L 03.1.9
Pukat Hela Dasar PHD 03.2.0
- Pukat Hela Dasar Berpalang PHD-Pl 03.2.1
- Pukat Hela Dasar Berpapan PHD-Pp 03.2.2
- Pukat Hela Dasar Dua Kapal PHD-2K 03.2.3
- Pukat Hela Dasar Lainnya PHD-L 03.2.4
Pukat Hela Lainnya PHL 03.9.0
4. PUKAT DORONG PD 04.0.0
Pukat Dorong tidak Berkapal PDTK 04.1.0
Pukat Dorong Berkapal PDK 04.2.0
- Pukat Dorong Berkapal Satu Jaring PDK-1J 04.2.1
14

Tabel 2.2. Lanjutan
(1) (2) (3) (4)
- Pukat Dorong Berkapal Dua Jaring PDK-2J 04.2.2
Pukat Dorong Lainnya PDL 04.9.0
5. PENGGARUK PG 05.0.0
Penggaruk Tanpa Kapal PGTK 05.1.0
Penggaruk Berkapal PGK 05.2.0
6. JARING ANGKAT JA 06.0.0
Jaring Angkat Menetap JAM 06.1.0
- Anco Tanpa Kapal JAM-A 06.1.1
- Bagan Tancap JAM-BT 06.1.2
Jaring Angkat Tidak Menetap JATM 06.2.0
- Bagan Rakit JATM-BR 06.2.1
- Bagan Perahu JATM-BP 06.2.2
- Anco Berkapal (Bouke Ami) JATM-BA 06.2.3
Jaring Angkat Lainnya JAL 06.9.0
7. ALAT YANG DIJATUHKAN/DITEBARKAN AJT 07.0.0
Jala Tebar AJTT 07.1.0
Jala Jatuh AJTJ 07.2.0
- Jala jatuh tanpa Kapal AJTJ-TK 07.2.1
- Jala Jatuh Berkapal (Cast Net) AJTJ-K 07.2.2
Alat Jatuh Lainnya AJTL 07.9.0
8. JARING INSANG JI 08.0.0
Jaring Insang Hanyut JIH 08.1.0
Jaring Insang Tetap JIT 08.2.0
Jaring Insang Lingkar JILR 08.3.0
Jaring Insang Berlapis JIBL 08.4.0
Jaring Insang Lainnya JIL 08.9.0
9. PERANGKAP PR 09.0.0
Perangkap Berpenaju (Sero, Belat) PRP 09.1.0
Perangkap tanpa Penaju PRTP 09.2.0
15
- Penangkap Bersayap (Pukat labuh, Gombang,
Apong)
PRTP-S 09.2.1
Tabel 2.2. Lanjutan
(1) (2) (3) (4)
- Perangkap tanpa Sayap (Ambai, Togo, Jermal,
Pengeri)
PRTP-TS 09.2.2
Bubu PRB 09.3.0
Perangkap Lainnya PRL 09.9.0
- Perangkap Ikan Peloncat PRIL 09.9.1
10. PANCING PC 10.0.0
Pancing Ulur PCU 10.1.0
Pancing Berjoran PCJo 10.2.0
Rawai Tetap PCRT 10.3.0
Rawai Hanyut PCRH 10.4.0
Tonda PCT 10.5.0
Pancing Lainnya PCL 10.9.0
11. ALAT PENJEPIT DAN MELUKAI APM 11.0.0
Ladung LD 11.1.0
Tombak TB 11.2.0
Panah PN 11.3.0
Alat Penjepit dan Melukai Lainnya APML 11.9.0
12. ALAT-ALAT LAINNYA AAL 20.0.0
Muro Ami MA 20.1.0


16

2.2.3. Disain alat penangkapan ikan
Perancangan (designing) alat penangkap ikan adalah proses mempersiapkan
spesifikasi teknik dan menggambar alat penangkap ikan untuk memuaskan kebutuhan
penanganan alat, teknik, operasi, ekonomi dan social. Penyelesaian masalah yang terlibat
dalam pembuatan alat penangkap ikan untuk memuaskan karakteristik spesifk adalah
sangat kompleks, pertama karena teknologi sangat kompleks dan kedua sebab jumlah
karakteristik konflik harus diselesaikan. Pada prinsipnya, perancang alat penangkap ikan
sudah cukup memiliki pengalaman praktek dan dapat melalukan perhitungan keteknikan.
Dengan pengetahuan ini, rencana dan spesifikasi suatu alat penangkap ikan dapat
dikembangkan dan alat dikontruksi serta diuji di laut. Jika sebuah alat penangkapan ikan
yang baru kurang memuaskan, boleh dimodifikasi atau yang terburuk adalah dibuat
perancangan kembali mulai dari awal dengan memperhatikan kesalahan sebelumnya.

(A). Teori dengan pendekatan praktek
Sebagian besar alat penangkap ikan diproduksi melalui metode coba-coba, yaitu
dikonstruksi kemudian dicoba di lapangan. Apabila penampilan lapangan kurang
memuaskan, dilakukan modifikasi, kemudian dicoba lagi, sampai akhirnya memuaskan.
Cara seperti ini tidak salah, Cuma biayanya yang terlalu mahal dan memerlukan waktu
yang lama. Oleh karena itu diperlukan perencanaan dan perhitungan yang matang sebelum
dikontruksi. Sebagai informasi awal dapat menggunakan referensi dari catalog alat
penangkapan ikan yang ada, secara Internasional dikeluarkan oleh FAO dan di Indonesia
di keluarkan oleh Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan di Semarang. Cara lain
dapat ditempuh melalui pembuatan model, kemudian model tersebut diuji di laboratorium,
dengan mudah dapat dilakukan modifikasi dan disimulasi kondisi lapangan. Kalau
penampilan model sudah memuaskan baru dilakukan konstruksi.

(1) Desain dengan sistem tukang jahit
Perancang merencanakan dalam hayalan gambar 3 dimensi dari alat yang akan
dibuat, kemudian dipindahkan ke atas kertas sebagai gambar atau kesan seniman. Untu
mencapai hal ini beberapa dimensi fisika dari berbagai bagian jaring perlu ditambahkan,
seperti : ukuran mata jaring (mesh size), nomor benang, diameter tali, shortening (S =
hang in ratio) dan H (hanging ratio = E). Dari informasi ini, desain dapat digambar dan
informasi yang diketahui tadi dipindahkan ke gambar. Jumlah mata jaring pada bagian
17
lebar dan dalam jaring pada setiap bagian tertentu dapat dihitung, dan selanjutnya
ditambahkan pada spesifikasi.
Seperti pada kegiatan desain pada umumnya, banyak keahlian perkiraan yang
diperlukan sebagai dasar dari analisis perencanaan. Dalam kasus alat penangkap ikan,
sering dibutuhkan informasi dari nelayan yang pengalaman di lapangan dan tahu tentang
kondisi daerah penangkapan dan kapal dimana alat tersebut akan digunakan.
Keahlian dasar yang diperlukan pada pendekatan ini adalah pengetahuan mendalam
tentang perhitungan yang berhubungan dengan teknik pemotongan jaring, hanging ratio
(H) dan teknik penyambungan.

(2) Desain dengan metode skala langsung
Pada teknik ini perencana mencoba dan menguji suatu desain jaring yang sudah
ada. Untuk mendapatkan sesuai dengan ukuran yang diinginkan, maka dilakukan
perbesaran atau perkecilan. Perubahan dimensi yang dibuat harus didasarkan pada
beberapa data penunjang lainnya atau pengalaman tertentu dari perencana. Namun
demikian proses perubahan ukuran alat penangkap ikan sebenarnya relatif sederhana. Hal
ini akan menjadi lebih rumit apabila perencana ingin membuat perubahan radikal terhadap
mata jaring dan ukuran benang. Sebagai contoh pada trawl atau alat lainnya pengaruh
nyata pada tahanan alat merupakan pertimbangan yang perlu dikaji lebih dalam. Dengan
kata lain tehnik yang digunakan untuk mengembangkan suatu kisaran desain alat
penangkap ikan yang memadai sesuai dengan kekuatan kapal dan berdasarkan pengalaman
di lapangan. Analisis terhadap data yang telah diketahui, akan dapat memberikan koreksi
yang sangat berharga pada teknik desain.
Teknik ini dapat diaplikasikan pada alat penangkap ikan seperti : fyke nets, beam
trawls, trawl dasar tunggal dan ganda.

(3) Desain dengan menggunakan data sheets
Penggunaan data sheets diikuti oleh sistem pengambilan keputusan dan
perhitungan yang dikembangkan oleh autor merupakan cara yang paling berhasil dalam
desain trawl dasar dan trawl pelagis dan juga dapat diaplikasikan juga pada seine net. Data
sheets harus digambar berdasarkan statistik yang diambil dari alat yang sedang dipakai,
dan informasi yang dibutuhkan dapat dilihat pada contoh data sheet untuk trawl dasar.

Kenyataan penting sebagai berikut :
18
Diasumsikan HP kapal ikan dibuat dimana kapal dipertimbangkan displacement
badan kapal untuk trawl dan menggunakan bollard penuh sekitar 1 ton/ 100 hp. Ukuran
jaring dinyatakan sebagai panjang foot rope dalam fathom. Kisaran panjang footrope (tali
ris bawah) diperlihatkan untuk dialokasikan dalam perbedaan disain kapal dan faktor
lingkungan dan cenderung mempengaruhi ukuran alat yang digunakan pada lokasi yang
berbeda.

(4) Disain melalui moodifikasi
Perhatian dunia akhir-akhir ini ditujukan pada perikanan yang berkelanjutan. Pada
prinsip ini, sumberdaya ikan harus diupayakan supaya tidak habis pada suatu wilayah
tertentu. Dengan kata lain, alat penangkap ikan diusahakan tidak menangkap semua ikan
yang ada pada areal tangkapan atau selektif. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa
banyak alat penangkap ikan yang tidak selektif. Untuk membuat alat penangkap ikan yang
tidak selektif menjadi selektif, kalau dilakukan perombakan disain secara keseluruhan akan
membutuhkan biaya yang sangat besar. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi terhadap
kasus seperti ini dapat dilakukan melalui cara modifikasi. Modifikasi dapat dilakukan
dengan membuatkan jendela pada bagian tertentu jarring yang memungkinkan ikan-ikan
yang masih kecil dapat meloloskan diri. Cara seperti ini dapat diaplikasikan pada bagan,
purse seine, trawl, set net dsb.

(B). Peranan ahli fishing gear
Ahli fishing gear adalah pendisain sistem penangkapan ikan. Dia boleh secara
murni terlibat dalam masalah disain jaring, tetapi jaring biasanya digunakan dari kapal
penangkap ikan, dan beberapa komponen mesin-mesin yang digunakan diatas kapal. Ahli
fishing gear seharusnya juga mempunyai pemahaman yang jelas tentang ikan, tingkah
lakunya, sifat biologi dan reaksinya terhadap rangsangan, kecepatan renang, dan
lingkungan dimana ikan hidup.
Semua faktor ini mempengaruhi pemilihan sistem penangkapan ikan, jaring atau
kapal, juga keberhasilan disain alat penangkapan ikan harus diperhitungkan pada semua
titik atau aspek.
Elektronik juga memainkan peranan yang sangat penting dalam penangkapan ikan
dan pengembangan alat penangkapan ikan. Peralatan pendeteksi ikan modern sangat
canggih dan ahli fishing gear seharusnya mengetahui dengan baik pemakaian dan
19
aplikasinya. Selain itu beberapa peralatan yang digunakan dalam penelitian fishing gear
diatas kapal dikontrol secara elektronik.
Komputer mikro juga dapat memainkan peranan yang tak ternilai dalam bidang
desain fishing gear, seperti penyimpanan data, dan penggunaan dalam banyak kalkulasi.
Hidrodinamika adalah dasar teknologi yang darinya dapat diperoleh pengetahuan
teoritis tentang penampilan teknik dari fishing gear.
Bidang fishing gear teknologi sangat unik karena melibatkan banyak faktor biologi
dan lingkungan yang tidak dapat diduga. Mari kita tidak melupakan bahwa kita adalah
masih pemburu, kemungkinan besar satu-satunya metode perburuan yang paling canggih
di dunia. Untuk menjadi pemburu yang berhasil, kita harus mengetahui target buruan dan
bagaimana dia hidup. Saya menyesal untuk mengatakan bahwa masalah tersebut tidak
akan pernah terpecahkan pada papan gambar atau di komputer, walaupun dihadapi oleh
beberapa tenaga ahli di dunia. Seorang ahli fishing gear seharusnya tidak pernah
melupakan akan hal ini, layanannya, nelayan adalah pemburu, manusia terampil, dan
banyak dari mereka "belajar memikirkan kesukaan dari buruannya".
Ahli fishing gear adalah seni teknologi, yang mana harus mempunyai tingkat
keterampilan yang tinggi jika ingin menjadi sukses, dan dapat diterima oleh langganannya.
Secara teori tenaga ahli dapat berhasil dengan baik di stasion penelitiannya, sibuk menulis
laporan akademik, tetapi saya sering mempertanyakan nilai sebenarnya dari kegiatannya
dalam membantu nelayan menangkap ikan lebih banyak atau dalam membuat sistem
pengoperasiaanya lebih efektif dari segi biaya.
Jika dipertimbangkan bidang fishing gear desain; pada pandangan yang sempit
dapat diikutii pengamatan berikut. Desain adalah semua tentang perubahan jaring ke
bentuk tertentu yang cocok dengan menggabungkan karakter satu jaring dengan jaring
lainnya dan merubah penampilannya dalam berbagai cara. Oleh sebab itu yang paling
bernilai untuk kita adalah mengetahui sebanyak mungkin tentang penampilan jaring secara
tehnik, dan pengaruh akibat barbagai variasi perubahan tali temali pada penampilannya.
Penampilan teknik bukan jawaban untuk semua masalah, bidang lain yang
terpenting adalah reaksi dari ikan terhadap fishing gear, mesh size, sudut jaring, gangguan
aliran, lumpur, bising, getaran, warna dan cahaya. Makin luas pengetahuan tentang bidang
tersebut akan semakin cocok dalam mengaplikasikan untuk memperbaiki keahliannya
sebagai disainer fishing gear.
Bidang lain dari disain adalah mengurangi pengeluaran seperti : biaya bahan bakar
dan ini dapat dilakukan secara bersama antara naval architek dan ahli fishing gear
20
technologi. Satu harus diteliti aspek ekonomi dari operasi penangkapan ikan dan
keefektifan biaya dari metode yang berbeda.
Dengan mudah dapat kita lihat dua metode penangkapan ikan, dengan type dan
ukuran kapal yang sebanding. Katakan bahwa kapal X selalu menangkap ikan lebih
banyak dengan kapal Y, tetapi jika kapal X mengkonsumsi bahan bakar dua kali lipat dari
Y, maka hal ini harus dilihat lebih jauh lagi. Teknik utama yang digunakan dalam
hubungannya dengan disain jaring dan penghematan bahan bakar adalah coeficient tarikan
untuk alat yang ditarik, dengan membuat alat lebih eficient secara hidrodinamik. Hal ini
boleh jadi akan mengakibatkan kurangnya eficienci tangkapan ikan tetapi harus
dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar.
Bagian akhir dari desain adalah penemuan dimana penemu datang dengan revolusi
tehnik dalam penangkapan ikan atau bagian lainnya.

21

2.2.4. Faktor yang mempengaruhi disain alat penangkapan ikan
Alat penangkapan ikan yang akan didisain harus diperhitungkan kondisi perairan
dimana alat tersebut akan dioperasikan. Hal ini perlu diperhatikan mengingat factor-faktor
luar tersebut akan mempengaruhi penampilan alat penangkap ikan di dalam air. Oleh
karena itu perlu diidentifikasi factor-faktor yang mungkin berpengaruh terhadap alat
penangkap ikan dan sejauh mana berpengaruh terhadap berbagai jenis alat penangkap ikan.
Tujuan pembelajaran adalah mahasiswa mampu mengidentifikasi dan menghitung factor-
faktor yang berpengaruh terhadap berbagai alat penangkap ikan pada saat dioperasikan.
Banyak faktor yang mempengaruhi desain dan eficiensi dari sistem penangkapan
ikan, beberapa diantaranya harus dianalisa dengan detail, dan yang lainnya dapat diabaikan
atau merupakan faktor kedua, tetapi perlu diingat bahwa kesemuanya itu penting jika
analisis objektif akan dilakukan.

Faktor-faktor tersebut dapat diklasifikasikan pada topik berikut :
1. Faktor biologi
2. Faktor lingkungan
3. Kapal penangkap ikan
4. Pelabuhan perikanan dan fasilitas penunjang
5. Pasar untuk produksi
6. Peraturan perikanan

ad 1. Fakktor Biologi

Spesies Ikan - ukuran
- bentuk
- demersal, pelagik atau semi pelagik
- tingkah laku biologi
- reaksi ikan terhadap alat tangkap
- kecepatan renang ikan
- kebiasaan makan ikan
- kebiasaan dan daerah memijah
- reaksi terhadap suara, cahaya dsb.
22
Pengaruh faktor-faktor tersebut dapat lebih terpusat pada daerah tertentu, dan ini
harus selalu diingat. Kadang-kadang orang yang terbaik untuk memberi saran untuk
masalah ini adalah nelayan pada daerah tersebut. Nelayan pada suatu daerah akan lebih
memahami kondisi yang ada di wilayahnya, termasuk jenis-jenis ikan apa yang sering
mereka tangkap dan bagaimana kecenderungan hasilnya.
Ukuran dan bentuk ikan mempunyai pengaruh terhadap ukuran alat, ukuran mata
jaring dan tipe benang.
Lapisan perairan dimana ikan hidup akan mempengaruhi daerah operasi dan tipe dari alat
penangkap ikan yang digunakan.
Tingkah laku biologi adalah merupakan komponen penting bagi nelayan, walaupun
migrasi vertikal dari beberapa jenis ikan pelagis akan mempunyai pengaruh khusus pada
disain alat.
Reaksi ikan terhadap alat penangkap ikan adalah ilmu yang relatif masih baru dan
merupakan satu bagian yang banyak ditekuni oleh para peneliti. Bagian penting adalah
rekasi ikan kepada tali, jaring, mata jaring yang besar dan kekeruhan dasar, dengan
perangsang lain seperti suara, cahaya dan listrik.
Kecepatan renang ikan sangat penting dalam hubungannya dengan efektifitas
pengoperasian trawl dan menambah pengetahuan kita bagaimana cepatnya ikan akan
melelahkan pada bagian alat yang ditarik atau didorong.
Kebiasaan makan ikan cenderung mengikuti aturan pengetahuan lokal, tetapi yang penting
untuk operasi optimum dari alat pancing dan alat pasif lainnya. Ada beberapa kasus
dimana daerah penangkapan buatan dapat dibuat yang membawa ikan ke daerah tersebut.
Pengetahuan ini penting karena dapat meningkatkan efektifitas dari sebahagian besar
metode penangkapan ikan.

ad 2. Faktor lingkungan :
laut, sungai atau danau, kondisi dasar
pasang surut dan arus
upwelling
thermocline
pH
oxygen
suhu
kecerahan
23
kondisi cuaca

Kondisi daerah penangkapan sangat penting dalam menentukan tipe alat untuk jenis ikan
dasar, atau tali temali untuk alat tertentu terlepas dari feeding ground.
Pasang surut dan arus memainkan pengaruh yang perlu dipertimbangkan terutama pada
cara jaring dipasang atau arah tarikan. Mereka juga mempengaruhi disain dan metode
pengikatan.
Upwelling, thermocline, pH, kandungan oksigen, suhu, semuanya mengatur keberadaan
ikan dan tempat yang cocok untuk menempatkan alat penangkap ikan.
Turbidity akan mengatur penetrasi cahaya kedalam air dan sangat penting terutama dalam
menarik perhatian jenis ikan pelagis di daerah perairan tropis dan subtropis.
Kondisi cuaca dapat mempengaruhi siklus kegiatan penangkapan ikan, kekuatan system
penjangkaran pada alat yang dipasang menetap.

ad 3. Kapal penangkap ikan
tipe dari bentuk badan kapal
panjang, lebar dan sarat
tipe mesin dan kekuatan
propeler dan reduksi
propeler nozzle
tata ruang dek
mesin-mesin dek

Ukuran dan disain kapal akan mempunyai hubungan erat dengan tipe alat penangkap ikan
yang akan dipilih, demikian pula ukuran alat yang akan digunakan.
Ketersediaan mesin-mesin dek boleh jadi memberikan pengaruh yang sangat berarti pada
pemilihan alat penangkap ikan, sebagaimana ini dapat berpengaruh kuat pada ukuran dan
tipe alat penangkap ikan yang akan digunakan, kedalaman air, kondisi dasar perairan, dan
beberapa faktor lain sehubungan dengan pengoperasian kapal.
Bentuk kapal dan kekuatan adalah bagian penting dimana alat ditarik dan diseret
terkonsentrasi. Sebagai contoh motor tempel tidak didisain untuk tenaga penggerak kapal
ikan.
24
Sebagai contoh sebuah mesin tempel 40 HP akan menghasilkan sangat sedikit daya
tersedia untuk menarik alat penangkap ikan dibandingkan dengan daya yang sama untuk
mesin dalam.

ad 4. Pelabuhan perikanan dan fasilitas penunjang
pantai, pelabuhan, dok
suplai bahan bakar
urusan surat-syrat kapal dan fasilitas perbaikan
fasilitas es
pengujian kapal dan suplai peralatan
pasar ikan
transport dan cold storage
Fasilitas-fasilitas tersebut di atas akan mempengaruhi tipe pengoperasian dari kapal
yang dapat dilakukan, jika tidak mempengaruhi kapal secara langsung. Siklus
penangkapan dapat dipengaruhi oleh keterbatasan masuk pelabuhan akibat perbedaan
pasang surut yang tinggi.
Pasar ikan dan berbagai fasilitas penunjang lainnya akan mempengaruhi ukuran dan
keefektifan operasi penangkapan ikan.

ad 5. Pasar untuk hasil
pasar lokal
pelelangan
pembekuan
pengalengan
pengasapan
dealer ikan
pengolahan di atas kapal
Pemasaran yang efisien merupakan aspek yang terpenting dalam industri
penangkapan ikan - tidak ada gunanya menangkap ikan jika tidak dapat dijual atau dijual
pada tingkatan ekonomi.

ad 6. Peraturan Perikanan
penutupan daerah penangkapan
quota hasil tangkapan
25
pengaturan jaring dan ukuran mata jaring

Peraturan perikanan akan mempengaruhi kedua sisi, yaitu sisi pengoperasian alat
dan disain jaring, terutama dalam hubungannya dengan pemesanan jaring (mata jaring
tertentu).
Pendisain alat penangkapan ikan atau nelayan ketika menset sistem penangkapan
ikan tidak menampilkan analisis detail dari semua faktor-faktor yang disebutkan di atas,
dimana perbedaan faktor akan mendominasi pada setiap kasus tertentu atau masalah.
Banyak dari bagian yang tersebut di atas akan tidak lebih dari kharakter kedua setelah
masalah individu dipertimbangkan. Walaupun komentar ini, sebagaimana pada setiap
situasi, jika kita mendapatkan hasil terbaik, penelitian tentang masalah ini pada butir-butir
di atas adalah sangat penting sebelum memulai mendisain atau memilih disain alat
penangkap ikan.

2.3 Penutup
Untuk dapat memahami materi yang telah diberikan, maka diperlukan diperlukan
suatu alat evaluasi berupa penugasan atau pertanyaan terkait dengan materi. Sehubungan
dengan hal tersebut maka beberapa poin yang perlu mendapat perhatian mahasiswa
sebagai berikut :
1) Uraikan klasifikasi alat penangkapan ikan berdasarkan berdasarkan FAO dan
BBPPI Semarang, serta kode KAPI dank kode internasional, serta berikan
contoh nyata yang ada di lapangan.
2) Gambarkan alat penangkapan ikan tertentu sebagai system penangkapan ikan
(pilih salah satu alat penangkap ikan yang ada di lapangan).
3) Berikan contoh proses disain alat penangkap ikan berdasarkan ke-3 cara yang
telah diuraikan di atas. Lengkapi dengan contoh aplikasi !
4) Sebagai ahli alat penangkap ikan, apa yang akan anda lakukan dalam
mempertahankan sumberdaya ikan yang cenderung semakin menurun dari
waktu ke waktu.
5) Uraikan factor-faktor yang kemungkinan berpengaruh pada alat penangkapan
ikan sewaktu dioperasikan (pilih salah satu alat penangkapan ikan).
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mahasiswa dibagi kelompok sesuai
dengan jumlah kelas dalam klasifikasi yang ada. Mahasiswa dapat mengamati alat
26
penangkap ikan yang ada di lapangan, kemudian menjelaskan sesuai 3 poin tersebut di
atas.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1978. Catalogue of Fishing Gear Design. FAO-UN. Fishing News (Books) Ltd.
London.
Anonim, 2007. Katalog Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Anonim, 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Ayodhyoa, A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Ben-Yami, M. 1994. Purse Seining Manual. Fishing News (Books) Ltd. London.
FAO. 1975. Catalogue of small scale fishing gear. Fishing News (Books) Ltd. London.
FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for Fishing Gear Designs. Fishing News (Books)
Ltd. London. 241 p.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Metode dan Teknik
Penangkapan. Jurusan PSP, Fakultas Perikanan IPB, Bogor.
Kristjonson, H. 1959. Modern Fishing Gear of the World. Vol 1. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1964. Modern Fishing Gear of the World. Vol 2. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1972. Modern Fishing Gear of the World. Vol 3. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Menon, T.R----. Hand Book on Tuna Long Lining. Central Institute of Fisheries, Nautical
and Engineering Training. Ministry of Agriculture and Irrigation. Government of India.
NOMURA. 1978. Fishing Techniques. I & 2. Japan International Cooperation Agency.
Tokyo.
NIELSEN, L. A. AND D. L. JOHNSON [eds.]. 1983. Fisheries Techniques. American
Fisheries Society, Bethesda, Maryland. 468 p.
Prichard, M. 1987. Lets Go Fishing. Octopus Books Limited. Hong Kong.
Sadhori, N. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Angkasa, Bandung. 182 hal.
Subani, W. dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia.
Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta.
Von Brandt, A. 1984. Fishing Catching Method of the World. 3
rd
Edition. Fishing news
(Books) Ltd. England
BAB 3. GEOMETRI JARING, GAYA DAN MODEL ALAT PENANGKAPAN
IKAN
3.1 Pendahuluan
27
Sasaran pembelajaran :
a) Menggabarkan geometri jaring
b) Menghitung bahan alat penangkapan ikan
c) Menghitung gaya-gaya luar yang bekerja pada alat penangkap ikan
d) Merancang model alat penangkapan ikan

3.2. Uraian Bahan Pembelajaran
3.2.1 Bahan Dasar Alat Penangkapan Ikan
Secara umum bahan dasar alat penangkapan ikan yaitu jaring atau tali. Tali
digunakan pada alat penangkapan ikan yang berasosiasi dengan pancing. Sedangkan
jaring merupakan bahan dasar alat penangkapan ikan yang berasosiasi dengan jaring, baik
jaring yang difungsikan sebagai penjerat ikan maupun sebagai dinding penghalang pada
berbagai alat penangkapan ikan.
Jaring yang tersedia di pasar secara garis besar terbagi dua, yaitu : jaring dengan
bahan multifilament dan bahan monofilament.






















Keterangan:
N = jumlah mata jaring pada bagian atas jaring
n = jumlah mata jaring pada bagian bawah jaring
H = jumlah mata jaring ke arah vertikal

1
100 yards =91,4
100
n
S
T
N
H
28
S = mesh size
T = notasi benang

Luas permukaan benang (Twine surface area=TSA)
Luas permukaan benang merupakan perhitungan permukaan benang secara
keseluruhan pada suatu alat penangkapan ikan yang telah diketahui kebutuhan jaringnya.
Perhitungan TSA diperlukan untuk kepentingan pendugaan gaya-gaya yang akan bekerja
pada suatu alat penangkapan ikan di dalam air. TSA dihitung dengan menggunakan rumus
berikut :

TSA = {(N + n)/2} x H x 4ad x 10
-6
dalam m
2

Dimana :
a = panjang bar dalam mm
d = diameter benang dalam mm
N = jumlah mata jaring horizontal pada bagian atas (mata)
n = jumlah mata jaring horizontal pada bagian bawah (mata)
H = jumlah mata jaring ke arah vertikal (mata)

Diameter benang
Dalam kondisi di laboratorium, diameter benang dapat diukur secara langsung
dengan menggunakan micrometer. Namun pada kondisi lapangan dimana peralatan ukur
halus tidak tersedia, maka diperlukan pendekatan lain. Sebagai rumus pendekatan,
biasanya akurasi tergantung dari pabriknya, dan akan berbeda antara satu pabrik dengan
pabrik lainnya.
Perhitungan diameter benang (D) untuk bahan PA sebagai berikut :
D = 210 x nomor/5135

Perhitungan berat bahan (Wt)
1.
R x
K S x x H x
n N
Wt
1000
} ) 2 {(
2
+

+
=

Dimana :
S = mesh size jaring
K = knot content
29
R = runnage (m/kg)

atau

2). Wt = panjang jaring atau tali / R

3). Metode ini dapat digunakan untuk menduga berat jaring gill net dengan kisaran ukuran
benang dari 210D/6 sampai 210D/30 dengan ukuran mata jaring berkisar dari 5 sampai 10
inci. Berat sebenarnya yang diperoleh akan bervariasi sekitar 10 - 15% dari nilai
perhitungan.
Rumusnya sebagai berikut :



dimana : berat jaring dinyatakan dalam pound (lb)
N = jumlah mata jaring ke arah panjang
D = jumlah mata jaring ke arah dalam

4). Berat jaring dari bahan polyamide dan cotton dapat dihitung dengan rumus berikut :



dimana :
W = wt/cm panjang benang
W = 0,0136 x n/Nm untuk cotton pilinan keras
W = 0,000628 x n untuk benang polyamide
n = jumlah yarn tunggal dalam benang
N1 & N2 = jumlah mata pada arah panjang dan lebar jaring
Nm = nomor benang dalam sistem metrik
L = mesh size dalam cm
K = nilai konstan; dimana 3,5 untuk polyamide, 2,0 untuk cotton tidak keras dan 2,26
untuk cotton keras
30

5). Berat dari bagian jaring (simpul tunggal) dapat diduga berdasarkan metode berikut :
Contoh : Hitung berat jaring 100T x 100N mesh size 40 mm, ukuran benang R 230 tex.
a. Hitung panjang dari benang jaring pada panel tanpa mempertimbangkan jumlah benang
pada simpul. Nilai ini disebut dengan panjang dasar benang.
Panjang dasar dari benang pada panel sama dengan jumlah benang yang berhubungan
dengan jumlah mata jaring pada arah lebar jaring (100 mata pada arah T).
Jadi 100 x 2 = 200 (sebab ada dua benang untuk membuat mata) dikali dengan dalam
jaring dalam meter (yaitu 40 x 100/1000 m).
Panjang dasar benang adalah 200 x 4 = 800 m.

Shortening jaring (S) :atau Hang in Ratio
% 100 x
Lo
Li Lo
S

=

Hanging Ratio (H, E)

Dalam jaring (D)
) 2 (
2
S S mn D =
Gaya apung (B)

= 1
1

W B
Gaya tenggelam (Sf)

1
1 W S
f

Dimana :
Lo = panjang jaring sebelum ditata pad atali ris
Li = panjang jaring setelah ditata pada tali ris
m = ukuran mata jaring
n = jumlah mata jaring pada arah vertikal

31

Gambar 3.1. Penampilan bukaan mata jaring yang berbeda akibat nilai hanging ratio yang
berbeda.

Tabel 3.1. Nilai K dan R bahan jaring PA

No. Benang Mesh size (mm) K (mm) R (Runnage)

210/60 160 25,4 642,85
210/54 120 22 714,25
210/42 80 20 918,4
210/30 60 18 1285,8
210/24 40 15 1607,14
210/21 30 13,5 1836,8
210/18 20 11 2142,9
210/12 15 9 3214,3

Tabel 3.2. Nilai K dan R bahan jaring PE (Polyethylene)

32
No. Benang K (mm) R

10/12 44,45 1320
10/15 53,34 1025
10/18 55,88 850
10/21 60,96 747
10/24 63,5 642
10/27 65,58 570
10/30 73,66 518
10/36 78,74 430
10/39 82,55 395
10/42 85,09 368
10/45 90,17 340
10/50 95,25 295
10/54 104,14 242
2,5 mm 101,6 360
2,7 mm 107,95 310
3 mm 114,3 270
3,5 mm 117,475 225
4 mm 127 200
4,5 mm 139,7 165
5 mm 152,4 127
5,5 mm 203,2 100

Catatan : Nilai K untuk simpul tunggal

33
3.2.2 Analisis sistem pemotongan jaring
Sistem pemotongan jaring perlu dipahami dalam mempelajari rancangbangun alat
penangkapan ikan. Hal ini perlu dilakukan mengingat tidak semua alat penangkap ikan
berbentuk empat persegi panjang. Beberapa alat penangkap ikan mempunyai bentuk yang
agak rumit seperti trawl, sehingga dalam rancangannya diperlukan beberapa model
pemotongan untuk membentuk sesuai dengan yang diinginkan.
Ada 4 jenis pemotongan, yaitu : (1) all P (N = north=mengarah ke utara) adalah
sistem pemotongan jaring secara lurus ke arah vertikal; (2) all M (T=transverse) adalah
sistem pemotongan yang lurus secara horizontal; (3) all B sistem pemotongan secara lurus
pada arah miring; dan (4) sistem pemotongan kombinasi.
Pemotongan N
N & B
B
T & B
T

N


N & B

B




T & B

T

1) Merubah dari sistem pemotongan ke bentuk jaring

Contoh 1 T 5 B

1 T 0 1
5 B 2,5 2,5
+
2,5 3,5
34
Ini berarti jumlah mata horizontal 3,5 dan vertikal 2,5 atau biasa dituliskan dengan 3,5 in
2,5 atau 3,5 dalam 2,5
1N 2B x12
1N 3B

dikalikan menjadi
12N 24B
12N 36B dijumlahkan menjadi 24N 60B


24 N 24 0
60 B 30 30
+
54 30

30 dalam 54

1T 11 B x15 = 15T 165B


15 T 0 15
165 B 82,5 82,5
+
82,5 97,5
97,5 dalam 82,5

2) Merubah dari bentuk jaring ke sistem pemotongan

1 dalam 34
35


1

1 2

33N 2B
33 16N 1B 1x
17N 1B 1x




Tex (Tt) = 1 g/1000 m = g/km
Total tex = nilai tex dari bahan berdasarkan hasil perhitungan dari bahan melalui proses
pemilinan
R-tex = nilai tex dari bahan berdasarkan hasil pengukuran.
Secara umum nilai R-tex > total tex sampai 30%, tergantung dari derajat pilinan benang.

Konversi dari R-tex Runnage (R)

Runnage (R) = 10
6
/R-tex

Demikian pula sebaliknya dari Runnage ke R-tex.

Contoh Soal :
Sebuah gill net terbuat dari bahan multifilament 210D/9 mesh size 4 inci,
shortening 30%. Dimensi gill net tersebut adalah : panjang 1000 m, lebar 20 m. Berapa
banyak bahan jaring yang dibutuhkan dalam konstruksi ?. Jika harga 1 piece jaring
monofilamen 210D/9 mesh size 4 inci Rp. 300.000,- berapa harga keseluruhan bahan
jaring tersebut ?

Penyelesaian

Rumus yang akan digunakan sebagai berikut :
(1) Shortening jaring (S) :
36
% 100 x
Lo
Li Lo
S

=

(2) Dalam jaring (D)
) 2 (
2
S S mn D =

Perhatikan rumus (1), pada rumus ini sebenarnya untuk menghitung shortening, tetapi pada
soal sudah diketahui, panjang jaring (Li) juga sudah diketahui, maka yang dicari adalah
panjang jaring sebelum ditata pada tali ris (Lo). Dengan demikian Lo adalah sbb :
Lo = 1000/0,7 = 1428,57 m
Dikonversi menjadi piece sehingga = 1428,57 m/91,4 m =16,63 piece

Perhatikan rumus (2) Dalam jaring, mesh size dan shortening sudah diketahui, sehingga
yang dicari adalah n (jumlah mata jaring).
) ) 7 , 0 ( 7 , 0 2 ( 10 2000
2
= x n cm cm

Sehingga n = 2000 cm / 9,5 cm = 210,5 mata
Dikonversi menjadi piece lebar, sehingga = 210,5/100 2,105 strip
Jadi total kebutuhan bahan jaring adalah = panjang x lebar = 16,63 x 2,105 = 35 piece
Harga jaring = 35 piece x Rp. 300.000,- = Rp. 10.500.000,-

37

3.2.3. Gaya yang bekerja pada alat penangkap ikan
Gaya hidrodinamika yang bekerja pada alat penangkapan ikan timbul dari
pergerakan alat melalui air atau dari dari pergerakan air melalui alat. Dihasilkan dari
tekanan yang diperlukan untuk menggantikan air disekelilingnya. Ukuran dan arah diduga
pada berbagai pertimbangan pada beban gaya terhadap komponen alat, dan juga bentuk
dari alat dan posisinya dalam air.
Gaya hidrodinamika ini perlu dipahami baik secara kualitatif maupun kuantitatif
dalam rangka disain alat yang baru atau perbaikan disain yang telah ada demikian pula
dalam mempelajari penampilan dari alat yang telah ada. Untuk mendapatkan nilai
kuantitatif maka hidrodinamika, gaya tekanan air yang bekerja pada jaring penangkapan
ikan dan selanjutnya menguraikan gaya-gaya tersebut kedalam komponen vektor. Bagian
jaring pada berbagai bentuk, bahan, hanging ratio, mesh size, twine size pada berbagai
kecepatan arus harus diketahui berdasarkan percobaan pada Flume Tank. Dengan
demikian dapat dihitung gaya yang bekerja pada setiap bagian jaring.
Efisiensi dari fishing gear sangat berhubungan erat dengan bentuk jaring dalam air
selama operasi penangkapan ikan. Sebagai pengetahuan dasar tentang disain jaring
penangkap ikan, harus mengetahui dengan jelas tahanan jaring pada berbagai faktor seperti
: serat, ukuran benang, mesh size, tipe simpul, sudut datang dan lainnya.
Jika jaring tertentu ditempatkan dalam air dengan kecepatan air yang tetap, maka
tahanan jaring akibat arus air adalah sebanding dengan luas jaring. Jika luas jaring
ditingkatkan n kali, maka tahanan jaring juga akan meningkat sebesar n kali (Nomura,
1977).

38

Gambar 3.2. Diagram gaya luar yang bekerja pada alat penangkap ikan (Fridman, 1986).
Gaya-gaya hidrodinamika yang bekerja pada alat tangkap dalam air dapat dirinci
sebagai berikut :
Gaya apung pelampung; Gaya tenggelam pemberat; Gaya akibat pengaruh arus; Gaya
akibat pengaruh gelombang, gaya hidrostatika, gaya hidrodinamika, gaya gesek, gaya tarik
dan beberapa gaya lainnya.

Gaya apung (B)

= 1
1

W B

Gaya tenggelam (Sf)

1
1 W S
f

Keterangan :
W = berat bahan di udara (kg)
= massa jenis bahan (kgf.m
3
)
39
Tabel 3.3. Daftar massa jenis beberapa bahan alat penangkap ikan
Nomor Jenis Bahan Massa Jenis (kgf.m
-3
)
1. Polyamide 1140
2. Polyvinyl alcohol 1280
3. Polyester 1380
4. Polyethylene 950
5. Cotton, Hemp 1500
6. Bentuk Plastik 120 180
7. Cork (gabus) 250
8. Black poplar (bark) 330
9. Reed (berlubang) 100
10 Spruce 550
11. Birch 710
12. Oak 850
13. Timah hitam 11300
14. Tembaga 8500
15. Besi; Baja 7400
16. Batu 2700
17. Tanah liat bakar 2200
18. Air Tawar 1000
19. Air Laut 1025
Sumber : Fridman (1986) dimodifikasi

Gaya akibat arus
Kawakmi 1964 dalam Wheaton (1977) mengembangkan persamaan untuk
menjelaskan beban yang diterima oleh jaring akibat arus pada jaring sebagai berikut :
Fc = 4,9 V
2
AC
d

dimana :
Fc = gaya yang bekerja pada jaring akibat arus (N)
Cd = coeficient drag dari mata jaring
= densitas air laut (kg/m
3
)
V = kecepatan arus (m/det)
A = luas proyeksi jaring = 2ad (m
2
)
40
a = mesh size jaring (m)
d = diamater benang atau tali (m)

Coeficient drag akibat arus dapat dihitung (Milne, 1970) sebagai berikut :
Untuk jaring bersimpul :
Cd = 1 + 3,77 (d/a) + 9,37 (d/a)
2


Untuk jaring tidak bersimpul :
Cd = 1 + 2,73 (d/a) + 3,12 (d/a)
2


Gaya akibat gelombang
Tomura dan Yamada (1963 dalam Milne, 1970) mengemukakan persamaan
hubungan antara gaya horizontal dan vertikal pada struktur jaring akibat gelombang,
sebagai berikut :
F
h
= 2,15 V
h

F
v
= 1,80 V
v

dimana :
F
h
= gaya horizontal (N)
F
v
= gaya vertikal (N)
V
h
= maksimum kecepatan horizontal partikel air pada gelombang (m/det)
V
v
= maksimum kecepatan vertikal partikel air pada gelombang (m/det)

Gaya hidrodinamika
Gaya hidrodinamika pada suatu alat penangkap ikan timbul dari pergerakan alat
penangkap ikan di dalam air atau pergerakan air melalui alat penangkap ikan. Gaya
tersebut awalnya dari tekanan yang dibutuhkan untuk mengalihkan air di sekitar komponen
pada alat tangkap.



Dimana:
R = gaya atau tahanan air yang diukur (kgf)
C = koefisien hidrodinamik
41
q = tekanan hidrodinamik (kgf/m2)
At = luas penampang frontal benang jarring = panjang x diameter (m
2
)
= densitas air (100 kgf det
2
/m
4
untuk air tawar; 105 kgf det
2
/m
4
untuk air laut)
V = kecepatan alat dalam air atau kecepatan air melewati alat (m/det)


Gambar 3.3. Gaya hidrodinamika yang bekerja pada alat penangkap ikan di dalam air
Gambar 3.3 memberikan informasi penampilan jarring di dalam air akibat adanya
gaya luar yang bekerja terhadap alat penangkap ikan dan reaksi alat penangkap ikan itu
sendiri.


Gambar 3.4. Panel jaring pada berbagai arah dan sudut dating gaya luar
Gambar 3.4 menunjukkan besar gaya yang diterima alat penangkap ikan tergantung
dari arah datangnya gaya tersebut. Gaya tertinggi terjadi pada saat sudut datang gaya
terhadap obyek 90
0
(tegak lurus).

42

Koefisien gesek
Ketika panel jarring pada posisi normal terhadap aliran (tegak lurus) maka akan
menjadi subjek gaya tekanan inertia air (gaya tekan). Jika posisinya parallel dengan
pergerakan air akan terjadi gesekan yang dikenal dengan gesekan hidrodinamika. Kalau
orientasinya membentuk sudut >0
o
dan <90
o
maka akan mengalami kedua gaya tersebut.
Gaya tekan dan gaya gesek dapat dihitung dengan rumus berikut :


Dimana :
R = tahanan
q = tekanan hidrodinamik (kgf.m
-2
)
At = luas penampang frontal benang jarring = panjang x diameter (m
2
)

43

3.2.4. Model alat penangkap ikan
A. Definisi Model Alat Penangkapan Ikan
Model alat penangkapan ikan adalah alat penangkapan ikan yang dikonstruksi
dengan pengecilan dari ukuran yang sebenarnya menggunakan factor skala dengan tujuan
utama untuk menguji penampilan alat penangkapan ikan tersebut di laboratorium.
Berhubung tujuan utama adalah untuk pengujian di laboratorium, maka standar ukuran
(dimensi) dari model seharusnya disesuaikan dengan dimensi dari laboratorium (flume
tank) dimana model tersebut akan diuji. Contoh flume tank di Hull England pada Gambar
berikut


Gambar 3.5. Flume tank sebagai tempat pengujian model alat penangkap ikan

B. Dasar Pertimbangan Pembuatan Model Alat Penangkapan Ikan
Pembuatan model alat penangkapan ikan dibuat setelah dibuat disain lengkap dari
alat penangkapan ikan yang direncanakan. Dimensi dari alat penangkapan ikan sudah jelas
ditentukan, termasuk spesifikasi dan ukuran material yang akan digunakan.
Dalam pembuatan model alat penangkapan ikan, digunakan pendekatan prinsip
kesamaan antara ukuran yang sebenarnya dengan ukuran model. Dimensi utama yang
diperbandingkan meliputi panjang, luas dan volume. Untuk jarring ada hal khusus yaitu
ukuran mata jarring yang sebenarnya dan ukuran mata jarring yang tersedia.

44

C. Model Alat Penangkapan Ikan
Jika luas dua jaring sama, tahanan jaring tersebut dapat dibandingkan berdasarkan
nilai D/L (D=diameter, L=mesh size). Nomura (1977) mengemukakan formula sebagai
berikut :
a
b
a
b
R
R
L D
L D
=
) / (
) / (

dimana :
(D/L)
B
= perbandingan diameter dan mesh size jaring B
(D/L)
A
= perbandingan diameter dan mesh size jaring A
R
B
= tahanan jaring B
R
A
= tahanan jaring A


Gambar 3.6. Kesamaan geometrik

Tahanan dari jaring sebanding dengan pangkat dua dari kecepatan arus (Nomura, 1977).

R = V
2


Dimana :
R = tahanan jaring (kg m
-2
)
V = kecepatan arus (mile/jam)

45


Gambar 3.7. Kesamaan dimensi linear, luas dan volume

Perhitungan Model secara teoritis

Perhitungan model berdasarkan formula Clive (Najamuddin, 1990) yang dinyatakan
sebagai berikut :
d
m
R
R
1
=


m
n
R
R
R
1
=


m
o
d
D
D
R =


Dimana :
Rm = mesh size skala reduksi
Rd = diameter benang skala reduksi
R1 = skala panjang model
Rn = jumlah mata jaring skala reduksi
Do = diameter benang ukuran sebenarnya
Dm = diameter benang model

46
m
m
AS
TS
x TNM ANM =

d
m
m
R
AS
TS =

3
1
R x L L
o m
=

3
1
R x F F
o m
=


Dimana :
ANM = jumlah mata jaring sebenarnya
TNM = jumlah mata jaring secara teoritis
TSm = mesh size secara teoritis
ASm = mesh size sebenarnya
Lm = lead line model
Lo = lead line skala penuh
R1 = skala panjang model
Fm = float line model
Fo = float line skala penuh

Gambar 3.8. Kesamaan geometric ikan dan ukuran mata jaring

47


Gambar 3.9. Kesamaan kinematik gaya tenggelam pemberat purse seine

Contoh soal 1
Gill net terbuat dari bahan PA 210D/12 mesh size 4 inci (100 mm), panjang 60 m lebar 6
m S=40%. Mau dibuat model dengan panjang 3 m bahan PA 210D/3 mesh size 0,5 inci
(12,5 mm).
Penyelesaian :
Skala panjang model (R1) = 1/20
Diameter benang jarring sebenarnya (Do)= D = 210 x 12/5135 =0,700535
Diameter benang jarring model (Dm) = D = 210 x 3/5135 = 0,350268

m
o
d
D
D
R =

= =
350268 , 0
700535 , 0
d
R
2
Rm =

Ukuran mata jarring teorotis = 100 x = 50 mm

Rn = R1/Rm
48

Rn = (1/20)/(1/2) = 1/10 = 0,1

Jumlah mata jarring sebenarnya
Lo= (60 m/0,6) = 100 m
Jumlah mata jarring = 100 m/100 mm = 1000 mata

Jumlah mata jarring model teoritis = 1000 mata x 0,1 = 100 mata
m
m
AS
TS
x TNM ANM =

= =
5 , 12
50
100 x ANM
400 mata
Jadi jumlah mata jarring model yang sebenarnya adalah 400 mata
Dengan cara yang sama dapat dihitung lebar jarring model.

Contoh soal 2

Gill net terbuat dari bahan PA 210D/12 mesh size 4 inci (100 mm), panjang 60 m lebar 6
m S=40%. Mau dibuat model dengan panjang 3 m bahan PA 210D/3 mesh size 0,5 inci
(12,5 mm).

Penyelesaian :
Skala panjang model (R1) = (3/60) = 1/20
Diameter benang jarring sebenarnya (Do)= D = 210 x 12/5135 =0,700535
Diameter benang jarring model (Dm) = D = 210 x 3/5135 = 0,350268





Ukuran mata jarring teorotis = 100 x = 50 mm
Rn = R1/Rm
Rn = (1/20)/(1/2) = 1/10 = 0,1
Jumlah mata jarring sebenarnya
m
o
d
D
D
R =
2
350268 , 0
700535 , 0
= =
d
R
49
Lo= (60 m/0,6) = 100 m
Jumlah mata jarring = 100 m/100 mm = 1000 mata
Jumlah mata jarring model teoritis = 1000 mata x 0,1 = 100 mata


Jadi jumlah mata jarring sebenarnya adalah 400 mata

3.3 Penutup
Tugas kelompok
1. Hitung kebutuhan jarring purse seine dengan dimensi panjang 600 m lebar 50 m,
mesh sice 1 inci, bahan 210D/9 untuk kantor dan 210D/6 untuk bagian lainnya.
Hasil masing-masing kelompok akan didiskusikan dan dipresentasikan di depan
kelas.
2. Identifkasi gaya-gaya yang akan bekerja pada berbagai jenis alat penangkap ikan
(masing-masing kelompok berbeda alat penangkap).
3. Hitung gaya yang akan diterima oleh alat tangkap pada saat kecepatan arus
mencapai 2 knots, tinggi gelombang 1 m. Tugas akan didiskusikan di kelas.
4. Buat model purse seine dengan ukuran 500 m x 50 m, mesh size 1 inci, bahan PA
210D/9. Model panjang 5 m mesh size 0,5 inci, bahan 210D/2.


400
5 , 12
50
100 = = x ANM
50

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1978. Catalogue of Fishing Gear Design. FAO-UN. Fishing News (Books) Ltd.
London.
Anonim, 2007. Katalog Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Anonim, 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Ayodhyoa, A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Ben-Yami, M. 1994. Purse Seining Manual. Fishing News (Books) Ltd. London.
FAO. 1975. Catalogue of small scale fishing gear. Fishing News (Books) Ltd. London.
FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for Fishing Gear Designs. Fishing News (Books)
Ltd. London. 241 p.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Metode dan Teknik
Penangkapan. Jurusan PSP, Fakultas Perikanan IPB, Bogor.
Kristjonson, H. 1959. Modern Fishing Gear of the World. Vol 1. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1964. Modern Fishing Gear of the World. Vol 2. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1972. Modern Fishing Gear of the World. Vol 3. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Menon, T.R----. Hand Book on Tuna Long Lining. Central Institute of Fisheries, Nautical
and Engineering Training. Ministry of Agriculture and Irrigation. Government of India.
NOMURA. 1978. Fishing Techniques. I & 2. Japan International Cooperation Agency.
Tokyo.
NIELSEN, L. A. AND D. L. JOHNSON [eds.]. 1983. Fisheries Techniques. American
Fisheries Society, Bethesda, Maryland. 468 p.
Prichard, M. 1987. Lets Go Fishing. Octopus Books Limited. Hong Kong.
Sadhori, N. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Angkasa, Bandung. 182 hal.
Subani, W. dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia.
Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta.
Von Brandt, A. 1984. Fishing Catching Method of the World. 3
rd
Edition. Fishing news
(Books) Ltd. England




51

BAB 4. DISAIN TRAWL
4.1. Pendahuluan
Sasaran pembelajaran : menjelaskan prinsip disain alat penangkapan ikan dan
mendisain berbagai jenis trawl.

4.2. Uraian Materi Pembelajaran
Pada bab ini akan menguraikan metode perhitungan dan disain trawl serta tehnik
yang cocok dalam pengembangan dan konstruksi semua tipe trawl. Dalam
mengidentifikasi karakteristik yang dibutuhkan oleh sebuah trawl baru, satu yang harus
dipertimbangkan adalah tingkah laku ikan yang menjadi target tangkapan, karakteristik
teknik dari kapal yang akan digunakan serta karakteristik daerah penangkapan.
Pada dasarnya tidak ada model matematika khusus untuk menjelaskan interaksi
antara trawl dan ikan selama proses penarikan trawl. Satu cara yang perlu diperhatikan
khusus adalah berdasarkan disain trawl baru terhadap karakteristik yang telah diketahui
dengan baik dan telah diverifikasi. Cara yang lain dengan menggunakan disain yang telah
berhasil di daerah lain, atau menggunakan ide disain baru berdasarkan informasi tingkah
laku ikan yang menjadi target tangkapan yang didapatkan dari penelitian ekologi,
pengaatan langsung atau echosounding. Interksi antara trawl dan kapal ikan dapat
ditentukan secara tepat melalui perhitungan.
Berbagai kebutuhan bagi trawl yang baru boleh jadi tidak saling sesuai antara satu
dengan lainnya. Sebagai contoh, kebutuhan untuk kekuatan daya tangkap maksimum dan
tahanan hidrodinamik minimum pada biaya minimum saling kontradiksi satu dengan
lainnya. Keputusan kompromi harus diambil untuk menangani kondisi kontradiksi
tersebut.
Formulasi kebutuhan teknik harus melibatkan hasil review dari :
- Karakteristik kondisi penangkapan ikan dari daerah penangkapan ikan dan spesies
ikan yang akan ditangkap;
- Karakteristik trawl yang akan digunakan;
- Karakteristik yang diinginkan oleh kemungkinan trawl model dan criteria untuk
seleksi yang paling sesuai;
- Karakteristik operasi trawl seperti kecepatan, kedalaman, dan lama penarikan;
- Kebutuhan khusus dari penampilan trawl seperti mulus dan kasarnya dasar
perairan.
52
Akhirnya setelah kebutuhan teknik tersebut diformulasikan, karakteristik teknik utama alat
penangkap ikan seperti dimensi utama, gaya tarik dan gesek, kebutuhan penampilan daya
apung dan pemberat dapat diset secara tentative.


Gambar 4.1. Trawl yang sedang dioperasikan di dalam perairan

Tipe-Tipe Dasar Trawl dan Karakteristiknya sebagai berikut :
1. 2 seam flatfish trawl granton type
2. Wing trawl
3. Box trawl
4. Butterfly trawl
5. Balloon trawl
6. 4 panel Atlantic western type

1. 2 SEAM FLATFISH TRAWL GRANTON TYPE

Trawl ini umumnya digunaklan pada perikanan pantai untuk menangkap ikan sole.
Cenderung kurang pada tinggi head line. Trawl tipe ini dapat digunakan pada dasar yang
relatif keras jika dilengkapi dengan bunt wing.

53

Disain utama sebagai berikut :

Dalam dipotong square secara gradual; bosom lebar; wing sempit; belly dipotong pendek;
wing bawah sekitar 10% lebih panjang dari square dan sayap atas; fishing line diikat
normal dengan slack 10-15%.

2. WING TRAWL
Wing trawl biasanya digunakan untuk fungsi ganda, dan terutama pada dasar perairan rata
Trawl ini juga populer sebagai seine net dan pair trawl.

Disain utama sebagai berikut :
Square dipotong pendek; bosom sempit; sayap lebar dengan ujung vee atau ekor dangka;.
Belly dipotong memanjang secara gradual. Jaring diikat ketat pada tali sepanjang sayap
atas dan bawah.

3. BOX TRAWL
Box trawl idealnya cocok untuk digunakan pada dasar yang kasar atau halus dan dapat
dibuat dengan dua atau tiga bridle tergantung dari ketinggian head line yang diinginkan.
Box trawl dengan dua bridle mempunyai mulut dengan bentuk sangat bagus, mempunyai
bunt membuat sudut yang sangat kecil dengan dasar perairan dan efektif untuk menangkap
jenis-jenis ikan demersal perenang lambat.

Disain utama sebagai berikut :
Dipotong secara gradual panjang sedang square; digabungkan dengan panel belly
rectangular; sayap ujung lebar dan dalam vee biasanya dipotong simpul samping pada
bagian ujung luar. Bosom relatif sempit. Sayap bawah dapat ditata pada bolsh atau
marled langsung pada fishing line. Panel biasanya mempunyai titik terlebar yang
berhubungan dengan square dan top wing disambung melengkung.

4. BUTTERFLY TRAWL
Butterfly trawl adalah dasar dari trawl dasar yang terangkat tinggi yang mana jika ditata
dengan baik dapat menjadi trawl serbaguna. Jaring harus dipasang dengan 3 bridle dan
dapat ditata untuk beroperasi pada dasar yang keras atau mempunyai bukaan vertikal yang
54
sangat tinggi. Trawl butterfly yang sangat besar mempunyai bukaan vertikal yang terbaik
tetapi hanya cocok untuk digunakan pada dasar yang rata. Belly dan wing lebih pendek
lebih baik dan sesuai untuk dasar yang agak kasar tetapi hanya sedikit lebih baik dari pada
box trawl.

5. BALLOON TRAWL
Istilah balloon trawl merupakan konsep baru walaupun jenis trawl ini sudah ada
beberapa lama. Pada dasarnya adalah wing trawl yang mempunyai bagian belly atas lebih
lebar dari pada bagian bawah. Jenis trawl ini ditarik pada lastriche dan mempunyai sayap
atas yang panjang atau vee yang dalam dan vee yang pendek pada sayap bawah. Trawl ini
pada dasarnya merupakan versi pengangkatan tinggi sayap yang memungkinkan dapat
ditarik dengan dua atau tiga bridles.

6. 4 PANEL ATLANTIC WESTERN TYPE
Konsep trawl rectangular mempunyai panel samping memanjang ke depan sebagai
sayap, pada dasarnya dikembangkan dari trawl udang di teluk Mexico. Laboratorium laut
DAFS Aberdeen telah bekerja beberapa tahun dalam mengembangkan konsep ini dan telah
berhasil untuk dasar yang keras dengan menggunakan bobbin.

Tabel 4.1. Aturan disain trawl
Jenis
Trawl
Bosom
sbg %
FL
HL bosom Sq. depth sbg
% LW
Sq taper Wing tip
outer cut
Taper 30%
badan
2-seam 10 FLB +
10%
20-30 1N1B-
1N2B
- 1N2B
Wing 10 15-20 1N2B-
1N8B
1N4B-AB 1N2B
Ballon 10 15-20 1N2B-
1N8B
N AB 1N2B-1N4B
Box 10 30 2N1B-
1N2B
N N
Butterfly 10 15-20 1N2B-
1N8B
N N
4-seam 10-15 15-25 1N2B-
1N8B
- 1N2B
Beam 10-25 100 2N1B-
1N2B
- 2N1B-1N2B

55

Tabel 4.2. Data disain trawl
HP
Kapal
Pj Foot
Rope
(fm)
Jm mt fish.
Circle
(mata)
Mesh size
top belly
Diameter
benang
Otter board
size flat or
vee
Bridle
5-15 4-5 120 90 1 2x1
26x13
20-30
15-50 5-6 160-200 90 1.5 26x13
36x19
20-10
fm
50-100 4-8 220-260 100 1.8 36x19
46x23
40-12
fm
80-150 8-10 260-300 120 1.8-2 4x2
56x29
>15 fm
150-280 10-12 300-320 150 2-2.5 6x3
66x33
>20 fm
280-360 12-14 320-400 150 2.5 7x36
76x39
>30 fm
+ single
360-500 14-16 360-440 150 2.5 76x39
8x4
>30 fm
+ single

Tabel 4.1 dan 4.2 merupakan pedoman dasar dalam merencanakan disain trawl
sesuai dengan ukuran kapal yang akan digunakan. Berbeda dengan alat penangkap ikan
lainnya, pada trawl rancangan harus disesuaikan dengan ukuran kapal, mengingat trawl
dioperasikan dengan diseret di dasar perairan. Kalau ukuran trawl tidak sesuai dengan
ukuran kapal, maka tidak dapat dioperasikan dengan baik dan akibatnya tidak akan
memberikan hasil tangkapan yang memuaskan.

Perhitungan ukuran mata jaring
Jaring trawl dapat dibagi kedalam dua bagian, yaitu bagian depan mulai dari sayap
sampai belly dan bagian belakang pada cod end tempat ikan berkumpul pada saat terakhir.
Hasil observasi dan percobaan menunjukkan bahwa sebahagian besar ikan bertingkah laku
yang berbeda pada kedua bagian tersebut. Pada bagian depan, ikan-ikan cenderung tenang
sementara pada cod end ikan-ikan cenderung aktif dan mencoba meloloskan diri melalui
jarring. Bukaan mata jarring pada codend (m
oc
) sebaiknya menangkap ukuran ikan
komersial terkecil dan tidak terjerat pada jaring. Rumusnya sebagai berikut :

m
oc
= (2/3).m
og

dimana mog adalah ukuran mata jarring gill net yang didisain untuk menangkap ikan jenis
dan ukuran yang sama. m
og
dapat dihitung :
56
m
og
= L/K.m
dimana L adalah panjang standar ikan dan Km adalah koefisien empiris yang tergantung
dari morfologi ikan dan didapatkan melalui percobaan penangkapan dengan gillnet.

Langkah-langkah disain
1. Buat sketsa outline rencana jaring
2. Masukkan data jaring pada perencanaan
3. Pilih ukuran mata jaring pada masing-masing bagian
4. Hitung fishing line (FL), lihat tabel dan sesuaikan dengan ukuran kapal serta
variabel yang ada
5. Hitung FL pada bosom = 10% FL
6. Hitung jumlah mata pada bosom (H = 0,4)
7. Hitung square dalam = dalam dari bunt
8. Hitung jumlah mata pada panel samping = 0,2 x FC/2
9. Hitung Jumlah mata pada ujung atas panel = x panel samping
10. Hitung Jumlah mata pada top belly 1 = (FC/2 panel samping)
11. Hitung Jumlah mata jaring pada dasar bunt = (top belly1 bosom bawah)/2
12. Hitung Panjang sayap bawah = (FL 10% FL)/2
13. Hitung Jumlah mata jaring pada sayap bawah = pj sayap/mesh size. Panjang
masing-masing bagian sayap sama. Kalau tidak pas dibagi rata, alokasikan bagian
yang kurang pada tip.
14. Square; pemotongan 1N1B-1N2B; Square dasar = top belly1; top square dihitung
melalui kalkulasi pemotongan.
15. Hitung Jumlah mata jaring pada dasar sayap atas = (top square square bosom)/2
16. Jumlah mata jaring top sayap atas dihitung berdasarkan pemotongan; bagian dalam
all B dan bagian luar 1N1B.
17. Tentukan jumlah belly yang akan digunakan; disesuaikan dengan ukuran mata
jaring yang tersedia. Dalam pada masing-masing belly adalah sama, namun
dengan ukurn mata jaring yang berbeda.
18. Tentukan dimensi cod end dan jumlah mata jaring; jumlah mata jaring pada cod
end disesuaikan dengan ukuran utama trawl. Untuk trawl kecil sampai sedang,
jumlah mata berkisar antara 50 sampai 100.
19. Hitung jumlah mata jaring lebar dan dalam pada masing-masing belly. Untuk
memudahkan, konversi ukuran mata jaring kepada ukuran yang sama, gunakan
57
mata jaring terkecil. Patokan yang digunakan adalah jumlah mata jaring pada top
belly1, pada cod end dan sistem pemotongan pada sisi belly sesuai tabel disain.
Setelah selesai dihitung pada ukuran mata yang sama, konversi balik keukuran
mata jaring yang sebenarnya.
20. Buat gambar disain dan cantumkan semua nilai perhitungan dan ukuran-ukuran
yang ada.

Contoh : DISAIN BOX TRAWL untuk kapal 240 HP
1. Berdasarkan tabel disain, untuk kapal 240 HP fishing line 12 fm dan fishing circle 320
mata, mesh size 152 mm.
2. FL 12 fm = 12 x 1,8288 m = 21,95 m ~ 22 m
3. FL pada bosom = 10% FL = 0,1 x 22 m = 2,2 m
4. Jumlah mata pada bosom (H = 0,4) = (2,2 x 1000)/(152 x 0,4) = 36 mata
5. Jumlah mata pada panel samping = 0,2 x FC/2 = 0,2 x 320/2 = 32 mata
6. Jumlah mata pada ujung atas panel = x 32 = 24 mata
7. Jumlah mata pada top belly 1 = (FC/2 panel samping) = 320/2 32 = 128 mata
8. Jumlah mata jaring pada dasar bunt = (top belly1 bosom bawah)/2 = (128 36)/2 =
46 mata
9. Panjang sayap bawah = (FL 10% FL)/2 = (22 2,2)/2 = 9,9 m
10. Jumlah mata jaring pada sayap bawah = pj sayap/mesh size. Panjang masing-masing
bagian sayap sama. Kalau tidak pas dibagi rata, alokasikan bagian yang kurang pada
tip.
Jumlah mata pada sayap = 9,9 m x 1000 / 152mm = 65 mata.
Jumlah mata dalam pada masing-masing bagian ujung, sayap dan bunt = 1/3 x 65
mata = 21,67 mata. Karena jumlah mata tidak bilangan genap sementara mata jarring
tidak bias pecahan, maka jumlah mata jarring diatur pada masing-masing bagian
dimana ujung jarring diatur terkecil. Sehingga pembagian dalam jarring berturut-turut
dari ujung, sayap dan bunt adalah 21, 22 dan 22 mata.
11. Square; pemotongan 1N1B-1N2B; Square dasar = top belly1; top square dihitung
melalui kalkulasi pemotongan.




128
22
58

2N 2 0
3B 1,5 1,5
3,5 1,5

Perhatikan segitiga siku-siku di sisi kiri dan kanan square. Untuk mendapatkan
jumlah mata pada top square, maka jumlah mata pada dasar ke segi tiga siku-siku
ditambah dengan 128 (dasar square).
Jumlah mata pada dasar segi tiga siku-siku dihitung dengan cara perbandingan
matematika, yaitu : jumlah mata dasar : jumlah mata vertical = perbandingan
horizontal : perbandingan vertical
Jadi mata dasar (MD) : 22 = 1,5 : 3,5
3,5 MD = 22 x 1,5 = 9,5 mata
Jumlah mata pada dasar segi tiga siku-siku = 9,5 mata, sehingga untuk ke dua segitiga
= 2 x 9,5 mata = 19 mata
Jadi jumlah mata pada top square = 128 mata + 19 mata = 147 mata.
12. Jumlah mata pada square bosom = jumlah mata pada bosom + 10 % = 36 mata + 3,6
mata = 39,6 mata dibulatkan menjadi 40 mata
13. Jumlah mata jaring pada dasar sayap atas = (top square square bosom)/2= (147-
40)/2 = 53,5 mata
14. Jumlah mata jaring top sayap atas dihitung berdasarkan pemotongan; bagian dalam all
B dan bagian luar 1N1B.







Perhatikan diagram di atas. Lihat segi tiga siku-siku garis putus sebelah kiri. Sistem
pemotongan pada sisi miring all B sehingga jumlah mata jarring vertical sama dengan
jumlah mata jarring horizontal yaitu 22 mata.
53,5
22
22
All B
?
22
59
Selanjutnya lihat segi tiga siku-siku garis putus sebelah kanan. Sistem pemotongan pada
sisi miring adalah 1N1B dan jumlah mata jarring vertical 22. Untuk menghitung jumlah
mata jarring horizontal, dilakukan melalui proses perbandingan matematika yaitu : jumlah
mata dasar : jumlah mata vertical = perbandingan horizontal : perbandingan vertical.


1N 1 0
1B 0,5 0,5
1,5 0,5

Jadi mata dasar (MD) : 22 = 0,5 : 1,5
1,5 MD = 22 x 0,5 = 11 mata; MD = (22 x 0,5)/1,5 = 7,5 mata
Jumlah mata pada dasar segi tiga siku-siku = 7,5 mata.
Jadi jumlah mata pada top wing = 53,5 mata + 7,5 mata 22 mata = 39 mata.

15. Tentukan jumlah belly. Jumlah belly ditentukan berdasarkan banyaknya ukuran mata
jaring yang tersedia.
Supaya panjang bagian belly sama maka ukuran mata jarring dikonversi dari ukuran mata
sebenarnya ke ukuran mata jarring terkecil. Selanjutnya dikonversi kembali ke ukuran
mata jarring yang sebenarnya.













B1
B2
B3
B4
B5
m=152 mm
m=60 mm
128 mata
Mesh size dari 152
mm dikonversi
menjadi 60 mm = 128
x 152/60 = 324
Jumlah mata jaring
pada B5 dihitung
sesuai pada codend =
50 x 40 / 60 = 33,3
mata ~ dibulatkan
menjadi 33,5 mata.
Hitung panjang belly
melalui kalkulasi
sistem pemotongan
jaring 1N2B
324 mata
33,5 mata
60









50 mata
50 mata
m=40 mm
61




62





63
Beam Trawl
Beam trawl adalah salah satu jenis trawl yang pada konstruksi bagian mulut
dipasang palang (beam) sehingga mulut trawl terbuka secara horizontal dan vertical. Oleh
karena itu, dalam pengoperasian beam trawl tidak diperlukan lagi otterboard. Fungsi
otterboard pada beam trawl digantikan oleh beam. Keterbatasan panjang beam membuat
ukuran beam trawl relative lebih kecil disbanding dengan jenis trawl lainnya. Panjang
beam merupakan salah satu factor penentu ukuran trawl dan juga ukuran kapal yang akan
digunakan. Untuk lebih jelasnya criteria disain beam trawl dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.3. Kriteria disain beam trawl
HP Pj. Beam
(m)
Pj. Jaring
( x beam)
Lebar Cod end
(stretch)
Pj. Cod End
(Stretch)
5 - 10 2 3 3 2,4 2,5
11 20 3 4 2,5 3 3 3
20 30 3 5 2,5 3 3
30 100 4 8 2 4 4
> 100 6 8 2 4 4

Bosom 10-15% FL; Sq depth 100% LW; Sq taper 2N1B 1N2B; Belly 2N1B 1N2B.
H pada head square 0,5.

Langkah-Langkah disain sebagai berikut :
1. Buat sketsa rencana jaring
2. Masukkan dimensi yang telah diketahui
3. Hitung lebar pada head square
4. Masukkan lebar cod end
5. Hitung panjang jaring dan proporsi antara masing-masing bagian
6. Konversi bagian panjang kedalam jumlah mata jaring dalam
7. Tentukan sistem pemotongan pada belly dan square
8. Hitung jumlah mata jaring pada belly head dan belly join
9. Tentukan lebar bosom ~ 1/3 dari belly head.
10. Panjang masing-masing bagian sebagai persentase dari panjang cod end sbb : belly
= 2 x cod end; square atau bunt = 0,5 - 0,6 x cod end.

64


Perhitungan Pelampung, Pemberat dan Bobbin

Dimana :
Fn = gaya pada alat tangkap yang sebenarnya
Fp = gaya pada model
SF = factor skala gaya

4.3 Penutup
Buat disain beberapa jenis dan ukuran trawl seperti yang pada table disain.
Tentukan sendiri ukuran mata jarring yang akan digunakan. Tugas dibuat kelompok dan
akan dipresentasikan di depan kelas pada kuliah berikutnya. Petunjuk : gunakan belly 5.


65

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1978. Catalogue of Fishing Gear Design. FAO-UN. Fishing News (Books) Ltd.
London.
Anonim, 2007. Katalog Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Anonim, 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Ayodhyoa, A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
FAO. 1975. Catalogue of small scale fishing gear. Fishing News (Books) Ltd. London.
FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for Fishing Gear Designs. Fishing News (Books)
Ltd. London. 241 p.
Kristjonson, H. 1959. Modern Fishing Gear of the World. Vol 1. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1964. Modern Fishing Gear of the World. Vol 2. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1972. Modern Fishing Gear of the World. Vol 3. Fishing News (Books)
Ltd. London.
NOMURA. 1978. Fishing Techniques. I & 2. Japan International Cooperation Agency.
Tokyo.

66

BAB 5. DISAIN PURSE SEINE
5.1 Pendahuluan
Sasaran pembelajaran : menjelaskan prinsip disain dan mendisain purse seine

5.2 Uraian Materi Pembelajaran
Purse seine disebut juga pukat cincin karena alat tangkap ini dilengkapi dengan
cincin untuk memudahkan penarikan tali cincin. Cincin mempunyai fungsi ganda sebagai
tempat lewat tali cincin dan juga berfungsi sebagai pemberat. Purse seine sampai saat ini
masih merupakan alat penangkap ikan pelagis kecil yang paling produktif.
Pengetahuan desain dan konstruksi alat penangkap ikan sangat penting dalam
pengembangan usaha perikanan. karena salah satu faktor yang mempengaruhi usaha
penangkapan ikan adalah disain dan konstruksi alat penangkapan ikan yang baik, didukung
oleh keterampilan orang-orang yang menggunakan alat tangkap tersebut (Fridman, 1986).
Dalam mendesain suatu alat tangkap yang menggunakan bahan jaring, ada
beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain; panjang dan lebar jaring, hanging ratio,
daya apung, daya tenggelam, ukuran benang (twine), dan material jaring (Fridman, 1986;
Ben-Yami, 1994; Najamuddin, 2005). Tingkah laku ikan juga perlu dipelajari sebagai
salah satu dasar pertimbangan dalam menentukan teknik pengoperasian alat, ukuran mata
jaring dan ukuran jaring yang akan dibuat (Nomura. dan Yamazaki, 1977).
Penyempurnaan tehnik pada purse seine akan diperoleh melalui penggunaan serat
sintetis baru yang mempunyai kekuatan tinggi, dengan memperbaharui desain kapal
penangkap ikan dan peralatannya, dengan menggunakan peralatan efektif untuk mencari
gerombolan ikan dan menempatkan alat penangkap ikan, dengan mekanisasi penarikan
jarring, pengangkatan jarring, dengan menarik dan mengkonsentrasikan ikan di sekitar
daerah penangkapan dan menghindari larinya ikan.
Sebagai aturan, purse seine digunakan untuk menangkap ikan pelagis. Pada
umumnya, ikan-ikan kecil membentuk gerombolan padat yang cocok untuk purse seine.
Sementara ikan-ikan besar dalam gerombolan yang agak sedikit lebih sulit untuk ditangkap
dengan purse seine. Purse seine biasanya dilakukan pada kepadatan ikan antara 0,5 5,0
kg/m
3
. Purse seine pada umumnya menjadi tidak menguntungkan apabila kepadatan
gerombolan ikan lebih kecil dari 0,1 kg/m
3
, tergantung pada kondisi masing-masing
daerah.
67
Alat tangkap purse seine dii lapangan pada umumnya dirangkai sendiri dan
berdasarkan pada pengalaman nelayan, sehingga dalam pembuatan alat tangkap tidak
digambarkan terlebih dahulu. Pemilihan bahan dan tali temali didasarkan pada pengalaman
dan kondisi ketersediaan bahan.

5.2.1. Analisis purse seine
Analisis purse seine meliputi : sortening, kedalaman jaring, berat, gaya apung gaa
tenggelam, waktu tenggelam, kecepatan tenggelam dan kedalaman jaring.

% 100 x
L
L L
S
o
i o

=

Dimana :
Lo = panjang jaring sebelum ditata pada tali ris
Li = panjang jaring setelah ditata pada tali ris

Net weight (Wt) calculated according to Clive formula (Najamuddin, 2005)

R x
K S x x H x
n N
Wt
1000
} ) 2 {(
2
+

+
=


where :
S = net mesh size
K = knot content
R = runnage (m/kg)

atau

2). Wt = net or rope length / R


68

Gambar 5.1. Contoh disain purse seine (Anonym, 2007)
69
Penentuan Kedalaman Jaring
Disain dalam jarring perlu diperhatikan dua factor yaitu : pertama, kedalaman
maksimum yang memungkinkan dimana ikan-ikan berada dan kecepatan ikan melarikan
diri; kedua perbandingan kedalaman dan panjang jarring yang diperlukan dalam
membentuk mangkok saat operasi penangkapan.
Kedalaman jaring (Hk) dihitung dengan rumus berikut :

o
o h
H E
H E H
.
. ) 1 (
2
2
1
=
=


Waktu tenggelam pemberat dihitung dengan rumus Fridman (1986) sebagai berikut:
s
s
F
H
H T 9 , 0 =

Kecepatan tanggelam pemberat dihitung dengan rumus Fridman (1986) sebagai berikut:
H
F
V
s
8 , 1
=

Dimana :
Ts = waktu tenggelam pemberat (detik)
H = kedalaman purse seine (meter)
Fs = gaya tenggelam per meter (kgf/m)
V = kecepatan tenggelam pemberat (m/detik)

5.2.2. Deskripsi Purse Seine
Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan, pada umumnya tipe purse seine yang
digunakan olah nelayan di Kendari adalah tipe Amerika. Desain kantong berada di pinggir
(tepi) jaring dan di operasikan dengan satu kapal (one boat fishing). Operasi penangkapan
dengan menggunakan alat bantu cahaya dan rumpon sehingga alat tangkap ini
dioperasikan pada malam hari.
Purse seine yang digunakan di lokasi penelitian pada umumnya berukuran kecil
(mini purse seine) dengan dimensi panjang berkisar antara 315 400 m, lebar 9-25 m .
Alat tangkap ini dioperasikan dengan menggunakan kapal kayu yang umumnya berukuran
20 30 GT. Berikut gambar sketsa alat tangkap purse seine di Kota Kendari.

70











Gambar 5.2. Deskripsi Alat Tangkap Purse Seine di Kota Kendari.

5.2.3. Konstruksi alat tangkap
Bentuk purse seine yang ada diperairan kendari umumnya segi empat dengan
jumlah piece jaring kebawah yang lebih banyak pada bagian tengah dibanding pada bagian
sayap dan kantong. Ukuran panjang purse seine yang digunakan berkisar antara 315 meter
sampai 400 meter. Konstruksi jaring purse seine yang digunakan terdiri atas beberapa
bagian yaitu sayap,badan, bahu dan kantong.
Bahan jaring yang digunakan pada bagian sayap dan badan adalah polyamide (PA)
continous filament 210 D/6 dan 210 D/9. Pemilihan bahan jaring dan nomer benang sudah
tepat karena jaring polyamide (PA) termasuk jaring yang kuat. Hal ini sesuai dengan
pendapat Kulst (1987) bahwa jaring dari bahan polyamide (PA) memiliki keunggulan
dalam 2 sifat yaitu tahan terhadap pembusukan dan daya tahan terhadap gesekan. Selain
itu ditambahkan pula bahwa pemilihan bahan jaring yang paling baik untuk purse seine
adalah PA continous filament karena PA memiliki permukaan yang cukup licin dan halus
sehingga mengurangi tahanan air dan kecepatan tenggelam cukup baik, selain itu PA
cukup kuat sehingga dapat dipakai yang berdiameter kecil.
Jumlah piece jaring yang digunakan pada bagian ini berkisar antara 29 43 piece.
Pemasangan piece memanjang ke samping, pada umumnya 5 piece ke samping. Jumlah
piece kebawah bervariasi setiap unit alat tangkap yakni 5 7 piece, biasanya pada bagian
badan lebih banyak dibandingkan dengan bagian sayap dan bahu. Setiap piece jaring
memiliki ukuran panjang 100 yard (91,4 meter) dan lebar 100 mata. Digunakan jenis
simpul tunggal (English knot).
71
Sistem penyambungan tiap piece secara vertikal menggunakan sambungan take up
point dengan point karena jumlah mata yang berbeda, cara penyambungannya yaitu
dengan mencari selisih dari dua bagian jaring yang akan disambung, dimana selisih
tersebut dibagi rata agar jumlah mata pada sisi A dapat dijadikan sejajar dengan sisi B
begitu juga sebaliknya. Sedangkan system penyambungan jaring secara horizontal
menggunakan sambungan mesh dengan mesh karena jumlah mata jaring yang sama, hal ini
sesuai dengan pendapat Sadhori (1983) bahwa penyambungan dengan cara take up
biasanya dilakukan pada jaring dengan jumlah mata yang berbeda dan untuk jumlah mata
yang sama menggunakan sambungan mesh dengan mesh atau point dengan point.
Ukuran mata jaring pada bagian sayap adalah 25mm (1 inchi). Sayap pada purse
seine berfungsi sebagai penghadang agar ikan tidak meloloskan diri sehingga dalam
penentuan ukuran mata jaring disesuaikan dengan ukuran ikan yang menjadi tujuan
penangkapan. Purse seine yang ada di Kendari umumnya menangkap ikan-ikan pelagis
yang berukuran kecil seperti ikan layang, lemuru, kembung, selar dan tenggiri. Hal ini
sesuai dengan pendapat Fridman (1986) bahwa ukuran mata jaring harus cukup kecil agar
tidak menjerat ikan pada semua bagian jaring. Namun demikian, kalau merujuk pada kode
etik perikanan yang bertanggungjawab (FAO, 1995) maka ukuran mata jaring yang
digunakan belum mampu meloloskan ikan-ikan yang masih mudah, sehingga kelestarian
sumberdaya ikan-ikan pelagis kecil masih terancam.
Nelayan purse seine di Kendari umumnya menggunakan jaring dengan bahan
polyetilen (PE) untuk bagian kantong dengan diameter yang lebih besar dari bagian sayap
dan badan jaring. Benang yang digunakan berkisar antara nomor 12 sampai 15. Hal ini
sesuai dengan pendapat Kulst (1987) bahwa kantong merupakan penampung ikan (bunts)
dimana ikan berkumpul setelah penarikan kolor (pursing) dan penarikan sebagian terbesar
jaring akan mengalami tekanan lebih besar sehingga perlu dibuat dari benang yang lebih
besar dan kasar.

72

Gambar 5.3. Penampilan jarring di dalam air

Gambar 5.4. Proses pelingkaran jarring purse seine dan pergerakan ikan


Gambar 5.5. Pergerakan ikan pada saat ke dua ujung purse seine sudah bertemu

Pemilihan bahan ini juga karena polyetilen bersifat lebih kaku, kuat tebal serta
murah harganya. Hanya saja polyetilen memiliki sifat yang lebih ringan di air karena
massa jenisnya yang lebih kecil, serta tekanan terhadap air cukup besar karena struktur
73
benang yang besar dan kasar sehingga kecepatan tenggelamnya menjadi lebih lambat dari
pada polyamide. Dalam hal ini untuk meningkatkan kecepatan tenggelam dari jaring dapat
dilakukan dengan cara penambahan jumlah pemberat pada tali pemberat.
Ukuran mata jaring pada bagian kantong lebih kecil dari pada ukuran mata jaring
pada bagian sayap dan badan, pada umumnya berkisar antara 10 - 20 mm. Menurut Kulst
(1987) ukuran mata yang lebih kecil akan membuat jaring lebih kuat menahan tekanan
mengingat kantong sebagai wadah dimana ikan berdesak-desakan di jaring sebelum
dinaikkan ke atas kapal. Namun demikian, ukuran mata jaring pada bagian kantong tidak
sesuai dengan ketentuan ukuran mata jaring minimum yaitu 25 mm.
Jenis simpul yang digunakan juga sama dengan simpul pada bagian sayap dan
badan jaring yaitu simpul tunggal atau simpul English knot. Tipe sambungan pada bagian
kantong yaitu sambungan mesh dengan mesh untuk sambungan secara horizontal dan
sambungan point dengan point untuk sambungan secara vertikal, hal ini dilakukan karena
jumlah mata yang sama. Pada bagian yang berhubungan dengan bahu jaring sambungan
yang digunakan yaitu take up dengan menggunakan perbedaan selisih yang dibagi rata.

5.2.4. Tali-temali
Tali temali pada alat tangkap purse seine terbagi atas beberapa bagian yakni tali ris
atas, tali penguat tali pelampung, tali pelampung, tali ris bawah, tali penguat tali pemberat,
tali pemberat dan tali kolor. Ukurannya bervariasi pada tiap unit alat tangkap.
Tali ris atas yang digunakan terbuat dari bahan polyetilen (PE) dengan diameter
bervariasi antara 7 12 mm. Warna tali pada umumnya biru dan hijau dengan arah
pintalan Z. Panjang tali ris atas berkisar antara 315 400m.
Tali penguat tali pelampung menggunakan bahan polyetilen (PE) dengan diameter yang
biasanya lebih kecil dari pada tali ris atas dan tali pelampung, tetapi ada juga yang sama
besar dengan diameter tali ris atas dan tali pelampung. Diameternya berkisar antara 6 mm-
11 mm. Warna tali juga pada umumnya hijau dan biru. Arah pintalan sama dengan
pintalan tali ris yaitu pintalan Z. Panjang tali penguat tali pelampung juga sama dengan
panjang tali ris atas dan tali pelampung.
Penggunaan tali dengan pilinan yang sama, kurang tepat, mengingat dalam proses
operasi penangkapan ikan, akan terjadi gaya putar yang menyebabkan tali dapat kusut.
Kalau tali yang digunakan mempunyai pilinan yang berbeda, maka gaya dari pilinan tali
akan saling berlawanan sehingga menetralkan. Akibatnya kekusutan tali akan dapat
terhindarkan, dan tali akan lebih kuat (Klust, 19 dan Najamuddin, 2005).
74
Tali pelampung juga menggunakan bahan polyetilen (PE), diameter tali pelampung
biasanya lebih besar dari pada tali ris atas dan tali penguat tali pelampung. Panjang tali
pelampung sama dengan panjang tali ris atas begitu juga dengan arah pintalannya. Untuk
pemasangan tali ris atas dengan tali pelampung dan tali penguat digunakan pengikatan
dengan sosok pangkal dan sosok dua tengah. Agar pengikatan tali ris dapat betul-betul
kuat, pengikatan tali-tali ini kadang-kadang digandakan. Penataan tali ris atas, tali
pelampung dan pelampung dapat dilihat pada Gambar 5.




Gambar 5.6. Contoh Penataan Tali Ris Atas, Tali Pelampung dan Pelampung Purse seine
Tali ris bawah terbuat dari bahan polyetilen (PE) dengan diameter bervariasi antara
7 12 mm. Pada umumnya diameter tali ris bawah sama dengan diameter tali ris atas
bahkan ada yang lebih besar dari tali ris atas. Warna tali pada umumnya biru dan hijau
dengan arah pintalan z. Panjang tali ris bawah sama dengan tali ris atas.
Tali pemberat juga terbuat dari bahan polyetilen dengan diameter berkisar antara 8
12 mm umumnya diameter tali pemberat lebih besar dari pada tali ris bawah dengan arah
pintalan Z. Panjang tali pemberat pada umumnya sama dengan panjang tali pelampung
artinya panjang jaring bagian atas sama dengan panjang jaring bagian bawah. Menurut
Fridman (1988) purse seine yang memiliki tali pemberat lebih panjang dari tali pelampung
akan lebih cepat tenggelam tetapi tali pemberat yang lebih pendek dari tali pelampung
akan dapat lebih cepat dikerutkan dan dapat meningkatkan pengaruh menyerok dari purse
seine. Jaring yang diangkat dengan power block memerlukan panjang yang harus relatif
sama antara tali pemberat dan tali pelampung.
Tali penguat tali pemberat terbuat dari bahan polyetilen dengan diameter yang lebih
dari tali pemberat namun hanya sebagian saja alat tangkap yang yang menggunakan tali
penguat tali pemberat, ada juga purse seine yang tidak menggunakannya. Tali ring atau tali
kang yang digunakan purse seine masyarakat dikendari menggunakan tipe kaki tunggal
ada juga yang tidak menggunakan tali ring (tali kang) tetapi cincin langsung dipasang pada
75
tali pemberat. Berikut ini gambar pemasangan pemberat (cincin) pada tali ring (tali kang)
dan tali pemberat:



Gambar 5.7. Contoh Pemberat pada Purse Seine.

5.2.5. Pelampung
Pelampung pada purse seine dipasang pada bagian atas jaring, dengan tujuan untuk
memberikan daya apung pada alat penangkapan ikan. Jumlah pelampung yang digunakan
bervariasi untuk setiap unit alat tangkap purse seine, yaitu berkisar antara 1600 sampai
2250 buah pelampung dengan bahan yang bervariasi ada yang terbuat dari bahan sintetis
atau plastik yang disebut polyvinil Cloride (PVC) dan ada yang terbuat dari bahan gabus
padat. Bentuk pelampung bervariasi ada yang berbentuk bola dan ada yang berbentuk oval.
Pelampung dengan bahan plastik berbentuk bola dengan diameter 9,8 cm dan berat 28
gram/buah, sedangkan dari bahan gabus berbentuk oval panjang 14,8 cm -15,2 cm dan
keliling 30 cm dengan berat 76 85 gram/buah. Jarak pemasangan pelampung pada tali ris
antara 15 20 cm, ini dimaksudkan agar diperoleh penyebaran daya apung yang merata
pada jaring sehingga jaring dapat terentang dengan baik. Jarak pelampung cukup dekat
juga dapat menakut nakuti ikan agar tidak berusaha meloloskan diri melalui bagian atas
jaring. Menurut Fridman (1986) semakin kecil jarak antar pelampung semakin baik karena
disribusi gaya apung semakin merata di sepanjang tali pelampung.
Jumlah pelampung setiap meter dalam 1 unit purse seine untuk bagian sayap dan
badan yaitu berkisar 5 7 buah pelampung, pada bagian kantong 6- 10 buah. Terlihat
bahwa jumlah pelampung dalam satu meter tali ris pada bagian kantong lebih banyak
daripada bagian sayap dan badan. Hal ini disebabkan karena pada bagian kantong tekanan
yang ditimbulkan akibat penarikan jaring dan tekanan akibat gerakan ikan lebih besar.
Penataan pelampung pada bagian kantong hanya sedikit berbeda dari bagian lain,
menyebabkan akan terjadi kekhawatiran akan tenggelam apabila volume ikan pada bagian
kantong cukup tinggi. Menurut Ben-Yami (1994) perbandingan daya apung antara bagian
kantong dengan bagian lainnya dapat mencapai 3:1. Menurut Fridman (1986) bahwa
76
pelampung harus dapat menopang baik berat jaring yang tenggelam dan daya tenggelam
vertikal yang timbul selama pelepasan dan penarikan jaring, juga tekanan yang
ditimbulkan oleh ikan pada dinding jaring.

5.2.6. Pemberat
Nelayan purse seine di kendari umumnya menggunakan pemberat berupa cincin
sehingga pemberat dan cincin tidak terpisah. Cincin yang digunakan terbuat dari bahan
timah hitam, kuningan dan aluminium, akan tetapi yang paling banyak digunakan adalah
timah hitam. Ukuran pemberat bervariasi, umumnya berdiameter 9,3 25 cm dan
ketebalan berkisar antara 0,12 5 cm, dengan berat bervariasi 0,33 7 kg/cincin. Jarak
antar pemberat juga bervariasi antara 2,5 4,5 m, dimana antara pemberat penataannya
pun berbeda untuk jaring yang menggunakan pemberat dengan ukuran yang berbeda cara
pemasangannya selang seling antara 1 pemberat besar dengan 2 pemberat kecil, atau 1
pemberat besar dengan 1 pemberat kecil. Jumlah pemberat juga bervariasi untuk setiap
unit purse seine disesuaikan dengan panjang jaring, bahan pemberat dan berat tiap
pemberat. Jumlah pemberatnya berkisar antara 70 sampai 546 buah per unit.
Menurut Sadhori (1984) pemberian pemberat tidak boleh terlalu berlebihan karena
disamping merupakan pemborosan juga akan mengurangi daya apung dan membuat jaring
terlalu tegang. Ditambahkan oleh Konagaya (1971) dalam Nur Indar (1985) bahwa berat
dari pemberat akan mempengaruhi bentuk jaring di bagian atas. Pemberat yang terlalu
banyak akan menyebabkan lebar jaring yang dalam dan mengurangi kecembungan dinding
jaring selama penebaran, sehingga daya serok berkurang.
Nilai shortening masing masing sample pada bagian sayap dan badan jaring
berkisar antara 15 34,4%. Menurut Sadhori (1984) , nilai shortening yang ideal untuk
purse seine berkisar antara 15 30% bahkan kadang-kadang ada yang menggunakan
shortening 10 %. Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai shortening dari sample sudah
memenuhi standar yang ideal. Namun demikian, mengingat fungsi jaring pada purse seine
adalah sebagai dinding, tidak menjerat, maka diperlukan bukaan mata jaring maksimum,
yaitu dengan hanging ratio 0,707 atau shortening 0,293. Pada nilai hanging ratio tersebut,
tahanan jaring dalam air paling ringan (Fridman, 1986).
Nilai hanging ratio untuk bagian sayap dan kantong pada masing-masing sample
berkisar antara 66 80%. Menurut Fridman (1988) bila hanging ratio pada tali pelampung
lebih kecil akan memberikan kecepatan tenggelam yang lebih besar dan jaring bekerja
77
lebih dalam . Pada sisi lain, makin besar hanging ratio akan memudahkan penangkapan,
penarikan jaring dan hasil tangkapan.
Nilai kedalaman masing-masing sample berkisar antara 9 25 m. menurut Fridman
(1986) merancang ukuran kedalaman jaring memerlukan dua faktor. Satu diantaranya ialah
kedalaman maksimum yang mungkin dicapai ikan menyelam dan kecepatan selamnya ,
biasanya 20 30% lebih dalam dari pada kedalaman maksimum kemampuan renang ikan.
Kedua ialah perbandingan kedalaman dan panjang untuk membuat bentuk yang diperlukan
selama tali kerut ditarik, yang paling baik adalah kedalaman jaring 0,1 dari panjangnya
atau 0,2 dari panjangnya. Untuk ikan yang bergerak lamban atau operasi penangkapan
yang menggunakan lampu sebagai penarik perhatian ikan berkumpul, kadang-kadang
boleh mencapai 0,05 dan dapat diperbesar sampai 0,33 apabila harus mencapai perairan
dalam. Perbandingan antara kedalaman dan panjang jaring pada masing-masing sampel
dapat dilihat pada Tabel 3.
Menurut Fridman (1986) perbandingan kedalaman dan panjang jaring (H/L) antara
0,1-0,2, sedangkan Ben-Yami (1994) menyarankan perbandingan sampai 0,33. Hal ini
menunjukkan bahwa secara umum kedalaman jaring belum memenuhi standar, sehingga
perlu ditambah kedalaman jaring. Kondisi jaring yang kurang dalam tersebut
memungkinkan ikan-ikan yang telah dilingkari melarikan diri melalui bagian bawah jaring,
baik pada saat proses pelingkaran jaring maupun setelah selesai pelingkaran jaring.
Kondisi jaring ada masih dapat diterima apabila dioperasikan pada kedalaman perairan
yang sama atau lebih kecil dari kedalaman jaring. Namun demikian, dengan kondisi
sumberdaya yang cenderung semakin berkurang, daerah penangkapan semakin jauh dari
pantai, sehingga penyempurnaan kedalaman jaring perlu dilakukan.

1 Daya Apung Dan Daya Tenggelam
Berdasarkan hasil perhitungan daya apung dan daya tenggelam pada tiap-tiap komponen
masing-masing sampel diperoleh nilai-nilai yang dapat dilihat pada Tabel 5.
78

Tabel 5.1. Hasil Pengukuran Daya Apung dan Daya Tenggelam Tiap-Tiap Bagian Purse
Seine (Kasus di Kota Kendari)

Komponen Alat Tangkap
Gaya Apung (Kgf) Gaya Tenggelam (Kgf)
U
n
i
t
Jaring
PE
Pelampung Tali
Total
gaya
apung
Jaring
PA
Pember
at
Pemb
erat
Tamb
ahan
Total
Gaya
Tenggela
m
Rasio
gaya
apung
&
tenggel
am
1 4,8 874,61 12,53 891,94 22,28 177,45 26,71 226,44 3.94
2 3,15 943,53 12,13 958,8 23,57 227,5 0 251,07 3.82
3 4,75 1018,04 10,34 1033,13 23,57 55,84 166 245,41 4.21
4 4,32 1078,2 15,72 1098,25 19,42 191,1 0 210,52 5.22
5 8,79 913,72 14,97 937,48 17,26 213,85 0 231,7 4.05
6 3,6 937,03 13,87 990,5 15,56 163,8 34,06 214,14 4.63
7 45,13 529,6 37,04 611,76 34,06 455 0 489,07 1.25

Berdasarkan nilai-nilai pada Tabel 5.1, terlihat bahwa total daya apung berkisar
antara 611,76 1098,25 kgf dan total daya tenggelam berkisar antara 210,52 489,07 kgf.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daya apungnya lebih besar dari pada daya
tenggelam, ini berarti bahwa dari segi perbandingan daya apung dan daya tenggelam alat
tangkap purse seine sudah memenuhi standar dengan tujuan alat tangkap yaitu menangkap
ikan-ikan permukaan sehingga diperlukan daya apung yang cukup besar agar jaring tetap
berada di atas (tidak tenggelam) pada saat operasi penangkapan.
Kondisi di atas juga memperlihatkan bahwa purse seine yang menggunakan
pelampung berupa bola plastik nilai daya apungnya sangat tinggi. Hal ini dimaksudkan
karena dalam operasi penangkapan bola pelampung sering kali pecah, sehingga pelampung
yang lain masih dapat menahan posisi jaring tetap terapung.
Berdasarkan perhitungan distribusi gaya tenggelam permeter jaring diperoleh kisaran
nilai antara 0,55-1,22 kgf/m (Tabel 5.2). Kondisi ini menunjukkan nilai yang sangat
rendah, yang berdampak pada kecepatan tenggelam. Menurut Fridman (1986) distribusi
gaya tenggelam minimal 2 kgf/m. Nilai ini juga tergantung dari kecepatan arus di lokasi
penangkapan ikan, makin besar kecepatan arus di daerah penangkapan ikan, maka gaya
tenggelam yang diperlukan lebih besar lagi.
2 Waktu Tenggelam dan Kecepatan Tenggelam Jaring
Berdasarkan perbandingan antara nilai daya tenggelam dengan panjang tali pemberat,
kedalaman dan koefisien tahanan gesekan, pada masing-masing sampel, maka diperoleh
79
waktu tenggelam dan kecepatan tenggelam masing-masing alat tangkap yang dapat dilihat
pada Tabel 5.2.
Data pada Tabel 5.2 menunjukkan bahwa waktu tenggelam pada purse seine di
Kendari berkisar antara 34 102 detik, kecepatan tenggelam berkisar antara 0,16 0,18
m/detik. Dilihat dari perbandingan antara panjang jaring dengan kedalaman dan kecepatan
tenggelam dari ketujuh sampel tersebut belum ada yang memenuhi kriteria standar..
Namun dari segi waktu tenggelam dan kecepatan tenggelam, semua sudah cukup baik. Hal
tersebut terjadi akibat kedalam jaring yang masih kurang, sehingga waktu yang dibutuhkan
pemberat untuk sampai pada kedalaman tertentu relatif singkat. Fridman (1986)
menyatakan jika panjang jaring terlalu panjang, maka akan memperlambat proses
pelingkaran, sehingga memungkinkan ikan akan lolos dari celah jaring. Kedalaman jaring
yang kecil memungkinkan ikan meloloskan diri melalui bagian bawah pemberat.
Kecepatan tenggelam jaring yang tinggi, akan mempercepat penurunan jaring mencapai
kedalaman maksimum, sehingga ikan tidak dapat meloloskan diri kearah horizontal.

Tabel 5.2. Hasil Perhitungan Waktu Tenggelam dan Kecepatan Tenggelam Jaring (Kasus
Kendari)

Unit Panjang
jaring
(m)
Kedalaman
rata-rata
(m)
Gaya
tenggelam per
meter (kgf)
Waktu
Tenggelam
(detik)
Kecepatan
Tenggelam
(m/det)
1 375 12,14 0.60 49 0,17
2 319 15,73 0.79 63 0,17
3 315 16 0.78 64 0,17
4 381 10,38 0.55 41 0,17
5 349 11,66 0.66 44 0,18
6 360 9,4 0.59 34 0,18
7 400 25 1.22 102 0,16

Pendekatan Perikanan Purse Seine yang Berkelanjutan
Sesuai dengan kode etik perikanan bertanggungjawab (FAO, 1995) bahwa kegiatan
penangkapan ikan harus dapat menjamin kelestarian sumberdaya ikan yang
dieksploitasinya. Kelestarian sumberdaya perikanan yang ada di sekitar daerah
penangkapan ikan akan menjaga keberlanjutan dari usaha perikanan itu sendiri (Charles,
1994, 2001). Untuk itu pemerintah sebagai penjamin keberlanjutan sumberdaya perikanan
80
dari segi institusi harus dapat berperan dalam menjamin keseimbangan yang terjadi pada
ekosistem perikanan.
Kondisi purse seine di lokasi penelitian dari segi teknis belum mampu menjaga
kelestarian sumberdaya ikan-ikan pelagis kecil yang menjadi target operasi. Hal ini
diindikasikan dari ukuran mata jaring pada bagian kantong yang hanya 10-20 mm. Hasil
penelitian terdahulu menunjukkan bahwa untuk menjamin kelestarian ikan layang
(Decapterus russelli) di perairan Selat Makassar disarankan menggunakan ukuran mata
jaring minimum 2,52 cm, sedangkan untuk ikan layang deles (Decapterus macrosoma)
ukuran mata jaring minimum 3,19 cm (Najamuddin, 2004). Ikan layang hanya merupakan
salah satu jenis ikan hasil tangkapan purse seine, demikian pula ukurannya relatif kecil.
Untuk jenis ikan pelagis kecil lainnya, seperti ikan kembung, lemuru, cakalang, selar
diperlukan kajian lebih lanjut yang berhubungan dengan aspek biologi dan ukuran mata
jaring minimum.
Antisipasi perbaikan selektivitas purse seine dapat dilakukan melalui penerapan
ukuran mata jaring minimum yang digunakan pada seluruh bagian jaring atau dengan
menggunakan ukuran mata jaring berbentuk segi 4 pada bagian kantong sebagai jendela.
Pada jendela tersebut, diharapkan ikan-ikan yang belum layak tangkap dapat meloloskan
diri. Prinsip jendela seleksi seperti sudah banyak diterapkan pada berbagai alat penangkap
ikan, seperti trawl (Fonteyne, and MRabet, 1992; Walsh,et al., 1992); pada purse seine
(Misund, and Beltestady, 2000). Namun demikian, mengingat karakteristik sumberdaya
ikan tropis yang multispecies, dengan ukuran ikan yang bervariasi, maka sangat sulit untuk
menentukan standar ukuran mata jaring.

5.3 PENUTUP
Buat disain purse seine ukuran 500 x 50 m, mesh size 1 inci, bahan polyamide 210 D/9
untuk kantong dan 210D/6 untuk bagian lainnya. Hitung banyak bahan jarring yang
digunakan.
Lengkapi rancangan anda dengan penataan pelampung dan pemberat.

81

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1978. Catalogue of Fishing Gear Design. FAO-UN. Fishing News (Books) Ltd.
London.
Anonim, 2007. Katalog Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Anonim, 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Ayodhyoa, A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Ben-Yami, M. 1994. Purse Seining Manual. Fishing News (Books) Ltd. London.
FAO. 1975. Catalogue of small scale fishing gear. Fishing News (Books) Ltd. London.
FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for Fishing Gear Designs. Fishing News (Books)
Ltd. London. 241 p.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Metode dan Teknik
Penangkapan. Jurusan PSP, Fakultas Perikanan IPB, Bogor.
Kristjonson, H. 1959. Modern Fishing Gear of the World. Vol 1. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1964. Modern Fishing Gear of the World. Vol 2. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1972. Modern Fishing Gear of the World. Vol 3. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Menon, T.R----. Hand Book on Tuna Long Lining. Central Institute of Fisheries, Nautical
and Engineering Training. Ministry of Agriculture and Irrigation. Government of India.
NOMURA. 1978. Fishing Techniques. I & 2. Japan International Cooperation Agency.
Tokyo.
NIELSEN, L. A. AND D. L. JOHNSON [eds.]. 1983. Fisheries Techniques. American
Fisheries Society, Bethesda, Maryland. 468 p.
Prichard, M. 1987. Lets Go Fishing. Octopus Books Limited. Hong Kong.
Sadhori, N. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Angkasa, Bandung. 182 hal.
Subani, W. dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia.
Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta.
Von Brandt, A. 1984. Fishing Catching Method of the World. 3
rd
Edition. Fishing news
(Books) Ltd. England



82

BAB 6. DISAIN PAYANG
6.1 Pendahuluan
Sasaran pembelajaran : menjelaskan prinsip disain dan mendisain payang

6.2 Uraian Materi Pembelajaran
Payang merupakan suatu alat tangkap yang menyerupai kantong besar dan
dipergunakan untuk menangkap ikan pelagis. Payang merupakan alat penangkap ikan
tradisional, dimana pada beberapa daerah masih bertahan sampai saat ini mengalahkan alat
penangkap ikan modern seperti purse seine. Deskripsi alat tangkap payang yang ada di
Kabupaten Majene Sulawesi Barat terdiri atas beberapa bagian, yaitu :
(1). Jaring, yang terdiri atas :
Sayap (wing), yaitu bagian jaring yang merupakan perpanjangan badan sampai ke
tali selambar. Pada bagian ini mengunakan benang dengan nomor 210 D/12
panjang jaring 12 m dan ukuran mata jaring (mesh size) 80 cm.
Mulut jaring yang terdiri atas mulut bagian atas (upperlip) yang juga sebagai
tempat diikatnya pelampung (float)dan mulut bagian bawah (underlip) yang juga
sebagai tempat diikatnya pemberat (sinker). Ukuran lebar mulut jarring adalah 20
meter.Badan jaring (body), merupakan bagian terbesar dari keseluruhan jaring.
Panjang jaring pada bagian ini 106,5 m Ukuran mesh size pada bagian badan jaring
adalah 40 cm, 20,5 cm dan 22 cm.
Kantong (cod end), merupakan tempat penampungan hasil tangkapan Panjang
jaring bagian kantong 18,5 m. Ukuran mesh size bagian kantong jaring bervariasi
, berturut-turut mulai dari ujung kantong adalah 1,5 cm, 2 cm, 2,5 cm, 6,5 cm, 4
cm..
(2). Tali-temali, terdiri atas :
Tali pelampung (head rope), yaitu tali yang diikatkan pada bagian upperlip dan
berfungsi sebagai tempat diikatnya pelampung. Tali ini terbuat dari bahan
multifilamen dengan nomor 3 dengan panjang tali 150 m.
Tali pemberat (ground rope), yaitu tali yang diikatkan pada bagian underlip dan
berfungsi sebagai tempat diikatnya pemberat. Tali ini terbuat dari bahan
multifilamen dengan nomor tali 5 dengan panjang tali 135 m.
83
Tali penarik (tali selambar), yaitu tali yang berfungsi untuk menarik jaring saat
operasi penangkapan berlangsung dengan panjang tali slambar kanan 50 m dan tali
slambar kiri 100 m.
Tali kantong (cod line), yaitu tali yang berfungsi untuk mengikat ujung kantong
agar hasil tangkapan tidak keluar dari bagian kantong. dengan panjang tali 5 m.
(3). Pelampung (float)
Pelampung ini berfungsi untuk memperoleh daya apung pada jaring. Pelampung
ini terdiri atas 2 macam, yaitu pelampung tanda yang terbuat dari bahan plastik berbentuk
bola, dengan diameter 40 cm, sebanyak satu buah dan pelampung utama yang terbuat dari
kayu Bakau (Rhyzopora) berbentuk batang, dengan ukuran panjang 40 cm berdiameter 26
mm, sebanyak 6 buah.
(4). Pemberat (sinker)
Fungsi pemberat disini adalah untuk menenggelamkan bagian tertentu jaring,
menahan perubahan bentuk jaring dari pengaruh arus dan bersama-sama dengan
pelampung memberi bentuk pada jaring serta menjaga mulut jaring agar selalu terbuka
selama berlangsungnya penarikan jaring. Pemberat ini terbuat dari bahan timah, berjumlah
6 buah, dengan berat masing-masing 2 kg dan sebuah pemberat dari batu gunung dengan
berat + 2 kg dan diameter 30 cm yang diikat pada bagian tengah mulut jaring bagian
bawah.
Payang yang digunakan dalam penelitian ini adalah payang dengan ukuran panjang
200 m dan lebar 12 m. Jaring payang ini terbuat dari bahan nylon benang ganda (nylon
multifilamen). Untuk bagian sayap menggunakan benang dengan nomor 210 D/15, bagian
badan menggunakan benang dengan nomor 210 D/12 dan bagian kantong menggunakan
benang dengan nomor 210 D/9.
Untuk lebih lengkapnya diskripsi alat tangkap payang dapat dilihat pada Gambar 4.
84


















Gambar 6.1. Konstruksi Alat Tangkap Payang di Majene.
Keterangan gambar :
A. Sayap jaring. 1. Tali slambar kanan 5. Tali slambar kiri
B. Badan jaring. 2. Pelampung tanda 6. Pemberat
C. Kantong jaring. 3. Pelampung utama 7. Tali ris bawah
4. Tali ris atas 8. Tali kantong

6.3 Penutup
Buat disain payang secara berkelompok ! Setelah disain dibuat, gambar disain tersebut
pada paket program CADNET, lakukan modifikasi seperlunya dalam upaya memperbaiki
disain yang telah ada. Lakukan pembahasan terhadap modifikasi yang telah dilakukan
termasuk justifikasi sesuai kebutuhan.

1,5
2
4
40
60
A. 18,5 meter
B. 40,5 meter
C. 75 meter
80
85

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1978. Catalogue of Fishing Gear Design. FAO-UN. Fishing News (Books) Ltd.
London.
Anonim, 2007. Katalog Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Anonim, 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Ayodhyoa, A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Ben-Yami, M. 1994. Purse Seining Manual. Fishing News (Books) Ltd. London.
FAO. 1975. Catalogue of small scale fishing gear. Fishing News (Books) Ltd. London.
FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for Fishing Gear Designs. Fishing News (Books)
Ltd. London. 241 p.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Metode dan Teknik
Penangkapan. Jurusan PSP, Fakultas Perikanan IPB, Bogor.
Kristjonson, H. 1959. Modern Fishing Gear of the World. Vol 1. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1964. Modern Fishing Gear of the World. Vol 2. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1972. Modern Fishing Gear of the World. Vol 3. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Menon, T.R----. Hand Book on Tuna Long Lining. Central Institute of Fisheries, Nautical
and Engineering Training. Ministry of Agriculture and Irrigation. Government of India.
NOMURA. 1978. Fishing Techniques. I & 2. Japan International Cooperation Agency.
Tokyo.
NIELSEN, L. A. AND D. L. JOHNSON [eds.]. 1983. Fisheries Techniques. American
Fisheries Society, Bethesda, Maryland. 468 p.
Prichard, M. 1987. Lets Go Fishing. Octopus Books Limited. Hong Kong.
Sadhori, N. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Angkasa, Bandung. 182 hal.
Subani, W. dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia.
Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta.
Von Brandt, A. 1984. Fishing Catching Method of the World. 3
rd
Edition. Fishing news
(Books) Ltd. England


86

BAB 7. DISAIN GILL NET
7.1 Pendahuluan
Sasaran pembelajaran : menjelaskan prinsip disain dan mendisain gill net

7.2 Uraian Bahan Pembelajaran
Definisi jaring insang adalah suatu alat penangkap ikan berbentuk empat persegi
panjang yang dilengkapi dengan pelampung, tali pelampung, tali ris atas pada bahagian
atas jaring, serta pemberat, tali pemberat, tali ris bawah pada bagian bawah jaring.
Kadang-kadang tali ris atas dan tali pelampung hanya satu tali. Demikian pula halnya
pada tali pemberat dan tali ris bawah digabung menjadi satu. Pada beberapa jenis jarring
insang tidak menggunakan tali sama sekali pada bagian bawah jaring.


Gambar 7.1. Gill net lengkap dengan tali ris, tali pelampung, tali ris bawah dan tali
pemberat

87

Gambar 7.2. Gill net dimana tidak memiliki tali ris bawah dan tali pemberat



Gambar 7.3 . Trammel net (jaring tiga lapis)


7.2.1. Jaring Insang Hanyut Ikan Terbang
Jaring insang hanyut ikan terbang yang diamati secara umum terdiri dari beberapa
bagian yaitu jaring, tali temali, pelampung dan pemberat. Alat tangkap ini ditujukan untuk
menangkap ikan terbang. Jaring insang hanyut ikan terbang yang dioperasikan di lokasi
88
penelitian Desa Bontomarannu, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar adalah
Setiap satu unit alat tangkap terdiri dari beberapa piece jaring yang disambung satu sama
lain. Satu unit alat tangkap jaring insang hanyut ikan terbang yang digunakan para nelayan
terdiri dari 25 30 lembar jaring. Tiap lembar jaring mempunyai bentuk dan ukuran yang
sama yaitu terdiri dari badan jaring (webbing), tali pelampung dan tali pemberat.
Badan jaring terbuat dari bahan tasi (monofilament) nomor 28 berwarna bening. Ukuran
mata jaring (mesh size) yaitu 1
1
/
4
inci, panjang tiap 1 lembar jaring yaitu 80 yard (73,12
m), dengan jumlah mata jaring vertikal yaitu 70 mata. Jaring yang sudah ada kemudian
dirangkai menjadi satu unit alat tangkap dengan masing-masing komponen yang sudah
ada. Nelayan membuat jaring insang hanyut dengan cara yaitu menggunakan tali
pelampung dari bahan polietilen berdiameter 5 mm dan menyisipkan pada mata jaring
tanpa diikat, tali ini juga digunakan sebagai tempat untuk mengikat pelampung. Begitupula
pada bagian bawah yang juga menyisipkan tali pada mata jaring tanpa diikat. Tali
pemberat juga terbuat dari bahan polyetilen tetapi dengan diameter yang lebih kecil yaitu 3
mm, yang digunakan sebagai tempat untuk mengikat pemberat. Panjang tali pelampung
dan tali pemberat dari mulai ujung badan jaring dilebihkan 35-45 cm, agar dapat
disambung antara piece satu dengan piece lainnya.
A. Metode Pengoperasian
Jaring insang hanyut ikan terbang yang digunakan selama penelitian di operasikan
pada pagi atau siang hari. Pemberangkatan ke lokasi penangkapan dilakukan pada pukul
02.00- 03.00 WITA. Biasanya menempuh waktu 4-6 jam dari fishing base ke daerah
fishing ground. Setelah sampai di lokasi fishing ground, maka dilakukan pencarian lokasi
pemasangan jaring dengan indikator adanya ikan terbang yang muncul ke permukaan.
Apabila punggawa telah menentukan lokasi pemasangan jaring maka jaring pun
diturunkan oleh ABK.
Adapun urutan operasi penangkapan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. jaring diturunkan ke perairan dimana pada ujung jaring telah diikat dengan pelampung
tanda dan bendera sementara kapal tetap dalam posisi terus berjalan dalam kecepatan
rendah.
b. setelah seluruh jaring telah di turunkan, ujung jaring yang juga diberi pelampung tanda
dan bendera diikatkan pada haluan kapal dan mesin kapal dimatikan selama 2- 3 jam.
c. tiap jam, kapal mengecek posisi keberadaan jaring maupun ikan yang telah terjerat.
89
d. setelah memperkirakan ikan telah banyak terjerat maka jaring kemudian di tarik naik ke
atas kapal oleh dua (2) orang ABK dengan posisi kapal yang bergerak secara perlahan
menuju ujung jaring yang satunya.
e. setelah jaring naik ke atas kapal, hasil tangkapan kemudian di pisahkan dari alat
tangkap oleh para ABK.

Adapun Deskripsi dari alat tangkap jaring insang hanyut ikan terbang yang menjadi objek
penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

A (39,20 43,56 m)

D (40 49 cm)
C (1,691,84 m)







E (42 49 cm)

B (42,57 50,96 m)

Gambar 7.4. Konstruksi jaring insang hanyut ikan terbang di lokasi penelitian.

Keterangan :
1. Tali Pelampung A. Panjang Jaring Bagian Atas
2. Pelampung B. Panjang Jaring Bagian Bawah
3. Badan Jaring C. Tinggi Jaring
4. Tali Pemberat D. Jarak Antar Pelampng
5. Pemberat E. Jarak Antar Pemberat













90



Polyetilen 5 mm














Polyetilen 3 mm


Gambar 7.5. Cara pemasangan jaring pada tali ris.








6,5 cm
2 cm 1,4 cm

4,5 cm


0,4 cm
2 cm



Gambar 7.6. Bentuk dan ukuran pelampung dan pemberat






91



(40 99 cm) (99 102 buah)














(42 49 cm)
(100 105 buah)

Gambar 7.7. Cara pemasangan pelampung dan pemberat pada tali ris.

B. Tali-temali
Jaring insang pada umumnya ada beberapa tali yang digunakan dalam proses
pembuatan alat tangkap yaitu tali ris atas, tali pelampung, tali ris bawah, dan tali pemberat.
Namun alat tangkap yang digunakan nelayan pada lokasi penelitian hanya menggunakan
tali pelampung dan tali pemberat yang difungsikan sebagai tali ris. Tali ris atas yang
digunakan sebagai tempat mengikat pelampung dan tali ris bawah sebagai tempat untuk
pemberat. Bahan yang digunakan pada tali ris atas dan bawah yakni polyethylen dengan
diameter 5 mm pada tali ris atas, dan 3 mm pada tali ris bawah. Adapun hasil pengukuran
dimensi tali dapat dilihat pada Tabel 2.

Secara terperinci bagian-bagian tali pada ke-10 unit gillnet dijelaskan sebagai berikut:

1. Tali Pelampung
Tali pelampung terbuat dari bahan polyetilen dengan nomor bahan 5, pada tali inilah
jaring utama digantungkan, pemasangan tali pelampung yaitu dengan cara menyisipkan
pada mata jaring tanpa diikat. Pemasangan tali pelampung disambungkan langsung
92
dengan badan jaring, dan memiliki tipe pilinan Z (arah pilinan kiri). Panjang tali
pelampung dilebihkan antara 35-45 cm dari mulai ujung badan jaring. Berdasarkan hasil
penelitian panjang tali pelampung berkisar antara 39,60 43,56 m. Pemasangan tali ris
pada badan jaring yang berbeda-beda didasarkan pada pertimbangan untuk memudahkan
operasi, penentuan target ikan sasaran dan pertimbangan selektivitas ikan sasaran
(Martasuganda, 2005).

2. Tali Pemberat
Bahan yang digunakan pada tali pemberat sama dengan bahan yang digunakan pada
tali pelampung tetapi dengan diameter yang lebih kecil. Penggunaan ukuran tali yang lebih
kecil dimaksudkan agar jaring sewaktu dioperasikan lebih ringan dan mudah hanyut. Tali
pemberat menggunakan bahan polyetilen dengan diameter 3 mm. Pemasangan tali
pemberat dengan cara menyisipkan tali pada mata jaring tanpa diikat. Panjang tali
pemberat dilebihkan antara 35-45 cm dari mulai ujung badan jaring. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Martasuganda (2005), bahan yang dipakai untuk tali pelampung dapat sama
dengan bahan yang dipakai pada tali pemberat, dan panjang tali dari mulai ujung badan
jaring biasanya dilebihkan antara 30 50 cm. Berdasarkan hasil penelitian panjang tali
pemberat berkisar antara 42,57 50,96 m.

C. Jaring
Berdasarkan pengamatan ke-10 unit alat tangkap di lokasi penelitian, jaring yang
digunakan oleh nelayan di daerah ini umumnya memiliki ukuran dan bahan yang sama
dengan nelayan yang lainnya, karena nelayan sudah tidak lagi membuat jaring sendiri
melainkan menggunakan jaring yang dibeli dari toko. Jaring yang digunakan oleh nelayan
terbuat dari bahan polyamide (monofilament), berdiameter 0,28 mm, berwarna bening
dengan ukuran mata jaring 1,25 inci. Jumlah mata horizontal pada bagian atas yaitu 2303
mata, begitupula jumlah mata pada bagian bawah. Sedangkan untuk jumlah mata jaring
vertikal yaitu 70 mata.
Ukuran mata jaring yang digunakan pada jaring insang hanyut ikan terbang dipakai
berdasarkan ukuran ikan yang tertangkap, dengan mengukur diameter penutup insang dan
diameter tinggi badan maksimum dari beberapa ikan layak tangkap yang diperoleh pada
saat dilakukan penangkapan. Hasil rata-rata diameter operculum dan diameter tinggi badan
maksimum dijumlahkan kemudian dibagi 2 (dua). Dari hasil perhitungan menunjukkan
bahwa ukuran mata jaring yang digunakan pada alat tangkap di lokasi penelitian sudah
93
sesuai dengan ikan yang menjadi target tangkapan. Menurut Martasuganda (2005), ukuran
mata jaring dan nomor benang pada badan jaring biasanya disesuaikan dengan tujuan biota
perairan yang akan dijadikan target tangkapan. Dalam satu unit alat tangkap umumnya
terdiri dari beberapa lembar jaring yang dirangkai menjadi satu, biasanya nelayan
merangkai 25 sampai 30 lembar jaring. Adapun hasil pengamatan dimensi jaring dapat
dilihat pada Tabel 3.
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa dari ke-10 unit jaring yang digunakan
oleh nelayan terbuat dari bahan polyamide (monofilament), panjang jaring bagian atas
berkisar antara 39 43,56 m, dan panjang jaring bagian bawah berkisar antara 42,57
50,96 m. Sedangkan tinggi jaring berkisar antara 1,69 1,84 m setelah dibuat alat tangkap.
Dari hasil pengukuran dimensi panjang jaring di atas terdapat perbedaan kisaran panjang
jaring bagian atas dan bagian bawah, panjang jaring bagian bawah memiliki ukuran yang
lebih panjang dibandingkan pada bagian atas. Hal ini dipengaruhi oleh besarnya nilai
pengerutan (shortening) yang diberikan, nilai pengerutan pada jaring bagian atas dibuat
lebih besar dibandingkan pada bagian bawah sehingga jaring bagian bawah ukurannya
lebih panjang dibandingkan bagian atas dengan tujuan agar posisi jaring sewaktu
dioperasikan dapat terentang dengan baik di dalam perairan. Hal tersebut juga
berpengaruh besar terhadap bentangan jaring bagian bawah pada saat dilakukan penarikan
terhadap alat tangkap.

D. Pelampung
Jenis pelampung yang digunakan pada alat tangkap terdiri atas dua jenis
pelampung yaitu pelampung tanda dan pelampung jaring (float), yang masing-masing
memilki fungsi tersendiri.
1. Pelampung Tanda
Pelampung ini berjumlah 2 buah disetiap unit alat tangkap, dimana masing-masing
pelampung tanda dipasang di kedua ujung alat tangkap. Pelampung ini berfungsi sebagai
tanda dimana posisi jaring dipasang. Ketinggian pelampung tanda berkisar antara 3,47
3,56 m, terbuat dari gabungan beberapa bahan yaitu bambu, gabus, semen yang didesain
dengan bentuk tertentu agar dapat diidentifikasi letaknya pada saat proses penangkapan
berlangsung.



94








Gambar 7.8. Bentuk pelampung tanda yang digunakan pada gillnet.

2. Pelampung Jaring
Pelampung jaring yang digunakan terbuat dari bahan sintetis tidak menyerap air
(karet sandal) berbentuk kotak elips dengan diameter panjang 6,5 cm, lebar 4,5 cm, tinggi
2 cm dan berat 3,29 g. Pelampung ini dipasang pada tali ris atas dengan cara mengikat
langsung pelampung pada tali ris atas dengan membuat tiga buah lubang pada sisi
pelampung sebagai tempat untuk memasukkan tali untuk pengikat. Hasil pengukuran
pelampung pada ke-10 unit gillnet dapat dilihat pada Tabel 4.
Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa dari dimensi pengukuran pelampung
jaring ke-10 unit alat tangkap yaitu pelampung umumnya terbuat dari bahan karet sandal
berbentuk elips dengan jumlah pelampung yang digunakan pada ke-10 unit alat tangkap
berkisar antara 99 102 buah. Jarak antar pelampung berkisar antara 40 49 cm,
sedangkan jumlah mata antar pelampung berkisar antara 22 24 mata. Jumlah mata antar
pelampung dalam satu unit alat tangkap sebagian besar memiliki jumlah mata yang sama
namun ada beberapa jumlah mata yang dilebihkan dari satu pelampung ke pelampung
yang lain, hal ini tergantung pada jumlah pelampung yang memungkinkan jumlah mata
pada setiap pelampung terbagi dengan rata. Menurut Martasuganda (2005), jumlah, berat
jenis dan volume pelampung yang dipakai dalam satu piece akan menentukan besar
kecilnya daya apung (bouyancy). Besar kecilnya daya apung yang terpasang pada satu
piece akan sangat berpengaruh terhadap baik buruknya hasil tangkapan.

E. Pemberat

Pemberat yang digunakan pada alat tangkap terbuat dari bahan timah berbentuk
silinder yang berlubang pada bagian tengahnya. Ukuran panjang pemberat 2 cm, diameter
95
bagian tengah 1,4 cm, diameter luar bagian ujung pemberat 0,4 cm, dengan berat 16,66 g.
Pemberat ini berfungsi untuk memberikan daya tenggelam pada jaring dan mengimbangi
daya apung yang diberikan oleh pelampung. Pemberat dipasang pada tali ris bawah dengan
cara mengikat dengan tali yang dimasukkan ke dalam lubang pemberat kemudian
mengikat langsung pada tali ris bawah sehingga posisi pemberat berada pada bagian luar
tali ris bawah.
Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa dari dimensi pengukuran pemberat
jaring ke-10 unit alat tangkap yaitu pemberat umumnya terbuat dari bahan timah berbentuk
silinder dengan jumlah pemberat yang digunakan pada ke-10 unit alat tangkap berkisar
antara 100 105 buah. Jarak antar pemberat berkisar antara 42 49 cm, sedangkan
jumlah mata antar pemberat berkisar antara 22 24 mata. Jumlah mata antar pemberat
dalam satu unit alat tangkap sebagian besar memiliki jumlah mata yang sama namun ada
beberapa jumlah mata yang dilebihkan dari satu pemberat ke pemberat yang lain. Menurut
Martasuganda (2005), untuk nelayan jaring insang di negara-negara berkembang, bahan,
ukuran, bentuk dan daya tenggelam dari pemberat biasanya berbeda antara satu nelayan
dengan nelayan lainnya meskipun target tangkapannya sama.

F. Analisis hasil pengukuran dimensi jaring
Berdasarkan data hasil pengukuran langsung terhadap bagianbagian alat tangkap yang
meliputi material jaring, tali temali, pelampung, pemberat, (shortening), tinggi jaring
(depth), berat total alat tangkap, gaya apung gaya tenggelam, luas permukaan benang
(TSA), hasil perhitungan sebagai berikut :
1. Shortening
Nilai shortening pada masing-masing alat tangkap dapat dilihat pada Tabel 7.1 :


96

Tabel 7.1. Nilai shortening dan tinggi jaring pada ke-10 unit gillnet .


Berdasarkan Tabel 7.1 dapat dilihat bahwa nilai shortening dari ke-10 unit alat tangkap
yang dioperasikan di lokasi penelitian yaitu shortening pada bagian atas berkisar antara
39,74 46,66 %, dan shortening pada bagian bawah berkisar antara 30,30 41,78 %. Dari
hasil tersebut, diperoleh bahwa jaring insang ikan terbang dalam penelitian, ikan
tertangkap secara terbelit (entangled). Hal ini sesuai menurut Sudirman dan Mallawa
(2004) bahwa pada gillnet, shortening ini lebih berpengaruh pada catch, untuk gillnet
yang ikannya tertangkap secara gilled, nilai shortening bergerak sekitar 30 - 40 % dan
untuk yang tertangkapnya ikan secara entangled maka nilai shortening bergerak sekitar 35
60 %. Nilai shortening pada bagian atas lebih besar dibandingkan pada bagian bawah
agar ukuran alat tangkap pada bagian bawah menjadi lebih panjang dibanding bagian atas,
dengan tujuan agar posisi alat tangkap pada saat dioperasikan dapat terentang dengan baik
di dalam perairan. Menurut Martasuganda (2005), nilai pengerutan pada tali ris atas
sebaiknya nilainya sedikit lebih besar dari pada nilai pengerutan pada tali ris bawah,
dengan tujuan agar posisi jaring sewaktu dioperasikan dapat terentang dengan baik di
dalam perairan.
Shortening (%) Alat
tangkap
atas bawah
Tinggi jaring (m)
1 40,41 30,30 1,69
2 46,66 40,60 1,71
3 42,72 38,43 1,81
4 39,86 38,43 1,78
5 42,48 38,43 1,80
6 39,74 35,56 1,76
7 45,22 41,78 1,84
8 41,11 35,57 1,75
9 41,29 39,86 1,80
10 45,22 39,90 1,83
97


2. Tinggi jaring

Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat bahwa dari ke-10 unit alat tangkap yang
dioperasikan di lokasi penelitian kedalaman jaring berkisar antara 1,69 1,84 m. Variasi
nilai kedalaman jaring pada ke-10 unit alat tangkap dipengaruhi oleh besarnya nilai
shortening pada jaring, semakin besar nilai pengerutan maka akan semakin besar pula
tinggi kedalaman jaring . Hal ini sesuai dengan pernyataan Nomura (1985), Nilai
shortening sangat berpengaruh terhadap tinggi atau kedalaman jaring (d), semakin besar
shortening maka nilai (d) juga akan semakin besar. Begitupula pernyataan Sadhori (1984)
bahwa ada dua akibat yang ditimbulkan oleh adanya shortening yaitu panjang jaring akan
semakin memendek dan kedalaman jaring akan semakin bertambah.

3. Berat Gillnet
Berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan berat masing-masing komponen dari ke-10
unit alat tangkap gillnet meliputi : berat jaring, pemberat, talitemali, dan pelampung dapat
dilihat pada Tabel 7.2.
Tabel 7.2. Hasil perhitungan berat jaring, tali-temali, pemberat, pelampung gillnet
yang dioperasikan di perairan takalar.

Berat masing masing bagian (kg) Berat Total
Alat tangkap
Jaring Talitemali Pelampung Pemberat
1 1,36 0,781 0,329 1,749 4,21 kg
2 1,36 0,771 0,333 1,699 4,16 kg
3 1,36 0,699 0,336 1,715 4,11 kg
4 1,36 0,724 0,336 1,749 5,16 kg
5 1,36 0,72 0,333 1,749 4,16 kg
6 1,36 0,736 0,326 1,699 4,08 kg
7 1,36 0,624 0,326 1,666 3,97 kg
8 1,36 0,741 0,329 1,749 4,17 kg
9 1,36 0,706 0,336 1,749 4,15 kg
10 1,36 0,684 0,329 1,715 4,08 kg
98
Berdasarkan Tabel 8 hasil pengukuran dan perhitungan berat masing-masing
bagian alat tangkap dengan menggunakan formula Fridman (1988), diperoleh berat total
setiap satu unit alat tangkap yang berkisar antara 3,97 4,21 kg. Perbedaan dari berat total
alat tangkap tersebut dikarenakan oleh adanya perbedaan jumlah pelampung dan pemberat
yang digunakan dan juga panjang tali yang berbeda pada masing-masing alat tangkap.
Perbedaan berat pemberat dibandingkan berat pelampung maka akan mempermudah
proses tenggelamnya jaring dan penggunaan pelampung berguna untuk mengimbangi gaya
yang ditimbulkan oleh pemberat.

4. Luas Permukaan Benang (TSA)
Berdasarkan perhitungan diketahui hasil perhitungan TSA dengan menggunakan
formula Prado dan Dremiere, 1996, maka luas permukaan benang pada ke-10 unit jaring
insang hanyut sebesar 2,866 m
2
. Dari nilai TSA yang diperoleh maka jaring insang hanyut
ikan terbang pada saat dioperasikan memungkinkan akan terseret arus cukup jauh.
Semakin besar nilai TSA maka semakin kecil kemungkinan jaring akan terseret arus
sehingga kedudukan jaring di dalam perairan masih dalam posisi vertikal. Besar luas
permukaan benang sama pada ke-10 unit alat tangkap, hal ini disebabkan karena ke-10 unit
alat tangkap menggunakan jaring yang mempunyai ukuran yang sama seperti mesh size,
nomor benang, jumlah mata jaring horizontal dan vertikal.
5. Gaya apung dan gaya tenggelam alat tangkap
Pada alat tangkap gillnet ini ada dua buah gaya yang bekerja yaitu gaya apung dan gaya
tenggelam, Gaya apung dan gaya tenggelam timbul akibat perbedaan berat jenis bahan
pembentuk alat tangkap dengan berat jenis air laut. Perbedaan gaya apung dan gaya
tenggelam ini menentukan kedudukan alat tangkap dalam perairan. Besarnya gaya apung
dan gaya tengelam pada setiap bagian alat tangkap gillnet dapat dilihat pada tabel berikut :

99

Tabel 7.3. Gaya Apung Gillnet.
Komponen Alat tangkap
Gaya Apung (kg)
Unit
Pelampung
Tali Pelampung
(polyethylen)
Tali Pemberat
(polyethylen)
Total gaya apung
1 3,326 0,0197 0,0208 3,366
2 3,366 0,0222 0,0178 3,406
3 3,396 0,0183 0,0180 3,432
4 3,396 0,0192 0,0184 3,433
5 3,366 0,0190 0,0184 3,403
6 3,295 0,0195 0,0187 3,333
7 3,295 0,0149 0,0175 3,327
8 3,326 0,0192 0,0192 3,364
9 3,396 0,0187 0,0179 3,432
10 3,326 0,0179 0,0176 3,361









100

Tabel 7.4. Gaya Tenggelam Gillnet.

Berdasarkan tabel diatas diketahui besarnya gaya apung pada ke-10 alat tangkap
yang beroperasi diperairan Kabupaten Takalar berkisar antara 3,327 3,433 kg, dan
untuk gaya tenggelam berkisar antara 1,686 1,716 kg. Perbandingan nilai gaya apung
dan gaya tenggelam ke-10 unit alat tangkap gillnet menunjukkan bahwa gaya apung lebih
besar dibandingkan dengan gaya tenggelam dengan rasio perbandingan gaya apung dan
gaya tenggelam 1 : 2. Nilai gaya apung yang lebih besar dibandingkan dengan gaya
tenggelam yang cukup mendukung bahwa alat tangkap gillnet memungkinkan untuk
dioperasikan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Martasuganda (2005), yaitu untuk jaring
insang hanyut total daya apung dalam satu piece harus lebih besar dari total daya
tenggelamnya. Besar kecilnya daya apung dan daya tenggelam akan mempengaruhi
ketegangan jaring.

7.3. Penutup
Buat disain gill net permukaan untuk menangkap ikan kembung, layang dan cakalang.
Buat disain gill net dasar untuk menangkap udang, ikan kuwe, kakap

Komponen Alat tangkap
Gaya Tenggelam (kg)
Unit
Pemberat
Jaring
(polyamide)
Total gaya tenggelam
1 1,595 0,167 1,762
2 1,549 0,167 1,716
3 1,564 0,167 1,731
4 1,595 0,167 1,762
5 1,595 0,167 1,762
6 1,549 0,167 1,716
7 1,519 0,167 1,686
8 1,595 0,167 1,762
9 1,595 0,167 1,762
10 1,564 0,167 1,731
101

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1978. Catalogue of Fishing Gear Design. FAO-UN. Fishing News (Books) Ltd.
London.
Anonim, 2007. Katalog Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Anonim, 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Ayodhyoa, A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Ben-Yami, M. 1994. Purse Seining Manual. Fishing News (Books) Ltd. London.
FAO. 1975. Catalogue of small scale fishing gear. Fishing News (Books) Ltd. London.
FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for Fishing Gear Designs. Fishing News (Books)
Ltd. London. 241 p.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Metode dan Teknik
Penangkapan. Jurusan PSP, Fakultas Perikanan IPB, Bogor.
Kristjonson, H. 1959. Modern Fishing Gear of the World. Vol 1. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1964. Modern Fishing Gear of the World. Vol 2. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1972. Modern Fishing Gear of the World. Vol 3. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Menon, T.R----. Hand Book on Tuna Long Lining. Central Institute of Fisheries, Nautical
and Engineering Training. Ministry of Agriculture and Irrigation. Government of India.
NOMURA. 1978. Fishing Techniques. I & 2. Japan International Cooperation Agency.
Tokyo.
NIELSEN, L. A. AND D. L. JOHNSON [eds.]. 1983. Fisheries Techniques. American
Fisheries Society, Bethesda, Maryland. 468 p.
Prichard, M. 1987. Lets Go Fishing. Octopus Books Limited. Hong Kong.
Sadhori, N. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Angkasa, Bandung. 182 hal.
Subani, W. dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia.
Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta.
Von Brandt, A. 1984. Fishing Catching Method of the World. 3
rd
Edition. Fishing news
(Books) Ltd. England



102

BAB 8. DISAIN SET NET
8.1 Pendahuluan
Sasaran pembelajaran : menjelaskan prinsip disain dan mendisain set net

8.2 Uraian Bahan Pembelajaran
Set net adalah alat penangkap ikan yang dipasang secara menetap pada suatu
daerah penangkapan ikan tertentu. Prinsip utama penangkapan ikan dengan set net adalah
menghadang pergerakan ikan dan menggiring memasuki kantong. Sebagai alat penangkap
ikan yang pasif, keberhasilannya sangat ditentukan oleh lokasi pemasangan atau daerah
penangkapan ikan. Daerah pemasangan set net adalah daerah yang merupakan jalur
migrasi ikan.
Pemasangan set net pada suatu perairan dapat berbeda antara satu daerah dengan
daerah lainnya, ada yang dipasang di dasar perairan dan ada pula yang dipasang mulai dari
dasar sampai permukaan perairan. Prinsip utama set net adalah menggiring ikan ke arah
kantong, oleh karena itu leader net mempunyai peran yang sangat penting.


Gambar 8.1. Set net
Keterangan :
1. Penaju
2. Daun pintu
3. Serambi
4. Jaring menaik
5. Kantong
6. Kantong
tambahan
7. Pelampung
8. Pemberat
103
A. Deskripsi Alat Tangkap Set net di Tanjung Palette
a. Bahan dan Material
Set net umumnya terdiri 4 elemen yang menyusun keseluruhan badan alat tangkap.
Keempat elemen itu terdiri : jaring, pelampung, tali temali, pemberat. Bahan yang paling
dominan yang menyusun alat tangkap ini adalah jaring. Salah satu ciri utama Set net yaitu
terdapatnya jarring menaik (Slope) yang sebagai pengarah ikan untuk menuju ke kantong
(Bag net). Untuk satu unit alat tangkap Set net tipe Jepang yang dipasang di perairan
Palette membutuhkan material seperti ditunjukkan pada Tabel 8.1.

Tabel 8.1. Bahan dan Material alat tangkap Set net di perairan Palette.
No Nama alat Jumlah Unit/satuan Keterangan
1 Set net tipe Otoshi Ami ukuran 27 x 110
meter dengan panjang leader net 270
meter
1 Set
2 Sand Bag berat 60 kg
- Penaju
- 2 Tali Utama

316
849

Set
Set

3 Pelampung pada frame rope
- Pelampung utama (200 liter)
- Pelampung besar frame rope
(20,70 liter)
- Pelampung kecil frame rope
(14,63 liter)
- Pelampung penahan frame rope
(31 liter)

2
201
21
27

Set
Set
Set
Set


4 Pelampung untuk kantong
- Pelampung besar (5,8 liter )
- Pelampung kecil (1,1 liter)

58
285

Set
Set

5 Tali Sand bag
- Pada Penaju
- Pada 2 Tali Utama

15
32

Set
Set

7 Selvedge
- PE Raschel Net 12,12-10 MD
Black
- PE Raschel Net 3,03-10 MD
Black
- PE Raschel Net 3,03-5 MD Black

2
2
2

Pcs
Pcs
Pcs

8 Cincin (Stainless Ring 13 x 100 mm) 49 Set




104
Sambungan Tabel 2.

Set net yang dioperasikan di tanjung Palette Kabupaten Bone terdiri 4 bagian
utama yaitu penaju (leader net), serambi (play ground), slope (jaring menaik) dan kantong
(bag net). Penaju untuk menghadang arah ruaya ikan kemudian ikan tergiring masuk
kedalam serambi setelah itu ikan akan mengarah ke daerah jaring menaik (slope)
kemudian masuk kekantong. Set net umumnya terdiri 4 elemen yang menyusun
keseluruhan badan alat tangkap. Keempat elemen itu terdiri: jaring, pelampung, tali temali,
pemberat. Bahan yang paling dominan yang menyusun alat tangkap ini adalah jaring.
Dari gambar 8.2 yang terlihat pada alat tangkap Set net di perairan tanjung Palette
Kabupaten Bone, memiliki ukuran panjang 2 Tali Utama yaitu 110 meter dan lebar 12,75
meter. Sementara Frame Rope penaju panjangnya 270 meter, lebar penahan Frame Rope
27 meter. Terdapat 8 macam jenis pelampung yang di gunakan, terdiri dari 2 pelampung
utama masing-masing 200 liter, pelampung besar Frame Rope dan pelampung kecil Frame
Rope yang masing-masing ukurannya 20,70 liter dan 14,63 liter, pelampung penahan
Frame Rope dengan volume 31 liter. Untuk jenis tali yang digunakan seperti yang
tercantum pada tabel 1 bahan dan material.
Pada gambar 8.2 juga memperlihatkan posisi sand bag yang diturunkan pada alat
tangkap Set net di tanjung Palette. Setiap sand bag berukuran 60 kg. Bulatan berwarna
hijau adalah sand bag yang penahan Frame Rope, Bulatan berwarna kuning adalah sand
9 Tali
1. PE ROPE
- Polyethylene 28 mm Black (170 m)
- Polyethylene 22 mm Black (200 m)
- Polyethylene 18 mm Black (200 m)
- Polyethylene 16 mm Black (243 m)
- Polyethylene 14 mm Black 141 m
- Polyethylene 8 mm Black 150 m
2. PP ROPE
- Spun Nylon Twine 105/24 Black
- Spun Nylon Twine 105/30 Black
- Spun Nylon Twine 105/36 Black
- Spun Nylon Twine 105/45 Black
- Spun Nylon Twine 105/75 Black
- Spun Nylon Twine 105/90 Black


1
9
9
2
6
2

20
20
20
20
50
180


Coil
Coil
Coil
Coil
Coil
Coil

Spool
Spool
Spool
Spool
Spool
Spool



10 Pemberat
- Sinker 670g/mtr rope 225 gram
- Sinker 430g/mtr rope 225 gram
- Sinker 300g/mtr rope 225 gram
- Sinker 500g/mtr rope 225 gram

1
1
1
1

Unit
Unit
Unit
Unit

105
bag yang penahan jaring, sedangkan bulatan berwarna biru adalah sand bag penegak frame
rope. Fungsi utama sand bag adalah sebagai pengganti jangkar dengan model cakar ayam
menarik tali sand bag sehingga dapat menegangkan dan menahan tali frame rope.
Bagian penaju (leader net) Set net di tanjung Palette terdiri dari penaju utama dan penaju
tambahan. Penaju sebagai pengarah ikan untuk masuk ke serambi. Tali yang digunakan
polyethylene diameter 16 mm dengan panjang penaju utama 232,5 meter dan penaju
tambahan ukurannya panjang 37,5 meter. Panjang jaring yang digunakan yaitu 360 meter,
tipe jaring adalah polyethylene mesh size 24,24 cm dan kedalaman 100 mata. Terdapat
tambahan jaring mesh size 6,35 cm dan kedalaman 100 mata. Jumlah cincin pada penaju
terdapat 7 cincin dan pemberat sebanyak 541 pemberat. Panjang penaju tergantung dari
kondisi lokasi daerah pemasangan, dimana pada prinsipnya dapat menghadang pergerakan
ikan yang beruaya. Oleh karena itu posisi penaju seharusnya dapat mengcover jalur
migrasi ikan-ikan yang ada di daerah pemasangan set net.
Pada serambi (play ground), yang sebagai tempat penampungan ikan sementara
sebelum masuk ke kantong, terdiri 6 macam jenis pomotongan jaring yang digunakan.
Jenis jaring polyprophylene dengan panjang jaring 38,25 m dan mesh size 12,12 cm.
Sementara untuk tali yang digunakan 25,5 K atau 38,25 meter. Jumlah pemberat yang
digunakan terdapat 53 pemberat. Untuk cincin yang digunakan yaitu jumlahnya 21 cincin
yang terdapat pada pintu masuk dan digunakan sebanyak 53 pemberat.
Pada bagian kantong (bag net), terdiri 6 macam jenis pomotongan jaring yang
digunakan. Panjang jaring 42 meter dan mesh size 3,03 cm dengan jenis jaring teteron
raschel net 3,03 mata. Kedalaman jaring yaitu 11,8 meter dengan lebar kantong bagian
dalam 7,1 meter dan bagian luar 7,4 meter. Khusus untuk pelampung terdapat 2 jenis
pelampung yang digunakan yaitu pelampung besar (5,8 liter ) pelampung kecil (1,1 liter).
Fungsi kantong adalah sebagai tempat ikan yang nantinya akan ditangkap pada saat
hauling.
Untuk bagian slope, panjang jaring 12,75 meter dan mesh size 6,35 cm. Panjang tali
9 meter dan diameter 14 mm. Slope terdiri 2 bagian yaitu slope luar dan slope dalam. Pada
bagian slope dalam jumlah pemberat sebanyak 46 pemberat dan slope luar sebanyak 61
pemberat. Slope sebagai penagarah ikan untuk masuk ke kantong dan memungkinkan ikan
tidak akan kembali ke serambi.



106















Gambar 8.2. Set net di Teluk Bone (Asrul
Untuk kepentingan disain, gambar 8.2 di atas harus dipilah per bagian, yaitu :
penaju, serambi dan kantong. Pada bagian penaju dan serambi, jarring di pasang sampai
ke dasar perairan. Supaya pelampung tidak tenggelam, atau pemberat terangkat pada saat
air laut pasang naik, kedalaman perairan ditetapkan pada saat air pasang naik tertinggi.
Kantong set net dapat dirancang lebih dari satu, yang pada prinsipnya mempermudah
pengambilan hasil tangkapan dan mempekecil peluang ikan melarikan diri dari kantong.
Kantong didisain untuk dapat diangkat pada saat pengambilan hasil tangkapan. Dimensi
kantong terdiri dari dinding dan lantai. Ukuran mata jarring pada kantong disesuaikan
dengan jenis ikan yang menjadi target tangkapan dan ikan tidak terjerat pada jarring.
Semua bagian jarring pada set net hanya berfungsi sebagai dinding sehingga S (sortening)
yang digunakan pada saat bukaan mata jarring maksimum yaitu 29,3 % tetapi untuk
memudahkan konstruksi disarankan dibulatkan menjadi 30 %.
Play gound (serambi) di disain sampai di dasar perairan yang berfungsi mengurung
dan mengarahkan ikan ke arah kantong. Bagian bawah serambi adalah dasar perairan.
Untuk mengarahkan ikan dari dasar di buat jarring menaik, didisain dari dasar perairan
sampai jarring dasar kantong. Untuk lebih jelasnya diuraikan pada bagian berikut.
Bagian - Bagian Set net
1) Penaju
107
Penaju atau penuju adalah bagian dari Set net yang bentuknya menyerupai pagar.
Dalam bahasa Jepang, penaju disebut dengan kaki ami atau disebut juga dengan sebutan
michi ami atau kaki dashi, sedangkan dalam bahasa Inggris diartikan sebagai lead net,
leader net, guiding barier atau fence. Bentuk dari penaju umumnya hampir menyerupai
bentuk Gill net yang fungsinya adalah untuk menghadang dan mengarahkan atau
menuntun gerombolan ikan supaya mau menuju kearah jaring utama (Martasuganda,
2005).
Pemasangan penaju yang baik adalah dipasang secara lurus atau tidak terbelok
belok dan harus betul-betul dapat menghadang ruaya ikan supaya gerombolan ikan mau
menuju kearah jaring utama. Pemasangan penaju disesuaikan dengan jenis Set net, daerah
penangkapan, jenis ikan yang menjadi target tangkapan, dan jarak jaring utama dengan
garis pantai. Tinggi jaring penaju harus disesuaikan dengan kedalaman perairan yang
akan dilewati penaju, sebagai patokan tinggi jaring penaju disamakan dengan kedalaman
pada saat pasang tertinggi (Martasuganda, 2005).
Panjang jaring penaju tergantung dari jarak jaring utama ke garis pantai, semakin
jauh jarak jaring utama ke garis pantai atau semakin landai dasar perairan, maka akan
semakin panjang penaju yang akan dipasang. Jarak jaring utama atau penempatan jaring
utama dari garis pantai tergantung dari kedalaman perairan (isodepth ). Semakin landai
dasar perairan atau jarak garis isodepth satu dan lainnya semakin jauh, maka pemasangan
jaring utama akan semakin jauh dan kalau sebaliknya atau jarak garis isodepth satu dan
yang lainnya semakin berdekatan, maka pemasangan jaring utama akan semakin dekat
dari garis pantai (Martasuganda, 2005).
Pemasangan jaring utama dari garis pantai ada yang mencapai 4500 m, jarak ini
sama dengan panjang penaju yang harus dipasang. Ukuran mata jaring (mesh size) dari
penaju harus disesuaikan dengan musim, jenis ikan, ukuran ikan yang akan dijadikan
target tangkapan. Mesh size penaju untuk tujuan penangkapan ikan yang berukuran
besar, maka mesh size penaju akan lebih besar. Bahan jaring untuk penaju harus terbuat
dari bahan alami seperti ijuk, manila rope, straw dan ada juga yang tebuat dari sintetik
seperti saran, nylon, cremona, vinylon dan lainnya. Besar diameter benang yang dipakai
dalam pembuatan penaju berkisar antara 10-12 mm. baik buruknya pemasangan penaju
akan berpengaruh terhadap baik buruknya hasil tangkapan (Martasuganda, 2005).

2) Daun pintu
108
Daun pintu atau dapat juga disebut dengan sayap pintu, dalam bahasa Jepang
disebut Soji ami atau Ha guchi sedangkan dalam bahasa Inggris diartikan sebagai winkers.
Fungsi dari daun pintu atau sayap pintu adalah untuk mencegah atau mempersulit
gerombolan ikan yang telah masuk kedalam serambi supaya tidak mudah untuk keluar
lagi. Dengan demikian gerombolan ikan diharapkan dapat mengarah ke bagian kantong.
Daun pintu yang berhubungan atau yang menyatu dengan jaring serambi bagian darat
disebut dengan daun pintu bagian serambi yang berhubungan atau yang menyatu dengan
ujung jaring menaik bagian luar disebut dengan daun pintu bagian jaring menaik
(Martasuganda, 2005).
Panjang daun pintu berkisar antara 0.3-0.5 kali kedalaman pada pintu masuk.
Sudut yang dibentuk antara garis vertikal dan daun pintu berkisar antara 15
o
sampai 30
o
.
Besarnya mata jaring (mesh size) yang dipakai umumnya sama dengan besarnya mesh
size yang dipakai dalam mesh size serambi. Besarnya mesh size pintu yang dipakai
untuk tujuan penangkapan ikan yellow tail berkisar antara 15.0-18.0 cm dengan hang-in
ratio berkisar antara 0.3-0.4, untuk tujuan penangkapan ikan jenis lain disesuaikan
dengan jenis ikan tersebut (Martasuganda, 2005).

3) Serambi
Serambi dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai jaring pengurung
sedangkan didalam bahasa Jepang disebut dengan Undojo atau Kakoi ami, dalam bahasa
Inggris disebut dengan play ground, Enclouser, Impounding net, Box net, Heart atau
Trap. Bagian dasar dari bagian serambi ada yang dilengkapi dengan jaring yang disebut
dengan jaring serambi bagian dasar dan ada juga yang tidak dilengkapi dengan jaring,
tetapi pada umumnya tidak dilengkapi jaring (Martasuganda, 2005).
Fungsi dari serambi adalah sebagai penampungan sementara sebelum ikan atau
gerombolan ikan diarahkan untuk memasuki jaring bagian kantong. Ukuran dari luasan
serambi akan berbeda menurut jenis dan skala Set net yang digunakan, pada umumnya
semakin besar luasan serambi, gerombolan ikan akan semakin bertambah lama berada
dalam serambi. Semakin bertambah lama gerombolan ikan berada dalam serambi, maka
akan semakin besar pula kemungkinan gerombolan ikan untuk menuju kearah jaring
menaik yang selanjutnya diharapkan akan memasuki jaring bagian kantong
(Martasuganda, 2005).
Luasan dari serambi disesuaikan dengan jenis Set net, kedalaman perairan dan
jenis ikan yang akan dijadikan target tangkapan, tetapi pada umumnya luas serambi dibuat
109
sama dengan hasil kuadrat dari kedalaman dimana Set net terpasang, sedangkan untuk
panjang dari tiap bagian jaring serambi berbeda satu dan lainnya. Kalau kedalaman
dipintu masuk (ym) di jadikan sebagai patokan dasar, maka panjang jaring bagian
serambi sama dengan ym, untuk jaring serambi bagiam laut dan jaring serambi bagian
darat panjangnya berkisar antara 1.0-1.4 kali (ym) dan untuk serambi bagian ujung
berkisar antara 1.0-1.5 kali (ym). Bahan jaring yang dipakai pada jaring bagian serambi
umumnya terbuat dari bahan sintetik seperti saran dan benang sintetik lainnya
(Martasuganda, 2005).

4) Jaring Menaik
Jaring menaik dalam bahasa Jepang, disebut dengan nobori ami, dalam bahasa
Inggris diartikan sebagai ramp, funnel, asending slop net atau climb way. Jaring menaik
terdiri dari dua bagian yaitu jaring menaik yang ada dibagian luar dari kantong yang
disebut dengan jaring menaik bagian luar dan jaring menaik bagian dalam. Jaring menaik
bagian dalam merupakan lanjutan dari jaring menaik bagian luar (Martasuganda, 2005).
Fungsi jaring menaik adalah untuk mengarahkan ikan yang telah berada dibagian serambi
ke bagian kantong dan untuk lebih mempersulit ikan supaya tidak meloloskan diri lagi
dari jaring bagian kantong. Panjang jaring menaik bagian luar dan bagian dalam berkisar
antara 1.4-1.9 kali kedalaman pada pintu masuk, sudut kemiringan dari jaring menaik
bagian luar berkisar antar 16- 22
o
. Ketinggian jaring menaik bagian luar yang paling ujung
berkisar antara 0.3-0.4 kali kedalaman pada pintu masuk. Bahan jaring yang umum
dipakai pada jaring menaik bagian dalam dan luar, terbuat dari bahan sintetik seperti saran
atau benang sintetik lainnya (Martasuganda, 2005).

5) Kantong
Kantong dalam perikanan Set net adalah bagian akhir dari alat tangkap Set net
yang merupakan bagian tempat penampungan ikan atau gerombolan ikan yang memasuki
Set net dan sekaligus merupakan tempat pengambilan hasil tangkapan. Kantong dalam
bahasa Jepang, disebut dengan Hako ami atau disebut juga dengan sebutan Fukuro ami
yang artinya jaring kantong atau disebut juga dengan sebutan Uo dori yang artinya
tempat pengambilan ikan, sedangkan dalam bahasa Inggris, diartikan sebagai Bag net,
Kip, Bunt, Cod end, Crimb atau Main net of Set net (Martasuganda, 2005).
Untuk menampung ikan pada bagian kantong diperlukan jaring yang kuat, untuk itu bahan
jaring pada bagian kantong umumnya memakai benang sintetik seperti saran atau benang
110
sintetik lainnya dengan nomor benang 1000 D/28-36, jaringnya dirangkap atau memakai
mata jaring yang kecil dengan nomor benang yang besar. Tinggi jaring bagian kantong
setelah hang-in ratio kurang lebih 0.85-0.90 kali kedalaman dibagian kantong
(Martasuganda, 2005).

6) Kantong Tambahan
Kantong tambahan pada Set net umumnya dipasang pada salah satu bagian atau
dibeberapa tempat pada bagin jaring kantong utama, baik itu dibagian ujung, atau pada
bagian pangkal kantong utama. Bentuk dari jaring kantong tambahan ada bermacam-
macam, ada yang berbentuk kerucut, persegi atau dalam bentuk lain. Bagian kantong
tambahan umumnya dilengkapi dengan jaring penutup pada bagian atas. Jenis Set net
yang dilengkapi dengan Set net whith trap net. Ukuran dari jaring kantong tambahan
bermacam macam umumnya disesuaikan dengan jenis ikan yang akan dijadikan target
tangkapan. Ukuran kantong tambahan 0.5 kali dari ukuran kantong utama setela hang-in
ratio (Martasuganda, 2005).
Selanjutnya ditambahkan bahwa fungsi atau alasan pemasangan kantong tambahan
diantaranya adalah:
1) Untuk mencegah supaya ikan tidak keluar dari kantong utama,
2) Pada waktu kondisi perairan tidak mendukung untuk melakukan pengambilan hasil
tangkapan dari kantong utama, pengambilan ikan dari kantong tambahan masih dapat
dilakukan, dan
3) Untuk memprediksi keberadaan, jenis dan jumlah ikan yang ada dalam kantong utama
sebelum dilakukan pengangkatan kantong utama (Martasuganda, 2005).

Evaluasi Alat Tangkap Set Net di Teluk Bone.
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan TUMSAT JICA
memasang alat tangkap Set Net di perairan Teluk Bone. Target spasies alat tangkap
tersebut adalah ikan-ikan pelagis besar. Di Jepang dan Thailand alat tangkap ini berhasil
dengan baik tetapi di Teluk Bone sampai saat ini belum memberikan hasil yang
menggembirakan dimana hasil tangkapannya didominasi oleh ikan pelagis kecil dan dalam
jumlah kecil pula. Oleh karena diperlukan evaluasi dari berbagai aspek terutama dalam
rangka pengembangannya ke depan.
a. Diskripsi Alat Tangkap Set Net
111
Set net atau sero jaring adalah sejenis alat tangkap ikan bersifat menetap dan
berfungsi sebagai perangkap ikan dan biasanya dioperasikan diperairan pantai. Ikan-ikan
umumnya memiliki sifat beruaya menyusuri pantai, pada saat melakukan ruaya ini
kemudian dihadang oleh jaring Set net kemudian ikan tersebut tergiring masuk ke dalam
kantong. Ikan yang telah masuk ke dalam kantong umumnya akan mengalami kesulitan
untuk keluar lagi sehingga ikan tersebut akan mudah di tangkap dengan cara mengangkat
jaring kantong. (Wudianto, 2007).
Set net adalah alat tangkap yang dipasang atau diset secara menetap didaerah
penangkapan (fishing ground). Pemasangan Set net di daerah penangkapan akan berbeda
satu dengan yang lainnya, ada yang diset di dasar perairan dan ada juga yang diset mulai
dari permukaan perairan sampai menyentuh dasar perairan. Perbedaan pemasangan ini
tergantung dari jenis ikan yang dijadikan target tangkapan, dan daerah penangkapan
dimana Set net akan dipasang. Lamanya pemasangan Set net didaerah penangkapan
umumnya disesuaikan dengan lamanya musim dari satu atau beberapa spesies ikan yang
beruaya ketempat dimana Set net dipasang. Ikan yang memasuki Set net umumnya adalah
ikan atau gerombolan ikan yang sedang melakukan migrasi, seperti migrasi untuk mencari
makan (feeding migration), migrasi untuk memijah (spawning migration) atau migrasi
lainnya (Martasuganda, 2005).
Set net yang dioperasikan di tanjung Palette Kabupaten Bone terdiri 4 bagian
utama yaitu penaju (leader net), serambi (play ground), slope (jaring menaik) dan kantong
(bag net). Penaju untuk menghadang arah ruaya ikan kemudian ikan tergiring masuk
kedalam serambi setelah itu ikan akan mengarah ke daerah jaring menaik (slope)
kemudian masuk kekantong. Kantong adalah bagian akhir dari alat tangkap set net dan
merupakan tempat pengambilan hasil tangkapan, maka diperlukan jaring yang kuat, mesh
size jaringnya 1 inci atau 2,5 cm. Set net umumnya terdiri 4 elemen yang menyusun
keseluruhan badan alat tangkap. Keempat elemen itu terdiri: jaring, pelampung, tali temali,
pemberat. Bahan yang paling dominan yang menyusun alat tangkap ini adalah jaring.
Pemasangan Set net di daerah penangkapan harus betul-betul di pasang di tempat
yang sebelumnya sudah dilakukan penelitian tentang keberadaan dan arah ruaya dari satu
atau beberapa jenis ikan. Keberadaan satu atau beberapa jenis ikan dan arah ruaya ikan
dari tiap jenis ikan merupakan faktor penentu utama yang akan menentukan keberhasilan
usaha penangkapan dengan Set net. Jenis ruaya ikan dalam sistim perikanan Set net
dibedakan ke dalam dua jenis yaitu ruaya utama dan ruaya cabang. Ruaya utama adalah
perairan yang dilewati oleh gerombolan ikan yang jaraknya biasanya jauh dari perairan
112
pantai, sedangkan ruaya cabang adalah perairan yang dilewati gerombolan ikan yang
keluar dari ruaya utama menuju ke perairan pantai (Martasuganda, 2005).
Set net adalah alat tangkap yang metode pengoperasiannya pasif (menetap) dan di
pasang di daerah pantai. Alat tangkap ini berasal dari Jepang yang telah dikembangkan
ratusan tahun yang lalu. Alat tangkap Set net dirancang dengan memanfaatkan tingkah
laku ikan yang umumnya memiliki sifat beruaya menyusuri pantai, pada saat melakukan
ruaya ini kemudian dihadang oleh jaring Set net sehingga ikan tersebut tergiring masuk
kedalam kantong. Ikan yang telah masuk kedalam kantong umumunya akan kesulitan
untuk keluar sehingga ikan tersebut mudah untuk ditangkap dengan mengangkat jaring
kantong.
Tahap uji coba dan pengembangan Set net tipe Jepang di Teluk Bone, merupakan
yang kedua setelah di negara Thailand. Namun jika dibandingkan di Jepang dan Thailand
hasil tangkapannya ikan pelagis besar dan dalam jumlah besar, hal tersebut disebabkan
bahwa di Jepang adalah daerah Sub Tropis yang keadaan iklim berbeda dengan Indonesia.
Di Jepang keadaan organisme variasi jenis (biodversity) sedikit tapi jumlahnya besar,
sedangkan di Indonesia sebaliknya variasi jenis banyak tapi jumlahnya setiap individu
sedikit. Faktor penyebab yang lain adalah Di Jepang target skala usaha atau target
industri dengan set net panjang jaring 4 km dan teknologi yang modern serta tenaga
instruktur yang lebih berpengalaman (profesional), sehingga kemungkinan kesalahan
sangat kecil. Sedangkan yang diperasikan di Teluk Bone panjang jaring hanya 235 m
dengan tenaga manusia yang yang belum berpengalaman. (manual), sehingga resiko
kegagalan sangat tinggi.

b. Kondisi Oseanografi dan Biologi Perairan
Untuk permasalah set net tersebut ditinjau dengan 2 aspek adalah sebagai berikut :
1. Aspek Oseanografi
Faktor oseanografi yang harus diperhatikan untuk pemasangan Set net diantaranya;
kedalaman, arus, gelombang dan dasar perairan. Gelombang yang maksimal dapat
ditolerir selama Set net terpasang di perairan adalah 2.0 meter, sedangkan mulai pada
ketinggian 5.0 meter jaring akan mulai terbawa arus. Dasar perairan yang baik untuk
pemasangan alat tangkap Set net adalah dasar perairan yang berlumpur, berpasir atau
berpasir bercampur kerang-kerangan. Kemiringan dasar perairan yang baik adalah dasar
perairan yang mempunyai kemiringan 10
0
-25
0
dan yang mempunyai garis kedalaman
(isodepth) yang mengumpul atau padat (Martasuganda, 2005).
113
Karakteristik fisik laut sangat menentukan operasi penangkapan Set net. Adanya
kekuatan arus yang besar dapat menyebabkan kesulitan pada saat hauling. Kekuatan
maximum arus untuk suksesnya hauling pada Set net tipe otoshi ami yaitu antara kisaran
0.4 mil/ jam - 0.6 mil/ jam. Fishing ground Set net hendaknya pada daerah yang memiliki
kecepatan angin sedang, dan pada karang tidak cocok untuk pemasangan Set net karena hal
tersebut dapat merusak jaring (Sudirman et al, 2000).
Menurut Sudirman et al (2000), pemasangan alat tangkap Set net pada fishing
ground yang dekat dengan mulut pantai yang dalam dan memiliki arus laut yang memutar
masuk dan keluar dari pantai (coastal isobath), lebih lanjut dikatakan bahwa ikan-ikan
bermigrasi mengikuti arah arus yang memutar sebagai rute ikan, dan pada daerah pantai
dengan garis isobath menjadi tempat ikan terkumpul didaerah tersebut.
Jika dikaitkan dengan hasil tangkapan bahwa ikan bereaksi secara langsung
terhadap perubahan lingkungan yang dipengaruhi oleh arus dengan mengarahkan dirinya
secara langsung pada arus. Menurut pendapat Reddy (1993) bahwa arus tampak jelas
dalam organ mechanoreceptor yang terletak garis mendatar pada tubuh ikan.
Mechanoreceptor adalah reseptor yang ada pada organisme yang mampu memberikan
informasi perubahan mekanis dalam lingkungan seperti gerakan, tegangan atau tekanan.
Biasanya gerakan ikan selalu mengarah menuju arus. Dengan demikian arus yang
mengarah ke penaju kemudian terhalang oleh penaju selanjutnya penaju mengarahkan ikan
masuk ke serambi.
Untuk daerah penangkapan yang mempunyai kedalaman maksimal 27 meter, Set
net yang digunakan sebaiknya skala kecil atau skala menengah, sedangkan Set net yang
kedalamannya di atas 27 m sebaiknya skala besar. Untuk kedalaman Perairan yang ada di
tanjung Palette yang menjadi lokasi pemasangan alat tangkap Set net disesuiakan dengan
dalamnya bagian-bagian set net. Kedalaman maksimal pada alat tangkap Set net yang
dioperasikan di perairan Tanjung Palette adalah 13 meter yaitu didapatkan pada titik
penahan tengah frame rope 2 tali utama pada saat pasang tertinggi. Sementara untuk
kedalaman terendah didapatkan di posisi bagian Set net ujung penaju tambahan dengan
kedalaman 11.3 meter.
Suhu laut merupakan salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan
organisme di lautan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas metabolisme maupun
perkembangbiakan dari orgaisme-organisme tersebut . Tiap spsies ikan membutuhkan
suhu optimum, karena perubahan suhu berpengaruh pada proses metabolisme, sehingga
mempengaruhi aktivitas ikan dalam mencari makan dan pertumbuhan ikan muda
114
(Brotowidjoyo, dkk., 1995). Dari hasil penelitian Mahareni (2008) didapatkan kisaran
suhu pada perairan pantai tanjung Palette Bone 27
o
C -29
o
C. Pada kondisi suhu tersebut
sesuai dengan suhu optimun ikan peperek, selar dan ekor kuning jenis ikan tersebut yang
dominan tertangkap.
Pada suhu perairan di lokasi pemasangan Set net relative stabil. Jika dikaitkan
dengan peta sebaran suhu permukaan laut di teluk Bone, lokasi pemasangan Set net
menunjang untuk daerah penagkapan ikan. dengan kondisi suhu permukaan laut yang
menunjang maka di lokasi pemasangan hanya didapatkan jenis ikan tertentu yang
tertangkap.
Berdasarkan uraian diatas dari beberapa faktor oseanografi dilokasi layak untuk
pemasangan alat tangkap set net (Muslim; Muhreni; Yasir, 2008).

2. Kondisi Biologi Perairan
Clhorofil-a merupakan salah satu parameter yang sangat menentukan produktivitas
primer di laut. Sebaran dan tinggi rendahnya konsentrasi clhorofil-a sangat terkait dengan
kondisi oseanografis suatu perairan. Beberapa parameter fisika-kimia yang mengontrol dan
mempengaruhi sebaran chorofil-a, adalah intensitas cahaya, nutrien (terutama nitrat, fosfat
dan silikat). Perbedaan parameter fisika-kimia tersebut secara langsung merupakan
penyebab bervariasinya produktivitas primer di beberapa tempat di laut.
Masukan zat hara yang lain adalah dari daratan melalui sungai-sungai yang
bermuara ke tanjung Palette. Namun hal tersebut tidak berpengaruh banyak untuk hasil
tangkapan karena lokasi pemasangan Set net berada dilokasi yang dekat dari garis pantai
tanjung Palette Kabupaten Bone yang diketahui lokasi yang dekat dengan garis pantai
sudah banyak tercemar dengan buangan sisa Bahan Bakar Minyak dan sampah. Faktor lain
kurangnya kandungan Cholorofil-a adalah karena kondisi lokasi pemasangan Set net tidak
kaya akan sumber makanan ikan disebabkan dasar perairan yang berlumpur dan minimnya
karang yang tumbuh dilokasi tersebut sehingga menyebabkan populasi ikan sedikit yang
hidup dilokasi tersebut (Muslim, 2008).
Hasil tangkapan Set net umumnya adalah jenis ikan atau gerombolan ikan yang
sedang melakukan migrasi, seperti migrasi untuk mencari ikan (feeding migration),
migrasi untuk memijah (spawning migration) atau migrasi lainnya. Ikan yang memasuki
Set net ada yang bermigrasi secara soliter, aggregation atau migrasi secara bergerombol
dalam bentuk school atau dalam bentuk pood, seperti ikan tongkol, tuna, layang, selar,
kembung, kuwe dan ikan ekonomis penting lainnya. Dari ikan-ikan tersebut menjadi target
115
hasil tangkapan Set net.. Namun kenyataannya hasil tangkapan yang paling dominan
adalah ikan Peperek (Gazza spp),ikan Selar (Selaroides leptolepis), ikan Biji Nangka
(Mullidae) ikan Tembang (Clupeidae), ikan Alu-alu (Sphyraenidae) (Muhreni, 2008).
Kecenderungan jenis tangkapan pada setiap fasenya didominasi oleh ikan pelagis
seperti ikan selar kuning (Selaroides leptolepis), ikan peperek (Gazza spp), ikan tembang
(Sardinella fimbriata) diduga karena merupakan penghuni tetap perairan tersebut dan
memiliki sifat ekologi yang bergerombol dan habitat utamanya perairan pantai yang kaya
akan plankton sebagai bahan makanannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nicolsky
(1959) dalam Surachmad (2004) mengatakan bahwa tersedianya jenis makanan tertentu di
dekat pantai, merupakan salah satu faktor yang menyebabkan banyak jenis ikan yang
melakukan ruaya ke tempat tersebut.
Jika dikaitkan dengan biologi populasi maka ada beberapa hal yang terkait dengan
permasalahan yang dihadapi pengoperasian set net di Teluk Bone adalah sebagai berikut :
Salah satu faktor yang menyebabkan belum optimalnya penangkapan set net dan
hanya menangkap ikan pelagis kecil dan jumlah yang sedikt di Teluk Bone adalah arah
ruaya ikan, dimana pada daerah penangkapan (fishing ground) sebagai tempat pemasangan
set net dekat dengan pantai sekitar 1,5 mil dengan kedalaman sekitar 13 m, sehingga
diduga daerah tersebut adalah daerah ruaya ikan-ikan pelagis kecil dan bukan merupakan
daerah ruaya ikan-ikan pelagis besar, sehingga ikan-ikan yang tertangkap hanya ikan
pelagis kecil. Sedangkan dari segi jumlah ikan yang tertangkap juga sedikit, hal tersebut
diduga terjadi persaingan dengan alat tangkap lain yang ada disekitarnya. Alat tangkap
tersebut yaitu (Sero), Floating Lift Net (Bagan Rambo), Stationery Lift Net (Bagan
Tancap), Purse Seine (Gae), Hand Line, Long Line dan Gill Net (Jaring insang). Terutama
jenis alat tangkap bagan Rambo dan Puerse Saine yang mana pengoperasiannya
menggunakan alat bantu lampu, dimana tingkah laku ikan-ikan pelagis cenderung tertarik
dengan cahaya (pototaksis positif).
Berdasarkan uraian diatas ada kecenderungan bahwa sumberdaya ikan di daerah
penangkapan tidak dilakukan survey sebelum pemasangan alat tangkap set net, sehingga
ikan yang tertangkap jumlahnya sedikit karena sumberdaya ikan di daerah penangkapan
sedikit. Padahal keberadaan satu atau beberapa jenis ikan dan arah ruaya ikan dari tiap
jenis ikan merupakan faktor penentu utama yang akan menentukan keberhasilan usaha
penangkapan dengan Set net. Mengingat alat tangkap ini bersifat menetap (stationary) dan
berfungsi sebagai perangkap (trap) bagi ikan-ikan yang melakukan gerakan ke pantai.
116
sehingga apabilah di daerah penangkapan (fishing ground) hanya ikan-ikan kecil yang
lewat maka ikan-ikan itulah yang dapat terperangkap.
Ukuran ikan yang tertangkap kecil merupakan salah satu indikator disamping
sumberdaya ikan kurang juga ukuran mata jaring dikantong kecil (1 inchi) sehingga ikan-
ikan yang tertangkap berukuran kecil, karena tidak bisa meloloskan diri. Kantong
merupakan bagian akhir dari alat tangkap Set Net, sebagai tempat penampungan
gerombolan ikan yang memasuki Set Net dan sekaligus tempat pengambilan hasil
tangkapan.
Jika dikaitkan dengan dinamika populasi bahwa ikan-ikan kecil yang tertangkap
akan menghambat recruitmen populasi karena ikan-ikan tersebut belum matang gonad atau
belum melakukan reproduksi sudah tertangkap, sehingga mengganggu keseimbangan
populasi. Sejumlah faktor yang mempengaruhi reckruitmen termasuk ukuran stock
dewasa, faktor lingkungan, predasi dan kompetisi.
Faktor lain yang menyebabkan kurangnya populasi ikan yang hidup di lokasi
pemasangan set net di tanjung Palette Kabupaten Bone adalah diduga adanya bahan
pencemar dari buangan sisa Bahan Bakar Minyak dan sampah dipantai. Faktor lain
kurangnya kandungan Cholorofil-a adalah karena kondisi lokasi pemasangan Set net tidak
kaya akan sumber makanan ikan disebabkan dasar perairan yang berlumpur dan minimnya
karang yang tumbuh dilokasi karena lokasi pemasangan yang tidak jauh dengan garis
pantai dan karang sudah banyak yang rusak dan tercemar.(Muslim, 2008). Hal tersebut
merupakan salah satu kendala utama di lokasi pemasangan untuk menunjang populasi
ikan.

11.3 Penutup
Buat disain set net dengan kondisi perairan sebagai berikut : kedalaman perairan 20
m, panjang penaju 250 m, target utama ikan cakalang, kecepatan arus maksimum 5 knot.
Gunakan bahan jarring PE untuk penaju dan PA untuk bagian lainnya.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1978. Catalogue of Fishing Gear Design. FAO-UN. Fishing News (Books) Ltd.
London.
Anonim, 2007. Katalog Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
117
FAO. 1975. Catalogue of small scale fishing gear. Fishing News (Books) Ltd. London.
FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for Fishing Gear Designs. Fishing News (Books)
Ltd. London. 241 p.
Martasuganda, S. 2005. Set net (Teichi Ami) ; Serial Teknologi Penagkapan Ikan
Berwawasan Lingkungan. Departemen PSP FPIK. IPB Bogor.
Menon, T.R----. Hand Book on Tuna Long Lining. Central Institute of Fisheries, Nautical
and Engineering Training. Ministry of Agriculture and Irrigation. Government of India.
Muslim, A. 2008. Studi Bio-Fisik Lokasi Pemasangan Set Net (Teichi Ami) Di Perairan
Tanjung Palette Kabupaten Bone. Sikripsi. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya
Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UNHAS. Tidak Dipublikasikan.
Muhraeni. 2008. Hubungan Beberapa Parameter Oseanografi Dengan Komposisi Dan
Jumlah Hasil Tangkapan Pada Alat Tangkap Set Net (Teichi Ami) Di Perairan Tanjung
Pallette Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Sikripsi. Program Studi Pemanfaatan
Sumberdaya Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UNHAS. Tidak
Dipublikasikan.
NOMURA. 1978. Fishing Techniques. I & 2. Japan International Cooperation Agency.
Tokyo.
Von Brandt, A. 1984. Fishing Catching Method of the World. 3
rd
Edition. Fishing news
(Books) Ltd. England



118

BAB 9. DISAIN FYKE NET
9.1 Pendahuluan
Sasaran pembelajaran : menjelaskan prinsip disain dan mendisain fyke net

9.2 Uraian Bahan Pembelajaran
Fyke net adalah jaring yang dibuat sebagai perangkap dengan tujuan utama ikan-
ikan di perairan yang agak dangkal terutama di perairan tawar (sungai, rawa, kolam,
danau). Dalam pengoperasiannya, fyke net dapat disambung beberapa buah untuk
menghadang arah pergerakan ikan.
Fyke-net adalah alat tangkap sejenis bubu namun konstruksinya bersusun. Di luar
negeri alat ini umumnya digunakan di sungai , dan danau untuk menangkap ikan yang
beruaya (Gebhards 1979; v. Brandt, A. 1984; Sainsbury, 1990 ; Schneider and Merna
2000). Di Eropa fyke net banyak digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan sidat
(Anguilla anguilla) di lagun (Mallawa, 1987).
Secara umum alat tangkap fyke net terdiri atas dua bagian yang saling terpisah,
yaitu : le paradiere, leading net atau penaju, selembar jaring yang dipasang tegak lurus
ke pantai dan terentang secara vertikal di dalam air oleh bantuan tiang yang ditancapkan ke
dasar perairan, membawa ikan berenang menelusurinya atau menuju ke lingkaran jaring
(tour, play ground, serambi), dan le tour atau serambi yang terbentuk oleh tiga kantong
berbentuk silinder yang dihubungkan satu sama lain membentuk sudut segitiga di mana
posisi tegak jaring dalam perairan didukung oleh tiang yang ditancapkan ke dasar perairan,
bahan jaring terbuat dari benang polyamide.
Ditinjau dari konstruksinya, fyke net ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan
alat tangkap ikan karang lainnya, yaitu konstruksi yang bersusun membuat ikan yang telah
masuk sulit untuk keluar, ikan dapat diseleksi berdasarkan ukurannya pada tiap
kompartmen sehingga tidak terjadi saling pemangsaan selama perendaman alat dan
mampu menangkap ikan dalam jumlah yang relatif lebih banyak. Selain itu
kemampuannya menghasilkan tangkapan yang masih hidup membuat nelayan dapat
menentukan sendiri pemanfaatan lanjutan ikan tersebut, apakah akan digunakan sebagai
induk di balai pembenihan, dijual ke pasar untuk konsumsi, ditangkarkan dikeramba
hingga mencapai ukuran pasar atau dilepaskan kembali ke perairan. Hal inilah yang
membuat alat ini ramah lingkungan. Kelebihan lainnya adalah fyke net tidak dioperasikan
di atas terumbu karang melainkan dioperasikan secara menetap di paparan berpasir di luar
119
tubir karang sehingga alat ini dapat dipastikan tidak membentur karang sehingga tidak
merusak terumbu karang (Assir dan Soadiq, 2009)

Aturan desain fyke net
1. Tentukan diameter lingkaran I 2/3 dalam air (max 2,5 m)
2. Tentukan ukuran mata jaring & ukuran benang sesuaikan dengan ikan target
3. Tentukan diameter lingkaran berikutnya (semakin kecil ke arah kantong)
4. Buat disain badan jaring
5. Jarak antara lingkaran = diameter lingkaran
6. Hitung jumlah mata jaring pada keliling lingkaran (H =0,3 0,5)
7. Hitung dimensi internal (bagian dalam mulut jaring)
8. Hitung dalam sayap & hanging ratio
9. Hitung dimensi lantai & penutup sayap
10. Hitung panjang sayap



Gambar 9.1. Fyke net berbentuk segi 4.




120
Contoh Soal :
Buat disain fyke net untuk menangkap ikan2 yang bermigrasi di sungai, dalam
sungai 4 m lebar 12 m. Diameter cincin I = 2/3 x 4m = 2,66 m ~ 2,5 m (sesuai dgn aturan
disain), Ukuran mata jaring 40mm, 32mm & 24 mm. Jml cincin 7 bh, ukuran msg2 : 2,5m,
2m, 1,75m, 1,5m, 1,25m, 1m & 1m.

Gambar . Ring I diameter 2,5 m
Jika H=0,5, maka jumlah mata jaring pada cincin I adalah :
Panjang cincin = keliling lingkaran = 22/7 x diameter = 22/7 x
2,5 m = 7,85714 m = 7857,14 mm
Jumlah mata jaring keliling = 7857,14 / (40 x 0,5) = 392,8 mata ~
400












Tabel 9.1. Kalkulasi masing-masing bagian jaring
Bagian Dalam (mm) Mesh Size (mm) E Jumlah mata (mata)
A1 1333 40 0,5 38,49002
A2 2500 40 0,5 72,16878
A3 2000 40 0,5 57,73503

Bagian Dalam (mm) Mesh Size(mm) E Jumlah mata
B1 1000 32 0,5 36,08439
B2 1750 32 0,5 63,14769
A1
A2
A3
2,5 m
121
B3 1500 32 0,5 54,12659

Bagian Dalam (mm) Mesh Size(mm) E Jumlah mata
C1 24 0,5 100
C2 1250 24 0,5 60,14065
C3 1000 24 0,5 48,11252
C4 1000 24 0,5 48,11252





122







123







9.3 Penutup
Buat disain fyke net untuk dioperasikan di perairan pantai dengan kedalaman perairan
maksimum 3 m. Target tangkapan, ikan-ikan yang bermigrasi kea rah pantai.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1978. Catalogue of Fishing Gear Design. FAO-UN. Fishing News (Books) Ltd.
London.
Anonim, 2007. Katalog Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Anonim, 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Ayodhyoa, A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Ben-Yami, M. 1994. Purse Seining Manual. Fishing News (Books) Ltd. London.
124
FAO. 1975. Catalogue of small scale fishing gear. Fishing News (Books) Ltd. London.
FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for Fishing Gear Designs. Fishing News (Books)
Ltd. London. 241 p.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Metode dan Teknik
Penangkapan. Jurusan PSP, Fakultas Perikanan IPB, Bogor.
Kristjonson, H. 1959. Modern Fishing Gear of the World. Vol 1. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1964. Modern Fishing Gear of the World. Vol 2. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1972. Modern Fishing Gear of the World. Vol 3. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Menon, T.R----. Hand Book on Tuna Long Lining. Central Institute of Fisheries, Nautical
and Engineering Training. Ministry of Agriculture and Irrigation. Government of India.
NOMURA. 1978. Fishing Techniques. I & 2. Japan International Cooperation Agency.
Tokyo.
NIELSEN, L. A. AND D. L. JOHNSON [eds.]. 1983. Fisheries Techniques. American
Fisheries Society, Bethesda, Maryland. 468 p.
Prichard, M. 1987. Lets Go Fishing. Octopus Books Limited. Hong Kong.
Sadhori, N. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Angkasa, Bandung. 182 hal.
Subani, W. dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia.
Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta.
Von Brandt, A. 1984. Fishing Catching Method of the World. 3
rd
Edition. Fishing news
(Books) Ltd. England



125


BAB 10. DISAIN PUKAT PANTAI DAN JARING ANGKAT
10.1 Pendahuluan
Sasaran pembelajaran : menjelaskan prinsip disain dan mendisain pukat pantai dan
jarring angkat

10.2 Uraian Bahan Pembelajaran
10.2.1 Disain Pukat Pantai
Pukat pantai adalah jaring yang dalam pengoperasiannya di tarik ke arah pantai
oleh beberapa orang tenaga manusia (Gambar 10.1). Prinsip utama pengoperasian pukat
pantai adalah jarring dipasang membentuk setengah lingkaran pada kolom perairan,
selanjutnya kedua ujung jarring ditarik ke arah pantai oleh beberapa orang tenaga manusia
sampai kantong jarring ke pinggir pantai.




Gambar 10.1. Pukat pantai (Beach Seine)
Pukat pantai adalah semua pukat kantong yang dalam cara operasi penangkapannya
dilakukan dengan menarik pukat kantong ini ke pinggir pantai. Biasanya penarikan ini
dilakukan oleh beberapa orang pada masing-masing sayapnya, tetapi dapat pula dilakukan
oleh seorang saja apabila ukuran alat ini kecil (Dirjen perikanan, 1979).
Pengetahuan tentang alat tangkap, khususnya dari segi desain dan konstruksi sangat
penting dalam pengembangan dan usaha perikanan, karena salah satu faktor yang
mempengaruhi usaha penangkapan ikan adalah konstruksi alat penangkapan ikan yang
126
cocok didukung oleh keterampilan orang-orang yang menggunakan alat tangkap tersebut
serta bahan yang digunakan (Sadhori, 1984).
Menurut Sudirman dan Mallawa (1999) beach seine adalah salah satu jenis pukat
kantong yang digunakan untuk menangkap ikan, baik pelagis maupun ikan demersal yang
berada di tepi pantai. Biasa juga disebut pukat tepi, karena pengoperasiannya hanya
terbatas pada tepi pantai. Dewasa ini penggunaan alat ini menurun jumlahnya. Namun di
beberapa negara seperti Jepang, alat tangkap ini masih banyak digunakan, namun hasilnya
tidak terlalu menggembirakan.
Pada prinsipnya pukat pantai terdiri dari bagian kantong yang berbentuk empat
persegi panjang, bagian badan bentuknya seperti trapesium memanjang. Selanjutnya pada
bagian-bagian tersebut ditautkan pada tali penguat dan dihubungkan juga dengan tali ris
atas dan tali ris bawah serta dilengkapi dengan pelampung (float) dan pemberat (sinker)
(Sudirman dan Mallawa, 1999).
Pukat pantai memiliki panjang sayap yang sama ukurannya, biasanya sekitar 50-
300 meter. Tali ris atas digunakan untuk mengikatkan pelampung dan tali ris bawah
berfungsi mengikatkan pemberat agar mulut kantong dapat terbuka dengan baik pada saat
penarikan. Ukuran mata jaring dari alat tangkap ini sangat kecil terutama pada daerah
kantong sekitar 0,4 cm. Alat angkap ini memiliki tali penarik yang panjang untuk menarik
pukat ke daerah pantai dengan menggunakan tenaga manusia, dimana satu tali ditarik 4-5
orang tergantung pada besar kecilnya alat tangkap tersebut (Sudirman dan Mallawa, 1999).
Merancang alat tangkap adalah proses mempersiapkan uraian teknis dan menggambarkan
alat tangkap agar dapat memenuhi syarat-syarat penanganan alat, teknis, operasional
(penggunaan), ekonomis dan sosial. Jika alat tangkap kurang memuaskan maka perlu
dimodifikasi atau bahkan dirancang dari permulaan dengan perhitungan kesalahan
sebelumnya (Fridman, 1988).
Dalam merancang alat tangkap ikan perlu secara terus-menerus ditaksirkan mutu
penangkapan dan teknis serta efisiensi ekonominya. Masalah dalam merancang alat
penangkapan dapat dipecahkan melalui banyak cara dan tambahan pula terdapat banyak
jenis alat tangkap ikan. Oleh karena itu, teorinya tidak mempunyai ketetapan, penyelesaian
rutin perancang harus kretif dalam setiap hal dalam berbagai keadaan ini (Fridman, 1988).

Prinsip utama disain pukat pantai adalah kedalaman perairan menjadi dasar
penentuan lebar jarring bagian kantong. Bagian lainnya di perkecil secara bertahap sampai
pinggir jarring.
127

A
B
C
1
2
3
4 5
6
7
8
9
10
Keterangan:
A. Sayap
B. Badan
C. Kantong
1. Tali Selambar
2. Kayu Penaju
3. Bridle
4. Tali Ris Atas
5. Tali Pelampung
6. Tali Ris Bawah
7. Tali Pemberat
8. Pelampung
9. Pemberat
10. Pelampung Tanda

Gambar 10.2. Pukat pantai yang ada di kota Makassar.


Gambar 10.3. Pelampung dan penataannya di Kota Makassar


Gambar 10.4. Pemberat dan penataannya di Kota Makassar
10.2.2. DISAIN JARING ANGKAT

128
Jaring angkat adalah alat penangkap ikan yang proses penangkapannya dengan
mengangkat jarring sehingga ikan-ikan yang telah berkumpul di atasnya dapat tertangkap.
Pada umumnya jaring angkat dioperasikan dengan menggunakan alat bantu lampu.
Jaring yang digunakan pada umumnya dari bahan waring dengan ukuran mata
jarring 5 mm. Jaring dibentuk menyerupai kotak, dimana ukurannya disesuaikan dengan
ukuran rangka bagan.


Gambar 10.5. Disain jarring angkat
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa bahan utama jarring angkat adalah
waring dengan ukuran mata jarring sekitar 5 mm yang menyebabkan ikan-ikan yang
tertangkap mulai dari ukuran kecil sampai besar. Kondisi ini sangat mengganggu
kelestarian sumberdaya perikanan di wilayah dimana alat ini dioperasikan. Dalam
merespon kode etik perikanan bertanggungjawab maka diperlukan upaya perbaikan.
Untuk itu perlu dilakukan perubahan dengan mengganti waring dengan bahan jarring
berukuran mata jring tertentu dimana masih dapat mololoskan ukuran ikan-ikan yang
masih kecil.
129
Kalau sudah menggunakan jarring, maka disain yang digunakan ada dua pilihan,
yaitu : membuat menjadi ukuran mata jarring segi 4 dan berbentuk diamond. Cara yang
pertama dengan melakukan pemotongan jarring all bar, sedangkan cara ke 2 melalui
pemotongan jarring all point dan all mesh. Cara pertama tidak perlu menggunakan
pengaturan sortening karena pengikatan jarring mengikuti potongan all bar, sementara cara
ke 2 harus menggunakan pengaturan sortening. Sortening yang digunakan 30% karena
fungsi jarring hanya sebagai dinding. Dimensi lainnya sesuai kebutuhan.

Gambar 10.6. Jaring angkat dalam posisi terpasang

10.3 Penutup

Buat disain pukat pantai untuk beroperasi pada perairan dengan kedalaman maksimum 5
m,
Buat disain jarring bagan dengan dimensi 10 m x 12 m dan kedalaman 4 m. Bahan jarring
waring mesh size 5 mm.

130

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1978. Catalogue of Fishing Gear Design. FAO-UN. Fishing News (Books) Ltd.
London.
Anonim, 2007. Katalog Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Anonim, 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Ayodhyoa, A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Ben-Yami, M. 1994. Purse Seining Manual. Fishing News (Books) Ltd. London.
FAO. 1975. Catalogue of small scale fishing gear. Fishing News (Books) Ltd. London.
FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for Fishing Gear Designs. Fishing News (Books)
Ltd. London. 241 p.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Metode dan Teknik
Penangkapan. Jurusan PSP, Fakultas Perikanan IPB, Bogor.
Kristjonson, H. 1959. Modern Fishing Gear of the World. Vol 1. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1964. Modern Fishing Gear of the World. Vol 2. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1972. Modern Fishing Gear of the World. Vol 3. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Menon, T.R----. Hand Book on Tuna Long Lining. Central Institute of Fisheries, Nautical
and Engineering Training. Ministry of Agriculture and Irrigation. Government of India.
NOMURA. 1978. Fishing Techniques. I & 2. Japan International Cooperation Agency.
Tokyo.
NIELSEN, L. A. AND D. L. JOHNSON [eds.]. 1983. Fisheries Techniques. American
Fisheries Society, Bethesda, Maryland. 468 p.
Prichard, M. 1987. Lets Go Fishing. Octopus Books Limited. Hong Kong.
Sadhori, N. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Angkasa, Bandung. 182 hal.
Subani, W. dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia.
Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta.
Von Brandt, A. 1984. Fishing Catching Method of the World. 3
rd
Edition. Fishing news
(Books) Ltd. England


131

BAB 11. DISAIN PANCING
11.1 Pendahuluan
Sasaran pembelajaran : menjelaskan prinsip dasar disain alat penangkap ikan dan
mendisain alat pancing

11.2 Uraian Bahan Pembelajaran
Pancing adalah suatu alat penangkap ikan yang terdiri dari mata pancing dan tali
dengan atau tanpa umpan dengan memancing ikan target sehingga tertangkap pada mata
pancing. Tali pancing biasanya terbuat dari bahan PA, PE monofilament. Mata pancing
terbuat dari kawat baja, kuningan atau material lain yang tahan karat. Secara umum mata
pancing memiliki kait balik untuk mempersulit ikan lolos dari mata pancing. Namun
demikian pada pole and line mata pancing tidak berkait balik karena proses
pengoperasiannya diperlukan ikan terlepas dengan cepat di atas kapal. Dalam
perkembangannya, mata pancing dan tali dilengkapi dengan pemberat, umpan dan joran.
Variasi pancing banyak sekali, mulai dari yang tradisional sampai pada yang
modern. Disain dan konstruksi pancing disesuaikan dengan jenis dan ukuran ikan yang
menjadi target tangkapan. Oleh karena itu terdapat banyak variasi bentuk dan ukuran
pancing serta sarana bantu lainnya yang digunakan.

Gambar 11.1. Cara mengikat tali pada pancing yang berlubang

132

Gambar 11.2. Cara mengikat tali pada pancing yang tidak berlubang

Ukuran pancing ditentukan oleh nomornya. Sistem penomoran pada mincing
menggunakan system indirect, dimana semakin besar nomor ukuran pancing semakin
kecil.
Variasi pancing sangat besar antara satu daerah dengan daerah lainnya, sehingga
kontruksinya juag berbeda-beda. Namun demikian, penamaan yang digunakan pada
pancing terletak pada cara pengoperasiannya. Sebagai contoh gambar 11.3 dan 11.4
secara konstruksi agak berbeda tetapi menggunakan nama yang sama. Pancing ulur adalah
pancing yang pada saat pengoperasiannya dilakukan dengan cara mengulur-ulur dan
sekali-sekali menarik-narik. Pancing tonda adalah pancing yang dioperasikan dengan
memasang pancing di belakang kapal, kemudian kapal dijalankan sehingga pancing
terseret di permukaan perairan.
Pancing pole and line adalah pancing yang dilengkapi dengan joran (Gambar 11.5).
Sedangkan long line (Gambar 11.6) adalah pancing yang dilengkapi dengan tali yang
panjang dengan banyak mata pancing yang dirangkai secara memanjang (Gambar 11,6 dan
11.10).
Secara umum pancing dilengkapi dengan umpan, baik umpan alami maupun
umpan buatan. Seiring dengan perkembangan teknologi, umpan buatan juga turut
berkembang yang didisain menyerupai bentuk alami seperti : udang, cumi-cumi, ikan-ikan
kecil.
133

Gambar 11.3. Disain pancing ulur (10.1.0) di Kuala Singkawang (Anonim, 2007),

134

Gambar 11,4, Disain pancing ulur (PCU 10.1.0) di Kota Baru (Anonim, 2007).
135

Gambar 11.5. Disain Pole and line (Anonim, 2007).
Pole and line atau dikenal juga dengan huhate atau skipjack pole and line adalah
cara pemancingan dengan menggunakan pancing khusus untuk ikan cakalang. Prinsip
utama pemancingan cakalang adalah kecepatan dan ketepatan, sehingga mata pancing
tidak berkait balik. Pada pole and line ini, ikan-ikan yang terpancing hanya dibanting ke
belakang dan terlepas di atas dek kapal. Ini merupakan cirri khas dari pancing pole and
line yang tidak dimiliki oleh pancing jenis lainnya.



136
Pancing Rawai (Long Line)
Pancing rawai atau long line adalah suatu pancing yang terdiri dari tali panjang (tali
utama, main line) kemudian pada tali tersebut secara berderet digantungkan tali-tali
pendek yang diujungnya diberi mata pancing. Tergantung dari banyaknya pancing yang
digunakan, kalau direntangkan lurus dapat mencapai panjang ratusan meter bahkan
mencapai beberapa kilometer.
Berdasarkan pengoperasiannya, rawai dapat digolongkan menjadi rawai menetap
dan rawai hanyut. Rawai menetap, biasanya dipasang di dasar perairan. Rawai hanyut
biasanya dipasang di permukaan perairan dan dihanyutkan bersama dengan arus. Rawai
hanyut biasanya ditargetkan untuk menangkap ikan tuna, sementara rawai menetap (dasar)
biasanya menangkap ikan-ikan dasar seperti ikan kakap, kerapu dan ikan demersal lainnya.
Rawai hanyut (rawai tuna) (Gambar 11.6) biasanya dioperasikan pada pertengahan
perairan sekitar kedalaman 100 m, sesuai dengan habitat ikan tuna. Posisi pancing di
dalam air diatur oleh panjang tali pelampung.


Gambar 11.6. Long line hanyut (Anonim, 2007).
Prinsip utama dalam merancang long line adalah jarak antara tali cabang lebih
besar dari 2 kali panjang tali cabang (brach line). Hal ini dimaksudkan agar dalam
pengoperasian di laut, antara satu tali cabang dengan tali cabang lainnya tidak saling
terkait.




137

Gambar 11.7. Konstruksi tali cabang (brach line) dengan kelengkapannya

Gambar 11.8. Tali pelampung

138

Gambar 11.9. Long line dasar

Gambar 11.10. Long line dasar pada saat dipasang di perairan

11.3 Penutup
Buat disain pancing untuk menangkap ikan kerapu, ikan layang, ikan tenggiri, ikan
tongkol.
Buat disain pancing untuk menangkap ikan tuna dengan kedalaman swimming layer 120
m.
139

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1978. Catalogue of Fishing Gear Design. FAO-UN. Fishing News (Books) Ltd.
London.
Anonim, 2007. Katalog Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Anonim, 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Semarang.
Ayodhyoa, A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Ben-Yami, M. 1994. Purse Seining Manual. Fishing News (Books) Ltd. London.
FAO. 1975. Catalogue of small scale fishing gear. Fishing News (Books) Ltd. London.
FRIDMAN, A. L. 1986. Calculation for Fishing Gear Designs. Fishing News (Books)
Ltd. London. 241 p.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Metode dan Teknik
Penangkapan. Jurusan PSP, Fakultas Perikanan IPB, Bogor.
Kristjonson, H. 1959. Modern Fishing Gear of the World. Vol 1. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1964. Modern Fishing Gear of the World. Vol 2. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Kristjonson, H. 1972. Modern Fishing Gear of the World. Vol 3. Fishing News (Books)
Ltd. London.
Menon, T.R----. Hand Book on Tuna Long Lining. Central Institute of Fisheries, Nautical
and Engineering Training. Ministry of Agriculture and Irrigation. Government of India.
NOMURA. 1978. Fishing Techniques. I & 2. Japan International Cooperation Agency.
Tokyo.
NIELSEN, L. A. AND D. L. JOHNSON [eds.]. 1983. Fisheries Techniques. American
Fisheries Society, Bethesda, Maryland. 468 p.
Prichard, M. 1987. Lets Go Fishing. Octopus Books Limited. Hong Kong.
Sadhori, N. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Angkasa, Bandung. 182 hal.
Subani, W. dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia.
Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta.
Von Brandt, A. 1984. Fishing Catching Method of the World. 3
rd
Edition. Fishing news
(Books) Ltd. England