Anda di halaman 1dari 39

PENYAKIT PENYAKIT

AUTOIMUN

Dr Ligat Pribadi S SpPD, FINASIM

PENDAHULUAN

Autoimunitas respons imun terhadap antigen jaringan


sendiri, disebabkan kegagalan mekanisme normal yang
berperan untuk mempertahankan self-tolerance sel B, sel T
atau keduanya
Normal: Tolerans terhadap semua komponen-komponen tubuh,
pengenalan SELF
Terdapat auto antibodi terhadap antigen self respon imun
Penyakit Autoimun terjadi bila terjadi respon imun terhadap
jaringan sehat Injuri jaringan karena reaksi imunologis
terhadap jaringan sendiri

Populasi : 3,5 % menderita penyakit autoimun, lebih banyak


pada wanita
Perjalanan peny bersifat episodik diselingi periode sembuh :
masa bebas gejala (remisi) & masa kekambuhan (eksaserbasi)
Faktor yang berperan / etiologi :
- Infeksi dan kemiripan molekular
- sequestered antigen
- kegagalan autoregulasi
- aktivasi sel B poliklonal
- obat-obatan
- keturunan
- lingkungan

Patogenesis Autoimunitas
HIPOTESIS:
1. Sequester Antigen (Ag terasing)
Toleransi jaringan janin, kecuali yg terpisah sec anatomis
(lensa, testis, SSP) bila dewasa terpapar infeksi / trauma
Respon Autoimun
2. Forbidden Clone
Mutasi somatik limfosit yg tidak mengekspresikan Antigen
Non-Self tetap hidup terjadi respon limfosit thd jaringan
tubuh kerusakan
3. Defisiensi Imun
Hipoaktif atau defisiensi sistem imun

4.

Cross-Reaction
a. Perubahan struktur antigen karena :
- obat-obatan (mis: -Methyldopa terhadap eritrosit)
- infeksi virus
b. Struktur antigen Non-Self = Self kemiripan molekul
(mis: Streptococcal dgn Miokardium Demam rematik)

Penyakit Autoimun Menurut Mekanisme


1.
2.

3.
4.

Melalui autoantibodi autoantigen (AIHA, ITP, Grave,


Hashimoto, miksedema primer, miastenia gravis, seliak)
Melalui antibodi dan sel T terbentuk kompleks imun RA
dan SLE (sistemik), sindrome sjogren, guillain bare, miastenis
gravis, grave, DM, hashimoto, ITP, pemfigus, dermatomiositis
(organ)
Melalui kompleks antigen-antibodi SLE, miastenia gravis,
DM tipe I, sklerosis multipel
Melalui komplemen SLE

Spektrum Penyakit Autoimun

Spektrum sangat luas ; organ spesifik sistemik (nonorgan spesifik)


Organ spesifik : organ tunggal, respons langsung terhadap
antigen didalam organ tersebut
Non-organ spesifik : organ multipel, respons autoimun
terhadap molekul yang tersebar diseluruh tubuh, terutama
molekul intra seluler

THYROIDITIS

HASHIMOTO
MIXODEMA PRIMER
TIROTOKSIKOSIS
ANEMIA PERNISIOSA
GASTRITIS ATROFI AUTOIMUN
PENYAKIT ADDISON
MENOPAUSE PREMATUR
DIABETES JUVENILE
SINDROMA GOOD,S PASTEUR
MYASTHENIA GRAVIS
INFERTILITAS PADA LAKI2
PEMPHIGUS VULGARIS
PEMPHIGOID
OPHTHALMIA SIMPATETIK
UVEITIS FAKOGENIK
MULTIPEL SKLEROSIS
AIHA
ITP
LEUKOPENIA IDIOPATIK
SIROSIS BILIER PRIMER
HEPATITIS KRONIK AKTIF
KOLITIS ULCERATIVA
SINDROMA SJGREN
RA
DERMATOMIOSITIS
SKLERODERMA
DISKOID LE
SLE

ORGAN SPESIFIK

NON-ORGAN SPESIFIK

Spektrum Penyakit Autoimun


PENYAKIT

JARINGAN

ANTIBODI THDP

THYROIDITIS HASHIMOTO
THYROTOXICOSIS / GRAVES
ANEMIA PERNISIOSA

TIROID
TIROID
SEL PARIETAL GASTER

ADDISON DISEASE
I D D M / JUVENILE DM
MYASTENIA GRAVIS
AI HA
ITP

KEL.ADRENAL
PANGKREAS
OTOT
ERITROSIT
TROMBOSIT

TIROGLOBULIN
RESEPTOR TSH
SEL PARIETAL, FC INTRINSIK,
FC INTRINSIK B12
SEL ADRENAL
PL2 LANGERHANS
ASETILCHOLIN
ERITRISIT
TROMBOSIT

HEPAR
PULMO, GINJAL
KEL.LAKRIMAL, SALIVA
SENDI
GINJAL, KULIT, OTAK,
PULMO

ANTIGEN MITOKHONDRIA
MEMBRANA BASALIS
MITOKHONDRIA, IgG
IgG, ANTIGEN NUKLEAR
ANTIGEN NUKLEAR,
MIKROSOM, IgG DLL

ORGAN SPESIFIK

NON ORGAN SPESIFIK


SIROSIS BILIER PRIMER
SINDROMA GOOD PASTEUR
SJOGRENS SYNDR
ARTRITIS REUMATOID
SLE

Thyroiditis Hashimoto
- Antibodi terhadap tiroglobulin & tiroid peroksidase (pd 60-75%)
- Menyerang wanita usia pertengahan (rasio wanita : pria 7:1)
- Thiroiditis kronik, infiltrasi limfosit t CD4 dan CD8
- Awalnya hipertiroid kemudian hipotiroid yg menetap
- Terdapat antibodi anti-sel parietal

Tirotoksikosis / Penyakit Graves


- Long acting thyroid stimulator TSH reseptor stimulating
antibody
- = Diffuse toxic goiter = exophthalmic goiter
- 60-70 % penderita dgn kelainan mata: proptosis, conjungtivitis,
periorbital odem

Anemia Pernisiosa
- Atrofi mukosa gaster
- Produksi faktor intrinsik terganggu
- Antibodi sel antiparietal (pd 95% penderita)
absorbsi vit B12 terganggu
- Gejala : anemia megaloblastik
- Terdapat antibodi-anti tiroid (pd 50% penderita)

IDDM / Juvenile DM (DM tipe 1)


- Antibodi terhadap pulau2 langerhans kerusakan sel
produksi insulin terganggu
- Terdapat Islet Cells Antibody (ICA)
- Insulinitis infiltrasi CD4 dan CD8 pd pulau2 langerhans

Myastenia Gravis
- Kelemahan otot lurik
- Antibodi terhadap reseptor asetilcholin / anti-AchR (pd 90%
penderita) menghambat transmisi neuromuskuler
- Gejala dini : pd otot orbita (diplopia & ptosis), otot muka, lidah
dan ekstremitas superior

Sirosis Bilier Primer


- Penyakit radang hati granulomatous kronik
- Antibodi: anti-mitokhondria pd 99% penderita
- Terutama menyerang wanita pada usia pertengahan
- Manifestasi: pruritus, kolestasis, jaundice

Sjogrens Syndrome
- Mengenai kelenjar eksokrin: kekeringan pd mata
(keratoconjunctivitis sicca) dan mulut (xerostomia)
- Autoantibodi kelenjar saliva, tiroid, mukosa gaster. Dpt juga
antibodi nonspesifik: Faktor rheumatoid, ANA

Rheumatoid Artritis (RA)


- Penyakit kronik sistemik
- Manifestasi utama pd sendi: poliartritis (terutama sendi kecil)
- Antibodi terhadap anti-IgG (Faktor Rheumatoid)
- Predisposisi genetik : HLA-DR4
- Perempuan usia pertengahan : pria = 3 : 1

Keratoconjunctivitis sicca

Rheumatoid Arthritis

Xerostomia

Skleroderma / Systemic Sclerosis / Discoid LE


Ditandai: fibrosis kulit, pemb darah & organ viscera
Wanita : pria = 3:1 pd umur 15 44 tahun
Sindroma CREST: Calcinosis pd kulit, Raynaud fenomena,
Esofagus dismotiliti, Sklerodaktili & Telangectasis
Dijumpai ANA (Anti-nuclear Antibody) pd sebagian besar kasus,
tetapi anti ANA tidak dujumpai

Telangiectasis

Sclerodactyly

Raynauds Phenomenon

Calcinosis

Pengobatan
Prinsip : supresi respons imun atau mengganti fungsi organ
yang rusak
Kontrol metabolik
Obat antiinflamasi
Imunosupresan
Kontrol imunologis riset

Lupus Eritematosus Sistemik

Lupus Eritematosus Sistemik (LES): peny radang multisistem


yg idiopatik, bisa akut & fulminan atau kronik dgn remisi &
eksaserbasi disertai terdapatnya berbagai autoantibodi
Peny autoimun yg ditandai hilangnya toleransi reaksi imun
terhadap antigen dari jaringan sendiri
Antigen Autoantigen
Antibodi Autoantibodi

Khas : produksi autoantibodi berlebihan (khususnya antibodi


antinuklear thdp DNA, RNA, nukleoprotein, kompleks protein
asam nukleat) berikatan dengan autoantigen kompleks
imun mengendap berupa depot dalam jaringan aktivasi
komplemen reaksi inflamasi lesi
tidak selalu berperan dalam patogenesis

Epidemiologi
lupus (Latin) thn 1230 : serigala kondisi kulit menyerupai
malar eritem pd serigala
Cavenaze (1851-1852) : lupus eritematosus
Hebra (1845) : butterfly rash
Sistemik sifat utama peny dimana semua sistem dapat
terkena (tergantung masing-masing individu)
AS : prevalensi 15-50 / 100.000 penduduk
Asia : prevalensi 48.8 / 100.000 penduduk
Wanita : Pria = 9 : 1 terutama usia subur

Etiologi
Etiologi pasti belum diketahui
Limfosit B & antibodi : jumlah meningkat
Aktivasi sel B poliklonal oleh aktivasi sel antigen eksogen
rangsang proliferasi sel B / abnormalitas intrinsik sel B
pembentukan autoantibodi berlebihan (sistem imun tidak bisa
membedakan antara self dan non-self)
gangguan fungsi CD8, NK sel & inefisiensi idiotip-antiidiotip
gangguan produksi autoantibodi

Persistensi komp Ag-Ab krn pbersihan oleh RES krg optimal


Kadar autoantibodi me , pengaturan prod. terganggu,
pbersihan komp. imun terganggu kerusakan jaringan
Faktor lain : genetik, def. komplemen, hormon, lingkungan,
stress, obat-obatan dan faktor lain

Genetik
Sering pada anggota keluarga & saudara kembar monozigot,
berkaitan dgn HLA spt DR2,DR3 dari MHC kelas II

Defisiensi Komplemen
Sering defisiensi C3 dan atau C4 (dengan manifestasi ginjal)
Defisiensi komplemen eliminasi kompleks imun terhambat
jumlah kompleks imun me dalam sirkulasi lebih lama
mengendap di jaringan berbagai macam manifestasi LES

Hormon
Sering pada , pubertas, hamil, post partum, kontrasepsi
dgn estrogen. Estrogen : imunomodulator thd fungsi sistem
imun humoral menekan fungsi sel Ts dengan mengikat
reseptor peningkatan produksi antibodi

Androgen induksi sel Ts dan menekan deferensiasi sel B


(imunosupresor)
Estrogen meningkatkan progresifitas penyakit autoimun dgn
mengikat reseptor Ts menekan fungsi Ts antibodi me
(imunostimulator)

Lingkungan (fisis / sinar ultraviolet, infeksi, obat)


Sinar UV berikatan dengan DNA kulit kompleks UV-DNA kulit
bersifat lebih imunogenik dibanding DNA kulit UV-DNA masuk
sirkulasi rangsang pembentukan anti DNA bereaksi dengan
DNA epidermal kompleks imun difusi keluar pembuluh
darah masuk membran basal nempel pada membran basal
aktivasi komplemen respons inflamasi

Faktor Etiologi
Obat :

Procainamid
Hidralazin
Metildopa
CPZ

Genetik

LES

Sinar UV
(320-400 nm)

Infeksi

Hormon

Defisiensi
Komplemen

Gambaran Klinis
Gejala Konstitusional (Sistemik)
Kelelahan, penurunan BB, demam, rambut rontok, hilang nafsu
makan, pembesaran KBG, sakit kepala, mual
Gejala per-Organ
Muskuloskeletal ( 90%) : mialgia, poliartralgia / artritis tanpa
deformitas
Kulit : sering di area kulit terpapar matahari, discoid LE,
fenomena Raynauds, tanda rash kupu2 didaerah pipi melewati
area hidung dialami oleh 50% pasien dg SLE, teleangiektasis,
vaskulitis, fotosensitivitas, bercak eritem (ulcer) pada palatum

Butterfly Rash

Bercak Eritem pd Palatum

Reaksi Fotosensitifitas

Discoid Lupus

Vaskulitis

Paru : pleuritis, pneumonitis basilar, emboli paru, atelektasis,


hemoptisis
Jantung : perikarditis, miokarditis, endokarditis, efusi pericard
Ginjal : glomerulonefritis, lupus nefritis
Gastrointestinal : biasanya akibat pengobatan (steroid), disfagia
dispepsia, pankreatitis, kolitis
Neurologi : seizure, psikosis, polineuritis, neuropati perifer
Hati, limpa & kelenjar : hepatomegali, splenomegali,
limfadenopati sistemik / lokal

Gambaran klinis LES


Limphadenopati
12-50%
SSP
20%

Kelelahan
90%

Hepotomepali/
Splenomegali
20%

Demam
80-82%
BB turun
60%
Artritis/Artralgia
90%
Kulit
50-58%

LES

Sal cerna
18%
Paru
38%
Hematologi
50%

Jantung
48%

Vaskulitis

Ginjal
50%

Laboratorium
Anemia sesuai dgn penyakit kronik (normositik, hipokrom),
perdarahan GI dan hemolitik akibat pengobatan / autoantibodi
terhadap eritrosit
Lekopenia, limfositemia, neutropenia, trombositopenia, waktu
aPTT dan protrombin memanjang, LED me
Sel LE : sel netrofil, menfagosit ekstraseluler LE body yang
berasal dari materi inti sel netropil yang rusak
ANA : Sensitivitas 95%, spesifisitas 50%
- spesifik thd Ag determinan yg berasal dari inti sel jar yg rusak
- umumnya ditemukan 3 jenis ANA (ds-DNA, ss-DNA, RNA)

Anti-dsDNA
- Ig spesifik thd Ag dsDNA, spesifisitas tinggi, ditemukan pada
60-70% penderita
- Titer berhubungan dengan beratnya penyakit

Diagnosa
SLE : 4 out of 11 ARA criteria (1982 / 1997)
1. Malar rash
2. Discoid lupus
3. Photosensitivity
4. Oral ulcers
5. Arthritis
6. Serositis (pleuritis or pericarditis)
7. Renal disorders (proteinuria or cellular casts)
8. Seizures or psychosis
9. Hemolytic anemia, leukopenia, lymphopenia or
thrombocytopenia
10. Anti-DNA antibody, anti-Sm antibody or antiphospholipid
antibody positive
11. Positive antinuclear antibody test (positive ANA)

Kriteria Diagnosis Lupus Eritematosus Sistemik

Penatalaksanaan

Non Farmakologi: edukasi, dukungan keluarga/lingkungan,


tabir surya, topi/payung, pencegahan demam/infeksi,
pengaturan kehamilan
Farmakologi: terapi konservatif k
terapi agresif
Konservatif : simptomatik, steroid dosis rendah
Agresif : imunosupresif, steroid dosis tinggi (Prednison 1-1,5
mg / kgBB)

Jenis & Dosis Obat Imunosupresan