Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (BI-2105)

PERSILANGAN Drosophila melanogaster


Tanggal Praktikum: 19 September 2014
Tanggal Pengumpulan: 17 Oktober 2014

Disusun oleh :
Oliver Manuel
10613075
Kelompok 4

Asisten :
Arny Hoerunissa
10611036

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengamatan terhadap mutan dari Drosophila melanogaster dan diamati
perbedaanya dengna individu normalnya. Mutasi sendiri merupakan
perubahan permanen pada sekuens DNA dari suatu gen. Sekuens DNA pada
setiap gen ini menentukan asam amino pada protein yang akan dikodekan.
Jika terjadi mutasi maka susunan asam amino dari protein akan dikodekan
oleh gen akan rusak (Colorow, 2013).
Konsep mutasi ini pada dasarnya dapat dimanfaaatkan dalam kehidupan
manusia. Adapun beberapa konsep mutasi yang dapat dimaanfaatkan dalam
kehidupan manusia diantaranya sebagai berikut :

Adaptasi terhadap suhu tunggi dan rendah dari Eschericia coli


(Bannet et al., 1992).

Adaptasi ragi terhadap ketersediaan glukosa di lingkungan melalui


duplikasi gen dan seleksi alam (Brown, 1997).

Adaptasi terhadap pertumbuhan dalam gelap dari Chlamudomonas


sp (Williams, 2013).

Pada pecobaan pengenalan mutan ini digunakan Drosophila melanogaster


sebagai bahjan pengamatan karena hewan ini mudan dipelihara dan dapat
diamati tanpa menggunakan mkroskop. Selain itu, ukurannya yang kecil juga
memungkinkan Drosophila ini disimpan dalam jumlah yang banyak dalam
satu waktu. Dalam penyimpanannya juga tidak merepotkan, cukup disi[mpan
di suhu ruangan. Alasan lainnya, ialah Drosophila melanogaster mempunyai
banyak jenis mutan, sehingga kita dapat mengamati Drosophila melanogaster
dari beberapa aspek (Campbell et al., 2008).

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Menentukan mekanisme pewarisan sifat mutan pada Drosophila
melanogaster dengan melakukan persilangan.
2. Menentukan analisi chi-square dari hasil persilangan Drosophila
melanogaster.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Penemuan Prinsip Pewarisan Sifat


Ilmu genetika modern awalnya dicetuskan oleh seorang biarawan Jerman
yang bernama Gregor Mendel. Mendel menelusuri pola pewarisan sifat
tertentu pada spesies tanaman kacang yang bernama Pisum sativum. Melalui
penemuan-penemuannya, Mendel menunjukkan bahwa faktor keturunan dapat
dijelaskan melalui aturan-aturan tertentu (Campbell et al., 2008).
Akan tetapi, kerja Mendel tidak mendapatkan sebuah pemahaman yang
luas hingga tahun 1890. William Bateson menciptakan kata genetika pada
awal tahun 1905. Beliau mempopulerkan genetika untuk menggambarkan
studi pewarisan sifat. Setelah penemuan kembali karya Mendel, banyak
ilmuwan yang mencoba untuk menentukan molekul dalam sel yang berperan
dalam pembentukan dan penurunan sifat. Pada tahun 1910, Thomas Hunt
Morgan berpendapat bahwa gen berada pada kromosom berdasarkan hasil
pengamatannya pada mutasi mata putih di lalat buah (Johnson, 2006).
Pada tahun 1913, Alfred dan muridnya, Sturtevant menggunakan
fenomena hubungan genetik untuk menunjukkan bahwa gen disusun secara
linear atau berbaris dalam sebuah kromosom, namun mereka belum
mengetahui apa yang bertanggung jawab dalam penurunan sifat hingga pada
tahun 1944, tiga orang ilmuwan yang bernama Oswald Avery Theodore, Colin
McLeod dan Maclyn Mc Carty mengidentifikasi molekul yang bertanggung
jawab pada pembentukan gen tersebut. Mereka menemukan bahwa DNA
bertanggung jawab pada pembentukan gen. James D. Watson dan Francis
Crick menentukan struktur DNA pada tahun 1953 dan mereka menemukan
bahwa DNA berbentuk double helix. Struktur ini menunjukkan bahwa
informasi genetik ada dalam urutan nukleotida pada setiap untai DNA
(Johnson, 2006).

2.2 Hukum Mendel


Hukum Mendel I dikenal sebagai hukum segregasi (Campbell et al.,
2008). Ketika terjadi proses meiosis, pasangan kromosom homolog saling
berpisah dan setiap set kromosom tersebut terkandung di dalam sel gamet.
Proses pemisahan tersebut dikenal sebagai segregasi gen dengan satu gen dari
alel hanya terkandung dalam satu gamet sebagai hasilnya (Gilbert, 2010).
Gregor Mendel melakukan percobaan ini selama 12 tahun. Beliau
menyilangkan

sebuah

spesies

yang

bernama

Pisum

sativum

dan

memerhatikan satu sifat yang mencolok. Contoh dari sifat tersebut adalah
kacang ercis berbiji bulat disilangkan dengan kacang ercis berbiji keriput
(Elfrod et al., 2002).
Hukum Mendel II dikenal pula sebagai law of independent assortment
(Campbell, 2008). Menurut hukum ini, setiap gen dapat berpasangan secara
bebas dengan gen lain, namun gen untuk satu sifat tidak berpengaruh pada
gen untuk sifat yang lain yang bukan termasuk alelnya (Gilbert, 2010).
Persilangan dihibrid dapat menjelaskan lebih lanjut tentang Hukum Mendel
II. Contohnya adalah gen bentuk biji dan gen warna buah. Pada persilangan
antara tanaman biji bulat dan warna kuning pada buahnya dengan biji keriput
dan warna hijau pada buahnya. Karena setiap gen dapat berpasangan bebas,
maka pada F1 ditemukan tanaman biji bulat warna kuning, biji bulat warna
hijau, biji keriput warna kuning, dan biji keriput warna hijau . Hukum Mendel
hanya berlaku untuk persilangan dihibrid, bukan monohibrid (Warianto,
2011).

2.3 Jenis-jenis Persilangan


Persilangan memiliki 3 jenis, yaitu persilangan monohibrid, persilangan
dihibrin dan persilangan sex-linked. Persilangan monohibrid adalah
persilangan antara due spesies yang sama dengan satu sifat yang berbeda.
Persilangan monohibrid menentukan kebenaran dari Hukum Mendel I.
Persilangan dihibrin adalah persilangan dengan dua buah sifat yang berbeda.
Persilangan dihibrid sangat berhubungan dengan Hukum Mendel II yang

berbunyikan individual assortment of genes. Persilangan sex-linked adalah


ekspresi fenotipik darisebuah alel yang berkaitan dengan seks kromosom
suatu individu (Pearce, 2008)
2.4 Analisis x2
Pada setiap percobaan pasti akan memiliki sebuah galat atau faktor
penyimpangan berdasarkan hipotesis yang ada. Menurut Pearce (2008), ada
sebuah metode pengukuran suatu penyimpangan hasil pengamatan dari hasil
yang diharapkan secara hipotesis. Metode tersebut adalah metode analisis chisquare (x2). Berdasarkan analisis x2, jika dalam sebuah pengamatan terjadi
penyimpangan sebesar 5% atau kurang, hipotesis dari pengamatan itu dapat
diterima karena sesuai dengan hukum Mendel. Akan tetapi, jika pada
pengamatan tersebut terjadi penyimpangan yang lebih besar dari 5%,
hipotesis tersebut dapat ditolak karena tidak sesuai dengan hukum Mendel
(Strickberger, 1962). Berikut ini adalah rumus untuk menghitung nilai chisquare (x2).

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :
Tabel 3.1 Alat dan Bahan

Alat
Botol

biakan

Bahan
Drosophila Ether

melanogaster no. A
Botol

biakan

Drosophila Mutan Drosophila melanogaster A

melanogaster no. B
Etherizer

Mutan Drosophila melanogaster B

Reetherizer
Botol morgue
Kuas
Bantalan

3.2 Cara Kerja


3.2.1

Minggu 1 (Pencarian virgin dan persilangan)


Satu botol biakan diperoleh masing-masing mahasiswa. Lalat dari
botol biakan dipindahkan keetherizer hingga tidak ada satupun imago yang
tertinggal. Ether di teteskan hinga lalat terbius. Lalatdiletakkan di cawan
petri. Lalat yang jantan dipilih, dimasukkan ke botol media yang barudan
botol berisi lalat jantan tersebut diberikan ke rekan yang telah ditentukan
oleh asisten praktikum. Lalat jantan juga diperoleh praktikan dari rekan
tersebut. Sebelum delapan jam setelah imago menetas, lalat betina dipilih
yang virgin dan dimasukkan ke dalam botol media berisi lalat jantan dari
rekan.

3.2.2

Minggu 2 (Pengeluaran Parental dari Botol)


Apabila pupa F1 sudah muncul, semua imago parental dikeluarkan.
Imago dipindahkan kedalam etherizer dan diberi beberapa tetes ether.
Setelah lalat mati, lalat dimasukkan ke dalammorgue.

3.2.3

Minggu 3 (Persilangan F1)


Fenotip F1 diamati. Imago F1 dipindahkan ke botol media yang
baru. Jenis persilanganditulis.

3.2.4

Minggu 4-6 (Pengeluaran F1 dari Botol dan Perhitungan F2)


Setelah pupa F2 mulai muncul, imago F1 dipindahkan ke dalam
etherizer dan beberapa tetesether diberikan. Setelah lalat mati, lalat
dimasukkan ke dalam morgue. Tanggal imago F2 pertamamuncul dicatat.
Setiap dua hari, imago F2 dipindahkan ke dalam etherizer dan beberapa
tetes ether diberikan. Setelah lalat pingsan, lalat diletakkan ke dalam
cawan petri dan dihitung jumlah masing-masing fenotip tersebut pada lalat
jantan maupun lalat betina. Mutan yang telah diperolehditentukan. Lalat
yang sudah selesai dihitung dimasukkan ke dalam morgue. Penghitungan
jumlahmasing-masing fenotip dilakukan sampai jumlah imago F2 sudah
lebih dari 300 ekor atau sampaidengan delapan hari sesudah imago F2
pertama kali muncul. Berdasarkan jumlah masing-masing fenotip lalat
buah yang diperoleh, jenis persilangan ditentukan. Persilangan dapat
berupa persilangan monohibrida, dihibrida, atau persilangan dengan gen
terpaut kelamin. Diagram persilangan dibuat dari percobaan ini. Hasil
yang diperoleh diuji dengan melakukan analisis X2apakah sesuai dengan
Hukum Mendel yang diharapkan atau tidak.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


4.1.1

Diagram Persilangan
P1

XmYe+e+

F1

XmXm+e+e+

P2

F2

m+ +

XmXm+ee

X X ee

dan
x

Xm+Ye+e
m+

100%Normal

X Ye e

Tabel 4.1 Diagram Persilangan


m+ +

X e

Xm+e

X m e+

Xm e

Xm+e+

Xm+Xm+e+e+

Xm+Xm+e+e

Xm Xm+e+e+

XmXm+e+ e

Xm+e

Xm+Xm+ee+

Xm+Xm+ee

Xm Xm+ee+

Xm Xm+ee

Ye+

Xm+Ye+e+

Xm+Ye+e

XmYe+e+

Xm Ye+e

Ye

Xm+Ye+e+

Xm+Yee

XmYe+e+

XmYe+ e

Keterangan :
= Normal Betina
= Ebony Betina
= Normal Jantan
= Ebony jantan
= Miniature Jantan
= Miniatureebony Jantan

Perbandingan F2
Normal Betina : Normal Jantan : Ebony Betina : Ebony Jantan : Miniature Jantan
:Miniature Ebony Jantan = 6 : 3 : 2 : 1 : 3 :1

4.1.2

Hasil Persilangan
Tabel 4.2 Hasil persilangan Drosophila melanogaster

Fenotip F2

Jumlah yang diamati

Jumlah Yang

(A)

Seharusnya (H)

Jantan Normal

72

70

Jantan Ebony

27

23

Jantan Miniature

68

70

Jantan Ebony Miniature

26

23

Betina Normal

132

140

Betina Ebony

48

47

Total

373

373

Analisis x2

4.1.3

Derajat Kebebasan = (Jumlah Fenotipe 1) = (6 1) = 5


Tabel 4.3 Analisis x2
Jantan

Jantan

Jantan

Jantan

Betina

Betina

Norma

Ebony

Miniat

Minitu

Norma

Ebony

ure

re

Jumlah

Ebony
A

72

27

68

26

132

48

373

70

23

70

23

140

47

373

|A-H|

20

|A-H|

16

64

98

|A-H| / H

0,0571

0,6957

0,0571

0.3913

0,4571

0.0212

1.6796

Tabel 4.4 Tabel literature C2

(Sumber : Williams, 2012)

4.2 Pembahasan
Pada proses pengembangbiakan persilangan lalat mutan ini penggunaan
betina virgin menjadi poin vital dari seluruh percobaan. Lalat buah betina
memiliki bagian spermateka yang berfungsi untuk menyimpan sperma (Klug
& Curmings, 1994). Maka pentingnya seekor betina dalam keadaan virgin
adalah supaya jelas bahwa betina tersebut sama sekali belum dibuahi oleh
jantan, sehingga sperma yang akan membuahi bisa dipastikan jenisnya.
Apabila betina sudah dibuahi oleh lalat jantan yang tak pasti jenisnya, maka
hasil persilangan akan terpengaruhi dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Berdasarkan proses persilangan yang dilakukan antara mutan ebony dan
mutan miniature selama 4 minggu didapat angka chi-square sebesar 1,679
dengan derajat kebebasan 5. Pengolahan data tersebut bisa dibandingkan
dengan tabel literatur chi-square. Dari tabel bisa disesuaikan bahwa
probabilitasnya adalah sebesar 90%, sehingga bisa disimpulkan bahwa
hipotesis diterima atau tidak ditolak.
Menurut Wolpert (2002), botol morgue pada persilangan mutan
Drosophila berfungsi untuk mematikan Drosophila serta mencegah terjadinya
penyilangan di alam. Mutan lalat pada umumnya akan mengalami kesulitan

untuk bertahan hidup berdasarkan abnormalitas gennya, akan tetapi selalu ada
kemungkinan untuk bertahan hidup di alam. Jika kemungkinan itu terjadi,
maka mutan dapat berkembang biak dan dapat mengganggu keberlangsungan
hidup Drosophila melanogaster. Untuk itulah digunakan botol morgue untuk
mencegah adanya penyebaran mutan lalat.

BAB V
KESIMPULAN

1. Mekanisme pewarisan sifat pada Drosophila melanogaster sesuai dengan


Hukum Mendel. Gen yang alelnya dominan menutupi fenotip resesif pada
keturunannya. Persilangan yang dilakukan menyimpang karena ada gen
yang terpaut seks.
2. Setelah melakukan perhitungan dengan chi-square, hasil perhitungan
persilangan Drosophila melanogaster mendapat nilai chi-square sebesar
1.68 pada derajat kebebasan 5. Artinya, hipotesis ini diterima untuk
tingkat kepercayaan 90%.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Reece, Urry, Peterson, Wasserman, Minorsky, Jackson. 2008. Biology


Concept and Connection 7th. Pearson International: New York.
Elfrod, Susan, William Stansfield. 2002. Schaums Outline of Theory and
Problems of Genetics, 4th edition. The Mc Graw-Hill Companies: New
York.
Gilbert, Scott F. 2010. Developmental Biology 9th Edition. Sinauer Associates :
New York
Johnson, Rebecca L. 2006. Genetics. USA: Twenty-First Century Books.
Klug, W.S., Cummings, M. R. 1994. Concepts of Genetics. New York: Pearson
International.
Strickberger, M.W. 1962. Experiments in Genetics with drosophila. John Wiley
and Sons Inc : New York.
Warianto, Chaidar. 2011. Mutasi. http://skp.unair.ac.id/repository/GuruIndonesia/Mutasi_ChaidarWarianto_17.pdf (diakses pada 15/10/2014).
Williams, J. 2014. Genetic laboratory. http://faculty.southwest.tn.edu/
jiwilliams/probability.htm. Diakses pada tanggal 16 Oktober 2014.
Wolpert, Lewis. 2002. Principles of Development 2nd Edition. New York: Oxford
University Press.