Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Radiografi adalah produksi gambaran radiografis (radiographic image) dari suatu
obyek dengan memanfaatkan sinar x (X-ray). Sinar x ditemukan oleh Wilhem C Roentgen,
seorang professor fisika dari German saat melihat timbulnya fluoresensi yang berasal dari
kristal barium platinosianida yang mendapat hadiah nobel pada tahun 1901. Akhir Desember
1895 dan awal Januari 1896 Dr. Otto Walkhoff (dokter gigi) dari German adalah orang
pertama yang menggunakan sinar x pada foto gigi (premolar bawah). Penggunaan sinar
rontgen telah lama dikenal sebagai suatu alat dalam bidang kedokteran yang sangat
membantu dalam menegakkan diagnosa dan untuk menentukan rencana perawatan.
Radiografi memberikan informasi diagnosis yang penting dan dapat digunakan saat
menentukan rencana perawatan. Dalam bidang kedokteran gigi, radiografi digunakan untuk
menyediakan informasi tentang struktur oral tidak kasat mata.

Pemeriksaan radiografi dalam
kedokteran gigi dikenal lebih dari satu abad sebagai sarana untuk memperoleh informasi
diagnostik yang tidak dapat diperoleh dari pemeriksaan klinis. Pemeriksaan radiografis
merupakan salah satu tahapan penting dalam perawatan adanya kelainan dalam praktek
dokter gigi (Mahsiddin, 2001).
Radiografi di bidang kedokteran gigi mempunyai peranan penting dalam memperoleh
informasi diagnostik untuk penatalaksanaan kasus, mulai dari menegakkan diagnosis,
merencanakan perawatan, menentukan prognosis, memandu dalam perawatan, mengevaluasi,
dan observasi hasil perawatan. Pemeriksaan radiografi dilakukan setelah pemeriksaan klinis
lengkap dilakukan.Pada pemeriksaan radiografi, dokter gigi harus mempertimbangkan dan
memutuskan teknik radiografi mana yang dipakai. Radiografi sering digunakan pada klinis
dan penelitian untuk mengevaluasi penyakit periodontal. Radiografi dapat mengevaluasi
derajat keparahan dan pola kehilangan tulang alveolar, panjang akar gigi, anatomi dan posisi
dan mendeteksi lesi patologis periodontal. Radiografi di kedokteran gigi ada 2 macam yaitu
radiografi intra oral (film di dalam mulut) dan radiografi ekstra oral (film di luar mulut).
Radiografi intra oral adalah radiografi yang memperlihatkan gigi dan struktur disekitarnya.
Radiografi ekstra oral merupakan pemeriksaan radiografi yang lebih luas dari kepala dan
rahang dimana film berada di luar mulut (Mestika, 2013).

2

Pemeriksaan radiografik ekstra oral adalah seluruh proyeksi pemotretan regio
orofasial dengan film yang diletakkan di luar mulut pasien. Proyeksi-proyeksi pemotretan
ekstra oral digunakan untuk memeriksa daerah yang tidak tercakup dalam foto intra oral atau
untuk melihat struktur fasial secara keseluruhan. Pemotretan itu sendiri terdiri dari beberapa
jenis, misalnya radiografi kepala, sefalometri, panoramic, radiografi maksila, radiografi
mandibula, yang memiliki indikasi tersendiri untuk setiap penggunaannya (Bontrager, 2001).
Oleh karena itu, akan dibahas berbagai macam pemotretan ekstra oral tersebut untuk
mengetahui lebih dalam cara penggunaannya, teknik, indikasi, kontraindikasi, keuntungan,
serta kerugian dari setiap jenis pemotretan.

1.2 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui lebih dalam tentang radiografi ekstra oral
2. Untuk mengetahui macam-macam teknik proyeksi radiografi ekstra oral
3. Untuk mengetahui perbedaan alat serta prosedur radiografi pada tiap teknik
proyeksi.

1.3 Manfaat
1. Untuk menambah pengetahuan lebih dalam tentang radiografi ekstra oral
2. Untuk menambah pengetahuan tentang macam-macam teknik proyeksi
radiografi ekstra oral
3. Untuk menambah pengetahuan adanya perbedaan alat serta prosedur pada tiap
proyeksi radiografi ekstra oral.












3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Radiografi Ekstra Oral
Radiografi ekstraoral merupakan seluruh proyeksi pemotretan regio orofacial dengan
film diletakkan di luar mulut pasien. Pemotretan itu sendiri terdiri dari beberapa jenis,
misalnya radiografi kepala, sefalometri, panoramic, radiografi maksila, radiografi mandibula.
Dengan indikasi tersendiri untuk setiap penggunaannya (Karjodkar, 2006).
Pemeriksaan radiografik ekstra oral merupakan seluruh proyeksi pemotretan regio
orofacial dengan film diletakkan di luar mulut pasien. Proyeksi-proyeksi pemotretan ekstra
oral digunakan untuk memeriksa daerah yang tidak tercakup dalam foto intra oral, atau untuk
melihat struktur fasial secara keseluruhan (Anonim, 2009).

2.2 Indikasi Radiografi Ekstra Oral
2.2.1 Indikasi Pemeriksaan Ekstra Oral
Radiografi ekstra oral bukan merupakan pemeriksaan rutin yang harus dilakukan di
Rumah Sakit atau Poliklinik Gigi yang besar. Oleh karena itu, dokter gigi harus melakukan
pemeriksaan klinis yang cermat, sebelum merujuk pasien. Hal yang perlu diperhatikan dalam
melakukan pemeriksaan radiografik adalah bahwa operator dapat dan kadang-kadang harus
melakukan pemotretan dengan modifikasi teknik standar, terutama pada pasien khusus, yaitu

(Karjodkar, 2006 dan Anonim, 2009):
1. Anak kecil atau orang tua yang kurang kooperatif
2. Peka terhadap refleks muntah
3. Sukar membuka mulut (trismus)
4. Keadaan kurang kesadaran atau pingsan
5. Tidak bisa menggerakkan tangan
6. VIP
7. Hipersalivasi
8. Menggunakan kursi roda
9. Hiperaktif
10. Selama tindakan operasi

4

Pemeriksaan ekstra oral adalah pemeriksaan yang sulit dan kompleks, karena
menyangkut banyak faktor, yaitu : teknik pemotretan, pengetahuan pesawat roentgen, serta
penguasaan struktur anatomis rahang dan kepala (Anonim, 2009).

2.2.2 Indikasi Pemotretan Ekstra Oral
1. Kelainan yang mencakup daerah luas, lebih dari 4 gigi di rahang atas atau bawah, misalnya
Osteomyelitis atau abses yang mengenai gigi.
2. Kelainan yang berhubungan dengan struktur anatomi sekitarnya. Misalnya faktor maksial
yang melibatkan tulang hidup atau kepala.
3. Periode gigi campuran yang memerlukan evaluasi gigi susu dan pertumbuhan gigi
permanen secara keseluruhan.
4. Pasien khusus, misalnya pembukaan mulut terbatas, tingkat kesadaran kurang, kurang
kooperatif, dll.
5. Perawatan orthodonsi (meratakan gigi) (Karjodkar, 2006 dan Anonim, 2009).

2.3 Kelebihan dan Kekurangan Radiografi Ekstra Oral
2.3.1 Kelebihan
Foto radiografik ekstra oral dapat memperlihatkan lesi yang luas, dapat dilakukan pada
pasien yang sulit, misalnya pasien dengan keterbatasan membuka mulut atau pasien operasi.
Keuntungan lain adalah dapat memperlihatkan hubungan struktur anatomis dibandingkan
dengan foto dental seluruh gigi yang memerlukan 14 film (Karjodkar, 2006).

2.3.2 Kekurangan
Foto radiografik ekstra oral adalah gambaran kurang jelas dan detail, proses pemotretan
memerlukan waktu yang lama, lebih sulit, mahal, dan radiasi yang diterima pasien lebih besar
dibandingkan satu foto dental (Intra Oral seperti periapikal) . Selain itu, pemotretan tidak
dilakukan di tempat praktek pribadi atau Puskesmas, tetapi harus dirujuk ke Rumah Sakit
atau laboratorium swasta (Karjodkar, 2006 dan Anonim, 2009).

2.4 Teknik Proyeksi Ekstra Oral
2.4.1 Foto Panoramik
2.4.1.1 Definisi
Istilah panoramik berarti gambaran (view) suatu regio secara lengkap dari segala arah.
Panoramik radiografi adalah istilah yang dipakai untuk teknik pemotretan yang

5

memproyeksikan gigi geligi dan seluruh struktur jaringan penyangganya, serta struktur
anatomis rahang atas dan bawah sampai setinggi rongga orbita dan mencakup kondilus
mandibula satu lembar film. Teknik foto rontgen ekstra oral dapat menghasilkan gambar
yang menunjukkan semua gigi dan jaringan pendukung (Bontrager, 2001).
Foto panoramik dikenal juga dengan panorex atau orthopantomogram dan menjadi
sangat populer di kedokteran gigi karena teknik yang sederhana, gambaran mencakup seluruh
gigi dan rahang dengan dosis radiasi yang rendah, dimana dosis radiasi yang diterima pasien
untuk satu kali foto panoramik hampir sama dengan dosis empat kali foto intra oral
(Bontrager, 2001).

2.4.1.2 Indikasi Klinis
Indikasi pasien yang membutuhkan radiografi ekstra oral dengan teknik proyeksi
panoramik antara lain:
1. Lesi pada rahang/ gigi yang belum erupsi yang tidak terlihat dengan foto intra oral
2. Pasien dengan refleks muntah tinggi
3. Tumbuh kembang gigi keseluruhan
4. Adanya fraktur mandibula
5. Adanya kerusakan TMJ
6. Preodontektomi dan implant
7. Kelainan sinus maksilaris, terutama untuk menilai dinding anterior, posterior, dan dasar
sinus
8. Untuk menilai keadaan gigi molar 3.
9. Untuk menilai ada tidaknya penyakit/ kelainan yang mempengaruhi sebelum
pembuatan gigi tiruan sebagian/ penuh.
10. Evaluasi ukuran vertikal (tinggi) tulang alveolar sebelum pemasaran gigi tiruan
implant.

2.4.1.3 Teknik Pemotretan
Teknik dan posisi yang tepat adalah bervariasi pada satu alat dengan alat lainnya. Akan
tetapi, ada beberapa pedoman umum yang sama yang dimiliki semua alat dan dapat
dirangkum meliputi (Bontrager, 2001):
a. Persiapan Alat
1. Persiapan kaset yang telah diisi film atau sensor digital yang telah dimasukkan ke
dalam tempatnya.

6

2. Collimation harus diatur sesuai ukuran yang diinginkan.
3. Besarnya tembakan sinar antara 70-100 kV dan 4-12 mA.
4. Alat dihidupkan untuk melihat apakah alat dapat bekerja, naik atau turunkan tempat
kepala dan sesuaikan dengan posisi kepala pasien.
5. Sebelum memposisikan pasien, sebaiknya persiapan alat telah dilakukan.
b. Persiapan Pasien
1. Pasien diminta untuk melepaskan seluruh perhiasan seperti anting, aksesoris rambut,
gigi palsu, dan alat orthodonti yang dipakainya.
2. Prosedur dan pergerakan alat harus dijelaskan untuk menenangkan pasien dan jika perlu
lakukan percobaan untuk menunjukkan bahwa alat bergerak.
3. Radiografer memakaikan pelindung apron pada pasien, pastikan pada bagian leher tidak
ada yang menghalangi pergerakan alat saat mengelilingi kepala.
4. Pasien harus diposisikan dalam unit dengan tegak dan diperintahkan untuk memegang
handel agar tetap seimbang.
5. Pasien diminta memposisikan gigi edge to edge dengan dagu mereka bersentuhan pada
tempat dagu.
6. Kepala tidak boleh bergerak dibantu dengan penahan kepala.
7. Pasien diinstruksikan untuk menutup bibir mereka dan menekan lidah ke palatum dan
jangan bergerak sampai alat berhenti berputar.
8. Radiografer memberi penjelasan pada pasien untuk bernafas normal dan tidak
bernafas terlalu dalam saat penyinaran.

Gambar 1 : Posisi Pasien Radiografi Panoramik (Bontrager, 2001).

c. Persiapan Operator
1. Operator memakai pakaian pelindung.

7

2. Operator berdiri di belakang dengan mengambil jarak menjauh dari sumber sinar-x
pada waktu penyinaran.
3. Lihat dan perhatikan pasien selama waktu penyinaran untuk memastikan tidak ada
pergerakan.
4. Matikan alat setelah selesai digunakan dan kembalikan letak posisi kepala pada
tempatnya.
5. Ambil kaset pada tempatnya dan kaset siap untuk diproses.
d. Persiapan Lingkungan terhadap Proteksi Radiasi
1. Pastikan perangkat sinar-x digunakan dengan teknik yang baik dan parameter secara
fisika terhadap berkas radiasi ditetapkan dengan benar.
2. Hindari kemungkinan kebocoran dengan menggunakan kepala tabung harus
radiopaque.
3. Filtrasi dari berkas sinar-x dengan mengatur ketebalan filter. Ketebalan filter
bergantung pada tegangan operasi dari peralatan sinar-x. Tegangan mencapai 70
kVp, ketebalan filter setara dengan ketebalan alumunium 2,5 mm, dan kekuatan
tabung sinar-x antara 70-100 kVp.
e. Cara Pemotretan
1. Sumbu sinar-x langsung di dalam mulut penderita, film ditempatkan di luar mulut,
sekeliling rahang yang akan diperiksa.
2. Sumber sinar-x dan film berputar mengelilingi rahang pasien yang akan diperiksa.
3. Pasien berputar di antara film dan sumber sinar-x yang diam.

2.4.1.4 Macam-macam Foto Panoramik
1. Panagraphy
Disebut juga status-x. Sumber sinar-x ditempatkan di dalam mulut pasien sedangkan
film dipegang oleh pasien sendiri dan ditempatkan di sekeliling muka atau rahang yang akan
di foto. Hasil foto yang diperoleh hanya meliputi satu rahang saja, mulai dari regio gigi molar
tiga kiri sampai molar tiga kanan. Kerugian teknik ini adalah terjadinya distorsi gambaran
yang dihasilkan, radiasi hambur ke struktur anatomis lainnya di rongga mulut.
2. Panorex
Mempunyai dua pusat putaran, yaitu sumber sinar-x berputar mengelilingi rahang
pasien. Setelah mencapai pertengahan rahang pasien, tube berhenti untuk pindah pada
lintasan berikutnya. Film ditempatkan pada posisi lurus di film holder dan akan bergeser pada
saat tube pindah lintasan. Foto yang dihasilkan memperlihatkan gigi geligi rahang atas dan

8

rahang bawah dalam satu lembar film, dengan garis putih di tengahnya, karena tube berhenti
dan berpindah lintasan.
3. Rotograph
Mempunyai suatu pusat putaran. Pasien duduk di kursi yang dapat berputar di antara
film dan sumber sinar-x yang diam.
4. Elipsopantomograph
Pesawat sinar-x mutakhir. Pesawat ini mempunyai 4 pusat putaran, yang dapat
menyesuaikan lintasannya dengan bentuk rahang penderita, dengan 3 sumbu perputaran
sumber sinar-x nya. Film holder berputar di lintasannya.
5. Orthopantomography
Macam pusat perputaran alat yaitu :
a. Sumber sinar-x dan film berputar dengan arah berlawanan mengelilingi rahang
penderita.
b. Film pada kaset holder setengah lingkaran berputar mengelilingi sumbu putarnya.
Foto yang dihasilkan memperlihatkan gambaran tanpa garis pemisah antara regio
sebelah kiri dengan sebelah kanan. Walaupun foto panoramik memperlihatkan sebelah
rahang bawah dan rahang atas termasuk kondilus dan sinus maksilaris, tetapi radiogram dapat
dibagi dalam 3 daerah kejelasan (image layer/focal trough) yaitu :
1. Daerah simfisis mandibula.
2. Daerah kondilus mandibula
3. Daerah sinus maksilari
Oleh karena itu, bila merujuk penderita untuk foto panoramik, regio yang diperiksa
harus ditulis dengan jelas dan spesifik. Hal ini disebabkan bentuk rahang tidak selalu
parabola, tetapi berbagai bentuk seperti segitiga atau segi empat (Bontrager, 2001).

2.4.1.5 Kriteria Foto Panoramik yang Ideal
Menurut Bontrager (2001), struktur anatomi yang harus tampak pada radiografi
panoramik antara lain gigi geligi, mandibula, temporomandibular joints (TMJs), nasal fossae,
sinus maksila, arcus zygomaticum, maksila, dan bagian vertebra servikal.
Mandibula tampak tanpa rotasi atau penyudutan yang diindikasikan dengan TMJ pada
bidang horizontal yang sama pada gambaran, ramus, dan gigi belakang magnifikasinya sama
pada setiap sisi gambar, gigi depan dan belakang tampak secara tajam dengan magnifikasi
yang sama. Selain itu, posisi pasien yang tepat yang diindikasikan dengan simpisis mandibula
terproyeksi secara lurus di bawah mandibular angles, mandibula berbentuk lengkung, bidang

9

oklusal sejajar dengan sumbu panjang pada gambaran, gigi atas dan bawah terletak rapi dan
terpisah tanpa superposisi, vertebra servikal tampak tanpa superposisi pada TMJ (Bontrager,
2001).
Densitas mandibula dan gigi geligi sama dalam gambaran. Tidak ada densitas hilang
yang jelas tergambar di tengah. Tidak ada artefak yang bertumpukan pada gambaran
(Bontrager, 2001).


Gambar 2 : Struktur anatomi radiografi panoramik (Bontrager, 2001)
Keterangan : A. Fossa nasal; B. Sinus maksila; C. Arcus zygomatik; D. Kondil; E.
Mandibular notch; F. Prosesus koronoid; G. Angle (gonion); H. Ramus; I. Bidang oklusal; J.
Body; K. Simpisis.
Bayangan anatomi normal yang tampak pada radiografi panoramik bervariasi antara
pesawat panoramik yang satu dengan yang lain, tetapi secara umum dibagi menjadi 2 yaitu
bayangan asli atau nyata dan bayangan artefak (Whaites, 1997).

A. Bayangan Asli atau Nyata
1. Bayangan Jaringan Keras (Hard Tissue)
Yaitu gigi geligi, mandibula, maksila, hard palate, prosesus styloid, tulang hyoid,
septum nasal dan konka, lingkaran orbita, dan dasar kepala.

Gambar 3 : Bayangan hard tissues pada radiografi panoramik (Whaites, 1997)

10

Keterangan : A. Septum nasal; B. Tengah dan bawah turninates; C. Garis orbita; D. Hard
palate; E. Permukaan antrum; F. Permukaan antrum; G. MAE; H. Prosesus
styloid; I. Hyoid; J. Plastik kepala pendukung.

2. Bayangan Jaringan Lunak
Yaitu lobus telinga, kartilago nasal, soft palate, punggung lidah, bibir, pipi, dan lipatan
nasolabial.

Gambar 4 : Bayangan soft tissues pada radiografi panoramik (Whaites, 1997)
Keterangan : A. Kartilago nasal; B. Lobus telinga; C. Soft palate; D. Punggung lidah; E.
Orofaring; F. Lipatan nasolabial; G. Mulut.

3. Bayangan Artefak
Yaitu vertebra servikal, body, angle dan ramus sisi samping mandibula, serta palate.

Gambar 5: Bayangan artefak pada radiografi panoramik (Whaites, 1997)
Keterangan : A. Palate; B. Mandibula; C. Vertebra Servikal.

Menurut Carver (2006), kriteria untuk penilaian kualitas gambar suatu radiograf
panoramik antara lain :
1. Semua mandibula termasuk simpisis mental bawah dan kondilus atas tampak. Hard
palate dan bagian bawah sinus maksila tampak.
2. Susunan gigi tampak pada garis horizontal.
3. Bite rod tampak di pusat antara insisivus atas dan bawah yang dipisahkan oleh bidang
oklusal gigi.
4. Semua gigi tampak tajam.

11

5. Struktur servikal tampak kabur di bagian depan yang superposisi dengan bayangan
insisivus. Bayangan vertebra servikal terlihat tajam di kedua sisi samping dari
gambaran, terbebas dari daerah yang akan diperiksa.
6. Garis tepi mandibula tampak berlanjut dan tidak terputus.

2.4.1.6 Keuntungan dan Kerugian Foto Panoramik
a. Keuntungan Foto Panoramic (Bontrager, 2001):
1. Bagi dokter gigi, foto mempermudah dan mempersingkat waktu untuk menilai suatu
kasus secara keseluruhan.
2. Memperoleh gambar daerah yang luas beserta seluruh jaringan yang berada di dalam
focal trough (image layer) walaupun penderita tidak membuka mulutnya.
3. Gambaran di foto panoramik mudah dimengerti sehingga foto ini berguna untuk
menjelaskan kepada penderita atau untuk bahan pendidikan.
4. Pergerakan sesaat dalam arah vertikal hanya merusak gambar pada bagian tertentu
saja, tidak semua gambaran mengalami distorsi.
5. Pengaturan posisi pasien dan pengaturan pesawat relatif mudah.
6. Gambar keseluruhan rahang yang diperoleh memungkinkan deteksi
kelainan/penyakit yang tidak diketahui sebelumnya.
7. Diperoleh gambaran kedua posisi rahang yang memungkinkan penilaian keadaan
fraktur. Bagi pasien dengan luka-luka akibat fraktur, proyeksi ini lebih nyaman.
8. Sangat berguna untuk evaluasi awal keadaan jaringan periodontal serta kasus
ortodonsi.
9. Bagian dasar dan dinding anterior serta posterior sinus terlihat dengan baik.
10. Mudah memperbandingkan kedua kepala kondilus TMJ.
11. Dapat dipergunakan untuk penderita dengan keterbatasan-keterbatasan seperti
penderita sensitif muntah, penderita dengan kesadaran menurun, sukar atau tidak
dapat membuka mulut, serta penderita yang tidak kooperatif seperti pada anak-anak.
b. Kekurangan Foto Panoramik
Foto Panoramik mempunyai bentuk keterbatasan yaitu gambaran foto yang dihasilkan
kurang detil. Selain itu, apabila salah satu sisi rahang membengkak misalnya abses, tumor,
atau fraktur, maka gambar yang dihasilkan kabur (Bontrager, 2001).

2.4.1.7 Akibat dari Kesalahan yang Umum Dijumpai
a. Kesalahan dalam Mempersiapkan Pasien

12

Kesalahan dalam mempersiapkan pasien dapat menyebabkan :
1. Tidak jelasnya gambaran di daerah anterior.
2. Pembesaran pada salah satu sisi gambar.
3. Adanya garis radio-opak di daerah anterior.
4. Distorsi gambar akibat pergeseran pasien selama pemotretan.
5. Terlihat gambar ghost image.
b. Kesalahan dalam Pemotretan dan Pencucian
Kesalahan dalam pemotretan dan pencucian dapat menyebabkan :
1. Gambar yang dihasilkan terlalu terang atau terlalu gelap, keseluruhan terlihat tidak
jelas, sebagian terlihat tidak jelas, dan kabur atau berkabut.
2. Adanya berbagai noda atau artefak.

2.4.1.8 Contoh Foto Panoramik


Gambar 6: Panoramic radiograph of 6 year old (Bontrager, 2001).


Gambar 7: Panoramic radiograph of 9 year old (Bontrager, 2001).


13


Gambar 8 : Panoramic radiograph of 12 year old (Bontrager, 2001).


Gambar 9 : Panoramic radiograph of 15 year old (Bontrager, 2001).


Gambar 10 : Panoramic radiograph of Supernumerary Teeth (Bontrager, 2001).




14


2.4.2 Radiografi Mandibular Lateral Oblique atau Eisler
Radiografi lateral oblique digunakan untuk memeriksa regio posterior pada mandibula
dan sangat berguna bagi pasien anak-anak dan pasien dengan keterbatasa pembukaan rahang
akibat dari fraktur atau pembengkakan, selain itu juga dapat dilakukan pada pasien yang
memiliki kesulitan dalam toleransi penempatan film. Walaupun lateral oblique radiografi
sangat berguna, akan tetapi perlu dicatat bahwa radiografi panoramik lebih baik dibanding
lateral oblique karena informasi diagnosis dapat lebih banyak didapatkan. Sesuai istilahnya,
teknik peletakan film pada radiografi lateral oblique ini adalah pada posisi lateral dari rahang
yang akan diekspos. Radiografi lateral oblique tidak membutuhkan alat x-ray yang khusus,
sehingga mesin x-ray intra oral standar dapat digunakan. Proyeksi radiografi lateral oblique
dibagi menjadi dua, yaitu : body of mandible projection dan ramus of mandible projection
(Ianucci et all, 2006).
1. Body of mandible projection
Tujuan dari proyeksi ini adalah untuk mengevaluasi adanya gigi impaksi, fraktur, dan
lesi yang terletak pada tubuh mandibula. Proyeksi ini dapat memperlihatkan regio premolar
dan molar mandibula serta pinggir inferior mandibula dengan baik. Peletakan film pada
proyeksi ini adalah kaset diletakkan mendatar menempel pada pipi pasien dan terletak pada
center atau tengah dari tubuh mandibula. Kaset juga harus diposisikan paralel dengan tubuh
mandibula. Pasien harus menahan kaset pada posisi tersebut dengan meletakkan ibu jari pada
bagian bawah tepi kaset dan telapak tangan pada permukaan luar kaset. Posisi kepala terletak
kurang lebih 15 derajat terhadap sisi imajiner dan bagian dagu terangkat sedikit. Pancaran
sinar utama diarahkan menuju pada titik dibawah garis tepi inferior mandibula pada sisi yang
berlawanan dari kaset. Pancaran diarahkan meningkat ( -15 sampai -20 derajat) dan terpusat
pada tubuh mandibula. Pancaran harus terarah perpendikular pada bidang horizontal film.
Faktor eksposur proyeksi ini berbeda beda tergantung dari film, tingkat intensitas layar, dan
penggunaan alat (Ianucci et all, 2006).
2. Ramus of mandible projection
Tujuan dari proyeksi ini adalah untuk mengevaluasi gigi molar ketiga yang impaksi,
lesi yang lebih besar , dan adanya fraktur yang mengenai hingga ke ramus mandibula.
Proyeksi ini memperlihatkan ramus mandibula dari sudut mandibula sampai ke kondilusnya.
Penempatan film pada proyeksi ini adalah kaset diletakkan mendatar menempel pada pipi
pasien dan terletak pada tengah dari ramus mandibula. Kaset harus diposisikan paralel
dengan ramus mandibula. Pasien harus menahan kaset dengan posisi ibu jari diletakkan pada

15

bagian tepi bawah kaset dan telapan tangan diletakkan pada permukaan luar kaset. Posisi
kepala terletak kurang lebih 15 derajat terhadap sisi imajiner dan bagian dagu terangkat
sedikit. Pancaran sinar utama diarahkan menuju pada titik posterior regio gigi molar ketiga
pada sisi yang berlawanan dari kaset. Pancaran diarahkan meningkat ( -15 sampai -20 derajat)
dan terpusat pada ramus mandibula. Pancaran harus terarah perpendikular pada bidang
horizontal film. Faktor eksposur proyeksi ini berbeda beda tergantung dari film, tingkat
intensitas layar, dan penggunaan alat (Ianucci et all, 2006).
2.4.3 Skull Maxillofacial Radiography
Teknik ini memberikan gambaran radiografik dari kepala secara lengkap. Biasanya
berguna untuk melihat fraktur di daerah kepala atau maksilofasial, dan kelainan pada
Temporo Mandibulae Junction (TMJ). Terdapat beberapa cara untuk untuk teknik ini, yaitu,
Cephalometric projection, Waters Projection , Submentovertex Projection, Reverse-Towne
Projection (S. C. White, 2000).
2.4.3.1 Foto Cephalometri ( Cephalometric Projection)
2.4.3.1.1 Definisi
Foto Cephalometri adalah radiografi yang distandarisasi dan
reproducible, terutama dipergunakan di bidang ortodonsi dan orthognatic
surgery. Cephalometri menggunakan sefalostat atau kraniostat untuk fiksasi
kepala standar. Maksud standarisasi adalah untuk memperoleh foto dengan
posisi yang selalu sama terutama untuk memperbandingkan foto sebelum,
selama, dan sesudah perawatan ortodonsi (Bhalajhi, 2003).
Penggunaan teknik ini untuk melihat hubungan gigi, struktur
kraniofasial dan tulang rahang (S. C. White, 2000). Sebuah cephalogram
adalah proyeksi tengkorak 2 dimensi. Film ini diambil dengan cephalostat ,
yang merupakan suatu alat x - ray dengan standar jarak ojek dengan sumber 5
kaki. Proyeksi yang paling umum digunakan adalah cephalogram lateral.
Berbagai analisis cephalometri ada untuk menggambarkan kraniofasial
kompleks. Kebanyakan analisis bergantung pada unsur-unsur yang relatif
stabil di dasar tengkorak sebagai titik acuan dan bidang yang digunakan untuk
mengukur perubahan atau struktur yang berkembang. Cephalometry
merupakan material penelitian dan klinik yang penting dalam ortodontik.
Cephalometry telah dipakai selama puluhan tahun unduk mendapat langkah

16

yang absolut dan relatif dalam tindakan tulang craniofacial (K. Vandana, et.all,
2008).
Radiograf sefalometri terbagi menjadi dua, yaitu (Bhalajhi, 2003) :
1. Lateral Cephalometric Projection: memperlihatkan tampilan lateral dari
tengkorak. Cara ini menunjukan semua tulang yang terletak disamping, dan
sinar X melewati sisi lateral.

Gambar 11 : Orientasi 3D model virtual cephalograms secara umum (K. Vandana et.all, 2008)

2.Frontal cephalogram (Posteroanterior Cephalometric) : Memperlihatkan
semua tulang di bagian posteroanterior. Penyinaran yang dilakukan
menembus tulang dari arah posterior ke anterior. Tujuan dengan cara ini
dapat mengetahui adanya asimetri, penyakit, trauma, dan pertumbuuhan yang
tidak normal, serta Memperlihatkan adanya perubahan-perubahan progresif
pada beberapa struktur tulang dibagian fasial yang meliputi tulang frontalis,
ethoid-sinus, nasal fossa, tulang orbital (Ditarana, 2014). Pada teknik ini
tubehead diputar 90 sehingga arah sinar X tegak lurus pada sumbu
transmental (S. C. White, 2000).
2.4.3.1.2 Indikasi Klinis
Indikasi pasien yang membutuhkan radiografi dengan teknik proyeksi
cephalometri adalah (Bhalajhi, 2003):
a. Perawatan Ortodontik
Membantu diagnosis kasus ortodonti karena dapat dilakukan pembelajaran
skeletal, dental, dan struktur jaringan lunak pada regio dento-facial.
- Diagnosis awal
- Rencana perawatan
- Perkembangan perawatan
b. Bedah ortognatik

17

Membantu dalam memprediksi perubahan yang berhubungan dengan
pertumbuhan dan perubahan yang berhubungan dengan perawatan bedah.
- Evaluasi pre operasi
- Rencana perawatan
- Kontrol post operasi

2.4.3.1.3 Teknik Pemotretan
a. Posisi Kepala
1. Pasien sebaiknya dalam posisi tegak atau duduk dengan kepala difiksasi
pada sefalostat. Sisi kiri atau kanan menempel pada kaset yang diletakkan
tegak lurus lantai.
2. MSP pasien sejajar kaset, jarak MSP ke film kira-kira 18 cm.
3. Kedua lubang telinga, tulang hidung, dan dahi difiksasi.
4. Pasien menggigit dalam keadaan sentrik oklusi (maximum
intercuspation),
5. Jarak tube ke film (TFD) untuk pesawat merk Asahi 1,52 meter.
6. Kondisi sinar X, 100 kVp, 10 mA, dan 2 secon.
7. Ukuran film 24 x 30 cm, menggunakan grid / lisholm.
8. Arah sinar X pusat tegak lurus dengan titik pusat sinar X pada MAE.
(Bhalajhi, 2003).

2.4.3.1.4 Kegunaan Foto Cephalometri
Di bidang ortodonsi, dengan interpretasi atau tracking sefalogram untuk
(Bhalajhi, 2003).:
1. Mempelajari pertumbuhan kepala serial sefalogram yang dibuat dalam
interval waktu tertentu dan diperbandingkan, maka dapat diketahui
kecepatan dan arah pertumbuhan tulang muka serta pertumbuhan rahang
dan gigi.
2. Analisa diagnostic cranion-facial. Dengan menggunakan sefalogram
dapat diketahui dengan jelas faktor-faktor apa yang menyebabkan
maloklusi. Misalnya anomali, ketidakseimbangan pertumbuhan tulang
muka, serta pertumbuhan rahang dan gigi.

18

3. Untuk mempelajari tipe fasial. Analisa sefalogram dapat menentukan
tipe muka, apakah konkaf, konveks, atau lurus. Tipe muka tergantung
dari ras, misalnya ras negro berbeda dengan ras Kaukasi.
4. Untuk rencana perawatan orthodonsi, dengan menggunakan tracking
sefalogram.
5. Untuk melihat hasil perwatakan yang telah dilakukan dengan
mempertimbangkan sefalogram sebelum dan sesudah perawatan.
6. Untuk keperluan riset.

2.4.3.1.5 Keterbatasan Foto Cephalometri
a.Kesalahan Pembuatan Sefalogram
1. Posisi gigitan penderita
Jika perlu, harus dilatih untuk memperoleh oklusi yang benar.
Biasanya waktu menggigit, rahang bawah lebih sering maju ke depan
sehingga tidak pada oklusi sentrik.
2. Penentuan kondisi sinar X
Kondisi sinar X yang terlalu besar, akan menghasilkan foto
yang lebih hitam. Kondisi sinar X yang lemah, akan menghasilkan foto
yang putih. Akibatnya, struktur anatomi tidak jelas.
3. Proses pencucian di kamar gelap
Kesalahan pencucian, kemungkinan foto terlalu hitam karena
terlalu lama dalam developer (over developing time). Sebaliknya, bila
kurang lama, foto terlalu putih. Kesalahan pencucian menghasilkan foto
mirip dengan kondisi sinar X yang terlalu besar atau terlalu lemah.
4. Distorsi Sefalogram
Makin besar jarak sumber sinar X ke film maka sinar X
semakin sejajar sehingga distorsi dan magnifikasinya makin kurang.
Makin dekat jarak film terhadap objek yang akan difoto maka makin
kurang pembesaran karena sifat sinar X yang menyebar. Hal ini dapat
dikurangi dengan menggunakan teknik-teknik pemotretan yang baik.
b.Kesalahan Tracking (Penampakan)
Terjadi bila kurang terampil atau kurang pengetahuan tentang anatomi
maupun landmark sefalogram. Hal ini bisa diatasi dengan latihan.


19

2.4.3.1.6 Kriteria Foto Cephalometri yang Ideal
Radiografi yang idealnya harus menghasilkan (Bontrager, 2001) :
1. Tampak gambaran soft tissue pada wajah.
2. Gambaran mempunyai detail yang baik.
3. Tampak marker.
4. Bayangan yang kontras.
5. Bayangan yang ukurannya sama.
6. Tidak ada artefak, berupa kalung, rambut, anting, kancing, uang, dan
sebagainya karena bisa menutupi lapangan pandang foto. Misalnya,
rambut, mengandung epitel-epitel sehingga bisa menimbulkan salah
persepsi sebab terlihat seperti infiltrate.
7. Jaringan lunak nasofaringeal, sinus paranasal, dan palatum keras jelas
terlihat.
8. Objek awal (permasalahan) tujuan pemotretan (bagian yang ingin dilihat)
nampak.

2.4.3.1.7 Contoh Foto Cephalometri

Gambar 12 : Contoh Foto Cephalometri (Bontrager, 2001)


20


Gambar 13 : Lateral Skull Cephalometric Projection (Bontrager, 2001)


2.4.3.2 Waters Projection
Waters Projection dikenal juga Sinus Projection. Teknik ini merupakan variasi
dari gambaran posteroanterior untuk melihat keadaan sinus maksilaris. Fokus dari
cara ini untuk mengevaluasi sinus maksilaris, frontalis, dan etmiodalis. Film
ditempatkan di depan pasien dan tegak lurus dengan midsagital plane. Agar sinus
lebih terlihat maka kepala pasien dinaikkan sampai the canthomeatal line membentuk
sudut 37
o
terhadap cassete (S. C. White, 2000).


Gambar 14: Hasil Radiograph Waters Projections (K. Vandana et.all, 2008)

21


Gambar 15: Posisi Kepada pada Waters view (http://faculty.ksu.edu.)
2.4.3.3 Submentovertex Projection
Pada teknik ini cassette diletakkan sejajar dengan transversal (horizontal)
plane pasien dan tegak lurus dengan midsagital plane dan coronal plane. Biasanya
teknik ini digunakan untuk melihat keadaan tulang condyle, sphenoid sinus, lengkung
mandibula, dinding dari sinus maksilaris dan kemungkinan fraktur di daerah
zygomatic (S. C. White, 2000). Cara ini dilakukan untuk:
a. Memperlihatkan dasar tulang
b. Mengetahui Posisi dan orientasi condyl
c. Mengetahui adanya fraktur pada arch. Zygomaticus (http://faculty.ksu.edu.).

Gambar 16: Posisi Kepala Submentovertex Projection (http://faculty.ksu.edu.)

22


Gambar 17 : Hasil Radiograph Submentovertex Projection (http://faculty.ksu.edu.)

2.4.3.4 Reverse-Towne Projection
Pada teknik ini pasien menghadap film dengan ujung dahi dan ujung hidung
menyentuh dahi atau biasa disebut forehead-nose position. Tubehead diarahkan ke
atas dari bawah occipital dengan membentuk sudut 30
o
terhadap horizontal dan sinar
melewati condyle (S. C. White, 2000). Cara ini digunakan untuk melihat adanya
fraktur pada leher condyl dari mandibula (http://faculty.ksu.edu.).


Gambar 18: Posisi Kepala Reverse Towne Projection (http://faculty.ksu.edu.)

23

2.4.4 Temporomandibular Joint Radiography
Area temporomandibular joint (TMJ) yang mencakup fosa glenoid, eminens artikularis,
artikular disk pada tulang temporal mandibula merupakan area yang cukup sulit untuk
dilakukan pemeriksaan dengan radiografi. Hal ini disebabkan karena banyaknya
struktur tulang yang berdekatan. Radiografi tidak dapat digunakan untuk memeriksa
artikular disk dan jaringan lunak lain pada daerah TMJ. Akan tetapi, radiografi dapat
digunakan untuk menunjukkan tulang dan hubungan antar komponen sendi.Seperti
adanya perubahan pada tulang (tulang erosi atau deposit tulang) dapat terlihat dari
radiografi TMJ.Dua teknik proyeksi yang digunakan dalam radiografi TMJ adalah
(Ianucci, 2006):
1. Transcranial Projection
Tujuan dari proyeksi ini adalah untuk mengevaluasi permukaan superior kondilus
dan eminens artikularis. Proyeksi ini dapat juga digunakan untuk mengevaluasi
pergerakan dari kondilus saat rongga mulut terbuka dan untuk membandingkan
jarak antar sendi (kanan-kiri). Kaset diletakkan mendatar terhadap telinga pasien
dan terletak pada tengah TMJ. Untuk posisi kepala, bidang midsagital harus di
posisi perpendikular terhadap lantai dan paralel dengan kaset. Sinar pusat terarah
pada titik 2 inci di atas dan 0,5 inci di belakang kanal telinga. Pancaran sinar terarah
sebesar +25 derajat dan berada pada titik tengah TMJ yang akan dilihat. Faktor
eksposur bervariasi tergantung dari film, intensitas layar, dan penggunaan alat
(Ianucci, 2006).
2. Temporomandibular Joint Tomography
Temporomandibular joint tomografi adalah teknik radiografik yang digunakan
untuk memeriksa struktur yang sering tumpang-tindih satu sama lain. Pada sebagian
besar tempat menggunakan eksposur berulang kali untuk mendapatkan gambar area
yang lebih jelas (Ianucci, 2006).
2.5 Alat-Alat yang Digunakan Untuk Radiografi Ekstra Oral
2.5.1 Film
Film merupakan salah satu peralatan radiologi yang sangat vital dan sangat sensitif
terhadap cahaya maupun sinar-x. Film ini, berdasarkan kesensitifan dan emulsinya dapat
dibedakan menjadi dua macam yaitu blue sensitive dan green sensitive atau sering di sebut
juga dengan istilah film yang memiliki karakteristik low speed dan high speed. Blue sensitif
sering dikenal juga dengan monocromatic emultion, yaitu jenis emulsi film yang hanya peka

24

sampai dengan panjang gelombang warna biru. Seangkan green sensitive sering disebut juga
dengan policromatic emultion, yaitu jenis emulsi film yang hanya peka sampai dengan
panjang gelombangnya warna hijau. (White, 2007)

2.5.1.1 Bagian-Bagian Film Radiografi:
1. Dasar film (film base)
Bahan utama film base terbuat dari poliester, dan umumnya memiliki zat
warna kebiruan (blue base). Film base ini memiliki ketebelan kurang-lebih
0,18 mm.
2. Lapisan perekat (subtratum layer)
Fungsi lapisan perekat :
-Menempelkan lapisan emulsi film secara merata pada lapisan datar.
-Mencegah rerpisahnya butiran-butiran emulsi film.
Bahan yang digunakan untuk lapisan perekat adalah larutan gelatin.
Larutan gelatin adalah susunan protein yang sangat komplek yang berasal
dari kollagen fibres (potongan-potongan serat) yang berasal dari kartilago,
kulit dan osesin binatang memamah biak, yang selanjutnya di proses
secara hidrolisis sehingga terbentuknya gelatin polymer (NH2 CH2
COOH). Sifat-sifat gelatin yang menguntungkan anatra lain :
-Mempunyai daya ikat yang baik terhadap butiran-butiran perak halida.
-Pada suhu tertentu mudah bersenyawa dengan larutan lain dan jika
didinginkan akan kembali mengeras.
-Tidak memberi pengaruh terhadap perak halida, baik setelah maupun
sebelum disinari.
-Jika dimasukkan ke dalam latutan prossesing ( pembangkit ) akan mudah
mengembang, sehingga gelatin ini akan memberi kesempatan kepada
zat-zat lain untuk bereaksi.
3. Emulsi film
Emulsi film merupakan sensitive material yang digunakan untuk
membentuk bayangan radiograf. Ada tiga jenis halida yang biasa seringa
dipergunakan. Diantaranya yaitu :
a. Silver bromida ( AgBr ) : Memiliki cut-off sensitivity mencapai 480
nm. cut-off sensitivity adalah batas panjang gelombang dari emulsi
film yang menunjukkan batas akhir kesensitifannya. Memiliki

25

peak sensitivity mencapai 430 nm.Peak sensitivity adalah panjang
gelombang dimana emulsi film menunjukkan pada tingkat yang paling
sensitif. Umumnya digunakan untuk pembuatan emulsi film radiografi
maupun fotografi.
b. Perak iodida ( AgI ) : Umumnya digunakan sebagai halida campuran
dengan tujuan untuk meningkatkan sensitifitasnya.
c. Silver clorida ( AgC l ).
4. Lapisan pelindung (supercoat)
Lapisan pelindung ini terbuat dari gelatin dan berfungsi sebagai
antibrasi (luka atau terkelupas).

2.5.1.2 Fungsi Film sinar-x
Fungsi film sebagai pencatatan bayangan dari gambar yang diinginkan
sehingga bisa terlihat melalui film itu.

2.5.1.3 Penyimpanan Film Sinar-x
Syarat-syarat penyimpanan film sinar-x
a. Suhu kira-kira 13o C
b. Kelembaban udara maksimum 50% yaitu dalam keadaan dingin dan
kering. Kerusakan emulsi film tersebut berupa makin besar fog level dan
berkurangnya speed kontras.
c. Terlindung dari radiasi pengion.
d. Jauh dari bahan kimia.
e. Tidak terjadi tekanan mekanik baik diantara kotak-kotak film itu sendiri.
2.5.2 Kaset
Kaset yaitu kotak gempeng untuk mentransportasikan film dari kamar gelap ke kamar
pemeriksaan. Untuk melindungi film x-ray yang telah maupun belum di ekspose diperlukan
suatu alat yang disebut kaset. Kaset, dalam panggunaannya selalu bersama dengan
intensyfing screen yang terletak di depan dan dibelakang film. Kaset memili berbagai fungsi,
diantaranya adalah: melindungi intensyfing screen dari kerusakan akibat tekanan mekanik,
menjaga intensyfing screen dari kotoran dan debu. Selain itu kaset juga berfungsi menjaga
agar film dapat dengan rapat menempel pada kedua intensyfing screen yang terletak di depan
dan belakang kaset tersebut secara sempurna serta membatasi radiasi hambur balik dari
belakang kaset. Kaset memilki berbagai macam ukuran. Diantaranya adalah berukuran : (18

26

X 24) cm, (24 X 30) cm, (30 X 40) cm, (35 X 35) cm dan (35 X 43) cm. Penggunaan
berbagai macam kaset ini ditentukan oleh objek yang akan di periksa.sebagai contoh adalah
pemeriksaan pada manus. Karena objeknya kecil maka untuk effisiensinya menggunakan
kaset yang berukuran (18 X 24) cm. (Peker, 2009)
Adapun ciri-ciri konstruksi kaset yang ideal menurut standar yang telah ditentukan
adalah sebagai berikut:
1. Kuat dan tahan untuk pemakaian sehari-hari.
2. Ringan sehingga memudahkan penyimpanan dan pada kondisi penerangan yang
cukup, mudah di buka dan di tutup.
3. Memiliki tepi atau sudut yang tidak tajam sehingga tidak melukai pasien maupun
pekerja.
4. Bagian depan kaset tidak mempengaruhi kualitas radiograf yang
dihasilkan. Bagian belakang dilapisi oleh lapisan besi atau Pb. Sehingga dapat
mengurangi radiasi hambur balik yang berasal dari kaset bagian belakang.

2.5.2.1 Fungsi Kaset
a. Melindungi film dari pengaruh cahaya
b. Melindungi dari tekanan mekanis
c. Menjaga agar kontak antara film dengan screen tetap rata
Keberadaan kaset dengan fungsi-fungsimya mau tidak mau akan memberikan
kontribusi yang besar terhadap keberhasilan pemeriksaan radiodiagnostik. Oleh sebab
itu kaset harus dijaga sedemikian rupa dari kerusakan-kerusakan yang mungkin
terjadi. Kerusakan-kerusakan pada kaset ini sering terjadi ketika penempatan kaset
yang dalam penggunaannya sering berada langsung di bawah pasien sehingga terjadi
tekanan-tekanan mekanik. Dan kaset yang secara tidak sengaja terjatuh serta
benturan-benturan yang terjadi padanya, juga merupakan penyebab kaset mengalami
disfungsi. Disfungsi ini dapat terlihat ketika kaset tidak dapat melindungi film dari
cahaya luar, sehingga akan dihasilkan fog pada hasil radiograf. Tentunya dengan
temuan ini akan mengganggu radiograf yang dihasilkan. (Bontrager, 2001)

2.5.2.2 Macam-macam kaset dalam pemakaian khusus
1. Curved Casette : yaitu kaset yang bentuknya melengkung, dengan komposisi sama
seperti kaset umum. Kaset ini dipakai untuk pemotretan obyek-obyek yang
melengkung.

27

2. Kaset film Changer : yaitu lapisan belakang dari timbal yang cukup tebal, sehingga
sinar primer betul-betul tidak tembus di bawahnya.
3. Kaset dan Foto Timer : yaitu kaset yang dilengkapi dengan foto timer yang
merupakan rongga udara bila kena elektronik.
4. Gridded Casette : yaitu kaset yang dilengkapi dengan grid. Umumnya dipakai
untuk pemotretan dimana central ray horizontal sehingga tidak dapat memakai
bucky table.
5. Flexible Casette : yaitu kaset yang dindingnya terbuat dari plastik supaya mudah
dilengkungkan sesuai dengan kebutuhan. Biasanya digunakan pada radiografi
industri (untuk melihat sambungan pipa).
6. Multi Section Casette : yaitu digunakan untuk pemotretan jari ngan yang terdiri
dari beberapa lapisan. Bedanya dengan tomografi adalah bahwa pada tomografi
yang difoto hanya satu lapis. Kaset ini gepeng dan tebal berisi 3-7 film di
dalamnya. Film yang pertama menggunakan speed screen high definition (ISS),
untuk bagian depan. Film kedua menggunakan medium speed screen, bagian
belakang saja. Film ketiga menggunakan sepasang screen high definition (low
speed). Film ke-empat menggunakan sepasang screen high speed
7. Graduated Casette : dilengkapi dengan screen yang mempunyai kepekaan terhadap
mulai dari low speed medium speed high speed. Misalnya digunakan pada
pemotretan kaki seluruhnya, vertebrata, dan lain-lain.

2.5.3 Grid
Grid adalah suatu alat bantu pemeriksaan yang terdiri dari lempengan garis-
gari logam yang bernomor atom tinggi (biasanya timbal) yang disusun berjajar satu
sama lain dan dipisahkan oleh bahan penyekat atau interspace material yang dapat
ditembus sinar-x. Pemanfaatan grid ini terutama digunakan pada organ-organ manusia
yang memiliki nomor atom tinggi. Grid berfungsi untuk menyerap radiasi hambur
yang tidak searah yang berasal dari objek yang dieksposi (Meredith dkk, 1977).
Menurut Carlton (2000) dengan menggunakan grid untuk mendapatkan
densitas yang sama dibutuhkan jumlah sinar yang lebih besar dibanding dengan tanpa
menggunakan grid, tetapi kontras radiografi yang didapat lebih baik.
Grid menurut konstruksinya terbagi atas :
1. Grid Linier

28

Grid linear ini disebut juga grid paralel karena lempengan lempengan timbal
yang satu dengan yangn lain tersusun paralel.


Gambar 19 : Konstruksi grid linear (Meredith,1972)
2. Grid fokus
Grid fokus adalah grid yang garis timbalnya berangsur-angsur miring dari
pusat ke tepi sehingga titik perpotongannya bertemu di titik fokus. Grid jenis ini
menutupi kekirangan grid jenis linear .

Gambar 20 : Konstruksi Grid Fokus ( Meredith,1972 )
3 Pseudo fokus grid
Grid jenis ini seperti konstruksi linear akan tetapi ketinggian lempengan
timbalnya dari tepi ke tengah.semakin tinggi,sehingga sinar oblik masih dapat
melewati grid untuk sampai ke film

Gambar 21 : Konstruksi Pseudo Grid ( Meredith,1972 )
4. Grid silang
Grid silang merupakan dua garis paralel yang seolah-olah ditimpuk menyilang
dengan garis lempengan dengan timbale saling tegak lurus,sehingga sangat efektif
menyerap radiasi hambur

Gambar 22 : Konstruksi Grid silang ( Meredith,1972 )

29


Kesalahan kesalahan dalam pengguanaan Grid:
1. Off- level
Bila pemasangan grid pada kaset rata membentuk sudut terhadap sumber
sinar-x.Off level dapat terjadi pada grid linear

Gambar 23 : Off level (Christensen,S.1984 )
2. Off center
Bila pengaturan grid tidak tepat pada pertengahan film atau titik aksis lampu
kolimator tidak dapat jatuh pada pertengahan grid .Off centre dapat terjadi pada grid
linear dan grid fokus.

Gambar 24: Off Center (Christensen,S.1984)
3. Off fokus
Kesalah ini diakibatkan oleh pengaturan jarak antara fokus dengan grid apakah
itu lenih kecil ataupun lebih besar .Off fokus dapat terjadi pada grid linear dan grid
fokus

Gambar 25: Off Fokus (Christensen,S.1984 )


30



4. Up Side Down (Terbalik)
Pemasangan grid pada permukaan kaset secara terbalik.up side down dapat
terjadi pada grid fokus .

Gambar 26 : up side down (Christensen,S.1984)

2.5.3.1 Perbandingan Grid (Grid Ratio)
Perbandingan Grid terdefinisi sebagai perbandingan antara tinggginya
lempengan timah dan lebarnya. Perbandingan grid biasanya di tunjukan dengan 2
nomor, diantaranya 10 : 1. Dengan angka pertama perbandingan sebenarnya dan
nomer kedua selalu angka 1. (Meredith dkk, 1977).
Grid ratio berfungsi sebagai tolak ukur yang digunakan untuk menyatakan
kemampuan grid untuk mengeliminasi radiasi hambur. Biasanya 4:1 atau 16 :1,
semakin tinggi ratio, maka semakin baik fungsi grid dalam menyerap radiasi
hambur.
Rumus Perbandingan Grid :

r= h/D

Keterangan: r : Perbandingan Grid
h : Tinggi Lempengan Timah
D : Jarak Antara Lempengan Timah
Semakin tinggi ketebalan Pb dan Al, maka rationya semakin besar dan semakin banyak
radiasi hambur yang terserap.

31

2.5.3.2 Tujuan Penggunaan Grid
Grid digunakan untuk memperbaiki kontras dengan cara meneliminasi radiasi
sekunder agar tidak sampai ke film , idealnya meneruskan semua foton utama yaitu
foton yang berasal dari focal-spot dan menolak semua foton yang sekunder (Meredith
dkk, 1977).
2.5.3.3 Cara Kerja Grid
Sebagai sinar x (a= radiasi primer) akan tersebar ke segala arah pada waktu
mengenai suatu benda.sinar tersebar ini dinamakan sinar hambur (radiasi sekunder
atau scatterad radiation). Walaupun sinar hambur mempunyai panjang
gelombang yang lebih tetapi efek fotografinya tetap ada sehingga dapat
menimbulkan gangguan pada film rontgen dan sinar ini harus ditiadakan (Meredith
dkk, 1977).
2.5.3.4 Frekuensi Grid
Frekuensi grid yaitu pada jumlah strip atau grid line frekuensi grid, jika
semakin besar jumlah mAs dibutuhkan, maka semakin besar pula penerimaan dosis
radiasi terhadap pasien per cm.Daya selektifitas grid tergantung pada kemampuan
meneruskan radiasi primer dan menyerap radiasi sekunder (hamburan). Makin berat
suatu grid, maka semakin tinggi selektifitasnya, dan semakin tinggi pula faktor
peningkatan kontras gambar (Carlton, 2000).
2.6 Persiapan Pemotretan Ekstra Oral
Pemotretan ekstra oral memerlukan persiapan sebaik mungkin, baik alat/pesawat, film,
maupun pasien. Semua proyeksi pemotretan ekstra oral dilakukan menggunakan screen film
dan intensifying screen yang sesuai.

2.6.1 Persiapan Film
Film boleh dimasukkan ke dalam kaset yang telah dibersihkan pada saat
melakukan pemotretan atau beberapa jam sebelumnya (tapi tidak boleh dibiarkan lebih
dari 24 jam di dalam cassette karena sensitif terhadap cahaya, panas, dan tekanan

32

sehingga dapat merusak film yang digunakan). Film rontgen yang telah disinari harus
segera diproses di kamar gelap untuk memperoleh hasil yang baik. (Bhalajhi. 2003)
Yang harus diperhatikan pada waktu memasukkan film ke dalam kaset antara lain :
1. Hindari cahaya matahari atau sinar lainnya ke dalam kamar gelap melalui jendela,
pintu atau celah-celah lainnya, dengan cara menutup rapat-rapat ruang kamar gelap.
Dinding kamar gelap harus dilapisi timah hitam (Pb). Nyalakan lampu khusus (safe
lamp) yang menggunakan filter.
2. Ambil kaset kosong yang telah dibersihkan, kemudian ambil box berisi film dari
dalam lemari, keluarkan film tersebut, dan segera masukkan ke dalam kaset dengan
tangan kering dan bersih. Hal ini dilakukan untuk menghindari noda-noda atau
bercak-bercak pada film. Waktu memasukkan film ke dalam kaset, lembaran film
tidak boleh tegak lurus dengan arah sinar safe lamp karena gambar foto menjadi
kabur. Periksalah letak film di dalam kaset sudah sempurna atau belum, kemudian
kaset segera ditutup rapat.
3. Box film dikembalikan ke dalam lemari, kemudian lemari film ditutup.
4. Film yang sudah siap di dalam kaset, diletakkan pada kaset holder atau meja.

2.6.2 Persiapan Identifikasi
Identifikasi pada film ekstra oral sangat penting meliputi :
1. Nama, umur, dan jenis kelamin.
2. Waktu pemotretan : tanggal, bulan, dan tahun.
3. Nomor foto.
4. R (kanan) dan L (kiri).
5. Tempat pemotretan.
Ada 2 cara memberikan identifikasi yaitu :
1. Menggunakan huruf dan angka dari bahan radiopak, dengan cara menyusun dari kiri
tekanan sesuai dengan nama, tanggal, nomor, dan lain-lain menurut keperluan,
kemudian menggunakan isolasi untuk menempelkannya di permukaan kaset bagian
depan.
2. Menggunakan ray printer atau name printer, mula-mula identitas pasien diketik atau
ditulis di formulir yang sudah disinari sinar X, dikeluarkan dari kaset dan bersama
kertas identitas tadi dimasukkan ke dalam ray printer, tekan tombolnya dan ditulis di
formulir identitas terproyeksi ke film. Setelah diproses, identitas tersebut terlihat
dengan jelas di fotonya.

33


2.6.3 Persiapan Penderita
1. Penderita dipanggil masuk ke dalam ruangan foto, kemudian melakukan pengecekan
identitas dan regio yang diperiksa.
2. Tentukan posisi penderita lebih dahulu, apakah berdiri, tegak, duduk, berbaring
dengan posisi telungkup atau telentang.
3. Bebaskan alat-alat logam yang dikenakan penderita, misalnya perhiasan, jepit rambut,
gigi tiruan, alat ortodonsi lepasan, kaca mata, dan lain-lain.
4. Beritahukan pada penderita tentang hal yang akan dilakukan.
5. Atur posisi kepala pasien dengan memperhatikan garis pedoman dasar antara lain
garis orbita meatal (OML), garis inter pupil, bidang mid sagital (MSP), bidang fraktur
horizon (FHP), dan bidang oklusi.
6. Operator harus memeriksa kembali, apakah posisi penderita sudah benar dan siap
untuk disinari atau belum.
7. Berikan instruksi terakhir pada penderita yaitu untuk tetap diam dan jangan bergerak
selama penyinaran.

2.6.4 Persiapan Alat
1. Alat harus dipersiapkan sebelum pemotretan.
2. Mula-mula operator menentukan kondisi sinar X yang dibutuhkan dengan mengatur
kilovoltage (kV), miliampere (mA), dan waktu (sec)
3. Kemudian arahkan kone (cone) dan jarak tube ke film (TFD) serta mengatur luas
lapangan penyinaran/diafragma.
4. Setelah siap, operator menekan tombol espose, sambil memperhatikan pasien selama
penyinaran.








34

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Radiografi di bidang kedokteran gigi mempunyai peranan penting dalam memperoleh
informasi diagnostik untuk penatalaksanaan kasus, mulai dari menegakkan diagnosis,
merencanakan perawatan, menentukan prognosis, memandu dalam perawatan, mengevaluasi,
dan observasi hasil perawatan. Ada banyak macam teknik proyeksi radiografi ekstra oral
antara lain yaitu panoramik, cephalometry, skull radiography, dan radiografi TMJ. Setiap
teknik berbeda-beda prosedur dan berbeda alat.
























35

DAFTAR PUSTAKA

Akesson, L., et.al. 1989. Comparison Between Panoramik and Posterior Bite Wing
Radiography in The Diagnosis of Periodontal Bone Loss, J. Dent., 17 ; p. 266 271

Anonim. 2009. Dental Radiography: prinsip dan teknik. USU Press: 38-46, 56.

Bhalajhi. 2003. Orthodontics 3rd Ed. P.134-7, 143-4. India: Arya Publishing House.

Bontrager, Kenneth L. 2001. Textbook of Radiographic Positioning and Related
Anatomy. Fifth Edition. Saint Louis : Mosby

Ianucci, J.M, Howerton, L.J. 2006. Dental Radiography: Principles and Techniques, 4th
Edition. USA : ELSEVIER

Karjodkar, R. 2006. Textbook of Dental and Maxillofacial Radiology. Jaypee brothers
medical publisher: 179.

K. Vandana, et. All, 2008, In Vivo Comparison of Conventional and Cone Beam CT
Synthesized Cephalograms, Angle Orthodontist, Vol 78, No. 5

Mahsiddin, Asrul. 2011. tingkat keberhasilan foto radiografi panoramik di tinjau dari
segi processingnya di laboratorium klinik kanaka manado.

Mestika, Emilia. 2013. Pengetahuan Mahasiswa Kepaniteraan Klinik Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Terhadap Prosedur Penggunaan
Radiografi Dental Dalam Melakukan Perawatan Gigi. Jurnal Universitas Sumatera
Utara. Diakses di http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/39068 pada 5 Mei 2014

Peker I, Alkurt TM, Usalan G et al.2009.The Comparison Of Subjective Image Quality
In Conventional And Digital Panoramic Radiography. Indian J Dent Res. 20

White, E. 2007. Essentials of dental Radiography and Radiology, 4th edition. Gurcill
Livingstone : Philadelpia.

White SC, Pharoah MJ, editor. Oral radiology principles and interpretation. USA:
Mosby; 2000. Interpretation of Cephalometric Data,
http://courses.washington.edu/predoc/Pediatric%20Dentistry/Ceph.Handout.doc