Anda di halaman 1dari 25

POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK)

BUDIDAYA TANAMAN MANGGA














BANK INDONESIA
Direktorat Kredit, BPR dan UMKM
Telepon : (021) 3818043 Fax: (021) 3518951, Email : tbtlkm@bi.go.id


Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
1
DAFTAR ISI


1. Pendahuluan.......................................................................................................... 2
a. Latar Belakang .................................................................................................. 2
b. Tujuan .................................................................................................................. 3
2. Kemitraan Terpadu ............................................................................................ 4
a. Organisasi ........................................................................................................... 4
b. Pola Kerjasama ................................................................................................. 6
c. Penyiapan Proyek ............................................................................................. 7
d. Mekanisme Proyek .......................................................................................... 8
e. Perjanjian Kerjasama ..................................................................................... 9
3. Aspek Pemasaran ............................................................................................. 11
a. Permintaan ....................................................................................................... 11
b. Penawaran/Peluang ...................................................................................... 12
4. Aspek Produksi .................................................................................................. 14
a. Umum ................................................................................................................. 14
b. Lahan dan Tanah ........................................................................................... 14
c. Penanaman ....................................................................................................... 15
d. Panen Dan Pasca Panen .............................................................................. 16
5. Aspek Keuangan ............................................................................................... 18
a. Data Dan Asumsi Dasar Perhitungan ..................................................... 18
b. Analisa Total Penjualan ............................................................................... 19
6. Penutup .................................................................................................................. 21
a. PKT Unggulan .................................................................................................. 21
b. Titik Kritis .......................................................................................................... 23
LAMPIRAN .................................................................................................................. 24

Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
2
1. Pendahuluan

a. Latar Belakang
Untuk memenuhi permintaan akan buah-buahan segar, Indonesia di samping
mengupayakan agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut dari buah-buahan
hasil produksi dalam negeri, juga sampai dengan batas-batas tertentu masih
harus mendatangkan dari luar negeri. Besarnya permintaan tersebut sangat
dipengaruhi oleh faktor-faktor, antara lain besarnya pendapatan per kapita
sebagai dampak keberhasilan pembangunan dan harga-harga buah-buahan
lainnya di tingkat konsumen. Kebiasaan menurunnya harga pada saat
penawaran yang berlimpah-sampai pada tingkat harga keseimbangan yang
terjadi, sebenarnya merupakan kondisi yang sangat baik bagi kesejahteraan
masyarakat Indonesia. Karena dengan demikian buah-buahan yang tersedia
di pasar eceran dapat dijangkau oleh daya beli sebagian besar masyarakat.
Rendahnya harga buah-buahan disamping dikaitkan dengan penawaran yang
berlimpah, juga disebabkan karena semakin banyaknya pilihan yang dihadapi
oleh para konsumen.
Dalam kondisi kelangkaan buah-buahan yang sangat diminati masyarakat,
menyebabkan harga buah-buahan yang bersangkutan relatif sangat tinggi.
Contoh buah-buahan yang berkecenderungan (berfenomena) seperti
tersebut sangat terkait dengan buah-buahan tertentu, misalnya mangga.
Pada kondisi dimana penawaran buah mangga relatif banyak dibandingkan
dengan buah-buahan lainnya, maka dapat mengakibatkan harga buah yang
lain berada pada tingkat harga yang lebih rendah. Periode ketersediaan buah
mangga di pasar juga relatif sangat pendek bilamana dibandingkan dengan
buah-buahan impor seperti anggur dan apel, yang sebagian besar saat ini
masih dipasok/didatangkan dari negara penghasil utama yang berada di
belahan atas dan bawah katulistiwa (negara-negara sub tropis).
Dorongan pemerintah agar Indonesia mampu memenuhi sebagian besar dari
produksinya sendiri, yang sekaligus dengan maksud untuk mengurangi
pembelanjaan devisa guna mendatangkan buah-buahan dari luar negeri,
perlu mendapatkan tanggapan dari perbankan karena merupakan
kesempatan yang sangat strategis bagi upaya-upaya domestik. Dengan
tercapainya tujuan tersebut, dapat memberikan dampak ganda yang sangat
relevan dengan kondisi perekonomian saat ini. Dampak yang dimaksud yaitu
tumbuhnya minat untuk meningkatkan produksi buah-buahan dalam negeri,
dan tumbuhnya subsektor perekonomian lainnya yang terkait dengan upaya
disisi hulu produksi serta sisi hilir subsektor buah-buahan yang dimaksud.
Khususnya untuk buah mangga, perhatian pemerintah dan masyarakat
buah-buahan untuk meningkatkan peranan perekonomi buah mangga sangat
erat kaitannya dengan maksud tersebut. Maksud untuk meningkatkan
peranan buah mangga guna memenuhi permintaan buah tropis di dalam
negeri maupun untuk menghadapi pemasaran/pasar global (substitusi impor
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
3
dan ekspor), tidak lepas dari kondisi yang kondusif saat-saat ini. Disamping
untuk perbaikan kondisi perekonomian masyarakat kecil juga untuk
menempatkan Indonesia dalam posisi yang relatif lebih kuat pada situasi
global.
Sehubungan dengan itu, diperlukan upaya yang dapat menyatukan semua
unsur yang terkait (Pemda, Bappeda, BPN, Dinas Teknis, Swasta Besar, Para
Petani Mangga, Perbankan) agar dapat terpicu untuk mengupayakan
keberhasilan peningkatan produktivitas buah mangga.
Upaya yang dipandang sangat cocok untuk dapat menampung peranan
positif dan pro aktif unsur-unsur yang dimaksud, adalah dengan
mengembangkan proyek peningkatan produktivitas buah mangga melalui
pola/pendekatan pengembangan yang retatif dapat diterima, aman dan
diminati oleh unsur-unsur dimaksud.
Sehubungan dengan itu, BI/Urusan Kredit Bank Indonesia dalam rangka ikut
serta membantu mengembangkan usaha kecil khususnya dalam
pengembangan buah mangga, yaitu ditempuh melalui penyusunan suatu
taporan kajian terhadap pengembangan buah mangga melalui pendekatan
yang dikenal dengan Pola Kemitraan Terpadu (PKT).
b. Tujuan
Tujuan utama dari penyajian Model Kelayakan PKT "Budidaya Tanaman
Mangga Unggul" ini, yaitu untuk :
1. akan suatu referensi bagi perbankan tentang kelayakan budidaya
tanaman mangga unggul bilamana ditinjau dari segi-segi : (i) prospek
atau kelayakan Dasar/Pemasarannya. (ii) kelayakan budidayanya yang
dilaksanakan dengan penerapan teknologi maju, (iii) kelayakan dari
segi keuangan terutama bilamana sebagian dari biaya yang diperlukan
akan dibiayai oleh bank dan (iv) format pengorganisasian pelaksanaan
proyeknya yang dapat menjamin lancar dan amannya pelaksanaan
proyek serta menjamin keuntungan bagi semua unsur yang ikut serta
dalam pelaksanaan proyek;
2. gan referensi kelayakan tersebut, diharapkan perbankan dapat
mereplikasikan pelaksanaan proyek di daerah-daerah/lokasi yang
sesuai/cocok dengan kajian kelayakan yang dimaksud. Dengan
demikian tujuan dalam pengembangan usaha kecil melalui
peningkatan mutu budidaya tanaman mangga tercapai sasarannya,
yaitu yang ditempuh melalui peningkatkan realisasi kredit yang cocok
untuk usaha kecil, meningkatkan keamanan pelaksanaan kreditnya,
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani buah mangga.
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
4
2. Kemitraan Terpadu
a. Organisasi
Proyek Kemitraan Terpadu ini merupakan kerjasama kemitraan dalam bidang
usaha melibatkan tiga unsur, yaitu (1) Petani/Kelompok Tani atau usaha
kecil, (2) Pengusaha Besar atau eksportir, dan (3) Bank pemberi KKPA.
Masing-masing pihak memiliki peranan di dalam PKT yang sesuai dengan
bidang usahanya. Hubungan kerjasama antara kelompok petani/usaha kecil
dengan Pengusaha Pengolahan atau eksportir dalam PKT, dibuat seperti
halnya hubungan antara Plasma dengan Inti di dalam Pola Perusahaan Inti
Rakyat (PIR). Petani/usaha kecil merupakan plasma dan Perusahaan
Pengelolaan/Eksportir sebagai Inti. Kerjasama kemitraan ini kemudian
menjadi terpadu dengan keikut sertaan pihak bank yang memberi bantuan
pinjaman bagi pembiayaan usaha petani plasma. Proyek ini kemudian dikenal
sebagai PKT yang disiapkan dengan mendasarkan pada adanya saling
berkepentingan diantara semua pihak yang bermitra.
1. Petani Plasma
Sesuai keperluan, petani yang dapat ikut dalam proyek ini bisa terdiri atas
(a) Petani yang akan menggunakan lahan usaha pertaniannya untuk
penanaman dan perkebunan atau usaha kecil lain, (b) Petani /usaha kecil
yang telah memiliki usaha tetapi dalam keadaan yang perlu ditingkatkan
dalam untuk itu memerlukan bantuan modal.
Untuk kelompok (a), kegiatan proyek dimulai dari penyiapan lahan dan
penanaman atau penyiapan usaha, sedangkan untuk kelompok (b), kegiatan
dimulai dari telah adanya kebun atau usaha yang berjalan, dalam batas
masih bisa ditingkatkan produktivitasnya dengan perbaikan pada aspek
usaha.
Luas lahan atau skala usaha bisa bervariasi sesuai luasan atau skala yang
dimiliki oleh masing-masing petani/usaha kecil. Pada setiap kelompok
tani/kelompok usaha, ditunjuk seorang Ketua dan Sekretaris merangkap
Bendahara. Tugas Ketua dan Sekretaris Kelompok adalah mengadakan
koordinasi untuk pelaksanaan kegiatan yang harus dilakukan oleh para
petani anggotanya, didalam mengadakan hubungan dengan pihak Koperasi
dan instansi lainnya yang perlu, sesuai hasil kesepakatan anggota. Ketua
kelompok wajib menyelenggarakan pertemuan kelompok secara rutin yang
waktunya ditentukan berdasarkan kesepakatan kelompok.
2. Koperasi
Para petani/usaha kecil plasma sebagai peserta suatu PKT, sebaiknya
menjadi anggota suata koperasi primer di tempatnya. Koperasi bisa
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
5
melakukan kegiatan-kegiatan untuk membantu plasma di dalam
pembangunan kebun/usaha sesuai keperluannya. Fasilitas KKPA hanya bisa
diperoleh melalui keanggotaan koperasi. Koperasi yang mengusahakan KKPA
harus sudah berbadan hukum dan memiliki kemampuan serta fasilitas yang
cukup baik untuk keperluan pengelolaan administrasi pinjaman KKPA para
anggotanya. Jika menggunakan skim Kredit Usaha Kecil (KUK), kehadiran
koperasi primer tidak merupakan keharusan.
3. Perusahaan Besar dan Pengelola/Eksportir
Suatu Perusahaan dan Pengelola/Eksportir yang bersedia menjalin kerjasama
sebagai inti dalam Proyek Kemitraan terpadu ini, harus memiliki kemampuan
dan fasilitas pengolahan untuk bisa menlakukan ekspor, serta bersedia
membeli seluruh produksi dari plasma untuk selanjutnya diolah di pabrik dan
atau diekspor. Disamping ini, perusahaan inti perlu memberikan bimbingan
teknis usaha dan membantu dalam pengadaan sarana produksi untuk
keperluan petani plasma/usaha kecil.
Apabila Perusahaan Mitra tidak memiliki kemampuan cukup untuk
mengadakan pembinaan teknis usaha, PKT tetap akan bisa dikembangkan
dengan sekurang-kurangnya pihak Inti memiliki fasilitas pengolahan untuk
diekspor, hal ini penting untuk memastikan adanya pemasaran bagi produksi
petani atau plasma. Meskipun demikian petani plasma/usaha kecil
dimungkinkan untuk mengolah hasil panennya, yang kemudian harus dijual
kepada Perusahaan Inti.
Dalam hal perusahaan inti tidak bisa melakukan pembinaan teknis, kegiatan
pembibingan harus dapat diadakan oleh Koperasi dengan memanfaatkan
bantuan tenaga pihak Dinas Perkebunan atau lainnya yang dikoordinasikan
oleh Koperasi. Apabila koperasi menggunakan tenaga Penyuluh Pertanian
Lapangan (PPL), perlu mendapatkan persetujuan Dinas Perkebunan setempat
dan koperasi memberikan bantuan biaya yang diperlukan.
Koperasi juga bisa memperkerjakan langsung tenaga-tenaga teknis yang
memiliki keterampilan dibidang perkebunan/usaha untuk membimbing
petani/usaha kecil dengan dibiayai sendiri oleh Koperasi. Tenaga-tenaga ini
bisa diberi honorarium oleh Koperasi yang bisa kemudian dibebankan kepada
petani, dari hasil penjualan secara proposional menurut besarnya produksi.
Sehingga makin tinggi produksi kebun petani/usaha kecil, akan semakin
besar pula honor yang diterimanya.
4. Bank
Bank berdasarkan adanya kelayakan usaha dalam kemitraan antara pihak
Petani Plasma dengan Perusahaan Perkebunan dan Pengolahan/Eksportir
sebagai inti, dapat kemudian melibatkan diri untuk biaya investasi dan modal
kerja pembangunan atau perbaikan kebun.
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
6
Disamping mengadakan pengamatan terhadap kelayakan aspek-aspek
budidaya/produksi yang diperlukan, termasuk kelayakan keuangan. Pihak
bank di dalam mengadakan evaluasi, juga harus memastikan bagaimana
pengelolaan kredit dan persyaratan lainnya yang diperlukan sehingga dapat
menunjang keberhasilan proyek. Skim kredit yang akan digunakan untuk
pembiayaan ini, bisa dipilih berdasarkan besarnya tingkat bunga yang sesuai
dengan bentuk usaha tani ini, sehingga mengarah pada perolehannya
pendapatan bersih petani yang paling besar.
Dalam pelaksanaanya, Bank harus dapat mengatur cara petani plasma akan
mencairkan kredit dan mempergunakannya untuk keperluan operasional
lapangan, dan bagaimana petani akan membayar angsuran pengembalian
pokok pinjaman beserta bunganya. Untuk ini, bank agar membuat perjanjian
kerjasama dengan pihak perusahaan inti, berdasarkan kesepakatan pihak
petani/kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil
penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama
untuk dibayarkan langsung kepada bank. Besarnya potongan disesuaikan
dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit
dibuat oleh pihak petani/Kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan
memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang
disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada Bank. Besarnya
potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada
waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani plasma dengan bank.
b. Pola Kerjasama
Kemitraan antara petani/kelompok tani/koperasi dengan perusahaan mitra,
dapat dibuat menurut dua pola yaitu :
a. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani mengadakan
perjanjian kerjasama langsung kepada Perusahaan Perkebunan/
Pengolahan Eksportir.

Dengan bentuk kerja sama seperti ini, pemberian kredit yang berupa
KKPA kepada petani plasma dilakukan dengan kedudukan Koperasi
sebagai Channeling Agent, dan pengelolaannya langsung ditangani
oleh Kelompok tani. Sedangkan masalah pembinaan harus bisa
diberikan oleh Perusahaan Mitra.
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
7
b. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani, melalui
koperasinya mengadakan perjanjian yang dibuat antara Koperasi
(mewakili anggotanya) dengan perusahaan perkebunan/pengolahan/
eksportir.

Dalam bentuk kerjasama seperti ini, pemberian KKPA kepada petani
plasma dilakukan dengan kedudukan koperasi sebagai Executing
Agent. Masalah pembinaan teknis budidaya tanaman/pengelolaan
usaha, apabila tidak dapat dilaksanakan oleh pihak Perusahaan Mitra,
akan menjadi tanggung jawab koperasi.
c. Penyiapan Proyek
Untuk melihat bahwa PKT ini dikembangkan dengan sebaiknya dan dalam
proses kegiatannya nanti memperoleh kelancaran dan keberhasilan, minimal
dapat dilihat dari bagaimana PKT ini disiapkan. Kalau PKT ini akan
mempergunakan KKPA untuk modal usaha plasma, perintisannya dimulai dari
:
1. Adanya petani/pengusaha kecil yang telah menjadi anggota koperasi
dan lahan pemilikannya akan dijadikan kebun/tempat usaha atau
lahan kebun/usahanya sudah ada tetapi akan ditingkatkan
produktivitasnya. Petani/usaha kecil tersebut harus menghimpun diri
dalam kelompok dengan anggota sekitar 25 petani/kelompok usaha.
Berdasarkan persetujuan bersama, yang didapatkan melalui
pertemuan anggota kelompok, mereka bersedia atau berkeinginan
untuk bekerja sama dengan perusahaan perkebunan/
pengolahan/eksportir dan bersedia mengajukan permohonan kredit
(KKPA) untuk keperluan peningkatan usaha;
2. Adanya perusahaan perkebunan/pengolahan dan eksportir, yang
bersedia menjadi mitra petani/usaha kecil, dan dapat membantu
memberikan pembinaan teknik budidaya/produksi serta proses
pemasarannya;
3. Dipertemukannya kelompok tani/usaha kecil dan pengusaha
perkebunan/pengolahan dan eksportir tersebut, untuk memperoleh
kesepakatan di antara keduanya untuk bermitra. Prakarsa bisa dimulai
dari salah satu pihak untuk mengadakan pendekatan, atau ada pihak
yang akan membantu sebagai mediator, peran konsultan bisa
dimanfaatkan untuk mengadakan identifikasi dan menghubungkan
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
8
pihak kelompok tani/usaha kecil yang potensial dengan perusahaan
yang dipilih memiliki kemampuan tinggi memberikan fasilitas yang
diperlukan oleh pihak petani/usaha kecil;
4. Diperoleh dukungan untuk kemitraan yang melibatkan para
anggotanya oleh pihak koperasi. Koperasi harus memiliki kemampuan
di dalam mengorganisasikan dan mengelola administrasi yang
berkaitan dengan PKT ini. Apabila keterampilan koperasi kurang, untuk
peningkatannya dapat diharapkan nantinya mendapat pembinaan dari
perusahaan mitra. Koperasi kemudian mengadakan langkah-langkah
yang berkaitan dengan formalitas PKT sesuai fungsinya. Dalam
kaitannya dengan penggunaan KKPA, Koperasi harus mendapatkan
persetujuan dari para anggotanya, apakah akan beritndak sebagai
badan pelaksana (executing agent) atau badan penyalur (channeling
agent);
5. Diperolehnya rekomendasi tentang pengembangan PKT ini oleh pihak
instansi pemerintah setempat yang berkaitan (Dinas Perkebunan,
Dinas Koperasi, Kantor Badan Pertanahan, dan Pemda);
6. Lahan yang akan digunakan untuk perkebunan/usaha dalam PKT ini,
harus jelas statusnya kepemilikannya bahwa sudah/atau akan bisa
diberikan sertifikat dan buka merupakan lahan yang masih belum jelas
statusnya yang benar ditanami/tempat usaha. Untuk itu perlu adanya
kejelasan dari pihak Kantor Badan Pertanahan dan pihak Departemen
Kehutanan dan Perkebunan.
d. Mekanisme Proyek
Mekanisme Proyek Kemitraan Terpadu dapat dilihat pada skema berikut ini :
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
9

Bank pelaksana akan menilai kelayakan usaha sesuai dengan prinsip-prinsip
bank teknis. Jika proyek layak untuk dikembangkan, perlu dibuat suatu nota
kesepakatan (Memorandum of Understanding = MoU) yang mengikat hak
dan kewajiban masing-masing pihak yang bermitra (inti, Plasma/Koperasi
dan Bank). Sesuai dengan nota kesepakatan, atas kuasa koperasi atau
plasma, kredit perbankan dapat dialihkan dari rekening koperasi/plasma ke
rekening inti untuk selanjutnya disalurkan ke plasma dalam bentuk sarana
produksi, dana pekerjaan fisik, dan lain-lain. Dengan demikian plasma tidak
akan menerima uang tunai dari perbankan, tetapi yang diterima adalah
sarana produksi pertanian yang penyalurannya dapat melalui inti atau
koperasi. Petani plasma melaksanakan proses produksi. Hasil tanaman
plasma dijual ke inti dengan harga yang telah disepakati dalam MoU.
Perusahaan inti akan memotong sebagian hasil penjualan plasma untuk
diserahkan kepada bank sebagai angsuran pinjaman dan sisanya
dikembalikan ke petani sebagai pendapatan bersih.
e. Perjanjian Kerjasama
Untuk meresmikan kerja sama kemitraan ini, perlu dikukuhkan dalam suatu
surat perjanjian kerjasama yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak
yang bekerjasama berdasarkan kesepakatan mereka. Dalam perjanjian
kerjasama itu dicantumkan kesepakatan apa yang akan menjadi kewajiban
dan hak dari masing-masing pihak yang menjalin kerja sama kemitraan itu.
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
10
Perjanjian tersebut memuat ketentuan yang menyangkut kewajiban pihak
Mitra Perusahaan (Inti) dan petani/usaha kecil (plasma) antara lain sebagai
berikut :
1. Kewajiban Perusahaan Perkebunan/Pengolahan/Eksportir sebagai mitra
(inti)
a. Memberikan bantuan pembinaan budidaya/produksi dan penaganan
hasil;
b. Membantu petani di dalam menyiapkan kebun, pengadaan sarana
produksi (bibit, pupuk dan obat-obatan), penanaman serta
pemeliharaan kebun/usaha;
c. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca
panen untuk mencapai mutu yang tinggi;
d. Melakukan pembelian produksi petani plasma; dan
e. Membantu petani plasma dan bank di dalam masalah pelunasan kredit
bank (KKPA) dan bunganya, serta bertindak sebagai avalis dalam
rangka pemberian kredit bank untuk petani plasma.
2. Kewajiban petani peserta sebagai plasma
a. Menyediakan lahan pemilikannya untuk budidaya;
b. Menghimpun diri secara berkelompok dengan petani tetangganya yang
lahan usahanya berdekatan dan sama-sama ditanami;
c. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca-
panen untuk mencapai mutu hasil yang diharapkan;
d. Menggunakan sarana produksi dengan sepenuhnya seperti yang
disediakan dalam rencana pada waktu mengajukan permintaan kredit;
e. Menyediakan sarana produksi lainnya, sesuai rekomendasi budidaya
oleh pihak Dinas Perkebunan/instansi terkait setempat yang tidak
termasuk di dalam rencana waktu mengajukan permintaan kredit;
f. Melaksanakan pemungutan hasil (panen) dan mengadakan perawatan
sesuai petunjuk Perusahaan Mitra untuk kemudian seluruh hasil panen
dijual kepada Perusahaan Mitra; dan
g. Pada saat pernjualan hasil petani akan menerima pembayaran harga
produk sesuai kesepakatan dalam perjanjian dengan terlebih dahulu
dipotong sejumlah kewajiban petani melunasi angsuran kredit bank
dan pembayaran bunganya.
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
11
3. Aspek Pemasaran
a. Permintaan
Permintaan Dalam Negeri
Sebagian besar (kalau tidak dapat dikatakan seluruhnya) buah mangga yang
masak segar, didistribusikan dan dipasarkan guna memenuhi permintaan
dalam negeri. Permintaan dalam negeri tersebut cenderung meningkat
sepanjang tahun. Data pada tahun 1990 menunjukkan bahwa total konsumsi
terhadap buah mangga mencapai 12 ribu ton. Besaran konsumsi ini
diperkirakan akan terus meningkat sepanjang tahun dan sampai tahun 2000
besaran konsumsi tersebut diperkirakan akan mencapai 533 ribu ton.
Bila dibandingkan dengan angka perkiraan FAO pada tahun 2000 yaitu
bahwa konsumsi buah-buahan akan mencapai 60 kg per kapita per tahun,
maka konsumsi buah-buahan di Indonesia masih relatif sangat rendah yaitu
baru akan mencapai 36 kg per kapita dengan 2.5 kg di antaranya berasal
dari buah mangga.
Faktor penentu peningkatan permintaan terhadap buah-buahan khususnya
buah mangga, adalah peningkatan jumlah penduduk terutama penduduk
perkotaan dan wilayah industri, semakin membaiknya pendapatan
masyarakat pada umumnya, serta meningkatnya arus kedatangan wisatawan
mancanegara serta pemintaan yang datang dari industri olah lanjut yang
cenderung memerlukan pasokan bahan baku yang tepat jumlah dan waktu
serta kepastian kesinambungan pasokannya. Besaran konsumsi tersebut
dipenuhi langsung melalui para produsen, pedagang pengumpul, pedagang
ditingkat pasar eceran baik di pasar-pasar tradisional, maupun melalui pasar
supermarket, hotel, restoran dan melalui bentuk produk olahan.
Permintaan Luar Negeri
Dari hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Pusat Kajian Buah-buahan
Tropika IPB (Maret, 1998), Indonesia berpotensi dan berpeluang untuk
melakukan ekspor komoditas buah-buahan. Secara garis besar terdapat tiga
kawasan yang berpotensi untuk pemasaran buah-buahan tropis termasuk
yang dari Indonesia, yaitu :
1. Kawasan Eropa yang terdiri dari Jerman, Perancis, Inggris, dan
Benelux yang menyerap sebesar 58% dari pasar dunia;
2. Kawasan Amerika yang terdiri dari Amerika Serikat dan Kanada yang
menyerap sebesar 10,2% dari pasar dunia;
3. Kawasan Asia Pasifik yang terdiri dari Jepang, Hongkong, Singapura
dan Australia yang menyerap sebesar 9,3% pasar dunia.
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
12
Andil Indonesia sebagai salah satu negara pemasok buah tropis segar dunia
masih sangat kecit yakni kurang dari 1%. Sebenarnya buah-buahan tropis
asal Indonesia telah mampu memenuhi pasaran dunia termasuk Eropa Barat.
Tetapi jumlah pasokan masih sangat kecil/terbatas akibat kemampuan untuk
memasok yang masih rendah dan belum mampu menjamin kesinambungan
pasokan. Bilamana proses pasca panen dapat menjamin mutu buah mangga
yang diminta pasar dunia maka peluang ekspor dari Indonesia akan lebih
besar.
b. Penawaran/Peluang

Penawaran
Secara geografis, mangga (Mangifera indica) terdapat di semua propinsi di
Indonesia. Namun pulau Jawa merupakan tempat produksi dan pasar yang
paling dominan. Dari total luas tanaman 160.000 ha, sebesar 50,32% dari
total luas tanam berada di pulau Jawa dan Madura. Sementara itu berturut-
turut diikuti oleh Bati dan Nusa Tenggara sebesar 32,8%, Sulawesi sebesar
12%, dan sisanya terdapat di Sumatra (3%), Maluku dan Irian Jaya (1.88%)
dan Kalimantan sebesar 1%.
Perkebunan Mangga secara komersial telah berkembang di beberapa kota di
Jawa Timur yaitu di Gresik, Pasuruan dan Probolinggo, sedangkan di daerah
Jawa Barat terletak di kota-kota Cirebon, Indramayu, dan Majalengka.
Peluang Pengembangan
Peluang pengembangan tanaman mangga dapat dipicu oleh adanya potensi
Dermintaan terhadap buah ini, baik yang datang dari permintaan dalam
negeri sendiri maupun yang datang dari luar negeri. Adanya peluang
permintaan terhadap buah mangga dapat di cerminkan dari kecenderungan
peningkatan nilai ekspor buah mangga selama 5 tahun terakhir semenjak
tahun 1991. Nilai ekspor tertinggi dicapai pada tahun 1995 yaitu sebesar US
$ 1.311.728. Dan nilai ekspor yang terendah pada kurun waktu lima tahun
tersebut terjadi pada tahun 1993 yaitu sebesar US $ 586.123.
Kecenderungan eskpor mangga dari Indonesia, sekalipun berjalan secara
"erratic", tetapi kecenderungannya menggambarkan peningkatan sepanjang
tahun. Dalam situasi perekonomian seperti saat-saat ini, maka peningkatan
peranan mata dagangan berpotensi ekspor yang dalam pelaksanaan proses
produksinya sebagian besar menggunakan komponen lokal, akan mendapat
tempat dan prioroitas yang sangat tinggi dari Pemerintah. Salah satu fasilitas
yang disediakan pemerintah untuk menunjang pengembangan budidaya
tanaman mangga yaitu kredit dengan tingkat bunga yang disubsidi sehingga
dapat dimanfaatkan oleh proyek-proyek dengan jangka waktu yang relatif
lama karena tingkat bunganya rendah.
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
13
Upaya untuk meningkatkan ekspor/substitusi impor buah mangga secara riil
akan sangat tergantung dari beberapa faktor pelaksanaan suatu proyek
budidaya yang ditunjang dengan skim kredit diatas, yaitu :
1. Perlunya kehadiran perusahaan dan atau koperasi yang mampu
melaksanakan ekspor buah mangga;
2. Adanya kemampuan dan kesungguhan perusahaan dan atau koperasi
tersebut, dengan cara bermitra usaha, dapat bekerjasama dan
membantu para petani mangga pada total luasan tertentu (300-500
ha), untuk melaksanakan proses produksi dan proses panen serta
proses pasca panen yang baik dan benar;
3. Bahwa dengan perencanaan penyediaan produksi dari total luasan
tertentu tersebut, diduga dapat menjamin kesinambungan pasokan
untuk ekspor;
4. Produksi mangga pada areal tersebut harus dapat dilaksanakan
dengan unit biaya yang menyebabkan produk mangga dari Indonesia
mampu bersaing di pasar global;
5. Diusahakan agar rantai distribusi dan pemasaran dapat dilaksanakan
sependek mungkin sehingga dengan demikian harga buah dari tingkat
produsen s/d tingkat pasar eceran di dalam negeri, dapat dijangkau
oleh para konsumen dengan berbagai tingkat pendapatan;
6. Sedangkan untuk menunjang ekspor, disamping penanganan pasca
paner yang baik dan benar, juga memerlukan komitmen untuk
menjamin kesinambungan ketepatan penyampaian dan jumlah serta
harga pasokannya.
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
14
4. Aspek Produksi
a. Umum
Berkebun mangga dalam skala usaha yang cukup besar, perlu sekali melihat
kondisi lahan yang akan ditanami yaitu harus memperhatikan kesesuaian
lahan. Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu jenis tanah, ketebalan lapisan
tanah, kondisi air tanah, pH tanah, serta derajat kemiringan tanah.
Berdasarkan jenis tanahnya, tanaman mangga dapat tumbuh dengan baik
pada macam-macam jenis tanah, baik pada tanah vulkanis tua, vulkanis
muda, tanah aluvial, tanah dengan struktur ringan maupun berat. Lahan
untuk budidaya tanaman mangga sebaiknya merupakan satu hamparan yang
cukup luas, sehingga pengolahannya dapat dilakukan secara mekanis dan
serempak. Namun kenyataan di lapangan untuk mendapatkan hamparan
lahan seperti itu cukup sulit, terutama untuk daerah di Pulau Jawa.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka dalam analisa baik teknik, maupun
finansial disajikan model dengan luasan 1 (satu) ha.
Tanaman mangga yang akan dibudidayakan adalah tanaman mangga jenis
unggul, seperti arumanis dan gadung klon 143,210 dan Gedong Gincu.
Varietas mangga komersial di Indonesia diantaranya mangga arumanis,
manalagi jenis besar dan manalagi jenis kecil, goiek, gedong gincu, gedong
biasa, dan cengkir. Adapun beberapa varietas mangga eks-import,
diantaranya namdokmai, thongdam, nangkiawan (semuanya dari Thailand),
irwin, julie, haden (Amerika), dan lain-lain.
Pengadaan bibit sangat penting sekali dan merupakan faktor penentu
keberhasilan usaha. Bibit mangga yang tidak baik akan diketahui setelah
memakan waktu cukup lama, dan kalau diganti tentunya akan memakan
biaya dan tidak efisien. Maka atas dasar pertimbangan tersebut pengadaan
bibit mangga sepenuhnya menjadi tangung jawab INTI, petani plasma hanya
menerima bibit yang sudah siap tanam.

b. Lahan dan Tanah

Persiapan Lahan
Pemilihan lokasi untuk kebun mangga hendaknya diusahakan tidak terlalu
jauh dari jangkauan jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat, agar
memudahkan pengangkutan baik pada saat panen maupun dalam
pengangkutan bibit dan sarana produksi lainnya. Di samping itu dilokasi
tersebut dekat dengan sumber air, baik dari air irigasi, ataupun dari air
tanah, sehingga pada musim kemarau air untuk keperluan tanaman tetap
cukup tersedia. Dalam persiapan lahan ini termasuk penyuluhan,
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
15
pengorganisasian proyek di tingkat petani dan inventarisasi lahan, serta
pelatihan.
Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan cangkul, bajak, garu, ataupun
secara mekanis dengan traktor. Pengolahan tanah hendaknya dilakukan pada
musim kemarau atau awal musim hujan, dimana pada saat itu tanah
tersebut masih berupa gumpalan yang mudah untuk
dihancurkan/digemburkan dengan penambahan air.
Setelah pencangkulan/pembajakan/pentraktoran, tanah dibiarkan beberapa
hari untuk memberikan kesempatan tumbuh bagi rerumputan, yang akhirnya
rerumputan tersebut dikumpulkan, ditumpuk pada tempat tertentu,
kemudian dibenam atau dibakar. Pada tanah yang derajat keasamannya
tinggi (pH rendah), maka pada tanah yang telah dicangkul tersebut
disebarkan kapur/dolomit secara merata.Dalam pengolahan tanah mulai dari
pembukaan lahan, pencangkulan, pembajakan, penggaruan, pembuatan
bedengan, guludan, pembuatan saluran irigasi dan pembuangan/drainase,
serta pembuatan lobang tanam, sampai dengan siap tanam memerlukan
tenaga kerja kurang lebih 200 HOK.
c. Penanaman
Lubang tanam dibuat/disediakan sesuai dengan jarak tanam, di mana jarak
tanam tersebut diantaranya ditentukan oleh kesuburan tanah dan lapangan.
Jarak tanam bervariasi yaitu diantaranya 4 x 6 m, 6 x 6 m, 10 x 10m.
Pada lobang tanam yang telah tersedia dimasukan pupuk kandang dan
dicampur dengan pupuk dasar lainnya seperti TSP, Urea, dan KCI, setelah itu
barulah bibit ditanam. Tenaga kerja untuk penanaman cukup 6 - 8 HOK,
tergantung dari jumlah bibit yang akan ditanam.
Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman meliputi kegiatan penyulaman tanaman,
penyiangan/pembumbunan, pemupukan, penyiraman/pengairan,
pemangkasan, penanggulangan hama dan penyakit.
1. Tanaman mangga yang mati dan yang pertumbuhannya tidak
baik/kerdil diganti dengan tanaman baru yang telah disiapkan
sebelumnya. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan tanaman lebih
seragam;
2. Penyiangan rumput liar dilakukan pada saat pengerjaan
penggemburan tanah dan pembumbunan tanaman, serta kalau
diperlukan sekalian dengan mengerjakan penyulaman bagi tanaman
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
16
yang mati atau pertumbuhannya kurang baik. Tenaga kerja untuk ini
diperlukan sekitar 20 HOK;
3. Pemupukan susulan dilakukan dengan cara membenamkan campuran
pupuk susulan yang terdiri dari TSP/SP 36, KCI, dan Urea di sekitar
tegakan, persis dibawah tajuk tanaman tersebut. Dosis pemupukan
disesuaikan dengan umur dan pertumbuhan tanaman. Pada saat
tanaman memasuki fase pembungaan dan pembuahan, maka pupuk
ekstra untuk merangsang dan memantapkan bunga dan buah perlu
diberikan. Untuk aplikasi pemupukan dalam tiap tahun memerlukan
tenaga kerja sekitar 20 HOK;
4. Pemangkasan dilakukan untuk mendapatkan bentuk tanaman yang
baik, sehingga didapatkan bentuk tajuk yang dikehendaki, yaitu
dahan/cabang tanaman seimbang ke segala arah. Tenaga kerja untuk
memangkas dalam satu tahun pemeliharaan adalah pada kisaran 6 - 9
HOK;
5. Penyiraman/pengairan merupakan unsur yang cukup penting dalam
berkebun mangga, terutama pada musim kemarau. Pada waktu
tanaman masih kecil dan hujan kurang, maka penyiraman diperlukan,
sedangkan pada musim hujan dimana air berlebihan, maka
drainase/pembuangan air harus mendapat perhatian, sehingga aerasi
dan drainase tanah tetap terpelihara. Rata-rata dalam tiap tahun
diperlukan tenaga kerja 5 HOK;
6. Penanggulangan hama dan penyakit, baik yang menyerang akar,
batang, daun, bunga dan buah perlu diperhatikan. Pemberantasan
dilakukan apabila hama dan penyakit tersebut sudah merusak di atas
ambang batas. Penggunaan pestisida dilakukan seminim mungkin, dan
dilakukan dalam keadaan yang memaksa. Tenaga kerja untuk
penanggutangan hama dan penyakit adalah 4 HOK/tahun.
7. Selama pemeliharaan, kebun perlu diamati pertumbuhannya, dan
untuk itu pemilik kebun harus mengamatinya paling tidak 3 kali dalam
seminggu.
d. Panen Dan Pasca Panen
Mangga sudah dapat dipanen pada tahun ke-4, namun jumlahnya tidak
banyak/masih dalam tahapan belajar. Buah mangga tersebut dari tahun ke
tahun terus bertambah sesuai pertumbuhan tanaman. Pada panen pertama
di tahun ke-4 dari satu pohon diperkirakan menghasilkan 4 kg buah, tahun
ke-5 sampai dengan tahun ke 9, berturut-turut adalah : 12 kg. 20 kg, 36 kg,
57 kg. 89 kg, dan setelah berumur 10 tahun hasilnya rata-rata lebih dari 135
kg/pohon.
Buah mangga yang telah dipanen selanjutnya di sortasi/grading berdasarkan
ukuran dan bentuk, dan kemudian diserahkan ke INTI. Oleh INTI buah tadi
lalu dikemas setelah dilakukan perlakuan penundaan kematangan buah
(khusus untuk buah yang akan di ekspor), lalu dipasarkan oleh INTI.
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
17
Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan dilakukannya sortasi adalah
sebagai berikut :
1. mencegah penurunan harga akibat campuran ketas mangga;
2. Mencegah tingginya biaya pemasaran (transportasi, pengepakan,
dsb);
3. mendapatkan kesamaan mutu antara penjuat dan pembeli;
4. menghindarkan kelebihan stock (over supply) dengan meninggalkan
kelas yang rendah menghindarkan kerusakan akibat
kontak/sentuhan/gesekan antara yang rusak, berpenyakit, atau yang
baik;
5. memperoleh kenaikan pendapatan, kemudahan penjualan, dan
peningkatan volume penjualan.
Buah yang telah dipanen diberikan perlakuan sebagai berikut:
1. ditempatkan dalam keranjang berkapasitas 25 kg, lalu tiap keranjang
ditimbang, dan dipisahkan menurut kelompok beratnya masing-
masing;
2. dipilih diambil yang mulus, tidak luka, tidak ada penyakit, tidak ada
kotoran yang melekat pada permukaan kulit buah, tidak ada cacat fisik
maupun mikrobiologis, tidak ada noda getah, tidak ada bintik-bintik
kehitaman, tidak ada luka memar dipilih yang bentuknya normal,
maksimum buah yang tidak normal sebanyak 25%;
3. tangkai buah dipotong dan disisakan kira-kira 1 cm. Pemotongan
tangkai dilakukan secara hati-hati dan diusahakan agar getah yang
keluar dari tangkai tidak menempel pada permukaan kulit dengan
meletakan tangkai pada posisi di bawah.
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
18
5. Aspek Keuangan

a. Data Dan Asumsi Dasar Perhitungan
Data dan asumsi perhitungan yang dipakai dalam studi ini tercantum dalam
Tabel Lampiran Investasi.Unit analisa model ini adalah 1 (satu) hektar lahan,
dengan populasi 256 pohon.
Sementara asumsi teknis didasarkan atas kenyataan di lapangan yang
dilakukan oleh para petani ataupun pengusaha perkebunan, maka dalam hal
asumsi pembiayaan, secara keseluruhan didasarkan pada harga-harga
pertengahan 1998, yang diperhitungkan secara konstan selama masa
proyek. Dalam pelaksanaannya, asumsi dasar (terutama mengenai
pembiayaan) perlu dikaji ulang menjelang penyaluran kredit.
Kebutuhan Biaya Proyek Dan Sumber Dana
Berdasarkan asumsi yang dikemukakan di atas, maka biaya investasi untuk
model usaha ini (1 hektar) disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1.
Biaya Proyek (Dalam Rp)

Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Jumlah
Pra Investasi 28.000 0 0 0 28.000
Investasi Tetap 0
- Sertifikat Lahan 300.000 0 0 0 300.000
- Bibit Mangga 1.920.000 0 0 0 1.920.000
- Peralatan 0 2.050.000 2.050.000 0 4.100.000
Investasi Modal Kerja 0
- Bahan dan Saprodi 0 1.448.240 776.160 897.600 3.122.000
- Tenaga Kerja 1.400.000 1.547.000 1.491.000
1.491.00
0 5.929.000
Jumlah 3.648.000 5.045.240 2.397.160
2.388.60
0
15.399.00
0
Management Fee
(5%) 182.400 252.262 119.858 119.430 769.950
JUMLAH 3.830.400 5.297.502 2.517.018
2.508.03
0
16.168.95
0
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
19
Premi Asuransi (2%) 76.608 105.950 50.340 50.161 323.379
JUMLAH 3.907.008 5.403.452 2.567.358
2.558.19
1
16.492.32
9
Dari tabel di atas, tampak bahwa biaya proyek (murni, tanpa
memperhitungkan bunga selama masa konstruksi) secara keseluruhan
mencapai Rp. 14.436.009. Seluruh biaya proyek, diasumsikan dibiayai
dengan kredit dengan tingkat bunga sebesar 16% pertahun yang disalurkan
secara bertahap, sesuai dengan kebutuhannya, yang terdiri dari tahun ke-0
(Rp. 3.907.008); tahun ke-1 (Rp. 5.403.452); tahun 2 (Rp. 2.567.358); dan
tahun 3 (Rp. 2.558.191). Rinciannya, dapat dilihat pada Tabel Investasi.
Seperti tampak dari tabel di atas, komponen biaya ini telah mencakup biaya-
biaya di luar kegiatan langsung, yaitu : management fee (5%) dan premi
asuransi (2%).
Penyusutan Investasi
Dalam analisa keuangan, khususnya untuk menghitung Laba-Rugi,
diperlukan komponen penyusutan biaya investasi. Penyusutan biaya investasi
minimal harus dapat menutup keperluan angsuran pokok kredit (amortisasi).
Nilai penyusutan investasi diperhitungkan dengan kemampuan proyek untuk
dapat melunasi beban pinjaman.
Perhitungan besarnya penyusutan biaya investasi tersebut disesuaikan
dengan periode pengembalian kredit yang relatif memberi kesempatan
kepada plasma untuk selama periode tersebut mampu menikmati
peningkatan pendapatan sebagai akibat mengikuti proyek kemitraan ini.
Karena itu, MK PKT ini memperhitungkan lamanya proyek dapat
mengembalikan kredit berlangsung selama 9 (sembilan) tahun produksi.
Dengan asumsi seperti tersebut di atas maka penyusutan investasi berkisar
dari Rp. 645.118 (tahun ke-4) hingga Rp. 3.454.248 (sejak tahun ke-9).
Rinciannya, dapat dilihat dalam Tabel Analisa Laba-Rugi.
b. Analisa Total Penjualan
Untuk mendapatkan hasil penjualan yang akan digunakan sebagai komponen
analisa arus kas (cash flow), diperhitungkan bahwa proyek PKT ini
mengalami masa konstruksi selama tahun ke-0 hingga tahun ke-3.
Selanjutnya, proyek telah mulai berproduksi, dengan standar produktivitas
tahunan berkisar dari 1.024 kg/ha/tahun (tahun ke-4) hingga 34.133
kg/ha/tahun.
Dengan menggunakan asumsi produksi proyek seperti di atas, maka dengan
harga konstan bulan Juli 1998 sebesar Rp. 4.000/kg, selama 12 tahun
proyek memperoleh pendapatan berkisar dari Rp. 4.096.000 (tahun ke-4)
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
20
hingga Rp. 136.533.333Rinciannya tampak pada Tabel Perhitungan Hasil
Panen.
Analisa Kelayakan Proyek
Untuk sampai pada kesimpulan tentang kelayakan proyek, maka digunakan
kriteria kelayakan Financial Rate of Return (FRR) dan "Pay-back Period".
Hasil analisa kelayakan menghasilkan kriteria sebagai berikut :
- FRR = 33%
- Pay-back Period = 6,7 tahun
- NPV = Rp 32.136.853
- BCR = 2,85 kali
Dengan demikian, dapat disimpulkan, bahwa secara finansial proyek dapat
dilaksanakan. Dengan skim kredit bebunga 16% per tahun di tingkat plasma,
maka proyek ini memiliki segi keamanan yang relatif tinggi bilamana ditinjau
dari kredit dan atau bank. Demikian pula, proyek ini menghasilkan
keuntungan yang besar bila ditinjau dari segi petani plasma dan INTI. Secara
rinci dapat diikuti dalam Tabel Arus Kas.
Analisa Laba/Rugi
Dari hasil analisa Laba-Rugi (Lampiran Laba Rugi), dapat disimpulkan bahwa
selama 12 tahun proyek, petani plasma akan mendapat keuntungan bersih
(setelah pajak) relatif cukup besar, yaitu berkisar dari Rp 258.047 pada
tahun ke-4 hingga Rp. 39.401.225.pada tahun ke-12. Pendapatan ini akan
semakin besar bilamana sebagian dari jumlah HOK (Hari Orang Kerja) dapat
dinikmati pula oleh tenaga kerja keluarga.
Dari kepentingan keamanan kredit dapat dikembangkan suatu pola di mana
para petani plasma dapat didorong untuk bersedia menempatkan dana
tabungan yang diambil sebesar 10% dari pendapatan bersih setelah pajak.
Kriteria keamanan proyek dapat diikuti pula dari besaran Titik Impas (Break
Even Point = BEP). Dalam nilai rupiah, BEP berkisar dari Rp 3.358.720
(tahun ke-4) hingga Rp. 23.956.758 (tahun ke-12). Dalam bentuk kilogram,
BEP berkisar dari 840 kg (tahun ke-4) hingga 5.989 kg (tahun ke-12).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa proyek semakin aman sejalan
dengan dapat diselesaikannya kewajiban proyek kepada bank yang
membiayai.
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
21
6. Penutup
a. PKT Unggulan
Sebagai suatu produk yang diharapkan oleh masyarakat dapat membantu
perbankan dalam meningkatkan KUK, maka PKT Budidaya Tanaman Mangga
ini layak untuk dilaksanakan oleh bank karena memiliki unsur-unsur
keunggulan sebagaimana berikut :
Bisnis yang "on line"
Seperti yang telah diuraikan dalam Bab V jelas bahwa Model Kelayakan PKT
Budidaya Tanaman Mangga merupakan kemitraan usaha antara Petani
Mangga dengan Lembaga Pengumpul (Koperasi Primer atau Swasta) yang
disertai jaminan kesinambungan pembelian buah mangga dari Usaha Besar
(Perusahaan INTI) pada skala bisnis yang "on line". Dalam model ini
kebutuhan terhadap faktor produksi dan pemasaran produk mangga yang
dihasilkan UK dijamin dalam bentuk "sharing" antara Lembaga Penjaminan
Kredit, kemitraan antara petani mangga dengan lembaga penampung
(koperasi dan atau swasta), serta kepastian pembayaran oleh Usaha Besar
(INTI).
Menghadirkan Kegiatan Pendampingan
Untuk menunjang keberhasilan Model Kelayakan PKT ini, Lembaga
Pengumpul bersama UB menyediakan bantuan teknis yang profesional
(bermutu) secara berkesinambungan. Bantuan pendampingan ini dimulai
semenjak pelaksanaan pelatihan untuk UK saat rekrutmen calon UK, dalam
tahapan pembangunan fisik, tahapan proses produksi dan penjualan, serta
dalam tahapan pengelolaan dana hasil penjualan. Bantuan pendampingan
tersebut ditujukan untuk kepentingan UK, Lembaga Pengumpul (Koperasi
dan atau Swasta) dan UB sendiri maupun untuk pengamanan kredit Bank.
Adanya Jaminan Kesinambungan Pasar
Kelancaran pemasaran hasil produksi Model Kelayakan PKT Mangga Unggul
ini dijamin sepenuhnya dalam bentuk "sharing" seperti tersebut yang telah
diuraikan dalam Bab V. Jaminan pemasaran mangga tersebut dilaksanakan
oleh Lembaga Pengumpul (KUD) bersama UB. Adanya Kemampuan Untuk
Memanfaatkan Kredit Berbunga Pasar Financial Rate of Return (FRR) yang
relatif lebih besar dari bunga kredit bank menyebabkan Model Kelayakan PKT
ini layak dilaksanakan dan dikembangkan. Adanya Potensi Penjaminan Kredit
Yang Relatif Lengkap
Untuk penjaminan pengamanan kredit yang digunakan dalam pelaksanaan
Model Kelayakan PKT ini, dapat diikutsertakan berperannya :
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
22
Lembaga penjaminan kredit;
Kegiatan kelompok guna mengembangkan tabungan dan pemupukan modal
yang dikaitkan dengan kredit. Pengembangan tabungan sebagai salah satu
alat pengamanan kredit, dapat dikaitkan dengan besarnya potensi hasil
analisa "net cash flow" maupun Laba-Rugi.
Proses Pemanfaatan Dan Penggunaan Kredit Yang Aman
Model Kelayakan PKT ini merumuskan mekanisme pencairan dan
penggunaan atas dana kredit yang disesuaikan dengan jadual dan kebutuhan
proyek.
Cash Flow Sebagai Alat Pengontrol Pengembalian Kredit
Pengembalian kredit didasarkan, disesuaikan dan mengacu kepada
perkembangan dan kekuatan cash flow. Dengan sistem mengangsur, maka
proyek ini memungkinkan para petani plasma akan mampu menghimpun
dana sendiri dan lepas dari ketergantungan terhadap kredit.
Adanya Potensi Kegiatan Kelompok Yang Berkaitan Dengan Kredit
Dengan mendasarkan kepada model yang telah diuraikan di atas,
memungkinkan pembentukan kelompok sedini mungkin, yaitu ketika
Lembaga Pengumpul (KUD dan INTI) bersama dengan para petani mangga
dan ketika UK sebagai calon debitur sedang mengikuti pelatihan (sebelum
mereka menjadi calon nominatif). Pembentukan dan mengaktifkan kegiatan
kelompok tersebut ditujukan antara lain untuk kegiatan simpan-pinjam. Dari
sebagian dana simpanan tersebut, secara potensial dapat digunakan sebagai
dana untuk membantu proses pengembalian angsuran pokok dan bunga
(bilamana diperlukan), atau untuk jenis kegiatan produktif lainnya.
Transparansi Pada Setiap Tahapan Pelaksanaan Proyek
Dengan mengikut sertakan UK sejak sedini mungkin dalam perencanaan dan
pelaksanaan proyek, akan terbentuk dan tercipta pula aspek transparansi
yang sangat diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan proyek dan proses
perkreditannya.
Daya Replikasi Yang Tinggi
Proyek ini mempunyai potensi untuk dikembangkan hampir di seluruh
propinsi, khususnya bagi para petani yang mengusahakan lahan yang relatif
cocok sepanjang tahun untuk pertanaman mangga, dimana tenaga kerja,
dan modal serta program pendampingan relatif mudah disediakan.
Disamping itu, produk yang dihasilkan para petani dapat dipasarkan dengan
pola kemitraan seperti yang telah diuraikan dalam Bab V.
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
23
Nota Kesepakatan
Semua hal yang menggambarkan keunggulan Model Kelayakan PKT Budidaya
Tanaman Mangga, dapat dituangkan dalam bentuk Nota Kesepakatan.
b. Titik Kritis
Program Pendampingan Yang Jelas
Sehubungan dengan masih adanya kemungkinan muncul permasalahan
terutama pada saat proyek dan kredit masuk dalam tahapan pelaksanaan
dan tahapan mengangsur, maka perlu diusahakan agar UK yang telah
direkrut dan merupakan calon nominatif semaksimal mungkin dapat
diikutsertakan dalam perencanaan (ide dan pengembangannya sedini
mungkin. Maksud dan tujuan mengikut sertakan mereka sedini mungkin
yaitu agar mulai dari proses perencanaan para UK benar benar dapat
memahami perlunya kesungguhan dalam melaksanakan kemitraan. Dengan
memahami tentang perlunya kesungguhan dalam melaksanakan proyek
sesuai dengan yang diminta oleh persyaratan pasar, teknis dan finansial
maka kemitraan akan berjalan secara berkesinambungan.
Pemahaman Titik-Titik Rawan Dan Transparansi
Proses pemahaman terhadap titik-titik rawan-baik yang terdapat dalam
pelaksanaan proses pemasaran kacang tanah dan gabah, penerapan
teknologi produksi dan penanganan produksi serta aspek keuangan, perlu
didasarkan atas suatu dokumen kesepahaman umum dan atau nota
kesepakatan yang rinci dan diuraikan dalam bentuk yang sanqat mudah
dipahami oleh para UK (anggota plasma).
Bank Indonesia Budidaya Tanaman Mangga Unggul
24











LAMPIRAN